"Kau tunggu disini saja Kakashi."
Tsunade berujar ke seorang yang ada di depan roda kemudi. Lalu, tanpa keterangan lebih lanjut, Kepala Sekolah Konoha Gakuen itu keluar dari mobil dan meninggalkan Kakashi bahkan sebelum pria itu menjawab.
foREVer street, itulah tempat dimana mobil yang ditunggangi Tsunade berhenti. Lebih spesifiknya : di depan rumah tua kediaman Naruto, Sasuke dan Shikamaru. Wanita itu berjalan cepat mendekati pintu depan dengan penuh wibawa. Saat sudah ada di depan pintu, dia tanpa ragu langsung mencoba memutar knop pintu. Namun sayangnya pintu itu tidak terbuka, alias terkunci.
DOK DOK DOK.
Tsunade mengetuk dengan kasar pintu kayu itu berharap siapa saja yang ada di dalam akan menjawab bahkan membukakan pintu. Namun sayang usahanya tidak membuahkan hasil. Menyadari nampak tidak ada orang di rumah, dia pun mendekati jendela dan mencoba mengintip. Sayangnya, suasana di dalam nampak sepi tidak ada orang.
'Ah sudah kuduga.'
Paham ketiga pemuda yang dia cari tidak ada di tempat, dia pun kembali ke mobil. Menghampiri lagi sang 'supir' yang nampaknya ikut bingung dengan kelakukan Kepala Sekolahnya.
BLAM.
Tsunade kembali duduk di kursi belakang dan menutup pintu mobil.
"Bagaimana, Tsunade-sama?"
Tsunade menggeleng.
Kakashi nampak menatap Kepala Sekolahnya itu.
"Sekarang bagaimana?"
Kakashi bertanya lagi, namun Tsunade terdiam sebentar, mencoba berpikir. Dia memikirkan tentang telfon dari Jiraya kemarin.
"Hm, Pertama kita ke Kediaman walikota dulu." Jelas Tsunade, dia sepertinya mencoba mencari ketiga pemuda yang bersangkutan. Kakashi terdiam. Menyadari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.
.
DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Chapter 96 : Money talks? The Grand Quest
Bak nobar piala dunia, keenam orang yang ada di ruangan ini tengah asyik menonton sebuah tayangan di layar LCD. Yang ku maksud ruangan ini adalah pos operator keamanan rumah sakit Iwa. Dan keenam orang yang dimaksud adalah Naruto, Sasuke, Shikamaru, Sara, Obito dan seorang Operator keamanan. Operator keamanan yang beberapa menit lalu diganggu oleh orang-orang ini karena mereka ingin menonton rekaman CCTV di beberapa titik rumah sakit.
Dan disanalah mereka, menjadi Saksi seorang imposter kelas kakap yang membawa kabur salah satu pasien rumah sakit. Di tayangan yang sudah diputar 15 mentan itu, nampak menjelaskan bagaimana Seorang Uchiha Shisui yang dengan santainya mencuri jas dokter, beberapa alat medis seperti masker, kursi roda dan baju operasi. Kemudian dilanjutkan dengan tayangan yang menunjukkan Shisui dengan santainya membawa Hotaru menggunakan kursi roda meninggalkan ruang rawatnya. Di belakang pemuda itu, mengenakan jas curian dan masker yang serupa, Sasame terlihat mengikuti.
Obito melongo tidak percaya, bukan hanya karena Shisui berhasil menyelundupkan Hotaru sampai ke gerbang depan, namun juga karena beberapa perawat yang seharusnya tau wajah Shisui dan Hotaru pun nampak tidak mengenali kedua (dalam kasus ini tiga) orang itu melintas.
"ASTAGA!" Teriak Obito frustasi.
Sedangkan disisi lain, Sara menatap Naruto, Sasuke dan Shikamaru dengan pandangan marah. Menandakan apa yang dibayangkannya dari ketiga pemuda ini nampaknya menjadi kenyataan. Gadis itu sesekali kembali melihat rekaman CCTV, dia juga tidak mengerti kenapa kawannya Sasame bersedia terlibat dengan hal seperti ini.
Naruto dalam hati, sebenarnya ingin lagi-lagi menyalahkan setiap Uchiha yang ada, namun nampaknya amarahnya itu sudah terlebih dahulu diwakili oleh tatapan tajam Sara kepada mereka bertiga. Itulah kenapa dia lebih memilih diam.
Shikamaru, dia duduk di salah satu bangku sebari menopang pipinya. Mencoba mengurutkan setiap kejadian yang menuntunnya ke keadaan ini.
Sedangkan Sasuke, dia hanya diam mematung sembari merasakan setiap keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Mempertanyakan kewarasan seorang Uchiha Shisui yang baru saja 'memblokir' pintu keluarnya dari tanggung jawab Seorang CEO dengan cara melakukan tindakan penculikan. KOK JADI BEGINI?
Takut menghancurkan atmosfir frustasi yang sangat kental di ruangannya, sang Operator keamanan pun hanya diam tak bersuara sembari diam-diam bermain PUBG Mobile di pojok ruangan.
Shikamaru nampak menguap lebar. Menyadari kelima orang yang ada di sini tidak ada yang bersuara. Shikamaru lebih memilih menjadi yang paling progresif dengan bertanya.
"Jadi sekarang bagaimana?" tanya Shikamaru.
Keempat orang itu menoleh.
"TENTU SAJA KITA HARUS MENCARINYA!" Sara dan Obito berteriak secara bersamaan.
Sasuke menatap kedua orang yang berteriak itu, sudah jelas dari gelagatnya bahwa selanjutnya mereka berdua akan mengomel.
.
~iwdwiw~
.
30 menit kemudian
Naruto menatap langit-langit dengan malas. Astaga, ini adalah kesekian kalinya dia diseret-seret dengan masalah orang lain. Hal yang ia inginkan sekarang adalah, dia hanya ingin pulang ke rumah dan rebahan di depan TV. Mencoba sebisa mungkin menghalau Uchiha jenis apapun yang dikemudian hari bertamu lalu akan menyeret nya kepada hal-hal yang dapat membuat IQ turun.
Mereka berlima kini ada di ruang loker staff rumah sakit. Mereka berdiskusi sembari menunggu Obito yang tengah mengganti pakaian dinas nya menjadi pakaian casual untuk 'memburu' Shisui.
"Jadi? Crimson Eye yang dimaksud Shisui adalah sebuah lukisan?" tanya Shikamaru memastikan. Mereka tengah mereview penjelasan Sara perihal obyek yang bernama Crimson Eye. Itu adalah sebuah lukisan.
Sara mengangguk. Dia melipat tangan di dada lalu bersandar di salah satu loker. Tepat beberapa menit lalu dia baru saja marah-marah kepada siapa saja dari ketiga pemuda itu yang bisa dijadikan sasaran. Namun sekarang dia nampak tenang, tentu saja karena Obito memiliki wacana dengan sesegera mungkin Shisui harus dicari.
"Ya, setahuku, itu adalah lukisan yang digarap Hotaru untuk Galeri Festival di Konoha kemarin. Namun gagal dipajang karena tidak selesai."
"Dimana lukisan itu sekarang?" tanya Sasuke.
Sara menghela nafas.
"Tentu saja di Iwa-Art Academy."
Sasuke dan Shikamaru saling toleh. Naruto nampak ikut melirik dari sudut matanya.
Tanpa peringatan, Sara lalu mendekati Sasuke. Memberi jarak yang sangat dekat. Bahkan kepala Sara hanya berjarak satu jengkal dari kepala Sasuke. Membuat Sasuke yang menyadarinya mundur beberapa langkah.
Gadis berambut merah itu nampak menenteng kedua tangannya di pinggul.
"Dengar ya kalian bertiga. Hotaru itu adalah temanku. Dan aku sangat paham apa yang terjadi pada fisiknya setelah kecelakaan. Jangan lupakan bahwa kalian juga bertanggung jawab atas kejadian ini." Sara memberi jeda untuk menatap dalam Sasuke.
Membuat pemuda raven itu menelan ludahnya gugup.
"... Jika terjadi sesuatu dengan Hotaru, aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Terutama kau Sasuke. Mengingat permuda yang bernama Shisui itu adalah saudaramu."
Sasuke hanya diam, dia tidak bisa menjawab perkataan Sara. Ya mau bagaimana lagi kan? Shisui adalah pemuda yang susah ditebak. Kau tidak akan pernah paham apa yang dipikirkan pemuda itu. Naruto, Shikamaru dan bahkan Sasuke sudah menjadi Saksinya. Namun Sasuke lebih memilih menunggu saja, berharap nanti Shisui akan menjelaskan alasan kenapa dia membawa lari Hotaru.
cklek.
Kegiatan keempat remaja itu harus diinterupsi karena Obito kini sudah keluar dari ruang ganti dan sudah berganti dengan pakaian yang lebih santai. Jaket berwarna biru, kaos oblong, celana jeans dan sneakers.
"Obito. Kita harus ke Iwa-Art untuk mencari-"
Ucapan Shikamaru dipotong langsung oleh Obito.
"Aku sudah tau. Aku ikut mendengarkan tadi."
.
.
Skip
Pencarian dimulai. Kelima orang itu kini bersiap untuk meninggalkan rumah sakit dan mencoba mencari pasien yang hilang. Itu sebelum..
"Obito! Gawat!" Perawat Mei berlari menghampiri Obito dkk yang barusaja meninggalkan ruang loker. Dia nampak terburu buru.
"Hm? Ada apa? kami ingin berangkat mencari Hotaru segera. Sebelum Shisu-"
"HANZO-SAN DATANG MENJENGUK!" teriak Mei dengan cukup keras.
Membuat keempat remaja yang bersiap mengikuti Obito dari tadi saling berpandangan heran. Obito sendiri, wajah nya langsung berubah panik.
"A-Apa katamu?" Dia tidak bisa menahan rasa kagetnya.
Keempat remaja yang tidak paham apa-apa itu pun semakin heran.
"Hanzo-san? siapa?" tanya Sasuke.
Obito berbalik menatap Sasuke.
"Dia adalah kakek Hotaru." Jelas Obito. Sara yang mendengarnya mengernyitkan dahi, seakan baru pertama kali dia mendengar perihal keluarga Hotaru yang datang menjenguk. Yah apalah, Sara bahkan tidak kenal sama sekali dengan Keluarga Hotaru, dia gadis yang tertutup soal keluarga.
"Benarkah?" tanya Shikamaru memastikan.
Obito tidak menjawab. Dia nampak mengigit kuku jarinya tanda berpikir. Sebelum akhirnya dia menatap keempat remaja yang bersangkutan dan memberi mereka kalimat..
"Sasuke. Aku bisa mengandalkanmu untuk mencari Hotaru tidak?" tanya Obito kepada Sasuke. Dia juga menatap Sara, Shikamaru dan Naruto bergantian, menandakan bahwa mereka berempat lah yang bertanggung jawab.
"Ha?" Sasuke memiringkan kepala tidak mengerti.
"Dengar, Aku akan menenangkan kakeknya Hotaru agar tidak panik, sebagai gantinya kalian duluan cari Hotaru ke Iwa-Art Academy. Aku akan menyusul setelah yakin tidak akan terjadi masalah disini." jelas Obito.
Sasuke, Shikamaru dan Sara saling pandang, sebelum akhirnya mengangguk. Yah, mau bagaimana lagi.
Obito mengangguk lega.
"Baiklah." Ujar Obito. Dia berniat pergi dari situ, Namun Naruto yang semenjak tadi diam malah berteriak ke Obito.
"Hei!"
Obito menoleh ke Naruto yang menatapnya malas.
"Kau mau kita bagaimana? Jalan kaki ke Iwa-Art?!" ujar Naruto sedikit ketus. Sara, Sasuke dan Shikamaru menoleh ke Naruto.
Obito nampak mengernyitkan dahi.
"Pakai mobil Rin kan?" tanya Obito. Naruto nampak merogoh kantong celananya dan tidak mengeluarkan apapun tanda bahwa dia sedari tadi tidak memegang kunci mobil.
"Kunci mobil dibawa Shisui tau!"
Obito lalu menoleh ke Sara, berharap gadis itu membawa mobil kesini. Namun Sara hanya menggeleng. Jangankan membawa mobil, menyetir saja tidak bisa. Dia datang bersama Sasame dan gadis itu lah yang membawa mobil, tentu saja jika seandainya mobil Sasame ada di parkiran, Sasame lah yang akan memegang kuncinya.
Obito lalu menoleh ke Mei. Membuat Mei membalas dengan pandangan ragu.
Err..
Namun pandangan Obito lebih tajam, bahkan keempat remaja itu ikut memandangi Mei membuat perawat itu akhirnya menyerah juga.
"Hahh.. baiklah.." Mei lalu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya. Melemparnya pelan ke arah Naruto. Naruto menangkap kunci itu dengan mudah.
"Jangan sampai tergores, itu mobil pacarku." ujar Mei akhirnya.
Setelah melihat semuanya nampak beres, Obito pun pergi mengikuti Suster Mei setelah berucap 'aku mengandalkan kalian' kepada keempat pemuda yang bersangkutan.
.
~iwdwiw~
Naruto berjalan pelan di tempat parkir B1 rumah sakit Iwa. Mencoba mencari-cari mobil milik perawat Mei dengan cara memencet tombol yang ada di kunci. Sasauke, Shikamaru dan Sara lebih memilih menunggu di gerbang depan, meninggalkan Naruto yang sesekali bersungut-sungut tidak jelas karena dijadikan pesuruh bahkan supir mereka bertiga.
tiit tiiiiit tiiit
Naruto bisa mendengar suara mobil menyahut tanda dia sudah tidak jauh lagi dari tempat mobil itu terparkir. Ngomong-ngomong soal mobil, Naruto jadi ingat mobilnya di rumah. Entah apa yang terjadi dengan benda itu, Mungkin berlumut karena hampir dua bulan tidak keluar garasi.
tiit tiiiiit tiiit
Naruto mendengarnya lagi. Kali ini semakin dekat. Dia mendongak mencoba melihat mobil macam apa yang akan dikendarainya. Dia membayangkan mobil tua keluaran tahun 2000 an yang sangat umum dikendarai oleh bapak-bapak atau ibu-ibu. Yap, mobil yang iklannya selalu menghiasi layar televisi karena harganya murah, ekonomis dan bergaransi 10 Tahun.
Sayangnya, ekspektasinya nyatanya tidak terbukti benar. Dia mengucek matanya mencoba memastkan jenis mobil yang ada di depannya.
.
.
.
Skip
"Ya ampun. Mobil apa itu." Ujar Sara yang kaget dengan mobil yang dikendarai Naruto.
Sasuke, Sara dan Shikamaru dibuat terperangah karena Naruto keluar dengan mobil M3-GTR berwarna biru gelap lengkap dengan body paint tribal, Velg Chroome berdiameter lebar, lengkap dengan sayap spoiler di bagian belakang.
"Oi masuk." Ujar Naruto. Mempersilahkan ketiga kawannya memasukki 'mobil pembalap jalanan yang terlihat sangat ilegal' itu. Tanpa dikomando untuk kedua kali, Mereka bertiga masuk. Dan sekali lagi dibuat terperangah karena interior yang sangat mencolok di dalam.
Sasuke yang duduk didepan, di samping Naruto. Dia bisa melihat Naruto tersenyum tipis di belakang roda kemudi. Jelas sekali mood nya nampak naik karena menyetir mobil seperti ini.
"Kau yakin kita tidak salah mobil?" tanya Shikamaru di belakang.
Naruto hanya mengangkat bahu. Ini adalah mobil yang berbunyi saat Naruto memencet tombol di kunci nya, tentu saja dia tidak salah.
Sara lebih memilih segera memasang sabuk pengaman. Berharap mesin mobil ini tidak sehebat tampilannya sehingga dia tidak perlu berkendara kebut-kebutan.
"Udahlah. ayo buruan berangkat." Ujar Sara cuek.
Sasuke mentap keadaan mobil ini. Dan mencoba membayangkan kira-kira seperti apa sosok pacar perawat Mei. Dia pasti orang yang sangat tergila-gila dengan otomotif atau mungkin seorang yang bekerja di sebuah bengkel.
Asyik mengamati, pandangan Sasuke menyadari tabung bertuliskan NOS yang dipasang tepat di dekat tuas transmisi.
"Oy." Tegur Sasuke.
Sembari menyetir, Naruto menyahut ke Sasuke.
"Hm?"
Namun Sasuke menampakkan gestur menunjuk dengan jari yang menekankan kalimat 'jangan gunakan tabung ini' kepada Naruto. Naruto hanya melirik dan bergumam tidak jelas. Itu Adalah tabung Nitrogen yang Sasuke kenali dari sebuah film paling tua dari serial Fast and Furious. Diasangat paham betul bahwa tabung itu lah yang membuat mobil berpotensi meledak.
"Hn."
Sasuke yang mendengar respon Naruto sedikit tidak puas. Namun dia lebih memilih membiarkan. Detik selanjutnya, mereka sudah berkendara menuju Iwa-Art Academy dengan mobil pembalap jalanan itu.
.
~iwdwiw~
.
Di perjalanan, suasana cenderung hening. Selain Ssara yang mengarahkan Naruto dengan menunjuk jalan yang benar secara alternatif, tidak ada suara lain yang keluar dari bibir para remaja itu.
Butuh sekitar 45 menit sebelum mereka sampai gerbang bertuliskan Iwa-Art academy.
Sesampainya di gerbang depan Iwa-Art Academy. Naruto, Sasuke dan Shikamaru sekali lagi dibuat terpana. Namun kali ini kepada sebuah gerbang yang bergaya seni kontemprer, terbuat dari metal yang ditata sedemikian rupa. Dengan tulisan Iwa art academy dibentuk dari lampu LED warna warni yang nampak seperti Light Graffiti. Terlepas dari kenyataan bahwa Iwa-Art acedemy yang merupakan sekolah khusus perempuan, namun hanya dilihat dari gerbang depannya saja, sekolah ini nampak seperti markas para street artist. Tapi yah, aku tidak akan terlalu cepat menyimpulkan sebelum melihat keseluruhan bagian sekolah yang lain.
"Kita sudah sampai?" tanya Shikamaru yang terpana melihat gerbang nyentrik Iwa-Art acedemy dari dalam mobil. Dia melakukan hal yang luar biasa dengan tidak mengantuk.
"Belum, gerbang depan dengan gedung utama sekolah berjarak kurang lebih 1 kilometer."
"Satu kilometer?" Shikamaru yang mendengarnya terlihat sedikit terkejut. Dia bertanya lagi untuk memastikan.
Sara nampak mendiamkan tanda mengiyakan.
Perjalanan mereka tidak terlalu panjang hingga Naruto diarahkan Sara untuk memasuki area parkir. Area parkir ini bahkan terlihat abnormal dibandingan areal parkir yang biasa Naruto datangi. Tempat parkir itu terdiri dari dua tingkat layer tanpa tembok dan ditopang oleh tiang beton yang dibentuk seperti akar pohon.
Entah kenapa Naruto merasakan atmosfir yang mirip seperti kala dia mengujungi Disneyland. Naruto memarkirkan mobil nya tepat di samping salah satu 'akar pohon' yang menjalar menopang langit-langit.
"Tempat apa ini." Itulah yang diucapkan Sasuke untuk pertama kali saat dia menginjakkan kakinya turun dari mobil. Sara hanya menoleh ke Sasuke dengan pandangan tidak suka seakan dia baru saja mendengar sindiran sinis dari Sasuke atas sekolahnya.
Shikamaru, Sara dan Sasuke yang sudah ada di luar mobil nampak memperhatikan Naruto yang tidak segera keluar dan malah membuka bagasi mobil. Shikamaru yang melihat bagasi otomatis itu terbuka, mulai mendekat ke bagian belakang mobil. Dia bertanya ke Naruto.
"Kenapa kau membuka bagasi Naruto?" tanya Shikamaru.
Naruto yang keluar dari mobil pun ikut mendekati bagasi. Dia menatap Sasuke dan Shikamaru bergantian.
"Hanya Mengecek." Ujar Naruto. Membuat Sasuke dan Shikamaru memiringkan kepala. Namun mereka akhirnya tidak proters kemudian, karena mereka sibuk memperhatikan tumpukan barang yang ada di bagasi mobil Mei.
"Hei! Ini bukan mobil kalian!" Tegur Sara mencoba memperingatkan, dia mengingatkan ketiga pemuda kurang ajar itu yang dengan semena-mena menotak-atik barang di mobil perawat Mei.
Naruto lah yan menoleh ke Sara dengan pandangan bosan lalu tidak menggubris Sara setelahnya. Sara yang merasa dikacangi malah semakin marah.
"Hei!"
Sara bisa melihat dari sudut matanya saat Shikamaru dengan santai mengangkat sesuatu yang nampak seperti bra dari dalam bagasi.
"KYAA! LETAKKAN BODOH!" Teriak Sara menyadari Shikamaru mulai memegang hal yang tidak-tidak. Wajahnya memerah. Dia hampir saja menghajar Mereka bertiga karena malah membuang-buang waktu untuk menacak-acak barang milik orang lain.
Sasuke, dia menatap barang barang yang ada di bagasi mobil ini. Beberapa barang aneh seperti tali untuk mendaki, tenda, dan sebotol Wine. Lalu beberapa barang lain yang sangat janggal untuk ditemukan di dalam sebuah bagasi, namun mayoritas Sasuke kenali sebagai tool kit untuk mendaki gunung. Tentu saja ada beberapa baju dalam yang dipegang Shikamaru barusan.
Shikamaru, dia tidak bermaksud memegang bra 'berukuran besar' milik perawat Mei dengan semena-mena. Dia hanya mencoba menyingkirkan beberapa tumpukan bra itu untuk mengambil beberapa botol air mineral yang ada di bawahnya. Dia lalu melemparkan salah satu botol mineral itu Untuk Naruto. Naruto menerimanya dengan sigap.
Sasuke nampak menoleh kepada Naruto yang kini dengan santainya meminum air mineral itu. Pandangan Sasuke lalu beralih ke tumpukan pakaian yang terlihat seperti pakaian lelaki yang tertumpuk di dalam kotak kardus.
"Oi." Ujar Sasuke.
Naruto dan Shikamaru menoleh.
"Haruskah kita ganti baju?" tanya Sasuke. Shikamaru dan Naruto menoleh, mereka menunduk untuk melihat pakaiannya sendiri. Mereka baru ingat kalau mereka nyatanya masih memakai seragam Konoha Gakuen. Seragam yang sama yang mereka kenakan semenjak mereka berangkat ke Uzushio beberapa hari lalu.
Entah kenapa semenjak kemarin tidak ada yang menawarkan mereka baju ganti, dari Yagura, bahkan Obito.
Naruto dan Shikamau saling toleh sebelum akhirnya mengiyakan. Sasuke mengambil tumpukan pakaian yang nampaknya milik 'pacar Mei' itu.
Sara, dia hanya menatap ketiga pemuda yang membuang-buang waktu itu sembari melipat tangan di dada. Mereka nampaknya sekejap melupakan bahwa salah satu teman Sara tengah 'diculik'
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxxxxx
Author Note(s) : Yoho, Hanzama is back. Maaf telat.. hewhew
yah, persis seperti yang sahabat pembaca perkirakan. Nampaknya iwdwiw tidak bisa berakhir di chapter 100 pas. Hanzama telah melakukan kalkulasi dan nyatanya memang jika ditambah epiloge dan lain lain nyatanya tidak bisa.. bahkan untuk arc ini saja nampaknya tidak bisa slesai di chapter 100. (entah ini kabar baik/ kabar buruk..wkwk #plak)
Dan untuk chapter depan, nampaknya kita akan benar-benar menjelajahi Iwa-Art Academy.
Yah, hanzama tau.. Hanzama akan usahakan chapter depan apdet kilat.. but, seperti biasa, tinggalkan jejak di kolom review. Maybe (hanya maybe) kita akan mencoba kembali ke glory days dimana iwdwiw apdet tiap hari wkwk- mengingat Hanzama akan banyak waktu luang untuk beberapa waktu kedepan..Paling tidak sampai bulan maret.
Okesip mungkin itu, Thanks sudah baca dan mengikuti fanfic ini sampai ke chapternya yang paling bontot.. Hanzama akan menganggap waktu dimana iwdwiw tamat adalah waktu dimana Hanzama menjadi manusia baru- karena Hanzama berhasil menyelesaikan sesuatu yang Hanzama mulai dan sekiranya akan memberi semangat baru di kehidupan Hanzama.
Okesip, tanpa mengulur apapun lagi.. Hanzama mungkin akan mengakhiri chapter ini sampai disini. Kita bertemu lagi di chapter depan..
Sekian dari Hanzama, semoga sahabat reader sukses selalu~~
Buhuu~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
- After -
Rumah sakit.
"...Itulah kenapa dia harus diyakinkan untuk ikut terapi demi menjalani kesembuhannya." Jelas Obito akhirnya kepada Hanzo (Kakek Hotaru) yang ada di depannya. Mereka kini tengah berbincang di kantor yang ditinggalkan milik Dr. Yakushi Kabuto.
Obito bisa melihat Kakek tua yang ada di depannya nampak hanya menguap bosan tanda dia sudah terlampau paham atas semua yang dijelaskan oleh Obito. Obito, dia mulai berkeringat karena kehabisan topik.
Pada akhirnya, dia pasti harus menjelaskan juga perihal Hotaru yang 'dibawa kabur' oleh seorang pemuda-sialan-berotak-kecebong beberapa saat lalu. Namun Lidah Obito tercekat karena otaknya merasa tertekan oleh orang yang ada di depannya. Bukan karena wajahnya yang garang, atau tatapannya yang setajam pisau. Raut wajah Kakek bernama Hanzo itu cenderung kalem, yang membuat Obito tertekan adalah seragam militer yang dia kenakan, lengkap dengan belasan lencana dan bintang yang menghiasinya.
Cklek.
Kegiatan Obito dan Hanzo harus diinterupsi oleh seorang yang masuk. Seorang lain berseragam militer tanpa bintang yang datang membawa seorang masuk. Orang yang dibawa merupakan Operator keamanan Rumah Sakit yang bertugas menjaga CCTV.
Obito yang melihat kedua orang yang masuk mulai semakin gugup. Sial.
"Jenderal.." Ujar orang yang masuk itu kepada Hanzo.
Hanzo nampak menoleh.
"Letnan."
Kedua orang itu masuk dan berdiri di depan Obito dan Hanzo. Butuh beberapa menit sang letnan akhirnya menceritakan informasi yang diterimanya dari Operator CCTV. Dia menjelaskan semuanya, bahkan sang Operator merujuk kejadian yang didiskusikan Obito di kantornya tadi dengan kata 'penculikan'
Mendengar apa yang barusaja menimpa cucu kesayangannya, Hanzo menatap tajam Obito dan meminta penjelasan. Namun Obito yang ditekan nampak tidak bisa bersuara, dia hanya tercekat sembari menoleh ke Hanzo dan sang operator CCTV bergantian. Sang operator CCTV hanya mengangkat bahu pasrah.
Menyadari jawaban yang dia tunggu tidak kunjung datang, Hanzo akhirnya bersuara. Mengkomandokan sesuatu kepada sang letnan. Tatapannya masih tegas, namun Obito bisa menyadari garis bibir Hanzo turun.
"Letnan.."
"Yak Jenderal!" Sang letnan nampak merespon dengan gestur militer yang tegas.
".. Siapkan Black Hawk."
"Siap!"
.
Obito menelan ludah. Waduh, nampaknya dia salah langkah karena mencoba mengulur waktu orang yang ada di depannya. Hanzo-san. Atau lebih tepatnya..
Jenderal Bintang Empat Angkatan Udara, Hattori 'Salamander' Hanzo.
REVIEW
v
v
v
(Kamus) Black Hawk = Helikopter taktis militer, yang sering digunakan oleh militer Amerika sebagai Air Support dan kendaraan pengangkut tentara dalam perang timur tengah.
v
v
