Title :
Dragon Revenge
Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Highschool DxD Ichie Ishibumi
Story By :
Wsa Krisna
Rate :
M
(Kata kasar dan kotor yang lupa dicuci :v)
eh ada lemon lho~
Genre :
Misteri, Supernatural, Adventure, Friendship, Romance, etc.
Warning :
AU, OOC, Super-strong, Adult scene, S-M, Gore, Death-chara, etc.
Arc I : Dua Naga Langit : Santai
["Jika dipikir lagi, ini bukan energi Naga."]
Kata-kata Albion sudah cukup membuat Naruto yang tengah 'mengudara' mengalami kecelakaan udara dan sontak membuat Kiba yang menumpang (memegang) pada kakinya berteriak nyaring.
Arara, Werewolf-sama ternyata takut ketinggian eh?
"Jika aku bisa pakai Sky Walk, aku pasti tak akan menumpang padamu, maniak dada."
"Berisik."
'Lanjutkan Albion.'
["Ahaha, ini memang bukan energi Naga, tapi ini tetap akan memuaskan hasrat bertarungmu."]
'Uh?'
["Longinus bung! dan bukan satu, tapi tiga fuhe, si bocah tempest dan hm~ Lost Dimension dan putri es itu."]
"woah."
Wajah Naruto berubah sumringah, ahaha tiga pemilik Longinus dia bilang? itu luar biasa.
"Kiba, tiga pemilik longinus adalah buruan kita sekarang."
"Roger~" "Selama ada kakak cantik sih."
Tambah pemuda serigala itu, membuat Naruto tersenyum jahil.
"Hehe, itu pasti."
""Wahaha.""
.
.
.
Hal yang pertama dilihat Naruto dan Kiba adalah pilar-pilar es, lusinan pohon yang roboh dan terbakar. Dilangit gumpalan awan hitam dengan petir menyambar menambah ketegangan pada pertarungan yang sedang terjadi.
["Entah kenapa ada sesuatu yang tak mengenakan disini."]
'Maksudmu?'
["Belakang Naruto."]
Mendapati peringatan dari Albion Naruto segera menengok kebelakang dan mendapati bilah pedang berwarna merah terayun mencoba menebas punggungnya.
Berpikir cepat, Naruto segera menendang Kiba yang memegangi kaki kirinya membuatnya terjatuh ke hutan dibawahnya dengan wujud Werewolfnya tentu saja.
Bang!
Sayap putih mekanik dari Divine Dividing memblokir serangan pedang kearahnya, meskipun begitu rasa sakit menjalar keseluruh tubuh Naruto.
["Jauhi itu, itu senjata pembunuh Naga."]
Naruto menendang sebuah (pijakan) lingkaran sihir putih didekat kakinya. Dengan sayapnya yang terentang pemuda Namikaze itu memandang kearah pelaku serangan tiba-tibanya.
"Phew."
Seorang Swordman berambut putih membuang nafas yang ditahannya, kemudian menatap Naruto dan menampilkan seringaian.
"Ohoho, seorang Hakuryuukou dan yang dibawah, seorang Werewolf. Menarik!"
Mata biru Naruto menyipit, orang didepannya berambut putih walaupun bukan masalah hanya saja
"Gaya berpedangmu sedikit mirip dengan Exorcist Gereja."
Adalah itu yang mengganjal pikirannya.
Swordman itu hanya menampilkan seringai biasanya, "Yah, soalnya aku mantan Exorcist sih!" katanya santai.
"Ngomong-ngomong, kami sedang melakukan peperangan disini. Jadi, dilarang melintas dan memotret disini, oke?"
Swordman itu mengatakannya dengan sedikit gurauan, tapi yah karena tujuan Naruto kemari untuk berburu pengguna Longinus maka
[Vanishing Dragon : Balance Breaker]
Dia tak perlu menuruti peringatan ini'kan?
"Ahaha, sudah kuduga kalian para Naga memang tak tahu malu ya, suka sekali ikut campur pertempuran orang lain."
Swordman itu yang anehnya melayang atau mungkin tidak karena dia berpijak pada lingkaran sihir yang semakin lama semakin melebar menciptakan sebuah arena bertarung. Oke, mari ikuti gaya bertarungnya. Naruto yang melayang segera turun dan berpijak pada lingkaran sihir tersebut.
"Namaku Siegfried keturunan dari Siegfried si Dragon Slayer dan merupakan seorang pahlawan. Dan sebagai seorang swordman dan keturunannya, aku ingin menapaki jalan yang sama sepertinya."
Swordman itu yang kita ketahui bernama Siegfried dan merupakan keturunan pahlawan Siegfried yang memberikan jantungnya pada Homunculus Sieg-ah bukan lupakan.
"Namikaze Naruto."
"Singkat sekali, tapi tak apa."
Siegfried mengangkat pedang merahnya kearah Naruto dan memasang kuda-kuda seorang Swordman. Ah, pedang merah beraura menjengkelkan itu.
"Hehe, pedang ini adalah pedang yang dipakai Siegfried untuk membunuh Raja Naga Fafnir, Pedang Balmung atau lebih banyak disebut Gram." Jelas Siegfried, menjelaskan asal-usul pedang beraura menjengkelkan tersebut.
"Bukan Ton? gak pake Kilo ya?" Gurau Naruto.
"Enggak." Balas Siegfried dan langsung melesat menggunakan kecepatan dewa-nya memulai serangan pada Eksitensi berjuluk Kaisar Naga tersebut.
Disaat Naruto akan memberikan tendangan kearah kakinya, Siegfried segera menghindar sedikit kesamping kemudian mengayunkan pedang Gramnya kepada Naruto yang ditahan dengan sebuah perisai es dari telapak tangannya.
Membuat sebuah tombak es Naruto menggunakannya untuk menusuk Siegfried yang menahannya dengan sebuah pedang lain yang diambilnya dari sihir penyimpanannya. Keduanya melompat mundur dan saling mengirim keinginan membunuh masing-masing.
"Wauw, kau lumayan juga."
Siegfried menyeringai jahil, kemudian mengendurkan kuda-kudanya seperti sudah tak minat melanjutkan pertarungan singkat keduanya.
"Sebenarnya aku ingin terus melanjutkan pertarungan ini, hanya saja misi pengacauannya sudah selesai. Karena itu-"
Siegfried menyeringai telunjuk kanannya menunjuk kearah belakang Naruto dan melambai menghilang dalam sebuah kabut.
"-Berjuanglah."
[Divide] [Divide]
Cahaya dari sayap Divine dividing yang sebelumnya agak redup mulai mendapat cahayanya lagi bersamaan dengan tombak-tombak api yang lenyap dibelakang tubuh Naruto.
Naruto berbalik untuk melihat lawan (Target) perburuan dadakannya ini, membagi serangan itu hal mungkin namun membagi energi dari sebuah serangan kemudian menyerap setengah energinya, sangat mustahil untuk dilakukan namun pertarungan singkatnya dengan Maou Beelzebub memberitahunya jika dirinya masihlah awam dalam sihir.
Sebuah lingkaran sihir kecil berputar ditangan kiri Naruto itu adalah sihir Naga ciptaannya yang memungkinnya untuk membagi dan menyerap energi serangan lawannya sedangkan tangan kanannya menyiapkan sebuah tombak es (lagi) dan bersiap melawan exorcist terkuat, Dulio Gesualdo.
"Ahaha, halo!"
Sapa Dulio diikuti dengan lusinan tombak api kearahnya.
Naruto kembali merentangkan sayapnya lebar-lebar, lingkaran sihir ditangan kirinya berputar cepat dan dalam detik berikutnya.
[Divide] [Divide] [Divide]
Lusinan tombak api itu lenyap seketika namun seperti sudah diketahui oleh Dulio dia segera menggunakan angin untuk meluncur kearah Naruto dengan sebilah pedang cahaya khas Exorcist diikuti lusinan tombak es-petir.
Benturan tombak es Naruto dengan pedang Dulio menghasilkan hembusan angin yang kuat. Sayap Divine Dividing segera bergerak menepis semua tombak-tombak milik Dulio menghasilkan bunyi ledakan dimana-mana.
Jika kau bertanya kenapa Naruto bisa menyerap energi serangan yang dibaginya, jawaban termudahnya adalah ini adalah gabungan dari teknik [Half Dimension] dan [Divide] milik Albion.
[Half Dimension] memungkinkan si pengguna menekan objek hidup atau mati yang dilihatnya dari dua arah dan membaginya dengan wujud yang sama tanpa menyerap energinya.
Sedangkan [Divide] adalah teknik untuk membagi dua kekuatan lawan dan menyerap setengahnya. Teknik ini digolongkan menjadi dua :
- [Divide] untuk membagi kekuatan lawan dengan syarat harus menyentuhnya terlebih dahulu (harus menunggu selama 10 detik untuk menggunakannya lagi dalam mode biasa -non Balance Breaker)
- [Divide] yang hanya membagi serangannya saja tak bisa menyerap energi yang dibagi karena teknik ini hanya merusak keseimbangan energi pada serangan.
(Penjelasan lebih lanjut di AN ya.)
"Apa kau bagian dari kelompok Siegfried? kayaknya bukan ya?"
Ucapan Dulio lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri sehingga Naruto tak ambil pusing akan itu.
"Lalu, apa kau ada ikatan dengan Lavinia Reni? kayaknya bukan lagi-"
"Kami pernah kencan sepuluh menit."
Balas Naruto cepat, walaupun memalukan tapi itu kenyataannya.
[Fuhehe.]
'Albion, diamlah.'
"A-A, Wahahaha, kencan sepuluh menit? gyahaha, itu itu itu. Ahahahaha."
Tertawalah sepuasmu sialan.
Naruto memberikan tekanan lebih kepada tombaknya membuat pedang Dulio sedikit bergeser memberi ruang pada Naruto untuk melayangkan pukulan membuat tubuh Exorcist itu terdorong kebelakang.
Ice Make : Jail
Dari udara kosong muncul butiran es membentuk sebuah penjara mengurung Dulio didalamnya.
"Tunggu disitu."
Ucap Naruto, beberapa lingkaran sihir putih ikut bermunculan disekitar penjara es Dulio memperkuat penjara itu dan menahan kekuatan Longinus miliknya untuk sementara waktu.
"Ah, aku lengah."
Gumam Exorcist berambut pirang itu, tak lama kemudian dia mengeluarkan bungkusan permen lolipop-membukanya-dan mengemutnya dengan khidmat.
"Yasudahlah, aku'kan sudah berjuang."
.
.
.
"Huaaa!!!"
Adalah teriakan dari Kiba Inuzuka yang tengah berlari, kenapa? jawabannya adalah kumpulan orang berjubah yang membawa beragam senjata pedang cahaya, pistol dan tombak.
"Bukankah kalian cuma memburu Vampire? kenapa Werewolf juga kalian buru? huaaa!"
"Karena Werewolf adalah pelayan dari Vampire."
Jawaban itu keluar dari salah satu Exorcist barisan depan, dia beberapa kali menembakkan pistolnya.
"Jiah, kalian masih percaya hal itu? dengar ya, Werewolf tak pernah tunduk pada makhluk pucat yang cuma menghisap darah kayak nyamuk itu."
"Banyak alasan."
"Anjing lo."
"Gua serigala."
*
*
"Fuu."
Helaan nafas keluar dari bibir mungil menggodanya, salah satu punggung tangannya mengusap keringat didahinya. Salah satu tangannya yang lain mengeluarkan sebuah buku tebal tua yang dia dan kelompoknya curi dari salah satu Gereja besar di Eropa.
"Haa~"
Menghela nafas untuk kedua kalinya, perempuan muda itu kembali memutar memorinya saat dirinya didatangi oleh sekelompok orang menawarinya sebuah kerja sama yang menggiurkan dan berakhir begini.
"Uuu, kuharap Master Mephisto takkan marah jika tahu ini." Bisiknya pelan.
"Kurasa, Kakek Mephis akan menghukummu dengan menjeratmu dengan tentakel-tentakel hidup lalu menuangkan slime ketubuhmu Lavinia-chan."
Sebuah suara yang lumayan dikenalnya diikuti sebuah wajah (mesum) yang familiar muncul dari sampingnya membuatnya kaget.
"Kyaaa!"
Lavinia secara spontan menggunakan buku tua yang dipegangnya itu untuk menampar Naruto dengan keras.
"Aduh, ayolah ini aku? Naruto."
"Siapa?"
["Buahaha, seperti yang diharapkan dari kencan sepuluh menit. Fuhaha.]
'Albion, diam.'
Naruto yang muncul disamping Lavinia secara tiba-tiba berakhir dengan mendapatkan tamparan buku tebal dan tawa menjengkelkan Albion.
"Aku, Naruto. Kita pernah bertemu di China sebelumnya, itu lho saat Kakek Mephisto melakukan pertemuan dengan Orochimaru-Sensei."
Pemuda pirang itu mencoba menjelaskan tempat kejadian dimana keduanya bertemu saat sama-sama menjadi pengawal Guru masing-masing.
"Kita bahkan pernah makan jajanan China bareng." Tambah Naruto lagi dengan wajah sedih.
["Oh, Naruto-sayang. Jangan sedih ada aku disini, Fuahahaha."]
Ejekan Albion makin menggila.
"Hmm~."
Wajah Lavinia mendekat jari telunjuknya menenmpel pada dagunya pipi kanannya mengembung mencoba mengingat pemuda pemuda didepannya.
'Manisnya~'
["C-U-T-E, Cute."]
Naruto dan Albion sama-sama terpesona pada keajaiban didepan mereka. Dan entah sejak kapan Albion si Naga langit bertingkah seperti error seperti ini.
"Ah, aku tahu."
Akhirnya kau tahu identitas pelaku pencabulan pada banyak gadis, tante, mama dan nenek(?) yang sekarang berdiri didepanmu nona.
"Doragon-kun ja nai. Yang waktu itu bareng Sadako-sensei."
'Uwah, dia memanggilmu Sadako, Pedo-kun.'
Naruto tertawa dalam hati.
"Ahaha, panggilanmu padaku itu lucu juga, Lavinia-Chan."
"Arara, Doragon-Kun sudah tambah dewasa ya!"
Lavinia menepuk-nepuk surai pirang Naruto meskipun fakta jika Lavinia lebih pendek dari Naruto, itu karena Naruto sengaja merendahkan kakinya supaya gadis itu dapat memuaskan dirinya mengelus kepalanya. Tentu bukan itu saja alasannya kan~
'Woah, dulu pada angka 85,5 sekarang diatas 90an.' Mata biru Naruto fokus pada dua balon dibalik jubah penyihir yang sedikit compang-camping. Lalu pandangannya terarah kebawah
'Ukuran pinggang sedikit lebih kecil, kurasa akan bagus jika pada ukuran 58 lalu bagian pahanya hmm~ 87 kurasa sudah cukup, eh.'
["Mesum."]
*
"Ahaha, kau sampai segitunya hanya untuk mendapatkannya? Lavinia-Chan, kau benar-benar me-melepasnya."
"Yup, kamu mau lihat?"
Lavinia yang duduk segera berdiri kedua tangannya perlahan memegangi sisi jubah penyihirnya bersiap menariknya untuk membuktikan bahwa dirinya sekarang tidak menggunakan kain segitiga dengan tiga lubang itu.
"Glup."
["Glup."]
"Ara, Dragon-kun terangsang ya?"
Goda gadis penyihirnya tangannya segera membatalkan proses keajaiban yang sebentar lagi akan terlihat.
"Yah~"
Raut kecewa terlihat jelas pada wajah Naruto dan itu membuat Lavinia yang kembali duduk tertawa kecil.
"Ah, benar. Dragon-kun ke Jepang untuk mengambil data penelitian tentang Naga dari Lab kerja sama antara Organisasiku dan Organisasi Sadako-sensei'kan?"
"Yep, kenapa Lavinia-chan bisa tahu?"
"Umm, karena aku sekertaris dari Mephisto-sensei yang mengurus jadwal pengambilannya."
"Kalau begitu ini akan cepat. Bisa kita mengambilnya sekarang? kebetulan aku punya urusan lain."
Naruto berdiri dari batu yang menjadi tempat istirahat sekaligus mengobrol antara dirinya dengan Lavinia Reni, penyihir sekaligus sekertaris dari Organisasi sihir yang dibina oleh Mephisto Pheles Iblis legend yang namanya tercatat dalam sejarah.
"Sebenarnya tak masalah, rekan-rekanku juga sepertinya sudah berhasil mengelabui para utusan Gereja itu."
Lavinia juga ikut berdiri tenaga dan Mana miliknya juga telah pulih sedikit. Membersihkan sekaligus memperbaiki jubah penyihirnya yang robek-robek menjadi kembali baru, Lavinia memasang topi penyihirnya dan mengacungkan tongkat sihirnya keatas.
"Yosh, ayo berangkat."
'Apa dia akan melakukan gerakan Miruru, miru miru, gak ya?'
["Aku juga penasaran."]
Lavinia mulai menggambar formula sihir ditanah sebuah lingkaran sihir teleportasi.
"Untuk melakukan 'lompatan' teleportasi menuju Lab kami perlu simbol sihir tertentu untuk masuk kesana karena keamanan yang tinggi dan ampir seluruh Lab dan sekitarnya dipasangi perangkat sihir kelas tinggi. Bagaimanapun banyak pihak dari setiap Fraksi-Fraksi besar dan kecil yang menginginkan data-data penelitian dari kami."
Sambil menjelaskan Lavinia selesai menggambar formula sihir merapalkan mantra sekaligus mengirimkan sejumlah Mana pada formula itu yang bersinar sedikit demi sedikit.
"Hmm, Iblis cukup membayangkan simbol-simbol sihir mereka untuk merealisasikan sihirnya walaupun sihir rumit memerlukan waktu dan pada akhirnya harus menggambarnya seperti penyihir umum lainnya."
"Well, kita sekarang bisa berangkat'kan Lavinia-chan?"
"Ya, tentu saja."
Lavinia menjulurkan salah satu tangannya kepada Naruto dan berseru.
"Ayo, berangkat Dragon-kun."
'Eee, mirip kencan ya?' Pikir Naruto merona
["Kenapa malah kau yang parameternya naik? kau itu si penakluk sedangkan dia adalah targetmu."]
'Maafkan aku, Otoshigami-sama.'
Dan Naruto menerima uluran tangan itu meraskan sensasi lembut dan halus melangkah sedikit lebih dekat kepada Lavinia dan mencium aroma harum dari tubuhnya walaupun fakta jika gadis ini baru saja melakukan pertarungan yang membuatnya berkeringat.
'Tipeku banget.'
Tunggu dulu rasanya Naruto melupakan sesuatu yang penting.
.
.
.
Naruto dengan diikuti Lavinia keluar dari sebuah gedung pertokoan yang merupakan bentuk dari penyamaran Lab penelitian dari organisasi sihir Lavinia. Mereka baru saja selesai mengambil data yang diinginkan Pedo-eh Orochimaru dan Kabuto yang menjadi salah satu alasan dia ke Jepang, alasan lain kau akan tahu nanti.
"Hmm, Mephisto-sensei bilang aku boleh mengambil libur. Tapi apa yang harus kulakukan ya, Doragon-kun?"
"Ee, bersenang-senang?"
Lavinia yang berjalan berdampingan dengan Naruto mendadak berhenti, kedua tangannya menyilang pada dadanya dan berteriak membuat orang-orang melihatnya, membuat keduanya menjadi pusat perhatian dijalan itu.
"Doragon-kun no ecchi, kamu memang mengincarku'kan? dengan berpura-pura baik padaku."
Bisik-bisik disekitar.
"Eh? ya aku emang tertarik sih, tapi untuk bagian pura-pura itu-"
"Tuh'kan!"
Bisik-bisik makin keras.
"Eeehh, dengerin orang selesai bicara dong!"
Bisik-bisik berhenti Lavinia menatap serius Naruto.
"Untuk bagian pura-pura itu, itu mustahil. Aku serius lho nolongin kamu gak ada niat apapun."
"Doragon-kun." Ucap Lavinia dengan mata berkaca-kaca dan berlari memeluk Naruto.
Orang-orang kembali berjalan membiarkan drama dadakan tadi sebagai angin lalu.
'Dasar anak muda.' pikir para orang tua yang lewat.
.
"Hoah, lelahnya."
Naruto jaketnya pada sandaran sofa sedangkan dirinya berbaring disofa empuk apartemen sewaan yang disewanya mendadak. Sebenarnya Kabuto mengatakan jika dia sudah menyiap sebuah tempat tinggal sementara baginya dan Kiba selama di Jepang. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk kesana karena suatu alasan, alasannya adalah
"Fuahh, segarnya setelah mandi. Dragon-kun apa susu yang kuminta udah kamu belikan?"
Tanya Lavinia yang baru saja keluar dari kamar mandi tentunya dengan selembar handuk menutupi tubuh dari dada sampai paha.
[Susunya'kan menggantung didadamu."]
"Oh, aku taruh dikulkas, Lavinia-chan."
"Ah, ya. Arigatou ne."
"Hmm."
Naruto kembali memejamkan matanya, tidur disofa juga tak masalah selama dirinya nyaman itu bagus. Kulit dahinya mendadak merasakan sebuah benda dingin seperti rambut yang basah dan dari balik kelopak matanya dia merasa jika cahaya lampu ruangan itu terhalangi sesuatu.
"Kamu gak mandi?"
Suara lembut yang menaikkan gairah dan tentu saja aroma tubuh perempuan dewasa yang baru mandi dengan mudah ditebaknya.
"Gak ah. Malaes." Balasnya cuek.
"Iih, jangan gitu dong."
Tangan Lavinia mencubit kedua pipinya, menggerak-gerakkannya, menusuk-nusuknya sesuka hati dan terakhir tangan itu tertangkap oleh tangan Naruto dan dalam sekejap menarik tubuh si gadis kedalam dekapannya.
"Kyaa, Dragon-kun."
"Hmm."
"Dragon-kun, kamu janji gak bakal ngapa-ngapain aku'kan?"
"Ee, cuma meluk gak papa'kan?"
"Uuu, tapi aku belum pakai baju."
"Justru itu bagian menariknya."
"Dragon-kun."
"Ah."
Lavinia terdorong dari dekapan Naruto dan berdiri menatap Naruto dengan mata berair, sedangkan Naruto dia bangkit dari tidurnya dan membelakanginya mengacak-ngacak rambut belakang.
"Gah, tinggal seatap dengan seorang gadis cantik dan seksi seperti mana mungkin tidak menaikkan gairahku. Lagipula, kau sendiri setuju saat kuajak kemari."
"Eh, itu-"
"Hmm, oke, oke. Kupikir ini juga terlalu cepat untuk kita yang baru mengenal dekat dalam sehari."
Ucap Naruto, berjalan menuju kamarnya meninggalkan Lavinia yang termenung.
["Eh, itu baik?"]
'Hmm, dengan membuat kenangan bagus pada hari ini dan membuat si target menjadi merasa bersalah karena suatu hal...'
Naruto melepas kaus lengan panjang dan celana jeans-nya sekalian sehingga sekarang dia hanya mengenakan boxer orange-hitam. Kemudian dia berbaring di ranjang yang cukup menampung dua orang (jika mereka berpelukan) dan menatap langit-langit kamar dengan pencahayaan remang yang merupakan pantulan cahaya dari luar jendela.
'...Dan ending yang kau inginkan akan terjadi, Albi.'
["Yah, setidaknya itu berhasil dalam sebuah fanfict."]
'Haha.'
Dan mata biru itu terpejam.
.
Dini hari
Naruto merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, sesuatu yang besar, hangat dan lembut. Dan jangan lupakan aroma wangi yang membuat nafsu Naga-nya naik.
'Lavinia.'
["Woah, secepat ini?".]
"Hei."
Salah satu tangan Naruto menggoyang bahu gadis itu, walaupun pencahayaan ruangan itu remang tapi mata terlatihnya bisa melihat dengan jelas apa yang dikenakan gadis penyihir pirang itu.
'Baju tidurnya mirip yukata tapi bagian bawahnya lebih pendek. Seksi~'
Tangannya yang sebelumnya menggoyang bahu si gadis mulai turun kebawah kearea pahanya yang putih mulus.
'Hmm, lembut dan halus.'
"Uuuhh."
Bahakan suara desahannya terdengar menggemaskan dan menaikkan gairah Naruto tentunya.
"Dragon-kun."
Kelopak mata gadis pirang itu terbuka menampakkan mata biru menawan yang cocok dengan rambut pirangnya.
"Hei, Lavinia-chan. Kenapa kau tidur disini?"
Tanya Naruto, tentu saja dengan tangannya yang masih mengelus paha mulus si gadis.
"Emm, sebenarnya aku tahu Dragon-kun suka tubuhku."
'Itu memang benar non.'
Lanjut ngelus.
"Walaupun begitu, aku ikut-ikut saja saat Dragon-kun mengajakku ke apartemenmu."
'Aku merasa terharu.'
Tangannya mulai meraba ketempat berbahaya.
"Menurutku, Naruto-san orang yang baik jadi aku tidak akan keberatan ji-jika melakukannya dengan Naruto-san."
'Eh.'
["Panggilan padamu jadi berubah."]
"Lavi!"
"Y-Ya."
Lavinia yang sebelumnya menutup matanya karena malu akan perkataannya tadi kini menatap Naruto yang menatapnya serius.
"Aku ini sudah sering 'bermain' dengan banyak gadis bahkan aku pernah menyusup ke Vatikan hanya untuk bisa 'main' dengan Biarawati disana."
"E-eh itu."
"Aku bahkan sudah membuat belasan malaikat mendapat sayap hitam karena kelakuanku ini."
"E-eh eh."
"Apa kau masih mau 'main' denganku?"
"E- asal Naruto-san lembut."
Kata Lavinia malu.
"Aku suka yang kasar sih."
"Naruto-san."
"Oke, Oke. Kubuat selembut mungkin."
Naruto segera merubah posisi tidur dengan berada diatas tubuh Lavinia yang kini kedua matanya terpejam seperti anak kecil yang akan disuntik dan mencoba mengurangi sakitnya dengan menutup matanya.
"Eh, gak bakal sakit kok."
"Uuh."
["Oi, apa endingnya seperti ini?"]
'Ini aja, Albion. Udah gak kuat soalnya.'
Tangan Naruto mengelus kepala Lavinia lalu pada pipi putihnya yang kenyal sedikit bergeser pada bibir kecilnya yang manis menggoda lalu turun keleher.
["Gadis itu, bukankah seperti punya masa lalu yang menyakitkan?"]
'Menyakitkan seperti apa?'
["Seperti... Pernah diperkosa?"]
'Persekusi? itu cuma di Indonesia.'
["Pemerkosaan oy. Dan juga persekusi itu lain cerita."]
Tangan Naruto bermain-main sebentar pada sepasang gunung yang masih tertutupi oleh Yukata itu dan dia sesekali mencubit sesuatu yang lebih menonjol dari dua gunung itu.
'Dia'kan penyihir, bisa saja dia persekusi. Seperti nasib penyihir abad pertengahan yang dibakar atas nama Gereja'kan?'
["Huh!"]
Hanya dengusan khas Naga sebagai balasan kepada Naruto.
'Nanti kita tahu sendiri deh. Sekarang, saatnya makan~'
"Uuu, Naruto-san jangan mencubitnya ahhnnmmm."
"Kamu gak pake bra ya?"
"Eh, itu. Apa perlu?"
"Gak juga sih."
Kedua tangan Naruto meremas dada Lavinia sebentar kemudian turun pada are pinggang menggelitikinya dan terakhir kembali mengelus paha putihnya yang mulus.
Naruto menyeringai, dia baru saja memiliki ide untuk ronde pertama ini. Diam-diam dia mengeluarkan sesuatu dari boxernya yang pastinya kalian tahu apa itu.
"Lavi, katakan 'Aaaa'."
"Aaaa-aghh."
Sesuatu yang mulai kita ketahui sebagai Excaliber atau Meriam-nya laki-laki itu memasuki mulut mungil Lavinia, menyodoknya sedalam-dalamnya.
"Hei, pakai lidah dan aw jangan gigimu."
"Uuuhhh...hhkk...Ugh-"
Memaju-mundurkan pinggulnya, Naruto terus menghayati kegiatannya selama selusin menit dan berakhir dengan hantaman Excaliber atau tembakan Cannon Naruto yang err ganas?
"Hah~"
Naruto sedikit memundurkan pinggulnya memberi ruang bernafas untuk Lavinia yang kini batuk dan memuntahkan sebagian cairan putih yang ditembakan kemulutnya yang kecil.
"Uhh, hiks hiks."
"Eh."
Lavinia menangis, membuat Naruto melihatnya sedikit serius.
'Petunjuk kedua didapatkan.'
["Woi, sudah dua? yang pertama apa?"]
'Saat aku masih meraba-rabanya ekspresi wajah sedikit ketakutan.'
["Bukankah itu karena ini pertama kali untuknya?"]
'Enggak selalu.'
"Maaf, apa aku terlalu-"
"Katamu akan lembut."
Naruto terdiam mendapat bentakan keras dari Lavinia, niatnya cuma mencaritahu sesuatu siapa sangka akan seperti ini.
"Aku benar-benar minta maaf. Sudah sekian lama aku tak melakukan ini, jadi permainanku jadi sedikit kasar."
"Hiks hiks."
["Sekian lama mulutmu. Sebelum berangkat ke Jepang kau sudah melakukan delapan ronde dengan Kuisha. Belum lagi saat kau menunggu keberangkat pesawat di bandara, kau sengaja tersenggol seorang Milf turis, berpura-pura kesakitan dan saat kau diantar olehnya ketempat kesehatan bandara kau langsung melabraknya. Belum lagi di pesawat berapa Pramugari yang kau gauli coba?"]
Kepala Naruto langsung pusing saat Albion mulai menguraikan kejadian gila dilalui saat perjalanan ke Jepang ini. Dan lagi apa-apaan itu, bukankah si Naga ini mengatakan bila dia akan tidur waktu itu?
"Ah, oke. Selanjutnya aku akan lembut jadi menangis ya?"
"Uu, benarkah?"
Mata Lavinia berkaca-kaca dimana air mata itu siap meluncur kebawah membasahi pipi putihnya yang membuat Naruto tergoda untuk mencubit, mengemut, menjilat dan melakukan segala hal aneh difantasi S-nya.
"Ya, aku janji."
"Uumm, baiklah."
Menyeka airmata menggunakan lengannya yang tertutupi kain Yukata itu, Lavinia mencoba menelan sisa-sisa cairan putih dimulutnya seolah tahu langkah apa yang dilakukan Naruto kepadanya.
Yang tak lain sebuah ciuman dimana Naruto menuntun Lavinia untuk membalasnya. Sedikit demi sedikit keduanya mulai menaikkan tempo dan saat berciuman saja kurang cukup, Naruto menuntun salah satu tangan Lavinia untuk memegang Excaliber-nya yang belum disarungkan.
Awal-awal terasa kaku tapi lama kelamaan tangan lembut dan halus itu mulai lihai saat naik-turun memegangi Excaliber Naruto yang beberapa saat lagi siap menghancurkan Cawan suci Fuyuki dan membunuh E*ya S*rou-eh?
"Guh."
Kedua tangan kekar Naruto juga ikut menaikkan tempo perang pasangan pirang tersebut. Dengan sedikit kasar kedua tangan meremas dua gunung Lavinia yang membuat penyihir pirang itu semakin liar dan tak lama kemudian Excaliber mengeluarkan serangan terkuatnya namun serangan itu tak berhasil mengenai Cawan suci tapi setidaknya berhasil menyerang dua gunung besar Fuyuki dan membunuh si munafik Em*a S*rou Yes-eh?
"Uh uh uh. Naru-to-san, ti...me time ya?"
"Uh, iya deh."
Lavinia segera meraup udara sebanyak dan sepuasnya menghembuskannya dengan kasar dan mengulanginya lagi beberapa kali.
"Hmm."
Sambil menunggu waktu dimana Lavinia mengambil nafas, Naruto tanpa berdosa meremas-remas benda bulat didada gadis itu yang membuat si gadis mendesah dikala penarikan dan pengeluaran oksigennya.
"Uuu, Narutoh-saaannhhh."
"Eh, sudah ya."
Tanpa basa-basi pemuda itu menyingkap bagian bawah Yukata yang dikenakan Lavinia dan mengarahkan Excalibernya pada Cawan suci Fuyuki dan seketika dia segera memasukkannya dan menunggu pedangnya itu menghancurkan dinding pelindung benda ilahi itu.
"Eh?"
Raut wajah Naruto segera terkejut namun kembali tenang. Sedangkan wajah Lavinia telah memucat entah karena kelelahan atau karena
"Maafkan aku."
"Naruto-san, maafkan aku."
"Huh, Lavi. Bukannya sudah kubilang aku ini si brengsek yang membuat kacau banyak perempuan dan kau tetap menerimaku? lalu kenapa aku tak bisa menerimamu? dasar."
"Hiks Naruto-saaaannn."
Dan singkatnya Naruto dan Lavinia melakukannya sepanjang malam sampai pagi istirahat dan melanjutkannya lagi sampai Lavinia bunting membuat Naruto menikahinya yang disambut haru oleh Orochimaru selaku Walinya yang juga merawatnya dari bayi, Kabuto selaku kakak yang mengajarinya membaca, menghitung, sahabat-sahabatnya yang sudah dia anggap saudara sendiri.
Balas dendam sang Kaisar Naga berakhir ditengah jalan dengan ending yang membahagiakan.
Tamat
Becanda bro
TBC
Halo~ Wsa Krisna disini, Halo~ Reader-Readerku? penulis kacangan ini kembali lho~
Ooooiiiiiiiiii kalian kemana?
*
*
*
Saya kembali menulis #Horeeee
setelah sekian lama terpuruk #Horeeee
Setelah mengetahui fanfiction bagian fandom ini terpuruk semangatku bangkit #Yoshaaaaa
*
*
pertama-tama, update chap baru lewat apk ffn itu sulit sekali bung. ngambil bagian file nya doang yang susah mau lewat webnya kita orang pakai kartu tri jadi entah kenapa kita gak bisa buka akunnya. haah
eee apa lagi ya? oh
Terima kasih untuk para reader yang mendukungku untuk terus up! cinta kalian kuterima muach (hoek)
baik yang mendukung melalui review ataupun pm.. chapter selanjutnya kurasa proses kurasa (huuuu) yang akan di up dalam waktu dekat (mungkin) #huuuuu
yang penting aku gak ngasih harapan palsu'kan? bilang cepat update jika review/fav/fol dapat seginilah segitulah #ups
maaf lemonnya begitu, aku tak mau fanfict jadi bahan On*ni seperti fict lain :P
Lavinia? langsung love-love? yah, jika lihat film barat, ketemu-suka-main. Begitu.
dan kurasa untuk teknik baru Naruto gak bingungin kan? tadinya aku mau buat dia punya kankara formula Ajuka versi dia tapi... itu terlalu OP'kan? terlalu cepat juga'kan? jadi aku buat versi gampangnya yaitu perpaduan Half Dimension Divide. tapi energi yang diserap Naruto terbilang sedikit dan juga dia baru bisa membagi dan menyerap dari serangan yang masih terlihat memiliki ukuran biasa dan kecepatannya masih bisa dilihat oleh mata Naruto.
Untuk praktis teknik barunya, Naruto menekan serangan dalam sepersekian detik menggunakan half dimension kemudian membagi dan menyerapnya. Lalu, bagaimana Naruto menyerapnya? kan Divide tanpa menyentuh lawannya cuma merusak kestabilan energinya tanpa menyerap setengah energinya. Jawabannya anggap saja Half dimension adalah perpanjangan dari tangan Naruto atau lingkaran sihir kecil yang dia buat bertugas menghubungkan ruang yang dia bengkokkan ke penyimpanan energi pada sayap dipunggungnya.
Yah, kuharap teori diterima oleh bapak/ibu dosen sekalian :D
Ciao~
