Title : Love is Never Flat Chapter 6

Author : adindaPCy

Length : Chapter

Genre : Romance, little Sad (?)

ChanTao – KrisTao – SuTao

Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun

.

Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !

Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak

Cerita gak sesuai judul –mungkin.

WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !

DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !

Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….

So ….

Happy Reading !

And NO PLAGIAT !

.

.

.

Chapter sebelumnya …

Tao memasang senyumnya saat melihat Suho yang berdiri di balik pintu coklat itu.

"Suho ? Teman Lay kan ? Tahu rumahku darimana ? Ayo masuk." Sapa Tao ramah. Namun suaranya agak bergetar. Suho menangkap hal itu. Ia menahan tangan Tao yang baru saja membalikkan badannya.

"Zizi. Kau Zizi kan ?" Tao terdiam tanpa respon apapun. Suho semakin yakin kalau yeoja dihadapannya kini adalah Zizi. Ia membalik tubuh mungil Tao cepat, lalu memeluknya erat. Tao yang masih kaget dengan pelukan itu hanya terbelalak. Sebisa mungkin ia melepas rengkuhan erat namja itu. Namun apa daya, tenaga namja tetaplah lebih kuat sekalipun Tao juga ahli dalam wushu.

"Ak-aku bukan Zizi. Leph-has-kan ak-ku Suho !"

"SUHO !/ JOONMYUN !" teriak mereka bersamaan.

.

.

.

.

Chapter 6

"SUHO !/ JOONMYUN !" dengan segenap tenaga, Tao mendorong tubuh Suho hingga namja itu mundur beberapa langkah ke belakang. Yeoja itu juga cukup terkejut karena ia memanggil nama asli namja itu. Di tambah lagi kini Chanyeol yang sudah berdiri di depannya dengan memegang kerah Suho.

"Apa yang kau lakukan pada Tao, Suho ?" geram Chanyeol dengan tatapan tajamnya pada Suho. Suho tak membalas tatapan Chanyeol itu. Ia bahkan melirik Tao yang masih terdiam.

"Dia .. Zizi." Chanyeol melepaskan cengkramannya pada kerah Suho, memberi kelapangan namja itu bernafas. Namja itu menatap Suho kosong. Tao dan Sehun hanya diam saja. Namun Tao tak habis pikir dengan dua namja didepannya ini. Chanyeol adalah temannya Suho?

"Dia adalah Zizi, yeoja yang slalu kuceritakan pada kalian. Dia juga Tao yang slalu kau ceritakan pada kami, Yeol. Ternyata kita mencintai yeoja yang sama."

"Kau menghianatiku, Suho." Ucap Chanyeol tak percaya. Namja itu merasa enggan untuk menatap Tao kini.

"Aniyo, Chanyeol~ah. Aku juga baru menyadari kalau Tao adalah Zizi. Saat di promnite itu aku benar-benar tidak mengenalinya karena dandannya yang begitu berbeda dengan dulu."

"Sebenarnya ini ada apa ?" sela Tao tak sabaran. Ia merasa keberadaannya disana tak dianggap. Chanyeol, Suho, bahkan Sehun menatap yeoja itu. Tao membalas tatapan mereka dengan penuh tanya.

.

.

"Tao, benarkah kau adalah Zizi ?" tanya Chanyeol.

"Ne. Zizi adalah panggilan masa kecilku."

"Jadi, kau juga adalah mantan yeojachingunya Suho ?"

"Ne." jawab Tao pelan. Sangat pelan hampir tak bersuara. Namun Chanyeol mengerti dari gerak bibir yeoja itu.

"Kau masih mencintai, Suho ?" sontak pertanyaan yang dilayangkan Chanyeol itu membuat Suho dan Tao menatapnya dalam. Wajah Chanyeol masih datar. Namun sesaat kemudian ia tersenyum lembut pada Tao.

"Maaf aku bertanya soal itu. Aku kemari hanya ingin mengembalikan sweater ini. Gomawo untuk semuanya, Tao~ya. Dan semoga kakimu cepat sembuh ne. Aku pulang. Maaf aku dan Sehun mengganggu kalian." Chanyeol mengulurkan tangannya memberikan sweater berwarna hitam itu pada Tao. Lalu berbalik untuk pergi. Sebelumnya ia sempat menyentuh pundak Suho yang hanya dijawab tatapan tak mengerti namja itu.

Sehun hanya membungkukkan badannya pada Tao, lalu mengikuti Chanyeol menuju motor namja itu. Ia lebih memilih untuk diam. Saat ini pikiran kedua sahabatnya pasti sedang panas, ia akan membicarakan masalah ini lagi jika kepala keduanya sudah dingin.

"Zizi."

"Masuklah." Suho mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu itu. Tao berjalan ke dapur dan kembali dengan segelas air jeruk di tangannya.

"Kau tahu alamat rumahku dari mana ?"

"Lay yang memberitahunya. Aku sempat bertanya padanya sebelum kemari." Tao sedikit terkejut saat Suho menyebutkan nama Lay.

"Tenanglah. Lay belum tahu soal hubungan kita dahulu." Sesaat kembali hening.

"Kakimu kenapa ?" tanya Suho yang melihat perban coklat yang melingkar di sekitar kaki Tao.

"Semalam terkilir saat latihan. Untuk apa kau kemari ?"

"Aku hanya ingin memastikan kalau kau adalah Zizi. Kau sungguh berubah, Zi."

"Aku tidak berubah."

"Kau merubah penampilanmu. Kecuali saat kita bertemu di taman kemarin. Kau berpenampilan seperti saat JHS dulu. Apa kau baru mengenalku saat itu juga ?" Tao menghembuskan nafasnya panjang.

"Tidak. Aku tahu dirimu adalah Joonmyun saat membaca undangan pertunanganmu." Suho tersenyum getir. Ada rasa sakit saat mendengar kata pertunangan itu. Begitu juga dengan Tao. Sesungguhnya perasaan keduanya masih ada, namun rasa sakit Tao membuat ia benar-benar menutup hatinya. Namun hatinya beberapa waktu ini sempat terbuka untuk … Kris. Ya, Tao memang mengagumi Kris sejak lama. Namun ia baru menyadari kalau ia menyukai namja itu saat promnite kemarin. Sayangnya pada saat itu juga harus membuatnya menutup kembali hatinya setelah perlakuan Kris yang kembali membuat hatinya terluka. Untuk Chanyeol, entahlah. Ada perasaan menggelitik jika mengingat namja itu.

"Suho."

"Kau bisa memanggilku, Joonmyun." Tao menggeleng kecil. Hati Suho kembali merasakan sakit mendapat penolakan dari Tao itu. Bahkan untuk kembali memanggilnya seperti dulu saja Tao tidak mau.

"Apa kau tahu kalau kau akan bertunangan dengan kakak mantan yeojachingumu ?"

"Aku tahu. Tapi kurasa Lay belum tahu soal itu."

"Lay tahu kau pernah berpacaran dengan Baekhyun. Justru akulah yang baru tahu kalau Baekhyun adalah adik Lay. Yeoja yang dulu merebutmu dariku. Benarkan ?" Tao tersenyum miris pada Suho. Namja itu diam. Ia terlalu bingung walau hanya untuk mengatakan sepatah katapun.

Potongan demi potongan kenangan masa lalu berbayang dalam pikiran Suho. Namja itu sadar, dahulu ia pernah berselingkuh dengan Baekhyun dan meninggalkan Zizi-nya. Hal terbodoh yang ia lakukan hingga berakhir dengan penyesalan.

"Lay tak pernah bercerita padaku." Ujar Suho.

"Ia takut. Terlalu takut jika Baekhyun akan melihat kalian berduaan. Kau sudah melukai banyak hati, Suho."

"Aku tahu. Aku tahu itu. Maafkan aku, Zi."

"Aku memang pernah berharap kau akan kembali padaku, Suho. Tapi tidak setelah aku tahu namja yang akan bertunangan dengan sahabatku adalah kau."

.

.

.

.

"Luhan~ah, bukankah itu Sehun ?" tunjuk Kyungsoo saat ia dan Luhan baru saja turun dari mobil Luhan. Keduanya turun tepat di depan café dimana mereka biasanya bersantai. Luhan ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Kyungsoo. Matanya melebar ceria.

"Kyaa … itu benar dia, Soo." Pekik Luhan girang. Matanya masih menatap pada sosok namja yang masih duduk di halte dekat café itu.

"Sedang apa dia disana sendiri ?"

"Molla. Ayo kita hampiri."

"Ya ya ya ! Kau mau apa kesana ?" Kyungsoo langsung menahan tangan Luhan. Yeoja itu berbalik sembari mengerucutkan bibirnya.

"Menyapanya saja. Sudahlah, ayo." Luhan berganti memegang tangan Kyungsoo dan membawanya untuk menyamakan langkah mereka menghampiri Sehun. Kyungsoo hanya menghela nafasnya saja dan pasrah dengan kelakuan sahabatnya ini.

"Sehun ?" sapa Luhan. Sang pemilik nama menoleh dan tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Sehun berdiri dari duduknya.

"Eoh, Luhan ?"

"Hai. Kau sedang apa disini ?" tanya Luhan berbasa-basi. Kyungsoo memutar bola matanya malas. Dia bodoh atau apa ? Sehun duduk disini berarti ia sedang menunggu bus, Luhan pabbo. Rutuk Kyungsoo.

"Tentu saja menunggu bus, Luhan. Kau kira apa lagi yang akan dilakukan orang-orang di halte ?" sahut Kyungsoo yang mendapat cubitan dari Luhan.

"Ahahaa, ne, aku sedang menunggu bus. Kalian juga ?" Sehun tertawa kecil saat melihat Kyungsoo meringis dan wajah Luhan yang dibuat kesal.

"Aniyo. Kami akan ke café disana. Kalau kau ada waktu, maukah kau bergabung dengan kami ?" tanya Luhan penuh harap. Sehun tampak berpikir sebentar. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah."

"Yeeyy, kajja." Luhan dengan semangatnya berjalan lebih dulu sambil menggandeng lengan Kyungsoo. Yeoja itu sedikit tertarik saat Luhan langsung menggandeng tangannya. Sementara Sehun berjalan mengikuti di belakang mereka.

"Baru kali ini aku melihatmu begitu tergila-gila pada seseorang selain pada Yoona SNSD." Ejek Kyungsoo lagi dan Luhan mendelik seketika padanya.

"Kau dari mana, Sehun ?" Luhan membuka pembicaraan saat ketiganya sudah sampai di café. Mereka memilih meja di sudut agar lebih bebas bercerita.

"Aku baru saja dari rumah Tao dengan Chanyeol dan ia menurunkanku di halte tadi. Katanya ia harus pergi ke suatu tempat." Tampak kerutan di wajah kedua yeoja yang duduk di hadapan Sehun itu.

"Chanyeol ? Kau mengenalnya ?" tanya Kyungsoo.

"Untuk apa kalian ke rumah Tao ?" tanya Luhan juga.

"Eoh, kalian tidak tahu ya ? Aku, Chanyeol, dan Suho adalah sahabat sejak JHS. Aku hanya menemani Chanyeol untuk mengembalikan sweater Tao. Tapi disana kami bertemu dengan Suho."

"Suho ?" tanya Kyungsoo heran. Namja berambut coklat itu mengangguk.

"Oh ya, apa kalian tahu sesuatu soal hubungan Tao dan Suho ?" tanya Sehun yang langsung mendapat respon antusias dari Kyungsoo dan Luhan. Luhan menggeleng.

"Tidak. Mereka bahkan baru bertemu pertama kali saat promnite kemarin."

"Memangnya ada apa ?" Kyungsoo tampak paling antusias dengan pokok pembicaraan mereka kali ini.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku hanya mendengar Suho, Chanyeol, dan Tao menyebut-nyebut nama Zizi. Suho bilang Tao adalah Zizi."

"Memangnya Zizi itu siapa ?" tanya Luhan entah pada siapa. Ia bahkan hanya memikirkannya sendiri.

"Zizi adalah mantan yeojachingunya, Suho."

"Mwo ?! Kalau Zizi adalah Tao, jadi Tao adalah mantan yeojachingunya Suho ?" Kyungsoo membulatkan matanya tak percaya. Luhan menoleh pada sahabatnya itu dengan tatapan tak mengerti. Mana mungkin, pikirnya.

"Kurasa seperti itu." Jawab Sehun.

"Kapan acara pertunangan Suho dan Lay digelar ?" tanya Kyungsoo pada Sehun.

"Minggu depan. Sehari sebelum kita masuk sekolah."

"Semoga semuanya baik-baik saja." Gumam Luhan.

.

.

.

.

Sudah seminggu Tao mengistirahatkan kegiatannya dari berlatih wushu. Ia sudah rindu dengan tongkat yang biasa menemaninya latihan itu. Dengan langkah ringan ia menuju ruang latihan sambil membawa tongkat kesayangannya. Hal itu dilihat oleh Chanyeol. Ingin rasanya namja itu menghampiri Tao untuk menanyakan kabarnya, tapi ia merasa terlalu takut setelah kejadian seminggu yang lalu itu. Alhasil ia hanya mengawasi Tao dari jauh saja.

Hingga selesai waktu latihan pun Chanyeol tidak kunjung menemui Tao. Tao merasa ada yang aneh dengan sikap Chanyeol yang selalu tampak menghindarinya tiap kali ia mendekati namja itu. Perasaan tidak enak menyelimuti hatinya kini. Apakah Chanyeol marah karena ia adalah mantan pacar sahabatnya ? Tapi ini semua terjadi tanpa sepengetahuan mereka, kan ?

Chanyeol memberanikan dirinya untuk menemui Tao kini. Setelah membereskan ruang latihan, ia segera menuju halte tempat dimana Tao biasanya menunggu bus. Ia bermaksud menghilangkan rasa canggung di antara mereka dan mengajaknya pulang bersama. Ia menaiki motor sport-nya dengan perasaan tak tentu.

"Ayo." Ucap seorang namja sembari membukakan pintu belakang mobilnya untuk seorang yeoja yang Chanyeol yakini itu adalah siluet Tao.

Terlambat.

Chanyeol terlambat beberapa menit saja dan sekarang Tao diantar pulang oleh orang lain. Chanyeol tahu siapa namja itu. Dia adalah ….

"Kris." Geram Chanyeol di balik helm-nya. Setelah cukup lama berhenti tak jauh dari halte itu, dan dilihatnya mobil Kris sudah pergi, Chanyeol memutuskan untuk pulang.

.

.

Di dalam mobil, suasana awkward menyelimuti antara Tao dan Kris. Ya, tadi saat Kris dan Kai dalam perjalanan pulang, ia melihat Tao yang sedang duduk sendirian di halte. Dan kebetulan ia memang sedang memikirkan yeoja itu. Awalnya Tao menolak mentah-mentah ajakan Kris itu. Setelah acara Promnite waktu itu, Tao dan Kris memang tidak lagi saling berhubungan. Tao yang memang merasa masih sakit hati selalu menghindari namja itu, dan Kris yang memang sedang sibuk. Namun setelah ajakan Kris yang terlihat sedikit memaksa, Tao akhirnya mau. Namja itu juga mengatakan kata maaf berulang kali, membuat Tao tidak tega melihatnya.

"Kau sudah makan ?" tanya Kris lembut. Tao yang duduk di sampingnya menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Kris. Belum sempat ia menjawab, Kris sudah menyuruh supirnya untuk berbelok ke restoran terdekat.

"Oppa." Panggil Tao.

"Kajja." Kris hanya melayangkan senyumnya dan mengajak Tao untuk turun. Namja itu turun dari sisi kiri. Sementara Tao turun dari sisi kanan yang pintunya dibukakan oleh Kai.

"Eoh, gomawo Kai Oppa." Tao membungkukkan badannya membuat Kai merasa serba salah.

"A-ah tidak usah seperti itu. Nde cheonma. Sudah sana, Kris menunggumu."

"Oppa tidak ikut ?" tanya Tao heran.

"Ah tidak usah. Aku disini saja. Lagipula sepertinya ada yang ingin Kris katakan padamu." Tao mengangguk lalu menolehkan kepalanya ke arah Kris yang tampak menunggunya. Kai lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Tao.

"Kris sangat merasa bersalah telah membentakmu saat di Promnite waktu itu. Aku harap kau mau memaafkannya." Bisik namja berkulit tan itu lalu ia tersenyum pada Kris. Tao hanya diam dan menghampiri Kris. Lalu keduanya memasuki restoran yang cukup berkelas itu. Banyak yeoja-yeoja disana yang menatap Kris kagum. Bahkan ada yang memintanya untuk berfoto bersama. Hal itu membuat Tao merasa terkucilkan, apalagi kini ia hanya mengenakan jaket dan celana training yang menjadi bahan bicaraan beberapa orang disana karena ia bersanding dengan Kris yang memakai tuxedo.

"Kau kenapa ?" tanya Kris setelah mengambil meja untuk keduanya.

"Aniyo." Jawab Tao yang menundukkan kepalanya. Kris lalu mengalihkan pandangannya ke sekitar. Ia tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala Tao pelan seakan mengerti mengapa yeoja di hadapannya bersikap seperti ini.

"Gwaenchana. Jangan dengarkan kata-kata mereka. Kau mau pesan apa ?" tanya Kris yang hanya mendapati gelengan dari Tao. "Aku yang traktir." Kata Kris lagi.

"Terserah Oppa saja." Jawab Tao sekenanya. Kris tersenyum lagi ia memesan makanan dan minuman yang sama untuk Tao seperti dirinya.

"Tao~ya." Tao hanya diam, namun maniknya ia layangkan pada Kris yang tengah menatapnya serius.

"Maafkan aku." Lagi, kata itu harus Tao dengar setelah Kris meminta maaf padanya di halte beberapa menit yang lalu.

"Aku sungguh minta maaf atas perlakuan kasarku saat di Promnite. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu waktu itu."

"Aku sudah memaafkanmu, Oppa."

"Jeongmal?" tanya Kris meyakinkan. Tao kembali diam. Kris menyimpulkan Tao belum sepenuhnya memaafkan dirinya.

"Aku sedang memiliki masalah saat itu. Hingga tanpa aku sadar aku meluapkan emosiku padamu. Terlebih karena kau tidak memakai dress pemberianku."

"Dress?" dahi Tao berkerut bingung. Kris menganggukkan kepalanya.

"Iya. Kau menerima bingkisan dalam kotak persegi berwarna pink sebelum kita pergi ke Promnite kan?" tanya Kris.

'Bingkisan? Dalam kotak persegi berwarna pink ?' Tao berpikir berusaha mengingat sesuatu. Ya, ia memang menerima bingkisan itu pada malam ia pergi ke Prom, tapi ia menerimanya setelah ia pulang.

"Aku memang menerimanya. Tapi setelah aku pulang dari Promnite." Jawab Tao membuat Kris kembali menghela nafasnya.

"Benarkah? Aigoo …. Kenapa ia lama sekali mengirimnya ke tempatmu ?" tanya Kris sambil bergumam. Tao hanya sekilas-sekilas mendengar gumaman Kris itu.

"Jadi, itu pemberianmu, Oppa ?" Kris mengangguk kembali. "Mian, aku bahkan belum membukanya sampai sekarang."

"Kau, memang membenci warna pink?" kali ini Tao yang mengangguk. Ia bahkan menjelaskan sedikit mengenai warna pink yang menurutnya jelek pada Kris. Membuat Kris merasa gemas pada Tao yang terlihat lucu saat menceritakannya.

'Aku baru menyadari kalau kau itu cantik, Tao. Maafkan aku.'

Entah siapa yang memulai lebih dulu, kini keduanya tampak sangat akrab. Seakan melupakan kejadian yang pernah keduanya alami. Mereka asik bercerita sambil menikmati makan malam itu. Kai yang melihatnya dari jauh hanya bisa tersenyum bahagia melihat Tuan Muda-nya yang tertawa ceria itu. Setelah ini, mungkin saja tawa itu akan hilang dari wajah Kris.

.

.

.

.

Alunan piano berdenting dimainkan oleh sang pianis di ujung ruangan. Menambah kesan mewah pada acara yang dihadiri oleh tamu-tamu terhormat dari keluarga Kim dan Byun. Di depan sana sudah berdiri kedua insan yang menjadi inti dari acara ini. Sang namja memakai tuxedo berwarna biru dongker, dan sang yeoja memakai gaun selutut berwarna biru langit dengan hiasan bunga-bunga kecil di sepanjang gaun itu.

Acara pemasangan cincin akan segera dilakukan. Suho tampak berdiri dengan gelisah. Begitu juga dengan Lay. Ada perasaan tak nyaman dalam hatinya, terlebih ketika matanya bertemu dengan mata sang adik, Baekhyun yang menatap lirih ke arah mereka. Yeoja itu berdiri di barisan depan. Sungguh rasanya sangat berat bagi Baekhyun melepas Suho yang masih ia cinta untuk kakaknya.

Puk.

Seseorang menepuk pundak kiri Baekhyun pelan. Lalu ia merasa seseorang sudah menautkan jari-jari kanannya. Ia menoleh ke arah orang itu, dan betapa terkejutnya ia mendapati Tao disana. Baekhyun mengenal Tao walau Tao baru mengenal Baekhyun tak lama ini. Baekhyun sadar orang yang menautkan jarinya itu adalah yeoja yang sudah ia sakiti karena sudah merebut kekasihnya dahulu. Baekhyun merasakan kaku pada tubuhnya, namun bisikan Tao sedikit menenangkannya.

"Kita sama-sama harus rela melepasnya." Baekhyun tersenyum canggung pada Tao sementara Tao tersenyum lembut pada yeoja itu. Awalnya Tao juga merasa enggan untuk datang, ia takut ia masih belum bisa melupakan Suho.

Baekhyun melirik ke kiri, dimana ternyata Sehun lah yang sudah menepuk bahunya tadi. Namja itu ikut menoleh kemudian tersenyum padanya. Sementara di sebelah Sehun berdiri Chanyeol. Luhan dan Kyungsoo memilih berdiri di samping Tao. Sebagai teman, mereka ingin menyaksikan kebahagiaan salah satu sahabat mereka dari dekat.

Lay tersenyum hangat pada semua teman-temannya. Begitu pula saat dilihatnya adiknya berdiri di tengah-tengah teman-temannya. Suho tersenyum canggung. Ia sempat tertegun mendapati Tao yang berdiri bersampingan dengan Baekhyun saling bergandengan tangan. Ia merasa bersalah pada keduanya.

Lay melirik Suho yang berdiri di sisinya. Senyum itu. Tatapan itu. Ia tahu, Suho menyimpan rasa bersalah pada mereka. Mereka ? Siapa yang Lay maksud dengan mereka ?

.

.

.

.

"Kau pergi kesini dengan siapa, Tao ?" tanya Luhan setelah acara pertukaran cincin Suho dan Lay selesai.

"Dengan-"

"Denganku. Iya kan, Chagi?" Sahut seorang namja yang langsung merangkul Tao mesra. Tao menoleh terkejut melihat wajah namja itu yang menunduk sangat dekat dengan wajahnya. Luhan dan Kyungsoo pun tak kalah terkejut.

"Cha-chagi?" tanya Kyungsoo mengulang kata terakhir yang didengarnya dari bibir Kris tadi. Mungkin saja ia salah dengar. Pikirnya.

"Nde. Mulai saat ini, aku dan Tao berpacaran." Kata Kris lagi tegas. Membuat Tao menelan ludahnya susah payah.

"Pa-pacaran? Tao? Oppa?" tunjuk Luhann bingung pada Tao dan Kris bergantian.

"Kau setujukan?" tanya Kris sembari mengerling.

"Op-Oppa.." Tao terbata seraya matanya terus mengerjap imut. Membuat Kris semakin menyukai Tao kala ini. Sejujurnya ia memang menyukai Tao sebelum acara Promnite kemarin. Dan ia juga tidak tega untuk menyakiti Tao dengan membentaknya. Namun, taruhan yang ia lakukan dengan Changmin harus tetap berjalan. Maka terjadilah seperti itu.

"Sudah jawab saja." Titah Kris lagi berbisik yang hanya diangguki dengan gugup oleh Tao. Tanda persetujuan dari yeoja imut itu.

"Wah sepertinya ada pasangan yang baru saja meresmikan hubungan mereka nih." Suara Lay membuat semuanya menoleh ke arahnya. Di sampingnya berdiri Suho yang hanya memasang wajah dengan senyum getir.

Bukan hanya Suho yang merasa kecewa saat ini. Di belakang pasangan Kris dan Tao itu berdiri Chanyeol yang memandang sinis tak percaya ke arah namja berambut pirang itu. Kebenciannya semakin bertambah.

Sekejam inikah perlakuan namja itu padanya? Cukup dirasanya saat namja itu merebut seluruh perhatian Baba-nya. Dan sekarang yeoja yang ia sukai juga?

Cukup! Chanyeol tidak tahan berlama-lama disana. Segara kaki jenjangnya melangkah keluar dari ballroom hotel itu dan memacu motornya dalam kecepatan tinggi. Ia menghiraukan setiap panggilan teman-temannya yang ditujukan padanya. Sehun hanya bisa berdoa semoga sahabatnya itu baik-baik saja.

.

.

~ TBC ~

.

.

Annyeong! Lama tidak bertemu chingudeul~ Masih adakah yang mengingat FF ini? *saking lamanya hiatus

Author gatau mau cuap-cuap apaan sekarang. Curhat dikit boleh yaaa … Author cuman bisa memohon maaf dari readers sekalian karena kemaren hiatusnya gak bilang-bilang dulu. Author kan kelas XII nih, banyak yg harus disiapin kemaren. Persiapan ujian dan UN kemaren. Lah sekarang Author udah lulus SMA *Alhamdulillah. Mohon pengertiannya dari readers sekalian ne.

Ohiya, makasih buat readers yang udah setia nungguin FF ini update. Maaf kalo ceritanya makin gaje. Authornya malah hampir lupa gimana alur ceritanya. Wkwk :D

Cukup sekian dan terima kasih~ Tungguin terus kelanjutan cerita ini yeth