Title : Love is Never Flat Chapter 3
Author : adindaPCy
Length : Chapter
Genre : Romance, little Sad (?)
Cast : Seme to Namja, Uke to Yeoja
ChanTao – KrisTao – SuTao - KrisSoo
Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun
.
Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !
Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak
Cerita gak sesuai judul –mungkin.
WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !
DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !
Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….
So ….
Happy Reading !
And NO PLAGIAT !
.
.
.
Chapter sebelumnya …
Ddrrrrttt.
Sebuah pesan Line masuk tertulis pada layar gadget pintar Tao. Ia menyentuh layar touchscreen-nya untuk membuka pesan itu.
"Jeongmal mianhae, Zitao. ~Kris Wu."
Tao mendecih setelah membaca pesan itu. Kemudian ia menon-aktifkan ponselnya dan beranjak tidur.
Chapter 3
Jam sudah menunjukkan pukul 1 lewat 15. Lay yang sejak sejam yang lalu terduduk di kamar adiknya memandang wajah damai adiknya yang tertidur. Ia memangku sebuah buku yang menjadi alasannya bertahan di kamar sang adik. Ingin rasanya ia membangunkan Baekhyun untuk menanyakan segala hal yang ia baca secara tak sengaja dalam buku diarynya, namun mengingat ini sudah tengah malam, Lay mengurungkan niatnya.
Mungkin besok saja, pikir Lay. Namun kembali terbayang segala tentang Suho dan Baekhyun dalam pikirannya yang membuatnya kembali sulit untuk mengistirahatkan matanya.
.
.
.
.
"Baekhyun…" panggil Lay pada adiknya saat mereka duduk di meja makan untuk sarapan pagi itu.
Lay ingin menanyakan sesuatu pada adiknya itu. Namun kembali ia urungkan karena eomma dan appa-nya menghampiri mereka untuk pamit pergi bekerja.
"Wae ?" tanya Baekhyun saat kedua orang tua mereka sudah pergi. Suasana ruang makan kembali hening. Yang ada hanya rasa canggung Lay dan sikap dingin Baekhyun.
"Eo, a-anio."
"Kau pulang pukul berapa tadi malam ?" tanya Baekhyun tanpa embel-embel 'eonnie'pada Lay. Lay sudah terbiasa dengan itu. Ia hanya menghembuskan nafasnya berat sebelum menjawab.
"Pukul setengah 12."
"Bagaimana Promnite-nya ? Menarik ?" Baekhyun terus bertanya tanpa melirik ke arah Lay sedikitpun.
"Ne. Tadi malam Suho-"
"Aku sudah menyelesaikan sarapanku." Potong Baekhyun lalu pergi meninggalkan Lay yang masih menggantungkan kalimatnya.
Dapat yeoja itu lihat di piring Baekhyun masih tersisa setengah potong roti lagi. Baekhyun tak menghabiskan sarapannya. Ia tahu adik perempuannya itu sengaja melakukannya.
Sebulir kristal bening jatuh dari mata beningnya. Buru-buru ia menghapusnya dan berusaha untuk setenang mungkin dengan mencoba tersenyum. Mengobati sedikit perih di hatinya sendiri mungkin.
.
.
.
.
Cuaca cerah siang itu membuat Tao merasa gerah berlama-lama di rumah. Terlebih lagi suasana di rumah yang kembali memanas karena Baba-nya yang baru pulang dari rumah sakit sehabis menjalankan tugasnya sebagai dokter spesialis saraf bertemu dengan Mama-nya yang kembali datang –entah untuk apa-.
Tao membiarkan langkah kakinya menuju ke taman kota. Karena selain dekat dengan rumahnya, ia juga tidak memiliki tujuan khusus saat ini. Ia melihat suasana di taman yang terlihat lebih ramai dari biasanya. Ini memang masih dalam masa liburan sekolah, wajar saja jika banyak muda mudi yang lalu lalang disana.
Celana hitam ponggol dengan kaos merah yang dikenakan Tao sangat serasi dengan sepatu kets bercorak bendera England dan dipadankan dengan tas imut yang sedang nge-trend di Korea saat ini. Rambut sebahu Zitao dikepang dua, sedangkan poninya ia biarkan tergerai menutupi dahinya. Zitao terlihat sangat manis dengan gaya jadulnya saat ia masih menduduki kelas 1 JHS dulu. Tak lupa ia menambahkan kacamata non-lens yang bertengger di atas hidung mancungnya. Ia benar-benar terlihat seperti saat ia masih menduduki bangku JHS. Saat ia masih terlihat girly dan polos.
Tak jauh dari tempat Zitao duduk, seorang namja berponi dengan kacamata non-lens yang juga bergaya jadul ala masa JHS-nya sedang berjalan seorang diri. Sesaat ia terpaku ketika melihat yeoja nan imut yang seingatnya parasnya masih sama saat terakhir kalinya ia melihat, 3 tahun yang lalu, sedang duduk di bawah rindangnya pohon ceri.
"Tidak mungkin itu dia." Ucapnya pada dirinya sendiri. "Aku pasti sedang bermimpi."
Namja itu lalu menampar keras pipinya untuk membuktikan apakah kini ia sedang bermimpi, berhalusinasi, atau ini memang kenyataan.
Plak !
"A-auww... Ini sakit. Jadi ini bukan mimpi ? Oh, God, terima kasih sudah mempertemukanku dengannya lagi." Ucap namja itu sambil mengelus pipinya yang panas akibat tamparannya sendiri. Dengan segala keberanian yang telah dikumpulkannya, ia berjalan mendekati Tao.
"Ekhem, Zizi." Panggil namja itu.
Tao menolehkan wajahnya pada arah datangnya suara. Dan betapa terkejutnya ia juga begitu melihat wajah sang pemanggil.
"J-Joonmyun ?" bisik Tao tak percaya.
Untuk beberapa detik dalam keterkejutannya, Tao masih mematung. Ia masih berpikir untuk mengingat wajah culun namja itu dibalik kacamatanya.
Tao mendengus kesal dan beranjak pergi. Tapi dengan sigap, namja yang dipanggil Joonmyun itu menarik tangan Tao. Dan dengan cekatan pula yeoja itu membalikkan tangannya kemudian mengunci lengan Joonmyun pada punggungnya sendiri.
"A-a-akh appo.. appo Zizi~ah. Jebal lepaskan aku." Joonmyun memohon sambil meringis.
"Kau mau apa, eoh ?"
"Anio Zi~ah. Mian, aku tadi tak sengaja melihatmu duduk disini sendiri. Aku hanya ingin menghampirimu. Sungguh !"
Zitao yang merasa kasihan pada namja itu pun melepaskan kuncian tangan namja itu. Joonmyun merenggangkan tangannya yang terasa kaku karena kuncian Zitao itu.
"Aigoo …. Kenapa kau begitu sadis padaku, eoh ? Kau masih mengikuti wushu ?"
"Tentu saja. Aku harus melindungi diri dari orang-orang sepertimu itu." Jawab Tao ketus. Ia kembali duduk diikuti Joonmyun yang duduk di sampingnya.
"Kau masih mengenalku, Zi ?"
"Kau ? Haha. Tentu saja." Jawab Tao dengan tawa hambarnya. "Bagaimana bisa aku lupa dengan namja yang pernah menduakanku 3 tahun yang lalu itu ?" lanjutnya dengan nada dingin.
"Kau masih membenciku, Zi ?" Joonmyun menarik nafasnya panjang kemudian membuangnya sedikit kasar.
"Mianhata" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut namja itu setelahnya.
"Untuk apa ?"
"Untuk kejadian 3 tahun yang lalu itu. Aku salah, Zi. Nyatanya aku lebih mencintaimu dari pada dia."
"Berhentilah mencelotehkan hal yang tidak penting, Myun. Itu sudah berlalu. Nyatanya kau bahkan lebih memilihnya."
"Aku salah Zi. Setelah kau pergi, aku benar-benar kehilangan. Dia hanya cinta sesaatku saja. Kau juga pindah sekolah dan pindah rumah. Aku selalu mencarimu selama ini. Aku masih mencintaimu, Zizi~ah. Hingga akhirnya Tuhan mempertemukan kita kembali hari ini. Disini."
"Ck ! Benarkah ?"
.
.
.
.
"Suho~ya ? Gwaenchana ?" Chanyeol menepuk pundak Suho dari belakang. Suho menggeleng tanpa memalingkan tubuhnya menghadap Chanyeol dan Sehun.
"Anio."
"Wae geurae ?" tanya Sehun juga penasaran dengan sikap sahabatnya yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Padahal beberapa menit yang lalu, sebelum ia dan Chanyeol meninggalkan Suho, namja itu masih tampak biasa-biasa saja.
Walau wajah sedih masih tertangkap dalam wajahnya, mengingat ia akan dijodohkan saat ulang tahunnya Hari Minggu nanti.
"Aku bertemu dengannya ?"
"Nugu ?" kini Chanyeol yang bertanya. Sementara Sehun mengerutkan kedua alisnya.
"Zizi."
"Zizi ? Yeoja yang kau cari selama ini ?" tanya Chanyeol lagi. Suho hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Zizi nugu ?" bisik Sehun pada Chanyeol. Ia memang tidak pernah tahu siapa gerangan yeoja yang kedua sahabatnya itu maksud. Suho tak pernah menceritakannya padanya.
"Mantan yeojachingu Suho. Yeoja yang selama ini ia cari." Balas Chanyeol juga berbisik. Sehun membulatkan mulutnya sambil mengangguk kecil.
"Lalu dimana ia sekarang ?"
"Ia pergi. Ia menolakku." jawab Suho semakin lirih.
"Kau sudah mengatakannya kalau kau mencintainya ?" namja yang sering mendapat julukan 'angle' itu lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
"Kau harus bisa meyakinkannya kembali agar kau bisa menolak perjodohan itu, Suho~ya." Ucap Chanyeol meyakinkan sahabatnya. Walau di sisi lain entah mengapa ia merasa hatinya ragu untuk memberi semangat.
.
.
.
.
"Gwaenchana~yo ?" tanya Tao pada sahabatnya yeng terlihat sangat kacau hari itu.
Tak biasanya Lay yang begitu periangnya terlihat murung. Matanya tampak sedikit membengkak, seperti habis menangis semalaman. Bola matanya tak sejernih biasanya. Garis mukanya pun menunjukkan ia sangat lelah. Yeoja itu juga kini memiliki lingkar hitam di bawah matanya seperti miliknya, namun tidak seindah milik Zitao tentu saja.
"Tao~ya."
"Ne ?"
"Tao~ya." Panggil Lay lagi. Kali ini terdengar lebih lirih. Tampaknya ia tidak mendengar bahwa Tao sudah merespon panggilannya.
Lay masih menatap kosong kolam renang di belakang rumahnya. Baru saja Tao akan kembali merespon panggilannya, yeoja berdimple itu sudah mengeluarkan suaranya kembali.
"Hari Sabtu nanti aku akan dijodohkan."
"Mwo ? Dijodohkan ? Hahahaaa…. Kau bercanda, eoh ? Ayolah, ini bukan zaman kerajaan lagi, Lay."
Tao tertawa mendengar ucapan Lay itu. Tawa yang dipaksakan memang. Karena ia hanya ingin memancing Lay untuk marah padanya dan mengembalikan semangatnya. Tapi nyatanya yang ia dapatkan masih sama. Tatapan kosong Lay yang semakin terlihat menyedihkan.
"Aku tidak bercanda, Zi."
"Lalu ?"
Lay mengendikkan bahunya pelan dan menghembuskan nafasnya berat.
"Kalau kau tidak mau, kenapa kau tidak menolaknya saja ?"
"Aku tidak akan menolaknya, Zi. Aku sudah terlanjur mencintai namja yang dijodohkan denganku."
"Kau mencintai namja itu ? Memangnya siapa namja itu ? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada kami ?"
Setelah beberapa lama Lay bertahan menatap lurus pandangannya, akhirnya ia menolehkan kepalanya pada Zitao.
"Aku akan bertunangan dengan Suho."
"Suho ? Jeongmal ? Kau tidak bohong kan ?" Lay menggeleng.
"Lalu apa yang membuatmu menjadi seperti ini ? Bukankah kau harusnya senang ?"
"Haruskah aku senang saat aku tahu aku bertunangan dengan mantan kekasih adikku sendiri ? Mantan kekasih yang sampai sekarang masih ia cintai ?"
"Mantan kekasih adikmu ?"
"Ne. Mereka pernah berpacaran 3 tahun yang lalu. Dan aku baru mengetahuinya sekarang. Pantas saja Baekhyun selalu bersikap dingin padaku sejak aku mengatakan padanya kalau aku menyukai Suho."
Perlahan air mata Lay mulai turun membasahi kulit putih wajahnya. Tao meraih sahabatnya yang terlihat rapuh itu dalam dekapannya. Memberikan kehangatan pada perasaannya yang kacau.
Zitao tahu, dalam posisi Lay ini tidaklah mudah. Apalagi setelah yeoja itu menceritakan padanya mengenai isi diary Baekhyun yang hampir seluruhnya berisi mengenai Suho.
.
.
.
.
Lay memberikan sebuah kertas undangan berwarna kuning terang pada Zitao. Undangan pesta ulang tahun Suho yang akan menjadi pesta pertunangannya sekaligus. Karena hanya dengan undangan itu, para tamu bisa menghadiri acara yang dibuat secara tertutup itu.
Tangan lentik Zitao membuka perlahan kertas kuning yang dipegangnya. Dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati kedua nama yang tercetak jelas disana. Nama Joonmyun dan Lay !
"J-Joonmyun ?" ucap Zitao pelan. Ia sungguh tak menyangka akan mendapati nama namja itu tertera dalam undangan itu setelah sehati sebelumnya mereka bertemu.
.
.
#Flashback
"Hmm, Zizi~ah. Mungkin ini terlihat brengsek. Tapi aku sudah menunggu lama untuk menyampaikan ini padamu lagi. Maukah kau kembali padaku, Zi ? Jebal, ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku berjanji untuk kali ini aku akan benar-benar menjagamu. Aku ingin membahagiakanmu."
"Kau sedang melamarku, eoh ?"
"Jika kau menganggap seperti itu, maka terimalah aku sebagai calon suamimu, Zi."
"Micheosso ?!"
"Aku memang gila, Zi. Kau tahu, minggu ini aku akan berulang tahun. Dan aku akan dijodohkan pada pesta ulang tahunku nanti."
Spontan Tao kembali menatap Joonmyun lekat. Ada rasa ketidakrelaan dalam hatinya, jujur saja ia juga masih menyayangi namja ini sekalipun ia pernah menyakitinya dahulu. Namja ini juga yang membuatnya bertahan dalam status single hingga kini.
"Terima saja perjodohan itu, Joonmyun." Balas Tao lalu kembali menatap lurus pandangannya setelah sebelumnya ia memberikan senyum manis yang sangat menyakitkan dilihat oleh Joonmyun.
"Zi-"
"Aku harus pergi sekarang. Senang kembali bertemu denganmu lagi, Kim Joonmyun."
"Zi ! Zizi~ah ! Jebal maafkan aku. Kumohon kembalilah padaku, Zizi~ah." Ucap Joonmyun lagi yang dihiraukan oleh Zitao. Yeoja itu terus saja berjalan seakan tidak mendengar ucapan sang mantan namjachingu.
Zitao masih bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia memang merindukan Joonmyun. Tapi pada sisi lainnya, ada hatinya yang berontak. Pikirannya juga belum terfokus karena pertengkaran yang ia alami bersama Kris pada malam sebelumnya.
Oh God, batin Zitao.
#Flashback End
.
.
"Ne, Joonmyun adalah nama Suho yang sebenarnya. Kim Joonmyun." Tampaknya Lay tidak menyadari maksud Zitao menyebut nama namja itu, hingga ia malah menjelaskan nama namja itu.
Tapi Zitao bersyukur, setidaknya sahabatnya itu tidak mengetahui kalau Suho-nya adalah mantan namjachingu Zitao. Lay tidak boleh tahu, pikir Zitao. Karena jika yeoja itu tahu, Zitao yakin keadaannya akan semakin memburuk. Dan semua ini memang benar-benar terlalu mengejutkan.
.
.
.
.
"Tuan Muda Wu, berpakaian yang rapilah malam ini. Tuan Besar Wu sebentar lagi tiba." Kata pengawal pribadi Kris dengan halus. Kemudian membantu Kris untuk merapikan tuxedo hitam yang dikenakannya.
"Aigoo, Kai~ah. Kau terlalu formal padaku. Bersikap seperti biasa saja, eoh." Ujar Kris pada sahabatnya itu.
Kai memanglah pengawal pribadi Kris, sekaligus sahabat bagi Tuan Muda Wu itu. Ia sudah bekerja selama 8 tahun terakhir hingga kini untuk menjaga Kris. Namja bermarga Kim itu merupakan seorang yatim piatu yang sebelumnya tinggal di panti asuhan.
8 tahun yang lalu Kai pernah menolong Kris dan adiknya dari anak-anak badung jalanan yang mengganggu kedua putra Wu itu. Kai yang memang memiliki keahlian bela diri mengusir anak-anak badung itu. Dan sejak itu, Tuan Besar Wu mengajak Kai dan menawarinya untuk menjadi penjaga anaknya. Alasannya karena anaknya seumuran dengan Kai, maka akan lebih mudah baginya membaur dengan kehidupan anaknya.
Keluarga Wu juga semakin mengasah kemampuan bela diri yang dimiliki Kai bersama kedua putranya. Namun yang bertahan hingga kini hanya salah satu dari anaknya, karena Kris memilih untuk tidak melanjutkan seni bela dirinya.
"Shi, Tuan Muda. Tapi ini sudah menjadi tugas saya untuk bersikap sopan pada semua Keluarga Wu, termasuk anda Tuan Muda."
"Baiklah. Terserahmu saja. Tapi jangan pernah besikap seperti ini di sekolah. Ni mingbaile ma ? (Kau mengerti ?)"
"Wo mingbaile. (Saya mengerti.)" jawab Kai dengan sopannya. Sebenarnya Kris tidak menyukai Kai yang bersikap formal padanya. Tapi ia juga tidak ingin Kai mendapat hukuman dari Baba-nya seperti waktu itu karena Kai tidak berkata formal padanya. Padahal itu adalah permintaan Kris sendiri.
"Apa Chanyeol akan datang malam ini ?"
"Shi, Tuan Muda Chanyeol sedang dalam perjalanan kemari bersama beberapa pengawal."
"Beberapa pengawal ? Ia menolak untuk pulang lagi ?"
"Shi Tuan Muda." Mendengar jawaban Kai itu, Kris hanya bisa mengembuskan nafasnya dengan berat.
"Baiklah, ayo kita keluar." Ujar Kris lagi yang berjalan mendahului. Kai membungkukkan badannya saat Kris lewat dihadapannya. Sementara pelayan kamar mewah milik Kris lainnya membukakan pintu kamar untuk namja itu keluar.
Di depan kamar, Kris baru saja melihat adiknya melintas bersama beberapa pelayan dan pengawal di belakangnya. Buru-buru ia memanggilnya.
"Chanyeol." panggil Kris lantang.
Membuat namja bertubuh atletis yang ia panggil itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Begitu pula dengan beberapa pelayan dan pengawal yang mengikutinya. Dan begitu melihat sosok Kris, serentak mereka membungkukkan badan untuk memberi hormat.
Kris menghampiri adiknya dengan senyum lebar yang terpampang jelas dalam wajah tampan setengah Kanada itu. Ia hendak memeluk didi-nya. Namun tiba-tiba Chanyeol mengelak dengan ikut membungkukkan badannya seperti pelayan dan pengawalnya pada Kris.
"Aah.. Gege. Oopss, maksud saya, Tuan Muda Wu Yi Fan." Ucap Chanyeol dengan nada mengejek setelah ia membungkukkan badannya.
"Selamat malam, Tuan Muda. Senang bertemu dengan anda di rumah megah ini."
"Chan-"
Chanyeol mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat pada gege-nya yang kembali berjalan mendekatinya.
"Sampai bertemu di meja makan, Tuan Muda Yi Fan." Ucap namja itu lagi lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan menuju tempat tujuan utamanya.
Para pengawal dan pelayan yang sedari tadi membungkuk pada Kris ikut berlalu mengikuti langkah Chanyeol. Kris masih tak habis pikir dengan apa yang barusan adiknya katakan. Tuan Muda Yi Fan katanya ? Ck !
.
.
Malam itu ruang makan tampak lebih tertata dengan rapinya dibanding hari-hari biasanya. Itu dikarenakan Tuan Besar Wu datang berkunjung dari China untuk menemui anak-anaknya di Korea. Kunjungan pertama setelah hampir setengah tahun tak bertemu.
Chanyeol memasuki ruang makan dengan hati berat. Diikuti oleh Yifan di belakangnya. Mereka berdiri bersampingan lalu membungkukkan badan memberi hormat pada namja berkebangsaan China yang tengah duduk di ujung meja makan berbentuk persegi panjang di tengah ruangan itu.
Namja yang sudah tampak tua dengan uban yang menutupi rambut kelam hitamnya itu mempersilahkan kedua puteranya menduduki kursi yang berada di sisi meja makan. Kemudian memerintahkan seluruh pelayan dan pengawalnya untuk keluar dari ruangan itu.
"Selamat malam, Baba." Sapa Yifan. Suasana hening masih menyelimuti ketiganya.
"Senang bisa bertemu dengan Baba malam ini." Kata Chanyeol kemudian. Namja paruh baya itu melirik kedua puteranya bergantian.
"Kudengar hubungan kalian mulai memburuk sejak pengumuman mengenai ahli waris 5 bulan yang lalu. Benarkah itu ?"
"Kelihatannya ya." Jawab Chanyeol seenaknya tanpa memperhatikan sopan santun yang biasa ia tunjukkan pada namja paruh baya itu.
"Wu Chanyeol !" bentak sang Baba membuat pemilik nama membulatkan matanya sesaat. Tapi untuk detik berikutnya, ia melayangkan seringaian yang terlihat mengerikan di mata Yifan.
"Wahah !" ucap Chanyeol tercengang.
"Bahkan Baba-ku sendiri sekarang tak lagi memanggilku dengan nama China-ku. Apakah aku sudah menjadi orang asing disini ? Hah !" lanjutnya dengan bentakan pula.
"Chan Lie~err !" ucap Yifan memanggil Chanyeol dalam nama Chinese-nya.
"Ahah ! Akhirnya gege-ku angkat bicara juga. Baiklah, kurasa sebaiknya aku membiarkan antara Baba dan putera tersayangnya ini untuk berbicara. Aku akan pergi."
Chanyeol berdiri dari kursinya dan beranjak pergi meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan atau memberi hormat pada namja berstatus Baba-nya itu. Pikirannnya sudah kalut akan kemarahan.
Yifan ikut berdiri untuk mengejar Chanyeol yang sudah membuka pintu ruang makan.
"Chan Lie~err !" panggilnya.
"Duduklah." Suruh Tuan Wu dan Yifan hanya bisa menurutinya.
"Baba, kurasa ini semua tidak adil bagi kami. Jelas-jelas Chanyeol adalah-"
"Diamlah, Yifan ! Kita sudah pernah membahas masalah ini sebelumnya." Sela Tuan Wu sedikit membentak. Yifan menghela nafasnya berat.
"Hmmh. Ada apa dengan kedatangan Baba kali ini ?" tanya Yifan to the point. Ia paham benar mengenai sifat Babanya ini, setiap kedatangannya pastilah memiliki maksud tertentu.
"Aku ingin kau menghentikan pekerjaanmu sebagai model itu." Kris yang sedang menyuap sesendok makan malamnya seketika terdiam. Baba-nya ini jika berbicara memang tidak pernah berbasa-basi terlebih dahulu. Namja paruh baya itu kembali melanjutkan perkataannya.
"Sebagai ahli waris, sudah sepantasnya kau mendapatkan pasangan yang terbaik. Dan juga demi kemajuan perusahaan kita. Bersiaplah untuk pertunanganmu, Wu Yi Fan !"
.
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
.
Hai Hai Chinguuuu….
Eothe ? Eothe ? Ceritanya udah kayak sinetron yah ?
Next or End ? Di tunggu Review-nya ne.
Semoga Chap ini memuaskan kalian. Walaupun ini terlalu pendek. Mian PC gak bales review kalian satu-satu ne. Hehee…
Ohiya, minggu depan PC izin hiatus dulu ya. Mau ujian soalnya. Hehe. Gak lama-lama kok. Ntar siap ujian PC come back. :D
Bye-bye. SEE YOU LATER !
MY BIG THANK'S to :
celindazifan | Aiko Michishige | deveach | hunexohan | wuziper | Keewanii | anis. l. mufidah | Kirei Thelittlethieves | Dandeliona96 | TaoziFanfan | Shim Yeonhae | Ko Chen Teung | annisakkamjong | YuRhachan | Ema Namikaze |
