"Oh, Sasuke," Sasuke datang saat Itachi baru saja menambah dua sendok gula ke dalam kopinya. Ia melihat adik laki-lakinya itu berjalan menaiki anak tangga, "tumben kau mampir ke rumah, sudah selesai bertemu ayah?"
Itachi berjalan meninggalkan dapur dan berdiri di dasar tangga, kepalanya mengadah melihat Sasuke yang terus berjalan.
Sudah tiga tahun terakhir Sasuke memutuskan hidup sendiri, sedangkan Itachi baru memutuskan tinggal terpisah dari ayah dan ibunya saat menikah. Hanya saja, saat ini istrinya dalam keadaan hamil. Kandungannya sudah menginjak 8 bulan. Ibunya menyarankan untuk sementara tinggal bersama di rumah ini. Ibunya ingin mengontrol langsung perkembangan kehamilan istri tercintanya, Uchiha Hana.
Sedangkan Sasuke jarang sekali pulang ke rumah ini. Sasuke lebih memilih tinggal sendirian di apartementnya.
Itachi tahu alasan utama Sasuke tinggal sendiri bukan karena ingin mandiri. Adiknya itu ingin menghindari omelan ibunya setiap kali membawa wanita yang berbeda ke dalam rumah.
"Sasuke," tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Itachi masuk ke dalam kamar Sasuke.
Sasuke menoleh pada Itachi, "Jarak dari kantor ayah ke apartementku bisa menghabiskan waktu lama, jadi aku mampir kesini untuk berganti pakaian saja." Sasuke yang bertelanjang dada membuka lemari pakaiannya dan mengambil satu kemeja putih yang masih tersisa.
Kedua alis Itachi terangkat saat melihat kemeja dan jas yang sebelumnya dipakai Sasuke tergeletak di ranjang dalam keadaan basah.
"Kau kehujanan?" Tanya Itachi, perlahan ia meminum kopi yang memang masih berada di tangannya itu.
Sasuke mendengus, kedua tangannya masih mengaitkan satu persatu kancing kemejanya.
"Tidak," Sasuke menyeringai, "aku baru saja diserang oleh monster berwarna pink."
Dan tiba-tiba Itachi menyembur keluar kopi yang baru saja diminumnya.
.
.
.
SasuSaku fanfic by yuchida
Inspired : The Proposition Kate Ashley
All Character © Masashi Kishimoto
Warning : Mature, Mild Language, AU, typo(s), OOC
.
.
.
"Mungkin karena ia menyukai warna itu," Sasuke menuruni anak tangga dan Itachi mengekor di belakangnya. "sedangkan wanita yang kutemui itu memang memiliki rambut berwarna pink. Tubuhnya begitu ramping, dia sialan seksi dengan high heels yang terpasang di kaki jenjangnya."
Sepertinya Sasuke lupa bahwa ia sudah megolok Sakura karena memiliki dada yang tak seberapa besar. Itachi hanya menggeleng mendengar ucapan Sasuke, ia sudah terbiasa dengan mulut kotor adiknya tersebut.
"Hm, mungkin saja." Ujar Itachi seadanya.
Itachi berjalan ke dapur dan menaruh cangkir kopinya yang sudah kosong di atas meja. Setelahnya ia menyusul Sasuke dan kembali mengekorinya. Persis seperti seorang anak yang tak ingin kehilangan jejak ibunya.
"Kau tak ingin menunggu ibu dan Hana pulang?" Itachi melirik jam tangannya, hampir menjelang malam dan mungkin ibu beserta Istrinya akan segera pulang. Mereka sedang berbelanja kebutuhan calon anaknya nanti.
Itachi sendiri awalnya ingin ikut menemani, maka dari itu ia memilih untuk pulang lebih awal. Namun Uchiha Mikoto yang terlalu bersemangat itu menyuruh Itachi menunggu saja di rumah.
'Ini urusan perempuan, kali ini biar ibu saja yang menemani Hana.', begitu kata ibunya.
Andai Fugaku hari ini tak memiliki janji dengan Sasuke di kantor, ia pun akan sama semangatnya dengan Mikoto untuk menemani Hana berbelanja kebutuhan calon anaknya— calon cucu pertama untuk Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, calon penerus Uchiha selanjutnya.
Inilah salah satu alasan Fugaku memilih pensiun dari dunia kerjanya. Ia ingin menghabiskan masa tuanya dengan menimang cucu bersama sang istri. Membiarkan kedua anak lelakinya yang sudah dewasa itu meneruskan kepemimpinannya, hanya saja berbeda kantor. Itachi memimpin anak perusahaannya, sedangkan Sasuke dipilih menggantikannya.
Awalnya Itachi yang akan mengganti Fugaku memimpin perusahaan utama, Uchiha Group. Namun karena Itachi sudah terlanjur memimpin anak perusahaan keluarganya, jadilah Sasuke yang menggantikan Fugaku. Lagipula, Sasuke dirasa sudah cukup mampu memimpin perusahaan utama keluarga Uchiha. Latar belakang pendidikan Uchiha memang tak akan pernah meragukan. Selain itu, pengalamannya membantu Itachi mengurus anak perusahaan sudah cukup membuat Fugaku mempercayainya.
"Titip salam saja untuk mereka," ujar Sasuke seraya berjalan menuju halaman, tempat mobilnya terparkir.
.
.
.
.
"Aku tak seharusnya menghubungi Sasori,"
Sakura mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan jari-jari rampingnya. Ia merasa begitu bodoh karena berniat menghubungi Sasori. Rupanya Sakura berencana untuk mendiamkan Sasori selama satu minggu. Itu adalah balasan karena Sasori yang begitu mudah menuruti permintaan Deidara ketimbang dirinya yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
Sakura tahu ia egois, terlebih ia sudah berkata pada Sasori bahwa ia baik-baik saja setelah pembatalan pendonoran sperma itu. Namun nyatanya tidak, Sakura masih kesal.
Biar saja ia egois, Sakura masa bodoh. Sebenarnya ia tak masalah jika Sasori sendiri yang membatalkan rencana mereka. Namun ini berbeda cerita, rencana mereka batal karena Deidara. Sasori jelas-jelas bersedia menjadi ayah anaknya namun Deidara menghalanginya. Si sialan Deidara itu.. Sakura menggeram tanpa sadar.
Jika Sakura mendiamkan Sasori, pria itu pasti akan kalang kabut sendiri. Ia tahu Sasori paling tidak suka permusuhan, terakhir kali mereka bermusuhan saat mereka masih di bangku sekolah. Mereka bermusuhan karena Sasori lebih memilih untuk berkencan dengan kekasihnya (saat itu Sasori masih normal dan Sakura ingin tertawa mengingat itu) dibanding pulang bersamanya.
Bagi Sasori, selain sahabatnya, Sakura adalah adik perempuan yang harus ia jaga.
Sakura menyeringai membayangkan Deidara akan semakin kesal karena melihat Sasori yang kalang kabut memikirkannya.
Biar saja ia disebut egois, sekali lagi Sakura tidak peduli.
Sakura menekan beberapa digit nomor yang sudah di hafalnya, jadi ia tak perlu susah susah untuk membuka menu kontak di ponselnya. Kali ini panggilannya beralih pada Ino.
Seharusnya ia memang menghubungi Ino, mengingat wanita pirang itu bekerja di perusahaan yang sama dengannya. Namun karena ia sedang ingin mencari ketenangan selain kebenaran tentang kabar pergantian bosnya bulan ini, maka dari itu awalnya ia ingin menghubungi Sasori.
Dan niat itu ia urungkan mengingat kekesalannya kemarin.
"Angkatlah, pig!" Sakura sedikit kesal dan menggigit bantal yang memang berada di dekapannya. Sakura bergerak gelisah di atas ranjangnya. Menunggu panggilannya yang tak juga mendapat respon dari Ino.
"Apa Ino sedang bersama Sai?" Sakura bertanya-tanya.
Sakura jadi kesal sendiri memikirkan kedua sahabatnya yang kini sedang bermesraan dengan masing-masing pasangan tak normal mereka. Deidara si pirang yang cerewet dan Sai si pucat dengan senyum palsunya itu.
"Ino!" Sakura berteriak girang saat panggilannya tersambung. Itu adalah panggilannya yang kesembilan.
Sakura segera merubah posisinya dengan duduk di atas ranjang setelah panggilannya dijawab. Ia menegakan tubuhnya.
"Ino—"
"S-sakura, tolong jangan menghubungiku dulu,"
Sontak Sakura dibuat bingung mendengar ucapan Ino. "Hah?" Sial, tiba-tiba ia mendengar seseorang diseberang sana mendesah dan—
"Oh, tuhan! Lebih cepat, sayang!"
—suara ranjang yang berdecit.
Sialan! Ino mengangkat teleponnya dan membiarkan Sakura mendengar desahan gilanya!
"Ah, sial, ino! Aku hampir keluar— ohh!"
Dan yang barusan itu pasti adalah suara Sai. Sakura tahu itu. Si pucat itu sedang menunggangi sahabat pirangnya. Shannaro!
"Akan kubunuh kau, Ino!" Sakura berteriak dan segera memutus sambungan. Ia menaruh ponselnya dengan keras di atas meja nakas.
Setelah apa yang ia barusan dengar, sekarang Sakura tahu bahwa perkataan Ino mengenai keseriusannya dengan Sai bukanlah main-main.
Sakura termenung sendirian. Ia melipat kedua kakinya dan menaruh dagunya di atas lututnya. Ia melamun, memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Ia merasa kesepian, entah siapa yang akan Sakura ajak berbicara. Saat ini kedua sahabatnya sedang dimabuk asmara.
"Jadi, aku harus bagaimana?"
Dan pada akhirnya Sakura mengajak bantal dan gulingnya berbicara.
.
.
.
.
Sakura memegang dadanya. Ia dapat merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Astaga, ada apa denganku?!" Sakura justru bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya ia tidak mau mengakui bahwa dirinya kini merasa takut.
"Berhenti," Sakura dengan bodohnya menunjuk dadanya sendiri, tepat dimana jantungnya berada. "Tidak, jika berhenti aku akan mati." Sakura baru menyadari kebodohannya, "Maksudku berhenti berdetak lebih cepat, jantung sialan!" namun Sakura kembali mengulangi kebodohannya.
Pagi ini Sakura datang ke kantor sedikit terlambat. Ini yang pertama kali, Sakura berani bersumpah.
Ia duduk tenang, lebih tepatnya sedang mencoba untuk duduk dengan tenang. Tapi ia merasa tidak berhasil. Sakura justru duduk di kursinya dengan gelisah, bahkan ia baru saja memarahi detak jantungnya.
Sakura yang terlihat bodoh di pagi hari.
Sakura tidak pernah seperti ini. Semua ini karena insiden kemarin, penyiraman air yang dilakukannya pada pria brengsek yang sialan tampan dan seksi itu. Ingatkan Sakura untuk mencoret kalimat terakhir mengenai penggambaran pria itu.
"Sakura, semuanya baik-baik saja."
Sakura menghirup nafas dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. Ia melihat ke sekeliling dan ia merasa semuanya tampak sama, tak ada yang berbeda.
"Aku sudah tahu bahwa si gila Karin itu membohongiku."
Sakura mengetuk-ngetuk meja dengan balpoin di tangannya. Ia sedang memikirkan ucapan Karin kemarin. Sakura berpikir, jika memang benar bosnya akan diganti, pasti pagi ini ruangannya bekerja sudah dipenuhi oleh obrolan heboh rekan-rekannya.
Meskipun Sakura dan Karin adalam teman semasa di bangku sekolah, namun rasanya Sakura terlalu gengsi untuk bertanya langsung pada perempuan bermarga Uzumaki itu. Terlebih kemarin ia sudah menghancurkan harinya yang mungkin seharusnya berjalan indah.
Namun bisa saja ucapan Karin kemarin ada benarnya, mengingat Karin adalah sekretaris bosnya saat ini. Karin pasti lebih mengetahui banyak informasi, berbeda dengannya yang hanya pegawai biasa dan kesempatan langsung untuk bertemu dengan Uchiha Presdir sangatlah kecil.
Dan pikirannya tersebut sukses membuat Sakura kembali gelisah. Sakura ingin membunuh Karin.
"Halo, cantik." Sakura menoleh dan pagi ini ia sudah mendapati wanita yang sama gilanya dengan Karin, bedanya wanita itu adalah wanita yang paling dicintainya. Oh, ia terdengar begitu gay seperti Sasori.
"Aku membencimu, hari ini kita tidak saling mengenal."
Ino mati-matian menahan tawanya. Sakura begitu menggemaskan dengan sikap kekanakannya.
"Oh ayolah," Ino dengan sesuka hati duduk di atas meja Sakura. Gadis pirang itu melipat kedua tangannya di dada. "Kau seperti perawan tua saja. Ups, memangnya kau perawan?"
Kali ini target korban pembunuhan Sakura beralih ke Ino.
"Aku akan memotong alat kelamin kekasihmu dan membuatmu mati karena tersiksa, Ino."
Ino meringis mendengar ucapan Sakura. "Sakura-chan benar-benar mengerikan." Sakura bergidik ngeri mendengar Ino yang menyebut namanya begitu manis. "Sudahlah, jangan marah seperti itu. Nanti siang Sai mengundangmu untuk makan bersama, anggap saja itu sebagai permintaan maaf kami."
Sakura yakin bahwa Ino sudah menemukan lelaki yang pas untuknya, yaitu lelaki yang sama gilanya dengan Ino. Ia bisa membayangkan Sai masih dapat tersenyum setelah membuatnya harus mendengarkan suara-suara yang membuatnya ingin memuntahkan isi sarapannya pagi ini.
"Dasar sinting."
"Aku juga mencintaimu, Sakura sayang." Ino tersenyum geli, senang melihat wajah masam Sakura.
"Baiklah, kita saling mengenal lagi." Itulah cara Sakura memaafkan Ino. Membuat wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak di bangku sekolah itu tertawa senang.
Setelah mengatakan bahwa ia mencintai Sakura dan mencium pipinya, Ino turun dari atas meja kerja Sakura.
"Ngomong-ngomong Sakura, aku ada berita penting. Kau pasti akan menyukainya!" Ino terlihat bersemangat.
"Ada apa?" setelah perbincangan sebelumnya, Sakura memutuskan untuk membuka beberapa berkas yang sudah disiapkannya kemarin. Hasil pekerjaannya yang pagi ini akan diserahkan kepada atasannya.
"Uchiha presdir akan membuat pesta dan ia mengundang seluruh pegawai kantornya!"
Seorang Uchiha mengadakan pesta? Ia sudah bisa membayangkan seberapa mewah pesta tersebut. Bahkan mereka para Uchiha itu dengan repot-repot mau mengundangnya yang hanya pegawai biasa.
Sebuah pesta yang menyenangkan sudah menunggu kedatangannya. Oh, Sakura begitu mencintai pesta. Ia cinta keramaian dan segala hiruk pikuk di dalamnya. Ia mencintai segala yang berhubungan dengan pesta, seperti dentuman musik dan bau alkohol—
"Tunggu,"
Tiba-tiba Sakura tersadar sesuatu.
"Kenapa?" satu alis Ino terangkat, ia tak mengerti dengan respon yang diberikan Sakura. Seharusnya Sakura senang, sekiranya begitulah yang dibayangkan Ino.
"Kenapa Uchiha Presdir mengundang seluruh pegawai kantornya? Kau tahu kan beliau bukanlah orang sembarangan, mana mungkin ia mengundang pegawai biasa seperti kita?"
Dan Sakura dapat menebak pesta yang dimaksud Ino pasti jauh dari kata tarian yang menggila dengan diiringi musik yang keras, ataupun minuman dan asap rokok yang akan mengelilingi mereka.
"Hm, mungkin lebih terpatnya perayaan?"
Sakura tak mengerti kenapa Ino begitu bodoh karena justru bertanya balik padanya yang tak tahu apa-apa.
"Dari yang kudengar, Uchiha Fugaku, Presdir kita yang terhormat itu mengundang kita semua untuk datang ke pestanya, mungkin lebih tepatnya acara pelepasan. Jangan pernah membayangkan acara itu akan dirayakan seperti acara mingguan kita, Sakura."
Sakura terkekeh mendengar ucapan Ino yang dapat dengan mudah menebak apa yang sebelumnya ia pikirkan.
Ia dan Ino adalah pecinta pesta. Mereka selalu menghabiskan sabtu malam mereka dengan mengadakan pesta kecil bersama teman-teman kantor, ataupun pergi ke club yang berbeda setiap minggunya.
"Jadi?"
"Pesta itu sebenarnya bukan sepenuhnya pesta untuk bersenang-senang, lebih tepatnya itu diperuntunkan untuk perpisahan Uchiha Presdir yang akan segera pensiun dari jabatannya."
Sontak ucapan Ino membuat kedua mata Sakura melebar. Sialan, jantungnya kembali berdetak cepat setiap mendengar satu persatu perkataan Ino!
"Di pesta itu juga ia akan mengenalkan putra bungsunya, ia akan menjadi bos baru kita."
Dan ucapan Ino kali ini sukses membuat rahang Sakura seakan jatuh menyentuh meja. Mulutnya terbuka lebar dan mata membulat. Ia benar-benar terlihat terkejut. Reaksi terkejut yang sedikit dramatis tentunya.
"Aku bisa membayangkan jika putranya itu berwajah tampan," Ino mulai mengkhayal, "atau dia seksi? Pasti ia memiliki kharisma yang kuat, ia pasti begitu menawan!"
Ino terlalu sibuk dengan khayalannya tentang si bungsu Uchiha hingga—
Dugh!
—ia tak sadar bahwa Sakura baru saja membenturkan kepalanya ke meja.
Ngomong-ngomong yang tadi itu suara benturannya yang ketiga kali.
.
.
.
.
Hari itu datang, pesta yang diadakan Uchiha Group kini berada di depan matanya.
"Sakura," Ino menghela nafas.
Ia sekarang sudah tahu apa yang dialami Sakura. Soal insiden di parkiran itu, Sakura sudah menceritakan semuanya dan sahabat merah jambunya itu menangis karena membayangkan dirinya akan dipecat. Sakura bisa begitu melankolis jika berhubungan dengan pekerjaannya. Meskipun hanya seorang pegawai biasa, namun Sakura begitu menyukai pekerjaannya di kantor.
"Aku akan meminta maaf padanya," Ujar Sakura sedikit ragu, ia tak yakin bisa melakukannya. Meskipun ini semata untuk mempertahankan pekerjaannya, namun rasanya ia tak sudi meminta maaf.
"Dengan tulus, ingat?"
Sakura yang kali ini menghela nafas, "Baiklah, secara tulus." Sakura tersenyum miring, senyum yang begitu dipaksakan. "bahkan aku akan mengemis jika itu bisa membuatnya memaafkanku." Sejujurnya Sakura hanya bergurau.
Sakura datang bersama Ino. Malam ini ia terlihat cantik dengan gaun hitam yang membungkus tubuh rampingnya. Sebuah gaun dengan bagian belakangnya yang terbuka, mengekspos bahu dan punggungnya, juga bagian depan yang sedikit terbuka. Rambutnya yang ia sanggul sederhana memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Malam ini milik Haruno Sakura. Ia terlihat begitu sempurna.
Ino menggenggam tangan Sakura, ia tahu bahwa Sakura sedang gugup. Namun wanita itu masih mampu untuk berjalan anggun dan kehadiran mereka berdua sukses menarik perhatian beberapa pasang mata yang menatapnya kagum.
"Apa kau masih mengingatnya?" Tanya Ino, membahas calon atasan mereka.
Sejujurnya Sakura masih mengingat bagaimana rupa pria itu. Rambut pria itu adalah bagian yang paling Sakura hafal, selain kedua mata kelamnya yang begitu menusuk pandangannya. Pria itu memiliki mata yang tajam. Warna mata yang segelap malam.
"Itu.." Sakura menggantungkan ucapannya.
Ino mengikuti arah pandang Sakura dan— bingo! Ia mendapati seorang pria bertubuh tinggi dengan porsi sempurna seorang pria untuk disebut seksi. Ino bahkan sudah membayangkan sekeras apa pria itu di ranjang. Beruntungnya Sakura bukan cenayang yang dapat membaca pikiran kotornya.
"Aku lebih memilih untuk melumat bibirnya dan membuka lebar kedua kakiku di hadapannya dibanding menyiramnya dengan air, Sakura." Ino memandang lapar ke arah pria yang Sakura masih ingat bernama Sasuke tersebut.
Ya, Uchiha Sasuke, calon bosnya— atau mungkin setelah menjadi bosnya ia akan berpredikat sebagai mantan pegawainya karena sudah terlanjur dipecat. Pria kaya memiliki kekuasaan dan bisa bebas melakukan apapun, terlebih pada Sakura yang hanya seorang pegawai biasa. Baru kali ini Sakura mengasihani nasibnya.
"Dia pria brengsek," Sakura berbisik.
"Pria brengsek yang tampan dan seksi. Aku bisa mati karena terlalu bergairah jika menjadi sekretarisnya."
"Aku berharap Karin pun akan begitu." Sakura mendengus.
Ino sedikit mendorong tubuh Sakura untuk berjalan lebih ke depan, Ino mengekorinya. Sakura menoleh ke belakang dan mengisyaratkan bahwa ia tak yakin akan mendapat maaf dari tuan Uchiha yang terhormat itu.
Sakura tak tahu sejak kapan ia menjadi pengecut.
Ino berhenti di tempatnya dan mengepalkan tangannya seraya berkata 'ganbatte!' dengan suara yang pelan.
Sakura tersenyum kikuk, Ino menganggap semuanya akan berjalan mudah sedangkan Sakura menganggap ini akan segera menjadi akhir dari hidupnya.
Sakura dapat melihat Sasuke yang sedang berbincang dengan dua orang pria, mungkin rekan kerjanya. Mereka terlihat bukan orang-orang sembarangan. Tentu saja, mereka Uchiha.
Sejenak Sakura berpikir untuk menyerah saja. Ia ingin berkata pada Ino untuk tak meminta maaf pada Sasuke karena pria itu sedang sibuk dengan beberapa koleganya. Jika ia akan dipecat mungkin memang harus seperti itu jalannya. Tapi ia berharap jika Sasuke bukanlah orang pendendam dan tak akan mengingat dirinya. Ia sendiri pun akan pura-pura tak mengingat kejadian itu. Ia sedikit bersyukur mengingat kesempatannya untuk bertemu Uchiha Fugaku sangatlah sedikit, ada kemungkinan jika Sasuke yang memimpin nanti pun akan seperti itu.
Ia akan jarang bertemu Sasuke dan ia bersumpah bahwa ia benar-benar bersyukur.
Meski enggan mengakuinya, namun malam ini Sasuke terlihat berkali-kali lebih tampan dibanding pertama kali ia bertemu dengannya. Meskipun wajahnya terlihat serius dan hanya beberapa kali senyuman tipis terlihat, Sasuke masih bisa terlihat tampan. Justru wajah seriusnya itu yang membuatnya semakin tampan.
Sialan, Sakura tak pernah bermimpi akan bekerja untuk bos yang setampan dan sebrengsek Sasuke.
Sakura akhirnya benar-benar menyerah. Ia memilih untuk membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah sebelumnya. Ino melihat itu dan ia melambaikan tangannya memberi isyarat agar Sakura tak mendekat. Ia tak setuju jika Sakura sudah menyerah bahkan sebelum ia mencoba untuk meminta maaf kepada Sasuke.
Sakura tak peduli, ia tetap berjalan berniat menghampiri Ino. Namun tiba-tiba perasaannya tak enak saat ia melihat raut wajah Ino berubah. Wanita pirang itu terlihat terkejut dengan mulut yang membulat.
"Pinky."
Dan kini Sakura tahu apa yang membuat Ino terkejut.
Seseorang menarik tangannya, lalu menggenggamnya. Tangan besar yang membungkus tangannya ini milik Sasuke.
Sakura menoleh, kini di hadapannya berdiri pria yang paling tak diinginkan kehadirannya.
"Oh, kau?" haruskah Sakura menyebutnya Uchiha-sama? Uchiha Presdir?
Sakura mati-matian menahan rasa gugupnya. Ia harus tenang atau Sasuke akan meremehkannya karena Sakura mungkin akan terlihat seperti seekor tikus kecil karena ketakutan dan Sasuke adalah seekor kucing jantan yang siap menerkamnya kapan saja.
"Ya," Sakura sedikit tekejut saat Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya, menariknya untuk lebih mendekat dan pria itu berbisik; "ini aku, si brengsek yang sudah kau siram dengan air itu."
Sakura menelan ludahnya kasar dan tertawa gugup. "Oh, ya.. kau," Sakura membenci dirinya sekarang!
Sakura sedikit mendorong tubuh Sasuke untuk menjauh dibanding harus mencakar wajahnya karena terlalu berdekatan. Malam ini Sakura bersikap lebih sopan pada Sasuke.
"Aku tak tahu bahwa monster bisa berubah menjadi seorang putri kerajaan."
Sasuke menatap Sakura, ia menyeringai. Sakura sedikit bergidik melihat tatapan yang diberikan Sasuke. Pria itu terlihat lapar, dan mungkin ia akan menjadi makanannya saat ini juga jika acara ini bukanlah acara yang penting dan dihadiri orang-orang yang penting juga.
Sejujurnya Sasuke tak berpikir akan bertemu dengan Sakura disini, dari sekian banyak para tamu yang datang ia dapat dengan mudah bertemu dengan Sakura. Wanita dengan helaian pinknya ini tampil begitu menggoda. Perpaduan warna hitam gaunnya dengan wambutnya yang mencolok justru memberikan kesan seksi bagi Sasuke.
Sakura diam-diam menarik nafas, "Uchiha-sama," Sakura ingin sekali menggigit lidahnya karena memanggil pria di hadapannya ini dengan begitu terhormat. "aku minta maaf." Akhirnya tiga kata terlarang itu meluncur keluar. Sial.
"Kau menikmati acaranya?"
Sakura ingin sekali menendang pantat Sasuke. Pria Ini mengabaikan permintaan maafnya.
"Uchiha-sama," Sakura masih bersabar.
"Besok malam, di kamar nomor 251. Bagaimana?"
Sakura tak harus pintar untuk mengerti maksud Sasuke. Dibanding berkata 'Ya, aku memaafkanmu.', pria ini lebih suka menyampaikannya dengan cara 'Berbaring di bawahku maka aku akan memaafkanmu'. Sekali lagi Sakura harus bersabar untuk tak menendang Sasuke, kali ini sasaran tendangannya berpindah ke bagian terpenting pria itu.
Sasuke jelas-jelas memperlihatkan bahwa ia tertarik pada Sakura. Sejak awal Sasuke selalu memperhatikan Sakura, memperhatikan bagaimana gerak-gerik wanita di sampingnya tersebut. Menatapnya lapar, seakan bersiap untuk membuka lebar kedua kakinya. Sasuke bahkan diam-diam mengumpat karena Sakura membuatnya menginginkannya di sela-sela acara penting seperti ini.
"Akan kutelpon taksi jika kau mau." Sekali lagi Sasuke memberi penawaran. Ia sedang merayu Sakura.
Sakura sendiri hanya diam, karena mati-matian ia menahan dirinya sendiri untuk tak menyiram Sasuke untuk kedua kalinya.
"Baiklah," akhirnya Sakura berbicara, "aku pun akan meneleponmu jika aku berminat."
Sakura menepuk bahu Sasuke, ia tersenyum. Senyum yang dibuat begitu manis, namun Sasuke menatapnya dengan pandangan tak suka. Sakura tak ambil pusing, ia memilih berjalan meninggalkan Sasuke.
Sasuke menatap punggung Sakura dengan tangan yang memegang gelas wine. Cengkraman tangannya menguat menyadari bahwa ia baru saja ditolak.
Sasuke selalu mendapatkan apa yang ia mau dan ia tak pernah sekalipun menerima penolakan. Namun kali ini ia ditolak oleh wanita yang awalnya menyampaikan permintaan maaf padanya.
"Seharusnya aku menyuruhnya untuk bersujud di hadapanku saja." Sasuke mendengus.
.
.
.
.
Sakura POV
"Lupakan soal permintaan maafku. Dia Uchiha yang brengsek." Aku berjalan cepat, Ino menyusul di belakangku.
"Ada yang salah?"
"Dia memintaku untuk berbaring di ranjangnya." Dan dia ingin menunggangiku seperti kuda, kira-kira begitu yang ingin kukatakan pada Ino.
"Kenapa kau menolaknya? Kau melewatkan kesempatanmu untuk tahu seperti apa gilanya para Uchiha itu di ranjang!" si gila ini memulai mulut kotornya.
"Tanpa perlu di atas ranjang, Uchiha yang satu itu memang sudah gila, Ino."
"Mungkin saja dia bisa menghamilimu?"
Aku menghentikan langkahku, "Aku tak ingin anakku sebrengsek dia."
"Si brengsek yang tampan dan seksi." Ino mengulang ucapannya lagi.
Kami masuk ke dalam mobil milliku dan sampai di depan rumah Ino satu jam kemudian. Ino turun dari mobil dan aku pun begitu.
Ino mencium pipiku seperti biasa, "Selamat malam, sayang." Jika tak mengenal kami, mungkin orang yang melihat akan mengira bahwa ia baru saja melihat pasangan lesbian bermesraan dipinggir jalan.
Aku masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan. Aku baru menyadari bahwa Sai menunggu Ino di depan pintu dan si gila itu tersenyum padaku. Ino tak pernah cerita jika mereka kini tinggal serumah.
.
.
.
.
Sasuke baru saja menghadiri rapat dewan direksi. Sebuah pertemuan singkat dengan ia sebagai pemimpin Uchiha Group yang baru.
Ia masuk ke dalam ruangannya.
"Sasuke!"
Seseorang mendobrak pintunya saat Sasuke baru saja menghampiri kursinya. Deidara dan Sasori berada disana.
"Cepat hubungi pegawaimu yang bernama Haruno Sakura itu!"
"Dei," Sasori mencoba menenangkan Deidara. Ia menarik tangannya namun Deidara langsung menepisnya.
"Ada apa ini?" Sasuke tak mengerti dengan keributan bodoh yang ditimbulkan Deidara pagi ini.
"Aku akan segera membereskannya," Sasori terlihat frustasi. Ia kembali menarik Deidara keluar, namun Deidara mendorongnya. Ia memberontak dan bersikeras tak akan meninggalkan kantor sebelum bertemu dengan Sakura.
Sasuke tak kalah frustasi melihat Deidara yang membuat kekacauan di ruangannya. Ia tahu watak dari sahabat kakaknya ini. Keras kepala dan sulit di atur.
"Duduk terlebih dahulu, selagi aku masih bisa bersabar." Ujarnya penuh penekanan.
Deidara sendiri tahu seperti apa watak dari adik Itachi ini. Sasuke akan lebih menyeramkan dibanding dirinya saat marah.
"Pertemukan aku dengan Haruno Sakura!" Deidara duduk di hadapan Sasuke. "Aku tahu ia bekerja disini, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengannya."
"Sasuke, maafkan aku." Sasori merasa tak enak hati sudah mengganggu Sasuke. Ia duduk di sofa dan menghempaskan punggungnya dan memijit keningnya.
"Sasori terus saja menghubungi gadis gila itu dan melupakanku!" Deidara menggebrak meja, kesal mengingat tingkah Sasori kemarin. Melupakannya hanya karena Sakura tak mau menghubungi atau mengangkat teleponnya.
"Aku bahkan tak tahu siapa Haruno Sakura."
"Kau kan atasannya, baka!"
"Aku tak bisa memanggil pegawaiku begitu saja, terlebih untuk urusan pribadi kalian yang sama sekali tak penting."
Wajah Deidara berubah, terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Seakan siap untuk menelan Sasuke jika tak mau membawa Sakura ke hadapannya sekarang juga.
Sasori yang duduk di sofa mengisyaratkan Sasuke untuk mengikuti kemauan Deidara. Sasuke mendengus dan akhirnya menelepon Karin, sekretarisnya. Meminta pegawai bernama Haruno Sakura untuk datang ke ruangannya. Sejujurnya, Sasuke merasa tak asing dengan nama Sakura, namun ia tak ingat sepenuhnya apakah ia mengenal orang bernama Sakura atau tidak.
Deidara tersenyum senang, ia tak sabar untuk menjambak Sakura.
Sasuke tak pernah tahu bahwa seorang pria bisa lebih merepotkan ketika marah dibanding wanita. Mungkin pengecualian untuk pria semacam Deidara.
"Kalian pasangan bodoh." Ujar Sasuke acuh.
Deidara sudah terbiasa dengan mulut tajam Sasuke. "kau lebih bodoh, di usiamu yang menginjak 28 tahun masih betah untuk tak memiliki pasangan." Dan Deidara membalasnya dengan tak kalah tajam.
"Aku harap kau tak menimbulkan kekacauan lagi, Dei." Sasori mengingatkan. Sudah cukup Deidara membuat keributan saat di lobby bawah dan di depan ruangan Sasuke karena memaksa bertemu dengan pemimpin perusahaan ini tanpa membuat janji terlebih dahulu.
Suara ketukan pintu terdengar dan saat itu juga Deidara bangkit dari tempatnya. Sasuke menyuruhnya masuk dan pintu terbuka, menampilkan Haruno Sakura dengan wajah yang terkejut mendapati Deidara dan Sasori di dalamnya.
"Si bodoh itu," Sakura menggeram tanpa sadar.
Begitupun Deidara, ia menarik tangan Sakura untuk mendekat.
Sasori menepuk jidatnya membayangkan perang dunia yang kesekian kalinya akan segera terjadi. Sedangkan Sasuke masih bersikap tenang dengan semua kegaduhan yang sama sekali tak ia mengerti.
Deidara dan Sakura mulai beradu mulut. Ini persis seperti pertengkaran antara dua gadis yang sedang memperebutkan seorang lelaki.
"Berhenti membuat Sasori-ku menjadi gila, sialan!"
"Itu semua karena ia memiliki kekasih yang gila sepertimu! Shannaro!"
Sasori dan Sasuke segera ambil tindakan saat melihat Deidara dan Sakura menggerakan kedua tangan mereka untuk saling menjambak. Pertempuran antara pirang dan merah jambu yang menimbulkan kekacauan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Jeritan di antara keduanya bahkan memenuhi ruangan Sasuke.
"Sial—hmpp!" Deidara memberontak saat Sasori membekap mulutnya dan memegangi tubuhnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang. Ia mencoba memisahkan Deidara dari Sakura.
Begitupun Sasuke, ia yang tak tahu apa-apa akhirnya turun tangan juga. Menarik Sakura yang kedua tangannya masih menarik rambut Deidara. Sasuke justru membuat Deidara semakin sulit untuk dijauhkan dari Sakura. Sasori berteriak seperti seorang gadis saat Deidara baru saja menggigit tangannya.
"Seharusnya kau tak perlu marah jika Sasori tak mau memberikan spermanya untukmu! Cari saja pria lain yang dengan sukarela mengangkangimu! Jangan gunakan Sasori-ku untuk menjadi calon ayah anakmu!"
Kali ini ucapan Deidara sukses membuat Sakura bungkam. Wajahnya memerah padam. Ucapan Deidara seakan membuatnya terlihat seperti wanita murahan yang mengemis untuk dihamili! Terlebih ia baru sadar bahwa di ruangan ini ada si brengsek Sasuke!
"Sialan kau!"
Dan Sakura kembali menjambak Deidara.
.
.
.
.
Sakura duduk di sofa dengan kepala menunduk. Penampilannya begitu mengerikan. Berantakan dan tak tertata. Sama sekali bukan Haruno Sakura.
"Apa kau baru saja memperkosa gadisku, bos?"
Ino berjalan menghampiri Sakura, meringis melihat penampilan sahabatnya tersebut. Ia baru saja dihubungi Karin untuk datang ke ruangan Sasuke dan mendapati penampilan Sakura yang begitu menyedihkan. Ino bersumpah Sakura saat ini sedang kesal setengah mati, mengingat wanita itu selalu menghabiskan kurang lebih satu jam hanya untuk berdandan sebelum berangkat ke kantor.
"Bawa temanmu ke ruang kesehatan."
Sasuke kembali duduk ke kursi kebesarannya. Ia masih memperhatikan Sakura yang sejak tadi hanya diam.
Ino membantu Sakura untuk berdiri, "Astaga," ujar Ino saat menyadari Sakura mematahkan hak sepatunya. Sakura berhutang penjelasan atas apa yang baru saja dialaminya.
Sakura terpaksa berjalan dengan bertelanjang kaki. Ia bersumpah akan memulai perang kembali dengan Deidara jika ada kesempatan. Ia hanya berhasil menjambak dan mencakar wajah Deidara, sedangkan pria itu berhasil membuatnya berjalan tanpa alas kaki seperti ini. Seharusnya Deidara juga melakukan hal yang sama, sayangnya Sakura lupa jika Deidara tak memakai high heels.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Sakura?" Tanya Ino setelah Sakura mendapat pengobatan ringan karena luka cakar yang terdapat di tangannya. Ingatkan Sakura untuk membawa penggunting kuku jika bertemu Deidara nanti.
Sakura duduk di atas ranjang yang terdapat di ruang kesehatan. Ino berdiri di belakangnya dan menyisiri rambut merah jambunya. Membantu mengembalikan nona Haruno yang selalu tampil rapih di tempat bekerja.
"Entah bagaimana Sasori dan Deidara datang kesini. Saat bertemu Deidara langsung menyerangku."
Ino menghela nafas. Ia tak pernah tahu bahwa Deidara seagresif itu.
"Ino,"
"Hm?" Ino terlalu sibuk merapikan rambut Sakura.
"Si brengsek itu menawarkan diri untuk menjadi calon ayah anakku."
Kedua mata Ino melebar, "Bagaimana ia tahu rencanamu itu?!"
Sakura menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia masih mengingat apa yang dibicarakan Sasuke dengannya beberapa menit sebelum kedatangan Ino yang menjemputnya. Wajah pria itu tampak serius saat mengucapkan keinginannya untuk menjadi pendonor.
"Lalu apa yang kau katakan padanya?"
Belum sempat menjawab, tiba-tiba ponsel Sakura bergetar.
'Simpan nomor calon pendonormu, pinky.'
Pesan singkat tanpa menyertakan nama pengirimnya.
Sakura mendengus, calon ayah dari anaknya yang brengsek itu baru saja mengirim pesan.
.
.
.
.
Bersambung.
A/N
Maaf saya baru dapet waktu buat ngelanjutin, hampir sebulan ya?
Buat yang nanya ini mirip sama Novel The Proposition karya Kate Ashley, di chapter sebelumnya udah saya cantumin dengan jelas lho. Saya tulis di awal cerita dan di A/N kalau cerita ini emang terinspirasi dari sana. Tapi jalan ceritanya berbeda, silahkan bandingkan XD dan buat yang mengharapkan ini sama persis kaya novelnya, saya minta maaf karena cerita yang saya buat gaakan sebagus aslinya ;_;
Sedikit penjelasan umur, disini Sasuke 28 tahun dan Sakura 27 tahun ya. Sasori dan Deidara 29 tahun. Itachi 30 tahun. Saya suka kalau umurnya udah dibikin segitu biar cerita dewasanya dapet /HEH XD
Terima kasih untuk review, favorite, dan followersnya. Seneng banget banyak yang dukung fic ini x') Jangan lupa saran dan kritik kalian di kotak review ya hihi.
.
.
.
.
yuchida.
