Hanzama cukup ingat kalau Hanzama sudah mengupload chapter ini kemarin. Entah kenapa chapter ini hilang. Hm, wonder why..
But. Enjoy!
Note : Hanzama upload ulang dan hanzama ganti sub judul chapter ini.
Sore Hari.
Naruto tersenyum senang karena dirinya kini sudah duduk di kursi depan sebuah mobil yang akan mengantarnya kembali ke Konoha. Entah apa yang terjadi karena Sasuke nampaknya telah sukses mengajak Obito ke Konoha. Dilihat dari Obito yang kini duduk di kursi di belakang Naruto dengan gestur melipat tangan di dada dan menatap trotoar dari jendela mobil.
Mari kita anggap semua berjalan lancar. Naruto sudah meminta maaf ke Obito karena telah mencuri motornya. Terlepas dari pandangan sebal pemuda itu, Naruto tidak menerima damage yang lebih. Terus kemudian, Shisui juga sudah mengembalikan Smartphone milik Rin. Oke, Shisui memang (benar-benar) ditampar tadi, namun setelahnya, Rin bahkan meminjamkan mobil Daihatsu Xenia miliknya untuk digunakan mereka pulang. Tentu saja dengan meninggalkan motor trail milik Obito kepada Rin dengan segala resikonya. Namun, selebihnya. Ini adalah sebuah akhir perjalanan yang lancar.
Naruto melirik ke kaca untuk melihat yang lain, Sasuke terlihat diam saja di samping Obito. Meski Naruto sedikit heran kenapa Sasuke tidak ada bahagianya sama sekali, mengingat rencana mereka berhasil. Trus ada Shikamaru yang duduk paling belakang, dan.. well, kau tau. Dia pemalas dan tidak bisa diandalkan jadi.. Biarkanlah dia tidur.
Terus pandangan Naruto beralih ke Shisui yang tengah menyetir. Pemuda itu nampak fokus. Oke, Naruto akui pada akhirnya teori-teori dan rencana aneh Shisui nyatanya mengantar mereka ke sukses.
Hampir saja Naruto memuji Shisui jika seandainya pemuda yang menyetir itu tidak melakukan sesuatu yang janggal.
Dia nampak tidak membiarkan mobil ini berbelok ke arah yang menuju kota Konoha.
Naruto mengernyitkan dahi.
"Kita lewat mana?" tanya Naruto.
Shisui menoleh.
"Hm? Oh, tentu saja jalan tol." jawab Shisui santai.
Naruto semakin heran.
"Kita tidak akan bisa ke konoha kalau lewat jalan tol." balas Naruto, meminta penjelasan lebih lanjut.
"Konoha? kita kan mau ke Iwa." Jelas Shisui
"A-Apa katamu?"
Shisui menjawab enteng.
"Kita akan ke Iwa."
"HAH? NGGAK!" Naruto menolak keras, bertingah seperti anak kecil.
Membuat Shisui memutar bola matanya.
"Ya ampun. Lagi-lagi kau sangat khawatir." celoteh Shisui. Mengulan pertanyaan yang pernah ia tanyakan ke Naruto, dalam bentuk pernyataan.
Naruto menatap jari jemarinya gemas. Ingin sekali dia mencekik pemuda ini.
.
DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Chapter 94 : Money talks? Fair Bargain
.
Yap, pada akhirnya. Orang-orang ini tidak mendengarkan sama sekali perihal nasehat bijak Naruto. Mereka benar-benar menyeret Naruto menuju perjalanan panjang ke Iwa. Naruto bahkan mengomel panjang ke Shisui yang tengah menyetir.
Membuat Shisui yang tengah berkonsentrasi menjadi sedikit terganggu.
20 menit sudah berlalu dimana dia barusaja selesai menceramahi Shisui. Dan Naruto nampak menyerah, karena pemuda di sampingnya itu tidak terlihat mau untuk memutar balik mobilnya.
Naruto melorot dari duduknya pasrah.
Hah. Lagi lagi perjalanan panjang tanpa persiapan.
.
Perjalanan itu dilalui dengan senyap. Terlepas karena sekarang sudah menunjukan pukul 9 malam, sepertinya alasan tidak ada yang mau mengobrol adalah karena canggung yang dirasakan. Yang paling merasakan tentu Sasuke, karena dia kini tengah duduk di samping Obito. Salah satu keluarganya yang bahkan tidak pernah sasuke sadari ada.
Sasuke melirik ke Obito, berusaha mencairkan suasana.
"Jadi. Kau bekerja di rumah sakit?" tanya Sasuke.
Obito nampak diam beberapa saat. Dia memejamkan matanya lalu menjawab. Gesturnya tidak berubah.
"Sabar Sasuke, semua pertanyaanmu akan terjawab. Namun tunggu kita sampai ke Iwa." balas Obito.
Sasuke terdiam. Tanda mengiyakan saja. Setelah jawaban dingin dari Obito, Sasuke nampak tidak berniat bertanya lebih lanjut. Lebih memilih diam disepanjang perjalanan.
.
skip
Seperti yang dikatakan Naruto, perjalanan ke Iwa menggunakan mobil kurang lebih 6 jam. Naruto yang ada di depan tentu saja secara tidak langsung harus menggantikan Shisui yang menyetir, jika pemuda itu merasa capek. Dengan terpaksa, Naruto mengiyakan saat sepupu Sasuke itu minta digantikan, karena Shisui terlihat mengantuk. Terlepas dari rasa sebal yang ia rasakan.
Sialnya, Shisui sepertinya tidak sadar kalau dia menghentikan mobilnya di depan sebuah 'tongkrongan-para-preman-setempat'
Naruto yang melihat orang-orang menyeramkan itu nampak mendekati mobil mereka pun segera menutup kembali pintu yang telah ia buka sedikit.
"Oi. Shisui, kita tukar tempat dari dalam mobil saja." Ujar Naruto.
Shisui yang kala itu sibuk dengan sabuk pengaman pun menoleh.
"Ha?" Shisui sepertinya belum mengerti apa yang dimaksudkan Naruto. Saat dia melihat yang ditunjuk Naruto, dia ikut panik.
"WOAH!"
Naruto menoleh ke Sasuke dan Obito yang ada di belakang.
"OI! KUNCI PINTU MOBIL!" Teriak Naruto. Membuat Obito, Sasuke dan Shikamaru yang setengah sadar karena tengah tertidur pun terkaget.
"Akh!" Sasuke bisa melihat gerombolan orang yang kini tengah mengerumuni mobilnya dan menggedok gedok jendela mobil lalu mencoba membuka pintu. Namun sepertinya tidak berhasil karena pintu memang sudah terkunci.
Dengan susah payah Naruto dan Shisui bertukar tempat dari dalam mobil. Saat Naruto sudah bisa menyentuh pedal gas dan roda kemudi, hal pertama yang ia lakukan adalah menghentak klakson mobil dengan keras.
TINN TIINN!
"MINGGIIRR!" Teriak Naruto.
Orang orang yang menghalangi mereka pun nampak mundur satu langkah dengan kesal.
Dengan segala jerih payahnya, Naruto akhirnya berhasil membawa mobil kembali ke jalan raya.
Shikamaru yang sedari tadi tertidur pulas nampak sangat bangun sekarang.
"Kau gila!" Teriak Naruto kepada Shisui. Menyalahkan pemuda itu yang 'parkir sembarangan'
Shisui menoleh, Sepertinya kejadian barusan benar-benar menghilangkan kantuknya.
Oke, Shisui memang sudah tidak fokus tadi, dia juga tidak menyangka dia akan berhenti di tempat tongkrong para perempuan jadi-jadian. Sembari membayangkan apa yang barusaja terjadi, dia menatap ngeri bekas lipstik yang megotori jendela mobil Rin dari luar.
.
~iwdwiw~
.
12.15
itulah waktu yang ditunjukan saat akhirnya mereka sampai ke gerbang besar yang bertuliskan 'IWA'
Naruto yang menyetir nampaknya sudah merasa keram dan kesemutan di kaki dan tangannya. Terlebih lagi rasa ngantuk yang sudah menghampirinya sejak jam 11.30 tadi. Setelah meminta Obito menunjukkan jalan yang harus Naruto tempuh, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.
para pemuda itu diarahkan ke sebuah rumah susun bergaya modern yang sepertinya ditinggali Obito. Mereka hanya mengikuti saja saat Obito mengkomando mereka untuk turun dari mobil dan mengikutinya. Naruto lah yang turun belakangan karena harus memarkirkan mobil terlebih dahulu.
Lantai 3.
"Maaf jika tempatnya sempit." Ujar Obito sembari membukakan pintu.
Sasuke, Shikamaru dan Shisui saling pandang, mereka tidak mempermasalahkan apapun. Sedangkan Naruto, dia hanya berdiri paling belakang sembari melipat tangan di dada, menandakan dia masih tidak mengerti kenapa mereka sekarang ada di Iwa. Yap, benar benar ada di Iwa.
.
Dijamu dengan makan malam seadanya, keempat tamu Obito itu nampak tidak berkomentar dan memilih menghabiskan cup ramen yang ada di depan mereka.
Disela makan mereka, Shikamaru lah yang menjelaskan ke Naruto dengan rinci kenapa mereka sekarang ada di Iwa. Tentu saja dibuntuti protes oleh pemuda jabrik tersebut. Namun karena Naruto tau protesnya tidak akan berarti apa apa, dia lebih memilih pamit mandi. Menghiraukan waktu yang kini sudah jam setengah dua lebih.
"Handuknya ada di rak." Teriak Obito kepada Naruto.
Obito juga mempersiapkan beberapa futon untuk tempat tidur mereka berempat. Shikamaru lah yang sepertinya paling terpikat dengan Tempat tidur yang cantik itu.
Shisui, pemuda easy going itu sepertinya sangat nyaman berada disini. Karena dia kini sudah larut dengan acara TV komedi larut malam yang terpampang di Televisi yang ia nyalakan beberapa menit lalu. Yap, belum lewat tiga jam di rumah orang, dan pemuda itu sudah menganggap ini layaknya rumah sendiri.
Setelah berganti kaos oblong dan menjamu para tamunya dengan beberapa jamuan sederhana, Obito nampak menepuk pundak Sasuke.
Sasuke yang kala itu duduk tak jauh dari Shisui menoleh. Dia bisa melihat Obito mengisyaratkan Sasuke untuk mengikutinya.
.
.
Cklek. Saat Obito sudah menutup pintu, dia lalu mendekati pagar pembatas. Mencoba rileks sembari menatap santai beberapa mobil yang diparkir di bawah sana.
Obito lalu mengeluarkan satu bungkus rokok dan lighter dari kantungnya.
"Rokok?" tanya Obito, menawari Sasuke.
Sasuke menggeleng.
Obito hanya mengangkat bahu dan kemudian berniat menikmati rokok itu untuk dirinya sendiri. Sasuke bisa melihat dengan jelas Obito yang kini tengah menyalakan batang rokoknya.
Hening beberapa saat, sebelum Obito akhirnya bersuara.
"Kau tau, orang bilang, punya uang banyak akan membuatmu kehilangan banyak waktu pula?" Ujar Obito sembari menghembuskan asap rokoknya.
Sasuke mencoba mencerna maksud dari ucapan Obito.
"Maksudmu?"
Obito memejamkan mata.
"Orang kaya, Sasuke. Saat kau punya banyak uang, kau akan khawatir uangmu tidak bisa kau gunakan dengan benar..." Jelas Obito. Dia membuka mata lalu melirik Sasuke.
Sasuke diam mendengarkan.
"..Orang miskin, satu satunya kekhawatiran adalah, bagaimana mereka bisa makan besok." Lanjut Obito.
Sasuke mendengus. Entah kenapa Sasuke paham apa yang dikatakan Obito. Kau tau? Tinggal dua bulan di rumah tua, sembari memikirkan apa yang akan terjadi jika bahan makanan habis. Yap, itulah Sasuke belakangan ini.
"Aku tinggal disini bermodal usaha ku sendiri. Bahkan motor yang kalian curi kemarin. Aku membelinya sendiri, tanpa meminta dan tanpa ada yang membelikan." Obito masih melanjutkan.
Sasuke masih diam. Kini pikirannya penuh dengan berbagai macam hal. Entah kenapa hal yang dikatakan Obito sangat menyidir bagi Sasuke. Bahkan mobil porsche milik Sasuke, adalah hadiah dari kakek Madara untuk ulang tahun Sasuke yang ke 16.
Sasuke melirik ke Obito.
"Kau bilang kau bekerja di rumah sakit?" tanya Sasuke.
Obito nampak mengangguk.
"Dokter?" tanya Sasuke lagi.
Obito mendongak menatap langit.
"Assisten Dokter, lebih tepatnya. Atasanku adalah seorang dokter syaraf bernama Yakushi Kabuto. Namun dia dipindah tugaskan ke Oto beberapa hari yang lalu."
Sasuke tidak menanggapi. Dia hanya mengikuti Obito yang menatap tempat parkir di bawah. Dia bisa melihat seorang pemuda dan pemudi yang sepertinya mabuk kini tengah keluar dari mobil.
Sasuke kembali melirik Obito dengan pandangan ragu. sebentar dia diam, sebelum dia akhirnya bertanya tentang alasan Obito mengajak mereka ke Iwa.
"Jadi. Untuk apa sebenarnya kita diajak kesini?" tanya Sasuke.
Obito nampak menghela nafas dalam.
"Karena kepindahan Dokter Kabuto yang mendadak, pihak rumah sakit belum sempat mencarikan dokter pengganti. Alhasil beberapa pasien hanya aku dan para perawat yang mengurus." jelas Obito.
Sasuke diam. Masih mendengarkan.
"Dokter Kabuto meninggalkan satu pasien yang sangat susah untuk diurus, tanpa meninggalkan pesan atau memo apapun." Lanjut Obito.
Sasuke mulai membayangkan. Si Dokter Kabuto itu terdengar seperti Dokter yang tidak bertanggung jawab.
Sasuke menatap Obito ragu.
"Kau mau kita bagaimana?" tanya Sasuke
Obito menatap Sasuke. Dia masih melanjutkan,
"Pasien tersebut seumuranmu Sasuke. Entah kenapa, tapi kurasa, kalian bisa mencoba membantu menyembuhkannya."
Sasuke memiringkan kepalanya.
"Caranya?" tanya nya heran.
Obito nampak tidak menjawab.
.
~iwdwiw~
.
.
Keadaan Rumah sakit Iwa cukup ramai di pagi hari. Naruto, Sasuke dan Shikamaru kini tengah mengikuti Obito dari belakang. Setelah dijelaskan apa yang terjadi. Mereka bertiga kini tengah diajak untuk menemui seseorang.
Yap, ketiga orang ini. Sepertinya benar benar melupakan sekolah sama sekali. Mereka bahkan tidak ada yang repot-repot menghubungi konoha Gakuen untuk izin. Bilang mereka sedang ada di iwa.
Shisui, setelah pamit ingin ke kamar mandi, dia hilang entah kemana.
Mereka berhenti di sebuah kamar. 306 itulah nomor kamar tersebut. Sasuke lah yang membaca nama yang tertera di profil pasien.
Hotaru.
Belum sempat Obito membuka pintu, terdengar seorang melangkah keluar dari dalam.
Cklek. Nampak seorang perawat keluar dari ruangan itu.
Perawat bertubuh sintal itu menghembuskan nafas dalam, membawa keluar ransum yang sepertinya masih utuh. Dia menyadari Obito saat sampai di luar.
"Mei-san."
Orang yang dipanggil Mei itu menyahut.
"Ah! Obito, syukurlah kau sudah kembali!" ujar orang itu.
Naruto, Sasuke dan Shikamaru saling pandang.
"Apa yang terjadi?" tanya Obito kepada orang itu.
Perawat itu nampak menunjukkan nampan yang ada di tangannya. Sepertinya itu ransum tadi malam.
"Tidak makan, tidak minum obat. Seperti biasanya."
Obito nampak menghela nafas.
"Hn, aku yang akan mengurus dari sini, terima kasih." Ujar Obito, perawat perempuan itu nampak mengangguk dan berlalu pergi, dia mendorong troli ransum untuk para pasien dan melangkah ke ruangan berikutnya.
Ketiga pemuda itu menatap Obito. Pemuda yang berprofesi sebagai asisten dokter itu pun menoleh ke Naruto, Sasuke dan Shikamaru.
"Hn. Hotaru, Setelah kecelakaan, dia mengalami trauma yang menyebabkan gangguan pada syaraf otak." Jelas Obito. Dia lalu membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk. Naruto, Sasuke dan Shikamaru terlihat mengikuti dari belakang.
"Hm. Selamat pagi Hotaru." Sapa Obito.
Naruto, Sasuke dan Shikamaru memperhatikan dari jauh.
Dimata Sasuke, nampak seorang gadis yang seumuran dengannya, wajahnya pucat dan tatapannya kosong. Dia duduk di tempat tidur sembari menatap nanar kedua tangannya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Obito.
Namun gadis itu nampak tidak menjawab.
Obito lalu memegang tangan gadis itu. Kemudian beralih ke kening nya. Obito bisa merasakan sedikit demam.
"Kau harus makan kau tau. Kalau tidak, kau tidak akan segera sembuh." ujar Obito.
Gadis itu masih diam.
Sasuke diam menatap setiap jengkal perawakan gadis itu. Dia berpikir dalam. Lalu menatap Obito.
Naruto dan Shikamaru saling oleh, mereka lalu menoleh ke Sasuke. Sedikit mempertanyakan kewarasan Obito sebagai petugas medis.
Memang apa yang bisa mereka lakukan untuk mengatasi masalah seperti ini?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxxxxxxxxx
Author Notes(s) : Hanzama is back! yap Hanzama tau, semakin kesini kok semakin serius. Plus, nggantung.
Oke, merangkum beberapa pertanyaan bagaimana Hanzama bisa mengakhiri fanfic ini hanya sampai ke chapter 100. Jujur, Sebenarnya, Hanzama juga belum mengetik sampai sejauh itu..kwkwk *plak*
sebenarnya setelah arc ini selesai, masih ada beberapa scene tambahan (yang sepertinya tidak akan cukup jika hanya dimasukkan ke -after- dibawah) tapi Hanzama gak tau juga sih. Sekedar informasi bahwa Hanzama umumnya tidak bisa menggarap satu chapter dengan word lebih dari 3K (4k mungkin pernah, namun itu sangat jarang) dan Hanzama gak yakin bisa buat chapter super panjang di akhir..
But well, apalah.. seperti kata Shisui. Jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan, atau kau tidak bisa menikmati hidup di masa kini.. maka dari itu, let it flow aja.
Mungkin itu, kita ketemu lagi di chapter depan!
Sekian dari Hanzama. Semoga reader sukses selalu!
cyacya~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
- After -
Shisui berjalan mondar mandir di sepanjang lorong rumah sakit yang luas. Ia nampak tersesat.
"Ya ampun. Rumah Sakit ini luas sekali." Gumam Shisui entah pada siapa. Dia berniat merogoh smartphone nya untuk menghubungi Obito.
Namun kegiatannya harus diganggu oleh seorang dokter yang berlari dan menubruk punggungnya, membuat hp nya jatuh ke lantai begitu saja.
"Ah."
"Maaf nak aku tidak sengaja." Ujar dokter yang buru buru itu. Shisui tidak sempat mengomel karena dokter tersebut nampak berlalu cepat.
Saat mengambil smartphone nya, Shisui menyadari bahwa stetoskop milik dokter itu terjatuh di lantai. Dia menoleh ke lorong dimana sang dokter sudah tidak terlihat.
Shisui menatap pasrah dan mengambil stetoskop yang ada di lantai itu. Sepertinya, dia harus mengantarkan stetoskop ini ke pihak administrasi atau semacamnya, biar mereka bisa mengembalikan ke dokter yang bersangkutan.
Dia lalu mengalungkan benda itu ke lehernya sendiri. Lalu kembali ke kegiatannya.
Shisui tidak bohong saat dia bilang rumah sakit ini sangat luas. Nyatanya dia kini tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Bahkan Shisui paham 100 persen bahwa dia benar-benar melenceng dari tempatnya tadi. Karena dia kini berdiri di tengah lorong yang sepertinya sektor rawat inap untuk anak-anak.
Rencana awalnya gagal, karena Smartphone nya benar-benar mati.
Detik itu, dia berniat bertanya kepada suster yang lewat untuk menunjukan jalan menemui Obito. Namun itu sebelum pendengaran Shisui menangkap suara bising dari ruang 404, ruang yang sepertinya paling gaduh diantara yang lain, Shisui yang penasaran pun mendekat.
'..ki-chan, kau harus meminum obatnya.'
'NGAAAKK! HWAAA!'
Saat Shisui mendongak ke pintu, pandangannya menangkap seorang anak kecil yang tengah menangis menggeru-geru sembari berguling di lantai. Sepertinya dia menolak minum obat.
Shisui menatap bosan dokter dan perawat yang sepertinya kewalahan.
"Ini biar kamu cepat sembuh."
"NGGAH MAUU! PAHITT! HUWAAAA!"
Dokter itu nampak menyerah. Ibu dari sang anak juga sepertinya tidak bisa berbuat apa apa.
"Satu kali lagi dan kau-"
"Oi."
Dokter, perawat, Ibu dan anak kecil itu menoleh kaget, karena tiba tiba seorang pemuda masuk ke ruangan mereka.
"Siapa kau?" tanya Dokter yang bersangkutan.
Anak kecil yang terduduk di lantai menghentikan tangisnya sejenak untuk memperhatikan pemuda yang masuk.
Shisui, pemuda yang bersangkutan sepertinya memilih mengabaikan tatapan aneh ketiga orang dewasa yang ada disana. Dia malah sibuk menatap anak kecil yang terduduk di lantai.
"Wah gawat. benar-benar gawat." gumam Shisui. Dia menopang dagunya dengan jari telunjuk dan jempol, seakan dia tengah berpikir.
"Ha?" Sang dokter masih tidak mengerti.
Tanpa aba-aba, Shisui mendekati anak kecil itu dan menempelkan cabang ganda stetoskop di telinganya, kemudian dia mendekatkan ujung yang lain ke jidat sang anak kecil.
Dia diam sebentar sembari bergumam. Seakan dia barusaja menemukan masalah dari hasilnya memeriksa jidat sang anak menggunakan stetoskop.
"Hmm.. Hmm.."
Ketiga orang dewasa itu menatap tidak mengerti apa yang terjadi di depan mereka. Yang ia tau, anak kecil itu berhenti menangis.
"gawat! benar benar gawat!" Ujar Shisui kepada sang anak kecil.
Anak kecil itu terlihat tidak mengerti.
"Hee?" Gumamnya polos.
Shisui lalu menepuk pundak anak kecil itu, kemudian melanjutkan.
"Kau! Terjangkit penyakit berbahaya!"
"Hee?!" Anak kecil itu sepertinya termakan ucapan Shisui.
Sang dokter yang melihat adegan itu hanya menampakkan ekspresi tidak paham sembari menoleh ke sang Ibu, berharap mendapat penjelasan kalau pemuda asing ini adalah keluarga mereka. Namun sepertinya bukan.
"Iya! kau terkena penyakit mematikan yang bernama Shikamaruphobia."
"H-" Sang anak nampak membulatkan kedua matanya, terkedjoet.
"Kau akan mati lima menit lagi!" Ujar Shisui.
"HUWAAAAAA!" Anak kecil itu terlihat menangis lagi, Kini dengan erangan yang lebih keras.
Shisui lalu menoleh ke sang dokter. Dia lalu meminta obat yang sang dokter bawa. Kemudian pemuda itu nampak menyerahkannya kepada sang anak kecil.
"Cepat. kau harus meminum ini! Ini adalah penangkalnya!" ujar Shisui.
Sang anak nampak panik, dia lalu dengan buru-buru meminum beberapa pil yang disodorkan oleh Shisui. Shisui lalu menyodorkan air putih yang ada di atas meja. Anak kecil itu meneguk satu gelas sampai habis.
Shisui tersenyum saat sang anak sudah meminum habis obatnya.
"Yosh! Kau akan baik baik saja sekarang." Ujar Shisui, dia menepuk ubun ubun anak kecil itu.
Anak kecil itu menatap Shisui.
"Benarka? Aku.. Aku tidak akan mati?" tanya anak kecil itu polos.
"Tentu saja tidak."
Shisui tersenyum, dia mengiyakan sebelum berdiri. Dia lalu menepuk pundak sang dokter beberapa kali, lalu berucap.
"Belajar."
REVIEW
V
V
V
V
