TITLE : Fated to Love You

AUTHOR : Hezlin Cherry

RATE : M (For Save)

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Drama

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

.

.

Summary : Dijodohkan dengan pria tampan dan mapan? Jelas itu semua mimpi bagi setiap gadis. Tapi tidak untuk Haruno Sakura yang rela menyamar sebagai maid di kediaman calon suami yang tidak ia ketahui itu untuk membatalkan perjodohan ini. Pasalnya ia tak bisa terima jika calonnya itu adalah seorang duda anak satu. What the hell!?"

.

.

.

WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗

.

.

.

'A-apa ini? Sasuke -Tuanku, majikanku, calon suami masa depanku, menciumku?' Sakura menjerit dalam hati karena bibirnya tak dapat berbicara lagi setelah dibungkam oleh bibir pria Uchiha dihadapannya.

Sakura kaget atas perlakuan sang majikan yang tiba-tiba menyergapnya, menindihnya dan mengunci seluruh pergerakannya seperti sekarang.

"Hmmpphh-!"

"Uhhh~"

Hanya desahan kecil yang lolos dari bibir mungilnya yang telah ditawan tersebut. Gadis manis Haruno yang sedang menyamar itu mencoba mengunci bibirnya agar sang tuan tak dapat mengeksploitasinya lebih jauh lagi namun terlambat. Ia kini merasakan lumatan Sasuke semakin ganas dan menerobos masuk lalu mengobrak-abrik seluruh isi dalam mulutnya, mengajak lidahnya menari bersama dan bertukar saliva lebih intens lagi.

Sakura tak menampik ciuman Sasuke yang benar-benar membuainya. Ingin menolak, namun sisi lain hatinya menahannya karena menyukai sentuhan sang majikan.

Tapi ini salah!

Tak seharusnya seperti ini ... Ini tidak benar! Batin Sakura mencoba menyadarkannya. Tapi bagaimana cara ia menghentikan ini semua? Tubuhnya tak bisa digerakkan, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Bingung dan kalut itulah yang ada dipikiran gadis musim semi tersebut.

Sedangkan Sasuke semakin gencar menghujani Sakura dengan ciuman-ciuman memabukkan darinya. Ia semakin ganas dan bernapsu dengan napas memburu melumat bibir ranum rasa cherry sang maid. Bibir yang selalu membuatnya ketagihan semenjak bertemu seorang gadis berambut gulali di Bar waktu itu.

Sasuke terus melumat bibir menggairahkan dihadapannya rakus. Ia merasakan sensasi aneh yang telah lama tak ia rasakan. Ya, telah lama memang ia tak pernah menjamah tubuh wanita terlebih menginginkannya seperti sekarang ini. Telah lama juga ia memendam hasrat sialan yang selalu berhasil ia tekan selama ini, tapi entah mengapa hasrat tersebut kembali muncul kepada maid barunya yang selalu membuat dirinya tampak bodoh tak seperti dirinya yang biasa. Ia benci mengakuinya, kalau dirinya benar-benar menginginkan maid ceroboh yang selalu mengusik hari-harinya dengan tingkah konyolnya itu.

Ya, ia menginginkan gadis emerald ini sekarang!

Suara-suara lenguhan dan kecapan beradunya benda kenyal bernama bibir itu memenuhi kamar besar Tuan Uchiha. Pria onyx menawan itu masih terus melakukan aktivitasnya memagut bibir gadis dihadapannya walau hanya tindakan pasif yang ia dapatkan sebagai balasan dari Sakura yang hanya sesekali membalas pagutan Sasuke. Tapi itu tak menyurutkan gairah pria berumur 29 tahun tersebut.

Bahkan tangan kiri Sasuke masih sibuk menahan dan mencengkram kedua pergelangan tangan Sakura, sedangkan tangan kanannya mulai sibuk merambat dibalik blouse hijau yang dikenakan gadis Haruno itu tanpa melepaskan pagutan. Ia meraba perut datar Sakura sebelum merambat naik menuju kedua bukit kembar milik sang gadis. Hingga ia menyingkap bra yang dikenakan oleh Sakura dan mendapatkan sepasang benda kenyal yang sangat menggiurkan tersebut lalu meremasnya gemas.

"Akhhh-! ehmmn~"

Sontak saja hal itu mengundang pekikan tertahan dari Sakura. Sasuke semakin menyukai ini. Ia suka membuat maid di bawahnya memekik karenanya, sampai ia tersadar jika dari tadi dirinya tak memberi kesempatan gadis tersebut untuk bernapas. Dengan tak rela ia melepas pagutannya dari tadi dan membuat Sakura segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan napas tesengal.

"Hosh! Hosh! Tu-Tuan... A-apa yang-! Hmmphh-! Akh!"

Perkataan Sakura yang tersengal-sengal itu tak menemui akhir karena segera dibungkam kembali oleh Sasuke dengan bibirnya. Duda tampan satu anak itu masih belum puas mengeksploitasi bibir manis Sakura. Walaupun bibir itu telah memerah dan sedikit membengkak karena ulahnya, tapi ia tak peduli.

Masih dengan posisi menindih dan mengunci pergerakan Sakura dalam kungkungannya. Hanya dengan satu tangan, Sasuke berniat memuaskan maid di bawahnya ini. Ia kembali meremas-remas gemas kedua buah dada kenyal berukuran cukup besar milik Sakura secara bergantian seraya memainkan nipple sang gadis yang sudah sangat menegang keras bahkan nyaris menyaingi juniornya yang sudah dalam mode on dan mengeras dibawah sana.

Baru kali ini Sasuke melepas pagutannya, ia merambat ke area leher jenjang Sakura. Sesekali menjilat leher mulus tersebut dengan lidah kasarnya membuat Sakura memekik kaget.

"Kyaa~ Ahhhh-!"

Sakura sadar akan suara aneh yang keluar darinya. Dirinya menikmati setiap sentuhan majikannya ini. Sentuhan yang liar dengan sensasi aneh memanjakan setiap inci tubuhnya ini tak sanggup ia tolak. Walau hati kecilnya menganggap ini salah, tapi ia menikmatinya. Ia pasrah menerima serangan sang calon suami masa depannya ini. Bagaimana tidak pasrah jika sedari tadi kedua tangannya masih dikunci dan tidak dibiarkan bebas oleh tuannya tersebut. Sakura hanya bisa mendesah dan merem melek merasakan sensasi bibir dingin Sasuke dengan hawa hangat di dalamnya yang menyapu lembut bahkan menghisap-hisap kecil kulit lehernya membuatnya bagai tersengat listrik ribuan volt.

Gadis musim semi itu mati-matian mencoba menahan desahannya. Ia malu mengakui jika setiap desahan yang lolos dari bibirnya akan membuat tingkat keagresifan sang majikan semakin meningkat. Mungkin desahan sexynya itu telah menjadi candu bagi Sasuke, entahlah. Sakura tak ingin ambil pusing hingga tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan besar sang tuan yang sudah menyusup masuk ke dalam celananya.

Deg!

"Ahhnn...!"

Ia menegang merasakan tangan tersebut menyusup semakin dalam dan mengusap-usap daerah sensitifnya. Membelai bulu-bulu halus kewanitaannya yang selalu ia jaga selama ini dari pria asing yang selalu menginginkan tubuhnya hanya untuk kesenangan. Seperti sekarang!

Ini salah! Inner Sakura kembali menjerit mengingatkan.

"Ah! Tu-Tuan ... Tolong ja-jangan bagian ituuhh ... Ah-!"

Sakura mencoba menghentikan Sasuke, namun dipendengaran pria berusia matang itu justru rancauan Sakura yang meminta lebih.

"Hn, kau menyukainya, eh?" Bisik Sasuke dengan suara paraunya yang semakin terdengar sexy bagi Sakura, "baiklah, bagaimana kalau ini...!" Bisik Sasuke lagi kali ini sambil mencubit sesuatu berbentuk kacang yang lebih menonjol di antara kewanitaan Sakura dan mengakibakan gadis di bawahnya itu menggelinjang hebat seraya memekik tertahan merasakan serangan dadakan tersebut.

"Hyaaa~ Tuan! Ti-tidak...! I-ini salaaahhh!"

Gadis bermanik emerald itu kembali memekik, ia mencoba menghentikan pergerakan sang majikan yang semakin liar. Sisi terdalam hatinya mengatakan jika ini salah dan tidak benar.

Sasuke masih terus mempermainkan bibir bawah kewanitaan Sakura, ia tak peduli dengan perkataan gadis di bawahnya tersebut karena dirinya telah dibutakan oleh kabut napsu. Ia harus segera menyelesaikan ini, juniornya sudah semakin sesak, batinnya.

Dengan cepat Sasuke mencoba membuka resleting celananya sendiri dalam posisi tubuh yang masih mengapit Sakura. Tapi pergerakannya itu terhenti kala merasakan tubuh mungil di bawahnya tersebut bergetar hebat.

"Hiks~ Tu-Tuan... Hiks~ aku mohon hentikan~ hiks~!"

DEG!

Jantung pria satu anak tersebut serasa mencelos melihat penolakan yang begitu nyata. Penolakan sang maid sampai meneteskan air mata dari kedua bola mata hijau cemerlangnya yang kini tampak sayu dan meredup.

Onyx kelamnya yang sedetik lalu begitu gelap karena napsu, kini berangsur-angsur kembali menjadi dingin menatap kondisi sang maid yang sangat berantakan dengan blousenya yang sudah tersingkap ke atas dan terbuka memperlihatkan kedua buah dada mulusnya.

'Ck! Kuso!' Ia menggeram dalam hati sebelum tiba-tiba bangkit dari posisinya.

Membuat Sakura berhenti terisak dan melihat gerak gerik sang majikan dengan pandangan bingung dan ... sedikit lega.

"Kau bisa pergi!" Ujar Sasuke parau seraya memakai kembali kaos hitam kesayangannya.

Hal itu tak disia-siakan Sakura. Dengan cepat ia merapikan pakaiannya dan beranjak dari kamar sang majikan tanpa mengucap sepatah katapun. Ia pergi begitu saja dengan hati kalut tanpa memperdulikan tatapan tajam Sasuke yang hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam.

Kamar besar bungsu Uchiha ini kembali sunyi.

"Sial! Apa yang kulakukan?" Dalam kesendiriannya itu Sasuke menyesali perbuatannya, "aku ... aku telah membuatnya takut... "

"Papa..."

Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari anak semata wayangnya dan membuatnya menoleh kearah pintu kamarnya yang masih terbuka.

Benar saja, di sana telah berdiri sesosok bocah lelaki tampan memasuki kamar Sasuke.

"Ada apa Kei?"

Kei semakin mendekat ke arah sang ayah yang sedang duduk di atas ranjang kingsizenya.

"Kenapa Saki-bachan menangis?" Dengan polosnya Kei bertanya karena ia melihat Sakura yang setengah berlari keluar dari kamar ayanhnya dengan sedikit terisak dan bulir-bulir air mata yang membasahi pipi ranumnya membuat Kei penasaran.

Sasuke tertohok dengan pertanyaan anak lelakinya itu, "hn, papa juga tak tahu," jawab Sasuke bingung karena Kei dengan mata bulat besarnya menatapnya penuh keingin tahuan, "mungkin saja dia sedang ... bersedih." Lanjutnya lagi.

"Kenapa dia belsedih, papa?" Kei kembali bertanya.

"Hn, kenapa kau kemari?" Sasuke tak mengindahkan pertanyaan terakhir Kei, ia justru mengalihkan pembicaraan saat melihat sang anak kemari sambil membawa pakaian gantinya.

"Ah, aku mau mandi belsama papa~" Seru bocah 4 setengah tahun itu senang dan melupakan pertanyaan yang sebelumnya terlontar dari bibir mungilnya. Ia lebih tertarik menjawab pertanyaan sang ayah.

Sasuke terdiam, mandi bersama? Pikirnya. Memang benar jika diingat-ingat sudah lama sekali ia tak mandi bersama Kei dan membantu anak satu-satunya itu membersihkan tubuh. Tak ada salahnya kali ini memenuhi keinginan Kei, batinnya. Sasuke menggulirkan onyxnya menatap jam dinding bulat yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.

"Baiklah. Ayo mandi bersama." Ujar Sasuke seraya mengacak gemas surai raven sang anak dan disambut pekikan senang oleh Kei yang dengan cepat beranjak menuju bathroom yang berada dalam kamar ayahnya itu.

Cucu kedua dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto itu sudah mempersiapkan air dalam bathub dan mulai merangkak masuk ke dalam, tentunya setelah melepaskan seluruh pakaiannya. Ia asyik mempermainkan air tergenang tersebut sambil menunggu sang ayah.

Sasuke berjalan perlahan untuk menyusul anaknya yang tengah asyik bermain air di bathub, setelah tepat berada di dalam bathroomnya, tak lupa ia menutup pintu kamar mandinya tersebut. Tentunya ia tak ingin acara mandinya sampai terganggu oleh seseorang yang nanti tiba-tiba masuk. Setelah dirasa semuanya telah aman daan tertutup rapat, kini perlahan ia menurunkan celana boxer yang menutupi tubuh bawahnya.

Belum sempat Sasuke menanggalkan boxer tersebut sampai pangkal kakinya, ia dikejutkan oleh pekikan cempreng Kei.

"Ah! Itu! Kenapa tititnya papa membengkak!? Apa tadi disengat lebah?" Kei berseru lantang antara ngeri, takjub, dan penasaran akan bentuk kejantanan Sasuke yang berukuran sangat besar tersebut. Karena setelah dilihat-lihat benar-benar berbeda jauh dengan ukuran miliknya.

"Hah!?"

Sasuke mematung dengan wajah memerah panas. Ia benar-benar melupakan kondisinya yang masih dalam keadaan tegang ini.

Sungguh benar-benar anaknya ini sangat pandai dan jeli. Ck, sial! Sepertinya keputusan untuk mandi bersama anak seumuran Kei disaat dirinya tak dapat menuntaskan hasrat kelelakiannya dan menyebabkan sang junior terbangun enggan tertidur kembali itu adalah hal yang kurang tepat sekarang.

Dengan cepat Sasuke segera melangkah menuju bathub dan menenggelamkan sebagian tubuhnya disana tanpa menghiraukan tatapan penasaran Kei yang menuntut jawaban darinya.

"Papa kenapa tak menjawabku?" Cicit Kei lagi, "apakah tititku akan sebesal papa?"

"Ck, nanti kau akan menyamainya jika sudah dewasa Kei." Jawab Sasuke apa adanya, ia bingung harus menjawab apalagi.

"Apaa?! Hiiii, tapi aku takut kalau sampai sebesal itu~ aku tak mau..." Kei menggeleng takut, ia merasa ngeri jika sampai sebesar itu pikirnya polos.

"Huh, sudah tak usah dipikirkan! Sekarang kemari, papa akan membersihkan punggungmu!" Titah Sasuke menahan semburat merah sialan akibat pertanyaan konyol sang anak. Ia harus bisa menidurkan juniornya sesegera mungkin sebelum muncul pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya dari Kei.

Dengan antusias Kei langsung berbalik arah memunggungi Sasuke. Secara perlahan, Sasuke pun mulai membersihkan punggung mungil anak semata wayangnya itu. Dan ia juga sedikit rileks tak terlalu memikirkan kejadian barusan dengan maidnya. Untuk saat ini ia belum mau memikirkannya. Nanti juga mereka akan berinteraksi seperti biasa lagi, batinnya.

~oOOOo~

Sementara itu di tempat Sakura...

Ia sedang termenung memeluk lututnya dengan kedua tangannya dalam posisi berjongkok di atas ranjang. Ia masih memikirkan kejadian barusan.

Sebenarnya Sakura benar-benar tak menampik sentuhan sang majikan karena dia juga menyukainya. Bahkan menginginkan lebih, tapi tidak dengan hati kecilnya yang selalu menjeritkan kata 'salah' berulang kali.

Ya, kejadian barusan itu merupakan kesalahan, Sakura sendiri bingung akan pemikiran tersebut. Tapi dalam hati kecilnya sangat takut akan sifat sang majikan yang sebenarnya. Karena dia sendiri juga belum lama ini tinggal di sini dan mengenalnya.

Dan entah mengapa sang majikan tampannya tersebut berani menyentuhnya lebih?

Apakah memang itu adalah kebiasaannya?

Kebiasaannya yang dengan mudah dekat dan menyentuh wanita mana saja yang ia kenal? Entahlah. Sakura pusing sendiri memikirkannya. Bahkan membayangkan jika sang majikan memiliki kecenderungan seksual dekat dengan wanita lain saja sudah membuat ulu hatinya terasa ngilu.

Kepala pink berlapis wig yang sudah terlihat berantakan tersebut semakin tenggelam dalam lipatan kedua tangannya. Sakura semakin ragu dan mulai mempertanyakan keberadaannya di sini. Semula ia memang ingin mencari kejelekan calon suami alias majikannya itu lalu menolak perjodohan ini dan semuanya akan berakhir indah.

Itulah pemikiran simplenya saat datang kemari dan sebelum bertemu dengan Sasuke yang sesungguhnya. Sasuke yang dalam sekejap bisa membolak-balikkan hati serta misi awalnya datang kemari. Terlebih dia sudah mendapatkan bukti kejelekan Sasuke yang dengan mudah menyerangnya walau dirinya hanyalah seorang maid sementara di sini.

Apakah ia akan terus melanjutkan perjodohan ini atau memang harus menolaknya karena kejadian barusan?

Ah, dia benar-benar kalut. Sepertinya ia memang harus berbagi pada seseorang. Dan tiba-tiba terlintas bayangan sahabat pirangnya sedang nyengir kuda dibenaknya.

"Aku memang harus bertemu dengan Ino besok..." Gumamnya entah pada siapa.

.

.

.

Makan malam di ruang makan Uchiha bungsu kali ini benar-benar sangat sepi. Karena hanya ada Sasuke dan Kei yang tengah menyantap makan malamnya kali ini ditemani oleh Chiyo dan Kakashi yang berdiri mematung di sudut meja makan memperhatikan tuan mudanya menyesap makanannya. Biasanya ada Sakura juga yang walaupun bosan berdiri di pojokan hanya untuk menemani tuannya makan itu selalu melakukan tingkah konyol maupun canda tawanya sehingga membuat ruang makan ini menjadi lebih ramai dan hidup tentunya dengan cekikikan cempreng Kei juga turut meramaikan suasana, namun kali ini semuanya tampak bungkam.

Tanpa ada sosok Sakura di sana, ruangan ini benar-benar sunyi seperti tak berpenghuni. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Sebenarnya gadis musim semi itu mengaku tak enak badan pada Chiyo, sehingga malam ini hanya bisa makan malam di kamar tanpa bisa menemani majikannya. Tentu saja itu hanya sekedar alasan klise dari bungsu Haruno tersebut yang memang sengaja ingin menghindar dari Sasuke.

Sasuke sadar akan ketidak hadiran maid sementaranya yang beberapa menit lalu baru saja ia serang. Che! Mengingatnya saja sudah membuat wajahnya panas dan hatinya sebal. Sial! Ke mana maid menggairahkan itu pergi? Sampai tak memenuhi tugasnya untuk menemani makan malam kali ini. Kesal Sasuke dalam hati.

"Tek"

Tuan muda Uchiha itu telah selesai dengan makanannya, begitu pula sang anak. Melihat hal itu, dengan cekatan Chiyo langsung membereskan sisa-sisa makan malam sang majikan. Namun tangan renta wanita berumur lebih dari setengah abad itu dihentikan oleh Sasuke. Membuat Chiyo refleks menatap sang Tuan.

"Ada apa Sasuke-sama?" Tanyanya bingung.

Sasuke menatap manik onyx yang telah berumur dihadapannya intens, "mana Saki? Biar dia saja yang membereskan ini semua Baa-san!"

Chiyo tampak sedikit berpikir sebelum menjawabnya. Sedangkan Kakashi dan Kei juga turut memperhatikan.

"Saki sedang tak enak badan Tuan, ia bilang kepalanya sedikit pusing." Jawab Chiyo sambil kembali membereskan piring-piring di meja makan tersebut.

Sasuke berdecih pelan mendengarnya, "che, alasan."

"Maaf, apa yang anda katakan Tuan?" Ujar Chiyo yang sepintas mendengat gumaman Sasuke hanya saja tak terlalu jelas.

Tapi Kakashi mendengarnya dengan jelas itu pun hanya mendengus geli melihat kekesalan majikan kesayangannya itu.

"Hn, tidak. Kalau begitu kau bereskan semuanya."

"Ha'i." Sahut Chiyo.

Tiba-tiba Kei turut membuka suara. "Papa, aku ingin main ke kamal Saki Ba-chan ya...?" Ucap Kei takut-takut.

Sasuke yang akan bangkit dari kursinya langsung menatap bocah replika dirinya itu datar. "Tidak Kei," Sergah Sasuke, Kei langsung cemberut. "Setelah ini kau harus belajar dan langsung tidur." Lanjutnya lagi.

"Tapi aku sudah..."

"Papa yang akan mengajarimu." Tegas Sasuke sekali lagi seraya melenggang meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

Kei langsung sumringah mendengar sang Ayah akan mengajarinya. "Hem! Baik Papa~" Pekiknya senang seraya berlari menuju kamarnya untuk mempersiapkan buku-buku pelajarannya.

Sementara Chiyo dan Kakashi saling berpandangan sebelum keduanya tersenyum tipis melihat interaksi Ayah dan anak itu yang semakin dekat.

.

.

.

.

Nyaris dua hari sudah, Sakura menghindari sang majikan. Ia selalu bekerja secepat mungkin dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus berinteraksi dengan Sasuke. Entah mengapa ia tak bisa jika harus bertatap muka langsung dengan sang majikan. Ia tak bisa menolak pesona feromon berlebih yang menguar dari tubuh pria Uchiha tersebut. Toh majikan Uchihanya itu juga tak pernah menanyakan dirinya selama ini, jadi ... Sakura pun juga turut cuek menghadapinya.

Pernah saat Sasuke menyuruh Sakura untuk membuatkan coffee dan di antar ke ruang kerjanya. Saat itu Sakura ingin menolak dan menghindar dari sang majikan, tapi itu sungguh tak profesional, bukan? Oleh karena itu dia tetap mengantarkan coffee pesanan Sasuke ke ruangannya dengan berjalan mundur saat telah memasuki ruang tersebut. Bodoh memang kelakuan gadis Haruno yang sedang menyamar itu, untung saja dia juga sudah hapal tata letak ruang kerja sang majikan hingga ia berhasil meletakkan secangkir coffee itu dengan aman tanpa tersandung. Setelah itu pun ia segera undur diri tanpa menatap wajah tampan Sasuke yang sedang menatap aneh sekaligus sedang menahan dengusan geli melihat tingkah konyol maidnya itu. Dan tanpa Sakura sadari, hal tersebut justru menjadi hiburan tersendiri bagi duda tampan satu anak itu.

Untuk pekerjaan mengurus Kei pun Sakura dengan cepat menyelesaikannya. Walau kadang ia juga menemani Kei bermain, tapi jika ada Sasuke di sekitarnya maka akan dengan cepat juga Sakura undur diri. Setiap malam sebelum jam sembilan malam juga Sakura lah yang mempersiapkan seluruh kebutuhan putra semata wayang majikannya itu sebelum tertidur. Mengingat wajah polos Kei saat tertidur yang benar-benar mirip dengan Sasuke itu sungguh kembali membuat jantungnya berdebar hebat. Sakura harus bisa menahan gejolak dan debaran ini agar tak ada yang tahu.

Kemarin dia juga telah bertemu sahabat pirangnya -Ino- di sebuah Cafe yang telah mereka sepakati. Sakura menceritakan seluruh kisah nyata yang ia alami baru-baru ini, tentang siapa pria yang dijodohkan dengannya hingga ia benar-benar mengikuti ide gila gadis Yamanaka itu untuk menyamar menjadi maid di rumah calon suaminya tersebut. Tentu saja hal itu sukses membuat Ino terbelalak kaget mendengarnya, walau semula ia menganggap cerita Sakura itu berlebihan. Tapi akhirnya ia percaya juga oleh sahabat pinkynya tersebut.

Dan beginilah tampilan Sakura sekarang, ia sedang mondar-mandir menunggu jemputan sang sahabat sambil mengenakan baju serba minim dengan berlapis coat panjang untuk menyamarkan penampilan sexynya. Salahkan sahabat pirangnya yang mengajaknya clubing malam ini dengan dalih ingin membantu membuat Sakura melepas stress. Sebenarnya ia ingin menolak, bayangkan saja ia seorang maid dan ia akan pergi clubing malam ini? Che. Itu benar-benar tidak lucu! Tapi di sisi lain dirinya juga butuh hiburan, karena selama menjadi maid di sini, ia telah lama tak merasakan hiburan maupun hingar-bingar dunia malam yang telah lama ia tinggalkan.

Getaran ponselnya membuat Sakura meraih benda tipis persegi panjang tersebut, gadis emerald itu melihat satu pesan dari Ino kalau ia telah berada di depan gerbang Uchiha. Dengan cepat Sakura melesat dan mengendap keluar berusaha agar tak terlihat sang majikan. Tapi beruntung dirinya yang sudah berhasil keluar menuju lantai bawah dengan aman karena rumah ini sangat sepi, mungkin saja Sasuke masih sibuk di ruang kerja yang berada di lantai paling atas rumah ini.

Sakura hanya bertemu Chiyo dan meminta ijin kalau ia akan berkunjung atau bahkan menginap di rumah sahabat lamanya untuk malam ini. Di luar dugaan, Chiyo mengijinkannya asalkan sudah kembali besok pagi-pagi sekali kemari. Ternyata diam-diam maid senior tersebut juga peduli dengan kebahagiaan Sakura. Karena beberapa hari ini Sakura menjadi sosok yang sedikit pendiam, jadi tak ada salahnya jika mengijinkan maid baru tersebut keluar barang semalam pikirnya.

Sementara itu di ruang kerja Sasuke, ia merasa mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan gerbang kediamannya. Dengan cepat bungsu Uchiha itu berjalan mendekati jendela besar yang mengarah langsung ke gerbang utama rumahnya. Ia sedikit menyibak gorden yang menutupi ruangannya tersebut dan manik onyxnya segera menelisik tajam ke arah gerbang. Sepintas ia seperti melihat bayangan Saki yang masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang entah merek apa itu dan pastinya berwarna Hitam bias keUnguan jika terkena cahaya lampu.

Ia berpikir dan bergumam lirih, "untuk apa Saki pergi malam-malam begini?"

Ucapnya sambil melihat jam dinding yang bertengger di ujung ruangannya dan memperlihatkan bahwa sekarang pukul sembilan malam. Sasuke dengan cepat berbalik dan melangkahkan kakinya cepat. Ia harus menanyakan hal ini pada Chiyo sekarang juga! Batinnya.

Dengan langkah kakinya yang panjang dan cepat, Sasuke kini sudah berada di lantai terbawah kediaman mewahnya. Ia mencari-cari sosok maid senior kepercayaan keluarganya itu ke dapur dan tempat favorite wanita tua tersebut yaitu halaman belakang yang telah disulap menjadi pekarangan tanaman hias dan obat sekaligus tempat bersantai.

Namun nihil.

'Kemana perginya wanita tua itu?' Batin Sasuke bertanya-tanya, 'apakah sudah tidur? Tapi masih jam segini.' Batinnya lagi. Ingin bertanya pada Kakashi tapi tak mungkin karena pria berhelai perak melawan gravitasi itu tadi pergi setelah makan malam untuk urusan pekerjaan dan tak tahu jam berapa akan pulang.

Tak ingin berlama-lama mencari Chiyo, Sasuke segera bergegas menuju pos satpam di dekat gerbang utama rumahnya. Di sana ia akan mendapatkan informasi yang ia inginkan, karena Juugo dan Genma pasti tahu kemana perginya Saki yang ia lihat tadi.

Pria Uchiha yang semakin terlihat tampan di usianya yang semakin matang itu berjalan dengan perasaan kalut, penasaran, sekaligus tak tenang. Entah kenapa ia tak suka melihat maid barunya itu pergi keluar malam-malam begini tanpa sepengetahuan dan ijin darinya. Ia tak senang jika maid cerobohnya itu bebas dan bertingkah seenaknya sendiri. Ia sadar kelakuan Saki akhir-akhir ini memang berubah dengannya, cenderung tertutup dan pendiam. Tapi bukan berarti dia bisa bebas keluar masuk kediamannya tanpa ijin!

Che, bukan maksud Sasuke untuk mengekang pekerja di rumahnya, hanya saja ... Ia benar-benar kesal melihat Saki dijemput oleh mobil mewah barusan. Apakah yang menjemputnya tadi adalah kekasihnya? Mengingat Sasuke juga belum terlalu banyak tahu tentang Saki membuat berbagai pertanyaan konyol nangkring di otak cerdasnya. Dan Hei! Di sini 'kan dia adalah bosnya! Majikannya! Jadi Sasuke juga berhak tahu segala yang diperbuat oleh maidnya.

"Genma, Juugo!"

Kedua satpam rumah ini yang sedang asyik bermain catur itu pun segera refleks bangkit dari duduk nyamannya saat mendengar suara khas sang majikan memanggil namanya.

Seperti seorang prajurit yang sedang menghadap Komandan tertinggi, keduanya benar-benar berdiri tegak di ambang pintu pos sekaligus tempat tinggal mereka yang memang disediakan Sasuke.

"Ya, Tuan." Seru keduanya serempak.

"Apa kalian tahu, Saki pergi kemana?" Tanya Sasuke to the point.

Membuat kedua satpam berbeda helai rambut dan postur tubuh itu tertegun atas pertanyaan majikannya yang tumben-tumbennya peduli pada orang lain itu pun sejenak saling bertatapan sebelum keduanya menggeleng bersamaan.

"Maaf, tapi kami tak tahu Tuan." Jawab keduanya.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban kedua satpam kepercayaannya itu.

"Kenapa kalian tak menanyakannya!" Ketusnya lagi dengan nada sedikit meninggi karena tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

"Tadi dia hanya menyapa kami lalu segera pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi, Tuan." Jawab Juugo datar diikuti anggukan oleh Genma.

Sasuke menghela napas berat, tak ada gunanya ia berlama-lama di sini batinnya.

"Saya hanya melihat Saki dijemput dengan teman wanita asing yang berpakaian sangat sexy dan hot-! Aww!" Perkataan Genma yang sangat bersemangat dan menggebu-gebu itu berubah menjadi pekikan, saat tiba-tiba kaki besar Juugo menginjaknya dan menyadarkan perkataan Genma yang keceplosan itu. "-ma-maksudku dijemput oleh seorang wanita pirang ponytail, Tuan." Lanjut Genma lagi.

Sasuke sedikit terkejut mendengar pernyataan Genma, lalu sedetik berikutnya ia tampak menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis seperti sebuah seringai. Entah karena lega telah mengetahui jika Saki dijemput oleh seorang wanita, atau ada sesuatu hal yang lainnya. Entahlah apa yang ada di dalam pikiran Tuan muda Uchiha itu.

"Hn."

Hanya dengan gumaman khasnya, Sasuke pun mengakhiri sesi tanya jawab singkatnya tersebut, lalu berbalik meninggalkan kedua satpam yang tampak bingung akan ekspresi sang majikan yang berubah-ubah tersebut dan mereka berdua hanya saling pandang seraya menghendikkan bahu sebelum kembali melanjutkan permainan catur mereka yang sempat terhenti tadi.

Seraya berjalan kembali menuju rumahnya, Sasuke yang masih belum menghilangkan seringai di wajah tampannya itu merogoh ponsel dalam saku celananya lalu segera menekan kontak dan tampak menelpon seseorang.

"Hn, Dobe. Kau ada waktu malam ini?" Tanya Sasuke pada seseorang di seberang sana.

"Wahh, temeee~ tumben kau menelponku. Apa kau merindukanku~?" Bukan jawaban yang diterima Sasuke melainkan suara pekikan cempreng yang terdengar senang itu membuatnya mendengus dan berdecak kesal.

"Ck, jawab saja! Ada waktu atau tidak?"

"Akh, kau itu teme, tak ada basa-basinya sekali hahaa~. Uummn, yeaah aku sepertinya ada waktu, karena istri dan anakku sudah tidur duluan. Emm... Memangnya ada apa teme?" Cerocos Naruto panjang lebar.

"Hn, kalau begitu segera kemari! Temani aku ke suatu tempat! Aku tunggu 15 menit dari sekarang!" Titah Sasuke sepihak.

"Heh? Apa? Seenaknya saja kau memerintahku ttebayo!? Memangnya mau Kema-! Klik! Tuutt...tuuutt..." Belum sempat Naruto mengoceh panjang lebar tapi Sasuke telah memutuskan sambungan teleponnya.

~oOOOo~

Dentuman musik DJ yang menggelora dan membakar semangat serta aroma alkohol maupun parfum para pengunjung semerbak menjadi satu, menciptakan aroma khas yang semakin menyulut birahi serta suasana semakin erotic dalam sebuah Bar yang cukup elite dan pernah dikunjungi oleh pria Uchiha itu sesekali sebelum ini. Suasana tersebut telah menyambut keduanya.

Ya, kini pria tampan pemilik manik onyx mempesona dan sahabat kuningnya yang cukup tampan walau terlihat serampangan itu baru saja memasuki tempat yang terkenal sebagai sarangnya muda-mudi untuk melepas penat dan stress maupun hanya untuk bersenang-senang itu.

Mereka berdua telah menduduki kursi tepat dihadapan seorang bartender yang sedang sibuk menyiapkan minuman pesanan keduanya.

"Jadi, kau mengajakku kemari karena ingin melepas stress akibat terlalu banyak bekerja atau..." Perkataan Naruto terdengar menggantung di udara dan dibiarkan tanpa akhir olehnya yang sedang menyesap wine pesanannya. "Oh, ya... Kalau kemari kenapa kita tidak mengajak Sai?"

"Hn, kita tidak butuh si playboy itu karena dia tak akan membantu!" Ketus Sasuke seraya meletakkan gelas kosong wine yang telah ia sesap habis dalam waktu singkat.

"Ahaha, iya juga ya~ eh, memangnya kau ingin melakukan apa sih teme?" Dengan bodohnya Naruto kembali bertanya karena memang belum mengetahui niat Sasuke yang sebenarnya.

"Aku sedang mencari seseorang!" Sahut Sasuke cepat. Manik hitam sekelam malamnya sedang sibuk menyelidik seluruh ruangan ini.

"Eh, siapa yang kau cari?" Naruto turut mengikuti arah pandang sahabat ravennya itu dan turut mengitari seluruh penjuru ruang ini.

Ruangan yang penuh akan berbagai bentuk dan rupa muda-mudi yang saling bergoyang, bercumbu maupun bergelayutan mesra. Hingga ia melihat seorang gadis pirang ponytail yang juga sedang bergoyang tak kalah erotis dengan seorang pria pucat yang sepertinya itu adalah Sai, batin Naruto.

'Kampret! Itu memang Sai ttebayo! Sialan, dia si playboy beruntung yang selalu mendapatkan wanita cantik dan sexy!' Dumel Naruto dalam hati.

Tak jauh dari situ juga terlihat seorang gadis yang sepertinya familiar bagi Naruto. Karena manik biru lautnya menangkap siulet seorang gadis berambut merah jambu yang sedang asyik bergoyang erotis dengan seorang pria yang sialnya adalah kakak iparnya itu.

Eh, apa? Kakak iparnya? Naruto masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

'Mampus aku! Jangan sampai ia memergokiku sedang clubbing saat istriku sedang tidur di rumah, bisa mati aku ttebayo!' Batin Naruto menjerit gelisah dan ia harus berhati-hati agar kakak iparnya itu tak melihatnya di sini. Tapi ia harus memberitahukan posisi gadis pink itu pada Sasuke, siapa tahu memang gadis itu yang dicari oleh sahabat Uchihanya ini.

GLEK!

Menelan ludah berat, Naruto kembali berujar. "Apa ... kau mencari gadis pinky di sana teme?" Ujarnya seraya menunjuk ke arah gadis pink itu berdansa.

Dengan cepat Sasuke mengikuti telunjuk sahabat kuningnya itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang gadis musim semi yang waktu itu pernah berciuman dengannya saat ini sedang bergoyang erotis dengan seorang pria berambut panjang yang ia kenal.

"Kenapa dia bersama kakak iparmu dobe!?" Geram Sasukeenahan amarah.

"Aku juga tak tahu ttebayo! Aku malah tak tahu jika kakak iparku itu juga hobby clubbing, che! Sial penampilannya benar-benar menipu!" Gerutu Naruto yang juga baru pertama kali ini melihat kakak iparnya yang biasanya kalem kini tampak 180 derajat berubah menjadi lebih liar.

"Ck, sial!" Sasuke berdecak kesal dengan kilatan amarah terlihat jelas dalam kedua matanya yang memicing semakin tajam melihat goyangan erotis dan keintiman kedua orang di sana.

Terlebih gadis pink tersebut tampak merangkul pria itu hingga kedua dadanya bergesekan dengan dada sang pria. Dan hal tersebut sukses membuat Sasuke semakin geram, rahangnya mengeras, bibirnya mengatup rapat, hidung mancung Sasuke sudah kembang kempis menahan napasnya yang memburu dan kedua tangannya mengepal keras karenanya. Lalu dengan cepat ia bangkit dari duduknya hendak melangkah dan memisahkan pria bertampang seperti wanita itu dari gadis pinky di sana. Ia benar-benar tak suka melihat hal itu. Lebih tepatnya benci.

"Temeeee! Kau mau ke mana?" Pekik Naruto gelisah mencoba lebih keras dari dentuman musik yang menggelegar di sini saat melihat Sasuke yang dengan cepat bangkit lalu pergi menuju ke arah gadis musim semi dan kakak iparnya itu berada.

"Sial! Ini benar-benar tidak baik, baru kali ini aku melihat teme semarah itu!"

.

.

~T.B.C~

.

.

Yuhuuu~ bertemu lagi dengan diriku... Hehhhe gomen yaa Hezlin lambat updte, soalx bener-bener sedang sibuk dan ribet nih di DuTa, huufftt jadi utang FF pun terlalaikan... Di sela-sela kesibukan itu, Hezlin sempatkan untuk melanjutkan FF ini... Hezlin harap kalian menyukainya yaa walaupun agak aneh chap ini feelnya kurang, soalx ngerjakannya juga curi-curi waktu...

.

yossh yg membuatku tetap semangat menulis walaupun sedang sibuk itu adalah dorongan dan semangat kalian melalui review maupun yang juga sering PM Hezlin menagih dan bertanya-tanya kelanjutan FF ini hehehe... Dan untuk kali ini gomen juga gak sempat balas review dari kalian tapi udah Hezlin baca semua kok, makasih yaa...╮(╯▽╰)╭ baca review dari kalian bikin diriku senyum-senyum sendiri hehehe...

.

Untuk readers yg bertanya di chp brpa FF ini tamat? Waduh Hezlin jg blom bisa mastikan~ yg pasti ini bakalan jdi FF dengan konflik ringan yg cukup panjang, dan memusatkan cerita pd aktivitas SasuSaku (majikan dan maid) hehe soalx Hezlin suka pas masih bagian ini sih,, :D Untuk Meridx entar yaa, hihi tunggu terungkap semua + deal antar kedua belah pihak, langsung cusss deh ke pelaminan hehehe

Dan untuk Chichak deth...iyaa nih Hezlin suka juga kok baca FF KakaSaku,, apalagi yang Canon wuaahh, dapet bnget feelx kalo ceritanya tentang percintaan antara mantan sensei dan murid gituhh hihii..., tapi kalo disuruh buat FF KakaSaku sih belum kepikiran nih... Hemm tapi InsyaAllah kalo udh gak sibuk bakalan coba buat FF KakaSaku yaa,, tapi gak tau kapan hehehe...

.

Oke special thanks to:

Cherry Aiko, ayuniejung, respitasari, dinda adr, mantika mochi, wind-chan, mi gi cassiopeia ot5, UchiHaruno Misaki, Lhylia Kiryu, krystaljung13, pinktomato, Hitsugaya55, EmikoRyuuzaki-chan, sellasrds, Luca Marvell, Gue, Cherry Asta, arisahagiwara chan, YOktf, imahkakoeni, Yukiyamada, Zeesuke Hikaru, hanazono yuri, marlitayamato, NamakiShidota, Che-sii, intanm, , , Nikechaann, jey sakura, Ihfaherdiati892, JungHa-'ySasu, hanna, sami haruchi 2, cherryana24, hani gaemkyu, Lauwra, Tachibana Koyuki, suket alang alang, kilua akasuna, Chichak deth, uchi, guest, tomato man, glow, Aumu aida, 11, Azi-chan, guest, chcha, Aihara, pink cherry, Chichak deth, , ToruPerri, AdelELF, hani gaemkyu, mutiara, Niwa-chann, , kocchan, SoftPinkBlueDrak, anna, dianarndraha, pinky pinky, Anisa, SantiDwiMw, Yui-NyanNyan, saskey saki, Anna Pratiwi267, MrSHADOWS, Sasha Kakkoi-chan, cupscap, Grace-chan, sasu, BaekhyunSaranghaeHeni, Uchiha sakura, rie haruchi, La122, vannesawijaya17, Aiko, X-Kim, hanie gaemkyu, Chichak deth, Lauwra, Guest, saku, pink uchiha, Guest, dentysparkyu, haruno.

.

Sampai jumpa di chap selanjutnya (^^)

Jangan lupa review lagi yaa...

(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯