Bagian Ketiga
Cahaya Terakhir
.
.
Daun melayang-layang tak keruan di angkasa lepas, tak begitu jauh dari lapisan atmosfer planetnya. Beruntung, ia masih sempat mengkonsentrasikan energi membentuk pelindung ketika dilempar oleh Retak'ka ke luar angkasa. Karena itulah, ia masih selamat walau berada di ruang hampa.
Sekarang ini pun, yang membuatnya sulit bergerak adalah tubuhnya yang masih terikat kuat oleh energi kegelapan Retak'ka. Daun memang tidak terlalu pandai mengontrol gerak ketika terbang. Ia selalu memaksimalkan seluruh anggota geraknya untuk menjaga arah dan keseimbangan. Karena itulah, situasinya sekarang sedikit banyak membuatnya panik.
"Huweee ... Gimana iniii?" rengeknya. "Aku nggak bisa terbang dengan benaaar~"
Ketika Daun masih kebingungan setelah beberapa lama terdampar di angkasa luar, sesuatu mendadak terbang keluar dari arah Planet Quabaq dengan kecepatan tinggi. Atau seseorang, yang langsung dikenali Daun sebagai Retak'ka.
Sang penguasa tujuh elemen itu rupanya tak mengindahkan keberadaan Daun. Ia terus terbang memelesat melewati Daun begitu saja. Daun sendiri tidak tahu apakah ia boleh menghela napas lega atau tidak. Apalagi ketika ia menyadari, Retak'ka membawa sesuatu di tangannya yang mirip seperti Plasma Spark.
Pemuda itu menguatkan tekad. Dikonsentrasikannya energi, lantas didorongnya kedua lengan sekuat tenaga ke arah luar. Terus, hingga ikatan energi gelap itu terputus dan lepas. Tak membuang waktu lagi, ia bergegas terbang kembali ke permukaan planet kelahirannya.
Akan tetapi, yang menunggunya di sana hanyalah pemandangan yang menyedihkan. Cahaya benderang telah lenyap, tergantikan oleh warna putih dan kelabu kusam. Segalanya membeku, tertidur di dalam lapisan es yang dingin.
"Nggak mungkin ..."
Ekspresi Daun berubah sendu, bercampur kecemasan yang bertambah-tambah. Sejauh mata memandang, ia tak menemukan tanda-tanda kehidupan. Dadanya berdesir tajam oleh rasa takut yang mulai merajai hati.
Daun berjalan tak tentu arah. Sesekali berlari ketika merasa melihat sesuatu. Namun, ia tak kunjung menemukan apa-apa.
"Kakak! Kalian di mana?!"
Seruannya hanya mengisi udara kosong. Senyap. Langkah Daun melambat, dan makin melambat. Ia memanggil beberapa kali lagi tanpa hasil. Hingga isak tangisnya mulai gagal terbendung.
"Semuanya ... ada di mana ...? Cahaya ... kamu di mana ...?"
Akhirnya, langkah Daun benar-benar terhenti di area yang cukup lapang. Di sekitarnya hanya ada bebatuan tajam tak beraturan. Atau mungkin, itu adalah sisa-sisa gedung pencakar langit yang telah diratakan dengan tanah oleh Retak'ka. Yang kini tertutup lapisan es tebal, seperti halnya seluruh negeri ini.
"Daun. Jangan menangis."
Pemuda pemilik kuasa pengendalian tumbuhan itu tersentak ketika telinganya menangkap gema suara yang sangat familier. Ia memandang berkeliling, tetapi tidak melihat siapa pun.
"Kak Gamma?" Daun mencoba memanggil sang pemilik suara.
"Dengarkan baik-baik, Daun. Retak'ka telah mencuri Plasma Spark. Saat ini, Amato melindungi cahaya terakhir di menara. Kita harus mendapatkan kembali Plasma Spark. Sebelum cahaya itu padam, dan planet ini akan musnah."
Daun tersentak. Masih tampak terpukul, tetapi kemudian tatapannya menajam.
"Kak Gamma, apa yang harus kulakukan?"
"Kekuatan ras Ultra saja tidak cukup untuk menghentikan Retak'ka. Akan sangat membantu, jika kita bisa mendapatkan bantuan dari bangsa Reionix, dari Planet Gogobugi. Kamu mengerti, 'kan?"
Mendengar nama 'Gogobugi', sepasang mata Daun langsung membulat.
"Fang!" serunya. "Kak Gamma, aku punya teman dari planet itu!"
Baru sedetik, antusiasme Daun segera berganti kebingungan.
"Tapi ... dia sering bepergian ke mana-mana. Aku nggak tahu, sekarang dia ada di planetnya atau enggak—"
"Mungkin aku bisa membantu."
Suara lain yang mendadak terdengar dari sisi kanannya, membuat sepasang iris madu milik Daun kembali berbinar. Dilihatnya, seseorang tengah berdiri di dekat bebatuan dengan membawa tablet di tangan.
"Cahaya!"
Daun berlari mendekat dan langsung memeluk pemuda berbaju serba putih itu erat-erat. Dia tertawa, antara gembira dan lega. Sebelum tiba-tiba Cahaya merintih tertahan. Tubuhnya nyaris saja roboh andai tidak ditahan oleh Daun.
"Cahaya kenapa?!"
Sang pemilik kuasa cahaya menggeleng pelan. "Tidak apa, cuma sedikit lelah. Aku menggunakan cukup banyak energi untuk membuat pelindung, supaya bisa bertahan dari gelombang hawa dingin yang muncul saat Plasma Spark dilepaskan dari tempatnya."
Daun terus menatap sarat kecemasan, membuat Cahaya menghela napas samar.
"Aku akan baik-baik saja, hanya butuh istirahat sebentar," katanya. "Daripada itu, aku sudah menemukan lokasi temanmu. Lihat ini."
Untungnya, sangat mudah mengalihkan perhatian Daun. Dalam sekejap, tatapannya sudah terfokus pada tampilan hologram dari tablet kesayangan Cahaya.
"Alpha-01 ... Bimasakti," Daun membaca koordinat yang tertera. "Itu 'kan Planet Bumi! Fang ada di sana?"
Cahaya mengangguk. "Kita beruntung. Bumi jauh lebih dekat daripada harus pergi ke Planet Gogobugi. Cepat, berangkatlah. Jangan kesasar, ya."
"Nggak bakalan!" Daun tertawa kecil. "Bumi 'kan rumah kedua kita!"
Melihat Daun sudah kembali ceria, Cahaya tersenyum samar.
"Kalau begitu, aku berangkat!"
"Hm."
Cahaya menatap kepergian Daun yang terbang ke angkasa lepas. Hingga sosok sahabatnya itu hilang dari pandangan, barulah ia bisa membiarkan punggungnya tersandar kembali ke reruntuhan di belakangnya. Tubuhnya terus merosot turun, hingga ia jatuh terduduk lemas.
"Daun ..."
Setelah mengucapkan satu nama itu, kedua mata Cahaya perlahan terpejam. Dan setelah itu, tubuhnya tidak bergerak lagi.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)
Mengambil ide cerita dan beberapa unsur dari franchise "Ultraman Zero"; khususnya movie "Mega Monster Battle: Ultra Galaxy Legend"; milik Tsuburaya Production(c)
Fanfiction "Ultra Galaxy: Solar ~Sunrise~" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
UltramanZero!AU. Action-Adventure-Friendship-Family. Maybe OOC.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Kedai Kokotiam di pagi hari masih belum ramai oleh para pelanggan setianya. Tok Aba—sang pemilik kedai yang sudah tidak muda lagi—tampak masih berada di balik meja counter sambil mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk uang recehan di kasir untuk kembalian para pembeli nanti.
"Damai sekali planet ini."
Yang bicara adalah seorang pemuda berpenampilan nyaris serba ungu. Sepasang iris merahnya tampak keunguan di balik kacamata—atau lebih tepatnya visor—biru jernih yang dikenakannya. Ia menyesap minuman cokelat hangat dari cangkirnya dengan khidmat. Menikmati cita rasa yang jarang ditemuinya di planet mana pun kecuali di sini.
Di Bumi.
"Kamu santai sekali, Fang." Tok Aba tertawa. "Pekerjaanmu di Bumi sudah selesai?"
"Iya. Saya hanya perlu mengambil pesanan terakhir dari sini. Setelah itu, saya akan langsung berangkat ke planet tujuan berikutnya."
"Untuk mengantar pesanan, di Planet AtaTa Tiga, bukan? Siapa sangka, para alien hijau kepala kotak itu segitunya menyukai cokelat Kokotiam."
"Katanya mereka menggunakannya untuk sumber energi."
"Hoo ... Bagus sekali kalau bisa seperti itu. Sumber energi terbarukan yang tidak merusak alam."
Fang tidak mengatakan apa-apa lagi. Tok Aba mengamati sang alien asal Planet Gogobugi yang sekilas terlihat seperti remaja Bumi pada umumnya. Entah berapa usia anak itu sebenarnya, karena di alam semesta ini, banyak penghuni planet lain yang rentang hidupnya jauh melebihi penduduk Bumi. Namun, di mata Tok Aba, Fang tampak seumuran dengan cucunya sendiri, paling-paling tak lebih dari 18 atau 19 tahun.
"Hm?"
Kebahagiaan Fang menikmati minuman kegemarannya tiba-tiba terusik. Matanya menatap tajam ke satu titik, jauh tinggi di angkasa. Tok Aba yang menyadari hal itu, ikut memandang ke arah yang sama. Tampak kerlip cahaya hijau seperti jatuh bebas tertarik gravitasi Bumi.
"Bintang jatuh?" Tok Aba menyuarakan hal pertama yang terlintas di benaknya.
"Tidak, bukan."
Fang bergegas bangkit. Ia mengedarkan pandang berkeliling dengan cepat, langsung bersyukur tak ada orang lain lagi di sana.
"Separa Elang Bayang!"
Energi ungu gelap terkonsentrasi dengan cepat, menyelubungi seluruh tubuh Fang dalam bentuk burung elang. Lengkap dengan sayapnya yang membantu Fang untuk lepas landas, terbang bebas ke langit biru.
"Padahal kalaupun ada yang melihat juga tidak apa-apa," komentar Tok Aba sembari terkekeh pelan.
Tak sampai semenit kemudian, Fang sudah turun kembali ke dekat kedai. Tok Aba yang sudah keluar dari balik meja counter, terkejut ketika mendapati Fang memapah seseorang yang tengah tak sadarkan diri.
"Cepat, cepat, baringkan dia di bawah pohon di taman sana. Atok punya tikar. Biar Atok ambilkan."
Fang menuruti saran Tok Aba. Dalam waktu singkat, orang yang ditolong Fang itu sudah berbaring di atas tikar, di taman penuh pepohonan rindang tak jauh dari Kedai Kokotiam. Tok Aba memperhatikan sosok itu sebaya dengan Fang, atau mungkin lebih muda. Seorang remaja putra berpakaian dominan hijau muda, dengan topi berwarna sama yang dihiasi sebuah simbol.
"Lambang khas elemental tumbuhan?" ucap Tok Aba. "Anak ini ... ras Ultra dari Planet Quabaq?"
Fang menaikkan sebelah alis, mau tak mau terkejut. "Tok Aba tahu banyak, ya ..."
"Ah, tidak juga." Tok Aba tertawa kecil. "Atok hanya tahu hal-hal yang Atok ketahui."
Tok Aba kembali menatap pemuda yang tak sadarkan diri itu, demikian pula Fang.
"Aku tahu dia ini ceroboh, tapi ... apa yang terjadi padanya?" Fang bergumam sendiri. "Kenapa dia datang ke Bumi?"
Tok Aba menatap Fang. "Kamu mengenalnya?"
"Namanya Daun." Fang menghela napas pelan. "Bisa dibilang, dia temanku."
Tok Aba mengangguk paham.
"Sepertinya dia butuh bantuan," katanya. "Tapi, apa pun masalahnya, kita harus menunggu sampai dia sadar."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Solar kembali harus merintih kesakitan ketika Pyro membantingnya ke tanah berbatu, untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah mengira dirinya akan ditarik bangun dan dijatuhkan lagi, tetapi ternyata Pyro malah melepaskan cekalannya.
Meskipun begitu, serangan belum berakhir. Sebelum Solar bisa bersiaga, Pyro sudah mengirimkan satu tendangan keras ke sisi tubuhnya. Solar hanya bisa merelakan tubuhnya melayang deras ke belakang, sebelum menabrak tebing batu, lantas tersungkur jatuh ke tanah.
"S-Sial ..."
Solar berusaha bangkit secepatnya, lantas bermaksud menyerang lagi. Namun, rasa sakit menghentikan segala gerakannya. Memaksa tubuhnya tersandar ke tebing batu.
"Kau hanya percaya pada kekuatan fisik."
Ucapan Pyro membuat Solar mendengkus sinis.
"Kata orang yang membuatku tidak bisa menggunakan kuasa."
"Itu sama saja." Pyro berdiri di hadapan Solar setengah berkacak pinggang. "Kekuatan fisik dan kuasa. Kau terlalu mengagungkan keduanya. Itu bukanlah kekuatan yang sejati."
"Cerewet!" Solar mengibaskan tangan dengan jengkel. "Tidak usah sok menceramahiku!"
Solar kembali maju menyerang, sedikit gegabah untuk ukurannya. Pyro masih sempat menggeleng-gelengkan kepala, sebelum menaklukkan lawannya kembali. Bahkan kali ini lebih mudah daripada sebelumnya. Ditahannya lengan kanan Solar, lantas dilepasnya tendangan dari kaki kanan, mengincar daerah sekitar ulu hati yang tak terlindung, tepat di bawah Techtor Gear.
Hanya butuh dua kali tendangan, Pyro sudah membuat Solar kembali roboh ke tanah berbatu. Rasa sakitnya membuat Solar kali ini segera kehilangan kesadaran. Pyro tersentak sedikit, lantas berdecak kesal sambil berkacak pinggang.
"Kakak!"
Alis Pyro terangkat sejenak ketika seseorang memanggilnya. Tampak seseorang melayang turun dari atas tebing dengan gerakan yang sangat halus, kemudian mendarat ringan tepat di hadapannya.
Dia pemuda yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Pyro, hanya saja penampilannya didominasi warna biru pucat. Walau sama-sama berambut hitam, rambutnya jauh lebih panjang daripada sang kakak dan diikat tinggi di belakang. Ia juga memakai ikat kepala biru muda yang memiliki lambang elemental es di bagian depannya. Orang-orang yang melihatnya mungkin akan heran melihat gaya berpakaiannya yang lebih tertutup daripada kakaknya, lengkap dengan jaket. Di planet sepanas Volcania.
"Ternyata memang," katanya dengan roman muka malas, "belakangan ini Kakak terlalu keras padanya."
"Cerewet! Nggak usah menceramahiku!"
Pemuda itu memutar bola matanya yang beriris aquamarine, demi mendengar Pyro baru saja mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan Solar.
"Kalian memang sangat mirip," si pemuda berkata datar.
"Diam kau, Frost!" sentak Pyro. "Kau sendiri? Yang ditugaskan melatih anak ini bukan cuma aku, tapi kita berdua. Dan kau nggak melakukan apa-apa sampai sekarang!"
"Aku juga melatihnya dengan caraku sendiri."
"Dengan menemaninya berburu dan mencari makanan? Wow, cara mengajar yang inovatif."
"Terus, Kakak pikir cara mengajar Kakak itu yang paling benar?"
"Siapa suruh memintaku melakukan hal merepotkan seperti ini?"
Pemuda yang dipanggil Frost itu tidak menanggapi lagi cibiran dari sang kakak. Sebaliknya, ia malah tersenyum tipis.
"Tapi ... Kakak guru yang baik, kok." Frost menjeda sejenak. "Apa yang membuat Kakak tiba-tiba jadi nggak sabaran?"
Mendengar pertanyaan itu, Pyro menghela napas panjang.
"Sudah nggak ada lagi yang bisa kuajarkan padanya," Pyro berkata. "Tadinya aku berharap dia akan segera lulus dari latihannya. Anak ini ... bisa menyerap semua yang kuajarkan dengan cepat. Dia mengamati dan meniru gaya bertarungku, lalu menerapkannya dengan baik. Dia memang sangat cerdas. Tapi ... yah, kau tahu, 'kan? Masalahnya bukan itu."
"Hmmm ..."
Frost memejamkan mata dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ia tidak menanggapi ucapan sang kakak sampai lama.
"Woi!" Pyro menggetok pelan kepala adiknya dengan buku-buku jari. "Jangan tidur!"
"Aku nggak tidur, tapi sedang berpikir."
"Terserah kau sajalah!" Pyro mengibaskan tangannya, tak sabar. "Terus, bagaimana sekarang?"
Sepasang mata beriris merah bercampur jingga menyala itu memandang Frost dengan tatapan menuntut.
"Iya, iya," Frost mengalah. "Setelah ini, serahkan saja padaku."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Solar tersentak bangun, tetapi segera merintih kesakitan sembari memegangi daerah sekitar perutnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri beberapa saat. Baru setelah itu memeriksa keadaan dirinya.
Ia telah berada di pondoknya. Baru saja terduduk dari posisi berbaring di lantai, masih beralas selimut tipis seperti biasa. Sudah tak lagi mengenakan Techtor Gear, tentu saja. Jaket, sarung tangan, kacamata, dan topi miliknya, juga telah dilepas. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan kelengkapan fashion wajibnya itu kini terlipat dan tersusun rapi di atas meja.
"Meooong~"
Suara mengeong kecil itu menarik perhatian Solar untuk menoleh ke samping kanannya. Anak kucing itu tengah berjalan ke arahnya, lantas melompat ke pelukannya. Ia terus mengeong-ngeong kecil sambil menggesek-gesekkan badannya ke lengan Solar. Tatapan matanya—kalau Solar tidak sedang berhalusinasi—tampak sedih memelas.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" Solar mengelus kepala si anak kucing, dibalas dengan satu kali mengeong kecil. "Nggak apa-apa. Ini sudah biasa, kok."
Anak kucing itu tiba-tiba menggeram dengan mata menajam.
"Kenapa? Kamu marah pada pelatihku itu?"
Solar tertawa pendek. Berpikir ada yang memperhatikan dirinya seperti ini, rasanya menyenangkan juga. Meskipun itu hanya seekor kucing.
"Kamu sudah bangun."
Solar tersentak kaget ketika seseorang tiba-tiba memasuki ruangan tempatnya berada. Bukan dari pintu depan, melainkan dari arah dapur. Di tangannya pun ada nampan berisi mangkuk dan dua buah gelas yang masing-masing masih mengepulkan asap tipis.
"Frost!"
Solar langsung waspada.
"Nggak perlu tegang begitu." Frost meletakkan bawaannya dengan tenang di atas meja, lalu duduk di salah satu dari dua kursi yang ada di tempat itu. "Aku membuatkanmu sup dan teh dari persediaanku sendiri. Jadi berterima kasihlah dan cepat makan."
Solar memang lapar, setelah sesi latihan hari ini yang cukup 'brutal' dibandingkan sebelum-sebelumnya. Sepanjang yang bisa diingatnya, beberapa kali latihan belakangan ini, Pyro memang sedikit ... lebih keras. Seolah terburu-buru karena sesuatu hal.
Sambil melepaskan si anak kucing dari pelukannya, Solar segera bangkit. Ia menyingkirkan jaket dan aksesorisnya dari atas meja, dipindahkannya ke lantai tempatnya berbaring tadi. Kalau memang mau makan, jangan sampai mengotori pakaiannya, 'kan? Ia lantas duduk di kursi satunya. Namun, alih-alih segera makan, pemuda itu malah memandangi sup yang masih ada di atas nampan.
"Tenang saja, aku nggak meracuninya, kok." Frost berkata malas. "Kalau memang mau membunuhmu, aku bisa melakukannya dengan mudah waktu kamu tidur."
Frost menggerakkan tangan kanannya tiba-tiba dengan begitu cepatnya. Solar sama sekali tidak bisa melihat gerakannya. Dan tahu-tahu saja, Frost sudah mengarahkan sebuah belati yang terbuat dari es, tepat mengancam leher Solar dari arah samping.
"Seperti itulah."
Frost menghilangkan belatinya begitu saja, lalu kembali duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia pun mengambil salah satu gelas berisi teh, kemudian menikmatinya dengan santai. Solar hanya memutar bola matanya, lalu memutuskan untuk makan.
"Enak, 'kan?" tanya Frost.
"Lumayan."
Walau menjawab seperti itu, Solar harus mengakui bahwa masakan Frost jauh lebih enak daripada masakannya sendiri. Memang, memasak itu tidak jauh berbeda dengan eksperimen di lab. Dirinya yang genius ini tentu saja bisa melakukannya dengan sempurna, asalkan punya resepnya. Namun, meskipun sudah mengikuti resep dengan improvisasi luar biasa, entah kenapa masakan Frost tetap lebih enak.
Kesal, sih.
"Mulai sekarang, aku akan mengambil alih melatihmu."
Ucapan tiba-tiba Frost seketika menarik perhatian Solar. Sejurus kemudian, pemuda itu mendengkus samar.
"Hoo ... Jadi akhirnya kau juga ingin menyiksaku seperti saudara kembarmu itu?"
Kata-kata penuh sarkasme dari Solar itu sama sekali tidak memengaruhi Frost. Pemuda yang dari umurnya pantas menjadi kakak Solar itu tetap tenang. Masih menghayati setiap tegukan tehnya.
Diamnya Frost membuat Solar kehilangan minat untuk bersikap menyebalkan. Setelah menghabiskan makanannya, ia minum dengan cepat. Kemudian mendadak terdiam.
"Kekuatan fisik dan kuasa. Kau terlalu mengagungkan keduanya. Itu bukanlah kekuatan yang sejati."
Tiba-tiba ucapan Pyro melintas di benak Solar. Pemuda itu mengepalkan tangan kuat-kuat. Kesal? Iya, tentu saja. Namun, ada sesuatu di dalam kata-kata Pyro itu yang begitu merasuk ke dalam jiwanya. Mengganggunya. Ia sendiri tidak tahu kenapa.
"Kekuatan sejati itu ... apa?"
Akhirnya Solar memecah keheningan. Bicaranya seperti nyaris tanpa sadar.
"Setelah sekian lama," komentar Frost, "kamu baru menanyakannya sekarang?"
Tatapan mata Solar menajam.
"Aku nggak ngerti," ucapnya kemudian. "Kita memang membutuhkan kekuatan yang besar untuk bisa mencapai tujuan, 'kan? Kenapa itu bukan kekuatan sejati? Jelaskan padaku."
Frost menyelesaikan satu tegukan terakhir, lantas meletakkan gelasnya di atas meja. Ia pun tersenyum samar.
"Soal itu," Frost menggantung kalimatnya sejenak. "Bukan sesuatu yang bisa diberitahukan oleh orang lain. Kamu harus menemukan jawabannya sendiri."
Solar terdiam selama beberapa detik. Ekspresinya tak terbaca.
"Pelit."
Satu kata itu diucapkan Solar dengan datar. Frost tertawa kecil, sama datarnya.
"Oke," katanya kemudian. "Mau dengar satu kisah?"
"Hm?"
Frost menyingkirkan gelasnya yang sudah kosong ke tengah-tengah meja. Solar mengikuti dengan mangkuk dan gelasnya sendiri yang juga sudah tak berisi lagi.
"Dahulu, ada seorang Kesatria Cahaya yang hebat, tapi masih saja selalu mendambakan kekuatan yang lebih besar," Frost memulai. "Dia nggak pernah merasa cukup. Hingga akhirnya, dia melanggar tabu. Dia melakukan hal yang sama denganmu, mencuri kekuatan Plasma Spark."
Detak jantung Solar menguat setingkat, sementara kedua matanya pun sempat melebar.
"Namun, kekuatan dari Plasma Spark itu terlalu besar untuk ditanggungnya. Merusak pikirannya. Hingga pada akhirnya, dia diasingkan dari Negeri Cahaya."
Frost menjeda sejenak, menyadari perhatian Solar sepenuhnya tertuju kepadanya. Dilihatnya anak itu sempat mengernyit tak suka, tetapi tidak berkomentar sepatah kata pun.
"Setelah melewati masa yang panjang, yang mendekatinya adalah 'kegelapan'. Roh dari kejahatan yang bernama Reiblood."
Tatapan mata Solar menajam. Ia tahu kisah ini. Kisah yang selalu diceritakan kepada murid-murid Akademi. Tentang prajurit cahaya yang jatuh ke dalam kegelapan.
"Kegelapan Reiblood merasuki sang kesatria yang terbuang," Frost masih melanjutkan ceritanya. "Kemudian, dia kembali lagi ke Negeri Cahaya untuk membalas dendam. Dia adalah pemilik kuasa cahaya, sama sepertimu. Tapi, waktu itu, dia menyerap dan merampas semua kuasa elemental milik beberapa Kesatria Cahaya terkuat di negeri kita. Jadilah ia penguasa tujuh elemen, yang juga memiliki kekuatan dari kegelapan. Dan setelah itu, Negeri Cahaya nyaris hancur di tangannya."
Frost menatap Solar. Anak itu masih tidak berkata apa-apa. Namun, ia membalas tatapan Frost dengan sorot mata yang sedikit mengeras.
"Kau sudah tahu, 'kan, siapa yang kumaksud?" Frost tersenyum samar. "Kalau waktu itu Kak Gamma nggak menghentikanmu, maka—"
"Jangan samakan aku dengan Retak'ka!" akhirnya Solar menyela dengan kesal. "Dia nggak bisa mengendalikan kekuatan luar biasa yang telah didapatkannya, sebaliknya malah kekuatan itu yang mengendalikannya, merusaknya. Itu karena dia lemah!"
"Hmmm." Frost mengulum senyum. "Oh ya? Dari mana kau tahu itu? Dulunya, Retak'ka adalah kesatria yang setara dengan Satriantar. Apa kau tahu? Mereka adalah sahabat, sekaligus rival. Bahkan sama-sama pernah menjadi kandidat Panglima Tertinggi Lucerna. Kalau soal 'kekuatan', mereka berdua sama-sama sosok yang 'diakui' di Negeri Cahaya."
Kali ini, Solar terdiam.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang kutanya." Frost menatap Solar. "Untuk apa kamu menginginkan kekuatan?"
Solar mengernyit, seolah baru saja mendengar pertanyaan terbodoh di alam semesta. Namun, ia tetap menjawab.
"Tentu saja, untuk mengalahkan musuh."
"Lalu?"
"Sudah jelas, 'kan? Aku akan terus bertambah kuat. Lebih kuat daripada siapa pun. Dengan begitu, sekuat apa pun musuh yang datang, aku nggak akan terkalahkan!"
"Lalu, setelah itu?"
"Apa?"
Frost menatap dalam-dalam ke arah Solar yang tadinya sudah mulai berapi-api.
"Kalau kamu sudah menjadi kesatria tak terkalahkan," Frost berkata lagi, "lalu setelah itu ... apa?"
Solar tersentak samar. Pandangannya teralih dari Frost. Sorot mata beriris perak itu kini dihiasi kebingungan. Keraguan yang selama ini tak pernah dilihat oleh Frost. Pemuda pemilik kuasa es itu pun tersenyum tipis.
"Kalau kamu nggak bisa menjawabnya, maka itu artinya ... kamu sama saja dengan Retak'ka."
Kata-kata itu menyentak Solar begitu dalam. Jauh melebihi ucapan Frost sebelumnya. Ia tak mengerti kenapa, tetapi dadanya berdesir tajam. Menyakitkan.
Sudah jelas, Solar tidak terima disamakan dengan Retak'ka. Penjahat durjana yang telah menodai nama Kesatria Cahaya dan mengkhianati negerinya sendiri. Namun, pada saat yang sama, semua ucapan Frost juga terasa benar.
Tidak.
Solar tahu, itu memang benar. Dan karena itulah, dia tidak bisa membalasnya.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"HUWAAAAAAA—"
Daun terbangun sambil berteriak, sebelum akhirnya terdiam kebingungan. Sepasang mata beriris madu itu mengerjap, lantas beredar ke sekelilingnya. Ia berada di sebuah taman nan asri, sedang duduk di bawah pohon rindang, beralaskan tikar berwarna paduan hijau dan kuning.
"Sudah bangun?"
Suara lembut menyapa pendengaran Daun. Dilihatnya seorang lelaki tua berbaju biru dan bertopi putih berjalan mendekat, lantas ikut duduk di sampingnya.
"Atok siapa?" tanya Daun, masih bingung. "Ini di mana?"
"Panggil saja Tok Aba." Lelaki tua itu terkekeh samar. "Kamu berada di Bumi, tepatnya di Pulau Rintis. Kamu jatuh di dekat kedai cokelat Atok tadi. Apa sekarang sudah baik-baik saja? Ada yang sakit?"
Daun menatap Tok Aba dengan matanya yang bening. Ia lantas menggeleng pelan.
"Saya baik-baik saja, Tok Aba."
Tok Aba tersenyum lembut. "Baguslah kalau begitu—"
"DAUN!"
Sepasang mata Daun yang sudah lebar itu bertambah lebar ketika mendengar suara nan familier menyerukan namanya. Tampak sosok pemuda serba ungu berlari kecil dari kejauhan. Hanya beberapa detik, ia sudah sampai di dekat Daun dan Tok Aba, lantas segera ikut duduk di tikar.
"Fang!" Daun berseru antusias begitu melihat seseorang yang dikenalnya.
"Kamu sudah sadar?" kata Fang. "Bagaimana keadaanmu?"
"Nggak apa-apa. Ada Tok Aba yang menolongku."
Fang menghela napas. "Dasar. Bikin cemas saja."
"Maaf." Daun terkekeh kecil. "Dan terima kasih sudah mencemaskan aku."
Fang hanya memutar bola mata dengan malas.
"Urusanmu di Planet AtaTa Tiga sudah selesai, Fang?" tanya Tok Aba kemudian.
"Ah, iya. Untungnya semua urusan lancar, Tok. Jadi, saya bisa kembali ke sini sebelum malam."
Tok Aba mengangguk-anggukkan kepalanya. Maklum bahwa teknologi Bumi belum mencapai tingkatan yang sama seperti pesawat angkasa yang digunakan Fang. Dengan teknologi warp yang memungkinkannya melakukan perjalanan antar planet dalam waktu singkat. Untuk pergi ke planet AtaTa Tiga yang jauh di luar tata surya pun, Fang berangkat pagi hari, dan sudah kembali lagi di waktu senja.
"Fang ada perlu apa sama alien kepala kotak?" tanya Daun tiba-tiba.
Fang pasang muka datar. "Kepo."
Daun mengerjap-ngerjap bingung. Tok Aba tertawa kecil melihat interaksi antara dua sahabat itu.
"Tadi Fang mengantar barang," Tok Aba yang akhirnya memuaskan rasa ingin tahu Daun. "Mereka sepertinya sangat suka cokelat dari kedai Atok ini."
"Hooo ..."
Daun menatap kedai cokelat tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Aroma manis dan menenangkan masih tercium dari sini. Tampak olehnya, saat ini hanya ada tiga pelanggan yang masih duduk santai menikmati minuman mereka sambil bercakap-cakap.
Sepertinya ketiganya kawan baik, begitu pikir Daun.
"Sebentar lagi kedai Atok sudah mau tutup," kata Tok Aba setelah mengikuti arah pandang Daun. "Mereka pelanggan terakhir hari ini tampaknya."
"Jadi ... apa rencanamu setelah ini?" tanya Fang. "Sebentar lagi malam. Kamu bisa tidur di pesawatku, sih. Masih ada ruang."
"Buat apa tidur di pesawat?" Tok Aba menyambung. "Kalian menginap saja di rumah Atok."
"Eh? Boleh, Tok?"
"Tentu saja boleh. Masih ada kamar kosong. Apalagi sekarang cucu Atok tidak tinggal di sini lagi. Sepi rumah Atok."
Daun hanya diam sementara Fang dan Tok Aba berbincang. Kemudian ia tersentak, tiba-tiba teringat tujuannya datang ke Bumi. Iya, betul. Mana boleh bersantai-santai sekarang!
"Fang!" seruan mendadak Daun membuat kawannya tersentak kaget. "Nggak ada waktu lagi! Kumohon, bantu aku. Plasma Spark dicuri, dan sekarang planetku dalam bahaya!"
"Hah?"
Daun mulai mengguncang-guncangkan bahu Fang dengan tidak sabar.
"Ayo, Fang! Kita harus cepat—"
Daun cepat-cepat bangkit sembari menarik lengan Fang. Namun, sejurus kemudian tubuhnya limbung. Untung saja ada Fang yang sigap menahan dan membantunya kembali duduk.
"Daun! Kamu nggak apa-apa?"
"Huweee ... Pusiiing ..."
Fang menghela napas samar. Jelas sekali terlihat, kondisi tubuh Daun sekarang tidak memungkinkannya untuk terlalu banyak bergerak. Namun, kecemasan dan kepanikan menguasai seluruh pikirannya. Terlihat jelas di wajahnya.
"Tenanglah dulu, dan jelaskan apa yang terjadi," kata Fang kemudian. "Kalau begini, aku nggak ngerti."
"Tapi—"
"Fang benar," Tok Aba menyela ucapan Daun. "Lagipula, kamu kelihatan lelah. Atok buatkan cokelat tarik spesial Kokotiam. Mau?"
Mendengar tawaran Tok Aba, mata Daun langsung membulat.
"Mau, mau!"
Daun tersenyum lebar, membuat Fang langsung pasang muka datar. Daun ini memang gampang sekali teralih perhatiannya.
"Sekarang, coba ceritakan," Fang memulai lagi, sementara Tok Aba meninggalkan mereka berdua untuk membuatkan minuman cokelat yang dijanjikannya. "Apa yang terjadi? Planetmu kenapa? Dan ... apa itu Plasma Spark?"
Daun berpikir sebentar.
"Hmmm ... Kalau begitu, aku harus menceritakan sejarah negeriku."
Fang mengangkat sebelah alisnya, tetapi tidak berkomentar.
"Dulu ... Duluuu sekali ... Kehidupan planetku mirip sekali dengan Bumi. Penduduknya juga manusia biasa, sama seperti orang Bumi. Tapi sekitar 270 ribu tahun yang lalu, matahari kami hilang ..."
"Hilang?" ulang Fang. "Apa maksudmu?"
Daun pasang muka serius, lantas berucap pendek, "Bum!"
"Meledak?" Fang pasang ekspresi horor. "Serius?"
Daun mengangkat bahu. "Pokoknya, planet kami nggak punya matahari lagi. Tapi, untungnya, ilmuwan-ilmuwan kami nggak menyerah. Mereka berhasil menciptakan Plasma Spark Tower. Jadi planetku bisa bertahan."
"Oh ... Matahari buatan?"
Daun mengangguk sambil tersenyum. "Energi dari Plasma Spark itu sangat luar biasa! Sampai-sampai mengubah nenek moyang kami jadi manusia super!"
"Hmmm ... Artinya, terjadi mutasi secara genetik akibat energi matahari buatan." Fang mengangguk-angguk sambil pasang pose berpikir. "Lalu, hal itu diwariskan kepada keturunannya sampai sekarang."
Daun kembali mengangguk. Saat itulah, Tok Aba datang membawakan dua cangkir cokelat panas. Sebenarnya beliau hendak beranjak, tapi Daun mengundangnya ikut di dalam percakapan.
"Yang Atok dengar," kata Tok Aba, "ras kalian disebut 'ras Ultra'. Punya kekuatan super, biasanya setiap orang menguasai satu macam kekuatan untuk mengendalikan elemen alam tertentu. Kalian juga bisa terbang dan bisa bertahan di luar angkasa tanpa alat apa pun. Itu sungguh luar biasa."
"Ya," sambung Fang. "Luar biasa curang."
Daun hanya terkekeh. Ia lantas menghirup aroma cokelat dari cangkir di tangannya, kemudian meminumnya dengan raut wajah bahagia.
"Katanya kalian juga bisa hidup hingga ribuan tahun," Tok Aba masih menuntaskan rasa penasarannya. "Apa itu benar?"
Daun mengangguk. "Tetua kami, Hang Kasa, katanya sudah berumur 250 ribu tahun lebih!"
"Oh ya? Kalau kamu sendiri? Berapa umurmu?"
"Saya baru 6.800 tahun, Tok."
"Masih bocah, lah, Atok, kalau untuk ukuran mereka," Fang menyambung dengan ekspresi menyebalkan di wajahnya. "Bangsa Ultra baru diakui 'dewasa' setelah berusia 7.000 tahun."
Daun cemberut seketika. "Sebentar lagi aku juga sudah dewasa!"
Tok Aba tertawa kecil ketika setelah itu Fang dan Daun sibuk saling ledek.
"Jadi, Plasma Spark ... 'matahari' kalian itu, sekarang hilang dicuri?"
Ucapan Tok Aba selanjutnya sukses merampas keceriaan dari wajah Daun. Ia mengangguk sedih, dan tidak mengatakan apa-apa sampai beberapa saat.
"Kami harus merebutnya kembali, sebelum kehidupan Planet Quabaq benar-benar musnah." Daun menatap Fang dengan mata berkaca-kaca. "Karena itulah ... kami butuh bantuanmu. Kamu mau kan membantu kami, Fang?"
"Bukannya aku nggak mau membantu, tapi ..." Fang menjeda sejenak. "Kalau kalian, ras Ultra yang katanya terkuat di alam semesta saja, nggak bisa mengalahkannya ... lalu memangnya apa yang bisa kulakukan?"
"Fang pasti bisa membantu! Soalnya ... Retak'ka, orang yang mencuri Plasma Spark itu ... punya kekuatan yang sama dengan bangsa Reionix."
Ucapan Daun yang terlalu tak terduga, membuat Fang kehilangan kata-kata sejenak.
"Hah?" akhirnya cuma itu yang bisa diucapkan oleh Fang.
Melihat kebingungan di wajah kawannya, Daun memutuskan untuk bercerita tentang sejarah gelap Negeri Cahaya yang bernama 'Retak'ka'. Cerita yang terus disampaikan kepada para generasi muda, supaya kesalahan yang sama tak lagi terulang. Bagaimana seorang kesatria hebat yang terobsesi kepada 'kekuatan' akhirnya melanggar hukum tertinggi dan diasingkan.
"Itu kisah 20 ribu tahun yang lalu, 'kan?" Fang menyela cerita Daun. "Kalau dia sudah diasingkan, lalu kenapa sekarang dia bisa berulah lagi?"
"Masalahnya terjadi setelah itu." Daun mengingat-ingat detil kisah yang didengarnya sewaktu masih di Akademi. "Katanya, Retak'ka dalam pengasingannya dihampiri oleh roh kejahatan. Kegelapan menelannya, lalu dia berubah menjadi seperti sosoknya sekarang. Kuat, berbahaya, dan sangat kejam. Setelah itu, dia kembali ke Negeri Cahaya untuk balas dendam. Dia hampir menghancurkan semuanya! Untung ada Hang Kasa yang menangkapnya, lalu memenjarakannya di Asteroid Kristal. Tapi, nggak tahu gimana, tiba-tiba sekarang dia bebas lagi dan—"
"Tunggu dulu!"
Fang menyela cerita Daun sekali lagi. Dia sudah paham inti permasalahannya. Namun, ada satu hal dari cerita Daun yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Daun, apa yang kamu maksud dengan 'roh kejahatan' itu?"
Daun menatap kawannya dengan tatapan mata bening. Fang tidak tahu mengapa, yang jelas dadanya mulai berdebar kencang. Seperti dia sudah bisa menduga Daun akan menjawab apa. Sebuah jawaban yang takkan disukainya.
"Roh kejahatan itu ... Reiblood."
Kedua mata Fang membulat sejenak demi mendengar jawaban Daun.
"Rei ... blood ...? Reiblood, katamu?"
Tatapan Fang berubah nanar. Tentu saja. Apa yang diharapkannya? Jika itu kejadian sekitar 20 ribu tahun yang lalu, maka sudah jelas, itulah kejadian yang paling mungkin. Karena itulah, sekarang semua terhubung dengannya. Dengan bangsa Reionix dari Planet Gogobugi.
"Fang? Kamu nggak apa-apa?"
Pemuda berkacamata frame ungu itu tersentak. Didapatinya Daun tengah menatapnya cemas.
"Wajahmu pucat, Nak." Tok Aba ikut menatap khawatir. "Ada apa? Memangnya siapa 'Reiblood' itu?"
Fang membalas pandangan kedua pasang mata yang menatapnya penuh tanda tanya. Selang beberapa detik, barulah ia menghela napas panjang. Sungguh, ia tak ingin mengingat-ingat apalagi membicarakan soal ini. Tapi jika ada keselamatan planet lain yang ikut dipertaruhkan, maka apa boleh buat.
Karena ini adalah tanggung jawabnya juga.
"Dia ... adalah sejarah kelam bangsa kami, bangsa Reionix," Fang mengawali ceritanya. "Reiblood adalah pemimpin besar yang pernah membangun kekaisaran terkuat, membawa bangsa kami pada puncak kejayaan. Tapi, dia juga seseorang yang sangat ambisius. Bukan hanya Planet Gogobugi, dia ingin menguasai seluruh galaksi. Karena itu, sekitar 20 ribu tahun lalu, terjadilah perang antara planet kami dengan banyak planet, yang dipimpin oleh ras Ultra."
Fang menjeda. Ditatapnya langit barat yang berwarna jingga. Sekilas, senyum sinisnya terkembang. Ternyata hanya bercerita seperti ini pun sangat memberatkan hatinya.
"Singkat cerita," lanjut Fang, "pasukan gabungan berbagai planet akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Reiblood. Perang Galaxy berakhir, perdamaian kembali tercipta di alam semesta. Reiblood dikabarkan tewas di dalam pertempuran, tapi jasadnya tak pernah ditemukan."
Fang menatap lurus ke dalam mata Daun secara tiba-tiba, membuat sahabatnya itu memiringkan kepala dengan mata bertanya-tanya.
"Aku nggak menyangka, dia pada akhirnya 'mewariskan kekuatannya' kepada kesatria dari negerimu, Daun."
Daun mengerjap beberapa kali. "Kata guruku di Akademi dulu, Retak'ka dirasuki oleh kekuatan jahat Reiblood karena di hatinya ada kegelapan."
"Kegelapan, ya ...?"
Fang kembali memandang ke cakrawala barat. Kegelapan pun akan segera melingkupi tanah ini seiring terbenamnya sang surya. Meskipun begitu, cahaya akan kembali terbit di pagi berikutnya. Namun, tidak bagi orang-orang seperti Reiblood dan Retak'ka. Bagi mereka, 'cahaya' takkan pernah datang kembali. Tidak dahulu, maupun sekarang.
Mungkin untuk selamanya.
"Baiklah." Fang bangkit tiba-tiba, membawa cangkir cokelatnya yang telah kosong. "Aku akan membantumu, Daun."
Kedua mata Daun sontak berbinar-binar. "Benarkah?"
"Tentu. Tapi, sebelum itu, beritahu aku ... apa rencananya setelah ini?"
Daun berpikir sejenak. "Kita kembali dulu ke Negeri Cahaya untuk menyusun rencana selanjutnya. Lagipula, aku nggak tahu sekarang Retak'ka ada di mana."
Fang mengangguk. "Oke."
"Kalau begitu, sekarang kalian ikut Atok ke rumah untuk beristirahat," Tok Aba menyambung. "Tapi ... bantu Atok tutup kedai dulu."
Daun tertawa kecil, sedangkan Fang tersenyum tipis.
"Siap, Tok."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Solar menggapaikan tangannya ke atas, mencengkeram bebatuan sambil mendorong tubuhnya melawan gravitasi sekuat tenaga. Sebenarnya, tubuhnya sendiri tidak seberat itu. Tentu saja, karena ia selalu menjaga kondisi dan bentuk tubuhnya supaya tetap ideal menawan. Masalahnya, di punggungnya sekarang ada beban berat berupa tas ransel besar berisi tenda dan perlengkapan berkemah lainnya.
Untunglah, pijakannya cukup kuat, sehingga ia bisa yakin, dirinya takkan tiba-tiba jatuh tergelincir. Atau lebih parah lagi, pijakan kakinya yang tidak seberapa itu mendadak runtuh.
Pemuda itu tersentak, cepat-cepat mengusir pikiran negatif yang datang tanpa permisi. Tidak. Ini bukan saatnya mencemaskan hal yang bukan-bukan. Ia harus sepenuhnya fokus, atau nyawanya yang dipertaruhkan di sini. Ketika dirinya harus mendaki tebing terjal nyaris vertikal, menuju puncak gunung nan tinggi menjulang.
Tidak apa-apa. Tinggal sedikit lagi. Pasti bisa.
Harus bisa!
Perlu waktu sekitar lima belas menit kemudian, hingga Solar sampai ke puncak. Ia terbaring lemas seketika begitu kakinya kembali menapak dataran. Sementara napasnya pun masih tersengal-sengal sampai lama.
"Ternyata staminamu tetap saja payah."
Biasanya Solar takkan tinggal diam dikatai seperti itu. Namun, saat ini, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melayani pertengkaran sekecil apa pun. Ia hanya menoleh sekilas, melihat sosok Frost yang sudah menunggu dengan bosan sembari duduk bersandar santai ke bebatuan terdekat.
"Yah, tapi ... sudah jauh lebih baik daripada sewaktu pertama kali kamu datang ke sini beberapa tahun lalu."
Frost tersenyum samar. Solar masih tidak menanggapi, tetap fokus mengatur aliran napasnya yang masih sedikit berantakan. Tak terhindarkan, kenangan terputar kembali di benaknya.
Benar juga.
Selama ini, Frost tak pernah melatihnya apa-apa. Atau begitulah kelihatannya. Tapi, kalau dipikir-pikir, orang itu selalu membawanya—memaksa, lebih tepatnya—pergi berburu atau mencari bahan makanan ke tempat-tempat yang sulit dijangkau. Rasanya, nyaris semua gunung yang berada di planet ini sudah mereka daki. Dan gunung yang sekarang ini, adalah gunung tertinggi di antara semuanya.
"Cih."
Solar mendecak kesal. Dia bisa mengukur kemampuannya sendiri. Karena itu, dia cukup yakin, bertahun-tahun yang lalu, tubuhnya takkan sanggup diajak mendaki gunung setinggi ini.
"Kenapa? Kau mengakui kalau berkat aku, staminamu sekarang sudah bertambah kuat?"
Kata-kata Frost terdengar sangat mengesalkan, tapi dia memang benar.
"Cerewet." Solar membuang muka. "Daripada itu ..."
Sang pemuda bangkit perlahan. Napasnya sudah normal lagi, tapi suasana hatinya belum.
"Kenapa juga kita harus mendaki gunung malam-malam begini, hah?"
Frost tertawa datar. "Masih untung ketiga bulan Volcania sedang bersinar terang malam ini. Jadi kita tidak terlalu kesulitan mendaki, 'kan?"
"Bodo amat."
"Lagipula udaranya sejuk malam ini—"
"Ini bukan sejuk, tapi dingin banget!"
"Kamu kebanyakan mengeluh. Persis kakakku."
Solar kembali menggerutu panjang-pendek, tapi kali ini Frost mengabaikannya.
"Yak! Malam ini, kita berkemah di sini." Frost bangkit, lantas mulai berjalan menjauhi tepian tebing. "Besok kita akan mulai latihanmu bersamaku."
Kalimat terakhir Frost membuat Solar terdiam seketika. Jujur saja, sewaktu Frost berkata hendak melatihnya, ia merasa cukup antusias. Dan saat ini pun, jantungnya kembali berdebar oleh antusiasme yang sama. Jika ada kesempatan baginya untuk bertambah kuat lagi, apa pun itu, akan dilakukannya.
Kalau harus jujur, ia agak kecewa ketika sore ini ternyata Frost 'hanya' mengajaknya mendaki gunung. Katanya di tempat ini ada bahan makanan langka yang diinginkannya.
"Hei. Kamu mau ikut nggak?"
Teguran Frost yang sudah beberapa langkah di depan, sedikit mengejutkan Solar. Ia pun segera mengikuti Frost yang melanjutkan langkah.
"Oi, Frost. Kita beneran mau bikin tenda di tempat seperti ini?"
"Kamu lebih suka kubuatkan iglo dari balok es?"
"Nggak, makasih."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Pagi hari di Pulau Rintis, Planet Bumi.
Tak lama setelah fajar menyingsing, Daun bersama Fang sudah bersiap di depan rumah Tok Aba yang halamannya cukup luas. Pesawat Fang yang terparkir di sana, masih dalam mode 'siluman' alias tak terlihat.
"Sudah siap berangkat sepagi ini?"
Daun yang sedang meregangkan tubuh sambil menikmati udara pagi, tersentak sedikit ketika mendengar sapaan mendadak Tok Aba. Lelaki tua itu baru saja keluar dari dalam rumah dengan membawa beberapa kaleng cokelat bubuk yang dikemas dalam keranjang kecil, seperti parcel.
"Kami pikir, lebih baik berangkat secepatnya, Tok," Fang yang menjawab, sementara Daun ikut mengangguk.
"Ya sudah, berhati-hatilah." Tok Aba mengulurkan keranjang rotan kecilnya kepada Daun. "Ini, bawalah untuk kalian."
"Tok Aba, kami bukan mau piknik—"
Ucapan Fang terputus oleh Daun yang menerima bingkisan itu dengan wajah berseri sambil mengucapkan terima kasih. Pada akhirnya, pemuda berkacamata itu hanya bisa menghela napas. Apalagi Tok Aba bersikeras memaksa.
"Baiklah. Kalau begitu kami permisi."
Fang menekan tombol pada semacam alat komunikasi yang terpasang di lengannya, mematikan fungsi 'tak terlihat' di pesawatnya. Tampaklah pesawat angkasa berbentuk memanjang ke bawah dengan warna putih-kelabu. Sedikit garis-garis kuning menghiasi beberapa bagiannya. Sementara di bagian atas, tampaklah simbol berbentuk abstrak seperti topeng.
"Waaah ... Ini pesawat baru kamu, Fang?" komentar Daun dengan mata berbinar-binar. "Kereeen~"
Fang memutar bola matanya. "Pesawat ini sudah dilengkapi teknologi warp terbaru dari planetku. Tapi, yah ... jarak tempuhnya masih belum sebanding dengan kemampuan portal ras Ultra, sih ..."
"Hmm?" Daun memiringkan kepalanya. "Ya sudah, biar aku saja yang bikin portal."
"Tapi kondisimu belum pulih, 'kan?"
"Nggak apa-apa, kok! Kita 'kan sudah istirahat semalaman. Lagian, sinar matahari di planet ini enak. Aku sudah cukup fotosintesis, he he he ..."
Fang pasang tampang datar seketika. "Memangnya kamu tanaman?"
Setelah berpamitan pada Tok Aba, kedua pemuda dari dua planet berbeda itu segera berangkat. Fang mengendarai pesawatnya, sedangkan Daun terbang seperti biasa.
Setelah keluar dari atmosfer Bumi, Daun segera menciptakan portal yang cukup besar untuk bisa dilewati pesawat angkasa. Tanpa buang waktu lagi, Daun diikuti pesawat Fang, masuk ke dalam portal. Menuju Planet Quabaq, sebelum cahaya terakhirnya benar-benar padam.
.
.
.
Bersambung ...
.
.
Trivia:
Lucerna dan Lumen
Lucerna adalah nama pasukan khusus yang dibentuk untuk menjaga perdamaian seluruh galaksi. Tidak sembarang orang bisa dan layak untuk bergabung dalam kesatuan ini. Mereka adalah prajurit-prajurit terpilih, yang kemudian dikenal sebagai Kesatria Cahaya.
Lumen adalah semacam badan pusat riset dan teknologi. Tergabung di dalamnya adalah para ilmuwan terbaik yang dimiliki oleh Negeri Cahaya. Terdiri dari berbagai divisi. Salah satunya adalah divisi yang dipimpin oleh Cahaya, Kepala Divisi termuda yang pernah ada.
Nama Lucerna dan Lumen kuambil dari bahasa Latin Spanyol. Lucerna, berarti 'cahaya lilin'. Dan lumen, berarti 'cahaya'.
Gamma, Pyro dan Frost
Untuk para Kesatria Cahaya senior, aku ingin mengambil nama dari elemental tahap ketiga. Bagi yang sudah menonton BoBoiBoy The Movie 2, tentunya sudah tahu, kuasa tahap ketiga yang digunakan oleh Retak'ka: Gamma (cahaya), Balak (tumbuhan), Voltra (petir), Beliung (angin). Ditambah kuasa Kristal (tanah) yang diserap dari Hang Kasa.
Yang kupakai di sini adalah Gamma. Sayang sekali, kuasa tahap ketiga untuk api dan air belum muncul. Karena itu, aku memakai nama yang 'dirumorkan', yaitu Pyro dan Frost.
Namun, karena BoBoiBoy sendiri belum sampai pada tahap ketiga, bolehlah Gamma, Pyro, dan Frost di sini dianggap sebagai OC.
Kisah Negeri Cahaya
Sejarah Negeri Cahaya di dalam cerita ini, diambil dari seri Ultraman, dengan sedikit penyesuaian.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! X"D
Ketemu lagi di Ultra Galaxy! Ada yang nungguin fic ini? Ehehehe ...
Buat yang tempo hari bertanya-tanya soal Gamma dan Pyro, udah terjawab, yah. Juga tentang Planet Quabaq yang membeku, disebabkan matahari buatannya diambil oleh Retak'ka. Semoga penggambarannya udah cukup jelas di sini.
Tentang sejarah Negeri Cahaya, plotnya diambil dari seri Ultraman. Soal penjelasan ilmiahnya, nggak akan dibahas terlalu detil karena asalnya memang dari serial superhero buat anak-anak. Begitu juga di fanfic ini. Makanya, saya pun nggak mencantumkan genre sci-fi buat Ultra Galaxy, takutnya readers sekalian berekspektasi terlalu tinggi, ahahaha ... XD #nak
Okeee~silakan review-review bila ada unek-unek yang ingin disampaikan.
.
Regards,
kurohimeNoir
18.01.2020
