Title : Love is Never Flat Chapter 7

Author : adindaPCy

Length : Chapter

Genre : Romance, little Sad

ChanTao – KrisTao – SuTao

Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun

.

Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !

Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak

Cerita gak sesuai judul –mungkin.

WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !

DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !

Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….

So ….

Happy Reading !

And NO PLAGIAT !

.

.

.

Chapter 7

"Apa dia sudah bangun?" tanya Kris yang menatap sang adik tunggalnya dengan tatapan nanar. Kai menggeleng sebagai jawaban setelah menghembuskan nafas panjang menandakan penyesalan yang dialaminya.

"Belum. Kondisinya sudah membaik. Seharusnya Chanyeol sudah bangun saat ini."

"Apa yang sedang kau pikirkan, Yeol? Tidak biasanya kau akan bertindak gegabah seperti ini." Kris duduk pada kursi di samping ranjang Chanyeol. Tatapannya kosong memandang ruang putih berkelas VVIP itu. "Bagaimana bisa ia terjatuh?"

"Saat itu Chanyeol berlomba dengan beberapa pengawalnya. Mereka bilang, tiba-tiba saja ia mengalami slip saat akan melakukan tikungan. Hal itu yang membuatnya terlempar dari motornya. Dan pengawal yang berada tepat di belakangnya tak sengaja menabrak Chanyeol. Begitulah informasi yang ku dapatkan," jelas Kai yang berdiri di samping Kris.

Keadaan Chanyeol memang sangat memilukan jika dilihat saat ini. Ia mengalami kecelakaan saat berlomba dengan beberapa pengawalnya seusai ia menghadiri acara pertunangan Suho dan Lay. Pikirannya yang kalut mempengaruhi konsentrasi mengemudinya. Namja tampan itu mengalami patah tulang pada tulang rusuk dan tangan kirinyanya. Sedang kaki dan kepalanya hanya mengalami sedikit retakan tulang. Beruntung saat itu helm yang dipakai Chanyeol tidak ikut terlepas dan ia segera dilarikan ke rumah sakit.

Kris tak mengerti dengan kelalaian yang dilakukan oleh Chanyeol. Setahunya selama ini, Chanyeol akan tetep memusatkan perhatiannya pada balapannya sekalipun ia sedang mengalami masalah yang banyak. Karena hanya dengan balapanlah pemuda itu dapat melampiaskan seluruh keluh kesahnya. Dan Chanyeol adalah orang yang profesional.

Cklek.

Pintu ruang rawat Chanyeol dibuka perlahan oleh Suho. Namja itu tersenyum pada Kris yang tengah menatap ke arah pintu. Lalu ia masuk bersama Sehun. Di tangannya terdapat sekeranjang buah apel, jeruk, dan anggur.

"Hai, hyung." Sapa Suho sementara Sehun hanya ikut menundukkan badannya. Tak lupa mereka juga memberi sapaan pada Kai yang berdiri di samping Kris.

Suho mendekati ranjang Chanyeol dan menaruh keranjang penuh buah di tangannya pada nakas di samping ranjang itu. "Apa si Dobi ini belum bangun juga?" tanyanya.

"Ya Chanyeol! Kapan kau akan bangun, eoh? Sebentar lagi kita akan masuk sekolah. Kau tidak akan membolos, kan? Cepatlah bangun! Jangan berpura-pura tidur seperti ini." ujar Sehun yang berusaha memberi semangat pada Chanyeol. Berharap besar namja yang tengah berbaring dengan berbagai selang terpasang pada tubuhnya itu akan mendengar dan segera bangun.

"Kau terlalu lama tidur, Yeol."

"Dia akan segera bangun. Kalian sebagai teman harus percaya padanya." Ujar Kris dan tersenyum. Ia bangkit dari duduknya dan merapikan jas yang tengah dikenakannya. "Bisakah kalian menemani Chanyeol di sini? Aku harus pergi untuk beberapa saat. Malam nanti aku akan kembali."

Suho mengangguk. "Tentu hyung."

Kris berbalik bersama Kai. Berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang membuat sang pasien terganggu.

"Hyung .." Kris menghentikan langkahnya saat Sehun bersuara memanggilnya. Ia dan juga Kai berbalik menatap Sehun yang memandangnya datar.

"Ne?"

"Boleh aku menanyakan sesuatu?"

Kris mengerutkan alisnya heran. "Apa?"

"Kau .. apa benar kau dan Tao berpacaran?" Bukan hanya Kris yang terkejut mendengar pertanyaan Sehun itu. Namun Suho dan Kai juga. Untuk apa namja itu tiba-tiba menanyakan hal pribadi mengenai hubungan Kris?

"Aku-"

Ddrrttt.

Ponsel Kris bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Ia meminta maaf pada Sehun sebelum pergi meninggalkan ruang itu untuk mengangkat telponnya. Tak lupa dengan Kai yang selalu membuntuti Kris kemana pun namja itu pergi.

"Dia benar-benar berpacaran dengan Tao, ya?" gumam Suho yang didengar oleh Sehun. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia menyindir Suho dengan perkataannya.

"Ne. Dia berpacaran dengan mantan yeojachingu-mu, Suho~ya."

"Yak kau Oh Sehun!" Suho baru saja mengangkat tangannya untuk memukul Sehun dan sebuah suara yang terdengar berat dan serak menghentikan aksi Suho tersebut.

"Ya .. kalian berdua. Kenapa berisik sekali, eoh?" Ujar orang itu lemah.

"Chanyeol! Aigoo…. Akhirnya kau bangun juga, eoh?" seru Sehun senang.

"Apa orang itu sudah pergi?" tanya Chanyeol masih dengan nada lemah. Baik Sehun maupun Suho mengerutkan dahi mereka.

"Nugu?" tanya Sehun.

Suho yang sedikit mulai mengerti maksud sang sahabat menjawab. "Kris Hyung maksudmu? Ne, dia baru saja pergi."

Chanyeol menarik nafasnya lega. "Haahh … baguslah." Melihat itu, Suho teringat kalau ia harus memanggil dokter untuk memeriksa Chanyeol yang baru saja sadar.

"Aku akan keluar untuk memanggil dokter." Ucapnya yang diangguki oleh Sehun.

"Kau tahu, Kris Hyung tampaknya sangat mengkhawatirkanmu sejak kemarin." Kata Sehun setelah Suho pergi. Chanyeol mendelik tak suka saat mendengar nama Hyungnya itu disebut. "Aku hanya mengatakan fakta." Sambungnya lagi sambil mengendikkan bahu.

.

.

.

.

"Kau yakin akan pulang hari ini?" tanya Kris sambil membantu Kai membereskan pakaian Chanyeol. Namja itu memaksa untuk pulang hari ini setelah dokter mengatakan kalau ia akan segera pulih karena cidera yang ia alami tidak terlalu parah. Namun begitu ia masih belum bisa berjalan dengan baik. Kaki bahkan rusuknya masih terasa sakit jika ia terlalu banyak bergerak.

"Kau bisa beristirahat selama beberapa hari di sini. Aku tidak keberatan untuk menjagamu jika kau mau." Ucap Kris yang kini memandangi Chanyeol yang sedang menatap keluar lewat jendela kamarnya. Namja itu hanya diam di atas kursi rodanya.

"Tapi kau juga bisa berobat jalan." Ucap Kris lagi setelah cukup lama tak mendapat respon dari Chanyeol. "Baiklah, ayo kita pulang. Kai, bawa semua ini. Aku yang akan mendorong Chanyeol." titah Kris untuk menyuruh Kai membawa tas berisi pakaian Chanyeol itu. Kali ini Chanyeol hanya diam saat Kris mendekatinya.

"Dan selama masa pengobatanmu, kau harus tinggal bersamaku di rumah, Chanli~er. Tidak ada penolakan untuk yang satu ini!"

Pada waktu yang hampir bersamaan, Tao, Luhan, Kyungsoo, Lay, Sehun dan Suho mendatangi rumah sakit tempat dimana Chanyeol di rawat. Namun saat keenamnya tiba di sana, mereka sudah mendapati ruang rawat Chanyeol telah kosong.

"Aku sudah pulang. Kalian pulanglah. Jenguk aku esok hari. Hari ini aku ingin beristrirahat." Begitulah kata Chanyeol saat Suho menelponnya tadi.

Tampat raut kekecewaan di wajah Tao. Ia ingin bertemu dengan namja itu sebelum ia pergi bertanding keesokan harinya di Busan selama satu minggu. Ada rasa bersalah saat mendengar Chanyeol kecelakaan kemarin. Setidaknya dengan melihat kondisi namja itu mungkin akan mengurangi beban pikirannya. Entahlah, Tao merasa sangat khawatir pada Chanyeol saat ini.

"Mau bagaimana lagi? Besok saja kita jenguk dia. Ayo kita makan dulu. Ini sudah jam makan siang." Ajak Suho pada yang lain.

"Dan kau yang bayar, Suho." Ujar Sehun cepat dan hanya diangguki lemah oleh Suho.

"Haahh …. Baiklah."

.

.

.

.

10 hari terhitung dari kepulangan Chanyeol dari rumah sakit. Selama itu pula Tao tidak bertemu dengan namja itu. Dan ini adalah hari ketiga Tao masuk sekolah setelah ia izin selama seminggu untuk mengikuti tournament wushu. "Apa ia belum masuk sekolah juga ya?" pikirnya.

"Tao~ya!" panggil Luhan menyadarkan lamunan Tao.

"Eoh, ne?"

"Kau sedang apa? Ayo kita ke kantin." ajak yeoja itu dengan ceria. "Kudengar hari ini Chanyeol sudah bersekolah."

"Benarkah?" tanya Tao yang mendadak semangat, membuat Luhan yang melihatnya terkekeh geli.

"Aigoo …. Panda manis ini semangat sekali, eoh? Ne, tadi Kyungsoo yang mengatakannya padaku. Tadi pagi ia bertemu Chanyeol di depan sekolah." Tanpa pikir panjang lagi, Tao langsung berdiri dan hendak berlari meninggalkan Luhan.

"Yak, Huang Zi Tao! Kau mau kemana?"

"Mencari Chanyeol," jawab Tao singkat. Ia merasa benar-benar tidak sabar untuk bertemu Chanyeol kali ini.

"Aissh …. Kalau begitu ayo kita ke kantin," ajak Luhan yang langsung menggandeng lengan Tao.

"Tap-"

"Chanyeol ada di kantin sekarang," kata Luhan memotong ucapan Tao.

"Ayo kita ke kantin sebelum banyak orang yang ke sana," dengan semangat 45 Tao menyeret Luhan ke kantin. Sementara Luhan hanya pasrah lengannya digeret oleh sahabatnya yang mirip Panda itu.

Sesampainya di kantin, mata bening Tao mencari-cari keberadaan sosok Chanyeol. Sudah ramai orang di sana. Tao tidak bisa menemukan Chanyeol dengan mudah. Hingga Luhan menepuk pundaknya dan menunjuk seseorang di pojokan kantin dekat jendela.

"Tao, di sana."

Tak ada ucapan lain yang di sampaikan Tao pada Luhan. Yeoja itu segera melangkahkan kaki jenjangnya pada objek yang ditunjuk sang sahabat. Sementara Luhan hanya mengikuti dari belakang.

"Chanyeol .." panggil Tao saat ia sampai pada meja yang diduduki oleh namja bermata bulat itu. Sang pemilik nama yang sedang memakan makan siangnya mendongak mencari suara orang yang memanggilnya.

"Tao?" baik sang pemilik nama maupun Chanyeol sama-sama menoleh ke arah datangnya suara bass yang memanggil nama yeoja itu lembut.

"K-Kris Oppa .."

"Kau sudah makan siang?" tanya namja itu lembut. Tak ia perdulikan tatapan sesisi kantin yang tengah memperhatikan mereka. Tao menggeleng sebagai jawaban. Melihat tatapan yang saling Tao dan Kris lontarkan itu membuatnya kesal sekaligus sedih. Ia tidak lagi berniat untuk menyelesaikan makan siangnya. Maka dari itu ia segara beranjak dari sana.

Grekk. Suara kursi yang digeser menginterupsi aksi saling tatap menatap Tao dan Kris itu. Kedua orang itu juga Luhan dan Kai bersamaan menatap Chanyeol.

"Cha-Chanyeol .. kau mau kemana?" tanya Tao terbata. Entah mengapa, akhir-akhir ini Tao merasa gugup jika berdekatan atau bahkan hanya memikirkan Chanyeol.

"Aku sudah menyelesaikan makan siangku. Jadi aku mau ke kelas," jawab Chanyeol disertai senyum lembutnya. Sangat lembut, bahkan Luhan yang melihatnya merasa sedikit aneh. Tak pernah selama ini ia melihat Chanyeol tersenyum seperti itu.

"Chanyeol~ah .. apa kau .. baik-baik saja?"

Chanyeol sudah mengangkat nampan tempat makannya. Ia terdiam sejenak dengan alis terangkat. Namun tak lama ia kembali tersenyum pada Tao. Senyum yang andai saja orang-orang tahu bahwa itu mengartikan kesedihannya. Dan diantara sekian banyak orang, hanya Kai yang mengerti akan senyum itu.

"Ini maksudmu?" tanyanya sambil menunjukkan tangan kirinya yang masih ia gendong. "Aku baik-baik saja, Tao. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku pergi dulu." Setelah itu Chanyeol benar-benar pergi dari sana.

Terselip rasa kecewa dalam diri Tao saat Chanyeol meninggalkannya seperti itu. Namun Tao juga bingung mengartikan rasa itu. Mengapa ia bisa bersikap baik pada Chanyeol seperti ini? Padahal sebelumnya ia selalu menolak kehadiran Chanyeol di dekatnya.

"Tao? Kau akan makan?" tanya Kris yang membuyarkan lamunan gadis itu. Tao segera menoleh pada Kris setelah sebelumnya ekor matanya masih mengikuti langkah Chanyeol.

"A-ah .. ye Oppa."

.

.

.

.

"Kris, besok sore kita akan pergi ke China," ujar Kai saat keduanya sedang bersantai di beranda rumah. Mendengar itu, Kris menutup mata elangnya sejenak untuk menghilangkan sedikit penat yang ia rasakan.

"Tidak bisakah kita kabur saja besok?" tanya Kris gila yang membuat namja tan di sampingnya terkekeh.

"Dengan begitu kau akan melihat mayatku besok di tangan Baba-mu, Tuan Muda," candanya.

"Jangan memanggilku seperti itu jika tidak di depan Baba, Kamjjong!" lalu keduanya tertawa kecil.

Kai menengok ke arah sekitar untuk memastikan tak ada Chanyeol di sana. Karena ia akan memulai percakapan yang akan terdengar sensitif bagi namja itu.

Karena rumah bak istana itu kini tidak hanya Kris, Kai, dan para maid atau pengawal yang menempatinya. Tapi juga Chanyeol, yang mulai menetap di sana sejak kepulangannya dari rumah sakit beberapa waktu lalu.

"Kris, apa kau benar-benar menyukai Tao?"

"Entahlah," jawaban ambigu yang dilontarkan Kris terdengar oleh telinga sang pencuri dengar.

"Kau tidak sedang mempermainkannya, kan?"

Alis Kris berkerut. Ia memandang Kai penuh selidik.

"Wae? Apa kau juga tertarik padanya?" pertanyaan jahil itu membuat Kai menggeleng pasti. Ada suatu hal lain dalam benaknya.

"Ani. Hanya saja .."

"Hanya saja?"

"Hanya saja lusa kau akan bertunangan. Ini akan rumit jika kau menyukai seseorang sementara kau terikat dalam suatu hubungan. Bisa saja kau menyakiti dua hati, atau bahkan lebih." Kali ini Kai yang memberikan jawaban ambigu bagi Kris.

"Dua hati atau lebih?" gumam namja beralis tebal itu.

"Sebenernya dengan siapa aku akan bertunangan?" Tanya Kris gusar sementara Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya.

.

.

.

.

Pagi-pagi sekali Chanyeol mendatangi sekolahnya. Sedikit terburu-buru kelihatannya. Entah apa yang ia cari. Mata bulat yang penuh focus itu bergerak liar memandang sekitar sekolah yang ia lewati. Langkah jenjangnya juga lebih cepat dari biasanya dan sedikit pincang. Sesekali ia akan meringis saat dirasanya ia terlalu memaksakan kakinya berjalan terlalu cepat. Hingga akhirnya kaki-kaki itu berhenti saat ia sampai di ruang OSIS.

Sesaat hanya memandang pintu berwarna coklat dengan tulisan 'OSIS' pada badannya, Chanyeol kemudian membukanya perlahan. Sepi, itu adalah pemandangan pertama yang ia dapati. Wajar saja, ini masih terlalu pagi, sekalipun anggota OSIS memang diwajibkan untuk datang lebih awal. Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan sembari menutup kembali pintunya.

"Sunbae?" panggil seorang yeoja di belakang Chanyeol.

"Eoh, Xiumin," seru Chanyeol saat berbalik. Ia mendapati hoobae yang juga merupakan anggota OSIS itu sedang tersenyum lebar padanya.

"Sunbae tidak masuk?" tanya Xiumin sambil melirik tas punggung Chanyeol.

"Aku akan ke kelas dulu," jawab Chanyeol membuat Xiumin mengangguk kecil. Chanyeol bergerak minggir untuk memberi jalan pada Xiumin. Saat Xiumin baru saja memutar kenop pintu, Chanyeol kembali memanggilnya.

"Apa Kyungsoo masuk hari ini?" tanyanya.

"Kyungsoo Sunbae tidak akan masuk untuk 3 hari ke depan. Ia mengatakannya padaku semalam. Ia bilang ia harus ke China bersama keluarganya. Apa ia tidak memberitahu Sunbae?"

Sedikit terkejut, namun Chanyeol kembali memasang wajah datarnya kembali. Ia menggeleng kecil.

"Aku ke kelas dulu. Kau masuk saja duluan dan tolong periksa kembali jadwal kita untuk minggu depan," titah Chanyeol yang kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Xiumin yang hanya mengangguk kecil dengan sedikit semu di kedua pipi tembamnya.

Pikiran Chanyeol melayang pada beberapa waktu yang lalu. Dimana saat Baba-nya mengatakan sesuatu padanya. Sesuatu yang hanya samar-samar ia ingat karena itu sudah berlalu cukup lama. Hingga ia tak sadar jika ada seseorang yang menyamai langkahnya saat ini.

"Sepertinya kau sedang banyak pikiran," ujar orang itu.

Chanyeol sedikit tersentak saat mendengar suatu suara yang tiba-tiba muncul dari arah sampingnya. Ia menengok ke samping dan kembali terkejut mendapati siapa orang itu. Hingga tanpa ia sadari matanya membulat lucu.

"T-Tao!" pekiknya membuat langkah keduanya berhenti di koridor.

"Sebegitu terkejutnya kah kau melihatku? Apa aku ini seperti hantu? Ck!" decih Tao sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Merasa kesal melihat ekspresi Chanyeol yang sangat terkejut saat melihatnya, Tao memutuskan untuk pergi saja.

"T-Tao .. Huang Zi Tao," panggil Chanyeol dengan suara rendahnya. Menghentikan langkah Tao yang sudah berjarak 2 meter darinya. Yeoja itu menoleh dengan tatapan bingung.

"Wae?"

"Apa kau sudah sarapan?"

.

Dan disinilah keduanya sekarang. Duduk berhadapan di meja kantin sembari memakan sandwich sebagai sarapan mereka. Kantin masih sepi, hanya ada beberapa orang saja di sana termasuk mereka. Dan tampaknya beberapa orang di sana itu membicarakan mereka yang tengah duduk bersama.

"Wae?" tanya Chanyeol merasa yeoja di hadapannya ini kurang merasa nyaman.

"Kurasa para fans-mu itu sedang membicarakan aku," jawab Tao. Chanyeol menaikkan alisnya sebelah dan melirik ke arah kiri dimana ada beberapa siswa yang tengah memperhatikan mereka. Saat mereka menyadari Chanyeol menatap mereka, mereka akan berpura-pura sibuk dengan sarapan mereka.

"Atau mungkin mereka hanya heran, mengapa pacar dari seorang Kris Wu duduk berduaan denganku, yang notebane-nya adalah musuh Kris sendiri."

Ucapan Chanyeol barusan cukup membuat Tao mendelik. Ia menatap wajah tenang Chanyeol sedikit terkejut.

"Kau tahu aku dan Kris Oppa .."

"Semua orang mengetahuinya, Tao," ujar Chanyeol lagi tenang.

"Eoh, benarkah?" lirih Tao sangat pelan.

"Tao~ya .. bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Chanyeol yang mengundang raut bingung di wajah Tao.

"Apa kau .. mencintai Kris?"

"Hm?" Tao semakin mengerutkan dahinya. Ia menatap Chanyeol dalam-dalam, membuat namja itu sedikit salah tingkah.

"Ah, aku harus pergi. Maaf sudah menanyai masalah yang bersifat pribadi padamu. Sandwich ini biar aku yang bayar. Anggap saja sebagai hadiah atas kemenangan tournamentmu kemarin," kata Chanyeol lagi yang langsung bergerak untuk berdiri.

"Aku .." ucapan menggantung dari Tao membuat gerakan Chanyeol juga berhenti. Ia menatap mata kelam Tao yang menyiratkan sesuatu.

"Aku mencintai Kris Oppa," cicit yeoja itu pelan. Ia lalu menunduk memutus aksi saling tatapnya dengan Chanyeol. Gemuruh melanda hatinya. Namja itu tersenyum miris seakan sudah mengetahui jawabannya sejak awal.

"Tentu saja kau mencintainya, Tao," katanya lagi sebelum benar-benar meninggalkan Tao.

Tao termenung sesaat setelah kepergian Chanyeol. Ia masih menunduk dengan tatapan kosong ke arah nampan sarapannya. Perasaannya entah mengapa ikut bergermuruh.

"Sudah kuduga kalau responmu akan seperti ini," ucapnya seorang diri.

.

.

.

.

Sementara itu di Beijing, Kris bersama Kai sang pengikut setianya melangkahkan kakinya mendekat tatkala melihat Babanya telah menunggunya di bandara. Namja itu sedikit tersenyum melihat sang Baba yang berdiri dengan wibawanya bersama sekretarisnya.

"Baba," sapa Kris sambil memeluk pria berumur setengah abad itu. Yang di sapa hanya membalas pelukan Kris sebentar kemudian melepaskannya.

"Kau pasti lelah, ayo kita pulang. Malam ini kita akan melangsungkan acaranya," ujar Tuan Wu sambil menepuk pundak Kris pelan. Seketika itu pula senyum Kris lenyap. Baru saja ia akan merasa bernafas lega, namun nyatanya Babanya tak bisa ditebak. Ia bahkan tak membiarkan Kris untuk beristirahat sehari saja.

Kris dan Kai berjalan mengikuti Tuan Wu. Ia melirik Kai sebentar yang membawa barang-barang mereka. Ingin Kris membantu Kai dengan membawa barang bawaannya sendiri. Namun, ingatlah di depan Tuan Wu, Kai memang hanyalah sebatas pesuruh.

"Pukul berapa sekarang, Kai? Dan pukul berapa acara akan dilaksanakan?" Tanya Kris.

"Sekarang pukul 16.05, Tuan. Acara akan dilaksanakan pukul 19.00," jawab Kai sopan yang hanya diangguki Kris. Kemudian keduanya mempercepat langkah mereka yang sedikit tertinggal jauh di belakang Tuan Wu.

.

.

.

.

Kyungsoo tampak cantik malam ini dengan balutan gaun berwarna peach selututnya. Gaun itu menampilkan bahu putih mulusnya. Rambutnya pun ia naikkan ke atas. Menambah kesan modis padanya yang biasanya terlihat sederhana. Dengan sedikit kesusahan, ia berjalan dengan high heelsnya menuju tempat minum.

"Eoh, Kyungsoo?" sapa seseorang sesaat setelah Kyungsoo mengambil gelas minumannya. Yeoja itu menoleh dan betapa terkejutnya ia mendapati siapa orang yang berdiri tepat di sampingnya itu.

"K-Kai Oppa?" tanyanya tak percaya.

Kai tersenyum lembut pada Kyungsoo. Senyum menawan khas seorang Kai yang membuat Kyungsoo jatuh hati pada namja ini. Kai mengambil dua gelas dari meja di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kai.

"Ak-aku .. aku akan bertunangan malam ini, Oppa," jawab Kyungsoo pelan. Rasanya tak sanggup mengucapkan hal itu di depan orang kau Kyungsoo ketahui, Kai kini tengah menampilkan wajah keterkejutannya.

"Jangan-jangan .." Kai menggumam dengan tatapan kosong.

Kyungsoo mendengar gumaman Kai. Sekalipun pelan dan kurang jelas, namun yeoja itu dapat mendengarnya degan baik.

"Jangan-jangan apa, Oppa?"

"Eoh? Ah, tidak, Kyung. Tidak apa-apa," jawab Kai berkilah. Ia kembali menatap Kyungsoo sambil tersenyum.

"Apa yang Oppa lakukan di sini?" Tanya Kyungsoo balik. Apa jangan-jangan namja yang akan dijodohkan dengannya adalah Kai, harap Kyungsoo.

"Aku hanya menemani Kris kemari," jawab Kai jujur.

Kyungsoo mengerutkan alisnya, "Kris ada di sini?"

"Yo, Kai. Kenapa lama sekali?"

Baik Kai maupun Kyungsoo sama-sama menoleh saat orang itu memanggil nama Kai. Dan keterkejutan jelas tampak di wajah Kyungsoo dan Kris. Hingga apa yang diucapkan keduanya terdengar sama.

"Apa yang kau lakukan di sini, Kris/Kyungsoo?"

"Aish," decak Kyungsoo kesal. Kenapa pertanyaan mereka bisa sama seperti ini? "Aku akan bertunangan di sini mala mini."

"WHAT?" pekik Kris. "Jangan bilang kalau aku akan bertunangan denganmu, Soo!"

"Kau?" tanya Kyungsoo juga tak percaya.

.

.

~ TBC ~

.

.