Sudah hampir setengah jam dan Sakura masih menangis karena menstruasi yang dialaminya. Sasuke sebenarnya tak begitu mengerti mengapa Sakura harus menangis hanya karena menstruasi, meskipun ia tahu Sakura menangis karena hal tersebut membuatnya tak hamil. Hanya saja ia berpikir, setidaknya mereka masih bisa melakukannya lagi dan bahkan ia berjanji akan membuat Sakura hamil di percobaan kedua, namun hal tersebut tak lantas membuat Sakura berhenti menangis.
Apapun yang Sasuke ucapkan tak bisa membuat Sakura seperti bocah berusia lima tahun yang akan berhenti menangis setelah dibelikan permen kapas. Tentu saja, Sakura bukan anak berusia lima tahun. Lagipula Sakura menginginkan seorang bayi, bukan sebuah permen kapas.
"Bagaimana jika aku memang tak bisa hamil? Bagaimana jika aku mengidap sebuah penyakit kronis yang membuatku tak bisa hamil?"
Dan Sakura kembali menangis.
Sakura tak tahu bahwa Sasuke juga rasanya ingin menangis— menangis dengan kedua tangannya yang menjambak rambut dan tubuhnya yang berguling di lantai seperti seorang pria mabuk; tepatnya seperti pria gila karena kehilangan akal. Sasuke tak tahan menghabiskan setengah jam di dalam ruangannya hanya untuk melihat Sakura menangis.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Sasuke untuk menghubungi Itachi, mengadu pada kakak kesayangannya itu dan meminta solusi untuk menghadapi seorang wanita yang menangis karena menstruasi. Ia berpikir mungkin saja Hana pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Tapi ia juga berpikir, menelpon Itachi adalah hal terakhir yang akan ia lakukan saat ini. Ia belum siap untuk kembali diceramahi.
'Jadi sebenarnya kau berniat membuatnya hamil atau menangis, adikku tersayang?"
Sasuke bahkan rasanya dapat mendengar suara Itachi di telinganya, mengejeknya karena gagal— tidak, menyebut hal ini sebagai kegagalan sama saja mencoreng harga dirinya sebagai seorang Uchiha. Ia tidak gagal, ini hanya karena Sakura yang memang belum waktunya untuk hamil. Ya, Sasuke yakin karena itu.
"Sakura," panggil Sasuke seraya mengusap wajahnya kasar. Sakura mengadah saat Sasuke menyebut namanya, menatapnya dengan kedua mata yang basah dan memerah. Sasuke menghela nafas dan berkata, "Bisakah kau berhenti menangis?"
Kedua mata Sakura membulat mendengar pertanyaan Sasuke. Pria itu mungkin merasa terganggu dan muak dengan melodrama dadakan yang baru saja ia tampilkan. Tentu saja, ia mengambil waktu Sasuke dan dengan seenaknya memakai pundak pria itu untuk tempat menangis. Wanita sialan mana yang berani melakukannya?
Sakura segera melepaskan pelukannya, dan untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam. Saling menatap dan tak berbicara sedikitpun.
Ketika Sakura akan membuka mulut untuk lebih dulu berbicara, tiba-tiba Sasuke membuatnya harus menggeser duduknya karena pria itu yang mendekatkan wajahnya. Dan saat Sasuke melingkarkan tangan di pinggangnya dengan badan yang membungkuk dan wajahnya tepat berada di depan perutnya, Sakura merasa rona merah menjalar di sekitar wajahnya.
"Sakura," gumam Sasuke, ia memegang perut Sakura dan mengusapnya pelan. "aku bisa mendengarnya, ini terdengar seperti tendangan kuat seorang pemain sepak bola. Apa ia akan menjadi pemain sepak bola?" sesaat Sasuke mengadah menatap Sakura, wajahnya terlihat serius dengan satu alisnya yang terangkat.
Sontak ucapan Sasuke membuat rona merah di wajah Sakura semakin menjadi. Sasuke bertingkah seolah sedang mencoba merasakan kehadiran bayinya dengan menempelkan telinganya pada perut Sakura. Hal tersebut membuat Sakura merasakan sensasi menggelitik di dalam perutnya.
Tubuh Sakura entah mengapa seperti berhenti bergerak, seakan merespon apa yang dilakukan Sasuke dengan diam seperti anak manis. Lebih tepatnya seperti seorang wanita hamil yang membiarkan prianya mendengar keberadaan calon anaknya.
Oh, ini gila.
"Mungkin tendangan ini adalah bentuk protes karena calon ibunya yang menangis seperti big baby.Ia lebih suka calon ibunya yang garang seperti biasa, seperti seorang monster. Oh, kupikir aku setuju." Sasuke menganggukan kepalanya, mengiyakan ucapannya sendiri.
Sakura yang sedari tadi menggigit bibirnya tak bisa lagi menahan tawanya. "Oh, astaga." Sakura mengibaskan kedua tangannya di depan wajahnya yang memerah. Ia tiba-tiba merasa kepanasan.
Sasuke yang melihat hal tersebut pun menyeringai. Meskipun kedua mata Sakura kini terlihat sembab dengan wajah yang memerah padam, setidaknya Sasuke merasa lega karena Sakura masih bisa kembali tertawa.
Jika sebelumnya ia merasa jengah setiap kali melihat Itachi yang berkata 'Oh, anak ayah yang tampan baru saja menendang!' di depan perut Hana, kali ini ia ingin berterima kasih pada kebiasaan kakaknya tersebut. Setidaknya ia tahu bagaimana cara membuat Sakura berhenti menangis.
"Lihat, siapa yang baru saja tertawa?" Sasuke bersandar dengan kedua tangan yang terlipat di dada, menatap Sakura dengan seringai khasnya.
"Kau ... menjengkelkan," cibir Sakura, kemudian tersenyum geli.
"Mungkin itu salah satu kekuranganku," ujar Sasuke yang justru terdengar sombong. "karena kupikir menjadi pria yang terlalu sempurna itu tak terlalu baik untuk wanita."
"Terserah apa katamu, tuan hampir sempurna." Sakura memutar kedua matanya, tak habis pikir dengan apa yang baru saja diucapkan Sasuke.
"Tidak ada ucapan terima kasih karena sudah menghiburmu?" Sasuke mengambil selembar tissue di hadapannya dan memberikannya pada Sakura.
Sakura memakai tissue yang diberikan Sasuke untuk mengelap air yang menggenang di pelupuk matanya. Ia mengulum senyumnya dan berkata, "Tidak ada, kau justru membuatku semakin ingin menangis," ujarnya berbohong.
"Menangis tak akan membuatmu hamil. Hanya aku yang bisa membuatmu hamil."
"Nyatanya kau belum berhasil membuatku hamil." Sakura menatap sinis seperti biasa.
"Sialan, Sakura, aku tersinggung," ujar Sasuke yang kembali memancing tawa Sakura.
.
.
.
SasuSaku fanfic by yuchida
Inspired : The Proposition © Kate Ashley
All Character © Masashi Kishimoto
Warning : Mature, Mild Language, AU, typo(s), OOC
.
.
.
"Cepat katakan apa keperluanmu. Waktuku tak banyak."
Sasori mendengus geli saat melihat Deidara yang melirik jam tangannya. Pria itu bersikap seperti seorang direktur di sebuah perusahaan besar, seseorang yang segala jadwalnya telah diatur, dan tentu saja Deidara bukan orang yang seperti itu. Deidara hanya akan sibuk di malam hari, mengurus Akatsuki; klub malam yang mereka dirikan tiga tahun yang lalu.
Akatsuki adalah klub malam yang mereka kelola sejak awal hubungan keduanya dimulai. Sebuah klub malam besar yang diperuntukan untuk para gay seperti mereka— oh, atau mungkin hanya dirinya?
"Aku keluar dari Akatsuki."
Namun sepertinya keterlibatan Sasori selama tiga tahun di dalam Akatsuki berakhir cukup sampai disini.
Deidara bungkam, wajahnya dengan jelas terlihat terkejut dan ia berpikir mungkin Sasori sudah gila. Pria itu benar-benar gila.
"Oh, Astaga." Deidara tertawa hambar seraya mengambil cangkir teh yang dipesannya beberapa menit lalu di kedai ini. Ia meminumnya dengan cepat. Rasanya ia tak tahu lagi harus bersikap seperti apa untuk menanggapi keputusan Sasori yang satu ini.
Sasori menarik nafas, ia tahu bahwa membicarakan hal ini sedikit lebih sulit dibanding saat ia mengakhiri hubungan mereka.
"Karena kupikir rasanya akan sedikit aneh saat harus bekerja bersama dengan mantan kekasihmu, Dei." Sasori mencoba berbicara pelan, berharap Deidara dapat menerima dengan baik apa yang ia ucapkan saat ini.
Deidara tersenyum pahit, ia cukup mengerti alasan mengapa Sasori memilih untuk lepas tangan. Memang, semenjak keduanya memutuskan untuk berpisah, Sasori sudah tak lagi menampakkan dirinya di Akatsuki. Selama Sasori tak menampakkan diri, Deidara banyak mendapat bantuan dari Kakuzu— salah seorang pegawai baru di Akatsuki, orang yang dipekerjakan khusus oleh Sasori untuk membantu Deidara mengatur segalanya, terutama pada bagian keuangan. Setidaknya, Sasori masih bertanggung jawab dengan membawa orang yang menggantikannya dan tak pergi begitu saja.
"Kau ... apa kau masih ingat kenapa kita mendirikan Akatsuki?" tanya Deidara pelan.
Kali ini Sasori diam, ucapan Deidara membuatnya teringat memori beberapa tahun yang lalu. Sasori tentu saja ingat mengapa ia dan Deidara yang notabene mahasiswa di jurusan seni justru akhirnya mendirikan sebuah industri malam dibanding menjadi seorang seniman.
Saat itu Deidara berkata, dibanding sebuah pekerjaan yang sesuai dengan gelar, mungkin akan lebih baik menjalani profesi yang sesuai dengan keadaannya. Dan Sasori tampaknya setuju dengan hal tersebut. Dengan mendirikan Akatsuki, ia akan bertemu dan berkenalan dengan banyak orang yang samaseperti dirinya.
Namun kini Sasori justru memutuskan untuk keluar dan menyerahkan Akatsuki sepenuhnya ke tangan Deidara.
"Sialan, bahkan si pinky itu sudah berhasil membuatmu menjadi pengangguran," cibir Deidara.
Entah mengapa Deidara berpikir mungkin Sasori akan menjadi seorang pria sejati dan segera menikahi Sakura. Sial, membayangkannya saja cukup membuat Deidara serasa sulit bahkan hanya untuk menelan ludahnya sendiri.
Sasori sama sekali tak menanggapi apa yang baru saja diucapkan Deidara, karena sesungguhnya apa yang diucapkan Deidara adalah benar.
Saat kemarin berkumpul di apartemen Sakura bersama Ino dan Sai, ia menceritakan semua apa yang akhir-akhir ini dipikirkannya, tentang keinginannya untuk menjadi seorang pria normal. Sakura adalah orang yang menyarankan Sasori untuk berhenti dari pekerjaannya, dan Sai berkata bahwa Sasori lebih baik melakukan hal-hal yang sesuai dengan kemampuannya dibanding mengurus Akatsuki.
Karena itu, Sasori mulai berpikir untuk melakukan apa yang seharusnya memang ia lakukan. Ia akan mewujudkan rumah seni impiannya, yang sebenarnya sudah terpikirkan sejak dulu namun tertunda karena Akatsuki. Setelah ini mungkin ia akan pergi ke Suna untuk bertemu Kankuro, salah satu teman lamanya yang sudah lebih dulu memiliki sebuah rumah seni dan beberapa kali melakukan pameran hasil karyanya. Ia akan memulainya dari awal dan belajar banyak hal dari pria itu.
"Semudah itu, Sasori?" ini adalah pertanyaan yang pernah Deidara ucapkan sebelumnya, saat Sasori berkata bahwa hubungan mereka berakhir, saat Sasori dengan mudahnya memutuskan untuk berpisah darinya.
Sasori memandang cangkir tehnya, diam dengan berbagai pemikiran yang terlintas di benaknya. Ia tahu bahwa Deidara saat ini menganggapnya dapat dengan mudah melupakan semuanya, melupakan pria berambut pirang itu beserta semua kenangan mereka selama tiga tahun.
"Sebenarnya tidak," jawab Sasori seraya menegakkan wajahnya, menatap Deidara dengan tatapan teduhnya. Ia tersenyum tipis dan kembali berkata, "setidaknya aku akan berusaha, Dei. Aku sudah memiliki tekad yang kuat."
Sasori bangkit dari tempatnya, menepuk pelan pundak Deidara sebelum ia memilih untuk pergi lebih dulu. Meninggalkan Deidara yang masih mematung di tempatnya.
.
.
.
.
"Tak apa, setidaknya kau sudah berusaha, Jidat." Ino mengerling genit, dan Sakura tahu apa maksud dari kata berusaha yang diucapkan sahabat gilanya tersebut.
Saat ini Sakura merasa lebih baik. Cukup mengejutkan karena Sasuke dapat membuatnya mendapatkan kembali mood baiknya. Ini bukan berarti bahwa Sakura baru saja memuji pria tersebut. Lagipula ia berpikir jika Sasuke memang harus melakukannya. Menghiburnya adalah bentuk dari pertanggungjawaban Sasuke karena gagal membuatnya hamil dalam sekali percobaan.
Pria itu memang pantas melakukannya!
"Aku berharap terlalu cepat." Sakura mendesah pelan, satu tangannya melingkar di pinggang Ino dengan kepala yang menyandar di pundaknya.
Sekitar beberapa menit keduanya sama-sama terdiam. Ino sendiri untuk saat ini tak bisa terlalu banyak berkomentar, bahkan hanya untuk menghibur Sakura dengan kata-kata gilanya pun rasanya akan sedikit sulit. Ia mengerti mengapa Sakura begitu terpukul saat mengetahui bahwa dirinya tak hamil.
Sebentar lagi pernikahan Yahiko, dan Ino tahu bahwa Sakura sangat berharap jika ia bisa datang ke pernikahan mantan tunangannya itu dengan berbangga hati karena dalam keadaan hamil. Meskipun kandungannya tak akan terlihat, setidaknya berjalan di hadapan Yahiko dengan status baru sebagai calon ibu akan membuat kepercayaan dirinya semakin meningkat.
Dan sayangnya Sakura tak bisa melakukan hal tersebut.
Karena itu, untuk yang satu ini, Ino akan berbicara dengan lebih berhati-hati. Sakura akan berjuta kali lebih sensitif saat disinggung soal kehamilan atau bahkan tentang Yahiko. Meskipun wanita itu selalu berkata bahwa ia baik-baik saja, nyatanya Sakura tak akan pernah berhasil menipu kepekaan seorang Yamanaka Ino.
Ino tampaknya sedikit bernafas lega saat melihat Sasori yang berjalan masuk dari pintu depan kedai makan siang yang saat ini mereka kunjungi. Ia melambaikan tangannya dan Sasori bergegas menghampiri.
"Lama menunggu?" tanya Sasori lalu duduk di hadapan kedua wanita tersebut.
Ini adalah salah satu ide Ino, meminta Sasori untuk bertemu di jam makan siang. Ia sudah memberi tahu Sasori soal Sakura yang hari ini menstruasi, dan ia berharap Sasori dapat sedikit memberi Sakura semangat.
Jika Sakura tahu, mungkin wanita itu akan tertawa keras karena untuk pertama kalinya ia dapat membuat kedua sahabatnya itu khawatir hanya karena ia yang sedang datang bulan. Atau mungkin lebih tepatnya tertawa keras selama lima detik, karena setelahnya wanita merah jambu itu akan kembali menampilkan melodrama-nya. Menangisi mentruasinya.
"Kau nyaris membuatku kelaparan," gurau Ino dengan cibiran khasnya.
"Maaf, aku harus bertemu Deidara terlebih dahulu," ujar Sasori menjelaskan.
Sakura yang mendengar nama Deidara disebut pun segera menegakkan tubuhnya. "Kau bertemu dengannya?"
Sasori mengangguk. "Ya, aku sudah mengatakan semua yang kita bicarakan kemarin padanya."
"Bagus, dengan begitu ia tak akan datang lagi ke kantor untuk bertemu denganku dan mengaku sebagai kembaranku," timpal Ino dengan menggebu.
Sakura terkekeh geli mendengar ocehan Ino. Ia menyikut pinggangnya dan tersenyum jahil. "Kau juga pirang, dan kau juga sama gilanya, Pig."
Sasori yang mendengar hal tersebut pun ikut tertawa. "Sudah kukatakan bahwa mereka berdua itu jodoh."
Ino mengerang tak jelas karena Sasori dan Sakura yang hari ini bekerja sama untuk menyerangnya. Ia berharap jika Sai tiba-tiba muncul di hadapannya, menjadi seorang pahlawan untuknya, dan dapat membantunya untuk membekap mulut kedua sahabatnya tersebut.
Sesaat ia melirik Sakura, dan wanita itu baru saja tertawa lepas karena lelucon konyol yang diceritakan Sasori tentang ia dan Deidara yang mungkin saja berjodoh. Masih tentang pembahasan yang sama. Namun akhirnya hal tersebut justru dapat membuat Ino diam-diam tersenyum. Setidaknya, ia dapat melihat kembali Haruno Sakura dengan tawa kerasnya.
.
.
.
.
Hari ini adalah pertama kalinya Sakura pulang lebih larut dari biasanya. Ini semua karena Sasuke, pria itu memaksanya untuk pulang bersama dan bahkan dengan sesuka hati mengurungnya di dalam ruangannya. Memaksa Sakura untuk duduk manis di sofa sedangkan Sasuke terus mendiamkannya karena sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Pria itu bahkan mungkin tak tahu jika Sakura selama dua jam nyaris mati kebosanan dan akhirnya sempat tertidur.
Sakura sempat memaki Sasuke yang membangunkannnya, dan ia sedikit malu saat menyadari bahwa ia tak sedang tidur di dalam kamarnya sendiri. Namun rasa malunya hanya beberapa saat hingga ia merasa jengkel saat sadar bahwa Sasuke berhasil menahannya di dalam kantor hingga pukul 9 malam.
Sekali lagi Sasuke memaksa Sakura, kali ini pria itu membuatnya harus meninggalkan mobilnya di kantor dan mereka pulang dengan menggunakan mobil Sasuke.
Sakura merasa ini lebih melelahkan dibanding saat ia harus lembur karena pekerjaannya yang menumpuk. Malam ini Sasuke berhasil menguras tenaga dan emosinya dalam bersamaan.
"Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya," ujar Sakura terdengar sedikit kesal.
Sasuke menahan tangan Sakura saat wanita itu akan melepas belt. "Ini tidak gratis. Aku meminta imbalan."
Kedua alis mata Sakura terangkat. Ia mendengus dan tangannya sudah siap untuk meninju wajah Sasuke saat ini juga.
"Kau yang memaksaku untuk pulang bersama, dan sekarang kau justru meminta imbalan? Apa ucapan terima kasih tidak cukup untuk membalas perbuatan muliamu ini, Uchiha-sama?"
Sasuke menyandarkan punggungnya. Kedua matanya menatap lurus ke depan, mengabaikan Sakura yang kini menatapnya dengan sinis.
"Besok, temani aku menghadiri sebuah acara," Sasuke berbicara dengan nada yang terdengar santai. Berbanding terbalik dengan reaksi Sakura yang kini kedua matanya membulat.
"Maaf, Sasuke, tapi yang kudengar kau adalah seorang playboy kelas kakap dan membawa seorang wanita ke sebuah acara adalah salah satu strategi untuk memikatnya. Dan kau harus tahu aku bukan salah satu dari wanita itu."
Sasuke mendengus geli mendengar ucapan Sakura. Wanita itu terdengar tak main-main dan berbicara dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Aku hanya tak pernah pergi sendiri ke sebuah acara sebelumnya."
"Oh, tentu saja, sekali lagi aku minta maaf karena aku tahu kau seorang playboy."
Dan Sasuke menahan tawanya.
"Kau tahu, Sakura, ini semua karenamu juga. Saat ini aku tak bisa dekat dengan wanita lain."
Sasuke sedikit mencondongkan tubuhnya, membuat Sakura dengan refleks memundurkan wajahnya hingga punggungnya menempel rapat dengan pintu mobil di sampingnya.
"Omong kosong," ujar Sakura dengan mata yang menatap waspada.
Sasuke menyeringai tipis. "Bagaimana bisa aku dekat dengan wanita lain saat aku dengan senang hati menunggu menstruasi sialanmu itu selesai?"
Sakura merasa wajahnya tiba-tiba memanas. Ia segera mendorong bahu Sasuke agar menjauh. Berdekatan telalu lama dengan Uchiha Sasuke sama sekali bukan hal yang bagus. Ia melirik Sasuke dan berkata, "Aku bahkan tak mendapat keuntungan apapun jika aku menemanimu."
Sasuke kembali menyandarkan punggungnya, kali ini ia menatap Sakura.
"Hamil dalam percobaan kedua. Aku berani menjamin."
"Wow, aku tak sabar untuk menantikannya." Sakura terdengar sedikit mengejek.
Sasuke hanya melempar tatapan jengahnya, kemudian berkata, "Aku tak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Besok, jam tujuh malam, aku pastikan kau sudah berada di dalam mobilku, Sakura. Duduk manis seperti sekarang."
.
.
.
.
Sasuke merasa tadi malam adalah hari keberuntungannya karena dapat dengan mudah membuat Sakura mengiyakan ucapannya. Sedangkan pagi ini Sasuke merasa ia akan mengawali hari yang buruk. Bagaimana tidak? Sasuke baru saja masuk ke dalam ruangannya dan ia sudah mendapati Itachi duduk manis di kursi kebesarannya. Tersenyum tak kalah manis saat melihat raut wajah Sasuke yang awalnya terlihat terkejut berubah menjadi muram.
"Selamat pagi!"
Itachi masih setida duduk di kursi Sasuke, menggerakkan kursinya ke kanan dan kiri seperti apa yang sering dilakukan seorang bocah laki-laki berusia lima tahun.
"Aku tak tahu kau sudah beralih profesi menjadi seorang pengganggu adiknya sendiri di pagi hari."
Itachi tertawa dan membiarkan Sasuke mengambil alih tempat yang memang seharusnya menjadi miliknya. Kali ini Itachi berpindah ke sebuah kursi yang terdapat di hadapan meja Sasuke.
"Itu pekerjaan sampinganku," ujar Itachi seraya menekan tombol dial di telepon yang berada di atas meja Sasuke. "Suruh seseorang membawakan dua gelas kopi ke ruanganmu."
Sasuke berdecak pelan, sebelum akhirnya ia melakukan apa yang Itachi suruh. Ingat, ia adalah seorang adik yang baik.
"Ada tujuan apa?" Sasuke menaruh gagang teleponnya di tempat semula.
Sasuke bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Ia juga tahu jika Itachi bukanlah orang yang akan dengan senang hati membuang waktu berharganya untuk sesuatu yang tak penting. Lagipula Itachi bukan seorang pengangguran dan ia tahu kakak lekakinya itu memiliki segudang urusan di kantornya.
"Bertemu calon adik iparku." Dan Itachi adalah seorang pria yang akan menjawab sebuah pertanyaan tanpa berbelit-belit. Ia menyeringai lebar, dan sontak saat itu juga Sasuke menatapnya tajam.
"Dia bukan seorang wanita yang sedang aku kencani, atau bahkan akan aku nikahi. Sakura hanya seorang wanita yang membutuhkanku untuk dihamili," jelas Sasuke, dan ia tahu Itachi tak akan semudah itu mengiyakan ucapannya. Mereka pernah membicarakan ini sebelumnya.
"Oh, ya, aku lupa namanya Sakura. Terima kasih sudah mengingatkan. Nama calon adik iparku sangat bagus, mungkin ia akan akrab dengan Hana yang memiliki arti bunga. Apa kita Uchiha bersaudara yang menyukai tanaman indah?"
Dan Sasuke baru saja merutuki dirinya sendiri. Ketika Itachi mengetahui seseorang hanya dari nama, maka itu bukanlah hal yang sulit untuk menemukan orang tersebut.
"Nii-san." dan saat ini Sasuke mati-matian menahan emosinya. Ia tak mungkin mengusir Itachi begitu saja dari ruangannya. "Sudah kukatakan, setelah aku menghamilinya maka semua akan selesai."
"Kau bahkan bukan seorang remaja. Sudah saatnya untuk berkomitmen, Sasuke." kali ini Itachi terdengar serius. Itachi akan selalu menjadi orang nomor satu yang mendukung Sasuke untuk segera berumah tangga.
Sasuke terlihat acuh. Ia sudah terbiasa dan menganggap ucapan Itachi yang terus menyuruhnya menikah adalah sebuah lagu lama dan sudah terlalu sering diputar. "Aku tak berniat untuk menikah." Sasuke membuka map kerjanya dan mulai terfokus pada lembaran di dalamnya.
"Masih mengharapkannya? Sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa menikahinya."
Dan saat itu juga Sasuke menghentikan gerakan tangannya. Itachi yang menyadari perubahan sikap Sasuke pun berdeham pelan. Ia tahu bahwa mengungkit masalah pribadi Sasuke adalah hal yang salah dan sedikit menyinggung adiknya tersebut.
Itachi sedikit tertolong saat seorang pegawai masuk dan membawakan dua cangkir kopi pesanannya, menaruhnya di atas meja.
Sasuke menutup mapnya dan memasukannya kembali ke dalam laci mejanya. "Aku mengizinkanmu meminum kopinya terlebih dahulu sebelum kembali bekerja."
"Sialan, apa ini termasuk pengusiran?" tanya Itachi pura-pura tersinggung sebelum ia meminum kopinya.
.
.
.
.
Malam ini Itachi bertekad akan membocorkan semuanya. Ia akan memberi tahu ayah dan ibunya tentang hal gila apa yang saat ini sedang dilakukan Sasuke. Ia sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya jika mereka tahu Sasuke akan melakukannya. Kedua orang tuanya pasti akan langsung meminta Sasuke untuk menikahi wanita itu!
Itachi bukanlah seseorang yang akan melakukan sesuatu tanpa ada alasan, ataupun hanya untuk sekedar kesenangan pribadinya. Itachi seorang kakak dan tentu saja ia menginginkan yang terbaik untuk adiknya. Ia akan menjadi orang pertama yang mencarikan wanita jika Sasuke berminat untuk segera menikah.
Setidaknya biarkan Sasuke jatuh cinta lagi.
Hanya saja Itachi berharap kedua orang tuanya tidak terkena sesak nafas ataupun serangan jantung mendadak saat ia membocorkan tentang rencana Sasuke yang akan menghamili seorang wanita.
"Ayah, Ibu," panggil Itachi saat ia menghampiri ruang tengah. Sebelumnya ia baru saja mengganti pakaian kerjanya dan membersihkan diri.
"Ya, ada apa, Itachi-kun?" Mikoto menjawab dengan suaranya yang lembut seperti biasa.
Itachi duduk di hadapan ayah dan ibunya. "Begini," dan sejujurnya Itachi tak tahu harus memulai dari mana.
Beberapa detik Itachi memilih diam, sedangkan kedua orang tuanya dengan jelas menunggu apa yang akan diucapkan putra sulung mereka tersebut.
"Itachi-kun!"
Dan baru saja Itachi membuka mulutnya berniat mengatakan sesuatu, suara Hana yang menjerit dari dalam kamar terdengar. Itachi tentu saja orang pertama yang bangkit dari duduknya dan berlari ke dalam kamarnya. Ia adalah suami yang siap siaga!
Kedua mata membelalak kaget melihat Hana yang kini duduk di lantai dengan memegangi perutnya. Wanita itu terlihat kesakitan dengan memegangi perutnya.
"Astaga! Cepat bawa Hana-chan ke rumah sakit!" pekik Mikoto saat melihat cairan yang menggenang di lantai. Itachi dibantu Fugaku dengan sigap membawa Hana ke dalam mobil dan mengemudikannya dengan cepat menuju rumah sakit.
Sudah dapat dipastikan Hana akan segera melahirkan.
Dan mungkin Sasuke harus berterima kasih pada keponakannya nanti karena sudah menyelamatkannya.
.
.
.
.
Sasuke menepati ucapannya kemarin, ia berhasil membuat Sakura berada di dalam mobilnya tepat pukul tujuh malam. Sebelumnya Sasuke menjemput Sakura di apartemennya, dan ia harus menunggu hampir dua jam karena wanita itu harus berdandan terlebih dahulu. Sasuke berpikir mungkin Sakura sedang membalaskan dendamnya.
"Kau tahu, Sasuke, aku sedikit mual."
Sasuke mendengus geli mendengar ucapan Sakura. Ia mengerti apa maksudnya, itu hanya bualan Sakura itu karena malam ini wanita merah jambu itu harus menemaninya ke sebuah acara pernikahan. Dan dari yang Sasuke masih ingat, Sakura benci pernikahan.
"Dan kau tahu, Sakura, ini sedikit lucu karena akupun merasakannya."
Sakura menoleh cepat. "Kau membencinya juga?" Sakura tak pernah tahu tentang yang satu itu, atau mungkin ia memang tak tahu banyak tentang Sasuke. Lagipula Sakura merasa ia memang tak perlu tahu apapun tentang Sasuke.
Sasuke mengangguk dengan mata yang terfokus pada jalanan. "Ya, hanya saja ini adalah pernikahan penting. Maksudku, kehadiranku sebagai salah satu bentuk persetujuan kerja sama."
Sakura mengangguk. "Oh, berhubungan dengan kontrak kerja? Kalau begitu lakukan dengan cepat sebelum aku muntah seperti orang mabuk di pernikahan orang lain." gurau Sakura.
Hampir satu jam dalam perjalanan dan mereka pun sampai di tempat tujuan. Sasuke malam ini bersikap gentleman dengan turun lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Sakura. Namun Sakura sama sekali tak tersentuh dengan perlakuan Sasuke, ia tahu pria itu sedang mencari perhatian agar telihat keren.
"Oh, apa lagi?" Tanya Sakura saat Sasuke hanya diam di sampingnya.
Sasuke melirik lengannya sendiri dan berkata, "Aku tak terbiasa datang ke sebuah acara dengan lengan yang terasa kosong."
Sakura memutar matanya malas. "Dan aku bukan salah satu wanitamu, Sasuke," Sakura menekankan. "tapi ini demi janji kehamilan di percobaan kedua," sambung Sakura dengan pipi yang sedikit bersemu.
Sasuke menyeringai, kemudian berbisik, "Dengan senang hati akan kutepati, Sakura."
Saat keduanya melangkah memasuki aula, mereka berhasil mencuri banyak perhatian para tamu undangan. Sasuke terlihat tampan dan gagah dalam balutan jas hitam semi formal yang menyempurnakan penampilannya malam ini. Sedangkan Sakura berjalan di samping Sasuke dalam balutan gaun merah, membungkus ketat hingga menampilkan lekukan tubuh rampingnya yang indah. Rambutnya tergulung rapi.
"Ada apa?" Tanya Sasuke saat merasa Sakura yang memperlambat langkahnya. Sasuke bahkan dapat melihat raut wajah Sakura yang tiba-tiba berubah. Ini berbeda dengan Sakura si wanita keras kepala dengan sejuta ekspresi menyebalkannya beberapa menit yang lalu.
"Tidak, hanya saja … maksudku …." Sakura bergumam tak jelas.
Sakura menatap sekeliling, dan entah mengapa ia merasa tak asing dengan beberapa tamu yang kini juga menatapnya. Ia tahu bahwa itu bukanlah lagi tatapan mata yang memuja seperti sebelumnya, melainkan mirip seperti tatapan penuh rasa terkejut karena menyadari bahwa wanita dalam balutan gaun merah yang baru saja mereka pandangi adalah Haruno Sakura.
"Kau … apa kau benar-benar akan muntah?" Sasuke sedikit khawatir jika lelucon Sakura tentang rasa mualnya karena harus datang ke pesta pernikahan akan menjadi nyata. Terlebih wajah wanita itu berubah pucat pasi.
"Haruno … Sakura?"
Baik Sasuke maupun Sakura secara bersamaan menoleh, mencari sumber suara dan menemukan seorang pria berambut merah yang berjalan mendekat dari arah melakang.
Dan saat itu juga kedua mata Sakura membulat menyadari siapa pria yang baru saja menyebut namanya. Ia bahkan kini bisa merasakannya, jantung sialannya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan ia merasa tiba-tiba menjadi seorang idiot yang bahkan untuk menjawab pertanyaan yang lebih berupa saapaan saja rasanya tak bisa. Mulutnya terasa kaku.
"Ya, Sakura …" pria itu kembali mengulang ucapannya, hanya saja kali ini dengan sebuah senyuman di bibirnya.
Sasuke tak tahu siapa pria di hadapannya saat ini. Yang ia tahu, pertemuan Sakura dengan pria itu sepertinya bukanlah pertanda bagus. Pria itu mungkin saja bukan salah satu teman atau sekedar kenalan yang baik. Terlihat dari bagaimana cara pria itu tersenyum, Sasuke tahu bahwa ada sesuatu yang tak baik terjadi di antara keduanya.
Saat Sakura melihat siapa pria yang berdiri di hadapannya saat ini, ia merasa begitu bodoh karena tak bertanya sebelumnya pada Sasuke. Bertanya tentang pernikahan yang akan mereka datangi. Karena sebelumnya Sakura merasa itu tak terlalu penting. Namun saat ini mungkin berbeda.
"Katakan …," Sakura berbicara dengan mata yang masih menatap lekat pria berambut merah di hadapannya tersebut. "siapa … pernikahan siapa yang saat ini aku datangi?"
"Pernikahan Yahiko dan Konan," jawab Sasuke.
Dan ucapan Sasuke sukses membuat Sakura seakan merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia bahkan berpikir mungkin Sasuke akan pulang dengan seorang wanita yang sudah tak bernyawa. Sakura saat ini benar-benar berharap seseorang akan dengan senang hati membunuhnya.
"Cukup mengejutkan bisa bertemu denganmu disini. Maksudku, rasanya pasti akan sedikit sulit."
Sakura masih mematung di tempatnya. Menatap pria berambut merah itu dengan tatapan tak percaya.
"Oh, ya." Dan hanya itulah yang terdengar dari mulut Sakura.
Sasuke menunduk saat tangannya yang tiba-tiba digenggam erat oleh Sakura. Sasuke dapat merasakannya, Sakura menggenggm tangannya dengan sedikit bergetar.
"Maaf, bung, tapi kupikir kau menakutinya."
Tatapan pria itu sontak teralih pada Sasuke. "Oh, apa kau kekasihnya?"
"Ya!" justru Sakura lah yang menjawabnya, membuat Sasuke terkejut dan menoleh ke arah Sakura dan meminta penjelasan atas ucapannya barusan. Namn saat Sasuke merasa Sakura semakin mengenggeamnya erat, ia pun memilih diam.
"Astaga, Sakura," pria itu tampak terkejut, hanya saja raut wajahnya sarat akan kebahagiaan.
"Uchiha Sasuke, kekasihku," Sakura mengisyaratkan Sasuke untuk menjulurkan tangannya, dan tanpa terduga Sasuke melakukannya. Pria itu ikut dalam permainannya. "Sasuke, ini Uzumaki Nagato … temanku."
Pria bernama Nagato itu dapat melihat senyum Sakura yang dipaksakan saat menyebut namanya. Bagaimanapun ia tahu, kehadirannya akan memberi dampak buruk terhadap Sakura. Kehadirannya akan membuat wanita itu kembali menggali luka lamanya. Sejujurnya ia sangat merindukan Sakura.
Nagato menjabat tangan Sasuke sebagai perkenalan singkat mereka.
"Sakura, kau menjalani hidupmu dengan baik." Nagato menatap Sakura, tersenyum melihat betapa cantiknya wanita itu malam ini.
"Oh, tentu saja," jawab Sakura cepat. "Aku menjalani hidupku dengan baik. Aku hidup dengan bahagia. Tidak, maksudku aku hidup dengan sangat bahagia." dan Sakura tersenyum selebar mungkin. Bersusah payah menampilkan wajahnya yang terlihat sebahagia mungkin.
Sasuke yang melihat hal tersebut hanya mendengus. Wanita itu benar-benar berbakat sebagai aktris yang memainkan peran di sebuah film dengan genre drama menyedihkan. Sakura mampu mengendalikan emosinya dengan cepat, padahal ia tahu bagaimana Sakura yang sebelumnya sangat terkejut dan mungkin akan pingsan di tempat hanya karena bertemu dengan pria bernama Nagato itu.
Sakura dan Nagato terjebak dalam percakapan yang sedikit terasa canggung. Sekedar menanyakan kabar karena keduanya yang sudah lama tak bertemu— sekitar hampir dua tahun. Tentu saja, saat ia tak lagi menjadi tunangan Yahiko, ia pun memutuskan untuk tak bertemu dengan orang-orang yang akan mengingatkannya pada mantan tunangan brengseknya itu, yang sialnya hari ini menikah dan Sakura dengan segala keberuntungannya kini datang menghadirinya bersama Sasuke.
Dan tentang Sasuke, pria itu mungkin akan mengejeknya habis-habisan karena ia dengan bodohnya mengaku sebagai kekasih Sasuke. Sialan bodoh.
Nagato adalah orang yang berperan penting dalam hubungannya bersama Yahiko dulu. Pria itu adalah sahabat dekat Yahiko, termasuk Konan. Nagato adalah orang yang memiliki ide untuk menjodohkannya dengan Yahiko, dan ia berhasil.
Semua berjalan mulus sebelum Yahiko dan Sakura yang semasa kuliah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Ataupun saat keduanya lulus, Sakura pindah dari Suna dan menetap di Konoha (yang ditemani Sasori dan tanpa sengaja bertemu Ino yaitu teman semasa sekolahnya) karena ia bekerja disana, sedangkan Yahiko kembali ke tanah kelahirannya di Ame untuk meneruskan perusahaan keluarganya bersama Nagato dan Konan yang membantunya.
Dan entah sejak kapan, Yahiko diam-diam menjalin hubungan dengan Konan, dan Nagato yang mengetahui hal itu pun tak memberi tahu Sakura karena posisinya sebagai sahabat Yahiko, Konan, maupun Sakura. Karena itu, Nagato berpikir mungkin Sakura akan membencinya. Namun saat ini ia bersyukur karena wanita itu masih mau bertatap muka dengannya.
"Sasuke, kupikir kita harus pergi." Sakura tersenyum manis ke arah Sasuke. "Kau tak ingin melihatku muntah di pesta mantan tunanganku sendiri, kan?" bisik Sakura tepat di telinga Sasuke.
"Sakura," Sasuke mencoba menyela, namun saat melihat Sakura yang memberinya tatapan memohon, akhirnya ia pun hanya menurutinya. "Ya, terserah katamu," ujar Sasuke yang menghasilkan delikan tajam Sakura.
Sekali lagi Sakura tersenyum manis, kali ini ke arah Nagato. Meskipun pria itu tahu bahwa itu hanya senyum palsu, namun ia tetap membalasnya.
"Nagato."
Dan baru saja Sakura akan membalikkan badan, tubuhnya kembali menegang saat mendengar suara yang begitu dikenalnya. Suara … yang sebenarnya begitu dirindukannya, dan juga suara dari seorang pria yang ingin ia bunuh secara bersamaan.
"Konan mencarimu. Istriku terus menanyakanmu, bahkan disaat kami sibuk bertemu dengan para tamu. Kupikir ia ingin memastikan pria kesepian ini tak tertelan di antara banyaknya manusia."
Nagato diam saat Yahiko yang kini berdiri di belakang Sasuke belum menyadari kehadiran Sakura.
"Nanti aku akan menemuinya," ujar Nagato pelan seraya memperhatikan Sakura. Nagato tak bisa menangkap dengan jelas bagaimana ekspresi Sakura saat ini karena wanita itu memalingkan wajahnya.
Sasuke menoleh ke belakang, tersenyum melihat Yahiko yang kedua matanya membulat melihat kehadirannya.
"Uchiha Sasuke," ujar Yahiko. "nikmati pestanya, bung, kau adalah tamu kehormatanku." Sambungnya dengan seringai tipis di bibirnya.
"Tentu, tentu saja aku akan menikmatinya."
Sasuke berjalan mendekat. Ia menyeringai, membuka jasnya kemudian melipat lengan kemejanya dan—
Brak!
—Yahiko terlempar ke belakang dan menabrak sebuah meja karena Sasuke baru saja memukulnya, tepat di wajahnya.
"Aku sangat menikmatinya saat aku memukul wajahmu, brengsek."
Para tamu menjerit mendengar kegaduhan yang berasal dari sang pengantin pria yang baru saja dihajar oleh tamu kehormatannya. Sasuke menarik kerah tuxedo Yahiko dan kembali memberinya satu pukulan di rahangnya.
Sakura yang sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Sasuke pun segera menarik Sasuke untuk menjauh, sedangkan Nagato segera membantu Yahiko untuk berdiri dan tak lama Konan pun datang menghampiri suaminya yang wajahnya kini mendapat hiasan luka memar dan darah di sudut bibirnya. Dan saat itulah Yahiko baru bertatap muka dengan Sakura, dan Konan terkejut jika Yahiko ternyata benar-benar mengundang Sakura dan wanita itu pun datang.
"Sakura," gumam Yahiko seraya mengusap darah di sudut bibirnya.
Sakura tak sempat berkata apapun karena Sasuke yang langsung menarik tangannya untuk keluar.
.
.
.
.
Bersambung.
A/N
Waktu liburan nyantai-nyantai, pas udah masuk begadang mumpung ada sehari libur. Alhasil Yuchi pas ngecek ada typo atau ngga sambil kepala ngangguk ngangguk nahan ngantuk #terus jadi maafkan ya kalau masih ada typo x'D makasih buat ripyu kemarin, followers atau favorite. Rencananya chap ini mau bales ripyu tapi mata yuchi udah ga kuat;_; btw yuchi ngantuk mau tidur dulu ya, sampai ketemu di chap depan dan jangan lupa ripyu ya :3
