Crimson House, Crimson Hill

Shisui duduk di halaman depan sebuah bangunan bercat merah yang bernama Crimson House. Bangunan itu ada di atas bukit bernama Crimson Hill, yang mana dekat dengan air terjun bernama Crimson Fall. Disamping Shisui, nampak seorang anak kecil yang kini tengah berpikir dalam sembari menatap papan catur yang tergeletak diatas meja.

Dilihat dari sudut manapun, Shisui dan bocah itu nampak tengah bermain catur.

"Shisui.. giliranmu."

Namun Shisui tidak menanggapi. Dia malah menatap serius kepada jalanan depan yang turun menuju pemukiman di bawah dari tempat duduknya. Satu hal yang ada di pikirannya adalah : Obito. Yap, orang itu pasti akan mencari Shisui sampai kesini. Dan karena Shisui sudah bersumpah kepada Hotaru agar membiarkan gadis itu menyelesaikan lukisannya, Shisui tidak akan membiarkan siapapun menganggu ritual gadis itu setidaknya sampai gadis itu selesai. Satu hal yang pasti, Shisui mengasumsikan bahwa gadis itu akan memakan waktu lebih lama dalam melukis dibanding orang normal melihat kondisinya saat ini. Namun beberapa jam bersama gadis itu, Shisui cukup paham bahwa gadis itu adalah gadis yang keras kepala.

Setidaknya, menjadi Saksi seorang gadis yang lumpuh total mulai bisa berbicara dan menggerakkan tangannya dalam waktu beberapa jam semenjak bertemu membuat harapan Shisui meninggi.

Yap, Shisui tidak akan membiarkan Si pembohong Obito itu menyeret Hotaru kembali ke rumah Sakit. Setidaknya untuk saat ini.

"Shisu-"

"Yota." Shisui nampak memotong ucapan bocah yang ada di sampingnya.

"Huh?"

Shisui menatap bocah bernama Yota itu dalam.

"Kumpulkan teman-temanmu." Titah Shisui.

bocah itu nampak menatap Shisui bingung.

"Untuk apa?" tanya bocah itu polos.

Shisui tanpa aba aba langsung berdiri.

.

.

.

"Kita buat barikade."

DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 99 : Money talks? Crimson Eye

Alkisah di pom bensin yang damai dan tentram-

"NGGAK!"

"HARUS!"

"NGGAK!"

-Naruto dan Sara nampak memperdebatkan sesuatu.

"Pokoknya! Kita harus mengembalikan Matatabi ke Iwa-Art!"

"Kita sudah setengah jalan perempuan!"

"Ketua OSIS mencari kucingnya tauk!"

"Bodo amat!"

Sara menatap Naruto gregetan. Astaga. Pemuda ini sepertinya tidak tau cara mengalah dengan perempuan.

Naruto, ada banyak alasan kenapa mereka tidak bisa kembali ke Iwa-Art Academy. Alasan paling utama adalah, jarak antara pom bensin ini dan Iwa-Art Academy kurang lebih memakan waktu 2 jam, dan itu waktu yang panjang untuk bolak balik. Naruto akan sepenuhnya kontra dengan keegoisan seorang perempuan yang lebih mementingkan kucing ketua OSIS nya.

Sedangkan Sasuke dan Shikamaru, mereka duduk di undakan kios di pom bensin dan hanya diam, membiarkan Naruto maupun Sara berdebat sesuka hati. Matatabi, kucing itu sangat santai. Dia tiduran di samping Sihkamaru, bahkan memejamkan matanya diantara angin sore yang menghempas bulu-bulunya.

Terlepas dari Sara dan Naruto yang berdebat sesekali mengundang rasa penasaran orang lewat. Namun dalam pandangan seperti ini, orang awam pasti akan berasumsi kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Lagi lagi cinta... ah dasar bucin.

"Sasuke! Kau kan yang menyetir. Kau saja yang memutuskan!" Ujar Sara menoleh ke Sasuke. Menoleh dalam artian mengintimidasi dengan cara menatap Sasuke tajam berharap pemuda berambut raven itu akan membelanya-membuat Sasuke yang tiba-tiba diseret dalam perdebatan malah bingung sendiri.

"Er.." Sasuke menoleh ke Shikamaru. Meminta jawaban.

Shikamaru, dia sangat santai. Dia malah menguap lebar dan dengan sekali gerakan langsung berdiri. Ia lalu mengangkat Matatabi kemudian membopong kucing itu mendekati mobil.

"Aku saja yang menyetir." Ujar Shikamaru kepada Sasuke.

Sasuke yang sedikit heran dengan gerik Shikamaru pada akhirnya hanya mengiyakan, menatap Punggung pemuda berkuncir itu lalu beralih ke Sara dan Naruto yang sama-sama menatap Shikamaru.

.

~iwdwiw~

.

Di sudut Iwa yang Lain. Obito.

Pemuda itu kini duduk dengan gelisah di dalam mobil Humvee milik tentara angkatan udara. Disampingnya, seorang perempuan berpakaian militer kini tengah menyetir.

Sekilas atas apa yang terjadi pada Obito. Dia baru saja diseret ke markas angkatan udara, dimana dia menjadi saksi satuan A-Force yang tengah mempersiapkan persenjataan kelas berat untuk mencari cucu kesayangan Jendral Hanzo.

Melihat Kemungkinan Shisui yang akan ditembak mati di tempat. Obito pun bernegosiasi dengan Jenderal Hanzo demi keselamatan bersama. Obito meminta Jendral Hanzo men delay A-Team beserta Black Hawk mencari dengan alasan Obito lah yang akan mencari Hotaru terlebih dahulu dan berjanji akan membawa kembali Hotaru dalam keadaan selamat.

Atas penawaran Obito tersebut, jenderal bintang empat itu memberi waktu untuk Obito sembari menunda pasukannya sampai terbit fajar. Mengkomandokan salah satu Letnan kepercayaannya untuk menemani sekaligus mengantar Obito.

Hingga pada akhirnya, Obito pun terjebak disini, duduk bersama dengan seorang Letnan perempuan yang diketahui Obito bernama Kurotsuchi. Yap, mereka hanya berdua.

Sepanjang perjalanan, Obito tidak bersuara. Dia memilih diam, dan menatap jalanan dari dalam Humvee. Jujur, baru sekali ini Obito menaiki mobil berbasis militer, Obito bahkan menyadari beberapa kotak peluru bertuliskan 'kaliber 12' yang dibiarkan teronggok di kursi belakang.

Sang Letnan muda nampak tidak bersuara, membuat Obito akhirnya tenggelam dengan lamunannya sendir.

Suasana yang sunyi memberinya ruang untuk memikirkan segala sesuatu yang terjadi. Termasuk dimana dirinya dulu sempat di terror oleh Shisui dan Itachi melalui telfon karena kedua orang itu ingin Obito kembali ke klan.

Ngomong-ngomong soal telfon.. Obito mendengus kesal mengingat Shisui dengan sengaja meninggalkan smartphone nya di ruang rawat Hotaru, seakan pemuda itu tau kalau semisal dia akan dilacak.

Yap, Jujur.. Obito sampai sekarang masih bingung menentukan. Antara Shisui itu sebenarnya bodoh atau jenius.

.

~iwdwiw~

.

Tahun 20XX, Markas besar pasukan pemberontak.

"Dengar semua, kalian tau kan Hotaru sedang menyelesaikan lukisannya?" Ujar Komandan Shisui kepada pasukannya.

Orang orang yang ada di sana nampak mengangguk. Komandan Shisui dan para pasukannya kini tengah menyusun strategi di dalam sebuah kamar yang sangat gelap, seluruh gorden ditutup sehingga hanya menyisakan cahaya remang-remang sore hari yang membias diantara sela-sela kain tersebut.

Lampu senter yang dinyalakan merupakan cahaya alternatif yang menyoroti orang-orang itu.

".. Akan datang orang jahat yang akan membawa pergi Hotaru." lanjut Shisui.

Para pasukan nampak mendengarkan. Saling toleh seakan apa yang dikatakan Shisui adalah hal yang sangat gawat.

"J-Jahat seperti apa?" tanya salah satu pasukan. Inari, 5 Tahun.

Komandan Shisui menoleh ke Inari.

"Dia adalah dokter yang sangat jahat!" Jawab Shisui dengan nada Horror.

"Hiyy!"" Inari yang ditakut-takuti langsung bersembunyi di belakang punggung bocah yang tadi bermain catur dengan Shisui, Yota.

"Kalau begitu kita usir saja dia kalau datang kesini." Sahut pasukan yang lain. Nawaki, 9 tahun.

"Yang akan membawa pergi Hotaru hanya 1 orang?" tanya Yota, 12 tahun.

Komandan Shisui nampak berpikir. Itu pertanyaan yang bagus, mengingat bisa jadi seluruh rumah sakit tengah mencari Hotaru sekarang dan bisa jadi juga bukan hanya Obito yang akan muncul.

"Aku tidak tau. Yang jelas, Paman Roshi tadi bilang padaku kalau tempat ini ada diatas bukit dan jarang orang datang. Jadi, Lebih baik kita anggap saja siapapun yang datang adalah musuh." Jelas Komandan Shisui.

Mereka semua nampak mengerti.

"Okelah kalah begitu. Kita akan pasang beberapa jebakan. Yukimi-chan kau bisa bantu aku mencari tepung di-"

CKELK!

"AH!" Rapat besar pasukan itu harus dikagetkan oleh lampu yang tiba tiba menyala. Di ambang pintu, nampak Sasame yang sudah berdiri sembari melipat tangan di dada.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sasame.

Orang-orang yang ada di sana nampak mematung.

"Kami, kami ingin membuat jeba-hmph!" Inari yang hampir saja membocorkan rencana pasukan untungnya cepat dibungkam oleh Nawaki. Shisui nampak mengangguk ke Nawaki menandakan isyarat 'kerja bagus'

"Tak ada." Jawab Shisui.

Sasame menatap Shisui curiga.

"Shishui Senpai.."

"Hm?"

".. Kau tidak boleh menanamkan gerakan radikal ke mereka lho ya.. mereka masih dibawah umur."

"Mana ada."

.

~iwdwiw~

.

Jam 6 Sore

Sara duduk di kursi samping Shikamaru dengan cemberut. Alasannya satu, karena Shikamaru ternyata pro-Naruto. Dimana dia lebih memilih melanjutkan perjalanan daripada mengembalikan kucing milik Yugito terlebih dahulu. Alasan Shikamaru adalah : Kepentingan kucing tidak bisa dibandingkan dengan kepentingan orang sakit.

Sara ngambek bukan hanya karena argumennya kalah cerdas dengan Shikamaru, namun juga karena nampaknya ketiga pemuda ini satu suara. Disisi lain, Sara menganggap kedua-duanya adalah hal yang sama gawatnya. Pasalnya, Matatabi adalah penentu para anggota OSIS bisa segera pulang kerumah masing masing. Dan bisa tambah runyam ceritanya kalau semisal Matatabi tidak segera dikembalikan, mengingat kucing ini suka kabur. Sara tidak bisa memegang tanggung jawab jika dia seandainya menjadi penyebab Matatabi hilang selamanya.

Sedangkan Shikamaru yang menyetir. Dia terlihat santai. Pasalnya, kucing yang bersangkutan dilihatnya cukup enjoy dengan kondisinya yang sekarang. Dia berbaring di tengah tengah Naruto dan Sasuke yang duduk di kursi belakang. Sesekali dia mengeong mengelus eluskan kepalanya kepada Sasuke maupun Naruto.

Untunglah seorang Shikamaru adalah pencari jalan yang handal. Dia cukup mengingat beberapa belokan karena sempat memperhatikan Sara beberapa kali dikala gadis itu berkutik dengan google map tadi. Beberapa kali dia tidak yakin, dia menepi dan bertanya kepada orang. Hingga pada akhirnya, mobil Mei dapat Shikamaru kendarai di sebuah tanjakan yang kata seorang pedagang buah dipuncaknya adalah yayasan bernama Crimson House.

Hingga pada akhirnya, mereka tiba di sebuah gerbang tua bertuliskan Crimson House. Saat aku bilang gerbang, sebenarnya hanya setengahnya saja yang benar, pasalnya tidak ada pintu gerbang, melainkan hanya gapura saja. Gapura itu nampak sangat kurang terawat terlihat dari rumputnya yang meninggi dan cat merah tua nya yang mengelupas.

Shikamaru pun tanpa pikir panjang langsung mengarahkan mobil milik Mei masuk. Saat masuk, Shikamaru nampak kebingungan karena tidak ada tempat parkir dan hanya jalan lurus menuju rumah yang bercat senada dengan gapura yang ada di belakang mereka.

"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Sasuke. Dia melirik sebuah pohon mati yang berada tak jauh dari rumah itu berdiri.

Sara nampak tidak menanggapi.

Shikamaru menghentikan laju mobil itu sedikit jauh karena juga merasa tidak yakin. Hingga dia menyadari sebuah obyek yang nampaknya orang-orangan sawah ditancapkan tepat di depan rumah.

Naruto lah yang sepertinya cukup diyakinkan bahwa tempat ini adalah rumah yang salah.

"Mungkin kita harus putar balik." Ujar Naruto.

Namun nampaknya Sara tidak setuju dengan ide Naruto. Tanpa pikir panjang, gadis itu kemudian keluar dari mobil setelah mengucap 'tunggu disini' kepada Naruto, Shikamaru dan Sasuke.

Gadis itu sudah menutup kembali pintu mobil bahkan sebelum ketiga pemuda itu sempat protes.

Hal pertama yang Sara lakukan adalah mendekati orang-orangan sawah yang tertancap. Di bagian kepala orang orangan sawah itu nampak secarik kertas bertuliskan 'Pergilah!' yang ditempel menggunakan selotip. Sara lalu menoleh kepintu depan dan berniat mengetuk pintu atau membunyikan bel depan. Itu sebelum dia mendengar suara yang sangat nyaring dari arah samping.

"SERANGGG!"

"Hah?"

BYURRR!

Yang Sara tau setelahnya, dia dihantam dengan air yang cukup deras dari arah samping.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru yang melihat Sara diserang oleh dua anak kecil menggunakan selang kebun pun langsung terkaget.

"Wtf?"

"HUWAA! HENTIKAN HEI!" Teriak Sara mencoba menghalau semprotan itu dengan tangannya, namun sayang usahanya malah membuat air itu merata ke wajah dan rok nya.

Tidak sampai disitu, penderitaan Sara harus berlanjut karena komando kedua yang didengar gendang telinganya.

"PASUKAN TEPUNG SERANG!"

Dengan wajah yang basah dan mata yang terkena air, Sara bersusah payah membuka mata hanya untuk melihat gerombolan anak-anak kecil yang berbondong-bondong membawa mangkuk, gayung atau apapun yang nampak digunakan untuk wadah tepung terigu.

"HEI TUNGG-"

BUFF

Tanpa ampun, anak-anak kecil itu melempari Sara yang basah dengan tepung terigu dari wadah mereka masing masing.

Naruto Sasuke dan Shikamaru pun langsung reflek keluar mobil dan mencoba menghentikan anak anak barbar itu yang dengan tiba tiba menyerang gadis polos tanpa ampun.

"HEI HEI! STOPPP!" Naruto mencoba menghentikan dengan teriakannya.

Anak anak itu tidak berhenti hingga akhirnya sang komandan mereka, Shisui menyadari kehadiran Naruto, Sasuke dan Shikamaru dan mengkomandokan mereka untuk berhenti.

"Berhentii!"

Inari yang datang terlambat belum sempat melempar apapun kepada sang target, dia berniat melayangkan satu serangan, namun sayangnya dia diberi geraman kejam oleh Matatabi yang ikut turun dari mobil. Anak kecil yang terkaget itu harus merelakan mangkuk plastik penuh tepungnya jatuh berantakan di tanah. Dia berlari mundur dan bersembunyi di belakang Nawaki.

"Sasuke?!" ujar Shisui sedikit kaget. Naruto, Sasuke dan Shikamaru menoleh ke Shisui.

Tak lama kemudian Sasame keluar dari dalam rumah bersama seorang pria dewasa.

"Shisui senpai kenapa anak-anak mengambili tepung di-A-APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

"..."

.

~iwdwiw~

.

Skip

Sara mengintimidasi Shisui dengan death glare terbaiknya kala dia kini duduk di sofa. Dia sudah berganti dengan baju yang bersih. Pria dewasa bernama Roshi lah yang segera mencarikan baju ganti untuk Sara saat mengetahui 'anak-anak' nya menghajar tamunya dengan tepung terigu. Rambutnya yang masih terlihat putih karena bertarburan tepung basah nampak coba dibersihkan oleh Sasame dengan Handuk.

Ini adalah pertemuan pertama Sara dengan Sepupu Sasuke, dan dia diserang dengan air keran dan tepung terigu. Meskipun bukan Shisui yang menyerang secara langsung, namun tetap saja anak-anak kecil yang menyerangnya tadi jelas sekali dikomandoi oleh pemuda itu. Sedangkan Shisui nampak pura-pura tidak melihat sembari sesekali mengalihkan pandangan. Oke, dia dan pasukannya salah sasaran, tapi mau bagaimana lagi? mana Shisui tau kan kalau gadis bernama Sara itu datang bersama Sasuke, Naruto dan Shikamaru.

Sedangkan Naruto, Sasuke dan Shikamaru. Mereka lebih memperhatikan seorang pria dewasa bernama Roshi yang kini tengah berbicara. Mereka dijelaskan perihal kronologi Shisui dan Sasame yang datang kesini membawa Hotaru.

Pria dewasa yang berambut merah itu adalah bapak/atau pendiri yayasan ini. Yayasan bernama Crimson House yang menampung anak yang tidak punya keluarga.

"Maaf jika tidak sopan, Namun aku sempat membaca bahwa ini adalah yayasan tempat anak berkebutuhan Khusus, bukan panti asuhan anak yatim/piatu." Tanya Shikamaru, mencoba tidak menyinggung.

Roshi nampak tersenyum.

"Aku yakin itu hanya kesalah pahaman. Penghuni disini adalah anak anak normal, kami hanya tidak punya keluarga- ah tidak, kami adalah sebuah keluarga." Jelas Roshi.

Shikamaru nampak mengangguk.

Roshi nampak menatap para tamunya dengan seksama.

"Aku senang Hotaru membawa teman-temannya kemari." Lanjut Roshi.

Sasuke yang diam mendengarkan nampak sesekali melirik Shisui. Yah, andai mereka bisa dianggap teman. Mereka datang kesini karena terjebak dalam masalah yang rumit.

"Gadis itu lama tidak kesini, aku kira dia melupakan kami. Namun menyadari dia datang dengan kondisi yang seperti itu.. Aku menyesal karena berprasangka buruk kepadanya." Ujar Roshi dengan nada menyesal.

Sara yang menyadari tujuan awalnya kesini pun bertanya setelahnya.

"Hotaru dimana?" tanya Sara.

Roshi menoleh.

"Dia di kebun belakang."

Sara mengangguk, dia lalu permisi dari situ untuk menghampiri Hotaru. Sasame berniat mengikuti, Namun Sara mencegahnya dan menyuuruhnya menemani Roshi dan keempat pemuda.

Setelah apa yang dilakukan Shisui kepada Sara, Sara harus mengecek Hotaru. Sara hanya ingin memastikan memastikan gadis itu tidak apa apa.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxxxxxxx

Author Note(s) : Yohooo~ Updet kilat Hanzama Is Back!

Hmm, sebenarnya gak ada yang harus disoroti sih di author note chapter ini. Mungkin sekedar menyapa saja karena hari ini adalah sabtu. Yap! jika kawan kawan adalah jomblo yang mengenaskan, Hanzama disini sebagai pengobat hati. Mengajak sahabat pembaca malam mingguan dengan baca fanfic :v daripada gak ada yang ngajak kan? uhuk uhuk..

ehem ehem- oke mungkin mengulas beberapa sahabat pembaca yang nampaknya kebingungan mengikuti alur iwdwiw pasca hanzama mati suri dulu #plak

bagi kawan kawan sekalian yang bingung udah baca iwdwiw sampai tengah jalan dan lupa sampe chapter mana plus males baca dari chapter awal.. mungkin bisa tinggalkan jejak atau pc personal ke Hanzama.. bilang saja kronologi kejadian kala kawan2 terakhir baca.. Nanti hanzama bantu sebutin chapternya.. dan pastikan login yah.. biar hanzama bisa bales -"

Okesip mungkin itu, tak ada cuap cuap lebih lanjut.. dan bila benang merah masih mempertemukan kita, kita akan bertemu di chapter 100!

Jangan lupa tinggalkan ripiu~

Sekian dari Hanzama, semoga sukses selalu!

Cya cya~~

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

-After-

Cklek.

Sara menutup pintu belakang Crimson House. Halaman belakang tempat ini cukup luas, beberapa pembatas dan pagar sengaja dibangun di sekeliling nampaknya agar hewan liar tidak memasuki area perkebunan. Selebihnya kebun ini tidak ada yang spesial, hanya ada beberapa petak tanah yang sepertinya ditanami sawi dan mentimun.

Tidak perlu waktu lama sebelum Sara bisa melihat Hotaru dengan kursi rodanya kini berada di tengah tengah perkebunan sembari menatap senja.

"Hotaru?" ujar Sara pelan. Namun Sara tidak mengharapkan lebih, mengingat kondisi Hotaru.

Sara pun kemudian mendekati Hotaru dengan pelan. Dia berjalan cukup dekat hingga akhirnya dia bisa berdiri di samping Hotaru untuk melihat gadis itu mendongak dan memejamkan mata.

Saat dia melihat gadis itu sekilas, dia cukup lega. Nampaknya gadis itu tidak apa-apa.

Disela suara jangkrik yang mulai bernyanyi, Sara masih memperhatikan gadis itu, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.

"Kenapa kau disini sebaiknya kita masuk. Udara semakin dingin jika menjelang malam hari." Jelas Sara. Dia berniat menarik kursi roda Hotaru dan mendorongnya masuk kedalam, itu sebelum dia tiba tiba mendengar satu kata keluar dari mulut gadis itu.

".. tunggu." Ujar Hotaru.

DEG!

Pendengaran Sara tidak salah dengar, Hotaru barusaja mengucapkan satu kata dengan cukup jelas.

Sara diam mematung, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sehingga dia hanya diam dan tidak bergerak. Berharap Hotaru akan berbicara lagi.

Cukup lama mereka berdiri disana bahkan hingga warna merah di langit semakin tua. Saat warna merah tua itu mendekati hitam, Hotaru nampak membuka matanya. Sara masih memperhatikan bahkan saat Hotaru berucap lagi. Kali ini dua kata.

"crimson.. eye." ujar Hotaru. Pandangannya menuju langit.

Sara pun reflek mendongak ke atas.

Itulah saat Sara melihatnya.

Cahaya merah tua yang membias diatas langit. Berpola melingkar dari sumbunya. Sorot mata Sara terbelalak menyadari keindahannya.

.

FenomenaAurora Borealisberbentuk spiral yang terlukis megah di atas langit.

Seakan sang maha kuasa tengah melukis di sebuah kanvas bernama angkasa.

.

.

REVIEW

v

v

v

v

v