"Teh lagi Shisui kun?"
"Ah tidak terima kasih."
Setelah tersesat dan tak tau arah jalan pulang, Shisui berakhir di sebuah ruangan serba putih. Dia kini tengah menunggu baterai smartphone nya penuh setelah beberapa saat lalu dia meminta tolong kepada seorang perawat untuk meminjaminya charger. Namun dia sendiri tidak menyangka bahwa dia malah diberi bantuan lebih dari yang ia harapkan.
Mengasumsikan untuk meluangkan waktu kurang lebih 20 menit untuk menunggui smartphonenya, dia kini tengah duduk di sebuah ruangan milik dokter spesialis mata bernama Dr. Ao. Dia juga tidak buru-buru untuk menghubungi Obito seperti rencana awalnya tadi. Toh 20 menit menunggu bukan waktu yang terlampau panjang, apalagi disini dia bisa ngadem dibawah AC sembari menikmati teh.
Di ruangan itu, hanya ada Shisui dan seorang perawat yang kini tengah merapikan beberapa berkas. Shisui mengamati perawat itu bahkan sampai dia selesai mencatat sesuatu yang entah apa. Dari nametag yang terpasang, perawat itu bernama 'Mei Terumi'
"Jadi. kau disini menunggu keluargamu?" tanya Mei kepada Shisui.
Shisui menoleh.
"Ah tidak. Aku saudara Uchiha Obito." Jelas Shisui, berharap perawat yang ada di depannya mengenali siapa orang yang dimaksud.
"Aohh.. Obito. Pemuda itu tidak pernah bilang kalau dia punya saudara."
Shisui tidak menanggapi. Yah, jelas saja. Obito memang tidak mau menganggap klan uchiha sebagai keluarganya.
"Kau tinggal dimana Shisui-kun?" tanya Mei lagi, mencoba membuka percakapan.
Shisui mencoba santai dengan bersandar di kursi.
"Hmm. Alamat resmi sih di Konoha, namun beberapa minggu ini aku lebih sering menghabiskan waktu di Kumo."
"Woah.. Jauh sekali. Kau datang jauh-jauh ke Iwa hanya untuk menemui Obito?" tanya Mei lagi. Sedikit penasaran.
Shisui nampak memberi sedikit jeda sebelum menjawab.
"Kami ada perjanjian dengan Obito."
Mei mengernyitkan dahi.
"Kami?"
Shisui mengangguk.
"Obito bilang, jika kami mau membantu menyembuhkan seseorang, dia bersedia melakukan sesuatu untuk kami." Jelas Shisui.
Mei semakin tidak mengerti.
"Menyebuhkan siapa?"
Shisui nampak menggeleng.
"Tak tau, Obito hanya bilang dia adalah pasien yang ditinggal dokternya, dan sulit ditangani."
Mei terdiam beberapa saat sebelum pada akhirnya setiap kalimat Obito tersambung ke otaknya dan pemahaman menamparnya. Hanya ada satu pasien yang memiliki ciri-ciri yang cocok dari penjelasan Shisui.
"Hotaru?"
"Hm?"
"Kalian mau membantu menyembuhkan Hotaru?"
Shisui diam karena dia sendiri belum bertemu sama sekali dengan pasien yang bersangkutan. Namun dia siap mendengarkan, berharap perawat bersusu besar yang ada di depannya ini bakal menjelaskan setelahnya.
Sedangkan Mei menatap Shisui dengan matanya. Dia mengingat beberapa saat lalu saat Obito membawa tiga orang pemuda masuk ke ruang rawat Hotaru, lalu mengasumsikan 'kami' yang dimaksud Shisui adalah orang orang itu.
"Jika yang kau maksud pasien itu adalah Hotaru. Maka aku akan mengatakan bahwa menyembuhkannya, Itu akan sangat susah."
"..."
Sihisui masih terdiam.
"Disfungsi syaraf motorik."
"huh?"
"Disfungsi syaraf motorik. itulah yang terjadi pada Hotaru." Ujar Mei kepada Shisui.
Shisui yang dasarnya bukan anak kedokteran tentu saja tidak paham sama sekali. Berharap mendapat penjelasan lebih lanjut, dia pun bertanya.
"Apa itu?"
Mei menatap Shisui dalam. Mengasumsikan sedikit salah jika Shisui bilang kalau dia ingin membantu menyembuhkan Hotaru, tapi dia nampak tidak paham medis. Namun dia tetap menjelaskan kepada Shisui setelahnya.
"Well. kau tau. Setiap perintah gerakan tubuh, sensasi dan indera selalu datang dari otak. Jika diibaratkan mesin, hardware tidak akan bergerak tanpa software. Disfungsi syaraf motorik adalah kondisi dimana perintah yang datang dari otak tidak diproses oleh tubuh. Dalam kasus Hotaru, penyebabnya adalah trauma."
"..."
Shisui masih belum paham.
"Kau tau amnesia, Shisui-kun?" tanya Mei.
Shisui mengangguk.
"Jika amnesia adalah adalah terhapusnya perintah data, maka disfungsi syaraf motorik adalah ter-acak nya perintah data."
Shisui malah tambah bingung, tidak lepas karena perawat yang ada di depannya kini tengah menjelaskan dengan mencampur istilah medis dan tekhnologi secara bersamaan.
Melihat pemuda yang ada di depannya terlihat masih kurang paham, Mei mencoba menjelaskan dengan lebih simple.
"Saat kau ingin menggerakan tanganmu, yang bergerak kakimu. Saat kau ingin membuka matamu, yang terbuka adalah mulutmu. Itulah yang terjadi pada Hotaru."
"Oh." Shisui akhirnya paham.
"Namun karena sebagian perintah tidak dapat diproses, Sebagian besar anggota tubuh Hotaru tidak dapat berfungsi. Dengan kata lain, lumpuh."
Shisui mengernyitkan dahinya, tunggu. Lalu bagaimana cara mereka untuk menyembuhkan Hotaru kalau begitu?
"Apa bisa sembuh?" tanya Shisui.
Mei nampak menganggkat bahu.
"Nah, itu yang jadi masalah. Ini adalah penyakit yang sangat jarang ditemui, dan kami sebagai perawat pun tidak tau metode seperti apa yang harus diberikan untuk melakukan perawatan. Bahkan Dokter Kabuto sendiri tidak meninggalkan catatan apapun."
"..."
"Aku tidak tau apa yang dipikirkan Obito menyeret kalian dalam hal seperti ini."
"..."
"Namun yang jelas, jika dokter spesialis syaraf seperti Dr. Kabuto saja sulit menemukan solusinya, apalagi orang awam yang kurang paham medis." Mei nampak tersenyum mencoba tidak menyinggung perasaan Shisui.
"..."
.
.
"Mungkin Obito sedang mengerjai kalian."
.
DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Chapter 95 : Money talks? Screw You Obito
.
"Ah iya, nanti aku akan memeriksanya."
"Obito!"
Obito menoleh saat namanya dipanggil.
BRAKH! Sayangnya, keputusannya menoleh berimbas dirinya kena dengkul tepat di perutnya. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit karena ini kedua kalinya perutnya menjadi sasaran selama beberapa hari terakhir.
Beberapa perawat yang ada di lorong bersama Obito nampak sedikit mundur memberi jarak kepada pemuda yang dengan tiba-tiba menghajar perut Obito dengan dengkulnya.
"A-Apa yang kau lakukan Shisu-Ouch!"
Tidak berhenti sampai disitu, Shisui mencengkram kerah Obito dan memepet pemuda itu ke tembok.
"Kau-"
BRAK.
Obito bisa merasakan punggungnya membentur keras dinding rumah sakit. Dia terduduk, dia mendongak marah kepada Shisui.
"APA YANG KAU LAKUKAN IDIO-"
"Kau.. Katakan kau tidak menipu Sasuke!" Shisui nampak menatap Obito tajam.
"Apa yang kau maksudk-"
"Jangan pura-pura bodoh bangsat!"
"Ha-?"
"Aku tau semua tentang pasien yang kau maksudkan!" bentak Shisui.
"Ap-"
"Pada akhirnya, bahkan jika kami membantumu. Kau tetap tidak mau menggantikan Sasuke kan?!"
Obito nampak terdiam. Dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan Shisui. Yang dia lakukan hanya berdiri, namun dia tidak berucap setelahnya. Dia menatap Shisui, tanpa berucap apapun, Obito malah memukul keras perut Shisui dengan tinjunya sebagai balasan. Mata dibalas mata.
Shisui terbelalak. Berdasar atas apa yang terjadi, dia pung langsung mengasumsikan bahwa pemuda yang lebih tua di depannya ini memang seorang penipu. Tanpa aba-aba, dia lalu menggerakkan tinjunya ke pipi Obito. Boakh! Tinju itu kena, namun Obito membalas dengan tendangan tinggi, sayangnya bisa diblock oleh tangan kiri Shisui.
Serangan kedua Obito adalah pukulan tangan kiri, yang sukses mengenai pelipis Shisui. Shisui berniat meluncurkan serangan balasan.
..
menit berikutnya, mereka berkelahi. Hingga akhirnya beberapa pembesuk, dan dokter datang melerai karena mendengar beberapa suster meminta tolong.
.
~iwdwiw~
.
Meanwhile
"Hhhhh~"
Sasuke, Shikamaru dan Naruto. Mereka duduk di bangku panjang di ruang tunggu, mencoba memikirkan apa yang terjadi.
"Jadi kau punya rencana?" tanya Naruto mulai tidak nyaman.
Sasuke yang merasa ditanyai tidak menjawab. Mana ada dia punya rencana. Dia melirik Shikamaru yang kini duduk bersandar dan mendongak menatap langit. Pemuda itu nampak terngah memikirkan sesuatu yang entah apa.
Naruto menunduk mengacak-acak rambutnya. Buset dah, hanya karena satu kontrak bodoh, mereka jadi terseret kemana-mana.
"Aku lapar..."
Naruto dan Sasuke menoleh ke Shikamaru yang kini bergumam. Entah kenapa nada melas Shikamaru membuat Naruto lebih emosi. Ya ampun! akankah semuanya menjadi lebih buruk hari ini?!
.
'.. Apa maksudmu. Hotaru-chan kan paling suka cupcake.'
'Ya. Tapi perawat bilang kita tidak boleh membawa makanan sebelum Hotaru sembuh.'
'kita tidak tau kan, siapa tau Hotaru-chan sembuh hari ini'
.
Ketiga pemuda yang duduk di bangku panjang itu teralihkan oleh dua orang gadis yng tiba-tiba lewat di depan mereka. Salah satu nya adalah, gadis berrambut panjang berwarna merah mencolok, dan (sedikit) cerewet.
.
"Kan sudah ku bila-WHOAAH!" Bak melihat hantu, gadis berambut merah itu terkaget menyadari kehadiran Naruto, Sasuke dan Shikamaru yang balik menatapnya dengan pandangan bosan.
"Sssttt!"
Gadis berambut merah itu salting saat dia diingatkan dengan sst oleh beberapa orang yang terganggu karena suaranya yang terlalu keras.
.
"Hah.. tentu saja. Ini kan Iwa. Tentu saja ada dirimu berkeliaran." Ujar Naruto dengan pandangan malas. Dia sudah tidak punya tenaga untuk terkejut.
Sedangkan gadis berambut merah yang ada disana masih mencoba mencocokan ketiga pemuda yang tidak pada tempatnya ini dan alasan kenapa mereka ada disini.
Gadis itu menatap Naruto, Sasuke dan Shikamaru heran.
"Apa yang kalian bertiga lakukan disini?!"
.
.
Skip
Sara. Itulah gadis yang ditemui ketiga pemuda. Meluangkan waktu untuk mengobrol, keempat orang itu kini tengah duduk di sebuah meja kayu di taman rumah sakit. Kenapa empat? tentu saja karena satu gadis yang bersama Sara tadi minta izin untuk pergi ke ruang rawat Hotaru terlebih dahulu.
"Siapa gadis yang tadi?" tanya Shikamaru malas.
Sara menoleh tidak percaya kepada Shikamaru. Tunggu pemuda nanas ini serius?
"Serius?" tanya Sara kepada Shikamaru. Namun melihat Shikamaru yang mengangkat bahu, Sara akhirnya menjawab juga.
"Dia dulu ikut festival, dan sempat tidur di rumah kecil kalian." jelas Sara.
Naruto, Shikamaru dan Sasuke daling toleh. Menampakkan wajah tidak ingat.
.
"YA AMPUN! dia Sasame Fuuma, ketua klub fotografi Iwa-Art!"
Mereka bertiga nampak berwajah bodoh. Ya mana mereka tau kan?
Sara menatap ketiga pemuda yang ada di depannya bosan. Dia menopang pipinya dengan tangan kiri.
"Jadi? Apa yang kalian bertiga lakukan di iwa?" tanya Sara.
Naruto nampak menatap malas dara dan menenggelamkan wajahnya di meja.
"Kalian saja yang menjelaskan." Ujar Naruto.
Mendengar itu, Sasuke menoleh ke Shikamaru. Namun pemuda itu nampak hanya mengangkat bahu, menandakan bahwa Sasuke saja yang berbicara.
Melihat kedua sahabatnya tidak bisa diandalkan, Sasuke akhirnya yang menjelaskan semuanya.
.
~iwdwiw~
.
Ironi itulah yang dirasakan Shisui. berniat membantu menyembuhkan orang sakit, malah sekarang sekujur tubuh nya sakit karena babak belur. Tentu saja karena tadi dirinya berkelahi dengan obito di lorong. Namun Obito juga tidak jauh beda, dia juga sepertinya babak belur. Di sudut pandang Shisui, menghajar dokter yang seharusnya dia bantu dikala dia harus menyembuhkan orang sakit tapi dirinya sendiri babak belur, ini seperti ironi diatas ironi.
"Ouch."
"Sst! Jangan bergerak Shisui-kun."
Shisui hanya megaduh saat beberapa bagian wajahnya yang berdarah kini tengah diobati oleh perawat Mei. Shisui dan Obito dipisahkan dan diobati di ruang yang terpisah pula, itulah alasan Shisui kini berakhir berdua saja dengan perawat Mei. Diobati luka nya.
"Maaf ya Shisui-kun."
Shisui mencoba mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Perawat Mei, mencoba mengabaikan telinga kirinya yang masih berdengung karena diadu keras oleh jidat Obito tadi.
"Jika aku tidak memberitahumu hal yang aneh-aneh. Kau pasti tidak akan berakhir babak belur." Lanjut Mei lagi.
"Hm. Tak apa-ouch." Shisui mengaduh karena merasakan bibirnya sakit saat berbicara.
Mei terkekeh geli.
"Yosh selesai." ujar Mei akhirnya saat dia akhirnya selesai menempelkan plester terakhirnya di pelipis Shisui.
"Hm. terima kasih." Ujar Shisui.
Mei lalu mundur satu langkah untuk mengamati wajah Shisui. Dia lalu menatap menyeluruh setiap lekuk tubuh Shisui dari badan sampai kaki. Sebelum dia akhir terseyum.
"Yosh. Sekarang, buka celanamu."
Shisui menatap perawat bersusu besar itu tidak percaya. Mencoba memahami maksud dari ucapannya barusan.
"T-Tunggu? A-Apa?"
Mei memutar bola matanya.
"Buka celana! Kau mau aku yang membukanya?" ujar Mei sedikit tidak sabar.
Shisui menelan ludah. Oke, Ini berlebihan. Shisui tidak mau dengan tiba-tiba diginiin! Shisui masih perjaka tau.
Mei yang melihat Shisui tidak segera melakukan yang ia katakan malah mengambil langkah pertama untuk berlutut di hadapan Shisui memposisikan dirinya di depan Shisui. Shisui bisa melihat dengan jelas lipatan buah dada milik perawat Mei.
Di menelan ludah.
Tanpa aba-aba, perawat Mei meremas dengan keras lengan kaki milik Shisui dari luar celana jeans nya.
"HIAAAWWW!" Shisui berteriak saat dirasakannya nyeri hebat yang menjalar sampai ke ubun-ubun.
.
.
.
"Kau datang kemari pincang. Sudah kuduga memarmu pasti sampai ke kaki."
Shisui meringis kesakitan, dia bahkan tidak menyadarinya sampai perawat Mei meremas lengan kakinya dengan semena-mena.
sialan.
.
~iwdwiw~
.
Sara akhirnya melongo bak orang bodoh saat Sasuke sudah menjelaskan semuanya. SIngkatnya seperti ini.. mereka bertiga ingin membantu menyembuhkan Hotaru agar asisten dokter yang merawat Hotaru bisa menggantikan Sasuke untuk menjadi CEO Perusahaan.
Ketiga pemuda itu juga menemukan fakta dari Sara bahwa pasien yang bernama Hotaru itu adalah salah satu murid Iwa-Art Academy sekaligus teman Sara.
Sara menghela nafas.
"Kenapa kalian selalu berlibat dengan masalah yang merepotkan sih." ujar Sara akhirnya.
Naruto mendengus.
"Hn. Kami sendiri heran." Dia melirik Sasuke. Membuat Sasuke balas menatap Naruto dengan pandangan aneh.
"Dengar ya. Aku tau ini demi kepentingan Sasuke. Namun aku tidak bisa membiarkan kalian seenaknya menjadikan temanku sebagai batu loncatan untuk memecahkan masalah kalian." ujar Sara, sedikit memberi penekanan kepada kalimatnya.
"Hei. Bukan kami yang membuat perjanjian ini tau." balas Naruto kepada ucapan Sara.
"Analogi mu salah." Shikamaru akhirnya bersuara. Membuat ketiga orang yang ada di situ menoleh. Pemuda nanas itu nampak berbicara sembari memperhatikan seorang kakek tua yang kini tengah mendorong kursi roda yang diduduki seorang nenek. Mereka tampak bahagia.
"Analogi Batu loncatan boleh kau gunakan apabila kami menginjak keberuntungan seseorang."
"..."
Shikamaru masih tidak menoleh.
"Namun dalam kasus ini, Jika Hotaru sembuh, maka Sasuke tidak akan jadi CEO. Kita sama-sama menang. Itulah kenapa, ini seharusnya adalah melempar dua burung dengan satu batu." Jelas Shikamaru.
Yah. Sasuke nampak mengerti apa yang dimaksudkan Shikamaru.
Sara menatap sebal kepada Shikamaru karena berhasil membalas telak ucapan Sara.
"Yang ku maksudkan adalah. Kalian bahkan tidak mengenal Hotaru. Bagai mana kalian mau membantunya hanya karena sebuah perjanjian!" Sara masih belum menyerah.
Ketiga pemuda itu saling toleh.
"Hm. Itu lebih baik daripada tidak pernah membantu orang sama sekali." Ujar Sasuke.
Membuat Shikamaru yang mendengarnya tertawa. Naruto juga mengangguk mengiyakan.
Sara menepuk wajahnya tidak percaya. Siapa sangka, pertemuannya dengan ketiga pemuda ini beberapa waktu lalu membuat dia paham tabiat dan maksud dibalik setiap perbuatan mereka. Meskipun selebihnya, apapun yang mereka lakukan setelahnya tidak bisa diprediksi.
.
~iwdwiw~
.
cklek.
Shisui melangkah masuk ke ruangan yang ditunjuk oleh perawat Mei. Ini adalah ruang rawat milik Hotaru. Dia melangkah dengan mantap namun pelan, mencoba tidak menggubris nyeri di kakinya yang kini sudah diperban oleh perawat Mei. Dia ingin melihat keadaan pasien yang di maksud untuk sekedar memeriksa.
Di hadapannya, nampak seorang gadis seumuran Sasuke, yang tengah terduduk di kasurnya, pandangannya kosong. Shisui melirik setiap sudut ruangan itu. Ada beberapa obat-obatan di meja, dan satu keranjang kecil berisi cupcake.
Dengan langkah pelan Shisui mencoba mendekat ke ranjang gadis itu, berniat mengamatinya lebih dalam. Shisui menyadari hampir sudah tidak ada luka fisik yang terlihat. Terlepas dari ucapan perawat Mei yang mengatakan bahwa trauma yang menyebabkan disfungsi syaraf Hotaru disebabkan oleh kecelakaan.
Saat Shisui tengah asyik mengamati gadis yang bersangkutan, dia dikagetkan oleh suara siraman dari dalam kamar mandi. Diikuti oleh seorang gadis yang keluar setelahnya.
Disisi lain, Sasame Fuuma. Gadis lain yang sedari tadi di kamar mandi dikagetkan oleh seorang pemuda tidak dikenal yang dengan tiba-tiba berdiri mencurigakan di samping ranjang Hotaru.
"Kyah! SIAPA KAU?!" Teriaknya kaget.
Shisui yang menyadari keberadaan orang ketiga pun hanya menjawab santai.
"Hn. Shisui."
Sasame yang merasa penjelasan Shisui tidak menjelaskan apapun akhirnya membentak Shisui lagi.
"KELUAR ATAU KU PANGGIL PERAWAT!"
'cr..im..s'
"Hei tunggu! Sudah kubilang namaku Shisui!" Balas Shisui,
Dia bisa melihat sang gadis marah-marah itu mulai mempersenjatai dirinya dengan kursi plastik yang ada di dekatnya.
"BODO AMAT! KELUARR!"
'crim...s..on.'
.
"KAU! JANGAN JANGAN DISINI MAU MENCURI KAN?!"
Perdebatan kedua anak manusia itu harus diinterupsi oleh suara yang datang dari orang ketiga yang ada di ruangan itu.
"Hei hei! SSt!"
Shisui yang menyadari suara lain datang dari Hotaru pun nampak mencoba menghentikan Sasame.
'Crim...son.. e'
"Huh? Hotaru-chan?!" Sasame mencoba mendekat saat disadarinya Hotaru nampak mencoba berbicara. Mulai mengabaikan Shisui yang juga mencoba menunggu gadis itu bicara lagi.
.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Hotaru bersuara lagi.
'crim...son...eye'
Sasame menatap Hotaru, lalu beralih ke Shisui.
"Crimson eye?" tanya Sasame sedikit heran. Namun Shisui terlihat mengiyakan menandakan kalau dirinya juga memproses kalimat yang sama dengan Sasame.
.
.
Crimson Eye? Apa itu?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxx
Author Note(s) : Heyho! Hanzama is back! huft.. chapter ini nyatanya gak bisa termasuk ke deretan apdet kilat yang lalu. But well, slow.. masih lanjut kok..
Hm, langsung ke point aja ya..
Reviewer (ASK) : Thor, kok Naruto yang seharusnya banyak dapet bagian malah terasa dikit amat. Shikamaru udah (kalo ga salah, lama update sih lu. Jadi lupa, kan!), Sasuke? Lah ini. Naruto? Ada memang, tapi dikit banget atau setengah-tengah-
Hanzama (Answer) : I Know.. ini sedikit menyebalkan, tapi Hanzama gak bisa janji sih (=.=) ini aja udah mentok cari ide sana sini.. dan coba nyambungin alur itu susahnya minta ampun, apalagi karena kemarin sempet hiatus berbulan2.. Maaf bila rasio masalah mereka bertiga tidak bisa seimbang.. Hanzama gak tau setelah arc ini bakal terilhami ide lagi atau tidak.. yang jelas, hanzama akan mencoba fokus di arc ini dulu.. bila masih ada kesempatan, kita buat kekacauan lain yang lebih menyangkut Naruto/Shikamaru.
..
Mungkin itu kali ya? Oh iya. Maaf update nya rada telat. Ini udah apdet kok~ hew hew~
kita ketemu lagi di chapter 96!
Salam hangat dari Hanzama, semoga sukses selalu!
CYA CYA~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
-After-
Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Sara berjalan beriringan menyusuri lorong. Tujuan mereka adalah kamar rawat Hotaru. Tentu saja untuk menjenguk sekaligus mendiskusikan lebih lanjut tentang apa yang terjadi.
Di lantai yang sama, mereka bertemu Obito. Pemuda itu entah kenapa nampak babak belur.
"Kau kenapa?" Sasuke lah yang bertanya.
"Hn. Terjatuh." Ujar Obito, dia mencoba tidak menghiraukan rasa nyeri yang menjalar di wajahnya. Sara sempat memberi hormat dan dibalas anggukan sopan dari Obito.
Mereka berlima berjalan beriringan selanjutnya. Tujuan mereka sama, yaitu ruang rawat Hotaru. Meskipun kelihatannya kurang baik rasanya bila mempertemukan Obito dan Shisui lagi di tempat yang sama untuk sekarang.
Untungnya, saat masuk ke ruangan rawat itu, Obito tidak melihat keberadaan Shisui sejauh mata memandang.
Sialnya, begitu pula dengan Sasame, bahkan Hotaru yang kini sudah tidak ada di tempatnya. Ruangan itu kosong.
"Ini benar ruangannya gak sih?" tanya Naruto kepada Obito, mengingat pemuda itu bilang gadis bernama Hotaru itu tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Obito yang mendengar pertanyaan Naruto pun keluar untuk memeriksa nama pasien yang terpampang di dekat pintu. Benar kok.
Sara bahkan bisa melihat cupcake yang dibawa Sasame tadi bertengger manis di atas meja.
Shikamaru lah yang menyadari sebuah catatan yang bertengger manis dimeja. Catatan itu ditindih oleh smartphone yang tampaknya milik Shisui.
"Oi." Ujar Shikamaru. Mengalihkan keempat orang yang ada di ruangan itu. Mereka mendekat untuk melihat sesuatu yang ada di tangan Shikamaru.
Sebuah catatan :
'Maaf, Hotaru aku bawa untuk melihat crimson eye bersama Sasame'
ttd-Shisui.
Nb : b4ngsat kau Obito.
.
Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Sara menatap secarik kertas itu tidak percaya. Obito lah yang nampak paling terkejut.
"A-APA?!"
.
Ya ampun. Ini penculikan!
REVIEW
v
v
v
v
