Title : Love is Never Flat Chapter 10
Author : ChanChanPCy
Length : Chapter
Genre : Drama, Romance, Sad
ChanTao – KrisTao – SuTao
Chanyeol | Kris | Tao | Sehun | Kai | Suho | Luhan | Kyungsoo | Lay | Baekhyun
.
Para member EXO milik Tuhan YME, orang tua mereka, entertainment mereka, dan juga fans mereka tentunya. PERHATIAN : FF ini, 100 % milik author dan hasil buah pikiran author sendiri. BUKAN PLAGIAT !
Mianhae kalo typo bertebaran, alur kecepetan dan feelnya kurang dapet …. Bahasanya juga absurb. Cerita pasaran dan alur mudah di tebak
Cerita gak sesuai judul –mungkin.
WARNING : Ini FF GS ! Gak suka langsung EXIT aja ! No BASH ! No Flame ! OK !
DON'T COPAS tanpa permisi sama Author lebih dulu !
Budayakan REVIEW sehabis membaca ne chingu ….
So ….
Happy Reading !
And NO PLAGIAT !
.
.
.
Chapter 10
Luhan masih menangis sesunggukan di kamar Lay. Kini mereka sudah memasuki kamar masing-masing. Semua berakhir ketika Luhan tanpa sabar menampar pipi Baekhyun dan Lay yang akhirnya membawa gadis itu menuju kamarnya.
"Sudahlah, Lu. Aku tidak apa-apa. Memang itu kenyatannya. Semoga saja setelah ini kau masih mau berteman denganku."
Luhan membuang ingusnya sebelum berbicara. "Tentu saja tidak, bodoh. Kau tetap sahabatku, Lay. SE-LA-MA-NYA!"
"Terima kasih, Luhan," Ujar Lay yang langsung memeluk Luhan. Keduanya menangis dalam pelukan.
"Maafkan aku menampar Baekhyun tadi, Lay. Sungguh aku kelepasan. Ucapannya itu sudah keterlaluan sekali."
"Haha. Tidak apa Lu. Tapi kurasa kau tetap harus minta maaf padanya." Lay terkikik mengingat kejadian tadi. Ia cukup terkejut melihat Luhan yang berani menampar adiknya itu.
"Tidak akan!"
.
.
.
.
"Kau tahu Yeol, tadi aku melihat ada seseorang yang mengantar gebetannya pulang dengan mobilmu," ejek Suho yang membuat Sehun mendelik.
"Jinja? Pantas saja aku jadi harus pulang naik bus umum. Apakah menurutmu gebetannya tertarik pada orang itu?" Chanyeol menambahi ucapan Suho yang membuat lelaki berkuliat pucat semakin kesal.
Sehun melempari keduanya dengan bantal duduk. Chanyeol dan Suho semakin tergelak dalam tawanya.
"Ahaha. Hahh ya ampun. Perutku sakit karenamu, Hun. Tapi benarkah kau pulang naik bus umum, Yeol?"
Chanyeol mengangguk. Ia mengambil sebuah biskuit dari dalam toples. "Ne, bersama Tao."
"Woah! Daebak! Seorang Wu Dobi naik bus umum?" tanya Sehun yang juga tak percaya.
"Namaku Park bukan Wu," jawab Chanyeol ketus.
"Eih, berhentilah mengganti namamu dengan nama Ibumu, bodoh. Apa salahnya bermarga Wu? Tuan Wu kan punya banyak uang." Lanjut Sehun setengah mengejek.
Chanyeol mendengus kesal. Suho hanya menatap keduanya dengan senyuman geli saja. "Kau saja yang menjadi anaknya kalau begitu."
"Baiklah." Sehun lantas mengarahkan kakinya pada sebuah figura super besar yang terpajang di dinding ruang santai rumah besar itu. "Tuan Wu, kumohon angkatlah aku sebagai anakmu," ucapnya sambil menutup tangannya memohon di depan wajah ayah Chanyeol.
Sungguh penampakan itu terlihat lucu sekali. Bahkan kini Suho sudah guling-guling di lantai. Beberapa maid dan pengawal yang melintas pun terkikik kecil. Chanyeol melempari Sehun dengan bantal di tangannya.
"Dasar gila!" umpatnya.
"Tuan Wu diam saja, Yeol. Sepertinya ia tidak ingin mengangkatku sebagai anaknya," Sehun terus mendaratisir suasana. Tawa Suho membuat lelaki itu meneteskan air mata. Chanyeol pun mau tidak mau ikut terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
"Beginikan lebih baik," ujar Sehun menilik kedua sahabatnya. Ia mengerti kedua sahabatnya memiliki problema besar dalam keluarga mereka dan juga hati mereka masing-masing. Ia bersyukur sedikit hiburan darinya bisa membuat keduanya merilekskan urat-urat di kepala mereka.
"Terima kasih," kata keduanya bersamaan.
Sehun mendecih sebal. "Common guys. Seperti bukan sahabat saja kalian berterima kasih."
"Wow! Oh Sehun sudah bisa berbicara dengan Bahasa Inggris sekarang?" ejek Suho.
"Ya! Ya! Ya! Berhenti mengejekku!"
"Sudah-sudah," ujar Chanyeol menengahi.
"Lihatlah, Yeol, Suho terus mengejekku," adu Sehun bagaikan anak kecil.
"Cih! Mengadu. Ngomong-ngomong, aku baru sadar kalau kau sudah melepas gips-mu, Chan." Suho menilik tangan Chanyeol yang tampaknya baik-baik saja. Tidak lagi digendong seperti kemarin.
"Ah, ne. Tapi pagi juga belum dilepas. Kapan kau melepasnya?" tanya Sehun.
Chanyeol melirik tangannya. Ia gerak-gerakkan tangan kanannya. "Barusan."
"Memangnya sudah sembuh?" Suho masih tampak tak percaya melihatnya.
"Kau lihat beberapa pengawalku yang berjalan dengan pincang? Aku baru saja membanting tubuh mereka sesaat sebelum kalian tiba."
"Jinja? Kau gila, Yeol!" Sehun melongo tak percaya. Ia yang menjadi saksi mata melihat beberapa pengawal itu berjalan terpincang dan beberapa berjalan dengan memegangi pinggang mereka.
"Tidak usah heran, Hun. Kau sendiri tahu tidak ada yang bisa mengalahkan Chanyeol kecuali Kai Hyung dan Tao."
Sehun mengangguk-angguk. Benar juga yang dikatakan Suho itu. Chanyeol itu kuat. Tapi tetap saja, tangan sahabatnya ini kan baru saja retak. Masa secepat ini sudah sembuh dan bisa membanting tubuh lelaki dewasa?
"Berbicara soal Tao, karena terlalu kesal, tadi aku pulang dari rumahnya dengan mobil para pengawalku. Bagaimana jika ia nanti tahu kalau aku adalah saudaranya Kris?" chanyeol mengusak rambutnya frustasi. Kini Suho dan Sehun tau apa alasan dibalik Chanyeol membanting tubuh para pengawalnya itu.
"Kau saja yang bodoh karena terlalu terbawa emosi. Wae? Kalian bertengkar? Jangan bilang kau memaksa Tao lagi kali ini," tebal Suho. Memaksa dalam artian membuat gadis itu membuka hatinya untuk Chanyeol.
"Kalau begitu jangan ucapkan apapun jika Tao bertanya." Usul dari Sehun itu membuat Chanyeol dan Suho menatap padanya. "Wae?"
"Tumben kau memberi usul yang waras."
"Jadi selama ini kau menganggapku tidak waras, Yeol?"
Chanyeol tidak mempedulikan Sehun yang terus bertanya padanya. "Bagaimana jika sekolahmu dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga, Ho?" Chanyeol bertanya sebagai seorang ketua OSIS.
"Ide bagus. Tapi kenapa tiba-tiba? Liburan semester kemarin kita juga baru mengadakan pertandingan dan prom nigh,." tanya Suho yang setuju denga usul Chanyeol sekaligus bingung dengan alasan pemuda itu.
"Tidak ada. Hanya saja sedang tidak ada agenda yang berarti saat ini di sekolah kami. Kupikir anak-anak perlu penyegaran untuk melatih kemampuan mereka secara kompetitif," terang Chanyeol.
"Baiklah. Akan kubicarakan dengan anggota OSIS yang lain. Kau dengar, Hun? Kalau acara ini jadi, kau sebagai kapten basket sekolah kita harus bisa membuat sekolah kita mengungguli sekolah Chanyeol."
Sehun melakukan gerakan hormat pada kedua Ketua OSIS di hadapannya itu. "Siap, Jendral!"
"Dan kalahkan, Kris!" gumam Chanyeol.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Sehun yang tidak mendengarnya. Namun Suho mendengar apa yang diucapkan Chanyeol itu karena ia duduk bersebelahan dengannya. Tampaknya dendam itu benar-benar sudah tertanam dalam diri Chanyeol.
"Ah, sudahlah, kajja kita pulang," ajak Sehun yang sudah sangat ingin mandi itu.
"Baiklah, kami pulang dulu, Yeol." Suho juga ikut berpamitan. "Sebelum pulang aku akan ke rumah Tao dulu," katanya lagi yang cukup menyulut emosinya.
Buk.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Suho. Suho hanya mendengus kesal merasakan itu. ia melihat sahabatnya itu sudah mulai bernafas dengan tidak stabil akibat emosi.
"Jangan macam-macam. Bersainglah dengan sehat," jawab Chanyeol yang membuat Sehun menjadi tak mengerti isi kepala para sahabatnya itu.
"Tapi kau baru saja memukulku, Dobi."
"Anggap saja itu bonus dariku. Kau tahu hari ini aku sedang ingin menghancurkan apa saja yang ada di depan mataku."
Mereka gila, pikir Sehun. Hanya karena seorang gadis mereka saling memukul. Dan lebih gilanya lagi, Chanyeol membiarkan Suho mendatangi rumah gadis yang dicintainya.
"Kau membiarkan Suho begitu saja, Yeol? Ya! Suho~ya, sadarlah kau juga sudah bertunangan."
"Sebelum ada ikatan janji suci, aku masih bisa menghalalkan berbagai cara," ucap Suho yang langsung pergi. Meninggalkan Sehun yang terbengong dan Chanyeol yang mengumpat.
"Sialan. Aku jadi emosi lagi," gerutu Chanyeol.
"Aish. Bagaimana aku pulang?" tanya Sehun pada dirinya sendiri.
"Menginap di sini saja."
"Tidak terima kasih. Ini bukan apartemenmu. Aku tidak bisa berlaku sesukaku. Aku pulang saja," jawab Sehun cepat. Ia merasa lebih segan jika harus menginap di rumah besar sahabatnya ini. Lain ceritanya jika di apartemen Chanyeol, bahkan sudah seperti tempat tinggalnya sendiri.
Chanyeol melempar sesuatu yang ditangkap dengan baik oleh Sehun. Kunci mobil yang dipakainya tadi. Setelah melempar itu Chanyeol pergi meninggalkan Sehun sendiri.
"Aku pinjam ya," teriak Sehun yang mengerti maksud Chanyeol itu.
Cukup diketahui saja, Sehun memang bukan dari keluarga yang sangat kaya seperti Chanyeol dan Suho. Keluarganya dari kalangan orang berada saja. Hidup serba berkecukupan, bukan berlebihan seperti kedua sahabatnya. Dan saat ini ia dan orang tuanya hidup berpisah karena kedua orang tuanya sedang mencoba membuka cabang usaha resto mereka di Gangnam.
.
.
.
.
Tao membulatkan matanya saat ia membuka pintu dan melihat Suho-lah yang menekan bel rumahnya. Lelaki itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Dengan senyum angelic-nya ia tersenyum pada Tao.
"Hai, Zi." Zitao bingung harus bereaksi seperti apa. Jujur ia merasa senang sekaligus kaget di saat bersamaan. Senang? Ya, Tao merasa senang setiap kali ia melihat Suho menemuinya. Itu artinya lelaki itu masih mencintainya, bukan? Tentu. Namun, akal sehatnya menolak mentah-mentah perasaan hangat itu. Ia harusnya menolak kedatangan Suho, kan?
"Pulanglah, Joonmyun." Tao berkata dengan kepala tertunduk. Sungguh ia ingin sekali membuka pintu rumahnya ini untuk lelaki itu. Tapi bayangan tentang sahabatnya melintas membuatnya harus bertindak tegas pada dirinya sendiri. Ia hanya mencoba. Walau hatinya sejak tadi merengek untuk terus membiarkan Suho berada dalam pandangannya.
"Biarkan aku melihatmu sebentar saja," ucap lelaki itu memohon. Tangannya menahan pintu yang hendak ditutup oleh sang pemilik rumah.
"Untuk apa?" Lagi-lagi Tao berbicara tanpa menatap Suho. Gadis itu terlalu takut menatap mata Suho yang bisa membuatnya tidak tahan untuk berlari memeluknya dan meluapkan segala resahnya selama ini.
"Aku merindukanmu."
"Joonmyun-"
"Siapa yang datang, Zi?" ucapan Tao terpotong oleh seorang lelaki baya yang menghampirinya. "Eoh, siapa ini? Aku seperti mengenalnya."
"Halo, Paman Huang," sapa Suho begitu sopan membuat lelaki tampan itu tersenyum lembut padanya. "Aku Kim Joonmyun. Teman semasa SMP Zitao. Dulu Zitao sering mengajakku bermain di rumah kalian sebelum pindah kemari, jika kau ingat." Suho melihat lelaki itu mengerutkan dahinya sejenak. Ia pasti sedang mencoba mengingat dirinya.
"Aah! Tentu saja aku ingat!" pekik lelaki itu senang. "Kau Joonmyun kekasih pertama Zitao itu, kan?" Senyum lebarnya membuat kedua remaja dihadapannya itu merasa canggung. "Jadi kalian masih berhubungan sampai sekarang?"
"Appa-"
"Suruh ia masuk, Zi. Aku mengundangnya untuk makan malam bersama kita jika ia mau." Tao melempar tatapan canggungnya pada Suho. Lelaki itu hanya membalasnya dengan senyumannya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Ayahnya Zitao lagi setelah sekian lama.
"Terima kasih, Paman Huang. Aku sangat menghargai itu."
Tao memilih mengalah kali itu. Ia mempersilahkan Suho masuk dan membiarkan lelaki itu bercengkrama dengan ayahnya. Ayahnya memiliki perangai yang lembut sepertinya. Mungkin sikapnya itu yang diturunkan padanya oleh sang ayah.
Tao menyiapkan segala keperluan makan malam mereka bersama seorang maid mereka. Suho diam-diam memperhatikan gadisnya dari ruang tengah. Dulu ia sering sekali menemani Zitao ke rumah sakit untuk menemui ayahnya. Ayah Zitao adalah seorang dokter ahli bedah. Ia jarang pulang ke rumah, membuat Zitao harus menyusulnya ke tempat sang ayah bekerja. Keluarga Zitao juga jauh dari kata harmonis. Suho-lah yang sejak dulu setia menemaninya menghilangkan rasa sepi dalam hati Zitao.
Makan malam sederhana berlangsung di rumah bergaya otentik itu. Tao lebih banyak diam dan memperhatikan interaksi antara Suho dan ayahnya yang terlihat sangat akrab. Menyakitkan bukan melihat orang yang tak bisa kau miliki tampak akrab dengan keluargamu? Kilas balik saat mereka masih bersama terus berputar dalam kepalanya.
"Jadi, sudah berapa lama hubungan kalian ini? 3 tahun? 4 tahun?" tanya Ayah Zitao disela acara makan mereka. Kedua insan di hadapannya tampak bereaksi gugup.
"Kami sudah putus, Appa." Jawaban Zitao itu tidak membuat Tuan Huang terkejut. Ia tetap menikmati makan malamnya dengan santai. Menurutnya putus nyambung merupakan suatu hal yang lumrah baginya untuk anak remaja seperti anaknya.
"Boleh aku tahu alasannya?" Zitao merasa jengah melihat ayahnya yang terlihat ingin tahu itu. Menurutnya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu saat makan malam.
Suho menghabiskan makanan di mulutnya dan meminum sedikit air putih di hadapannya. Menarik nafas sejenak sebelum memulai berbicara. "Dengan sangat menyesal aku mengatakan kalau aku menyelingkuhi anak Anda, Paman." Alis kanan Tuan Huang terangkat sedikit. Ia memperhatikan wajah Suho begitu lamat kemudian mengangguk-angguk.
"Lalu, kini kau merasa menyesal telah berbuat seperti itu?"
Suho mengangguk. Ia tak lagi memakan malamnya dan lebih memilih menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan padanya. "Ya, aku sangat menyesal." Suho melirik Tao sekilas yang hanya diam di tempatnya. Kunyahan dalam mulut gadis itu terlihat begitu lambat.
"Dan aku baru menyadari kalau aku masih sangat mencintai putri Anda, Paman," lanjutnya membuat Tao tersedak sendiri dengan makanannya. Ia buru-buru meminum airnya dan memandang Suho tak percaya. Bagaimana bisa ia begitu lantangnya berkata jujur pada Ayahnya kalau ia masih mencintai putri kesayangannya.
"Aku paham. Tapi kini kau sudah bertunangan dengan seseorang, bukan?" Suho terkejut mendengar bahwa Ayah Zitao tau ia sudah bertunangan. Apa Zitao yang memberitahunya? "Kau memakai cincin yang tak biasa dipakai anak remaja sepertimu di jari manismu." Tatapannya beralih pada cincin di jarinya itu.
"Aku sudah dijodohkan, Paman," tutur Suho lirih. Mendengar nada tak bahagia dari Suho itu membuat Tao mengingat Lay. Bagaimana hancurnya hati sahabatnya itu jika melihat Suho seperti ini.
Tuang Huang berdehem. Ia sudah menyelesaikan makan malamnya. "Hidupmu adalah milikmu. Kau berhak menentukan apa yang terbaik untuk dirimu. Aku tidak akan berkata apapun lagi untuk kalian. Aku tidak akan memberikan nasihat karena kau sendiri tahu aku orang yang gagal dalam mempertahankan cinta," ujar Ayah Zitao jujur. Ia merapikan pakaiannya dan segera berdiri dari bangkunya. Mengambil tas jinjing yang diletakkan di sampingnya dan berpamitan pada anaknya untuk pergi. Ia harus segera kembali ke rumah sakit.
"Zitao," panggil sang ayah menginterupsi. "Obatilah luka di bibir Joonmyun sebelum ia pulang. Maaf aku harus segera pergi."
"Ne. Hati-hati di jalan, Appa."
Sepeninggal ayahnya, Zitao membawa Suho ke ruang keluarga. Ia mengambil kotak P3K untuk mengobati bibir lelaki itu. Tampak koyak sedikit. Tidak perlu jahitan menurutnya, luka itu bisa menutup dengan sendirinya nanti.
"Aku tidak tahu harus berkata apa." Mulai Zitao setelah keduanya terdiam cukup lama selama gadis itu mengobati Suho.
"Tak apa jika memang berat untukmu. Maafkan aku yang terlalu memaksa untuk menemuimu. Aku tidak tahu Ayahmu ada di rumah dan akan bereaksi seperti itu padaku."
Tao tertawa kecil mendengar penuturan Suho itu. Lelaki itu berkata seolah-olah ia sudah melakukan hal yang sangat fatal. "Tidak. Tak masalah. Aku senang Ayahku mengenalmu dengan baik."
"Aku juga." Keduanya kembali terdiam. Tak ada percakapan untuk beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikirang masing-masing. "Boleh aku berkunjung lagi?"
"Aku tidak bisa mengusirmu jika kau datang. Tapi kurasa Chanyeol akan membunuhmu jika ia tau kau sering mengunjungiku."
Suho menarik nafas pelan. "Luka ini adalah perbuatan Chanyeol."
"Aku tidak terkejut mendengarnya." Tao sudah membayangkan kalau Chanyeol memukulnya karena ia tahu sahabatnya akan menemui orang yang ia sukai. "Aku akan melakukan hal yang sama jika sahabatku melakukan itu."
Suho terkekeh pelan. "Kau tahu Chanyeol menyukaimu?"
"Aku orang yang cukup peka, kau tahu itu." Suho mengangguk.
"Lalu bagaimana perasaanmu terhadap Chanyeol? Kau masih bersama dengan Kris Hyung, kan?" lelaki itu bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.
"Tolong jangan membuat semua ini terlihat rumit, Joonmyun." Tao merasa kepalanya tiba-tiba pening. Kenapa urusan lelaki begitu membingungkannya akhir-akhir ini?
"Bagaimana denganku, Zi?"
"Apanya?" Zitao bersikap seolah-olah ia tidak tahu apa maksud lelaki itu. Pura-pura bodoh adalah pilihannya saat ini.
Suho merasa jengah dengan sikap Tao. "Kau tahu maksudku, Zi. Jawablah."
"Aku tidak tahu." Jawaban yang begitu pasrah itu melantun dari bibir mungil Tao. Sungguh ia berkata jujur kini. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya kini. Ia merasa tersesat kini.
"Aku tidak akan menyerah tentangmu, Zi. Kau sudah dengar ucapanku sebelumnya. Aku bersungguh-sungguh."
Tao merasa sangat iba pada sahabatnya. "Perasaan Lay akan sangat hancur jika tahu kau begini."
"Aku tahu. Tapi ia pasti mengerti. Lay tahu kalau aku masih begitu mencintai mantan kekasihku. Yang tidak ia tahu hanyalah jika orang itu adalah kau, Zi."
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Chanyeol sudah berdiri di depan rumah Tao. Tas selempangnya ia sampirkan di bahu tegapnya. Bersandar pada motornya menunggu sang pujaan hati keluar dari kediaman ternyamannya. Poninya ia sisir ke belakang menambah nilai plus bagi penampilannya yang tampak dewasa dan tampan.
"Chanyeol?" Kening Tao berkerut saat matanya menyisir keberadaan Chanyeol. Setelah pertengkaran mereka kemarin Tao tidak menyangka lelaki itu akan tetap berbaik hati padanya dengan menjemputnya seperti ini.
Senyum Chanyeol mengembang. "Pagi, Tao!" sapa lelaki itu hangat.
"Kau menjemputku?"
"Tentu saja." Chanyeol memberikan sebuah helm untuk Tao pakai.
"Kukira kau tidak akan kemari lagi."
"Kalau kau berharap seperti itu, maaf saja. Karena hal itu tidak akan pernah terjadi," ujar Chanyeol membuat Tao berdecih sebal. Lelaki itu terkekeh kecil kemudian membantu sang gadis mengencangkan helmnya.
"Siapa juga yang berharap seperti itu?" gumam Tao.
"Hm?"
"Tidak ada. Tunggu dulu, Chanyeol. Apakah tanganmu sudah benar-benar sembuh?" Tao mengintimidasi Chanyeol yang sudah duduk di motornya. Lelaki itu memperlihatkan lengannya pada Tao mencoba menunjukkan bahwa ia sudha merasa baik. "Aku tidak yakin."
"Aku tidak mungkin sampai di sini dengan selamat jika tanganku masih sakit, bukan? Motor ini berat asal kau tahu." Chanyeol menepuk motor sport membuat Tao mendelik.
"Bisa saja Sehun yang membawanya kemari."
Chanyeol mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kemudian ia mengendikkan bahunya. Tao merasa bodoh dengan ucapannya sendiri. Jelas-jelas saja saat ini sedang sepi. Jalanan kecil ini hanya berisi ia dan Chanyeol. Tidak ada Sehun dimanapun.
"Ayo kita pergi," ajak Chanyeol. Namun, gadis itu hanya diam di tempatnya. Chanyeol mengerutkan kedua alisnya. "Kenapa? Kau tidak sedang menunggu Suho untuk menjemputmu kan?"
"Suho kemari semalam."
"Ya, aku tahu," jawab Chanyeol singkat. Sepertinya Tao sedang mulai memancing sedikit emosinya.
"Dan kau memukulnya."
"Ya." Kata itu Chanyeol ucapkan tanpa nada bersalah. Tao merasa sedikit kesal pada lelaki dihadapannya ini.
"Kau tahu kita disumpah untuk tidak melukai siapapun dengan kemampuan bela diri kita, Chanyeol."
"Ya, ya, aku tahu, Nona Huang. Aku bersalah."
"Cih. Nada bicaramu tidak seperti orang yang merasa bersalah."
Chanyeol menyunggingkan senyum miringnya mendapati Tao mulai menduduki motornya. Dalam hati ia merasa geli melihat sikap Tao yang begitu lucu baginya. Setelah memastikan sang gadis duduk dengan nyaman, ia mulai menarik gasnya dan meluncur menuju jalanan yang lebih besar. Ia melirik tangan Tao yang mencengkeram pinggiran kemejanya. Hatinya kembali menghangat.
"Maafkan aku," teriak Chanyeol.
"Untuk apa?" balas Tao dengan berteriak pula. Lelaki itu membawa motornya sedikit kencang. Angin yang menerpa wajah mereka memelankan suara keduanya pula.
"Untuk yang kemarin."
Tao terdiam sesaat. Ia mengencangkan pegangannya sebelum kembali membalas ucapan Chanyeol. "Diamlah. Kalau kau merasa bersalah, kau harus mentraktirku makan!"
Gotcha! Kurasa itu adalah sebuah lampu hijau dari Tao, bukan? Pikir Chanyeol.
.
.
.
.
Kris baru saja akan membelokkan mobilnya ke jalanan menuju rumah Tao sebelum ia melihat sang gadis duduk di boncengan adik tirinya, Chanyeol. Matanya menyipit menatap kepergian keduanya. Lelaki tampan itu menghela nafasnya panjang. Dengan rasa malas ia menginjak pedal gasnya dan berbalik menuju jalanan besar. Kris merasa tertikung oleh Chanyeol.
"Tao!" panggil Kris setelah ia menyusul kepergian Chanyeol dan Tao. Keduanya spontan menghentikan langkah meraka dan berbalik menuju arah suara.
"Kris Oppa!" ujar Tao tampak senang. Bahkan senyum lebarnya kini mengembang. Chanyeol menatap dingin kedatangan lelaki itu.
"Kau baru sampai?" tanya Kris lagi.
"Ah, ya." Tao merasakan canggung dengan posisi mereka kini. Ia berada tepat di antara dua orang paling berpengaruh di sekolahnya. Mereka sudah menjadi tontonan bagi beberapa siswa yang jalan menuju kelas mereka dan Tao baru menyadari itu. "Aku duluan," kata Tao yang tidak ingin terlibat masalah lebih jauh dengan para fans kedua orang itu.
"Ayo pergi bersama, Zi." Kris langsung menyusul Tao yang sudah berjalan lebih dulu. Meninggalkan Chanyeol dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Bolehkah dikatakan jika Chanyeol saat ini tertikung oleh Kris?
"Sialan!"
~TBC~
Yak Kris sudah kambeeekkk.
Review juseyoo?
