HAPPY READING ALL NOREN SHIPPER
JENO X RENJUN
MOGA KAPAL AKU YANG INI ANTI KARAM :'(
YOUR CHOICE
Dengan kesal dan tidak sabar, Jeno menekan bel yang berada di dinding luar sebuah rumah berkali-kali. Entah kemana para penghuninya hingga tidak ada satu pun yang merespon. Bukan tanpa alasan Jeno merutuk sebal, kedua tangannya pegal memegang buket bunga lumayan besar dan sebuah kotak berisi kado ulang tahun.
Ya. Benar. Jeno sedang berada di depan rumah Huang Renjun. Pria yang tadi pagi sudah ia pilih untuk menjadi pendamping hidup dan penerus usaha kecap keluarganya.
"Astaga. Sudah lah aku menyerah. Sialan kau Huang beraninya membuang-buang waktu berhargaku! Menyesal aku memilihmu!" Maki Jeno pada pintu masuk rumah tersebut yang dapat ia lihat dari celah pagar.
Merasa repot dengan segala benda tidak berguna di tangannya, ia memutuskan untuk melemparkan saja bunga dan kado untuk Huang Renjun ke halaman rumahnya lewat atas pagar. Biar Huang itu tahu bahwa pada awalnya Jeno sudah memiliki niat baik di pertemuan pertama mereka.
"Aku tidak peduli jika bunga ini akan lepas dari tangkainya ataupun isi kado ini rusak, salahmu sendiri kenapa begitu lama membuka pintu." Ucap Jeno sinis sambil menbuat ancang-ancang gerakan melempar kotak kado berwarna marub, persis seperti atlit voli yang akan melakukan servis.
Bruukkkk.
Berhasil, Jeno tersenyum puas dengan kemampuannya. Kotak kado tersebut sukses mendarat di halaman rumah Huang melewati pagar yang lumayan tinggi.
"Kini tinggal bunganya saja." Kali ini Jeno bersiap-siap melemparkan buket tersebut layaknya memasukkan bola basket ke dalam ring.
Brukk.
Berhasil lagi. Tentu saja berhasil lagi. Buket bunga yang awalnya terangkai indah itu kini kondisinya mengenaskan. Kertas pembungkusnya terkoyak, kelopaknya berguguran dan bunga-bunganya terlepas dari ikatan buketnya. Tapi toh Jeno tidak peduli, cepat atau lambat bunga-bunga itu pun akan layu.
Merasa niatnya untuk memberi kado dan bunga sudah terpenuhi, Jeno pun meninggalkan kediaman Huang.
•
Tanpa sepengetahuan Jeno, seorang pria yang wajahnya sama seperti di foto yang tadi pagi ia pilih sedang berdiri di balkon lantai dua sebrang rumah yang Jeno percaya sebagai kediaman Huang, mengamatinya dari awal hingga akhir.
"Manusia bodoh, mencari alamat saja tidak becus. Bayangkan jika aku harus hidup dengannya seumur hidup." Ucap Huang Renjun remeh saat Jeno memasuki mobil dan meninggalkan area tersebut.
•
Saat sekolah dulu Lee Jeno memiliki reputasi, seorang lelaki tampan yang pandai olahraga. Sangat ramah, murah senyum dan populer di kalangan perempuan dan submisif. Semua orang menyukainya, semua orang memuja dan memujinya.
Renjun melihat Jeno dengan sudut pandang lain. Yaitu Jeno yang merupakan sosok piala bergilir bagi para perempuan dan submisiv. Lelaki murahan yang membiarkan tubuhnya disentuh oleh banyak orang. Renjun tidak tahu benar tidaknya rumor kotor tersebut, toh mereka tidak pernah berada dalam lingkungan yang sama. Tapi satu fakta yang jelas, Lee Jeno sering bergonta-ganti kekasih.
"Renjunnie ayo jalan, berhenti memperhatikan foto Jeno. Toh nanti kalian akan bertemu langsung." Ucap nyonya Lee dengan senyum jahil.
Ajakan tersebut membuat Renjun mengalihkan matanya dari sebingkai foto Jeno muda yang memakai seragam taekwondo yang menggantung di dinding keluarga Lee. Renjun saat ini ditemani calon ibu mertuanya berkeliling mengenal rumah yang akan ditempatinya nanti setelah resmi menjadi Lee Renjun. Tadi pagi, tidak lama Jeno pergi dari pekarangan tetangganya, ia sendiri bersiap-siap pergi ke rumah keluarga Lee untuk memenuhi undangan makan siang.
•
"Woooowww." Seru Renjun takjub dengan mata berbinar bahagia begitu melihat hidangan yang tersaji di meja makan. Akhirnya tur keliling rumah Lee sampai juga di bagian ruang makan.
Nyonya Lee tersenyum bangga dengan segala hasil karya dapurnya. "Tidak usah sekaget itu. Ini kan hari besar, Renjunnie. Ulangtahun sekaligus ucapan selamat datang untukmu."
Mendengar jawaban itu, Renjun langsung lesu dan kecewa. "Payah... aku pikir setiap hari akan selalu tersaji masakan seperti ini."
"Anak nakal" ucap nyonya Lee sambil mencubit kedua pipi Renjun. "Nikmati masakanku selagi bisa, karena setelah kau menjadi menantuku, kau lah yang akan memasak untukku."
Lalu keduanya tertawa.
•
Jeno pulang saat mendekati waktu makan siang, ia melihat ada motor asing terparkir di dekat pintu masuk rumahnya.
"Darimana saja kau?" Tanya suara sinis ayahnya yang langsung menyambut kedatangan Jeno.
"Darimana lagi? Tentu saja dari rumah calon menantu ayah." Jawabnya tidak kalah sinis.
Lee senior mendecih tidak percaya atas jawaban sang anak. "Berhenti hidup semaumu, Jeno. Renjun datang ke sini sendiri. Ia sudah menunggumu lama tapi kau tak kunjung menjemputnya."
Jeno yang mudah terpancing amarahnya jika berhadapan dengan sang ayah, langsung saja pecah emosinya. "Aku sudah mendatangi rumahnya! Justru Huang Renjun lah yang tidak membukakan pintu! Aku seperti orang bodoh menunggunya di luar pagar!"
"Jika pun ucapanmu benar, kenapa tidak menghubungiku atau ibumu untuk meminta nomor Renjun supaya dapat bertanya langsung padanya? Kenapa tidak langsung pulang ketika kau gagal menjemputnya? Pergi kemana saja kau sejak pagi?" Pertanyaan beruntun dengan intonasi tinggi ayahnya membuat Jeno muak sekaligus menjadikannya makin tidak suka pada sosok Huang Renjun. Belum bertemu saja sudah membuat masalah.
Adu mulut keduanya terdengar hingga ke dalam rumah, membuat nyonya Lee dan Renjun buru-buru mendatangi sumber keributan.
"Hey hey hey, apa kalian belum lelah bertengkar? Sudah lah ayo masuk, makan siang dulu. Isi energi sebelum bertengkar lagi. Lihatlah Renjun hobi calon suami dan calon ayah mertuamu, adu argumen." Ucap nyonya Lee santai, membuat Renjun heran kenapa bukannya dipisahkan dan ditenangkan tapi malah disemangati.
Sontak Jeno melupakan pertengkaran dengan sayang ayah, matanya langsung menatap dalam-dalam lelaki muda yang berada di samping ibunya. Tubuh kecil dan ramping, lebih tinggi dari ibunya tapi lebih pendek darinya. Hidung mancung, kulit putih merona, berbeda dengan Jeno yang putih pucat. Bibir mungil tapi tebal dan berisi. Tidak buruk. Huang Renjun cukup rupawan seperti dalam foto, Jeno tidak akan malu membawanya untuk diperkenalkan sebagai istri.
•
Renjun dengan sopan menyendokan nasi ke setiap piring, mulai dari tuan Lee, nyonya Lee, Jeno dan terakhir piringnya sendiri. Tuan Lee tersenyum, sebagai gantinya ia memberikan potongan lauk pertama untuk Renjun.
"Tidak biasanya kita berbicara saat makan. Tapi karena ini adalah hari spesial, aku rasa tidak ada salahnya kita makan sambil berbincang." Ucap tuan Lee membuka percakapan.
"Ide yang sangat baik, sayang." Jawab nyonya Lee antusias.
Renjun hanya tersenyum dan mengangguk, sedangkan Jeno tidak merespon samasekali.
"Selamat ulang tahun, Renjun. Kau tahu? Jeno juga akan berulang tahun tepat sebulan ke depan. Bukankah ini kebetulan yang sangat manis?" Ucap nyonya Lee sumringah.
Renjun membulatkan mulutnya "Benarkah? Kalau Jeno lahir tahun berapa?"
Tidak langsung menjawab, Nyonya dan tuan Lee malah saling melempar senyum. "Kalian lahir di tahun yang sama." Jawab tuan Lee pada akhirnya.
Renjun tersenyum cerah namun setelahnya menjadi muram, "berarti aku sebulan lebih tua dari Jeno? Kalau begitu aku yang akan menjadi suami dalam hubungan ini?" Tanya Renjun tidak terima.
Tuan Lee menaikan sebelah alis dan tersenyum aneh. "Kenapa Renjunnie? Apa Renjunnie sangat ingin menjadi istri Jeno?"
"HAHAHAHA" nyonya Lee tak dapat menahan diri untuk tertawa keras hingga memukul bahu suaminya lumayan kencang. "Sayang, ini masih siang."
Wajah Renjun seketika memerah karena terlalu panas, merambat hingga telinga dan lehernya. Ia hanya menunduk dan mencoba fokus pada makanan yang ada di piringnya. Percakapan ini sangat memalukan.
Jeno menghembuskan nafas panjang, setelah puas menatap tajam kedua orangtuanya kini giliran ia menyipit pada sang tamu. "Orang yang kalian bicarakan ada di hadapan kalian. Dengar Huang Renjun, ingin memohon seperti apa pun, suka tidak suka, tidak peduli siapa yang lebih tua, tetap aku yang akan menempati posisi suami."
Nyonya Lee terkikik geli, "kalian bahkan belum berkenalan secara resmi tapi sudah membicarakan posisi? Panas sekali siang ini." Goda sang nyonya dengan jenaka sambil mengipaskan tangannya.
Renjun rasanya ingin tenggelam di kolam kuah sayur sop, andai saja nyonya Lee bukan calon mertua maka saat ini ia pasti sudah menjejalkan irisan cabai ke dalam mulutnya. Ini terlalu memalukan, akhirnya ia berusaha mengalihkan pembicaraan. "Terima kasih tuan dan nyonya Lee karena sudah memilihku dari sembilan orang lainnya. Aku sangat kaget saat menerima telepon tadi pagi dari kalian, ini adalah kado terbaik dan terhebat. Aku tidak tahu apa kelebihanku hingga bisa terpilih, tapi aku berjanji akan melakukan yang terbaik."
Tuan Lee menggeleng, "kami memang memilihmu sebagai penerus Lee sejak 11 tahun lalu, tapi Jeno lah yang memilihmu menjadi istrinya. Jadi kau bisa duduk di samping kami saat ini adalah karena pilihan Jeno."
Renjun menyibak poninya yang jatuh menghalangi pandangan untuk menatap lekat Jeno yang duduk di depannya karena lumayan kaget dengan informasi yang baru ia terima.
"Terima kasih." Ucap Renjun singkat, bertolakbelakang dengan pikirannya yang meliar memikirkan alasan seorang Lee Jeno memilihnya.
Jeno hanya mengendikan bahu acuh.
•
Acara makan siang selesai, ditutup dengan sebuah cake yang dihias lilin dengan angka 23 di atasnya. Siang ini, secara tidak resmi Renjun sudah menjadi bagian dari keluarga Lee.
•
Akhirnya Renjun dan Jeno memiliki waktu berdua, hanya mereka saja sehingga dapat berbicara apa adanya tanpa harus dibuat sopan. Jeno memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk membuat Renjun sadar diri dengan posisinya.
"Dengar, Huang Renjun. Ini adalah pernikahan bisnis. Aku bersedia menikah denganmu hanya demi keberlangsungan bisnis keluargaku." Ucap Jeno menegaskan tanpa basa-basi.
Renjun tersenyum, tapi bukan tersenyum seperti yang ia tampilkan di hadapan orangtuanya. Kali ini ia menampilkan senyum dingin bercampur arogan yang cukup menyeramkan. "Dengar, Jeno. Jangan pernah sekalipun menyebut nama Huang di hadapanku. Satu hal lagi, ini bukan bisnis keluargamu. Ini bisnis keluarga kita."
Kemudian senyum dingin itu seketika menghangat, tangan mungil Renjun menelusuri wajah Jeno mulai dari kening lalu hidung kemudian bibir hingga terakhir di dagu. "Jadilah suamiku yang patuh, sayang."
Saat itu juga Jeno menyadari satu hal. Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah memilih Huang Renjun, ia telah tertipu oleh wajah polos bak malaikat suci itu. Nyatanya Huang Renjun adalah jelmaan setan yang kabur dari neraka.
tbc
apa story ini sdh terupload sempurna? apa story ini ada yg baca? aku rada lupa pas upload bagian crossover :'(
