Deidara bersumpah bahwa ia bukan tipikal orang yang pendendam, namun apa yang dilakukan Sasori padanya benar-benar membuatnya merasa hidup berjalan secara tak adil.

Setiap perbuatan pasti ada balasan, mulai saat ini Deidara akan memegang erat prinsip tersebut.

Hari ini Deidara berniat melancarkan aksi keduanya, setelah aksi pertama betingkah manis di depan Yamanaka Ino agar dapat membujuknya untuk mendapatkan Sasori kembali, yang sebenarnya hanya sia-sia.

Saat ini Deidara berada di kediaman Uchiha, ia berniat membocorkan rencana bodoh antara Sakura dan Sasori yang kini melibatkan Sasuke.

Jika ia tak bisa mendapatkan Sasori, ia kembali bersumpah bahwa Sakura juga tak akan pernah mendapatkan Sasori atau bahkan Sasuke!

Deidara duduk sendirian di ruang tamu, menunggu Itachi yang ia dengar dari mulut Hana sedang berada di kamar mandi. Sebelumnya ada Uchiha Fugaku disini, mengobrol ringan bersamanya dan tak lama Uchiha Mikoto pun ikut bergabung. Deidara selalu merasa heran dengan Uchiha, mereka terlihat dingin namun sebenarnya keluarga sahabatnya ini memiliki pribadi yang hangat. Cukup hangat hingga membuatnya lupa apa tujuan utama ia datang kemari.

"Lama menunggu?"

Setidaknya masih ada Itachi, ia akan membocorkan rencana Sasuke pada pria itu!

Itachi datang dari arah depan, dengan wajah yang segar dan senyum di wajahnya seperti biasa.

Deidara mencibir. "Kau beruntung, aku bukan Sasori yang benci menunggu dan membuat orang menunggu." dan sesuatu di dalam sana terasa sakit seperti dicubit saat ia menyebut nama Sasori, mengingat pria yang baru ditemuinya kemarin itu rela menunggu hanya untuk Sakura.

Itachi hanya balas tersenyum kemudian menyesap kopinya yang masih hangat. Ia tak ingin merusak suasana hati Deidara dengan membicarakan Sasori meskipun pria itu yang lebih dulu memulai.

"Kau tak bertanya kenapa aku datang kemari?" tanya Deidara sedikit kesal.

"Sebenarnya aku sedang menunggu kau mengatakannya, aku tak perlu bertanya karena aku tahu kau datang kemari dengan suatu alasan yang cepat atau lambat akan kau katakan sendiri."

Deidara menatap jengah Itachi, ia tahu pria itu seorang jenius dan selalu mudah membaca situasi tanpa harus bertanya lebih lanjut.

"Ini tentang Sasuke, adik sialanmu itu."

Itachi menaruh cangkir kopinya dan menatap serius Deidara. "Sasuke?" tanyanya penasaran.

"Ya!" Deidara mengangguk cepat. "Kau tahu, adikmu sedang mendekati seorang wanita!" ujar Deidara bersungguh-sungguh. Ia terlihat semangat saat mengatakannya.

Kedua alis Itachi terangkat, cukup terkejut mendengar ucapan Deidara. Ia jadi teringat tentang percakapannya dengan Sasori beberapa hari yang lalu, pria itu bertanya apakah Sasuke sedang dekat dengan seorang wanita atau tidak, dan pernyataan Deidara barusan seakan menjadi jawaban.

"Ini berita bagus! Ayah dan ibu akan sangat senang mendengarnya. Kau tahu, aku khawatir dengan Sasuke saat ia tak tertarik untuk menjalin hubungan yang serius dengan wanita. Ia sama sekali tak memiliki niat untuk menikah."

Itachi memijat pangkal hidungnya saat tiba-tiba ia merasa pening. Teringat ucapan Sasuke saat ibunya menyuruh adiknya tersebut untuk cepat menikah.

"Ibu sudah memiliki anak yang melakukan pernikahan, jadi aku tak perlu melakukan hal yang sama. Aku tidak berniat." dan jawaban Sasuke saat itu sukses membuat ibunya sesak nafas mendadak!

Itachi bahkan sempat berpikir bahwa Sasuke adalah seorang gay. Meskipun ia sama sekali tak keberatan dengan hubungan sesama jenis yang sebelumnya dilakukan oleh kedua sahabatnya, tapi ia akan merasa sangat sedih jika Sasuke memang seperti perkiraannya. Ia bisa memastikan kedua orang tuanya akan terkena serangan jantung.

Karena itu, setidaknya ia bersyukur dengan kebiasaan buruk Sasuke yang sering membawa wanita berbeda ke dalam apartemennya. Ia menjamin adiknya bukan seorang gay.

"Jangan senang dulu, bodoh, ada hal lebih penting yang harus kau tahu." suara Deidara terdengar seperti berbisik, mirip seperti ibu-ibu yang sedang bergosip.

"Apa?" Itahi mencoba meredam rasa tegangnya dengan meraih cangkir kopinya. Deidara berbicara dengan nada yang super misterius, menambah suasana ketegangan di antara mereka.

"Adikmu akan menghamili seorang wanita."

"Uhuk!" satu kali, ucapan pertama Deidara sukses membuat Itachi tersedak kopinya sendiri.

"Adikmu akan membuatmu menjadi seorang paman!"

Dan ucapan kedua Deidara membuat Itachi sukses terkejut—

"M-maafkan aku, Dei."

—dan menyemburkan kopi di mulutnya, tepat di hadapan Deidara.

.

.

.

SasuSaku fanfic by yuchida

Inspired : The Proposition © Kate Ashley

All Character © Masashi Kishimoto

Warning : Mature, Mild Language, AU, typo(s), OOC

.

.

.

Sakura bangun dengan ruang kosong di sampingnya. Sasuke tak berada di tempatnya. Sakura tak perlu merasa kecewa karena ini hanya tentang membuat bayi, tentu saja ia tak mengharapkan Sasuke yang masih berada di sampingnya, menunggunya bangun dan memberinya sebuah kecupan selamat pagi yang manis.

Sungguh mustahil.

Sakura menatap langit-langit kamar hotel, bayangan kegiatan panasnya bersama Sasuke semalam tiba-tiba muncul di pikirannya. Wajahnya memanas, ia tak menyangka bisa melakukan hal segila itu bersama Sasuke— yang sejujurnya terasa luar biasa.

Sebuah pengalaman seks yang hebat bersama Sasuke, setelah dua tahun lamanya ia tak melakukan hal tersebut bersama seorang pria. Sasuke berhasil meyakinkannya bahwa melakukan seks setelah sekian lama melajang karena pengalaman pahitnya bukanlah hal yang buruk.

Sakura merubah posisinya dengan duduk di atas ranjang, kemudian pandangannya teralih pada secangkir espresso yang mulai mendingin di atas meja nakas. Sasuke mungkin menyiapkan ini dan entah ia tertidur berapa lama hingga membuatnya tak lagi hangat.

Ponselnya berdering saat Sakura turun dari atas ranjangnya, dengan selimut putih yang menutupi tubuh telanjangnya hingga dada.

"Bisa kutebak kau baru saja bangun, Sleeping Princess."

Sakura merasa geli mendengar sebutan baru dari Sasuke. Ia jadi teringat sebutan pinky yang sering Sasuke ucapkan saat pria itu belum mengetahui namanya.

"Sakura, maaf aku pergi begitu saja." ucap Sasuke kemudian.

Kali ini suara Sasuke terdengar serak, pria itu mungkin saja khawatir dengan keadaannya yang ditinggal sendiri.

"Bukan masalah." Sakura menahan senyumnya meskipun ia tahu Sasuke tak akan melihatnya sekalipun ia tersenyum lebar.

"Kupikir kau butuh waktu lebih lama untuk tidur, jadi aku tak bisa mengganggumu."

"Sasuke," Sakura berjalan menghampiri jendela, membuka tirainya dan menatap halaman luas dari balik kaca. "aku tak tahu kau bisa menjadi seperhatian ini hanya dalam satu malam." Sakura mengejek di telponnya. Ia tahu bahwa ia berhasil membuat Sasuke mendengus, dan ia senang melakukannya.

"Sialan, aku hanya mencoba bersikap baik pada seorang calon ibu."

Sakura kali ini tak dapat menahan senyumnya. Ucapan Sasuke tadi seakan sebuah magnet untuknya, tangannya bergerak dengan sendirinya dan mengusap perut ratanya.

Seorang calon ibu ... Sakura tak sabar menantikan hal itu terjadi.

Masih dengan Sasuke yang berbicara di telponnya, Sakura menunduk dan menatap perut datarnya. Hanya tinggal menunggu waktu dan seorang bayi keturunan Uchiha akan berada di sana. Ia akan mengandung seorang bayi.

Ia berjanji akan menjadi seorang ibu yang baik dan berhenti mengumpat di hadapan anaknya kelak. Janji seorang wanita yang baru saja dibuahi!

"Sakura," Suara Sasuke terdengar, membuatnya tersadar dari lamunan seasaatnya. "sampai bertemu hari senin."

Sakura mengangguk seperti seorang idiot, merasa seperti ada Sasuke yang sedang berbicara di hadapannya.

"Ya, sampai bertemu hari senin."

Kemudian baik Sasuke maupun Sakura memutus sambungan telpon mereka.

.

.

.

.

Sasuke POV

"Sasuke, kita lanjutkan pembicaraan tadi."

Aku menoleh saat mendengar suara Itachi— dan sial, dia berhasil membuatku terkejut karena berdiri tepat di belakangku. Sejak kapan? Apa dia memdengar pembicaraanku dengan Sakura?

"Kau mengintipku?"

"Belum sempat." dia menyeringai. Terlihat bodoh. Sialan bodoh dengan tatapannya yang berada di antara selangkanganku.

Aku menaikkan resleting celanaku dan berjalan di belakangnya. Aku baru saja buang air kecil, setelah sebelumnya Itachi-nii membuatku menahannya selama beberapa menit karena ia terus saja berbicara panjang lebar pagi ini. Dan kesempatan itu aku gunakan untuk menghubungi Sakura, dan kuharap ia tak tahu bahwa aku baru saja menelponnya dengan keadaan celana yang kancing dan resletingnya terbuka.

Itachi-nii menyuruhku duduk di sofa dan bertingkah seperti seorang bos besar. Sialan, ini adalah kelebihan seorang kakak, bisa menjadi seorang penyuruh dan buruknya ibu selalu memintaku menuruti apapun perintahnya. Uchiha Sasuke harus menjadi seorang adik yang baik, katanya.

"Apa kau berniat membunuh ayah dan ibu?"

Ini yang sejak pagi Itachi-nii bicarakan; sebuah percobaan pembunuhan yang akan aku lakukan pada ayah dan ibu. Ia menelponku di pagi buta, membuatku terpaksa meninggalkan Sakura yang masih terlelap di atas ranjang bersamaku, dan menahan untuk buang air kecil selama beberapa menit hanya untuk mendengarkan pembicaraan tak berguna seperti ini.

"Seharusnya kau tak perlu tahu soal ini."

Punggungku menyandar pada sofa di belakangku. Saat ini aku berada di dalam apartemenku, Itachi-nii secara khusus memintaku bertemu disini. Ia beralasan tak ingin pembicaraan ini akan terdengar oleh ayah dan ibu.

"Jadi kau berencana untuk menyembunyikan hal ini dariku? Dari ayah dan ibu?" Itachi-nii berjalan mondar-mandir di hadapanku.

Dan untuk jawaban pertanyaannya tadi; sesungguhnya iya. Aku tak pernah berniat melibatkan keluargaku dalam urusanku bersama Sakura. Persetan, ini hanya tentang membuat bayi bukan ajang pendekatan dengan seorang wanita melalui seks— keluargaku tak pelu tahu tentang hal ini.

Dan Deidara berhasil membocorkannya pada Itachi-nii, yang mungkin hanya menunggu beberapa jam lagi hingga ayah dan ibuku tahu. Sialan.

"Ini bukan perkara penting."

"Oh, dasar berandal gila." Itachi-nii dengan sialannya mengumpat di hadapanku. "Kau pikir apa yang akan kulakukan jika bertemu keponakanku nanti? Pura-pura tak mengenalinya?"

"Lakukanlah." aku menguap, kemudian berbaring di atas sofa.

"Mungkin ibu akan lebih memilih melahirkan seekor anak kucing jika tahu apa yang kau lakukan saat ini, Sasuke." aku melihat Itachi-nii berjalan gusar ke arah dapur. Mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin dan meminumnya dengan cepat.

"Berhenti banyak bicara." ujarku malas. Ya, aku malas meladeni ucapannya.

Itachi-nii kembali menghampiriku. "Aku pernah mendengar soal wanita itu sebelumnya, dan aku tak menyangka jika pada akhirnya pria yang menjadi pendonor sperma itu adalah adikku sendiri."

"Aku dan Sakura memiliki beberapa peraturan yang terdapat di dalam kontrak kami, termasuk soal hak asuh." Itachi-nii justru tertawa, mungkin baginya terdengar lucu karena aku harus melakukan sebuah kontrak hanya untuk membuat bayi. "Aku tak keberatan jika anak itu akan berada di bawah tanggung jawab Sakura sepenuhnya, karena itu memang tujuan utamanya."

"Sasuke." Itachi-nii menarik kerah kemejaku, memintaku untuk bangkit namun caranya seperti berniat untuk mencekik leherku atau melempar tubuhku ke dinding dengan keras. "Dengarkan aku, ini akan menjadi percakapan antara calon ayah dan seorang pria yang juga akan segera menjadi calon ayah sepertimu."

Brengsek, ucapannya justru membuatku ingin tertawa keras.

Aku duduk sesuai keinginannya. "Ya, aku akan mendengarkannya."

"Kau harus tahu, bagaimana rasanya saat mendengar wanitamu berteriak 'Aku hamil!' dan memelukmu dengan erat. Ini bahkan lebih gila dibanding saat klub sepak bola favorit kita menjadi juara dunia!"

"Bagus, kupikir memang tak ada bedanya antara sensasi saat seorang pemain bola menjebol gawang lawannya dengan sensasi seorang pria yang menjebol gawang wanitanya."

Dan saat itu juga Itachi-nii memukul kepalaku dengan bantal sofa. Cukup keras hingga membuatku menahan diri untuk tak memakinya. Inilah yang membuatku saat aku berusia tujuh tahun meminta pada ibu untuk melahirkanku terlebih dahulu dibanding Itachi-nii, agar aku bisa melakukan hal yang sama padanya.

Sebenarnya ia adalah seorang kakak yang baik, aku ini adalah adik kesayangannya dan aku cukup bangga. Hanya saja ia selalu seperti ini jika terlalu berlebihan ikut campur soal masalahku. Pagi ini ia berubah menjadi kakak yang temperamental.

"Sasuke," Itachi-nii berkata dengan nafas beratnya. "aku bersumpah kau akan menginginkan bayi itu. Bagaimana pun ikatan antara ayah dan anak tak kalah hebat dari ikatan ibu dan anak. Kau akan menyayangi bayi itu bahkan saat masih berada di dalam kandungan ibunya."

Itachi-nii berbicara dengan wajah seriusnya, kedua matanya menatap tajam. Ini persis seperti saat ia mengajariku belajar matematika ketika masih di sekolah dasar, wajahnya luar biasa serius.

Aku mendengus, kemudian berkata, "Kau bahkan belum menjadi seorang ayah. Kau tak perlu mengajariku banyak hal tentang bayi atau bahkan seorang ibu. Aku bersumpah ini hanya tentang membantu seorang wanita untuk hamil, dan aku akan lepas tangan setelahnya."

Ya, aku berjanji.

Janji seorang pria yang mendonorkan spermanya, bukan pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.

.

.

.

.

Sekali lagi Sakura beruntung karena Sasuke masih berbaik hati membelikannya pakaian dalam. Ia masih bisa pulang dengan keadaan nyaman meskipun tetap dalam setelan pakaian kerjanya, yang sejujurnya memang sedikit menyusahkan. Terlebih ini adalah hari minggu. Memangnya berapa banyak orang yang memakai pakaian kerja di hari minggu sepertinya?

Sakura berniat pulang dengan taksi namun Sasori tiba-tiba mengirimnya pesan dan mengatakan akan menjemputnya sekarang juga. Ini yang selalu mereka sebut insting persahabatan, selalu ada di saat membutuhkan.

Sakura menunggu di lobby hotel selama kurang lebih 15 menit hingga Sasori datang menjemputnya menggunakan mobil miliknya sendiri.

"Mobilmu terparkir rapih di parkiran apartemenmu," ujar Sasori saat Sakura bertanya dimana keberadaan mobilnya.

Setidaknya Sakura harus memastikan benda termahal yang dimilikinya itu baik-baik saja. Meski tak semewah mobil milik Sasori atau Sasuke sekalipun, mobil itu sangat berharga baginya. Mobil yang menjadi bukti kerja kerasnya sebagai pegawai kantoran— yang meskipun hanya seorang pegawai biasa.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasori membuka pembicaraan.

Sakura yang duduk di sampingnya menoleh. "Sasori, kau kembali bersikap berlebihan." ia tersenyum.

"Sakura, aku tahu kau tak siap untuk semua itu."

"Tapi aku bisa melakukannya dan aku baik-baik saja," timpal Sakura cepat. Memperlihatkan senyum lebarnya, meyakinkan pada Sasori bahwa ia baik-baik saja. Sebuah seks malam yang hebat akan membuat pagi yang hebat juga untuk Sakura.

"Apa Sasuke kasar padamu? Maksudku, apa dia memperlakukanmu dengan baik?"

Sakura terkekeh mendengar pertanyaan polos Sasori. Pria itu masih saja memperlihatkan rasa khawatirnya.

"Apa kau pernah melakukan seks dengan seorang wanita?"

Pertanyaan Sakura sontak membuat Sasori terkejut, kedua matanya terbuka lebar. "Demi Tuhan, Sakura, tentu saja aku pernah melakukannya. Aku bahkan pertama kali melakukannya saat baru memasuki sekolah menengah pertama."

Sakura menatap jengah Sasori yang membanggakan dirinya sendiri. "Apa yang kau lakukan saat itu?" tanya Sakura kemudian.

"Karena wanita itu adalah kekasih pertamaku, jadi aku menyebutnya bercinta. Singkatnya, aku memasukan milikku ke dalamnya."

Sakura mengulum senyumnya. "Kalau begitu kau sudah mendapat jawaban atas pertanyaanmu tadi. Sasuke juga melakukan hal yang sama padaku, jadi kau tak perlu khawatir lagi." sebelah tangannya terulur dan mengusap pundak Sasori.

"Tapi kau bukan bercinta, kau melakukan seks."

Ucapan Sasori membuat Sakura sesaat membungkam mulutnya. Memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Sasori. Ini bukan berarti ia mengharapkan apa yang Sasuke lakukan tadi malam bersamanya bisa disebut bercinta, ia hanya sedang berpikir bagaimana caranya meyakinkan Sasori bahwa ia baik-baik saja. Entah itu ia bercinta atau sekedar melakukan seks sekalipun.

"Kami melakukan seks, tapi ia memperlakukanku seperti kami sedang bercinta," ujar Sakura pada akhirnya, dan ia memang berkata jujur.

Kedua mata Sasori kembali membulat. "Oh, benarkah?"

Sakura mengangguk. "Ya, Sasori-nii." kemudian tersenyum manis.

Sasori menoleh. "Wow, sudah berapa lama kau tak memanggilku dengan sebutan seperti itu?"

"Aku hanya akan memanggilmu seperti itu saat keadaan hatiku sedang baik," jawab Sakura asal. Sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan tentang bagaimana ia menghabiskan malamnya bersama Sasuke.

"Jadi saat ini hatimu dalam keadaan baik?"

Sakura kembali mengangguk antusias. "Ya, hanya saja perutku sangat lapar."

"Jadi Sasuke tak memberimu sarapan?"

"Sasori, jangan memulainya lagi." Sakura menghela nafas.

"Baiklah," ujar Sasori, ia kembali mengalah. "apa yang ingin kau makan pagi ini?"

"Apapun, asalkan dapat membuat perutku tak merasa lapar lagi."

Sasori tersenyum geli. "Oke."

.

.

.

.

"Sasuke belum menghubungimu lagi?" tanya Sasori seraya mendudukan tubuhnya di sofa sesampainya mereka di dalam apertemen Sakura.

"Sasuke tak punya alasan untuk menghubungiku lagi, Sasori."

Sakura yang baru mengganti pakaiannya kerjanya menghampiri Sasori, mengikat rambutnya dengan gaya ponytail dan merebahkan tubuhnya, menjadikan kedua paha pria itu sebagai bantalan kepalanya.

"Sialan, bahkan ia tak tahu bagaimana kau pulang."

Sakura segera mencubit paha Sasori, cukup keras hingga membuat pria itu meringis. "Kau mulai lagi!"

"Dan tidak ada ucapan terima kasih karena aku sudah mengantarmu pulang? Tidak sopan," ujar Sasori dengan wajah masam yang dibuat-buat.

"Masa bodoh, aku memang tidak sopan. Kau tahu itu." Sakura menjulurkan lidahnya kemudian tertawa saat Sasori menghadiahi sebuah tarikan keras di hidungnya.

Sebagai seorang sahabat, Sakura tahu bahwa Sasori begitu memperhatikannya. Tak hanya Sasori, Ino pun melakukan hal yang sama. Wanita itu terus mengirimnya pesan singkat dan menghubunginya saat di perjalanan tadi.

Sakura beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Ino lebih menunjukkan rasa sayangnya dengan segala bentuk dukungan dan beberapa masukkannya yang terkadang gila namun sedikit masuk akal. Sedangkan Sasori berbeda, pria itu lebih menunjukkan rasa sayangnya sebagai seorang sahabat dengan bersikap protective. Ini mirip seperti brother complex.

Dan entah mengapa Sasori semakin hari semakin over protecive. Terlebih semenjak datangnya Sasuke dan sejak putus hubungan dengan Deidara.

"Apa yang kau lakukan dengan payudaramu? Terakhir kuingat masih sebesar kiwi, itupun dibelah dua," ujar Sasori tiba-tiba, memandangi payudara Sakura yang memang terpampang jelas di hadapannya, mengingat Sakura yang saat ini hanya memakai tank top merah muda dengan bagian dada yang rendah.

"Sialan, sejak kapan kau tertarik dengan milik wanita?" Sakura merubah posisinya menjadi duduk seperti apa yang dilakukan Sasori saat ini. Kedua matanya membulat, yang anehnya justru terlihat begitu antusias.

Sasori mengulum senyumnya. "Tidak, Sakura, aku seorang gay," ucapnya pelan. "tapi terkadang aku merasa ... aku merindukan jati diriku sebagai seorang pria sejati."

Tatapan Sakura berubah, menatap Sasori dengan pandangan simpati. Satu tangannya tergerak, meraih tangan Sasori yang berada di sampingnya dan menggenggamnya.

"Tak ada salahnya untuk mencoba," ucap Sakura meyakinkan.

Akhir-akhir ini Sakura selalu merasa bahwa ia adalah satu-satunya orang yang memiliki kehidupan paling menyedihkan. Namun melihat Sasori yang seperti saat ini, ia sadar bahwa diselingkuhi oleh tunangan yang hampir menikahinya tak lebih menyedihkan dari seseorang yang tak mau mengakui dirinya sendiri sebagai seorang gay.

Sakura masih mengingat seperti apa Sasori saat mereka masih remaja, semua wanita di sekolah menyebutnya seorang playboy kelas kakap! Sasori sering berkencan dengan wanita yang berbeda, memiliki banyak kekasih, itupun belum termasuk beberapa wanita nakal yang berada di belakangnya.

Sakura cukup yakin bahwa Sasori adalah seorang playboy sejati, hingga ia tahu apa alasan utama Sasori memiliki banyak wanita; pria itu tak mau mengakui dirinya yang menyukai sesama jenis. Ia ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sama seperti teman-temannya yang lain, yaitu dapat mencintai wanita.

Sakura adalah orang pertama yang tahu tentang hal tersebut, bahkan hingga sekarang tak satupun dari keluarganya yang mengetahui hal tersebut.

Dan saat menginjak bangku kuliah, Sasori bertemu dengan Deidara. Pria itu yang membuatnya menjadi dirinya sendiri. Deidara adalah orang pertama yang membuatnya berani mengakui dirinya sendiri bahwa ia adalah seorang gay. Dan dengan Deidara juga ia pertama kali benar-benar menjalin hubungan dengan seorang pria.

Namun saat ini, setelah ia putus dengan Deidara, ia justru merindukan jati dirinya sebagai seorang pria. Jauh di dalam dirinya, ia ingin mencintai seorang wanita.

"Jika kau pernah berkata bahwa ingin membantuku dengan mencarikan seorang pria yang rela mendonorkan spermanya, maka saat ini juga aku akan membantumu mencarikan seorang wanita yang rela membuka kedua pahanya di hadapanmu. Membantumu untuk menjadi seorang pria sejati!"

Sasori menahan tawanya melihat wajah Sakura yang bersungguh-sungguh.

"Tidak, Sakura, lupakan saja." Sasori mengibaskan sebelah tangannya tanda menolak, masih dengan raut geli menahan tawa.

"Lihat, sekarang siapa yang tak tahu terima kasih?" kedua mata Sakura menatap sinis.

"Oke, terima kasih, Haruno-san," ujar Sasori seraya tersenyum, kemudian mengacak rambut Sakura seperti biasa.

.

.

.

.

Ino datang bergabung bersama Sasori dan Sakura satu jam kemudian. Ia tak sendiri, ia datang bersama Sai. Ino berkata bahwa hari ini adalah hari jadinya bersama Sai yang ke enam bulan, dan Sakura berkata Ino terlalu berlebihan dengan merayakanannya.

"Mari bersulang juga untuk hilangnya keperawanan-selama-dua-tahunnya Sakura!" Ino mengangkat kaleng sodanya tinggi, diikuti Sai dan Sasori yang tertawa karena ucapannya tadi. Sakura mendengus namun mengikuti hal yang sama.

"Sai, kau mungkin harus menghamili Ino, kupikir akan menyenangkan memiliki dua keponakan dalam waktu bersamaan."

Kedua mata Ino membulat mendengar ucapan Sasori. "Lebih baik kau saja yang menghamili wanita, sialan!"

Sai tersenyum lebar seperti biasa, "Akan kupikirkan, Bung."

"Ino termasuk wanita tipe menikah. Jika kau menghamilinya terlebih dahulu, akan kupastikan Ino menikah denganku. Shannaro!" ujar Sakura seraya melempar kulit kacang ke arah Sai.

Ino tertawa seraya merangkul leher Sakura. "Nikahi aku, Jidat!"

"Tidak, Sakura akan menikah denganku," timpal Sasori cepat kemudian meneguk minumannya.

Sakura menatap jengkel ke arah Sasori. "Shannaro, lamaranmu akan kutolak, aku akan menikah dengan Deidara saja!" dan ucapannya mengundang tawa keras Ino.

"Kupikir tak ada salahnya menikahi dua orang pria sekaligus," ujar Sai yang seketika membuat mata Ino berbinar.

"Kalau begitu aku akan menikahimu dan Sakura, anggap saja Sakura adalah seorang pria!"

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Sasori dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Mungkin lebih tepatnya wajah sedih yang justru terlihat menggemaskan. Ya, pria itu bahkan terlihat seperti bocah laki-laki berumur belasan tahun.

"Berhenti bicara omong kosong. Dasar gila," ujar Sakura seraya tertawa geli.

.

.

.

.

Sakura begitu mencintai Senin, sama seperti ia mencintai diskon besar-besaran di toko pakaian. Ia akan begitu bersemangat datang ke kantor setelah melalui hari minggunya yang begitu membosankan. Tapi untuk minggu kemarin mungkin pengecualian.

"Halo, mantan teman sekelas semasa sekolah!"

Sakura baru saja keluar dari mobilnya dan orang yang pertama ia lihat pagi ini adalah Karin. Wanita berambut panjang itu terlihat mendelik ke arahnya, Karin tak menyukai panggilannya dan hal tersebut semakin membuat Sakura gencar untuk menggodanya.

"Masih terlalu pagi untuk beradu mulut denganmu," ujar Karin dengan wajah acuhnya.

Ucapan Karin tadi justru bermakna lain di pikiran Sakura, dan itu membuatnya berpikir mungkin otaknya sudah gila. Entah sejak kapan pikirannya seperti seorang wanita nakal seperti ini.

"Mulutmu tak cukup baik untuk mulutku."

Wow.

"Sialan, aku cukup baik dalam berciuman," balas Karin.

Sakura dengan cepat menyamakan langkahnya di samping Karin. "Ya, tapi tak cukup baik untuk membuat Presdir Uchiha tak menendangmu keluar dari mobilnya," ujar Sakura, teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat Karin keluar tanpa hormat dari dalam mobil Sasuke.

"Masa bodoh, setidaknya Sasuke tak mengganti posisi sekretarisnya."

Melihat satu alis mata Sakura terangkat, Karin menghentikan langkahnya. Saat ini mereka berada di dalam lorong basement dan hanya ada mereka berdua disana.

"Sakura," Karin kini menoleh ke arah Sakura. "aku bahkan sudah bertunangan."

Mulut Sakura membulat melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Karin. Sejujurnya Sakura sedikit tertarik dengan hubungan antara Sasuke dan Karin, bertanya-tanya apakah mereka masih sering berciuman di dalam kantor atau bahkan melakukan seks di dalam ruangan bos brengseknya itu. Dan fakta Karin sudah bertunangan ... itu cukup mengejutkannya.

"Dan kau berselingkuh dengan bosmu sendiri," ucapnya tajam.

"Kau harus tahu, beberapa orang sepertiku memiliki cara tersendiri untuk mempertahankan posisinya. Dan saat itu kau nyaris menghancurkan karirku, kurang lebih kupikir begitu," jelas Karin seraya menaikan bingkai kacamatanya. Ia jadi teringat Sakura yang saat itu tiba-tiba datang mengganggunya. Ia kemudian kembali berkata, "setidaknya aku tak berakhir di atas ranjang bersamanya, karena aku masih memikirkan tunanganku."

Keduanya kembali berjalan, dan untuk pertama kalinya mereka bisa berjalan berdampingan seperti ini ke dalam kantor.

"Wow, kau sedikit membuatku kagum. Kau berusaha keras." Sakura menyeringai.

Karin memutar matanya. "Dasar bodoh." tapi diam-diam ia mengulum senyumnya.

Saat keduanya sudah berada di lobby dan berdiri di hadapan lift, seseorang dari arah belakang ikut bergabung dengan mereka. Orang itu adalah Sasuke.

Datang ke kantor lebih awal memiliki kemungkin besar untuk bertemu dengan Sasuke, dan itu adalah keuntungan tersendiri bagi para pegawai wanita yang kebanyakan memang mengaguminya— yang sayangnya Sakura bukan termasuk ke dalam kumpulan wanita tersebut.

"Selamat pagi, Presdir," ujar Sakura dengan sopan. Saat ini ia sedang bersama Karin, tentu saja ia harus menjaga sikapnya.

Sasuke seperti biasa tak begitu tertarik untuk membalas sapaan setiap pegawainya. Ia hanya menoleh sebentar dan mengangguk samar. Dan Sakura tahu bahwa pria itu pun sedang menjaga wibawanya.

Entah apa yang akan mereka lakukan jika saat ini tak ada Karin dan hanya berdua di dalam lift.

"Semoga hari kalian menyenangkan, selamat bekerja keras!" Sakura mengepalkan satu tangannya kemudian membungkuk ke arah Sasuke maupun Karin saat lift menunjukan lantai tiga, lantai dimana ruangannya bekerja.

Sasuke sekali lagi menghiraukan Sakura, tetapi satu tangannya terulur dan menekan tombol hingga pintu kembali tertutup dan lift pun naik ke lantai selanjutnya. Baik Sakura dan Karin sama-sama menatap bingung ke arah Sasuke.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Haruno-san. Ikut aku ke ruangan."

Sakura hanya mengangguk mengiyakan. Dan melihat bagaimana sopannya Sasuke berbicara dengannya, sejujurnya sedikit membuat Sakura ingin tertawa. Sikap pria itu benar-benar berbeda.

Sakura berjalan di belakang Sasuke dan Karin yang berdampingan saat mereka sudah berada di lantai yang menuju ruangan pria tersebut. Tak butuh waktu lama sampai Karin berada di mejanya sedangkan Sakura ikut masuk ke dalam ruangan bersama Sasuke.

Saat berada di dalam, Sasuke segera menghampiri mejanya dan menekan tombol dial di teleponnya.

"Aku butuh waktu sekitar setengah jam, mundurkan jadwal pertemuanku dan aku menolak untuk bertemu dengan siapapun," ujar Sasuke kemudian berjalan mendekati Sakura yang berdiri bagai patung di depan pintu yang tertutup.

"Sasuke?"

Sakura sedikit tak mengerti saat Sasuke berkata seperti itu pada Karin melalui teleponnya. Namun saat Sasuke berdiri di hadapannya, menghimpitnya ke belakang dan mengunci pintunya—

"Sial, aku tak bisa menahannya, Sakura. Aku merindukanmu."

—sekarang ia tahu kenapa Sasuke meminta setengah jam dari jadwalnya dikosongkan.

.

.

.

.

2 minggu kemudian.

Sakura cukup yakin bahwa ia sudah melewati masanya. Meskipun cukup sulit membuat seorang wanita hamil dalam sekali percobaan, setidaknya ia berharap banyak karena ia melakukannya bersama Sasuke.

Uchiha— ia tahu seberapa bagus pria-pria dari keluarga tersebut. Ino bahkan dengan gilanya menyebut mereka sebagai dewa, lebih tepatnya dewa seks, melihat seperti apa rupa seseorang yang menyandang nama Uchiha di depannya.

Saat ini Sakura berada di toilet kantornya, dan mungkin sebentar lagi ia akan menjadi penghuni tetap toilet karena dalam dua minggu ini sering datang ke tempat itu. Ia berulang kali memastikan bahwa ia tak mengalami menstruasi.

Hari ini adalah kedua kalinya ia datang ke toilet, hanya saja kali ini ia datang memang membutuhkannya. Ia sudah menahannya selama lima menit dan pergi ke toilet untuk buang air kecil.

Dan saat itu juga, betapa terkejutnya saat ia melihat darah di celana dalamnya.

Menstruasi.

Ini pertama kalinya ia memandangi pakaian dalamnya sendiri. Wajahnya memanas, dan ia merasa mungkin seseorang di luar sana akan merasa heran jika melihatnya menangis hanya karena menstruasi.

Sakura segera meninggalkan toilet dan menyisiri kantor dengan pikiran kacau. Ia masuk ke dalam ruangan Sasuke, mengabaikan teriakan Karin yang melarangnya untuk masuk, dan menghampiri Sasuke yang sedang mengobrol dengan rekan kerjanya.

Sasuke cukup terkejut dengan kedatangan Sakura, ia pun meminta untuk menunda pertemuan dengan rekannya tadi dan membiarkan Sakura mengambil waktunya. Ia kembali terkejut saat Sakura baru saja menutup pintunya dengan sedikit keras.

Sasuke tak cukup siap saat Sakura yang tiba-tiba memeluknya. Bahu wanita itu bergetar, dan rasanya Sasuke sedikit canggung untuk balas memeluk Sakura, meskipun ia ingin membuatnya tenang. Saat ini Sakura terlihat begitu kacau.

Namun dengan instingnya, perlahan kedua tangannya terangkat dan menyentuh punggung Sakura. Sebelumnya ia tak pernah berpelukan seperti ini dengan seorang wanita, mengusap punggungnya, tapi saat ini ia benar-benar melakukannya!

"Sakura ...," Sasuke tak tahu apa yang harus ia ucapkan.

Sakura mengendurkan pelukannya hingga benar-benar terlepas. Ia baru menyadari bahwa saat ini bertingkah bodoh di depan Sasuke, mengganggu pekerjaannya dan bahkan dengan tanpa malu memeluknya seperti tadi.

"Maafkan aku," ujarnya dengan suara yang terdengar serak.

"Tak apa," jawab Sasuke kemudian membawa Sakura untuk duduk di sofa.

Sesaat Sasuke memandangi Sakura, membiarkan wanita untuk mengambil nafas dan mencoba menetralkannya.

"Sasuke, aku ... aku menstruasi." dan rasanya Sakura ingin menangis lagi saat mengatakannya.

Sasuke diam sesaat, kemudian berkata, "Apa terasa sakit? Aku akan menyuruh seseorang di ruang kesehatan untuk membawakanmu obat," ucapnya.

"Kau tak mengerti maksudnya?" Sakura menatap Sasuke tak percaya, sedangkan pria itu kembali diam. "Itu artinya aku tak hamil!" dan saat itu juga Sakura kembali menangis.

"Oh ... ya." dan Sasuke merasa seperti seorang anak laki-laki yang bodoh. "Tak apa, kita akan mencobanya lagi," katanya, kemudian menarik Sakura dan memeluknya.

.

.

.

.

Bersambung.

A/N

Buat yang minta Sasuke POV, yuchi kabulin ya xD dan makasih buat sarannya B Skypiea-senpai soal POV, dan maaf kalau di chapter ini masih mendadak pergantiannya ya:') di chapter 6 yuchi ga balesin ripyu dulu ya, soalnya ini update lewat hp, kalo jam segini on di pc suka ngadat :'D tapi percayalah yuchi selalu baca ripyu kalian dengan penuh perasaan dan penghayatan ;_; #alay #digampol

Makasih buat ripyu, follower, favorite, yuchi sayang kalian semua #tsaah xD sampai bertemu di chapter selanjutnya!

.

.

.

.

yuchida