Time Tunnel.
Naruto by Masashi Kishimoto
I only write the story based on 'what if?' probability.
2. Confusion
Siang hari itu, di Konoha.
"Konohamaru-chan, tunggu! Mau ke mana kita?" seru seorang genin berambut oranye, Moegi seraya menarik genin berkacamata di belakangnya, Udon. Mereka sedang mengejar genin bersyal biru, Konohamaru.
"Hei!" Namun nampaknya, Konohamaru tidak akan berhenti semudah itu.
Ketiga genin itu sebelumnya baru saja mengeluh akibat misi tingkat D yang diberikan pada mereka, yaitu misi pengamatan desa. Guru Jounin mereka, Ebisu, tidak turut serta karena berpikir misi ringan seperti itu membosankan. Karena tingkattnya yang rendah itu pula, ia berpikir genin dapat mengerjakannya tanpa perlu diawasi.
Namun tak selang lama dari perintah, Konohamaru mendapat ide. Bahwa miisi ini bisa dijadikan ajang untuk menjadi pahlawan dengan menangkap orang jahat.
Tanpa pikir panjang, genin bersyal biru itu melesat menuju tempat di mana tujuannya bisa tercapai.
"Hehehe," Konohamaru terkekeh, membuat Moegi dan Udon merasakan firasat buruk, "Kita melakukan pengamatan Konoha bukan? Sekarang kita akan mengamati terowongan rahasia Konoha!"
Moegi dan Udon saling pandang, "Memangnya ada terowongan di dalam desa?" tanya Udon.
"Pasti ada!" seru Konohamaru, "Aku tidak sengaja menemukan dokumen peninggalan mendiang kakekku. Di sana tertulis, Konoha memiliki gua yang menjadi terowongan rahasia. Letaknya tersembunyi di dalam hutan seperti ini."
"Lalu kenapa kita harus ke sana? Bukankah kita bisa ke tempat lain yang lebih aman untuk melakukan pengamatan?" Moegi cemas. Temannya ini kadang sering berbuat nekat dan ceroboh. Ia khawatir timnya akan terlibat masalah.
"Kau tahu kan, saat di akademi kita belajar terowongan atau gua sering dijadikan tempat persembunyian. Siapa tahu, di terowongan ini ada bandit atau musuh desa yang sedang bersembunyi. Kalau kita berhasil mengalahkannya, aku yakin kita tidak akan kalah terkenal dengan Naruto-niichan yang telah mengalahkan Akatsuki!" Konohamaru tersenyum lebar. Sementara kedua temannya sudah pucat pasi.
"Naruto-niichan kan kuat, Konohamaru. Lagipula kita hanya genin…" gumam Udon pasrah, tetapi tetap mengikuti kedua temannya.
"Naruto-niichan juga masih genin! Selain itu, aku juga telah menguasai rasengan, kore!" Konohamaru pun melesat lebih jauh. Ia memerintahkan temannya untuk mencari-cari keberadaan terowongan di hutan sekitar bukit ukiran wajah hokage. Moegi dan Udon terpaksa menurut. Mereka tidak bisa meninggalkan Konohamaru, terlebih tanpa adanya Ebisu. Memberhentikan Konohamaru akan membuat genin muda itu semakin menjadi-jadi. Sementara membiarkan Konohamaru sendirian akan mencelakai dirinya. Jadi, mereka tak punya pilihan lebih baik lagi.
Selama satu jam lamanya mereka mencari, namun tak kunjung menemukan. Moegi sempat berpikir untuk membujuk Konohamaru agar menyerah ketika tiba-tiba genin bersyal biru itu berseru,
"Aku menemukannya!"
Ketiga genin kecil itu mengendap-endap memasuki terowongan. Udon berjalan paling belakang, mencengkram ujung baju Moegi yang berada di tengah. Sementara Konohamaru berjalan paling depan, sambil memegang senter untuk menerangi terowongan yang gelap gulita.
Terowongan itu dipenuhi banyak sarang laba-laba. Udaranya agak pengap dan lembab. Tidak ada tanda-tanda tempat itu dimasuki shinobi atau warga biasa sebelumnya. Hal itu membuat Moegi membujuk Konohamaru untuk kembali, karena semakin mereka menyusuri ke dalam, semakin mencekam pula suasana.
"Bagaimana kalau ada hantu?" tanya Udon gemetaran.
Konohamaru mulai goyah. Ia mulai merasa ada yang aneh dari terowongan ini, tetapi mencoba menutupi rasa takutnya. Shinobi tidak takut dengan hantu, pikirnya.
Sementara itu, jantung Moegi berdegup kencang. Ia memegang syal Konohamaru, jaga-jaga agar tidak kehilangan jejak di terowongan mengerikan ini. Namun, sebelum Konohamaru memutuskan untuk berbalik arah, Udon berujar.
"Ah, ada tubuh seseorang di sana."
Hening, lalu…
"GYAAAAA!!!" Konohamaru dan Moegi menjerit ketakutan. Moegi berjongkok di tempat, sedangkan Konohamaru berlari. Sayangnya, Konohamaru menginjak syalnya sendiri sehingga jatuh terjerembab. Tepat di samping tubuh lelaki itu.
Konohamaru melotot. Ia nyaris menjerit tetapi tidak jadi begitu melihat lambang kipas berwarna merah-putih di punggung tubuh lelaki itu. "U-uchiha??"
Moegi bergegas mendekati Konohamaru, hendak untuk menyeretnya. Namun Konohamaru berujar, "Hei lihat! Orang ini anggota klan Uchiha!"
"Uchiha? Bukankah Uchiha yang tersisa menjadi ninja pelarian sementara yang di desa telah tewas dibantai…." Udon menyelesaikan kalimatnya tanpa ragu sebelum akhirnya menyadari satu hal.
"Kyaaa! Hantu Uchiha!" jerit Moegi, dengan reflek menarik syal Konohamaru. Genin bersyal biru yang sedang berjongkok itu, tersentak ke belakang. Sambil mengelus pahanya, ia mengaduh, "Sa-sakit…"
Konohamaru masih mengaduh sambil berpikir tentang apa yang harus ia lakukan dengan tubuh ini. Sedangkan Udon dan Moegi saling menenangkan satu sama lain dari rasa takut. Tiba-tiba tubuh yang tergeletak itu bergerak sendiri, bangkit dari posisi berbaring. Saat itu pula mereka bertiga membelalakan matanya.
Perlahan, lelaki itu mencoba mengangkat badannya dengan bertopang pada tangan. Lalu ia mengangkat wajah dan kelopak matanya yang terasa berat. Dengan kondisi setengah sadar, menggumamkan 'air' pada samar-samar bayangan manusia yang ia lihat sebelum mendengar jeritan keras,
"GYAAAAA! ZOMBI UCHIHAA!!!!"
Lalu kesadarannya menghilang lagi.
"Moegi, Udon! Tunggu!" seru Konohamaru sebelum Moegi menyeret syalnya lagi. Matanya mengamati tubuh lelaki yang ada di hadapannya. "Ini bukan genjutsu, kore," pikirnya. Tubuh lelaki itu bukan ilusi, tidak tembus pandang dan…bergerak naik-turun perlahan? Tadi lelaki ini juga sempat menggumam meminta air. Berarti artinya…
"Kemungkinan, orang ini masih hidup!" Konohamaru berseru keras. Moegi dan Udon terbelalak.
"Apa maksudmu?" tanya Moegi heran. "Tadi dia meminta air." Konohamaru memberanikan diri untuk meraba nadi di leher lelaki itu. Ada denyut yang lemah. Benar ternyata, lelaki ini masih bernyawa. Namun keadaannya sangat kacau. Ada jejak bekas darah di sekitar mulut dan beberapa lebam serta luka di lengan. Konohamaru melirik pelindung kepala lelaki itu. Lambang Konoha, tanpa goresan. Orang ini warga desanya!
"Kita harus meminta bantuan! Dia sungguh-sungguh masih hidup. Orang ini harus diselamatkan," ujar Konohamaru dengan nada serius.
"Eeh? Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Moegi mulai panik.
"Tidak ada waktu, rumah sakit terlalu jauh. Moegi, Udon, bisakah kalian mencari bantuan dari shinobi lain? Naruto-niichan, atau yang lainnya. Kumohon!"
"Ah, baiklah! Ayo pergi, Udon!" Moegi dan Udon pun melesat keluar.
Konohamaru memandang lelaki yang tak sadarkan diri di hadapannya, "Kumohon, bertahanlah!"
Moegi dan Udon berlari sekuat tenaga, menuju pusat keramaian desa untuk mencari bantuan. Dalam hati, Moegi mempertanyakan kenapa harus memanggil Naruto, saat ninja medis lebih dibutuhkan untuk kondisi seperti ini. Tapi, siapa ninja medis yang dapat ia panggil pinggiran desa seperti ini? Apakah sebaiknya ia menuju Hokage saja, meminta Hokage atau asistennya, Shizune untuk membantu?
Ayo Moegi!
Sementara itu Udon yang telah mendahuluinya, menabrak dua orang di hadapannya. Moegi bergegas menghampiri untuk menarik temannya.
"Ah, maafkan aku!" Seorang pria berambut hitam dengan kulit pucat tersenyum.
"Kalian –Moegi dan Udon, teman satu tim Konohamaru?" terdengar suara yang familiar. Moegi menolehkan kepalanya.
"Sakura-neechan!" Moegi terbelalak. "Ah, syukurlah!" Ia nyaris menangis.
Sakura kebingungan, "Ada apa?"
Moegi dengan cepat menjelaskan situasi yang mereka hadapi pada Sakura dan Sai, yang kebetulan baru saja selesai makan siang bersama Tim Kakashi di Ichiraku Ramen. Namun, Naruto harus kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengannya yang terluka setelah mengalahkan Kakuzu dengan jurus barunya. Kakashi ikut menemani Naruto. Sementara itu, Sakura dan Sai memutuskan untuk membicarakan misi mereka selanjutnya di lapangan begitu berpapasan –bertabrakan dengan Udon.
Sakura memicingkan matanya usai mendengar penuturan Moegi, "Uchiha katamu?"
Moegi mengangguk, "Aku tidak tahu dia siapa. Dia menggunakan pelindung kepala Konoha.
"Mungkin seorang mata-mata yang menyamar lalu mengincar Konohamaru-kun?" ujar Sai dengan senyum datarnya. Sakura melemparkan tatapan tajam, meski mengakui perkataan Sai ada benarnya.
"Itu nanti bisa kita urus. Sekarang, hal yang penting adalah menyelamatkan nyawa orang itu. Sai, bisakah kau menggunakan choujuugiga? Kita harus segera ke sana sekarang!" seru Sakura.
Sai mengangguk, dengan cepat ia menggambar dua ekor burung pada gulungannya.
"Ninpou: Choujuugiga!"
Begitu dua ekor burung itu keluar dari gulungan, mereka berempat segera naik dan melesat menuju terowongan tempat di mana Konohamaru dan lelaki misterius itu berada.
Sasuke-kun, apakah itu kau?
Di luar dugaan Sakura, pria Uchiha yang tergeletak di terowongan itu bukanlah Sasuke, maupun Itachi. Ia sama sekali tidak mengenali orang ini. Penampilan lelaki itu sesuai dengan deskripsi Moegi, sementara identitasnya tidak jelas meski ia menggunakan pelindung kepala Konoha.
Sakura mengalirkan chakra hijau ke tubuhnya selama beberapa saat. Awalnya Sakura hanya melakukan pengecekan. Namun, kedua alisnya bertaut saat menyadari sesuatu. Ia pun berteriak pada Sai dan para genin kecil untuk mencarikannya air dan wadah.
Begitu mendapatkannya, Sakura dengan cekatan melakukan pekerjaannya. Beberapa menit berlalu, akhirnya usai. Sakura menghela napas lega. Sambil mengelap keringat di dahinya, ia berujar.
"Orang ini… Kalau ia terlambat ditangani, nyawanya bisa melayang."
Melihatnya, Konohamaru meneguk ludah. "Apa yang terjadi?"
"Dia terkena racun, dan sudah menyerang sistem tubuhnya. Aku sudah berhasil mengeluarkan sebagian racun itu. Tapi, ia juga dehidrasi dan kehabisan chakra. Seharusnya dalam kondisi seperti ini, shinobi mana pun tidak akan bertahan. Aku tidak tahu keajaiban apa yang membuatnya masih hidup," jelas Sakura.
Sai, yang baru usai berkeliling sekitar gua menghampiri Sakura, "Jadi, apakah setelah ini kita akan membawa si penyusup ke Divisi Interogasi ?"
Cahaya di tangan Sakura meredup, lalu sebelah tangan Sakura memukul rekan satu timnya.
"Sai! Ini bukan saatnya untuk itu!" ujar Sakura kesal, membuat tim Konohamaru bergidik ngeri melihatnya.
"Meskipun aku telah mengeluarkan racun, ia tetap butuh penawar dan perawatan intensif di rumah sakit. Setidaknya, tunggulah sampai sadar."
Sambil mengelus pipinya, Sai mencoba tersenyum yang lagi-lagi tak mencapai matanya, "Baiklah, kalau begitu. Kita ke rumah sakit sekarang?"
Samar-samar, ia mendengar suara.
Tidak, suara itu terlalu keras untuk dikatakan samar. Hanya kesadarannya yang belum pulih seutuhnya.
Ada seorang laki-laki dan perempuan yang bertikai di luar sana. Ia tidak tahu siapa. Kepalanya terlalu berat untuk digunakan berpikir, memproses semua informasi yang ia dengar.
"Kenapa tidak boleh? Kami harus segera melakukan interogasi padanya!"
"Astaga, pelankan suara Anda. Ini rumah sakit! Apakah Anda tidak tahu peraturan rumah sakit mengenai ini? Bahkan pasien belum sadarkan diri."
Ah, siapa itu? Berisik sekali.
"Hal itu tidak berlaku untuk orang ini. Dia menggunakan atribut klan Uchiha, kemungkinan besar dia adalah mata-mata musuh yang menyamar. Demi keamanaan desa ini, dia harus dipindahkan ke Divisi Interogasi sekarang!"
Aku memang Uchiha. Kenapa…mata-mata? Menyamar?
Kepalanya terlalu berat untuk digunakan berpikir, memproses semua informasi yang ia dengar.
Ia mendengar di luar sana makin riuh. Suara hak sepatu yang berdecit dengan lantai. Gemerincing senjata. Langkah kaki yang berat. Ada apa sebenarnya?
"Tidak. Hokage-sama belum memberikan perintah lebih lanjut pada kami. Demi kesembuhan semua pasien di lorong ini, bisakah Anda dan pasukan Anda segera keluar?"
"Sayang sekali, ini perintah dari penasihat desa, Nona Shizune. Sekarang, segera buka pintu ini."
"Anda tidak bisa memaksa! ANBU di bawah Hokage tidak akan melakukan hal seperti ini!"
Shizune, ia seperti pernah mendengar namanya. Wanita itu terlibat pertengkaran dengan…ANBU? Mengapa ada ANBU di luar perintah Hokage yang mencoba menerobos rumah sakit? Sesaat ia berpikir –masih dalam keadaan setengah sadar—hingga akhirnya teringat sesuatu. Kedua matanya terbuka seketika.
Mereka bukanlah ANBU di bawah perintah Hokage.
Mereka adalah ANBU Ne di bawah Danzo.
Shisui nyaris bergerak secara reflek untuk bangun dan melarikan diri. Ia tahu dirinya ada di Rumah Sakit Konoha, meski tidak ingat bagaimana ia bisa di sini. Mungkinkah ANBU Ne berhasil menangkapnya?
Ia melirik tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda ia sebagai tahanan rumah sakit, kecuali jarum infus yang masih terpasang. Selain itu, tidak ada pengikat tubuh dan tangan, segel penahan cakra ataupun segel pelindung ruangan. Tidak ada ANBU pula yang berjaga di ruangannya—kecuali yang berteriak di luar.
Namun sekilas ia melihat ada sosok surai merah muda mencolok di pojok ruangan dekat pintu. Wanita lain dengan jas putih –sudah pasti adalah dokter yang menanganinya. Dokter itu mengintip ke luar dari balik kaca di pintu, berjaga bila siapapun menerobos kamarnya.
"Minggir dari pintu ini!"
"Apa yang Anda laku—"
Hampir saja pintu kamar dibuka secara paksa –dan Shisui nyaris lompat dari tempat tidur—bila seseorang tidak muncul tiba-tiba untuk melerai.
"Yare-yare. Apakah bijak untuk bertengkar di depan kamar pasien? Kupikir tidak."
Mendengar orang itu berbicara, Shisui langsung mengenalinya. Salah satu senpai sewaktu dia di ANBU dulu.
"Kakashi Hatake!"
"Kalian ini ANBU Ne di bawah Danzo-sama bukan? Kalian sudah mendengar Shizune-san ini berbicara. Hokage-sama belum memerintahkan penangkapan dan interogasi bagi seorang pasien yang belum sadarkan diri ini. Jadi kurasa kalian bisa pergi sekarang," ujar lelaki itu enteng.
"Kau!"
Shisui melihat dari kaca pintu yang kecil, sebuah tangan melayang ke arah pintu. Akan tetapi kemudian ia mendengar seseorang menangkap tinju itu–sepertinya Kakashi yang melakukannya—sebelum terjadi pertikaian yang lebih besar.
"Yah, kekerasan tidak diperlukan di sini. Lagipula orang ini yang menemukan adalah murid-muridku. Aku yang akan bertanggung jawab dan membawanya langsung ke Divisi Interogasi bila terbukti sebagai penyamar."
Setelah diakhiri dengan gerutuan, pasukan ANBU Ne itu pergi. Shisui mendengar Shizune berterima kasih pada Kakashi sebelum wanita itu meninggalkan depan pintu kamarnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Shisui –yang sudah mengurungkan niat untuk kabur—menutup matanya, pura-pura belum sadarkan diri. Ia masih ingat ajaran sewaktu bergabung di ANBU tentang ini untuk mengelabui musuh. Meskipun demikian, ia masih bisa mendengar pria bermasker itu berbicara, kali ini dengan dokter di ruangannya.
"Bagaimana keadaannya, Sakura?"
Shisui merasa ada dua pasang mata yang sedang menatap dirinya.
"Kakashi-sensei! Ah, ia sudah stabil tapi masih belum sadarkan diri. Selain itu, level chakranya belum sampai lima persen."
Shisui nyaris mengerutkan keningnya. Sejak kapan Kakashi punya murid?
"Hmm begitu. Yah, pokoknya kabari aku kalau dia sudah sadar. Hokage-sama memintaku untuk berbicara padanya. Kau tahu kan, karena aku punya mata ini."
"Tentu saja, Sensei. Oh ya, terima kasih sudah menghentikan ANBU Ne itu. Aku tidak menyangka, kau sampai mengatakan kalau yang menemukannya adalah muridmu. Konohamaru kan bukan muridmu."
"Kupikir aku tidak perlu detil menjelaskan 'mantan muridku', Sakura," Shisui mendengar pria bermasker itu terkekeh, "Tidak pantas untuk mengatakan mantan pada hubungan sensei dan murid, sekalipun aku sudah tidak mengajarimu apa-apa lagi. Selain itu, secara teknis kau juga ikut menemukannya."
Dokter bernama Sakura itu hanya tertawa kecil.
Kakashi berujar lagi, "Aku akan segera ke sini lagi." Hingga akhirnya ia memutuskan untuk ber-shunshin, meninggalkan rumah sakit.
Shisui mendengar pintu kamarnya ditutup dan suara hak sepatu Sakura yang mendekat ke arahnya.
"Aku tahu kau sudah sadar sedari tadi. Kau tak perlu berpura-pura sedang tertidur, Uchiha-san."
Dalam hati, Shisui terkejut. Dokter ini mengetahui triknya. Mungkin triknya terlalu kuno untuk digunakan pada shinobi desanya sendiri. Pelan-pelan, ia membuka matanya dan terkejut seketika saat melihat dokter bersurai merah muda itu menodongkan pisau bedah chakra di depan lehernya.
"A-apa?!"
"Jawab aku. Meskipun seharusnya Kakashi-sensei yang melakukan interograsi padamu, aku tak bisa membiarkan kau berpura-pura menjadi salah satu dari mereka," ujarnya dingin. Ujung pisau chakra itu mengenai kulit lehernya. Lehrnya tergores sedikit.
Shisui meneguk ludah. Dalam hati ia menyesal, seharusnya ia melarikan diri daritadi saja. Kini, ia tak bisa berbuat apapun. Namun ia sendiri tidak mengerti siapa yang dimaksud dengan mereka oleh perempuan di hadapannya. Meskipun begitu, ia mengumpulkan keberaniannya dan bersikap kooperatif.
"Baiklah. Apa pertanyaanmu?"
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sakura tajam.
"Namaku Shisui Uchiha. Kau tidak tahu?" sahut Shisui polos. Sebagian besar shinobi desa mengenalnya, termasuk yang bekerja di rumah sakit. Ia tahu dirinya cukup terkenal. Meskipun tak pernah menyombongkan akan hal itu, tetap saja ia heran.
"Shisui Uchiha? Aku tidak pernah mendengar nama itu." Sakura mengerutkan keningnya.
"Oh astaga. Apa kau sudah mengecek daftar shinobi? Kupikir rumah sakit memiliki identitas tiap shinobi Konoha."
Pertanyaan yang aneh, pikir Shisui. Apakah ia sungguh benar-benar di Konoha? Mengapa tidak ada orang yang mengenalinya sebaga Shisui Uchiha –Shunshin no Shisui? Lebih lagi, ia sempat dituduh sebagai mata-mata musuh. Padahal biasanya Rumah Sakit Konoha selalu mengenali pasien shinobi Konoha, sekalipun dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Dan ternyata pertanyaan itu menyulut emosi Sakura, pemegang komando ketiga di rumah sakit setelah Hokage dan Shizune.
"Kau meragukanku?" Pisau chakra yang sempat diturunkan kembali naik ke hadapan leher Shisui. Lelaki itu berjengit.
"Sungguh, tidak! Tapi, percayalah padaku!"
"Jangan mencoba mengelabuiku! Siapa kau sesungguhnya? Mengapa berpura-pura menjadi Uchiha?!" Sakura nyaris berteriak frustasi.
"Kubilang namaku Shisui Uchiha!" seru Shisui sebelum jeda sejenak, "Tunggu, apa maksudmu berpura-pura menjadi Uchiha?" Keningnya berkerut. Tidak pernah ada yang menuduh seseorang 'berpura-pura menjadi Uchiha' di Konoha, desanya sendiri.
Kini ganti Sakura yang heran. Pisau bedah chakra itu lenyap dari lehernya, Shisui bernapas sedikit lebih lega. Sakura berbicara kembali.
"Kau sungguh tidak tahu atau masih berpura-pura?" Kali ini Sakura mencengkram kerah baju rumah sakit yang dikenakan Shisui.
Dengan nada getir, Sakura berujar, "Tidak ada Uchiha yang hidup di desa ini lagi."
Seketika darah Shisui berdesir mendengarnya.
"Jadi, klan Uchiha diusir dari desa ini?"
Shisui ingin menertawakan dirinya, merasa seperti baru saja melontarkan sebuah lelucon. Kemudian ia terdiam, teringat Danzo dan rencana dewan penasihat Konoha dalam menghentikan rencana kudeta. Ia tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi. Tetapi kalimat ambigu Sakura amat menganggunya. Dengan suara parau, Shisui berkata terbata-bata,
"Atau mereka…sudah tewas?"
Sakura tidak menjawab. Ia tidak percaya lelaki di hadapannya, mengaku seorang Uchiha namun tidak mengetahui pembantaian klannya sendiri. Tetapi orang ini tidak memiliki alibi yang kuat sebagai seorang pembohong. Pupilnya tidak melebar saat menjawab maupun mengutarakan pertanyaannya.
Ia tampak ketakutan saat Sakura menodongkan pisau chakra di hadapan lehernya. Dan benar-benar kebingungan.
Sakura hanya menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan muram, teringat kembali kisah tragis keluarga Sasuke delapan tahun silam.
"Mana yang benar?" Lelaki itu bertanya pelan.
Sakura melonggarkan cengkramannya saat melihat lelaki di hadapannya mulai bergetar. Setetes air mata muncul dari mata yang kedua irisnya merah menyala.
"Mata itu! Kau…"
Sakura terkejut bukan main. Tanpa sadar, lelaki itu mengaktifkan sharingan. Dan Sakura tahu sharingan di hadapannya adalah asli, bukan ilusi dari genjutsu. Sakura melepaskan cengkraman di kerah Shisui. Ia mundur dari posisinya, mencoba menghindari tatapan mata itu.
"Yare-yare, sudah kuduga kau sudah sadar, Shisui." Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka. Lelaki berambut perak itu sedang membaca novel dengan santai di jendela ruang inap Shisui. Entah sejak kapan dia membuka jendela.
"Kakashi-sensei!" seru Sakura.
"Senpai!" Shisui ikut terkejut. Sejak kapan Kakashi ada di sana?
"Senpai?" Sakura menoleh pada Shisui. Ternyata orang ini juga mengenal gurunya. Kakashi menutup bukunya, lalu dengan santai masuk ke dalam ruangan, mendekati Sakura.
"Shisui adalah kouhai-ku sewaktu di ANBU dulu seperti Yamato." Kakashi menunjuk Shisui yang masih mengaktifkan sharingan miliknya,
"Omong-omong, Shisui, kau bisa menonaktifkan sharingan-mu. Kau tau, matamu itu bisa melukai pikiran seseorang."
Shisui tersadar, "Ah maaf, aku terbawa emosi." Mata merahnya kembali menjadi arang-hitam.
Sementara itu, Sakura yang merasa belum memahami beberapa hal bertanya pada Kakashi, "Kouhai? Tetapi dia sebaya denganku, Sensei!"
"Maa, itulah yang ingin aku tanyakan padanya." Kakashi mengangkat bahunya, ia sendiri juga tidak tahu. Seharusnya Shisui tampak seperti lelaki usia dua puluhaan, namun penampilannya masih sama dengan saat usianya masih enam belas tahun.
"Orang ini benar-benar Uchiha? Sensei yakin dia tidak menggunakan Shouten no Jutsu milik Akatsuki?" tanya Sakura memastikan lagi. Terakhir kali ia bertemu Itachi Uchiha pun ternyata dia adalah shinobi Sunagakure yang menyamar dengan jurus itu.
"Yah begitulah, aku sudah memastikan dengan sharingan sebelum masuk ke sini. Chakranya juga terlalu rendah untuk bertahan dengan jurus itu, Sakura."
"Kau benar. Kurasa aku akan percaya dan menyerahkannya padamu, Sensei." Sakura menghela napas. Ia tidak bisa beragumen lagi bila Kakashi sudah berkata demikian.
Di sisi lain, Shisui yang sedari tadi mengikuti pembicaraan Kakashi dan Sakura angkat suara.
"Aku masih tidak mengerti lelucon apa yang membuat kalian tidak semudah itu mempercayaiku. Senpai, bisakah kau panggilkan Sandaime-sama? Atau membiarkan aku bertemu dengannya. Ada hal penting yang harus kulaporkan pada beliau, terkait misi terakhirku."
Mendengar hal tersebut, Kakashi dan Sakura berpaling satu sama lain.
"Shisui, kurasa kita benar-benar perlu berbicara." ujar Kakashi dengan nada serius.
Sakura yang memahami kode Kakashi, bergegas mengambilkan segelas air untuk Shisui. Lelaki itu belum minum sama sekali sejak ia sadar, sementara ini akan menjadi pembicaraan yang sangat panjang.
Shisui menerima gelas dari Sakura dan menggumamkan terima kasih. Ia menghabiskannya setelah sempat memastikan tidak ada racun di dalamnya –dengan tatapan tajam Sakura—sebelum akhirnya menyahut,
"Ya, saat ini kita sedang berbicara, Senpai. Omong-omong, sejak kapan kau punya murid?"
"Maksudku, dengarkanlah penjelasanku dan jawablah pertanyaanku baik-baik. Kita harus memulainya dari awal."
"Baiklah, asal kau tidak menodongkan kunai padaku," ujar Shisui seraya melirik Sakura yang pura-pura tidak melihatnya.
"Tentu saja kalau kau bisa mengendalikan dirimu," jawab Kakashi sebelum menarik napas. Siapkan dirimu.
"Pertama, Sandaime-sama telah meninggal tiga tahun yang lalu."
Shisui melebarkan kedua matanya. Ia terpaku. Tidak mungkin! Ia baru bertemu dengan Hiruzen Sarutobi dua hari sebelum ia tidak sadarkan diri. Dan sekarang, mereka bilang Sandaime telah meninggal tiga tahun yang lalu.
Namun, pertanyaan di benaknya tidak langsung terjawab karena Kakashi telah mengajukan pertanyaan lain.
"Kedua… Shisui, apa hal terakhir yang kau ingat?"
An
Sorry! Aku tahu chapter pertama sangat gantung. Semoga chapter ini lebih memuaskan ya. Perlahan, semua misteri akan terjawab dan semua musuh akan terkuak :D
Aku juga sudah edit chapter pertama, beberapa hal ternyata harus kuperbaiki. Dan untuk karakter utama Sakura, telah kuganti dengan Team Seven. Karena mereka akan terlibat banyak selanjutnya (tidak hanya Sakura yang jadi iryo-nin) dan akan ada waktu Sasuke serta Itachi muncul.
Tapi ingat, fokus cerita ini adalah bagaimana Shisui menyesuaikan dengan realita 'masa depan'.
Hope you enjoy! Please leave some reviews if you'd like. I'm happy to see your responses!
J.
