TITLE : Fated to Love You

AUTHOR : Hezlin Cherry

RATE : M (For Save)

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Drama

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

.

.

Summary : Dijodohkan dengan pria tampan dan mapan? Jelas itu semua mimpi bagi setiap gadis. Tapi tidak untuk Haruno Sakura yang rela menyamar sebagai maid di kediaman calon suami yang tidak ia ketahui itu untuk membatalkan perjodohan ini. Pasalnya ia tak bisa terima jika calonnya itu adalah seorang duda anak satu. What the hell!?"

.

.

.

WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗

.

.

.

"Enghh~"

Lenguhan keras terdengar disebuah kamar yang cukup luas dengan dipenuhi barang-barang girly yang didominasi oleh warna pink. Disana tampak seorang gadis berhelaian merah muda yang masih setia terbaring diatas ranjang queen sizenya. Lagi-lagi sebuah lenguhan keluar dari bibir mungilnya, seolah menandakan bahwa acara tidurnya sedikit terganggu karena sinar matahari yang semakin lama semakin terik telah merambat masuk melalui jendela besar tepat dihadapannya. Hingga sebuah suara seseorang yang mengetuk pintu kamarnya membuat manik emerald indah itu terpaksa terbuka.

TOK! TOK! TOK!

"Saku! Kau sudah bangun?" tanya sebuah suara yang benar-benar familiar digendang telinga Sakura, membuatnya semakin berdecih kesal, tapi tetap mengabaikannya dan kembali memeluk guling kesayangannya lalu memejamkan mata untuk memasuki dunia mimpi yang baru saja ia tinggalkan secara paksa.

"..."

Merasa tak ada jawaban, Sasori kembali mengetuk pintu kamar sang adik dengan lebih keras. Yahh...untuk urusan kali ini sangatlah privasi, ia mengerti untuk tidak langsung menyelonong masuk, karena tak mau mendengar kicauan dan amukan adik berisiknya jika ia melanggar zona pribadinya sembarangan.

TOK! TOK! TOK!

"Saku, bangun! Ini sudah siang!" Seru Sasori masih sabar menunggu jawaban Sakura didepan pintu sambil menempelkan telinganya didaun pintu untuk mendengarkan reaksi sang adik apakah sudah bangun atau belum, tapi ia terhenyak seketika saat mendengar pekikan Sakura dari dalam menandakan kalau adik pinkynya sudah bangun dan mendengarkannya.

"PLEASE NII-CHAN! INI HARI MINGGU DAN AKU MASIH INGIN TIDUR! AKU LELAH SEMALAM KAU MENGINTROGASIKU HINGGA TENGAH MALAM NYARIS SUBUH, KAU TAHU!"

Sungut Sakura geram, acara tidur panjangnya mesti terganggu. Ia benar-benar lelah dan masih mengantuk karena semalam dipaksa kakak semata wayangnya untuk menjelaskan segalanya hingga sedetail-detailnya. Untung saja ia berhasil merangkai kata dengan baik dan menjelaskan rencananya agar tak membuat sang kakak curiga padanya. Well, yah walau ia harus beberapa kali menguap karena menahan rasa kantuknya hingga selesai dan ia langsung tertidur tanpa menghapus make up tipis di wajahnya dan mengganti pakaian clubingnya semalam.

Tak mengindahkan pekikan Sakura, sulung Haruno ini mencoba masuk karena ada hal penting yang harus ia sampaikan. Tak peduli jika Sakura semakin bersungut-sungut terhadapnya. Yah, ia sudah sangat kebal akan kelakuan adik manisnya yang terkadang sering bersikap bar-bar itu.

Ceklek!

Tap...tap...

Sakura berbalik saat mendengar pintu kamarnya dibuka dan suara langkah kaki yang berjalan kearahnya. Ia semakin berdecak sebal mengingat kalau dirinya lupa untuk mengunci pintu di hari malasnya ini. Sakura tak peduli walau sang kakak telah masuk kedalam kamarnya, ia kembali memejamkan matanya dan menarik selimut kesayangannya hingga menutupi sekujur tubuhnya.

Melihat hal itu, Sasori semakin menggeram dan semakin melangkahkan kakinya mendekati buntelan selimut seperti kepompong diatas ranjang itu. Dengan gerakan cepat ia langsung menarik selimut tersebut membuat Sakura yang berada didalamnya tersentak kaget hingga terduduk dan menatap kesal terhadapnya.

"Ck, Nii-chan! Apa masalahmu menggangguku pagi-pagi begini hah?!" Sungut Sakura, masih tak terima hari liburnya diganggu gugat.

"Ini sudah siang Saku! Kau itu tidur seperti beruang hibernasi!" Balas Sasori tak mau kalah sambil melipat selimut Sakura dan meletakkannya di meja kecil tak jauh dari situ.

"Huh! Kalau aku beruang, berarti kau kakaknya beruang!" Balasan telak Sakura membuat Sasori bungkam, ia memang selalu kalah kalau untuk berdebat dengan imotou berisiknya ini.

"Kau ituuu...! Sudah sana cepat mandi! Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!" Titah Sasori.

"He, siapa orang i-!" Belum sempat menyelesaikan kata-katanya terpotong oleh sapaan seseorang yang tidak ia kenal dan sudah berada di ambang pintu kamarnya.

"Yuhuuu everybody~"

Tampak seorang pria yang terlihat seumuran dengan Sasori tiba-tiba muncul dan berdiri didepan pintu. Hal itu membuat Sasori dan Sakura mendadak terdiam, tapi Sasori terlihat bangkit dari duduknya, sepertinya bermaksud menyambut orang tersebut.

Sedangkan Sakura masih terdiam, emeraldnya menelisik orang asing tersebut. Baru ini ia melihat orang itu kemari. Sakura berpikir keras apakah ia mengenal pria bermata onyx dengan helaian raven panjang diikat itu. Dan...jangan lupakan kerutan di kedua sisi wajahnya yang mempertegas usianya. Tapi jika seumuran dengan Nii-channya, kok lelaki asing itu terlihat begitu tua dengan adanya kerutan diwajahnya, yah walau masih terlihat berkharisma, pikirnya. Di sini Sakura kembali bersyukur karena memiliki kakak dengan wajah bayi, setua apapun umur sang kakak tetap dapat tersamarkan oleh wajah imutnya. Ini yang ia sukai dari kakak cerewetnya itu.

"Ck, Itachi kenapa kau kesini, bukannya tunggu dibawah saja!" Sasori segera mendekati seseorang yang dipanggil Itachi tersebut.

"Kau terlalu lama Sasori, jadi aku memutuskan untuk melihat kemari. Lagipula Sara yang menyuruhku menyusulmu." Jawab Itachi sambil mengikuti langkah kaki Sasori untuk semakin masuk kedalam kamar gadis dengan nuansa pink ini. Dan manik onyxnya bertemu pandang dengan emerald Sakura membuatnya menyeringai tipis.

Sakura terhenyak seketika melihat seringaian dari lelaki asing tersebut, entah kenapa mengingatkannya akan sesuatu tapi entahlah, tak mau ambil pusing ia benar-benar penasaran dengan pria gondrong yang semakin mendekatinya itu.

"Nii-chan...si-siapa om ini?" tanya Sakura.

Tawa Sasori meledak saat mendengar pertanyaan polos adiknya itu, tapi ia langsung terdiam saat dihadiahi deathglare oleh sahabatnya sejak dibangku kuliah itu. Ia sedikit berdehem untuk menetralisir keadaan.

"Ek-hem, dia ini Uchiha Itachi calon kakak iparmu Saku, jadi kau harus lebih hormat padanya!" Jelas Sasori berusaha membuat suaranya setegas mungkin walau hati kecilnya masih asik menertawakan kejadian barusan.

"A-apaaa?!" Sakura memekik untuk kesekian kalinya pada pagi hari ini karena kejutan yang tak terduga ini.

"Ka-kakak ipar..." Gumamnya lagi tak percaya. 'What the hell? Jadi ini calon kakak iparku? Dari wajahnya saja sudah tampak keriput, bagaimana tampang adiknya yang akan menjadi suamiku nanti, TIDAKKKKK Kami-Sama tolong akuuu!' Jerit inner Sakura semakin frustasi akan keadaan ini.

Itachi mengangguk, "Salam kenal Sakura-chan~" Ucapnya memperkenalkan diri dan di jawab dengan anggukan serta gumaman pelan Sakura.

"Sa-salam kenal Itachi-nii..." Sakura menanggapi sekenanya walau ia sedikit bimbang harus memanggilnya dengan sebutan 'Itachi-nii' atau 'Itachi Oji-san'.

Itachi terkekeh geli mengamati ekspresi kebingungan gadis pink dihadapannya yang sangat menggemaskan itu, ia berjalan mendekati Sakura yang sekilas nampak menegang saat Itachi tiba-tiba mengacak surai merah mudanya gemas.

Sasori melotot melihat kegenitan sahabatnya yang tak lekang oleh waktu walau sudah beristri itu.

"Hem, kau manis sekali Sakura-chan..." Ucap Itachi setengah terkekeh merasakan kelembutan surai merah muda panjang adik sahabatnya tersebut membuat Sakura sedikit mendelik tak suka saat rambutnya di acak oleh orang yang baru ia temui.

"Tentu saja!" Sasori menyagut cepat dan mengangguk-angguk bangga memiliki adik manis seperti Sakura walau kadang bersikap bar-bar dan cerewetnya minta ampun.

"...dan sexy~" Lanjut Itachi sambil mengamati seluruh tubuh Sakura yang masih mengenakan pakaian clubingnya semalam dengan seringaian khasnya dan kedipan mata mautnya.

Sontak Sakura langsung blushing dan segera mengambil boneka strawberry besar disampingnya dan memeluknya untuk menutupi tubuhnya dari pakaian minim yang membuat siapa saja bisa menegang jika memandang kemolekan tubuhnya tersebut.

Melihat reaksi Sakura membuat Itachi semakin tergelak, "haha, kau benar-benar menggemaskan...aku yakin kau akan cocok dengan adikku, karena kau pasti bisa membuatnya kembali merasakan gairah bercinta di ran- Aww~!" Kata-kata vulgar Itachi terhenti, berubah menjadi pekikan kesakitan kala sebuah jitakan bersarang dipuncak kepala ravennya.

"Apa-apaan kau Sasori?!" Sungut Itachi sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa berdenyut akibat jitakan maut sahabat merahnya itu.

"Kau itu yang apa-apaan! Berkata vulgar dihadapan adikku!" Sasori mendengus keras tak lupa dengan deathglare yang setia menghiasi manik hazelnya sebelum melanjutkan geramannya, "dan aku tak mau jika adik mesummu itu melakukan sesuatu yang tak senonoh sebelum ia dan adikku halal dimata Kami-Sama nanti!" Titahnya lagi.

"Hahaha, penyakit sister complexmu benar-benar belum hilang, eh?" Itachi krmbali tergelak membuat Sasori semakin mendengus kesal. "Tenang saja Sasori, tentu saja aku akan menjaga Sakura-chan agar ia selalu aman disana nanti." Lanjutnya lagi.

Sakura masih mendekap boneka strawberrynya dan tak bergeming melihat keakraban sang kakak dengan sahabatnya itu. Ia tersenyum tipis sebelum sebuah pemikiran menyadarkannya. "Eh, sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" Sakura masih belum mengerti inti pembicaraan ini.

Akhirnya Sasori dan Itachi memghentikan pembicaraannya dan menatap manik hijau klorofil milik Sakura bersamaan sambil menyeringai, membuat tengkuk Sakura mendadak dingin dan bergidik.

"Hem...aku kesini untuk menjemputmu Sakura-chan~" jawab Itachi santai masih belum menghilangkan senyuman yang lebih mirip seringaiannya itu.

Sakura yang masih bingung hendak bertanya lagi tapi ia urungkan karena Itachi segera melanjutkan perkataannya, "karena hari ini juga kau akan langsung bekerja menjadi maid pribadi ditempat calon suamimu. Kau sudah siap kan?"

'Glek!'

Mendengarnya membuat gadis manis Haruno ini langsung menelan ludah gugup. Bayangkan saja pagi-pagi, ehem oke ralat maksudnya pagi menjelang siang dihari malasnya begini ia sudah dihadapkan oleh pembicaraan rumit yang bahkan ia saja belum memikirkannya. Oh...ayolah, baru semalam ia memberitahukan rencananya pada sang kakak, tapi hari ini juga ia sudah harus menjadi babu disana? Hell no! Ia masih belum siap! Jerit innernya frustasi. Ingin protes tapi suaranya tercekat ditenggorokan dan lagi-lagi harus terpotong oleh kakak lelaki sok tahunya yang kelewat bersemangat itu.

"Tentu saja! Kau pasti sudah siap kan Saku?" tanya Sasori cepat, "Aku dan Itachi sudah mempersiapkan segalanya untukmu agar rencana ini berjalan lancar..." Lanjutnya lagi antusias sambil menggerling menatap sahabat lamanya yang juga balas menatapnya dengan seringaian khas miliknya.

"Ta-tapi Nii-chan, aku-!"

"Hem, aku yakin kau aman disana, aku menyuruh Itachi agar menjagamu saat sedang didalam kandang singa tersebut." Sasori meyakinkan Sakura dan mengajak Itachi yang masih mendengus geli akan sikap over protectivenya itu dan kembali kebawah berkumpul dengan Istri-istri mereka yang menunggu sambil bergosip ria diruang keluarga.

Sakura masih bengong tak bergeming, hingga Sasori yang sudah berada didepan pintu kamarnya berbalik dan mengingatkanya.

"Segera persiapkan dirimu, kami tunggu dibawah Saku! Dan tak usah membawa barang berlebih karena aku sudah menyiapkan semuanya. Khukhukhuu..."

"Che! Apa-apaan mereka itu!" Decak Sakura kesal seraya mengacak surai merah mudanya sehingga menjadi lebih berantakan dari sebelumnya. Ia masih nampak merenung sejenak sebelum bangkit dan beranjak untuk membersihkan diri.

Tak berapa lama, putri bungsu Haruno itupun selesai dengan kegiatannya dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya melewati tangga utama dirumah ini untuk menuju ke ruang keluarga. Dimana seluruh keluarganya akan menunggu dirinya. Tapi dahinya mengernyit bingung saat hanya melihat kakak dan kakak iparnya serta pria yang baru saja dikenalnya sebagai Itachi-nii dan seorang wanita cantik berhelaian hitam panjang yang sedang bercengkrama dengan pria helaian raven dikuncir itu. Dalam hati, Sakura yakin wanita cantik itu pasti istri dari Itachi-nii. Tapi dimanakah kedua orang tuanya? Tanyanya dalam hati.

"Nii-chan, dimana Kaa-san dan Tou-san?"

"Mereka sudah pergi pagi-pagi sekali saat kau masih bergelut dengan dunia mimpimu Saku." Sahut Sasori tanpa memalingkan pandangannya dari televisi dihadapannya membuat Sakura membulatkan bibirnya ber'oh ria mendengar jawaban sang kakak.

Suara lembut Sakura mengalihkan seluruh atensi beberapa orang disana. Terutama Hana, wanita cantik istri Itachi itu tampak yang paling terkejut saat melihat Sakura untuk pertama kalinya. Dia langsung saja berdiri dan mendekati Sakura dengan mata berbinar mengamati sosok mungil berhelaian merah jambu dihadapannya. Pandangannya menelisik sekujur tubuh Sakura yang hanya mengenakan rok mini lipit-lipit dengan aksen renda dipinggirannya dan kaos santai berwarna merah maroon dengan kerah lebar yang membuat Sakura terlihat semakin manis dan menggemaskan.

"Wuahhh...jadi ini yang namanya Sakura?" Hana bertanya antusias sambil menengokkan kepalanya kearah Sasori dan Sara untuk mendapatkan jawaban. Dan dijawab dengan anggukan serta senyuman oleh keduanya.

Hana semakin sumringah mendengarnya, ia kembali menatap Sakura intens masih dengan senyumannya. "Kau benar-benar manis Sakura-chan~" Ucapnya girang, Sakura hanya terdiam karena malu tiba-tiba ditatap intens begitu. "Aku yakin Sasuke-kun pasti akan terpesona olehmu, kyaaa~" Pekikan histeris keluar dari bibir tipis Hana membuat seluruh manik berbeda warna yang memperhatikannya sedari tadi langsung sweatdrop.

Mereka tahu benar karakter Hana yang juga merupakan seorang designer khusus pakaian wanita itu selalu histeris senang jika dihadapkan oleh gadis-gadis remaja cantik seperti Sakura. Entah kenapa imajinasinya untuk membuat baju-baju lucu dan manis membuatnya sangat bersemangat. Dan mungkin saja setelah melihat gadis berhelaian serupa dengan bunga kebangsaan Jepang itu, Hana jadi berpikiran untuk menggunakan Sakura sebagai model percobaan baju-baju rancangannya kelak.

"Tidak sayang! Sasuke belum boleh melihat wajah Sakura-chan yang sebenarnya." Itachi yang sedari tadi hanya mengamati interaksi istri tercintanya dengan bakal calon adik iparnya itupun akhirnya buka suara sambil mendekati sang istri yang masih menggenggam erat tangan mungil adik sahabatnya itu sangking gemasnya.

Sakura yang diperlakukan begitu hanya diam saja, dalam hati ia menyeringai senang akan keadaan ini. 'Bagus, ini akan sedikit mengulur waktu...' ucapnya dalam hati.

Hana yang masih tak mengerti dengan ucapan sang suami itu hendak protes tapi segera ditimpali oleh Sasori yang mengerti benar dengan raut wajah kebingungannya.

Sedangkan Sara masih setia memperhatikan ruang keluarga dirumah ini yang benar-benar terasa hangat.

"Yaa, jangan sampai identitas Sakura ketahuan sebelum waktunya," jelas Sasori seraya menghela napas dan mengambilnya lagi untuk melanjutkan kata-katanya. "Oleh karena itu Sakura harus menyamar, aku sudah mempersiapkan segalanya." Lanjut sulung Haruno itu sambil melemparkan sebuah wig kearah sang adik yang terkejut dan refleks menangkapnya.

Sakura yang memegang benda berhelaian cokelat panjang ditangannya itu masih mematung. Bergelut dengan pikirannya, tak salahkah kakaknya ini memilihkan wig kusam dan jangan lupakan beberapa helai wig itu ada yang berwarna putih seperti uban. What?! Emeraldnya melotot dan memicing tajam kearah kakak tengilnya itu.

"Nii-chan, wig ini seperti nenek-nenek! Aku tak mau memakainya!" protes Sakura semakin kesal akan tingkah sang kakak yang seenaknya saja itu.

Hal tersebut sukses mengundang gelak tawa bagi Itachi, Hana dan Sara. Minus Sasori yang menatap serius sang adik guna memberikan jawaban.

"Ck, kau itu akan menyamar sebagai pembantu! Bukan foto model Saku! Jadi tak ada yang salah dengan wig itu, justru membuatmu jadi benar-benar terlihat seperti seorang Ba-san yang siap membantu tuannya!" Tagas Saori mantap.

Perkataan Sasori semakin membuat yang lainnya mendengus geli menahan tawa tapi tidak dengan Sakura yang masih cemberut menggembungkan pipinya kesal.

"Ah, kalau begitu siapa nama samaranmu disana Sakura-chan?" tanya Hana antusias.

"Umm..." Sakura nampak berpikir sejenak, "Ah, mungkin Elizabeth~! Seru Sakura riang. Well, ia memang sangat ingin memiliki nama seperti orang-orang Eropa yang menurutnya keren itu.

"Wah, itu bagus juga~" Balas Hana tak kalah riang.

Sasori mendengus keras mendengarnya, "Cih, nama itu terlalu elite untuk ukuran seorang pembantu!" Sergah Sasori cepat.

Hal itu membuat Sakura semakin menatapnya geram, dari wig bahkan namapun harus kakaknya lah yang mengatur, 'apa-apaan itu? Tsk, menyebalkan!' batinnya geram.

"Bagaimana kalau Saki?" Sahut Itachi dan seketika itu langsung disetujui oleh semuanya, minus Sakura yang masih tampak berpikir.

"Ya, Saki tak buruk juga ne~?" Sara mencoba meyakinkan Sakura seraya menepuk-nepuk pelan pucuk merah muda adik ipar kesayangannya ini. Dan akhirnya Sakura mengangguk setuju.

"Baiklah, lebih baik kalian segera berangkat." Ucap Sasori sambil melirik arloji hitam mewah pemberian sang istri ditangan kirinya. Ia sadar waktu mereka terbuang-buang percuma karena hal sepele ini. "Kau jangan nakal disana ya! Kalau ada hal mencurigakan, segera beritahu Itachi Ok?!" Titahnya lagi.

"Iya-iya Nii-chan!" Sahut Sakura malas dengan merotasi matanya bosan.

"Kau tenang saja Sasori." Itachi menepuk pundak sahabatnya sebelum melangkah menuju pintu keluar.

"Hem, kami pergi dulu." timpal hana yang tersenyum manis dengan menggandeng tangan mungil Sakura untuk menuju mobil mereka diluar dengan diantar oleh Sasori dan Sara hingga didepan pintu rumah.

.

.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya Sakura bersama Itachi dan Hana istrinya telah sampai di Izanami Residence yang merupakan salah satu perumahan elite terbesar di Konoha.

Manik emerald Sakura masih sibuk bergulir kesana kemari menatap takjub pemandangan perumahan elite yang tertata rapi lengkap dengan taman bunga berwarna-warni yang semakin memperindah suasana sepanjang jalan memasuki kawasan yang terlihat asri tersebut. Sejenak kegelisahan hatinya akan pertemuan dengan calon suami yang pastinya akan ia tolak itu menguap bersama dengan semilir angin yang menyapanya.

Walaupun ia bermarga Haruno yang juga merupakan keluarga cukup terpandang dikota ini, tapi tak menampik ingatan Sakura bahwa ia baru kali ini menginjakkan kaki kemari. Jelas saja, selama ini putri bungsu kesayangan Haruno itu selalu bersekolah diluar negeri, dan baru dipertengahan semester akhir kuliahnya saja ia diseret kedua orang tuanya untuk berkuliah disini dengan dalih tak tahan berpisah terlalu lama dengan anak gadis mereka satu-satunya ini.

Melihat tingkah gadis berhelaian merah muda yang duduk dikursi penumpang dan sedang mengeluarkan kepala pinknya dari jendela untuk menikmati pemandangan yang memanjakan mata emeraldnya itupun membuat Itachi dan Hana terkekeh geli akan tingkah polosnya, sebelum Ferrari hitam milik Itachi berhenti disebuah rumah yang cukup megah dengan bangunan bergaya Eropa modern dengan beberapa pilar besar sebagai penyangganya. Oh, dan jangan lupakan sebuah patung burung Elang yang sedang mengepakkan sayapnya berdiri ditengah-tengah bundaran diantara jalan masuk dan pintu rumah lengkap dengan air mancur dibawah patung tersebut yang semakin mempertegas kemegahan rumah itu.

Hal itu tak ayal membuat Sakura semakin terperangah melihatnya, dalam hati ia benar-benar mengagumi arsitektur rumah ini dan membuatnya semakin penasaran dengan sang pemilik rumah, sekaya apa dan bagaimana sih rupanya? Tanyanya dalam hati. Hingga interuksi Itachi yang menyuruh Sakura turun dan memgikutinya untuk masuk kedalam rumah itu menyadarkan lamunannya.

Sakura pun turun dari mobil dan mengikuti Itachi dibelakangnya sambil tetap menelisik keadaan rumah ini. Tentunya ia juga sudah berganti pakaian dengan seragam maid berwarna biru tua lengkap dengan celemek putih motif renda sebagai pemanis dan memakai wignya yang juga ia sangga dengan bandana putih motif renda senada dengan celemek yang ia kenakan untuk penyamaran membuatnya cukup terlihat manis, tapi tidak dengan wig yang ia kenakan berwarna cokelat kusam dengan beberapa helai berwarna putih seperti uban yang menghiasinya walau tak begitu tampak jika tak diperhatikan secara detail, membuat Sakura terlihat seperti seorang bibi pembantu tapi itu semua demi keberhasilan misi rahasianya. Ia benar-benar tak peduli lagi dengan penampilannya saat ini. Walaupun hal itu menyebabkan pro dan kontra antara suami istri yang baru dikenalnya hari ini.

Bayangkan saja, Hana ingin Sakura tetap menjadi pembantu yang modis dengan pakaian sexy. Tapi hal itu ditentang Itachi karena tidak sesuai dengan prosedur yang diberitahu sahabatnya. Jadi sang istrilah yang harus mengalah disini, ia juga tak ikut masuk dan hanya menunggu didalam mobil saja agar tak menimbulkan kecurigaan berlebih dari adik Itachi yang memang sangat jeli itu.

SAKURA POV ON

'Wuahhh...benar-benar rumah yang megah' batinku yang lagi-lagi terperangah akan kemegahan rumah ini, sebenarnya ini rumah seorang duda atau Perdana Mentri sih? pikirku lagi. Lihat saja itu lampu kristal menggantung kokoh dilangit-langit tinggi rumah ini, dirumahku saja lampu kristalnya tak sebesar ini. Manik emeraldku masih setia memandangi langit-langit yang penuh dengan ukiran-ukiran mewah sebagai dekorasinya. Hingga suara baritone Itachi-nii membuatku berhenti menerawang.

"Saki, kau tunggu disini sebentar ya? Aku mau ke toilet dulu." Ujar Itachi sambil menjunjuk sofa panjang yang berada diruang tamu, dan segera berlalu pergi kearah toilet yang sepertinya berada diujung lorong rumah ini.

Mendengarnya berkata dengan terburu-buru dan langsung pergi seolah sudah tak tahan oleh panggilan alam yang menderanya sedari tadi, akupun hanya mengangguk menanggapi perkataan sahabat kakakku itu dan mulai mendudukkan bokongku disofa yang empuk ini. Sedangkan pikiranku masih bergulat dengan tanda tanya besar akan kemegahan rumah ini yang tampak sepi.

"Aneh, rumah sebesar ini tampak sepi. Kemana penghuninya?" gumamku sembari mengamati keadaan yang benar-benar hening ini. Bahkan saat berjalan pun suara ketukan sepatuku terdengar sangat jelas. Dari tadi aku juga tak melihat satupun maid yang bekerja disini selain dua orang security yang berjaga dibagian depan rumah ini.

Dan tiba-tiba saja sebuah pikiran nista terlintas dibenakku. Jika aku benar-benar menikah dengan duda kaya raya ini, aku mungkin akan berubah menjadi ibu tiri yang kejam seperti didongeng-dongeng. Walaupun keluargaku merupakan keluarga terpandang, toh akan membuat diriku semakin kaya raya dan jika saatnya tiba, aku akan meracuni minuman si duda yang hanya akan menyandang sebagai suami sementaraku itu untuk terakhir kalinya melihat dunia fana ini dan seluruh aset kekayaannya akan jatuh ketanganku khukhu... Aku terkikik geli membayangkan pikiran nistaku ini, hihi tapi itu jelas tak mungkin kulakukan. Aku tak sekejam itu, bantah innerku.

Hingga tanpa kusadari ada sepasang manik hitam kelam sedang menatapku tajam dan memegang sesuatu, entah apa itu.

'Pluk!'

Sebuah benda basah dengan aroma tak sedap mendarat sempurna dipuncak kepalaku. Aku tersentak dari lamunanku karena benda tersebut. Perlahan tapi pasti mulai kugerakkan tanganku untuk mengambilnya. Entah kenapa perasaanku jadi tak enak, sepertinya ini bukan benda yang bagus. Dan hey! Benar saja, i-ini kan ce-celana anak kecil?

"Grrrr, siapa yang melemparku dengan celana bau pesing begini, HAH!" Seruku kesal sambil Kulayangkan emeraldku untuk mencari biang keladinya, dan binggo! Aku memukannya berada sekitar 2 meter di belakangku. Ia menatapku dengan tatapan datar nan angkuh sambil bersedekap dada. Belum sempat kulayangkan protes berkepanjangan dariku, bocah itu sudah semakin dekat denganku.

"Huh, cuci celanaku itu Ba-chan! Tadi aku tepecirit menahan pipis saat diperjalanan!" Titah bocah lelaki tengil yang sialnya sangat tampan itu dengan angkuhnya, gayanya benar-benar arogan. Ia mengucapkan kata-kata frontal begitu dengan pose sok coolnya. Oh...ayolah, kau itu masih seorang bocah kenapa gayamu seperti seorang pria dewasa begitu sih nak? Dan hey! Apa dia bilang? Ba-chan? Cih, aku benar-benar dianggap sebagai seorang Ba-chan oleh bocah ini.

Ehem, ok aku sedikit berdehem untuk menetralisir kekesalanku, karena sepertinya bocah ini anak si duda kaya, jika dilihat dari penampilannya yang mengenakan pakaian anak-anak bermerek dan wajahnya yang putih bersih, bahkan hampir menyaingi wajahku. Dan jangan lupakan rambut raven mencuat kebelakang itu. Hem...mengingatkanku pada seseorang. Tunggu! Dia benar-benar mirip dengan lelaki tampan yang mencumbuku semalam. Ah. Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin! Sanggahku dengan menggeleng-geleng pelan kepalalu membuat bocah lelaki dihadapanku ini semakin menatap bingung.

Masih menenteng celana basah nan lembab akibat ompolan bocah lelaki yang akupun tak tahu namanya itu sambil kudekatkan wajahku dengan si bocah, membuatnya berjengit sedikit mundur kebelakang.

Ck...okay! Aku harus sabar dalam menghadapi bocah tengil seperti ini, anggap saja dia pasien kecil yang sedang merajuk karena tidak ingin disuntik seperti dalam kasus praktekku selama ini.

"Hem...adik kecil, kenapa bisa kau tepecirit begitu?" tanyaku sambil tersenyum semanis mungkin.

"Huh, bukan ulusanmu! Yang pasti kalena aku kebelet pipis!" Sahut bocah yang berumur sekitar 5 tahun itu dengan suara cempreng yang agak cedel masih tetap bersedekap dada angkuh memalingkan wajahnya yang sedikit teraliri semburat merah tipis.

Aku terkikik geli mendengarnya, dia benar-benar menggemaskan. Meskipun tak ingin menjawab pertanyaanku. Tapi tetap juga ia menjawabnya tanpa sadar, hihi benar-benar polos. Mendengar kikikanku, wajah imut dengan manik onyx itu kembali menatapku kesal.

"Kenapa Ba-chan teltawa? Memang apa yang lucu?"

"Haha, tidak..." Jawabku seraya mengacak gemas surai raven mencuatnya itu, "emm..kalau boleh tau, siapa namamu adik manis?" tanyaku lagi.

"Huh, jangan panggil aku manis! Itu sepelti wanita! Aku ini laki-laki. Belalti aku tampan, bukan manis!" protesnya kesal dengan menggembungkan pipi, benar-benar tampak imut walau tingkahnya menyebalkan dan terlalu percaya diri, eh?

"Hemm baiklah, jadi...siapa namamu, errrr adik tampan?"

"Uchiha Kei. Umul 4 tahun jalan 5 tahun." Sahutnya mantap dengan berkacak pinggang.

Hmpph~ benar-benar menggemaskan! Dari dulu aku ingin sekali memiliki adik kecil yang lucu begini. Mungkin aku akan betah tinggal disini, walau sepertinya sikapnya memang benar-benar tengil dan menyebalkan.

"Kei?"

Deg!

Sebuah suara baritone yang sepertinya familiar itu menyapa gendang telingaku, membuatku menegang sesaat. Sepertinya aku mengenal suara yang berada tak jauh dibelakangku tersebut. Aku masih tak bergeming bergulat dengan pemikiran-pemikiran yang sekiranya akan terjadi. Kulirik bocah bernama Kei tadi terlihat sangat antusias dan segera berlari kearah orang yang mungkin saja adalah duda kaya calon suamiku kelak.

"Papa~" Kei semangat menerjang orang yang ia panggil papa itu. Entah tampangnya bagaimana, atau kah benar-benar orang 'itu'? aku kurang yakin karena aku masih memunggunginya sepertinya ia penasaran denganku, terdengar dari langkah kakinya yang semakin mendekat.

Tap...tap...

"Hn, siapa dia Kei?"

"Dia Ba-chan yang akan mencuci celanaku papa." Jelas Kei antusias, terdengar dari nada suaranya yang sangat semangat.

"Hn? Bukannya kita tidak sedang menerima pembantu baru." Terdengar dari suaranya sepertinya ia sedikit bingung, oh...ayolah. Aku juga kemari dadakan hari ini karena bujuk rayu para baka aniki.

"Hei, sedang apa kau dirumahku? Kami tidak sedang membutuhkan pembantu." Ujarnya lagi dengan nada sedikit meninggi. Sepertinya ia benar-benar tak suka akan sikapku yang masih memunggunginya, tapi aku benar-benar belum siap menatapnya.

Glek! Kami-Samaaaa, bagaimana ini?

"Hei, kau harus menatap lawan bicaramu!" Ia berseru lagi dan sekilas aku mendengarnya kembali bergumam "cih, benar-benar tak punya sopan santun!"

Aku mendengarnyaaaa... Well, aku harus segera membalikkan tubuhku yang memang sedang terduduk di sofa tengah ruangan ini, jika tak ingin dicap lebih buruk oleh duda kaya bermulut tajam yang tak kalah menyebalkan seperti anaknya itu, dan bukankah aku juga sudah menyamar? Aku pasti akan aman. Innerku turut mengangguk mantap.

"Ma-maaf tuan, saya baru disini." Jelasku seraya membalikkan badan.

Sekarang aku telah berbalik dan telah berdiri dari duduk nyamanku untuk menghormati sang tuan rumah yang juga sedang berdiri. Kini dengan jelas aku bisa melihatnya, sontak tubuhku kembali menegang. Pria yang sedang menggendong bocah lelaki bernama Kei itu juga tengah menatapku tajam. Berbeda dengan Kei dalam gendongannya yang justru sedang asyik mempermainkan anak rambut mencuat milik ayahnya dengan gemas tanpa memperdulikan sekitar.

Oh Goddd! Di-dia...dia benar-benar lelaki tampan semalam! Aku ingat benar, rambut khasnya yang mencuat berhelaian raven dengan manik onyx yang menawan, serta bibir tipis yang benar-benar menggiurkan itu yang telah mencumbuku semalam. Shit! Apakah dunia ini hanya selebar daun kelor? Bahkan sepertinya tak lebih lebar dari kolor kesayangan mendiang kakekku Jiraiya! Aku juga tak tau bagaimana perasaanku saat ini, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasakan kegembiran yang tiada tara. Tapi disisi lain aku juga merasa takut, takut jika dia tak seperti yang kuharapkan.

Sejenak onyx bertemu emerald, kami seolah melakukan flashback kejadian semalam. Entahlah, aku juga tak begitu tau apa yang ada didalam pikirannya saat ini, semoga saja ia tak berpikiran kalau aku ini gadis di bar semalam saat melihat mata hijauku. Dan yang jelas aku juga harus tetap bersikap tenang. Ibarat nasi telah menjadi bubur, aku tak bisa mundur dan harus menuntaskan misi ini, mungkin akan sedikit ada perubahan. Dalam hati aku terkikik geli akan kebetulan yang benar-benar tak disengaja ini. Kami-Sama...sepertinya kau telah membolak-balikkan rencanaku.

SAKURA POV OFF

Sang tuan rumah yang sedang menggendong anak semata wayangnya itu juga sedang menelisik penampilan gadis / wanita yang mengenakan seragam maid dihadapannya. Sepertinya ia merasa familiar dengan wanita ini. Pikiran itu terlintas saat ia melihat manik hijau klorofinya. Entahlah, ia sendiri ragu. Ia harus memastikan siapa sebenarnya wanita yang telah lancang berada dirumahnya tanpa ijin.

"Hn, jadi siapa namamu?"

"Namaku Saki tuan." Jawab Sakura sedikit gugup terlihat dari manik emeraldnya yang bergerak gelisah, dalam hati ia merutuki Itachi yang pergi ke toilet terlalu lama, sampai sekarang belum kelihatan juga batang hidungnya. 'Che! Cepatlah kemari Itachi-nii~' Pekik Sakura dalam hati.

"Lalu siapa yang membawamu kemari? Atau kau kemari sendiri, eh?" Sergah Sasuke dengan pertanyaan lebih intens lagi masih dengan tatapan menyelidik.

"A-aku...aku dengan-!" Tiba-tiba perkataan Sakura terpotong oleh Itachi yang baru kembali dari kegiatan panggilan alamnya.

"Dia bersamaku Sasuke." Jawaban Itachi memalingkan atensi Sasuke dan Sakura padanya yang terlihat berjalan semakin mendekat dengan senyum ramahnya.

Melihat Itachi membuat gadis bungsu Haruno ini menghela napas lega. Pasalnya ia tak bisa berpikir lagi bagaimana harus menjawab pertanyaan calon suami-, ehem ok maksudnya si duda kaya yang bernama Sasuke itu dengan benar.

"Hn. Baka aniki, kenapa kau membawa orang asing kemari?" Balas Sasuke cepat.

Sakura mendelik tak suka akan perkataan pedas Sasuke. 'Cih, aku pikir ia adalah lelaki ramah seperti Itachi-nii, ternyata bertolak belakang dan angkuh. Tidak sesuai dengan wajah tampannya.' Decihnya dalam hati.

Sepertinya kau sedikit menyesal telah menganggap bahwa kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya semalam, eh, Sakura?

"Ayolah baka outotou, lebih ramahlah sedikit pada orang baru!" Protes Itachi yang menyadari perubahan mimik di wajah calon adik iparnya. Ia jadi tak enak sendiri. Sasuke hanya berdecih menanggapinya dengan tatapan menuntut jawaban dari anikinya.

"Aa, dia adik dari teman lamaku yang sedang kesulitan keuangan sehingga butuh pekerjaan. Jadi aku membawanya kemari agar ia bisa bekerja sebagai maid disini~" Jelas Itachi lagi dengan cengirannya.

"Aku tidak butuh maid!" Tegas Sasuke. "Kenapa tak kau bawa kerumahmu saja!" Lanjutnya lagi.

"Ya, kau butuh!" Balas Itachi tak mau kalah. "Tidak bisa, dirumahku tak ada lowongan." Lanjutnya lagi.

Sakura yang menyaksikkannya hanya terdiam melihat pertengkaran kakak beradik seperti dirinya dan Sasorikalau sudah bertemu, ia pun terkikik geli.

"Tidak Itachi! Aku sudah memiliki Ayame, Teuchi dan Chiyo Baa-san, kau tau!" Sahut Sasuke cepat, ia mulai kesal jika harus berdebat dengan baka anikinya yang keras kepala kalau sudah beradu argumen itu.

Itachi sedikit menyeringai sebelum kembali menanggapi protesan outotou kesayangannya itu, "Hn, Ayame dan Teuchi semalam ijin padaku kalau mereka ada keperluan mendadak dan harus pulang kampung sekitar 2 mingguan." Jelasnya.

Padahal tanpa sepengetahuan Sasuke. Itachi melangkah lebih dulu setelah menerima pemberitahuan dari sahabat merahnya tentang rencana calon adik iparnya. Saat itu juga ia segera memerintahkan Ayame dan Teuchi untuk mengambil cuti ke negeri Kirigakure, negeri yang terkenal dengan tujuan wisatanya itu dengan dalih kalau kedua maid tersebut juga butuh refresing sejenak. Itachi sampai rela merogoh kocek lebih dalam untuk membiayai paket liburan kedua maid kepercayaan keluarga Uchiha itu agar hengkang sementara demi terciptanya lowongan kerja dirumah target yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri itu.

Sasuke terdiam, pantas saja dari pagi ia tak melihat ayah dan anak yang telah lama bekerja sebagai maid dikediamannya ini. "Lalu kenapa mereka justru meminta ijin padamu? Bukan padaku?"

"Apa kau tak ingat? Kata Kakashi semalam kau pergi dari rumah sampai tengah malam baru kembali, eh?"

Sasuke merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia lupa kalau semalam ia tengah asyik clubbing dan bertemu gadis pink yang benar-benar menggoda hingga menarik perhatiannya.

Sementara Sakura yang mendengar hal itu malah semakin menunduk guna menyembunyikan rona merah yang tengah menghiasi wajah cantiknya saat mengingat kejadian semalam. Terlebih orang yang bersangkutan itu ada dihadapannya dan akan menjadi tuan yang harus ia layani beberapa minggu kedepan.

"Ck, baiklah kalau begitu. Kau bisa menjadi maid sementara disini." Decak Sasuke frustasi tak bisa mengelak lagi dari seluruh kata-kata anikinya. Dan dengan sangat terpaksa ia harus menerima maid baru untuk sementara, karena ia juga tak bisa mengandalkan maid terakhirnya untuk mengurus seluruh rumah. Mengingat usia Chiyo Baa-san itu sudah cukup tua dan ia juga lebih mementingkan tanaman-tanaman obat dipekarangan rumah ini dari pada yang lainnya.

Mendengar hal itu, sontak Sakura langsung mengembangkan senyuman termanis yang ia miliki. "Arigatou tuan~" serunya riang.

Sasuke mengerjap sesaat setelah melihat senyuman manis pembantu barunya itu. Entah kenapa tiba-tiba darahnya berdesir, seolah ia sudah familiar dengan senyuman tersebut. Tapi entahlah, ia sekilas menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan mirip senyuman dan hey! Itu lebih tepat dibilang sebuah seringai dari pada senyuman!

Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu, eh, Sasuke?

"Selamat datang Saki semoga kau betah bekerja disini." Bisik Sasuke dengan seringaian khasnya, dan sudah berada dihadapan Sakura seraya berjalan meninggalkannya sambil menggendong Kei yang entah sejak kapan telah tertidur dipundaknya.

Itachi yang masih memperhatikan adiknya itu juga turut mengembangkan seringai tipis. Dalam hati ia berkata 'hn, ini akan menarik.'

Sakura masih mematung, ia tak bergeming. Sepintas tadi dirinya melihat sebuah seringaian diwajah tampan tuan barunya itu. Membuatnya bergidik seolah merasakan perasaan tak enak menjalar dalam darahnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya ini. Apakah hari-hari yang ia lalui ditempat asing ini akan lancar atau malah bertambah berat.

'Oh...Kami-Sama... Kumohon lindungilah aku setelah ini~' Pekik Inner Sakura sebelum ia terjatuh pingsan karena ia belum mencerna sesuap makanan apapun seharian ini.

Hal itu Membuat Itachi panik dan segera mengangkatnya a la brydal style ke sebuah kamar yang memang disediakan untuk seorang maid dan mengistirahatkannya, karena hari esok Sakura sudah harus melayani sang target.

.

.

~T.B.C~

.

.

Yuhuuuu,,, akhirnya selesai juga chap ini, chap yang sangat panjang...kuharap kalian menikmatinya. Walau adegan SasuSakunya belum terlalu banyak hehe.

.

Oh ya, gomen yaa updte nya lebih lambat dari biasanya, soalnya kesibukan dunia nyataku benar-benar banyak. Ditambah dengan kegiatan sebagai ibu rumah tangga walau aq sndiri belum bersuami. Wkwkk itu karena Kaa-san ku yang sedang berada diluar pulau, dan itu mengharuskan aq mengurus seluruh rumah termasuk membuat makanan utk Tou-san dan baka imotouku, huaaaa mengerjakan ini juga disela-sela waktu istirahat. Tapi Hezlin semakin bersemangat saat melihat review kalian yang benar-benar mendukungku untuk melanjutkan fic ini. Eh, malah curcol #plak abaikan curhatan author :v

.

Special thanks to:

caesarpuspita, undhot, respitasari, suket alang alang, NikeLagi, Lhylia Kiry, , Manda Vvidenarint, hanazono yuri,YOktf, krystaljung13, kHaLerie Hikari, ika sayaka, ayuharuno, hani salsa, guest, pink tomato, kaito jane, lolopop savers, aihara, sarada yukino, yuni nyan itachi, Chichak deth, mimi-chan, Uchiha lovers, Guest, , ongkitang, Wisma Ryuzaki.

Utk balasan review yang login bisa cek PM yaa, dan yg not login, gomen sementara belum bisa balas satu2 tapi aku benar-benar senang dengan antusias dan semangat kalian akan fict ini dan bersedia meninggalkan jejak. Sekali lagi Arigatou juga untuk yg udah fav dan follow.

(╯▽╰)╭╮(╯▽╰)╭

.

Mind to review again?

.