Letnan Kurotsuchi duduk sendirian dengan gusar di dalam mobilnya. Alasan satu satunya adalah karena dia tidak bisa kemana-mana. Oke ini situasi yang sulit. Sudah lewat 10 menit semenjak Obito naik dan berjalan di perbukitan. Dan letnan muda ini ditinggal sendirian disini. Membiarkan 'negosiasi' yang akan dilakukan obito dan berharap pemuda itu dapat menyelesaikan semuanya dengan pemuda bernama Shisui itu.

Letnan Kurotsuchi paham bahwa 'pasukan' yang menyerangnya dengan balon cat beberapa saat lalu sudah pasti anak anak kecil. Sedikit menyebalkan karena anak-anak itu akan langsung melempari Letnan Kurostcuhi lagi dengan 'bom' mereka apabila dia keluar dari mobil. Tsk, sial. Dia juga tidak mungkin akan menodongkan senjatanya kepada anak-anak dibawah umur. Apalagi menyadari keberadaan seorang bocah Inari (5 tahun), yang tadi memberi Obito payung.

Untungnya dia sudah mempersiapkan sesuatu hal. Yap, dia berniat menyelinap dari kursi belakang dan sedikit mengitari area pepohonan untuk menyerang dan menyergap anak anak nakal yang ada di semak semak. Menyerang dalam kasus ini adalah meringkus mereka dengan tali (Oke, Letnan Kurotsuchi tau mereka anak kecil, dan akan sebisa mungkin tidak membuat mereka menangis. Dan jika itu terjadi, dia akan membelikan permen atau yang lain untuk mereka)

Letnan Kurotsuchi tidak yakin ada berapa orang yang bersebunyi, namun dia akan mempratekkan sneak attack bak game Splinter Cell yang dipelajarinya di kamps kadet dulu. Inflintrasi, lalu letnan Kurotsuchi akan mengikat anak-anak nakal itu dan kemudian menyusul Obito ke atas bukit. Letnan Kurotsuchi tau ini sedikit, kekanak-kanankan namun dia harus melakukannya jika tidak anak anak itu tidak akan berhenti mengotori mobil angkatan udara dengan balon cat mereka.

SRRRTT SRRRTTT

Sayangnya, sebelum memulai aksinya, Radio/intercom yang ada di dalam humvee berbunyi.

'Delta02 masuk, ini Alpha01. Ganti.'

"Yak Delta02 disini. Ganti" Sahut letnan Kurotsuchi. Alpha01 sudah pasti markas. Letnan kurotsuchi akan mengasumsikan keberadaan Jenderal Hanzo juga pasti ada di seberang.

'Apa kau sudah menemukan lokasi Hotaru, ganti?'

Mendengar pernyataan itu, Letnan Kurotsuchi diam sebentar. Sebenarnya sih, dia belum 'benar-benar' menemukan Hotaru, namun melihat hal-hal yang telah terjadi, letnan muda ini bisa mengkonfirmasi 99,9 persen Hotaru ada di tempat yang Obito tuju sekarang.

Sunyi sebentar sebelum letnan muda itu akhirnya menjawab.

"Dia ada di atas bukit, ganti." ujar Kurotsuchi.

Letnan Kurotsuchi bisa mendengar beberapa diskusi samar samar dari Radio/interkom orang-orang yang ada di seberang.

.

.

'Roger that, Alpha01 akan mengirim Black Hawk ke lokasimu dalam waktu 20 menit.'

"Apa-HEI TUNGGU!-"

SRRTT...

Letnan Kurotsuchi menepuk wajahnya sendiri. Hei bukankah perjanjiannya kita diberi waktu sampai fajar tiba? Ini belum ada jam 10 tau!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 101 : Money talks? Uchiha Family Shit

Obito merasakan sensasi yang aneh. Mungkin karena dia kini tengah berjalan mendaki bukit sembari berpayung hitam. Padalah suasanya tidak sedang hujan.

Obito menyadari jika dirinya tidak membuka payung yang diberikan anak kecil di bawah tadi, dia akan dilempari dengan balon cat.

Untung saja, nampaknya Shisui tidak merencanakan trik-trik atau jebakan yang lain, dilihat dari Obito yang hampir sampai ke gerbang depan tanpa ada masalah. Dia melangkahkan kakinya mantap untuk mendekati gerbang itu.

Saat Obito sudah ada di depan gerbang, dia akhirnya bisa melihat suasanya yang ada di depannya. Rumah yang tidak terlalu megah, dibalik gerbang reot yang tidak ada pintunya sama sekali. Ada pohon mati yang ikut menghiasi suasana rumah tersebut.

Namun hal yang paling menarik perhatian Obito adalah, pemandangan yang menunjukkan Shisui dan Sasuke kini tengah duduk di tengah-tengah halaman depan, berhadap-hadapan sembari bermain catur. Mereka berdua benar-benar bermain catur tepat di tengah -tengah halaman depan. Duduk di kursi yang ditata sedemikian rupa.

Obito terdiam mematung.

what the hell? itulah kalimat yang muncul pertama kali di benak Obito.

Tanpa ada keraguan yang lebih lanjut Obito pun berjalan mendekat. Obito bisa melihat Sasuke sedikit mendecak kecewa karena dia barusaja di skakmat oleh Shisui.

"Oi!" Tegur Obito.

Kedua orang itu menoleh.

"Dimana pasienku?" tanya Obito tegas tanpa basa-basi.

"Hn. Santai lah.. Duduk dulu." Ujar Shisui dengan gaya bak tuan rumah.

Obito yang disuruh santai malah tersinggung dan mendorong marah papan catur jatuh dari meja.

"Mana ada! Dengar ya! Kau harus segera menyerahkan Hotaru dan berhenti membuat masalah! Kau tidak mengerti berapa orang yang mencarimu hanya karena ini!"

.

.

~iwdwiw~

.

Menjaga Matatabi, itulah yang dilakukan Shikamaru. Sialan, karena ditinggal melengos beberapa detik, Naruto dan Sasuke sudah hilang dari radar Shikamaru dan pada akhirnya Shikamaru lah yang harus membopong kesana kemari kucing biru ini. Shikamaru bukan karena niat hati membopong Matatabi dengan sukarela, namun kakinya sedari tadi dijilat-jilat sehingga membuat Shikamaru geli, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menggendong Matatabi kesana kemari.

Dia kini ada di dapur, sembari mencoba menjarah kulkas orang lain sementara seluruh penghuni tengah mengikuti Shisui dengan gerilya nya.

Mau bagaimana kan? Dia lapar, dan Matatabi juga terlihat lapar.

"Shikamaru!"

Sayangnya, kegiatan Shikamaru di interupsi oleh Sara yang berwajah garang yang datang dari lantai dua. Menenteng-nenteng smartphone kesayangannya setelah 20 menit yang lalu gadis itu meributi Sasame untuk mencarikannya charger.

"Apa?" tanya Shikamaru santai.

Sara melipat tangannya di dada. Tipikal seorang gadis yang akan menyalahkan seorang lelaki terhadap sesuatu.

"Kalian kabur dari sekolah?" tanya Sara, seakan meminta penjelasan.

"Hah?" Shikamaru masih belum mengerti.

"TSUNADE SAMA BARUSAJA MENELPONKU TAU!" Nada Sara berubah tinggi.

"Benarkah?" tanya Shikamaru.

"Iya! Karena smartphone ku mati panggilannya banyak yang tidak masuk!"

Shikamaru mengernyitkan dahi.

"Banyak?" tanya Shikamaru, mencoba memastikan kata yang janggal di kalimat Sara.

"16 Kali panggilan tak terjawab!"

"..."

bahkan.

Smartphone Sara berbunyi lagi. Tanda panggilang masuk. Lagi.

Itu Tsunade lagi.

Yah, nampaknya gara-gara dulu saat festival Sara memberikan nomornya ke Tsunade untuk koordinasi. Dia menjadi orang utama yang dihubungi saat kepala sekolah konoha Gakuen itu tau kalau murid-muridnya ada di iwa (Well, Sara bukan orang utama.. tapi ah sudahlah.)

Sara menatap smartphone yang berbunyi, nomor telfon yang sama yang menganggunya sedari tadi. Gadis itu lalu menoleh ke Shikamaru. Kemudian dia menyodorkan benda kotak miliknya itu.

"Angkat." ujar Sara.

"..." Shikamaru diam tidak mau menjawab.

"Angkat!" Paksa sara lagi.

"Gak."Shikamaru malah berontak.

Sara mendeathglare Shikamaru dengan tajam saat Shikamaru malah memalingkan wajah.

"ANGKAT!"

Sara yang tidak cukup sabar pun menekan tombol angkat, lalu dengan kekuatan yang ia punya (memaksa) mendekatkan hp nya sendiri ke telinga Shikamaru. Shikamaru sempat berontak.

'Halo?'

"Tsh.. Merepotkan." Shikamaru akhirnya menyerah dan memegang benda kotak itu. Sebagai gantinya, dia menyodorkan Matatabi ke Sara.

"Hm, Tsunade. Apa kabar?" tanya Shikamaru ngawur.

Tsunade terdengar sedikit emosi. Bukan hanya karena Shikamaru memanggil Tsunade tanpa embel embel 'sama'. Tapi juga karena nampaknya pemuda ini tidak mencoba memahami situasi.

'Kau Shikamaru!'

"..."

'KALIAN HARUS KEMBALI KE KONOHA SEKARANG!'

Shikamaru memutar bola matanya. Dia merasa seperti seorang anak yang ditelfon ibunya karena telat pulang.

"Itu mustahil." Jawab Shikamaru enteng. Yap, se buruk apapun pikiran Tsunade terhadap mereka bertiga sekarang. Menuntut mereka bertiga pulang sekarang juga adalah hal yang tidak masuk akal.

'A-APA KATAMU!?'

"Perbedaan jarak yang terlalu jauh tidak memungkinkan kami untuk pulang malam ini." jawab Shikamaru.

Shikamaru bisa mendengar suara barang pecah dari seberang.

'Dengar ya bodoh! kalian tidak diizinkan kabur dari sekolah dengan alasan palsu lalu dengan semena-mena liburan ke Iwa!'

"..." Shikamaru diam tidak menjawab. Nampaknya Konoha Gakuen sudah sadar dengan 'tipu muslihat' ketiga pemuda ini.

"Err... Kami tidak libu-"

'BODO AMAT DENGAN ALASANMU!'

"..."

'POKOKNYA KALIAN BESOK HARUS BERANGKAT KE SEKOLAH ATAU KALIAN AKU KELUARKAN SELAMANYA!'

"Apa? Hei! ITU-"

TUUUUT TUUUT.

Anjrit, panggilan diputus.

.

~iwdwiw~

.

"Astaga, anak anak ini benar-benar maniac." Naruto berbicara sendiri sembari melihat mobil yang sudah tidak berbentuk yang kini terparkir di balik barikade. Pemuda berambut pirang itu bersembunyi sendirian di semak-semak karena Shisui yang ada di kirinya beberapa menit yang lalu naik ke atas bukit. Yota yang ada di kanannya beberapa saat lalu tengah berputar di beberapa titik di semak semak untuk mengecek kondisi anak-anak Crimson House yang lain.

Naruto? kenapa dia memilih tetap berada di semak semak? tentu saja untuk memastikan anak-anak dibawah umur yang ada di sekitarnya tidak menargetkan artileri mereka ke orang yang salah. Setelah semua yang terjadi, ini adalah jalan umum, dan tidak menutup kemungkinan tiba tiba akan ada seorang nenek tua atau entah siapa yang berhenti di depan barikade karena salah belok, dan mencegah anak-anak ini melukai pribumi adalah prioritas Naruto.

Yap, Prediksi Shisui salah, alih alih Obito akan datang dengan ambulan atau mobil rumah sakit bersama para dokter dan staff, pemuda itu datang bersama seorang tentara menggunakan Humvee. Naruto tidak sempat mempertanyakan. Yang jelas, Shisui dan pasukannya benar-benar menyerang tanpa ampun saat dikonfirmasi bahwa yang datang adalah Obito beberapa menit lalu. Sepenuhnya mengabaikan pertanyaan 'kenapa dan bagaimana lalu apa kemungkinan yang akan terjadi jika mereka menyerang mobil tentara'

"Psst!"

"Ha?-HMMP!"

Naruto terkaget saat dari belakangnya dia diserang oleh seseorang.

"Menyerah atau mati."

"HMPPH!"

DEG!

Naruto mencoba memutar kepala dengan susah payah untuk melihat siapakah gerangan seorang yang kini menutup mulut naruto dengan tangan kiri dan mengunci kedua tangan naruto di belakang punggung Naruto sendiri.

BRUK!

Dengan sekali gerakan, Naruto di lumpuhkan dengan cara dibanting ke tanah.

"ADAW-HMP!"

tidak sampai disittu, Naruto bahkan dibungkam menggunakan kain dan tangannya diikat menggunakan tali. Lalu dengan seenaknya, orang yang menyerang Naruto menduduki Naruto.

Saat Naruto menyadari sosok orang itu, semuanya sudah terlambat. Dia sudah sepenuhnya dilumpuhkan.

Letnan Kurotsuchi nampaknya benar benar mengalahkan Naruto dengan sneak attack nya.

.

~iwdwiw~

.

Di lantai dua Crimson House, Sasame tengah menemani Hotaru. Meskipun sedikit lambat dalam melukis karena tangannya masih belum terbiasa, namun lukisan itu sudah nampak bentuknya.

Di samping Sasame, ada gadis kecil bernama Yukimi yang kini juga ikut membantu dengan membersihkan beberapa kuas di dalam gayung.

Sasame terdiam mengamati Tangan Hotaru bergerak kesana kemarin melukiskan sesuatu yang ia lihat dari balik jendela bulat di kantor Roshi. Palet yang harusnya dipegang di tangan yang lain nampak tergeletak di pangkuan gadis itu. Sasame sedikit kasihan memang mengamati gadis itu melukis dengan kondisinya, namun tetap saja, meskipun melukis dengan kondisi seperti itu terlihat menyakitkan, tapi tidak nampak sama sekali raut penderitaan yang terpampang di wajah Hotaru. Sebaliknya, dia malah sering tersenyum.

Pandangan Sasame lalu beralih ke Yukimi yang sudah selesai membersihkan kuas dan berjalan mendekati jendela bundar besar.

Sasame mengamati gadis itu, lalu sesekali menoleh ke sosok Crimson eye yang ada di langit. Yap, cahaya itu nampaknya masih ingin lebih lama berada di langit iwa.

"Cahaya." ujar Yukimi tiba-tiba.

Sasame terlihat setuju. Yap, cahaya di langit masih ada.

"Cahaya!" Namun Yukimi malah berucap lagi, kali ini nadanya meninggi.

"Iya Yukimi-Cha-"

Belum sempat Sasame membalas, Yukimi malah menoleh ke Sasame lalu menggeleng. Dia lalu menunjuk sebuah cahaya lain yang nampak terlihat samar diantara cahaya Aurora Borealis. Cahaya itu lebih rendah, namun jaraknya cukup jauh.

Sasame mencoba menyipitkan matanya, hingga dia akhirnya juga menyadarinya. Itu... cahaya lampu sorot.. Yang terbang melayang ke arah sini... Tunggu apa?

"Cahaya apa itu?" tanya Sasame lebih ke dirinya sendiri.

"Hmm.. UFO?" Sahut Yukimi ngawur.

Sasame ikut mendekati jendela bundar. Mencoba mengamati dan memastikan apa yang dilihatnya.

"Pesawat ya?"

"Ah Helikopter!" Sahut Yukimi semangat.

"Hmm..Apa iya?"

.

~iwdwiw~

SKIP.

"ASTAGA! KAU INI KERAS KEPALA SEKALI SHISUI!"

Shisui menatap Obito bosan.

"Kau yang keras kepala bodoh. Sudah kubilang bahwa Hotaru baik baik saja." Jelas Shisui.

Obito nampak tidak terima. Jelas saja, baik baik tanpa bukti tentu tidak bisa menenangkan Obito sama sekali. Terlebih jika dalam kondisi yang sekarang, dimana dia dihalang-halangi oleh Shisui untuk mencari Hotaru di dalam rumah.

Sasuke juga ada disitu, namun dia lebih memilih diam.

"Minggir atau kau akan ku hajar sampai babak belur." Ancam Obito. Dia terjebak di sebuah kondisi dimana saat dirinya melangkah ke kiri, maka Shisui akan menghalanginya dengan ikut melangkah ke kiri.

Shisui mendengus sinis.

"Aku cukup yakin bahwa kau berhutang permintaan maaf kepada Sasuke." Shisui malah merubah topiknya ke hal yang lain.

Obito menoleh ke Sasuke sekejap, hanya untuk menyadari ekspresi aneh Sasuke kepadanya. Obito lalu menoleh kembali ke Shisui.

"Kau! Adalah pemuda yang paling menyebalkan yang pernah aku temui!" Bentak Obito tidak terima kepada Shisui.

Mereka terdiam saling tatap beberapa saat karena diantara mereka malah asyik melirik satu sama lain. Shisui masih mencoba menghalangi Obito bahkan tanpa ragu mendorong pemuda itu mundur saat Obito berniat maju menerobos Shisui.

"SERIUS! AKU AKAN BENAR BENAR MENGHAJARMU!" Ancam Obito lagi.

Hening beberapa saat hingga akhirnya perhatian mereka teralihkan kepada suara dengungan yang semakin lama semakin keras.

Sasuke mencoba melirik sekitar memastikan asal suara yang menganggu telinganya.

Obito lah yang pertama mengetahui suara apa itu dari tebakannya. Dia diyakinkan dengan suara yang semakin keras dan hembusan angin yang semakin lama semakin kencang.

"Black Hawk." Ujar Obito tiba tiba.

"Ha?" Shisui yang tidak mengerti malah memiringkan kepalanya. Dia lalu menoleh ke Sasuke, yang juga mematung mencoba memahami apa yang terjadi.

"Itu black hawk!" Ujar Obito lagi, dia berteriak.

"..."

"KAU! HARUS SEGERA MENGEMBALIKAN HOTARU SEBELU-"

NGUUUUUNNGGG!

Kegiatan mereka sepenuhnya teralihkan oleh helikopter yang datang entah darimana dan berhenti tepat di atas mereka. Keberadaan trio Uchiha itu disoroti oleh lampu sorot yang cukup menyilaukan mata.

"WTF?!" Shisui dengan susah payah mencoba mendongak ke atas diantara suara, cahaya dan angin helikopter yang menghempas segala macam benda yang ada di dekatnya, bahkan papan catur dan kursi meja yang ada di dekat mereka sudah berterbangan beberapa meter dari tempat awalnya.

Sasuke bahkan sudah terduduk di tanah.

Shisui bisa menyadari dari sudut matanya beberapa orang yang ada di atas helikopter. Bahkan dia bisa melihat seorang penembak jitu yang kini mengarahkan snipernya ke arah Shisui.

"HEII! TUNGGU! INI SEMUA SALAH PAHAM!" Obito mencoba memberi sinyal kepada orang orang yang ada di atas agar tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti mengeksekusi Shisui di tempat. Dia memposisikan diri di depan Shisui dan Sasuke dan melambaikan kedua tangannya kepada orang-orang yang ada di atas. Menjoba menjadi tameng mereka.

.

.

.

Diatas.

"Jenderal. Kita mendapat konfirmasi. Sasaran terlihat."

'Hm, Lumpuhkan' Ujar Jenderal dari seberang.

"Roger, menurunkan tim taktis segera-"

DOR!

"What?!"

"Apa yang-"

"Bodoh! apa yang kau lakukan!"

Para tentara yang ada di dalam helikopter menoleh ke penembak jitu yang dengan seenaknya menembakkan snipernya. Mereka lalu melihat ke bawah untuk memastikan apa yang terjadi.

Sayangnya, yang terlihat adalah seorang pemuda yang tergeletak diiringi oleh pemuda lain yang berteriak kencang,

.

.

"SHISUI!"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxx

Author Note(s) : Mwahahahah.. Shisui mampos ketembak.. XD

Oke, tahan tahan.. Hanzama tau apa yang ada di pikiran kalian.. anjrit kok fanficnya jadi kyk gini...Yah, tapi mau bagaimana lagi, dia telah melakukan kejahatan bersama pasukannya. But dont worry, fanficnya belum tamat.. masih ada chapter depan jadi.. nikmati saja apa yang akan terjadi di chapter depan.

Hanzama akan berusaha untuk tidak mengecewakan.

oke, karena chapter kemarin spesial, hanzama akan balas semua review anon nya di author notes ya (hehe) - yang login, hanzama balas di inbox aja.. (hewhew)

POJOK REVIEW ANSWER

: Selamat Hanzama-san atas kerja keras sampai 100 chapter nya!

Answer : Wohooo~ Hanzama sendiri gak nyangka fanfic ini udah chapter 100 wkw *terhura*

..

Guest(1) : Lanjut lanjut tetap semagat thor ditungu kelanjutanya

Answer : Siyapp! Hanzama selalu semangat garap idwiwi kok, well, meskipun terkadang kena mental breakdown wk

..

Guest(2) : Welcome back Hanzama... Ditunggu kelanjutannya

Answer : Ahh! Good To be back! terlepas dari writer block ternyata ada manisnya juga hewhew

..

Yandrasil : Akhirnya anda updet juga udah lama nungunya ni hah dunia fanfic semakin sepi setiap hari jika dibiarkan terus maka tidak nama ya fanfic diindonesia saya ingin bertaya bagaimana cara anda untuk megatasinya untuk memotipasi author senior untuk kembali menulis fanficnya semoga kedepanya dunia fanfic kembali ramai.

Answer : Hmm, pertama, terima kasih sudah menunggu iwdwi wapdet hewhew.. Well, itu pertanyaan yang menarik. Gini kawanku, hal yang harus digaris bawahi, writer block karena tidak yakin dengan ide sendiri itu masih bisa diobati. Namun writer block karena kesibukan dunia nyata itu lah yang terkadang tidak ada obatnya. tau kan? kita tidak bisa memaksakan seorang terus menulis hanya karena kita bilang : kamu harus lanjut nulis. Seseorang harus cukup cinta dengan sesuatu untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai.

Alasan banyak kawan-kawan yang fanfictnya tidak selesai, mungkin karena sebagian menganggap tuntutan apdet menjadi beban pikiran, atau ada urusan dunia nyata yang lebih penting. Dari sudut pandang Hanzama sih, di komunitas ini banyak orang yang datang dan pergi. Ibarat yang tua hilang, akan selalu datang penulis2 baru. Dan sometimes, it's a good thing.

Hanzama sering mampir ke fanfic-fanfic para penulis baru dan mereka memulai dengan bagus kok.. Paling enggak semangatnya ada.

Kalau ditanya cara memotivasi sih, Hanzama gak terlalu bisa. Namun jika ditanya sudut pandang Hanzama sendiri dalam dunia fanfic : Menurut Hanzama, It's okay jika fanficmu tidak selesai, namun jika kamu berhasil menyelsaikan apa yang kamu mulai, maka kamu adalah termasuk segelintir orang yang luar biasa.

..

hmm.. mungkin gitu, Ohya.. Maaf kalau chapter ini pendek wkw.. Bingung mau nambahin apa lagi. Mungkin kita end saja disini dan tunggu chapter depan kali ya?

Okesip, mungkin itu.. Salam hangat dari Hanzama, semoga reader sukses selalu!

c u in the chapter 102!

Buhu~~

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

- After -

Sara sudah kembali ke lantai dua untuk melihat keadaan Hotaru dan Sasame. Saat dia kembali dari dapur dia menyadari bahwa Hotaru sudah menyelesaikan lukisannya (Sara mengasumsikan lukisan itu sudah selesai karena Hotaru sudah tidak menggoreskan kuasnya lagi)

Namun dia memergoki Yukimi dan Sasame yang malah diam mematung di tengah ruangan sembari menatap Sara yang datang. Jelas sekali kedua orang itu merasa terganggu dengan suara dengungan yang juga didengar Sara semenjak dia naik ke atas tangga.

"Helikopter nya berhenti di depan rumah?" tanya Yukimi ke Sasame. Sasame malah menampakkan wajah berpikir, sembari berharap suara bising yang didengarnya semakin menjauh.

Ya, tepat beberapa detik yang lalu mereka selesai mengamati helikopter yang terbang rendah yang lewat di atas rumah ini. Sasame sih tidak ambil pusing karena helikopter terbang rendah bukan sesuatu yang spesial di mata Sasame. Dia pernah melihatnya beberapa kali.

Namun jika suara bising yang ia dengar sekarang tidak semakin menjauh, itu aneh. Dan lebih aneh lagi kalau apa yang dikatakan Yukimi bisa saja masuk akal jika helikopter yang diamati mereka berdua beberapa saat lalu dari jendera bundar kini ada di depan rumah.

"Hm, sepertinya kita harus mengeceknya."

.

DOR!

"SHISUI!"

.

Deg! para gadis yang ada di ruangan itu sama-sama terkaget dengan suara tembakan dan teriakan yang terdengar samar dari luar.

.

.

APA YANG TERJADI DI LUAR?!

REVIEW

V

V

V

V

V