Chapter 3.

Sore harinya.

Hari beranjak petang ketika Kakashi meninggalkan kamar Shisui. Sakura masih di sana, baru saja usai melakukan pemeriksaan terakhir. Kunoichi berambut merah jambu itu hendak menutup jendela dan merapikan tirai sebelum beranjak pulang. "Aku akan menutup jendelanya ya, Shisui-san."

Mendapati tidak ada jawaban dari lelaki itu, Sakura menoleh. Shisui duduk bersandar di tempat tidurnya, pandangannya lurus ke depan. Namun tatapannya kosong, seakan pikirannya entah di mana.

"Shisui-san?" panggil Sakura lagi tanpa beranjak dari posisinya. "Kau baik-baik saja?"

Shisui tersadar, ia menoleh ke arah Sakura. "Ah, maaf. Kurasa, aku butuh waktu untuk mencerna semua informasi ini." Lelaki itu tersenyum tipis.

Sakura mengangguk. Ia berempati pada Shisui. Apa yang dihadapi Shisui tentu tidaklah mudah. Setelah Kakashi menanyakan apa yang terakhir Shisui ingat, lelaki itu mulai bercerita. Tentu ia tidak menjelaskan bagian Danzo. Ia hanya berkata,

"Aku terluka parah setelah misi solo yang diberikan Sandaime. Namun racun membuat pergerakanku terbatas, aku hanya bisa mencapai gua tempat persembunyianku dekat Sungai Naka. Aku menyimpan penawar racun di sana, untuk jaga-jaga. Tetapi setelah meminum penawar itu, aku tidak sadarkan diri.

"Begitu sadar, aku sudah di sini. Dengan keributan yang menuduhku sebagai mata-mata. Sandaime yang telah meninggal. Senpai yang sudah memiliki murid –yang mengatakan klan Uchiha sudah tidak ada di desa ini. Apa maksudnya?"

Kakashi menoleh pada Sakura, mengisyaratkan 'jangan menceritakan soal klan Uchiha dulu'.

Sehingga ia meminta Sakura menjelaskan kronologi dari perspektifnya. Sakura pun berbicara tentang ia, Sai, dan Tim Konohamaru yang menemukannya dalam kondisi keracunan di sebuah terowongan tua Konoha. Bukan gua biasa seperti yang diceritakan Shisui.

Kakashi berpendapat ia harus melaporkan hal tersebut pada Hokage dan meminta melakukan investigasi lagi di terowongan tersebut. Termasuk untuk mencari bekas dari wadah penawar racun yang Shisui minum. Kakashi pun memiliki hipotesis mengenai ini,

"Shisui, kemungkinan besar kau telah melakukan perjalanan waktu. Time travel. Kau memiliki zona waktu yang berbeda dari kami, berdasarkan ingatanmu. Kemungkinan lain, kau berasal dari dunia paralel. Shisui Uchiha, dikabarkan hilang delapan tahun yang lalu. Sandaime-sama mengumumkan statusnya Missing in Action (MIA). Kepolisian Uchiha menemukan catatan bunuh diri, tetapi disangkal karena tubuhnya tidak ditemukan…"

"Ah, aku memang meninggalkan catatan itu pada Itachi untuk jaga-jaga. Bila lebih dari sepuluh hari aku tidak menemuinya tanpa kabar, Itachi boleh memberikannya pada anggota klan yang lain. Semenjak memenangkan perang dengan Kirigakure, aku tahu aku bisa mati kapan saja. Musuh selalu mengincarku," ujar Shisui. Dalam hati ia menambahkan 'dan mengincar kekuatan sharingan, bahkan Danzo.'.

"Begitu rupanya," Kakashi mengangguk, meyakini bahwa hipotesisnya semakin benar.

"Ngomong-ngomong, di mana Itachi? Apakah klan Uchiha masih tinggal di distrik yang sama?"

Sakura menegang, ia melirik Kakashi. Kakashi menghela napas, cepat atau lambat pasti mereka akan menyentuh topik itu. Jounin berambut abu-abu itu memegang bahu Shisui.

"Dengar Shisui. Klan Uchiha, tidak tersisa lagi di desa ini selain kau. Mereka telah tewas dibunuh tidak lama selang berita hilangnya dirimu. Hanya Sasuke yang selamat dari pembantaian itu. Namun sekarang dia dikuasai dendam dan menjadi pelarian--"

"Siapa pelakunya?" Shisui memotong.

"Itachi Uchiha," tandas Kakashi.

Shisui tampak tidak terkejut, terlepas dari raut wajahnya yang menegang mendengar fakta ini.

"Aku tahu ini berat bagimu, tetapi dialah yang melakukannya. Dengan alasan untuk mengukur kekuatannya, dan meninggalkan Sasuke dalam trauma psikologis yang berat. Semenjak peristiwa itu Itachi bergabung dalam organisasi kriminal, Akatsuki…"

"Mengukur kekuatannya? Itachi? Tidak mungkin dia melakukannya dengan alasan konyol seperti itu!" seru Shisui.

Kakashi menatap Shisui dengan pandangan menyelidik, "Kenapa tidak? Semua orang berpikir dia sudah kehilangan akalnya. Apakah kau ikut berkomplot dengannya, Shisui? Menghilang, lalu membantunya pada malam itu. Secara logika, Itachi tidak mungkin melakukannya seorang diri."

"Kakashi-sensei!" Sakura menyergah. Ia menggelengkan kepalanya. Ini terlalu berlebihan. Shisui memang belum dapat dipercayai sepenuhnya ditambah bukti yang ada belum begitu kuat. Namun tuduhan tersebut akan bertentangan dengan hipotesis Kakashi sebelumnya.

Sementara itu, Shisui tidak langsung menjawab. Ia menghela napas sebelum akhirnya berujar,

"Dalam kondisi seperti ini, wajar kalian belum bisa mempercayaiku sepenuhnya. Aku juga tidak bisa membuktikan bahwa aku tidak terlibat, maupun Itachi melakukannya hanya karena alasan konyol. Tapi aku mengenal Itachi sejak kecil. Dia anggota klan Uchiha, tetapi dia juga shinobi Konoha. Dia selalu berjanji untuk melindungi desa dan sebisa mungkin ingin menghentikan peperangan. Jadi sekali lagi kupikir, motif yang dia miliki sama sekali tidak masuk akal."

Kini ganti Kakashi yang menarik napas dalam-dalam, "Maa, ii. Kupikir cukup untuk sekarang. Hari ini terlalu berat untukmu, Shisui. Banyak hal yang masih janggal, terutama hubunganmu dengan Itachi serta kemunculanmu setelah delapan tahun. Aku akan memberikanmu waktu. Kalau kau sudah siap, kau bisa menghubungiku melalui Sakura."

Kakashi tahu masih ada hal yang disembunyikan Shisui.

Shisui menyadarinya.

Tapi tidak saat ini.


Sakura keluar dari ruang inap Shisui menjelang matahari tenggelam. Sebelum kepergiannya, Shisui mengucapkan terima kasih dan menanyakan kapan ia akan kembali.

"Aku akan datang besok pagi," ujar Sakura.

Shisui mengangguk. Ia masih memiliki waktu.

Lelaki itu menatap tirai jendela yang dibiarkan terbuka –atas permintannya—yang menghadap langsung Monumen Hokage. Ia menatap pahatan wajah lima Hokage. Wajah Tsunade Senju masih terasa asing di matanya.

Terlepas dari apapun yang sebenarnya terjadi, waktu benar-benar membawanya ke masa depan. Rasanya baru kemarin ia dikepung Danzo dan ANBU-nya habis-habisan. Tetapi hari ini klannya tercerai-berai, nyaris tidak tersisa, dan kedua sepupunya memburu darah satu sama lain demi dendam serta alasan yang tidak masuk akal.

Terbayang-bayang bagaimana seorang Itachi melakukan pembantaian itu pada keluarganya sendiri. Terlebih lagi, Sasuke kini berniat membunuhnya. Bagaimana pula Sasuke yang manis dan menyayangi kakaknya itu malah menjadi seorang pendendam?

Shisui tak habis pikir. Dulu ia mengatakan pada Itachi untuk memahami perasaan seseorang agar dapat mengerti jalan pikirannya, sehingga dapat memprediksi pergerakannya. Ironisnya, sekarang ia tidak bisa memahami nasihatnya sendiri.

Sungguh, delapan tahun membuktikan waktu tidak pernah bermain-main dalam mengubah banyak hal. Shisui berpikir, ini adalah pelajaran baru baginya.

Malam itu, Shisui berusaha untuk tidur dengan menerima semua kenyataan.

Ini bukan genjutsu.

Ia, Shisui Uchiha, harus berpacu dengan waktu.


Keesokan harinya.

Seperti yang janjinya, Sakura datang ke ruang inap Shisui pada pagi hari. Bahkan di luar dugaan Shisui, ninja medis itu datang pukul tujuh, lengkap dengan jas putihnya. Tanpa banyak basa-basi, Sakura segera melakukan pemeriksaan.

"Hmm, omong-omong aku tidak menduga akan sepagi ini," ujar Shisui memecah keheningan.

Sakura melepaskan bagian earpieces stetoskop dari telinganya. Ia tersenyum –tidak lagi sinis maupun mengerikan seperti kemarin—lalu berkata, "Kupikir saat kau bertanya kemarin, kau seakan-akan meminta untuk dipercepat, Shisui-san."

Shisui mengangkat kedua bahunya, tertawa kecil, "Oh, kau dokter yang sangat pengertian, Sakura. Jadi, bagaimana dengan kondisi tubuhku?"

Mendengar perkataan Shisui, Sakura sedikit tersipu. Ia sedikit berdeham untuk mengatur profesionalitasnya, "Semakin membaik. Aku tidak menyangka tubuhmu akan pulih secepat ini, mengingat racun itu nyaris melumpuhkan sistem syaraf tubuhmu. Kalau kau beristirahat penuh hari ini, mungkin besok pagi kau bisa keluar dari rumah sakit."

Kedua mata oniks Shisui berbinar, "Luar biasa, Sakura. Kau benar-benar ninja medis yang ahli. Aku berhutang padamu."

"Senang bisa membantu, Shisui-san. Kemampuanku tidak ada apa-apanya dibanding Shishou," sahut Sakura merendah. Dalam hatinya ia sendiri juga kagum dengan Shisui yang pasien yang baik dengan mengikuti segala protokol rumah sakit.

Shisui tertawa, "Kau harus menerima pujian itu, Sakura. Siapa yang mengajarimu? Tsunade-sama ya?" tebak Shisui.

Sakura mengangguk.

"Aku tidak menyangka beliau akan kembali ke Konoha lagi dan menjadi Hokage." celetuk Shisui, membuat Sakura cukup terkejut kalau lelaki Uchiha ini senang berbicara, "Delapan tahun memang tidak bermain-main ya…"

"Pasti sulit ya, Shisui-san. Sebelumnya kau pasti juga telah mengalami banyak hal." Sakura berusaha berempati. Ia ingat lelaki ini lahir lebih dahulu darinya, dan setidaknya pernah menyaksikan peperangan.

"Aa. Tapi kita adalah shinobi. Mau sesulit apapun, tetap harus melangkah maju," Shisui tersenyum getir, "Lalu Sakura. Bolehkah aku minta tolong? Aku punya pesan untuk Kakashi-senpai."

Sakura membelalakkan matanya. Ia mengerti maksud Shisui. Aku siap untuk interogasi yang sebenarnya.

"Kau yakin, Shisui-san? Kau baru mendengar semuanya kemarin." Sakura mencemaskan kesehatan mental pasiennya. Lelaki itu sempat tampak terpukul dengan kenyataan tentang klannya.

Lagi-lagi Shisui tersenyum. Ada kepahitan tersirat di sana, "Tidak apa-apa, Sakura. Cepat atau lambat, akan terjadi. Selain itu, aku sadar kita berpacu dengan waktu saat ini. Aku tidak ingin menyesal lagi."

Sakura menghela napas, ia tidak bisa menghalangi Shisui. Untung saja, lelaki itu sudah nyaris dalam kondisi primanya. "Baiklah. Akan aku sampaikan pada Sensei."

"Terakhir Sakura. Aku meminta seseorang dari klan Yamanaka turun tangan langsung. Lalu, tolong rahasiakan ini semua dari Danzo-sama dan ANBU Ne."

Sakura memicingkan matanya. Shisui mengetahui tentang Ne. Itu artinya, Danzo terlibat.

"Aku mengerti, Shisui-san. Permintaanmu akan diproses secepatnya."


Tidak perlu menunggu lama, pada malam di hari yang sama, Kakashi datang ke ruang inap Shisui bersama Tsunade dan Inoichi Yamanaka.

Shisui nampak tidak terkejut, justru terlihat siap. Ia tidak lagi mengenakan pakaian pasien rumah sakit, melainkan sebuah kaus abu-abu dengan pola spiral oranye yang dibawakan Sakura. (Tentu kalian bisa menebak siapa pemilik kaus itu)

"Kakashi-senpai," sapa Shisui, lalu menoleh ke dua sosok lain, "Um, Godaime-sama, Inoichi-san."

Lidahnya masih kelu mengucapkan 'Godaime'. Dalam hati, ia memutuskan untuk memanggil Hokage dengan 'Tsunade-sama' untuk selanjutnya. Sementara, ia telah mengenal Inoichi sebelumnya sehingga tidak ada kekakuan lagi.

"Kaus yang bagus, omong-omong," celetuk jenaka Kakashi.

"Milik teman satu tim Sakura, kurasa." Shisui mengendikkan bahunya, tertawa kecil.

"Kita langsung saja, Bocah," ujar Tsunade tanpa basa-basi, mengabaikan Shisui yang pada kenyataannya bukan anak kecil lagi, "Aku sudah mendengar laporan dari Kakashi. Dan atas permintaanmu, aku mengajak Inoichi Yamanaka dari Divisi T untuk mengecek kebenaran dari kata-katamu. Benar?"

"Benar, Tsunade-sama. Lalu saya meminta keamanan untuk semua memori yang akan saya perlihatkan." ujar Shisui. Tsunade menautkan alisnya, "Oh, kau mau kami menggunakan kinjutsu itu padamu?"

Shisui mengangguk. Pernah bergabung menjadi anggota ANBU membekalinya dengan cukup dengan teknik-teknik interogasi. Selain dengan mengecek kebenaran dengan merasuki pikiran, salah satu jutsu yang dimiliki klan Yamanaka memungkinkan penggunanya melihat memori seseorang serta membagikannya dengan orang lain. Seperti proyektor ingatan.

"Inoichi, bagaimana?" tanya Tsunade.

Inoichi menjawab, "Tidak biasanya seseorang meminta kami melakukan jurus itu biasanya. Kudengar kau baru pulih, tentu kau tahu apa konsekuensinya?"

Shisui mengangguk lagi dengan mantap, "Aku, Shisui Uchiha, telah memutuskannya. Demi mendapatkan kembali kepercayaan penuh sebagai shinobi Konoha yang loyal, serta….membantu mengungkap peristiwa delapan tahun lalu yang mungkin berhubungan dengan pembantaian klan Uchiha."

Tsunade dan Inoichi tampak terkejut. Sementara Kakashi bersikap biasa saja, seakan-akan telah menebak ini semua.

"Panggilkan Sakura. Suruh dia masuk ke ruangan ini. Sewaktu-waktu, bocah ini bisa pingsan."

Tidak lama kemudian Sakura memasuki ruang inap Shisui. Pintu kembali dikunci.

"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai, Shisui."

Inoichi meletakkan tangan kanannya pada dahi Shisui, sementara tangan kirinya membentuk segel. Shisui memejamkan matanya.

Begitu kekkai pengaman diaktifkan di ruangan, kilas balik memori dimulai.


Shisui merasa ia seperti terlempar ke masa kecilnya.

Ia melihat kembali pertemuan pertamanya dengan Itachi.

Ia mengulurkan tangannya pada anak laki-laki di hadapannya sambil tersenyum,"Mari berteman! Kau pasti Itachi kan, anak Fugaku-san dan Mikoto-san? Aku Shisui Uchiha."

Latihan yang mereka lakukan di Hutan Kematian.

"Seperti yang telah kuduga, kau benar-benar shinobi yang hebat, Itachi!" Shisui menepuk bahu Itachi.

"Kurasa aku tidak ada apa-apanya dibandingmu Shisui," sahut Itachi datar.

Shisui tertawa, "Kau akan mengerti. Kupikir tidak ada yang bisa kuajarkan lagi padamu."

"Tidak! Hari ini kau mengajari banyak hal padaku."

Shisui tersenyum, "Kau seperti adik laki-lakiku, Itachi. Aku ingin kau menganggapku sebagai kakak, dan bergantung padaku untuk banyak hal.

Aku memang tidak tahu apa yang kita lakukan benar atau salah, tapi yang pasti, aku tidak akan mengkhianatimu Itachi."

Beberapa hari kemudian,

"Shisui, sudah berapa kali kau datang ke pertemuan klan?" tanya Itachi suatu hari.

"Entahlah. Sejak aku menjadi genin kurasa, lima tahun yang lalu. Kau cemas?"

Itachi tidak menjawab. Ini pertemuan pertamanya.

"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja." Shisui tersenyum.

Lima tahun kemudian,

"Sudah kuduga, pembicaraan di pertemuan akan menjadi alot." ujar Shisui suatu hari seusai latihan rutinnya dengan Itachi.

"Klan sudah menaruh banyak ketidakpuasan dengan desa. Apa yang harus kita lakukan, Shisui?"

Itachi berusaha menyembunyikan emosinya, tetapi Shisui tahu sepupunya itu sedang dalam tekanan.

"Kau lakukan tugasmu. Aku akan mencoba dari sisiku untuk mengambil sekutu lainnya dari klan."

Sore itu, pertemuan terakhir Shisui dengan Itachi.

"Itachi, anggota klan lain makin mencurigai. Mereka meminta seseorang dari klan untuk mengawasimu."

"Aku tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Siapa yang mereka tugaskan?"

"Tentu saja, aku!" Shisui tersenyum lebar.

"…." Wajah Itachi seakan-akan berkata, 'ini tidak lucu!'

"Hei, hei. Kita memang sahabat baik dan teman dekat, wajar bukan? Selain itu, aku tidak akan pernah mengkhianati desa dan dirimu, Itachi. Kau tahu itu." Shisui mencari alasan, berusaha menghibur Itachi.

"Aku gagal bernegosiasi dengan Ayah. Rencana untuk melakukan kudeta semakin matang. Bagaimana denganmu, Shisui?" tanya Itachi.

Shisui tertegun, "Aku juga kesulitan untuk mencari sekutu. Bagaimanapun darah Uchiha mereka lebih kental daripada air."

"Maafkan aku." Itachi tertunduk.

"Tidak apa-apa. Kita akan pikirkan cara lainnya. Bagaimana kalau—"

"Niisan! Hei, Niisan!" Itachi dan Shisui menoleh. Dari kejauhan seseorang memanggil Itachi.

"Sasuke?"

"Aku mencarimu!" Sasuke merengut, lalu menghampiri Itachi, "Apa yang kau bicarakan dengan Shisui-san? Beritahu aku!"

Shisui tersenyum lebar, "Sasuke, kau mau tahu? Sini, aku akan beritahu sebuah rahasia padamu!"

Sasuke tampak berbinar. Itachi hanya tersenyum tipis.

'Keluarga ini… aku pasti akan melindunginya.'

Pertemuan dengan Petinggi Desa.

Shisui bertumpu pada sebelah lututnya. Di hadapannya adalah Hokage dan petinggi desa lainnya. Sebagai agen ganda kedua, Shisui memberi laporan pada mereka.

"Izinkan aku melakukan satu upaya lagi. Aku akan mencoba menggunakan Koto Amatsukami pada Fugaku Uchiha untuk menghentikan kudeta," ucap Shisui dengan yakin.

"Apa?!" Seluruh orang di ruangan itu terkejut.

"Shisui, kau tahu konsekuensi menggunakan kekuatan itu pada klanmu sendiri?" tanya Hiruzen.

"Saya tahu. Sandaime-sama, tolong biarkan aku melakukannya!"

Sore hari, di padang rumput dekat Sungai Naka.

"Mangekyo Sharingan milikmu. Aku dapat menggunakannya lebih baik dari dirimu! Kudeta tidak akan bisa dihentikan dengan matamu ini!"

"Danzo! Apa yang…" Shisui terpaku, tak bisa bergerak. Racun itu telah masuk ke sistem tubuhnya.

"Kulakukan? Aku mengambil kedua matamu!" Danzo menerjang ke arahnya.

Panik menghujam dada Shisui. Hanya satu yang ia pikirkan kali ini, 'melarikan diri' atau 'mati'.

Gua persembunyian Shisui, di dekat Sungai Naka.

Shisui baru saja meminum penawar racun yang ia simpan. Namun kondisi tubuhnya semakin parah. Dengan napas tersengal dan mata yang nyaris terpejam, ia bersandar di dinding gua.

'Apakah aku terlambat?' Kepalanya sakit. Detak jantungnya tak beraturan.

"Argh!" Rasa sakit itu menghujam, ia tidak tahan lagi. Tubuhnya terbaring di dasar gua.

"Itachi… maafkan… aku." Matanya tertutup.


"Haah… haah…" Shisui membuka matanya perlahan. Keringat bercucuran di wajahnya. Napasnya tersengal.

Ia tahu, proses interogasi dengan membuka memori dengan jurus Klan Yamanaka akan menguras tenaganya. Tak heran bila jurus ini dapat menyebabkan subyeknya kehilangan kesadaran, bahkan yang terburuk adalah terluka secara psikis.

"Shisui-san!" Sakura segera menghampiri Shisui, tetapi lelaki itu mengisyaratkan bahwa dirinya tidak apa-apa.

"Jadi.. apakah… aku sudah mendapatkan kembali kepercayaan Konoha, Tsunade-sama?" tanya Shisui dengan terbata.

BRAAAAAK!!!

"Tsunade-sama!"

Tsunade tidak langsung menjawab, melainkan melayangkan tangannya ke meja kamar. Untung saja properti milik rumah sakit itu tidak terbelah dua.

"Danzo, kurang ajar! Dia pasti terlibat dalam kasus Uchiha!" seru Tsunade geram. Kakashi dan Inoichi berusaha menenangkan Godaime Hokage itu.

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaganya, Shisui berujar,

"Tsunade-sama, jangan biarkan dia tahu… aku memberitahumu soal penyerangan itu… dan juga…soal kudeta…"

"Aku tahu!" Tsunade menatap Shisui,

"Shisui Uchiha! Mulai malam ini, aku mengembalikan statusmu sebagai shinobi aktif Konohagakure dengan level Jounin. Bersiap-siaplah, kita memiliki banyak pekerjaan!"

Mata Shisui berbinar. Ia tersenyum lebar.

"Baik, Tsunade-sama!"

Tunggu aku, Itachi, Sasuke.