TITLE : Fated to Love You
AUTHOR : Hezlin Cherry
RATE : M (For Save)
PAIRING : SASUSAKU
GENRE : Romance, Drama
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Summary : Dijodohkan dengan pria tampan dan mapan? Jelas itu semua mimpi bagi setiap gadis. Tapi tidak untuk Haruno Sakura yang rela menyamar sebagai maid di kediaman calon suami yang tidak ia ketahui itu untuk membatalkan perjodohan ini. Pasalnya ia tak bisa terima jika calonnya itu adalah seorang duda anak satu.
.
.
.
WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?
.
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
↖(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗
.
.
Haruno Sakura merasakan sensasi dingin menerpa kulitnya. Ia sangat yakin bahwa ia tidak sedang telanjang saat ini -setidaknya itu yang ada dalam pikirannya sebelum ia membuka mata hijaunya-. Manik hijau klorofil itu menyipit sekejap ketika melihat cahaya mentari pagi yang menyilaukan datang dari arah jendela besar dihadapannya.
Eh? Tunggu dulu! Jendela besar? Bukankah kamar maidnya itu tak memiliki jendela sebesar sakarang.
Dengan cepat Sakura bangun dari tempat tidurnya tapi-!
"Ahh!?"
Ia tak bisa bangkit karena kedua tangan dan kakinya terikat di tiap-tiap ujung yang lebih gila lagi ia terikat dalam keadaan hanya memakai bra dan celana dalam saja?
'What the hell!?'
Otak cerdasnya segera berpikir cepat. Seingatnya ia semalam sedang clubbing bersama Ino dan ia berdansa dengan seorang pria berambut panjang. Dan...
Dan sekarang disinilah dia dalam posisi terikat setangah telanjang, jangan-jangan ia benar-benar telah melakukan cinta satu malam dengan pria gondrong itu.
TIDAK!
"Ugh~!"
Ia terus saja memikirkan hal yang tidak-tidak mengingat keadaannya yang sedang tak baik ini sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.
Tanpa ia sadari ternyata ada seorang pria yang sedang menatapnya tajam di sudut ruang asing ini.
Pria itu berdehem pelan hingga membuat pergerakan Sakura berhenti seketika.
Gadis bersurai pink itu merasa jantungnya tiba-tiba berdetak semakin keras. Ia mencoba memiringkan kepalanya untuk melihat seseorang pria gondrong yang tengah menatapmya penuh nafsu dalam benaknya.
Namun betapa terkejutnya Sakura saat melihat siapa yang sedang melangkah maju mendekatinya.
"Tu-Tuan Sasuke..." Kagetnya.
Ya. Pria itu adalah Uchiha Sasuke, majikannya alias suami masa depannya.
"Hn, dari mana kau tahu namaku?" Ucap Sasuke dengan senyum miring terpatri di bibirnya.
Sakura tersentak. Ia lupa kalau dirinya sekarang adalah Haruno Sakura dan bukannya Saki. Ia masih terdiam memikirkan jawaban yang tepat, namun Sasuke terdengar kembali berucap.
"Jelaskan siapa dirimu yang sebenarnya Pinky! Hn... atau Saki?"
Sakura semakin melotot mendengarnya. Terang saja Uchiha tampan dihadapannya ini sudah mengetahui identitasnya.
Ia berdehem sejenak untuk menetralisir kegugupannya.
"Dan tolong jelaskan juga! Kenapa aku terbangun dalam posisi seperti ini heh!" Lantang Sakura.
"Huh! Apa kau lupa? Bahwa semalam kau nyaris bercinta atau bahkan nyaris diperkosa oleh pria Hyuga itu bodoh." Sahut Sasuke tajam.
Sakura menegang mendengarnya, ia menegup ludah berat. Samar-samar ia memang mengingatnya, kalau semalam ia mabuk berat sambil menari dengan pria gondrong yang mungkin bernama Hyuga barusan.
"Lalu kau ... menyelamatkan aku?" tanya gadis manis Haruno yang identitasnya terbongkar itu dengan bodohnya.
Sasuke mendengus geli akan pertanyaan bodoh maidnya yang memang benar adanya itu.
Sakura sadar kalau Sasuke menertawakannya.
"Lalu kenapa kau tidak melepaskan aku dari sini? Aku kedinginan dalam kondisi ini semalaman bodoh!" Sungut Sakura kesal.
Lagi-lagi ia melihat Sasuke tersenyum miring.
"Hn, aku hanya ingin melihatmu terbangun akibat perbuatanmu sendiri."
Pipi Sakura benar-benar memerah dibuatnya. Ia benar-benar kesal bercampur malu mendengar sindiran pria menyebalkan yang sialan tampan dan memikat hatinya sejak beberapa hari lalu itu.
"Dasar mesummm! Bilang saja kau ingin berlama-lama melihat tubuh indahku ini 'kan?" Cibir Sakura.
Sasuke terkekeh mendengarnya. "Jika aku mesum, maka aku sudah memperkosamu semalaman." Balas Sasuke kalem, dan itu membuat Sakura semakin sebal.
"Baiklah. Tolong lepaskan aku dari ikatan ini Tuan Uchiha." Kesal Sakura memelas. Ia membenci ini tapi ia lebih membenci dirinya yang sedang berada dalam posisi memalukan seperti ini.
Sasuke hanya menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah ia juga sedang menagih kata-kata lain dari bibir mungil gadis pinky ini.
Sakura sadar itu. "Iya-iya aku akan menjelaskan siapa diriku setelah ini." Lanjutnya.
Dengan cepat Sasuke melepaskan ikatan yang membelenggu tangan mungil Sakura. Duda satu anak itu tak banyak bicara dan tiba-tiba ia melemparkan sebuah baju ganti berupa setelan kemeja dan celana jeans untuk Sakura.
"Pakai itu! DTan aku akan menunggumu di luar." Titah Sasuke seraya melangkah keluar dan menutup pintu.
Sakura hanya merotasi kedua bola matanya bosan. Ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk memakai baju dan merapikan penampilannya
Sampai Sasuke yang merasa telah menunggu terlalu lama dan mulai menjemput Sakura masuk ke dalam kamar itupun terkejut.
Ia mendapati kamar hotel tak jauh dri clubbing ini sudah kosong. Kemana perginya gadis pinky yang juga adalah Saki pembantunya itu.
"Ck, sial! Dia benar-benar melarikan diri dariku!" decak Sasuke yang melihat jendela besar dikamar ini terbuka dan ia lupa kalau kamar ini berada tepat di lantai dasar. "Hn, tunggu sampai aku menemukanmu pinky!" desis Sasuke geram.
.
.
.
Tuhan benar-benar masih menyayanginya. Karena kali ini ia berhasil lolos dari terkaman harimau jantan yang pasti akan menelannya bulat-bulat jika ia masih berada di sana.
Ya. Sakura kini tengah berada di kamar kesayangannya, berbaring di ranjang yang ia rindukan selama nyaris seminggu belakang. Tangannya sengaja ia singgahkan untuk menutupi Emerald indahnya. Napasnya masih tersengal-sengal akibat harus melarikan diri dengan berlari dan mencari taksi yang aman untuk pulang ke rumah ini. Yahh~ tentu saja setibanya di rumah ia harus berhadapan dengan kakak tengilnya yang menghujaninya dengan berbagai pertanyaan yang membuat kepalanya semakin berdenyut keras. Tentu saja Sakura tak menggubris sang kakak, ia langsung berlari ke arah kamarnya di lantai dua rumah ini dan menguncinya dari dalam.
Sakura tidak tidur. Ia hanya berbaring melepas penat dan tampak memikirkan sesuatu.
Tak lama terdengar suara ketokan di pintu kamarnya.
"Tok-Tok."
Sakura hanya diam. Ia hanya tak ingin diganggu.
"Saku? Kau baik-baik saja? Nii-chan benar-benar mengkhawatirkanmu!"
Suara Sasori terdengar memecah keheningan pagi ini.
"..."
"Demi Tuhan Sakura! Apa yang terjadi padamu?" Sungut Sasori frustasi.
Sulung Haruno itu benar-benar khawatir akan adik sematawayang yang paling ia sayangi. Karena Sakura tiba-tiba pulang ke rumah dalam keadaan berantakan bersimbah keringat dan tak berbicara apapun.
"Oh apa pria Uchiha itu melakukan sesuatu padamu? Sesuatu yang mesum? Cih sial! Ayah akan menelanku bulat-bulat jika ini benar!"
Sakura melotot mendengar umpatan kakaknya. Tapi ia masih diam mendengarkan sampai sejauh mana kakaknya mengumpat.
"Saku! Jawab aku! Jika memang pria Uchiha itu telah memperkosamu! Maka aku tak segan-segan menabuhkan genderang perang pada Itachi dan keluarganya!" Lanjut Sasori geram.
Sakura semakin tertohok mendengar umpatan kakaknya yang kelewat berlebihan itu.
"Tidak Nii-chan! Tidak seperti itu kejadiannya! Dan jangan ikut campur! Aku bisa menyelesaikan ini sendiri!" Pekik Sakura nyaring.
"Tapi-!"
"Aku bukan anak kecil lagi yang tak bisa menyelesaikan masalahku sendiri!" Lanjut Sakura.
"Baiklah jika itu maumu. Tapi kau harus tetap berbicara padaku nanti." Ujar Sasori seraya menjauh dari pintu kamar Sakura.
"Hah~" Menghela karbondioksida kasar, Sakura kembali berpikir. Ini semakin rumit batinnya.
"Apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku tidak mungkin kembali ke rumah itu lagi..." lirihnya. Ia benar-benar sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Sasuke yang telah mengetahui penyamarannya.
Ia benar-benar sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Sasuke yang telah mengetahui penyamarannya. Walaupun ia pasti akan merindukan duda tampan dan anaknya yang menggemaskan tersebut.
"Ah~ biarlah ini berjalan seperti air mengalir..." Gumam Sakura, "dan aku akan kembali fokus pada kuliahku hingga aku lulus nanti." Lanjutnya lagi sembari terpejam.
.
.
.
Sasuke si duda tampan satu anak itu masih tampak mempesona walaupun ia terlihat sedang kelelahan dan buru-buru.
Hal itu terlihat dari para karyawan wanita yang berpapasan dengannya sedang menatap penuh damba akan dirinya.
'Che! Ia benar-benar membeci hal ini' batinnya.
Bagaimana tidak? Karena baru kali ini ia menampakkan batang hidung mancung dan pesona Uchihanya di kantornya sendiri setelah beberapa bulan terakhir itu. Dan sekarang ia melangkah di koridor kantornya sendiri seolah seperti orang asing yang menarik perhatian banyak orang, terutama kaum hawa.
Bahkan ia tak tahu jika kantornya yang dahulu memiliki warna dinding Putih itu kini telah berganti warna menjadi orange? Membuatnya jadi teringat oleh makhluk kuning berisik penyuka warna orange alias sahabatnya sendiri.
'Ini pasti ulah Kakashi.' Sungutnya dalam hati.
Baru saja ia menekan tombol di dalam lift, ia melihat sekelebat bayangan wanita bersurai merah mencoba untuk masuk ke lift yang sama dengannya.
"Ah. Sasuke-kun~? Seru Karin riang. Sedangkan Sasuke hanya memutar kedua matanya bosan. "akhirnya kau datang juga kemari, aku sangat merindukanmu~" Lanjutnya lagi seraya berusaha memeluk lengan Sasuke. Tentu saja Sasuke langsung menghindar. Membuat Karin merengut sebal.
"Aku harap kau bisa lebih sopan terhadap atasanmu, Karin." Tegas Sasuke tajam.
Karin langsung mengkeret, ia tertunduk malu karena Sasuke menegurnya seperti itu. Biasanya Bosnya itu hanya pasrah menerima kegenitannya, tapi mengapa sekarang berbeda. Batinnya.
Sasuke melirik melalui ekor matanya mengamati tindak tanduk sekretaris genitnya yang sewaktu-waktu bisa saja melakukan tindakan nekad.
Ia berdehem pelan sebelum berucap. "Tadi aku melihat Tayuya di sekitaran kantor ini..." ucap Sasuke dengan pandangan tetap lurus ke depan.
Karin langsung menoleh cepat, ia benar-benar kaget nama mantan istri sang Bos tampannya itu kembali terucap.
"...apa kau tahu sesuatu Karin?" Lanjut Sasuke, Karin langsung berdebar. "Mengingat kau adalah teman lamanya dulu." Lanjutnya lagi.
Menaikkan kacamatanya yang sedikit merosot. Karin menjawab, "aku tak tahu jika ia di sini. Aku pikir ia masih berada di Kirigakure."
"Hn." Sasuke hanya bergumam menanggapinya sembari melenggang jeluar dari lift yang sudah berhenti.
Karin masih memandang punggung tegap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Genggaman tangannya terkepal erat.
'Tayuya sialan! Ia pasti ingin kembali menjerat Sasuke.' Batinnya kalut. Karena ia sangat tahu bagaimana perangai buruk mantan sahabatnya itu.
.
.
Itachi tahu benar, kenapa atmosfer ruang kerjanya ini terasa begitu panas. Sampai bulir-bulir keringat terlihat jelas mengalir menyusuri keningnya, padahal suhu AC di ruangannya ini cukup dingin.
Duduk pun terasa tak enak, sudah ia coba untuk kembali fokus menghadap layar laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya tapi nihil. Konsentrasinya hilang sejak tiga puluh menit yang lalu karena...
"Kenapa kau diam? Jelaskan semuanya padaku, Itachi!"
...adik semata wayang yang seenak udelnya sudah berada di ruangannya sebelum ia datang.
"Kau nanti juga pasti akan mengetahuinya Sasuke." Jawab Itachi kalem.
Padahal dalam hatinya sudah berdebar tak karuan. Ia bingung harus menjawab apa, bahkan otak cerdasnya mendadak buntu. Oh ayolah~ bagaimanapun juga Itachi adalah seorang manusia biasa yang tak luput dari dosa. Ia memang tahu hal ini akan terjadi, tapi tak secepat ini.
Bahkan hanya hitungan hari saja semua rencana besarnya dan sang sahabat juga melibatkan calon adik iparnya itu harus terbongkar.
"Che! Rencana apa yang kau sembunyikan dariku soal Saki?" Desis Sasuke tajam, "aku tahu kau pasti ada dibalik ini semua mengingat kau yang merekomendasikan dia untuk bekerja di rumahku." Lanjutnya kesal.
Terang saja Sasuke benar-benar kesal. Ia sudah sengaja kemari lebih cepat setelah menyelesaikan urusan kantornya tapi Itachi hanya diam dan sesekali terkekeh melihatnya.
'Sial! Ini tidak berguna!' Umpatnya dalam hati.
"Kita lanjutkan ini lain waktu Sasuke. Aku masih banyak pekerjaan!" Ucap Itachi seraya melenggang santai keluar ruangan ini.
Sasuke hanya diam. Ia sudah malas berargumen dengan kakaknya yang sok formal itu. Yah mereka memang akan bersikap formal jika itu di lingkungan kantor. Ia akan mencari tahu sendiri apa yang membuatnya penasaran selama ini.
Kali ini Itachi berhasil menghindari adiknya. Tapi ia harus tetap memikirkan alasan yang tepat jika nanti Sasuke akan menanyakannya lagi.
.
.
.
"Haruno Sakura. Aku harap bimbingan kali ini bisa mendapatkan kejutan darimu." Ujar seorang Dosen muda tampan yang menjadi dosen pembimbing Sakura. "Tapi nyatanya nihil, kemampuanmu dalam menulis skripsi semakin menurun!" Lanjutnya lagi.
Sakura Hanya tertunduk malu diceramahi di depan kelas yang notabennya masih banyak mahasiswa yang lalu lalang. Bungsu Haruno itu kembali mencoba menelan saliva yang rasanya begitu sulit. Ia tau jika akhir-akhir ini ia jarang mengikuti bimbingan karena misi pribadinya. Yeah sebenarnya ia juga masih belum ingin turun kuliah. Tapi daripada dia diam saja di rumah, malah membuatnya semakin teringat bayangan duda tampan Dari keluarga Uchiha.
"Ada yang ingin kau jelaskan padaku? Nona muda Haruno?" lanjut Dosen muda ber'name tag Rei Gaara itu serius.
"Ma-maafkan saya sensei. Saya memiliki banyak masalah akhir-akhir ini~" cicit Sakura.
"Patah hati, eh?"
BLUSH!
Seketika wajah Sakura langsung memerah mendengar perkataan dosen pembimbingnya itu. "Bu-bukan seperti itu sensei!" Sakura mencoba mengelaknya walaupun hal itu memang benar.
Sekilas sang dosen muda yang memiliki tato bertuliskan 'Ai' di keningnya itu tampak tertawa.
"Yah bagaimanapun juga aku harap kau bisa lebih mengutamakan pendidikanmu dari pada percintaanmu untuk saat ini." Titah sang Dosen sambil melenggang pergi meninggalkan mahasiswinya itu.
"Baik sensei." Jawab Sakura.
"Pffttt... " Ino yang berada tak jauh dari sana pun tampak menertawakan Sakura.
"Diam kau pig!" Hardik Sakura kesal.
"Yare-yare.... Jangan sensi begitu donk jidat~ kita memang harus fokus pada kuliah. Tapi kita juga harus memiliki kisah cinta sebagai penyemangat di dalamnya~" Lanjut Ino dan hanya dibalas dengan dengusan oleh Sakura.
"Ngomong-ngomong, sepertinya Gaara-sensei tertarik padamu jidat." celetuk Ino tiba'tiba.
"Ah, kau ini pig. Mana mungkin. Dia 'kan terkenal sebagai dosen berhati es."
"Haha ... soalnya baru kali ini aku melihatnya tertawa saat berbicara, dan itu hanya padamu."
Sakura hanya merotasi kedua manik Emeraldnya malas.
"Sudahlah, yang tadi jangan dipikirkan okey?" Hibur Ino mengalihkan pembicaraan. Ia tak tega juga melihat kemurungan sahabat pinkynya itu pasca kejadian maid-maidan yang ia sarankan padanya tempo hari. "lebih baik kita ngopi dulu yuk? Ku traktir~" lanjutnya lagi seraya merangkul bahu mungil sahabatnya.
.
.
.
.
Mengemudikan mobil ini memang memerlukan keahlian dan konsentrasi penuh. Terlebih jika di sebelahmu tepat, sedang berada seorang pria kecil tampan yang benar-benar cerewet dan ingin tau segala hal baru yang membuatnya penasaran.
Ya. Itulah yang dirasakan Uchiha Sasuke saat ini. Ia memijit pangkal hidung mancungnya saat sang anak kembali bertanya untuk ketiga kalinya.
"Papa nanti Kei ingin beli es klim pa~" Seru Kei riang berulang-ulang.
Sasuke hanya ber'hn'ria menanggapinya. Ia tak ingin membuat anak sematawayangnya kembali bersedih atas menghilangnya Saki. Mengingat Kei selalu menanyakan keberadaan maid barunya itu membuat kepalanya hampir pecah karena harus mengarang berbagai alasan untuk Kei.
Perjalanan mereka cukup panjang, setelah menjemput Kei pulang dari sekolahnya. Kini mereka akan mampir ke sebuah Mini Market yang cukup jauh untuk membeli beberapa keperluan.
Sasuke menghentikan mobilnya karena melihat lampu lalu lintas yang menyala merah. Ia mengambil botol air mineral dalam dashboard mobilnya lalu menegguknya pelan. Sampai indra pendengarannya mendengar suara cadel Kei yang bergumam lirih namun cukup jelas di telinganya.
"Wah~ kakak itu lambutnya sepelti bunga Sakula~" gumam Kei pelan sekaligus kagum sambil menolehkan kepalanya kearah jendela.
Sontak Sasuke langsung mengikuti arah pandang Kei yang ternyata benar, di sebelah mereka sedang berhenti sebuah mobil mewah yang kaca jendelanya terbuka dan menampilkan sesosok wanita cantik berhelai merah muda. Sepintas ia juga melihat seorang pria berambut merah terang disebelahnya.
Sial! Itu wanita yang selalu memenuhi bayang-bayangnya selama ini. Itu Saki! Batinnya. Namun gadis pinky itu sedang bersama seorang pria! Siapa dia? Apakah itu kekasihnya? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Sasuke. Ia semakin dibuat penasaran olehnya.
Duda tampan satu anak itu Ingin segera menghampirinya namun kondisi tak memungkinkan kerena mereka sedang terjebak lampu merah.
Tak lama lampu hijau pun menyala, semua kendaraan kembali melanjutkan perjalanannya. Termasuk mobil yang membawa Saki tampak memacu gas cukup kencang.
Sasuke dengan cepat segera mengikuti mobil tersebut, namun ia kehilangan jejak karena banyak sekali kendaraan yang melintas saat ini.
Lagi-lagi sebuah decakan kekesalan kembali lolos dari bibir tipisnya. Kali ini takdir benar-benar sedang ingin bermain-main dengannya. Disaat ia mulai menemukan wanita yang perlahan-lahan mengisi hatinya dan disaat itupula ia harus mencari keberadaanya sekali lagi. Semua itu karena kebodohannya. Iya, kebodohannya yang terlalu terburu-buru dalam bertindak sehingga membuat sang gadis menjauh.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk segera menemukan Saki -maid ceroboh yang selalu mengisi hari-harinya dan telah menipunya dengan identitas palsu itu.
.
.
.
~to be continued ~
.
.
. Alooohaaa Minaaa.. Apa kabarnya nihh? Maafkan Hezlin yah yg baru updte setelah 2 tahun Lebih menelantarkan fic ini. Sebenernya udh lama jg kok Hezlin ketik... tapi mood nya itu loh naik turun. Lagipula Hezlin skrg benar2 sibuK di duta. Jadi mohon maaf atas keterlambatan updte fic ini. Dan Hezlin sangat berterimakasih kepada kalian yg masih setia dgn fic ini. Selalu memberi semangat Lewat inbox agar updte lagi hehe Dan maaf ya gak bisa balas review satu2 disini.
Oke jangan lupa review nya ya... Biar hezlin semakin semangat membuat lanjutan fic ini. Dan maaf kalo ada typo yah maklum udh kama gk nulis hehhe. Sampai jumpa di chapter depan. Hezlin usahakan updte cepet Demi kalian walau gak bisa janji ya... 😀😆😅😁(・´з`・)
