Konoha Gakuen.
"Selamat pagi, Matsuri-chan."
"Ah, Yukata.. Selamat pagi."
Matsuri menghentikan kegiatannya dalam membersihkan penghapus papan tulis saat dia menyadari Yukata datang dari pintu.
Ini adalah hari yang awal untuk Matsuri karena dia mendapatkan tugas piket kelas dipagi hari. Sehingga beginilah jadi pagi harinya, membersihkan pengapus papan tulis dengan cara nemepuk nepukkan benda itu di dinding luar jendela, agar debunya tidak menganggu teman sekelasnya yang sudah datang.
Setelah menaruh tasnya di bangkunya sendiri, Yukata pun mendekati Matsuri.
"Jadi bagaimana?" tanya Yukata tidak jelas, membuat Matsuri menoleh bingung.
"Bagaimana apanya?" tanya Matsuri polos.
"Tentu saja soal penggabungan klub itu, bukankah kau sendiri yang bilang ingin rapat klub terlebih dahulu dan menjelaskan apa yang terjadi dengan para senpai?" tanya Yukata.
"Oh.. Aku menelfon Gaara senpai tadi malam. Dia bilang, dia ngikut saja asal anggota yang lain bisa datang."
"..."
"Dan untuk Sasuke, Naruto dan Shikamaru senpai.. Entahlah, nomor Sasuke-senpai tidak bisa dihubungi..kata Haruno Sakura-senpai, mereka juga tidak masuk sejak kemarin." jelas Matsuri.
Yukata mengkerutkan dahinya.
"Mereka membolos?" tanya Yukata.
"Tak tau, mereka Senior yang sulit ditebak." Ujar Matsuri lagi.
WUSHHH!
Kegiatan mereka teralihkan oleh sebuah obyek yang turun dan mendarat dengan pasti mendekati lapangan konoha Gakuen. Matsuri dan Yukata yang kebetulan ada di dekat jendela pun bisa dengan jelas melihat obyek tersebut.
Bahkan tidak perlu waktu lama sampai para penghuni Konoha Gakuen yang ada di kelas masing-masing ikut mendekati jendela kelas mereka karena penasaran. murid murid yang ada di luar ruangan pun tak kalah penasaran.
Mereka melongo saat mengetahui obyek apa yang mendarat.
Astaga itu Naruto Senpai, barusaja berangkat ke sekolah dengan parasut- Tunggu apa?
.
Hanya hari yang normal di Konoha Gakuen.
chapter 103 : After The Storm
.
BLOWSH TAP!
"Gah! Hah! Aku masih hidup huahahaha!" Naruto berteriak kegirangan saat dia berhasil 'touch down' di tengah lapangan Konoha Gakuen.
"Tentu saja kau masih hidup!" Ujar Sang paratroper. Dia kemudian melepaskan safety gear yang mengikatnya dengan Naruto agar pemuda itu lepas.
Mereka sepenuhnya mengabaikan wajah cengo kelas 2-2 dan Gai-Sensei yang sekarang berdiri di samping lapangan membawa dua buah bola sepak. Jelas sekali kegiatan mereka memasuki lapangan dan berniat bermain bola diinterupsi oleh seorang yang barusaja datang dari langit menggunakan parasut.
"N-Naruto?!" Gaara lah yang menyadari siapa orang itu. Shira, teman sekelas Gaara yang menyaksikan kejadian barusan pun benar benar menganga sembari menatap kedua orang yang ada di tengah lapangan.
Naruto yang sudah memijak tanah pun akhirnya merasakan bebannya lepas begitu saja. Namun sayangnya, kondisi kakinya yang masih lemas membuatnya gontai seperti orang mabuk.
"Hai apa ka-HUMPPPP!" Pemuda pirang itu terjongkok dan memegangi mulutnya karena merasakan cairan lambungnya naik ke tenggorokan. Mencoba sebisa mungkin agar tidak muntah-muntah setelah apa yang terjadi.
Naruto mendongak untuk melihat bangunan utama Konoha Gakuen. Dia menyadari banyak murid yang memperhatikannya jadi jendela
"OI OI OI! APA YANG TERJADI?!"
Masih dengan menutupi mulutnya dan tersungkur di tanah. Naruto bisa mendengar suara seseorang yang berteriak mendekat.
'Ah sial. Itu Ibiki.' Batin Naruto.
Namun Satsuga. bahkan untuk seorang seperti Ibiki pun butuh waktu untuk memproses apa yang terjadi. Terlebih lagi melihat bentangan parasut yang kini menutupi dua buah pohon di samping lapangan. Ibiki menatap lama sosok asing sang paratrooper yang kini tengah menarik-narik tali parasut dan mencoba menyingkirkan gear pengaman dari badannya.
Sayangnya, Ibiki lebih tertarik dengan seorang pemuda yang tersungkur di tanah. Pemuda yang ia kenali sebagai Namikaze Naruto hanya dari bentuk dan warna rambutnya saja.
Tanpa ragu pun Ibiki berjalan mendekati pemuda itu.
Saat sudah sampai beberapa senti di depan Naruto,
"KA-"
"HUEKKKK!" Ucapan guru BK itu diinterupsi oleh Naruto yang malah muntah kemudian.
.
.
Memuntahi sepatu pantofel milik seorang Morino Ibiki.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Sial, beribu sial. Setelah susah susah berangkat sekolah dengan 'jatuh dari langit', Naruto, Sasuke dan Shikamaru bahkan tidak sempat bertemu Tsunade. Coba tebak? Yap Tsunade tidak ada di ruangannya karena ternyata dia hari ini ada meeting dengan komite sekolah! Kan sialan.
pada akhirnya, sebagai perwakilan, yang harus dihadapi mereka adalah Ibiki. Dimana guru itu mengomel berjam-jam di ruangannya kepada mereka bertiga sembari menunggui Naruto yang disuruh membersihkan sepatu pantofel guru BK itu dan menyikatnya sampai kinclong.
Sialan.
Berbeda dengan Naruto yang mendarat di lapangan sekolah, Sasuke dan Shikamaru mendarat di luar area sekolah. Sehingga perlu tenaga ekstra untuk mereka berdua demi meyakinkan pak satpam (yang menolak disebut namanya) untuk mengizinkan mereka masuk gerbang yang sudah tertutup tadinya.
Dan yap, usaha mereka meyakinkan pak satpam hanya untuk pada akhirnya diseret ke ruang BK oleh Ibiki.
Sedangkan Shisui, dia dan paratrooper yang membawanya sepenuhnya berbelok arah saat di udara tadi. Entah mereka turun dimana.
Untung saja, ketiga paratrooper yang mengantar Naruto,Sasuke dan Shikamaru tidak meminta uang taksi atau semacamnya karena mereka bilang akan ada yang menjeput, jadi ketiga pemuda ini bisa tenang.
Namun atas aksi gila mereka ini lah setiap orang yang mereka temui akan memandang mereka dengan pandangan ingin tau dan berbisik-bisik.
Hei ayolah! Kami hanya berangkat sekolah dengan skydiving dari langit! Jangan berlebihan!
Naruto, Sasuke dan Shikamaru. Mereka kini ada di kantin Konoha Gakuen. Duduk dengan membenamkan wajah di meja karena terlalu lelah setelah hal yang mereka lalui dari kemarin. Sepenuhnya mengabaikan tatapan murid murid yang ada di sana.
Yap. Mereka bertiga disini hanya untuk istirahat, mereka bahkan tidak memesan apapun.
Kalau dipikir pikir, mereka tidak terlalu sering nongkrong di kantin Konoha Gakuen.
Oke, ini belum jam istirahat siang dan tidak banyak orang yang ada di sini. Perlu ditekankan bahwa mereka bertiga kini tengah mengalami jet lag sehingga mereka tidak berminat untuk masuk ke kelas.
"Senpai!"
Sasuke merasakan tepukan dipundaknya. Saat dia mendongak, dia mendapati Matsuri yang sudah berdiri di samping Sasuke.
Shikamaru dan Naruto ikut mendongak. Saat Naruto menyadari siapa yang menggangu mereka, dia kembali membenamkan wajahnya.
"Pergilah.. jangan ganggu." Tegur Naruto cuek.
Namun karena yang dia tegur adalah Matsuri, tentu saja gadis itu malah melakukan kebalikannya. Ikut duduk dengan mereka.
"Hih cuek sekali. Aku kan hanya ingin tanya kenapa Naruto senpai bisa-bisanya terjun ke lapangan sekolah menggunakan parasut." Ujar Matsuri to the point.
Membuat Naruto yang mendengarnya malah mendongak lagi menatap Matsuri bosan. Pemuda ini enggan membahasnya.
"Dengar ya.. Kenapa kau tidak jadi Kohai yang baik dan membelikan para Senpai mu ini minuman dan sesuatu untuk dimakan. Kami lapar." Titah Naruto seenaknya, menekankan kata kohai dan senpai.
"Ok." Jawab Matsuri enteng sebelum gadis itu bernjak dan benar-benar memesan sesuatu untuk mereka bertiga.
Naruto, Sasuke dan Shikamaru saling toleh.
wah.. mudah sekali.
.
.
.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Matsuri datang membawa empat gelas cola dan roti isi.
Naruto menatap gadis itu dari atas sampai bawah, mencoba memastikan tidak ada trik tersembunyi dari kebaikan tiba-tiba yang dilakukan Matsuri.
"Bukannya kau harusnya ada di kelas?" tanya Shikamaru.
"Hm? Oh.. Aku tadi izin ke toilet.." ujar Matsuri jujur sembari menyajikan makanan yang dibelinya kepada Naruto, Sasuke dan Shikamaru.
Sasuke mendengus. Izin ke toilet tapi malah nyasar sampai kantin.
Gadis itu kemudian duduk dan kembali ke pertanyaan awalnya.
"Jadi...?" tanya Matsuri lagi.
Karena sudah dibelikan makan. Akhirnya ketiga pemuda itu menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir.
Dan yap,.. disitulah mereka. ketiga orang berandalan.. ah tidak, keempat orang berandalan. Menghabiskan jam pelajaran dengan membolos dan makan di kantin.
.
~iwdwiw~
Disisi lain. Shisui. Tadi pagi.
Itachi dan Hikari tengah duduk di teras Uchiha Mansion kala itu. Itachi memangku Hikari di sebuah ayunan yang dipesan oleh Mikoto beberapa hari yang lalu hanya untuk menyenangkan menantu dan cucunya.
Meskipun Itachi bilang ke ibunya itu kalau mereka tidak akan selamanya tinggal di Uchiha Mansion, namun Mikoto tetap saja ngotot ingin memasang ayunan. Jadi yah.. Kau tau akhir dari ceritanya.
"Da!" Hikari bersuara sembari menunjuk nunjuk langit dengan tangannya.
"Hm?" Itachi mendongak kala itu saat dia mendapati sebuah obyek berparasut mendekat dari atas langit. What the f?
~i will do what i want~
.
3 Hari kemudian.
Seperti janji Obito. Dia benar benar datang Ke konoha 3 hari kemudian. Menaiki motor trail yang familiar, jadi Sasuke mengasumsikan bahwa segala macam urusannya sudah selesai.
Sasuke, Shisui, Itachi dan Obito pun mengajukan permohonan pertemuan keluarga langsung di hari itu juga.
Setelah menitipkan motor trail Obito ke foREVer street kepada Shikamaru dan Naruto, keempat Uchiha itu pun akhirnya menuju ke Uchiha Corp untuk menemui Madara.
Tunggu? lantas apa yang terjadi selama tiga hari terakhir?
Well, Naruto Sasuke dan Shikamaru gagal menemui Tsunade karena wanita itu nyatanya selama 3 hari penuh tidak ada di kantor. Yap. Tipikal orang merepotkan. Mereka bertiga buru-buru dengan sia-sia.
.
Di depan Uchiha Corp.
Sasuke, Itachi, Obito dan Shisui berdiri berjajar sebentar untuk mendongak menatap bangunan super tinggi itu.
"Astaga, aku hanya pernah kesini sekali, dan aku baru ingat kalau bangunan ini tingginya tidak main-main." Ujar Obito Jujur.
Para Uchiha muda itu pun kini sudah berpakaian rapi dengan menggunakan setelan jas lengkap dengan dasi. Err.. Semua kecuali Shisui.
"Shisui.. Kau yakin tidak mau ganti baju?" Tanya Itachi.
Shisui menoleh ke Itachi sebelum dia mengibaskan tangannya tidak peduli.
"Halah.. Dia hanya Madara." Ujar Shisui cuek, dia lalu berjalan mendahului ketiga Uchiha yang lain untuk mendekati bangunan itu.
Sasuke, Itachi dan Obito menatap punggung pemuda itu. Memperhatikan pemuda yang kini bercelana jeans dan berkaos lengan panjang. Sangat Formal untuk menghadiri agenda bertemu pemimpin perusahaan.
Obito lah yang paling kesal saat menatap gelagat pemuda itu. Cuek nya kelewatan.
Sedangkan untuk Shisui. Hm, dia mungkin adalah orang yang paling tidak mau datang kesini. Jadi dia menganggap pertemuan keluarga ini dengan tidak terlalu serius. Jika pada akhirnya dia disuruh keluar ruangan oleh Madara karena kurang formal, itu malah bagus! Dia jadi bisa kabur dari ruangan yang Shisui prediksi akan menjadi sangat membosankan itu.
..
Sesampainya di dalam, mereka disambut oleh tatapan banyak orang. Tentu saja tatapan itu adalah tatapan penuh tanda tanya kepada keempat pemuda yang datang. Sasuke bisa merasakan atmosfir yang sangat menekan karena dia merasakan tatapan tajam orang-orang itu terkhusus diberikan kepadanya. Bahkan, Resepsionis yang kala terakhir Sasuke kesini mencoba mengusirnya itu, menatap Sasuke dengan wajah gugup. Seakan dia melihat kedatangan bos besar yang baru.
Namun Itachi lah yang mengarahkan ketiga saudaranya itu untuk langsung naik. Menyuruh ketiga pemuda itu untuk mengabaikan saja dan kembali ke tujuan awal mereka.
Di atas, Itachi yang berbicara kepada Sekertaris pribadi Madara. Setelah menjelaskan apa yang akan terjadi, mereka berempat pun diarahkan ke sebuah ruangan untuk menunggu.
Di dalam ruangan itu, Sasuke langsung terduduk di sofa dan bernafas berat memegangi dadanya.
"Sasuke? Kau tidak apa apa?" tanya Itachi.
Shisui dan Obito menoleh ke Itachi yang mendekati Sasuke.
"Hn.. Yah.. Aku hanya gugup." jelas Sasuke.
"Tak apa.. Kami ada disini." Hibur Itachi.
Beberapa menit berlalu sebelum nampak Fugaku dan Mikoto datang dari arah pintu. Keempat orang itu menoleh untuk mendapat pasangan orang tua itu datang.
"Otou-san, Okaa-san." Sapa Itachi.
Mikoto yang menyadari Sasuke berwajah pucat pun ikut mendekati Itachi dan Sasuke.
Fugaku lebih tertarik dengan Sosok Obito yang ada di situ. Pria dewasa itu pun langsung mendekati pemuda itu dan menyalaminya.
"Lama tidak bertemu.. Obito."
"Hm Iya.. Lama tidak bertemu paman." Balas Obito.
Itachi yang menyadari Izumi dan Hikari tidak datang bersama orang tuanya, bertanya ke Ibunya.
"Izumi dimana?" tanya Itachi.
Mikoto nampak menoleh.
"Hah.. Izumi-chan bilang dia mau di rumah saja." jelas Mikoto.
Itachi terdiam. Yah, Itachi tidak bisa menyalakan Istrinya. Itachi tau kalau Izumi memang takut dengan sosok Madara. Terlebih mengetahui fakta bawa Madara menampakkan gelagat ketidak sukaanya kepada kehadiran Izumi di momen momen seperti ini. Mungkin memang keputusan yang baik jika seandainya Izumi ada di mansion. Toh, dia lebih merasa nyaman disana. Shisui akan berbicara dengan istrinya setelah ini.
Disisi lain, Shisui di pojokan diam mengamati reuni keluarga yang terjadi di ruangan ini. Dia mengamati setiap sosok orang yang datang sebelum pada akhirnya orang yang terakhir terlihat masuk dari pintu.
"..."
Ah sial. Itu Uchiha Kagami. Ayahnya.
Kedua pasang mata mereka bertemu. Tidak perlu waktu lama untuk seorang Uchiha Kagami menyadari sosok anaknya dan tanpa pikir panjang mendekat.
Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah..
PLAK!
Shisui langsung ditampar keras oleh ayahnya sendiri.
Membuat seluruh penghuni lain yang ada di situ menoleh.
Bahkan.. Untuk orang seperti Shisui. Yang ditembak sniper saja tidak mati.. Tetap kalah dihadapan Ayahnya.
.
Setelah menunggu cukup lama. Mereka pun akhirnya dipersilahkan untuk menemui Madara. Dan disinilah mereka, kembali berdiri di hadapan kipas raksasa yang menjadi lambang keperkasaan orang yang duduk di depannya.
"Jadi? Sasuke? Kau sudah menandatangani kontraknya?" tanya Madara to the point.
Sasuke menelan ludahnya.
"Err.. Soal itu..."
Dia pun menceritakan semuanya.
.
.
.
Skip.
"Tidak." Jawab Madara saat dia sudah mendengar semuanya.
"H-Ha?"
Orang-Orang yang ada di dalam terdiam. Madara nampak menampakkan wajah serius.
"Aku tidak bisa menyetujui idemu." ujar Madara lagi.
"K-Kenapa?" tanya Sasuke sedikit tidak terima.
Madara menoleh ke Obito.
"Kalian harus belajar tentang silsilah dan pohon keluarga. Obito adalah cucu Izuna, bukan cucuku." Lanjut Madara.
Obito mendecak mendengarnya. Entah kenapa mengungkit-ungkit Izuna terasa sangat menyakitkan bagi Obito. Apa lagi yang mengungkit adalah orang ini.
Shisui menghela nafas berat, ah sudah dia duga.. tidak semudah yang mereka kira.
Jujur, Shisui lah yang paling gondok mendengar ucapan Madara. Hei pak tua. Apa kau tidak paham perjuangan untuk membawa orang ini ke hadapanmu.
"Maaf kakek. Tapi ini adalah sesuatu yang harus dipikir solusinya secara matang. Sasuke masih SMA dan tidak bijak rasanya kalau dia harus dijadikan CEO dalam usianya yang masih dibawah 20 tahun." Itachi bersuara untuk membela Sasuke.
Madara nampak menatap Itachi tajam.
"Aku ingatkan kembali Itachi, bahwa posisi ini seharusnya jatuh padamu. Jika seandainya kau mau menikah dengan gadis yang aku pilihkan. Bukannya menghamili gadis yang tidak jelas asal usulnya." Ujar Madara kasar.
"..." Itachi terdiam tidak menjawab.
Fugaku dan Mikoto menatap iba Itachi yang nampak mencoba menahan diri.
Uchiha Kagami. Yang sedari tadi memperhatikan. Nampak ingin bersuara.
"Otou-san, dengan segala hormat. Anda juga harus menggunakan Ucapan Itachi sebagai pertimbangan.." Ujar Kagami.
Itachi menoleh ke pamannya itu.
"Sasuke masih belia, dan kemungkinan belum cukup secara mental dan moral dalam memimpin perusahaan sebesar Uchiha Corp.." Lanjut Kagami.
"..."
"Disisi lain, Obito adalah pemuda yang tidak berada satu garis keluarga dibawah anda.. Dan jika kita mempertimbangkan Ultimatum perihal penyerahan kekuasaan perusahaan..." Kagami menggantungkan kalimatnya.
Sasuke dan Obito diam mendengarnya.
Sosok Madara memperhatikan Kagami bahkan sampai orang itu menyelesaikan kalimatnya.
".. Yang paling masuk akal adalah memberikan jabatan itu kepada Shisui."
Shisui menoleh ke Ayahnya tidak percaya. WAT? ya ampun! Ayahnya ini masih saja ingin agar Shisui jadi CEO Uchiha Corp?
Sasuke semakin tertekan karena suasana ruangan ini entah kenapa semakin panas.
Madara menatap Shisui tajam. Mempertimbangkan ucapan Kagami.
"Mempertimbangkan apa yang terjadi, aku bisa saja mengalihkan tanggung jawab ini kepada Shisui.. Asal dia mau bersumpah disini.. Dihadapan lambang Klan Uchiha.. Untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Klan. Dan bersedia menjadi pribadi yang santun serta menyerahkan setiap pilihan hidupnya demi kebaikan Klan Uchiha." jelas Madara lagi.
Kagami menyeringai puas sebelum dia menoleh ke Shisui. Mengisyaratkan agar Shisui mau bersumpah disini sekarang juga.
Sasuke, Itachi dan Obito menoleh ke Shisui.
Mendengar apa yang dikatakan Madara, Shisui ingin rasanya menelfon letnan Kurotsuchi sekarang juga dan meminta bantuan serangan udara tepat ke wajah Madara.
Shisui menoleh ke Ayahnya lalu beralih ke Madara.
Dia menghela nafas sebentar.
"Dengar ya kakek.. 30 Tahun kau memimpin perusahaan ini. Dan selama itu pula kau selalu bilang bahwa kau hanya ingin memberikan jabatan ini kepada Cucumu." Jelas Shisui.
Madara diam mendengarkan.
"Asumsikan seandainya kami sebagai cucumu tidak mau menerima apa yang kau wariskan, lantas apa yang akan kau lakukan? Memaksa kami?" tanya Shisui serius.
"..."
"Itachi menikahi Izumi secara diam diam karena dia tau kau pasti tidak akan menyetujui pilihan hidup Itachi. Yang mana dia putuskan sendiri karena dia ingin bahagia." Lanjut Shisui.
"..."
"Sedangkan untukku, bagaimana jika aku bilang bahwa aku tidak butuh uangmu? Aku percaya aku masih bisa makan besok, dan hanya itu yang aku butuhkan. Aku bangga dengan caraku hidup." Lanjut Shisui lagi.
"..."
"Dan saat kau pada akhirnya menaruh bebanmu kepada Sasuke, bagaimana jika Sasuke tidak mau melakukannya? Apa kau akan tetap menjatuhkan tanggung jawabnya kepada Sasuke? menghabiskan sisa hidupmu dengan menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang tidak mau mereka lakukan hanya karena kau berkuasa?"
"..."
"Maksudku lihat Obito, dia mau menggantikan Sasuke karena dia sadar bahwa dia masih bagian dari keluarga, terlepas dari kau yang mengecewakannya karena melakukan ritual penghapusan marga yang bodoh itu kepada adikmu sendiri. Namun kau malah menolaknya hanya karena garis keturunan? Ayolah!" Jelas Shisui pada akhirnya.
Obito, Sasuke dan Itachi terdiam. Entah kenapa mereka terpukau kepada ucapan Shisui. Oke, untuk sekarang, Shisui nampak waras.
Uchiha Kagami nampaknya malah menatap Shisui emosi. Pemuda ini benar-benar mengecewakannya.
Madara terdiam.
"Otou-san. Shisui benar, harap pertimbangkan bahwa ini semua bukan tentang pohon keluarga. Jika masih ada yang membebanimu. Mari percayai saja usulan Obito perihal dia akan mengalihkan tanggung jawabnya kepada Sasuke setelah 6 tahun kedepan. Tepat setelah Sasuke menyelesaikan kuliahnya." Fugaku bersuara. Mencoba meyakinkan Madara sepenuhnya.
Madara menatap orang-orang yang ada di hadapannya tajam. Terkhusus Sasuke yang sepertinya sudah tidak bisa menerima tekanan ini lebih lanjut.
Ruangan itu nampak hening.
Orang-orang itu bahkan bisa menyadari Madara yang menghela nafas pelan.
Dengan satu gerakan, Madara mengangkat gagang telfon yang ada di menjanya. Dia nampak menelfon seseorang.
Orang orang yang ada di situ terdiam gugup menunggui Madara.
Saat dia menyelesaikan panggilannya, dia akhirnya bersuara lagi. pelupuk matanya terpejam, dia terlihat tenang.
"Baiklah.. Aku setujui usulan kalian."
Shisui, Sasuke dan Itachi saling toleh mendengarnya. Mereka nampak sumringah.
.
.
Usulan mereka diterima.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
MONEY TALKS ARC END!
xxxxxxxxx
Author Note(s) : Hanzama Is Byack!
Yess.. Money Talks Arc selesai! Huft! Ah, perjalanan mereka nampaknya tidak sia sia. Oke oke.. Arc ini banyak kekurangan. dan yap tetap saja. terima kasih sudah mengikutinya sampai akhir, itu sangat berarti bagi Hanzama.
Trus selanjutnya gimana? Ini fanfic udah tamat? Hmm.. Wait.. Tidak secepat itu ferguso.. Masih akan ada chapter depan jadi.. stay still aja..
Selama Hanzama belum menempel label complete di fanfic ini. iwdwiw masih bakal lanjut.. Well, mungkin tidak sepanjang yang sahabat pembaca kira.. but, you'll never know kan?
Okesip mungkin itu..
Ketemu di chapter depan?
Salam Hangat, semoga reader sukse selalu!
Cya cya~~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
- After -
Naruto berdiri di depan pintu sembari menatap motor trail Obito. Dia menatap motor 'keren' itu dengan tatapan kagum. Yap, kalau dilihat motor itu memang cantik sekali.
Terlintas di Otak Naruto untuk meminjam motornya Obito untuk jalan-jalan. Namun Sialan, Obito tidak meninggalkan kunci motornya.
Naruto berpikir sebentar. Dia lalu beralih ke Shikamaru yang kini tengah duduk di depan TV.
Naruto menyeringai.
Yap. Siapa yang butuh kunci jika kau punya kawan berbakat curanmor?
REVIEW
V
V
V
