Let Me Love You
Author : ChaKajja13
Cast :
Kim JongIn (29 yo)
Do KyungSoo (29 yo)
Kim JongSoo (3 yo)
Oh Sehun (29 yo)
Oh(Xi) Luhan (29 yo)
Oh Sehan (3 yo)
Park Chanyeol (30 yo)
Byun Baekhyun (29 yo)
Park Chanhyun (12 yo)
Other cast.
.
.
EXO fict. Newbie author
.
.
Don't bash. Don't like. Don't read. No flame
.
.
Mind to review?
.
.
.
.
*Happy reading*
.
.
"Jongin, kau baik-baik saja?" Kyungsoo masuk ke dalam kamar mandi yang terbuka setelah mendengar seseorang tengah berusaha memuntahkan sesuatu. Kyungsoo segera mendekat dan memijat pelan tengkuk Jongin.
Sebenarnya setelah memasak untuk sarapan pagi, Kyungsoo segera pergi menuju kamarnya untuk membangunkan Jongin, suaminya. Tapi ketika masuk ke dalam kamar, Kyungsoo tak melihat Jongin di ranjangnya.
"Hmm," gumam Jongin.
"Kyungsoo,"
"Ya?" Kyungsoo mendengarkan Jongin, tangannya masih telaten memijat tengkuk Jongin agar meredakan rasa mualnya.
"Aku ingin.. Kita bercerai," Jongin berkata tanpa menatap Kyungsoo, menyingkirkan perlahan tangan Kyungsoo yang berada di lehernya.
"A-apa?"
"..."
Beberapa saat mereka terdiam, tak ada yang berbicara. Bahkan Kyungsoo masih berdiri di samping Jongin, seperti terhantam ribuan batu, begitulah perasaan Kyungsoo. Sedangkan Jongin hanya melihat Kyungsoo dari pantulan cermin di depannya, pandangannya sulit diartikan.
"A-aku.. Aku, akan bangunkan Jongsoo," Kyungsoo yang tergugu, berusaha menyadarkan dirinya sendiri, ia segera berbalik dan menuju kamar putranya.
.
.
.
"Yeoboseyo?"
Pukul sepuluh, seharusnya ia sudah dalam perjalanan menuju sekolah Jongsoo dan menjemputnya. Tapi ia malah duduk di kursi antrean rumah sakit, dia tak bisa menjemput Jongsoo untuk memastikan sesuatu.
"Lu,"
"Kyungsoo?" sahut seseorang di seberang sana.
"Lu.. Boleh aku titip Jongsoo? Aku tidak bisa menjemputnya,"
"Tentu saja. Tapi, kau baik-baik saja?"
"Aku hanya harus ke rumah sakit sebentar, setelah itu aku ke rumahmu."
"Benar kau tak apa?"
"Iya, aku hanya check up Lu," Kyungsoo berusaha meyakinkan sahabatnya itu. Kyungsoo merasa tidak enak karena selalu merepotkan Luhan.
"Baiklah, kabari aku jika ada apa-apa, oke?"
"Iya. Terima kasih. Maaf selalu merepotkanmu,"
"Hey! Selama aku bisa membantu Kyungsoo."
"Baiklah, hati-hati,"
"Ya, kau juga hati-hati,"
Piip
.
.
.
"Ahjumma, apa eomma sakit?" Jongsoo bertanya pada Luhan, karena saat ia bertanya kenapa ibunya tak menjemput, Luhan menjawab bahwa Kyungsoo ke rumah sakit.
Memang Kyungsoo yang selalu mengantar dan menjemput Jongsoo. Jongin tak pernah mengantar ataupun menjemput. Jadi, jika Kyungsoo tak bisa menjemput, Jongsoo akan dititipkan pada Luhan.
Luhan tak pernah keberatan jika Kyungsoo menitipkan Jongsoo padanya. Sehan juga tak pernah merasa bahwa Luhan akan mengabaikannya jika ada Jongsoo, Sehan justru senang, dia ada teman bermain.
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Luhan. Dengan Jongsoo dan Sehan yang duduk di sebelah kursi kemudi Luhan.
"Tidak, Kyungsoo eomma baik-baik saja," Luhan tersenyum pada Jongsoo, sebenarnya Luhan juga sedikit khawatir pada Kyungsoo.
"Tapi, tadi pagi eomma menangis."
"Eoh? Benarkah?" Luhan sedikit terkejut.
"Heum." Jongsoo mengangguk, wajahnya terlihat sedih.
"Tapi Appa tidak marah kan?" Luhan bertanya pada Jongsoo. Jongsoo belum bisa membedakan antara bertengkar dan marah.
Setiap kali Jongsoo melihat Jongin dan Kyungsoo bertengkar, Jongsoo menganggap bahwa appanya sedang marah.
"Tidak, appa diam saja. Appa juga tidak sarapan,"
"Jongsoo tenang saja, eomma Jongsoo baik-baik saja," Sekarang Luhan tau, Kyungsoo dan Jongin tidak sedang baik-baik saja.
"Eomma," Sehan memanggil ibunya.
"Ya, sayang?" Luhan tersenyum lembut kepada anak laki-lakinya.
"Sehan ingin ice cream, boleh ya?"
"Tapi Sehan dan Jongsoo belum makan siang," Luhan tersenyum pada Sehan, dan mengusap lembut surai putranya.
"Eomma~" Sehan merengek dan memasang wajah melasnya. Luhan tidak bisa mengatasi ini, mata rusa Sehan yang berbinar membuatnya tak kuasa menolak.
"Setelah makan ice cream, harus makan siang, arra?"
"Siap!" Sehan mengangguk dengan semangat.
.
.
.
"Annyeong eomma," Kyungsoo duduk dengan bertumpukan lututnya. Menyapa pusara ibunya, tersenyum sambil meletakkan seikat bunga yang disukai ibunya.
Do Ryeowook, eomma Kyungsoo, telah berpulang saat Kyungsoo masih mengandung Jongsoo dulu. Menjadi anak tunggal di keluarganya membuat Kyungsoo benar-benar merasa sendiri, appa Kyungsoo juga sudah berpulang saat usianya lima belas tahun.
"Apa kabar eomma?"
Setelah dari rumah sakit, Kyungsoo ingin mengunjungi makam ibunya, ia tak peduli teriknya matahari, dia hanya butuh tempat untuk bercerita.
"Maaf tidak datang bersama Jongsoo. Tapi, Kyungsoo datang bersama adik Jongsoo," Kyungsoo mulai bercerita. Matanya mulai berkaca-kaca.
Biasanya memang ia datang bersama Jongsoo. Jongsoo selalu bercerita banyak tiap berkunjung, tentang sekolahnya, teman-temannya, ketika Jongsoo mendapatkan bintang emas dari gurunya. Dan Kyungsoo selalu tersenyum mengingatnya.
"Usianya baru tiga minggu. Semoga dia tumbuh sehat, dan pandai seperti Jongsoo," Kyungsoo tersenyum dan menangis, tangannya mengusap lembut perutnya.
"Maafkan Kyungsoo, tak pernah membahagiakan eomma. Maafkan Kyungsoo yang selalu membuat eomma kecewa. Maaf," Kini Kyungsoo benar-benar menangis.
.
.
.
"Makan es mu, Chanhyun!" Baekhyun sedikit kesal, sejak tadi putranya tak menyentuh es krim di depannya.
Luhan pikir, tidak buruk juga menuruti permintaan putranya. Teman yang baik saat siang hari memang es krim. Tapi, ternyata Luhan salah. Saat baru memasuki kedai tadi, ia tak sengaja bertemu Baekhyun dan putranya Chanhyun. Luhan memilih bergabung bersama Baekhyun, tetapi malah seperti ini. Baekhyun berdebat dengan putranya.
"Tidak!" sedangkan Chanhyun hanya menjawab dengan wajah kesalnya.
"Tadi kau meminta kesini, tapi sekarang es mu tidak kau makan,"
"Aku tidak ingin ini eomma," ujar Chanhyun kesal dan menyodorkan mangkuk esnya pada Baekhyun.
"Ini es yang kau minta Chanhyun," Baekhyun kembali menyodorkan mangkuk itu pada Chanhyun.
"Baek," Luhan berusaha menengahi mendengar perdebatan antara Baekhyun dan putranya.
Sedangkan Sehan dan Jongsoo tak bergeming, mereka sudah tenggelam dalam dunianya. Sehan dan Jongsoo sudah sibuk dengan semangkok ice cream coklat didepannya masing-masing.
"Biar saja Lu! Aku ijin dari kantor untuk mengantarnya, tapi sekarang?"
"Tidak eomma, aku tidak mau rasa ini." Chanhyun menginginkan rasa pisang, tapi selalu saja seperti ini, ibunya selalu menggantinya sepihak dengan semangkok es krim dengan rasa strawberry.
"Tidak! Makan saja itu,"
"Baek, Chanhyun sudah besar. Biarlah dia memilih sendiri," bagi Luhan, Chanhyun memang sudah besar, usianya sudah duabelas tahun, bahkan tinggi badannya sedikit melebihi tinggi rata-rata anak seusianya.
"Sekali tidak ya tidak! Tidak mau makan, pulang saja!" Baekhyun mulai dengan nada tinggi. Suasana kedai yang bisa dibilang sangat ramai sedikit menyamarkan pertengkaran Baekhyun dan Chanhyun.
"Eomma melarangku memilih rasa pisang hanya karena eomma benci appa kan?" Matanya berkaca-kaca saat menyadari ia sudah berteriak pada ibunya, sungguh Chanhyun benar-benar tak sengaja.
"YAK! Anak nakal! Sudah berani kau?! Baiklah, pilih semaumu! Eomma tidak peduli," Baekhyun berdiri, wajahnya memerah hampir menangis, dan berlari meninggalkan Chanhyun.
"Eomma!" Chanhyun memanggil ibunya. Melihat ibunya tak kembali, ia menangis pada Luhan.
.
.
.
.
"Jongin! Hey! Kau aneh hari ini." Sehun menepuk lengan Jongjn. Menurut Sehun, Jongin hari ini aneh.
"Aku? Tidak, aku baik-baik saja," Jongin yang tersadar, hanya mengelak. Dia tak banyak tersenyum hari ini.
"Pesanlah sesuatu. Sepuluh menit lagi jam makan siang berakhir," Sehun mengingatkan.
"Kau sendiri, hanya pesan secangkir kopi."
"Hey! Kau tak lihat? Untuk apa aku makan siang diluar jika bekal buatan istriku begitu lezat. Memangnya kau?" Sehun menjelaskan. Di depannya sudah terdapat kotak makan berisikan nasi dan lauk pauk serta sayur di sekelilingnya, Sehun terlihat lahap memakannya.
"Diamlah,"
"Hargailah Kyungsoo.. Aku yakin dia selalu berusaha menjadi istri yang baik untukmu," Sehun sangat tau bagaimana hubungan antara Jongin dan Kyungsoo, mereka hanya bersama demi Jongsoo.
"Kau membuatku hilang selera." Jongin segera bangkit dan meninggalkan Sehun.
"Hey! Jongin!"
.
.
.
Cklek
"Aku pulang.."
Kyungsoo yang sedang memasak di dapur, mendengar suara pintunya terbuka. Ia menoleh pada jam dinding, pukul tujuh malam, Jongin sedikit lebih awal dari biasanya. Ia segera mematikan kompornya dan menghampiri Jongin yang sudah sampai di ruang tengah.
Sebenarnya Kyungsoo hanya memasak untuk Jongin. Ia dan Jongsoo sudah makan di rumah Luhan, karena disana juga ada Baekhyun dan putranya. Baekhyun membawa banyak menu, Baekhyun bilang semuanya masakan eommanya.
"Kau sudah makan? Aku baru selesai memasak. Aku juga sudah memasak air hangat untukmu,"
"Aku sudah makan." jawabnya dingin. Jongin juga tak menyapa putranya yang tengah belajar diatas karpet ruang keluarga.
Seharusnya sabtu malam dihabiskan dengan berkumpul dan bercanda dengan keluarga, tapi bagi keluarga Jongin dan Kyungsoo, hari itu tidak ada.
Kyungsoo sedikit kecewa mendengarnya, ia sudah memasak makan malam untuk Jongin. Meski Jongin tak menghargainya, Kyungsoo tetap berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang istri.
"A-ah baiklah."
.
.
.
"Jongin,"
Kyungsoo masuk perlahan ke ruang kerja Jongin setelah mengetuk pintu.
"Hmm," Jongin yang masih menatap laptopnya, duduk membelakangi Kyungsoo.
"Selasa besok, bisakah kau ke sekolah Jongsoo?"
"Apa dia membuat masalah?"Jongin tau Kyungsoo masih berdiri di dekat pintu, namun ia terlalu malas untuk berbicara menghadap Kyungsoo yang di belakangnya.
"Tidak. Sekolahnya mengadakan pentas seni. Dan Jongsoo-"
"Aku ada rapat." jawabnya final.
"Tapi Jongsoo akan tampil," Kyungsoo masih meyakinkan, ia mulai berjalan mendekat ke meja Jongin.
"Bisa kau diam?" Jongin menatap tajam Kyungsoo yang berdiri di sebelahnya.
"Kenapa kau begitu tak sukanya dengan Jongsoo? Dia putramu,"
"Ya, aku tak suka dengannya. Karena dia, aku harus bertanggung jawab padamu!" Jongin berdiri menghadap Kyungsoo.
"Siapa yang mengharuskan? Jongsoo tak salah. Kau dan aku yang membuat kesalahan. Aku bahkan tak pernah memintamu bertanggung jawab. Bukankah kau sendiri yang datang? Harusnya kau tak datang di flat ku waktu itu. Kenapa tak kau biarkan saja aku dan Jongsoo mati, huh?"
"Do Kyungsoo!" Jongin mulai terpancing hingga membentak Kyungsoo.
"Tak puaskah kau menghancurkanku? Aku kehilangan pekerjaan hingga harus bekerja di toko roti, dan kau tau berapa gajiku? Karena kau eommaku sakit-sakitan hingga meninggal, apa kau puas, huh?" akhirnya ia mengeluarkan semua isi hatinya.
Dulu ia harus mengakhiri kontraknya dengan perusahaan karena mengandung Jongsoo. Ia harus bekerja di toko roti, yang sebenarnya gajinya sepertiga dari gajinya di perusahaan. Ibunya yang mulai sakit-sakitan sejak tau bahwa seseorang telah menghamili putrinya.
Akhirnya Kyungsoo berjalan meninggalkan Jongin yang terpaku. Jongin tidak menyangka, baru kali ini Kyungsoo benar-benar marah padanya. Entah kenapa, jauh di dalam hati, Jongin sedikit merasa sakit melihat Kyungsoo yang menangis karenanya.
.
.
.
.
Berbeda dengan keluarga Jongin, keluarga Sehun dan Luhan justru menghabiskan waktu bersama menonton film dari kaset kesukaan Sehan.
"Lu,"
"Ya sayang," Luhan menjawab panggilan suaminya.
Luhan bersandar pada suaminya, dan Sehun mengalungkan lengannya pada bahu istrinya. Sedangkan Sehan ia berbaring di paha ibunya. Mereka memilih duduk di bawah beralaskan karpet dan bersandarkan pada sofa.
"Kau bilang Kyungsoo dari rumah sakit, apa dia sakit?" Sehun bertanya pada istrinya tentang keadaan sahabatnya yang sudah ia kenal sejak masih sekolah dasar.
"Kau tau Kyungsoo kan, dia akan selalu bilang baik-baik saja meskipun sedang tidak baik," jawab Luhan, dan Sehun hanya manggut-manggut.
"Tapi,"
"Tapi apa?" tanya Sehun.
"Wajahnya sedikit pucat hari ini. Aku rasa, dia menyembunyikan sesuatu," Luhan mulai mengingat Kyungsoo sore tadi. Kyungsoo memang terlihat pucat, dan sorot matanya berbeda.
"Hey Sehun! Bagaimana jika kita datangkan Jongin dan Kyungsoo dari masa lalu?" tiba-tiba Luhan mendapat ide. Baginya hubungan Jongin dan Kyungsoo dulu tak seburuk ini.
"Apa maksudmu? Aku tau kau menyayangi Kyungsoo, tapi kalau boleh jujur, idemu tidak buruk, tapi sedikit.." Sehun sedikit heran dengan tau Luhan menyayangi Kyungsoo, mereka bersahabat sejak duduk di sekolah menengah pertama.
"Apa? Kau mau bilang ideku konyol, huh?" Luhan segera bangkit dari bersandarnya pada tubuh Sehun dan menatap tajam suaminya.
"Tidak! Tidak! Bukan itu maksudku. Tapi, dimana kita bisa menemukan orang yang seperti itu?" Sehun hanya menggoyang-goyangkan tangannya di depan Luhan.
"Nenek Zhang!"
"Apa?"
"Kau ingat gadis China yang membuat Sehan takut?" Luhan menatap penuh harap pada suaminya. Sedangkan Sehun masih mengingat-ingat.
"Huang Zitao? Apa hubungannya," akhirnya Sehun mengingatnya dan Luhan tersenyum puas.
"Dia memberiku kartu nama dulu, dia bilang bekerja pada nenek Zhang. Dia bisa melakukan apapun yang kau mau,"
"Apa kau percaya?" tanya Sehun meyakinkan.
"Kita coba saja," Luhan tersenyum dan mengangguk antusias. Dan Sehun hanya menyetujui saja ide istrinya itu.
.
.
.
Jongin berniat kembali ke kamarnya setelah pukul sebelas malam, satu hal yang ia sadari hari ini. Dia sudah terlalu banyak menyakiti istri dan putranya. Kyungsoo benar, ini semua bukan salah putranya.
"Maaf, kita harus bercerai. Maaf terlalu banyak menyakitimu dan Jongsoo.." Jongin mendekati Kyungsoo yang sudah tidur dengan posisi miring menghadap tepi ranjang, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hingga wajahnya.
Jongin pikir, Kyungsoo sudah tidur. Ia berlutut mengucap maaf di depan Kyungsoo. Tak taukah kau Jongin, istrimu itu tak tidur. Kyungsoo membekap mulutnya menahan isakannya, dan tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap perutnya sesekali.
"..."
"Chu~" Jongin membuka sedikit selimut Kyungsoo, ia mengecup pelan kening Kyungsoo. Kyungsoo sedikit terkejut, baru kali ini Jongin mencium keningnya dengan lembut, Kyungsoo merasa kali ini Jongin benar-benar tulus melakukannya. Setelahnya, Jongin membaringkan tubuhnya di ranjang, ia juga memunggungi Kyungsoo.
Jongin maupun Kyungsoo, sebenarnya mereka belum tidur, mereka berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
Kyungsoo mendengar pintu kamarnya terbuka, Kyungsoo tau siapa yang melakukan itu. Perlahan ia merasakan ranjangnya bergerak. Jongsoo merangkak menaiki ranjang Jongin dan Kyungsoo. Kyungsoo tau, akhir-akhir ini setiap malam putranya akan selalu datang ke kamarnya.
Chu~
"Eomma.. Jongsoo sayang eomma, jangan sakit, jangan menangis. Jongsoo tidak suka, oke?" Jongsoo duduk di belakang punggung Kyungsoo, memeluk Kyungsoo dari luar selimutnya setelah mencium dan menyampaikan pesan nya pada ibunya itu.
Chu~
"Appa.. Jongsoo janji tidak akan nakal, tidak manja lagi. Hari ini Jongsoo dapat bintang emas dari seongsaengnim lagi. Jongsoo sayang appa,"
Kali ini Jongsoo beralih pada Jongin, ia juga menyampaikan pesannya dan mencium pipi Jongin. Jongsoo itu anak yang cerdas meskipun usianya belum genap tiga tahun.
Kecerdasan Jongin dan Kyungsoo yang menurun pada Jongsoo membuatnya sering mendapatkan pin kayu berbentuk bintang berwarna emas. Pin yang selalu disematkan gurunya pada seragam muridnya jika ia bisa menjawab pertanyaan.
Jongsoo berbaring diantara Jongin dan Kyungsoo, ia mengucap salam kepada kedua orangtuanya setelah menasukkan tubuhnya dalam selimut.
"Jaljayo eomma~"
"Eomma juga sayang Jongsoo, tetaplah jadi anak yang baik untuk eomma. Jaljayo~" batin Kyungsoo.
"Jaljayo appa~"
"Jaljayo aegi, mianhae," batin Jongin.
Jongin dan Kyungsoo tak bergeming, sebenarnya mereka sama-sama menangis. Ingin rasanya Kyungsoo merengkuh tubuh putranya, hanya saja Kyungsoo tak ingin puttanya melihatnya menangis seperti ini. Belum sempat Kyungsoo berbalik, ia merasakan ranjangnya bergerak.
"Maafkan appa Jongsoo.. Mianhae, aegi," Jongin berbalik dan segera memeluk Jongsoo dengan erat, menciumi setiap detail Jongsoo. Hatinya sakit mendengar putranya berjanji agar tak nakal ataupun manja dengannya lagi.
"Tidak. Jongsoo tidak nakal, Jongsoo anak appa yang baik dan pintar. Jja! Tidurlah yang nyenyak." Jongin menangis, mengecup kepala Jongsoo. Bahkan Jongin lupa bagaimana rasanya memeluk putranya, terakhir kali saat ia menikahi Kyungsoo, saat usia Jongsoo masih delapan bulan.
.
.
*Tbc/End?*
.
.
Annyeong.. Maaf telat update nya. Gimana? Masih bingungkah? Maaf ya klo kmr bnyak yg aku bkin bingung. Ini bisa di bilang flashback jga bisa, krna ini sehari sebelum kaisoo(20thn) dteng ..
Jdi 2 minggu lalu aku kena kclkaan kecil crtanya, dua jari tangan kiriku terpaksaa harus diperban, dan perbannya juga pas persendian alhasil blm bisa lanjut ff, seminggu cuma bisa pake tangan kanan aja.. #malahcurhat
Ini udah lanjut semoga g mngcewakan, heheh. Maaf untuk typo(s).
Big Thanks to:
|vionaaaH|exindira|NopwillineKaiSoi|zheazhiioott|humaira9394|yixingcom|beng beng max|DJ 100|ViraHee|JonginDO|Kim Yehyun|Ryeolaakim|Athena Park|siscaMinstalove|Guest|elfkaisoo|Ch-channie4ever|Lovesoo|
Makasih semua buat yang review, favorit, follow, guest, siders.
Oiya #HappyXiuminDay
Treeeet treeeeet #niupterompet.. Apalah ..
Makasih ya buat semuanya..
-ChaKaJja13-
