Ahli pisau dan Pahlawan Perisai

Chapter 05

Setelah kejadian pemaksaan dari Naofumi yang ingin Raphtalia meminum obatnya, Raphtalia terlihat mengusap-ngusap lidahnya, Naruto menduga rasa dari obat herbal yang ia bikin terasa sangat pahit.

Naruto pun mendekati Raphtalia lalu mengelus pelan rambut dari Raphtalia sembari tersenyum, Raphtalia hanya diam sembari menatap wajah Naruto yang tersenyum ke arahnya.

"Daijoubudesuka Rafutaria-chan?"

Mendengar pertanyaan dari Naruto, Raphtalia hanya bisa memiringkan wajahnya karena kebingungan, Naofumi lagi-lagi harus menghela nafas dan menerjemahkan perkataan Naruto.

"Dia bertanya apakah kau baik-baik saja?"

Raphtalia pun mengangguk paham dan langsung menatap ke arah Naruto sembari tersenyum dan berkata.

"Aku baik-baik saja."

Melihat Raphtalia tersenyum, meski ia tidak paham apa yang dikatakannya, senyum gadis itu sudah cukup untuk Naruto bisa menganggap ia baik-baik saja, jadi ia kembali pada pekerjaannya yaitu membantu Naofumi meracik obat.

Hari mulai malam, Naofumi pun meminta Raphtalia untuk tidur lebih awal, Raphtalia menurut dan ia tidur dan menggunakan jubah hijau Naofumi sebagai selimutnya, Naruto pun menatap ke arah Raphtalia dengan pandangan datar.

"Ne Naofumi."

"Hem Ada apa?"

Naruto pun menatap nanar Naofumi yang masih mengerjakan pekerjaannya dalam meracik obat-obatan.

"Seperti yang kau tahu, aku sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang-orang disekitar sini, intinya tanpamu aku tidak bisa hidup. Mungkin aku juga bisa hidup dengan menjadi pengikut pahlawan lain, tapi ... belum tentu mereka mau menerima bekas anggota perisai. Kau menerimaku karena kemampuanku dalam bertarung bukan? Sekarang bagaimana kalau aku secara tiba-tiba lumpuh saat pertarungan melawan musuh besar dan menjadi tidak berguna, apakah kau akan membuangku Naofumi?"

Mendengar pertanyaan barusan, Naofumi pun kembali menatap ke arah Naruto di tatapnya lekat wajah gadis berambut pirang yang memiliki tenaga luar biasa itu. Jika dilihat-lihat, level ia, Raphtalia dan Naruto. Naruto tiba-tiba tertinggal jauh, dengan ia sudah mencapai level 10, Raphtalia level 5 dan Naruto masih seperti sebelumnya yaitu level 2. Namun, jika membandingkan Statistik, maka mereka berdualah yang tertinggal.

Kembali ke pertanyaan Naruto, Naofumi pun menatap Naruto untuk satu kali lagi, lalu dengan wajah datarnya Naofumi menjawabnya.

"Selama kau tidak pernah mengkhianatiku, aku akan tetap menjaga dan melindungimu."

Mendengar hal itu Naruto sedikit tersenyum. "Apakah hal itu juga berlaku pada Raphtalia?"

Naofumi hanya mengangguk sebagai jawaban, Naruto yang melihat Naofumi mengangguk kembali tersenyum sembari melanjutkan pekerjaannya untuk membuat ramuan obat herbal yang berguna untuk menyembuhkan luka luar dan dalam.

Tak lama setelahnya, Raphtalia secara tiba-tiba bangun dan menangis sejadi-jadinya, hal itu tentu membuat Naofumi dan Naruto kaget lalu menatap ke arah Raphtalia yang duduk merentangkan ke arah depan sembari meneriakkan panggilan ayah dan ibunya dalam bahasa dunia baru yang sama sekali tidak Naruto pahami.

"Tidaaak!!! Ayah!! Ibu! Tolong aku! tolong aku!"

Mendengar teriakan dan juga suara tangis yang begitu memilukan itu dengan sigap Naruto langsung menghampiri Raphtalia memeluk erat dirinya dan menenangkannya dengan elusan pelan di bagian rambutnya.

"Hei tenang-tenang, tenangkan dirimu Raphtalia."

Ucap Naruto sembari mengelus dan memeluk tubuh Raphtalia, tentu saja ia masih bicara dengan bahasa jepang, karena Naruto tak punya kemampuan berbahasa, jadi ia hanya bisa menggunakan bahasa normalnya sehari-harinya saja. Naofumi yang melihat hal itu jadi sedikit tenang, karena terlihat Raphtalia mulai berhenti merengek dan hanya mengeluarkan suara kecil sembari mengeluarkan air matanya dalam pelukan Naruto.

"Yoshi-yoshi i ko ni naru ne Rafutaria-chan, yoshi-yoshi nakenai de Rafutaria-chan."

Naruto terus mengucapkan kalimat itu sampai akhirnya isakan tangis Raphtalia pun mulai menghilang, Naruto langsung menghela nafas lega ketika Raphtalia sudah berhenti menangis.

Naofumi yang melihat kejadian itu langsung mengutarakan pikirannya pada Naruto saat itu juga.

"Dari yang aku lihat, kau malah terlihat seperti ibunya saja."

Naruto yang mendengar perkataan dari Naofumi hanya diam saja dan tetap memeluk Raphtalia. Naofumi pun diam lalu melanjutkan apa yang ingin ia lakukan, yaitu membuat obat herbal sebanyak-banyaknya untuk dijual.

Keesokan harinya, Naruto, Naofumi dan Raphtalia pun kembali berjalan menuju ke kota Melromack, di kota Melromack mereka bertiga berjalan menuju pedagang obat herbal, di sana yang masuk ke dalam toko hanyalah Naofumi, karena Naruto yang merasa tidak akan bisa memahami perkataan orang-orang di sekitarnya tidak ingin mengganggu Naofumi, Raphtalia yang merupakan anak-anak di khawatirkan akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

Naruto pun menemani Raphtalia di luar sembari memandangi pemandangan di sekitar, terlihat Raphtalia terus memperhatikan dua orang anak kecil yang sedang memainkan bola yang kemungkinan terbuat dari potongan tubuh monster balon lebih tepatnya balon orange.

Tak lama setelahnya Naofumi keluar dan bertanya ke pada Raphtalia.

"Raphtalia!"

Naruto langsung menatap ke arah Naofumi, sementara itu Raphtalia masih fokus pada dua anak kecil yang sedang main lempar-lemparan bola balon oranye.

"Kau mau bola itu?"

Raphtalia yang mendengar pertanyaan dari Naofumi langsung dengan cepat membantahnya dengan berkata.

"Tidak! Aku sama sekali tidak menginginkan bola itu!"

Seruan dari Raphtalia membuat Naruto sedikit menatap ke arah Raphtalia, sementara itu Naofumi lebih memperhatikan gerakan ekor dan telinganya.

'Nampaknya ia sebenarnya menginginkannya.'

"Ayo!" Ajak Naofumi, mereka bertiga pun pergi ke pedagang monster, untuk menjual beberapa sisa monster.

"ini hasil buruan kami kali ini. Dan jangan pernah menipuku kalau tidak ingin menderita, Oh iya kalau boleh tahu di mana aku bisa mendapatkan mainan bola yang sering dimainkan oleh anak-anak."

"Itu, kau bisa membelinya dari lapak pedagang mainan yang ada di sana."

"Baiklah, kalau begitu, ini kulit monster yang ingin aku jual."

Seketika orang itu mengambil segumpal kulit balon dan berbagai macam kulit monster lain seperti cangkang monster telur dan lain sebagainya.

Setelah mendapatkan uang, Naofumi pun pergi ke lapak pedagang kerajinan monster, ia membeli bola dari kulit monster balon oranye.

"Ambilah."

"Eh?"

Raphtalia pun menerima bola itu dengan sedikit ekspresi bingung.

"Setelah selesai kerja, kau bisa bermain bersama Naruto."

Dengan cepat Raphtalia tersenyum bahagia, ia nampak senang, entah apa penyebabnya. Namun, satu yang pasti ia menyukai bola yang diberikan Naofumi.

"Baik!"

Sementara itu Naruto nampak memperhatikan orang-orang di sekitarnya dan tangan cepat Naruto bergerak, lalu tanpa disadari siapapun, ditangan Naruto sudah ada sekantong uang yang entah ia dapatkan dari siapa.

'Mudah sekali, tempat ini sangat ramai, skill mencopetku masih tinggi hehehehe.'

"Naruto. Uang dari mana itu?"

Naruto yang kedapatan oleh Naofumi mencopet langsung menyembunyikan uangnya dan langsung berkata.

"Nani wo itteru? Atashi no te ni wa okane ga arimasen!"

Naruto langsung membantah dan mencoba menyembunyikan kantong uang yang ia dapatkan dari mencuri di kantong seorang bangsawan.

Naofumi menatap ke arah tangan Naruto yang disembunyikan, ya Naruto terus menyembunyikan tangannya ke belakang.

"Lalu apa yang kau sembunyikan ditangan belakangmu itu?"

Naruto pun menghela nafasnya secara pelan dan memberikan sekantong uang yang ia dapatkan barusan sembari mengalihkan wajahnya dari tatapan tajam Naofumi.

"Dari mana kau mendapatkan uang ini?"

Raphtalia yang melihat hal itu langsung mengedipkan matanya beberapa kali, karena memang pada dasarnya ia tidak bisa memahami kata-kata yang keluar dari mulut Naruto.

Sementara itu Naofumi masih meminta penjelasan mengenai uang yang ada di tangan Naruto.

"Soredewa, ōku no josei ni kakoma rete tōrisugiru sōhei kara kore o ubatta koto de watashi o basshimasu ka?"

Mendengar penjelasan Naruto yang menyatakan kalau ia telah mencuri sekantong uang dari seorang lelaki membawa tombak dan dikelilingi banyak wanita, langsung membuat Naofumi memikirkan satu orang. Tak lama kemudian ia tersenyum.

"Oke, aku akan memaafkanmu kali ini, tapi lain kali jangan lakukan lagi."

Naruto hanya diam dan mengangguk lalu membungkuk sembari mengucapkan permintaan maaf pada Naofumi atas kelancangannya dalam mencuri.

"Otesūdesuga gomen'nasai!"

Naofumi hanya mengangguk lalu akhirnya mereka bertiga kembali pergi menyewa penginapan untuk tidur dan menyiapkan diri untuk untuk strategi di tempat berburu berikutnya.

Seperti biasa, Naofumi hanya menyewa satu kamar untuk mereka bertiga, alasannya sudah pasti menghemat pengeluaran uang, ya meskipun mereka sudah dapat uang tambahan dari hasil curiannya Naruto.

Keesokan harinya, Raphtalia kembali menangis, Naruto dan Naofumi yang tidur disamping Raphtalia terbangung mendengar tangisan Raphtalia. Bukan hanya itu, rupanya kasur tempat mereka tidur terasa begitu basah dan saat diteliti ternyata Raphtalia ngompol di celana. Naruto menduga hal itu disebabkan mimpi buruk yang dialami Raphtalia seperti pada malam sebelumnya. Sementara itu Naofumi hanya bisa menghela nafas sembari menatap ke arah Raphtalia yang tengah menangis dan ketakutan, yah bisa dibilang Raphtalia takut kalau Naofumi marah padanya.

Naofumi yang melihat gelagat Raphtalia yang nampak takut padanya, langsung mengelus kepala Raphtalia dan dengan tenang ia berkata.

"Sudah diam, kita akan bersihkan hal ini oke, jadi nanti bersihkan dirimu."

Raphtalia hanya mengangguk lalu Naofumi pun menatap Naruto dan memintanya untuk memandikan Raphtalia.

"Naruto, tolong bawa dia ke tempat di mana orang-orang biasa mandi, bantu dia membersihkan tubuhnya."

Naruto hanya mengangguk dan menggendong Raphtalia, Naruto merasa tidak ada hal yang perlu ia bicarakan saat ini selain menuruti apa yang diminta oleh Naofumi.

Setelahnya, hari-hari mereka dalam berburu pun terasa menyenangkan, meskipun, yang tersenyum dan tertawa hanyalah Naruto dan Raphtalia. Namun, dengan kehadiran Naruto dan Raphtalia hari-hari Naofumi sedikit menjadi lebih mudah.

Saat rambut raphtalia menjadi sedikit lebih panjang, Naofumi dengan cepat memotong rambut Raphtalia dan secara diam-diam menyerapnya ke dalam perisai miliknya.

Sementara itu Naruto mulai mendalami ilmu peracikan obat atas permintaan Naofumi, dengan minat yang sangat besar Naruto pun menghasilkan banyak Exp dalam setiap kegiatannya dalam meracik obat yang akan dijual. Saat Naruto menyelesaikan racikannya, Naofumi akan memeriksa kualitasnya dari obatnya, semakin besar jumlah Exp yang Naruto dapatkan dalam meracik obat maka semakin bagus pula kualitas obat yang dibuatnya.

Sampai akhirnya Naruto pun meminta ijin untuk mengambil jalan terpisah, agar bisa meneliti berbagai tanaman herbal lainnya. Naofumi pun mengijinkan, karena menurutnya tidak ada ruginya jika Naruto mengembangkan kemampuan meracik obat miliknya.

Dalam perjalanan mereka, di tempat perburuan, Naofumi dan Raphtalia pun mulai berpisah dengan Naruto, karena tujuan mereka berbeda, Naruto ingin fokus dengan ilmu pengetahuan dan uang, maka dari itu untuk bagian berburu Naruto serahkan pada Naofumi dan Raphtalia, ia akan lebih fokus dalam pencarian tanaman obat dan penelitian terhadap tanaman tersebut.

"Naofumi."

Setelah mendengar namanya dipanggil, Naofumi hanya mengangguk mengiyakan. Setelah mendapatkan persetujuan Naruto langsung melesat dengan kecepatan tinggi menyerang beberapa monster yang menghalanginya lalu pergi ke arah hutan meninggalkan Naofumi dan Raphtalia yang akan leveling di sana.

Di dalam hutan, Naruto terlihat jelas begitu antusias mengambil beberapa tanaman herbal yang ia temui, ia memeriksa tanaman itu dengan cara mencabut akarnya untuk mengetahui tanaman itu bisa ditanam di dalam keadaan seperti apa dan mengendusnya untuk mengetahui apakah tanaman itu beracun atau tidak dan banyak lagi hal yang Naruto lakukan untuk mengetahui kandungan apa saja yang di tanaman itu.

Lalu ia pun mulai memilah apa saja yang bisa ia ambil untuk ditanam, dijual hingga diolah menjadi obat. Sebagian dibuang karena kualitasnya buruk dan juga beracun.

'Beruntung aku memiliki banyak pengetahuan mengenai tanaman di duniaku sebelumnya. Aku memang tidak terlalu mengetahui karakteristik tanaman di dunia ini dan aku juga tidak terlalu mengetahui apakah karakteristik tanaman beracun di dunianya sama dengan dunia baru, tapi mengingat beberapa tanaman yang memiliki manfaat memiliki satu atau dua karakteristik yang sama, aku jadi yakin kalau memang ada beberapa tanaman yang memiliki racun dan tidak bermanfaat sebagai obat.'

Tak lupa Naruto juga mengambil beberapa buah berry yang bisa dimakan, hal itu ia lakukan untuk dicampurkan ke obat herbal agar bisa diminum oleh anak kecil yang tidak suka obat yang pahit.

Singkat cerita hari sudah mulai sore, Naruto, Naofumi dan Raphtalia bertemu di sebuah bagian hutan, nampak jelas Naruto menatap tajam Raphtalia dan Naofumi, Naruto berjalan dengan sangat pelan mendekati Raphtalia yang tubuh dan armornya dipenuhi warna merah darah, Raphtalia yang melihat gerak-gerik Naruto ketika mendekatinya langsung mundur beberapa langkah karena ketakutan.

"Naofumi ... apa yang terjadi pada Rafutaria? Kenapa tubuhnya dipenuhi darah? Bagaimana bisa kau membiarkan dia terluka Naofumi!"

Author note: Ini sebenarnya Naruto masih berbicara pakai bahasa jepang. Cuman aku agak males menulis pakai bahasa jepang untuk dialog Naruto, karena harus buka-buka translate yang hasilnya belum tentu pas.

Dengan tampang mengerikannya, Naruto melesat dan mencengkram krah baju Naofumi dan mengangkatnya lalu menatap tajam pahlawan perisai itu. Naofumi langsung kaget melihat hal tersebut. Namun, ia dengan tenang langsung meluruskan kesalah pahaman tersebut.

Namun sebelum Naofumi bicara Raphtalia langsung mendekati Naruto dan menarik-narik bajunya sembari menggelengkan kepala, Naruto yang melihat hal tersebut langsung tenang dan menghentikan emosinya lalu menurunkan Naofumi dan bertanya.

"Jadi ... bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi Naofumi?"

Naofumi pun menghela nafasnya dengan sedikit berat.

"Naruto satu hal pertama itu bukan darah Raphtalia."

Naruto yang mendengar jawaban singkat Naofumi langsung mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap ke arah tangan Naofumi yang masih memegang tubuh kelinci yang perutnya robek.

"Kalau begitu aku minta maaf atas kelancangan dan kesalah pahamanku padamu."

Naruto langsung membungkuk dalam waktu lama ke arah Naofumi, Naofumi yang melihat apa yang Naruto lakukan langsung mengalihkan pandangannya dan berkata.

"Sudahlah, untuk sementara kita akan tidur di hutan, aku akan memasak sebagian daging kelinci ini untuk dimakan."

"Baik!"

Bersambung