Title : Love is Never Flat Chapter 5

Author : adindaPCy

Length : Chapter

Genre : Romance, little Sad (?)

ChanTao – KrisTao – SuTao

Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun

.

Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !

Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak

Cerita gak sesuai judul –mungkin.

WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !

DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !

Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….

So ….

Happy Reading !

And NO PLAGIAT !

.

.

.

Chapter sebelumnya …

Chanyeol terkesiap saat melihat tubuh Tao yang meringkuk di atas sofa ruang keluarga yang berada tepat di depan kamar tamu. Tanpa selimut dan hanya berbantalkan bantalan sofa.

Kenapa ia tidur disini ? Apa ia tidak kedinginan ? batin Chanyeol. Kaki jenjangnya perlahan bergerak mendekati Tao.

"Tao." Panggil Chanyeol lembut. Sang pemilik nama tampaknya tak terusik sedikit pun saat Chanyeol memanggilnya. Membuat Chanyeol semakin gemas melihat Tao.

Ia benar-benar terlihat imut saat tertidur. Betapa beruntungnya kau bisa melihatnya tidur sedekat ini, Chanyeol. Pujinya pada dirinya sendiri.

"Tao~ya." Panggil Chanyeol lagi dengan suara bass-nya yang terdengar sedikit serak. Kini ia memberanikan diri untuk menyentuh tubuh mungil itu. Sedikit menggoyangkan tubuh Tao lebih tepatnya.

Tao hanya menggeliat kecil kemudian terlelap kembali. Namja itu tersenyum geli melihatnya. Ia lalu berjongkok di depan wajah yeoja itu dan bermaksud memanggil namanya lagi sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

"Tao kami da-. Chanyeol ?"

"A-apa yang kau lakukan pada Tao ?"

.

.

.

.

Chapter 5

"Jadi, ada yang bisa kalian jelaskan pada kami ?" interogasi Kyungsoo pada dua orang yang tengah duduk dengan kepala tertuntuk di hadapannya dan Luhan.

"Aah itu…."

"Aku menginap di Rumah Tao tadi malam karena kehujanan. Dan tadi aku hanya ingin membangunkan Tao. Sungguh." Jelas Chanyeol saat melihat Tao yang tampak gugup. Oh gosh, sejak tadi wajah keduanya masih tampak memerah.

Luhan mendengus kesal. Sementara Kyungsoo hanya menatap keduanya intens. Membuat Tao lama-lama merasa jengkel.

"Ayolah Lu, Soo, kami tidak melakukan apa-apa tadi malam. Aku tidak mungkin membiarkan Chanyeol pulang hujan-hujanan tadi malam. Bahkan semalam ia sempat demam karenaku."

"Baiklah, kami percaya." Ujar Kyungsoo akhirnya membuat Luhan mendelik padanya.

"Kau tahu bagaimana Tao dan Chanyeol kan, Lu ?" tanya Kyungsoo pada Luhan mengingat hubungan kedua orang itu yang tidak pernah dekat sejak dulu. Walau mereka tahu Chanyeol selalu berusaha mendekati Tao.

"Yasudah, aku memaafkan kalian. Ayo kita sarapan. Untung saja aku membawa banyak bubur." Ucap Luhan sembari beranjak dari duduknya menuju dapur membawa rantangan tempat makan yang dibawanya dari rumah tadi. Diikuti langkah ketiga orang lainnya di belakangnya.

.

.

.

.

"Kris, ayo bangun. Sebaiknya kita pulang. Siang nanti kita akan mengadakan konfrensi pers terakhirmu."

Kris hanya mendengus kecil mendengar seruan Kai itu. Sudah biasa bagi Kai tiap pagi harus menghadapi sifat pemalas Kris. Namja berkulit tan itu meraih ponsel Kris di atas nakas dan menghidupkan suara alarm dengan volume penuh. Kemudian menaruhnya tepat di samping Kris. Hanya cara ini yang mampu membangunkan seorang naga yang tengah tidur.

"Shit !" umpat Kris yang langsung terduduk. Ingin rasanya ia membanting ponselnya bersama Kai. Sementara sang pelaku hanya terkekeh kecil menuju kamar mandi.

Kris mengusap wajahnya dan sedikit mengusak rambut pirangnya. Ia meraih ponselnya dan mematikan dering alarm yang masih berbunyi itu dengan kerasnya. Ia melihat ke sekeliling kamar yang ditempatinya.

Chanyeol, batinnya.

"Chanyeol tidak pulang tadi malam. Mungkin ia menginap di rumah teman-temannya." Ujar Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi. Air yang mengalir dari rambutnya yang belum kering menandakan bahwa namja itu baru saja selesai mandi.

Cepat sekali ia mandi, pikir Kris.

"Kau cepatlah mandi. Kita harus bersiap sebelum konfrensi persmu siang nanti." Kata Kai lagi saat mendapati Kris masih saja melihatnya.

.

.

Tiit. Cklek.

Chanyeol baru saja membuka pintu apartemennya dengan sedikit lesu. Kepalanya masih terasa pusing, mungkin karena demamnya semalam.

"Kau baru pulang ? Kau tidur dimana semalam ?" tanya seseorang saat Chanyeol baru saja memasuki apartemennya. Chanyeol yang sudah hapal benar dengan suara itu langsung memasang wajah dinginnya kembali.

"Apa urusanmu ?" tanya Chanyeol dingin dan menatap sekilas pada Kris.

"Chanyeol." panggil Kris yang mengikuti langkah Chanyeol menuju kamar sang adik.

"Apa yang kalian lakukan disini semalam ?" geram Chanyeol saat mendapati kamarnya sedikit berantakan. Yah hanya sedikit. Hanya selimut yang belum terlipat rapi saja. Namun itu sudah membuat amarah Chanyeol naik sampai ubun-ubunnya.

"Maaf, semalam kami tidur disini. Aku menunggumu." Jelas Kris dengan nada rendah. Chanyeol memejamkan matanya sesaat.

"Pergilah. Aku sudah pulang. Tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi."

"Aku harus memastikan kalau kau benar-benar baik-baik saja. Kenapa kau terlihat pucat ? Kau sakit ? Dimana kau tidur semalam ?"

"Berpura-pura baik eoh ? Bersikaplah seperti biasanya, Kris Wu."

"Aku hanya bersikap seperti itu di luar. Disini kau tetap adikku, Chanyeol Wu."

"Benarkah ?" Chanyeol berbalik menghadap Kris dan menaikkan sebelah alisnya.

"Apa maksudmu ?" Kris melayangkan tatapan bertanya.

"Kudengar kau mengundurkan diri dari agensimu. Wae ? Apa karena perintah-NYA ?" desis Chanyeol dengan penekanan pada kata 'NYA'.

"Dia juga Baba-mu Chanyeol. Kau harus bersikap sopan padanya." Kris menghela nafasnya sesaat. "Baba memang menyuruhku untuk keluar."

Kini berganti menjadi Chanyeol yang menghela nafasnya. Cukup lama terdiam setelahnya, membuat Kris menatapnya intens.

"Aku ingin tanya sesuatu padamu. Ada hubungan apa kau dengan Tao ?" Kris tercekat mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Chanyeol. Apa yang harus ia jawab ? Ia tak tahu harus berkata apa sekarang. Apakah lebih baik ia jujur saja ?

"Tuan Muda Yifan hanya berteman dengan Tao." Bukan Kris lah yang menjawab. Melainkan Kai yang ikut nimbrung dalam percakapan kedua Tuan Mudanya itu. Terkesan kurang sopan memang. Tapi ia sudah dilatih untuk berbuat sesatu saat dilihatnya Kris tampak terpojok.

Chanyeol kembali menampilkan smirk-nya.

"See ? Kau bahkan tak mampu menjawabnya. Boleh ku tebak ? Apa kau menjadikan Tao sebagai bahan-permainanmu-lagi ? Dengan siapa kali ini kau bermain, Kris Wu ?"

"Tuan Muda-"

"Diam lah Kai !" Chanyeol menatap tajam pada Kai yang sudah melangkahkan kakinya selangkah mendekatinya.

Jujur saja, Chanyeol ingin sekali memukul gege-nya ini. Kris diam, itu artinya iya. Dan permainan yang dimaksud Chanyeol tadi adalah taruhan. Kris sering kali memainkan sebuah permainan yang ujung-ujungnya melibatkan seseorang dalam permainan mereka. Dulu saat ia masih berhubungan baik dengan Kris, ia juga pernah ikut bermain. Dan kali itu taruhannya adalah siapa yang kalah, ia harus memacari salah satu yeoja idola sekolah mereka hanya untuk 3 hari saja. Untungnya kali itu Chanyeol menang, dan yang kalah adalah Changmin, salah satu peserta permainan itu.

Sungguh permainan yang brengsek. Sejak saat itu Chanyeol tak pernah lagi ikut bermain apapun bersama dengan Kris dan teman-temannya. Tapi jangan salah sangka jika kalian mengira alasan Chanyeol membenci Kris karena permainan ini.

"Kenapa Tao yang kalian jadikan taruhan kali ini ?" kali ini terdengar suara Chanyeol yang merendah. Ia menatap ke bawah dengan pandangan sendu.

"Saat itu Changmin yang mengusulkan. Mereka bilang Tao menyukaiku. Apa salahnya jika aku memanjakan penggemarku sedikit."

"Lalu mencampakkannya ? Begitu ? Kau benar-benar brengsek Kris !" Chanyeol hampir saja melayangkan tinjunya jika tangannya tidak segera dipegang oleh Kai.

"Aku tahu aku salah. Aku juga menyesal. Aku akan meminta maaf padanya."

"Dia sudah membencimu."

"Aku akan berusaha mendekatinya."

"Lalu menyakitinya lagi ?" teriak Chanyeol tepat di hadapan Kris. Membuat Kris maupun Kai terkejut. Chanyeol tak pernah terlihat semarah ini, kecuali saat beberapa bulan lalu.

"Ada apa denganmu, Chanyeol~ah ? Kau … menyukai Tao ?"

.

.

.

.

"Suho, Lay, kalian cari saja cincin yang sesuai dengan keinginan kalian. Kalau sudah dapat, beritahu Eomma ne. Eomma mau melihat-lihat yang lain dulu." Suho maupun Lay mengangguk bersamaan. Sepeninggal Eomma Suho itu, suasana diantara mereka berubah menjadi canggung. Lay mencuri-curi pandang pada Suho yang tampak masih memandangi cincin-cincin di hadapannya.

"Lay."

"Eo-eoh ? Ne ?"

"Kau suka yang mana ?" tanya suara lembut itu. Suho menatap Lay lembut, membuat wajah yeoja berdimple itu tiba-tiba memerah.

"Kau kenapa ?"

"Eoh ? A-aku tidak kenapa-kenapa. Eoh, aku suka yang kau pegang." Tunjuk Lay pada cincin yang sedang dipegang oleh Suho. Suho melirik cincin itu lalu menatap Lay lagi.

"Benarkah ? Pilihan kita sama. Ayo kita beritahu Eomma." Suho berlalu lebih dulu. Ia tetap selembut biasanya. Namun kali ini Lay melihatnya seperti kurang bersemangat. Yeoja itu menepis pikiran-pikiran buruk yang sempat terlintas dipikirannya.

"Kalian sudah mendapatkannya ?" tanya Eomma Suho begitu melihat putra dan calon menantunya menghampirinya. Yeoja paruh baya itu tersenyum pada mereka.

"Ne." jawab Suho singkat. Ia memang tampak tak bersemangat hari ini.

Pemilihan cincin, itu artinya hari pertunangannya pun semakin dekat. Pikirannya hanya tertuju pada Zizi dan bagaimana caranya agar ia dan yeoja yang berstatus mantan yeojachingunya itu dapat bersatu lagi. Tapi lagi-lagi bayangan Lay yang tengah tersenyum padanya itu selalu melintas tiap kali ia juga memikirkan Zizi. Suho merasa jadi tidak tega pada Lay.

"Suho~ya, kau baik-baik saja ?" tanya Lay yang khawatir saat Suho hanya diam saja. Yeoja itu juga tahu kalau tatapan namja itu tengah kosong.

Suho ada disini. Tapi tidak dengan pikirannya.

"Eoh ? Ayo kita pergi." Ucap Suho yang baru menyadari dirinya tengah melamun tadi. Ia melangkah mengikuti Eommanya yang lebih dulu berjalan keluar dari toko perhiasan itu. Lay hanya diam. Namun langkahnya juga mengikuti kedua orang di depannya.

Tempat selanjutnya yang didatangi oleh Lay, Suho, dan Eommanya adalah butik. Disana ia dan Lay mengepaskan pakaian yang akan keduanya kenakan saat acara nanti. Setelahnya mereka pergi lagi menuju gedung yang dijadikan tempat acara berlangsung.

Suho menghela nafasnya. Antara lelah dan kesal. Ia tak pernah berpikir acara pertunangan saja dapat semewah ini. Bagaimana dengan acara pernikahannya nanti ? Ini terlalu berlebihan baginya. Walau bagi keluarganya dan Lay, ini masih terhitung biasa saja. Appa Suho adalah salah satu petinggi dalam perusahaan Freeport. Tak masalah baginya mengeluarkan banyak uang, terlebih ini acara menyangkut anak semata wayangnya.

Ddrrtt. Ddrrrtt.

Suho mengalihkan pandangannya pada ponsel di tangannya yang bergetar. Sebuah panggilan masuk dari sahabatnya, Sehun.

"Yeobosaeyo ?"

"Suho~ya, kau sedang apa ? Ayo kita ke apartemen Chanyeol. Sepertinya tiang listrik itu sedang sakit. Suaranya terdengar parau saat kutelepon tadi."

"Jinja ? Ah, tapi aku sedang tidak ada di rumah. Aku sedang pergi bersama Eomma dan … Lay."

"Kau sedang mengurus acara pertunanganmu itu ya ? Berarti kau sedang sibuk ?"

"Saat ini ya. Tapi tunggu saja aku disana. Kurasa sebentar lagi selesai. Aku kesana saat jam makan siang."

"Baiklah. Bawakan kami makan siang juga ne. Hehehe."

"Haisshh. Kau ini. Ne. Aku tutup, eoh." Tut. Telepon ditutup bertepatan dengan Lay yang tiba-tiba muncul dihadapan namja angelic. Suho yang saat itu akan menatap ke depan terang saja sangat terkejut begitu mendapati wajah Lay tepat di hadapannya.

"OMO ! Kau mengagetkanku, Lay."

"Jinja ? Padahal aku sudah berdiri disini sejak tadi. Kau sedang ada masalah ? Sedari tadi kau diam saja."

"Tidak." Senyum Suho mengembang setelahnya. Sungguh manis, hingga Lay terpaksa memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Selalu saja begitu.

"Oh ya, Eomma bilang urusan disini sudah selesai. Eomma mau mengajak kita makan siang."

Baguslah. Aku bisa segera pergi dari sini, batin Suho.

"Dimana Eomma ?" Lay menunjuk pada yeoja yang tengah berbincang-bincang dengan seorang namja disana. Tampaknya namja itu mungkin orang yang mengurus gedung sewaan ini.

Suho menghampiri Eommanya. Yeoja itu tersenyum pada namja itu sebelum mengatakan terima kasih dan membawa Suho pergi.

"Ayo kita pergi makan siang dulu, Ho~ya."

"Mian Eomma. Kurasa aku tidak bisa ikut makan siang bersama kalian. Aku akan ke apartemen Chanyeol dan makan siang bersama Sehun disana."

"Su-"

"Eomma, aku pergi." Suho segera berlari sebelum Eommanya sempat mengatakan larangan terlebih dahulu. Suho tau yeoja itu pasti tidak memperbolehkannya, itu sebabnya ia memilih untuk langsung berlari.

"Suho ! Suho ! Kim Joon Myun ! Haissh, anak itu keterlaluan !"

"Ahjumma ? Ada apa ?" tanya Lay mendekat. Ia bingung melihat Suho yang tiba-tiba berlari dengan Eommanya yang berteriak-teriak memanggilnya.

"Ah, Lay. Kurasa kita akan makan siang berdua saja. Tak apa kan ?"

Sebenarnya Lay kecewa dengan Suho yang ternyata tidak ikut makan siang bersamanya. Tapi mau bagaimana lagi ? Namja itu sudah terlanjur pergi lebih dulu. Alhasil Lay hanya mengangguk dengan senyum yang ia paksakan.

.

.

.

.

Brukk.

Suho menaruh plastik berisi makanan di tangannya dengan sedikit kasar di meja yang terletak di hadapan Chanyeol dan Sehun yang tengah asik bermain PSP bersama. Ia mengerucutkan bibirnya sedikit, pertanda kesal.

"Ada apa denganmu ? Kau sedang datang bulan ?" tanya Chanyeol asal. Membuat Suho geram dan menjitaknya.

"Aahh." Ringis namja itu.

"Wooaahh…. Daebak ! Suho membawa semua yang ku pesan. Hahaha." Sehun langsung menghambur pada plastik di hadapannya. Dengan cekatan ia mengeluarkan semua makanan di dalam sana.

Tak !

"Aww. Yak ! Kenapa kau ikut memukul kepalaku ?" Sehun mengusap kepalanya yang baru saja mendapat hadiah jitakan dari Suho.

"Kau bilang Chanyeol sakit. Tapi lihat ia sekarang. Ia bahkan terlihat lebih tinggi." Jawab Suho asal.

"Kau saja yang semakin pendek." Suho akan melemparkan sebuah pukulan bantal lagi jika saja Chanyeol tidak melerai keduanya.

"Aigoo, kalian ini seperti anak kecil saja. Aku memang sakit. Tapi tadi malam. Dah hari ini aku merasa sudah baikan."

"Kau kenapa ?" tanya Suho. Namja itu melirik Sehun yang sudah membuka salah satu bungkusan makanan dan melahapnya.

"Alergi-ku kambuh. Aku makan udang semalam. Hehee."

"Haahh…. Babo." Gerutu Suho sementara Chanyeol hanya memberikan cengirannya.

Ketiganya makan siang dengan makanan yang dibawa oleh Suho tadi. Sesekali terlibat pertengkaran saat mengambil lauk yang tersedia di meja. Setelahnya, Suho yang dibantu oleh Sehun mencuci piring sementara Chanyeol membersihkan ruang tengah yang mereka pakai sebagai tempat makan siang tadi.

"Chanyeol~ah, kemarin kau baru saja menolak Seolhyun sunbae, kan ? Wae ? Dia kan juga cantik."

"Seolhyun artis dunia maya yang aktif di facebook itu ?" tanya Suho ikut menimbrung. Kini ketiganya tengah bersantai di balkon kamar Chanyeol.

"Ne. Aku mengikutinya di Facebook. Ia menulis banyak status mengenaimu, Yeol. Ia tampaknya sangat sedih setelah kau tolak." Cerita Sehun yang membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Apa peduliku ? Dia mantan Kris Ge. Aku tidak akan pernah bersama dengan yeoja yang pernah menjadi yeojachingunya." Jawab Chanyeol dengan datar. Aura dinginnya keluar jika ia sedang tidak menyukai sesuatu yang menjadi bahan pembicaraannya.

"Bagaimana dengan Tao-Tao mu itu ? Dia dan Kris Ge kemarin kan-"

"Mereka tidak berpacaran." Chanyeol menatap Sehun nyalang. Bahkan Suho ikut merinding melihat tatapan mematikan sahabat tingginya itu.

"B-baiklah. Hentikan tatapan itu, Dobi."

"Kau tahu, hampir semua yeoja di sekolahmu selalu berusaha mendekatimu dan melelehkan sikap es batu-mu itu. Tapi kau hanya akan benar-benar meleleh pada sosok Tao." Sehun terus saja berceloteh. Suho dan Chanyeol hanya berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya.

"Tapi kalau boleh jujur, Tao itu memang cantik." Ungkap Sehun jujur. "Iya kan, Ho ?"

"Ne." jawab Suho singkat. Dan ia mengingatkanku pada seseorang, lanjut Suho dalam hatinya.

"Hmm. Huang Zi Tao."gumam Chanyeol seraya menutup matanya. Membayangkan kembali kejadian semalam dimana Tao terlihat begitu perhatian padanya. Suho menoleh kala mendengar nama yeoja itu disebutkan secara lengkap.

Huang Zi Tao ? Tao ? Zi Tao ? Zizi ? Zizi !

Suho seketika terkesiap saat menyadari sesuatu. Ia segara terduduk tegak membuat Sehun yang duduk disampingnya ikut terlonjak kaget.

"A-aku harus pergi." Suho beranjak bangun dari duduknya. Chanyeol membuka matanya dan mengerutkan alisnya.

"Kemana ?"

"Memastikan sesuatu. Aku kembali lagi nanti."

"Baiklah. Aku disini saja, eoh." Teriak Sehun melihat Suho yang pergi dengan terburu-buru itu. Ia menggelengkan kepalanya tak mengerti.

"Ah, aku baru ingat." Ujar Chanyeol tiba-tiba. Sehun yang baru saja ikut menutup kelopak matanya sepeti Chanyeol terpaksa membukanya kembali.

"Mwo ?"

"Aku ingin mengembalikan sweater Tao yang kukenakan semalam."

"Sweater Tao ?" Chanyeol mengangguk cepat. Sehun masih tampak tak mengerti.

"Sebenarnya semalam aku tidur di rumah Tao."

"MWO ? KAU MENIDURINYA ?" teriak Sehun yang begitu kaget hingga mata sipitnya ikut terbelalak.

"Haissh, pabbo ! Tentu saja tidak. Aku hanya tidur di rumahnya saja."

"Bagaimana bisa ?"

"Ceritanya panjang. Kau mau ikut aku ke rumahnya atau tetap disini ?"

"A-aku ikut saja."

"Baiklah, kajja."

.

.

.

.

Suho mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Konsentrasinya terbagi-bagi, antara menyetir, memikirkan Zizi-nya, dan mengirim pesan pada Lay. Awalnya Lay yang mendapat pesan dari Suho yang menanyakan alamat rumah Tao sedikit heran. Tapi yeoja itu tidak berpikir lain-lain hingga ia langsung memberikan alamat sahabatnya itu pada Suho.

Suho tiba di depan rumah Tao. Yang ia yakini Tao adalah Zizi-nya. Kakinya sedikit bergetar saat kakinya tinggal beberapa langkah dari pintu rumah bergaya klasik itu. Keberanian yang sudah ia siapkan saat perjalanan tadi hilang begitu saja. Tapi ia harus memastikan, apakah yeoja yang digilai sahabatnya itu adalah Zizi-nya atau bukan.

Teeettt.

Tao baru saja akan ke dapur untuk membersihkan ruang itu setelah sebelumnya ia mengantar Luhan dan Kyungsoo pulang. Hanya sampai depan pintu rumahnya saja, lebih tepatnya. Lalu keduanya temannya itu pulang dengan mobil jemputan Luhan.

Tao mendecak kesal saat ia mendengar suara bel rumahnya. Dengan malas ia kembali memutar arahnya menuju pintu depan.

Cklek.

Mata kelam itu sempat terkejut saat mendapati siapa orang yang bertamu ke rumahnya siang itu. Namun bukan Huang Zi Tao namanya jika ia tidak bisa kembali menguasai dirinya dan kembali berakting di depan namja itu.

Tao memasang senyumnya saat melihat Suho yang berdiri di balik pintu coklat itu.

"Suho ? Teman Lay kan ? Tahu rumahku darimana ? Ayo masuk." Sapa Tao ramah. Namun suaranya agak bergetar. Suho menangkap hal itu. Ia menahan tangan Tao yang baru saja membalikkan badannya.

"Zizi. Kau Zizi kan ?" Tao terdiam tanpa respon apapun. Suho semakin yakin kalau yeoja dihadapannya kini adalah Zizi. Ia membalik tubuh mungil Tao cepat, lalu memeluknya erat. Tao yang masih kaget dengan pelukan itu hanya terbelalak. Sebisa mungkin ia melepas rengkuhan erat namja itu. Namun apa daya, tenaga namja tetaplah lebih kuat sekalipun Tao juga ahli dalam wushu.

"Ak-aku bukan Zizi. Leph-has-kan ak-ku Suho !"

"SUHO !/ JOONMYUN !" teriak mereka bersamaan.

.

.

~ TBC ~

.

.

Annyeong chingudeul … maaf kan PC yang telat update FF ini. Telat banget malah, iyakan. Semoga kalian suka dengan chapter ini. Dan semoga kalian masih setia buat ngikutin FF ini sampe tamat. Hehee.

Jeongmal gomawo buat yang udah kasih REVIEW, FAVORITE, dan FOLLOW. Semangat PC gak akan ada tanpa kalian Maaf PC gak bisa balas review kalian satu-satu ne.

Oh iya, ada yang mau kenal lebih dekat sama PC ? PM aja. Atau add FB "Adinda PCy". BBM : 7e6ac04a. Line : pcy_choi *sekalian promosi :D

Sekian cuap-cuap gaje PC. Pai-pai.

SEE YOU NEXT CHAP ! *bow

MY BIG THANK'S to :

celindazifan | Aiko Michishige | deveach | hunexohan | wuziper | Keewanii | anis. l. mufidah | Kirei Thelittlethieves | Dandeliona96 | TaoziFanfan | Shim Yeonhae | Ko Chen Teung | annisakkamjong | YuRhachan | Ema Namikaze | amira. retno | nurul | MbemXiumin | Zillian Huang | buttao | huangtaotaozi | CHANcut BAEKichot |