Title : Love is Never Flat Chapter 4
Author : adindaPCy
Length : Chapter
Genre : Romance, little Sad (?)
ChanTao – KrisTao – SuTao
Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun
.
Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !
Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak
Cerita gak sesuai judul –mungkin.
WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !
DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !
Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….
So ….
Happy Reading !
And NO PLAGIAT !
.
.
.
Chapter sebelumnya …
"Hmmh. Ada apa dengan kedatangan Baba kali ini ?" tanya Yifan to the point. Ia paham benar mengenai sifat Babanya ini, setiap kedatangannya pastilah memiliki maksud tertentu.
"Aku ingin kau menghentikan pekerjaanmu sebagai model itu." Kris yang sedang menyuap sesendok makan malamnya seketika terdiam. Baba-nya ini jika berbicara memang tidak pernah berbasa-basi terlebih dahulu. Namja paruh baya itu kembali melanjutkan perkataannya.
"Sebagai ahli waris, sudah sepantasnya kau mendapatkan pasangan yang terbaik. Dan juga demi kemajuan perusahaan kita. Bersiaplah untuk pertunanganmu, Wu Yi Fan !"
Chapter 4
Trak.
"Ah !"
Seorang yeoja jatuh terduduk setelah mencoba latihannya dengan sebuah tongkat sepanjang kurang lebih 2 meter. Nafasnya terengah-engah dengan keringat yang mengalir di wajah putihnya. Sedikit meringis saat menggerakkan pergelangan kaki kirinya. Mungkin terkilir saat ia mencoba gerakan memutar dengan loncatan di akhir gerakan.
Seorang namja yang sedang ikut memimpin latihan sore itu menoleh saat mendengar suara yeoja yang tak asing lagi baginya. Segera ia menghampirinya setelah memberi alih latihan pada rekannya yang lain.
"Gwaenchana ?" tanyanya khawatir.
"Gwaenchana. Auw.. ssshh."
"Apanya yang baik-baik saja kalau begini ? Ayo, kau harus istirahat." Ucap namja itu sembil mengalungkan lengan sang yeoja pada lehernya.
"Aku masih ingin latihan."
Tao bersikeras untuk memaksakan latihannya. Sebentar lagi pertandingan wushu akan diadakan. Ia ingin jadi yang terbaik. Hanya itu yang ada dalam pikirannya tanpa memikirkan bagaimana cedera kakinya.
"Kau ingin latihan dengan kaki seperti ini ?"
"Aakkhh ! YAK ! Apa yang kau lakukan pada kaki-ku, bodoh ?" teriak Tao saat Chanyeol dengan sengaja menekan kakinya yang terkilir. Namja itu terkekeh pelan melihat reaksi Tao.
"See ? Kau terlalu bodoh jika memaksa latihan dengan kaki terkilir. Ayo." Ajak Chanyeol lagi. Kini ia tidak melingkarkan tangan yeoja itu pada lehernya lagi. Ia hanya mengulurkan tangannya.
Sedikit mendesah kesal, akhirnya Tao menyambut tangan kekar Chanyeol. Tak ada pilihan lain. Benar kata Chanyeol, sebaiknya ia beristirahat sebentar dan berdoa semoga kakinya hanya terkilir biasa.
Chanyeol memapah Tao hingga bangku yang tersedia di pinggir ruang latihan. Perlahan namja itu membantu Tao duduk. Yeoja itu merasa tidak enak pada Chanyeol. Suasana akan langsung berubah canggung tiap kali mereka bersama. Terlebih saat ini jika mengingat Chanyeol yang mengantar Tao pulang pada malam Promnite. Tao hanya menyampaikan terima kasihnya lalu masuk ke dalam rumah tanpa menawarkan pada Chanyeol untuk berteduh sementara di rumahnya. Sebenarnya yeoja itu merasa amat bersalah, namun apa daya jika rasa gengsinya masih memenangkan hatinya.
"Aaisshh…. Pelan-pelan." Pinta Tao saat Chanyeol mulai mengurut kakinya.
Namja itu tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari kaki Tao. Senyum itu, terlihat menenangkan bagi Tao. Ia baru menyadari kalau senyum yang selalu namja itu berikan padanya secara tulus terlihat indah. Chanyeol tampan ? Sempat terbersit dalam pikirannya kata itu.
"Kenapa melihatku seperti itu ? Aku tampan ya ?" p
Perkataan Chanyeol barusan berhasil merusak imajinasi dalam pikiran Tao. Buru-buru yeoja itu memalingkan wajahnya saat Chanyeol menatapnya dengan senyum yang sama.
"Kau terlalu percaya diri. Aww !"
"Nah sudah selesai. Sebaiknya selama seminggu ini kau tidak perlu latihan dulu. Istirahat saja. Pertandingan masih sebulan lagi." Ucap Chanyeol sembari menurunkan celana panjang Tao yang sempat ia gulung hingga lutut. Baru saja Tao membuka mulutnya, Chanyeol menyela lebih dulu.
"Ikuti perkataanku jika tidak ingin kakimu cedera lebih parah dari ini."
Tao akhirnya bungkam. Ia menundukkan kepalanya dan menarik kakinya perlahan dari atas paha Chanyeol.
"Gomawo." Ucapnya pelan.
"Ne." jawab Chanyeol.
Tao menoleh pada namja di sampingnya itu. Lagi-lagi ia melihat senyum tulus itu. Oh Zitao, kemana saja kau selama ini hingga baru menyadari senyum tulus Chanyeol yang selalu diberikannya padamu ?
"Berkemaslah, Tao. Latihan untuk hari ini selesai. Dan ingat kata-kataku untuk beristirahat. Apalagi saat ini liburan sekolah. Manfaatkan dengan baik."
Tao hanya terdiam sampai Chanyeol pergi meninggalkannya. Nasihat lembutnya. Semakin membuat Tao merasa bersalah padanya. Cukupkah jika ia hanya dengan mengatakan 'gomawo' saja pada namja itu?
.
.
.
.
Tao berjalan tertatih menuju halte seorang diri. Merasakan sakit pada pergelangan kaki kirinya, ada baiknya jika ia menuruti perkataan Chanyeol. Pelan yeoja itu menghela nafasnya. Lalu duduk menunggu bus malam yang lewat.
Jderr.
Suara petir baru saja terdengar memecah keheningan dalam kesendiriannya. Tao menggosok-gosokkan telapak tangannya mencari kehangatan sembari berdoa agar bus cepat datang dan ia tidak kehujanan.
"Cepatlah." Gumam Tao terus menggosok telapak tangannya.
"Tao."
Suara bass seorang namja menghampiri telinga yeoja yang masih asik menunduk sambil menggosok tangannya disertai suara motor yang berhenti tepat di depannya.
Tao menoleh. Chanyeol, batinnya.
"Kau sendiri ? Ayo kuantar pulang." Kata namja itu dari motor yang ia kendarai. Dan jangan lupakan senyum khas seorang Chanyeol yang diberikannya pada Tao.
Tao masih diam tak bergeming. Ia masih saja menatapi Chanyeol tanpa ekspresi. Melihat itu, membuat Chanyeol gemas dan turun dari motornya menghampiri Tao.
"Kau tak mau kuantar pulang ?" tanyanya lagi.
Jderr.
Lagi-lagi petir menggelegar disertai kilatan cahaya. Tao yang kaget spontan memeluk tangan Chanyeol yang berdiri di depannya. Chanyeol juga kaget, hanya saja ia bisa lebih mengendalikan dirinya. Namja itu tersenyum kecil mendapati reaksi Tao.
"Tenang, ada aku disini." Ucapan Chanyeol menyadari Tao kalau yeoja itu masih memeluk tangannya dengan mata terpejam.
"Ah, m-mian. Aku tak sengaja." Ucap yeoja itu kikuk.
"Sebaiknya kau kuantar pulang saja sebelum hujannya turun. Busnya mungkin datang terlambat. Bagaimana ?"
Chanyeol diam menunggu jawaban dari Tao. Hingga akhirnya ia mendapati sebuah anggukan dari yeoja itu.
Namun sayangnya baru saja ia berbalik, hujan mengguyur dengan derasnya. Chanyeol tampak merutuki hujan tersebut. Kini motornya juga terpaksa ikut basah.
"Kau duduklah dulu. Tunggu sampai hujannya berhenti baru pulang." Kata Tao sambil menarik tangan Chanyeol untuk duduk di sampingnya.
"Hehee… mian. Kita jadi harus menunggu hujannya reda dulu."
Chanyeol meminta maaf pada Tao dengan sedikit tertawa. Kepalanya tertunduk dan ia menggaruk tengkuknya walau tidak terasa gatal.
"Gwaenchana. Aku bisa menunggu." Ucap Tao sedikit keras agar terdengar karena hujan begitu deras membuat suara mereka terdengar samar-samar.
"Ah, busnya sudah datang." Kata Tao sambil memperhatikan bus yang berjalan mendekati halte. Biarpun tidak terlalu jelas, Chanyeol masih menangkap suara yeoja itu dan mengikuti arah pandangannya.
Apa ia akan meninggalkanku, batin Chanyeol.
Tao tetap memperhatikan bus itu hingga lewat di depan mereka. Tanpa memberhentikan bus itu atau bergerak memberi kode agar bus berhenti, ia hanya diam saja. Chanyeol sedikit mengerutkan keningnya. Bukankah lebih baik jika Tao pulang dengan bus saja agar ia tidak kehujanan.
"Tao, kau tidak pulang dengan bus saja agar tidak terlalu lama menunggu hingga hujan reda ?"
"Memangnya kau mau aku meninggalkanmu sendiri disini ?" bukannya menjawab, Tao malah balik memberikan Chanyeol pertanyaan.
"Tidak apakah ?"
"Hm." Jawab Tao sambil mengangguk tanpa melihat pada namja yang duduk di sampingnya itu.
"Chanyeol." panggil Tao membuat dada namja yang dipanggil namanya itu berdesir hebat.
"Bagaimana kalau kita pulang sekarang ?" tawar Tao lalu menoleh pada Chanyeol. Namja itu sedikit melebarkan matanya mendengar ucapan Tao.
"Tapi inikan masih hujan." Namja itu mencoba untuk menolak.
"Ayo kita hujan-hujanan 'lagi'." Kata Tao lagi. Kini disertai dengan senyumnya. Membuat Chanyeol tak kuasa membalas senyum indah dari bibir tipis peach milik Tao. Terlebih lagi karena yeoja itu mengatakan kata 'lagi' dalam ajakannya.
Oh God, bolehkah Chanyeol berharap kali ini ?
.
.
.
.
Dan kini berakhir dengan Tao dan Chanyeol yang pulang menerobos derasnya hujan. Keduanya sampai dengan tubuh basah kuyup di depan rumah Tao. Yeoja itu membuka jaket Chanyeol yang dipakainya selama perjalan tadi. Itu adalah permintaan Chanyeol sendiri agar ia menyetujui ajakan Tao.
"Kau basah. Mampirlah sebentar untuk mengeringkan pakaianmu sambil menunggu hujan reda."
Chanyeol tampak ragu untuk menerima tawaran Tao itu. Ini kali pertamanya ia bisa sedekat ini dan mendapat perhatian lebih dari Tao. Sedikit aneh rasanya tapi menyenangkan baginya.
"Tak apa. Orang tua-ku tidak ada di rumah. Nanti kau juga bisa mengatakan pada orang tua-mu kau ada di rumahku. Mereka pasti mengerti. Ayolah." Ajak Tao lagi. Kini yeoja itu malah menarik tangan Chanyeol memasuki rumahnya. Chanyeol yang mendapat tarikan itu semakin mengembangkan senyumnya lebar.
Keduanya memasuki rumah dengan gaya sederhana yang terlihat cukup mewah dalamnya. Walah tidak sebesar dan semewah rumah milik Chanyeol tentunya. Namun suasananya terasa lebih menyenangkan bagi Chanyeol.
Tao membawa Chanyeol hingga kamar tamu yang terletak di sebelah ruang tamu. Ia juga meminjamkan pakaian baru untuk ganti Chanyeol yang memang sudah disediakan dalam kamar tamu. Jaga-jaga jika ada tamu yang menginap tidak membawa pakaian ganti.
"Kalau kau mencariku, aku ada di kamar atas." Ucap Tao sebelum meninggalkan Chanyeol sendiri di kamar tamu yang cukup luas itu. Namja itu hanya mengangguk senang. Sementara jantungnya sedari tadi terus berdegup kencang apabila Tao melihat dan berbicara padanya.
.
.
.
.
Chanyeol keluar dari kamar sehabis membersihkan tubuhnya. Perutnya terasa lapar. Ini sudah malam, dan sudah waktunya untuk makan malam juga. Tapi ia bingung, ini bukan rumahnya sendiri, tidak mungkin ia pergi ke dapur dan memasak sesuatu disana tanpa permisi pada sang tuan rumah.
Apa aku ke kamarnya saja ya ? pikir Chanyeol saat ia berdiri di depan tangga melingkar menuju lantai dua rumah itu.
"Chanyeol." panggil Tao yang melihat wajah bingung Chanyeol.
"Eoh, m-mian. A-aku baru saja mau ke kamarmu. Aku tidak bermaksud apa-apa." Ujar Chanyeol gugup. Lagi-lagi ia menggaruk tengkuknya dengan tangan kanannya semetara tangan kirinya berada di perutnya. Melihat itu Tao malah tersenyum geli.
"Kau lapar ?" Chanyeol memasang wajah bingungnya melihat senyum Tao yang ditujukan padanya itu.
"Ayo ke dapur. Aku sudah memasak. Tapi hanya ada ramyun dan udang goreng saja. Tidak apakan ?"
"Ah ne." jawab Chanyeol sembari mengikuti langkah Tao menuju dapur.
Dapur yang cukup besar karena terdapat meja makan persegi berukuran sedang disana. Chanyeol mengambil duduk disalah satu sisi meja. Sementara Tao masih memindahkan beberapa piring ke meja makan lalu duduk di hadapan namja itu.
Sungguh ini terasa seperti dinner dalam kencan buta. Dan juga sikap Tao tadi terkesan seperti sedang melayani suaminya. Benar-benar khayalan tingkat tinggi seorang Wu Chanyeol !
"Kau melamun ? Kenapa udang gorengnya tidak dimakan ? Tidak enak ya ?" tanya Tao saat mendapati namja di depannya itu hanya memandang udang goreng dalam piringnya dengan tatapan kosong.
"Eoh ? A-anio. Aku suka. Ini enak kok. Kau memasaknya sendiri ?"
"Tentu saja." Jawab Tao sambil tersenyum.
Huang Zi Tao yang sedang duduk bersama dengannya malam ini sangat berbeda dengan Huang Zi Tao yang sering ia jumpai di sekolah dan tempat latihan wushu-nya. Penuh dengan senyum dan perhatian.
"Eoh, orang tua-mu dimana Tao~ya ?" tanya Chanyeol membuka pembicaraan untuk menghilangkan suasana hening diantara mereka.
Tao yang bersiap memasukkan makanannya ke dalam mulut seketika terdiam dengan tangan yang masing bergantung. Ia tersenyum miris memandang sendok yang sedang dipegangnya.
"Orang tua-ku sudah bercerai. Eomma-ku tinggal dengan suami barunya. Dan Appa jarang pulang. Mungkin ia lebih senang tinggal dengan para pasiennya di rumah sakit ketimbang denganku. Hahaaa…. Mian, aku jadi cerita tentang keluargaku."
"Ah tidak. Harusnya aku yang meminta maaf padamu, Tao~ya. Maaf membuatmu terpaksa menceritakannya padaku."
"Gwaenchana." Senyum Tao lagi.
Makan malam berlalu dengan sedikit perbincangan dari keduanya. Walau terasa sedikit canggung, Chanyeol tetap menikmatinya tanpa melewatkan sedetik pun kebersamaannya dengan Tao.
Selesai makan, Tao menyuruh Chanyeol untuk beristirahat di ruang keluarga atau di kamar, karena ia harus membersihkan piring bekas makan mereka. Tapi yang ada, namja tinggi itu malah bersikeras untuk membantu Tao mencuci piring. Sesekali Tao melirik pada Chanyeol yang berdiri disamping kanannya.
"Kenapa kau sedari tadi garuk-garuk terus ? Apa bajunya ada kutunya ya karena terlalu lama disimpan dalam lemari ?"
"Ah mian. Kurasa tidak, Tao~ya. Mungkin aku tadi mandinya kurang bersih." Jawab Chanyeol sambil sesekali menggaruk.
Sungguh badannya terasa gatal sekali kini. Ia juga mulai merasa lemas dan pusing. Tapi ia terlalu malu untuk menggaruknya di depan Tao. Dan jadilah ia yang sedang menahan gatal kini.
"Omo Chanyeol ! Wajahmu kenapa ? Kau demam ?"
Kaget Tao saat mendapati bintik-bintik merah pada wajah Chanyeol. Ia menangkup wajah namja itu dan reflek mengusap-usap pipi putih Chanyeol yang kini berubah merah-merah. Membuat wajah Chanyeol terasa semakin panas saja.
"Omo ! Tanganmu juga !"
Tao semakin panik saat melihat tangan Chanyeol yang terdapat bintik-bintik merah. Yeoja yang tengah dilanda panik itu langsung saja membawa Chanyeol ke kamar tamu dan menyuruhnya berbaring disana.
"Kau sakit ? Kenapa tidak bilang dari tadi ?"
Chanyeol hanya menggeleng dan menerima sebuah sweater hangat yang diberikan Tao. Namja itu duduk untuk memakainya.
"Gwaenchana. Mungkin alergi-ku kambuh." Jawab Chanyeol disertai cengiran khasnya. Bisa-bisanya ia tertawa seperti itu disaat sakit, batin Tao.
"Alergi ? Jangan-jangan kau tidak bisa memakan seafood ya ?"
Mata Tao seketika membola saat mengingat makan malam mereka dan gejala-gejala yang timbul pada tubuh Chanyeol. Namja itu mengangguk dengan senyum yang belum lepas sedari tadi.
"Pabbo ! Kenapa tadi tidak bilang padaku ? Aku kan bisa memasak yang lain. Tunggu sebentar aku akan mengambil obat untuk alergimu." Omel Tao yang lalu keluar dan membawa segelas air putih dan obat yang ia maksud. Chanyeol tersenyum kecil melihatnya.
"Ja, minumlah." Tao menyodorkan gelas dan obat itu pada Chanyeol yang langsung diminum olehnya.
"Mianhae aku merepotkanmu, Tao~ya."
"Harusnya aku yang minta maaf padamu karena tidak bertanya dulu apa kau bisa memakan seafood atau tidak. Ohya, di luar masih hujan. Rasanya tidak mungkin kalau kau pulang sekarang. Tulis nomor orang tua-mu disini. Biar aku hubungi mereka."
Tao menyodorkan ponselnya pada Chanyeol yang masih berbaring.
"Tidak usah, Tao. Percuma saja menelpon mereka. Orang tua-ku tinggal di China." Jawab Chanyeol tanpa berbohong. Yah walaupun Babanya sempat ke Seoul beberapa waktu yang lalu, tapi itu tidak lama. Keesokan harinya beliau akan langsung bertolak ke China lagi.
"Jinja ? Lalu selama ini kau tinggal dengan siapa ?"
"Aku tinggal sendiri di apartemen."
"Aigoo…. Kalau begitu malam ini menginap disini saja, ne. Biarkan aku merawatmu. Ini semua juga kan karena-ku. Kalau saja aku tidak mengajakmu pulang hujan-hujanan dan memakan udang goreng itu-"
"Gwaenchana, Tao~ya. Besok juga gatal-gatalnya akan hilang. Aku hanya butuh istirahat." Sela Chanyeol memotong ucapan Tao yang malam itu terlihat sangat cerewet. Chanyeol terkekeh kecil menghadapinya. Benar-benar berbeda dengan Tao yang sering ia jumpai selama ini. Tidak ada sikap acuh dan dingin dari yeoja itu. Yang ada hanya senyum penuh perhatian yang membuat Chanyeol semakin jatuh hati pada sosok Huang Zi Tao.
Tampak Tao menghela nafas. Ia merasa sedikit tidak enak pada Chanyeol, mungkin ia terlalu cerewet dan suaranya membuat kepala namja itu semakin pusing.
"Baiklah, istirahatlah kalau begitu. Aku keluar dulu ne. Kalau perlu sesuatu panggil saja aku." Setelah mendapat anggukan dari Chanyeol, Tao membetulkan sedikit selimut Chanyeol lalu keluar.
"Kau juga istirahat ne. Aku tahu kakimu pasti masih sakit." Tao sedikit merona dengan ucapan Chanyeol itu. Ia hanya mengangguk dan menutup pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Sementara Chanyeol yang mendapat perlakuan seperti itu serasa ingin terbang ke langit 7 karenanya.
Aku mohon padamu, Tuhan. Doanya dalam hati.
.
.
.
.
"Dimana Chanyeol ?" cemas Kris saat mendapati adiknya tidak ada dalam apartemennya. Tadinya ia dan Kai tidak berencana untuk mengunjungi Chanyeol. Hanya saja saat dalam perjalanan pulang, hujan mengguyur dengan derasnya dan kebetulan mereka ada di kawasan apartemen Chanyeol. Kris mengusulkan agar mereka singgah sebentar di apartemen Chanyeol hingga hujan reda.
"Hari ini adalah jadwal Tuan Muda Chanyeol untuk latihan wushu. Mungkin ia terjebak hujan dan berteduh dulu." Ujar Kai untuk menenangkan sang Tuan Muda yang sedari tadi terus menanyakan 'dimana Chanyeo ?l'.
Kris menghela nafasnya. Sesekali ia memijat batang hidungnya untuk meredakan stress. Baru saja ia pulang dari perusahaan yang menaunginya sebagai model untuk melaksanakan resign sesuai keinginan Babanya beberapa waktu lalu. Dan ternyata sebelum ia datang, Babanya sudah datang terlebih dahulu untuk memutus kontrak kerjanya. Tak pernah terpikir baginya Babanya akan repot-repot mengurus kontrak kerjanya.
"Aku ingin menunggu Chanyeol disini."
"Kita menginap ?"
"Kurasa ya. Aku rindu tidur dengan didiku."
.
.
.
.
Ddrrttt. Ddrrttt.
"Yeobosaeyo ?" ujar Kyungsoo dengan suara serak khas bangun tidur. Ia sempat merutuki orang yang meneleponnya sepagi ini. Tidak tahukah ia semalaman Kyungsoo bergadang mengerjakan tugas OSIS-nya untuk program tahun ajaran baru ?
Oh Kyungsoo, tentu saja Luhan tidak tahu. Dan jika kalian tanya siapa yang menelpon Kyungsoo pagi ini, tentu saja pelakunya adalah salah satu sahabatnya yang paling usil, Xi Luhan.
"Kyungsoo~ya, kau sudah bangun ?"
"Belum."
"Benarkah ?"
"Ya Tuhan, Xi Luhan ! Kalau aku belum bangun bagaimana bisa aku menjawab teleponmu, eoh ? Kau kira dalam mimpiku aku bisa menerima teleponmu. Hah ?" rutuk Kyungsoo dengan nada tinggi.
"Aigoo Kyungsoo~ya, jangan teriak-teriak seperti itu. Ini masih pagi."
"Memangnya kenapa ? Aiisshh…. Cepat katakan apa maumu menelponku sepagi ini."
"Kau tahu-"
"Tidak."
"YAK ! Jangan memotong pembicaraanku." Tampaknya orang di seberang sana mulai garang.
"Hehe, mian. Lanjutkan."
"Tadi malam agensi Kris sunbae mengumumkan kalau Kris sunbae menyatakan keluar dari agensi dan berhenti menjadi seorang model. Pagi ini beritanya sudah menjadi berita paling HOT se-Korea."Luhan memulai ceritanya dengan semangat. Tak lupa ia memberi tekanan nada pada kata HOT dalam kalimatnya.
Kyungsoo menghela nafasnya kesal. "Kau menelponku hanya untuk mengatakan itu ?"
"Ne. Memangnya kenapa ?" jawab Luhan tanpa rasa bersalah.
"XI LUHAAAANNN ! Kau benar-benar menyebalkan. Memang apa gunanya kau mengatakan itu padaku ? Harusnya kau menelpon Tao. Bukan aku ! Aiisshh !" gerutu Kyungsoo dengan mata bulatnya yang masih ia tutup rapat. Terlalu malas untuk membukanya walau ia sedang tidak tidur kini.
"Eoh ? Benar juga ya. Hehee, kalau begitu maafkan aku yang sudah mengganggu masa hibernasimu ne."
"XI LUHAAAAANNN ! KAUUU-"
"Kyungsoo~ya." Panggil Luhan lagi. Entah benar atau tidak, Kyungsoo merasa kali ini Luhan memanggilnya dengan nada yang terkesan serius. Entah Luhan memang ingin mengatakan hal serius padanya atau hanya nada yang ia buat-buat.
"Mwo ?" tanya Kyungsoo malas.
"Kau ingatkan masalah antara Kris sunbae yang tiba-tiba marah pada Tao saat malam Promnite ?"
Kyungsoo diam sejenak untuk mengingat waktu itu. Dengan mata yang masih menutup, dahinya perlahan mulai berkerut.
"Ne. Wae ? Aku tiba-tiba menjadi badmood jika membicarakan tentang perlakuan namja itu pada Tao kemarin." tanya akhirnya setelah ia mengingat kejadian itu.
"Bukankah itu aneh jika Kris sunbae tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas ?"
"Memang aneh. Tapi apa peduliku ? Dimataku ia adalah namja yang brengsek."
"Kurasa sebenarnya ia menyukai Tao."
"Kenapa kau berpikir seperti itu ?"
"Tadi malam ada berita yang mengatakan kalau Kris sunbae keluar dari agensi karena permintaan Appa-nya dan ia juga akan bertunangan. Mungkin saja Kris sunbae tahu kalau Tao menyukainya, dan kebetulan ia juga menyukai Tao. Jadi untuk menghentikan perasaan mereka, Kris sunbae terpaksa harus menyakiti hati Tao agar Tao menjauhinya."
"Pikiran bodoh macam apa itu, eoh ? Kau terlalu banyak menonton drama, Luhannie."
"Aish, jangan pernah menyinggung drama-drama yang ku tonton itu. Eoh ne, kemarin aku berjanji pada Tao untuk membuatkannya sarapan. Kau ikut aku ke rumahnya ?"
"Baiklah. Lay ikut ?"
"Kurasa tidak. Ia bilang ia akan pergi bersama calon mertuanya."
"Haahh, tak kusangka ia akan menikah secepat ini. Hahaa."
"Apa boleh buat. Ia juga tidak menginginkan hal itu. Tapi orang tuanya memaksa. Lagi pula ia akan menikah dengan orang yang ia suka. Kurasa itu tidak masalah. Yasudah cepatlah bersiap. Aku tidak ingin ia terlambat sarapan lagi seperti kemarin. Setengah jam lagi aku sampai di rumahmu. Annyeong."
"Nde. Annyeong."
.
.
.
.
Chanyeol meregangkan badan-badannya yang terasa kaku. Ia baru saja bangun dari lelapnya semalaman sehabis makan malam bersama Tao. Tao ? Oh ya, ia sekarang ada di rumah yeoja cantik itu. Namja itu tersenyum tatkala mengingat bagaimana senyum dan perhatian yeoja yang memiliki lingkar hitam di bawah matanya padanya.
Chanyeol melirik ke arah nakas dimana ponselnya berada. Namja itu bangun lalu mengantongi ponselnya. Membawa langkah kakinya keluar dari kamar yang ditempatinya. Sesekali ia menguap dan mengucek matanya. Membiasakan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Ia juga merasa tubuhnya lebih baik dibandingkan semalam. Gatal-gatalnya juga sudah mulai berkurang.
Cklek.
"Eoh ?"
Chanyeol terkesiap saat melihat tubuh Tao yang meringkuk di atas sofa ruang keluarga yang berada tepat di depan kamar tamu. Tanpa selimut dan hanya berbantalkan bantalan sofa.
Kenapa ia tidur disini ? Apa ia tidak kedinginan ? batin Chanyeol. Kakinya jenjangnya perlahan bergerak mendekati Tao.
"Tao." Panggil Chanyeol lembut. Sang pemilik nama tampaknya tak terusik sedikit pun saat Chanyeol memanggilnya. Membuat Chanyeol semakin gemas melihat Tao.
Ia benar-benar terlihat imut saat tertidur. Betapa beruntungnya kau bisa melihatnya tidur sedekat ini, Chanyeol. Pujinya pada dirinya sendiri.
"Tao~ya." Panggil Chanyeol lagi dengan suara bass-nya yang terdengar sedikit serak. Kini ia memberanikan diri untuk menyentuh tubuh mungil itu. Sedikit menggoyangkan tubuh Tao lebih tepatnya.
Tao hanya menggeliat kecil kemudian terlelap kembali. Namja itu tersenyum geli melihatnya. Ia lalu berjongkok di depan wajah yeoja itu dan bermaksud memanggil namanya lagi sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Tao kami da-. Chanyeol ?"
"A-apa yang kau lakukan pada Tao ?"
.
.
.
.
~ TBC ~
.
.
Annyeong chingudeul. Akhirnya PC comeback *cueilehh.
Hufftt. Maafkan PC yang telat update ne. Ternyata setelah selesai ujian malah banyak organisasi yang nyelenggarain acara. Kebetulan PC jadi panitianya. Jadi waktu PC nulis terbagi lagi deh buat acara-acara itu. Ini juga udah disempet-sempetin curi waktu buat nulis. Jadi mian kalo cerita tidak sesuai dengan harapan chingu sekalian.
Eotte ? Alurnya lambat banget ya ? Mian kalo di chap kali ini cuman ada ChanTao moment. PC cuman bikin awal kedekatan mereka dulu. Baru konfliknya ntar di chap selanjutnya ne. couple yang lain juga di chap depan aja yah.
Masih berminat untuk mengikuti FF ini dan meninggalkan REVIEW, FAVORIT, and FOLLOW kan chingu ? :D
MY BIG THANK'S to :
celindazifan | Aiko Michishige | deveach | hunexohan | wuziper | Keewanii | anis. l. mufidah | Kirei Thelittlethieves | Dandeliona96 | TaoziFanfan | Shim Yeonhae | Ko Chen Teung | annisakkamjong | YuRhachan | Ema Namikaze | amira. retno | nurul | MbemXiumin | Zillian Huang | buttao
