Title : Love is Never Flat Chapter 9
Author : ChanChanPCy
Length : Chapter
Genre : Drama, Romance, Sad
ChanTao – KrisTao – SuTao
Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun
.
Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !
Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak
Cerita gak sesuai judul –mungkin.
WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !
DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !
Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….
So ….
Happy Reading !
And NO PLAGIAT !
.
.
.
Chapter 9
Hari sudah sore saat Sehun bergegas menuju mobil Chanyeol. Ia berjalan beriringan dengan Suho yang juga baru saja selesai rapat OSIS. Sementara Sehun baru saja selesai berlatih basket. Sesampainya di parkiran, keduanya memisah memasuki kendaraan masing-masing. Mobil Suho berjalan mendahului mobilnya.
"Hm?" Alis Sehun bertaut kala dilihatnya sosok seorang gadis tengah mengintip di depan gerbang sekolah mereka. Ia mengenal gadis itu. Yeoja yang hanya akan menatap kearah satu titik dimana Suho berada.
Sehun berhenti tepat di gerbang sekolah mereka saat dilihatnya mobil Suho sudah menjauh. Ia menurunkan kaca mobilnya dan memanggil yeoja itu.
"Byun Baekhyun~ssi?"
Yeoja itu menoleh saat namanya dipanggil. Sedikit salah tingkah karena dirinya ketahuan tengah mengintip sekolah ini tadi. Baekhyun tau kalau Sehun adalah sahabat Suho karena keduanya cukup sering bermain ke rumah mereka dulu sebelum Suho dan kakaknya bertunangan.
"Butuh tumpangan?"
.
.
.
.
Chanyeol menutup telponnya dan melirik Tao yang duduk di sampingnya. Yeoja itu tengah menulis sesuatu di catatan kecilnya. Keduanya tengah duduk di halte menunggu Sehun menjemput mereka. Tao sebenarnya tidak meminta, hanya saja Chanyeol yang sedikit memaksa yeoja itu untuk ikut dengannya.
"A-ah, Tao~ya. M-mian .. sepertinya Sehun tidak bisa menjemput kita. Dia ada .. ada em .. sedikit urusan."
Tao menghentikan kegiatannya dan menatap Chanyeol tanpa ekspresi. Chanyeol meneguk ludahnya ditatap seperti itu.
"M-maaf, T-Tao," cicit Chanyeol merasa bersalah. Jujur di mata Tao saat ini Chanyeol terlihat imut.
Tao menahan tawanya melihat Chanyeol yang seperti. Ia ingin tertawa namun bus mereka sudah berhenti tepat dihadapan keduanya.
"Kalau begitu kita harus naik bus, kan? Kajja!" ajak Tao sambil menarik lembut tangan Chanyeol. Pipi namja itu bersemu diperlakukan seperti itu oleh yeoja pujaannya.
Bus penuh hingga keduanya harus berdiri. Sejujurnya ia baru pertama kali ini naik bus umum. Tapi kalau bersama Tao seperti ini, why not?
Tao menyadari dirinya kini tengah ditatap oleh beberapa siswi sekolah mereka yang naik bersama dari halte tadi. Maka ia buru-buru melepas tangan Chanyeol. Menyadari hal itu, Chanyeol kembali meraih tangan Tao dan menggenggamnya erat. Membuat beberapa siswi yang ada di sana menjerit tertahan.
"Ch-Chanyeol .." Tao berbisik pada Chanyeol yang berdiri di sebelahnya.
"Gwaenchana."
Tao merasa risih ditatap seperti itu. Mau bagaimana lagi, Chanyeol tampaknya menggenggam tangannya terlalu kuat. Sebelah tangannya juga masih di gips. Maka ia harus menjaga Chanyeol juga agar namja itu tidak jatuh saat bus tidak berjalan stabil, kan?
Setelah 20 menit perjalanan dengan bus, Tao dan Chanyeol turun di halte dekat rumah Tao. Suasana awkward kembali terasa.
"Mian, Tao. Aku ha-"
"Seharusnya kau jangan berbuat seperti itu, Chanyeol. Bagaimana jika muncul gosip tentang kita?"
Chanyeol cukup tersinggung melihat Tao yang begitu menjaga jarak dengannya. Kenapa yeoja itu begitu takut? Karena ia begitu mencintai Kris?
"Wae? Wae Tao? Apa kau begitu bencinya terhadapku? Kenapa kau begitu takut berdekatan denganku?" Chanyeol mencengkram bahu Tao tanpa sadar. Yeoja itu cukup kaget.
"A-aku sudah mengatakan alasannya. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan orang yang begitu dipuja oleh seluruh yeoja di sekolah."
"Lalu bagaimana dengan Kris?"
"K-Kris Oppa pengecualian bagiku."
Chanyeol kembali diliputi emosi. Ia berkata dengan sedikit menaikkan nada suaranya. "Kau menyukainya? Ani, kau mencintainya?"
Tao hanya diam menatap Chanyeol. Mata itu begitu sedih menatapnya. "Kenapa selalu Kris, Tao? Wae? Tidak pernahkah kau melihatku barang sedikitpun?"
Tidak Chanyeol, Tao tidak bermaksud seperti itu padamu. Tao sebenarnya mulai tertarik pada Chanyeol akhir-akhir ini. Hanya saja ego mengalahkannya untuk mengakui adanya perasaan itu.
"Geurae .. baiklah." Chanyeol melepas tangannya yang memegang bahu Tao tadi. Ia menghela nafasnya panjang. "Aku akan mengantarmu sampai rumah."
Tao tak menjawab apapun. Ia dan Chanyeol hanya berjalan dalam keheningan. Namja itu benar-benar mengantar Tao hingga depan rumahnya. Setelahnya ia kembali berbalik menuju sebuah sedan hitam yang terparkir tak jauh dari rumah Tao. Itu bukan Sehun. Entah siapa yang tidak Tao kenal. Namun rasanya Tao tidak asing melihatnya. mobil Tanpa mengucap sepatah kata pun, namja itu berlalu meninggalkannya.
Tao mengusap setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Menangis kah ia? Karena Chanyeol? Juga .. kenapa ada rasa sakit yang sedikit menyeruak di hatinya? Terlalu keras kah ia menolak keberadaan Chanyeol di sisinya? Tapi bagaimana dengan Kris? Bukankah namja itu juga masih memiliki tempat dihatinya saat ini?
.
.
.
.
Tak.
Kyungsoo menghela nafasnya sesaat setelah ia memukul bolanya. Ia menatap Kris yang berdiri di sampingnya. Namja itu tampak memasang kuda-kuda terbaiknya agar pukulannya bisa membuat bola kecil itu memasuki lubang pada jarak 10 meter di depannya.
"Hah aku lelah. Di sini juga terlalu panas. Haruskah kita ikut mereka dan melakukan ini?" Kyungsoo menunjuk kedua orang tua mereka dengan dagunya. Kris terkekeh kecil tanpa melirik yeoja itu. Ia masih fokus pada bolanya sendiri.
"Tentu saja," jawab Kris setelah ia sukses memukul bola keduanya. "Apalagi jika kau sudah resmi menjadi Nyonya Wu Kyungsoo."
"Dalam mimpimu saja, Oppa. Huh! Golf bukanlah tipeku. Kenapa sih orang kaya suka sekali bermain golf?"
"Cih. Karena hanya orang kaya saja yang mampu menyewa lapangan dan peralatan ini. Pergilah temani Kai di sana," ujar Kris yang membuat Kyungsoo melonjak tanpa sadar. Ia tampak begitu gembira hingga Kris menautkan kedua alisnya.
"Dengan senang hati, Tuan Muda Wu. Berusahalah memukul dengan baik, Oppa." Kyungsoo menepuk pundak Kris yang membuat sang empuya punya pundak terheran melihat tingkahnya. Namun Kris tidak mau ambil pusing soal itu dan kembali menggeluti kegiatannya.
Kyungsoo berjalan mendekati Kai yang sedang terduduk seorang diri. Menyadari Kyungsoo duduk di sebelahnya, namja itu langsung berdiri dari bangku panjangnya.
"Eoh, Kai Oppa, gwaenchana. Duduklah di sini." Kyungsoo mempesilahkan Kai untuk kembali duduk. Namun Kai menolaknya dengan halus. Ia cukup sadar untuk tidak duduk bersampingan dengan orang-orang seperti Kyungsoo.
"Terima kasih, Nona. Tapi-"
"Maaf, tapi aku memaksamu Oppa. Duduklah di sini." Kyungsoo menepuk tempat di sebelahnya. Dengan canggung dan perlahan Kai duduk di sana. Jujur ia takut majikannya akan marah. Bukan Kris, tapi ayahnya lelaki itu.
"Terima kasih, Nona," kata Kai halus.
Hati Kyungsoo sedih melihat namja yang ia suka selama ini ternyata adalah seorang bodyguad Kris. Lihatlah ia yang begitu berbeda dengan saat ia di sekolah. Setelan jas hitam dengan kacamata hitam yang menggantung di wajahnya. Rambut yang disisir ke belakang dengan begitu rapi. Ia seperti bukan Kai yang Kyungsoo kenal. Bisakah ia berharap lebih atas hubungannya dengan namja itu suatu hari nanti?
"Kenapa kita menjadi canggung sekali seperti ini?" gumam Kyungsoo yang didengar oleh pendengaran Kai yang tajam.
"Karena saat ini aku sedang bekerja. Mianhae," jawab Kai membuat Kyungsoo sedikit kaget. Ia melepaskan kacamatanya dan menyematkannya pada jasnya. Kyungsoo bersumpah ini adalah pemandangan terindah melihat wajah Kai yang tersapu angin lembut.
"Oppa, aku baru tahu jika kau adalah pengawal pribadi Kris Oppa. Orang-orang di sekolah hanya menganggap kalian sebagai sahabat kental yang tidak bisa dipisahkan."
"Nyatanya kami memang tidak bisa dipisahkan, bukan?" Kai tersenyum lebar. Hati Kyungsoo kembali berdenyut sakit. Tugas Kai pastilah sangat berat selama ini. Karena Kris pernah menjadi seorang entertainment sebelum ini yang membutuhkan pengawalan khusus.
"Ah, ne." Kyungsoo menundukkan kepalanya. Begitu banyak permasalahan yang dihadapinya.
"Kenapa kau tampak begitu sedih, Nona Kyungsoo?"
"Bicara seperti biasa saja, Oppa."
Kai menggeleng pelan. Matanya melirik pada barisan para pengawal dari keluarga Kyungsoo dan Kris. Yeoja itu paham akan situasinya. Ia menghela nafasnya dengan raut begitu kacau.
"Bagaimana bisa aku bahagia jika dijodohkan oleh orang yang tidak aku cintai, Oppa. Terlebih lagi namja yang dijodohkan olehku adalah namja yang begitu dicintai sahabatku. Bagaimana aku bisa menghadapi Tao nanti?"
"Apa ada namja yang kau sukai, Nona Kyungsoo?"
"Ne."
Kyungsoo menampilkan raut sedihnya. Setetes air jatuh dari pelupuk mata besarnya. Ya, aku sangat menyukai namja itu. Sangat menyukainya hingga rasanya aku ingin gila karena orang itu harus terus menjaga sikapnya padaku di depan semua orang, Kai Oppa.
"Kau tahu, jika aku menjadi kau, aku akan memperjuangkan namja itu," bisik Kai tepat di telinga Kyungsoo. Bagaikan ada listrik yang menyengatnya, Kyungsoo seakan diberi energi kembali oleh Kai. Tapi ... bukankah kau juga mencintai Lay selama ini, Oppa?
"Benar! Aku harus mempertahankan namja itu, Oppa!" ucap Kyungsoo begitu membara. Ia menatap penuh arti pada Kai. Sementara yang ditatap hanya tersenyum lembut menanggapi.
.
.
.
.
"Terima kasih, Sehun~ssi." Baekhyun membuka suara setelah beberapa lama mereka dalam perjalanan. Sehun tertawa kikuk menanggapinya. Sungguh ia gugup sebenarnya.
"Ah-ahaha, tak apa. Aku juga sedang tidak terburu-buru."
"Ah, begitu ya." Baekhyun tersenyum canggung. Sehun yang melihat itu merasa dadanya berdegup kencang melihat senyuman manis yeoja imut di sampingnya.
Hening kembali menyapa keduanya. Sehun yang bingung ingin membuka topik apa dan Baekhyun yang terlihat tak berminat berbicara hanya menatap jalanan di balik kaca mobil. Hingga mereka sampai di depan rumah Baekhyun keduanya tetap berdiam diri saja. Tidak heran jika Sehun tau rumah yeoja itu, karena ia cukup sering diajak oleh Suho kemari untuk menemui Lay.
"Terima kasih," ucap Baekhyun sebelum turun dari mobil. Sehun baru saja akan membukakan pintu untuknya, namun Baekhyun sudah lebih dulu membuka seatbelt-nya dan keluar.
"Byun Baekhyun~ssi!" panggil namja itu sebelum Baekhyun memasuki gerbang rumahnya. Baekhyun yang sudah memegang kenop pintu di samping gerbangnya mendadak berhenti.
"Selamat menikmati malam, mu," ujar Sehun yang membuat dahi Baekhyun berkerut.
"Ah, terima kasih, Sehun~ssi."
Bbrrrrmmm.
Perhatian keduanya teralihkan pada sebuah sedan berwarna silver yang baru saja diparkirkan pemiliknya di belakang mobil Sehun. Tak lama kemudian keluar Lay, Luhan, dan Suho dari dalamnya.
"Eoh, Sehun~ah," panggil Suho begitu melihat Sehun ada di depan rumah tunangannya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"A-aku aku baru saja mengantar Baekhyun. Kami emm .. bertemu di jalan." Sehun sempat melirik gadis yang dimaksud sebelum melanjutkan ucapannya.
"Eoh, kebetulan sekali."
"Hai, Sehun~ssi!" sapa Luhan begitu ceria.
"Hai, Sehun. Mau mampir dulu?" sapa Lay pula.
"Hai, Luhan~ssi, Lay. Ah terima kasih, Lay. Tapi aku harus ke rumah Chanyeol dulu setelah ini."
"Eoh, baiklah."
"Kalau begitu aku pulang dulu. Suho~ya, ayo ikut aku ke rumah si Dobi." Ajak Sehun yang hanya dijawab dengan anggukan.
Mobil Sehun jalan lebih dulu. Kemudian Suho menyusul setelah ia berpamitan dengan Lay, Luhan, dan Baekhyun yang hanya bisa menatap sendu kepergian namja itu. Ada semburat merah yang muncul di wajah Baekhyun saat Suho berpamitan padanya. Ia lalu berlalu meninggalkan Lay dan Luhan yang masih berdiri di luar.
"Apa Baekhyun dan Sehun dekat?" tanya Luhan yang tampaknya sedikit cemburu saat mendengar namja itu mengantar pulang adik sahabatnya.
Lay mengendikkan bahunya. "Setahuku tidak. Lagipula Sehun juga bilang mereka bertemu di jalan, kan?"
Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi Sehun-"
"Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir. Kau jadi menginap di sini kan?"
"Tentu!"
"Kajja kita masuk!"
Lay mengajak Luhan memasuki rumahnya. Malam ini Lay mengajak Luhan untuk menginap karena sejak kemarin orang tuanya pergi ke Cina untuk menghadiri acara kolega bisnisnya sekaligus mengurus cabang bisnis yang baru mereka rintis di sana.
"Apa Baekhyun masih mendiamkanmu?" tanya Luhan sesampainya mereka di kamar Lay. Yeoja itu tampak murung saat Luhan menanyakannya.
"Dia hanya akan berbiara padaku jika ada sesuatu yang penting saja."
"Adikmu itu keterlaluan sekali. Padahal saat acara pertunangan kalian kemarin, dia berdiri paling depan bersama kami. Tao juga sudah terlihat merelakan Suho," ujar Luhan setelah ia merebahkan tubuhnya di kasur.
"Benarkah Tao begitu?" tanya Lay meyakinkan.
"Tao bahkan memegang tangan Baekhyun saat kalian mulai memasang cincin. Masalah kalian sungguh complicated." Luhan mengetahui semua cerita ini dari Lay. Walau Tao sendiri belum mengatakan apapun pada mereka.
Lay ikut membaringkan tubuhnya. "Aku mengerti bagaimana ia pasti sangat merindukan Suho selama ini. Kita yang paling tahu sedihnya Tao saat ia menceritakan perihal Joonmyun alias Suho. Bukankah hatinya sangat hancur saat ini, Lu? Dulu adikku yang merebut Suho darinya. Sekarang, akulah sahabatnya yang merebut Suho darinya."
"Sudahlah, Lay. Ini semua sudah terjadi. Lagipula Tao sekarang sudah memiliki Kris Oppa, kan?"
"Aku tidak percaya pada Kris Oppa," jawab Lay sengenanya.
"Ya! Kris Oppa itu tampan. Kau tahu kenapa Tao tidak pulang bersama kita tadi? Tao bilang karena Chanyeol mengajaknya untuk pulang bersama. Haahh ... apakah namja itu bermaksud menikung Kris Oppa?"
"Jinja?" tanya Lay merasa tak percaya dengan ucapan Luhan. "Tao dan Chanyeol berteman? Daebak!"
"Lagipula Tao tidak memiliki alasan untuk membenci Chanyeol, kan?"
"Tao itu selalu menganggap Chanyeol adalah rivalnya asal kau tahu, Lu. Dulu saat ada tournament Taekwondo, Chanyeol pernah memberikan sebuah minuman buah yang malah membuatnya malah terkena diare dan tak bisa mengikuti pertandingannya."
Luhan membuka mulutnya tak percaya. Keduanya masih terlalu asik untuk menggosipkan sahabat mereka. "Woah, Chanyeol benar-benar keterlaluan!"
"Ngomong-ngomong, kenapa Kyungsoo mendadak pergi ke China?" tanya Lay yang teringat pada sahabatnya bermata bulat itu.
"Molla. Ia hanya bilang harus ikut dengan orang tuanya saja. Sekolah juga terasa sepi, kan? Aku juga tidak melihat sejoli Kris Oppa dan Kai Oppa."
Lay melirik jam dindingnya. Ia segera bangun dan menarik handuknya dari gantungan. "Aku mandi dulu, Lu. Sudah hampir malam."
Luhan mengangguk. "Aku mau minum dulu ke dapur." Yeoja itu lalu bergegas menuju dapur. Menyapa beberapa maid di sana yang sedang menyiapkan makan malam. Keluarga Lay memang lebih kaya dari keluarganya. Untuk memasak saja mereka mempunyai chef khusus yang Luhan tau chef itu adalah lulusan dari sekolah terkenal dulunya.
Mata Luhan tertarik pada pintu pertama di sebelah kiri setelah tangga, bersebrangan dengan pintu kamar sahabatnya. Luhan tau itu adalah kamar Baekhyun. Pintunya terbuka sedikit. Membuat hasrat keponya muncul. Dengan mengendap-endap setelah melirik kanan dan kiri, kakinya melangkah mendekati pintu itu. luhan mengintip ke dalam yang teryata tidak terlihat Baekhyun di sana. Tangannya membuka pintu itu lebih lebar. Di dalam sana Luhan melihat ...
Tap.
"OMO!" pekik Luhan begitu melihat ada tangan yang memegang tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Lu? Jika ketahuan oleh Baekhyun habislah kita."
Luhan mengusap-usap dadanya yang berdegup begitu kencang. Ia kira ia akan ketahuan oleh Baekhyun. "Ah, Lay. Kau membuatku terkejut. Aku hanya sedikit penasaran dengan kamar adikmu. Aku melihat ada foto Suho di sana."
Lay menghela nafasnya. "Aku tahu. Memang ada foto Suho bersama Baekhyun di meja belajarnya. Kurasa itu diambil saat mereka masih berpacaran."
"Ani-ani. Bukan itu. Tapi lihatlah kamar adikmu ini!" Luhan membuka lebar pintu kamar Baekhyun. "Wallpaper dinding kamar ini .. adalah gambar Suho."
"A-apa ini semua?" Lay menutup mulutnya tak percaya. Ia berjalan semakin dalam memasuki kamar sang adik. Terakhir kali ini memasuki kamar Baekhyu mungkin sebulan yang lalu dan semua gambar Suho ini belum ada.
Brak.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" Marah Baekhyun yang langsung membentak kedua orang yang ada di kamarnya itu.
"Baekhyun~ah," Luhan ingin mencoba untuk minta maaf. Namun Lay lebih dulu memotong ucapannya.
"A-Apa-apaan ini semua, Baek? Kenapa kau memasang banyak foto Suho? Bahkan dinding kamarmu ... hiks," Lay tidak mampu meneruskan ucapannya karena tersedak oleh tangisannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Baekhyun yang kembali membentak Lay.
"Suho adalah tunanganku! Sadarlah, Baek! Ia akan menjadi suamiku kelak."
"AKU MENCINTAI SUHO LEBIH DARIMU, LAY!"
Luhan bermaksud untuk menengahi pertengkaran antar kedua kakak adik ini. Tapi lagi-lagi Lay menahannya.
"Suho tidak mencintaimu lagi, Baek. Kau tahu itu. Kau dan aku tahu siapa orang yang Suho cintai saat ini." Lay berkata pelan. Pahit dirasanya jika mengingat kenyataan ini.
"Diamlah kau dengan mulut bodohmu itu! Kau hanyalah seorang anak yang dipungut orang tuaku dengan belas kasihan dan keberuntungan karena mereka menjodohkanmu dengan Suho."
"Hei, Baek! Kurasa ucapanmu sudah keterlaluan sekali."
"Inilah kenyataannya. Bahwa sahabatmu ini sebenarnya adalah anak pungut!"
.
TBC
.
Cuap-cuap Author: Mungkin cerita ini udah banyak dilupakan readers kali ya. Maafkan Author yang baru muncul. Jadwal kuliah Author terlalu padat. Padahal baru tingkat 2. Ini juga bisa nulis karena Author lagi libur. Author juga sebenarnya udah kurang semangat ni ya mau ngelanjut. Melihat EXO yang akhir-akhir ini hanya OT 8. Rasanya gimanaaaaa gituuuu
Author sangat berterima kasih buat reader yang masih nungguin cerita ini. Yang follow dan favorite-in cerita ini. THANK YOU SO MUCH FOR YOU ALL!
And then .. maafkan Author jika cerita ini sangat berjalan lambat dan membuat kalian tidak sabar. Masalah yang terlalu complicated juga mungkin membuat kalian bingung. Tapi semoga kalian bisa memahaminya secara perlahan. Kalau ada yg kurang jelas boleh ditanyakan sama Author nih.
Sekian dan ... REVIEW JUSEYO ^_^
Boleh dong yaaa kasih review nya buat Author. Heheee ...
See you all!
Doakan Author bisa update fast yeeee. #bacot
