TITLE : Fated to Love You
AUTHOR : Hezlin Cherry
RATE : M (For Save)
PAIRING : SASUSAKU
GENRE : Romance, Drama
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Summary : Dijodohkan dengan pria tampan dan mapan? Jelas itu semua mimpi bagi setiap gadis. Tapi tidak untuk Haruno Sakura yang rela menyamar sebagai maid di kediaman calon suami yang tidak ia ketahui itu untuk membatalkan perjodohan ini. Pasalnya ia tak bisa terima jika calonnya itu adalah seorang duda anak satu. What the hell!?"
.
.
.
WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?
.
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
↖(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗
.
.
.
'Glek!'
Entah sudah keberapa kalinya gadis manis yang sedang menyamar ini menegup ludah gugup. Membuat bocah lelaki yang duduk di sebelahnya bosan.
"Ba-chan, ayo cepat belangkatttt!" Seruan cadelnya memekakan telinga Sakura. Membuatnya tersentak kaget.
"E-eh, i-iya."
'Apakah aku bisa mengemudikan ini? Apakah aku bisa mengemudikan ini?' Lagi-lagi pertanyaan yang sama selalu mengganggu pikirannya.
Bayangkan saja saat ini mereka sedang berada di dalam mobil pribadi Sasuke. Mobil mewah yang terkenal sebagai koleksi James Bond yaitu Aston Martin berwarna putih metalic keluaran baru yang Sakura sendiri tak tahu jenis tipenya apa itu benar-benar membuat Sakura seperti orang bodoh. Walaupun ia juga memiliki mobil mewah serupa di rumah, tapi baru ini ia memegang yang tingkat speksifikasinya lebih tinggi seperti ini. Yang ia tahu mobil ini salah satu mobil bertenaga kuda dan dapat melaju sangat cepat walau kau hanya menginjak sedikit saja pedal gasnya.
Dirinya memang berhasil meyakinkan Sasuke untuk menyerahkan kunci mobil agar bisa mengantar Kei, walau ia harus kembali berbohong dan untungnya merupakan kebohongan yang tak terlalu fatal.
Di saat tuan tampannya itu curiga akan kemampuan mengemudinya, Sakura berhasil mengatakan kalau ia pernah bekerja menjadi supir pribadi sehingga yakin bisa mengemudikan sebuah mobil dengan aman. Tapi bukan mobil seperti ini yang ia maksud! Tak adakah mobil yang biasa-biasa sajaaaa? Pekik innernya frustasi.
Di sini Sakura kembali berpikir, bagaimana jika ia kelewatan dalam menginjak gas dan membuat dia maupun anak semata wayang tuannya itu celaka, bagaimana kalau-!
"Ba-chan! Ayo!"
"I-iya Kei-kun."
Akhirnya Sakura menyalakan benda besar ini dengan ragu. 'Kami-Sama...semoga aku dan Kei tidak berakhir di rumah sakit...' Itulah doanya sebelum menjalankan mobil ini.
Setelah memutar kunci mobil untuk menghidupkannya, kini perlahan kaki jenjangnya menginjak pedal gas dan...
"BRRUMM!"
Sakura melotot, Kei memekik kencang. Antara takut atau senang dalam pekikan bocah 4 tahun tersebut bercampur menjadi satu.
Dengan cepat mobil itu sudah berada di depan gerbang kediaman Uchiha, untung Sakura berhasil menginjak pedal rem sebelum mobil berharga milyaran ini menabrak pagar beton rumah sang majikan.
CKIIITTT!
"Hosh! Hosh!"
Sakura terengah, bahkan Genma dan Juugo yang merupakan Satpam penjaga rumah ini turut terlonjak kaget akan aksi dadakan Sakura.
"Hei, Saki! Apa kau dalam masalah?" tanya Genma dari balik jendela pos satpam. Sedangkan Juugo sudah bergerak membukakan gerbang.
"Ehe, ti-tidak. Aku harus mengantar Kei-kun." Jawab Sakura yang sudah menurunkan kaca jendelanya, "Jadi...emm terima kasih telah membukakan pintu, bye." Lanjutnya lagi dan segera tancap gas meninggalkan mereka berdua yang hanya melongo melihatnya berlalu.
Akhirnya Sakura berhasil keluar dari perumahan Izanami Residence tersebut dengan selamat. Walau berapa kali orang-orang yang berselisih dengannya mengumpat kesal karena nyaris tertabrak. Tapi Sakura tetap fokus melaju hingga sampai di jalan besar ini.
"Ba-chan awas!"
Kei memekik saat mereka akan melintasi sebuah tikungan tapi Sakura tak kunjung mempersiapkan diri untuk menikung.
"Eh?!"
CKIIIITT!
Dengan cepat Sakura banting stir agar bisa menikung tanpa menabrak pembatas jalan, hingga menimbulkan suara decitan ban mobil yang bergesekan keras dengan aspal.
"Ba-chan, belhentiiiii!"
CKIIITTT!
"Ck, kenapa lagi?" tanya Sakura kesal karena acara mengemudinya terganggu. Padahal dia sudah lumayan terbiasa dengan mobil bertenaga kuda ini.
"Huh! Itu lampu melah! Belalti halus belhenti!"
Sakura mendongak menatap traffic light di sana yang memang menampilkan warna merah. "Ehe... Ba-chan tak melihatnya..." Ujar Sakura sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Setelah menunggu beberapa saat merekapun segera melesat kencang membuat Kei refleks memekik dan Sakura sendiri menahan napas deg-degan.
Hingga kali ini Kei benar-benar memekik kencang.
"Ba-chaaaannn! Awas ada tluuukkk!"
"Eh, apa Kei-kun?" Sakura tak terlalu mengerti maksud pekikan cadel bocah di sebelahnya. Yah bagaimanapun juga dirinya sekarang sedang terburu-buru mengantar Kei sebelum terlambat. Walaupun mungkin mereka memang akan terlambat nantinya. Mengingat jarak tempuh sekolah Kei cukup jauh.
"Ituuuu tlukk di depan!"
"Uwaa!" Sakura ikut memekik saat sadar bahwa di depannya sedang ada sebuah truk yang tiba-tiba mengerem mendadak. Dalam kecepatan seperti ini, Sakura segera menginjak rem sekuat tenaga.
CKIIITTTT!
DUAK!
Namun naas, benturan tak dapat terhindarkan. Tapi Sakura yakin 100% kalau benturan itu tak akan membuat mobil sport mewah ini penyok. Karena bagian depan mobil ini terdapat pelindung yang sangat kokoh.
Dan dia juga sadar kalau jidatnya tak sakit? Seharusnya dia sudah membentur stir mobil saat terjadi benturan. Oh tenyata sebuah Air Bags yang otomatis muncul dan mengembang telah melindunginya dari benturan keras. Sakura bernapas lega sebelum ia kembali panik saat emeraldnya melihat keadaan Kei yang terdiam tanpa pergerakan. Wajah chubby bocah yang baru saja masuk TK itu masih terbenam dalam empuknya Air Bags di depannya.
"Kei-Kun!" Ia refleks memekik, sepertinya bocah ini terkejut dan pingsan.
Dengan cepat Sakura menegakkan tubuh Kei. Ia cemas. Memang Air Bags sangat melindunginya dalam benturan. Tapi dia juga takut kalau itu justru membuat bocah seperti Kei kesulitan bernapas karena tekanan Air Bags tersebut.
"TIIINNNNN!"
Suara klakson mobil di belakang Sakura membuatnya bedecih sebal. Sakura sadar jika ia dan truk dihadapannya ini tengah menimbulkan kemacetan. Dengan cepat ia segera menepikan mobil ini. Dan ternyata truk di depannya juga menepi.
Tunggu sampai Sakura melihat siapa supir gila yang ngerem mendadak itu! Dia benar-benar geram. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.
Dan sang supir itu turun untuk mengecek keadaan truknya yang sedikit penyok tekena serudukan mobil bertenaga kuda yang dikemudikan Sakura. Supir yang menurut sakura aneh dengan gigi runcing itu mendekat kearah mobil mewah yang dikendarainya. Sakura siap, ia akan memuntahkan kata-kata makian untuk supir tersebut.
Dengan cepat Sakura membuka kaca mobil dan kepala merah muda yang masih dilapisi wig itu menyembul dari dalam mobil.
"HEI THE FUCKING BASTARD! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN BERHENTI MENDADAK BEGITU HAH!" Pekik Sakura sambil mengacungkan jari tengahnya pada supir yang terlihat semakin mendekatinya itu.
Sakura semakin geram saat sepintas melihat supir berhelaian biru muda dan gigi runcing itu sedikit tersenyum menanggapi ejekannya.
"Wah sorry nona~ tadi tak sengaja aku melihat ikan lele yang sepertinya telah melarikan diri dari tukang ikan, aku tentu saja tak tega untuk melindasnya..." Jelas supir truk tersebut dengan raut wajah sedih.
Sakura semakin mendengus keras karenanya, ini benar-benar bualan paling konyol yang pernah dia dengar, batinnya.
"Dan...aku menunggu ikan lele itu melompat ke saluran air di sana sebelum mendengar kau menabrakku dari belakang." Lanjut supir itu lagi seraya menunjuk ke arah saluran air di sisi kiri jalan ini lalu ibu jarinya juga menunjuk ke arah Sakura yang sedang kembang kempis menahan amarah.
"HEI, AKU TAK AKAN MENABRAKMU JIKA KAU TAK MENGEREM MENDADAK SIALAANNN!"
Shit! Sakura hanya buang-buang waktu saja gara-gara supir truk konyol peduli ikan lele di sana.
Maid dadakan keluarga Uchiha itu memutuskan untuk segera tancap gas. Membuat si supir itu berteriak dan terlonjak kaget.
"SIAL! KAU NYARIS MENABRAKKU NONA MANJAAA!"
Tak peduli akan sebutan orang tadi, Sakura memanglah seorang nona manja sebelum ini. Dan Hey! Dirinya sudah sedikit lebih mandiri sekarang!
Oh Tuhan, dirinya melupakan Kei. Kembali Sakura menepikan mobilnya di jalur yang agak sepi untuk menyadarkan Kei.
"Kei-kun. Ayo bangun..."
"Engh~ Ba-chan..." Akhirnya Kei sadar dan membuka matanya membuat sakura menghela napas lega. "Tadi itu... Sangat menyenangkan Ba-channnn Hahaha~" tiba-tiba anak Uchiha Sasuke itu kembali memekik riang membuat Sakura menatapnya tak percaya.
"Eh? Me-menyenangkan? Kita tadi nyaris mati Kei-kun!" Balas Sakura bingung antara senang dan rasa takut yang menghinggapinya saat melihat tawa polos Kei membuat hatinya ikut bahagia.
"Hehe tadi itu seluuuu~ aku belum pelnah melasakan yang sepelti ini Ba-chan~" Kei masih tertawa sumringah mengingat kejadian tadi, "Biasanya kalau di antal Kakashi Ji-san sangat membosankan, uhh..." Lanjutnya lagi dengan sorot mata meredup.
Sakura hanya bisa tersenyum dan mengacak gemas surai raven mencuat bocah tengil di sebelahnya itu.
"Ya sudah, ayo segera ke sekolah. Mungkin kau akan terlambat karena sudah jam 8 kurang 15 men- OH MY GOD! SUDAH JAM 8 KURANG! kita pasti terlambat Kei-kun!" Sakura kembali memekik saat melihat jam digital dalam mobil dan segera tancap gas.
"Hahaha Goooo Ba-chaaannn!" Kei malah menyemangati Sakura senang.
~oOOOo~
Sementara itu di kediaman Uchiha...
Tok! Tok!
"Masuk!"
"Sasuke-sama... Ini sarapan anda." Ucap Chiyo yang sengaja membawakan sarapan pagi tuannya itu ke ruang kerja. Karena Sasuke memang jarang sekali turun hanya untuk sekedar sarapan.
"Hn. Terima kasih Baa-san. Letakkan saja di atas meja itu." Titah Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang menurutnya lebih penting.
Wanita berumur setengah abad lebih yang telah lama mengabdi pada keluarga Uchiha itupun menurut. Setelah meletakkan sarapan. Dirinya tak juga pergi, seperti ada yang ingin ia katakan. "Hemm Sasuke-sama jadi siapa yang mengantar Kei-kun?"
"Saki yang mengantarnya." Jawab Sasuke singkat.
"Apa? Saki?" Chiyo memekik kaget. Dia memang tadi melihat Saki terburu-buru mengambil bento Kei, tapi tak berpikir jika Saki lah yang juga akan mengantar anak sang tuan. "Tapi...apakah tak apa jika dia yang mengantar?"
"Hn, dia bilang bisa mengemudi. Jadi aku yakin tak masalah." Sahut Sasuke telah melepaskan kacamata khususnya dan memijit pelan pangkal hidungnya lelah.
Chiyo sedikit tak percaya. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum. "Hem..kupikir juga Saki itu adalah gadis periang dan enerjik yang sepertinya akan cocok dengan Kei-kun." Ujarnya saat mengingat jika Kei itu tak gampang dekat dengan orang lain selain keluarganya.
"Ya...kupikir juga begitu. Sekarang kau bisa kembali Baa-san."
Chiyo mengangguk dan segera pergi dari ruangan Sasuke.
Sasuke masih terngiang perkataan Chiyo kalau Saki sepertinya cocok dengan anaknya, mengingat maid barunya itu bersikeras untuk mengantar anaknya sekolah. Dan Kei tak mempermasalahkan hal itu, karena biasanya Kei itu tipe bocah pemilih yang rewel tak akan mau pergi kemanapun dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi entahlah, jika dengan Saki...sepertinya Kei menyukainya. Dan bagaimana dengan gadis pink di Bar waktu itu? Jika Sasuke bertemu dengannya lagi apakah Kei juga akan menyukainya?
"Argh!"
Sasuke mengerang memikirkan hal rumit begini. Untuk apa ia kembali memikirkan gadis pink di Bar yang menurutnya cabe-cabean itu? Tapi entah kenapa ia tak bisa menghilangkan bayangan gadis yang namanya saja ia tak tahu. Dirinya terus saja terlarut dalam pemikiran-pemikiran yang menurutnya konyol tersebut sampai sebuah suara dari ponselnya membuyarkan lamunannya.
Sasuke mengangkat benda tipis persegi panjang di atas mejanya dan melihat nama yang tercantum sebagai penelponnya.
"Ck, baka aniki...mau apa lagi dia!" Decihnya tapi tetap saja ia mengangkat panggilan dari sang kakak.
"Halloooo baka otoutooo~" Suara riang Itachi di seberang sana membuat Sasuke bergidik seraya menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Hn, ada apa kau menelponku baka aniki?" Tanya Sasuke to the point. Ia malas berlama-lama meladeni kakak lelaki satu-satunya yang cerewet ini.
"Haha...seperti biasa... Kau itu tak suka basa-basi yaa..." Itachi tertawa renyah menanggapi adik lelakinya yang sudah berumur itu tapi terkesan seperti remaja labil yang hobby marah-marah.
"Ck, cepat katakan keperluanmu! Aku sedang sibuk!" Decak Sasuke semakin kesal.
"Hmm...aku hanya ingin menanyakan bagaimana dengan maid barumu itu? Apakah dia bekerja dengan baik?"
"Pekerjaannya sangat bagus..." Jelas Sasuke. Itachi tersenyum bangga di bagian ini. "Sangat bagus, hingga ia memecahkan selusin piring di rumahku!" Lanjutnya lagi.
Itachi serasa tersedak air liurnya sendiri saat mendengar hal itu. Dirinya tak bisa menahan tawa membayangkan rumah megah adiknya sangat kacau akibat ulah calon adik iparnya itu. Tunggu sampai ia menceritakan hal ini pada Sasori.
"Haha, tak bisa kubayangkan keadaan rumahmu pasti sangat ramai semenjak kedatangan Saki, nee otouto...?" Gelak tawa Itachi membuat Sasuke mendengus keras.
"Sialan kau! Kalau saja bukan karena aku membutuhkan maid dan itu rekomendasi darimu..." Sasuke tampak mengambil napas sejenak. "Aku tak akan sudi mempunyai maid sepertinya!" Lanjutnya lagi.
"Haha~ kau tak boleh begitu otouto... Bagaimanapun juga kau harus memperlakukannya dengan baik. Kalau tidak...." Itachi menggantungkan perkatannya, membuat Sasuke menggeram kesal dan tak sabar.
"Kalau tidak kenapa?" Seru Sasuke cepat.
Itachi menyeringai di seberang sana, "Kalau tidak...kau nanti akan menyesal~"
"Cih, menyesal? Untuk apa?" terdengar dari suaranya seperti Sasuke meremehkan perkataan sang kakak.
"Hahaa, yaaa begitu deh pokoknyaa... Sudahlah kalau begitu. Maaf telah mengganggu kesibukanmu. Bye otoutoo...Pip..tuutt..tuut.." Itachi memutuskan sepihak komunikasi mereka. Sasuke semakin geram akibat ulah kakak lelakinya itu.
"Sialan Itachi, mengganggu waktuku saja!" sungut Sasuke kembali menghadap layar laptopnya sebelum ponsel yang baru saja ia letakkan itu kembali berdering.
Tanpa mengalihkan atensinya dari laptop, Sasuke dengan cepat mengangkat telpon tersebut tanpa melihat ID pemanggilnya. Karena ia sangat tahu siapa orang yang lagi-lagi menelponnya.
"Kenapa lagi Itachi!" Sentak Sasuke.
"Woww...wow... Ini aku Sasuke." Suara baritone di seberang sana membuat Sasuke mengernyitkan alis bingung dan segera melihat ponselnya. Tertera nama 'Kakashi' sebagai penelponnya kali ini.
Berdehem sedikit, Sasuke kembali berbicara. "Oh, Kakashi... Ada apa?"
"Hem...sepertinya kau sedang kesal?" Ucap Kakashi dan ia langsung mendengar dengusan keras dari Sasuke membuatnya dapat menyimpulkan kalau tuan mudanya itu memang sedang kesal. "Dan maaf ya aku tak bisa mengantar Kei hari ini, emm..apa kau yang mengantarnya?" Kakashi berujar kembali, di sini dia sengaja tak pulang ke rumah Uchiha, karena dia ingin Sasuke lah yang sekali-kali mengantar Kei.
"Hn, tidak."
"Hee...kau tak mengantarnya? Lalu bagaimana dia pergi ke sekolah?"
"Saki yang mengantarnya." Jawab Sasuke singkat sambil onyxnya tetap menatap layar laptopnya.
"Hah, Saki? Siapa dia?" Tanya Kakashi bingung mendengar nama orang baru. Padahal baru dua malam ini dirinya tak kembali kerumah Uchiha. Dan sudah ada seseorang yang mengganti posisinya mengantar Kei.
"Ck, siapa suruh kau tak pulang kemari!" Decak pria yang masih fokus menatap kata demi kata dalam laptopnya itu sebelum melanjutkan, "Saki adalah maid sementara menggantikan Teuchi dan Ayame."
"Oh...hehe maaf ya dua hari ini aku pulang ke Apartment ku setelah mengurus segala persoalan di kantor." Kakashi nyengir kuda memberikan alasannya, ya dia memang butuh kembali ke Apartmentnya, terlebih tepat di sebelah Apartmentnya sekarang tinggal seorang Wanita cantik yang memukaunya hingga betah berlama-lama tinggal sendiri di Apartment dari pada kembali ke rumah Uchiha.
"..." Sasuke hanya diam tak menyahut lagi.
"Oh, dan aku sangat penasaran bagaimana rupa maid baru itu sampai bisa mengantar Kei ke sekolah, mungkin aku akan pulang nanti. Mungkin. Baiklah sampai jumpa...Pip..tuut..tuut.." Ceroros Kakashi sebelum menutup telponnya.
Dan lagi, untuk ketiga kalinya dalam semenit ponselnya kembali berdering. Membuat Sasuke berdecak kesal langsung mengangkatnya.
"Hallooo Sasuke-kuuunn~"
Sasuke sangat tahu siapa pemilik suara yang sedang berdesah manja ini.
"Hn, Karin ada apa?"
"Ah, tak ada apa-apa Sasuke-kun... Emm kapan kau datang ke kantor~ kau sudah lama tak menampakkan wajah tampanmu di sini~"
"Ck. Aku hanya akan ke kantor jika ada rapat besar. Selain itu 'kan sudah ada Kakashi sebagai asisten kepercayaanku di sana." Tegas Sasuke bosan harus menanggapi celotehan manja sekretarisnya ini.
"Uh...tapi aku merindukanmu~" Desah wanita yang di panggil Karin itu, Sasuke merotasi kedua matanya bosan pada bagian ini. "Ah, bagaimana jika aku berkunjung kerumahmu Sasuke-kun~ aku juga merindukan Kei-kun~"
"Tak perlu kemari! Urus saja pekerjaanmu di sana!" Tegas Sasuke cepat, "dan kau layani Kakashi dengan baik! Sekarang jangan menganggu lagi, karena aku sedang sibuk! Piiip!" Ujarnya lagi seraya memutuskan sambungan telepon dari sekretaris genitnya itu sepihak tanpa tahu kalau sekretarisnya di seberang sana benar-benar sebal akan kelakuannya.
Sasuke hanya merotasi kedua matanya bosan. Sebelum onyxnya menatap rak buku di sudut ruang kerjanya yang tampak sedikit berantakan dikarenakan beberapa buku tak dapat berdiri dengan tegak. Sepertinya karena buku itu benar-benar buku lama yang sudah usang, bahkan isinya saja telah lama di lahap oleh otak jenius Sasuke. Dan seluruh informasi di dalamnya telah berpindah kedalam otaknya.
"Haahh.. " Sasuke menghela napas lelah, pemandangan itu sungguh membuat matanya sakit. Ia tak suka jika ada yang tidak rapi di ruangannya. Oke mungkin nanti dia bisa menyuruh Saki untuk membersihkan buku-buku usang tersebut.
~oOOOo~
Sakura menghela napas lega setelah sampai di sekolah Kei dan ternyata belum terlambat. Karena ternyata jam 8 teng baru aktivitas di sekolah itu dimulai.
Setelah mengantarkan Kei kedalam kelasnya dan bertanya jam berapa biasanya Kei pulang untuk kembali menjemputnya nanti tepat pukul sebelas siang. Sakurapun segera kembali ke mobil dan bergegas untuk kembali ke rumah. Biar bagaimanapun juga ia memiliki banyak pekerjaan lain di rumah, dan entah kenapa ia juga ingin segera cepat pulang hanya untuk sekedar bertemu dengan calon suami, ehemm oke ralat maksudnya bertemu tuan tampannya.
Kini Sakura tengah memasuki gerbang besar kediaman Uchiha. Ia mengklakson sekali dan terbukalah gerbang tersebut. Segera ia masuk dan memarkirkan mobil mewah yang baru saja menemani petualangan gilanya di jalanan.
Tempat pertama yang ingin ia datangi adalah dapur. Ya, kerongkongannya sangat kering sekarang, ia butuh segelas air untuk menuntaskan dahaganya.
"Baa-san... Chiyo Baa-san..." Sakura terus mencari wanita tua yang menjadi seniornya disini. Tapi tak menemukannya, tak terlalu ambil pusing, gadis bermanik hijau klorofil itu segera menuju ke arah kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Ia meneguknya cepat.
"Haahh...segarnya..." Helaan napas lega terdengar dari bibir mungilnya setelah menenggak sebotol penuh air mineral dingin tersebut.
Sekarang Sakura memutuskan untuk pergi menemui Sasuke dan menyerahkan kunci mobilnya.
Tap...tap...
Kaki jenjangnya sudah menapaki satu-persatu anak tangga yang menurutnya tak ada habisnya itu. Sakura merutuki tuannya itu yang membangun rumah megah tiga tingkat begini.
"Cih, seharusnya ia juga membangun lift di sini. Sial...ini sangat melelahkan!" Omelnya seraya menapaki tangga menuju ruang kerja Sasuke di lantai tiga.
Dengan terengah kini gadis bungsu Haruno yang sedang menyamar itu telah sampai di depan ruangan sang majikan. Ia mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar perintah dari Sasuke.
Oh Kami-Sama....dihadapannya saat ini tengah tersaji sebuah pemandangan yang sangat indah.
Bayangkan saja tuan tampannya itu saat ini tengah bersandar di kursi empuknya seraya mendongakkan kepala ke atas dengan kemeja putih yang 2 kancing teratasnya telah dia buka. Memperlihatkan sedikit belahan dada bidangnya yang menurut Sakura sangat sexy itu. Sebelah tangannya sedang memegang kening, sepertinya pria tampan itu sedang kelelahan. Bahkan saat lelah begini saja dia berhasil membuat Sakura terpesona. Oh, dan jangan lupakan leher jenjang yang sangat mulus itu terekspose sempurna, bagaimana jika leher putih menggairahkan itu penuh dengan kiss mark dariku? Sakura terkikik sendiri membayangkannya. Ya, Dari tadi itulah pemikiran yang muncul dalam otaknya.
Sakura masih mematung memandangi segala pesona dalam diri calon suami masa depannya yang dulu pernah ingin dia tolak mentah-mentah itu, yahh walaupun sekarang dirinya juga masih belum yakin akan perasaannya ini antara cinta atau hanya kekaguman semata. Maka dari itu ia harus segera memastikan perasaannya selama masih di sini.
Hingga suara baritone Sasuke yang merasa jengah karena ditatap begitu lama oleh Sakura pun terdengar.
"Hn, ada apa?"
Sakura tersentak, betapa malunya ia tertangkap basah tengah memandangi tuannya. Wajahnya kini sudah sangat merah.
"Eh, emm...saya mau menyerahkan ku-kunci mobil milik tuan..." Ujar Sakura gugup.
"Hn, bawa kemari." Titah Sasuke pada maid barunya.
Sakura menurut dan mendekat kearah meja kerja Sasuke. Ia kini sudah berada tepat dihadapan tuan tampannya itu.
"Ini tuan." Ujarnya menyodorkan kunci mobil tersebut dan tiba-tiba tangannya di tarik oleh Sasuke, membuatnya berada semakin dekat dengan duda tampan itu. Bahkan hidung mancung Sasuke dan hidungnya nyaris bersentuhan.
'Glek!'
Meneguh ludah gugup saat di tatap semakin intens oleh Sasuke. Tangan kekar pemuda itu masih mencengkram erat tangannya.
"A-ada apa tuan?" Cicitnya.
"Apa kau yakin telah mengantar Kei dengan selamat?" tanya Sasuke dengan tatapan mengintimidasi.
Napas hangat beraroma mint itu sukses menerpa wajah Sakura. Membuatnya semakin gugup dan berkeringat.
"Ya...te-tentu saja tuan..." Jawabnya.
"Dan..." Sasuke berbisik membuat Sakura semakin menahan napas gugup, "Kau yakin 'kan kalau tak terjadi sesuatu pada mobilku?"
Deg!
Sakura berdebar, apakah ia harus menceritakan kejadian menabrak supir truk gila peduli lele? Tidak! Toh ia juga yakin jika tak ada bekas lecet atau apapun yang menunjukkan tanda-tanda mencurigakan di mobil tuannya.
"Tidak tuan, semuanya aman terkendali." Jawab Sakura mantap.
"Hn, baguslah. Sekarang kau bisa kembali." Sasuke dengan cepat melepaskan tangan mungil maid barunya itu.
Entahlah, bungsu Uchiha itu sedikit merasakan perasaan berdesir saat menyentuh kulit Saki dan mencium aroma menenangkan dari tubuhnya. Itu mengingatkannya pada gadis pink yang sangat menggoda di Bar waktu itu. Che! Tapi itu tak mungkin! Tak mungkin mereka orang yang sama! Elaknya dalam hati.
"Baik tuan." Sakura segera berbalik dan pergi sebelum Sasuke kembali memanggilnya.
"Hn, aku ingin secangkir kopi, segera antarkan kemari!"
Sakura mengangguk sepintas dan segera meninggalkan zona pribadi tuannya. Kaki jenjangnya dengan cepat melangkah menuruni tangga. Dan bisa dipastikan ia kembali mengomel karena anak tangga sialan ini.
"Che! kopi yaa... Hem...sepertinya memang aku yang harus membuatnya, mengingat Chiyo Baa-san tak tau sedang ada di mana sekarang." Gumam Sakura entah pada siapa.
Kini dia telah berada di dalam dapur dan mulai meracik kopi terbaik yang pernah di ajarkan Sasori padanya. Dengan cepat, Sakura menyiapkan sebuah cangkir porselen putih yang sudah dia beri bubuk coffee dan gula. Setelah itu ia segera menuangkan air panas ke dalamnya. Mengaduk perlahan sambil menghirup aroma kopi yang benar-benar sedap lalu segera ia bawakan untuk tuannya tanpa mencicipinya terlebih dahulu. Karena Sakura sangat yakin jika kopi buatannya pasti akan membuat sang tuan ketagihan, dari aromanya saja sudah sangat menggoda.
Sakura berjalan memegang nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi panas buatannya. Ia bersenandung riang, bahkan dirinya tak lagi mengomel saat kembali menapaki anak tangga di rumah ini.
Sakura POV on
Huh, lihat kau tuan Uchiha. Aku bisa 'kan membuat kopi pesananmu. Kulihat Sasuke sedang menatapku datar saat meletakkan kopi buatanku di atas mejanya.
Dia segera memegang cangkir tersebut dan akan meminumnya. Dan hey! Kenapa dia tak langsung meminumnya sih? Duda tampan itu malah mengendus-endus kopi buatanku seolah kopi itu terbuat dari air limbah beracun. Che! Tidak sopan!
Sepertinya dia sadar jika dari tadi aku memperhatikan acara minum kopinya. Hal itu membuat mata hitam tersebut menatapku tajam sambil mendekatkan cangkir tersebut menuju bibir tipisnya, ia sedikit meniup-niup pelan kopi panas tersebut... dan hup! Dia telah meminumnya. Hemm kita lihat bagaimana reaksinya, pasti dia akan tersenyum sumringah dan memuji kepandaianku dalam membuat-!
"BRUSH!"
Eh apa? Ke-kenapa dia malah menyemburkannya? Aku masih memperhatikannya mengusap bekas semburan kopi di mulutnya. Bahkan cara dia menyembur tadi itu sangat... keren!
Oh, tidak! Kali ini dia menatapku tajam.
'Glek!'
Aku meneguk ludah saat mendapati tatapan tajamnya yang mendelik kearahku? Hey! Mana tatapan berbinar yang kuharapkan tadi? Sial, Sepertinya ada yang salah di sini.
"Apakah ini kopi buatanmu?"
Sasuke bertanya dengan tatapan yang masih menatapku tajam, tapi dari intonasi suaranya terdengar sangat datar.
"I-iya tuan... Saya yang membuatnya." Jawabku jujur.
"Cih! Rasanya benar-benar seperti air laut!" Ujarnya sinis.
"Eh?"
Aku benar-benar bingung dengan perkataannya dan baru kali ini kudengar ada kopi rasa air laut. Bukannya air laut itu asin? apa jangan-jangan aku menambahkan bubuk garam di dalam kopinya.
OH MY GOD! Aku lupa! Sial! Sepertinya benar kalau aku salah mengambil gula, justru garam lah yang ku ambil. Demi celana dalam Neptunus... Aku benar-benar bodoh telah membuatnya semakin murka!
"Apa kau tak mencicipinya dulu, eh?!" Sungutnya geram, aku semakin mengkeret takut saat melihatnya kesal begini. "Sialan! Kau membuat moodku semakin buruk hari ini!" Lanjutnya kesal terdengar dari nada yang terlontar tak lagi datar, tapi sedikit lebih meninggi membuatku tersentak kaget.
"Ma-maaf tuan... Ta-tadi saya buru-buru..." Aku memberikan alasan yang masuk akal tapi dia malah mendengus keras seolah tak peduli dengan alasanku, "ba-bagaimana kalau saya buatkan yang baru tuan? Kali ini saya janji akan mencicipinya dulu." Tawarku padanya tapi dengan cepat dia menolak. Sial! Imageku akan semakin minus di matanya.
"Tak perlu! Sekarang kau bereskan ruang kerjaku ini dan buang buku-buku usang di sana!" Ketus Sasuke seraya menunjukkan sudut ruangannya yang terlihat errr buruk.
Aku mengangguk, mungkin jika aku membereskan ruangan ini dengan rapi. Hal itu akan sedikit memperbaiki imageku akibat kopi air laut barusan.
"Dan jangan kemana-mana sebelum ruangan ini benar-benar rapi!" Lanjutnya lagi seraya mematikan laptop yang setia menemaninya dan ia pun bangkit dari kursi empuk miliknya untuk pergi dari sini.
"Baik tuan!" Aku menyempatkan membalas ucapannya sebelum tubuh tegapnya menghilang dari balik pintu.
Oke! Satu yang kudapatkan dari calon suami masa depanku itu selain sikap dinginnya adalah... Dia sedikit temperamental. Well, aku juga tak tau, sedikit yang kumaksud itu seukuran apa. Yang pasti itu menurutku. Kita lihat selanjutnya, apakah dia memiliki sikap yang patut kuberi acungan jempol sehingga aku tak memiliki alasan apapun untuk menolakknya kelak. Yah walaupun jika dilihat dari tampilan luarnya dia benar-benar tampak mempesona dan bijaksana.
Haah... Aku menghela napas pelan, manik emeraldku menelisik ruangan ini. Hemm kupikir ruangan ini sudah cukup rapi, terlihat dari tata letak rak-rak buku stenless steel yang berjajar rapi memenuhi dinding ruangan ini. Dan sofa besar yang berhadapan dengan meja kerjanya juga cukup rapi, bahkan aku tak menemukan debu di sini. Hem...sepertinya julukan sangat cocok untuknya. Aku terkikik karenanya.
Yups, aku harus serius sekarang. Jadi... aku hanya akan membersihkan bekas semburan kopi di atas mejanya dan beberapa buku usang di sana. Well yeah, tak terlalu buruk.
Setelah selesai mengelap meja kerja calon suami- ehem maksudnya meja kerja tuan tampan itu. Aku pun segera melangkah menuju sudut ruangan ini yang juga memiliki sebuah rak buku yang cukup besar. Di area paling bawah rak ini terdapat sekitar tujuh buah buku tebal yang sangat usang di makan usia, terlihat dari lembarannya sudah berwarna kecoklatan serta susunannya yang tak beraturan. Beberapa telah lepas dan sedikit tercecer saat aku mencoba mengangkatnya.
Oke, setelah kukeluarkan semua buku usang itu. Kuputuskan untuk segera membawanya ke bawah dan membuangnya di luar.
"Ck, sial! Buku-buku usang ini benar-benar berat, ugh...!" Rintihku saat mencoba mengangkat ketujuh tumpukan buku ini sekaligus.
Bayangkan saja satu buah buku usang itu memiliki ratusan bahkan ribuan halaman. Tapi apa boleh buat, aku harus mengangkutnya sekaligus. Tentunya aku tak ingin bolak-balik menaiki puluhan anak tangga hanya untuk membersihkan buku sialan ini. Ketujuh buku yang sudah berada dalam dekapanku ini benar-benar nyaris menutupi pandanganku. Tapi tak apa, karena aku masih bisa melihat kedepan dari beberapa celah kecil pada tumpukan buku ini.
"Ya...pelan-pelan Sakura! Pelan-pelan dan kau akan terbebas dari buku sialan ini!" Ucapku menyakinkan diriku sendiri. Kini aku telah menapaki anak tangga sialan yang membuatku benar-benar tersiksa saat melawatinya.
Aku berjalan perlahan sambil sedikit-sedikit menengok ke bawah untuk memastikan berapa banyak tangga lagi yang harus aku lewati, dan sialnya masih sangat banyak! Tapi kupastikan jika aku sudah turun satu lantai alias sudah berada di tangga lantai dua.
Pelan-pel-!
"AKH!" Sial! Kakiku tergelincir. Bagaimana ini? Aku pasti jatuh ke bawah. Dan sialnya lagi kenapa ada duda stoic yang sialnya sangat tampan itu tepat di bawah sana?! Shit!
"KYAAA~ TUAN AWAAAAASS!" Aku memekik kencang supaya dia menghindar, kulihat onyxnya membulat sempurna melihatku terjun bebas dengan tumpukan buku kearahnya. Sedangkan aku refleks menutup rapat kedua mataku.
BRUKK!
GEDEBUK!
"Ugh~ Engh~!" Hei, kenapa aku mendesah? Dan jatuh dari lantai dua tak begitu sakit.
Aku mencoba membuka mata...
Oh Kami-Sama... Betapa terkejutnya aku mendapati sepasang onyx yang sangat ku kenal sedang menatapku tajam dari jarak yang sangat eerr dekat! Bahkan aku merasakan bibirku sepertinya sukses mendarat di bibirnya. Eh? Tu-tunggu dulu!
Glek!
A-aku menungganginya dan... Me-menciumnya?!
Tidak! Ini Gila!
.
.
~T.B.C~
.
.
Fiuhhh,, kelar juga chap ini, chap yang cukup panjang, nee?
.
Wahh bener2 terharu dan semakin bersemangat melanjutkan fict ini saat membaca semua review dukungan maupun kritik dan saran dari kalian terutama para senpai yang keceh badai.
Maaf juga gak bisa balas semuanya. Tapi yang login udah terbalaskan via PM hehe untuk yang not login, Hezlin mohon maaf yaa... Kali ini tak bisa membalasnya satu-satu. ╮(╯3╰)╭
.
Kuharap chap ini memuaskan. Walaupun konfliknya belum terlalu kelihatan. Oh ya, ada yang penasaran dengan ibunya Kei sebelumnya, hem mungkin akan Hezlin munculkan di chap depan. Mungkin lohhh~
.
Dan yang bertanya tentang facebook ku, ini dia... jeng-jeng~ Ah lebay #Plak di gampar readers wkwkwk...
Fb ku: Hezty d'Pranicha
.
Special Thanks to:
intanm, Luca Marvell, Byun429, hermanhs9d, crystallized blossom, cherryana24, sakura uchiha stivani, An Style, Shima Ao, NikeLagi, suket alang alang, .967, hanazono yuri, Miura Kumiko, caesarpuspita, undhott, , kHaLerie Hikari, Wisma Ryuzaki Tsukiyama, dsetyorini37, megan091, dianarndraha, Laras921, Tsurugi De Lelouch, imahkakoeni, Aphrodite Girl 13, sami haruchi 2, tafis, shivatand, nunu, Guest, pink tomato, aihara, chcha, Azi-chan, Guest, Uchi, sara-chan, ai, Cherry nyan, shinta, blue sky, camelia, uchiha lovers, Chichak deth, toru perri, Sasusaku, yuki, Nurulita as Lita-san, Haruka Smile, Guest, dinda adriani, Miura no Sakura, F, Ongkitang.
Makasih udah R&R...
Jangan lupa R&R lagi yaa ╮(╯▽╰)╭
.
Sampai jumpa di chap selanjutnya
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯
