"Bayi tabung?" Sasuke menatap Sakura tak percaya. "Kau pikir aku seorang malaikat yang dengan senang hati membantumu tanpa pamrih?"

Sakura mendengus mendengar ucapan Sasuke. Tentu saja ia tahu tipikal seorang Uchiha, apalagi Uchiha seperti Sasuke. Mereka tak akan melakukan sesuatu tanpa ada keuntungan tersendiri di dalamnya.

"Sekalipun bayi tabung, kau pikir aku berminat denganmu?" Sakura mendelik tajam.

"Bersikaplah lebih sopan di hadapan atasanmu," Oh, Sakura lupa yang satu itu, "Aku atasanmu, yang sebentar lagi akan benar-benar berada di atasmu."

"Sialan." gumam Sakura.

"Aku bersumpah kau membutuhkanku, Sakura."

Sakura tak tahu kenapa Sasuke begitu tertarik untuk menjadi pendonornya. Pria ini sedang menggodanya. Sasuke dengan jelas memperlihatkan ketertarikannya.

"Aku tak berminat denganmu."

Sasuke menyandarkan punggungnya di kursi. Ia tak mengira bahwa Sakura masih bisa bersikap jual mahal seperti ini. Namun justru itulah yang menjadi sisi menarik bagi Sasuke. Ia benar-benar dibuat penasaran oleh wanita yang satu ini.

"Aku bahkan lebih memilih Deidara untuk menghamiliku."

Rasanya Sasuke ingin tertawa, tentu saja ia masih mengingat jelas bagaimana pertengkaran bodoh antara Deidara dan Sakura di dalam kantornya. Yang berakhir dengan Deidara maupun Sakura sama-sama dalam keadaan berantakan. Sasori harus dengan susah payah menyeret keluar Deidara sedangkan Sakura berhasil diam setelah mulutnya dibekap oleh Sasuke.

"Sakura, kupikir kita memang ditakdirkan untuk bersama,"

Sakura rasanya ingin muntah bahkan sebelum ia dihamili. Sasuke seorang pembual yang handal. Ia tak heran mengapa Ino pernah berkata bahwa anak bungsu dari Fugaku ini adalah seorang playboy. Ino dapat menilai kepribadian seseorang hanya dari penampilan tanpa mengenalnya terlebih dahulu, yang sialnya perkiraan sahabat pirangnya itu selalu tepat sasaran.

"Kau membutuhkanku, dan sepertinya aku juga membutuhkanmu."

Sakura kembali mendengus, Uchiha selalu berbicara dengan kata-kata yang mampu membuat mereka tetap berada di atas.

"Dengar," Sasuke berjalan mendekati Sakura, ia duduk di sampingnya. "aku bisa menjadi pendonor yang baik untukmu. Aku sehat, aku terjamin sehat."

Tepat sasaran. Sasuke seolah tahu bahwa kriteria utama pendonornya adalah seorang pria yang terjamin sehat. Sakura hanya tak ingin memilik bayi setan karena mendapat pria yang salah sebagai pendonornya.

Jelas saja Sasuke selalu melakukan pengecekan pada kesehatannya secara rutin. Satu ranjang dengan wanita yang berbeda bukanlah yang hal yang baik, sekalipun itu menyenangkan.

"Kau akan memiliki keturunan yang bagus. Seorang Uchiha." Sasuke tersenyum penuh kemenangan melihat Sakura yang tampaknya mendengarkan setiap ucapannya dengan baik. "Setelah anak itu lahir, aku dengan senang hati tak akan mencampuri hidup kalian berdua. Tapi aku tak keberatan untuk membiayai kebutuhannya, itupun jika kau mau."

"Kau pikir aku tak mampu membiayainya?"

"Kukira begitu."

Rasanya Sakura ingin membakar habis kantor Sasuke. Tidak, jika ia membakarnya ia akan kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran. Okay, Sakura berubah pikiran.

"Sebenarnya apa alasanmu begitu tertarik untuk menjadi calon ayah dari anakku?" itulah yang sejak awal ingin Sakura tanyakan. "Kita baru mengenal, bahkan pertemuan awal kita kurang menyenangkan."

"Sederhana saja, aku berpikir dibanding selalu berganti-ganti wanita, lebih baik aku melakukannya dengan satu wanita yang memang sedang membutuhkan. Bukankah itu sama-sama menguntungkan kita?" Sasuke menatap Sakura dengan intens. "Lagipula, kita tak harus saling mengenal dalam waktu yang lama haya untuk melakukan seks. Aku hanya perlu memasukimu, dan pada akhirnya kau akan hamil. Semudah itu."

Sakura mendecih mendengar ucapan terakhir Sasuke. Dasar brengsek.

"Kau pikir aku mau berbaring di ranjang yang sama denganmu?" Sakura sedikit kesal.

"Itu satu syarat yang kuajukan."

"Aku ingin bayi tabung, aku hanya butuh sperma seorang pria." Dan Sakura tahu bahwa disampingnya ada pria yang dengan senang hati akan memberikan spermanya.

.

.

.

SasuSaku fanfic by yuchida

Inspired : The Proposition © Kate Ashley

All Character © Masashi Kishimoto

Warning : Mature, Mild Language, AU, typo(s), OOC

.

.

.

Sakura POV

"Aku ingin seorang bayi, bukan seorang pria yang dengan senang hati menunggangiku." Sekali lagi aku menekankan, tapi Ino masih saja mengolokku.

"Aku bersumpah, kau pasti akan sangat menyukainya. Sakura-ku yang sialan beruntung." si gila Ino megungkapkan pendapatnya. Selain Sai, aku tak pernah tahu apa yang ada di dalam otaknya hingga berkata bahwa aku begitu beruntung.

Ino meminum sodanya dan kembali berkata, "Kau dan aku ditakdirkan bersama, aku bisa membayangkan betapa seksinya ia saat berkata seperti itu."

"Omong kosong," Aku melempar potato chips tepat ke wajahnya.

Aku berbaring di atas karpet berbuluku, sedangkan Ino memilih duduk santai di atas sofa putihku. Kedua kakinya terlipat dan ia terlihat seksi dengan celana pendeknya itu. Kukira Sai akan selalu berdiri jika melihat Ino seperti ini.

"Kau sebelumnya menyebut Sasuke seorang playboy, dia tak cukup baik untukku."

"Dia memang tak cukup baik untukmu dalam hal berkomitmen, Sakura-ku," sial, sepertinya aku salah bicara. Kali ini Ino berpikir bahwa aku membutuhkan Sasuke untuk pendamping hidup dibanding pendonor. Sakura bodoh!

"Lupakan saja."

Ino justru memperlihatkan senyum menyebalkannya.

"Kau tak punya alasan untuk menolaknya, Sakura." Kali Ino memilih berselonjor kaki di sampingku, "kau akan memiliki anak yang sempurna, cerdas dan tangguh seperti seorang Uchiha." Lagi-lagi Ino menggambarkan Uchiha seakan mereka adalah perkumpulan para dewa.

"Dia pria licik," dan aku sedikit tak menyukainya.

"Tapi kupikir kalian memang ditakdirkan bersama."

Aku menghela nafas, "Setelah dua kali membuatnya kesal?" Pertama, saat aku menyiramnya di parkiran dan yang kedua saat aku menolaknya di pesta malam itu.

"Kau hanya punya dua pilihan, sayang," Ino memulai pembicaraan yang serius dengan wajah konyolnya, "menjadi Sakura si lucky bastard atau menjadi Sakura si pitty girl."

"Orang gila mana yang akan memilih pilihan kedua!?"

"Bingo!" Ino menjentikan jarinya, "Itu tandanya kau menerima Uchiha-sama menjadi pendonormu."

Dasar sialan.

"Lebih baik kau saja yang dihamili."

"Jika Sai mengijinkan." Ino mengedipkan sebelah matanya. Oh, Tuhan, sembuhkanlah sahabat gilaku ini.

"Kau tahu, aku sudah lama tak melakukannya," terakhir kali bersama si brengsek Yahiko. "meskipun dia atasan kita, tapi aku tak ingin terlihat rendah di hadapannya."

"Bagaimanapun posisimu memang akan lebih rendah darinya, Sakura." Ucapan kotor Ino mengingatkanku pada Uchiha Sasuke yang begitu terhormat itu. Ino tertawa puas saat mengatakannya.

"Aku tidak siap." ujarku sedikit malu.

"Kalau begitu bermimpi saja untuk memiliki seorang bayi." Ino mengatakannya seolah melakukan seks semudah memesan delivery food.

"Aku tahu," Dan aku menghela nafas. "pagi ini Sasuke mengirim pesan, ia menunggu jawabanku dan memintaku segera menemuinya di kantor jika memang aku setuju."

Hari ini hari minggu dan aku tak tahu apa yang dilakukan bos ku itu di kantor. Dia memang gila.

"Apa dia tak bisa memintamu ke hotel saja?" Ino secara gamblang mengungkapkan isi pikirannya, yang sebenarnya isi pikiranku juga. Terima kasih, Ino, aku tertular pikiran bodohmu.

"Mungkin ia tak akan pernah menawariku bertemu di hotel untuk keduakalinya." Aku teringat pesta malam itu, saat aku menolak rayuan Sasuke untuk bertemu di hotel.

"Kalau begitu, aku bisa membayangkan jika kalian akan membuat bayi di dalam mobil."

Ino membuatku tawaku meledak.

"Tidak, terima kasih."

.

.

.

.

Sebenarnya ini adalah tujuan Sasuke berada di kantornya, lebih tepatnya berada di sekitar kantornya. Ia yang hari ini berpakaian semi formal tampak duduk tenang di kursinya. Ia sendirian di salah satu kedai kopi yang bersebelahan dengan kantornya. Tentu saja sendiri, ia tak pernah mau repot repot mengajak wanita untuk pergi ke tempat ramai seperti ini, mungkin pengecualian untuk ibunya.

"Teme!"

Sasuke menoleh ke belakang, dan seorang pria berambut kuning datang menghampiri dengan cengiran lebar di wajahnya. Ia tak seperti Sasuke, ia datang bersama seorang wanita berambut kebiruan di sampingnya, dan wanita itu menggendong seorang anak kecil.

Mereka adalah Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata, kedua sahabatnya saat dulu masih di bangku kuliah. Ia tak pernah mengira jika pada akhirnya mereka akan menikah dan bahkan memiliki seorang anak. Bocah laki-laki bernama Uzumaki Boruto, supercopy dari Uzumaki Naruto.

"Menunggu lama?" Naruto berbasa-basi.

"Hanya 20 menit," hampir setengah jam, dobe.

"Lama tak berjumpa, Sasuke-kun." Hinata menyapa dengan senyum manis di wajahnya. Hinata masih tetap cantik seperti terakhir kali Sasuke temui, kira-kira saat musim panas tahun lalu.

"Teme, pesankan aku dan Hinata-chan minuman!" Naruto kembali memperlihatkan cengiran lebarnya.

"Pesan sendiri, Dobe sialan." Sasuke meminum kopinya yang sedikit mendingin.

"Biar aku saja, Naruto-kun." Hinata yang memang tipikal istri yang baik memanggil pelayan dan mulai menyebutkan pesanannya bersama Naruto. Sedangkan Sasuke dan Naruto mulai larut dalam obrolan kecil yang sedikit tak penting.

Hari menjelang siang, udara di Konoha masih terasa sejuk. Sasuke dan Naruto beserta Hinata bertemu di waktu dan cuaca yang tepat. Mereka berencana untuk mengobrol santai disini. Saling melepas rindu, namun Sasuke dan Naruto enggan mengakui.

"Kami memutuskan untuk menetap disini, agar lebih dekat dengan ayah dan ibu." Naruto memulai topik yang lebih bermutu.

Naruto dan Hinata baru saja pindah ke Konoha, setelah sekitar dua tahun tinggal di Suna sejak pernikahan mereka dikarenakan Naruto yang memang bekerja di kota tersebut.

"Kupikir ada alasan lain."

Naruto menggeser minuman yang baru saja diantar pelayan untuk lebih mendekat pada Hinata. Ia tersenyum lebar, "Sebenarnya memang ada alasan lain." Naruto tersenyum penuh arti pada Hinata.

Hinata yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa menunduk menyembunyikan rona merahnya. Ia memilih untuk memperhatikan Boruto yang duduk di pangkuannya dan disibukan dengan sendok bekas kopi Sasuke.

"Kami memutuskan untuk memberi Boruto seorang adik." Naruto menyeringai, begitu pula dengan Sasuke yang mengerti maksudnya.

Mengingat Boruto yang bahkan baru menginjak usia satu tahun, Naruto berpikir Hinata pasti akan dibuat repot mengurus anak mereka dengan kondisi perut yang membesar. Maka dari itu, ia berinisiatif untuk mengajak Hinata pindah ke Konoha. Disini ada ayah dan ibunya yang akan dengan senang hati membantu Hinata dan menjaga Boruto.

"Oh, dasar brengsek." Sasuke mendenguskan tawanya.

.

.

.

.

Sakura di pagi hari masih sama seperti pagi hari sebelumnya. Sakura bangun pagi dan berangkat ke kantor dengan tampilan yang rapih dan tepat waktu seperti biasa. Sebelum ada Sai, Ino akan dengan senang hati menjemputnya dan mereka berangkat ke kantor bersama, jadi ia tak perlu repot menyetir mobil seperti sekarang. Namun kini keadaannya berbeda, Sai selalu menjemput Ino untuk berangkat bersama meskipun berbeda kantor. Bagi Sakura tak masalah, Sakura juga pernah jatuh cinta, jadi ia memakluminya.

Pernah jatuh cinta, terdengar seperti Sakura si pinky berusia 70 tahun.

Beberapa pegawai lainnya menyapa atau sekedar memberi senyuman saat bertemu dengannya di lobby. Sakura masuk sendirian ke dalam lift, ia menekan tombol dan pintu lift perlahan tertutup, hampir tertutup hingga satu tangan menghalanginya.

"Kemarin aku menunggumu seharian di kantor. Menunggu jawabanmu."

Itu suara Uchiha Sasuke.

Sakura melirik Sasuke yang kini berdiri di sampingnya. "Aku butuh waktu." Katanya.

"Aku tak suka menunggu."

"Sayangnya aku sangat suka sekali membuat orang menunggu." Sakura mengadah, ia tersenyum. Terlihat sombong di mata Sasuke.

Bunyi lift terdengar, pintu terbuka dan mereka berada di lantai 3 tempat para pegawai bekerja.

"Semoga harimu menyenangkan, Uchiha-sama. Selamat bekerja!" ujar Sakura sebelum melangkah keluar lift. Bagaimanapun ia harus ingat bahwa Sasuke adalah atasannya, ia harus bersikap sopan meskipun pria itu bersikap kurang ajar.

"Sakura," Sasuke menahan tangan Sakura sebelum wanita tersebut meninggalkan lift. "segera temui aku di kantor jika kau mendapat jawaban atas tawaranku." Dan setelah ucapan terakhirnya, Sasuke membiarkan Sakura keluar lift hingga pintu pun tertutup secara perlahan.

Sakura masih berdiri di depan lift yang kini menunjukan lantai 6. Sakura tersenyum geli, ia menggeleng mengingat ucapan Sasuke tadi. Pria itu benar-benar serius.

"Dasar bos gila."

.

.

.

.

Sakura POV

"Awalnya aku berpikir akan menggandengmu untuk datang ke pestanya dan berkata, halo namaku Haruno Sakura, mantan tunanganmu selama empat tahun. Kini aku menjadi seorang lesbian karena aku alergi dengan lelaki, terutama lelaki brengsek sepertimu."

Ino tertawa mendengar omong kosong yang keluar dari mulutku. "Lalu aku akan menciummu tepat di depan Yahiko." Ino memperlihatkan senyumnya nakalnya.

"Kupikir itu ide yang bagus." Aku meminum teh hijauku dengan perlahan, ngomong-ngomong aku sedang dalam masa diet.

Kami berada di kedai teh, mengisi waktu makan siang kami. Tempatnya tak berada jauh dari kantor, jadi kami tak perlu khawatir akan terlambat kembali ke kantor karena terlalu asyik mengobrol disini.

"Tapi kupikir akan lebih menyenangkan jika kau datang ke pestanya dengan dua tangan yang bekerja aktif." Ino menopang dagunya di meja.

Kedua mataku menyipit, "Maksudmu?"

"Tangan kanan bekerja untuk menampar Yahiko. Ingat, tamparan yang keras!" huh, ucapan Ino langsung membuat tanganku gatal. "dan tangan kiri bekerja untuk menggandeng Uchiha Sasuke, membawanya tepat ke hadapan Yahiko. Aku bahkan membayangkan kau datang ke pernikahannya dengan perut membucit."

Kali ini mulutku membulat, "Oh, membawa Uchiha Sasuke adalah ide yang gila, Ino sayang."

"Bahkan jika kau tak bisa datang ke pernikahannya dengan menggandeng Uchiha Sasuke, kau masih bisa bertemu dengannya dalam keadaan perut membuncit di lain waktu. Aku bersumpah, dia akan menyesal meninggalkanmu karena melihat Haruno Sakura yang sialan seksi saat sedang hamil."

Setiap yang diucapkan Ino selalu membuatku merasa menjadi wanita paling super. Super cantik, super seksi, ataupun super beruntung.

"Bukankah tujuanmu memiliki bayi adalah untuk menunjukan bahwa Haruno Sakura masih bisa memiliki kebahagiaannya sendiri tanpa harus berkomitmen? Tunjukan kebahagiaanmu pada orang yang sudah menyakitimu, Sakura."

Mendengar kata-kata Ino membuatku ingin meminta Sai untuk tak segera menikahinya, dengan begitu aku akan terus memilikinya semauku.

Ino, aku mencintamu dengan segala perhatian dan kata-kata gilamu.

.

.

.

.

Seumur hidupnya, Sasuke tak pernah menerima sebuah penolakan. Terutama sebuah penolakan dari orang yang sudah merendahkannya seperti Sakura. Karena itu, ia bersumpah akan mendapatkan Sakura bagaimanapun caranya.

"Hubungan kita akan saling menguntungkan, Sakura."

Sakura kini berada di hadapannya.

"Kuharap begitu."

Sasuke diam-diam tersenyum, ia tahu bahwa Sakura pada akhirnya akan menyerah juga. Cepat atau lambat Sakura akan menyetujui usulannya untuk menjadi ayah dari anaknya. Menyetujui Uchiha Sasuke untuk menjadi pendonornya.

"Aku akan memberikan kebahagiaan yang kau impikan." Sasuke sudah tahu apa alasan utama Sakura menginginkan kehadiran seorang bayi.

Pada akhirnya, Sakura memang setuju untuk bekerja sama dengan Sasuke, Yamanaka Ino berperan penting dalam hal tersebut.

Sebelumnya Sakura tak menyangka akan serumit ini. Saat Sasori berjanji akan menjadi ayah untuk anaknya, ia membayangkan Sasori hanya harus memberinya beberapa tetes sperma dan jadilan seorang bayi untuknya. Dan berurusan dengan Uchiha memang sedikit rumit, Sasuke bahkan dengan senang hati membawa pengacara untuk mengurus kontrak mereka.

"Aku tak berpikir bahwa kau menyewaku untuk melakukan kontrak bodoh ini, Teme." Itu jelas suara Naruto. Ia kembali menemui Sasuke, hanya saja kali ini di lain tempat. Mereka bertemu di ruangan Sasuke, bersama Sakura tentunya.

Sebenarnya ini adalah alasan utama Sasuke untuk bertemu Naruto kemarin. Ia ingin menyewa Naruto yang berprofesi sebagai pengacara tersebut. Kiprahnya sebagai pengacara handal sudah sangat terkenal di Suna, bahkan di Konoha sekalipun.

Sasuke sudah menceritakan semuanya pada Naruto maupun Hinata saat mereka di kedai kopi. Keluarganya memang memiliki pengacara khusus, namun ia lebih mempercayai Naruto untuk mengurus semuanya. Ia tak ingin keluarganya terlibat dalam urusannya yang satu ini.

Karena sesungguhnya, mendonorkan sperma hanyalah untuk kesenangannya tersendiri.

"Haruno-san?" Naruto mengulurkan tangannya, "Aku Uzumaki Naruto, pengacara sekaligus sahabat si bodoh Sasuke ini."

Sasuke hanya menatap jengah perkenalan tak penting yang dilakukan Naruto.

"Ah, ya," Sakura tersenyum kikuk, "Haruno Sakura." Ia menjabat tangan Naruto sebagai tanda perkenalan dan kerja sama.

"Baiklah, aku akan membacakan beberapa syarat yang terdapat di dalam pernjanjian konyol kalian." Naruto mengambil beberapa berkas yang sudah dipersiapkannya.

Sasuke duduk tenang di sofanya, di sampingnya terdapat Sakura yang juga duduk dalam diam. Naruto duduk di hadapan keduanya dan mulai membacakan isi kontrak secara perlahan.

"Syarat pertama, proses dilakukan secara alami. Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura boleh melakukannya berulang kali jika percobaan pertama tidak berhasil— ini syarat yang diajukan Uchiha Sasuke."

Sakura mendengus, "Kesenanganmu akan segera datang. Aku setuju."

"Aku dengan senang hati akan menunggu." Sasuke menimpali.

"Syarat yang kedua, ketika anak itu lahir, tak ada campur tangan Uchiha Sasuke dalam mengurus kehidupannya— ini syarat yang diajukan Haruno Sakura."

"Setuju." Jawab Sasuke cepat.

Sakura melirik Sasuke sekilas. Benar-benar bukan tipikal seorang pria yang ingin bertanggung jawab.

"Syarat yang ketiga, hak asuh anak sepenuhnya berada di tangan Haruno Sakura— ini syarat yang diajukan Haruno Sakura, yang juga menjadi syarat terakhir di kontrak kalian."

"Baiklah, setuju." Ujar Sasuke tanpa pertimbangan sedikitpun. Sakura tentu saja senang karena Sasuke memang tak sedikitpun tertarik untuk memikirkan hasil kerja sama mereka nanti. Kebahagiaannya sebentar lagi memang akan datang, setidaknya begitu yang ia pikirkan.

.

.

.

.

Sakura baru saja memasang belt saat seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya. Sakura menoleh dan menekan tombol hingga kaca pintunya perlahan turun.

"Halo, bos, sudah mau pulang?" Sakura melirik jam di pergelangan tangannya. Masih terlalu sore bagi seorang atasan seperti Sasuke untuk pulang ke rumahnya.

Sasuke yang jengah dengan tingkah laku Sakura segera membuka pintu mobilnya. "Berhenti bertingkah menjengkelkan, cepat keluar dari mobilmu!"

Ucapan Sasuke membuat Sakura mencibir, di jam pulang pun Sasuke masih bisa memerintahnya seperti ini. "Dasar bos gila!" tapi Sakura masih menurut untuk keluar dari mobilnya, "Aku terlalu lelah untuk bertengkar denganmu, bos."

Sakura bersandar pada pintu mobilnya. Ia berhadapan langsung dengan Sasuke dan melempar tatapan garangnya seperti biasa. Hal tersebut justru membuat Sasuke diam-diam tersenyum.

"Sialan,"

Sasuke segera menarik Sakura mendekat dan membungkamnya dengan lumatan di bibirnya. Sakura yang cukup terkejut sedikit mendorong dada Sasuke yang menghimpitnya ke sisi mobil. Sakura menolak namun apa yang Sasuke lakukan pada bibirnya membuatnya lemas dan panas. Sakura merasa terbakar, lututnya terasa lemas dan mungkin ia akan roboh hanya karena ciuman dari bos playboynya yang sialan seksi ini.

Sasuke begitu handal, lidahnya membuka bibir Sakura dan membuat kedua tangan wanita itu mencengkram bagian belakang jasnya. Sasuke membungkuk hingga Sakura tak perlu untuk menjinjit saat ciuman panas mereka semakin liar. Bahkan Sakura berpikir jika Sasuke akan menelanjanginya sekarang juga. Dengan kedua tangannya Sasuke menyapu pinggang hingga punggung Sakura. Mengusapnya dengan gerakan tangan seakan ingin merobek kain yang melekat di tubuh ramping Sakura.

Sakura bahkan rasanya nyaris mati karena gairahnya yang menggila. Dan disaat ia hampir kehabisan nafas, Sasuke melepas bibirnya. Sasuke menatap Sakura dengan mata yang berkabut, kuat akan akan gairahnya yang tertahan.

Dengan pelan ia mengusap bibir Sakura yang basah dan memerah, "Pulanglah." Sasuke tersenyum tipis.

Sasuke membantu Sakura untuk berdiri dengan normal seperti sebelumnya. Ia membuka pintu mobil dan membantu Sakura masuk ke dalamnya.

"Aku akan datang ke apartementmu, malam ini."

Sakura yang kacau membiarkan Sasuke menutup pintu mobilnya dan berjalan meninggalkan parkiran menuju pintu belakang kantor. Pergi begitu saja setelah apa yang ia lakukan.

Sakura berpikir, setelah pertemuan pertama mereka yang kurang menyenangkan terjadi di parkiran, kali ini mereka melakukan ciuman pertama mereka yang begitu panas di tempat yang sama.

.

.

.

.

Sakura tak pernah tahu apa yang membuat jantungnya berdetak cepat hanya karena sebuah suara yang terdengar dari pintu apartementnya. Di luar sana seseorang menekan bel di pintunya.

Dengan cepat Sakura menghampiri pintu, bahkan ia sedikit berlari dan mengaduh saat lututnya secara tak sengaja menabrak ujung meja. Sakura tak pernah terburu-buru seperti ini hanya untuk melihat siapa yang menekan bel.

Sakura melihat layar yang terpasang di pintunya, menampilkan seorang pria yang berdiri di depan pintunya.

"Sakura, aku tahu kau sedang memandangku dengan sebal dari layar monitor apartementmu itu."

Sakura mendengus, Sasori dapat menebaknya dengan mudah.

"Jangan berharap aku akan membukakan pintu!" Sakura berteriak dari dalam, entah Sasori akan mendengarnya atau tidak. Ia masih kesal dengan Sasori, ingat? Bahkan ia sudah berjanji untuk tak mengenal Sasori selama satu minggu.

Sakura berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan singkat yang berisi tentang permintaannya yang lebih mengarah perintah kepada Sasori untuk segera meninggalkan daerahnya.

Sasori kali ini menghubunginya, dan dengan senang hati Sakura menolak panggilannya. Bahkan Sakura kini mematikan ponselnya. Ia mencoba mengabaikan bunyi bel di pintunya dengan mengurung diri di kamar. Ia berharap akan ada tetangganya yang mengusir Sasori.

Sakura tak tahu sudah berapa lama Sasori di luar menunggunya. Ia kini berpikir mungkin sudah bersikap terlalu keras kepada Sasori, namun egonya yang besar berhasil menahannya untuk tak menemui Sasori. Sakura baru saja merasa senang saat bunyi bel tak terdengar, hanya beberapa menit hingga bunyi bel kembali terdengar.

Sasori yang tak pantang menyerah membuat Sakura menyerah. Dengan langkah menghentak Sakura membuka pintu dan siap untuk membentak Sasori.

"Sudah kubilang untuk pergi dari sini, Sas—"

"Sas..suke?" Oh, Sakura sudah salah membentak orang. "Kau menyuruhku pergi? Kali ini apalagi?"

Sakura seakan membeku melihat Sasuke yang kini berdiri di hadapannya. Ia tertawa sedikit gugup.

"Kupikir orang lain." Sakura mengusap lengannya.

Sasuke tampaknya tak terlalu mempedulikan hal tadi, "Kuharap kau belum makan, aku membawakanmu makanan dan kopi." Sasuke mengangkat dua kantong kertas di tangannya.

Sakura menyunggingkan senyumnya, "Oh, baik sekali," kemudian ia membiarkan Sasuke masuk ke dalam apartementnya.

Sakura membawa makanan dan memindahkannya ke piring. Sasuke berinisiatif memanaskan kopi yang sedikit mendingin karena jarak ke apartement Sakura cukup jauh.

"Kau dapat dengan mudah menemukan tempat tinggalku."

"Kau pikir apa gunanya aku menjadi bosmu?" Sasuke tersenyum, senyum yang ia pelajari dari Sakura saat mereka bertemu di lift pagi tadi. Kali ini ia yang terlihat sombong.

Sakura membawa makanan mereka ke ruang tengah dan menaruhnya di atas meja berkaki pendek yang terdapat disana. Ia lebih suka makan sambil menonton acara di televisi dibanding harus duduk dengan tenang di ruang makan bersama Sasuke.

"Ngomong-ngomong, terimakasih atas makanan dan kopinya. Aku sedikit tersanjung."

Sasuke membawa beberapa olahan ayam, namun mata Sakura tertuju pada salad sayur yang cocok untuk menjadi menu dietnya.

"Setidaknya aku akan membantumu sehat sehingga kau dapat mengandung dengan baik, Sakura."

Dan ucapan Sasuke membuat Sakura tersadar akan satu hal; untuk apa ia diet jika pada akhirnya ia akan menjadi wanita yang sedang mengandung?

"Ah ya, soal itu," Sakura menggantungkan ucapannya.

"Apa?" Sasuke tentu saja mengerti maksud ucapan Sakura. Ia menyinggung soal proposi (rencana) mereka soal membuat bayi.

"Maksudku, hanya aku saja yang makan?" Uh, kau terdengar payah sekali, Sakura.

"Aku sudah makan," Sasuke yang duduk di samping Sakura meluruskan kedua kaki panjangnya, satu tangannya membuka kancing teratas kemejanya dan satu tangannya lagi bertumpu pada sofa putih di belakangnya. Sakura yang melihatnya bahkan tanpa sadar menelan ludahnya gugup. Sasuke si sialan seksi.

Sakura hanya mengangguk, sengaja untuk menutupi mata nakalnya yang diam diam mencuri pandang ke arah Sasuke.

"Aku lebih tertarik untuk memakanmu, Sakura." Saat itu juga Sakura menjatuhkan garpunya, ia bahkan tersedak. Sasuke menatap geli Sakura yang saat ini memukuli dadanya dengan brutal dan memintanya untuk mengambilkan segelas air dengan tatapan matanya yang memohon.

"Kau terdengar seperti pria yang haus akan wanita." Sakura menaruh gelas dengan sedikit tak sabaran.

"Bukankah memang aku akan memakanmu?" Sasuke terlihat cuek.

"Setidaknya gunakan kata yang lebih baik, jangan samakan aku dengan sekumpulan tomat dan sayuran hijau ini." Sakura menunjuk-nunjuk saladnya dengan garpu.

"Meniduri? Mengangkangi? Menunggangi?"

"Mulutmu kotor sekali, apa aku harus menyikatnya dengan garpu?" Sasuke mendenguskan tawanya menanggapi ucapan Sakura. "Aku masih ingat saat kau berkata ingin menunggangiku, bahkan di pertemuan awal kita. Aku membencimu, Sasuke."

"Jangan membenciku, rasa benci yang kuterima akan membuat kualitas spermaku menurun."

Sakura menatap jengah Sasuke, pria ini benar-benar berbeda dengan Sasuke saat di kantor. Pria ini bahkan bertingkah menyebalkannya seakan tak mengenalinya saat bertemu di lobby bawah. Mungkin hanya ia pegawai di kantornya yang dapat mendengar seorang Uchiha dengan mulut kotor seperti Sasuke. Dan sepertinya ia harus terbiasa dengan Sasuke dan semua talk dirtynya mulai sekarang.

"Aku lupa mengatakan sesuatu," Sakura kali ini mulai memakan ayam yang terlupakan. Persetan dengan diet. "kita melakukannya saat dua hari setelah masa suburku, dan jangan berpikir untuk melakukannya setiap hari! Itu hanya akan membuat kualitas spermamu menurun."

"Jangan pernah remehkan kualitas Uchiha, Sakura."

"Aku serius, Uchiha-sama." Sakura tersenyum dipaksakan, terlihat menyeramkan di mata Sasuke.

"Hn, baiklah." Akhirnya Sasuke megiyakan.

Sasuke bangkit dari tempatnya dan berjalan ke arah dapur, menuangkan kopi yang sebelumnya sudah dipanaskan ke dalam dua cangkir. Ini pertama kalinya Sasuke datang ke apartement Sakura, namun ia seakan sudah datang ke tempat ini berulang kali. Sakura sendiri merasa tak masalah dan bahkan membiarkan orang asing yang baru dikenalnya beberapa hari berjalan sesuka hati di dalam rumahnya.

"Kau tidak bertanya kenapa aku datang kemari?"

Sakura terdiam beberapa detik, ia tampak berpikir. "Awalnya aku mengira kau akan langsung meniduriku. Tapi ternyata tidak." Sakura meminum air di gelas yang dibawa Sasuke sebelumnya, ia mengakhiri makan malamnya.

Sasuke mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. "Ya, aku mengurungkan niatku untuk menidurimu malam ini," Sasuke tiba-tiba mendekat, menggeser duduknya dan tangannya dengan bebas meraih wajah Sakura. Tangan itu sudah mulai terlatih untuk bersentuhan dengan Sakura. "tapi sepertinya aku berubah pikiran."

Kedua mata Sakura membulat. "Sasuke—" entah mengapa namun Saskura sedikit bersyukur saat ponselnya berbunyi, seseorang menghubunginya. Dengan kecepatan kilat ia meraih ponselnya yang berada di atas meja.

Itu telpon dari Sasori, dan ia sedikit ragu untuk menjawabnya.

"Sakura," namun pada akhirnya Sakura menerima panggilan Sasori. Beberapa detik Sakura maupun Sasori sama sekali tak berbicara. Mereka sama-sama diam, menunggu masing-masing memulai percakapan.

Sakura sempat melirik Sasuke yang duduk di sampingnya, dan pria itu jelas terlihat tak suka. Tatapannya seakan meminta Sakura untuk memberikan ponselnya dan Sasuke akan berkata pada Sasori untuk pergi ke neraka sekarang juga karena sudah mengganggu momentnya bersama Sakura.

"Aku.." suara Sasori kembali terdengar, "Aku tak tahu ini terlambat atau tidak, tapi Sakura.. ayo kita membuat bayi."

Sakura mematung, bahkan Sasuke yang sedang kesal pun dapat menangkap raut wajah Sakura yang berubah cepat.

"Aku sudah putus dengan Deidara. Aku lebih memilih persahabatan kita. Karena itu, ayo kita membuat bayi dan kembali akur seperti dulu."

.

.

.

.

Bersambung.

A/N

Iya, Yuchi tau ini pendek banget dan UPDATE SUPER DUPER NGARET! Yuchi lagi sibuk sama tugas akhir sebelum ujian, alasan klasik tapi emang bener gitu hehe ;_; ini ngebut banget, supaya ga makin ngaret soalnya mau bulan puasa. Ngomong-ngomong Marhaban Ya Ramadhan, selamat berpuasa untuk yang menjalankan! x3 makasih buat ripyu di chapter ini maupun sebelumnya, seneng banget banyak yang dukung fanfic ini xD sampai berjumpa di chapter selanjutnya!^^

.

.

.

.

yuchida.