Hampir setengah jam sejak Sasuke memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya, memilih bahu kiri jalan yang lenggang sebagai tempat perhentian, dengan satu tiang lampu yang menjulang tinggi di depan menjadi satu-satunya penerangan yang ada di sana.

Waktu baru menunjukan pukul 8 malam namun hari itu sudah terasa begitu sunyi bagi Sasuke maupun Sakura. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing yang melayang jauh.

Sasuke menunduk dengan satu tangan yang meremas kemudi, wajahnya terlihat lusuh dengan kedua mata yang terpejam erat. Memikirkan kejadian di pesta pernikahan Yahiko tadi membuatnya pusing mendadak.

Sedangkan keadaan di sampingnya justru ternyata lebih kacau, Sakura dengan punggung lelahnya yang menyandar masih menatap kosong ke depan seperti menit-menit sebelumnya.

"Sudah?" itu suara Sasuke, menoleh ke arah Sakura dengan raut wajahnya yang serius.

Sakura di sampingnya meringis kecil, tahu jika Sasuke sedari tadi diam karena memberinya waktu untuk menangis. Memberinya sedikit ruang kosong untuk meringankan beban di hatinya. Sasuke bukan pria yang pandai memberi kata-kata motivasi, yang bisa ia lakukan hanya diam dan memberi Sakura waktu agar mencari ketenangannya sendiri.

Sakura sudah berjanji untuk tidak lagi menangis karena Yahiko namun malam ini ia kembali melakukannya, dan Sakura merasa gagal. Perasaan itu kembali datang, rasa sakit karena patah hati dan dikhianati. Sesuatu di dalam sana bergemuruh dan Sakura ingin secepatnya pulang agar dapat menangis semalaman seperti wanita gila.

Sakura mengambil sapu tangan yang Sasuke berikan untuknya, mengusap kedua pipinya yang basah. Saat ia menyadari berapa banyak air mata di wajahnya dan sudah berapa lama ia menangis, Sakura mulai khawatir jika ia akan berubah menjadi wanita buruk rupa karena make up yang menempel di wajahnya mulai luntur.

"Sialan, Sasuke." Sakura memasukan sapu tangan Sasuke ke dalam tasnya dan kembali melanjutkan; "Aku ingin mati."

Mendengar perkataan Sakura tadi membuat Sasuke tidak lagi berbicara apapun selain langsung menyalakan mesin mobilnya. Ketika Sasuke menginjak gas dan membawanya dalam kecepatan tinggi, Sakura merasa jantungnya langsung melompat keluar atau bahkan berhenti berdetak.

Diam-diam Sakura mulai berdoa dalam hati, jika Sasuke memang berniat mengabulkan keinginannya untuk mati maka ia berharap semoga Tuhan mengampuni segala dosanya dan mengizinkannya untuk masuk surga.

Tubuh Sakura terdorong ke depan dan hampir menabrak dashboard jika tidak terlindungi seat belt saat Sasuke menginjak rem secara mendadak. Sasuke masih tidak membuka suara dan inner dalam diri Sakura mulai riuh mengira-ngira perkataan yang mungkin salah ia ucapkan hingga membuat Uchiha Sasuke terlihat marah, bahkan sangat marah.

"Kau lihat ini, Sakura?"

Sasuke mengayunkan lengan dan memperlihatkan kepalan tangan kanannya. Sakura memperhatikan dengan mata meneliti, melihat memar dan goresan kecil di sana membuatnya berpikir sepertinya Sasuke tidak sengaja ikut memukul meja ketika ia menghajar Yahiko habis-habisan tadi.

"Astaga— Sasuke, kau terluka—"

"Tidak, bukan itu, Sakura. Maksudku, aku sudah memukulnya, aku melakukannya untukmu." Sasuke masih dengan rahangnya yang mengeras menahan emosi kini beralih menatap Sakura, "dan kau justru ingin mati? Baik, lupakan soal membuat bayi. Malam ini kita mati bersama."

Sakura tahu jika Sasuke tidak pernah main-main dengan ucapannya, sama seperti ketika pria itu berkata bahwa ia akan membantunya memiliki bayi maka artinya Sasuke memang akan melakukannya. Oleh karena itu, Sakura mulai panik mendengar ucapan Sasuke tadi dan khawatir pria itu benar-benar akan membantunya untuk mengakhiri hidup.

"Sasuke, tidak, maksudku— Uchiha Sasuke!"

Sakura memekik keras saat Sasuke kembali memegang kuat kemudi dan bersiap menginjak gas di kakinya. Sakura meraih satu tangan Sasuke dan menahannya dengan tubuh yang bergetar karena takut. Ia mati-matian menahan tangisnya, wajahnya kembali memerah dan ia menggigit bibirnya kuat di ujung sana.

"Tidak ... aku— aku tidak ingin mati ..." pada akhirnya Sakura kembali terisak dan terdengar parau, tangisnya pecah. "Aku ... aku hanya merasa putus asa, Sasuke. Tolong mengerti."

Sasuke tidak mengerti namun melihat keadaan Haruno Sakura yang kacau membuat sesuatu di dalam dirinya terasa ditekan kuat dan menimbulkan perasaan tidak nyaman yang sulit diartikan. Sakura yang terlihat lemah seperti ini membuat kedua tatapan Sasuke meredup.

Sasuke dapat melihatnya di sana, kedua mata Sakura yang menyiratkan sakit hati yang luar biasa.

Sasuke tahu, Sakura sangat terluka.

"Sakura,"

Intonasi Sasuke kini terdengar lebih rendah bahkan nyaris berbisik. Satu tangannya terulur lembut, dengan jemari yang mengusap pipi Sakura perlahan dan menghapus jejak basah di sana. Sakura diam dan untuk beberapa saat ia merasa seperti terhipnotis, tatapan dalam Sasuke seakan menghisapnya.

Kedua mata Sakura balik menatap Sasuke, hanya beberapa saat sampai ia memejamkan mata dan pandangannya menggelap dengan tubuh yang seakan dibawa melayang ketika Sasuke menciumnya.

Sebuah ciuman yang hati-hati dan penuh perasaan di bibirnya.

.

.

.

#SASUSAKU Fanfic by yuchida

Inspired : The Proposition by Kate Ashley

All Character © Masashi Kishimoto

Warning : Mature, Mild Language, AU, Typo(s), OOC .

.

.

Setelah selesai mengantar Sakura pulang, Sasuke baru sempat mengecek handphone dan mendapati puluhan panggilan tidak terjawab dari ayah, ibu, maupun Itachi secara bergantian. Ia baru mengetahui kabar mengenai Hana dan langsung pergi menuju rumah sakit setelah dua jam berlalu sejak terakhir kali keluarganya mencoba untuk menghubungi.

Sasuke sampai di rumah sakit setelah setengah jam berlalu. Sasuke dengan satu tangannya yang menenteng jas menghampiri resepsionis dan bertanya dimana letak ruangan khusus ibu dan anak, yang ternyata hanya beberapa langkah ke depan.

Sasuke mendapati kedua orang tuanya dan Itachi sedang sesekali berbincang sembari memperhatikan sesuatu di dalam ruangan dengan kaca yang membentang, ruangan berisi deretan bayi-bayi yang baru terlahir ke dunia dan kini sedang tertidur lelap. Ketiganya belum menyadari kehadiran Sasuke.

Itachi adalah orang yang pertama kali menyadari kehadiran Sasuke dan ia langsung membuang nafas lega. Sasuke sudah dimarahi oleh Fugaku di sambungan telepon karena baru memberi kabar dan ayahnya mungkin akan marah besar jika Sasuke tidak segera pergi menyusul ke rumah sakit.

Itachi yang memperhatikan Sasuke di hadapannya sedikit memiringkan kepala menyadari keadaan adiknya. Wajah yang lusuh, kemeja putih dengan bagian tangannya yang terlipat kusut, ditambah jas hitam yang terjinjing asal— bagi Itachi, adiknya terlihat berantakan seperti bocah berandal yang baru saja berkelahi.

"Sasuke-kun!"

Mikoto menghampiri dan langsung memberinya pelukan hangat, senang akhirnya Sasuke datang. Ia sempat khawatir jika suaminya akan semakin marah dan akhirnya mengamuk karena Sasuke tidak kunjung datang, namun sekarang ia sama leganya seperti Itachi.

Sasuke menerima sambutan ibunya dengan balas memeluk. Sasuke mendapati nyonya besar di rumahnya itu sedang tersenyum lebar, sepertinya Uchiha Mikoto sedang merasa menjadi wanita paling bahagia karena cucu pertamanya telah lahir. Mikoto memeluk Sasuke erat dan membagi rasa bahagia yang seakan meledak-ledak.

"Lihat, Lihat! Itu, yang di sana—"

Itachi hanya menggelengkan kepala dan mengulum senyum ketika Mikoto terlihat antusias dan menunjuk-nunjuk kaca di depannya, memberi tahu di mana letak bayi Itachi dan Hana berada. Kedua mata Mikoto terlihat berbinar cerah memandang gemas cucu pertamanya yang diketahui berjenis kelamin laki-laki.

"Aku akan kembali ke kamar, menemani Hana."

Itachi menepuk pundak Sasuke dan memilih pergi menemui istrinya yang sedang tertidur karena memang membutuhkan istirahat pasca melahirkan. Sasuke mengangguk singkat sebagai respon dan ia kembali memperhatikan ke depan, pandangannya menjelajah dan memperhatikan satu-persatu bayi di dalam ruangan.

Mikoto merangkul lengan kanan Sasuke, menyandarkan kepalanya di sana dan ia baru sadar jika ternyata putra bungsunya itu sudah sejak lama tumbuh menjadi pria dewasa karena memiliki tinggi tubuh yang menjulang. Sama seperti Fugaku maupun Itachi.

Sasuke merasakan tepukan pelan di lengannya secara berulang sebelum ia mendengar Mikoto membuka obrolan ringan. "Sasuke-kun sekarang sudah punya keponakan, ya?" Begitu katanya, masih dengan senyuman lebar hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit. Senyuman yang selalu terlihat cantik seperti biasanya.

"Keponakanmu laki-laki, jagoan baru milik Uchiha."

Itu suara ayahnya, berdiri di sisi kiri Sasuke dengan kedua tangannya yang menyilang di dada seperti biasa dengan senyuman yang tercetak di bibirnya. Sasuke sejak awal tidak memiliki keberanian untuk menyapa ayahnya, namun melihat senyuman lebar yang bahkan sepertinya tidak pernah ia lihat dalam hidupnya itu membuat Sasuke sedikit lega. Ayahnya sudah tidak marah.

Mungkin Sasuke yang terlalu acuh dan tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, namun ia baru tahu dengan kehadiran anggota baru di keluarganya mampu membuat Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto terlihat seperti pasangan baru yang berbahagia.

"Selamat, ya. Sekarang Sasuke-kun sudah menjadi paman, lho!"

Ucapan Mikoto seketika membuat Sasuke tersentak tanpa alasan. Ibunya baru saja memberi selamat karena ia baru saja memiliki keponakan dan menjadi seorang paman, namun Sasuke jusru menangkapnya dengan kesan yang berbeda di sana.

Ia merasa seperti ada sesuatu yang lain.

Ketika Sasuke berdiri di depan ruangan yang memperlihatkan bayi-bayi yang tertidur lelap di masing-masing ranjang kecilnya, dengan kedua orang tuanya di tiap sisinya, ditambah ucapan selamat yang baru saja ia dapatkan ... rasanya justru seperti ia baru saja menjadi seorang ayah, bukan seorang paman.

Seketika ia teringat akan Sakura.

"Ya ... seorang paman." Sasuke bergumam kecil dan sesuatu yang terasa hangat seakan mengalir menggelitik di dalam dadanya, membuatnya tanpa sadar diam-diam ikut mengulum senyum.

Jadi ... seperti ini rasanya?

.

.

.

Sakura membuka kelopak matanya yang terasa berat. Pandangannya menyipit kala sinar matahari langsung menyambutnya. Sakura bergumam pelan saat angin dingin di pagi hari masuk melalui jendela besarnya yang terbuka lebar. Membuat pundaknya yang terbuka menggigil dan—

Tunggu, Sakura baru menyadari sesuatu.

Ia masih dalam balutan gaun pestanya.

"Lihat, siapa yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya."

Manik hijaunya menyelisik, mendapati Ino dengan sebelah bahunya yang bersandar di ambang pintu kamar. Ino terlihat segar di pagi hari, sedangkan Sakura merasa dirinya seperti tidak mandi selama satu minggu.

"Coffee, double shot, less sugar." Ino tersenyum simpul dan satu paper cup coffee berpindah tempat ke tangan Sakura.

Sakura mulai menyesapnya perlahan, menghirup aromanya dan merasakan sensasi hangat yang mulai menjalar dan sedikit menghangatkan tubuhnya. Sakura sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah memberikan Yamanaka Ino kepadanya secara suka rela.

"Ino, bagaimana bisa?"

Sakura menantikan penjelasan dari Ino yang mungkin tahu tentang bagaimana ia bisa tertidur memakai gaun pesta, tentang bagaimana ia bisa tertidur masih dengan riasan wajah, dan tentang bagaimana ia bisa tiba-tiba ada di dalam apartementnya setelah semalam—

"Sasuke—"

"Ya, benar, boss kita yang melakukannya." Satu jentikan di tangan Ino memotong cepat pembicaraan. "Dibanding membangunkanmu, ia lebih memilih untuk membawamu dalam gendongannya seperti pengantinnya, Sakura. Ternyata wanitaku diperlakukan dengan baik."

Ino bercerita dengan antusias sedangkan Sakura justru terlihat frustrasi dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Sakura membayangkan betapa repotnya Sasuke karena ia yang pada akhirnya tertidur setelah menangis selama setengah jam di dalam mobilnya dan hampir membuat pria itu menghancurkan mobilnya sendiri karena Sakura membuatnya emosi.

"Ino, dia tidak menghubungiku." Sakura meringis ketika mengecek handphone-nya dan tidak ada satupun pesan singkat maupun panggilan telepon dari Sasuke. Sakura mulai khawatir jika ia membuat Sasuke muak sehingga pria itu tidak mau menghubunginya.

"Hubungi dia."

"Apa aku harus melakukannya? Menghubunginya lebih dulu?"

Ino menggelengkan kepala dengan raut wajah yang terlihat dramatis. "Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi seorang pecundang. Lakukan, Sakura."

Sakura mengangguk cepat seperti seoarang murid yang patuh pada guru besarnya dan langsung menghubungi Sasuke saat itu juga. Hari ini adalah hari libur, jadi Sakura berpikir bahwa sepertinya Sasuke akan lebih mudah dihubungi karena ia memiliki waktu luang.

Sasuke jarang mengangkat panggilan telepon Sakura, karena biasanya Sasuke lah yang lebih dulu menghubungi Sakura dan pria itu akan terus menghubunginya berulang kali jika Sakura tidak segera mengangkatnya. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk sebaliknya.

Tanpa sadar Sakura menggigit kuku jarinya, resah menunggu Sasuke yang tak kunjung mengangkat panggilan panggilannya. Sakura menyerah setelah percobaan kedua untuk menghubungi Sasuke namun tidak kunjung mendapat jawaban.

"Kemarin aku datang ke apartementmu. Aku berencana untuk menginap dan menghabiskan malam gila denganmu, seperti biasa." Ino mulai bercerita, duduk di hadapan Sakura dengan satu kotak make up yang kini ikut berada di atas kasur.

"Sial, kita melewatkannya." Sakura benar-benar kecewa dengan ujung bibir yang menekuk sedih. Bercerita mengenai pria panas sambil menghabiskan beberapa cemilan dan minuman soda memiliki makna malam gila bagi Sakura maupun Ino.

Ino menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan cerita, satu tangannya mengusap wajah Sakura dengan make up remover. Sakura menikmatinya, memejamkan mata dan membiarkan wajahnya berada di bawah kuasa Ino.

"Tidak masalah jika pada akhirnya yang kutemui justru Uchiha Sasuke yang menggendongmu di dadanya dan diam berdiri di depan pintu. Sasuke tidak banyak bicara namun aku tahu, Ia sedang bingung karena tidak tahu password pintu apartementmu."

Tanpa sadar Sakura mengulum senyum, nyaris tertawa geli membayangkan bagaimana wajah Sasuke yang mungkin saja terlihat bodoh karena tidak tahu bagaimana caranya masuk ke dalam.

Sekalipun terlihat bodoh, tapi Sakura yakin jika pria itu tetap terlihat tampan.

Dan Sakura langsung merutuki dirinya, menyadari ia yang baru saja memuji Sasuke, pria menyebalkan nomor dua yang ada di dalam hidupnya.

Ingat, nomor satu masih dipegang oleh Deidara.

"Lalu kau yang membuka pintunya?"

"Tentu saja. Sebagai ucapan terima kasih, kami menghabiskan malam bersama. Pada akhirnya aku justru menghabiskan malam gila bersama Uchiha Sasuke." Ino mengedipkan sebelah matanya menggoda kemudian tertawa keras saat Sakura memukulnya dengan bantal. "Aku bergurau! Uchiha Sasuke memang panas namun hatiku sudah dimiliki sepenuhnya oleh Sai."

Sakura bergidik ngeri mendengar perkataan Ino. Ia baru menyadari satu hal, sepertinya sahabatnya itu sudah berubah menjadi budak cinta yang gila.

"Aku memutuskan untuk kembali ke rumah, meninggalkanmu dengan Sasuke. Karena kupikir kalian berdua tidak ingin diganggu."

Ino selesai dengan tugasnya, turun dari kasur dan menaruh kembali kotak make up milik Sakura di atas meja rias.

Sakura sesaat terdiam, memandangi gaun pestanya yang kusut dan bertanya-tanya bagaimana ia yang terus tertidur bahkan ketika Sasuke masih bersamanya. Rupanya menangis karena Yahiko mampu menguras energinya hingga tertidur pulas.

Bicara mengenai Yahiko, Ino belum mengetahui apa yang terjadi padanya kemarin malam. Sakura sadar jika sebenarnya banyak yang ingin Ino tanyakan, namun wanita itu lebih memilih menunggu Sakura membuka lebih dulu apa yang sekiranya memang ingin ia beri tahu.

"Ino," Sakura menghentikan langkah Ino yang sudah berada di ambang pintu kamar.

Ino menoleh dengan raut wajah yang penasaran karena beberapa saat Sakura seakan menggantungkan ucapannya. "Katakan." Pintanya dengan raut wajah yang menanti.

"Kemarin ... aku bertemu dengan Yahiko, di pesta pernikahannya."

"Oh— Astaga ... Sialan, Sakura."

Ino kembali menghampiri Sakura dan langsung memeluknya erat, seakan tak akan pernah melepaskannya lagi. Mengusap punggungnya pelan dan memberi tepukan-tepukan ringan disana, seolah berkata semua akan baik-baik saja.

Sakura terkekeh pelan ketika Ino meraih tangannya, menggengamnya disana. "Hentikan, Ino. Kau memperlakukanku seperti wanita yang hampir menemui ajalnya."

"Dan kenyataannya memang begitu, Sakura. Katakan, setidaknya katakan padaku bahwa kau sudah menampar wajahnya, tamparan yang sangat keras." Ino berganti mencengkram kedua bahu Sakura dan memberikan tatapan membara.

"Aku tidak melakukannya, tapi Sasuke memukul wajah Yahiko hingga membuat kekacauan di sana."

Ino langsung menutup mulutnya yang menganga. "Astaga, ini gila. Pria Uchiha memang gila, ternyata rumor itu benar adanya." Ino masih dengan rasa terkejutnya yang berhasil membuatnya setengah kehilangan nyawa.

"Ya, dia memang gila. Karena itu, sepertinya aku tidak bisa kabur begitu saja setelah menghancurkan pesta pernikahan orang lain," Sakura menghela napas sesaat. "Sekalipun ia adalah mantan tunanganku yang brengsek. Ino, kupikir aku harus bertemu dengan Yahiko."

"Tidak, Sakura. Tidak." Ino menatapnya tajam kemudian kembali berkata, "tidak jika tanpaku."

Sakura menyeringai kecil saat Ino bangkit dari kasur, lari terburu-buru membawa handuk dan melemparkannya pada Sakura, memintanya untuk segera mandi dan bergegas. Ino berkata bahwa Sakura masih harus bertempur.

"Kau tahu, Ino? Jika Sasuke adalah satu-satunya pria gila di dalam hidupku, maka kau adalah versi wanitanya. Satu-satunya wanita gila yang paling kucintai."

"Terima kasih Sakura, tapi aku sudah tahu itu bahkan sejak kita berdua masih berbentuk embrio. Karena itu kita harus segera menikah, Sakura."

Sakura tertawa keras mendapat lamaran kesekian kalinya dari Ino, dan mungkin ia akan mempertimbangkan untuk menjadi kekasih simpanan Ino saja seumur hidupnya.

Sakura masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Ino mulai sibuk membongkar lemari pakaian Sakura, memilih outfit terbaik yang hari ini harus Sakura pakai. Ino bahkan sudah berencana akan membawa Sakura pergi ke salon terbaik di kota ini, Sakura harus mempersiapkan segalanya.

Karena Ino tahu, pria yang akan kembali Sakura hadapi bukanlah pria biasa.

Sakura harus kembali menghadapi Yahiko, cinta pertamanya. Pria pertama yang menjadi kekasihnya, dan juga satu-satunya yang paling menghancurkan hatinya.

.

.

.

"Sasuke, bangun."

Butuh beberapa kali tepukan di bahu hingga akhirnya Itachi berhasil membangunkan Sasuke. Sasuke terlihat lusuh, semalam pria itu memilih untuk tidur di kursi panjang yang terletak di koridor rumah sakit dibanding pulang ke apartementnya. Ia terlalu malas dan lelah jika harus kembali menyetir dan menempuh perjalanan yang cukup jauh.

"Terima kasih, nee-chan." Sasuke masih dengan matanya yang menyipit menahan kantuk ketika Itachi memberinya satu botol air mineral. Meminumnya hingga menyisakan setengah botol.

"Sudah kukatakan, kau seharusnya tidur di dalam bersamaku. Di atas sofa yang empuk dibanding di kursi kayu seperti ini, bodoh." Itachi mulai mengomel saat melijat Sasuke melakukan peregangan tangan, mengira pria itu mungkin kesakitan.

"Kau pikir tubuhku masih setinggi anak sekolah dasar?" Sasuke mencopot satu kaitan kancing teratas kemejanya. Ia merasa kusut dan benar-benar membutuhkan kamar mandi untuk membersihkan diri.

Itachi tertawa pelan, sadar jika Sasuke mungkin terlalu malu untuk tidur dengannya seperti yang dulu biasa mereka lakukan ketika masih duduk di bangku sekolah. Ia ingat, Sasuke yang dulu seperti tidak bisa jauh dengan Itachi. Seperti anak itik yang selalu membuntuti induknya.

"Benar, sekarang kau sudah dewasa." Itachi mengusap rambut Sasuke perlahan, tersenyum saat melihat wajah masam Sasuke karena menolak diperlakukan seperti anak kecil dan langsung menepis tangannya. "Kau bahkan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang ayah juga, eh?"

Raut wajah Sasuke berubah kesal, dalam hati ia merutuki Deidara dan mungkin akan dengan senang hati membantu Sakura jika wanita itu berniat untuk membunuhnya.

Sasuke menunduk dengan kedua tangan yang meremas rambutnya, sesekali mengacaknya asal sebagai pelampiasan kegusarannya. Jika Itachi sudah tahu, maka hanya dalam hitungan jam sampai kedua orang tuanya pun ikut mengetahuinya.

"Ikut aku, Sasuke."

Sasuke mendongkak ketika Itachi sudah berada di hadapannya, berdiri menjulang dan menatapnya datar. Tanpa sadar Sasuke menelan ludah, Itachi kini terlihat menyeramkan.

Dalam hati Sasuke memohon, semoga kedua orang tuanya diberi umur panjang jika Itachi berniat membawanya bertemu, seperti apa yang saat ini ia pikirkan. Ia hanya berharap kedua orang tuanya tidak mendadak terkena serangan jantung.

Kakinya terasa berat melangkah namun Sasuke memilih untuk menjadi adik yang baik, menuruti permintaan Itachi. Karena ia tahu, sekalipun ia harus bersujud dan menangis meminta agar Itachi tidak membocorkan rencananya dengan Sakura untuk membuat bayi, kakaknya itu akan tetap melakukannya.

Itachi selalu merasa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar, dan fakta tersebut terkadang membuat Sasuke kesal setengah mati.

Itachi lebih dahulu masuk ke dalam ruangan tempat Hana dirawat, Sasuke di belakangnya membututi dengan hati yang pasrah. Setidaknya ia sudah menyiapkan mental dan beberapa sanggahan jika pada akhirnya harus kembali mendapat omelan dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya, maha penguasa tuan Uchiha Fugaku yang begitu Sasuke takuti.

Sasuke mungkin bisa berulah di luar sana, namun selain Itachi, Uchiha Fugaku adalah kelemahannya.

"Selamat pagi, Sasuke-kun."

Sasuke sedikit kebingungan saat mendapati hanya Hana yang berada di dalam kamar. Hana tidak sendirian, ia bersama bayi yang menjadi jagoan pertamanya, berada dalam gendongannya dan tertidur lelap.

"Selamat pagi, Hana-nee." Sasuke masih bertanya-tanya namun ia memilih untuk bersikap sesantai mungkin. "Bagaimana keadaanmu?"

"Sudah lebih baik, Sasuke-kun." Hana tersenyum sembari mengusap pelan wajah bayinya dengan ibu jari yang menekuk.

Sasuke hanya mengangguk pelan dan memilih untuk duduk di sofa. Ia memperhatikan Hana dan Itachi dan tidak mengerti apa yang membuat keduanya seakan tersenyum sepanjang hari hanya karena seorang bayi yang sedang tertidur pulas di dalam rengkuhan ibunya.

Apa istimewanya?

"Kemari, Sasuke."

Sasuke tidak banyak bertanya dan mematuhi apa yang Itachi katakan, berjalan menghampiri dan ikut berdiri di samping ranjang Hana. Ia melirik bayi Itachi dan Hana, keponakan pertamanya. Sasuke menyeringai kecil, menyadari wajahnya yang sangat Uchiha Itachi. Ia kini hanya berharap semoga keponakannya lebih menuruni sifat ibunya saja.

"Kau boleh menggendongnya, Sasuke-kun."

Sasuke cukup terkejut ketika Hana mendekatkan diri, memudahkan Sasuke untuk mengambil alih bayinya dan membawanya dalam gendonganya.

"Tidak, nee-chan. Aku tidak bisa melakukannya."

"Kau bisa melakukannya, Sasuke." Itachi tersenyum dan mencoba untuk meyakinkan Sasuke.

Ketika tangan kaku adiknya terulur, ia ikut membantunya. Membawa putranya agar dapat dengan nyaman berada di dalam gendongan pamannya.

Ternyata tidak memerlukan waktu lama hingga Sasuke berhasil melakukanya, menggendong bayi untuk pertama kalinya. Jika boleh jujur, Sasuke sebenarnya cukup takut. Ia khawatir jika mungkin melakukan kesalahan dan berakibat buruk bagi keponakannya tersebut.

"Bagaimana rasanya, Sasuke?"

Itachi menepuk pelan bahu Sasuke, memperhatikan Sasuke yang sedari tadi menatap lekat wajah bayinya. Tatapan mata yang begitu dalam dan menyimpan banyak arti.

"Nyaman."

Entah kata apa yang harus Sasuke pilih namun ia berakhir dengan sesuatu yang memang benar-benar ia rasakan. Perasaan nyaman itu kembali ia rasakan, seperti saat pertama kali ia melihat jagoan Uchiha ini saat masih berada di dalam ruangan bayi.

"Kau tahu, Sasuke? Aku hampir membocorkannya pada ayah dan ibu." Itachi berucap pelan, berharap Hana tidak mengetahui apa arti sesungguhnya dari pembicaraannya dengan Sasuke saat ini.

"Aku bahkan tidak terkejut." Sasuke menimpali seadanya.

"Namun setelah putraku lahir, aku seperti tersadar sesuatu. Aku tidak seharusnya ikut campur dengan urusanmu. Kau sudah dewasa, aku tahu kau tidak sebodoh yang sering kukatakan."

Sasuke mendengus geli, teringat beberapa kali Itachi yang menyebutnya bodoh jika pria itu sedang memarahinya hanya karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.

"Aku mungkin tidak sepintar dirimu tapi aku tidak bodoh. Kau tahu itu."

"Benar. Karena itu, aku berjanji untuk tidak ikut campur."

Itachi mengulum senyum ketika Sasuke langsung menoleh dengan raut terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Tapi setidaknya, Sasuke, kuharap kau tahu bagaimana caranya menggendong bayi, meskipun mungkin Sakura tidak membutuhkanmu."

Dan Sasuke sekarang tahu, alasan mengapa Itachi yang memaksanya untuk menggendong keponakannya ini. Bukan hanya untuk berkenalan, tapi Itachi mencoba membantu Sasuke untuk memberi tahu bagaimana tahap awal menjadi seorang ayah yang baik.

Jika nanti bayinya lahir, setidaknya Itachi berharap bayi itu pernah merasakan gendongan ayahnya, Uchiha Sasuke.

.

.

.

Sakura dan Yahiko akhirnya kembali bertemu.

Atmosfir di antara keduanya membeku hingga terasa mencekik. Sesaat keduanya diam, larut dengan pikiran masing-masing yang melayang jauh.

Bagi Sakura, berhadapan dengan Yahiko bukanlah hal yang mudah. Ia mungkin tidak lagi menaruh perasaan dan harapan pada pria itu, namun luka yang ditinggalkan selama dua tahun masih menganga lebar di hatinya.

Jika mampu, Sakura sangat ingin meninju wajah Yahiko.

Namun yang kini ia lakukan hanya jari-jari tangannya yang saling meremas di bawah meja. Sejak awal duduk berhadapan di satu meja, Sakura lebih memilih untuk mengalihkan pandangan, menolak bertatap muka dengan Yahiko.

"Sakura,"

Sakura menoleh, dengan ekspresi datar yang sekuat mungkin ia pertahankan di wajahnya. Yahiko di hadapannya memandang dengan raut berjuta makna, salah satu yang ia tangkap adalah kerinduan yang begitu besar ada di sana.

"Aku merindukanmu."

Dan ternyata benar, dua kata yang paling Sakura benci dan tidak ia harapkan untuk didengar akhirnya keluar dari mulut Yahiko dengan mudah. Wajahnya memerah padam karena menahan amarah yang tiba-tiba memuncak.

Bagaimana bisa Yahiko mengatakannya dengan mudah pada mantan tunangannya, dan bahkan setelah kini berstatus sebagai seorang suami?

"Aku merindukanmu, Sakura. Aku senang ketika ternyata kau menghubungiku lebih dulu dan meminta untuk bertemu." Ucap Yahiko dengan kedua mata yang bergelora menatap Sakura. "Kau semakin terlihat cantik."

Saat itu juga Sakura langsung menggebrak meja dengan keras. Sakura terlihat begitu marah dan muak, sedangkan Yahiko masih duduk dengan tenang di hadapannya, dan mencoba meraih tangannya untuk meminta Sakura kembali duduk di tempatnya.

Entah Sakura harus memihak kemana, perasaannya yang sedih membayangkan Konan memiliki suami sebrengsek Yahiko atau senang karena mungkin itu adalah karma untuk wanita yang merebut pria yang sudah bertunangan dan hampir menikah.

Niat awal Sakura untuk bertemu dengan Yahiko adalah untuk memberi ucapan selamat setulus hati, membuktikan pada Yahiko bahwa ia sudah merelakan pria itu untuk menjadi pasangan sehidup dan semati wanita lain.

Sakura hanya khawatir jika Yahiko mungkin berpikir ia masih menyimpan cinta, mengingat bagaimana Sasuke mau susah payah memukulnya sebagai balasan kecil atas apa yang ia lakukan di masa lalu.

Tapi yang ia dapati justru Yahiko yang berkata bahwa ia merindukannya dan terus memujanya dalam berbagai macam kalimat. Sakura merasa jika pria ini sudah gila.

"Konan hamil. Alasanku meninggalkanmu dan lebih memilih Konan, karena ia hamil. Kami melakukannya dalam keadaan tanpa sadar, Sakura."

Kali ini Sakura membeku. Yahiko seakan baru saja menghantamnya dengan batu besar dan membuatnya mati dalam hitungan detik. Di hadapannya Yahiko berubah, tidak lagi memasang senyum tipisnya yang sejak awal ia perlihatkan.

"Selama dua tahun sejak pertunangan kita hancur, aku menjadi pria gila yang kehilangan wanitanya. Jika kau berpikir aku hidup dalam kebahagiaan bersama Konan, kau salah. Aku hampir mati, Sakura."

Suasana hening kembali menyelimuti keduanya. Sakura merasa Tuhan mungkin sudah mencabut nyawanya, sedangkan Yahiko merasa beban yang selama ini ia sembunyikan kembali muncul dan terasa sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya.

Pada akhirnya, Yahiko mengungkap dosanya di hadapan Sakura setelah selama dua tahun bertindak seperti pecundang.

"Aku sempat kabur meninggalkan Konan dan mencarimu yang tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi. Namun kau begitu pandai menutup diri hingga aku tidak pernah lagi menemukanmu."

Sakura masih diam, ia bergeming tanpa ada niat untuk membuka suara sedikitpun. Sebenarnya bukan tidak mau, namun rasanya seperti seseorang sedang mencekik lehernya. Terasa sakit hingga menyesakkan dada.

"Hingga akhirnya Konan melahirkan anak kami, akhirnya aku memutuskan untuk menikahinya. Namun kemudian aku berhasil menemukanmu, dan mengundangmu ke pernikahanku semata-mata aku ingin melihatmu untuk terakhir kalinya."

Kali ini Sakura mendengus geli, semakin muak dengan apa yang baru saja ia dengar. Yahiko sendiri sadar bahwa mengundang Sakura ke pernikahannya adalah hal yang gila, namun ia pada dasarnya tidak memiliki wajah dan keberanian untuk datang langsung menemui Sakura.

"Maafkan aku."

Sakura menarik kedua tangannya, melepaskan genggaman kuat Yahiko. Ia meraih tas dan saat itu juga pergi meninggalkan Yahiko menuju koridor luar restoran. Yahiko sempat menghentikan langkahnya, meraih lengan Sakura namun langsung mendapat tepisan keras.

Sakura tetap meninggalkan Yahiko yang duduk termangu seperti orang kehilangan akal. Sama persis seperti ketika Yahiko meminta Sakura bertemu di sebuah restoran hanya untuk berkata bahwa pertunangan mereka telah selesai kemudian meninggalkannya begitu saja.

Maafkan aku.

Kalimat yang begitu Sakura harapkan dapat didengarnya sejak dua tahun lalu, sejak pertama kali Yahiko menghancurkan perasaannya dan merusak pertunangan mereka.

"Brengsek."

Satu kata yang akhirnya keluar setelah Sakura mati-matian diri untuk tidak memaki. Ia berjalan sambil terisak dan sesekali menyeka air mata yang akhirnya jatuh setelah sekian lama ia tahan di hadapan Yahiko. Sakura berjalan menyusuri koridor dengan langkah lamban dan sedikit terhuyung-huyung.

Sesampainya di area parkir, Sakura langsung masuk ke dalam mobil. Ada Ino yang sejak awal duduk di kursi kemudi dan memperhatikan Sakura dari luar restoran, ia terkejut ketika melihat Sakura datang dengan wajah memerah basah dan kedua mata yang sembab.

Sakura langsung memeluk Ino, membenamkan wajahnya pada pundak Ino dan menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.

"Dia menghamili Konan! Karena itu dia meninggalkanku! Bukan karena dia tidak lagi mencintaiku— Dia ... Yahiko ..."

Apa yang baru saja Sakura katakan ikut menghancurkan hati Ino. Ia yang selama ini menjadi saksi bersama Sasori, tahu bagaimana tersiksanya Sakura setelah ditinggal Yahiko dengan alasan bosan karena Sakura sibuk bekerja, tidak peduli lagi dengannya, dan tidak ada waktu lagi untuknya.

Itu adalah tiga alasan yang Yahiko buat setelah Sakura melihat Yahiko sedang berkencan dengan Konan.

Ternyata selama ini Yahiko yang egois hanya mencoba mempertahankan harga dirinya, tidak ingin membuat Sakura semakin hancur jika tahu bahwa ia sudah menghamili wanita lain di saat mereka sudah merencakan pernikahan.

"Tentu saja .. Sakuraku adalah wanita yang hebat. Wanitaku adalah wanita yang paling dicintai oleh banyak orang." Ino yang melihat Sakura menangis dan meraung keras-keras ikut merasakannya, ia semakin memeluk Sakura erat dan ikut menangis untuknya.

"Dia ... Dia memang brengsek! Aku akhirnya memiliki alasan untuk bisa melepaskannya, aku benar-benar melepaskan Yahiko!"

Ino tersenyum dalam tangisnya melihat Sakura yang pada akhirnya benar-benar melepaskan Yahiko. Ia tahu, sekalipun Sakura menaruh dendam pada Yahiko, tetapi wanita itu lebih sering menyalahkan dirinya sendiri atas hancurnya pertunangan mereka.

Sakura selama ini berpikir ada yang salah dengan dirinya hingga membuat Yahiko tidak mencintainya lagi dan lebih memilih wanita lain. Namun hari ini semua terjawab, Yahiko masih mencintainya, sangat mencintainya dan satu-satunya, hanya saja Sakura terlalu berharga untuk kembali bersamanya.

Pada akhirnya, Sakura berhasil menutup rapat dan berdamai dengan masa lalunya.

.

.

.

Satu Minggu Kemudian

Entah mengapa namun Sakura merasa Sasuke lebih sibuk akhir-akhir ini. Keduanya tidak bertemu bahkan di dalam kantor sekalipun selama satu minggu.

Sakura awalnya khawatir jika Sasuke berniat menjauhinya semenjak kejadian di pernikahan Yahiko. Namun mengingat Sasuke adalah bos besar di perusahaannya, jadi Sakura memakluminya.

Sasuke dan Sakura akhirnya kembali bertemu setelah satu minggu berlalu sejak terakhir kali mereka bersama. Setelah sekian lama, akhirnya Sasuke menghubungi Sakura ketika keduanya masih berada di kantor dan berkata akan datang ke apartementnya malam ini.

Sekarang Sakura menunggu Sasuke dengan sedikit berdebar karena malam ini mungkin mereka akan kembali melakukannya.

Sasuke memang tidak mengatakannya dengan jelas, namun Sakura cukup yakin mereka akan melakukannya karena ia tahu Uchiha Sasuke bukanlah tipe pria yang senang datang ke rumah wanita lain namun tanpa tujuan.

Lagipula Sasuke sudah berjanji, hamil percobaan kedua, katanya.

Sakura tidak pernah begitu bersemangatt ketika bunyi bel pintunya terdengar dan tahu bahwa orang di balik pintunya adalah Sasuke.

"Hai," Sakura menyapa seadaya saat membuka pintu dan kini Sasuke berada di hadapannya.

"Aku lapar, Sakura. Kita makan lebih dulu." Sasuke masuk ke dalam dengan dua buah paper bag di tangannya. Ia bukanlah tipe pria yang akan bertamu dengan tangan kosong.

"Oh, Oke." Sakura mengindahkan dan membawa paper bag berisi dua set ayam goreng dan salad sayur. Entah sejak kapan namun Sasuke sudah hafal dengan makanan favoritnya.

Keduanya makan di depan televisi sembari menonton acara komedi yang sebenarnya tidak terlalu menarik perhatian. Sesekali Sakura memulai perbincangan mengenai kantor dan Sasuke akan menanggapinya dengan seksama.

"Sasuke,"

Sakura sebenarnya ragu apakah ia harus memberitahu Sasuke soal pertemuannya dengan Yahiko. Namun mengingat Sasuke mungkin sekarang memiliki hubungan yang buruk dengan Yahiko, maka ia memutuskan untuk menceritakannya.

"Aku bertemu Yahiko."

Sasuke langsung menghentikan kegiatan makannya, "Kenapa? Untuk apa?"

"Ya ... karena kupikir memang kami harus bertemu."

Sakura menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, tiba-tiba merasa terintimidasi dengan tatapan Sasuke yang terlihat tidak suka mengetahui ia bertemu dengan Yahiko.

"Itu bukan sebuah jawaban, Sakura."

Sasuke selesai dengan makanannya, membawa peralatan makan ke dapur dan mencucinya sendiri. Ini pertama kalinya Sasuke serajin ini di dalam apartement Sakura.

"Aku mendapat permintaan maaf darinya, setelah dua tahun lamanya."

Sasuke yang awalnya memasang wajah kesal dan memunggungi Sakura dengan pura-pura sibuk mencuci piring pun akhirnya membalikan badan, mendapati Sakura yang tersenyum kecil ke arahnya.

"Benarkah?" Sasuke bertanya dan mendapat anggukan mantap dari Sakura sebagai jawaban. "Senang mendengarnya."

Sasuke kembali memunggungi Sakura dan diam-diam memasang senyum simpul di wajahnya. Sasuke dengan tulus mengatakannya. Ia senang untuk Sakura.

Sasuke selesai dengan kegiatan pura-pura sibuk mencuci piringnya dan kembali bergabung dengan Sakura. Duduk dengan kaki terjulur lurus ke depan di samping Sakura yang duduk bersila dan masih menikmati ayam gorengnya.

"Sasuke,"

"Hm?"

"Kau pernah jatuh cinta?" Sakura melirik Sasuke yang kini menoleh ke arahnya. Masih dengan satu buah ayam bagian paha di tangannya, kemudian ia melanjutkan. "Maksudku, cinta yang benar-benar dalam. Sampai kau rela melakukan apapun untuknya, sekalipun mati di tangannya."

Sakura kembali menggigiti daging ayam yang tersisa sedikit lagi di tangannya. Sebenarnya ia hanya iseng-iseng, namun diselimuti rasa penasaran yang cukup besar karena selama ini Sasuke tidak pernah menceritakan kisah asmara meskipun Sakura tahu pria itu memiliki banyak wanita.

Sasuke beberapa saat terdiam sampai satu panggilan masuk di handphone-nya. Sakura sempat melirik dan melihat nama Si Bodoh Naruto tertera di sana.

"Ada apa, Naruto?"

Sasuke beberapa saat terlihat tenang hingga tiba-tiba Sakura melihat rahangnya yang mengeras dengan kedua mata yang membulat. Untuk pertama kalinya sejak Sakura mengenal Sasuke, ia baru melihat ekspresi seperti itu. Sasuke terlihat sangat terkejut.

"Kenapa baru memberi tahuku sekarang?!" Kali ini Sasuke berteriak dan beberapa kali memaki Naruto lewat sambungan teleponnya, bahkan pria itu sampai bangun dari duduknya dengan tangan bertengger di pinggang. "Brengsek, apa kau tidak bisa menjaganya dengan baik? Kenapa kau sangat tidak becus, sialan!?"

"Sasuke, ada apa?"

Sakura memberanikan diri untuk bertanya ketika Sasuke langsung mematikan sambungan teleponnya dan terlihat gusar dengan berjalan cepat menyusuri setiap sudut ruangannya.

"Sakura, kunci mobilku—"

"Sasuke, tenangkan dirimu. Ada apa?"

Sakura ikut bangun saat Sasuke mulai mengubrak-abrik apapun yang ada di hadapannya. Ia memang mencari kunci mobil namun seperti dalam keadaan kerasukan.

"Kunci mobil— Sialan! Kunci mobilku di mana, Sakura?!"

Sakura terkejut saat Sasuke pada akhirnya ikut berbicara dengan nada tinggi padanya, berteriak tepat di depan wajahnya. Sasuke yang menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada Sakura pun menghela nafas berat, ia mengusap wajahnya kasar.

"Baik, begini," Sasuke mencoba mengatur napasnya, ia bahkan kini sedikit berkeringat. "Hinata, Istri Naruto, jatuh dari tangga. Aku harus segera ke rumah sakit dan persetan! Aku harus cepat-cepat ke rumah sakit!" Namun pada akhirnya Sasuke kembali berbicara dengan nada tinggi pada Sakura.

Sakura hanya diam dan memandangi Sasuke yang sibuk mencari kunci mobilnya hingga akhirnya menemukannya di atas meja makan, yang sebenarnya akan mudah ditemukan jika mencarinya dengan akal pikiran yang sehat.

Sakura masih diam saat Sasuke langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun padanya. Bahkan ketika pria itu memakai sepatu di belakangnya, dan menutup pintu apartementnya dalam sekali bantingan, Sakura masih diam. Pikirannya tiba-tiba terasa kosong.

"Ah ... ternyata begitu." Semua gerak-gerik Sasuke barusan membuat Sakura menyadari satu hal.

Sekarang Sakura tahu, mengenai jawaban dari pertanyaannya pada Sasuke sebelumnya.

Sekarang Sakura tahu, Sasuke pernah jatuh cinta.

Cinta yang benar-benar dalam. Sampai ia rela melakukan apapun untuknya, sekalipun mati di tangannya.

Sasuke pernah jatuh cinta, bahkan sampai sekarang mungkin masih mencintainya. Wanita yang dicintainya adalah Uzumaki Hinata, istri dari sahabatnya sendiri.

.

.

.

.

A/N

Nangis. Ternyata ngelanjutin chapter ini setelah sekian lama hiatus itu ga mudah, ya. Sampai harus hampir tiga bulan, maafin ya! T_T Semoga masih ada yang menunggu fanfic ini, dan semoga bisa aku selesain juga huhu. Makasih buat semua yang masih setia nunggu kelanjutannya 3 Sampai bertemu di chapter selanjutnya! Xoxo.

Ps: Ada yang mau bantu kasih saran nama anaknya Itachi dan Hana? :'D