'Shisui'
"..."
'Shisui!'
Shisui mengerjapkan mata untuk mendapati dirinya kini tengah berada di persimpangan.
"Siapa kau?" tanya Shisui kepada seorang yang membangunkannya. Namun orang itu tidak menjawab, dia mengulurkan tangan ke Shisui dan membantu Shisui berdiri saat Shisui sudah sepenuhnya sadar.
Hal yang Shisui sadari pertama kali adalah orang itu tinggi besar dan bersayap, badannya bersinar dan sekujur tubuhnya ditutupi oleh semacam kain berwarna putih. Tunggu-Apa ini?!
"Ini dimana?" Tanya Shisui mencoba santai.
"Kau harus memilih Shisui-kun." orang itu tidak menjawab pertanyaan Shisui. Dia berdiri di tengah persimpangan dan mengarahkan tangan kirinya ke jalan sebelah kiri. Juga mengarahkan tangan kanannya ke jalan sebelah kanan.
Shisui diam mematung menatap orang itu. Dia lalu menoleh ke jalan sebelah kiri dimana ada gerbang bertuliskan Hell yang berwarna merah, lalu beralih ke sebelah kanan dimana ada gerbang bertuliskan Heaven yang berwarna biru langit.
"Kau harus memilih Shisui-kun." ulang orang itu lagi, kali ini suaranya semakin dalam dan bergema.
Shisui menampakkan wajah berpikir, dia lalu berbalik badan untuk melihat jalanan lurus tak bercabang yang mengarah ke tempat ini. Shisui menoleh sebentar ke orang itu sebelum tanpa pikir panjang berlari ke arah yang berlawanan dari persimpangan itu.
"Shisui-Kun?!"
Shisui kabur dari kematian.
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Chapter 102 : Money talks? The Final Decision
.
40 Menit setelah Battle of Crimson Hill
"HAAAAAAAAAA!"
"Hei hei! Tenang! Kau tidak apa apa!"
Shisui duduk berteriak hanya untuk mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat tidur. Di hadapannya berdiri dua orang berseragam tentara, Obito dan Sasuke.
Pemuda itu lalu menunduk dan meraba perutnya sendiri, seakan baru ingat kalau tadi dia barusaja dihajar oleh sebuah peluru sniper yang tepat mengarah ke tengah badannya. Saat dia merabanya, ia menyadari kalau perutnya memar, namun tidak berlubang.
"Kan! Sudah ku bilang dia hanya pingsan karena kaget!" Ujar seorang tentara yang menyandarkan punggungnya di tembok, dia memegang senjata sniper yang modelnya tidak Shisui mengerti sama sekali. Shisui akan mengasumsikan bahwa benturan hebat yang Shisui rasakan di perutnya sebelum hilang kesadaran berasal dari benda itu.
Tapi tunggu-KENAPA SHISUI DITEMBAK?!
"Kalian? Barusaja menembakku?!" tuding Shisui sedikit marah. DIa menoleh ke Obito seakan meminta penjelasan. Jelas sekali dia sedikit tidak terima.
"Jangan khawatir, itu hanya peluru karet." ujar salah satu tentara, Letnan Kurotsuchi.
"PELURU KARET MATA-OUCH!" Shisui meringis kesakitan karena merasakan memar di perutnya sedikit nyeri.
"Aku tidak percaya kalian benar benar menembaknya." Sambar Obito, dia menoleh ke sang penembak jitu dan Letnan Kurotsuchi yang ada di situ. Dia memberikan semacam salep kepada luka Shisui.
Sang penembak jitu mengangkat bahu.
"Maaf, Letnan Kurotsuchi yang menyuruhku untuk memberi pelajaran kepada target karena dia bilang dia barusaja dilempari balon cat." ujar sang penembak jitu.
Obito menoleh ke Letnan Kurotsuchi.
"Hei! Aku tidak pernah bilang kau harus benar-benar menembaknya! Kan sudah ku beritahu lewat telfon kalau dia adalah sepupu dokter muda Obito!" Omel Letnan Kurotsuchi kepada sang penembak jitu.
Sang penembak jitu hanya mengibaskan tangannya tidak peduli.
"Iya aku sudah tau.. itulah kenapa aku menggunakan peluru karet." Balas sang penembak jitu.
Letnan Kurotsuchi menghela nafas.
"Itu tetap saja sedikit berbahaya." sahut Sasuke. Sedikit lega karena bukan dirinya yang jadi sasaran.
"Sudahlah.. itu hanya peluru karet, lukanya akan hilang dalam beberapa hari." Lanjut sang penembak jitu cuek.
Shisui diam merasakan perasaan bingung apa yang terjadi, marah dan emosi secara bersamaan.
.
~iwdwiw~
.
Naruto duduk di luar dengan sedikit kesal. Dia duduk di tempat semula dia duduk dikala dia, Sasuke dan Shikamaru menikmati Aurora Borealis tadi. Pandanganya mengarah ke helikopter yang kini terparkir di halaman depan Crimson House. Sebagian anak anak kecil penghuni crimson house nampak mengerubungi benda itu dan tentara yang berjaga di dekatnya.
Yah siapa sangka, saat Naruto diseret dalam keadaan tersandra tadi, dia mendapati trio Uchiha bersaudara tengah di kepung oleh Black Hawk (well, secara tekhnis bukan dikepung, tapi ah sudahlah)
Naruto dilepaskan oleh seorang tentara perempuan yang menyerangnya sebelum tentara itu menolong Shisui yang tergeletak tak sadarkan diri di halaman depan.
Dan disinilah Naruto, merenung memikirkan apa yang terjadi.
Detik ini, Samar-samar, dia bisa mendengar Sasame dan Sara yang kini tengah berbicara kepada orang yang nampaknya komandan pasukan ini di ruang tamu.
Tak lama kemudian, di samping Naruto nampak duduk seorang bocah yang ikut bersembunyi dengannya tadi. Yota. Dia menyodorkan sebuah apel ke Naruto. Dengan sedikit kurang minat, Naruto tetap menerima apel itu.
Ah, Naruto bahkan sudah tidak paham lagi apa yang sebenarnya terjadi. Ini adalah hari yang aneh okey? dan keanehan itu terjadi hanya karena Satu kontrak bodoh yang tidak mau Sasuke tanda tangani.
"Naruto."
Naruto dan Yota menoleh. Shikamaru nampak datang dari dalam. Wajahnya sedikit terlihat tidak menyenangkan.
"Apa lagi?" tanya Naruto bosan.
"Aku tadi dapat telfon dari Tsunade." jelas Shikamaru.
Sembari memainkan apel yang ada di tangannya, Naruto nampak mengernyitkan dahi.
"Benarkah?"
Shikamaru mengangguk.
"Apa yang dia katakan?" tanya Naruto sedikit penasaran.
Shikamaru diam sebentar sebelum pada akhirnya menjawab.
"Dia bilang, kita akan dikeluarkan jika kita tidak berangkat sekolah besok."
"H-Hah?"
Sayangnya, perbincangan mereka harus diinterupsi oleh sebuah mobil Humvee yang datang masuk gerbang.. Dilihat dari kondisinya yang bersih, nampaknya itu bukan Humvee yang diserang anak anak Crimson House dibawah.
.
~iwdwiw~
.
Skip
Obito akhirnya diarahkan untuk melihat keadaan Hotaru oleh Sasuke. Shisui juga ada di sana, mengikuti sembari sesekali memegangi perutnya yang masih nyeri. Ketiga Uchiha itu pun kini tengah berada satu ruangan bersama Hotaru.
"Kau serius sudah tidak apa apa?" tanya Obito tidak percaya.
"Ya.." Hotaru bersuara pelan sembari mengangguk.
melihat keadaan Hotaru, Obito hanya speechless lalu dia menoleh ke Sasuke dan Shisui. Tanda dia menerima penjelasan Shisui perihal Hotaru dan lukisannya. Memang sedikit tidak masuk akal apa yang terjadi. Namun menyadari Hotaru yang sudah lebih baik, Obito akan mulai mempercayai penjelasan dari setiap fakta yang ada. Well, meskipun cara bicaranya masih kaku, namun wajah Hotaru lebih cerah daripada beberapa hari yang lalu.
Obito menoleh ke Lukisan yang digarap oleh Hotaru, lalu dia beralih ke jendela bundar untuk mengamati Sosok Crimson Eye yang ada di langit. Dia terdiam.
"Sekarang bagaimana?" tanya Sasuke karena melihat Obito dan Shisui yang terdiam bersamaan.
TOK TOK!
Suara ketukan pintu lah yang sepenuhnya mengalihkan perhatian mereka. Letnan Kurotsuchi datang dan memberi kabar kepada orang yang ada di dalam.
"Dokter Muda Obito, Jenderal Hanzo sudah tiba." Info Letnan Kurotsuchi.
Saat yang bersamaan nampak seorang pria dewasa yang masuk setelahnya. Berbeda dengan saat terakhir kali Obito bertemu, Jendral Hanzo sudah tidak mengenakan seragam penuh bintang dan lencananya (Yang bisa mengintimidasi siapa saja karena pangkatnya yang terlalu tinggi) Beliau kini mengenakan pakaian santai. Sebuah kemeja berwarna hijau tua dan jas berwarna hitam.
Kedatangan orang itu sedikit memberi rasa terror kepada para penghuni ruangan. Semua kecuali Shisui, karena pemuda itu kini tengah menatap marah orang itu, dia mengasumsikan bahwa orang ini ikut ambil bagian terhadap luka yang dia terima di perutnya.
Pandangan 'Jendrall Hanzo dan Komandan Shisui'sempat bertemu beberapa detik, sebelum akhirnya Perhatian jendral Hanzo sepenuhnya beralih kepada Hotaru, cucu kesayangannya.
Shisui masih mengamati gerak gerik orang itu bahkan sampai Letnan Kurotsuchi berdiri di samping Shisui dengan posisi istirahat di tempat, dia berbisik ke Shisui.
"Jangan khawatir, aku sudah menjelaskan setiap kejadiannya kepada Jenderal Hanzo, kau tidak akan dieksekusi mati." Ujar Letnan Kurotsuchi sedikit berbisik kepada Shisui. Entah apa yang dikatakan Letnan muda ini bercanda atau serius.
Shisui membalas dengan dengusan. Shisui cukup yakin sempat melihat persimpangan antara Heaven dan Hell dikala dia tidak sadarkan diri. Jadi dia mungkin sudah pernah mati sebentar.
.
~iwdwiw~
.
Another Skip
'APA KATAMU?'
"HUWAA! Maafkan aku Ketua OSIS, ini semua hanyalah ketidak sengajaan."
Di sudut lain crimson House, lebih tepatnya halaman belakang. Sara sedang menelfon Ketua OSIS Iwa-Art Academy. Meminta tolong kepada sigadis kecil Yukimi untuk menjaga Maatatabi di sampingnya, Sara dengan segenap keberaniannya mencoba menelfon ketua OSISnya. Dan yang dia perkirakan jelas terjadi. Yugito marah-marah.
'KENAPA KAU TIDAK MENELFON DARI TADI?!'
"M-MAAFKAN AKU!"
Sara hanya bisa sabar saat dia dibentak dari seberang. Mau bagaimana lagi kan? Ini hari yang panjang, dan terlalu banyak hal yang terjadi.
"A-Aku akan segera mengantar pulang Matatabi saat aku sudah kembali nanti!" Ujar Sara pada akhirnya sebelum dia dengan sepihak memutus panggilan karena terlalu takut Yugito akan lebih gencar membentaknya.
"Puss.."
Disela Sara yang memegangi dadanya untuk menghentikan jantungnya yang berdebar kencang atas panggilan barusan, Yukimi dan Matatabi nampak akur.
Cklek!
Menit berikutnya, nampak Sasuke yang datang dari dalam rumah. Dia langsung menyadari Ekspresi aneh Sara dan gerik nervous gadis itu.
"Kau tidak apa apa?" tanya Sasuke.
Sara melonjak kaget karena suara Sasuke.
"Hah! Oh! Yah aku baik!" Balas Sara. Membuat Sasuke sedikit menatap bingung gadis ini. Ekspresi dan perkataan yang keluar dari bibir gadis ini sangat kontras.
"H-Hei jangan menatapku seperti itu! Oh benar! Ngomong-ngomong bagaimana keadaan sepupumu?" tanya Sara mencoba mengalihkan topik.
"Hn. Shisui baik-baik saja." Jawab Sasuke.
"Syukur deh."
Hening.
Sara nampak tidak mau membuka topik pembicaraan, dia menyibukkan diri melihat Yukimi yang kini tengah berlarian sembari menyeret secarik kain dan menggoda Matatabi dengan menarik narik ujung kain itu agar Matatabi tidak bisa menggapainya.
"Sara."
"Hm?" Sara menoleh ke Sasuke.
"Maaf karena kami selalu menyeretmu ke permasalahan." Jelas Sasuke jujur.
Sara mendengus.
"Ya.. Kalian memang selalu menyeretku ke masalah." Sara nampaknya tidak mau menutup nutupi. Membuat Sasuke sedikit segan dengan gadis ini.
Sara menatap Sasuke yang nampak berwajah tegang.
"Tch.. Jangan merasa bersalah begitu oke? Aku yakin bebanku tidak seberapa dibanding dirimu yang harus dipaksa jadi CEO perusahaan." lanjut Sara.
Saasuke akan mengiyakan dalam hati. Yap, kalau dipikir memang itulah awal mula mereka bisa berakhir disini. Hanya karena kontrak bodoh yang entah siapa yang harus disalahkan dalam situasi ini.
Sasuke menatap Sara lagi.
"Err.."
"Hm?"
"Mengenai hutang kami padamu.." Lanjut Sasuke, mencoba mengungkit sesuatu.
"Astaga kau masih mengungkitnya?" tanya Sara.
"Hn.. Kami pernah berhutang uang padamu." Ujar Sasuke, dia tentu mengungkit saat dimana dulu Sara pernah meminjaminya uang belanja. Karena Sara pernah bilang, Sasuke harus mengantarkan uang itu ke Iwa. Dan disinilah mereka, di Iwa namun Sasuke belum bisa membayar hutang itu kepada Sara.
Sara nampak memutar bola matanya.
"Okeh, gini saja. Aku tidak akan mengikhlaskannya. Sebagai gantinya.. Kirimkan sesuatu saat kalian sudah kembali ke Konoha.. Bagaimana?" tawar Sara.
"Sesuatu? Seperti apa?" tanya Sasuke bingung.
"Terserah. Jadikan itu sebagai kejutan." Balas Sara enteng.
Sasuke mengangguk. Oke cukup adil.
Cklek. Pintu halaman belakang dibuka lagi. Kini badan Shisui nampak mendongak keluar.
"Sasuke." Panggil Shisui kepada Sasuke.
"Ya?"
"Sini. Obito ingin bicara dengan kita berdua."
Sasuke menoleh ke Sara seakan minta izin untuk meninggalkannya, Sara mengiyakan dengan cara mengibaskan tangan kanannya.
"Hm.. Baiklah."
.
~iwdwiw~
.
Skip.
Meskipun Shisui bilang kalau Obito ingin bicara dengan Sasuke dan Shisui. Namun keadaan rumah ini nyatanya terlalu aneh untuk dijelaskan. Sasuke kini duduk di ruang makan dekat dapur bertiga dengan Shisui, dan Obito.
Kondisi rumah ini super aneh. Maksudku, keadaannya seperti ini.
*Sasuke, Obito dan Shisui kini ada di ruang makan (Tengah berdiskusi)
*Dilantai dua, Jenderal Hanzo tengah mencoba berbicara dengan cucu nya Hotaru dimana ada dua orang tentara yang berjaga di depan pintu
*Sara, dia ada di halaman belakang, bersama Yukimi dan Matatabi yang tengah asyik bermain.
*Di halaman depan, kau akan melihat Black Hawk terparkir dengan dua orang tentara yang berjaga dimana nampaknya Naruto dan Shikamaru juga ada di teras. Yota juga masih bersama mereka sepertinya.
*Sasame, dia juga ada di lantai dua, namun di ruangan yang berbeda. Mencoba memaksa beberapa anak-anak Crimson House untuk membersihkan diri karena mereka kotor setelah bermain-main dengan cat.
*Di ruang tamu, Inari yang terlihat sangat belum mengantuk malah kini tengah terjebak dalam sesi wawancara dimana dia terus memberikan pertanyaan kepada seorang tentara yang kita kenali sebagai sang penembak jitu.
Di atas itu semua, sang pemilik Yayasan. Si Pak tua Roshi sepenuhnya tidak paham apa yang terjadi karena dia kini tidak ada di tempat.
..
"Jadi apa lagi yang ini kau katakan?" tanya Shisui sedikit malas kepada Obito.
Namun Obito malah menatap Shisui serius.
"Kau tidak bisa menghilangkan wajah sinismu itu Shisui?" tanya Obito sedikit tidak nyaman.
Shisui membalas Obito dengan Death glare. Mana bisa! Mari kita garis bawahi bahwa Shisui barusaja ditembak oleh sniper yang datang Menggunakan Black Hawk.
Namun Obito memilih mengabaikan, Dia menghela nafas berat lalu menoleh ke Sasuke.
"Sasuke.."
Sasuke diam memperhatikan.
"Aku tau beban apa yang menghinggap di pundakmu sekarang, dan aku minta maaf karena itu.." jelas Obito.
Sasuke dan Shisui lebih memilih menunggu Obito menyelesaikan kalimatnya.
".. Aku juga tau bahwa kau masih sekolah, dan terdengar sangat kejam jika kau harus jadi CEO dalam posisimu yang sekarang..." Lanjut Obito.
Yah, setidaknya Obito paham sudut pandang yang benar dalam melihat Situasi Sasuke sekarang.
"..Kalian harus paham bahwa, aku tetap menganggap kalian adalah keluarga yang menyebalkan.. Terlebih lagi otak cebong ini yang dengan seenaknya menculik cucu Jenderal Angkatan Udara dan membuat kita semua dalam masalah.." Lanjut Obito, menoleh ke Shisui yang sepenuhnya menampakkan raut menyebalkan.
"..."
Obito kembali menatap Sasuke.
"..Namun setelah semua yang terjadi juga, tidak bisa ku pungkiri bahwa kau dan teman temanmu adalah pemuda yang menepati janji." Lanjut Obito lagi masih kepada Sasuke, merujuk kepada keadaan Hotaru yang nampak membaik.
"..."
"Itulah kenapa aku akan menyetujui tawaranmu." jelas Obito pada akhirnya.
Tunggu benarkah?
Wajah Sasuke berubah sumringah.
"Benarkah?"
"Apa katamu?" Shisui yang mendengarnya juga terlihat kurang percaya dengan Obito.
Namun Obito menampakkan wajah mantap.
"Aku bersedia menggantikanmu sebagai CEO Uchiha Corp, tapi dengan beberapa syarat." Lanjut Obito.
Sasuke diam mendengarkan. Shisui juga diam, wajahnya berubah drastis saat dia mendengar Obito setuju.
"Syarat?"
Obito menunjukaan keenam jarinya kepada Sasuke. Menandakan angka enam lah yang diisyaratkannya.
"6 Tahun." jelas Obito.
"..."
"Aku hanya akan menggantikanmu selama 6 tahun kedepan. Setelahnya, kau yang harus memimpin perusahaan itu sendiri." Lanjut Obito.
Sasuke diam. Itu diluar perkiraan Sasuke, meskipun 6 tahun adalah waktu dimana Sasuke bisa menyelesaikan kuliahnya jika dia memutuskan untuk kuliah setelah lulus SMA. Oke, Sasuke tidak yakin ini adalah cara untuk lepas dari tanggung jawab, Namun penawaran Obito terlihat cukup adil . Yap, 6 tahun adalah waktu yang panjang sebenarnya. Sasuke tidak sepenuhnya lepas dari tanggung jawab, namun ini lebih baik daripada harus jadi CEO di kondisinya yang sekarang.
Disisi lain, Shisui mendengus mendengar syarat Obito. Obito yang mendengar Shisui mendengus pun melanjutkan.
"Itu adalah syarat dariku.. Kalau kalian tidak setuju, maka aku juga tidak masalah. Toh, jadi asisten dokter gajinya juga lumayan." Lanjut Obito.
Membuat Shisui sedikit memberi pandangan sebal kepada Obito. Dia lalu menoleh ke Sasuke. Membiarkan Sasuke untuk memutuskan.
Sasuke mengangkat bahu dan menjawab.
"Baiklah."
Namun nampaknya Obito belum selesai mengutarakan semua syaratnya.
"Tunggu.. Masih ada lagi." Lanjut Obito. Shisui sedikit tersinggung.
"Hei! Sasuke hanya anak SMA, syaratnya jangan banyak banyak!" Protes Shisui. Obito malah menatap Shisui intens.
"Syarat ini untukmu." Balas Obito ke Shisui.
"Hah?"
Obito mengeluarkan Smartphone milik Shisui dari kantongnya, dia lalu menyodorkan hp mati itu kepada pemiliknya. Dia lalu mengheluarkan smartphone nya sendiri.
"Dalam perjalanan kesini. Aku menghubungi Kakashi, dan aku minta tolong kepadanya untuk mencarikan nomor telfon Itachi."
"..."
"Aku mengobrol via telfon dengan Itachi sebentar, dan dia bilang kau tidak melanjutkan kuliahmu." Tuding Obito kepada Shisui.
"Err.."
Yap, Shisui adalah mahasiswa bandel.
"Syarat kedua ku adalah kau Shisui, harus menyelesaikan kuliahmu, dan kau harus lulus dengan IPK sempurna." jelas Obito.
Mendengar itu, Shisui menampakkan raut tidak suka.
"Ap? Hei! Kuliahku bukan urusanmu!" Shisui sedikit tidak terima. Oke, ini menyebalkan.. Shisui sedikit bisa menerima kalau dia hanya disuruh menyelesaikan kuliahnya saja.. Namun jika harus lulus dengan IPK sempurna? Apa apaan?!
Obito malah santai. Dia mencibir Shisui dengan nada yang lebih menyebalkan.
"Tak mau ya sudah." Ujar Obito. Dia bahkan dengan santai berdiri dari duduknya dan berniat pergi dari situ.
Sasuke langsung menoleh ke Shisui dan menatap pemuda itu lama.
Membuat Shisui menjadi sedikit tertekan. Astaga itu perjanjian yang tidak imbang! Dia menatap Obito yang berjalan santai meninggalkan mereka berudua. Seakan Obito berusaha memancing Shisui.
"Ya ampun! OKE DEAL!" Teriak Shisui pada akhirnya.
Obito berbalik dan tersenyum kemenangan.
"Sip."
'Bangsat'
.
~iwdwiw~
.
Lega karena perjalanannya ke sini nampaknya tidak sia-sia, Sasuke keluar rumah hanya untuk mendapati Naruto dan Shikamaru yang tengah memperdebatkan sesuatu.
"...TENTU SAJA KITA HARUS PULANG SEKARANG JUGA SHIKAMARU!"
"Tch.. jangan bodoh Naruto. Meskipun pulang sekarang, kita tetap tidak akan bisa berangkat ke sekolah tepat waktu besok!"
"Lalu kau mau kita bagaimana?! Pasrah saja jika kita dikeluarkan?!"
"Bukan itu yang kumaksudkan."
"Shika! Seharusnya kau harus lebih cepat memberi kabar kalau Tsunade menelfonmu tadi!"
"..."
.
Sasuke diam di depan pintu, tidak berniat mendekati Naruto dan Shikamaru. Dia malah menatap mereka dari jauh dan mendengarkan. Dia berdiri kaku saat dia paham apa yang mereka berdua perdebatkan.
"Ada apa?" Shisui yang melihat Sasuke mematung di pintu pun bertanya.
Sasuke menoleh ke Shisui.
"Mereka bilang, kita akan dikeluarkan kalau tidak berangkat sekolah besok." ujar Sasuke menyaring informasi yang didengarnya.
Naruto dan Shikamaru yang menyadari keberadaan Sasuke dan Shisui pun mulai menyeret kedua orang itu ke dalam perdebatan.
"Sasuke sini."
"OY SHISUI! KAU HARUS TANGGUNG JAWAB!"
Shisui diam dan berpikir. Wah gawat juga kalau begini. Jarak Iwa ke Konoha kurang lebih 6 jam, dan mereka kini ada di ujung yang paling jauh kota Iwa. Bahkan mereka harus mengembalikan mobil yang mereka gunakan untuk sampai kesini.
Shisui menoleh ke jam dinding. Jam 12 malam kurang 5 menit.
"Apa yang terjadi?" Sara yang datang nampak bertanya, di sampingnya Letnan Kurotsuchi juga turun dari lantai dua untuk memeriksa keadaan di bawah.
Saat pandangan Shisui bertemu dengan iris letnan Kurotsuchi, dia tersenyum.
.
.
"Letnan! Kau harus tanggung jawab dengan apa yang kau lakukan!" Bentak Shisui.
Letnan Kurotsuchi memiringkan kepala.
"H-Ha?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxx
Author Note(s) : Yohoo~ Hanzama Is back!
I know, ini adalah chapter yang alurnya lebih cepat dibanding festival arc. Dan yap, ini merupakan penghujung ujung dari Arc ini (well, hanzama sebenarnya berniat menjelaskan sesuatu yang lain di chapter depan jadi.. i dunno.. kita lihat saja nanti)
Hm,, Hanzama gak tau harus ngomong apa. Yang jelas, Hanzama senang arc ini tinggal finishing saja.. YAPS, Arc ini adalah arc paling ribet yang pernah hanzama pikirin (terlebih di akhir-akhiran karena harus nyambung benang2 cerita yang menjulur di awal-awal)
Mungkin chapter depan akan menjadi penutup arc ini.
But well, selebihnya.. Hanzama ucapkan terima kasih saja.. Bila masih ada kesempatan, kita akan bertemu lagi di chapter 103
Langsung ke After mungkin?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
- After -
Ahh,, Pada akhirnya.. Semuanya berakhir dengan bahagia. Seperti janji mereka kepada Pak tua Roshi dimana mereka harus menjaga anak anak Crimson House sampai pria itu pulang. Shisui dan kawan kawan tetap menginap. Ya terlepas dari Naruto, Sasuke dan Shikamaru yang diburu waktu mereka tetap tinggal di crumson House sampai pagi, well setidaknya untuk semua orang yang terlibat tadi malam kecuali para personil militer.
Esoknya, Obito yang menelfon Perawat Mei untuk datang mengambil mobilnya sendiri ke Crimson House, dan sepenuhnya bilang akan menyusul ke Konoha 3 hari kemudian setelah dia menyelesaikan segala macam sesuatunya di Iwa dan Uzushio (Sesuatu di Uzushio tentu saja perihal mengembalikan mobil Rin yang dibawa Shisui kesini, dan mengambil kembali motor trail nya)
Sara dan Sasame kembali ke rumah sakit bersama Obito. Menaiki mobil Rin yang dibiarkan di garasi Crimson House oleh Shisui. Sara dan Sasame harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil mobil Sasame dan kembali ke kegiatan mereka masing-masing (Sara nampaknya juga harus menghadapi ketua OSISnya dalam upaya mengembalikan Matatabi)
Hotaru juga dijemput Ambulans rumah sakit dan kembali dibawa ke ruang rawatnya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut, setelah tadi malam meyakinkan kepada kakeknya kalau dia tidak apa apa ditinggal menginap bersama Sasame dan kawan-kawan.
Gadis itu nampaknya sudah bisa berbicara kalimat panjang dan bersedia mengikuti terapi.
Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Shisui. Mereka akhirnya pulang ke Konoha hari ini setelah sebelumnya menuntut Angkatan Udara untuk mengantar mereka pulang sebagai bentuk tanggung jawab karena Shisui sudah 'dilukai'
Tentu saja mereka pulang setelah berpamitan dengan para penghuni Crimson House.
Tapi tunggu, kalau mereka berangkat di pagi harinya dari Crimson House? lantas bagaimana cara mereka sampai sekolah tepat waktu?
Hmm. Inilah yang terjadi.
.
.
Jam 7.45 Pagi, Langit Konoha.
"NGGAK! POKOKNYA NGGAK MAU!" Naruto berteriak kepada seseorang.
"Hei! Kita sudah sampai disini Naruto! Yang harus kau lakukan hanya lompat!" Shisui mencoba menyemangati
"LOMPAT MAMAK KAU!"
Yap, nampaknya mereka benar benar diantar pasukan angkatan udara sampai Konoha.
Oke, jadi gini kronologinya. Setelah menyetujui akan membantu mereka berempat pulang tadi malam, pasukan angkatan udara menjemput Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Shisui tadi pagi di Cimson House, membawa mereka menggunakan helikopter ke markas angkatan udara dimana disana mereka diarahkan oleh Letnan Kurotsuchi ke sebuah pesawat kargo.
Yap, Naruto tidak akan bilang bahwa dia tidak menyalahkan Shisui atas ini. Karena Shisui yang bilang, bahwa mereka butuh cara yang 'paling cepat' untuk sampai ke Konoha.
Dan saat Naruto tau apa yang terjadi, dia berontak minta turun. Jelas saja karena mereka akan diantar menggunakan pesawat kargo milik angkatan udara. Ditemani empat paratrooper profesional, mereka akan diantar sampai ke konoha Gakuen tepat waktu... Dengan cara terjun dari atas langit.
..
TEEET TEEET
Lampu merah di dalam pesawat menyala, diiringi suara bising yang memekikan telinga, pintu belakang pesawat kargo yang mereka tunggangi terbuka.
Sasuke dan Shikamaru bisa merasakan angin yang menghembus masuk dari luar, mereka bahkan bisa dengan jelas melihat pemandangan langit di bawah mereka.
"OI OI OI! JANGAN!" Naruto berteriak berontak.
"Hah! Jangan khawatir, kami akan membawa kalian sampai daratan." Ujar paratrooper yang membawa Naruto.
"NGGAK!" Naruto masih mencoba berontak saat paratrooper yang ada di belakangnya mendorong badannya untuk maju. Dalam Skydiving, badan penerjun dan yang diterjunkan diikat oleh sebuah gear pengaman sehingga ada dasarnya, kau tidak harus melakukan apapun saat di udara, karena yang memakai parasut lah yang akan melakukan tugasnya.. Namun tetapsaja, kengerian jatuh dari langit tetap akan menerormu sampai ke ubun ubun sesaat setelah kakimu tidak lagi memijaki lantai pesawat.
.
Shisui lah yang terjun pertama, Naruto bisa melihat orang itu dan paratrooper yang membawa Shisui berdiri di ujung pintu pesawat. Naruto bahkan heran kenapa Shisui malah cengar-cengir di saat seperti ini. Jelas sekali ada yang salah dengan otak pemuda itu.
"Sampai bertemu dibawah." Ujar Shisui pada akhirnya sebelum mereka menjatuhkan diri dari pesawat. Naruto semakin lemas saat melihat adegan itu.
"HUWAA!" Naruto berteriak kaget hanya dari melihat Shisui yang jatuh.
Sasuke dan Shikamaru terjun secara bersamaan. Naruto bahkan menyadari ekspresi mual Shikamaru dan Sasuke yang memejamkan mata karena tidak mau melihat. Namun pada akhirnya, mereka tetap saja lompat.
.
.
"Nah ayok giliran kita." Ujar paratrooper yang membawa Naruto.
"Apa? Hei Tunggu! Aku belum siap!" Naruto mencoba berpegang pada besi penyangga kerangka pesawat saat dia didorong maju.
"Hei! Kalau kita tidak segera, kita tidak akan bisa mendarat ke Konoha!" Balas sang paratrooper.
"TUNNGGU!"
Melihat Naruto yang berpegangan kencang dengan besi penyangga, sang paratrooper pun menggelitik Naruto hingga akhirnya pemuda itu melepaskan pegangannya, namun karena respon Naruto yang terlalu hyperaktif, mereka malah terjun dari pesawat dengan tersandung terlebih dahulu.
"WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Naruto berteriak bak orang kebakaran jenggot saat mereka akhirnya berhasil turun dari pesawat (Jatuh)
.
REVIEW
v
v
v
v
v
