Sara menemani Hotaru di lantai dua crimson House, Ini adalah ruang kerja Roshi-san . Dibuktikan dari beberapa berkas dan barang yang tergeletak, adapun meja kerja yang berdiri rapi di pojok ruangan. Pria dewasa berambut merah itu mengijinkan Hotaru memakai ruangannya karena di ruangan itu terdapat jendela bulat raksasa yang berbatasan langsung dengan kebun belakang, sehingga sosok crimson Eye bisa terlihat jelas meski di dalam ruangan.

Setelah menyaksikan fenomena yang baru pertama kali dia lihat itu, Sara pun yang penasaran langsung melontarkan belasan pertanyaan kepada penghuni Crimson House. Tentu saja Sara memperhatikan dengan seksama kala seorang bocah kecil bernama Inari memberinya penjelasan antusias tentang fenomena Crimson Eye yang terpampang di angkasa. Meskipun pada akhirnya Sara kebanyakan tidak paham karena bocah yang bersangkutan mulai ngelantur kemana mana, namun untungnya ada bocah yang lain yang bernama Yota yang menjelaskan dengan lebih simple dan masuk akal.

Aurora Borealis berbentuk spiral yang bahkan di detik ini masih terpampang di angkasa adalah fenomena tiga hari berturut-turut yang hanya bisa dilihat selama 1 tahun sekali di sini. Menurut penjelasan Yota ini adalah hari terakhir crimson eye muncul dan akan hilang setelah fajar esok hari tiba. Di daerah pinggiran Iwa ini adalah tempat paling sempurna untuk mengamati fenomena alam tersebut. Sayangnya Orang-orang yang tinggal di perkotaan Iwa tidak akan pernah bisa melihat fenomena ini karena terhambat kondisi geografis, gedung gedung tinggi dan lampu-lampu yang lebih terang.

Di dalam ruangan kerja Roshi, Sara nampak membantu Hotaru yang mencoba mempersiapkan alat lukisnya. Mencoba sebisa mungkin membuat gadis itu tidak berkerja terlalu keras.

"Kau yakin ingin menyelesaikan lukisanmu malam ini?" tanya Sara. Dia sempat berbincang dengan Sasame juga tadi, dimana gadis itu menjelaskan tentang niatan Hotaru secara mendetail dan kenapa Sasame mendukung niatannya bahkan dalam kondisi Hotaru yang saat ini. Hotaru nampak menatap Sara dalam, lalu tersenyum. Dia lalu mengangguk.

Yah, Sara tidak punya pilihan. Ini adalah hari terakhir crimson eye menghias angkasa. Sara juga enggan mempertanyakan mental seorang pelukis dengan menyarankan memotret fenomena ini dengan smartphone dan meminta Hotaru melukisnya dilain hari-karena Sara yakin gadis ini tidak mau melakukannya.

Disela persiapan mereka, Shisui nampak datang dan bersandar di ambang pintu. Sara yang menyadari kedatangan sepupu Sasuke itu pun langsung kembali cemberut, seakan dia belum mengikhlaskan apa yang dilakukan pemuda itu tadi sore.

"Pergilah, kami tidak butuh bantuan." Usir Sara frontal.

Shisui nampak menghela nafas.

"Hahh... Aku hanya ingin memberitahukan, Paman Roshi barusaja berangkat ke kota untuk menjual sayur hasil kebun. Dia bilang, dia akan kembali besok pagi, jadi dia menyuruh kita yang bertanggung jawab dengan Anak-anak." Jelas Shisui.

Sara diam tidak menanggapi, dia tengah membantu Hotaru mempersiapkan beberapa cat minyak. Sara tersenyum ke Hotaru saat gadis itu berucap terima kasih dengan suara lirih.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 100 : Money talks? Until Dawn

Jam 7 Malam.

Setelah berputar putar ke Iwa-Art Academy untuk mencari keberadaan orang yang ia cari-cari, Obito tidak menemukan siapapun, bahkan sosok Sasuke dkk yang dia utus untuk mencari Hotaru dan Shisui. Namun dia mendapat petunjuk baru, dimana seorang gadis berambut hijau yang Obito temui bilang bahwa Sasuke dkk berencana mencari Hotaru di tempat bernama Crimson House. Yap, gadis berambut hijau sudah pasti Fuu (Ya, ampun Fuu, kau pengkhianat)

Dan dengan bermodal tekhnologi bernama Google, Obito akhirnya mendapatkan alamat tempat yang bersangkutan. Untuk memastikan dia tidak salah alamat, Obito pun berniat menghubungi nomor telfon kediaman tersebut.

TUUUT TUUUT..

'Halo...?'

AH, Obito segera menyahut saat didengarnya panggilannya diangkat.

"Ah.. selamat malam, apakah ini betul dengan Roshi-san pengelola yayasan Crimson House?" tanya Obito.

'Umm.. Bukan.. Ini Inari.' Jawab Orang dari seberang. Obito terdiam heran karena suara yang dia dengar nampaknya suara anak kecil. Dia menjauhkan smartphone nya dari telinga untuk menatap layarnya sendiri- dia mengasumsikan pasti yang mengangkat anaknya atau semacamnya.

"Anoo.. Dek, bisa tolong berikan telfon nya ke Roshi-san?" Pinta Obito.

'Nggak'

"Tolonglah.. Aku mau berbicara dengan ro-"

TUUTT TUTT.

Obito menatap hp nya kesal. Sialan, panggilannya di akhiri.

Meanwhile : Crimson House.

"Inari? Siapa yang telfon?" tanya Sasame yang datang dari dapur. Dari arah tangga nampak Shisui juga mendekat.

"auk.. Salah sambung." Sahut Inari cuek. Tepat saat orang-orang itu ingin kembali ke kegiatannya, telfon rumah itu berbunyi lagi. Inari nampak menatap telfon itu dan berniat mengangkatnya lagi, namun nampaknya Shisui tidak tega membiarkan seorang anak berumur 5 tahun mengangkat telfon yang kemungkinan penting. Jadi Shisui yang maju, megkomandokan ke Inari biar dia saja yang mengangkat.

Cklek.

'Halo?' tanya orang di seberang.

"Hn. Halo." balas Shisui cuek.

Orang yang ada di seberang nampak menyadari suara Shisui.

'Kau!? Shisui!?'

Shisui nampak belum paham siapa yang ada di seberang.

"Hm iya. Siapa ini?" tanya Shisui balik. Namun Nampaknya orang yang ada di seberang tidak suka basa-basi, dia langsung menyemprot Shisui dengan nada tinggi.

'Dengar bodoh! Kau harus segera mengembalikan Hotaru ke rumah sakit!'

Mendengar itulah baru Shisui paham kalau yang ada di seberang adalah Obito.

"Oh, Obito." balas Shisui malas.

'Hei! Kau dengar tidak apa yang ku katakan?! Kau terlibat dalam masalah besar tau!'

"Ya ya ya.. Aku akan mengantar Hotaru kembali ke rumah sakit besok saat dia selesai dengan urusannya." Balas Shisui lagi.

'AP? Besok?! Mana ada besok! Dengarkan aku! Aku akan menjemput kalian sekarang! Kau harus paham bahwa dibelakangku akan ada pasukan angkata-' TUUT TUTT

Shisui langsung menutup sambungan bahkan sebelum Obito menyelesaikan ucapannya. Inari menatap Shisui dengan mata polosnya, dia lalu bertanya.

"Siapa?"

"Hn. Kau benar.. Itu salah sambung." balas Shisui.

Sedangkan Sasame, langsung paham bahwa didengar dari topiknya, itu sudah pasti pihak rumah sakit. Gadis itu bingung harus berkomentar apa karena detik berikutnya, Shisui nampak berjongkok dan berbisik ke telinga Inari.

Perlu beberapa detik sebelum anak kecil itu mengangguk dan berlari kencang ke tangga.

"Senpai."

"Apa?

"Sudah kubilang jangan memberikan pemahaman radikal kepada anak kecil." tegur Sasame.

Shisui diam tidak menanggapi.

.

~iwdwiw~

.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru. Mereka duduk di beranda rumah dengan santai. Setelah selesai membantu Roshi mengangkut beberapa karung mentimun dan sayur-sayuran ke atas Pick up beberapa menit lalu. Mereka hanya bersantai di bawah terang malam. Mereka juga dipamiti bahwa Pak tua berambut merah itu akan menjual sayuran itu ke pasar pagi di kota dan tidak akan kembali sampai besok. Itulah kenapa mereka dipersilahkan menginap disini sembari dititipi mandat untuk menjaga anak-anak. Terlepas dari sebagian besar anak-anak penghuni Crimson House yang nampaknya tengah mempersiapkan makan malam di dalam, ketiga pemuda ini lebih memilih berada di luar, alasannya hanya satu.. Yaitu menikmati cahaya Aurora Borealis yang ada di lagit. Cahaya merah gradasi yang nampaknya juga ingin menikmati malam dengan menari indah di langit Iwa.

"Yah kau tau. Setelah semua yang terjadi. Ini tidak terlalu buruk juga." Ujar Naruto. Sasuke dan Shikamaru menoleh. Pemuda berambut kuning itu nampak menghilangkan segala macam luapan yang ada di dirinya perihal tindakan Shisui saat dia dijelaskan alasan Shisui membawa Hotaru kesini adalah untuk melihat fenomena alam ini.

Naruto melirik Sasuke dan Shikamaru yang nampak menatapnya, seakan mereka kaget bahwa Naruto nyatanya bisa bersyukur juga.

"Jangan menatapku seperti itu bodoh. Ini adalah momen sekali seumur hidup tau! Maksudku, lihatlah!" Lanjut Naruto, dia menunjuk langit dengan tangannya.

dalam Hati Sasuke mengiyakan, benar juga sih. Cahaya seperti ini tidak akan bisa mereka lihat di Konoha.

Shikamaru juga nampak tenang. Sesekali dari sudut matanya, dia melirik tiga orang anak kecil penghuni Crimson House yang nampaknya terlalu gembira bermain dengan Matatabi di halaman depan, riuh tawa mereka menjadi pelengkap dalam menikmati keindahan malam ini.

Oh iya, bila kau bertanya dimana mobil Mei, mobil itu kini ada di samping rumah, di dalam garasi cukup luas yang tak tampak seperti garasi sama sekali karena pintunya adalah deretan kayu yang ditata berjajar. Shikamaru nampak tanpa babibu langsung memasukkan mobil Mei ke dalam garasi kayu itu saat Sasuke dan Sara menyetujui tawaran Roshi untuk menginap.

Di dalam garasi itu, ada pula mobil yang Shikamaru kenali sebagai mobil milik Rin yang nampaknya digunakan Shisui untuk sampai kesini.

Oke, terlepas dari kenyataan bahwa perawat Mei akan menunggu mobilnya kembali dengan gelisah karena mereka tidak ada niatan kembali ke Rumah sakit malam ini, namun yah, dia orang dewasa, Shikamaru yakin perawat Mei bisa menyelesaikan masalah seperti ini dengan mudah. (Oke, itu pemikiran yang sepenuhnya salah Shikamaru, tapi terserah.. Kau lah yang paling jenius disini jadi... terserah)

Sayangnya, kegiatan penuh rasa syukur itu harus diinterupsi oleh Shisui yang datang dari dalam. Pemuda itu membuka pintu depan dan langsung memanggil Sasuke.

"Sasuke." panggil Shisui.

Ketiga pemuda yang duduk di beranda rumah menoleh.

"Ada apa?"

"Aku ingin bicara empat mata denganmu."

.

.

.

.

Skip

Shisui menyeret Sasuke menuju halaman belakang, dimana dirinya kini tengah dijelaskan tentang sesuatu.

"Sasuke."

"Hm?" Sasuke menoleh. Mereka kini duduk di kursi panjang di belakang rumah.

"Maaf jika seandainya solusi yang kami berikan tidak membantu situasimu." ujar Shisui. Yang dimaksud Kami oleh Shisui adalah dirinya dan Itachi.

Sasuke memiringkan kepalanya bingung.

"Maksudnya?"

"Hal yang aku dan Itachi inginkan hanyalah Obito bisa kembali ke klan dan kembali sebagai bagian dari Keluarga besar. Namun nyatanya, semua malah tambah rumit." lanjut Shisui.

Sasuke diam, dia tidak berniat membalas.

Melihat wajah Sasuke yang masih bingung, Shisui pun bersuara lagi.

"Kau tau kenapa Itachi menyembunyikan pernikahannya dengan Izumi?" tanya Shisui lagi.

Sasuke tambah bingung. Namun dia lebih memilih menunggu Shisui menyelesaikan kalimatnya.

"Karena Madara."

"Kakek?"

Shisui mengangguk.

"Itachi tau kalau dirinya pada akhirnya akan dijodohkan kepada gadis yang dipilihkan Madara. Itulah kenapa dia mengambil satu langkah kedepan." jelas Shisui.

Sasuke mendengus.

"Maksudmu dengan menghamili anak orang?" tanya Sasuke sedikit menyindir. Namun Shisui tetap serius.

"Izumi tidak punya orang tua, Sasuke. Dia hanya punya Itachi."

"..." Sasuke diam mendengarnya. Oke, dengusan Sasuke barusan sedikit kejam mengetahui fakta yang dibeberkan Shisui.

"Itachi selalu bilang.. Setiap orang di klan adalah pion seorang Uchiha Madara. Yang langkah hidupnya akan selalu dikontrol demi kebaikan klan. Madara adalah pimpinan klan, dan kau harus mengikuti setiap aturan klan. Jika tidak... Kau akan berakhir seperti Izuna."

"Apa yang terjadi dengan kakek Izuna?" tanya Sasuke.

Shisui diam sedikit lama.

"Upacara penghapusan marga. Kau pernah mendengarnya?" Shisui balik bertanya.

Sasuke menggeleng. Yah, jelas saja. Terakhir kali diadakan adalah saat Sasuke masih kecil. Sasuke yang masih bocah memang tidak diharuskan untuk mengerti

"Itu adalah upacara yang bertujuan menghapus marga klan dari namamu. Setelah kau diberikan upacara itu, kau bukan lagi bagian dari keluarga..."

"..."

"...Itulah yang terjadi pada kakek Izuna."

Sasuke diam mematung. Astaga, dia bahkan tidak tau kalau Uchiha menyimpan tradisi yang sangat menyeramkan seperti itu.

"Saat kau sudah diberi upacara penghapusan marga, kau dilarang untuk datang di setiap tempat milik klan. Bahkan setiap orang dari klan dilarang untuk datang ke pemakamanmu saat kau mati."

Glek. Sasuke menelan ludah mendengar apa yang dikatakan Shisui. Tunggu, jadi maksudnya Madara melakukan upacara penghapusan marga kepada adik kandungnya sendiri?

"Apakah cerita ini ada hubungannya dengan kontrak CEO yang diberikan padaku?" tanya Sasuke paranoid. Oke, Sasuke berhak paranoid. Dia tidak mau arti 'menggantikan Madara' berarti 'menggantikan' memimpin sesuatu seperti ini. Sasuke tidak mau menghapus marga siapapun, dan menendang keluarganya sendiri keluar dari klan.

Shisui tertawa kecil.

"Tentu saja tidak, bodoh."

Oke, mendengarnya Sasuke bisa bernafas lega.

"Namun ada hubungannya dengan Obito." lanjut Shisui.

"Hubungan seperti apa?"

"Obito lahir di klan dan tetap Uchiha seperti kita Sasuke. Namun dimasa kecil sampai remajanya dia tinggal bersama kakek Izuna. Setelah kematian kakek Izuna 8 bulan lalu, Obito sudah tidak punya siapa-siapa."

"..."

"Aku dan Itachi selalu ingin Obito kembali ke klan. Dan hidup damai dengan kita sebagai sepupu yang paling tua sekaligus saudara yang seharusnya paling bisa diandalkan."

"..."

"..tapi nampaknya, pemuda itu terlihat tidak ada niatan baik kembali ke klan apapun situasi dan kondisinya."

"..."

Shisui menoleh ke Sasuke tegas.

"Sasuke."

"..."

".. Jika seandainya kita dibohongi oleh Obito dan dia tetap tidak mau menggantikanmu, aku takut kita tidak punya solusi cadangan untuk masalahmu." jelas Shisui.

"..."

Sasuke diam tidak menjawab. Dia tidak bisa membedakan antara Shisui menakut-naikutinya atau Shisui membeberkan kenyataan yang pahit.

.

~iwdwiw~

.

Crimson Hill, 2 Jam Kemudian.

"Oi Shisui." Panggil Naruto Ke Shisui.

"Hm?" Shisui menoleh, mereka kini tengah sembunyi di semak semak. Tepat di sisi jalan tanjakan menuju Crimson House di atas bukit.

"Kau sinting menyeret anak-anak kecil ke hal seperti ini." Ujar Naruto Jujur. Dia mengikuti pandangan Shisui jauh di ujung masuk tanjakan dimana Nawaki, Inari dan beberapa anak lain tengah mencoba memblokade jalan raya menggunakan log kayu. Log kayu berkuruan sedang yang ditumpuk dan dijajar di sepanjang jalan hingga hampir tidak ada celah untuk melintas.

"Hei.. Kami mungkin anak kecil, tapi kami anak kecil yang bermarbabat tau!"

Naruto menoleh ke orang ketiga yang datang dan ikut bersembunyi di semak itu. Yota. Dia membawa dua keranjang besar balon yang nampaknya diisi oleh air.

"Bukan bermarbabat, tapi bermartabat." koreksi Naruto. Namun Yota nampak mengabaikan. Dia ikut mengamati arah yang dipandang Shisui.

"Hm.. Kau sudah memberikan sisa balon cat ke yang lain?" tanya Shisui, sepenuhnya mengabaikan Naruto... Oke ralat, itu bukan balon berisi air, itu balon berisi cat.

"Sudah."

"Sip."

"Hadehh.." Naruto menepuk wajahnya sendiri.

Oke, Sebelum lanjut, mari kita jelaskan dulu apa yang dipikirkan Naruto untuk situasi ini.

Jadi begini.. Kau tau kan? Orang normal di saat seperti ini pasti akan menyambut hangat pihak rumah sakit, menyajikan mereka teh atau semacamnya. Lalu dengan alasan yang masuk akal pasti menjelaskan apa yang terjadi secara terang dan jelas agar tidak ada yang salah paham. Namun TIDAK untuk Shisui dan para serdadunya ini. Alih alih menjelaskan, mereka malah memblokade jalan menggunakan tumpukan kayu dan berniat membegal mobil rumah sakit yang datang lalu kemudian dilanjutkan melemparinya dengan balon berisi cat.

Yak itu benar-benar antisipasi yang tidak akan sekalipun diusulkan oleh orang normal. Maksud Naruto, WHAT TE FACK!

.

~iwdwiw~

.

20.43, Jalan Besar, Obito dan Letnan Muda Kurotsuchi (Masih Berdua)

Itulah waktu yang ditunjukan oleh jam tangan Obito kala dia dan Letnan Kurotsuchi hampir mendekat tempat yang menjadi tujuan mereka. Jalan malam sedikit lenggang, sehingga memberikan kesempatan untuk Mobil Humvee yang dikendarai Letnan Kurotsuchi melepaskan kecepatan terbaiknya. Toh, Semakin cepat sampai semakin cepat pula Obito bisa mengetahui keadaan Hotaru. Berharap gadis itu tidak kenapa-kenapa dengan kondisi tubuhnya yang sekarang.

Tidak lama hingga mereka sampai di tempat yang benar. Sayangnya, tanjakan yang mengarah ke tempat yang mereka tuju nampak dihalangi oleh tumpukan log kayu yang sepertinya sengaja dipasang oleh seseorang (atau beberapa orang)

Letnan Kurotsuchi menghentikan mobilnya tepat di depan blokade itu.

"Heh.. Sepertinya saudara mu itu memang benar-benar berniat menghalangi kita menjemput cucu Jenderal Hanzo." Ujar Letnan Kurotsuchi kepada Obito yang ada di sampingnya.

Yah, Obito menjelaskan situasinya secara menyeluruh kepada Letnan muda yang ada di sampingnya ini, termasuk fakta bahwa Shisui adalah saudara atau sepupu satu-klan-satu-marga dengannya. Berbeda dengan Jenderal 'salamander' Hanzo yang sekarang sepertinya tengah gusar menunggu di markas, Letnan muda ini lebih tenang dan lebih pengertian memahami dan menghadapi situasi yang dijelaskan Obito.

"Ya aku tau.. dia memang menyebalkan." Balas Obito kepada pernyataan Letnan Kurotsuchi.

Namun letnan muda itu hanya mendengus santai. Yah, nampaknya Pemuda bernama Shisui itu tidak paham satu hal. Humvee adalah mobil lapis baja yang dilahirkan untuk perang, dan di design secara khusus untuk menahan hujan peluru. Perlu digaris bawahi bahwa kaliber 50 sekalipun tidak bisa menembus lapisan luarnya dalam sekali serang. Menyadari fakta itu, log kayu tidak ada apa apanya.

Letnan muda itu bahkan tidak berniat repot-repot keluar mobil untuk menyingkirkan tumpukan kayu yang menghalangi mobilnya. Karena yang ada di otaknya sekarang adalah berniat menerobos tumpukan kayu itu begitusaja, menghantamkan bumper depan ke blokade karena dia 100 persen yakin Humvee nya cukup tangguh untuk melakukannya.

"Tunggu. apa yang kau lakukan?" tanya Obito saat dia menyadari Letnan Kurotsuchi memundurkan tuas gigi dan mulai menekan pijakan gas.

Letnan muda itu mengabaikan. Dia tanpa babibu mulai mengemudi mundur untuk kembali memberi jarak. Saat dirasanya jarak sudah cukup untuk memberi ancang-ancang menghancurkan blokade, dia pun bersiap menghantamkan bumper humvee dengan tumpukan kayu.

Sayangnya, letnan Kurotsuchi tidak mengantisipasi sesuatu yang datang.

SPLASH!

Bunyi benda yang kini mengguyur kaca depan mobil humvee yang dikendarainya bersama Obito.

"WAT?!"

"AKH!"

Belasan balon cat yang datang entah dari mana mulai menodai mobil militer itu, membuat letnan Kurotsuchi menghentikan niatannya dan mulai menarik rem tangan.

SPLASH! SPLASH! SPLASH!

"AP-HEI!"

dua detik kemudian serangan itu semakin banyak.

Serangan yang datang entah dari mana itu tidak perlu memakan waktu lama hingga kaca depan sepenuhnya terkena cat dan membuat penghuni humvee sudah tidak bisa sepenuhnya melihat dari kaca tersebut.

"Tsk!"

Letnan Kurotsuchi yang mulai kesal pun berniat keluar dari Humvee. Sayang keputusan yang diambil nampaknya salah karena yang ia tau setelahnya adalah dia juga diberondong oleh balon cat serupa tepat ke seragamnya. Dia kembali membuka pintu mobil, namun dia tidak masuk. Melainkan berdidi di belakang pintu mobil dan bertahan disana.

"HENTIKAN HEI!" Teriak Letnan Kurotsuchi.

Obito bisa melihat letnan muda itu bersembunyi di balik pintu humvee yang ia buka agar tidak terkena cat disela serangan bertubi tubi yang diterimanya.

"TCH!"

Obito menoleh ke depan. Ke arah kaca mobil yang kini sudah tidak berbentuk. Pandangannya sepenuhnya terhalangi jika berada di dalam mobil. Itulah kenapa Obito memilih mengikuti langkah Letnan Kurotsuchi dengan membuka pintu dan bersembunyi di baliknya.

"SHISUI OYY! HENTIKAN!" Teriak Obito, mencoba berteriak dan menghentikan hujanan artileri yang meluluh lantakkan tampilan dari Humvee militer angkatan Udara yang ditungganginya.

Betapa lega nya mereka berdua karena serangan bertubi tubi itu akhirnya berhenti hanya dari ucapan Obito.

"SHISUI?! DIMANA KAU!" Teriak Obito lagi. Dia mencoba mendongak. Matanya melirik-lirik ke deretan semak semak yang terjajar di seberang kiri kanan jalan dibalik tembok barikade. Beberapa detik kemudian, dia melihat seorang anak datang dari arah jalan di seberang barikade, anak kecil yang memakai jas hujan berwarna kuning sembari bertopeng ultraman. Anak kecil itu melompat lompat dari balik barikade sembari menyodorkan payung yang ada di tangannya, berharap dua orang yang bersembunyi di balik pintu mobil mendekat dan menerima payung itu.

Obito menoleh ke letnan Kurotsuchi dan mengangguk. Sebelum mereka berdua akhirnya keluar dari balik pintu mobil dan mendekati barikade log kayu. Berseberangan tepat di arah yang berlawanan dari anak kecil ber jas hujan kuning.

"Ini.."

Suara cempereng lah yang menghampiri letnan Kurotsuchi dan Obito.

"Kamu siapa?" tanya Obito.

"Inari. 5 Tahun, salam kenal." Ujar anak itu. Obito mengenali nama itu sebagai anak kecil yang mereject panggilannya tadi.

"Dek.. Shisui dimana?" tanya Letnan Kurotsuchi. Obito menerima payung berwarna hitam itu.

Anak kecil itu mendongak. Dia lalu menunjuk ke ujung tanjakan yang lurus itu. Menandakan kalau diujung jalan lah arah yang ia maksudkan.

"Dia barusaja naik. Dia bilang, dia menunggu kakak Obitu di depan rumah." jawabnya.

"Obito." Koreksi Obito kepada anak kecil yang salah menyebut namanya ini.

Obito dan Letnan Kurotsuchi saling toleh. Bahkan saat akhirnya sang anak kecil berniat lari menjauh.

Hampir saja mereka berdua menyingkirkan tumpukan kayu untuk memberi jalan sebelum akhirnya Inari turun lagi dan memberikan informasi tambahan.

"Ada apa lagi?" tanya Obito.

"Kata YotaNii, kak Shisui bilang. Hanya Obitu yang boleh lewat. Kakak tentara gak boleh." ujar Inari lagi.

"Lah kenapa?"

Inari diam sebentar. Mencoba mengingat ingat akhir kalimat yang diucapkan padanya untuk disampaikan, beberapa saat lalu.

"Um... sektor ini sudah dikepung." lanjut Inari.

Obito menyadari beberapa balon cat nampak berterbangan lagi pun buru buru membuka payung di tangannya. Letnan Kurotsuchi pun mundur beberapa langkah dan kembali ke balik pintu Humvee.

akh. Sial.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxx

Author Note(s) : Hanzama Is Baack~

Cihuyy telat apdet wkwkwk.. Wah Hanzama mana nih.. udah udah seminggu lewat.. wkwk.. maap.. nih chapter 100 nya.

Yap, bagi yang penasaran. sebenarnya arc ini hampir mencapai ujungnya.. alias akhir. i know.. i know.. bukan arc yang spesial, tapi setidaknya Hanzama cukup enjoy nulis arc ini. apalagi beberapa bagian yang atmosfir seriusnya kadang bikin buat Hanzamaa ngerasa ini bukan iwdwiw wkwkw..

dan yess.. akhirnya iwdwiw gak jadi end di chapter 100 wkwk.. (#nangis)

Okesip mungkin ini saja untuk chapter ini. untuk chapter ini bagian after setelah note Hanzama hilangin karena mau Hanzama taruh di chapter depan jadi.. gak bakal ada adegan lagi setelah ini..

Mungkin itu, sekali lagi Hanzama ucapkan terima kasih bagi yang review chapter2 sebelumnya. Hanzama gak bisa ngasih lebih selain doa dan sapaan hangat.

Seperti Biasa. Salam hangat dari Hanzama, semoga reader sukses selalu

c u in the next chap!

Cya cya~

It's Chapter 100.

100 Is Special Number.

MAYBE?

REVIEW

V

V

V

V

V