Let Me Love You

Author : ChaKajja13

Cast :

Kim JongIn

Do Kyungsoo (Genderswitch)

Kim JongSoo (as KaiSoo child)

Other cast.

.

.

EXO fict. Newbie author

.

.

Don't bash. Don't like. Don't read. No flame

.

.

Mind to review?

.

.

Sebelumnya.. ..

Ting tong ..

"Eoh? Apa itu bell rumah kita?" Tanya Kyungsoo pada Jongin yang masih terperangah.

".."

"Hey! Kau melamun?" Kyungsoo mengibaskan tangannya di depan Jongin.

"Ah ya, s-sepertinya, biar aku buka," Jongin segera bangkit dari sofa dan menuju pintu rumah mereka.

'Bodoh! Bagaimana bisa aku terpesona oleh Kyungsoo? Ishh..' Jongin merutuki dirinya sambil terus berjalan menuju pintu.

Cklek

"Hai sayang~" sapa seseorang di depan pintu setelah Jongin membukanya.

"Eomma?"

.

.

*Happy reading*

.

.

"E-eomma, Appa, kenapa kalian kemari?" tanya Jongin heran karena kedatangan ibunya di hari minggu seperti ini, dan jangan lupakan tiga bungkusan yang dibawa masing-masing oleh kedua orangtuanya.

"Pertanyaan apa itu? Tidak sopan! Biarkan kami masuk dulu!"

"Aku kan hanya bertanya? Apa aku melewatkan sesuatu?"

"Annyeo-" belum sempat Kyungsoo membungkuk dan memberi salam, ibu Jongin langsung memeluk Kyungsoo, sedangkan Kyungsoo hanya menatap Jongin dan seolah berkata 'Siapa?'. Dan Jongin yang paham dengan tatapan itu hanya menjawab dengan bibir yang bergerak tanpa mengeluarkan suara 'Eommaku', sontak Kyungsoo membulatkan matanya-yang memang sudah bulat-terkejut.

"Eoh! Kyungsoo~ Eomma merindukanmu sayang.."

"Eomma," Jongin memanggil ibunya.

"Kyungsoo, dimana Jongsoo?" Jongin mendengus, ibunya tidak menjawab dan malah bertanya pada Kyungsoo.

"Jongsoo, dia menonton tv," jawab Kyungsoo sedikit canggung, belum pernah sama sekali Kyungsoo bertemu keluarga Jongin sebelumnya.

"Imo!" jika Kyungsoo memiliki riwayat penyakit jantung, Kyungsoo yakin sebentar lagi penyakitnya akan kambuh. Bagaimana tidak, jika setiap anggota keluarga Jongin yang datang langsung memeluknya. Sedangkan yang Kyungsoo lihat di belakang gadis muda ini, masih ada beberapa orang lagi. Jika Kyungsoo tidak salah hitung, 5 laki-laki dan 3 perempuan. Berarti 3 orang lagi yang akan memeluk Kyungsoo, begitu pikirnya. Baiklah mari kita tinggalkan kegiatan menghitung anggota keluarga Kim Jongin.

"Ini!" gadis muda itu memberikan dua paperbag kepada Kyungsoo.

"Ini apa?"

"Itu oleh-olehku dari China, semoga Imo suka," Gadis bernama Yijun itu tersenyum

"Terima kasih,"

"Mana untukku?"

"Tidak ada untuk samchon." Yijun melengos meninggalkan Jongin.

"Jongsoo-ya! Noona dataaang~"

"Dasar! Akh! Noona! Kenapa kau memukulku?" salah satu kakak perempuan Jongin menjitak kepala Jongin.

"Kau mengatai Yijun,"

"Memang dia seperti itu, wajahnya saja bak malaikat sepertimu, tapi nyatanya?"

"Yak! Kau juga mengataiku?" satu jitakan lagi berhasil mendarat mulus di kepala Jongin. Sedangkan anggota keluarga yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak adik ini.

"Akh! Noona! Silahkan masuk, appa, hyung, noona," Jongin mempersilahkan anggota keluarganya yang masih berdiri di ambang pintu. Kyungsoo terkekeh, membungkuk memberi salam saat satu persatu keluarga Jongin masuk.

"Bagaimana kabarmu?" seorang laki-laki tersenyum dan jika dilihat, mungkin ini appa Jongin karena usianya terlihat lebih tua dari anggota keluarga Jongin yang lainnya.

"Aah ne, baik" Kyungsoo membungkuk dengan sopan.

"Myeon.." kakak tertua Jongin berusaha menengahi. Jongin mengangguk setuju.

"Oke, eonnie," jawab Joonmyeon final.

"Hi sayang," benarkan dugaan Kyungsoo? Semua anggota keluarga Jongin yang perempuan memeluknya setiap akan masuk ke rumah. Kyungsoo akui semua anggota keluarga Jongin ramah dan baik. Kyungsoo senang melihat keributan kecil antara Jongin dan kakak perempuannya, terdengar gelak tawa anggota keluarga Jongin yang lain di dalam sana. Kyungsoo tersenyum, hatinya menghangat.

"Imo! " satu pelukan yang tiba-tiba mengagetkan Kyungsoo.

"Berhenti memeluk Kyungsoo! Changmin! Lepas, kau itu namja," sepertinya Kyungsoo mendapat tambahan satu pelukan.

"Oppa! Changmin hanya rindu Kyungsoo eonnie, kau ini!" Changmin melepas pelukannya saat imo kesayangannya membelanya.

"Diam Taemin!"

"Kau berlebihan oppa!"

"Iya, samchon berlebihan," Changmin mengulang kata-kata Imonya, dan langsung menciut nyalinya saat Jongin memberikan tatapan tajam.

"Ayo minnie-ah, kita masuk! Ada paman hitammu sedang marah," Taemin berbisik pada Changmin, memeluk Kyungsoo singkat dan segera berlari.

"YA! Aku mendengarnya!" Jongin berteriak.

"Aku sudah gila," Jongin merasa gila sekarang. Kyungsoo mengangguk lemah tanda setuju.

"Kemarin, usiaku masih dua puluh tahun," giliran Jongin yang mengangguk. Dan tanpa sengaja mereka menghela nafas lelah bersama dan berjalan malas menuju anggota keluarga lainnya.

.

.

.

"Kkamjongie~" gelak tawa Jongsoo yang berlarian di halaman belakang mengejar anjing berwarna coklat gelap itu terdengar di telinga Kyungsoo.

Keluarga Jongin baru saja pulang, setelah acara makan-makan. Kyungsoo bertugas membereskan piring dan Jongin yang mencucinya.

"Ini yang terakhir?"

"Iya,"

"Ternyata Jongsoo suka anjing," Kyungsoo berdiri di sebelah Jongin dan membantu mengelap(?) piring-piring yang masih basah dan menyimpannya di dalam rak.

"Siapa yang memberinya nama seperti itu?" Jongin menatap tak suka pada anjing kecil yang sedang bergulung-gulung bersama Jongsoo di atas rumput halaman belakang.

Dapur mereka memiliki tiga jendela kaca yang langsung mengarah pada halaman belakang.

"Aku rasa Jongin yang berusia dua puluh sembilan tahun yang memberi nama itu," Kyungsoo melirik Jongin dengan penekanan saat mengatakan usia Jongin.

"Bagaimana bisa? Namaku sama dengan anjing?" Kyungsoo tertawa melihat Jongin yang sebal tapi tangannya tetap mencuci piring. Terlihat seperti ibu-ibu yang mengomel saat semua bahan pokok naik harga. Oke, lupakan.

"Kenapa? Namanya lucu,"

"Lucu katamu? Lihat aku! Apa aku lucu?" Jongin menatap Kyungsoo sebal, Kyungsoo mengerjap polos saat tatapan mereka bertemu, kenapa Jongin ini.

"Lebih lucu kkamjong sih," Kyungsoo segera mengalihkan pandangannya, perasaannya aneh ketika mereka sedekat ini. Sepertinya Kyungsoo jatuh cinta, pipinya memerah beruntung Jongin tidak menyadarinya.

"Kkamjong itu, nama panggilanku yang lain," Jongin menjelaskan dengan nada pelan, tapi bukan berarti Kyungsoo tak mendengarnya.

"B-benarkah?" seketika Kyungsoo tertawa dan menutup mulutnya tak percaya, Jongin hanya memejamkan matanya menahan malu.

"Sudah kuduga. Ya tertawalah, yang keras!"

"Maaf,"

"Jadi kau benar tidak ingat?"

"Apa?"

"Kau temanku, tapi kau tidak ingat nama panggilanku?"

"Iya teman. Kita hanya satu kelas selama setahun, berpisah sembilan tahun, lalu bertemu di sini."

"Iya, itu memang benar. Aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Di usia dua puluh sembilan tahun," Kyungsoo setuju dengan Jongin.

"Eomma~"

"Iya Jongsoo," Jongsoo berlari menuju dapur dengan Kkamjong yang menggonggong berlari mengikuti Jongsoo.

"Boleh aku mandi bersama Kkamjongie? Dia juga kotor,"

"Jongsoo tanya appa ya?" Kyungsoo berjongkok di depan Jongsoo, dia mengambil rumput yang masih menempel di baju Jongsoo.

"Kenapa tanya aku?" Jongin mematikan kran air, menoleh pada Kyungsoo. Jongin senang tugas mencuci piringnya sudah selesai.

"Aku tidak bisa memandikan anak kecil," jawab Kyungsoo polos.

"APA?"

"Jangan berlebihan! Aku tak punya adik ataupun keponakan, memang anak siapa yang harus aku mandikan?" Kyungsoo mencibir reaksi Jongin yang berlebihan, tidak usah dengan nada seperti itu kan? Terlalu banyak nonton drama, pikir Kyungsoo.

"Boleh kan appa?" Jongsoo memasang wajah melasnya. Jika diperhatikan dari dekat, ternyata mata bulat dan kulit putihnya adalah turunan dari Kyungsoo. Tapi, tolong jangan tanyakan tentang hidung Jongsoo.

"Jongsoo boleh mandi dengan Kkamjong, asal appa boleh mengganti nama Kkamjong, bagaimana?" Jongin melakukan sebuah penawaran pada putranya sendiri. Dia ikut berjongkok di samping Kyungsoo.

"Kau masih peduli itu?" tak percaya Jongin masih mempermasalahkan nama anjing kecil ini. Yang dipermasalahkan namanya saja hanya menggonggong dan terus berputar di kaki Jongsoo

"Tentu saja." Kyungsoo menggeleng tidak percaya.

.

.

.

"Dia yang dapat nama baru, tapi kau yang senang," Kyungsoo mencibir Jongin di sebelahnya yang tersenyum menang saat melihat anjing kecil yang duduk bersama Jongsoo di atas karpet yang sedang menonton tv. Kyungsoo sedang mengingatkan Jongsoo agar tidak terlalu dekat dengan layarnya saat menonton tv. Sire tadi Jongin berhasil mengganti nama anjing itu menjadi Janggu, dan bagi Jongin, anjing itu menyukainya.

"Memanggilnya Kkamjong, membuat telingaku sakit,"

"Ckck," Kyungsoo mendengus, tapi sebaliknya, anjing kecil itu malah meonggonggong senang.

"Hey! Dia setuju. Dia menyukai nama itu!" Jongin menunjuk Jongsoo di bawahnya.

"Hey! Lihat! Dia menggonggong!" Jongin bersorak senang saat anjing kecil itu menggonggong menghadap Jongin.

"Anjing memang menggonggong Jongin," Kyungsoo meninggalkan Jongin dan menggendong Jongsoo ke kamarnya. Jongsoo yang sudah terlihat mengantuk diam saja saat Kyungsoo menggendongnya, tangannya ia kalungkan pada leher Kyungsoo.

.

.

.

"Jongin! Di mana cincinmu?" semua anggota keluarga berkumpul makan siang bersama di halaman belakang.

"Ah, i-iya. Aku akan mengambilnya sebentar," Jongin bangkit dari kursinya saat ibunya menanyakan cincin pernikahan Jongin.

"Aku akan membantumu." Kyungsoo juga berdiri tiba-tiba dan mengagetkan ibu Jongin.

"Kyungsoo?"

"Maaf,"

"Tidak apa. Pergilah!"

"Kenapa kau juga ikut? Memangnya kau tau di mana cincinku?"

"Tidak." Kyungsoo mengikuti Jongin masuk kamar yang diyakini milik mereka.

"Lalu?"

"Aku tidak tau satupun nama anggota keluargamu. Jadi, jelaskan padaku." Kyungsoo duduk santai di tepi ranjang memperhatikan Jongin yang sibuk mencari cincin.

"Baiklah. Eommaku bernama Kim Heechul, Appaku benama Kim Hankyung."

"Yang duduk di depanmu tadi, dia noonaku. Kim Jaejoong, dan suaminya Jung Yunho, mereka orangtua Changmin, Jung Changmin." Kyungsoo manggut-manggut, bibirnya menggumam menghafalkan nama-nama yang dijelaskan Jongin.

"Lalu, di sebelahnya lagi. Wu Yifan, dia suami dari noonaku, Kim Joonmyeon. Mereka orangtua Wu Yijun. Saat kecil, Yijun selalu memanggilku appa. Tapi tadi, dia memanggilku samchon."

"Hmm.. Lalu adikmu?"

"Bisakah kau membantuku dulu? Lalu kuberitahu nama adikku," Jongin menghampiri Kyungsoo dan melakukan penawaran.

"Kau ini! Iya. Akan kubantu setelah kau memberi tauku."

"Baiklah. Setuju!" Jongin mengulurkan tangannya membuat perjanjian.

"Setuju." Kyungsoo membalas tangan Jongin.

"Yang duduk di sebelahmu, adikku bernama Kim Taemin, dan kekasihnya yang di sebelahku bernama Choi Minho." Jongin merasa bingung saat tangannya menjabat tangan Kyungsoo, jantungnya berdegup, tidak seperti biasanya. Lalu segera menarik tangannya dan berbalik.

"Ini!" ia menyerahkan barang yang sejak tadi dicari Jongin.

"Di mana kau menemukannya?"

"Di laci, di dalam almari." Kyungsoo menunjuk almari besar berwarna putih.

"Kenapa kau tak bilang jika sudah tau?"

Kyungsoo duduk di kursi panjang, tempat di mana siang tadi semua keluarga makan bersama di sini. Meja besar dan kursi yang panjang itu terletak di halaman belakang dan terbuka. Kyungsoo tersenyum mengingat siang tadi, ditemani angin malam yang berhembus, sesekali ia menyesap secangkir coklat hangat di genggamannya.

"Kau belum tidur?" Kyungsoo menggeleng, Jongin duduk di sebelahnya. Di tangannya juga terdapat secangkir coklat hangat seperti milik Kyungsoo.

Slrrpp

"Rumah ini tak banyak berubah," Jongin menyesap cangkirnya.

"Kau pernah tinggal di sini?" Kyungsoo menoleh pada Jongin.

"Aku baru sadar tadi siang. Aku tinggal di sini saat masih sekolah dasar."

"Rumah yang besar,"

"Aku senang bisa tinggal di sini lagi. Saat aku sekolah tingkat menengah, appa menjualnya, usaha kami bangkrut."

.

.

.

(Other Side)

"Lu? Kau belum tidur?" perempuan itu tersentak saat merasakan pelukan di pinggangnya. Berdiri di balkon dan terlihat gelisah hingga tak menyadari langkah kaki suaminya. Dia, Oh Luhan, perempuan cantik dengan wajah yang menipu, dia terlihat lebih muda dari usianya.

"Apa Jongin dan Kyungsoo sudah di sini?"

"Mereka akan ke sini?"

"Tidak. Maksudku, apa mereka yang berusia dua puluh tahun sudah di sini?"

"Hmm.. Mereka belum menghubungimu?"

"Belum,"

"Sehun," tangannya masih setia menggenggam tangan suaminya yang tak beranjak dari pinggangnya, dengan kepala yang bersandar pada bahu Luhan. Mereka adalah pasangan yang memutuskan menikah di usia muda. Oh Sehun menikahi Luhan saat usia mereka sama-sama baru menginjak angka dua puluh.

"Ya?"

"Semoga yang kulakukan ini tidak salah,"

"Kau hanya berusaha membantu. Aku tau kau tidak ingin Jongsoo kecil mengalami apa yang dialami Kyungsoo dulu," inilah yang Luhan sukai, Sehun yang selalu pengertian, memberinya dukungan dan masukan. Meski mereka menikah muda, mereka malah saling memikirkan perasaan satu sama lain.

"Benar," Sehun tau, Luhan belum benar-benar berhenti gelisah. Ia mengecup pelan bibir istrinya, Sehun tersenyum saat Luhan membalasnya.

Chu~

.

.

.

"Jongin," Kyungsoo memecah keheningan, sesaat lalu mereka hanya diam. Mereka merasa canggung satu sama lain jika hanya berdua seperti ini, mereka teman yang sudah lama berpisah dan justru bertemu dengan keadaan seperti ini.

"Heum?"

"Menurutmu, kenapa kita bisa di sini?" Kyungsoo mulai bertanya, sepertinya ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.

"Aku, tidak tahu. Menurutmu?"

"Mungkin, sesuatu sudah terjadi sebelumnya," Kyungsoo merasa, sepertinya memang telah terjadi sesuatu sebelumnya. Ia merasa aneh sejak bangun tadi, Jongsoo yang menangis seperti merasa takut. Jongin yang tidak memakai cincinnya dan malah menyimpannya di dalam laci almari.

"Lalu, kau dan aku yang memperbaikinya?" Kyungsoo mengangguk, syukurlah Jongin mengerti maksud perkataannya.

"Anggap saja ini mimpi. Saat kita bangun tidur nanti, kita sudah kembali seperti sebelumnya," Jongin tersenyum dan menyarankan Kyungsoo agar melupakan apa yang sudah terjadi hari ini.

"Kau tidak suka di sini?"

"Aku hanya.. Maaf. Aku belum siap memiliki keluarga," Kyungsoo mengerti, meski sedikit kecewa mendengar jawaban Jongin.

.

.

.

"Yeoboseyo?" Jongin terbangun karena suara ponsel yang terus berdering di meja sebelah ranjangnya. Dia enggan untuk bangkit karena takut bahwa kejadian kemarin ternyata bukan mimpi, dan nyatanya, memang bukan mimpi.

"YA! Kim Jongin! Rapat dimulai lima menit lagi, dimana kau?"

"S-Siapa kau?" dengan suara paraunya dan masih terpejam, Jongin bertanya. Jongin saja tidak tau ini ponsel siapa? Ternyata, ini ponselnya.

"Astaga! Ini aku! Oh Sehun."

.

.

*Tbc/End?*

.

.

Annyeong, ada yg msh nunggu ff ini? *tengok kanan kiri*. Hehehe..

Maaf baru balik kuota abis, huhuu~. Maaf buat yg masih bingung,ini diatas moga udah paham dikit, maklum ya aku masih newbie ini. Chapter yg kmr krna masih pngenalan, jdi ini chapter 1 nya ya .. Heheh

Aku usahain update seminggu sekali biar ga pada lupa jalan ceritanya, oke. Maaf kalu gaje ataupun aneh, ini aja nulisnya smbil searching soal2 tes buat PMB, doain juga ya semoga aku bisa msuk ke Universitas yang aku tuju(numpang minta doa). Buat chingudeul jga, semangat semua ya..

Oiya gmn lgu barunya EXO? Y mskipun yg kdengeran cuma triakan fansnya masa, tpi aku suka. Tmen2 pda ska yg apa? Aku sukanya yg 'Hurt' #gadaygnanya.. Okelah, dtggu yg clean version aja ..

Makasih buat yg review, favorite, following, siders juga, soalnya menurutku g ada ff tanpa siders, betul?.

Big thanks to :

|yixingcom|zheazhiioott|sfa30|heekyumin91|zelomfg|hyuashiya|humaira9394|MrsParkCY61|exindira|babycrong|ViraaHee|kaisooship|kinannkinanti|NopwillineKaiSoo|kim hyunsoo|cute|dhyamanta1214|el|siscaminstalove|t,a|kkamjong|ryeolaakim|chocohazelnut07|oh chacha|

Makasih buat semuanya, yg mau kasih kritik saran, silahkan. Makasih *paipai n deep bow*

-ChaKajja13-