Sakura berlari menuju parking area di kawasan apartemennya. Sesampainya disana, ia mendapati sebuah mobil sport berwarna merah yang begitu dihafalnya.
"Dasar Bodoh!"
Sakura berdecak pelan dan melangkah cepat menghampiri Sasori yang berada di dalam mobilnya. Ia tak mengira bahwa Sasori masih berada di sekitar apartemennya.
Sakura ingat, Sasori selalu menunggunya disini jika mereka ingin pergi bersama ataupun pria itu yang dengan senang hati menjemput Sakura dan menemaninya kemanapun ia mau. Selama apapun, Sasori akan menunggu Sakura, dan pria itu kembali melakukannya.
Sasori sedang menyandarkan punggungnya pada jok mobil dengan kedua mata yang tertutup. Raut wajahnya terlihat tenang, namun hal tersebut membuat Sakura menghela nafas.
Sakura mengetuk kaca pintu mobil Sasori sebanyak dua kali, Sasori membuka mata dan menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut.
"Sakura?" Sasori menegakan punggungnya, kaca mobilnya perlahan turun. "Kupikir kau tak akan datang. Ternyata insting persahabatanmu masih kuat, ya?" Sasori tersenyum, ia membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya.
Wajah Sakura mengeras,"Dasar bodoh! Shannaro!" saat itu juga Sakura ia mendorong bahu Sasori.
Sasori dengan sigap menangkap dua kepalan tangan Sakura, ia justru terkekeh, "Rupanya kau sudah mau bertemu dan berbicara denganku lagi, ya?"
Sakura mencoba menenangkan dirinya, kedua matanya terlihat memerah, "Aku kemari mendatangimu bukan karena rencana kita tentang membuat bayi, bodoh!" Sakura menarik kedua tangannya dari genggaman Sasori, "Aku mengkhawatirkan keadaanmu, aku tahu kau sangat mencintai Deidara tapi kau justru ..." Sakura bahkan rasanya tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Sasori tersenyum kecil, "Demi persahabatan kita." sebelah tangannya mengacak rambut Sakura.
"Kau terdengar begitu sialan gay! Begitu lembut dan membuatku nyaris mati karena meleleh!" Sasori tertawa saat Sakura meninju pelan bahunya dengan wajah yang memerah menahan tangis. Ia segera mendekapnya dan mengusap punggung Sakura.
"Jadi ...bagaimana?"
"Kau tahu, aku belum siap mati. Deidara akan datang menemuiku, entah dengan sebuah pistol ataupun pisau di tangannya, atau mungkin ia akan menguburku hidup-hidup."
Sasori kembali tertawa, "Atau mungkin dia akan menghamilimu untuk menggantikanku."
"Sialan kau!"
Sasori membiarkan Sakura tetap memeluknya. Ia benar-benar merindukan gadis merah jambu ini. Sakura selalu memiliki cara untuk membuatnya gila. Sasori benci permusuhan, dan Sakura tahu hal itu dengan jelas. Namun Sasori tak tahu bahwa ia sudah memulai permusuhan baru dengan Deidara.
Untuk saat ini, rasanya Sasori mampu mengesampingkan Deidara. Yang terpenting untuk saat ini adalah Sakura.
"Oh, Sasuke?"
Sakura menoleh ke belakang saat mendengar ucapan Sasori.
Oh, God! Ia hampir lupa soal Sasuke!
Sakura yang terlalu mengkhawatirkan Sasori bahkan meninggalkan Sasuke begitu saja di apartemennya. Ia bersumpah, Sasuke pasti semakin kesal. Lihat, bahkan wajah pria itu mengeras. Huh, menyeramkan.
"Mengunjungi wanita yang mana lagi?" Sasori bertanya dengan santai.
Sasori cukup dekat dengan Sasuke, mengingat pria itu adalah adik Itachi. Ia tentu tahu tentang perilaku Uchiha bungsu yang satu itu. Sasori bahkan pernah mengajak Sasuke ke night club yang dikelolanya bersama Deidara hanya untuk mencarikan wanita, yang bodohnya tempatitu sebenarnya dikhususkan untuk para gay sepertinya.
"Kau sendiri, sudah belajar mengunjungi wanita?" tanya Sasuke, kedua matanya tak lepas dari Sakura. Wanita itu telihat canggung dan tersenyum kaku ke arahnya.
Sasori mendengus, "Maksudmu Sakura?" sebelah tangannya berada di bahu Sakura, ia merangkul dan menepuk-nepuk lengannya. "Kau bercanda? Tentu saja dia wanitaku!"
Tepat sasaran, ucapan Sasori membuat rahang Sasuke menegang.
.
.
.
SasuSaku fanfic by yuchida
Inspired : The Proposition © Kate Ashley
All Character © Masashi Kishimoto
Warning : Mature, Mild Language, AU, typo(s), OOC
.
.
.
Sakura POV
Sasuke marah.
Sekali lagi, Uchiha Sasuke benar-benar marah.
Si bos brengsek itu bahkan dengan sialannya mengacuhkanku saat kami tak sengaja berada di dalam satu lift lagi tadi pagi. Hal terakhir yang Sasuke katakan padaku adalah saat ia bertanya siapa yang akan aku pilih, antara dirinya atau Sasori. Saat itu aku tak menjawabnya, dan hal tersebut menjadi awal kemurkaan Sasuke.
Namun aku berpikir kemarahan Sasuke sepertinya akan menguntungkanku. Mungkin saja ia akan memutuskan kontrak kami, kan? Dengan begitu aku akan menjalankan rencana awalku bersama Sasori, tanpa ada campur tangan Sasuke sedikitpun.
"Atau mungkin aku akan mendapat seorang bayi dari Sasori dan satu lembar surat pemecatan dari Sasuke." aku terlihat sinting berbicara dengan cermin toilet di hadapanku.
Aku mencuci tanganku dan menarik satu lembar tisu dengan cepat. Aku harus segera menemui Sasuke, kurasa kami perlu bicara. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab, kami sudah melakukan perjanjian di atas kertas putih yang bisa membawaku ke pengadilan jika melanggar isinya.
Bagus, aku akan dibawa ke pengadilan dengan kasus pembatalan pendonoran sperma Uchiha Sasuke.
Aku menyisiri kantor dengan otak yang berpikir keras. Aku mencari tahu alasan apa yang akan kugunakan untuk bertemu Sasuke karena aku tak punya satupun pekerjaan yang akan membuka akses langsung untuk bertemu bos besar itu. Aku tak mungkin dapat dengan mudah bertemu dengan orang yang segala jadwalnya telah diatur seperti Sasuke.
"Hey, Sakura!" seorang teman di kantor ini menyapaku saat kami bertemu di dekat ruang presentasi. Ia membawa banyak berkas, mungkin hari ini adalah hari sibuknya.
"Oh, Hai!" Aku tersenyum ke arah Tenten.
Tunggu, aku tak pernah tersenyum selebar ini hanya karena bertemu dengan teman kantor.
.
.
.
.
Sakura POV
"Aku tahu siapa yang seharusnya membawa laporan tentang gedung baru itu, aku tahu dengan sangat jelas."
Saat ini wanita berkacamata dengan rambut merahnya yang tergurai panjang berada di hadapanku. Tentu saja si gila Karin, siapa lagi?
"Tenten sedang sibuk dengan tugas lain, lagi pula laporan ini aku yang mengerjakan." oke, aku sedikit berbohong. Sedikit, karena aku tak berbohong soal Tenten yang sedang sibuk dengan tugas lain.
Aku tahu Karin kini menatapku curiga.
"Kau bisa memberikannya padaku, biar aku yang memberikannya pada Presdir."
Aku tersenyum sebisaku, "Karin, aku tahu pekerjaanmu banyak, jadi bisakah aku membantumu untuk sedikit menguranginya?"
Masa bodoh, aku berjalan melewati Karin dan menghampiri ruangan yang berada di samping meja kerjanya. Ruangan Uchiha Sasuke yang terhormat— dan permarah, aku menambahkannya di belakang.
Bagus, sekarang aku berhasil masuk ke dalam ruangannya tanpa izin.
"Selamat siang, bos!"
Sasuke sedang sibuk dengan dunianya. Kedua mata yang menatap berkas dan tangan yang bekerja aktif menandatangani tumpukan kertas-kertas tersebut.
Wow, dia bahkan mengacuhkan sapaanku. Tentu saja.
"Bos, ini laporan yang kau minta." Aku memperlihatkan map di tanganku, berharap Sasuke menegakan pandangannya ke arahku, atau setidaknya pada hasil pekerjaan Tenten. Dan sialnya dia tak melakukan satupun dari dua kemungkinan yang aku sebutkan tadi.
"Pegawai sepertimu seharusnya tak perlu susah payah datang ke ruanganku."
Pria sialan ini, aku tahu aku hanya pegawai biasa yang jarang bertemu bos besar sepertimu. Aku juga berpikir ia baru saja berbicara dengan angin, atau mungkin kertas di atas mejanya atau juga ballpoint ditangannya. Ia berbicara tanpa menatapku sedikitpun! Shannaro!
"Berhenti bersikap menjengkelkan!" Sasuke sedikit terkejut saat aku membanting map di atas mejanya. Dan aku suka ekspresi terkejutnya itu, dia masih sialan tampan.
Kali ini Sasuke memberikan perhatiannya padaku. Ia menyandarkan punggungnya, bertingkah seperti big boss seperti biasanya. Bossy Uchiha.
"Dengar, sikapmu membuat Sasori satu langkah lebih dekat denganku. Aku akan segera membuat bayi dengan Sasori!" kukira ini adalah gertakan yang bagus untuk Sasuke. Aku tahu seberapa besar dia menginginkanku di atas ranjangnya. Sebenarnya terlalu memalukan untuk dibanggakan namun itu memang benar.
"Sakura," bagus, akhirnya dia menyebut namaku, "keluar dari ruanganku."
Sialan, Sasuke benar-benar sialan.
"Baik," aku tersenyum, senyum yang membuat wajahku terlihat jelek. Aku tahu itu.
Aku kesal, walau sebenarnya aku tak perlu merasa kesal. Bukankah Sasuke yang menginginkanku? Dan aku tak membutuhkannya atau bahkan menginginkannya, aku berada di atas Sasuke karena saat ini aku memiliki Sasori.
Bagus, lebih baik aku segera kembali ke tempatku dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertinggal agar aku bisa bertemu Sasori secepatnya. Yeah, kami akan segera membuat bayi!
"Sakura,"
Oh, ini seperti adegan dalam drama kacangan yang sering Ino tonton. Ketika pemeran wanita berjalan memunggungi prianya, dan tak lama suara bodoh si pria itu terdengar memanggil nama si wanita.
Benar sekali, pria bodoh itu ada di dalam kehidupan nyata, terlahir dengan nama Uchiha Sasuke.
"Aku bisa saja membuatmu memilihku karena kita sudah melakukan perjanjian. Bahkan aku bisa memecatmu atau menuntutmu, tapi itu sama sekali bukan caraku untuk memulai permainan kita."
Ini tentang perjanjian dan nasib pekerjaanku. Sialan, aku belum siap menjadi pengangguran dan mendekam di penjara karena melanggar kontrak kami.
"Aku sedikit tersinggung saat kau harus berpikir hanya untuk memilih antara aku atau Sasori," Sasuke kembali berbicara, "kau tahu, selain penolakan, aku juga tak suka dikalahkan. Aku hanya menunggu sampai kau memilihku tanpa harus dengan iming-iming kontrak."
Aku menoleh ke belakang dan Sasuke sudah berada tepat di belakangku.
"Jika Sasori bisa membuatmu memilihnya dengan suka rela, kenapa aku tidak?"
Dan saat itu juga Sasuke meraih bibirku dan menciumnya. Dada bidangnya menghimpitku dan salah satu tangannya mencengkram bahuku sedikit keras.
"Sial, aku bahkan tak tahan untuk mengacuhkanmu, Sakura. " Sasuke menggeram, ia melumat dan mendorong lidahnya ke dalam mulutku. Tangan Sasuke meluncur turun dari bahu dan menangkap pinggangku. Sedangkan tanganku sendiri terasa kaku hanya untuk meremas rambutnya.
Sasuke kali ini menyelipkan lidahnya dan membuatku merasa hangat. Nafasnya memburu dan ciumannya semakin liar. Sasuke membuatku mengerang saat ciumannya turun menggapai rahang, lalu turun ke leher dan menghisapnya keras.
"Seharusnya aku sudah melakukan ini kemarin," katanya terengah-engah.
"Kupikir kau akan memperkosaku," aku mendorong tubuhnya menjauh. Sasuke memberiku kesempatan untuk bernafas. Aku tahu wajahku memerah padam, Sasuke selalu berhasil membuatku seperti ini tiap kali ia menciumku. Oke, ucapanku terdengar seakan Sasuke sudah menciumku berulang kali.
Kedua mataku memperhatikan Sasuke, ia tak berbicara apapun selain balas menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka. Nafasnya terdengar tak teratur dan itu membuatnya terlihat sialan menggoda.
Sasuke mengambil sesuatu dibalik jas hitamnya dan memasukannya ke dalam kantong blazerku.
"Kuharap itu bisa menjadi pertimbanganmu,"
Aku merogoh kantong blazerku.
Oh, kunci hotel?
"Aku menunggu jawabanmu."
.
.
.
.
"Saudara kembar! Aku disini!"
Ino mengernyit ngeri mendengar sapaan Deidara, "Saudara kembar katamu?" Ino duduk di hadapan Deidara.
Saat salah satu rekannya berkata bahwa ada yang menunggunya di lobby bawah, Ino sama sekali tak berpikir bahwa orang itu adalah Deidara.
Ino tentu mengenal siapa Deidara. Baginya, Deidara adalah pria yang sangat menyebalkan. Meskipun ia cukup dekat dengan Sasori, namun hal tersebut tak berlaku dengan Deidara. Sama halnya dengan hubungan antara Sakura dan Deidara.
"Hei, kita ini 'kan memang saudara kembar! Lihat, rambut dan warna kulit kita sama!" Deidara menarik-narik helaian rambut pirang Ino, dan saat itu juga Ino nyaris menjambak Deidara sebagai balasan.
Ino masih ingat, ia lah yang pertama kali menyebut Deidara sebagai saudara kembarnya. Saat itu mereka baru pertama kali bertemu dan Ino mencoba mencairkan suasana dengan leluconnya. Namun hal tersebut jutsru menyulut kemarahan Ino karena Deidara berkata 'Kau lebih mirip dengan pig dibanding denganku, Ino'.
Dan saat ini, justru pria itu memanggilnya saudara kembar.
"Aku merindukanmu! Bagaimana kabarmu, twin?"
Ino mendesis sebal, "Menjengkelkan, aku ingin menarik mulutmu!" Ino mengambil vas bunga yang terdapat di atas meja dan bersiap untuk melemparnya ke arah Deidara, "Apa maumu, bodoh?"
.
.
.
.
"Halo, Sasuke,"
Sasuke menatap jalanan luas dari jendela besar di ruangannya, tatapannya tiba-tiba tak terfokus saat Sasori mengangkat telponnya.
"Ada handuk di leherku, aku hampir masuk ke kamar mandi saat kau menghubungiku, jadi cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan sebelum ponselku ikut masuk ke dalam bathtub."
Satu tangannya masuk ke dalam saku celananya. Beberapa detik Sasuke diam, ia sedang memikirkan kata yang pas untuk memulai percakapannya dengan Sasori.
"Sejak kapan kau putus dengan Deidara?" Oke, Sasuke bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Untuk apa juga ia berpikir lama jika mulutnya yang terkadang semaunya sendiri sudah lebih dulu mengambil tindakan.
Seketika suara Sasori menghilang, Sasuke berpikir mungkin pria itu sedang merenung atau ucapannya membuat Sasori seketika merindukan Deidara.
"Jadi kau menghubungiku hanya untuk menanyakan Deidara?"
Sasuke mendecih, "Hey, gila, aku menanyakan hubungan kalian berdua, bukan Deidara." mulut sialan, Sasuke menggerutu dalam hati.
Sasuke sudah bertekad untuk berbicara baik-baik dengan Sasori. Ia melakukan ini semata-mata untuk menyelamatkan kontraknya bersama Sakura. Dan mulut sialannya lagi-lagi berbiacara tanpa kendali.
"Maksudku, Sasori," Sasuke bersumpah suaranya terdengar seperti anak kecil yang sedang merengek, "kuharap hubunganmu dan Deidara bisa kembali seperti sebelumnya. Kalian begitu manis saat bersama."
Jika Sasuke sedang tak berada di kantor, mungkin saat ini juga beberapa barang sudah terlempar ke dinding sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Kalian begitu manis saat bersama, Sasuke tak percaya sudah mengatakan hal tersebut untuk menggambarkan hubungan tabu Sasori dan Deidara. Sasuke bahkan dengan jelas mendengar Sasori tertawa.
"Aku butuh kehidupan yang tenang, Sasuke."
Satu alis Sasuke terangkat, "Maka hiduplah dengan orang yang kau cintai," ujarnya asal.
"Kau tau apa soal cinta, heh?"
Ucapan Sasori sukses membuat Sasuke memaki.
"Sasori," Sasuke duduk di sofa ruangannya, "kembalilah pada Deidara."
"Sebelumnya kau menyebut kami pasangan gila."
Sasuke melonggarkan dasinya, ia hanya mengobrol dengan Sasori melalui ponselnya namun hal tersebut membuatnya kegerahan. Sasuke juga merasa bahwa Sasori sudah membuat otaknya berpikir terlalu keras, ia terus memikirkan kalimat apa yang pantas untuk diucapkan pada pria itu.
"Sebenarnya ini tentang Itachi, dia berkata bahwa dia sangat sedih melihat kedua sahabatnya berpisah."
.
.
.
.
"Aku tak pernah berkata seperti itu, aku bersumpah."
Itachi menaruh cangkir kopinya di meja. Saat ini Sasori berada di hadapannya, duduk di depan meja yang sama.
"Ah, begitu?" Sasori menggaruk tengkuknya.
"Aku hanya pernah berkata bahwa aku mendukung apapun keputusan kalian, kau lupa?"
Ucapan Itachi membuat Sasori tersenyum, "Tidak, aku tidak lupa." Sasori ikut menyesap kopinya, diam-diam ia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan menjadi kabar baik ataupun kabar yang sangat buruk.
Siang ini Itachi menyempatkan waktunya di kantor untuk bertemu Sasori. Dia selalu menyempatkan waktu berharganya untuk orang-orang terdekatnya, sesibuk apapun keadaannya.
"Apa akhir-akhir ini Sasuke sedang dekat dengan seorang wanita?"
"Dia selalu dekat dengan banyak wanita, kau tahu itu." Itachi mencibir.
"Maksudku, wanita yang benar-benar serius untuk didekati." Sasori melanjutkan.
Itachi tampak berpikir, mengingat-ngingat tentang percintaan adiknya setahun terakhir ini, "Kupikir tidak, sejauh ini Sasuke belum pernah membawa wanita istimewanya ke hadapan ayah dan ibu, ataupun ke hadapanku."
Sasori memijat keningnya, wajahnya terlihat serius.
"Kalau begitu aku tak akan membiarkan dia menjadikan wanitaku masuk ke dalam daftar salah satu wanita ranjangnya."
Ucapan Sasori membuat Itachi terkejut, "Kau sedang terlibat persaingan cinta dengan adikku?" tanyanya penasaran, "Aku senang jika kau sedang belajar untuk mencintai wanita lagi, bung, tapi kupikir kau harus mengalah. Aku sudah lama menunggu Sasuke jatuh cinta lagi."
Itachi bicara dengan serius, namun sepertinya Sasori tak terlalu menanggapi.
"Kita bicarakan ini nanti, aku harus segera pergi. Terimakasih untuk waktu dan kopinya!"
Sasori tersenyum ke arah Itachi sebelum berjalan cepat meninggalkan kantornya, bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju tempat yang harus ia datangi. Ia akan menemui Sakura.
Meskipun Sasuke adalah teman dekatnya, sekaligus adik dari sahabatnya, namun Sakura baginya adalah seorang adik perempuan yang harus dijaganya. Ia bersumpah akan membunuh Sasuke jika pria itu memintanya untuk kembali bersama Deidara hanya karena khawatir ia gagal membawa Sakura ke atas ranjangnya.
Sekarang ia mengerti maksud ucapan Sasuke sebelumnya, tentang permintaannya untuk kembali bersama Deidara.
Butuh waktu hampir satu jam untuk datang ke tempat Sakura bekerja. Sasori mematikan mesin mobilnya, mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan berisi permintaannya pada Sakura untuk segera menemuinya di area parkir.
Sasori nyaris membuka pintu mobilnya saat kedua matanya tak sengaja melihat seseorang yang begitu dikenalnya. Keduanya tampak begitu terkejut, tak mengira mereka akan bertemu.
"Deidara?"
.
.
.
.
"Deidara datang menemuiku di lobby bawah,"
Sakura menghentikan aktifitasnya, ia menoleh ke arah Ino kemudian berkata, "Dan kau baru memberitahuku. Kau tahu, aku harus membuatnya pulang dengan bertelanjang kaki."
"Kurasa ia akan seratus kali lebih agresif setelah putus dari Sasori." Ino duduk di hadapan Sakura.
"Ah, kau benar," Sakura mengetuk-ngetuk pipinya dengan pena, "apa saja yang kalian bicarakan?"
"Aku ingin Sasoriku kembali', dia terus saja mengatakan hal seperti itu."
"Jadi sekarang kau tahu soal putusnya Sasori dan Deidara?"
"Tentu saja, honey. Aku cukup terkejut saat Deidara bilang Sasori memutuskan hubungannya demi persahabatannya denganmu. Sialan, aku mungkin harus berpikir ribuan kali untuk memutuskan Sai demi wanita gila sepertimu."
Sakura menahan tawanya, "Mungkin kau akan membuang Sai dalam hitungan detik saat aku memintamu untuk menikahiku."
"Sialan, kau benar." Ino membuat Sakura tertawa.
"Tapi, Ino, kenapa dia menemuimu?"
"Deidara berniat mendekatiku karena ia tahu aku cukup dekat dengan Sasori, dia tak mungkin lupa jika kita bertiga sering menghabiskan waktu bersama. Si gila itu memintaku membantunya untuk mendapatkan Sasori lagi."
"Kau memang orang yang tepat untuk dimintai bantuan sebagai cupid." kali ini Sakura menahan tawanya.
"Tentu saja, ia tak mungkin meminta bantuanmu, Jidat. Sekarang kau masuk ke dalam daftar musuh abadinya."
"Dia tak akan mudah mengalahkanku, aku akan melakukan genjatan senjata."
"Bagus, aku akan membantumu membuat sebuah bom untuk meledakannya." Ino mendengus.
"Lupakan soal Deidara, ada sesuatu yang lupa kutunjukan padamu," Sakura meraih tas pundaknya di atas meja, "Sasuke memberikannya padaku." Sakura menunjukan kunci kamar hotel pada Ino.
"Wow, Presdir kita tidak main-main," Ino memegang kunci yang diperlihatkan Sakura, "kalau begitu ajak saja Sasori, akan menyenangkan bermain dengan dua orang pria sekaligus. Aku siap menjadi bagian dokumentasi."
"Sialan, aku akan menjadi bintang porno dalam sekejap."
Ino tertawa dan memberikan kuncinya pada Sakura, "Jadi kau belum memutuskan pilihan? Aku tak pernah membayangkan harus ada sebuah pilihan hanya untuk membuat seorang bayi."
"Sialan, kau pikir membuat bayi semudah membuat adonan kue?"
Sakura meraih tasnya dan kembali memasukan kunci yang diberikan Sasuke ke dalamnya, dan saat itu juga ia melihat layar ponselnya menyala. Satu pesan singkat diterimanya.
Sakura tersenyum saat membaca pesan tersebut, "Aku harus segera pergi," Sakura bangkit dari kursinya dan mencium pipi Ino singkat. Ia terlalu senang.
"Hei, setidaknya biarkan aku balas menciummu sebelum kau pergi menemui kesenanganmu itu, jidat!"
.
.
.
.
Sakura menyusuri parkiran untuk menemukan Sasori. Pria itu cukup membuatnya repot karena harus memperhatikan satu persatu mobil yang jumlahnya begitu banyak hanya untuk mencari keberadaan mobil sport merah beserta pemiliknya itu.
Sakura membuang nafas. Bagaimanapun, balasan yang akan diterimanya nanti akan membayar apa yang ia lakukan sekarang dengan berlipat ganda. Mencari Sasori ditengah jajaran mobil tak sebanding dengan Sasori yang akan memberinya seorang bayi.
"Sial, kenapa aku begitu bersemangat?" Sakura masih mempertahankan senyumnya.
Sakura mengecek ponselnya, ia sudah membalas pesan Sasori tapi pria itu tak juga mengirim satu pesan balasan lagi.
Sakura merasa begitu bodoh karena baru terpikir untuk langsung menghubungi Sasori. Tak perlu menunggu lama hingga ringtone yang begitu dikenalnya terdengar mengisi parking area yang memang berkonsep indoor. Kedua kakinya melangkah ceoat untuk segera menemukan Sasori.
"Kenapa dia tak mengangkat telponnya?" Sakura diam-diam menggerutu.
Suara ponsel Sasori masih terdengar dan Sakura merasa semakin dekat. Dan saat Sakura berhasil menemukan sumber suara, ia justru menghentikan langkahnya. Kedua kakinya terasa berat, dan kedua pandangannya seakan kosong.
Tangannya masih berada di ponselnya yang menempel di telinga. Sakura diam memperhatikan Sasori yang tepat berada di hadapannya. Sama seperti saat Sasori menunggunya di parkiran apartemennya, pria itu duduk di dalam mobilnya— hanya saja saat ini ia tak sendiri, ada Deidara yang duduk di sampingnya; dan mereka berdua berciuman.
"Oh,"
Dan saat tersadar Sakura justru menertawai dirinya sendiri seperti wanita gila. Sakura memutus telponnya, ia bahkan berpikir Sasori mungkin terlalu menikmati kebersamaannya dengan Deidara hingga menghiraukan panggilannya.
Sakura merasa seperti baru saja menangkap kekasihnya yang berselingkuh dengan wanita lain. Kedua matanya memerah dan ia merasa kecewa. Sasori lagi-lagi mengkhianati ucapannya sendiri. Jika Sasori memang serius berpisah dengan Deidara, pria itu tak mungkin mencium Deidara.
Apa yang baru saja dilihatnya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya, Sakura tahu bahwa Sasori tak serius dengan ucapannya.
.
.
.
.
Deidara membuka kedua matanya saat Sasori menjauhkan wajahnya, melepas ciuman singkat mereka.
"Mungkin terdengar brengsek, tapi kita benar-benar putus, Dei." ujar Sasori pelan, terdengar nyaris berbisik.
Deidara tersenyum miris, "Semudah itu?"
"Aku baru saja membiarkan Sakura pergi dan lebih memilih disini bersamamu," Sasori menyandarkan punggungnya pada jok mobilnya, mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Ia tahu bahwa Sakura melihat mereka berdua disaat ia menuruti permintaan Deidara untuk menciumnya.
"Jadi kau melepaskanku hanya demi si pinky sialan itu?" tanya Deidara, suaranya terdengar serak. "Kau memang brengsek, kukira kau benar-benar mencintaiku."
Deidara membuka pintu mobil dan Sasori menahan satu tangannya.
"Maaf, Dei,"
Deidara tertawa sinis, "Aku tak butuh ucapan maafmu, brengsek."
Kali ini Sasori membiarkan Deidara keluar dari mobilnya, meninggalkannya pergi. Sasori sendiri tak tahu apa yang terjadi dengannya. Ia selalu memilih Deidara karena ia memang mencintai pria itu, bahkan ia rela dimusuhi Sakura hanya demi pria itu.
Namun beberapa hari setelah Sakura menyatakan permusuhan dengannya, ditambah dengan Sasuke yang tiba-tiba datang dan memilki niat untuk meniduri Sakura— ia merasa bahwa ia akan lebih brengsek dengan membiarkan sahabatnya begitu saja. Membiarkan Sakura dipermainkan oleh Sasuke.
Ia tahu bahwa Sakura tak sepenuhnya seorang wanita yang kuat seperti apa yang orang lihat dari luar. Wanita itu pernah gagal dalam berkomitmen dengan pria, dan nyaris frustrasi hingga memutuskan jalan hidupnya untuk memiliki seorang anak tanpa suami.
Sasori merasa bahwa Sakura membutuhkannya, Sakura lebih membutuhkannya dibanding Deidara.
Lagi pula, ia ingin membuat Deidara jera dengan sikap kekanakannya. Ia mencintai pria itu namun ia tak bisa untuk terus melayani sikapnya yang terkadang semaunya sendiri.
Sasori ingin Deidara merubah sikap buruknya, meskipun kemungkinan buruknya ia justru semakin membuat Deidara semakin menggila.
.
.
.
.
Sasuke duduk di hadapan para jajaran direksinya, dan Karin yang berstatus sebagai sekretarisnya sedang mempresentasikan data beberapa saham dan laporan penting lainnya mengenai Uchiha Group.
"—Woolim memutuskan untuk bekerja sama dengan Uchiha Group, ini merupakan sebuah kabar yang menggembirakan. Kita patut berbangga."
Suara Karin terdengar begitu jelas di dalam ruangan rapat, namun entah mengapa Sasuke seakan tak terlalu menangkap inti pertemuan kali ini. Sasuke seperti larut dalam lamunannya, sibuk dengan dunianya sendiri. Kedua kakinya bahkan terlihat tak tenang, beberapa kali mengetuk-ngetuk lantai seperti seseorang yang sedang menunggu.
Ya, Uchiha Sasuke saat ini memang sedang menunggu. Ia menunggu keputusan Sakura, dan hal itu membuatnya menggila.
Ia memang sudah memberikan kunci kamar hotel pada Sakura, ia ingin bergerak cepat dan tak mau kalah dari Sasori. Namun belum tentu Sakura akan langsung memilihnya, bisa saja Sakura membuang kunci tersebut dan memilih Sasori.
"Ini semua berkat Presdir Uchiha, kerja kerasnya menghasilkan sebuah kesepakatan kerja yang menguntungkan bagi kita. Ini adalah sebuah prestasi awal yang mampu diraih Presdir Uchiha dalam waktu yang singkat!"
Dan semua orang yang berada di ruangan itu bertepuk tangan untuk Sasuke, berbangga dengan hasil kerjanya sebagai seorang pemimpin baru. Sasuke sendiri menyadari bahwa orang-orang penting di ruangan ini sedang bertepuk tangan untuknya, maka ia pun ikut bertepuk tangan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Terlihat tak terlalu mempedulikan sekitarnya.
Karin memperhatikan Sasuke dari tempatnya berdiri. Sasuke sedikit berbeda— seharusnya, pria itu akan menampilkan senyum angkuhnya untuk sebuah kesuksesan besar yang baru saja diraihnya. Setidaknya seperti itulah tipikal seorang Uchiha.
Orang-orang masih bertepuk tangan dan larut dalam kegembiraan saat ponsel Sasuke yang berada di atas meja bergetar.
Sasuke masih mempertahankan wajah datarnya saat meraih ponselnya, dan seketika raut wajahnya berubah saat tahu bahwa sebuah pesan singkat diterimanya, dan itu berasal dari Sakura.
"Aku memilihmu, Uchiha."
Aku memilihmu, Uchiha.
Ya, Sakura memilihmu, Sasuke.
Haruno Sakura memilihmu, Uchiha Sasuke.
"Yeah!" dan Sasuke baru saja berteriak hanya karena sebuah pesan singkat dari Haruno Sakura. Ia tak menyadari tatapan terkejut dari para pegawainya di dalam ruangan rapat. Kali ini Sasuke memperlihatkan wajah angkuhnya, tersenyum bangga dan ia bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Ia bahkan bangkit dari kursi kebesarannya.
Karin yang juga terkejut akhirnya ikut bertepuk tangan, ia tertawa untuk mencairkan suasana walaupun terdengar kaku. Namun hal tersebut berhasil membuat orang-orang yang menghadiri rapat tersebut tak merasakan hal yang aneh, mereka kembali ikut bertepuk tangan.
"Selamat, Presdir Uchiha!"
"Selamat atas keberhasilanmu, Presdir Uchiha!"
Senyum angkuh Sasuke terlihat semakin jelas, entah mengapa semua ucapan selamat dari para pegawainya justru terdengar lain di telinganya, terdengar seperti; "Selamat bersenang-senang, Presdir Uchiha!"
.
.
.
.
Sasuke masuk ke dalam ruangannya dan terkejut mendapati Sakura berada di dalam.
"Sejak kapan?" Sasuke menutup pintunya.
Kali ini Sakura tak berbicara apapun, ia berjalan dengan cepat menghampiri Sasuke dan meraih tengkuknya. Sakura— dengan sedikit berjinjit mencium Sasuke dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
Sasuke yang sedikit terkejut segera mengimbangi Sakura dengan memeluk pinggang rampingnya, membalas ciuman Sakura yang lebih cocok dibilang tak terkendali dibanding ahli. Wanita itu menciumnya seakan ingin memakannya hidup-hidup. Sasuke tak peduli dengan perubahan Sakura yang begitu cepat, yang ia tahu ia menginginkan Sakura. Ia menginginkan Sakura sekarang juga.
Sasuke masih dengan memeluk pinggangnya membawa Sakura ke meja kerjanya, mengangkat pinggul Sakura dan membiarkan wanita itu duduk di atas meja kerjanya. Sasuke memberi Sakura beberapa kecupan ringan di bibirnya sebelum ia melumatnya, memasukan lidahnya saat Sakura membuka mulutnya. Kedua tangan Sakura pindah meremas jas hitam Sasuke, menahan tubuh pria itu agar tak menidurinya di atas meja.
"Sialan, Sakura," Sasuke melepas bibirnya saat Sakura mendorongnya karena kehabisan nafas. Ia memegang sisi meja untung menopang tubuhnya, Sakura masih berada di hadapannya dan duduk di atas mejanya. "apa yang terjadi denganmu?"
Sakura mengatur nafasnya, "Aku akan menunggumu,"
"Hn?" Sasuke menaruh satu tangannya di pipi Sakura dan mengusapnya pelan.
"Maksudku membuat bayi."
Sasuke menyeringai, "Tentu saja, Sakura," Sasuke menyelipkan satu helaian rambut di belakang telinga Sakura, "aku akan datang dengan cepat untukmu."
.
.
.
.
Bersambung
A/N
Yuchi baru selesai ujian, jadi maaf ya baru bisa lanjutin, niat mau ikutan kontes tomatceri aja ga kesampean gara-gara waktunya mepet ;_;
Btw buat yang komentar karakternya Sasuke disini yang rada brengsek gitu, maafin yuchi ya itu emang tuntutan cerita(?) xD dan Sakura gaakan dibikin menye2 banget kok, ya kaya aslinya aja gitu :3 yuchi belum sempet balesin ripyu yg ga login:( tp yuchi udah balesin ripyu yg login :D kemarin ga sempet balesin semua huhu u_u
Yuchi ga bosen bilang makasih buat yg ripyu, favorit, dan follow cerita ini x) love love :3 jgn lupa ripyu lagi ya, sampai ketemu di chap selanjutnya xD
.
.
.
.
yuchida.
