Knife Master and Shield Hero

Chapter 06

Setelah kejadian tersebut, Naruto dan Raphtalia pun akhirnya mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api, sementara itu, Naofumi menggunakan pisau untuk memisah-misahkan bagian dari tubuh monster usapil. Sembari memilah-milah bagian mana yang harus diserap, dijual dan dikonsumsi.

Naofumi juga sudah mendapatkan sebuah perisai yang meningkatkan kemampuan memasaknya sehingga ia berharap bisa menekan biaya makan dengan cara memasak makanan sendiri.

"Naruto, apakah kau sudah mendapatkan beberapa tanaman yang memiliki fungsi seperti bumbu dapur."

"Ya beberapa."

"Seperti yang satu ini, rasanya sedikit pedas, bisa digunakan sebagai pengganti sambal, lalu daun ini memiliki aroma seperti daun semanggi. Yang ini dari bentuk dan aromanya sama seperti jahe."

Naruto terus mengeluarkan beberapa tanaman unik yang ia dapatkan dan memiliki kemungkinan untuk dijadikan obat dan bumbu dapur. Naofumi pun mengambil sebagian tanaman herbal dan apapun yang Naruto dapatkan, salah satunya beberapa monster balon dan ikan. Ya selain dari meneliti tanaman Herbal ada kalanya Naruto bertemu monster yang harus ia lawan dan mencari ikan untuk dimakan.

Raphtalia terus memperhatikan pembicaraan dua orang yang mengasuhnya itu, meski masih enggak mengerti dengan apa yang Naruto katakan, ia masih mencoba memahami apa yang sedang di bicarakan oleh Naruto.

Raphtalia tetap duduk tenang menunggu daging kelinci bakar itu selesai, atau lebih tepatnya Naofumi menghidangkan kelinci itu dengan cara dibakar, selain Raphtalia, Naruto juga nampaknya ikut menemani Raphtalia dalam menunggu hidangan.

Singkat cerita, akhirnya mereka makan bersama dan saat Raphtalia tertidur, Naruto pun mulai mendekati Naofumi dan mulai mendiskusikan sesuatu.

"Tidurlah bersama Raphtalia, biar aku yang berjaga malam ini."

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu Naofumi."

Mendengar perkataan dari Naruto, Naofumi hanya mengangguk dan menatap ke arah Naruto, seolah menunggu gadis itu mengatakan apa yang ingin ia bicarakan.

"Apakah kau tahu bahasa isyarat?"

"Ya, itu adalah cara yang digunakan oleh orang-orang yang tak mampu mendengar dan berbicara untuk berkomunikasi. Bahasa isyarat adalah bahasa yang digunakan dengan gerakan tangan dan tubuh. Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?"

Naruto pun hanya tersenyum dan kembali bertanya. "Apakah kau bisa bahasa isyarat?"

"Maaf aku tidak mempelajarinya jadi aku tidak bisa."

Naofumi memberikan jawaban dengan cepat ketika ia mulai memahami maksud dari Naruto yang menanyai apakah ia bisa berbahasa isyarat.

"Mau aku ajari?"

Naofumi terdiam mendengar tawaran dari Naruto lalu menjawab dengan santainya. "Untuk apa? Bukankah kita sudah bisa saling berbicara dengan gampangnya? Jadi untuk apa aku belajar bahasa isyarat?"

Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Raphtalia belum benar-benar tidur dan mendengarkan pembicaraan mereka.

"Tentu saja untuk mengajari Raphtalia."

"Hah? Kenapa tidak kau saja yang mengajarinya langsung?"

Naruto yang mendengar pertanyaan Naofumi mukanya langsung memerah dan langsung memencet hidung Naofumi dengan sangat keras hingga Naofumi mengaduh kesakitan dan hidungnya menjadi merah.

"Arrrrrgh! Apa yang kau lakukan?"

Nampak Naofumi menatap kesal Naruto yang melakukan kejahatan atau kekerasan tersebut, ia juga heran saat monster balon tak mampu melukainya, malah cubitan Naruto yang hanya seorang gadis itu bisa melukai hidungnya dan juga memberikannya rasa sakit.

"Bagaimana aku bisa mengajarinya kalau kami berdua tidak saling paham dasar bodoh!"

Kali ini Naruto berteriak di telinga kanan Naofumi sembari menjewernya.

"Ya-ya-ya sialan hentikan ini! Aku paham dan aku akan belajar darimu puas!"

Naofumi pun menyetujuinya, lagi pula tidak ada ruginya belajar bahasa isyarat, karena ia bisa membuat komunikasi rahasia dengan anggotanya jika ia bisa mempelajari dan mengajari anggotanya.

"Bagus, sekarang kita mulai dari hal paling mendasar."

Akhirnya malam itu Naruto pun mengajari Naofumi berbahasa Isyarat, Raphtalia memperhatikan gerakan tangan dan mulut Naofumi, serta Naruto yang kadang mengangguk dan menggeleng sembari mengajari menagatakan sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh Raphtalia.

Karena Naofumi adalah tipe pekerja keras dan orang yang akan melakukan apa saja demi menggapai suatu tujuan, ia terus melatih ingatannya untuk membuat gerakan yang benar dan tepat dalam membuat kata-kata.

Mereka bertiga kembali ke Melromack untuk menjual hasil jarahan monster dan racikan obat, lalu membeli peralatan baru, karena pisau yang dipakai Raphtalia mulai berkarat.

Dalam perjalanan Naofumi terus berbicara dengan Naruto sembari menggerakan tangan dan mulutnya, untuk mengetahui makna dari gerakan dan lisannya sudah pas atau masih ada yang meleset.

Naruto tersenyum kecil, harus ia akui disamping Naofumi adalah orang yang pekerja keras dan mandiri, ia juga bisa mempelajarinya dengan cepat meski tidak secepat dirinya dulu.

Naruto pun mengangguk tanda apa yang telah dipraktekkan oleh Naofumi tidak ada satupun yang salah, Naofumi pun tersenyum kecil lalu bertanya dengan lisan sembari menggerakkan tangannya sebagai isyarat.

"Apakah aku sudah bisa mengajari Raphtalia sekarang?"

Naruto pun menggelengkan kepalanya, sembari berkata.

"Tidak, belum saatnya, masih banyak kata-kata yang harus dipelajari."

Naofumi hanya bisa menghela napas sembari mengalihkan pandangannya ke arah depan di mana mereka sekarang sudah berada di depan pintu toko senjata.

Di sana Naofumi langsung menanyakan, di manakah mereka bisa berburu dengan peralatan yang mereka milikki ditambah membeli senjata baru untuk Raphtalia, karena pisaunya mulai tumpul dan berkarat.

Setelah mendapatkan saran berupa peta yang menunjukkan sebuah desa dengan nama Ryuto dan Sang pedagang senjata itu juga memberikan pedang pendek dari besi untuk Raphtalia, sementara itu Naruto masih tetap setia dengan membeli senjata pendek seperti pisau.

"Naruto, apakah kau tidak tertarik dengan senjata lain selain pisau?"

Naruto pun menatap ke arah Naofumi sembari tersenyum dan menggerak-gerakan tangannya, Naofumi yang melihat gerakan itu, terlihat Naruto menunjuk hidungnya sendiri, dilanjutkan dengan melambai-lambaikan tangan kanannya dengan posisi ibu jari menghadap ke arahnya dan diakhiri dengan ungkapan terima kasih, dengan tangan kanan digerakan dari atas sedikit kebawah.

"Oh begitu."

Sang pedagang senjata menatap hal itu sembari berkedip beberapa kali, ia kebingungan akan hal tersebut.

"Ano ..., sebenarnya apa maksud dari gerakkannya tadi?"

"Bukan apa-apa."

Tanggapan Naofumi membuat sang pedagang senjata menatap ke arah Naruto lalu Naruto hanya tersenyum kecil ke arahnya.

Raphtalia memainkan pedang pendek yang diberikan padanya, Naruto memperhatikan Raphtalia.

"Ne Bocah, apa kau mau aku melatih budak mu itu untuk menggunakan pedang."

Bersambung