"Dengar. Lukisan yang ku maksud ada di ruangan bernama Green Room. Kalau Sudaramu membawa Hotaru mencari lukisan itu, kemungkinan dia ada di sana. Tugas kita adalah membawa kembali Hotaru ke rumah sakit, dan memastikan dia baik-baik saja." Sara menjelaskan.

Mereka bertiga nampak mendengarkan.

"Dan aku ingatkan. Jangan sampai terpisah dariku. Aku tidak mau kalian tersesat dan membuat masalah." Lanjut Sara,

Naruto mendengus.

Siapa juga yang cukup bodoh untuk tersesat.

.

DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 97 : Money talks? Crashing Iwa-Art Academy.

.

"Apa itu."

"Itu adalah Monumen pohon Ygdrasil."

"Terbuat dari lempengan metal?"

"Y."

"Yang itu apa?"

"Air Mancur."

"..."

Sara merasa bak seorang Tour Guide. Karena ketiga pemuda yang mengikutinya ini malah sibuk menatap sekitar bak jalan-jalan di taman hiburan. Dan terus bertanya tentang setiap obyek unik yang mereka lihat. Bagi murid murid Iwa-Art, hal-hal seperti ini memang biasa, karena setiap tahun akan ada perlombaan Seni modern yang diadakan antar angkatan. Dan setiap monumen-monumen Unik yang dibuat akan menjadi obyek permanen di setiap sudut sekolah (setidaknya sampai beberapa tahun sebelum akhirnya diperbarui oleh angkatan selanjutnya)

Mari kita pahami sedikit tentang Iwa-Art Academy. Tidak seperti sekolah pada umumnya, Iwa-Art adalah sekolah dengan standar yang lebih menunggulkan kurikulum internal daripada kurikulum nasional. Meskipun begitu, metode pengajaran dan tata sekolah yang ada sudah menjadi ciri khas bahkan brand tersendiri yang diakui internasional. Bahkan telah tersertifikasi oleh Badan pengawas pendidikan. Diakui secara mandiri dan terakreditasi SS. Dua tingkat diatas Konoha Gakuen yang hanya terakreditasi A. Sekaligus menjadi satu-satunya sekolah khusus perempuan yang terakreditasi SS.

Iwa Art lebih seperti Kampus daripada SMA, yang memiliki ruang kelas bukan murid, melainkan guru. Sehingga belajar mereka berpindah pindah dari kelas ke kelas mengikuti mata pelajaran apa yang mereka ambil. Di banyak kesempatan, para murid bahkan sering belajar di luar kelas. Itu menjelaskan gazebo raksasa yang ditempeli papan tulis di beberapa sudut sekolahan.

Bahkan ada ruang belajar khusus bernama 'Sacred Garden' dimana itu adalah gedung kaca besar berisi tanaman, namun di dalamnya ada beberapa ruang dan kursi untuk belajar.

Sara tidak akan bohong saat dia bilang siapapun yang berkunjung bisa saja tersesat. Seperti di setiap pidato Kepala Sekolah Orochimaru-sensei dikala penerimaan siswa baru. Iwa-Art Academy adalah sekolah yang menjunjung tinggi estetika, setiap sudut sekolah adalah seni. Dari gedung-gedung bahkan setiap pelajaran yang berlangsung. Sudah sepantasnya tugas kita semua untuk menjunjung tinggi kebanggaan sebagai manusia yang paham bahwa estetika statusnya sejajar dengan intelektual.

Dengan kata lain, setiap bangunan disini mengandung unsur seni kontemporer yang akan membuat orang luar tersesat kalau berkeliaran sendiri.

"Sasuke.."

Sasuke menoleh saat dirinya dipanggil oleh Naruto.

"Aku akan menganggap kau berhutang padaku untuk ini." Jelas Naruto. Dia melipat tangan di dada, sembari menatap Sasuke tajam.

Sasuke tidak mengerti, dia hanya memiringkan kepalanya tanda minta penjelasan.

"Sepupu mu itu adalah orang yang bermasalah. Dan aku bersumpah jika ada lagi sepupu atau saudara jauh yang bermarga Uchiha tiba-tiba datang meminta atau menawarkan bantuan dengan alasan yang tidak jelas, aku akan menampar mereka dengan sepatu Shikamaru." Lanjut Naruto.

Sasuke menatap Naruto bosan. Entah kenapa Sasuke mulai terganggu dengan mood Naruto yang berubah-ubah. Pemuda berambut kuning itu terkadang menjadi sahabat yang baik dengan memberi motivasi bahkan rela berkorban. Disisi lain dia terkadang juga menjadi pemuda keras kepala yang dengan semena-mena menyalahkan siapa saja.. bahkan, ada kalanya juga mulutnya mulai bicara ngawur.

Shikamaru menepuk pundak Naruto menenagkan.

"Sudahlah Naruto. Shisui tidak bodoh, dia tidak akan dengan sengaja membawa kabur orang asing jika alasannya tidak masuk akal. Toh, hal-hal seperti ini lebih menyenangkan daripada duduk di kelas dan mendengarkan pelajaran." Jelas Shikamaru, yang malah diberi death glare oleh Sara karena Shikamaru menganggap kejadian ini layaknya liburan. Ini teman Sara yang hilang tau!

Sasuke diam membiarkan kedua orang itu saling berdebat setelahnya. Mendengar ucapan Shikamaru, dia baru ingat kalau ini adalah hari sekolah dan mereka sudah tidak masuk kelas dari kemarin. Entah apa respon Tsunade jika wanita itu mengetahui mereka bertiga ada di Iwa.

"Udah ih! Hentikan omong kosong kalian, ayo segera mencari!" Titah Sara memberi perintah. Dia berjalan mendahului menuju pekarangan sekolah.

.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru berjalan menyusuri sebuah area yang nampaknya pekarangan sekolah. Tanahnya sepenuhnya tertutup pecahan marmer berwarna warni yang ditata sedemikian rupa, membentuk sebuah pola yang seperti lukisan yang abstrak. Memasuki area sekolah, Shikamaru lah yang menyadari kalau keadaan Iwa Art tidak seramai sekolah pada umumnya.

"Kok Sekolahanmu sepi?" tanya Shikamaru.

"Kami baru selesai UTS dua hari yang lalu, kelas diliburkan selama 1 minggu." Jelas Sara.

Naruto nampak mengernyitkan dahi.

"Kalian libur 1 minggu setelah UTS?" tanya Naruto penasaran.

Sara menatap Naruto bingung.

"Kalian tidak libur 1 minggu setelah UTS?" Sara malah balik bertanya.

Naruto mendengus, Boro boro. Tsunade kepala sekolah yang pelit, dan guru guru Konoha Gakuen adalah diktaktor yang kejam. Bahkan, Naruto cukup ingat dikala Kurenai menjaga ruangan waktu UTS kemarin, dia dengan terang terangan berucap setelah masa UTS akan ada Pop Quis dan Ulangan pasca UTS khusus untuk mata pelajarannya. Oke, kemarin memang ada libur 2 hari. Tapi itu hanya 2 hari! dan 2 hari tidak sebanding dengan satu minggu.

"Jadi? Hari ini Iwa-Art tidak ada orang?" tanya Sasuke. Sara mengangkat bahu.

"Ada.. Mungkin beberapa klub yang ada kegiatan, dan beberapa kelas yang ada Pelajaran tambahan. Guru-Guru dan Staff tetap masuk kok." Jelas Sara akhirnya, dibalas dengan anggukan santai oleh Sasuke.

Sasuke, Shikamaru dan Naruto diarahkan ke sebuah bangunan besar berwana abu abu melewati taman yang mana jalanan yang mereka bertiga tapaki kini dinaungi oleh tanaman anggur yang menjalar penuh di batangan besi sehingga menjadi terowongan-Bahasa mudahnya mereka kini ada di terowongan anggur. Terowongan itu cukup panjang untuk Naruto terkagum kagum dan sesekali memetik anggur. Ya ampun, sekolah ini luar biasa, jika dia perempuan, dia pasti sudah pindah kesini.

Bahkan terowongan itu memiliki cabang yang berbelok ke arah lain, dan jika dilihat dari tempat Naruto berdiri, dia bisa melihat dengan jelas sebuah pohon apel besar yang sangat berbuah di ujung cabang terowongan itu. Naruto yang terlihat penasaran, nampak tanpa ragu-ragu berbelok menuju pohon apel besar itu.

.

.

Mendekati bangunan berwarna abu abu. Para remaja yang mengikuti Sara itu hanya berjalan pelan. Pandangan Sara lalu beralih ke dua gadis yang sangat dikenalinya kini tengah mencari sesuatu di semak semak di depan gedung abu-abu. Sara pun dengan bingung mendekati kedua gadis itu. Para 'pengekor' di belakang Sara pun hanya mengikuti.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sara kepada kedua gadis itu, Mereka menoleh. Yang paling kaget adalah gadis berambut hijau yang menyadari beberapa pemuda yang ada di belakang Sara.

"Sa-Whoaa! Kalian!" Teriak gadis itu. Dengan respon yang sedikit berlebihan gadis itu nampak terkejut dengan keberadaan Sasuke dan Shikamaru.

"Yo." Shikamaru lah yang balas menyapa. Sasuke juga mengangguk kepada gadis yang mereka kenali. Fuu.

"K-Kalian! Mengikuti kami ke Iwa?!" tanya Fuu kaget. Membuat Sara hanya memutar bola mata.

"Tentu saja tidak!" Balas Sara.

"Hm. Kami sedang mencari Ho-"

"Mereka hanya berkunjung!" Potong Sara Sebelum, Sasuke membeberkan tujuan asli mereka dan membuat kedua orang ini panik dan bertanya lebih lanjut.

Fuu manggut-manggut tanda mengerti. Sedangkan gadis yang lain, dia sesekali menatap Sara dan bergantian kepada Sasuke dan Shikamaru. Gadis itu lebih memilih diam dan tidak berkomentar apapun.

Gadis yang lain itu adalah Tayuya. Kawan Hinata sekaligus alumni SMP Myobokuzan. Dengan kata lain, Tayuya dulu pernah satu sekolah dengan Sasuke maupun Shikamaru. Namun karena kedua pemuda ini adalah 'pemuda terlalu keren' yang tidak akan mengenali orang yang tidak penting. Tayuya lebih memilih untuk tidak sok kenal dan lebih fokus dengan masalah yang ia hadapi kini.

"Kalian mencari sesuatu?" tanya Sara lagi. Mencoba mencoba menanyakan hal yang membuatnya penasaran karena mendekati mereka berdua.

"Hn. Kami membantu anak anak OSIS mencari Matatabi." jelas Tayuya.

"Dia hilang lagi?"

Tayuya nampak menghela nafas dan mengangguk.

Yah. Sara paham apa yang terjadi.

Sara bisa membayangkan seorang Nii Yugito kini tengah mengkomandokan seluruh anak buahnya untuk mencari kucing kesayangannya. Dan bertitah bak tuan puteri yang akan mengucapkan kalimat yang kurang lebih 'Kalian tidak boleh pulang sebelum kita menemukan Matatabi.'

Yah. Kejadian ini pernah terjadi beberapa waktu lalu, yang mana membuat seluruh sekolah ribut karena anak anak OSIS yang putus asa akan meminta tolong kepada seluruh kenalannya untuk ikut membantu mencari. Bukan apa apa.. hanya heran saja. Orang yang punya kucing pasti selalu menemui masalah yang sama : kucing mereka kabur. Saramengarsipkan hal seperti ini dalam otaknya mengingat dulu Naruto juga pernah mengalami masalah yang sama.

Sasuke menatap ketiga gadis itu bergantian. Sebelum dia menyadari bahwa Fuu malah menatap Sasuke dengan sangat intens. Sasuke yang merasa terganggu pun bertanya.

"Kenapa?" tanya Sasuke.

Fuu memiringkan kepalanya, lalu balik bertanya.

"Naruru tidak ikut?" tanya Fuu.

Sasuke menoleh ke belakang.

Lah, Naruto hilang.

.

~iwdwiw~

.

Terkesima dengan pohon apel dan berhasrat memetik satu. Naruto kini malah tersesat. Entah karena dia salah belok atau bagaimana, dia berjalan celingak celinguk mencoba mencari gadis berambut merah yang seharusnya sangat mencolok dan familiar. Dia berhenti di depan sebuah bangunan kaca yang sangat besar. Sembari menampakkan wajah berfikir, dia mengigit buah apel yang ada di tangannya sekaligus menatap bangunan yang megah itu dengan kedua matanya. Sara sempat menyinggung sesuatu tentang Green room. Jelas sekali kalau tempat yang dimaksud adalah tempat ini. Kau tau? Green pasti tanaman. Dan bangunan kaca yang nampak penuh dengan tanaman ini sangat masuk akal.

Naruto tanpa ragu pun masuk ke bangunan besar itu.

Aroma pepermint yang mengingatkannya dengan kediaman Haruno lah yang menyambut Naruto. Naruto masih ingat aroma tanaman di rak yang berjajar di keduaman Haruno dikala Naruto diseret Ino dan Kiba untuk mandi di rumah Sakura. Aromanya persis seperti ini. Namun disini lebih kuat dan lebih menyegarkan.

Di gedung kaca tembus pandang itu, Naruto merasakan sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sensasi yang sangat tenang dan nyaman. Gedung itu adalah gedung berlantai empat jika dilihat dari luar. Tembok luar sepenuhnya tembus pandang dan atapnya sepenuhnya seperti rumah kaca. Banyak berbagai tanaman yang dijajar dengan berbagai macam tekhnik agriculture yang Naruto tidak mengerti. Hanya beberapa tembok dalam dan lantai lah yang tidak terbuat dari kaca.

Pemuda itu melirik sekitar, masih mencoba mencari Sara, Sasuke maupun Shikamaru dari tempatnya berdiri, namun nihil. Dia juga tidak menemukan orang lain sejauh mata memandang untuk sekedar bertanya arah.

"Mereka dimana sih."

Memuaskan rasa penasarannya, dia pun berjalan masuk lebih dalam.

Kakinya menuntunnya menuju sebuah pintu kayu yang bertuliskan 'KEEP OUT'. Oke, nilai bahasa inggris Naruto memang rata-rata dibawah 7, Namun dia cukup paham Keep Out artinya dilarang masuk.

itulah kenapa Naruto masuk... karena ini adalah iwdwiw. Dan kita butuh orang yang harus diberi masalah.

.

.

Cklek.

Naruto awalnya hanya mau mengecek karena penasaran.

Namun dia bablas berteriak karena dia menyadari pemandangan yang ada di dalam.

Dia memergoki pria berambut panjang yang lehernya tengah di cekik oleh oleh ular boa mengerikan seukuran tangan manusia.

"KYAAAAAAAAAA!"

.

~iwdwiw~

.

Meanwhile.

Sasuke dan Shikamaru masih mengikuti Sara. Mengejutkan mengingat paham Naruto hilang dan Sara bahkan tidak berniat untuk mencari. Gadis berambut merah itu hanya bilang 'kita akan mencarinya nanti' dan melanjutkan tujuan awal mereka untuk menuju Green Room.

Green room adalah salah satu ruangan di dalam gedung abu-abu yang dituju mereka. Ini adalah gedung ekstrakulikuler dan kegiatan Siswa. Bisa dikatakan bahwa gedung ini adalah gedung yang paling ramai diantara gedung yang lain. Setidaknya dikala hari libur ini karena beberapa klub lebih memilih berkegiatan di markas mereka daripada tidak melakukan apapun di rumah.

Dan disinilah mereka bertiga, berdiri di depan sebuah pintu kayu bercat warna warni yang bertuliskan The Green Room. Di samping ruangan itu, terpampang nama resmi dari ruangan yang bersangkutan. Klub Seni Lukis Iwa-Art Academy.

Sara lah yang memutar knop pintu. Namun sayang, sekeras apapun dia mencoba pintu itu tidak terbuka.

Sasuke dan Shikamaru saling pandang.

"Terkunci?" tanya Sasuke.

Sara mencoba mengetuk pintu itu pelan. DOK DOK DOK. Berharap ada yang menjawab dari dalam dan membuka. Namun suasana tetap hening. Nampak tidak ada orang di dalam.

Sara akhirnya menyerah dan melepas pegangannya dari knop. Dia menghela nafas.

"Tidak ada?" Shikamaru ikut bertanya.

Tepat beberapa detik mereka diam di tempat sebelum akhirnya sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.

"Sara."

Sara, Shikamaru dan Sasuke menoleh.

Di samping mereka nampak seorang yang sangat familiar. Orang yang sempat menjadi masalah untuk klub drama Konoha beberapa waktu lalu.

Ketua klub Drama Iwa-Art Academy. Kaguya.

"Ketua." Sapa sara balik

"Apa yang kau lakukan?" gadis bersurai putih itu bertanya.

"Err.. Tidak. Aku hanya ingin mengecek sesuatu di ruangan Klub seni lukis." jelas Sara.

Kaguya nampak terdiam, dia lalu beralih ke dua pemuda yang ada di belakang Sara. Bunyi lonceng dikepala nya lah yang menyadarkan dia untuk mengenali kedua pemuda ini.

"Hoh. Kalian... anak buah si udang kering itu ya." ujar Kaguya.

Sasuke dan Shikamaru menatap Kaguya dengan pandangan aneh. Jelas sekali yang dimaksud udang kering adalah Matsuri.

Kaguya menatap Sara lagi. Dia lalu mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celana jeans nya. Tanpa aba-aba. Kaguya pun langsung membuka pintu di depan Sara menggunakan kunci yang ia pegang.

Membuat Sara sedikit tidak paham. Tunggu.. Kenapa kunci ruangan ini bisa ada di tangan Kaguya.

.

.

.

.

SKIP

Di dalam ruangan itu. Suasana tembok hijau lah yang menyambut Sasuke dan Shikamaru. Tembok yang sengaja dilukis motif dedaunan lengkap dengan beberapa detail seperti embun. Mereka akhirnya paham kenapa ruangan itu sebut Green Room.

Saat pertama masuk, Sara langsung menyadari bahwa orang yang ia cari tidak ada di ruangan ini. Baik Hotaru maupun Sepupu Sasuke yang entah seperti apa wajahnya. Sara mendekati sudut ruangan dimana tempat seharusnya lukisan milik Hotaru diletakkan, Namun dia menyadari lukisan itu sudah tidak ada di tempatnya.

"..." Sara terdiam. Ya ampun mereka tidak ada disini!

"Hotaru kesini satu jam yang lalu."

Ketiga remaja itu menoleh ke Kaguya yang bersuara.

"Benarkah?" tanya Sasuke. Kaguya megiyakan dengan cara mengangguk ke Sasuke.

"Dia bersama Sasame dan seorang pemuda. Mengambil Lukisan lalu pergi." Lanjut Kaguya.

Sara diam mendengarkan.

"Kau tau mereka kemana?" Shikamaru ikut bertanya.

"Hm. dia bilang, dia ingin melihat Crimson Eye." Lanjut Kaguya lagi.

Sasuke mulai sedikit tidak paham arah pembicaraan ini. Bukankah Crimson Eye yang dimaksud adalah lukisan?

"Bukankah Crimson Eye yang dimaksud adalah lukisan?" Shikamaru bertanya lagi, seakan mewakili rasa penasaran Sasuke juga.

Kaguya mendengus.

"Crimson Eye yang dimaksud belum tentu lukisan nya. Tapi bisa jadi adalah obyek yang menjadi contoh Lukisan tersebut."

Sasuke dan Shikamaru menoleh ke Sara dengan pandangan tidak puas. Karena gadis itu lah yang bilang Crimson Eye adalah lukisan.

"Hei.. jangan menatapku seperti itu. Dia disini satu jam yang lalu tau!" Balas Sara yang sedikit risih.

Sara lalu kembali ke Kaguya.

"Lalu? Ketua tau mereka kemana?" tanya Sara. Mengulangi pertanyaan Shikamaru namun mengharapkan penjelasan yang lebih rinci.

"Saat dia menitipkan kunci ini padaku, dia hanya berpesan. Hotaru bilang, kalau ada yang mencarinya aku harus pura-pura tidak tau." Jawab Kaguya enteng. Dia menunjukkan kunci yang tergantung di Pintu.

Sasuke dan Shikamaru terlihat menghela nafas.

Sara menatap Ketua nya itu bingung. Menyadari sesuatu yang janggal

"Tunggu.. Hotaru berbicara dengan Ketua? maksudku.. benar benar berbicara?" tanya Sara sedikit tidak percaya.

Kau tau? Sara paham keadaan Hotaru, dan gadis itu sulit berbicara bahkan satu kata saja semenjak dia dirawat di rumah sakit. Mengingat penyakit dan segala yang dialaminya.

Kaguya mengangkat bahunya.

"Terlepas dari dia yang semakin kurus, namun ya.. dia berbicara. Tidak terlalu lancar, namun sudah bisa dimengerti." jelas Kaguya.

"..." Sara nampak terdiam.

"Dengar. Apapun yang kalian lakukan. Jangan terlalu mengkhawatirkan gadis itu. Dia bersama Sasame... Dan pemuda yang menjaganya, dia nampaknya adalah orang yang baik." Lanjut Kaguya lagi.

Sara masih diam.

Sara belum yakin pemuda yang dimaksud adalah orang baik jika dia mengingat rekaman CCTV yang ia lihat di rumah sakit beberapa waktu lalu.

Yah. Dia harus memastikan sendiri dengan mata kepalanya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxxxxxxxx

Author Note(s) : Yess,, Hanzama potong ceritanya di tengah jalan wkwkw

Yoloo~ Chapter 97 apdet! Oke, chapter ini nampaknya sangat pendek .. maafkeun soal itu.. Chapter depan mungkin akan Hanzama tambahi. Hm. kira2 apa yang akan terjadi di chapter depan ya.. Bentar.. hanzama kehabisan ide #mikir

Well, itu rahasia perusahaan hewhew.. mari kita tunggu saja dan berharap mereka segera menemukan Shisui.

yap, seperti yang Hanzama wacanakan beberapa chapter lalu sebelum memasuki arc ini. Humor memang sengaja Hanzama kurangi. Alasannya, sedikit berfokus ke jalan cerita dan agar tidak terlalu 'nyeleneh' bila tamat nanti. Guyonan terus juga bisa-bisa overdosis. Namun Hanzama harap sahabat pembaca tidak kecewa. Mereka tetap trio NSS kita yang selalu terjebak hal tidak jelas kok.

Okesip, mungkin itu. Seperti perkiraan Hanzama. Chapter ini udah apdet kilat nih. Sedikit mengurangi kekhawatiran kawan-kawan yang kemarin menganggap Hanzama bakal ngilang lagi awkwk..

Mungkin itu sih., Bila ada kesalahan.. Hanzama mohon maaf. Kita bertemu di chapter selanjutnya..

Sekian dari Hanzama, semoga reader sukses selalu~

Cya cya~

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

-After-

Obito nampak berjalan tegang di belakang Jendral Hanzo yang kini melangkah mantap menuju pintu keluar rumah sakit. Dia akhirnya pasrah dengan keputusan orang yang pangkatnya terlampau tinggi darinya itu. Setelah berkali-kali dia meyakinkan sang jenderal untuk membatalkan niatnya mengerahkan Black Hawk untuk mencari Shisui, nampaknya usaha Obito sia-sia saja.

Entah kenapa kaki Obito langsung lemas menyadari dia akan menjadi penyebab seandainya Shisui mati karena diburu pasukan militer. Se-autis apapun Shisui, namun pemuda itu tetap saudaranya.

Obito lalu melirik sang Letnan yang berjalan di samping sang Jendral. Dia adalah orang yang barusaja melakukan panggilan telfon. Yang Obito tau, panggilan itu lah yang merealisasikan ide sang Jendral.

"Dokter muda." Ujar sang jendral kepada Obito. Sedangkan Obito sedikit tidak biasa karena dirinya dipanggil dokter muda.

"Y-Ya?"

Sang Jendral menoleh.

"Kau harus ikut kami ke markas."

Obito menelan ludah.

Shit.

REVIEW

v

v

v

v