Naruto membuka matanya, ia kaget karena tidak ada Naofumi di samping atau di kamarnya.

"Engh ... di mana kau Naofumi?"

Naruto hanya bisa mengarahkan tatapannya keluar jendela di sana Naruto dapat melihat dengan jelas di dekat gang sempit dari jendela yang dilihatnya, pemuda berambut hitam mengenakan jubah berwarna hijau dan selalu membawa perisai kemana-mana itu dihampiri oleh seorang pria gemuk berkumis dengan kacamata bulat, ia nampak membawa tongkat dan mengenakan jas hitam yang cukup keren di jamannya.

'Apakah pria gemuk itu adalah kenalannya Naofumi? Naofumi seperti merasa kurang nyaman, tapi dari yang aku lihat pria gemuk itu nampaknya cukup baik, meskipun aku bisa melihat ada sedikit kelicikan dalam dirinya. Namun, aku rasa Naofumi pasti bisa mengatasinya.'

Naruto terus mengawasi keduanya sampai akhirnya, pemuda gemuk itu pergi dan Naofumi mengikutinya, karena tidak ingin terlalu ikut campur, Naruto pun lebih memilih untuk duduk diam menunggu sembari bermeditasi untuk menenangkan pikirannya.

'Karena aku bersama seorang pahlawan aku enggak boleh mempermalukannya dengan bertindak sesuka hati atau melakukan kejahatan, apalagi Naofumi memiliki reportasi buruk di sini. Walau bagaimanapun aku berhutang budi padanya jadi aku tidak ingin membebaninya untuk sekarang.'

Beralih ke Naofumi.

Naofumi terus mengikuti pria pendek gemuk itu, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tenda karnaval di sana ketika Naofumi memasukkinya bersama pria gemuk itu, banyak makhluk berwujud manusia setengah binatang dan juga monster dikurung dalam kandang.

"Apa ini?"

Naofumi bertanya dengan nada datar pada orang yang memandunya kesana, pria gemuk itu langsung menatap ke arah Naofumi sembari tersenyum.

"Masih belum mengerti? Ini adalah kandang para monster ah lebih tepatnya adalah budak."

"Budak?"

"Ya! Aku adalah pedagang budak. Bagaimana, apakah kau tertarik?"

Naofumi yang ditanyai demikian langsung menatap ke arah sang pedagang budak dengan tatapan selidik Naofumi pun bertanya.

"Kenapa kau yakin kalau aku membutuhkan seorang budak?"

Sang pedgang bidak hanya tertawa kecil mendengar pertannyaan demikian, hingga akhirnya ia menjawab alasan kenapa ia berpikir kalau Naofumi memerlukan budak darinya.

"Karena mereka tidak akan bisa berbohong kepada pemiliknya."

Jawaban singkat itu langsung membuat Naofumi sedikit tertarik ia menatap ke arah pedagang budak lalu berkata.

"Hooh, lalu bagaimana kau bisa menjamin mereka tidak akan mengkhianatiku?"

Naofumi menanyakan hal itu sembari berjalan pelan menelusuri lorong dan memperhatikan makhluk-makhluk apa saja yang dikurung di dalam kandang tersebut.

"Mereka telah diberikan segel kutukan khusus yang kami tanamkan pada mereka, Kutukan itu akan memberikan rasa sakit jika mereka mencoba menentang, berbohong ataupun mengkhianati tuannya. Bahkan mereka juga bisa mati karena hal itu."

"Hooh, ini mulai menarik. Jelaskan lebih rinci padaku."

Pedagang budak itu mulai menjelaskan banyak hal, mulai dari budak apa saja yang ia jual dan kenapa mereka di jual di Melromack.

Hingga akhirnya mereka berdua sampai di sebuah kandang.

"Dan ini adalah budak yang paling aku sarankan."

Naofumi pun menatap budak yang disarankan oleh pedagang budak, ternyata seekor serigala berbadan besar dengan tangan seperti manusia berkuku hewan dan berbulu.

"Levelnya 75, ia sudah terbiasa dengan pertarungan. Aku bisa memastikan ia akan bisa membantumu dalam pertarungan seperti apapun."

"Berapa harganya?"

"Lima belas koin emas."

"Apakah kau menunjukkan yang termahal meski kau tahu aku tidak bisa membelinya?"

"Ya. Kau tahu saja, lagi pula saya bisa merasakan jiwa pembisnis dari dalam diri tuan. Jadi aku merasa kau bisa menjadi pelanggan tetap atau bahkan orang yang berkontribusi tinggi akan bisnisku, jadi aku tidak bisa membiarkan tuan kehilangan mata pada barang daganganku."

Naofumi yang mendengar pernyataan dari sang pedagang budak, Naofumi hanya bisa mendengus pelan.

"Jika dilihat dari level dan pengalamannya, bagiku 15 koin emas itu terlalu murah, apakah ada sesuatu yang membuatnya dijual dengan harga semurah itu?"

Mendengar pertanyaan Naofumi, sang pedagang budak hanya tersenyum kecil dan menjawab.

"Seperti yang saya duga, tuan memiliki jiwa pembisnis yang matang. Saya semakin yakin untuk memulai bisnis ini pada tuan. Baiklah, seperti yang tuan tahu, ia adalah monster petarung, ia mengalami cedra di kakinya ketika kalah dalam gladiator. Kami memang sudah menyembuhkannya, tapi karena kecacatannya sebelum aku membelinya, tidak ada jaminan ia sudah sembuh total."

Naofumi kemudian mengangguk pelan, monster serigala itu nampak menatap tajam Naofumi seperti ingin memakannya.

"Oh iya, ketika ia membuat masalah, kau juga bisa menghukum para budak semudah menjentikan jari."

Secara tiba-tiba saat sang budak mengatakkan hal itu sang monster kesakitan dengan sebuah segel berwarna merah muncul di dadanya membuat monster itu mengamuk kesakitan.

"Goaaaarrrrr!!!"

"Wah enak sekali."

"Begitulah tuan, bahkan jika kau sudah ahli dalam menggunakan budak, kau tidak perlu memberikan jentikan jari untuk memberikan hukuman."

Setelah menjelaskan cara kerja segel budak, sang pedagang budak pun menatap ke arah Naofumi, sembari bertanya.

"Jadi ... budak seperti apa yang tuan inginkan?"

Kembali ke Naruto.

Naruto kembali membuka matanya, lalu berjalan keluar kamar, ia berjalan dan setelah berada di loby hottel ia diam dan memperhatikan kebiasaan dan kata-kata dari orang-orang di sekitarnya. Naruto ingin lebih memahami banyak kosa kata dari bahasa Melromack.

Setelah merasa sudah cukup, Naruto kembali ke kamar sembari duduk menunggu Naofumi pulang, sebenarnya Naruto agak gelisah ketika Naofumi masih belum pulang. Namun, dengan kesabaran ia mencoba untuk tenang.

'Sial! Jika dalam lima menit dia tidak datang, aku akan mencari dan menyeretnya kemari!'

Naruto pun duduk diam menunggu kedatangan Naofumi yang menurutnya terlalu lama, Naruto terus mengayunayunkan kakinya ketika duduk di atas ranjang, jari tangannya terus digerak-gerakkan. Mata gadis barbar itu terpejam dahinya berkerut karena menahan kesal, sebenarnya Naruto paling benci menunggu kedatangan seseorang, pada saat ini biasanya ia akan mengalihkan rasa bosannya pada hal-hal kriminal seperti pergi memalak atau mencopet dompet orang. Namun, karena ia mengingat dirinya sebagai salah satu anggota pahlawan ia mencoba untuk tidak melakukan hal itu.

Naruto yang semakin tidak tahan akhirnya berjalan mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya, ia kemudian menatap jam tangannya.

"Dua menit lagi, awas kau Naofumi akan ku jewer telingamu jika kau membuatku menunggu lebih lama lagi Bangsat!"

Tak lama setelahnya Naofumi pun datang dengan membuka pintu kamar dalam sekejap mata Naruto menatap ke arah pintu kamar dan melihat Naofumi sedang bersama seorang anak kecil yang dari tingginya usianya mungkin kisaran sepuluh tahun, memiliki telinga hewan dan terlihat sangat kurus, mata Naruto langsung menyipit melihat hal itu.

"Naofumi, kau tidak sedang menculik anak kecilkan?"

"Enak saja kau berkata begitu, aku membelinya kau tahu."

Mendengar tanggapan Naofumi, Naruto hanya diam dan menatap anak perempuan itu, gadis kecil itu langsung bersembunyi di balik tubuh Naofumi ketika melihat Naruto menatap tajam dirinya.

"Naruto, hentikan itu ... kau membuatnya takut."

Naruto kemudian mengalihkan penglihatannya dari gadis kecil itu ke arah Naofumi. Lalu tak lama setelahnya ia mendekati Naofumi lalu ia berbisik kepada Naofumi.

"Aku masih belum bisa memahami bahasa Melromack, jadi aku tidak mungkin bisa mengakrabkan diri dengannya, sekarang kau membelinya dari mana?"

"Aku membelinya dari pedagang budak, aku membutuhkannya, jadi pastikan kondisinya baik-baik saja."

Naruto langsung menautkan alis matanya lalu menarik tangan gadis itu dan mengangkatnya ke dalam gendongannya lalu mendekapnya dalam pelukan lembut.

Awalnya gadis itu kaget dan memberontak seperti tidak ingin dekat-dekat dengan Naruto. Namun, ia menjadi tenang dan nyaman dalam pelukan Naruto yang menggendongnya, ia pun melingkari tangannya di leher Naruto.

"Siapa namanya?"

Naruto menatap ke arah Naofumi sembari bertanya kepadanya nama dari gadis yang dibeli Naofumi dari toko budak.

"Raphtalia."

"Oh, Raphtalia kah? I namae da."

Naruto masih berbicara dengan bahasa jepang, Raphtalia tidak paham apa yang Naruto katakan, ia hanya paham apa yang dikatakkan oleh Naofumi, karena Naofumi memilikki perisai yang bisa menerjemahkan perkataan dari Naofumi itu sendiri.

Namun, meskipun tidak bisa memahami apa yang Naruto katakkan Raphtalia hanya diam dan tersenyum, ketika melihat Naruto tersenyum ke arahnya sembari mengelus rambutnya.

Naofumi hanya diam saja melihat Naruto memeluk Raphtalia dan membiarkannya membaringkan Raphtalia ke atas kasur, Naruto pun mengelus lembut rambut Raphtalia sembari menyanyikannya sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh orang tuanya untuk membuatnya tidur.

Seiring Naruto melantunkan lirik lagunya dengan nada lembut dan merdu, pada saat itu pula Raphtalia semakin mengantuk dan tenang, meskipun ia tidak paham arti lagunya karena berbahasa jepang, ia tetap mengantuk karena lantunan nadanya yang tenang dan menghanyutkan.

Bahkan Naofumi terdiam ketika mendengar lantunan nada yang Naruto nyanyikan.

"Suaramu bagus juga."

"Terima kasih pujiannya, oh iya kau tidak mau tidur?"

"Kau tidurlah bersama Raphtalia, kelihatannya ia senang bersamamu."

Naruto pun mendekati Naofumi dan menari telinganya.

"A a au! Sakit!"

"Huh? Ketika digigit Pacman kau baik-baik saja, kenapa kalau aku yang jewer kau malah kesakitan hem, kau berusaha menipuku yah?"

"Tidak, jarimu saja yang terlalu kuat."

Mendengar alasan Naofumi, Naruto hanya menghela nafas lalu tersenyum kecil ke arah Naofumi yang sedang mengelus telinganya yang memerah.

"Sudahlah kalau begitu, aku ingin kita bertiga bisa tidur bersama, meski kau lelaki bergadang itu tidak baik apalagi kau itu adalah Pahlawan, kesehatanmu adalah yang utama."

Karena tidak ingin ribut, Naofumi pun menurut saja dan tidur bertiga di atas ranjang atas keinginan Naruto dengan Raphtalia ada ditengah mereka.

Singkat cerita, akhirnya hari sudah pagi, Naofumi, Naruto dan Raphtalia pun berangkat bersama menuju pedagang senjata, Naruto yang masih merasa khawatir pada Raphtalia menggenggam tangan dari gadis kecil itu dan menggiringnya berjalan mengikuti Naofumi sembari tersenyum kecil.

Sesampainya di toko senjata, Naofumi langsung meminta sang pedagang senjata memilih senjata yang bagus untuk Raphtalia dengan sisa anggaran yang ia miliki.

"Selamat datang! Oh kau dan pacarmu yah?"

"Siapa yang kau bilang pacarku?"

"Halah, bukankah gadis berambut pirang itu selalu bersamamu? Kalau bukan pacar lalu apa?"

Naofumi hanya diam saja dan meletakkan beberapa koin perak di meja sang pedagang senjata.

"Hem??"

"Berikan dia senjata yang bisa dipakai. Anggaran 6 koin perak."

Sang pedagang senjata itu langsung menatap ke arah tatapan Naofumi dan menadapati seorang gadis kecil dengan telinga dan ekor rakun, karena author enggak tahu warna rambutnya jadi pikirkan sendiri.

"Apa dia anak kalian berdua?"

Sang pedagang senjata itu bertanya kembali pada Naofumi. Namun, dengan sidikit nada candaan. Naofumi tidak terlalu menanggapi hal itu, Naruto juga diam saja, karena tidak memahami apapun yang dikatakkan oleh pedagang senjata itu.

"Sudahlah, tak usah bercanda dan berikan senjata dan armor yang bisa kau berikan."

"Ya-ya."

Pria botak berotot itu pun memberikan armor kain chains mail berwarna hitam dan merah marun serta senjata berupa pisau pendek seperti senjata yang digunakan oleh Naruto.

Raphtalia pun pergi ke kamar ganti untuk memakai armor yang dibelikan, Naruto hanya diam saja sembari menatap ke arah Naofumi dan tirai yang menutup Raphtalia yang sedang memakai armor.

Setelah cukup lama, akhirnya Raphtalia keluar dari tirai ia terlihat masih takut menatap Naofumi.

"Kau lama sekali."

"M-maaf."

"Sudahlah, Raphtalia keluarkan pisaumu."

"Eh?"

Naofumi langsung membuka jubah hijaunya dan memperlihatkan monster balon yang terus mengigiti tubuh Naofumi. Naofumi kemudian mulai mengambil monster balon yang mengigiti tubuhnya dan mengarahkannya pada Raphtalia sembari memeganginya dengan erat.

"Raphtalia, coba kau tikam monster ini!"

"T-tidak ..."

"Ini adalah perintah!"

Setelah mengucapkan hal itu, secara tiba-tiba dada Raphtalia mengeluarkan percikan listrik dan membuatnya kesakitan, Naruto yang melihat hal itu, langsung kaget dan mendekati Raphtalia.

"Oi ada apa? Raphtalia-san! Naofumi apa yang terjadi padanya?"

Naruto nampak panik ia mencoba menenangkan Raphtalia yang seperti kesakitan karena dadanya bersinar. Ya Naruto tidak tahu kalau segel budaklah yang membuat Raphtalia kesakitan, Naruto juga tidak mengerti apa yang diucapkan oleh para penduduk Melromack, karena kelahirannya adalah jepang dan di dunianya tidak ada yang mengajarkannya bahasa Melromack.

"Raphtalia! Jika kau menolak itu hanya akan menyakitimu! Maka dari itu bunuh monster ini atau kau yang terbunuh!"

Raphtalia pun bangkit dan mulai mencabut pisaunya lalu menusukkannya ke arah balon yang dipegang oleh Naofumi. Namun pisaunya tidak membuat balon itu pecah.

"Bagus! Serang lebih kuat!"

"Hyaaaaa!"

Dengan segenap kekuatannya Raphtalia pun akhirnya berhasil menghancurkan monster yang ada di tangan Naofumi. Raphtalia pun terlempar dan mendapatkan Exp sebanyak 15 poin.

"Aku juga mendapatkan Exp?"

Naofumi kebingungan melihat kalau ia mendapatkan notif mendapatkan Exp sebesar 15. Jumlah yang sama dengan yang di dapat oleh Raphtalia.

"Saat kau bertarung bersama Partymu, meskipun kau tidak membunuh monster kau harusnya juga mendapatkan Exp. Dan apakah sewaktu bersama gadis itu kau tidak mendapatkannya?"

Setelah mendengar pernyataan dari pedagang senjata itu, Naofumi hanya bisa terdiam, dan mendengus pelan sembari bergumam.

"Wanita sialan itu."

Naruto hanya bisa diam melihat ekspresi Naofumi yang nampak kesal setelah mendengar perkataan dari pedagang senjata, karena tidak tahu apa-apa ia memilih diam dan menghampiri Raphtalia dan mengelus pelan rambut gadis itu sembari tersenyum, Raphtalia hanya bisa diam dan menatap ke arah Naruto dengan tatapan datar.

"Dengar."

Raphtalia dan Naruto langsung menatap ke arah Naofumi, meskipun Naruto tidak mengerti dengan perkataan orang-orang. Namun, jika itu kata-kata dari Naofumi ia bisa memahaminya.

"Mulai dari sekarang, kau harus membantu kami bertarung melawan monster."

Raphtalia hanya mengangguk dan bersembunyi di balik Naruto karena masih takut dengan Naofumi.

"Aku sudah membelimu dengan uang yang banyak. Setidaknya, bekerjalah untuk membuatku balik modal."

"Bodah, kalau kau kasar begitu, dia bisa mati, lo."

Mendengar nasehat dari pedagang senjata itu, Naofumi hanya mengalihkan wajahnya dan menatap ke arah Naruto dan Raphtalia yang masih bersembunyi dipunggungnya.

"Terima kasih atas pengertiannya. Naruto! Raphtalia! Cepat kita harus berburu!"

Naruto hanya menghela nafas pelan dan menggendong Raphtalia lalu membawanya bersamanya.

"Naofumi, meskipun aku tahu kau sedang mengalami masa sulit, tak seharusnya kau berkata kasar pada seorang bocah meskipun dia adalah budakmu kau tahu."

Naofumi yang tidak ingin berdebat hanya diam dan berjalan pergi dari sana diiringi oleh Naruto yang masih menggedong Rapthalia seperti seorang ibu yang menggendong anaknya.

Dalam perjalanan, Naofumi menghitung sisa uangnya.

"Sekarang tersisa 30 puluh koin perak."

Naofumi hanya bisa menghela nafas pelan sembari berjalan menatap sekitar sampai sebuah suara mengubah fokusnya.

"Hei, cepat bawa!"

Naruto yang melihat Naofumi berhenti dan menatap ke arah samping, membuat Naruto penasaran dan mengikuti arah pandangan Naofumi.

Di sana terlihat jelas seorang lelaki berkepala botak membawa cambuk dan memerintah anak berwujud setengah hewan seperti Raphtalia yang sedang membawa barang ke gerobak.

"Jangan malas-malas, dasar sampah!"

Lalu tak lama bocah yang ada di belakang terjatuh dan membuat pria botak itu marah dan mencambukkinya.

"Apa yang kau lakukan! Dasar bodoh?"

Naruto yang melihat hal langsung terlihat marah dan menurunkan Raphtalia dari gendongannya lalu berjalan ke arah pria botak itu, Naofumi yang tahu isi pikiran Naruto langsung menahannya dan menggelengkan kepalanya.

"Naofumi!"

"Kita lebih baik tidak usah ikut campur masalah mereka."

"Tapi..."

"Aku tahu. Tapi perbudakan sudah wajar di dunia ini, kita tidak akan bisa menentang keinginan mereka, karena itu hak mereka terhadap budaknya."

Mendengar hal itu, Naruto pun diam dan kembali menggendong Raphtalia. Lalu bertanya pada Naofumi, tentu saja pakai bahasa jepang dan tidak akan dimengerti oleh Raphtalia.

"Apa kau akan berbuat kasar pada Raphtalia?"

"Selama ia tetap menurut, aku akan melindungi dan baik padanya."

"Yokatta ne Raphtaria-chan, i ko ne suru na."

Naruto hanya bisa tersenyum melihat Raphtalia kebingungan dengan apa yang ia ucapkan. Naofumi yang melihat hal itu, langsung mengulangi apa yang dikatakkan oleh Naruto, agar Raphtalia bisa memahaminya, karena perisainya bisa menerjemahkan apa yang ia ucapkan ke telinga orang-orang.

"Dia bilang jadilah anak yang baik."

Raphtalia hanya mengangguk ketika mendengarnya, tak lama setelahnya perut Raphtalia pun berbunyi.

"Kau lapar?"

"Tidak."

"Kau tidak bisa bertarung dengan perut yang kosong'kan? Ayo kita makan."

"Eh??"

Naruto pun berjalan sembari menggendong Raphtalia mengikuti Naofumi yang menuntun perjalanan menuju tempat makan.

Sesampainya mereka di tempat makan, Raphtalia merasa kurang nyaman, karena mendengar perkataan orang-orang disekitarnya mengenai kenapa ada demihuman atau dirinya datang kemari dan lain sebagainya. Naruto yang tidak mengerti apa-apa hanya diam saja.

"Bolehkah kami memesan."

Pelayan restoran itu datang dan mulai meminta pesanan dari Naofumi, Naruto dan Raphtalia.

"Berikan dua porsi makanan termurah yang bisa kau berikan dan berikan dia makanan seperti yang dimakan anak kecil itu."

"Semuanya 13 koin perunggu."

"Ya."

Naofumi pun memberikan uang dengan jumlah yang sesuai dengan yang dikatakan sang pelayan.

"Kenapa?"

"Kau ingin makan makanan yang lain?"

Raphtalia menggelengkan kepalanya dan segera menjawab dengan pertanyaan.

"Kenapa kau memberikanku makan?"

"Karena kau terlihat ingin makan."

Tak lama setelahnya, makananpun sampai, Naruto yang melihat makanan murah yang ada di depan matanya.

"Maaf menunggu lama."

"Kenapa? Makanlah."

"Boleh?" tanya Naruto dan Raphtalia secara bersamaan, tentu saja dengan bahasa masing-masing.

Naofumi hanya mengangguk dan mereka bertiga pun makan bersama, meskipun Naofumi tidak bisa merasakan rasa makanan. Namun nampak ia sedikit bahagia ketika melihat Naruto dan Raphtalia menjadi akrab, meskipun mereka tidak saling mengerti kata-kata dari mulut masing-masing karena beda negara, nampak mereka begitu bahagia bisa makan, meski makanannya bukan makanan mewah.

Tak lama Raphtalia memukul dadanya sendiri. Naruto yang melihat hal itu tahu kalau Raphtalia sedang keseleg lalu dengan cepat memberikan air minum.

"Minumlah."

Raphtalia sebenarnya masih tidak mengerti bahasa Jepang, tapi ia paham maksud dari Naruto yang memberikan cangkir berisikan air kepadanya, ia mengambilnya dan memunumnya secara perlahan dan kembali melanjutkan makannya.

"Fuah."

"Apakah rasanya enak?"

Raphtalia hanya mengangguk sebagai jawaban, Naofumi hanya memakannya dengan perlahan.

Naruto menyelesaikan makannya dengan tenang lalu diam menunggu Naofumi dan Raphtalia selesai.

Bersambung