"Sasori?" Ino cukup terkejut melihat Sasori yang berada di hadapannya saat pintu lift terbuka. "Satu jam yang lalu aku bertemu Deidara di sini, dan sekarang aku bertemu mantan kekasihnya di tempat yang sama."

Sasori tersenyum mendengarnya. "Lama tak berjumpa, Ino. Aku ingin bertemu Sakura." Sasori masuk ke dalam lift namun Ino menarik tangannya dan membawanya keluar.

"Sakura masih ada keperluan, lebih baik ikuti aku terlebih dahulu. Ada yang perlu kubicarakan denganmu, Bung."

Ino mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Sakura untuk segera menemuinya di lobby bawah, atau mungkin lebih tepatnya menemui Sasori.

Sasori menurut, berjalan di belakang Ino yang mengajaknya untuk duduk di salah satu sofa panjang— tempat para tamu untuk menunggu. Sebelumnya Ino juga duduk disini, hanya saja kali ini bersama Sasori, bukan Deidara.

"Ada apa?" tanya Sasori, ia duduk di samping Ino.

Ino menyimpan berkas yang akan ia berikan ke bagian informasi di atas meja. Ia tak harus terburu-buru untuk memberikan berkas itu, jadi ia bisa mengobrol sebentar disini bersama Sasori.

"Deidara menemuiku, dan kami membicarakan beberapa hal."

"Lalu?" Sasori mulai tertarik.

"Kupikir ia sedikit tersinggung saat aku menyuruhnya untuk kembali menjadi normal dibanding harus membantunya untuk mendapatkanmu lagi. Aku tak menyangka ada yang bisa tergila-gila dengan pria sinting sepertimu, Sasori-nii."

Sasori tertawa mendengar ucapan asal Ino, kemudian berkata, "Kalau begitu buat dia menjadi normal, kalian mirip dan mungkin saja memang ditakdirkan sebagai pasangan."

"Dasar sinting!" Ino mencibir dan bersiap memukul Sasori dengan vas bunga di atas meja. Hari ini Ino nyaris melempar vas bunga sebanyak dua kali. "Sai akan membunuhmu jika ia mendengarnya!"

"Ia tidak akan bisa membunuhku, karena Deidara akan lebih dulu membunuhnya," gurau Sasori.

"Dasar pasangan gila!" Ino memukul lengan Sasori dengan keras. "Oke, maksudku mantan pasangan gila." koreksinya cepat.

Ino memeriksa ponselnya dan ternyata Sakura sama sekali tak membalas pesannya.

"Kurasa nyonya Haruno sedang sibuk sampai mengacuhkan kita, Bung." Ino memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.

"Ah, begitu," gumam Sasori pelan.

"Aku ada keperluan sebentar, Sakura pasti akan segera menghubungimu." Ino mengambil berkasnya dan bangkit.

Sasori mengadah, ia menarik tangan Ino. "Sebentar, ada sesuatu yang ingin kutanyakan." Sasori menarik Ino untuk kembali duduk di sampingnya. Kali ini Sasori menegakkan tubuhnya dan menatap Ino serius.

"Apa?"

"Ada hubungan apa antara Sakura dengan Uchiha Sasuke? Aku tahu dia adalah pria yang menjabat sebagai atasan kalian, dia juga salah satu temanku."

Mulut Ino tiba-tiba membulat. "Uchiha Sasuke? Oh, aku lupa kau sedang terlibat persaingan sengit dengan Presdir Uchiha!"

"Persaingan sengit?"

"Tentu saja, bodoh, bukankah kalian berdua sedang memperebutkan posisi si pria pendonor sperma?" tanya Ino frontal, tanpa ada rasa khawatir akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.

"Posisi pria pendonor sperma— persetan, apa maksudmu?"

Ino mendengus saat Sasori kembali bertanya. "Astaga, sejak kapan kau jadi sebodoh ini?"

"Aku hanya berpikir bahwa Sasuke saat ini berniat untuk menjadikan Sakura menjadi salah satu wanita ranjangnya. Maka dari itu aku datang kemari untuk bertemu Sakura, tapi kau justru berkata bahwa aku sedang terlibat persaingan sengit dengan Sasuke!" Sasori terlihat frustrasi.

Ino tertawa tidak begitu antusias. "Bisa kutebak bahwa kau sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Biar kujelaskan, saat ini Uchiha Sasuke dengan senang hati menawarkan diri untuk menggantikan posisimu sebagai pendonor sperma, mereka bahkan sudah melakukan kontrak."

"Astaga, sebentar lagi aku akan gila." Sasori merasa ucapan Ino seakan batu besar yang menghantam kepalanya.

"Tidak, kau memang sudah gila, Sasori. Uchiha Sasuke tidak berniat menjadikan Sakura salah satu wanita ranjangnya, si bos sialan tampan itu hanya mencoba membantu Sakura untuk mewujudkan impiannya." Ino menarik nafas panjang.

"Oh, brengsek."

"Justru kau yang brengsek, sialan! Kau membuat Sakura bingung, ia harus memilih antara kau si pria yang awalnya menjadi kandidat utama atau Uchiha Sasuke si bos sialan tampan yang mungkin akan memecat Sakura jika ia membatalkan kontrak mereka!"

Tanpa sadar Sasori mengacak-acak rambutnya. "Ya, kau benar. Aku memang brengsek, Ino."

.

.

.

SasuSaku fanfic by yuchida

Inspired : The Proposition © Kate Ashley

All Character © Masashi Kishimoto

Warning : Mature, Mild Language, AU, typo(s), OOC

.

.

.

"Jadi ..."

"Malam ini, Sakura."

"Oh ya, malam ini," gumam Sakura, merasa seperti seorang idiot.

Sasuke menghampiri kursinya sedangkan Sakura masih duduk di atas mejanya.

"Kau ingin aku menciummu lagi, Sakura?" goda Sasuke.

Sakura menoleh ke belakang dan ia baru sadar bahwa Sasuke sudah duduk di kursi kebesarannya. Saat ini Sakura sedang duduk di atas meja bos nya, membelakanginya, dan mungkin hanya ia yang bisa melakukan ini.

"Sialan, kau yang membuatku duduk disini."

Sakura turun dari meja dan merapikan pakaiannya. Bos brengseknya itu berhasil membuat pakaiannya berantakan hanya dengan sebuah ciuman.

Sasuke melihat jam tangannya. "Sudah waktu istirahat, mau makan siang bersamaku?"

"Kau memiliki banyak pekerjaan, Sasuke."

"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."

Sakura mendengus, ia lupa bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang bos. Uchiha memang terlahir dengan takdirnya sebagai bos yang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Sialan beruntung.

Sasuke lebih dulu berjalan keluar dari ruangannya. Sakura merapikan pakaiannya dan langkah kakinya dengan cepat menyusul Sasuke dengan berjalan mengekorinya. Hal tersebut membuat Sasuke menghentikan langkahnya, pria itu menoleh ke arahnya.

"Ada apa?" tanya Sakura bingung.

"Aku bukan pengawalmu, Sakura. Kau harus berjalan di sampingku," ujar Sasuke penuh penekanan.

Sakura tersenyum kecil. "Baiklah, tuan Uchiha." kali ini ia menyamakan langkahnya di samping Sasuke.

Ini adalah pertama kalinya mereka dapat berjalan berdampingan tanpa ada perdebatan kecil terjadi. Mungkin karena Sasuke tak berada di ruangannya dan tatapan para pegawainya selalu tertuju padanya setiap kali mereka menyisiri kantor. Terutama para pegawai wanitanya. Sasuke harus menjaga wibawanya, tentu saja.

"Astaga, aku lapar sekali," ungkap Sakura saat mereka berada di lift. Sakura mengusap perutnya seperti wanita hamil.

Sasuke mendenguskan tawanya. "Kau tahu, Sakura, kebanyakan wanita selalu berusaha menjaga image anggun ketika berada di hadapanku. Tapi kau justru sebaliknya, kau memberiku image menyeramkan dan bahkan kau menyiramku saat pertama kali bertemu."

Sakura melipat kedua tangannya di dada. "Oh, astaga, bisakah kau tak mengungkitnya lagi? Aku benar-benar terdengar seperti monster."

Melihat reaksi Sakura membuat Sasuke diam-diam tersenyum geli. Ia ikut melipat tangannya di dada dan dengan jahil mendekatkan wajahnya ke arah Sakura. Sasuke menatap Sakura dengan sinis, ia menyeringai.

"Tapi bukankah itu benar ... Sakura?"

Mata Sakura membelalak, terkejut karena Sasuke yang tiba-tiba membuatnya merasa terjepit. Mereka berada di dalam lift dan bos brengseknya ini bertingkah seolah ingin menelanjanginya dengan tatapan tajamnya itu.

Sakura berdiri dengan canggung sejenak, balas menatap Sasuke. "Ya, brengsek, kau puas?"

Sasuke menyeringai ke arah Sakura dan kembali menegakkan tubuhnya, bersamaan dengan bunyi lift yang terdengar dan pintu terbuka. Sasuke kembali menjaga sikapnya saat ia menjadi perhatian utama para pegawainya, dan rasanya Sakura tak tahan untuk menggoda Sasuke agar pria itu berkata kotor di depan bawahannya sendiri. Sepertinya akan menyenangkan.

.

.

.

.

Sakura POV

Namaku Haruno Sakura, hal yang kusukai adalah makanan dengan rendah lemak dan hal yang kubenci adalah Uchiha Sasuke— sebelumnya Deidara, tapi kali ini posisinya tergeser oleh Sasuke dalam waktu kurang dari dua minggu.

Uchiha Sasuke berada di hadapanku, kami makan di cafetaria yang terdapat di dalam kantor dan Sasuke berkata ini pertama kalinya ia makan disini. Pantas, ia membuatku menjadi pusat perhatian dalam sekejab. Ia membuat makan siangku seperti konperensi pers, banyak mata yang tertuju pada kami.

"Seharusnya aku memintamu untuk makan siang di luar. Aku seperti sedang duduk di hadapan seorang idol star. Para pegawai wanita menatapmu lapar."

"Sakura," ujar Sasuke seraya menaruh sumpitnya di atas wadah makan siangnya, "aku sudah berkata sebelumnya, aku bisa menyewa sebuah restoran hanya untuk makan siang tapi kau menolak dan memintaku untuk makan disini."

Sasuke kembali mengungkitnya lagi. Ia selalu berbicara dengan aksen sombongnya yang khas. Uchiha Sasuke adalah pria sombong.

"Aku sedang berhemat, bagaimanapun aku harus menabung untuk biaya persalinanku nanti. Lagipula aku tak berminat dengan tawaran sombongmu."

Sasuke dengan jelas menahan tawanya. Ya, tertawa saja jika kau bisa, Uchiha.

"Astaga, kau bahkan belum kuhamili, Sakura."

Lihat, bahkan si berandal gila yang sialnya atasanku ini justru memperlihatkan seringainya.

"Seorang wanita selalu memiliki persiapan dalam hidupnya." aku terdengar seperti motivator dengan kata-kata bijaknya, yang sebenarnya tergolong omong kosong.

"Termasuk persiapan untuk hamil tanpa komitmen? Kau beruntung bertemu denganku, aku bahkan lebih dari siap untuk menghamilimu."

Suaranya terdengar kecil saat berkata seperti itu. Sasuke, aku berjanji akan memasukan sumpit ke dalam mulutmu jika ada kesempatan.

Sasuke nyatanya mampu membuatku lupa dengan tatapan beberapa pegawai di sekitar kami, termasuk soal Sasori. Beberapa omong kosongnya— selain dirty talk yang sesekali terdengar di sela makan siang kami cukup menghiburku, dan mungkin aku juga cukup beruntung bisa mengenal sisi lain seorang Uchiha Sasuke. Pria ini terlihat dingin di luar, namun nyatanya ia orang yang sedikit menyenangkan. ' Sedikit', aku tak akan merubahnya dengan kata 'sangat' karena ia masih masuk ke dalam daftar hal-hal yang aku benci.

"Ada apa?" tanyaku melihat Sasuke yang hanya menatap makan siangnya tanpa minat. "Tidak sesuai dengan selera bos sepertimu? Setidaknya hargai orang-orang yang makan di sekitarmu."

Sasuke hanya diam, kemudian mendengus seperti biasa. Ia kembali mengambil sumpitnya dan memakan nasi dalam porsi kecil.

"Aku penasaran tentang hubunganmu dengan Sasori." Sasuke tiba-tiba berkata disela usahanya untuk makan makanan yang setara dengan pegawai biasa sepertiku. Menjengkelkan.

"Sasori?" aku bertanya setelah menyelesaikan suapan terakhir dari sumpitku. Aku dapat dengan cepat menyelesaikan makan siangku, tidak seperti Sasuke yang makan layaknya para putri kerajaan.

Sasuke mengangguk sedikit acuh. "Ya, aku cukup yakin bahwa ia adalah seorang gay tapi dia menyebutmu wanitanya. Bahkan kau tak langsung memilihku yang jelas-jelas lebih berpotensi untuk menghamilimu."

Kedua mataku menatap jengah Sasuke, pria itu terus saja berkata soal menghamili seakan ia bisa menghamiliku hanya dalam satu jam setelah kami melakukannya nanti. Ugh.

Sejujurnya aku sedikit malas untuk membahas Sasori. Si bodoh itu mengkhianatiku lagi. Ini tentu saja bukan pengkhianatan sepasang kekasih— aku bahkan sudah pernah merasakannya dan aku lagi-lagi dikhianati. Rasanya sama-sama menyakitkan. Terlebih Sasori melakukannya dua kali, tapi aku tak berkata bahwa Yahiko lebih baik darinya. Sasori-ku jelas-jelas lebih baik dari bajingan itu.

"Dia sahabatku." Aku masih mengakui Sasori sebagai sahabatku. Kuharap Sasori yang sedang bercumbu dengan si gila Deidara dapat mendengar ucapanku ini.

"Kupikir kalian akan menjadi sepasang kekasih jika Sasori bukan seorang gay."

Aku tak tahu tapi kupikir Sasuke cukup mengenal Sasori, terlebih Deidara. Sasuke tak seperti orang kebanyakan yang merasa jijik dengan pasangan gay, jadi mungkin saja ketiga pria itu memang sudah saling mengenal sejak lama.

"Kau tahu, aku dan Sasori bahkan lebih dari sepasang kekasih." satu alis Sasuke terangkat dan aku menahan tawa melihat reaksinya. "Sasori adalah orang yang mencuri ciuman pertamaku saat aku berusia enam tahun, kami pernah mandi bersama saat aku berusia sepuluh tahun, ia juga selalu memelukku jika kami tidur bersama di siang hari."

Mulut Sasuke membulat mendengar ceritaku, "Oh, manis sekali."

"Tapi akhir-akhir ini Sasori membuatku ingin membunuhnya. Sasori mengkhianatiku."

"Kau bahkan bukan kekasihnya." celetuk Sasuke, terdengar sedikit menyebalkan memang.

"Kau harus tahu, terkadang pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang sahabat terasa lebih menyakitkan."

Aku melihat Sasuke tiba-tiba berubah menjadi pria yang penurut, ia tak berkomentar lagi dan lebih memilih menyudahi makan siangnya.

"Sakura, kurasa kau baru menjalani separuh hidupmu. Kau masih harus belajar banyak tentang persahabatan." baru kali ini Sasuke berbicara selayaknya posisinya sebagai atasan.

"Kau mau kemana?" tanyaku saat melihat Sasuke yang bangkit dari duduknya dan berjalan begitu saja.

Sasuke menoleh dengan raut tak suka. "Kembali ke ruanganku."

"Setidaknya bereskan dulu bekas makan siangmu. Aku tahu kau seorang bos, tapi jangan berharap ada orang yang dengan senang hati membawa bekas makan siangmu." aku berdiri dan membawa tempat makan siangku, memberi isyarat pada Sasuke untuk melakukan hal yang sama.

Sasuke berdecak pelan kemudian ia ikut melakukan apa yang aku suruh.

"Ternyata memberi perintah pada atasan itu menyenangkan." aku menyeringai pada Sasuke yang berdiri di sampingku.

"Sialan," gumam Sasuke.

.

.

.

.

Normal POV

Setelah makan siang bersama Sasuke, Sakura kembali pada pekerjaannya masing masing. Namun belum sempat Sakura duduk di kursinya, telpon di atas mejanya berdering. Karin menelpon dan memintannya untuk segera menemui Sasuke.

Sasuke membuat banyak pekerjaannya terlantar namun Sasuke adalah atasannya, hal tersebut membuat Sakura menggerutu di sepanjang jalan.

"Duduk di sofa, Sakura."

Sasuke berbicara dengan nada bossy seperti biasa.

"Ada apa memanggilku?"

Dan sebelum Sasuke menjawab pertanyaan Sakura, pintu ruangannya terbuka. Seorang pria berada di ambang pintu ruangannya, itu Sasori.

"Nii-san." Sasuke baru saja memanggil Sasori dengan sebutan manis dan terdengar antusias, Sakura bahkan melihat Sasuke tersenyum. Pria itu benar-benar tersenyum!

Sasori tak berbicara apapun, ia masuk ke dalam dan duduk di sofa panjang yang terdapat di ruangan tersebut.

"Duduk, Sakura." Sasuke kembali mengulang ucapannya.

Sakura duduk di samping Sasori, dan ia dengan kekanakkannya sedikit membuat jarak antara dirinya dengan Sasori. Sasuke ikut bergabung dengan duduk di sofa single yang berada di hadapan Sasori dan Sakura.

"Ada yang ingin aku bicarakan." Sasori membuka suara.

"Tapi maaf, aku masih banyak pekerjaan," sela Sakura.

Sasori menahan tangan Sakura saat wanita itu bangkit dari duduknya. Ia meminta Sakura untuk kembali duduk dengan isyarat matanya.

"Bos mu ada disini." Sasuke ikut berbicara.

Sakura merasa kesal dengan dua pria yang entah sejak kapan bersekongkol. Ia menghela nafas dan dengan terpaksa kembali duduk. Sakura melirik Sasori, sebelumnya ia tak pernah merasa secanggung ini saat berada di dekat Sasori.

"Ayo kita selesaikan ini."

Entah mengapa namun perkataan Sasori terdengar lucu di telinga Sakura.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu. Selesaikan masalahmu dengan Deidara."

Kali ini Sasori yang menghela nafas. "Sakura, aku minta maaf."

Sakura diam, ia bahkan memalingkan wajah menolak untuk menatap Sasori. Sasuke sendiri sedari tadi hanya diam memperhatikan, ia menyadari situasi canggung di antara keduanya.

"Sebenarnya ada apa?" Sasuke masih bisa bersikap tenang.

"Aku dan Sakura akan membuat bayi."

Dan ternyata ketenangan Sasuke hanya bertahan dalam beberapa detik.

"Maksudmu aku dan Sakura?" Sasuke menatap sinis.

Sasori tersenyum tipis. "Aku— Sasori, akan membuat bayi dengan Sakura."

Kedua mata Sasuke memicing. "Sakura sudah memilihku."

"Kalian berdua, berandal brengsek yang menginginkan tubuhku," gumam Sakura dengan jari-jari tangannya yang saling meremas. Wajahnya memerah menahan marah.

"Sakura, aku tak pernah memiliki niat sedikitpun untuk mendapatkan tubuhmmu."

"Tentu saja, kau tak akan pernah bisa melakukannya." Sasuke melipat kedua tangannya di dada dan menyeringai ke arah Sasori.

Sasori mencoba menghiraukan ucapan Sasuke. Ia sama sekali tak tersinggung, karena ia sudah cukup lama mengenal Sasuke, ia sudah terbiasa dengan ucapan pedas Sasuke.

"Sakura, kau adalah adik perempuan yang tak akan aku biarkan dimanfaatkan oleh nafsu seorang pria."

"Persetan." Sasuke tersinggung.

"Sasori, kembalilah pada Deidara." Sakura mencoba mengatur dirinya sendiri, ia benci ketika kedua matanya terasa panas dan mungkin terlihat menyedihkan di depan Sasori ataupun Sasuke.

Sasori menunduk, menatap sebelah tangannya yang digenggam oleh kedua tangan Sakura.

"Sakura ..."

"Aku sudah memilih Sasuke."

Dan Sakura tahu bahwa ucapannya membuat dua reaksi yang berbeda secara bersamaan. Sasori dengan wajah penuh kekecewaannya, sedangkan Sasuke dengan senyum angkuhnya yang penuh kemenangan.

.

.

.

.

Sakura sudah memikirkan ini baik-baik, tentang pilihannya untuk menerima Sasuke dan membiarkan Sasori kembali pada Deidara. Ia berpikir bahwa ini adalah pilihan yang tepat, namun mengingat wajah khawatir dan kecewa Sasori membuatnya terasa sakit.

Ia masih duduk di sofa sedangkan Sasori sudah pergi, menyisakkannya bersama Sasuke disini. Sakura menunduk, ini adalah cara terbaik untuk menyembunyikan wajanya yang terlihat kusut, atau mungkin menyedihkan. Terlihat lemah di hadapan seorang Uchiha Sasuke adalah hal terakhir yang akan ia lakukan di dalam hidupnya.

Sakura berpikir Sasuke tak ambil pusing soal keadaannya saat ini. Nyatanya kondisi pria itu terlihat baik, tentu saja karena ia mendapatkan apa yang ia mau. Ia menang telak dari Sasori.

Ia bisa mendengar Sasuke menghela nafas dan pria itu berjalan menjauhinya. Ia berpikir Sasuke akan membiarkannya sendirian dan kembali pada pekerjaannya— namun nyatanya salah, Sasuke kembali mendekatinya dan berdiri di hadapannya, ia bisa melihat kedua ujung sepatu Sasuke. Sakura mengadah saat satu kotak tissue berada di hadapannya.

"Sakura, aku benci melihat seorang wanita menangis— meskipun membuat wanita menangis adalah kebiasaanku. Maksudku, aku tak pernah benar-benar melakukannya, mungkin wanita-wanita itu saja yang terlalu sensitif padaku."

Sakura tersenyum kecil dengan kebaikan Sasuke. Mungkin Sasuke tak sepenuhnya menyebalkan.

"Terima kasih." Sakura mengambil satu lembar tissue.

Sasuke mengangguk singkat dan kembali duduk di hadapan Sakura, ia menaruh kotak tissue di atas meja untuk berjaga-jaga, mungkin saja Sakura akan kembali membutuhkannya.

"Kupikir membuat bayi hanya tentang seorang pria yang meniduri wanita."

Sakura hanya menggeleng mendengar ucapan Sasuke.

.

.

.

.

Setelah apa yang terjadi di ruangan Sasuke, kali ini pria itu membawanya pergi tanpa memberi tahu detail jelasnya.

"Kenapa kau membawaku kesini?" Sakura bertanya saat Sasuke mengemudikan mobilnya memasuki basement salah satu pusat perbelanjaan di Konoha.

"Untuk menghiburmu." Sasuke keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Sakura. "Cepat, Sakura."

Sakura keluar dengan berat hati. Ia bahkan tak sempat membawa tas punggungnya untuk berjaga-jaga. Sasuke benar-benar menculiknya tanpa persiapan.

"Aku beruntung karena kau adalah bosku. Jadi aku tak punya alasan untuk mengarang karena sudah menunda banyak pekerjaanku."

Sasuke mengangkat satu alis matanya. "Ya, aku memang membawa keberuntungan untukmu."

Sakura sedikit canggung saat Sasuke tiba-tiba menggenggam satu tangannya, membawanya untuk berjalan lebih cepat. Jika berkencan adalah hiburan yang Sasuke maksud, Sakura bersumpah akan memilih untuk kembali ke kantor dengan menggunakan taksi. Namun ternyata salah, hiburan yang Sasuke maksud adalah dengan membawanya untuk berbelanja pakaian dalam. Sebuah hiburan yang tak akan terpikirkan oleh pria manapun untuk dijadikan pilihan.

"Aku tak menyangka kau tahu tempat seperti ini. Aku pernah berencana datang ke sini bersama Ino, tapi sekarang aku justru datang lebih awal bersamamu." Sakura menyeringai geli.

"Aku beberapa kali pernah datang ke sini, wanita-wanita itu berpikir mereka akan terlihat seksi jika memakai lingerie, aku hargai usaha mereka untuk menggodaku dengan membuat mereka puas."

"Sialan, untuk apa kau menceritakannya padaku?" Sakura mendenguskan tawanya.

"Hanya untuk pamer." Sasuke memamerkan senyum angkuhnya seperti biasa.

Sasuke masuk ke dalam toko yang menjual beberapa pakaian dalam, Sakura berjalan di sampingnya dan wanita itu terlihat cukup antusias. Ia membiarkan Sakura memilih beberapa pakaian dalam yang dirasa cocok untuknya.

"Bagaimana dengan yang ini?" Sasuke tanpa malu mengambil salah satu pakaian dalam dan menunjukannya pada Sakura.

Sakura menghela nafas. "Kita tak sedang mempersiapkan liburan ke hawai, Sasuke." ujarnya menolak satu set pakaian dalam dengan renda pilihan Sasuke. Ternyata pria itu cukup pintar untuk memilih tipe yang akan membuatnya terlihat seksi, namun Sakura berpikir model yang seperti itu terlalu berlebihan hanya untuk dipakai saat mereka membuat bayi nanti.

"Aku akan mencoba ini, bagaimana?"

Sakura memperlihatkan pilihannya, Sasuke mengangguk pelan menyetujui pakaian dalam tanpa motif berwarna hitam pilihan Sakura. Sasuke dapat membayangkan perpaduan antara warna kulit Sakura yang putih dan pakaian dalam berwarna gelap. Sakura si sialan seksi.

Sasuke menghampiri salah satu bangku panjang dan duduk di sana menunggu Sakura yang masuk ke dalam fitting room. Sakura hanya mencoba pakaian dalam namun rasanya Sasuke sedang menunggu seorang wanita yang sedang mencoba gaun pengantin. Sakura membuatnya menunggu lama.

"Permisi," ujar Sakura saat keluar dari fitting room pada salah satu pegawai di toko tersebut, "aku pikir cup ini terlalu kecil." suara Sakura terdengar mencicit.

"Terlalu kecil? Seharusnya cup B cukup," ujar pegawai toko tersebut seraya memperhatikan bra pilihan Sakura, "haruskah saya memberi anda cup C?"

Sakura menggeleng cepat, ia melirik Sasuke dan khawatir pria itu akan mendengarnya. Menyadari fakta bahwa mereka sedang membicarakan soal ukuran payudaranya, terlebih pegawai wanita itu menyebutnya menakjubkan dan bertanya apa yang ia lakukan hingga memiliki payudara yang cukup besar.

"Anda cukup kurus, bagaimana bisa— Woah!" dan wajah Sakura memerah saat pegawai tersebut memperagakan kedua tangannya seolah ia sedang memegang payudara yang besar.

Sakura tertawa canggung. "Tidak, aku pikir merek ini yang membuatnya kecil. Beri aku merek lain dengan cup B," jawab Sakura cepat.

Sasuke yang tak berada jauh dari dua wanita itu tentu saja mendengar apa yang mereka ucapkan. Diam-diam ia mendenguskan tawanya, geli melihat Sakura yang bahkan masih bisa merasa malu padanya.

Sasuke berdiri dan menghampiri Sakura. "Sudah selesai?"

"Kurasa belum." Sakura mengusap lengannya. "Tolong, ya?" ujar Sakura mengingatkan pada pegawai tadi soal permintaannya.

"Aku cukup terkejut." Sasuke menyeringai, bahkan dengan berani memperlihatkan tatapannya yang tertuju pada payudara Sakura. "Baiklah, nanti aku sendiri yang akan memeriksanya."

Mengerti ucapan Sasuke, Sakura melayangkan tinjunya di lengan pria itu.

"Sialan kau!"

.

.

.

.

Sakura berlajan sendirian di area parkir kantornya, ia segera menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam. Ia tak menyangka Sasuke benar-benar mengijinkannya untuk pulang tepat waktu.

"Tentu saja, karena ia tak ingin terlalu lama untuk menunggu kesenangannya." akhir-akhir ini Sakura baru menyadari bahwa ia sering berbicara sendiri.

Seseorang mengetuk kaca pintunya saat ia baru saja menyalakan mesin mobilnya. Sakura membuang nafas saat melihat Sasori yang berdiri di samping mobilnya.

"Astaga, Sasori, kau pikir apa yang akan kau lakukan?" pekik Sakura saat Sasori yang memaksa masuk ke dalam mobilnya dan mendorongnya ke bangku di samping tempatnya mengemudi.

"Aku akan memastikanmu pergi dengan selamat."

"Aku bukan anak berusia lima tahun yang harus diantar kemanapun aku pergi!" Sakura memukul Sasori dengan tas pundaknya.

Sasori berjengit mencoba menghindari pukulan Sakura yang sebenarnya sia-sia. Mereka bahkan belum setengah jalan namun Sakura membuat Sasori menepi secara paksa. Sakura beruntung ia sempat memakai belt karena ia berpikir mungkin Sasori akan membuatnya menabrak dashboard dengan tindakannya mengerem secara mendadak seperti tadi.

"Sakura, maafkan aku." Sasori tampak begitu menyesal. "Setidaknya biarkan aku berbuat baik padamu, akhir-akhir ini aku bertingkah seperti pengecut. Biarkan aku mengantarmu ... pada Sasuke."

Sakura diam dengan raut wajah sedikit terkejut. Sasori baru saja berkata bahwa ia akan mengantarnya bertemu Sasuke, dan itu tandanya pria itu mendukung pilihannya untuk bersama Sasuke— memiliki seorang bayi dari Sasuke.

"Aku tahu kau sedikit gugup, aku akan membantumu."

Sakura menyandarkan punggungnya saat melihat Sasori tersenyum, dan ia tak pernah tahu bagaimana pria itu masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi saat ini. Beberapa jam yang lalu ia melihat Sasori yang bersungguh-sungguh untuk menjadi pendonornya, dan sekarang pria itu dengan cepat berubah pikiran. Sasori mendukungnya untuk menemui Sasuke.

"Sasori, kau gila."

"Aku tahu hanya orang gila yang tahan untuk berdekatan denganmu." Sasori kembali melajukan kemudinya.

Raut keras Sakura perlahan memudar, ia tersenyum geli. "Sialan, aku sangat tersinggung," guraunya.

"Kau tahu, Sakura, mungkin aku kecewa dengan pilihanmu, tapi akan kupastikan kau melakukannya dengan cepat. Ino berkata bahwa Sasuke hanya berniat membantu, meski aku meragukannya. Maksudku, aku tahu seperti apa Uchiha Sasuke."

Sakura memperhatikan Sasori yang terus berbicara panjang lebar, pria itu terlihat jelas menaruh perhatian yang besar padanya. Setiap ucapannya, bahkan semua tindakannya selalu diluar perkiraan. Mulai dari keputusan gilanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Deidara hingga menculiknya hanya untuk berbicara empat mata seperti ini.

Bagus, hari ini Sakura mengalami penculikan sebanyak dua kali.

"Aku tahu, kami hanya berhubungan seks dan semua selesai dalam satu malam."

"Aku dapat mendengar suaramu sedikit bergetar saat mengucapkan kata seks," goda Sasori selagi fokus pada kemudi mobil Sakura.

Sakura berdeham pelan. "Aku bukan seorang gadis, brengsek. Itu bukan hal yang baru untukku."

"Setelah dua tahun lamanya?"

"Sasori, kau membuatku ingin mengambil alih kemudi dan membawa mobil ini ke dasar jurang. Kita akan mati bersama saat itu juga."

Sasori tertawa. "Oke, maaf."

Tiba-tiba ponsel Sakura berdering saat Sasori baru saja menyalip satu mobil di depannya. Sakura segera merogoh tas pundaknya dan mendapati Sasuke yang mengirim pesan singkat.

"Langsung datang ke hotel, tak perlu pulang ke apartemen hanya untuk mandi karena kau akan melakukannya denganku nanti."

Pesan singkat Sasuke tiba-tiba saja membuat ketegangan Sakura serasa tak terkendali. Hanya dengan membaca kata hotel membuat pikirannya tak terfokus.

"Mandi bersama ... astaga, Sasuke." bahkan Sakura rasanya tak sanggup untuk membayangkan lebih lanjut.

Sasori melirik ke arah Sakura. "Oh, anak sialan," ujar Sasori yang mendengar gumaman Sakura tadi.

"Sasori, kita putar arah, Sasuke memintaku untuk langsung datang ke hotel."

Sasori tak banyak berbicara dan segera memutar arah, menuruti ucapan Sakura.

"Sakura, aku hanya ingin mengingatkan sesuatu." Sasori menoleh ke arah Sakura, kemudian ia kembali menatap lurus ke depan.

"Apa?"

"Jangan libatkan perasaanmu dengan pria seperti Sasuke."

Suara Sasori terdengar serius namun hal tersebut justru memancing tawa Sakura.

"Sasori, kau terlalu mengkhawatirkanku!" Sakura menepuk pundak Sasori, kemudian menyandarkan kepalanya di sana. "Terima kasih, tapi kau juga tahu bahwa aku bukan tipe menikah. Aku bukan lagi seorang wanita yang akan menghabiskan waktuku untuk berkomitmen dengan pria, itulah alasanku ingin memiliki seorang bayi."

Sasori tersenyum, kemudian mengacak rambut Sakura. "Senang mendengarnya."

.

.

.

.

Sakura berhasil datang ke hotel sendirian. Sebelumnya Sasori bersikeras untuk menemaninya, selain hanya mengantarnya sampai di luar hotel. Pria itu ingin bertemu Sasuke terlebih dahulu dan bahkan berniat mengantarnya hingga masuk ke dalam kamar. Sakura butuh waktu untuk meyakinkan Sasori dan berkata padanya bahwa Sasuke tak ada di dalam, pria itu akan datang sedikit terlambat. Dan segala bujuk rayunya membuahkan hasil dengan Sasori yang mengurungkan niat untuk ikut ke dalam hotel.

Sakura saat ini berada di depan pintu utama, bertemu dengan seorang pelayan yang membimbingnya dengan menyerahkan kunci hotel.

Pandangannya menyapu orang-orang yang berada di lobby bawah, Sakura berpikir bahwa Sasuke terlalu berlebihan dengan membawanya ke hotel kelas atas seperti ini hanya untuk melakukan seks satu malam. Sakura pernah mendebatkan hal ini dengan Sasuke, dan pria itu beralasan ia yang akan menanggung biayanya karena ia memang menghasilkan uang lebih banyak dari Sakura. Lagipula Sakura harus menabung untuk keperluan anaknya nanti, dan itu memang masuk akal meskipun awalnya ia keberatan.

Dan saat ini Sakura merasa bahwa dirinya terlihat konyol, Sasuke membuatnya datang ke hotel dengan tujuan yang lebih mirip untuk berbisnis. Pria itu tak mengijinkannya untuk pulang ke apartemennya terlebih dahulu hanya untuk mandi dan berganti pakaian yang layak.

Tanpa terasa Sakura sudah berada di lorong lantai satu yang akan membawanya menuju kamar. Sakura membuka pintunya dan berjalan masuk ke dalam.

"Astaga," gumam Sakura terkesiap. Sakura membekap mulutnya yang terbuka dan menatap taburan bunga mawar di atas ranjang dengan mata terpana. Kamar yang dipesan Sasuke lebih cocok untuk sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.

Sakura duduk di atas ranjang dan menikmati aroma bunga lily yang mampu meredam kegugupannya. Sasuke tak berada disini namun pria itu mampu membuat Sakura tersentuh dengan segala usahanya.

"Oh, apa ini untukku?"

Kedua tangannya terulur mengambil sebuah kotak berukuran sedang di atas meja nakas. Kotak berbalut sampul merah dengan sebuah pita cantik yang berada di atasnya. Sakura tak perlu bertanya pada Sasuke terlebih dahulu, bahkan pria itu dengan berbaik hati menulis namanya di sebuah kertas kecil yang terdapat di atas kotak tersebut untuk mengurangi kebingungannya.

Wajah Sakura merona saat melihat sebuah lingerie terdapat di dalam kotak tersebut. Setelah membelikannya satu set bra dan celana dalam, Sasuke masih memberinya lingerie cantik berwarna hijau emerald.

"Sangat indah...," ujar Sakura tanpa sadar.

Kedua matanya terfokus pada lingerie tipis yang sebentar lagi akan membalut tubuhnya. Entah mengapa namun ia tak sabar untuk memakai ini di depan Sasuke dan melihat reaksinya. Setidaknya ia akan membuat Sasuke senang sebagai balasan atas segala hal baik yang telah pria itu lakukan.

Sakura kembali menaruh lingerie itu ke tempat semula. Setelah dibuat terpana dengan semua keindahan yang disiapkan Sasuke, Sakura berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan ruangan di pojok kamar ini pun tak luput dari perhatian Sasuke, pria itu mungkin menyuruh seseorang untuk membuat lebih nyaman dengan menambahkan aroma terapi yang menenangkan di dalamnya.

Sakura memutuskan untuk mandi lebih awal, mungkin Sasuke tak menyukainya namun membersihkan seluruh tubuhnya adalah hal yang benar-benar Sakura butuhkan saat ini. Sakura mandi dengan cepat namun ia memastikan tubuhnya bersih. Sakura memakai jubah mandi karena ia tak membawa pakaian ganti. Sekarang ia tahu kenapa Sasuke membelikannya pakaian dalam, Sakura berterima kasih karena setidaknya ia masih bisa memakai pakaian dalam baru saat pulang nanti.

Ponselnya berdering saat Sakura baru saja menalikan tali jubahnya. Sasuke menghubunginya.

"Buka pintunya."

Sakura segera menghampiri pintu, masih dengan ponselnya yang menempel di telinga. Ia membuka pintu dan Sasuke berdiri di hadapannya saat ini. Wajah pria itu terlihat lelah, namun ia masih bisa menampilkan seringainya seperti biasa.

"Apa kau menunggu terlalu lama?" Sasuke masuk begitu saja.

Sakura menutup pintu dan mematikan sambungan telponnya. Ia menggeleng cepat.

"Tidak juga."

Sasuke mengangguk dan membuka jasnya, Sakura mencoba menjaga matanya dari tubuh bagian atas Sasuke yang hanya berbalut kemeja putih.

"Hei, kau curang." Sasuke menatapnya tajam. Sakura memperhatikan tubuhnya dan mengerti maksud Sasuke.

"Maaf, tapi aku tak bisa menahannya lagi." Sakura tersenyum canggung kemudian duduk di atas ranjang.

"Kalau begitu kita akan tetap mandi bersama setelah melakukannya."

Sasuke ikut duduk di samping Sakura. Ia tahu bahwa wanita itu sedang menahan diri, ia tahu bahwa Sakura sedang gugup.

"Mau makan sesuatu?" Sasuke mencoba mencairkan suasana.

Sakura mengangguk pelan. "Ya, Sasuke, aku lapar sekali." dan sejujurnya ia baru saja berbohong. Bahkan rasanya Sakura ingin muntah hanya dengan memikirkan makanan. Ketegangan di dalam dirinya benar-benar menguasai.

Sasuke tersenyum tipis. "Baiklah, aku akan memesan dan kau menunggu selagi aku mandi." Sasuke berdiri dan meraih gagang telpon di atas meja. Memesan sesuatu untuk makan malam.

"Sasuke," ucapannya membuat pria itu menoleh. "terima kasih untuk semuanya. Aku tersanjung, kau begitu manis." Sakura tersenyum tulus.

Sasuke yang sedang berbicara dengan pelayan hotel di sambungan telepon pun mengangguk.

"Dengan senang hati, Sakura. Apapun untukmu," jawab Sasuke.

Setelah memesan makan malam, Sasuke segera memutuskan untuk membersihkan diri selagi Sakura menunggu di atas ranjang. Tidak, Sakura bukan tak sabar untuk berada di atas ranjang bersama Sasuke, wanita itu terlalu gugup bahkan hanya untuk berpindah tempat.

Suara air dari dalam kamar mandi menambah rasa tegangnya. Sasuke akan segera menyelesaikan mandinya dan setelah menyantap makan malam bersama, pria itu akan segera menyantapnya. Sialan, ia baru saja menyamakan dirinya sendiri dengan makan malam di hotel ini.

Seorang pelayan datang membawakan makanan, dan Sakura sedikit malu saat menyadari dirinya dalam balutan jubah mandi meskipun pelayan yang mengantar makan malam ini adalah seorang wanita.

"Terima kasih," ucap Sakura seraya tersenyum pada pelayan tadi.

Sakura berhasil berpindah tempat dengan duduk di depan meja yang akan menjadi tempatnya menghabiskan makan malam bersama Sasuke.

Tak lama Sasuke menyelesaikan mandinya dan Sasuke ikut bergabung bersama Sakura. Pria itu seperti sedang menggodanya, duduk di hadapannya dengan bertelanjang dada dan handuk yang berada di sekitar pundaknya. Sekali lagi Sakura menjaga matanya dari Sasuke dan lebih memilih memperhatikan makanan. Perut kokoh Sasuke seakan lebih menggoda matanya di banding hidangan mewah di atas meja.

"Sakura, kau membuatku terangsang hanya dengan duduk di hadapanku seperti ini."

Pipi Sakura memerah mendengar kalimat itu. Dan Sasuke tak tahu bahwa ia ingin sekali mengatakan hal yang sama.

"Sasuke, kau membuatku malu."

"Aku serius, kau membuatku harus menyantap makan malam dalam keadaan keras. Kau menyiksaku."

Sakura memilih bungkam dan ikut menyantap makan malamnya seperti Sasuke. Sakura tergoda untuk meminum wine namun Sasuke tak mengijinkannya.

"Aku tak akan membiarkanmu mabuk dan tak mengingat apa yang akan kita lakukan nanti." Sasuke menekankan ucapannya.

"Baiklah." Sakura membuang nafas.

Mereka menghabiskan makan malam dalam diam. Untuk pertama kalinya Sakura lebih banyak diam di banding Sasuke, dan sebaliknya.

"Benda itu, apa kau menyukainya?" Sasuke menunjuk lingerie yang berada di atas meja nakas.

Sakura kembali tersipu. "Sangat, terima kasih." Sakura berdiri dan mengambil lingerie yang berada di dalam kotak tadi.

Sasuke menghampirinya dan berdiri di belakangnya, memeluk pinggang Sakura dan menaruh wajahnya di antara perpotongan leher wanita di hadapannya tersebut.

"Kau tahu Sakura, aku sudah membayangkan betapa seksinya Haruno Sakura dalam balutan lingerie hijau. Warna hijau sangat cocok untukmu, seperti warna kedua matamu." Sasuke menggeram rendah dan mengecup leher Sakura.

"Kau memilih yang terbaik," puji Sakura. Ia merasa terbuai dengan apa yang Sasuke lakukan saat ini.

"Hn, sekarang persiapkan dirimu." Sasuke melepas pelukannya dan membiarkan Sakura untuk mengganti jubah mandinya dengan lingerie.

Sakura melesat masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menggantung jubah mandinya, ia mengganti celana dalamnya dengan thong, ia melepas branya dan memakai lingerie. Tak ada kancing ataupun resleting, hanya pita satin di bagian tengah yang mengikat tubuhnya. Sekilas Sakura menatap bayangan dirinya sendiri di cermin, dan ini adalah pertama kalinya ia merasa begitu seksi.

Sakura mengambil nafas saat tangannya nyaris menyentuh gagang pintu. Saat ia membukanya, Sasuke berdiri memunggungi. Sakura berdeham, membuat Sasuke membalikan tubuhnya.

"Umm ... bagaimana?" tanya Sakura sedikit ragu. Ia mengusap lengan telanjangnya.

Sasuke memperpendek jarak di antara keduanya, kedua matanya tak lepas dari Sakura bahkan hanya untuk sedetik. Pria itu seperti terhipnotis.

"Sialan." Sasuke menarik Sakura lebih mendekat dan membungkus kedua tangannya di sekeliling pinggang rampingnya. Ia mengecup pundak Sakura yang terlilit kain satin. "Kau sialan seksi, Sakura."

Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke, membiarkan nafas hangat pria itu menerpa lehernya, menggodanya.

"Kau membunuhku. Aku benar-benar mengiginkanmu."

Sakura tersenyum. "Berhenti bicara, sekarang tempelkan bibirmu padaku," bisiknya menggoda.

Sasuke menyeringai dan membawa bibirnya ke bibir Sakura. Menyelipkan lidahnya masuk ke dalam dan mencari kehangatan dengan semangat. Sasuke menghimpit Sakura ke dinding dan tangannya menangkup pantatnya. Satu kaki Sakura berada di pinggang Sasuke dan pria itu menggesek ereksinya disana. Sakura dapat merasakannya dari balik celana dalam tipisnya. Sesuatu disana mengeras dan membutuhkannya.

Tangan Sakura merambat naik dan menarik rambut Sasuke secara acak. Mengerang saat pria itu menciumnya lebih dalam dan menghisap lidahnya. Kedua mata Sakura terpejam, menikmati bagaimana Sasuke membuainya.

Sasuke membimbing Sakura untuk berjalan dan menjatuhkan punggungnya di atas ranjang. Kedua tangan Sakura berpindah meraba dada bidang Sasuke, merasakan kulitnya menyentuh setiap bagian tubuh Sasuke yang keras.

Sasuke berada di atasnya, ciumannya merambat ke samping dan mengulum telinga Sakura. Sasuke menyukai bagaimana Sakura mengerang atas apa yang ia lakukan.

"Sakura," gumam Sasuke saat ia melepas sejenak ciumannya. Kedua sikunya masing-masing menyentuh ranjang, berada di samping kepala Sakura. Menjaga agar tubuhnya tak sepenuhnya menghimpit Sakura.

Tangan Sakura terulur untuk menyentuh wajah Sasuke, mengusap pipinya dan tatapannya bertemu dengan tatapan memuja Sasuke.

"Jadi ... posisi apa yang tepat untuk membuat seorang bayi?"

Sakura tersenyum mendengar pertanyaan polos Sasuke. "Seperti ini, kurasa cukup baik," ujarnya sebelum kembali mencium pria itu.

Kali ini Sakura menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Sasuke, keduanya saling membelit dan menghisap hingga saliva menetes keluar dari sudut bibir Sakura. Sakura melepas ciumannya saat Sasuke memegang satu tangannya dan membawanya menyentuh ereksi pria itu.

"Kenapa? Kau cukup baik dalam berciuman."

Wajah Sakura merona, kemudian berkata, "Aku hanya sedikit terkejut." Sakura berkata jujur.

Sasuke tersenyum tipis, memperhatikan Sakura yang perlahan menarik ikat pinggangnya, membantunya membebaskan miliknya yang sudah menegang. Saat jemarinya membuka kancing celananya dan menurunkan resletingnya, Sakura menyentuh ereksinya. Cukup membuat Sakura semakin gugup sekaligus penasaran dengan sesuatu yang berada di balik sana.

"Kau sangat keras, Sasuke."

Sasuke menggeram saat Sakura menarik turun celananya melewati pantatnya dengan lamban.

"Aku sudah siap untukmu," ujar Sasuke seraya menempatkan lidahnya di rahang Sakura. Menjilatnya dan sedikit menggigitnya hingga meninggalkan bekas ruam kemerahan.

Sasuke saat ini sudah sepenuhnya telanjang. Sakura merasa tubuh Sasuke begitu panas di atasnya, terlebih saat Sasuke dengan sengaja kembali menyentuh bagian kewanitaannya dengan ereksinya yang begitu siap.

Jemari Sasuke menyusup ke dalam lingerie, menangkup dua payudara Sakura yang terasa pas dalam genggaman tangannya. Sakura menggit bibir saat Sasuke menjentikkan jarinya naik turun di atas putingnya.

"Uhm, Sasuke," Sakura mendesah tanpa sadar.

"Kau sangat Indah," bisik Sasuke menenangkan, "bisa kita singkirkan kain sialan ini?" Sasuke adalah pecinta lingerie namun ia baru saja mengumpat karena kain satin pilihannya itu. Ia hanya terlalu bersemangat untuk melihat Sakura sepenuhnya telanjang.

"Ya," erang Sakura tertahan. Sasuke tersenyum melihat respon Sakura.

Sasuke perlahan-lahan menarik pita satin yang berada di belahan dada Sakura, tanpa melepaskan tatapannya pada wanita itu. Hingga Sasuke merasa ia tak bisa berlama-lama dan menyentaknya, membiarkan kedua payudara Sakura terlihat jelas di depan matanya.

"Aku tak tahu tapi kupikir tubuhmu memang tercipta untukku, Sakura. Semua yang kau miliki seperti apa yang aku dambakan." Sasuke memuji.

Pria itu tak bisa menunggu lama untuk mengecup ujung payudara Sakura. Satu tangannya mengusap bagian sisi payudaranya dan tangan yang lain meremasnya dengan pelan. Membiarkan Sakura menikmatinya dan kembali mengerang untuknya.

Lidah Sasuke bermain di atas puncak payudaranya, meninggalkan jejak basah di sekitarnya hingga turun menyusuri pusar.

"Sasuke, ah," desah Sakura saat Sasuke menghisap keras kedua payudaranya secara bergantian. Jemari kakinya saling meremas dan Sakura merapatkan kedua pahanya saat merasa kewanitaannya semakin siap hanya karena Sasuke bermain di kedua payudaranya.

Sakura membuka kedua matanya saat Sasuke memegang kedua kakinya dan menekuknya, membuka kedua pahanya dan membiarkan kewanitaannya yang masih berbalut celana dalamnya yang sudah basah terlihat oleh Sasuke.

Sasuke menaruh satu kaki Sakura di pundaknya, bibirnya menjelajah menyusuri paha yang terbuka lebar di depan wajahnya. Menjilat dan mengecup setiap incinya hingga ke pangkal. Sakura meremas helaian rambut hitam Sasuke saat pria itu mengecup kewanitaannya yang masih berbalut kain tipis. Menjilatnya dan lidah kasarnya menekan vaginanya yang mendamba. Membuatnya terasa melayang sekaligus menyiksa karena Sasuke masih mempertahankan satu-satunya kain itu di tubuhnya.

Kali ini Sasuke menyelipkan jemarinya, masih dengan menjilati daerah kewanitaan Sakura. Sasuke memasukan jemarinya, mencari-cari klirotis dan memilinnya. Jari-jari itu berputar di dalam vagina Sakura yang ketat, membawa Sakura menemui orgasme yang pertama.

"Oh, astaga," ujar Sakura terengah-engah. Ia terlihat begitu tak berdaya di hadapan Sasuke setelah klimaks menghantamnya.

Sasuke tersenyum, senang melihat bagaimana Sakura mendesah saat menemui kenikmatannya. Sasuke berhasil membuat Sakura masuk menemui kenikmatannya.

"Kau sangat seksi, yeah, apa aku sudah mengatakannya?"

Sasuke selalu mencoba menghilangkan kegugupan yang dirasakan Sakura dengan beberapa pujiannya, namun apa yang ia katakan bukan berarti sebuah omong kosong. Malam ini Sakura begitu indah di matanya. Sangat indah.

Sasuke berlutut di hadapan Sakura, menarik satu-satunya kain yang membungkus bagian bawah tubuh wanita itu. Dan Sasuke kembali dibuat terpana dengan apa yang dilihatnya, Sasuke yakin bahwa Sakura benar-benar menjaga kewanitaannya.

Sasuke menjulang di hadapannya, dengan ereksinya yang siap memasukinya saat ini juga. Sakura refleks menutup mata saat Sasuke kembali menindihnya.

"Tidak, Sakura, kau harus membuka matamu. Lihat aku, Sakura."

Sakura mematuhi perintahnya, membuka kedua matanya dan menatap Sasuke dengan pandangannya yang redup. Kuat akan gairah.

Dengan perlahan, Sasuke mulai memasukan miliknya ke dalam. Menggeram saat miliknya dibungkus dengan ketat di dalam sana.

"Oh, kau begitu basah dan siap untukku, sayang," racau Sasuke.

Dengan perlahan Sasuke menarik miliknya, kemudian kembali memasukannya dengan perlahan. Membiarkan Sakura membiasakan diri dengan ukuran miliknya. Seberapapun besarnya ia mengingkan Sakura, tapi Sasuke tetap menjaga ritme tenangnya. Ia tak ingin terlalu terburu-buru dan menyakiti Sakura. Setidaknya ia akan bersikap jantan.

Namun setelah beberapa menit, Sakura mengejutkan Sasuke dengan mengangkat pinggulnya. Sasuke terlalu bersikap lembut dan manis padanya, ini seharusnya hanya tentang membuat anak bukan bercinta. Sakura tak ingin perasaannya bergeser hanya karena Sasuke yang menggerakan tubuhnya dengan berhati-hati.

Sakura menatap kedua mata Sasuke, ia dapat melihat Sasuke yang sedang mengendalikan dirinya. Hal tersebut membuat Sakura tersenyum.

"Lakukan, Sasuke, tunggangi aku seperti apa yang kau katakan saat pertama kali kita bertemu." ujar Sakura meyakinkan, nadanya tercampur dengan geli.

"Aku tak ingin menyakitimu." erang Sasuke, hampir menggertakan gigi karena menahan diri.

Sakura menggeleng pelan mendengar ucapan Sasuke. Tangannya meraih pipi Sasuke, mengusapnya lembut. "Aku bukan seorang gadis, kau tak akan menyakitiku. Setubuhi aku seakan kau memang menikmatinya, Uchiha Sasuke!"

Sasuke sedikit terkejut dengan ucapan Sakura, ini pertama kalinya Sakura berbicara kotor di hadapannya. Dan sejujurnya ia menyukai itu, ucapan Sakura menaikkan gairahnya.

"Kau yang meminta, Sakura." Sasuke menjawab dengan suara beratnya yang terdengar seksi.

Sakura memekik saat Sasuke tiba tiba membalik tubuhnya dengan kejantanan yang masih berada di dalam vaginanya. Sasuke menuruti apa yang diucapkan Sakura, pria itu akan benar-benar menungganginya.

Sasuke menarik penisnya dan memasukannya kembali dengan sekali hentakan keras. Sasuke bergerak liar tanpa kendali, menghentak penisnya di dalam sana dengan cepat. Menampar bongkahan pantat Sakura dan hal tersebut membuat Sakura berteriak penuh gairah, kenikmatannya bertambah berkali lipat.

"Oh, sial, Sasuke!" teriak Sakura saat Sasuke menghentak tubuhnya semakin keras dan menemukan titik yang tepat untuk membawanya ke tepian orgasme. Kedua tangannya meremas seprei dan sekuat tenaga menjaga keseimbangannya agar tak roboh.

Sasuke membungkuk dan menghisap keras punggung Sakura, kedua tangannya menangkup payudara Sakura yang berayun dan meremasnya. Saat Sasuke menyentak Sakura dalam dan lebih dalam lagi, bola kejantannya memukul-mukul tepat di bagian belakang Sakura, menambah intensitas kenikmatan bagi keduanya.

Saat Sakura merasa ketegangan pada Sasuke dan menyadari hampir dekat, Sasuke segera merubah posisi mereka kembali seperti semula. Sasuke membiarkan kedua kaki Sakura melilit pinggangnya dan pria itu kembali menyetubuhi Sakura dengan keras dan panas. Sakura menaruh wajahnya di perpotongan leher Sasuke dan ia memeluk punggung lebarnya dengan erat.

"Sasuke! Sasuke!" teriak Sakura saat Sasuke menambah irama hentakan pinggulnya.

"Ya, sayang, sebut namaku!"Sasuke menggeratakkan gigi dengan kedua yang mencengkram di masing-masing sisi kepala Sakura.

"Uchiha Sasuke! Oh!" pekik Sakura saat orgasme kembali datang. Dinding vaginanya mengetat dan hal tersebut membuat Sasuke tak bisa untuk bertahan lebih lama lagi. Sasuke menghentak penisnya lebih dalam dan membiarkan sperma masuk ke dalam diri Sakura.

Sasuke roboh di atas tubuh Sakura, menindihnya dengan nafas yang memburu. Sasuke menggeser tubuhnya dan membungkus Sakura, melilitkan satu tangannya di pinggang Sakura dan membiarkan wanita tersebut bersandar di dadanya. Keduanya sama-sama mengatur nafas.

"Kau luar biasa Sakura, ini pertama kalinya aku melakukan seks tanpa pelindung. Seks yang hebat," gumam Sasuke.

"Oh, benarkah?" Sakura membenamkan wajahnya pada dada bidang Sasuke, tak membiarkan pemiliknya menadapati wajahnya yang memerah.

"Ya, dan kudengar seseorang harus menaruh bantal di bawah pinggul mereka jika menginginkan seorang bayi."

Sakura tersenyum dengan perhatian Sasuke. Pria itu melepas pelukannya dan mengambil satu bantal yang tersisa, menaruhnya seperti apa yang baru saja ia katakan pada Sakura.

"Terima kasih," ujar Sakura seraya tersenyum.

"Sialan, kau bahkan semakin seksi dengan posisi seperti ini." dan Sasuke memakai kesempatan ini untuk memegang pantat Sakura.

"Sasuke, kau tak akan berhenti?"

"Mari kita lihat." Sasuke menampilkan seringainya.

.

.

.

.

A/N

6k! Woah, ini bisa dibilang balasan buat ngaretnya yuchi update chapter ini xD yuchi harus nunggu setelah lebaran buat lemon ini, dan jujur aja ncnya masih belajar banget dan dikit-dikit belajar dari lemon cerita aslinya xD jadi maklumi ya kalau lemonnya amburadul gitu, masih belajar hehe ;_;

Kali ini yuchi mau balesin ripyu dari temen-temen yang ga log-in. Yosh!

Vya-chan: yup, ganbatte! xD btw panggil yuchi aja biar enak

X-Kim: wah terima kasih ya hehe. Ini udah update, jangan lupa ripyu lagi hihi

Ruuki: Sasuke mau digimanain pun yuchi juga tetep suka /plak. Maaf ya buat ngaretnya xD

rara: wah pemaksaan nih lol xD makasih buat ripyunya, ripyu lagi ya hehe :3

Guest: wah pertanyaanmu belum terjawab nih hihi, iya bisa dibilang sasori sayang sakura karena itu xD jangan lupa ripyu lagi ya!

Kana: Sasori chap kemarin emang bikin salah paham banget, tapi bagusnya Sakura jadi ke Sasuke kan #plak akhirnya ada yang mengerti Sasori disini.. mengerti perasaannya terhadap Sakura seperti apa;_; lol. Maaf karna sasuke di scene rapat itu ooc berat wkwk xD

Guest: ini sudah lanjut, ayo jgn lupa ripyu lagi xD

Haruno Cherry: ini sudah lanjut, jgn lupa ripyu lagi hihi

yuri rahma: hayoloh... wkwkw bacanya pas malem malem ya biar ga panas, kan adem tuh #plak xD

sasuke admire: selamat! Permintaanmu terkabul #plak xD semoga suka lemon abal abal ini ya hehe;_;

ToruPerri: Sasori naksir Sakura? Hm.. gimana ya xD

Guest: wow yuchi kawaii(?)

michelle: iya ini emang agak nyinetron jadi ya rada ribet gitu wkwk xD

pinky mouse: iya sasuke emang napsuan! #plak wah sakuranya sudah menyerahkan diri nih (?) xD sudah kimpoy ke sasuke xD

achi: ini sudah lanjut, semangat!

uchiha della: wah jangan teriak teriak nanti kedengeran tetangga xD wkwk jangan lupa ripyu lagi ya!

Lhylia Kiryu: iya Sasori emang serba salah! #plak

ss: with my pleasure, dear xD

rossadilla17: dan pertanyaanmu terjawab di chapter ini! xD semoga ga bikin penasaran lagi ya hehe

Istri Sasuke: ini SasuSakunya sudah ikeh ikeh kimochi #plak semoga suka ya xD

rie haruchi: ini sudah buat bayi*_* hehe makasih ya, jangan lupa ripyu lagi hihi

apa ada ripyu yang kelewat? Maafkan yuchi mungkin kurang teliti hehe;_; buat yang login yuchi balas di pm ya! makasih buat ripyu, followers dan favorite di chap kemarin. Sampai jumpa di chap selanjutnya, dan jangan lupa ripyu ya! xD

.

.

.

.

yuchida

[ps: yuchi sempet ribet ngetik nama antara SAsuke, SAsori, dan Sakura lol xD #curhatgapenting]