Bagian Kedua

Matahari yang Direnggut

.

.

Bocah kecil beriris perak itu berlari-lari masuk ke dalam sebuah bangunan tinggi menjulang, di salah satu area tersibuk Negeri Cahaya. Tidak seperti kebanyakan bangunan di seluruh planet yang didominasi bahan kristal bening berwarna hijau, bangunan yang satu ini dibangun dengan kristal putih yang sedikit lebih tinggi ketahanannya.

"Hai, Solar! Kamu datang lagi?"

Penjaga di pintu masuk menyapa ramah. Biasanya seorang anak kecil tidak akan diizinkan sembarangan masuk ke tempat itu, tetapi bocah yang satu ini adalah pengecualian. Ia adalah putra satu-satunya dari salah satu Pemimpin Divisi di Lumen, pusat riset dan teknologi Negeri Cahaya. Bukan cuma memiliki kecerdasan yang luar biasa, di usia belia dia telah beberapa kali terlibat secara aktif di dalam riset Lumen. Dan, tentu saja, dengan hasil yang memuaskan.

"Ada yang ingin kulakukan secepatnya, Paman!" Solar tersenyum lebar. "Pokoknya sesuatu yang luar biasa!"

Penjaga itu tertawa. "Beri kami kejutan lagi setelah ini, Nak!"

"Tentu saja!" Solar tersentak tiba-tiba. "Ah, iya. Kak Cahaya ada, 'kan?"

"Hm? Sepertinya beliau ada di ruangannya."

"Oke. Aku akan menemuinya sekarang. Terima kasih, Paman! Aku pergi dulu!"

"Semangat, ya!"

"Iya!"

Solar bergegas memasuki elevator, lurus beberapa meter saja dari pintu masuk. Lantai yang ditujunya, lantai 7, adalah ruangan khusus salah satu Pemimpin Divisi yang sudah lama akrab dengannya.

"Kak Cahaya!"

Solar langsung berseru antusias begitu kakinya menginjak ruangan serba putih itu. Seorang pemuda, yang juga berpenampilan serba putih, tampak sedikit terkejut saat pintu terbuka tiba-tiba. Namun, kemudian, ia tersenyum tipis ketika melihat Solar berlari kecil menghampirinya.

"Kamu semangat sekali hari ini," berkata Cahaya, hanya teralih sejenak dari laporan yang sedang ditulisnya di meja kerjanya. "Ada apa? Purwarupa alat baru yang kita bicarakan kemarin sudah jadi?"

"Oh, kalau soal itu, tinggal sedikit lagi. Besok aku akan membawanya kemari."

"Hmm."

"Pokoknya, hari ini aku mau membicarakan sesuatu dengan Kak Cahaya!"

Nada kelewat antusias yang tak biasanya ditunjukkan oleh Solar, membuat Cahaya memutuskan untuk memberikan perhatian penuh kepada anak itu.

"Lebih penting daripada purwarupa itu?" Cahaya mengangkat sebelah alisnya.

Solar mengangguk. Senyum masih setia menghias wajahnya. "Aku ... sudah memutuskannya!"

"Memutuskan apa?"

"Aku akan bergabung dengan Lucerna!"

Sepasang iris cokelat madu milik Cahaya, seketika melebar. Untuk sesaat, ia tak yakin harus menanggapi bagaimana.

"Wah, itu ... mengejutkan." Cahaya menimbang pemilihan kata-katanya. "Kupikir kamu menyukai sains, dan suatu saat akan bergabung dengan kami di Lumen."

"Aku memang suka riset dan membuat berbagai macam benda." Solar mengangkat bahu. "Tapi ... menjadi Kesatria Cahaya itu keren sekali, 'kan!"

"Iya, sih ..."

"Kurasa aku bisa tetap melakukan keduanya. Riset, dan juga menjadi anggota Lucerna."

Cahaya tertegun sejenak ketika Solar menatapnya dengan mata berbinar-binar. Pemuda itu menghela napas samar.

"Kalau Solar, pasti bisa melakukannya."

Mendengar perkataan Cahaya, terasa seperti mendapatkan 'persetujuan' dari seorang ayah yang tak pernah dimilikinya. Solar pun tersenyum lebar.

"Kalau sudah dewasa nanti, aku akan menjadi Kesatria Cahaya paling hebat yang pernah ada!"

Sambil tersenyum, Cahaya mengangkat telapak tangan kanannya, lantas menghadapkannya ke arah Solar. Anak itu langsung menepukkan telapak tangan kanannya sendiri ke telapak tangan Cahaya. Diikuti satu tawa kecil penuh semangat.

"Berjuanglah."

"Terima kasih, Kak!"

Di mata Solar, senyum Cahaya hari itu begitu tulus mendukung cita-citanya. Dalam sekejap, seluruh dunianya seolah dilingkupi cahaya terang, nyaris membutakan. Namun, begitu hangat.

Menenangkan.

Menguatkan.

Walau dirinya dikelilingi oleh kegelapan.

Kegelapan.

Gelap.

Tunggu ... Kenapa? Kenapa semuanya berubah menjadi gelap? Beberapa waktu yang lalu, Solar seolah masih terperangkap di dalam tubuhnya sendiri di waktu kecil. Terasa seperti mimpi, tetapi juga nyata. Seperti ia mengulangi kembali sebagian masa kecilnya.

Seperti mimpi.

Ya.

Memang mimpi.

Dibiarkannya saja dirinya terbenam di dalam mimpi penuh cahaya itu. Karena rasanya begitu damai dan menyenangkan. Ketika matanya masih dipenuhi oleh harapan. Ketika ia hanya bisa melihat jalan yang benderang.

Akan tetapi, mimpi hanyalah mimpi yang pasti akan berakhir. Kemudian, dirinya kembali ditelan kegelapan.

Sesak.

Panas.

Solar merasakan suatu emosi yang tak pernah ia alami sebelumnya di dalam hidupnya. Ini lebih daripada kemarahan. Lebih daripada kekecewaan.

Dia benar-benar frustasi.

Dan kemudian, ia menemukan kedua matanya telah terbuka. Dirinya tak lagi dikelilingi kegelapan, tetapi tempat ini pun rasanya tidak lebih baik.

Anak muda itu bangkit dari lantai tempatnya berbaring, yang hanya beralas selimut tipis. Selayang pandang disapukannya tatapan ke seluruh pondok tempatnya berada sekarang. Sebuah pondok batu mungil di Planet Volcania, di mana dia telah diasingkan dari planet kelahirannya sendiri.

Sepasang mata beriris perak itu meredup, sebelum ia mengusap wajahnya dengan tangan kanan.

"Mimpi ..."

Sosok yang masih remaja itu bergumam sendirian. Masih jelas di benaknya, mimpi yang baru saja ia lihat. Mimpi tentang masa kecilnya, yang rasanya sudah begitu jauh di masa lalu.

Kenapa?

Kenapa semuanya malah jadi seperti ini?

Setelah nekat mendekati Plasma Spark, dirinya malah dibuang ke planet antah-berantah seperti ini. Seperti sampah. Padahal cahaya berkilauan itu sama sekali belum disentuhnya. Sampai detik ini pun, dia masih belum bisa memahaminya.

Mengapa seorang Solar, yang sudah meraih berbagai prestasi luar biasa sejak kecil, harus diperlakukan seperti ini?

"Aku tidak terima."

Entah sudah berapa kali kata-kata itu diucapkannya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Solar telah menjadi pendosa yang melanggar hukum tertinggi Negeri Cahaya.

Di tempat ini, tidak ada rantai atau jeruji besi yang menahannya. Dia diberi tempat tinggal yang walaupun sangat kecil dan sederhana, tetapi cukup layak. Dia pun bisa bebas keluar masuk pondok batu ini tanpa halangan. Dia bisa pergi berburu atau mengumpulkan makanan dari hutan tak jauh dari sini.

Akan tetapi, dia sama sekali tak bisa meninggalkan planet yang penuh gunung berapi ini.

Berpikir begitu menggiring tatapan Solar kepada semacam gelang berbahan kristal merah yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Bukan gelang biasa, tentu saja. Sebuah mekanisme khusus membuat benda itu takkan bisa dilepaskan tanpa otorisasi langsung dari petinggi Lucerna. Dan selama ada benda itu di pergelangan tangannya, Solar tidak akan bisa pergi ke mana-mana tanpa izin.

Lantas, apa bedanya itu dengan 'penjara'?

"Meooong~"

Solar tersentak ketika suara itu terdengar. Dilihatnya seekor kucing mungil berbulu hijau dengan ekor berduri cabang tiga, tiba-tiba sudah memasuki pondoknya.

"Kau lagi," keluhnya.

Anak kucing itu terus mendatanginya dalam beberapa hari terakhir ini, walau Solar selalu mengusirnya pergi. Salahkan dirinya sendiri yang sudah iseng memberi makan kepada binatang kecil itu ketika mereka bertemu pertama kali di hutan.

Apa boleh buat, 'kan? Waktu itu si anak kucing tersesat dan tampak kelaparan.

Si anak kucing kembali mengeong di dekat Solar. Bahkan kali ini berani melompat ke dalam pelukannya. Solar menghela napas pasrah. Sepertinya percuma kalau ia mencoba mengusir anak kucing itu lagi sekarang.

"Memangnya kau tidak punya rumah, ya?"

Nyaris tanpa sadar, Solar mengelus si kucing yang kini melingkar nyaman di pangkuannya. Ia tersenyum kecil ketika si kucing memejamkan mata dan mulai mendengkur samar.

Tiba-tiba Solar mendengkus tipis, sinis. Untuk sementara, biarlah ia bersantai sejenak bersama kucing itu. Setelah ini, dirinya masih harus mengikuti sesi latihan rutin bersama seorang anggota Lucerna yang ditugaskan untuk mengawasinya.

"Sayang sekali, tapi kau sudah tidak layak lagi menyandang gelar Kesatria Cahaya."

Solar menggeretakkan rahang dengan tangan terkepal kuat. Dibandingkan apa pun, kata-kata Gamma saat itu jauh lebih menyakitinya. Padahal tinggal sedikit lagi, dirinya akan resmi menjadi seorang Kesatria Cahaya yang dicita-citakannya sejak kecil. Namun, sekarang, semua kandas begitu saja.

Mengesalkan.

Benar-benar sangat mengesalkan.

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)

Mengambil ide cerita dan beberapa unsur dari franchise "Ultraman Zero"; khususnya movie "Mega Monster Battle: Ultra Galaxy Legend"; milik Tsuburaya Production(c)

Fanfiction "Ultra Galaxy: Solar ~Sunrise~" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

UltramanZero!AU. Action-Adventure-Friendship-Family. Maybe OOC.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Sesosok pemuda belia tampak berjalan sendirian di sebuah planet yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sosok berbaju dominan hijau muda itu menoleh ke sana kemari. Sejauh mata memandang hanya ada padang pasir luas membentang. Tak ada yang lain, kecuali rawa di beberapa tempat, serta bebatuan besar dan kecil. Juga sejenis tetumbuhan hijau aneh berduri.

"Hm? Apa benar ada monster di sini?" Si pemuda bicara sendiri sembari memiringkan kepalanya yang juga mengenakan topi berwarna hijau dengan lidah topi menghadap kiri belakang. "Tapi Cahaya yang bilang, jadi nggak mungkin salah."

Baru saja sang remaja berkata demikian, tiba-tiba sesuatu muncul dari dalam rawa-rawa tak jauh darinya. Makhluk hijau besar langsung melompat ke atas batu terdekat dengan pose mengancam.

"Rrroaaaaar!!"

Makhluk itu menggeram dengan muka seram. Si pemuda terkejut, refleks mundur selangkah.

"Kodok rawaaaaa!!"

Remaja putra itu berteriak spontan, sebelum kembali mundur satu langkah.

"Woi! Aku bukan kodok, lah!" Tak disangka, monster bergigi tajam setinggi lebih dari tiga meter itu ternyata menanggapi ucapannya. "Aku adalah Mul—"

"Monster hijau muka jeleeek!" anak muda itu berteriak lagi.

"Siapa yang kaubilang jelek, hah, Bocah?!"

Mata anak muda itu mendadak membulat, kemudian berbinar-binar.

"Monster jeleknya bisa ngomong!" Dia tersenyum lebar. "Kereeen~!"

"Telat, woi! Aku sudah ngomong dari tadi!!"

Perkataan terakhir remaja berbaju hijau itu rupanya telah menyulut kemarahan sang monster yang memiliki deretan tajam berbentuk segitiga di sepanjang kepala hingga ke punggungnya, terus sampai ke ekor. Ia kembali menggeram, lebih dahsyat daripada sebelumnya.

"Kau!" sang monster hijau berkata penuh amarah. "Aku tahu baumu!"

"Bau?" Remaja itu mengendus tubuhnya sendiri dengan sebelah alis terangkat. "Tapi aku 'kan sudah mandi—"

"Diam!" Bentakan sang monster kali ini menyentak anak muda itu hingga terdiam. "Kau pasti Kesatria Cahaya dari Planet Quabaq! Aku sangat benci kalian semua!"

"Eeeh? Kenapaaa? Padahal kita baru bertemu, 'kan?"

"Tutup mulutmu! Hari ini, aku Multi-Monster, akan melenyapkanmu dari dunia ini!"

"Tunggu sebentar, Tuan Malnutrisi Monster—"

"Namaku Multi-Monster, dasar bocah tidak sopan!"

"Ah, maaf. Aku belum memperkenalkan diri, ya? Itu memang tidak sopan." Anak muda itu menundukkan kepalanya sejenak dengan takzim. "Namaku Daun. Salam kenal ya, Tuan Multi-Monster."

Pemuda bernama Daun itu tersenyum. Begitu teduh senyumnya, hingga sang monster pun terdiam sesaat.

"Ah, iya ..." Multi-Monster terbawa suasana, lantas ikut membalas salam dengan menundukkan kepalanya sedetik. "Salam kenal juga—Aaaaargh! Bukan itu!"

Daun memiringkan kepalanya, bingung kenapa Multi-Monster mendadak marah-marah.

"Sudah cukup!" Multi-Monster menuding Daun dengan jari telunjuknya. "Ayo, lawan aku!"

Daun mengernyit tak suka. "Berkelahi itu tidak baik. Kenapa kita nggak berteman aja?"

"Hah? Berteman, katamu?" Multi-Monster tertawa sinis. "Mana ada ceritanya monster berteman dengan Kesatria Cahaya?!"

"Ada, kok. Salah satu kakakku berteman dengan para monster—"

"Masa bodoh! Dengar, Bocah! Kita adalah musuh abadi!"

"Kenapa?"

"Apanya yang 'kenapa'?! Aku monster, kau Kesatria Cahaya! Kita memang ditakdirkan untuk saling menghancurkan! Paham?!"

Daun mengedipkan matanya dengan tatapan polos. "Enggak."

"Aaaaaaargh—!"

Multi-Monster mulai emosi jiwa. Dia pun menyadari, percuma meladeni pembicaraan dengan bocah aneh bin ajaib di hadapannya ini. Sang monster menggeram dahsyat sekali lagi.

"Cukup, kataku! Kau akan kuhancurkan!"

Mengawali serangan secara tiba-tiba, Multi-Monster melompat turun, lantas mengangkat batu besar yang sedari tadi dipijaknya hanya dengan satu tangan, seolah itu bukan apa-apa. Daun malah terkagum-kagum melihat itu. Namun, ia segera menghindar dengan sigap ketika batu itu dilemparkan ke arahnya.

"Akar Berduri!"

Bersamaan dengan seruan itu, Daun memanggil akar-akar berduri dari dalam tanah, menjalar dengan cepat lantas mengikat seluruh tubuh lawan hingga tak bisa bergerak. Tatapan mata Daun menajam, sementara ia mengarahkan telapak tangannya lurus-lurus ke arah Multi-Monster. Detik berikutnya, ia membuat gerakan menggenggam. Semakin erat genggamannya, semakin kencang pula ikatan akar berduri pada musuh.

Multi-Monster menggeram kesakitan, kemudian jatuh berdebam ke tanah berpasir. Sementara, Daun sama sekali tidak melonggarkan ikatannya.

"Ternyata Tuan Multi-Monster lemah, ya?" Daun memiringkan kepalanya. "Lebih baik menyerah saja, lalu kembali ke jalan yang benar. Oke?"

"Jangan bercanda!"

Sang monster meradang, tetapi penolakan itu membuat Daun mengeratkan ikatan akarnya lagi. Hingga akhirnya sang monster harus menyerah kalah. Namun, ketika Multi-Monster benar-benar sudah tak bisa bergerak lagi, sesuatu terjadi. Tubuhnya tiba-tiba diselimuti cahaya hijau samar, hanya sekejap, monster itu telah membelah diri menjadi dua!

"Alamak!" Daun berseru kaget. Namun, detik berikutnya ia malah tertawa. "Ini baru kereeen~!"

Kedua Multi-Monster telah berdiri dalam keadaan segar bugar. Keduanya mengambil batu-batu besar yang kebetulan ada di dekat mereka masing-masing, lantas melemparkannya ke arah Daun.

"Seranganmu nggak kreatif, ya, Tuan Multi-Monster."

Daun melompat menghindar ke samping, disambung dengan berguling menjauh.

"Lontaran Daun!"

Dua lembar daun membelah udara layaknya senjata lempar dari logam, hingga masing-masing menemui sasarannya, dan tetap menempel di tubuh Multi-Monster. Daun tersenyum puas ketika kedua monster langsung roboh, tahu keduanya mengalami kebas dan kejang, efek dari daun-daun miliknya.

Akan tetapi, hal yang sama kembali terulang. Kedua Multi-Monster diselimuti cahaya dan membelah diri. Semuanya dalam keadaan segar bugar.

"Oh ... Sekarang jadi empat?" kata Daun.

Para Multi-Monster tertawa angkuh.

"Inilah kemampuan khususku!" salah satunya berkata. "Setiap kali dikalahkan, aku akan bangkit lagi dengan membelah diri! Kau tidak akan punya kesempatan!"

"Hmmm ... Berarti, kalau kukalahkan lagi, kamu akan jadi ...," Daun menjeda sejenak sembari berhitung dengan jari-jarinya, "delapan?"

"Tepat sekali!"

"Berarti ... serangan yang akan kamu terima dariku juga jadi delapan kali lipat, dong?"

"Eh?"

"Dan kalau setelah itu kamu membelah diri lagi ... berarti makin lama, makin banyak tubuhmu yang bakal kena serangan."

"B-Betul juga katamu ..."

Daun menatap lurus ke depan dengan muka serius. "Maso-Monster."

"Haaah?!" Butuh dua-tiga detik bagi Multi-Monster untuk memutuskan harus bagaimana menanggapi reaksi tak terduga Daun. "Kau ... Kau memperolokku!! Sudah, cukup! Aku akan menghancurkanmu!"

Pertarungan dimulai lagi. Memang, tidak terlalu sulit bagi Daun untuk mengalahkan para Multi-Monster. Walaupun setiap kali dikalahkan, mereka akan terus bermultiplikasi. Hanya sedikit lebih repot saja, harus mengalahkan lebih banyak lawan sekaligus.

"Ah! Aku mengerti! Jadi karena itu namamu Multi-Monster?" mendadak Daun menyuarakan pikirannya di tengah-tengah pertarungan.

"Kau baru sadar, Bocah?! Sudah terlambat untuk menyesal!"

Multi-Monster tidak berhenti maju menyerang, meski setiap kali Daun selalu berhasil mengalahkannya. Hingga suatu ketika, Daun menyadari jumlah musuhnya sudah bertambah berkali-kali lipat. Dari yang hanya satu, kini sudah berjumlah puluhan. Dan mereka semua mengepungnya dari segala arah.

"Tuan Multi-Monster." Daun menghela napas. "Berhenti aja, yuk. Nggak capek apa?"

"Omong kosong!"

Salah satu Multi-Monster terdekat dari Daun, kembali maju mengawali serangan. Kali ini Daun hanya berjongkok santai, menunggu musuhnya datang. Lantas, ketika sang monster telah berada di dalam jangkauan, ia langsung mengulurkan tangan. Digenggam dan diangkatnya sang monster dengan begitu mudahnya.

Yah, karena setiap kali membelah diri, masing-masing tubuh Multi-Monster mengecil dan terus mengecil. Hingga pada titik ini, ukurannya hanya tinggal segenggaman tangan Daun saja.

"Mini-Monster," komentar Daun. "Kan sudah kubilang. Lebih baik kita berteman, dan Tuan Multi-Monster bisa kembali ke jalan yang benar."

"Jangan harap!"

Para Multi-Monster tetap maju menyerang. Puluhan makhluk hijau menaiki tubuh Daun, tetapi pemuda itu membiarkannya saja. Walau terkadang ia harus tertawa menahan geli.

"Ya sudahlah, kalau begitu."

Daun bangkit sambil melepaskan satu Multi-Monster yang masih digenggamnya. Pemuda itu langsung pasang kuda-kuda.

"Pusaran Daun!"

Dedaunan hijau mengelilingi Daun, dan ketika sang pemuda berputar, dedaunan itupun ikut berputar dalam pusaran angin. Cukup kencang untuk membuat para Multi-Monster berjatuhan dari tubuh Daun.

Nyaris tanpa jeda, Daun menjejak halus ke tanah. Tubuhnya pun melayang tenang secara vertikal, hingga berhenti di udara dalam jarak tiga meter dari tanah.

"Balutan Daun Anyaman!"

Kali ini daun-daun berbentuk panjang yang muncul. Daun-daun itu membentuk anyaman dengan cepat, membungkus semua Multi-Monster di dalamnya.

"Lepaskan aku!" para Multi-Monster berseru tanpa daya.

Di dalam kungkungan anyaman daun, sesuatu kembali terjadi. Tubuh para Multi-Monster diselimuti cahaya selama beberapa detik. Ketika cahaya itu meredup, ia telah kembali menjadi satu ke ukurannya semula. Dan saat cahaya semakin redup lagi, sosok monster itu ikut memudar. Terus memudar, hingga akhirnya hilang.

"Selesai juga."

Daun memejamkan mata sejenak. Cahaya hijau menyelimuti seluruh tubuhnya. Ketika membuka mata kembali, ia bergegas terbang lebih tinggi. Terus naik, terus, terus hingga menembus lapisan demi lapisan atmosfer.

Tak butuh waktu lama, Daun telah melayang tenang di angkasa lepas, dari mana ia dapat melihat keseluruhan planet yang didominasi warna cokelat pasir itu. Sekali lagi, ia memejamkan mata sejenak, kali ini sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada.

Cahaya hijau terang berkumpul di kedua kepalan tangan Daun. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya kembali menjauh ke sisi tubuh. Cahaya hijau menyorot ke bawah dari masing-masing tangannya, membentuk semacam kolam cahaya hijau tepat di bawah kakinya.

Tanpa ragu, Daun menjatuhkan dirinya ke dalam kolam cahaya itu. Yang kemudian menghilang perlahan, setelah seluruh tubuh Daun terbenam di dalamnya.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Cahaya berdiri bersandar ke salah satu tiang besar di lorong utama Space Port, yang masih merupakan satu kesatuan dengan Markas Besar Lucerna. Lorong itu sendiri didominasi warna hijau dari kristal pembangunnya, seperti juga keseluruhan tempat ini. Tepat terhubung ke landasan pacu yang saat ini ramai oleh lalu lalang para Kesatria Cahaya yang datang dan pergi, dari dan ke berbagai penjuru angkasa.

Masih sibuk dengan proyeksi hologram dari tablet kesayangannya, Cahaya tersenyum dengan ekspresi puas. Ia pun menutup tampilan penuh angka-angka koordinat itu, lantas menggantinya dengan tampilan rekaman langsung dari satelit yang memonitor keadaan planetnya.

Melalui layar hologram, baru saja dilihatnya kolam cahaya hijau mendadak muncul tak jauh dari atmosfer planet hijau Quabaq. Pemuda itu tersenyum, ketika matanya menangkap sosok Daun keluar dari dalam kolam cahaya hijau, kemudian langsung terbang turun ke permukaan planet.

"Cahaya."

Pemuda itu menegakkan badan ketika mendengar namanya dipanggil. Tampak olehnya, Gamma beserta Panglima Pyrapi tengah berjalan mendekat.

"Bagaimana situasinya?" Panglima Pyrapi bertanya tanpa basa-basi.

"Semua sudah aman." Cahaya mematikan tampilan hologram dari tabletnya. "Setelah dua kemunculan terakhir monster yang terdeteksi, sudah tidak ada yang lain lagi."

"Mas Mawais dan King Balakung sudah pergi ke dua lokasi tersebut, Panglima," Gamma menambahkan.

Panglima Pyrapi mengangguk-anggukkan kepala. Saat itu juga, Cahaya menangkap dari sudut matanya, sosok Daun yang telah tiba di langit dekat markas. Pemuda hijau itu langsung mendarat dengan halus di landasan Space Port yang terhubung langsung dengan lorong tempat Cahaya berada sekarang. Bangunan Space Port itu sendiri, terhubung dengan bangunan utama Markas Besar di sisi yang lain.

"Cahaya!"

Yang dipanggil hanya tersenyum, mendapati Daun berlari kecil menghampirinya dengan wajah ceria.

"Oh!" Daun cepat-cepat memberi hormat ketika melihat dua orang yang lain. "Panglima, saya sudah kembali."

"Kerja bagus, Daun."

Daun tertawa kecil mendengar pujian dari Panglima Pyrapi.

"Tapi ... kenapa mendadak terjadi lonjakan kemunculan monster di berbagai planet?" kata Gamma tiba-tiba.

"Soal itu," Cahaya menyahut cepat, "Lumen masih menyelidiki penyebab pastinya. Tapi sepertinya telah terjadi peningkatan energi minus yang abnormal di berbagai penjuru galaksi."

"Energi minus?" ulang Panglima Pyrapi. "Hmm ... Kalau ini terus berlanjut, bahkan Lucerna akan kewalahan mengatasi semuanya sekaligus."

"Benar," berkata Gamma. "Kita kekurangan orang."

Daun tersentak kecil, kemudian menatap Gamma dengan matanya yang sedikit membulat. "Kak Gamma, kenapa kita nggak panggil 'dia' kembali saja?"

"'Dia'?" Cahaya mengangkat sebelah alis. "Maksudmu ...?"

Cahaya tidak meneruskan ucapannya. Tatapannya pun ikut terarah kepada Gamma, seperti juga Panglima Pyrapi. Namun, pria itu hanya mendesah samar.

"Tidak. Belum saatnya."

Daun dan Cahaya saling berpandangan. Sementara, Panglima Pyrapi hanya mengangguk maklum.

"Ada perubahan yang aneh pada aliran inti energi Plasma Spark."

Keempat anggota Lucerna yang berada di tempat itu, terkejut ketika mendengar sebuah suara yang sangat familier. Tampaklah, sosok pria tegap, gagah, berwibawa dengan penampilan didominasi warna merah pekat dan sedikit hitam, datang didampingi wanita anggun berpenampilan elegan serba biru.

"Panglima Tertinggi Satriantar," kata Cahaya. "Dan Lady Kuputeri."

Pemuda itu menundukkan kepala sejenak untuk menunjukkan penghormatan, diikuti oleh Daun, juga Gamma dan Panglima Pyrapi.

"Panglima Tertinggi," Gamma berkata dengan kening berkerut. "Perubahan seperti apakah yang Anda maksud?"

Satriantar menggeleng pelan. "Aku pun belum tahu pasti, tapi ... perasaanku benar-benar tidak enak."

"Plasma Spark, selain terhubung dengan planet ini, juga terkoneksi dengan beberapa tempat penting di luar Planet Quabaq, bukan?" Panglima Pyrapi menyambung, sebelum tatapannya mendadak menajam. "Salah satunya, tempat yang paling rawan ... Asteroid Kristal."

Gamma tersentak. "Apakah ... jangan-jangan ...?"

Sekali lagi, Daun dan Cahaya saling pandang. Keduanya tidak begitu mengerti apa yang dimaksud di dalam pembicaraan itu. Namun, mereka bisa merasakan, kecemasan yang memberati hati para senior mereka.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Sesosok tubuh melayang ke belakang sebelum punggungnya membentur keras tebing batu di salah satu area lapang di Planet Volcania. Ia tak bisa lain, kecuali merintih tertahan, lantas membiarkan tubuhnya jatuh berdebam ke tanah berdebu.

"Bangun, Solar."

Pemuda itu tersentak kecil, menyadari orang yang melemparnya dengan begitu mudah tadi, sudah berdiri sangat dekat. Ia pun mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa begitu berat. Terdengar hela napas dari orang itu, membuat Solar mengepalkan tangan, spontan saja, lantas memukulkannya ke tanah sekeras mungkin.

Dia benar-benar frustasi.

Sudah berbulan-bulan—ah, tidak, ini sudah bertahun-tahun. Akan tetapi, ia belum juga bisa memasukkan satu serangan pun ke tubuh lawannya yang satu ini.

"Kau sama sekali tidak ada kemajuan. Kalaupun ada, itu tetap tidak ada artinya di hadapanku."

Perlahan, Solar memaksakan tubuhnya yang sudah lelah dan terluka itu untuk kembali berdiri tegak. Ia menarik dan menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pernapasannya yang berantakan. Sementara, sepasang matanya menatap tajam ke depan dari balik kacamata jingga.

Tepat di hadapannya, berdiri dengan senyum lebar meremehkan, seorang pemuda berbandana merah menyala. Celana panjang hitam maupun baju tanpa lengan yang dikenakannya, memiliki motif nyala api jingga dan kuning di sana-sini. Sebentuk emblem elemen api tampak menghias kepala ikat pinggang yang dikenakannya.

Dialah pengawas yang ditugaskan untuk menjaga Solar di Planet Volcania ini. Salah satu anggota elit Lucerna yang dikenal dengan nama Pyro.

"Hooo ... Tatapan mata yang bagus," katanya lagi. "Kau masih belum menyerah, Bocah?"

Solar menggeretakkan rahang, mencoba tetap tenang. Dadanya saat ini bergemuruh oleh satu perasaan yang sangat dikenalnya. Intuisi, bahwa jika ini dilanjutkan, maka ia akan segera kalah. Namun begitu, ia tetap pasang kuda-kuda.

Sialnya, hanya gerakan sederhana seperti itu pun kini sulit dilakukan. Karena di tubuhnya kini, tepatnya di bagian torso hingga kedua lengan dan jemari, terpasang sebuah eksoskeleton berbahan logam terkuat di planetnya. Setiap bagian persendian dihubungkan oleh bahan khusus yang sulit digerakkan.

Benda itu berfungsi untuk membatasi pergerakannya, bahkan untuk bergerak secara normal pun ia harus mengerahkan tenaga lebih. Ditambah lagi, selama masih mengenakan benda menyebalkan itu, ia sama sekali tak bisa menggunakan kemampuan khususnya sebagai penguasa elemen cahaya.

"Cih! Pengecut." Solar menjaga nada suaranya tidak meninggi. "Kalau bukan karena benda sialan ini, aku tidak akan kalah!"

"Jangan manja, Bocah. Ini bagian dari latihanmu."

Kekesalan Solar kembali terpantik. Di telinganya, kata-kata itu terdengar seperti sebuah tantangan. Dan seorang Solar takkan pernah mundur dari tantangan apa pun. Dengan satu teriakan untuk menguatkan semangat, ia kembali maju menyerang.

Pyro, yang sedari tadi berdiri dengan sikap tubuh santai, segera memasang kuda-kuda yang kokoh dengan kedua tinju siap terkepal. Serangan pertama Solar dapat dihindarinya dengan sangat mudah.

Anak itu tidak menyerah, langsung menyambung dengan serangan berupa tinju keras dari tangan kanan. Tanpa kesulitan, kali ini Pyro menangkap tinju itu dan mencengkeramnya kuat-kuat. Solar masih mencoba melepaskan diri, tapi percuma. Malah, Pyro menggerakkan cengkeramannya tiba-tiba ke bawah dalam gerakan memutar. Lagi-lagi, Solar harus merintih kesakitan, ditambah gerakannya jadi terkunci.

Solar mencoba melepaskan tendangan dari kaki kirinya. Namun, lawan dapat menangkisnya dengan santai. Saat Solar masih kehilangan keseimbangan, Pyro melepaskan cengkeramannya. Lantas menarik napas dengan konsentrasi penuh, dan dengan kecepatan luar biasa melepaskan tinju berurutan dari kedua tangannya.

Solar harus terlempar kembali ke belakang, lalu terhempas keras ke tanah yang penuh bebatuan. Ia bangkit secepatnya, tapi kembali jatuh berlutut, sembari memegangi bagian yang barusan terkena serangan. Padahal, di sisi lain, eksoskeleton ini juga membuat tubuhnya terlindung. Namun, tetap saja, serangan Pyro terasa menyakitkan.

"Kau pikir kau tidak bisa menang karena tidak bisa menggunakan kuasa cahayamu?" berkata Pyro tiba-tiba. "Kau lihat, aku juga tidak menggunakan kekuatan apiku."

Solar berdecak kesal dengan tangan terkepal. Ia pun cepat-cepat bangkit kembali dan langsung pasang kuda-kuda. Ia sudah bertekad, apa pun yang terjadi, dirinya harus bisa memasukkan serangan.

"Lihat saja! Aku masih bisa mengalahkanmu, walaupun memakai Techtor Gear ini!"

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Alien berkulit hijau pucat itu berjalan dengan tenang di permukaan asteroid yang sepi. Sejauh mata memandang, ia hanya melihat kristal hijau dan merah, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Semuanya terlalu indah untuk dipandang.

"He he he ... Aku akan kaya."

Dia mendengkus samar, teringat bagaimana kawan-kawannya sesama penggali kristal, telah memperingatkannya untuk tidak mendekati ladang harta karun ini. Padahal, untuk mendapatkan informasi tentang tempat ini pun, sangat tidak mudah.

Asteroid Kristal.

Sebuah asteroid yang mengorbit planet kediaman ras Ultra, yang konon merupakan salah satu ras terkuat di seluruh galaksi. Ras yang mempunyai waktu hidup sangat panjang, hingga puluhan bahkan ratusan ribu tahun. Yaitu Planet Quabaq, yang terdapat di Nebula M-78.

Masalahnya, asteroid ini bukan asteroid biasa. Ada sesuatu, atau seseorang, yang dipenjarakan di tempat ini selama bermilenia-milenia. Tepatnya, seorang kriminal yang ditakuti oleh para penduduk Planet Quabaq. Ras yang disebut-sebut paling kuat itu.

Yah, konon seperti itu. Akan tetapi, kemungkinan besar semua itu hanyalah cerita pengantar tidur belaka. Orang bodoh mana yang akan mundur hanya karena ditakut-takuti cerita semacam itu? Apalagi, asteroid ini hanya bisa diakses seratus tahun sekali.

"Lihat saja. Aku, Gogobi, akan mengambil semua kristal berharga di sini untuk diriku sendiri," sang penggali kristal bergumam. "Lagipula, aku punya benda ini."

Gogobi mempererat pegangannya pada sebuah benda yang sejak tadi ada di genggaman tangan kirinya. Semacam tongkat hitam legam setinggi tubuhnya, yang kedua ujungnya berukuran lebih tebal sepanjang masing-masing dua jengkal dengan bentuk segilima beraturan.

"Oh! Sepertinya di sini tempatnya!"

Mata Gogobi berbinar ketika akhirnya tiba di pusat asteroid. Di sanalah, terdapat kristal hijau raksasa, dengan beberapa kristal merah yang lebih kecil di sekelilingnya. Tak ada bandingannya dari semua kristal lain yang ada. Gogobi mendekat, tetapi langsung merasakan seperti menabrak sesuatu yang tak terlihat.

"Dinding energi tak kasat mata?"

Gogobi terkekeh. Tanpa disadarinya, dari tongkat hitam di tangannya menguar aura pekat berwarna ungu gelap bercampur hitam. Dia mundur dua langkah, lantas menebaskan tongkat itu ke udara kosong.

Tampak sekilas, perisai energi keemasan berbentuk kubah raksasa, melingkupi seluruh kristal yang ingin didekati Gogobi. Dalam sekejap, tebasan energi ungu-hitam dari tongkat, menciptakan retakan besar pada kubah energi. Retakan itu menyebar dengan cepat, hingga akhirnya kubah energi hancur menjadi kepingan-kepingan cahaya yang langsung lenyap tak berbekas.

Gogobi mendengkus, menatap lurus ke depan. Tak jauh dari prediksinya, di depan kristal tampak dua orang telah bersiaga dengan kuda-kuda siap menyerang. Melihat situasinya, tidak salah lagi, mereka adalah prajurit dari Planet Quabaq.

"Berhenti! Ini wilayah terlarang!" salah satu dari mereka berseru.

"Sudah kuduga," Gogobi berkata, lebih ditujukan pada diri sendiri. "Cerita tentang penjahat berbahaya itu hanya dibuat-buat, bukan? Yang sebenarnya adalah ... bangsa Ultra hanya ingin menyimpan semua kristal berharga ini untuk diri mereka sendiri!"

Pertarungan tak terelakkan lagi. Namun, dengan senjata di tangannya, Gogobi berhasil menjatuhkan lawan hanya dalam satu serangan.

"Hoo ... Senjata ini jauh lebih hebat daripada dugaanku. Jangan-jangan ... cerita tentang senjata ini juga benar adanya?"

Tadinya, Gogobi mencari tongkat itu—yang juga sangat sulit untuk didapatkan—hanya untuk berjaga-jaga saja. Konon, merupakan senjata terkuat yang dapat menundukkan makhluk berbahaya yang terpenjara di tempat ini. Meskipun seperti kebanyakan cerita legenda, tidak jelas detilnya.

Tanpa buang waktu lagi, Gogobi menyabetkan tongkat itu ke arah kristal raksasa, menyebabkan lapisan terluarnya hancur menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Dengan begitu akan lebih mudah untuk dibawa. Melihat ukurannya, Gogobi menaksir, ia akan mendapatkan berton-ton kristal berharga.

"Tidak masalah. Pesawat kargo yang kubawa kali ini, jauh lebih lapang daripada biasanya. Akan kubawa sebanyak mungkin—Hm?"

Perhatian Gogobi mendadak terpusat ke satu titik. Di dalam pusat kristal yang baru saja dihancurkannya, di lapisan terdalam yang lebih keras, tampak sesosok tubuh berdiam kaku. Tubuhnya tegap gagah, kulitnya pucat kebiruan, wajahnya tampak bengis tanpa sesuatu yang mirip hidung, rambutnya keperakan dengan paduan warna biru lembut.

"Ti-Tidak mungkin ...!" Gogobi terkesiap. "Ja-Jadi ... cerita itu benar?!"

Belum habis rasa terkejutnya, kristal terdalam itu pun mulai retak. Gogobi mundur selangkah, dua langkah. Dan pada langkah ketiga, sang tawanan di dalam kristal telah terbebas, lantas berdiri angkuh di hadapannya.

"Mu-Mundur! Aku punya senjata ini!"

Gogobi tak mengerti mengapa suaranya bergetar, seperti juga seluruh tubuhnya saat ini. Namun, sepasang mata nyalang yang menatapnya teramat tajam itu, menciutkan nyalinya seketika. Keringat dinginnya mengalir, demi merasakan aura gelap yang begitu menekan, terus-menerus dipancarkan oleh sosok itu.

"Siapa kau?"

Sosok itu bertanya, dingin. Tatapannya merendahkan, seolah yang berdiri di hadapannya tak lebih dari seekor serangga.

"M-Makhluk apa kau ini?!" Gogobi mundur selangkah lagi, berusaha sekuat tenaga agar tidak roboh, meskipun lututnya terasa lemas. "J-Jangan mendekat!"

"Ku ... Retak'ka!" sosok itu bicara dengan nada suaranya yang mengintimidasi. "Kutanya, kau siapa?!"

"K-Kubilang ... j-jangan mendekat!" Gogobi menempatkan tongkat di tangannya dengan kuda-kuda mengancam. "Aku ... Aku punya senjata yang bisa menundukkanmu! Senjata yang sudah lama tersegel di Lembah Api ini akan menghancurkanmu! Makhluk jahat yang sudah terpenjara dua puluh ribu tahun lamanya!"

Makhluk yang menyebut dirinya Retak'ka itu tersentak kecil. Sesuatu berkilat di matanya, sebelum senyum tipis sinis mengiringi satu dengkus samar darinya.

"Dua puluh ribu tahun?" ulangnya. "Jadi ternyata sudah selama itu? Pantas saja ... arus informasi sudah tidak mengalir dengan baik."

Retak'ka maju mendekat. Gogobi mundur selangkah lagi, semakin gemetar ketakutan. Ia tak bisa melawan ketika Retak'ka merampas begitu saja tongkat di tangannya.

"Kau tahu nama benda ini?" bertanya Retak'ka. "Giga Battlenizer."

Gogobi jatuh terduduk dalam ketakutannya. Nyaris tanpa sadar, ia menggeleng keras.

"Apa kau juga tahu? Benda ini adalah senjata milikku."

Gogobi kembali menggeleng.

"Tidak?" Retak'ka tersenyum, tetapi kesan yang timbul darinya hanyalah kengerian. "Nah, terima kasih sudah membebaskanku. Sebagai ucapan terima kasih, akan kubebaskan kau dari penderitaan dunia ini."

Gogobi ingin bangkit dan lari sejauh mungkin, tetapi tubuhnya tak bisa digerakkan. Terpenjara oleh rasa takutnya yang sudah tak terkendali lagi.

"Selamat tinggal."

Hanya dengan satu kali tebasan ringan, Retak'ka menghabisi 'penolongnya' begitu saja. Ia lalu memandang berkeliling, tak menaruh perhatian lagi kepada tubuh Gogobi yang sudah tak bernyawa. Seolah apa yang baru saja dilakukannya tadi bukanlah apa-apa.

"Kristal di mana-mana ... Ya, aku ingat. Dia yang telah memenjarakanku dengan kuasa kristalnya. Hang Kasa!"

Tatapan Retak'ka lantas jatuh kepada dua prajurit penjaga yang tergeletak tak sadarkan diri beberapa meter darinya. Melihat mereka seketika mengingatkannya kepada orang-orang yang paling dibencinya di seluruh alam semesta.

Para Kesatria Cahaya dari ras Ultra!

"Retak'ka! Diam di tempatmu!"

Mendengar suara yang tiba-tiba menyerukan namanya, tubuh Retak'ka refleks bersiap untuk pertempuran. Tanpa melihat pun, ia bisa merasakan, aura para prajurit yang turun mendatanginya dari kegelapan angkasa.

Berdiri paling depan, seseorang yang mengenakan semacam armor berwarna merah. Kain merah melingkari lehernya seperti syal, terus menjuntai panjang melewati bahu sebelah kiri. Retak'ka mendapatkan kesan, dialah pemimpin pasukan kecil beranggotakan tak lebih dari sepuluh orang, yang dengan sigap sudah mengepungnya dalam waktu singkat.

Retak'ka tidak mengenalnya. Namun, ada satu ciri khas pada diri sang pemimpin pasukan kecil itu, yang mengingatkannya kepada seseorang. Sejumput rambut putih keperakan yang menjuntai di antara rambutnya yang berwarna cokelat gelap.

"Kesatria Cahaya," katanya, lebih dingin daripada sebelumnya. "Bagus kalian datang. Majulah! Biar kuhancurkan kalian semua satu per satu!"

"Akan kami kembalikan kau ke dalam penjaramu!"

Atas isyarat sang pemimpin pasukan, para prajuritnya mulai menyerang. Mereka adalah para kesatria terbaik Lucerna, walau tidak termasuk ke dalam kelompok elit seperti halnya pemimpin mereka. Namun, kemampuan kesepuluh orang itu sama sekali tak bisa diremehkan. Meskipun begitu, mereka takluk di tangan Retak'ka dalam waktu singkat.

"Hadapi aku! Retak'ka!"

Pria muda berarmor merah itu menyerang dengan cepat, menciptakan duel satu lawan satu yang kecepatannya sulit diikuti mata normal. Retak'ka sedikit terkesan, lawannya kali ini cukup bisa mengimbanginya hanya dengan tangan kosong.

"Kau mirip sekali dengan sahabat lamaku," ucap Retak'ka ketika tercipta jeda sejenak. "Satriantar."

"Jangan ucapkan nama ayahku seenaknya, penjahat keji!"

"Hooo ... Jadi dia sudah punya anak? Dengan istrinya, Kuputeri? Atau ... dia sudah punya wanita lain lagi—"

"TUTUP MULUTMU!"

Pertarungan kembali berlanjut. Tadinya, Retak'ka belum bertarung dengan serius. Namun, mengetahui lawannya adalah putra Satriantar, membuatnya berubah pikiran.

"Siapa namamu, Bocah?"

"Aku Amato!"

"Amato. Hari ini akan kuhabisi kau di depan kedua orang tuamu!"

"Tidak akan!"

Tak mau buang waktu lagi, Retak'ka mengkonsentrasikan energi yang cukup besar ke dalam senjatanya. Amato merasakan bahaya, tetapi sudah terlambat. Ia tidak sempat menghindar ketika cahaya ungu gelap bercampur hitam, dilepaskan dari benda itu dalam intensitas yang tidak main-main. Cahaya itu tepat mengenainya, membuatnya harus berteriak kesakitan.

Tiga detik setelahnya, sosok Amato telah roboh, dan tidak bergerak lagi.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Satriantar dan Kuputeri, beserta Panglima Pyrapi, Gamma, Daun, dan Cahaya, masih berkumpul di Markas Lucerna. Satriantar baru saja memberitahu bahwa ia telah mengirim putranya, Amato, untuk memeriksa keadaan di Asteroid Kristal.

Ketika itulah, di udara kosong tak jauh dari mereka, mendadak muncul beberapa aksara khas Planet Quabaq dalam cahaya keemasan, membentuk sebuah pesan mengejutkan.

"Ultra Sign dari Amato!" kata Kuputeri.

Bahkan Satriantar pun tegang ketika membaca pesan itu.

"Inilah yang kutakutkan," katanya kemudian. "Dia meloloskan diri dari penjaranya di Asteroid Kristal. Panglima Pyrapi, Gamma! Perketat penjagaan, lindungi Plasma Spark Tower!"

"Laksanakan!"

Panglima Pyrapi dan Gamma bergegas pergi, meninggalkan Daun dan Cahaya yang masih belum paham sepenuhnya apa yang terjadi.

"Kenapa Plasma Spark Tower?" tanya Daun sambil memiringkan kepalanya.

"Kalian tahu, ada apa di Asteroid Kristal?" Satriantar balik bertanya.

"Retak'ka," Cahaya yang menjawab. "Kami semua mempelajari sejarahnya di Akademi. Dahulu, ia pernah nyaris menghancurkan planet ini. Namun, akhirnya ia disegel di dalam penjara kristal oleh Tetua Hang Kasa. Kemudian penjara kristal itu disembunyikan di sebuah asteroid yang mengorbit planet ini. Dan hingga saat ini, sudah dua puluh ribu tahun berlalu."

"Benar." Satriantar mengangguk pelan. "Plasma Spark terkoneksi ke Asteroid Kristal untuk membantu mengunci penjara itu. Namun, setiap seratus tahun sekali, asteroid itu berada dalam orbit terjauhnya dari planet kita."

"Aku mengerti." Cahaya masih pasang pose berpikir. "Karena itulah, energi pengunci dari Plasma Spark melemah, dan sekarang Retak'ka bisa lepas dari penjaranya."

"Cepat atau lambat, ini memang harus dituntaskan." Satriantar menatap kedua kesatria muda di hadapannya lekat-lekat. "Daun, Cahaya! Pertahankan Plasma Spark Tower dan negeri kita, apa pun yang terjadi! Lucerna, kondisi darurat tempur!"

"Siap!"

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Gamma berdiri siaga di Alun-alun Utama, tak begitu jauh letaknya dari Markas Besar Lucerna. Di belakangnya, para prajurit telah siaga tempur. Kemudian, dari langit sesuatu turun dengan kecepatan tinggi. Gamma menaksir arah datangnya dari Asteroid Kristal.

Sosok itu mendarat dengan keras, hingga merusak jalanan berbahan kristal di bawah kakinya. Padahal, kristal hijau yang menjadi bahan utama mayoritas infrastruktur Negeri Cahaya, memiliki level kekerasan yang sangat tinggi.

Meskipun begitu, ada hal lain yang lebih merampas perhatian Gamma. Di tangan kanan sosok misterius yang belum pernah dilihat secara langsung oleh kebanyakan mereka itu, tergenggam sebuah tongkat hitam legam yang memancarkan aura gelap menekan. Sedangkan tangan kirinya mencengkeram lengan kanan seseorang berarmor merah yang tampaknya tak sadarkan diri.

"Amato!" seru Gamma.

Di dalam cengkeraman Retak'ka, Amato mulai tersadar. Namun, ia tampak lemah.

"Satriantar dan Kuputeri tidak ikut menyambutku?" Retak'ka berkata sinis. "Dingin sekali."

Tanpa belas kasihan, Retak'ka melemparkan tubuh Amato hingga terhempas keras tepat di hadapan Gamma. Seolah menjadi tanda dimulainya pertempuran, para kesatria Lucerna maju menyerbu. Sementara, Gamma mendekati Amato dan membantunya bangkit.

"Kau baik-baik saja?" tanya Gamma. "Masih bisa bertarung?"

Amato mengatur napas beberapa saat, masih tampak kesakitan. "Majulah duluan, Gamma. Aku akan menyusul."

"Baiklah."

Gamma bergabung dalam pertarungan. Saat itu, banyak anak buahnya telah dijatuhkan dengan mudah oleh Retak'ka. Baik dengan tangan kosong, maupun dengan senjatanya yang kelihatan sangat berbahaya. Gamma menembakkan serangan secara tiba-tiba dari kedua tangannya. Namun, tembakan energi cahaya miliknya itu, malah diserap begitu saja oleh Retak'ka.

"Apa?!"

Retak'ka tertawa sembari menjatuhkan lebih banyak lagi lawannya.

"Kuasa elemental takkan dapat melukaiku!" katanya. "Ku, Retak'ka! Sang penguasa tujuh kuasa elemental! Hahahahaha ...!"

Gamma memilih melanjutkan pertarungan dengan tangan kosong. Amato pun bergabung tak lama kemudian. Hampir semua prajurit Lucerna selain mereka telah dikalahkan. Sedangkan mereka sendiri pun lebih sering terkena serangan daripada musuh.

Pada saat itulah, keduanya melihat Daun dan Cahaya terbang turun dari Space Port. Mereka mundur sejenak, memberi kesempatan kepada kedua juniornya sembari mencari celah.

"Akar Berduri!"

"Tembakan Optikal Cahaya!"

Dalam keadaan terikat tak dapat bergerak oleh akar milik Daun, Retak'ka tak sempat mempersiapkan diri untuk menyerap serangan Cahaya. Ia terdorong mundur sedikit. Namun, Cahaya dan Daun sudah bergerak maju dalam harmoni.

"Pedang Cahaya!"

"Pedang Duri!"

Dengan kekompakan yang sudah sangat terlatih, kedua kesatria muda itu menyerang bersamaan dari arah kiri dan kanan. Akan tetapi, Retak'ka mengerahkan tenaga yang cukup besar untuk memutuskan ikatan akar berduri.

Detik berikutnya, ia menangkis serangan dengan mudah menggunakan senjatanya. Dibuatnya Daun jatuh berlutut, lantas dikuncinya lengan kanan kesatria muda itu di belakang punggung. Nyaris tanpa jeda, dengan mudah Retak'ka memasukkan satu pukulan keras dengan tongkatnya ke tubuh Cahaya, hingga pemuda itu terlempar keras ke belakang. Baru berhenti ketika tubuhnya menghantam sebuah bangunan, lantas jatuh ke tanah.

"Cahaya!"

Seruan Daun sia-sia saja. Ia berusaha melepaskan diri dan berhasil, lantas segera bangkit dan melepaskan tendangan memutar. Retak'ka melompat mundur dengan tenang. Bosan bermain-main, ia mengkonsentrasikan energi ke dalam Giga Battlenizer. Benda itu mengeluarkan energi ungu gelap berbentuk tali, yang langsung bergerak mengikat tubuh Daun. Dalam satu sentakan saja, Retak'ka melemparkan tubuh Daun yang terikat kencang itu, jauh ke langit.

"Daun!"

Gamma dan Amato kembali maju menyerang. Sekali lagi, Retak'ka menggunakan energi dari Giga Battlenizer untuk menjatuhkan keduanya. Tanpa menunggu lagi, Retak'ka membuat tubuhnya melayang naik bermeter-meter, hingga kakinya menginjak landasan Space Port.

Kedua mata itu menatap tajam ke depan. Kota dengan gedung-gedung pencakar langit berbahan kristal hijau. Tanah kelahiran yang telah menolaknya.

"Hancurlah!"

Retak'ka mengkonsentrasikan energi yang jauh lebih besar kali ini. Dari Giga Battlenizer, cahaya ungu pekat memelesat ke segala arah. Bangunan-bangunan dihancurkan dengan mudahnya. Setelah puas menyaksikan kehancuran yang dibuatnya, ia bergegas terbang menuju Plasma Spark Tower.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Retak'ka telah berada di hadapan cahaya paling terang dan paling murni di planet ini. Sebelum sampai ke puncak menara, tentu saja ada beberapa anggota Lucerna yang menghadangnya. Namun, kekuatan mereka semua tak sebanding dengannya.

"Akhirnya."

Tangan kanan Retak'ka terulur perlahan hendak meraih Plasma Spark.

"Berhenti!"

Suara yang sangat dikenalnya itu membuat segala gerakan Retak'ka terhenti. Ia berbalik secepat mungkin, tetapi yang tampak olehnya hanyalah sosok Satriantar yang sudah sangat dekat, siap melepaskan serangan.

Pertarungan dua sahabat tak terelakkan lagi. Jual-beli serangan terjadi, dan sampai lama tak ada pemenang. Sampai akhirnya, Retak'ka melihat pertahanan lawannya terbuka. Tanpa buang waktu, ia menyabetkan senjatanya yang dilapisi energi ungu gelap, tepat menghantam keras sekitar ulu hati Satriantar. Ia pun terlempar keras ke belakang. Tepat di hadapan Kuputeri yang rupanya mengawasi pertarungan mereka sejak tadi.

Retak'ka mendengkus sinis, ketika Kuputeri berlutut untuk membantu suaminya bangkit kembali.

"Kau melunak, Satriantar," nada suara Retak'ka masih tak berubah, dingin. "Sama seperti Lucerna di bawah pimpinanmu sekarang. Lembek! Apa saja yang sudah kaulakukan, wahai Panglima Tertinggi Lucerna?!"

"Seharusnya aku yang bertanya," sahut Satriantar yang masih belum mampu bangkit kembali. "Apa yang kaupikirkan, hah? Kau hendak menghancurkan tanah kelahiranmu sendiri?!"

"Tanah yang telah membuangku seperti sampah." Retak'ka mendengkus sinis. "Ya, mengapa tidak? Akan kuhancurkan semuanya bersama dengan kalian!"

Cepat sekali, Retak'ka telah siap menembakkan energi ungu gelap dari senjatanya kepada Satriantar dan Kuputeri. Namun, saat serangan mematikan itu benar-benar dilepaskan, seseorang tiba-tiba datang menempatkan diri di depan keduanya, menghadang serangan itu.

"Aaaaaaargh—!!"

"Amato?!"

Sosok berarmor merah itu roboh, segera setelah serangan Retak'ka mengenainya tanpa ampun. Kuputeri cepat-cepat menghampiri putranya, berbarengan dengan Retak'ka yang juga langsung mendekat.

"Minggir! Biar kuhabisi dia!"

Seruan Retak'ka mendapat reaksi sebaliknya dari Kuputeri yang maju menyerang untuk melindungi Amato. Akan tetapi, sebagai seorang yang fokus menggunakan kekuatan khususnya untuk penyembuhan, Kuputeri takluk dalam sekejap. Satriantar segera mendekati istri dan putranya, meskipun ia sendiri masih sulit bergerak. Rupanya efek serangan Retak'ka lebih parah daripada yang diduganya.

Melihat keluarga kecil itu, semangat bertarung Retak'ka mendadak hilang.

"Aku akan membiarkan kalian hidup," katanya, "untuk menyaksikan kehancuran Negeri Cahaya!"

Dengan itu, Retak'ka berbalik. Kali ini, tak ada lagi yang menghalanginya untuk melepaskan Plasma Spark dari peraduannya. Seketika, cahaya di menara, seperti halnya di seluruh planet, meredup. Retak'ka pun segera membawa pergi Plasma Spark, meninggalkan seluruh planet yang kehilangan cahaya, disapu hawa dingin membekukan.

"Masih ada cahaya yang tersisa dari Plasma Spark."

Kata-kata Kuputeri membuat suami dan putranya ikut menatap tonggak yang tadinya menopang Plasma Spark. Benar saja, masih ada cahaya kecil tertinggal di sana.

"Jika cahaya itu sampai hilang," Kuputeri melanjutkan ucapannya, "maka planet ini ... Negeri Cahaya ... benar-benar akan musnah."

Amato mengepalkan tangan demi mendengar ucapan ibunya. Ia berusaha bangkit, lantas secepatnya mendekati cahaya kecil yang dimaksud.

"Tidak akan kubiarkan!" katanya penuh tekad. "Negeri Cahaya ... pasti akan bangkit kembali!"

Amato mengerahkan seluruh energinya yang masih tersisa, hingga tubuhnya diselimuti cahaya merah menyala. Lantas direngkuhnya cahaya putih kecil itu ke dalam pelukannya. Tubuh Amato segera membeku, tetapi cahaya itu tetap bersinar di pelukannya.

"Anak kita telah melindungi cahaya terakhir negeri ini," berkata Satriantar sembari memeluk istrinya. "Masih ada harapan."

Perlahan tapi pasti, tubuh kedua pemimpin Negeri Cahaya itu pun membeku. Seperti juga putra mereka, dan juga seluruh planet yang mereka cintai beserta para penghuninya.

.

.

.

Bersambung ...

.

.


Trivia:

Tujuh Pendahulu Elemental

Konsep 'Negeri Cahaya' di fanfic ini adalah negerinya para 'elemental'. Ditambah karakter lain yang berhubungan erat dengan BoBoiBoy, seperti Amato.

Karena itulah, dibutuhkan banyak karakter penguasa kekuatan elemen. Selain para elemental tahap pertama dan kedua yang sudah kita kenal dengan baik, aku menggunakan para pendahulu elemental. Mereka adalah karakter-karakter yang muncul di permainan kartu BoBoiBoy.

Satriantar (elemen petir), Kuputeri (angin), Hang Kasa (tanah), Panglima Pyrapi (api), Mas Mawais (air/es), King Balakung (tumbuhan), dan Retak'ka (cahaya).

Ilustrasi mereka kurasa sudah banyak bertebaran di FB, IG, atau medsos lain. Jadi, yang belum tahu (khususnya selain Retak'ka dan Hang Kasa), silakan searching-searching aja. ;-)

.

.


* Author's Note *

.

Halo, semuanyaaa~! :-D

Update kilat mumpung liburan, nih, ehehehe ...

Tadinya, aku ingin membuat kisah Ultra Galaxy ini ringan-ringan aja. Tapi ternyata pas ditulis kok jadi lumayan berat juga, yah ... :'D *plak*

Bagian kedua ini memang agak panjang. Cukup banyak juga karakter yang muncul di sini. Tapi sebenarnya yang menjadi fokus cerita hanya sedikit. Lainnya cuma cameo sih, jadi nggak usah terlalu dipikirkan. *seenaknya*

Yuk, yuk~! Jangan malu-malu buat review, oke? Aku penasaran banget, apa yang Teman-teman pikirkan tentang mini seri ini.

Sampai jumpa di bab selanjutnya~ :-)

.

Regards,

kurohimeNoir

03.01.2020