Title : Love is Never Flat Chapter 8

Author : adindaPCy

Length : Chapter

Genre : Romance, little Sad

ChanTao – KrisTao – SuTao

Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun

.

Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !

Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak

Cerita gak sesuai judul –mungkin.

WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !

DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !

Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….

So ….

Happy Reading !

And NO PLAGIAT !

.

.

.

Chapter 8

"Aku tak percaya kalau orang yang dijodohkan denganku adalah kau, Kris Oppa," ujar Kyungsoo memulai percakapan. Ia masih mengamati jari manisnya yang kini sudah dilingkari cincin perak itu. Beberapa waktu yang lalu ia baru saja meresmikan acara pertunangannya dengan Kris.

Kris memandang pemandangan di hadapannya dengan tatapan kosong. Kini ia dan Kyungsoo tengah berdiri berdua di balkon ballroom hotel tempat mereka mengadakan pertunangan. "Aku juga tak menyangkanya."

"Oppa .."

Kris menyahut dengan gumaman tanpa menoleh pada Kyungsoo.

"Kurasa kita harus menyembunyikan masalah ini. Terutama dari Tao. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika ia tahu sahabatnya bertunangan dengan pacarnya."

"Aku setuju," jawab Kris tanpa pikir panjang. Karena menurutnya yang terbaik untuk sekarang adalah merahasiakan semua ini.

"Kyungsoo~ah, aku ingin bertanya sesuatu padamu."

Dahi Kyungsoo berkerut. "Mwo?"

"Apa Tao masih mencintai Suho sampai sekarang?"

"Aku tidak tahu. Tapi selama ini Tao memang selalu mencari keberadaan Joonmyun yang ternyata adalah Suho, tunangannya Lay."

"Untuk apa?" tanya Kris penasaran.

"Molla. Tao tidak pernah menceritakannya pada kami."

Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat. Terlalu banyak hal yang memusingkan dalam pikiran keduanya.

"Bagaimana dengan Chanyeol?" tanya Kris lagi.

"Chanyeol?" Kyungsoo menautkan alisnya. ia melirik Kris yang hanya memandang ke arah depan saja.

"Ya. Bukankah akhir-akhir ini mereka terlihat dekat?"

"Entahlah. Yang kutahu hubungan keduanya tak begitu baik. Tao selalu menghindari Chanyeol."

"Kenapa Tao menghindari Chanyeol?"

"Tidak ada alasan khusus. Kurasa Tao selalu menghindari semua namja yang mendekatinya. Kecuali kau, Oppa."

"Wae?"

"Karena dia menyukaimu, tentu saja. Eoh, aku teringat sesuatu. Apa kau dan Tao benar-benar berpacaran hari itu?"

Kris melirik Kyungsoo. Ia menghela nafasnya lelah. "Tidak."

"Tidak?" tanya Kyungsoo bingung. Kedua alisnya semakin bertaut kini.

"Tao menolakku setelah itu."

"Jinja?" Kyungsoo membulatkan matanya tak percaya.

.

.

.

Suho sudah memarkirkan mobilnya sejak 10 menit yang lalu. Ibunya menyuruhnya untuk menjemput Lay setiap hari. Beliau beranggapan dengan begitu keduanya bisa menjadi semakin dekat. Sembari menunggu Lay, ia juga mengedarkan matanya berkeliling mencari seseorang yang dirindukannya.

Tok. Tok

Jendela mobil Suho diketuk dari luar. Ia cukup kaget karena sebelumnya tengah asik dengan pencariannya sendiri. Yeoja itu tersenyum manis dari balik jendela. Suho menurunkan kaca jendelanya.

"Eoh, Lay," sapa Suho.

"Kau benar-benar menjemputku?" tanya Lay begitu semangat. Senyumnya belum hilang dari wajah manisnya.

"Ah .." Suho menggantung ucapannya saat dilihatnya orang yang ia cari sejak tadi muncul dari balik gerbang sekolah. Yeoja itu berjalan menjauhi mobilnya.

"A-aku kemari karena ingin menemui Chanyeol. A-aku masih ada urusan setelah ini. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini Lay," ujar Suho berbohong. Ia merasa tidak enak dengan Lay, tapi ada hal yang harus ia katakan pada yeoja yang dicarinya tadi.

"Eoh, begitu ya? Tidak apa, Suho~ya. Kalau begitu pergilah. Hati-hati di jalan," Lay berkata lembut pada Suho. Sementara namja itu hanya tersenyum padanya. Kemudian menginjak pedal gasnya dan berlalu meninggalkannya.

Mianhae, ucapnya dalam hati merasa bersalah.

Suho memacu mobilnya hingga perempatan jalan. Kemudian ia berbelok ke kiri sampai ia menemui yeoja yang dicarinya tadi.

"Zizi," gumamnya. "Ah! Itu dia!"

"Zizi!" panggil Suho setelah ia menyamakan mobilnya dengan langkah Zitao. Suho membuka jendela mobilnya dan tersenyum lebar menatap yeoja itu.

"Joonmyun. Ah! Suho~ssi maksudku," ujar yeoja itu membalas. Tao tersenyum kikuk padanya.

Suho turun dari mobilnya dan menghampiri Tao. Senyum lebar itu masih ditunjukkan oleh Suho. Tao merasa heran melihat namja ini tiba-tiba menghampirinya. Apa ia sedang mencari Lay?

"Kau mau pulang?" tanya Suho berbasa-basi.

"Ne. Apa kau mencari Lay? Kulihat ia pulang duluan tadi."

"Aniyo. Aku ingin menemuimu," ucap Suho berterus terang.

Tao merasa semakin canggung. Sepertinya ia tahu mengapa Suho mencarinya.

"U-untuk apa?"

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kau meluangkan waktumu sebentar, Zi?"

"M-mian, Suho~ssi. Aku harus pulang sekarang. Tolong panggil aku Tao saja. Aku pergi." Tao berjalan cepat meninggalkan Suho.

Suho menarik pergelangan tangan Tao. Membuat yeoja itu menghentikan langkahnya. Bukannya meronta minta dilepaskan, Tao malah diam diposisinya.

"Jebal, Zi," mohon Suho.

"Suho~ssi."

Suho bergegas menggiring tubuh Tao untuk memasuki mobilnya. Ia membukakan pintu mobilnya untuk yeoja itu. Tao hanya menurut tanpa membantah.

"Waeyo?" tanya Tao saat keduanya dalam perjalanan.

"Aniyo. Aku hanya merindukanmu, Zi~ya," ungkap Suho jujur.

"Jangan seperti itu Suho~ssi. Kau adalah tunangan Lay. Dia sahabat yang sangat berharga bagiku."

"Tolong jangan ingatkan aku dengan hal itu."

"Suho~ssi!"

"Zi~ya!"

"Lay sangat mencintaimu!"

"Tapi kaulah orang yang kucintai, Zizi! Tolong jangan ingatkan aku dengan pertunangan itu saat kita bersama, Zi."

"Apa maksudmu?" tanya Tao tak mengerti.

"Aku mohon, Zi. Kau tau aku sangat terbebani dengan hal ini." Suho memarkirkan mobilnya di tepian Sungai Han. Ia keluar dan duduk di atas kap mobilnya. Hal yang sering ia lakukan saat dirinya butuh ketenangan. Tao mengikuti duduk di sampingnya.

Hatinya menghangat. Jujur saja Tao rasakan itu setiap kali ia bertemu Suho. Ia tidak munafik untuk mengakui kalau dirinya masih mencintai Suho. Tapi ia harus menelan kenyataan pahit kalau Suho bukan miliknya lagi. Kadang ia merasa ragu juga, setelah sekian lama ia mencari Suho dan kemudian bertemu kembali dengannya, sanggupkah hatinya merelakan ia bersama wanita lain?

"Aku sudah mencintai orang lain," kata Tao memulai percakapan setelah keduanya cukup lama terdiam. Keduanya memandang arah yang sama, matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.

Suho menghela nafasnya lembut. "Nugu? Kris Hyung?"

Tao tidak menjawab. Ia diam tanpa ekspresi apapun. Tidak ada orang yang benar-benar ia cintai sekarang. Ia hanya berusaha untuk mengelabui Suho.

"Sebaiknya jangan terlalu mencintai dia, Zi."

"Wae?" tanya Tao tidak suka.

"Ia tidak baik untukmu."

"Lalu kau akan bilang hanya kaulah yang terbaik untukku?"

"Zi, hanya saja Kris hyung dan Chanyeol .." Suho tak melanjutkan ucapannya. Ia tak tahu apakah lebih baik ia mengatakannya atau tidak.

"Mwo?" dahi Tao sedikit berkerut.

"A-aniyo. Ha-hanya saja kurasa mereka sama-sama menyukaimu. Kau tahu hubungan mereka di sekolah kurang baik."

"Kau sepertinya mengenal mereka dengan baik."

"Begitulah." Keduanya larut kembali dalam keterdiaman masing-masing.

"Bukankah kau juga adalah sahabat Chanyeol? Aku tidak bodoh untuk menyadari bahwa Chanyeol menyukaiku. Apa kau juga akan menghianatinya?"

"Aku tidak menghianatinya, Zi. Kau adalah Zizi-ku, orang yang selalu kucari-cari selama ini. Ia juga tahu soal itu." Suho terdiam sebentar. Ia melirik Tao yang tidak melirik sedikitpun padanya sejak tadi. "Kami hanya tidak tau kalau orang yang kami cintai adalah orang yang sama."

"Suho~ssi," panggil Tao terlebih dahulu.

Suho merasa gusar karen sejak tadi Tao tidak memanggil namanya seperti dulu lagi.

"Aku tau kau tidak nyaman saat memanggilku seperti itu. Panggil aku sesukamu, Zi. Panggil aku seperti dulu lagi." Mata Suho melembut saat memandang Tao. Gadis itu mengalihkan pandangannya agar tidak bertatapan langsung dengan lelaki di sampingnya.

"Kau bukan lagi Joonmyun-ku. Kau sudah menjadi Suho milik orang lain." Ucapan lirih itu begitu menyiksa batin Suho. Itu salahnya memang. Seandainya saja dulu ia tidak meningalkan Tao demi Baekhyun dan pindah sekolah. Mungkin saat ini Tao-lah yang akan ia kenalkan pada orangtuanya. Lalu sekarang harus bagaimana lagi?

.

.

.

Chanyeol terduduk seorang diri di meja belajarnya. Ia membolak-balik buku pelajaran yang dibacanya. Namun, tak ada satupun yang dapat ia baca dengan serius. Ia mengerang frustasi. Kris terlalu mengganggu pikirannya saat ini. Kemarin sore ayahnya memang menyuruhnya untuk datang ke Cina menghadiri pertunangan sang kakak. Namun, ia menolak untuk menghadiri. Ia pikir, ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan Kris.

Kris bertunangan dengan Kyungsoo. Hal itulah yang sejak tadi berputar-putar dalam kepalanya. Chanyeol mengetahuinya dari Kai. Ia tidak masalah jika keduanya bertunangan. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana perasaan Tao jika gadis itu mengetahuinya. Kris adalah kekasih Tao dan Kyungsoo adalah sahabat Tao.

Apa yang harus ia perbuat sekarang? Ini memang bukan urusannya. Tapi jika menyangkut soal Tao, maka masalah itu juga menjadi urusannya. Chanyeol mengambil ponselnya dan menelpon Tao.

"Yeobosaeyo, Tao~ya"

"..."

"Ah, aniyo. Apa aku mengganggumu sekarang?"

"..."

"Apakah kau bisa menemaniku malam ini sebentar saja? Aku merasa sangat penat sekarang."

"..."

"Baiklah. Aku akan menjemputmu sekarang."

Entah apa yang dikatakan orang di seberang telepon sana. Namun, sepertinya orang itu menyetujui ajakan Chanyeol melihat namja ini langsung bergegas menyambar jaketnya dan kunci mobilnya. Ya, kali ini ia tidak membawa motornya karena kondisi tangannya yang masih di gips. Ia cukup pandai menyetir dengan satu tangan walau itu berbahaya.

"Aku sudah di depan rumahmu, Tao," kata Chanyeol dari telepon. Ia kemudian menekan tombol klakson saat dilihatnya Tao keluar dari gerbang rumahnya. Gadis itu berjalan menghampiri mobil Chanyeol.

"Hai, Tao!" Chanyeol melambaikan tangannya pada Tao.

"Hai," balas Tao ikut melambaikan tangannya. Matanya membulat saat ia mendekati Chanyeol dan dilihatnya namja itu menyetir sendiri dengan sebelah tangannya. "Eoh, kau menyetir sendiri dengan satu tangan?"

"A-ah, ne. Aku masih belum bisa menggunakan kedua tangannya." Chanyeol menggaruk belakang kepalanya seraya menampilkan cengiran khasnya.

"Itu berbahaya, Chan! Apa kau sudah memiliki tujuan kemana kita akan pergi?" Tao masih berdiri di samping mobil Chanyeol. Rautnya menampilkan kecemasan.

"Be-belum. Aku bisa pikirkan sambil kita jalan nanti."

Tao menghela nafasnya. Chanyeol merasa ia sudah membuat Tao kecewa.

"Kita ke rumahku saja," ucap Tao akhirnya. Chanyeol melebarkan matanya. Tao menangkap keterkejutan namja itu. Ia tersenyum lembut kemudian.

"Tak apa. Di rumahku tak ada siapa-siapa sekarang. Tadi ada ibuku, tapi ia sudah pergi sekarang."

"Karena tak ada siapa-siapa itu membuatku khawatir. Tetanggamu bisa berpikiran lain nanti," kata Chanyeol yang mengundang kekehan kecil dari Tao.

"Gwaenchana. Ja, masuklah." Tao meninggalkan Chanyeol untuk membukakan gerbang rumahnya. Mobil namja itu perlahan memasuki gerbang rumah Tao. Gadis itu kemudian membawa Chanyeol ke beranda rumahnya. Di sana ada dua bangku yang menghadap ke arah pemukiman yang terletak di bawah bukit. Rumah Tao memang berada di tempat yang lebih tinggi. Dari sana Chanyeol dapat melihat kerlap-kerlip lampu perumahan di bawah. Tao kembali dengan membawa segelas coklat panas dan segelas teh.

"Kau tidak alergi pada coklat, kan?" tanya Tao yang dijawab oleh gelengan kepala Chanyeol. "Wae geurae? Kau sedang ada masalah?"

"Apa kau akan marah kalau aku mengatakan aku hanya ingin bertemu denganmu?"

Tao mengerutkan kedua alisnya. "Tidak. Tapi aku akan berpikir kalau kau mesum." Keduanya tertawa kecil dengan gurauan Tao itu.

"Maaf sudah mengganggumu malam begini, Tao."

"Tak masalah," ujar bibir tipis Tao. Ia menyeruput tehnya yang masih hangat.

"Aku memiliki hubungan yang kurang baik dengan kakak tiriku," kata Chanyeol memulai.

Tao diam mendengarkan dengan baik. Ia menangkap guratan kesedihan di wajah Chanyeol walau tidak terlalu kentara. Ia juga tidak menyangka Chanyeol akan menceritakan perihal keluarganya padanya.

"Dulu hubungan kami sangat baik. Tapi, akhir-akhir ini hubungan kami merenggang, bahkan terlihat seperti bukan keluarga lagi."

"Waeyo?"

"Karena beberapa hal yang terjadi."

"Salah satunya?" Tao tampak antusias dengan percakapan ini.

"Karena ia selalu tampil sok tampan dimana pun ia berada dan selalu mengalahkanku." Jawaban lucu itu membuat Tao tergelak. Chanyeol bahkan tersenyum melihat tawa gadis yang disukainya itu.

"Hei, apa itu lucu?" tanya Chanyeol pura-pura tak terima karena Tao menertawakan ceritanya.

"Kau benar-benar sangat kekanakan, Chan," ucap Tao usai tawanya.

"Well, tapi ia selalu begitu."

"Kalau begitu cobalah ikuti gayanya. Mungkin kau akan tertular tampan." Tao memberi saran sekaligus candaan yang membuat Chanyeol semakin bermuka masam.

"Terlebih lagi, ia juga menyukai gadis yang kusukai," Chanyeol memandang sendu sepatunya. Bukan karena mengasihi sepatunya, hanya mencari arah pandang yang terlihat lebih nyaman saja.

"Jinja?" ada nada kecewa yang tak terlalu kentara terdengar saat kata itu diucapkan. Apa Chanyeol sudah tidak menyukainya lagi? "Kurasa ini akan menjadi semakin sulit. Bukankah salah satu dari kalian harus mengalah?"

"Tentu saja. Tapi aku tidak akan mengalah kali ini," ucap Chanyeol pasti. Ia memandang Tao. "Aku tidak akan melepaskan gadis ini."

Tao merasa gugup dipandang seperti itu. Ia memutus kontak dan menghela nafas panjang.

"Kalau begitu, berusalah untuk mendapatkannya, Chan."

Chanyeol tersenyum miris. Apa Tao tidak merasa bersimpati sedikit dengan cerita ia yang menyukai seorang gadis? Apa Tao tidak ingin tahu siapa gadis itu? Terlebih daripada itu semua, apakah Tao benar-benar tidak peduli padanya?

.

.

.

Setelah semalam Chanyeol pulang dari rumah Tao, pagi ini namja itu sudah berdiri tegak di depan gerbang rumah Tao. Ia menjemput Tao agar mereka bisa berangkat bersama. Bukan keinginan Tao, yeoja itu bahkan tidak mengetahuinya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Tao begitu melihat Chanyeol sudah ada di depan rumahnya sepagi ini.

"Tentu saja menjemputmu." Chanyeol berkata dengan cengiran lebarnya.

"Tapi, aku tidak memintamu melakukannya. Kau juga masih menyetir dengan sebelah tanganmu?" tanya Tao tak percaya.

"Ah! Tidak. Aku bersama Sehun yang menyetir." Chanyeol menunjuk Sehun yang duduk di belakang setir. Karena jika ia yang menyetir, Tao pasti tidak ingin ikut dengannya. Namja itu melambai pada Tao.

"Annyeong, Tao~ssi!"

Tao menggangguk saat di sapa. Itu kan namja yang disukainya oleh Luhan, pikirnya. "Ah, ne. Annyeong, Sehun~ssi."

"Bukankah kita berbeda sekolah dengannya?" tanya Tao.

"Ah, soal itu, nanti Sehun akan membawa mobilku dan menjemputku lagi sepulang sekolah." Tao hanya mengangguk mendengar penjelasan Chanyeol. Keduanya masuk ke dalam mobil. Tao duduk sendiri di bangku belakang. Chanyeol tadinya ingin duduk di sana juga, namun, Sehun tidak memperbolehkannya. Ia merasa seperti supir taksi jika keduanya duduk di belakang. Hal itu mengundang tawa renyah Tao.

Sehun menurunkan Chanyeol dan Tao di depan gerbang sekolah. Ia lalu memacu mobil Chanyeol menuju sekolahnya. Tidak terlalu jauh untungnya.

"Kenapa jalanmu jauh sekali denganku?" tanya Chanyeol melihat keduanya tidak berjalan beriringan. "Apa kau takut Kris akan mencurigaimu?"

Tao bergerak gugup. "A-aniyo. Kris tidak bersekolah hari ini sampai 2 hari ke depan. Ia pergi ke Cina bersama ayahnya."

'Ayahnya?' Ayah yang disebut Tao itu juga adalah ayahnya Chanyeol, andai Tao tahu itu.

"Atau kau takut pada fans Kris Wu jika mereka akan mengadu melihatmu berjalan denganku?"

"Bukan seperti itu!" Tao sedikit menaikkan nada bicaranya. Ia berbalik menatap Chanyeol yang sedikit terkejut.

"Kau tahu kita tidak pernah dekat seperti ini sebelumnya."

"Lalu, apa salahnya?" kecewa Chanyeol.

"Aku hanya merasa kurang nyaman ditatap seperi itu oleh orang-orang yang menyukaimu, Chanyeol." Tao mengarahkan pandangannya pada beberapa yeoja yang berdiri tak jauh dari mereka yang sejak tadi memandang dirinya dengan tatapan mengintimidasi.

"Kurasa sebaiknya kita jangan terlalu dekat di sekolah. Cukup fans Kris Oppa saja yang menatapku seperti itu." Akhirnya ucapan dengan nada dingin yang sudah lama tidak didengar Chanyeol kembali menyapa indera pendengarannya. Tapi, bolehkah ia berharap karena Tao mengatakan 'di sekolah'? Lalu, di luar sekolah ia bisa mendekati Tao?

Tao berjalan cepat mendului Chanyeol yang diam mematung. Tao adalah gadis yang cantik dan kuat. Banyak namja yang menyukainya dan tak sedikit pula yeoja yang membencinya karenanya.

"Chanyeol Oppa! Apa tanganmu masih sakit? Apa kau sudah sarapan?" Beberapa yeoja yang ditunjuk Tao tadi menghampiri Chanyeol dengan genitnya. Sang ketua OSIS melenggang pergi tanpa mempedulikan ke-empatnya. Sikap Chanyeol yang dingin dan tegas juga parasnya yang tampan dan tinggi juga membuat banyak siswi di sekolahnya terpikat pada pesonanya. Namun, di hatinya hanya Tao lah yang sampai saat ini bisa menghangatkan hatinya.

.

.

.

Sehun memarkirkan mobil Chanyeol tepat di samping mobil Suho. Bukan karena di sengaja, hanya kebetulan saja ada tempat kosong di samping mobil sahabatnya itu.

"Yoo, Suho! Kau baru sampai juga?" Sehun menghampiri sang sahabat yang masih duduk di belakang setirnya. Ia tampak sibuk dengan ponselnya.

"Eoh, Sehun~ah! Kau membawa mobil ... Chanyeol?" Suho keluar dari mobilnya dan melirik mobil di sampingnya yang ia kenali adalah milik temannya yang berkuping caplang. "Apa yang terjadi?"

"Aku menjadi supir si Dobi bodoh itu. Ia ingin menjemput Tao tapi tangannya masih di gips."

Suho mengerutkan dahinya. Ternyata Zizi-nya tadi pergi bersama Chanyeol dan Sehun. Pantas saja saat tiba di depan rumah Zizi tadi tidak sahutan apa-apa saat ia menekan belnya.

"Memangnya kau lebih pandai dari Chanyeol selain mengisi TTS?" Ucapan Suho itu membuat Sehun memanyunkan bibirnya.

"Suho~ya," panggil Sehun dalam perjalanannya menuju kelas mereka.

"Hm?" Sehun melirik ponsel Suho yang sejak tadi tak lepas dari pandangannya. Namja itu cukup terkejut melihat dengan siapa Suho berkirim pesan.

"Apa kau masih mencintai Zitao?"

Pertanyaan yang terasa begitu keramat bagi Suho itu membuatnya mematung menghentikan langkahnya. Ia melirik Sehun yang memegangi pundaknya.

"Ingatlah Lay yang begitu mencintaimu. Chanyeol yang juga adalah sahabatmu. Juga Kris Hyung yang sudah menjadi pacarnya." Sehun berjalan mendahului Suho. Ia hanya berusaha untuk mengingatkan sang sahabat saja. Ia tidak ingin persahabatan mereka kelak akan hancur hanya karena masalah seorang gadis.

"Sehun~ah, yeoja yang kau sukai, Byun Baekhyun .. adalah mantan kekasihku yang masih mencintaiku sampai saat ini." Entah mengapa Suho mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya.

"Aku tahu. Aku akan membuatnya menyukaiku dengan caraku sendiri," ujar Sehun dengan senyum tipisnya. Ia kecewa saat mengetahui kebenaran itu dan harus mengingatnya lagi kini. Suho tak pernah mengatakan padanya selama ini. Tapi, bagaimana pun juga, Suho adalah sahabatnya. Ia pasti punya alasan tersendiri mengapa selama ini ia menutupinya.

~To Be Continue~

A.N : Annyeong yeorobeun! Maaf Author baru comeback setelah setelah setahun menghilang tanpa kabar. Kegiatan kuliah terlalu menguras waktu dan tenaga Author. Saat libur kuliah seperti inilah yang bisa Author pake buat nulis. Author ucapkan terima kasih bagi kalian yang masih menunggu kelanjutan cerita ini.

Masih ingat sama cerita ini kan? Semoga kalian masih suka sama ceritanya.

Review juseyo~ ^_^

Satu komentar dari kalian merupakan dukungan semangat buat Author. Thank you!~~~

See you next chapter! Pai-Pai ^_^