TITLE : Fated to Love You

AUTHOR : Hezlin Cherry

RATE : M (For Save)

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Drama

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

.

.

Summary : Dijodohkan dengan pria tampan dan mapan? Jelas itu semua mimpi bagi setiap gadis. Tapi tidak untuk Haruno Sakura yang rela menyamar sebagai maid di kediaman calon suami yang tidak ia ketahui itu untuk membatalkan perjodohan ini. Pasalnya ia tak bisa terima jika calonnya itu adalah seorang duda anak satu. What the hell!?"

.

.

.

WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗

.

.

.

Ini benar-benar berbahaya. Ya, posisi ini sangat berbahaya. Terlebih bagi Sakura.

Gadis manis Haruno yang sedang menyamar itu benar-benar dalam bahaya sekarang. Bahaya akan identitas dan akan di cap sebagai pembantu mesum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan itu semakin mengintainya.

Bagaimana tidak? Di hadapannya saat ini sedang berada seorang pria tampan dengan wajah mulus bak malaikat dan sepasang manik onyx sehitam arang yang tengah menatapnya intens. Entah apa arti tatapannya itu. Yang pasti Sakura merasa terancam, karena tatapan setajam elang itu seolah menelanjanginya. Tatapan tersebut membulat sempurna dan seketika memicing semakin tajam saat mengetahui tindak tanduk maid sementaranya. Seketika Sakura juga menangkap sedikit seringaian terpatri di wajah tampan Sasuke.

Sakura sadar, ini hanya akan menuai masalah baru. Ia tak ingin di pecat dari pekerjaannya yang memiliki niat terselubung ini. Ia tak mungkin hengkang dari sini secepat itu tanpa mendapatkan informasi lebih banyak dari calon suami masa depannya itu, bukan?

Sakura juga takut jika ia tak segera bangkit dan meminta maaf dan memohon-mohon kalau perlu mencium kaki sang majikan, maka akan ia lakukan demi eksistensinya di dunia per-maid-an. Ck, okey kedengarannya berlebihan. Tapi itulah yang akan dilakukan oleh seorang Haruno Sakura. Ia tak akan menyerah sebelum apa yang ingin ia ketahui belum ia dapatkan.

Berbeda dengan Sasuke. Ia terhanyut. Ia diam karena ia cukup... Menikmatinya. Sasuke sadar jika maid dihadapannya ini memang sudah kurang ajar. Tapi sebuah aroma yang sangat familiar menyapa penciumannya. Dirinya tau aroma ini. Aroma cherry yang memabukkan. Sebut dia gila jika dia sekarang seolah menginginkan maid dihadapannya ini untuk bertindak lebih.

Gadis bermanik hiaju klorofil meneduhkan itu mencoba bangkit. Tapi gerakannya tertahan karena ada sebuah tangan besar yang menahan tengkuknya. Ia terkejut saat menyadari jika itu adalah tangan Sasuke. Seolah majikannya itu membiarkan dirinya berlama-lama berada diatasnya. Dan detik berikutnya Sakura semakin tersentak kaget kala merasakan bibir tipis sang majikan yang perlahan bergerak melumat bibir ranum miliknya.

Bahkan onyx Sasuke tampak terpejam menikmati setiap perlakuannya pada maid sementaranya ini.

Kembali, perasaan keduanya seolah merasakan sebuah de javu akan kejadian ini. Mereka merasakan nyaman yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sakura juga ikut memejamkan mata, ia turut membalas perlakuan tuannya tersebut. Bibir menggairahkan dan kissable milik Sasuke kini telah semakin ganas melumat bibirnya. Menimbulkan suara-suara kecapan tak biasa di dalam rumah megah nan sepi milik Sasuke. Bahkan posisi mereka belum berubah, dengan Sakura yang menindih Sasuke dan mengangkangi tubuh tegap dibawahnya membuat bungsu Haruno itu sedikit banyak bisa merasakan sebuah tonjolan keras tepat di dekat selangkangannya.

Deg!

Jantungnya berdebar kencang, reaksi ini... Reaksi tonjolan itu... Apakah sang majikan menikmatinya? Itulah yang ada dipikirannya sekarang. Sakura tak menampik jika dirinya juga menyukai perlakuan Sasuke yang dingin tapi terkadang agresif itu. Tapi hati kecilnya seolah menolak untuk menyukainya. Entahlah, ada pergolakan batin dalam dirinya.

Sasuke masih terus menawan bibir Sakura, hingga keduanya merasakan sesak akibat kebutuhan oksigen yang mendesak dan membuat Sasuke terpaksa melepas ciuman panjangnya itu. Keduanya terengah, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dan pria pemilik manik onyx mempesona itu semakin menyeringai saat melihat wajah ayu maid sementaranya yang merona semakin merah bak buah tomat kesukaannya.

Seringaian pada bibir Sasuke tak lekas hilang, terutama setelah ia memandang lekat-lekat kedua emerald indah dihadapannya. Kedua bola mata hijau cemerlang itu benar-benar mempesonanya. Sasuke terus memperhatikan maid dihadapannya semakin intens, ia juga sedikit kagum akan wajah ayu putih dan mulus yang terawat milik sang maid. Bahkan helaian maid sementaranya itu juga tak luput dari pandangannya. Surai kecokelatan panjang yang berwarna sedikit pudar itu menjuntai ke bawah, beberapa mengenai wajahnya. Surai cokelat itu sedikit memiliki gradasi warna, beberapa helaiannya ada yang berwarna cokelat terang dan cokelat tua, bahkan ada yang nyaris berwarna putih seperti uban dan beberapa ada yang berwarna kemerah mudaan.

Tunggu dulu! Merah muda?

Sasuke mendengus masih dengan seringaian tipisnya. Otak jeniusnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu, membuat Sakura sedikit bergidik ngeri melihat seringai tipis nan menggoda miliknya.

Dan tiba-tiba juga Sakura bergerak bangkit dari posisi tersebut. Lalu segera merapikan seluruh penampilannya termasuk wig yang ia kenakan. sejenak ia bernapas lega karena wig tersebut masih terpasang sempurna menutupi identitas aslinya.

"Ah, ma-maaf Tuan. Tadi saya tak sengaja tergelincir dan menimpa Tuan dan... dan me-mencium Tuan Sasuke-sama..." Ucap Sakura gugup dengan suara semakin lama semakin melemah.

Sasuke sedikit mendengus geli melihat tingkah maidnya itu. Namun seketika topeng stoic kembali menutupi wajah tampannya.

"Hn, jangan ulangi." Tegasnya sambil bangkit dari posisinya. Ia merasa sedikit nyeri pada daerah punggung akibat kejatuhan seorang manusia dari lantai dua. Tapi dengan sempurna Sasuke pun bersikap seolah dirinya baik-baik saja dan berbalik untuk pergi.

Sakura menyadari itu. Gerakan sang majikan tak sesigap biasanya. Ia tahu pasti kejadian barusan menimbulkan cedera tersendiri bagi tubuh tuannya.

"A-apakah Tuan baik-baik saja?" Tanya Sakura cemas.

Berbalik, Sasuke menatap intens manik emerald indah yang mengkhawatirkannya. "Aku tak apa," jawabnya, "dan lupakan kejadian barusan. Anggap tak pernah terjadi!" Lanjutnya lagi sebelum kembali berbalik dan menjauh dari situ membiarkan Sakura menatap punggung tegapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Che, melupakan ciuman barusan? Oh ayolah... Bukannya dia yang justru asyik melumat bibirku, haha~" Sakura bergumam pelan sambil menertawai dirinya sendiri yang sesaat merasa terbang melayang oleh tingkah sang majikan tapi sesaat berikutnya jatuh berkeping-keping karena perkataan acuh tak acuh yang keluar dari bibir menggairahkan sang majikan alias calon suaminya itu.

Di sini dia kembali bernapas lega, karena di rumah ini tak ada orang lain lagi selain dirinya dan Sasuke. Jadi takkan ada yang melihat adegan erotis barusan. Ia menghela napas panjang dan dengan segera ia langsung merapikan buku-buku usang yang berjatuhan tak elite di lantai rumah megah ini. Tentunya ini juga akan menambah pekerjaannya, karena debu dan serbuk buku usang tersebut bertebaran dan beberapa lembar halamannya berserakan.

"Huffttt, pekerjaan yang melelahkan~" Sakura menggerutu tak jelas tapi tangannya masih sibuk merapikan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Hingga tanpa ia sadari ternyata ada dua pasang manik onyx yang ternyata tengah memperhatikan kegiatannya bahkan adegan kissingnya dengan sang majikan sedari tadi dari balik pintu.

"Haha ternyata mereka berdua sama-sama tsundere~" Gumam seorang pria dengan rambut perak melawan gravitasi yang terkekeh pelan memperhatikan Sasuke dan Sakura tersebut.

"Haahh, aku tadi sempat khawatir kalau-kalau Saki akan di maki-maki oleh Sasuke-sama..." Ujar nenek Chiyo yang juga salah ikut memperhatikan interaksi keduannya seraya menghela napas lega.

"Yah, tapi Sasuke justru membuat kita tercengang dengan kelakuannya yang tiba-tiba agresif pada maid baru itu. Dan kurasa maid baru itu adalah orang yang menarik." Ujar lelaki tampan di usianya yang semakin matang itu menimpali.

"Kau benar Kakashi, Saki memang gadis yang menarik dan aku yakin pasti bisa mengisi kekosongan hati Sasuke-sama selama ini. Yah, walaupun Saki hanyalah seorang maid..." Chiyo mengatakannya dengan kebanggaan tersendiri, tapi di akhir kalimat terselip nada sedikit pesimis.

"Baa-san tenang saja, aku yakin jika status tak akan menghalangi sebuah cinta sejati," Ujar Kakashi meyakinkan dan Chiyo seketika tersenyum mendengar perkataan bijak dari tangan kanan alias orang kepercayaan majikannya itu, "baiklah aku pergi, jangan bilang pada Sasuke jika aku kemari." Lanjutnya lagi sambil melenggang pergi dan melambaikan tangan kanannya pada maid kepercayaan keluarga Uchiha ini.

"Yah, baiklah... Aku tahu kau tak ingin repot orangnya." Jawab Chiyo yang memang mengerti benar sikap Kakashi yang tak ingin repot tersebut. Bagi Kakashi mungkin sudah cukup sibuk oleh urusan perusahaan yang dipercayakan Sasuke. Jadi mungkin Kakashi tak ingin terlibat terlalu jauh lagi tentang masalah pribadi tuannya itu.

Chiyo juga memutuskan berbalik dan berjalan menuju dapur karena ia harus menyiapkan makan siang.

.

.

"Haaah~"

Sakura menghela napas lega setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dirinya juga telah membantu sedikit pekerjaan di dapur bersama nenek Chiyo dan setelah itu dia diperbolehkan istirahat sejenak. Dan di sinilah sekarang ia berada, dalam zona pribadi alias kamar pribadi baru yang ia tempati untuk beberapa waktu kedepan di kediaman calon suaminya ini.

Kamar yang berukuran setengah dari besar kamar kesayangannya di rumah itu cukup bisa membuatnya nyaman. Yah, walaupun di kamar ini hanya terdapat sebuah ranjang berukuran sedang dengan sebuah meja nakas dan sebuah lampu tidur di atasnya. Juga sebuah lemari dua pintu dan sebuah meja rias sederhana terdapat didalam kamar ini sudah lebih dari cukup bagi seorang maid seperti Sakura.

Sebelum terjatuh di ranjang empuk sementaranya, gadis manis Haruno itu terlebih dulu melepas celemek berenda dan wig yang setia ia kenakan selama di sini. Dengan sembarangan ia melempar wig pemberian kakaknya itu ke lantai, sungguh gerah memakai rambut palsu untuk menutupi rambut panjangnya yang tebal itu. 'Sumpah, rasanya benar-benar gerah!' Pekik innernya.

Setelah melepas segala atribut penyamarannya, dengan cepat ia menjatuhkan diri di ranjang hingga menimbulkan suara gedebuk yang terdengar jelas. Dirinya butuh sedikit merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum kembali bekerja.

Gadis musim semi itu menelungkupkan kepala merah mudanya di atas bantal. Ia menyesap dalam-dalam aroma bantal yang memiliki bau khas cukup menenangkan itu. Mungkin lain kali ia harus bertanya pada Chiyo tentang pengharum pakaian apa yang mereka pakai sampai benar-benar bisa membuat pikirannya tenang hanya mencium aroma sprei yang melapisi bantalnya ini.

Drrtt... Drrrtt! Drrtt... Drrrtt..!

Sakura tahu, ponsel butut milik kakaknya yang ia letakkan di atas nakas sebelah ranjang itu bergetar lama, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dengan malas ia menggerakkan tangan putihnya untuk mengambil benda tersebut.

Ia masih meraba-raba meja nakas sampai mendapatkan benda yang masih setia bergetar itu. Sakura sedikit mendongak dan menatap layar ponsel yang menampilkan penelepon bernama "Nii-chan ganteng."

Che! Sakura menggumamkan kata itu sambil mencibir "dasar narsis!" ejeknya. Kakak lelakinya sendiri lah yang menulis nama nista itu di mantan ponsel bututnya tersebut membuat Sakura mendengus geli sebelum mengangkatnya.

"Hallo, ada apa Nii-chan?" Tanya Sakura tanpa minat. Yeah, walaupun dalam hati kecilnya terbesit rasa rindu pada kakak lelaki tengilnya ini.

"Hei saku~ bagaimana kabarmu di sana? Apakah menyenangkan hem? Aku harap begitu~" Cerocos Sasori tanpa henti di seberang sana.

Sakura merotasi emeraldnya bosan, "che! Menyenangkan apanya? Menjadi pembantu itu tak enak tau, baka Nii-chan!"

"Haha, itu 'kan keinginanmu sendiri~" Sasori tertawa renyah membuat Sakura semakin mendengus kesal, "tapi, bagaimana dengan misi rahasiamu? Apakah telah membuahkan hasil?"

"Hem yahh, aku tak tahu. Karena aku juga belum lama di sini Nii-chan!"

"Well, kuharap dia cocok denganmu~ yaahh... Walaupun kata Itachi, adiknya itu sedikit mesum..." Timpal Sasori.

Sakura menegang mendengarnya. Mesum? Ia jadi teringat beberapa kejadian yang memang menjurus ke kata mesum yang dimaksud anikinya ini.

"Tapi aku tak akan membiarkannya, jika sampai memesumi imotou kesayanganku yang cerewet ini!" Lanjut Sasori serius.

"Haha, baka!" Sakura tergelak mendengar sifat sister complex kakanya kembali terlihat. "Oh ya, bagaimana kabar Kaa-san dan Tou-san?"

"Hem, mereka baru saja menghubungiku tadi..." Jeda sejenak, "mereka baik-baik saja dan mungkin akan lama di sana, dan... Mereka menanyakanmu."

"Lalu?" Tanggap Sakura penasaran.

"Lalu aku ceritakan saja kalau kau sedang dalam misi rahasia untuk mengintai bagaimana sikap calon suamimu~" Sasori menjawabnya riang.

Sakura tersedak air liurnya sendiri mendengar bagian ini, "baka! Kenapa kau memberitahu mereka?!" Semburnya kesal.

"Hei, tak usah marah-marah begitu! Toh mereka hanya tertawa menanggapinya dan setuju asalkan kau selalu aman, jadi kau tenang saja Saku."

"Dasar baka Nii-chan! Mulut ember! Tak bisa jaga rahasia, Huh!" Sakura masih tak terima, sudah terlalu banyak orang yang mengetahui misi rahasianya ini. Ia takut tak akan berjalan sesuai harapannya jika begini.

"Haha, baiklah maafkan aku. Kalau begitu sudah dulu yaa... Bye Saku~ moga hari-harimu menjadi pembantu di sana menyenangkan~ klik! Tuutt...tuut..." Sasori terkekeh sebelum mematikan teleponnya secara sepihak dan itu membuat Sakura semakin bersungut-sungut geram pada anikinya yang tak bisa jaga rahasia itu.

"Huh, dasar! Dia melarikan diri!"

Sakura masih kesal dengan Sasori. Tapi jemari lentiknya masih memegang ponsel butut milik kakaknya itu dan emeraldnya masih memandangi layar ponsel hitam putih tersebut. Ia membuka menu kontak, Sakura tak kaget saat mendapati hanya beberapa nomor hp orang terdekatnya saja di sana. Seperti nomor kedua orang tuanya, nomor kakaknya, nomor Itachi yang memang disuruh menyimpannya jika terjadi sesuatu. Dan nomor Sasuke, oh...ayolah, Sakura memilikinya karena Itachi yang memberikannya dengan dalih untuk jaga-jaga saja.

Dan seketika ia kembali berpikir saat melihat kontak sahabat pirang satu-satunya yang tertulis dengan nama piggy di sana. Sontak saja ia langsung teringat untuk menghubungi sahabat pirangnya itu dan ingin segera berkeluh kesah dengannya. Bagaimanapun juga Sakura butuh seseorang untuk bercerita lebih lanjut tentang ini.

Dengan cepat ia menelpon Ino. Tapi tak juga di angkat, membuatnya mendesah pelan dan akan mematikan panggilannya sebelum terdengar sebuah suara erangan di seberang sana menandakan telah ada yang menjawab panggilannya.

"Ah, pig? Bagaimana kabarmu?" Tanya Sakura antusias sambil mendudukkan diri menunggu jawaban dari sahabatnya.

"Ah~ Sa-Sakuraaa...? Ta-tapi aku sedang sibuk se...karang... Ah... Ah..." Jawab Ino di seberang sana dengan suara terengah dan terputus-putus membuat Sakura penasaran.

He, tumben dia tak memanggilku jidat? Batinnya bingung.

"Emm maaf mengganggumu, memangnya kau sedang apa sampai terengah begitu?"

"Uh~ na-nanti saja aku ceritakan, ah~ ah~ uh~" Desah Ino semakin menggila.

Sakura melotot sambil menahan napasnya. Sepertinya ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh Ino diseberang sana dengan desahan birahi begitu, siapapun pasti akan langsung menyadarinya, bukan?

"Hei, tapi aku ingin menceritakan sesuatu padamu pig!" Sakura masih bersikeras untuk berbicara pada sahabatnya tersebut. Ia tak peduli jika nanti Ino mengatainya sahabat yang tak mengerti kesenangan sahabatnya sendiri.

"Emmhh, okeeehh kita bertemu sajaaahh la-langsung, hyaa~ ah! Besok... Uh~ di cafe biasanya yahh... ahhh~ le-lebih cepat Sai-kuuunnhhh~ emmhh..."

"Hei, kau sedang bersama siapa pig? Siapa itu Sai? Bukannya terakhir kau masih jalan dengan Shikamaru? Hei-"

"Ah~ Klik! Tutt..tutt...!"

Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Ino justru semakin bedesah kencang sebelum mematikan teleponnya.

"Ck, sial! Si piggy itu benar-benar playgirl." Decak Sakura saat sadar jika sambungan teleponnya telah diputus sepihak oleh sahabat blondenya yang mungkin sedang bersenang-senang dengan pria yang entah dia sendiri tak tahu.

Menghela karbondioksida kasar, Sakura kembali meletakkan ponsel butut yang akan menemani hari-harinya itu di atas nakas sebelah ranjangnya dan setelah itu merebahkan tubuhnya pada pembaringan.

"Haaahhh~"

Lagi-lagi sebuah helaan terdengar sebelum gadis yang identik dengan musim bunga di Jepang itu memejamkan kedua matanya. Ya, yang harus ia lakukan sekarang adalah istirahat sejenak. Pikirannya juga butuh istirahat. Maka dari itu segala pertanyaan yang akan ia tujukan pada sahabat pirangnya itu harus disingkirkan sejenak.

Kedua manik hijau itu kini telah tersembunyi dibalik kelopaknya. Sakura terpejam, ia telah memasuki alam bawah sadar miliknya.

.

.

Beberapa puluh menit telah ia lewati dalam keheningan dan ketenangan sebuah mimpi. Sampai di dalam mimpi pun hanya terlihat bayangan wajah majikannya. Wajah tampan Sasuke selalu tampak dalam mimpi Sakura. Wajah yang arogan namun menawan itu sukses membuatnya terbangun tiba-tiba dan terduduk seketika.

"Hosh! Hosh! Hosh!"

"Ck, sial! Tidur pun aku memimpikannya..." Gumam Sakura masih mencoba menstabilkan napasnya yang terengah, "dalam mimpi, lelaki itu benar-benar memecatku secara tidak elite!" Lanjutnya lagi sambil mengusap bulir keringat dikeningnya.

Ya, adik dari Haruno Sasori itu bermimpi di pecat oleh majikannya setelah kejadian tadi. Ia bermimpi ditendang keluar dari rumah ini secara tidak manusiawi, yaitu disuruh pergi dari rumah ini oleh Sasuke dan hanya boleh dengan menggunakan pakaian dalamnya saja. Mengingatnya saja membuat wajah Sakura merah padam menahan malu. Benar-benar mimpi yang mengerikan dan memalukan marga Haruno jika itu benar terjadi.

"Che, benar kata Itachi-nii... Dalam mimpi pun dia juga tetap mesum!" Ucap Sakura lirih sambil mengingat-ingat beberapa kejadian mesum yang dilakukan oleh tuannya itu.

Dan yang terlintas dibenaknya adalah kejadian barusan dimana ia sempat dicium secara brutal oleh majikannya. Suatu kejadian yang tak pernah terlintas dibenaknya. Kini jemari lentiknya turut meraba bibir bawahnya perlahan seolah kembali menikmati kehangatan bibir sexy calon suaminya itu.

'Sial! Kembali membayangkan hal itu saja sudah membuat sesuatu di bawah sana berkedut-kedut liar!' Pekik innernya frustasi. Sakura memang tak menampik efek dari pesona seorang Uchiha, dari sentuhan bibir lalu saling melumat itu telah membuatnya gila seperti ini. Tapi tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkannya.

Tok! Tok! Tok!

"Ah- iya sebentar!" Seru Sakura panik mencari wig yang ia lempar sembarangan tadi.

Setelah menemukannya, dengan cepat ia memakainya tanpa perlu bercermin karena ia yakin telah menyembunyikan mahkota merah mudanya di balik wig dengan sempurna. Lalu ia berjalan mendekati pintu kamar dan membukanya. Dan betapa terkejutnya Sakura saat mendapati orang yang tadi memenuhi dunia mimpinya kini tepat berdiri didepannya.

Ia terkejut dan berdehem sekilas, "ehem, a-ada apa Tuan kemari?" tanya Sakura dengan tersenyum canggung.

"..."

Sasuke masih berdiri tegap dihadapannya dengan tatapan menilai, membuat jantung gadis yang sedang menyamar itu berdebar semakin kencang menyadari tatapan tajam sang majikan. Dan sebuah seringai tipis seketika muncul terpatri di wajah tampan Sasuke membuat Sakura bingung.

"Tuan?" Tanyanya sekali lagi, tapi Sasuke masih saja tak merespon melainkan hanya menyeringai sambil menatap area bagian depan tubuh Sakura intens.

"Leopard, eh?" Ujar Sasuke tiba-tiba.

Sakura tersentak, 'Leopard?' batinnya mengulangi. Dan seketika ia tersadar, langsung saja menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang ternyata kancing seragam maidnya terbuka tepat di bagian dada. Dan tentu saja itu mengekspose belahan dada mulus miliknya yang menyembul menggoda tersebut terbalut oleh bra motif leopard.

Sasuke semakin menyeringai lebar kala melihat maid dihadapannya panik.

"Da-dasar mesuuumm!" Refleks ia memekik.

"Hn, apa kau bilang?" Sasuke memicingkan matanya menatap Sakura yang menutupi tubuhnya sambil tertunduk dengan wajah merona.

Glek!

'Mati aku!' runtuk Sakura dalam hati menyesali perkataannya yang keceplosan barusan. Ia sangat tahu jika majikan adalah Raja di sini. Jadi... dirinya harus bisa menahan diri. 'Sabar Sakura, sabar...' Batinnya menenangkan.

"Ah, emm... Ti-tidak Tuan~" Cicit Sakura, "sebenarnya Tuan ada perlu apa dengan saya?" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan sembari kedua tangannya sibuk kembali mengkaitkan kancing seragamnya.

Bungsu Uchiha itu mendengus geli melihat kegugupan maidnya. Ia lalu melempar pelan sebuah kunci mobil pada Sakura dan di tangkap dengan sempurna oleh gadis manis Haruno itu. Sebelum Sakura buka suara, Sasuke langsung berkata.

"Sudah waktunya untuk menjemput Kei dari sekolah!"

Sontak Sakura langsung menoleh dan melihat jam dinding dikamarnya yang memang sudah menunjukkan pukul 11 siang kurang 15 menit. "Kenapa bukan Tuan saja yang menjemputnya?"

"Aku banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan!" Sahut Sasuke cepat seraya berbalik, "cepat kau lakukan! Jangan banyak protes! Sebelum Kei mati kebosanan menunggumu di sana!" Lanjutnya lagi sinis sambil berlalu pergi.

"Huh, dengan anaknya sendiri berkata begitu..." Gumam Sakura pelan sebelum beranjak dan segera bersiap untuk menjemput anak semata wayang sang majikan.

~oOOOo~

Sakura tahu, dia sudah sangat terlambat tiba menjemput Kei. Salahkan kondisi jalan raya yang super macet mengalahkan padatnya jalanan Ibukota.

"Kuharap Kei-kun masih setia menunggu di sana..." gumamnya cemas.

Kini Sakura sudah cukup lihai mengemudikan mobil mewah Sasuke, dia belajar dengan cepat. Setelah memarkirkan mobil di tempat parkir yang tersedia di halaman Sekolah Khusus Kanak-Kanak Konoha tersebut, dengan cepat Sakura keluar dan menyusuri halaman taman sekolah yang cukup luas itu untuk mencari sosok bocah tampan duplikat Sasuke yang berumur 4 tahunan di sana.

Namun nihil.

Ia tak menemukan Kei di sekitar sekolah. Bahkan Sakura telah berkali-kali mengelilingi halaman sekolah yang penuh dengan berbagai permainan anak itu tapi yang terlihat hanyalah beberapa orang dewasa yang lalu lalanh menjemput anaknya dan Sakura juga telah bertanya pada beberapa guru di sekolah ini. Tapi jawaban mereka semua sama, tak ada yang melihat kemana perginya bocah lelaki Uchiha itu.

"Huufftt... Kemana kau Kei-kun...?"

Desahan putus asa kembali keluar dari bibir mungil Sakura. Ia mencoba menenangkan diri dan duduk di kursi tepat bawah pohon rindang sebelah sekolah yang mengarah ke jalan besar.

Ia tak menampik jika Kei tak ditemukan di mana-mana karena memang dirinya terlambat 30 menit dari waktu yang seharusnya.

"Ck, apa yang harus aku lakukan dan katakan pada Sasuke nanti... Ah! Sasuke! Ya lebih baik ku telepon dia~" Seru Sakura di tengah keputus asaan yang melandanya.

Dengan cepat ia meraih ponselnya dan segera menghubungi sang Tuan.

"Hallo?" Sebuah suara baritone yang sangat familiar mengangkat telelon tersebut.

Sakura kembali tersenyum sumringah mendengar Sasuke mengangkatnya. "Ah, Tuan Sasuke-!"

"Ini siapa?" Tanya Sasuke di seberang sana memotong perkataan Sakura.

"Ini saya Saki Tuan." Jawab Sakura.

"Hn, Saki. Tahu nomor pribadiku ini dari mana?" Sasuke justru mengintrogasi Sakura di saat genting begini.

"Itu tidak penting Tuan! Sekarang yang lebih pen-!"

"Jawabanmu lebih penting!" Tegas Sasuke yang lagi-lagi memotongnya tak sabar.

Sakura merotasi kedua bola matanya bosan harus menanggapi pertanyaan klasik seperti ini.

"Dari Itachi-sama Tuan!" Sahut Sakura sebal.

"Hn, Itachi... Sekarang sebutkan apa masalahmu secara singkat karena kau telah mengganggu kesibukanku!" Ujar Sasuke panjang lebar.

"Ya Tuan, saya tak-!"

"Apakah masalahmu lebih penting dari pekerjaanku?" Tanya Sasuke sarkastik.

"Saya tak menemukan Kei-kun di manapun TUAANNN!" Pekik Sakura dengan penuh penekanan di akhir, habis sudah kesabarannya menghadapi majikan arogannya ini.

"APA!? Kenapa kau tak mengatakannya dari tadi, Hah!?" Tiba-tiba Sasuke juga memekik tak kalah nyaring dari Sakura.

"Kau selalu memotong perkataanku, baka!" Sungut Sakura refleks.

"Apa kau bilang?" Sasuke hendak marah mendengar perkataan Sakura yang mengatainya baka, tapi ia tahan. Sekarang situasi menyangkut hilangnya anak semata wayangnya. "Haahh, apa kau sudah mencarinya? Biasanya Kei menunggu jemputan sambil duduk di ayunan taman sekolahnya." Lanjutnya lagi setenang mungkin sambil menyandarkan tubuh tegapnya pada sandaran kursi kerja kebanggaannya.

Sakura langsung mengedarkan emeraldnya untuk menelisik sekitar, dan ia hanya melihat ayunan kosong yang bergoyang terkena angin. "Saya tak melihatnya di sana..."

"Baiklah, tunggu sebentar! Aku akan segera ke sana! Klik! Tuutt...tuuutt...!" Putus Sasuke sepihak.

"Yah... Baiklah..." Gumam Sakura lirih.

Yang harus ia lakukan sekarang adalah menunggu Sasuke seperti apa yang telah di perintahkannya. Karena Sakura tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Terlebih ini pertama kalinya terjadi dalam hidupnya. Apakah ia harus melapor polisi atas hilangnya bocah 4 tahun itu? Tentu tidak! Karena wajib lapor itu bisa diproses jika telah lewat 1x24 jam. Jadi memang lebih baik ia berdiam diri menunggu sang Majikan tiba.

Setelah menunggu kurang lebih 20 menit. Akhirnya Sasuke tiba di tempat Sakura dalam keadaan berantakan. Kemeja mahal yang selalu ia kenakan terlihat sedikit lusuh dengan bulir-bulir keringat yang membasahi tubuhnya. Belum lagi rambut ravennya yang mencuat kebelakang itu juga tampak berantakan dan poninya terlihat lepek karena beberapa ada yang menempel disekitar kening terkena keringat. Hal itu membuat Sakura tercengang.

"Tu-Tuan, kau... Menggunakan bus umum?" Tanya Sakura saat melihat Sasuke dengan tampang kusutnya baru saja turun dari bus kota yang penuh sesak oleh penumpang tersebut.

"Ck, mau bagaimana lagi? Mobilku sedang kau gunakan!" Jawab Sasuke malas sambil mendudukkan bokong di kursi tempat Sakura menunggu.

Sakura terkekeh geli karenanya. Membuat Sasuke menatapnya tak suka.

"Kenapa tertawa?" Sungut bungsu Uchiha itu sebal.

"Hehe tidak... Saya baru kali ini melihat Tuan sangat errr, berantakan."

Sakura jadi semakin tahu, bahwa dibalik sikap tegas nan congkak Sasuke, ternyata dia bisa terlihat begitu berantakan jika itu mengenai Kei. Bahkan majikannya yang memiliki harga diri setinggi gunung itu rela menggunakan kendaraan umum seperti bus yang penuh sesak demi menyusul kemari mencari anak semata wayangnya mengesampingkan harga dirinya.

Sementara Sasuke yang masih merengut sebal itu mulai mengedarkan onyxnya untuk menelisik sekitar sekolah anak lelakinya. Ia menghela napas berat saat melihat keadaan yang memang sudah sepi ini. Sepertinya seluruh guru dan murid memang telah lama meninggalkan bangunan tempat bermain dan menuntut ilmu bagi kanak-kanak tersebut.

"Apa kau sudah menanyakan keberadaan Kei pada guru di sini sebelum mereka pulang?" Tanya Sasuke.

Sakura mengangguk, "sudah, tapi tak ada yang tahu..." Jawabnya lirih dengan ekspresi sedih tergambar di wajah cantiknya.

Sasuke terdiam melihat raut wajah sendu Sakura yang turut merasakan sedih atas hilangnya Kei. Karena baru kali ini ada yang benar-benar peduli pada anaknya selain keluarga dekat dan maid yang bekerja bertahun-tahun untuknya. Biasanya para wanita maupun rekan bisnisnya yang sengaja berpura-pura baik pada anaknya hanya untuk menarik perhatiannya saja tak lebih.

Tapi Saki, dia seoramg maid yang baru beberapa hari lalu bekerja dengannya dan mengenal Kei, sudah langsung bisa akrab dengan anak lelakinya yang terkadang manja dan tak mau dekat dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi dengan Saki, Kei bisa menjadi bocah manis yang penurut dan ceria.

"Jadi... Kita harus bagaimana Tuan?"

Pertanyaan Sakura membuat Sasuke tersentak dari lamunannya. "Hn, tenang dulu. Mungkin Kei sudah dijemput oleh neneknya atau oleh Kakashi," jeda sejenak, "ah, Kakashi! Aku akan menghubunginya untuk memastikan." Ujar Sasuke menenangkan.

Dengan cepat ia meraih ponselnya di saku celananya dan menghubungi asisten kepercayaannya yang memang selama ini bertugas mengantar jemput buah hatinya. Sasuke sedikit berjalan menjauh saat akan menelpon Kakashi.

Tentunya hal itu membuat Sakura tak mengetahui apa yang mereka bicarakan di sana. Ia hanya melihat punggung tegap sang majikan sambil tersenyum tipis. Batinnya berkata kalau Sasuke adalah ayah yang baik untuk Kei, walau pria Uchiha itu sangat tidak peka terhadap anaknya yang memang butuh perhatian ekstra dari sang ayah.

Huh, kalau saja Sakura menjadi ibu Kei nanti. Ia pasti akan memberikan seluruh perhatian dan kasih sayangnya untuk bocah tampan tersebut. Memikirkannya saja sudah membuat wajah gadis bernama Sakura itu ber'blushing ria.

"Tidak! Tidak! Mikir apa kau Sakura... Itu 'kan masih lama..." Elaknya menepis pemikiran yang baru saja nangkring di kepala pink terbungkus wig tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Hn, kau kenapa?" Ujar Sasuke tiba-tiba.

"Ah, ti-tidak Tuan!" Jawab Sakura cepat, "jadi, apa katanya?"

"Ya, sesuai dugaan. Kakashi yang menjemput Kei dan mereka sekarang sedang berada di rumah kedua orang tuaku."

Sakura berbinar mendengar kabar baik tersebut, "syukurlah~ kalau begitu kita bisa pulang dengan ten- KRUUYUUKKK~" Tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring.

Sasuke mendengus mendengarnya, "Hn, pulang? Padahal cacing diperutmu sedang berdemo, eh?"

Gadis manis Haruno yang sedang menyamar itu semakin tertunduk malu, ia merutuki keadaan perutnya yang berbunyi sangat nyaring dihadapan sang majikan alias calon suami masa depannya itu. 'Che, benar-benar memalukannn!' Jerit innernya.

Gyuutt!

"Eh?" Sakura tersentak saat tiba-tiba tangan besar Sasuke menggenggam tangannya dan menariknya berjalan ke suatu tempat, "Tu-Tuan, kita mau kemana?"

"Kita harus membungkam cacing diperutmu." Jawab Sasuke sambil menyeringai masih terus menarik tangan mungil maid sementaranya menuju rumah makan terdekat.

Dan di sinilah mereka sekarang. Berada di depan sebuah warung makan sederhana tak jauh dari sekolah Kei di ujung jalan besar.

"Ramen?" Gumam Sakura saat Sasuke mengajaknya masuk ke dalam tempat makan sederhana bernama Kedai Ramen Ichiraku tersebut.

"Kenapa? Tak suka ramen?" Tanya Sasuke yang sudah menyamankan diri di kursinya.

Sakura menggeleng, "tidak, saya menyukainya... Hanya saja tak terpikirkan jika Tuan Sasuke juga menyukai ramen..." Cicitnya melemah sembari turut mendudukkan diri di kursi sebelah sang majikan.

"Hn, mau bagaimana lagi. Hanya kedai ini yang terdekat," Ujarnya terdapat jeda sejenak, "dan ramen adalah makanan favorite sahabat yang tak kuakui." Lanjutnya lagi sebelum memesan beberapa menu pada pelayan kedai ini.

Sakura hanya ber'oh' ria menanggapinya dan segera memesan bagiannya.

Tanpa mereka sadari ada seorang wanita cantik berhelai merah muda pekat yang tengah menatap tak suka akan keakraban keduanya.

"Hmm... Ternyata kau sudah bisa melupakanku eh, Sasuke-kun?" Desis wanita yang mengenakan mini dress berwarna merah terang itu sinis.

Wanita itu sebenarnya tengah menunggu seseorang, tapi perhatiannya tiba-tiba teralihkan saat melihat pria dari masa lalunya yang sedang berjalan terburu-buru sambil menggaet tangan seorang gadis yang mengenakan seragam maid di sana.

Ia masih terus saja mengawasi dengan tatapan tak suka, sampai ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk dan ia segera menjawabnya.

"Ah, hallo sayang... Apa? Kau tak bisa kemari? Oh baiklah aku saja yang akan ke sana... Tapi sebelumnya aku ingin melakukan sesuatu sebentar, kau tunggu saja, okey... Klik!"

Setelah menjawab telepon dari seseorang yang sudah di tunggunya, ia segera menaruh kembali ponsel miliknya ke dalam tas jinjing yang tengah dibawanya.

"Hmm... Karena aku ingin sedikit bermain-main denganmu Sasuke-kun~" Ucapnya dengan seringaian licik terpatri di wajah cantiknya.

.

.

~T.B.C~

.

.

Hei, bertemu lagi denganku Hezlin (^^)

Gomen ya lanjutin ff ini bener-bener lamaaa,, lebih satu bulan terbengkalai hehehe tapi sekarang udh aq lanjut kok... Semoga suka ya...

Oh yaa, ada readers yg tanya kapan lemonnya? Waduh, blom bisa aq pastikan nih kapan... Karena harus sesuai sama jalan cerita awal yg udh aq buat,, tapi pasti akan ada kok... Sepertinya di chap depan sudah menjurus ke bagian lemon sih, sepertinya loh yaaa~ hoho...

.

Sekali lagi makasih yaa untuk kalian yang udh mendukung diriku, dan juga yang udah RnR, fav dan follow ╮(╯▽╰)╭

Hezlin seneng banget sama antusias kalian akan ff buatanku ini, dan maaf kali ini gak bisa balas review satu-satu, soalnya lagi kejar setoran dan mata juga udah berat banget #plak hehehe

.

Special Thanks to:

Nikechaann, Laras921, YOktf, dsetyorini37, dianarndraha, Cherry853, Pearl-kun, mantika mochi, .967, suket alang alang, Azure Shine, megan091, , sakura uchiha stivani, Miura Kumiko, hanazono yuri, intanm, ayuniejung, imahkakoeni, caesarpuspita, An Style, crystallized blossom, Arisha Kyou, Nur520, Luca Marvell, , Blueyes pinkerest, sami haruchi 2, dinda adriani, aidan, Chichak deth, Guest, Guest, haruharuno, Guest, chcha, ayuharuno, ai, Uchi, Kura Sakura, Guest, Shinta.U, pink cherry, blue sky, uchiha lovers, hanna, F, , YashiUchiHatake, Guest, BaekhyunSaranghae, Heni, sakutira chan, Guest, toru perri, uchiha ciety, nacha, ongkitang, Tatzune UchiKujyo himawari, mutiara,

uchiha izumi, ongkitang, aieta cherry, Annisa852, Fransisca Tan, JungHa-chan, suzuki michiyo, saskey saki, Vya chan, hani, Guest.

Makasih udah RnR...

Jangan lupa RnR lagi yaa? Kritik dan Saran kalian, Hezlin tunggu

(╯▽╰)╭

.

Sampai jumpa di chap selanjutnya

(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯