TITLE : Fated to Love You
AUTHOR : Hezlin Cherry
RATE : M (For Save)
PAIRING : SASUSAKU
GENRE : Romance, Drama
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Summary : Dijodohkan dengan pria tampan dan mapan? Jelas itu semua mimpi bagi setiap gadis. Tapi tidak untuk Haruno Sakura yang rela menyamar sebagai maid di kediaman calon suami yang tidak ia ketahui itu untuk membatalkan perjodohan ini. Pasalnya ia tak bisa terima jika calonnya itu adalah seorang duda anak satu. What the hell!?"
.
.
.
WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?
.
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
↖(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗
.
.
.
"PRANG!"
Sudah kesekian kalinya terdengar suara seperti pecahan piring menggema di kediaman megah Uchiha pagi-pagi begini.
Hal itu jelas mengundang sosok tua dengan helai di penuhi uban yang juga baru saja terbangun dari istirahat malamnya untuk menuju ke arah dapur di lantai satu rumah ini. Dengan gerakan cepat ia melangkah terburu-buru.
'Ada suara ribut-ribut apa itu?' Batin wanita tua berumur lebih dari setengah abad itu. Apakah maling? Tapi tidak mungkin, karena sekarang sudah pukul 6 pagi. Hanya maling bodoh tak berotak yang mau mencuri jam segini, pikirnya lagi. Ia terus saja melangkah terburu-buru. Bahkan saat menuruni tangga pun tak sempat mengurangi laju langkah tuanya yang tak terlalu lebar itu.
Langkahnya semakin cepat kala melihat pintu besar yang tak lain dan tak bukan adalah ruangan bernama dapur tersebut. Anehnya ruangan itu menyala, menandakan ada seseorang didalamnya. Ia melangkah mendekat tapi tetap berusaha tak menimbulkan suara saat melangkah.
Wanita tua yang telah lama mengabdi pada keluarga Uchiha itu tiba-tiba berhenti dan mematung saat telah berada di depan pintu dapur. Ia terkejut akan pemandangan yang tersaji didepannya, tampak dari kedua bola matanya yang membulat sempurna.
"Apa-apaan ini?!" Gumamnya, masih menelisik seluruh dapur.
Bayangkan saja, dapur yang merupakan daerah kekuasaan Teuchi dan anaknya itu biasanya selalu bersih dan rapi. Tapi kini benar-benar terlihat berantakan. Kerak telur berserakan, noda kecap pun tampak menempel di atas meja yang terbuat dari porselen itu. Oh, dan jangan lupakan juga pecahan piring keramik di sekitar tempat cuci piring yang berserakan seperti habis terhempas badai. Jika dihitung mungkin ada selusin yang pecah disitu.
"Astaga Saki! Apa yang kau lakukan, nak?!" Ia memekik seketika saat menangkap siulet berhelaian coklat pudar lengkap dengan seragam maidnya yang ia kenal sebagai maid baru yang akan bekerja disini untuk sementara menggantikan Teuchi dan Ayame. Gadis tersebut tengah asyik menggosok piring kotor di tangannya.
"Eh?" Sakura yang merasa nama samarannya disebut itupun menoleh. Ia terkejut saat mendapati sosok tua yang menjadi seniornya di sini sedang mendekatinya dengan tatapan antara marah dan khawatir melihat keadaanya, atau lebih tepatnya keadaan dapur yang sangat berantakan ini.
"Chi-Chiyo Baa-san..." Lirih Sakura, "ah, emm...aku sedang mencoba menyiapkan sarapan. Ya, sarapan! Hehe..." Lanjutnya lagi sambil nyengir kuda saat tersadar akan tatapan menuntut yang dipancarkan oleh kedua pasang mata senja dihadapannya.
"Tapi kenapa bisa sampai berantakan begini?" Tanya Chiyo seraya mengambil lap basah untuk membersihkan noda yang mengotori meja perselen itu dengan cekatan.
Sakura menegang, emeraldnya ia gulirkan untuk menelisik keadaan. Yah, benar-benar berantakan memang. Ia baru sadar kalau ini semua ulahnya. 'Ck, sial! Hari pertama bekerja sudah membuat masalah begini, bodoohhh!' Pekik innernya frustasi.
Terang saja, ia juga sebenarnya masih setengah mengantuk. Kalau saja Itachi tak menelponnya pagi-pagi buta untuk mengingatkannya apa saja yang harus dilakukan seorang maid selain harus bangun pagi dan menyiapkan sarapan, mungkin saja ia tak akan beranjak dari kamarnya.
"Emm, ma-maaf Baa-san... Aku.. .mungkin belum terbiasa dengan keadaan disini." Jelas Sakura mencoba mencari-cari alasan yang tepat.
Chiyo menghela napas panjang, "haaah, lebih baik sekarang kau bantu aku membereskan semua ini." Titahnya sudah mengambil sapu dan sekop di sudut ruangan dan menyodorkannya pada Sakura, "kita harus membereskannya sebelum Sasuke-sama mengetahuinya." Lanjutnya lagi.
Sakura mengangguk dan mulai menyapu pecahan piring yang berserakan di lantai. Gadis manis Haruno yang sedang menyamar itu takut jika majikan tampannya akan marah, selain itu bahaya juga jika dibiarkan terlalu lama, takut kalau sampai pecahan piring itu melukai kaki jenjangnya yang mulus.
Bahkan di saat begini pun kau masih saja memikirkan dirimu sendiri, eh Sakura?
Chiyo memekik saat kedua matanya melihat jam bundar besar yang bertengger di dinding dapur ini. "Oh ya ampun...sudah pukul 06.30!"
Sakura ikut menoleh menatap jam tersebut yang sudah menampilkan pukul setengah tujuh pagi.
"Saki, setelah menyapu, kau harus membangunkan Kei-kun untuk sekolah dan Sasuke-sama juga!"
"Ha'i Baa-san, tapi...bagaimana dengan sarapannya?" Tanya Sakura bingung.
Bahkan ia belum membuat satupun sarapan di sini, yang baru ia lakukan hanyalah menanak nasi. Well, walaupun Sakura tak bisa memasak, tapi jika hanya sekedar memasak nasi dan merebus air, ia cukup bisa melakukannya. Karena dia pernah bermain masak-masakan dengan Sasori waktu kecil.
"Tak usah khawatir, aku yang akan membuat sarapan dan bento untuk Kei-kun." Jelas Chiyo mantap. Walaupun ia hampir tak pernah memasak untuk keluarga ini, tapi bukan berati ia tak bisa memasak, karena selama ada Teuchi dan Ayame. Dirinya jadi tak perlu memikirkan urusan dapur lagi dan hanya sibuk menata taman serta merawat tanaman obat di pekarangan belakang saja.
Sakura tersenyum sumringah mendengarnya, 'Yeaahh...akhirnya nenek Chiyo lah yang mengambil alih pekerjaan memasakku! Pekerjaanku jadi lebih ringan~' Pekik innernya senang.
"Ah, tapi apakah tidak terlambat membangunkan Sasuke-sama jam segini baa-san? Dia nanti bisa terlambat pergi ke kantor." Ucap Sakura yang tahu benar jam berapa biasanya seseorang akan bangun memulai rutinitas untuk pergi ke kantor. Karena biasanya di rumah, ia selalu melihat kakak lelakinya sibuk dari pukul enam sudah bangun untuk bersiap-siap.
"Hmm tak apa, Sasuke-sama hanya bekerja dirumah. Ia melakukan pekerjaannya dirumah, karena di kantor sudah ada Kakashi yang merupakan asisten kepercayaannya. Dan Sasuke-sama hanya akan pergi kekantor jika ada rapat besar antar perusahaan." Jelas Chiyo panjang lebar.
Sakura mengangguk-angguk tanda mengerti.
.
.
Dan disini lah dia sekarang. Sedang menegup ludah gugup menatap pintu besar yang terbuat dari ukiran kayu Mahoni di hadapannya sambil menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan setelah membangunkan tuannya. Karena ia memutuskan lebih baik membangunkan sang tuan rumah lalu anak lelaki tuannya yang berada di kamar sebelah.
Apakah setelah membangunkan tuan yang akan menjadi suaminya itu -ehem, oke Sakura blushing sendiri membayangkannya pada bagian ini- apakah setelah itu dia langsung keluar begitu saja? Rasanya ia tak rela jika harus keluar begitu saja, mungkin sedikit morning kiss akan semakin menghangatkan suasana pagi yang dingin ini. Ia terkikik geli membayangkan sekelebat pikiran nakal yang tiba-tiba saja mampir di kepala merah mudanya.
Setelah memantapkan hati, Sakurapun mengetuk pintu dihadapannya beberapa kali. Namun tak ada jawaban.
"Tok! Tok!"
Sekali lagi ia mencoba mengetuk pintu, dan tetap saja tak ada jawaban. 'Mungkin tuannya itu benar-benar sedang tidur nyenyak hingga tak mendengar suara ketukan' batinnya. Maid bermata emerald itu pun mencoba mendorong knop pintu tersebut. Dan...terbuka, ia tampak terkejut karena tuannya itu tak mengunci pintu kamarnya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Sakura memutuskan untuk masuk kedalam kamar besar yang masih terlihat gelap ini.
Tap...tap...
Kaki jenjangnya melangkah perlahan. Bagaimana pun juga, baru kali ini Sakura memasuki kamar seorang pria selain kamar kakaknya. Manik hijau klorofil cerahnya menelisik ruangan kamar yang benar-benar gelap. Bahkan letak ranjang tuannya dia juga tak tahu.
"Tu-tuan... Apakah anda sudah bangun?" Lirih Sakura, masih dengan berjalan perlahan menuju kearah sumber cahaya matahari yang berada dihadapannya. Dan ia yakin itu pasti jendela kamar ini, maka ia harus menyibak gorden dan membuka jendelanya agar cahaya bisa menerangi ruangan ini.
SREK!
Setelah membuka gorden tersebut, betapa terkejutnya Sakura. Ranjang Kingsize majikannya sudah tertata rapi. Perlahan ia melangkah maju dan menyentuh permukaan sprei biru gelap yang membalut tempat pembaringan majikan alias calon suaminya itu yang tenyata telah dingin. Berarti sudah beberapa menit yang lalu ranjang ini ditinggalkan oleh tuan tampannya.
"Ternyata dia sudah bangun, tapi...kemana dia sekarang?" Berbagai pertanyaan mulai bermunculan dipikiran Sakura yang telah mendudukkan bokongnya di atas ranjang berukuran Kingsize tersebut sambil menelisik keadaan kamar ini.
Kamar yang dominan berwarna biru tua ini terlihat rapi dan maskulin dengan perpaduan warna cat dinding berwarna perak dengan dark blue di setiap sisinya. Dan beberapa barang di dalamnya seperti lemari tiga pintu yang sepenuhnya terbuat dari stenless steel dengan kombinasi cermin di permukaan bagian depannya itu menambah kesan elegant dan terlihat semakin memperbesar ruangan ini dengan efek yang ditimbulkan oleh cermin tersebut.
Di sisi kanan kiri ranjang ini juga terdapat meja nakas yang diatasnya memiliki masing-masing sebuah lampu tidur dengan bentuk yang unik. Ya, bentuk lampu tersebut menyerupai ular King Cobra yang sedang melebarkan kepalanya seolah merasa terancam akan adanya musuh. Dan bagian tubuh ular itu melingkar di tiang penyangga bola lampu, sehingga menimbulkan kesan seperti ukiran yang sarat akan seni. Tapi sayangnya Sakura tak bisa melihat lebih detail lagi karena lampu tersebut mungkin telah lama dimatikan oleh empunya kamar.
Kini emerald Sakura beralih menatap meja kerja yang letaknya pas bersebelahan dengan jendela besar kamar ini. Meja itu terlihat rapi, tak banyak benda atau buku yang berada di atas meja tersebut. Hanya beberapa buku tebal yang diposisikan vertikal dengan buku paling besar dan tinggi yang berada disisi kanan begitu seterusnya.
Disini Sakura mulai heran, seorang pengusaha kaya raya seperti Sasuke yang jarang pergi kekantor dan cenderung bekerja dirumah itu hanya memiliki sedikit buku dan barang-barang penting lainnya? Well, tak ingin terlalu ambil pusing, kini atensi Sakura dialihkan oleh sebuah potret diri berukuran sedang, terpajang sempurna di atas meja tersebut.
Sakura memicing mencoba mempertajam pandangannya tapi percuma, karena dari jarak yang cukup jauh ini ia tak bisa dengan jelas melihat siapa di dalam pigura itu. Dengan diliputi rasa penasaran yang teramat sangat, Sakura melangkahkan kakinya mendekati meja tersebut untuk melihat foto yang mengalihkan perhatiannya.
Tangan putihnya terulur, mengangkat pigura yang menampilkan gambar ketiga orang yang sangat ia kenali sekarang. Ya, ketiga orang itu adalah Sasuke, Kei, dan Itachi. Mereka bertiga tengah berdiri menghadap kamera dengan ekspresi berbeda-beda.
Terang saja, di sana ekspresi calon kakak iparnya -Itachi- sedang tersenyum lembut menggendong Kei -anak Sasuke- yang terlihat masih balita berumur sekitar 2 tahunan. Kei juga tengah tertawa sumringah bersama Itachi. Tapi tidak dengan Sasuke, duda tampan calon mantu keluarga Haruno itu tengah menampilkan ekspresi dingin. Seolah tak berminat dengan apa yang sedang dilakukannya. Tak ada roman kebahagiaan yang terpancar dalam manik onyx gelapnya.
Gadis manis Haruno yang sedang menyamar itu juga sadar, ia tak melihat adanya potret seorang wanita di sini. Bahkan dalam pigura yang masih dipegangnya ini pun hanya ketiga orang ini lah yang terlihat.
Apakah sedari dulu, Kei memang sudah dipisahkan dari ibunya? Atau ibunya telah lama meninggal? Sehingga di umur Kei yang masih balita pun, wajah ibunya tak terlihat sama sekali dalam ruangan ini. Bahkan diseluruh penjuru rumah ini Sakura belum menemukan potret ibu dari anak calon suaminya itu. Berbagai spekulasi dan pemikiran tentang sosok wanita yang pernah singgah di hati pemuda tampan pemilik mata onyx sehitam arang itu benar-benar membuat hatinya penasaran.
Sakura semakin terenyuh kala menatap potret ketiga orang yang baru saja dikenalnya itu. Dalam hati ia benar-benar penasaran akan kehidupan Sasuke sebelum ini. Bagaimana Sasuke saat masih bersama dengan ibu dari Kei tersebut. Karena jika dilihat dari ekspresi pria yang masih saja tampan walau usianya sudah hampir memasuki kepala 3 itu seperti menampilkan kehidupan masa lalu yang kurang menyenangkan baginya. Dari tatapannya juga seolah-olah menyimpan banyak misteri yang sukar untuk dipecahkan.
"Sebenarnya... apa yang kau pikirkan saat itu Sasuke...?" Lirih Sakura masih menatap potret ketiganya dengan tatapan nanar sambil mengusap pelan wajah Sasuke didalam pigura tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Deg!
Sakura tersentak kaget, jantungnya berpacu lebih cepat saat mendengar suara baritone yang sangat familiar di telinganya. Ya, itu suara pemilik kamar ini yang tak lain dan tak bukan adalah majikan sementaranya.
Dengan gugup Sakura meletakkan pigura yang sedari tadi ia pandangi itu ketempatnya semula. Dirinya saat ini sudah seperti seorang pencuri yang kepergok oleh mangsanya. Berbalik, Sakura mencoba menjelaskan tujuannya disini. Tapi sialnya pemandangan yang tersuguh dihadapannya membuatnya semakin gugup.
"Ah... Sa-saya bermaksud membangunkan tuan~" Ujar Sakura yang juga sedang mati-matian menahan gejolak dalam tubuhnya yang seketika meremang dan memanas. "Ta-tapi ternyata tuan sudah bangun ya..hehe..." Nyengir, ya...hanya itu yang bisa dilakukan Sakura untuk menutupi kegugupannya.
Bayangkan saja, tuan tampannya itu ternyata baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk kecil diperpotongan pinggangnya. Dada bidang dengan otot-otot perut yang membentuk sempurna dengan tetesan air yang masih beberapa tersisa di tubuh putih kekarnya itu benar-benar menggairahkan dimata Sakura. Tampak beberapa kali ia telah menegup saliva. Dalam hati ingin sekali ia menyentuh lagi tubuh atletis dihadapannya. Membayangkannya saja sudah membuat sesuatu dibawahnya berkedut-kedut liar. Damn! He is so hot and sexy! Pekik innernya yang matia-matian menahan gejolak hormon dalam tubuhnya.
Sakura bahkan baru sadar kalau dikamar ini ada sebuah bathroom tersembunyi yang ia sendiri tak melihatnya karena pintu bathroom tersebut benar-benar menyerupai dinding kamar ini. Benar-benar sebuah kamuflase yang sempurna untuk tempat persembunyian .
"Hn, aku tak butuh bantuanmu untuk membangunkanku." Ujar Sasuke datar semakin melangkahkan kakinya mendekat kearah Sakura yang tengah mendengus sebal akan perkataan angkuh yang lolos dari bibir tipisnya.
Masih menatap intens manik hijau meneduhkan yang sedikit gugup menerima tatapannya sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Sasuke mendekatinya, tak memeperdulikan udara dingin yang menerpa tubuh setengah polosnya. Sasuke berpikir bahwa maid barunya ini cukup lancang dan memiliki nyali untuk masuk kedalam kamarnya di hari pertamanya bekerja ini. Mungkin Sasuke akan memberikan sedikit hukuman atas kelancangan maid baru bernama Saki tersebut. Ia semakin mendekat, dari sini terlihat jelas wajah merengut Sakura tampak lucu dimata Sasuke.
Sakura semakin berjengit mundur hingga punggungnya menubruk dinding dibelakangnya saat menyadari langkah Sasuke yang semakin mendekatinya dengan tatapan tajam yang menelisik seolah menelanjanginya hanya dengan tatapan mata saja.
Adik dari Uchiha Itachi itu sedikit menyeringai melihat kelakuan maidnya yang terkesan salah tingkah dan gugup itu. Ia menghentikan langkahnya saat jarak diantara mereka masih terpaut kira-kira satu meter. Sasuke bersedekap dada untuk mengurangi atmosfer dingin di pagi hari yang menerkam tubuhnya sebelum kembali berucap.
"Sebenarnya aku sudah bangun dari tadi sejak..." Sasuke menggantungkan kata-katanya dan semakin menatap tajam Sakura yang sedang gugup bersimbah keringat. "...sejak kau membuat keributan di dapurku." Lanjutnya lagi, kali ini dengan posisi tangan kanannya ia letakkan tepat disebelah wajah memerah Sakura. Sedikit merunduk untuk mengimbangi tinggi gadis dihadapannya yang hanya setinggi bahunya, Sasuke semakin mempersempit jarak diantara mereka.
Membuat tubuh polos yang hanya berbalut handuk putih itu menempel ketat pada Sakura. Bahkan gadis yang masih menempuh pendidikan terakhirnya di jurusan kedokteran itu juga merasakan sebuah tonjolan yang menekan bagian perutnya.
Glek!
Menelan salivanya gugup, Sakura benar-benar tak bisa berpikir apa-apa lagi. Dihadapannya kini tengah berdiri sosok tegap nan tampan menjulang tinggi dan mengapitnya, ah lebih tepatnya memojokkannya bahkan ia merasakan tonjolan milik tuannya itu sepertinya sedang sedikit tegang. Ingin rasanya ia meremas benda keras tersebut. Sekelebat pikiran nakal kembali memenuhi otak polosnya. Bahkan dari jarak sedekat dan seintim ini Sakura juga dapat mencium aroma kesegaran sabun yang menguar dari tubuh atletis pria berhelaian raven mencuat kebelakang itu dan sukses membuat gairahnya semakin merambah naik ke permukaan.
Oh...ayolah, ia juga seorang gadis normal yang ingin menyentuh bagian sakral milik lelaki yang selama ini hanya ia dengar dari cerita-cerita sahabat pirangnya saja. Terlebih lelaki tampan itu adalah calon suaminya. 'Tapi tidak! Ia harus bisa tahan, tahan Sakura, tahan! Kami-Sama...kuatkan aku menerima ujian ini....' Inner Sakura berteriak-teriak frustasi.
Sakura mendongak untuk menatap wajah putih porselen lelaki dihadapannya. Pandangan mata lelaki itu tengah menatapnya tajam, menuntut jawaban Sakura.
"Ma-maaf tuan... Saya tak sengaja membuat keributan..." Cicit Sakura dengan suara semakin pelan. Gugup? Tentu saja, ia benar-benar gugup dan takut kalau Sasuke marah padanya, "ta-tadi saya-!"
"Hn, aku yakin kau sudah memecahkan selusin piring." Sasuke menyela perkataan Sakura, membuat gadis 22 tahun itu melotot tak percaya.
Sasuke masih mengapit dan menatap intens gadis dihadapannya. Bahkan ia juga mencium aroma cherry yang menenangkan. Aroma yang terasa familiar di penciumannya, seperti aroma gadis pink di bar waktu itu pikirnya. Apalagi hanya dengan menghirup aromanya saja sudah membuat juniornya menegang. 'Ck, sial!' decihnya dalam hati sebelum gumaman maaf yang lagi-lagi terlontar dari bibir ranum Sakura menyadarkannya.
"Sekali lagi maaf tuan~"
Sedikit menggeram, Sasuke mengembalikan ekspresi stoicnya dan menjauhkan wajahnya tapi tak melepas kungkungannya, "Hn, jangan kau ulangi! Bisa-bisa habis piring dirumahku jika kau pecahkan terus menerus!" Ujarnya datar namun penuh penekanan untuk menyindir kinerja Sakura.
Sakura tak habis pikir, tuan kaya rayanya ini mempermasalahkan soal piring? Hell no...dia yakin kalau uang sang tuan tak akan habis walau untuk membeli segudang piring mahal sekalipun. Tapi disini Sakura sadar akan posisinya, walaupun ingin membangkang dan membalas perkataan Sasuke. Tapi ia urungkan dan tetap berusaha bersikap kalem.
"Ba-baik tuan." Balas Sakura dengan wajah yang sudah dipenuhi semburat merah.
"Jika kau ulangi..." Sasuke kembali berbisik mendekatkan wajahnya pada telinga Sakura membuat gadis yang sedang menyamar itu kembali menegang, "aku tak segan-segan untuk menghukummu." Lanjutnya lagi seraya sedikit mengulum cuping telinga Sakura.
Hal itu sontak membuatnya memekik tertahan sebelum Sasuke kembali menjauh.
"Hyaa~"
Deg! Deg!
'A-apa itu tadi? Dia benar-benar mempermainkanku!' inner Sakura masih tak percaya dengan kelakuan tuannya yang sangat errrr liar dan menggoda itu.
Sasuke dengan wajah kalem seolah tak pernah terjadi apa-apa itu telah berjalan kearah lemari dan mengambil beberapa potong pakaian yang akan dikenakannya sebelum onyxnya menatap jam dinding yang tergantung tepat diatas kepala ranjangnya kini telah menunjukkan pukul tujuh.
Ia menoleh, menatap maid barunya yang masih sibuk meredam detak jantungnya. "Lebih baik kau segera bangunkan Kei untuk pergi sekolah, sebelum terlambat."
Sakura terhenyak hingga refleks ia memekik, "Oh God! Aku lupa. Ba-baik tuan~ saya permisi." Pekiknya sudah berlari meninggalkan Sasuke yang tengah menatap kepergianya sambil mendengus geli. Sungguh maid barunya ini benar-benar berbeda.
.
Kini Sakura telah berada didepan pintu kamar anak lelaki Sasuke. Sedikit mengetuk pintu tapi juga tak ada jawaban.
Tok! Tok!
"Kei-kun ayo bangun...!" Titah Sakura dibalik pintu.
Hening
"Huufft..." Menghela napas sejenak akhirnya ia memutuskan untuk masuk sebelum bergumam, "ayah dan anak sama saja~"
Kamar Kei seukuran dengan kamar Sasuke, warna dan ukuran ranjangnya pun sama, walaupun Kei masih kecil tapi ia mendapatkan sebuah pembaringan yang sangat besar. Hanya saja kamar ini tak sepolos kamar tuannya. Ada beberapa wallpaper animasi yang tertempel sempurna di salah satu sisi dinding kamar ini. Tak ada barang berlebih seperti mainan anak dan semacamnya. Disini Sakura sedikit miris, bagaimanapun juga Kei itu masih kecil tapi gaya hidup dan sikapnya seolah sudah seperti orang dewasa.
Sakura mendekat kearah ranjang yang menampilkan sesosok bocah lelaki masih tertidur pulas dengan posisi tidur yang sungguh errrr unik.
Bayangkan saja ternyata Kei tertidur dengan posisi tubuh menungging, bagian kepalanya bersandar di bantal, sedangkan bagian pantatnya mencuat keatas dan kedua tangannya berada disisi samping tubuh mungilnya. Sakura terkikik karena hal tersebut. Kapan lagi melihat bocah lelaki tengil, arogan, percaya diri dan sialnya sangat tampan itu dalam kondisi sepolos ini.
Sebelum membangunkannya, Sakura berniat untuk mengambil foto Kei yang sedang tidur menungging dengan wajah polos itu menggunakan smarthphonenya. Tangan putihnya merogoh kantong celemek tempat dia meletakkan ponselnya.
Setelah mendapatkan benda yang dia ambil, betapa terkejutnya ia melihat ponsel canggihnya berubah menjadi ponsel lipat butut jaman dahulu. Emeraldnya melotot dan otak cerdasnya kembali memutar memori sebelumnya. Ia kembali mengingat saat kakak lelaki tengilnya memaksa untuk meninggalkan smartphonenya dirumah dan menggantinya dengan ponsel butut ini agar Sakura tak dicurigai oleh Sasuke karena memiliki barang mewah berupa iPhone 6 miliknya.
Hilang sudah kesempatannya memiliki foto polos dan menggemaskan Kei karena ponsel butut milik Sasori waktu masih SMP itu tak memiliki fitur kamera, bahkan warna saja tak ada. Ia sendiri juga heran kenapa kakak tengilnya itu masih saja menyimpan barang kuno seperti itu. Apalagi ponsel itu juga masih saja bertahan hidup hingga sekarang.
"Ck, sial!" Berdecak sebal seraya memasukkan kembali ponsel butut itu kedalam kantongnya, Sakura mencoba membangunkan Kei.
"Kei-kun ayo bangun! Waktunya sekolah..." Dengan perlahan Sakura menepuk-nepuk pipi chubby Kei.
Membuat bocah lelaki itu melenguh merasakan ada yang mengusik kenyamanannya.
"Enghh~"
Lenguhan tersebut losos dari bibir mungilnya, kini Kei sudah merubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Ayo Kei-kun, banguuunnnn nanti terlambat ke sekolah lho!" Sakura kembali mengulangi kata-katanya dan menekannya khusus dibagian kata 'sekolah'.
Dan tiba-tiba onyx hitam cemerlang itu terbuka, menatap Sakura berbinar. Ia langsung terbangun saat mendengar kata 'sekolah' karena baginya sekolah itu adalah tempat yang menyenangkan. Disana ia mempunyai banyak teman untuk bermain dan belajar. Jadi ia tak akan melewatkan hal ini.
Kei terduduk, mengucek kedua onyxnya yang masih sembab. Dengan kekuatan yang perlahan-lahan pulih ia pun mendongak menatap bibi pembantu barunya yang terduduk disisi pinggir ranjangnya.
"Akhirnya kau bangun juga Kei-kun..." Ujar Sakura riang seraya melipat selimut motif beruang milik Kei. "Ayo segera mandi dan bersiap kesekolah...emm Ba-chan akan me-memandikanmu..." Cicit Sakura semakin melemah.
Dalam hati ia bingung sendiri. Apakah ia juga harus memandikan Kei? Tapi kei masih kecil, jadi sepertinya memang harus ia mandikan supaya lebih cepat.
"Tidak usah." Sahut Kei tiba-tiba seraya bangkit dari ranjangnya menuju bathroom yang sama persis seperti dikamar Sasuke. "Saki Ba-chan tunggu di situ aja, aku bisa mandi sendili." Lanjutnya lagi sudah di dalam bathroom dan menutup pintunya membuat Sakura bisa bernapas lega.
"Fiuhh.. untung saja dia mau mandi sendiri, aku 'kan belum pernah memandikan anak ke-"
BRAK!
Kei tiba-tiba menjeblak pintu bathroom tersebut, membuat Sakura menganga menatapnya tak percaya.
"aku selesai Ba-chan."
Bahkan ini belum ada satu menit bocah itu mandi dan ia sudah selesai. Kei berjalan dengan kalemnya menuju kearah Sakura, badan polos Kei masih tampak basah. Sepertinya ia mengenakan handuk sekedarnya saja tadi didalam. Bahkan Sakura tak yakin apakah bocah tampan anak tuannya itu benar-benar mandi atau hanya menyiram tubuhnya dengan air?
Tubuh polos Kei sudah semakin mendekat kearah Sakura yang masih mematung memandanginya intens. Kei sudah mengambil baju seragam TK nya agar Sakura membantu memakaikannya dengan cepat.
Dipikiran Sakura saat melihat tubuh polos Kei terpampang nyata dihadapannya adalah wajah Sasuke dengan segala imajinasi liar didalamnya. Tentu saja karena wajah kei benar-benar turunan ayahnya. Hingga Sakura membayangkan bahwa tubuh polos dihadapannya ini adalah Sasuke.
"Ba-chan cepat pakaikan bajuku! Nanti aku bisa tellambat!" Titah Kei sebal terhadap Sakura yang hanya memandanginya tanpa pergerakan berarti.
Sakura terhenyak seketika mendengar pekikan cedel Kei dan itu menyadarkannya dari pikiran nista yang lagi-lagi menguasainya disaat yang tak tepat ini.
"Eh, iya..." Sahut Sakura gugup. "Kei-kun cepat sekali mandinya? Yakin seluruhnya sudah bersih?" Tanya Sakura seraya membuka kancing-kancing kemeja Kei dan membantunya mengenakan baju pada bocah tampan itu.
"Pasti belsih dong! Namanya juga sudah mandi." Balas Kei.
Sakura terkikik karena jawaban polos bocah 4 tahun itu. "Bagaimanapun juga, kalau mandi itu harus bersih Kei-kun. Mengenakan sabun, shampoo dan menyikat gigi biar tehindar dari kuman..." Sakura mencoba menjelaskan bagaimana cara mandi yang benar, bagaimanapun juga dia adalah seorang calon dokter, tentunya ia sangat tau hal ini.
"Huh, aku kan takut tellambat ke sekolah kalau mandinya kelamaan Baa-chan!" Sungut Kei sebal seraya bersedekap dada angkuh dan memalingkan wajahnya dari tatapan Sakura guna menyembunyikan rona merah yang mengaliri wajah chubbynya.
"Haha, baiklah tapi lain kali harus mandi dengan benar nee?" Ujar Sakura gemas mengacak surai raven Kei yang mengangguk menaggapinya. Hingga emerald Sakura tak sengaja melihat jam di atas meja belajar Kei yang menunjukkan pukul 07.10.
"Oh My God! Sudah jam segini!" Pekik Sakura panik. "Ayo Kei-kun kita harus cepat!" Lanjutnya lagi dengan cekatan sudah memakaikan sepatu pada kaki mungil Kei.
Mereka kini sudah keluar dari kamar Kei dan dengan terburu menuruni tangga utama. Sakura menggandeng tangan mungil bocah lelaki di sebelahnya agar ikut berjalan cepat, mengingat rumah ini sangat besar.
"Umm, Kei-kun... Apa sekolahmu jauh?" tanya Sakura seraya menuruni tangga masih menggandeng tangan mungil Kei.
"Hn, lumayan jauh." Sahut Kei datar.
"Eh, terus ke sananya naik apa?"
"Naik mobil papa, tapi biasanya di antal Kakashi ji-san."
"Eh, tapi Kakashi-san juga tak ada. Hum berarti Kei-kun minta antar papa saja ya?" Ucap Sakura yang sudah akan berbalik arak kembali untuk menuju kamar Sasuke. Dan Kei hanya diam mengikutinya.
Sesampainya dikamar sang majikan, ternyata Sasuke sudah tak ada di tempatnya. Sakura semakin panik saat kembali melihat jam yang sudah berjalan 5 menit dari sebelumnya.
Kei yang sadar akan kepanikan Sakura itupun bersuara, "biasanya papa sudah ada di tempat keljanya."
"Eh, dimana tempatnya Kei-kun?"
Kei menunjuk arah tangga utama yang masih memiliki lantai paling atas membuat Sakura mendongak. "Diatas sana?" tanya Sakura lagi, Kei mengangguk.
"Ayo!" Ujar Sakura cepat menarik Kei yang masih tak bergeming. "Loh kenapa diam saja Kei-kun?"
"Aku capek! Gendong!" Dengan angkuhnya Kei berkata demikian membuat Sakura sweatdrop. 'Ternyata capek toh' batin Sakura yang sudah menunduk untuk mempersilahkan Kei menaiki punggungnya.
"Apa boleh buat, ayo naik ke punggung Ba-chan!" Titahnya lagi. Kei menurut dan mulai merangkak naik kepunggung Sakura. "Pegangan ya!" Titahnya lagi dan segera mengambil langkah seribu untuk menaiki tangga tersebut dengan cepat.
Sekarang mereka sudah berada di ruang kerja Sasuke yang cukup luas ini. Ruang kerja yang dipenuhi dengan banyak rak buku terbuat dari stenless steel itu berjajar rapi memenuhi ruangan yang lebih tepat disebut seperti perpustakaan ini. Karena tiap rak buku itu sepertinya telah menampung ratusan jenis buku.
Di sana Sasuke sedang sibuk menggerakkan jemarinya di papan keyboard laptopnya. Pria pemilik wajah tampan dengan kacamata bening berframe hitam yang membingkai kedua manik onyxnya itu terlihat semakin mempesona, membuat Sakura blushing sendiri. Ia mendongak menatap Sakura yang sedang menggendong Kei dengan terengah-engah itu. Menunggu, ia ingin tau apa alasan maid barunya itu tiba-tiba masuk begitu saja kedalam ruang kerjanya ini.
"Maafkan saya tuan. Tapi anda harus mengantar Kei-kun ke sekolah." Ucap Sakura yang sadar akan tatapan menuntut dari tuannya itu. Tatapan setajam elang itu tampak mengintimidasinya. Membuatnya kembali mengingat adegan beberapa menit lalu dikamar Sasuke yang sukses membuat wajahnya kembali memerah bak kepiting rebus.
"Tidak bisa, aku sedang sibuk saat ini." Ketus Sasuke mengalihkan pandangannya pada layar laptopnya.
Sakura geram mendengar perkataan Sasuke yang terlihat acuh itu. Wajahnya semakin memerah antara malu dan marah.
"Ayah macam apa anda? Saat ini Kei-kun harus segera diantar ke sekolah agar tidak terlambat!" Refleks Sakura memekik diluar kendalinya.
Sasuke sedikit terkejut akan keberanian maid baru yang terkesan membentaknya itu. Mendengus keras, ia mengeluarkan gas karbondioksida kasar dari hidung mancungnya. "Baiklah biar kuhubungi Kakashi agar mengatar Kei."
Sedangkan Kei hanya menunduk, sebenarnya dalam hatinya ingin sekali-sekali diantar oleh ayahnya. Tapi sang ayah tak pernah punya waktu luang untuk sekedar mengantarnya.
"Tak perlu!" Balas Sakura masih menggendong Kei lengkap dengan tas sekolahnya, "mana?" Ujarnya lagi dengan tangan kanan terulur seperti meminta sesuatu.
Sasuke mengernyitkan alis bingung, "Apanya?"
"Ck, Kunci mobil! Biar aku saja yang mengantar Kei-kun!"
"Kau...yang mengantar?" Tanya Sasuke lagi.
"Tentu saja!" Sahut Sakura mantap.
"Memangnya kau bisa menyetir mobil?" Sasuke semakin menatap intens emerald Sakura seolah tak percaya kalau maid barunya ini bisa mengemudi.
"Eh?"
Sakura sadar bahwa ia sedikit demi sedikit telah membuka jati dirinya. Padahal berkali-kali ia sudah di ceramahi oleh Sasori agar selalu berpura-pura tak bisa melakukan apapun dengan teknologi canggih seperti ponsel dan...mobil tentunya. Tapi disini ia justru refleks mengatakan kalau dirinya bisa megemudi.
'Ck, sial! Bagaimana ini....?' pekik innernya panik.
.
.
~T.B.C~
.
.
Yeahhh,,, akhirnya selesai juga chap ini, chap yang sangat panjang...kuharap kalian menikmatinya. Mumpung Hezlin lagi rajin ngetik ff saat libur kemarin hihi...soalnya mulai senin besok dan seterusnya bakalan super sibuk, ngawas, ngurusin ulangan kenaikan kelas, ngisi rapot dll.
.
Walau tadi aq sempet kesel karena udh capek2 ngetik ff ini, ehhh datax gk kesimpen. Hufttt capek kesel rasanya, untung masih ada data back up tapi belum sempurna seperti yg ilang tadi...
Tapi gpp aq edit lagi pelan2 ampe pusing pala berbie nih pegel mata berjam-jam napat layar note ku huhuu...
Jadi gomen ya utk kali ini gk bisa balas review satu-satu.
╮(╯3╰)╭╮(╯3╰)╭
.
Oh ya, gomen juga updte nya lebih lambat dari ff yg lain soalnya waktu itu masih cari wangsit hehe.
.
Aww... Ternyata banyak yg tertarik jg yah ma ff q ini, hehe jadi terharu hiks
╮(╯▽╰)╭
.
Sekali lagi makasih ya, kalian bener2 penyemangatku! Disaat Hezlin bener2 males lanjutin ini fic, tapi pas liat review penyemangat dari kalian membuatku betah berjam2 ngetik fic gaje n abal ini.
#Hug&Kiss
.
Special thanks to:
sakura uchiha stivani, respitasari, YOktf, NikeLagi, , HikariChan93, undhott, suket alang alang, hani yuya, kHaLerie Hikari, hanazono yuri, Wisma Ryuzaki, caesarpuspita, anisasripragita41, Ajeng cherry, cherryana24, abangsasorikun, Luca Marvell, Lisa Smile, Uchiha Riri, Chichak deth, Guest, pink tomato, ika sayaka, sarada yukino, kaito jane, nisa chan, Uxhiha lovers, aihara, andhey, ayuharuno, haruharuno, carnations, ursa mayor, ongkitang, , IndahP, chcha, my name, sincha, ss-savers, guesst, hanachan, edo ten, yollanda, haruno kyouitaa, blue sky, ai, pink cherry, Arisha Kyou, Guest, toru perri, yuzu, sami haruchi 2, Yukina Itou Sephiienna Kitami, , dianarndraha, intanm, haruharuno.
.
Makasih ya untuk kalian yg udh review dan menyemangati diriku untuk membuat chap yg garing crispy ini hehe.
Makasih juga untuk yg udh fav, follow maupun silent readers.
Yg penting setelah baca, jangan lupa tuk ninggalin jejak lagi yaa
╮(╯▽╰)╭╮(╯▽╰)╭
.
Oke sampai jumpa di chap depan. Chaaooo
.
Mind to review again?
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯
.
