mohon maaf kalo ada kesalahan kata di part ini.

.

.

selamat sore


Ketika pintu terbuka, pertama kali yang Baekhyun lihat ialah tuan muda Park yang berdiri di Altar, menatapnya dengan senyuman menawan.

Heol—siapa yang tidak akan terpesona dengan ketampanan seorang Tuan Muda Park.

Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Park Chanyeol. Begitu mendominasi hingga para wanita yang datang ke acara itu juga ikut memekik.

Termasuk Baekhyun...

Matanya berkedip cepat, jantungnya berdegup sangat cepat.

Apa ini—Baekhyun merasakan jantungnya bekerja dua kali lipat. Jika begitu terus, jantungnya bisa copot dari tempatnya karena berdetak keterlaluan.

Iringan suara denting piano mengalun dengan indah bersamaan dengan langkah Donghae mengantarkan putri semata wayang menuju Chanyeol yang telah menunggunya.

Lelaki paruh baya itu mengulum senyum, berdiri saling berhadapan dengan Tuan Muda Park merupakan suatu kehormatan tersendiri untuk Donghae.

"Tolong jaga baik-baik putri saya—" pesan Donghae sambil memberikan tangan Baekhyun kepada Chanyeol.

Chanyeol menerima uluran tangan Baekhyun lembut. Ia tersenyum menatap ayah mertuanya sambil mengangguk mantap.

"Saya akan berusaha menjaganya dengan baik, ayah" balas Chanyeol.

"Baiklah"

Kemudian Donghae perlahan mundur, membiarkan pasangan itu berhadapan dengan pendeta yang akan mengkukuhkan janji suci mereka.

"Kedua mempelai dipersilahkan oleh pendeta untuk saling berhadapan, berjabatan atau saling berpegangan tangan." Suara mc menginterupsi keduanya.

Baekhyun merubah posisinya, kini mereka saling berhadapan. Kedua pasang mata itu saling membalas tatapan satu sama lain. Tangan Chanyeol terulur, meraih dengan lembut jemari lentik Baekhyun. Menggenggam tangan kecil itu penuh kehati-hatian bagaikan barang pecah belah.

"Kedua mempelai diperbolehkan mengucapkan janji suci."

Suasana berubah menjadi hening, seluruh pasang mata terfokus kepada kedua mempelai yang akan memulai pengucapan janji suci di hadapan Tuhan.

Nyonya Byun menggenggam erat tangan suaminya. Ia sungguh tidak rela putrinya menikah dengan seorang pria berbeda kelas. Ia hanya tak ingin putrinya menderita atas pernikahan yang tidak berlandaskan cinta itu.

"Byun Baekhyun, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."

Gadis itu mendongak, menatap manik hitam bulat milik atasannya. "Saya bersedia."

Jawabnya, tanpa keraguan.

"Park Chanyeol, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."

Chanyeol tersenyum, "Saya bersedia."

Jawab Chanyeol lantang tanpa sedikitpun menunjukan keraguannya.

Sang pendeta tersenyum, menatap kedua anak adam itu dan mempersilahkan kepada pasangan pengantin baru itu untuk menyematkan sebuah cincin.

Chanyeol menarik tangan kanan Baekhyun, kemudian menyematkan cincin pernikahan yang seharusnya tersemat di jari manis Kyungsoo, kini melingkar dengan indah pada jemari lentik sekretarisnya.

Pun begitu dengan Baekhyun, dengan tangan gemetar ia mengambil sebuah cincin dari kotak beludru berwarna merah lalu menyematkan cincin tersebut kepada jari manis sang atasan.

Suara riuh tepuk tangan menyadarkan Baekhyun dari pergulatan batin yang sempat menyita perhatiannya.

Hingga, Chanyeol menariknya ke dalam dekapan hangat lalu memberikan kecupan pada pucuk kepala Baekhyun dengan lembut.

"Terimakasih—Baekhyun." Bisik Chanyeol.

tbc