Let Me Love You

Author : ChaKajja13

Cast :

Kim JongIn

Do Kyungsoo (Genderswitch)

Kim JongSoo (as KaiSoo child)

Other cast.

.

.

EXO fict. Newbie author

.

.

Don't bash. Don't like. Don't read. No flame

.

.

Mind to review?

.

.

"Kamar ini lagi?" Jongin keluar dari kamar mandi dan menatap sekeliling kamarnya. Ia pikir kemarin itu hanya mimpi, ternyata tidak, ini nyata. Ia mencubit dan menampar pipinya, pipinya sakit, berarti bukan mimpi.

Jongin terbangun karena panggilan di ponselnya dan juga perutnya yang terasa seperti diaduk. Sudah dua hari ini ia mual dan muntah di pagi hari. Jongin mengacak rambutnya saat melihat jam dikamarnya menunjukkan pukul delapan.

"Tuhan, aku sudah gila," Jongin bergumam dan berjalan menuju almari besar di kamarnya. Ia memilah-milah beberapa kemeja dan jas disana. Sepertinya ia bekerja di sebuah perusahaan, pikirnya.

"Ah! Jika aku di sini, pasti Kyungsoo juga." saat memilih satu kemeja, ia melihat cincin yang tersemat di jarinya, ia ingat, kemarin ia tak sendiri disini. Dan ia, juga sudah menikah.

.

.

.

TOK TOK

Jongsoo menggeliat mendengar pintu kamarnya yang diketuk, kamarnya masih sedikit gelap karena gordennya belum di buka.

"Eomma, ireonna," Jongsoo menggoyang sedikit tubuh Kyungsoo disampingnya. Ranjang Jongsoo yang kecil membuat kaki Kyungsoo sedikit menggantung.

"Sebentar lagi eomma, Kyungsoo masih mengantuk." Kyungsoo bergumam, ia terbiasa dengan suara ibunya yang membangunkannya di pagi hari.

"Eomma," Jongsoo masih mencoba, namun tak ada hasil. Mendengar pintu kamarnya yang masih terus diketuk, ia bangun dari ranjangnya. Dengan sedikit berjinjit ia membuka pintu itu perlahan.

Cklek

"A-appa?" Jongso sedikit takut saat melihat Jongin di depan kamarnya. Apa appanya akan marah lagi? Apa ia terlambat bangun?.

"Hi sayang," Jongin berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya. Jongin tersenyum, sebenarnya Jongin menyukai Jongsoo, dia juga senang saat mendengar Jongsoo memanggilnya appa.

"Appa marah?" dahi Jongin berkerut, apa wajahnya terlihat marah? Kenapa Jongsoo bertanya begitu?.

"Marah? Tidak. Kenapa?"

Jongin sudah rapi dengan kemejanya. Sebenarnya ia kemari untuk bertemu Kyungsoo, tapi sepertinya Kyungsoo belum bangun.

"Karena eomma belum bangun,"

"Haha, tidak. Jadi benar Jongsoo tidur dengan eomma?" Jongin tertawa dengan jawaban Jongsoo.

"Heum," Jongsoo hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Jongsoo bangunkan eomma ya," Jongin meyuruh Jongsoo masuk untuk membangunkan Kyungsoo. Jongin menunggu di depan kamar.

"Eomma tidak mau bangun," Jongsoo kembali pada Jongin.

.

.

.

Kini giliran Jongin yang membangunkan Kyungsoo. Sebenarnya ia tak enak harus masuk ke kamar dan melihat Kyungsoo yang sedang tertidur, namun dengan terpaksa ia masuk.

"Kyungsoo, bangunlah," Jongin mengguncang tubuh Kyungsoo.

"Eungh," menurut Jongin, dialah yang paling tak bisa dibangunkan saat tidur, tapi disini ia bertemu dengan Kyungsoo yang lebih sulit dibangunkan.

"Do Kyungsoo!"

"Eoh! Kau! Jangan berteriak! Kau kira aku tuli?" Kyungsoo segera bangun, kepalanya terasa pening karena terbangun tiba-tiba.

"Kau tak juga bangun."

"Tunggu,"

"..."

"Semalam kau bilang, anggap saja ini mimpi. Tapi kenapa kau dan aku masih disini Jongin?" Kyungsoo mengingat percakapannya semalam dengan Jongin di taman belakang.

"Aku juga tidak tau. Kyungsoo, kau tau-"

"Tidak." Kyungsoo dengan sewot memotong cerita Jongin. Rupanya Kyungsoo masih kesal dengan Jongin yang membangunkanya seenaknya.

"Sehun menelponku, dia bilang aku ada rapat lima menit lagi. Dan membangunkanmu sudah lebih dari lima menit," Jongin menunjukkan ponsel yang dibawanya pada Kyungsoo.

Ia menunjukkan catatan panggilan Sehun tadi pagi.

"Kau menyalahkanku? Kenapa kau tidak berangkat sendiri saja?" Kyungsoo masih duduk di ranjang Jongsoo. Ia bahkan masih mendekap selimut di tubuhnya.

"Aku tak tau alamatnya,"

"Kau bisa tanya kan?"

Heran Kyungsoo, Jongin itu cerdas. Dan untuk hal yang seperti ini saja, tidak mungkin dia tak tau harus bagaimana.

"Lalu aku berangkat dengan apa?"

"Kenapa tanya aku? Kau bisa naik bus. Atau jika ada mobil, kau bisa pakai itu?" Kyungsoo merasa perutnya lapar, ia bangkit dari ranjang Jongsoo, merapikan sprei dan melipat selimutnya. Oiya, dimana Jongsoo? Jongsoo hanya menatap kedua orangtuanya di sebelah ranjangnya.

"Aku tak bisa menyetir."

"Kau? Tak bisa menyetir? Hahaha~" Kyungsoo berhenti sejenak. Apa ia tak salah dengar?.

"Jangan tertawa,"

"Eoh sayang, kau sudah bangun," Kyungsoo mengabaikan Jongin yang kesal karena ditertawakan, ia menghampiri Jongsoo dan mencium pipinya.

"Jadi karena itu kau membangunkanku?" Kyungsoo berbalik menatap Jongin di belakangnya. Jongin mengangguk antusias.

"Eoh astaga! Aku sudah gila," Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

.

.

.

"Appa,"

Jongin tersenyum mendengar suara Jongsoo, karena sejak tadi Jongsoo haya diam dan menurut saat dimandikan Jongin. Jongin bertugas memandikan Jongsoo, dan Kyungsoo yang akan membuat sarapan.

"Iya sayang?" Jongin dengan telaten menggosok seluruh badan Jongsoo. Jongin jadi ingat, saat dirumah, ia yang kadang memandikan Changmin saat masih kecil dulu, keponakannya. Tapi jika tidur, Yijunlah yang lebih sering masuk ke kamarnya diam-diam saat malam.

"Kenapa Jongsoo mandi dengan appa?"

"Kenapa memangnya?" Jongin mendudukkan Jongsoo di dalam bathub. Sebenarnya Jongin masih memakai kemeja dan celana kerjanya. Ia hanya menyingsingkan lengannya saja.

"Jongsoo tidak pernah mandi dengan appa,"

"Benarkah?" Jongsoo mengangguk. Jongin heran kenapa Jongsoo berkata begitu, jika Jongin adalah appanya, seharusnya ia juga sering memandikan Jongsoo.

"Kalau begitu, mulai sekarang Jongsoo akan mandi dengan appa setiap hari, otte?"

"Heum," Jongsoo mengangguk senang.

.

.

.

"Enak saja! Sudah mengganggu tidurku, menyuruhku mengantarnya, memangnya aku sopir?" Kyungsoo menggerutu di depan alat pemanggang roti, hanya ini sarapan yang bisa ia buat jika ingin cepat. Ia sudah menyiapkan tiga gelas berisikan susu di meja makan.

Kriing kriing

Kyungsoo mendengar ponsel Jongin berdering. Memang tadi Jongin menitipkan ponselnya pada Kyungsoo saat akan memandikan Jongsoo. Untuk berjaga-jaga jika Sehun menelponnya lagi.

"Yeoboseyo?" Kyungsoo merogoh sakunya, dan langsung mengangkat panggilan itu.

"Kyungsoo?"

"Ya? Maaf aku bicara dengan siapa?" Kyungsoo memang tak melihat nama yang sedang menelponnya.

"Ini aku, Sehun."

"Eoh! Hi Sehun," Kyungsoo senang, ternyata sampai sekarang, Jongin, Sehun dan dia masih berhubungan baik. Kyungsoo jadi merindukan sahabatnya Luhan yang juga istri Sehun. Kyungsoo juga merindukan sahabatnya yang lain, Baekhyun dan putranya Chanhyun.

"Dimana Jongin?" tanya Sehun.

"Dia sedang memandikan Jongsoo," jawab Kyungsoo. Ia meletakkan ponselnya diantara pipi dan telinganya karena ia mengangkat roti panggangnya ke piring.

"Benarkah?"

"Iya, itu benar. Sehun, bisa kau kirimkan alamat tempat kerjamu? Akan kuantar Jongin kesana,"

"Kau tidak mengantar Jongsoo?"

"Kemana?" Kyungsoo mengerutkan dahinya.

"Sekolah?"

"Jongsoo sudah sekolah?"

"Kyungsoo? Kau tidak terkena alzhaimer kan?"

"Haha.. Tidak, tentu saja tidak." Kyungsoo tertawa canggung dengan pertanyaan Sehun. Tidak, Kyungsoo tidak terkena alzhaimer, tapi dia merasa sudah gila.

.

.

.

Hening.

Jongin, Jongsoo dan Kyungsoo kini berdiri didepan dua mobil berbeda jenis di dalam garasi rumah mereka. Jongin yang sudah lengkap dengan kemeja berwarna biru laut dan celana panjang berwarna dongker, juga jas dengan warna senada yang ia sampirkan di lengan kirinya.

Jongsoo juga terlihat lucu dengan setelan seragam sekolah berkotak-kotak merah dan topi dengan warna yang sama, tak lupa tempat minum yang dikalungkan oleh Kyungsoo dilehernya.

Dan Kyungsoo, terlihat cantik dengan dress selutut berwarna peach, terlihat cocok di tubuhnya yang mungil. Dan lengan pendeknya yang menampakkan kulitnya yang halus dan putih.

"Jadi," Jongin memecah keheningan.

"Siapa yang menyetir?" Kyungsoo bertanya, ia menoleh pada Jongin.

"Kau," Jongin menjawab santai.

"Jadi kau benar-benar menyuruhku menyetir? Aku yeoja," Kyungsoo menatap tak percaya pada Jongin.

"Ayolah Kyungsoo, ini sudah siang. Aku tau kau yeoja, memang siapa yang bilang kau namja," Jongin melirik ponselnya, ini sudah jam setengah sembilan. Lima menit yang menjadi setengah jam. Jongin terkesima dengan penampilan Kyungsoo, teman kecilnya telah berubah menjadi perempuan yang cantik.

"Baiklah. Bawa Jongsoo dipangkuanmu, aku yang menyetir. Cepat masuk!" Kyungsoo mendengus, tapi tetap ia yang menyetir.

.

.

.

Kyungsoo memutuskan memilih sedan hitam yang terdapat di garasi rumah, menurutnya mobil itu mengingatkan pada mobil miliknya sendiri. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat kerja Jongin, dan selanjutnya menuju sekolah Jongsoo. Kyungsoo juga mendapat alamat sekolah Jongsoo dari Sehun.

"Sejak kapan kau bisa menyetir?"

"Aku mulai belajar menyetir saat usiaku lima belas tahun. Appa memberiku mobil saat ulang tahunku,"

"Appa mu memberimu kado mobil saat usiamu lima belas tahun?" tanya Jongin tak percaya. Kyungsoo bisa mendapat kado mobil? Ia saja yang mengajukan proposal agar orangtuanya mau membelikannya mobil, tak juga dikabulkan.

"Ya, itu benar. Kenapa?"

Jongsoo yang berada di pangkuan Jongin hanya menatap bergantian kedua orangtuanya. Ia tersenyum. Orang tuanya tidak bertengkar, bahkan mengantarnya ke sekolah bersama.

"Tidak. Hanya, keluargamu benar-benar kaya,"

"Haha.. Kekayaan tidak selalu membuatmu bahagia Jongin," Kyungsoo terkekeh, ia kembali menatap kedepan dan fokus menyetir. Lagi-lagi Jongin terpaku melihat Kyungsoo tersenyum. Eoh, sudah berapa kali kau terpaku Kim Jongin?

(Flashback)

Riuh terdengar dari dalam aula besar di salah satu sekolah dasar yang cukup elite di Seoul. Ya, hari ini adalah hari dimana mereka mengadakan pesta kelulusan bagi murid-murid kelas enam. Adik-adik kelas mereka yang memberi sambutan dan salam perpisahan. Dan acara penghargaan pada murid teladan.

"Yeoboseyo?" seorang siswi bertubuh mungil, duduk diantara deretan kursi para siswa terlihat sedang menunduk di kursinya tengah mengangkat panggilan di ponselnya.

"..."

Gadis mungil itu adalah Kyungsoo kecil. Gadis yang selalu mendapat ranking tinggi di kelasnya. Mata bulat dan tatapan polosnya, serta rambut hitam sebahunya yang dikuncir hanya di sisi kanan membuatnya terlihat lebih muda dari umur aslinya.

Meski usianya baru dua belas tahun, sebenarnya tak heran jika ia sudah memegang ponselnya sendiri. Kyungsoo berasal dari keluarga yang bisa dibilang berada, appanya bekerja di sebuah perusahaan dan memegang jabatan tertinggi disana. Dan eommanya hanya ibu rumah tangga biasa.

"Eomma? Apa yang terjadi? Eomma menangis?" tanya gadis itu. Ia menutup sebelah telinganya agar lebih jelas mendengar suara di seberang sana.

"..."

"Iya, Kyungsoo akan pulang sekarang. Apa Jung ahjussi yang menjemput?" Kyungsoo mendapat panggilan dari eommanya. Sepertinya ada hal yang sangat penting hingga eommanya menelpon tiba-tiba.

"..."

"Tidak apa eomma. Eomma jangan meminta maaf, Kyungsoo akan keluar sekarang."

"..."

"Iya eomma, hati-hati. Kyungsoo tunggu di sini,"

"..."

"Iya, Kyungsoo juga sayang eomma,"

Piip

Kyungsoo menutup telponnya. Setelah mendapat ijin dari seonsaengnim untuk pulang lebih awal karena ada urusan mendadak, ia sedikit berlari menuju gerbang sekolahnya.

.

.

.

"Ahjussi, eomma baik-baik saja kan?" Kyungsoo menangis saat ternyata yang menjemputnya adalah Jung ahjussi, dan bukan eommanya. Jung ahjussi, ia adalah sopir pribadi keluarga Kyungsoo.

"Maaf, ahjussi juga belum tau Kyungsoo,"

Saat menjemput Kyungsoo, dengan terpaksa Jung ahjussi mengatakan bahwa eomma Kyungsoo mengalami kecelakaan saat diperjalanan akan menuju sekolah Kyungsoo. Dan Kyungsoo yang tidak percaya hanya menangis. Kini ia dibawa oleh Jung ahjussi menuju rumah sakit tempat eommanya dirawat.

"Appa sudah pulang?" seingat Kyungsoo, eommanya mengatakan pada Kyungsoo bahwa appa nya pergi ke China tiga hari lalu untuk perjalanan bisnis. Karena itulah appanya juga tak bisa datang di acara perpisahan sekolahnya.

"Belum," dengan berat Jung ahjussi menjawabnya. Ia harus berbohong, sebenarnya ia tau tuannya itu sedang tidak berada di China melakukan perjalanan bisnis, melainkan melarikan diri karena terlibat hutang.

.

.

"Eomma. Eomma baik-baik saja?" merasakan pergerakan disampingnya, Kyungsoo segera bangkit.

Sejak tadi, Kyungsoo terus memeluk dan berbaring disamping ibunya yang belum sadarkan diri. Ia terus menangis sejak dokter yang menangani ibunya mengatakan bahwa kemungkinan besar eommanya kehilangan penglihatannya.

"Kyungsoo sayang, eomma baik-baik saja. Hari ini kita akan pindah rumah, mulai sekarang kita akan tinggal bersama keluarga Jung ahjussi di desa. Kyungsoo mengerti?" eomma Kyungsoo segera duduk dan meraba wajah Kyungsoo, karena kedua matanya yang diperban. Kyungsoo yang melihatnya langsung memeluk eommanya dan menangis.

"Lalu appa? Kita tunggu appa saja ya?"

"Kita sudah tidak tinggal bersama appa lagi mulai sekarang," eomma Kyungsoo mengusap punggung Kyungsoo dipelukannya.

"Apa, eomma dan appa bercerai?"

"Darimana kau tau kata -kata itu?"

"Maaf, Kyungsoo tak sengaja mendengarnya,"

"Haah~ Maafkan eomma dan appa. Kami memang bercerai, tapi kami tetap menyayangimu Kyungsoo. Maafkan kami yang tidak bisa datang di hari kelulusanmu,"

"Tidak apa eomma. Eomma tidak akan meninggalkan Kyungsoo kan?"

"Tidak sayang, eomma akan terus bersama Kyungsoo. Kyungsoo sudah makan?"

"Belum,"

(End of flashback)

"Eomma," Jongsoo memanggil Kyungsoo yang sedang menyetir.

"Kyungsoo,"

"Eoh?" Kyungsoo tersadar dari lamunan singkatnya karena panggilan Jongin. Kyungsoo yang bingung, menoleh pada Jongsoo.

"Jongsoo memanggilmu,"

"Ah iya, maaf. Ada apa Jongsoo?" Kyungsoo tersenyum pada Jongsoo yang berada di pangkuan Jongin.

"Besok eomma datang kan?"

"Kemana?" Kyungsoo yang ditanya, tapi malah Jongin yang balik bertanya. Ia memandang Jongsoo dan Kyungsoo bergantian. Dan Kyungsoo hanya mengedikkan bahunya pada Jongin.

"Eomma tidak lupa kan? Besok Jongsoo menyanyi, di sekolah,"

"Benarkah? Kalau begitu eomma akan datang,"

"Kau hanya mengajak eomma? Tidak mengajak appa?" Jongin iri, apa Jongsoo dan Kyungsoo sebelumnya sangat dekat? Kenapa Jongsoo hanya mengajak Kyungsoo.

"Eomma bilang appa kerja, jadi tidak bisa datang," jawab Jongsoo polos.

"Kau yang bilang?" Jongin bertanya pada Kyungsoo.

"Hei! Aku baru tau barusan,"

"Jongsoo-ya, kalau aku datang, apa boleh?"

"Jinjja?" Jongsoo balik bertanya dengan matanya yang berbinar.

"Tentu saja,"

"Yeay!" Jongsoo melonjak senang.

Chu~

"Hahahah.. Kau senang?" Jongin tertawa karena Jongsoo mencium pipinya. Ia sedikit merindukan Yijun-nya yang juga suka mencium pipinya.

"Eoh, Jongsoo senang sekali," Kyungsoo ikut tersenyum melihat Jongsoo.

"Gumawo eomma, gumawo appa,"

"Hahahah.. Cheonmaneyo Jongsoo-ya," jawab Jongin dan Kyungsoo bersamaan.

"Kau hanya mencium appa mu? Eomma tidak kau cium?"

"Tidak mau! Hihihi~"

"Jongsoo nakal," Kyungsoo menggelitik Jongsoo. Mereka tertawa bersama, mereka lupa bahwa mereka sedang buru-buru.

.

.

.

Kyungsoo sudah sampai di sekolah TK Jongsoo. Ia buru-buru mengajak Jongsoo masuk ke koridor. Ia berniat meminta maaf langsung kepada guru Jongsoo yang mengajar. Tapi Jongsoo tak ingin masuk dan malah menunduk saat digandeng oleh Kyungsoo

"Ayo Jongsoo-ya! Eomma akan meminta maaf dulu,"

"Kenapa?"

"Itu," Jongsoo menunjuk beberapa temannya yang berlari bersama seonsaengnim di koridor.

"Astaga!" Kyungsoo menyadari sesuatu, Jongsoo salah memakai seragam.

Kyungsoo berjongkok di depan Jongsoo. Ia takut Jongsoo akan menangis. Sebenarnya bukan salah Jongin juga yang salah memakaikan seragam, Jongin dan Kyungsoo, mereka sama-sama tak tau.

"Tak apa, nanti eomma yang akan minta maaf pada seonsaengnim, oke?"

"Bagus. Anak pintar.. Ayo!"

Jongsoo sudah bergabung dengan teman-temannya, dan Kyungsoo sudah meminta maaf pada guru Jongsoo karena datang terlambat dan juga salah memakai seragam. Guru Jongsoo mengatakan tak apa, karena kebetulan hari ini seluruh muridnya akan latihan untuk acara pentas seni besok. Kyungsoo bernafas lega dan merasa beruntung.

"Kyungsoo?" merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke belakang.

"Luhan?"

"Kau ini.. Iya, ini aku,"

"Luhan! Akhirnya aku bertemu denganmu," Kyungsoo teramat senang bertemu sahabatnya, ia memanggil nama Luhan dan memluknya. Bahkan beberapa wali murid menatapnya aneh.

"Hei! Kau dua hari yang lalu dari rumahku,"

"Ah benarkah? Heheh~" ia terkekeh dan menggaruk lehernya yang tak gatal.

.

.

.

"Maaf aku terlambat," Jongin membungkuk meminta maaf setelah berhasil menemukan ruangan yang dimaksud oleh resepsionis saat ia menanyakan ruangan Oh Sehun.

Sehun yang membukakan pintu dibuat tercengang, dan juga salah seorang lainnya yang terduduk di salah satu sofa di ruang kerja Sehun. Jongin tak pernah terlambat sebelumnya.

"Masuklah!"

"Terima kasih,"

Sehun tak salah dengar kan? Jongin membungkuk dan mengucaokan terima kasih hanya karena ia dipersilahkan duduk.

"Eoh? Chanyeol hyung?"

"Hi Jongin," balas seseorang yang dipanggil oleh Jongin.

"Kyungsoo bilang, kau memandikan Jongsoo, itu benar?"

"Hahah~ iya. Bisa kita mulai sekarang? Sehun, bolehkah aku ijin besok? Aku akan ke sekolah Jongsoo, dia bilang dia akan menyanyi,"

"Tentu saja. Aku juga akan datang melihat Sehan. Tapi benarkah kau akan datang?"

"Heum. Baiklah, ayo kita mulai," Jongin bersemangat. Ia tak memperdulikan tatapan Sehun dan Chanyeol yang terlihat sangat bingung karena tingkah Jongin.

.

.

.

Pukul tujuh malam, Jongin menunggu di depan kantornya setelah meminta pada Kyungsoo agar menjemputnya. Jongin menolak tawaran Sehun untuk pulang bersama karena tak enak hati. Jongin bersedekap saat melihat sedan milik Kyungsoo datang mendekat.

"Kau terlambat!"

"Jangan mengkritikku! Cepat masuk dan pangku Jongsoo!" Kyungsoo tidak turun dari mobilnya, ia hanya membuka separuh kaca mobilnya.

"Jongsoo kenapa eoh?" Jongin yang baru duduk dan memangku Jongsoo kaget ketika ia dipeluk dengan erat.

"Eomma, Jongsoo ingin makan dengan appa," suara Kyungsoo menirukan nada bicara Jongsoo, khas anak kecil yang belum tepat berusia tiga tahun. Kyungsoo tersenyum.

"Hahahah.. Benarkah?" Jongin merasakan anggukan di pelukannya.

"Jadi, kau dan Jongsoo belum makan?" kini Jongin bertanya pada Kyungsoo.

"Iya. Kami hanya minum susu sejak siang,"

"Apa kalian tak lapar?"

"Aku tak selera makan, tapi aku takut Jongsoo yang sakit,"

.

.

.

Jongin menyarankan untuk makan malam di rumah makan siap saji saja. Jongin menyuruh Kyungsoo makan saja, biar dia yang menyuapi Jongsoo, karena Kyungsoo sedikit terlihat pucat dan lelah.

"Appa,"

"Iya?"

"Tadi seragam Jongsoo salah,"

Jongsoo mulai bercerita, dan Kyungsoo tersenyum. Dalam hatinya ia tak percaya, apa benar ia yang melahirkan Jongsoo? Anak itu sangat menggemaskan.

"Apa Jongsoo dimarahi?"

"Ani, eomma meminta maaf pada seonsaengnim."

"Mianhae, Jongsoo-ya,"

Jongin mencium pipi Jongsoo, karena saat bercerita, anak itu terlihat semakin menggemaskan.

"Gwaenchanayo appa,"

.

.

.

Kini mereka dalam perjalanan pulang, Jongsoo sudah tertidur di pangkuan Jongin. Dan, tetap Kyungsoo yang meneyetir. Jongin selalu beralasan jika ia yang menyetir, mereka tidak akan sampai rumah melainkan akan berakhir di rumah sakit.

Alasan yang bagus, Kim Jongin.

"Kau baik-baik saja?" Jongin melihat Kyungsoo yang nampak pucat dan kelelahan, ia tau seharian ini Kyungsoo menyetir, menunggu Jongsoo di sekolah.

"Aku? Memang aku kenapa?" Kyungsoo balik menatap Jongin, ia memang merasa lelah seharian ini, tapi apa terlihat jelas? Ia juga sedikit merasa sakit kepala sebenarnya.

"Kau terlihat pucat,"

"Mungkin hanya lelah, tak apa,"

"Apa kau yang memandikan Jongsoo?" Jongin baru sadar, Jongsoo sudah wangi dan segar tadi. Tapi Kyungsoo bilang ia tak bisa memandikan Jongsoo.

"Iya, bagaimana lagi?"

"Ternyata kau bisa,"

"Tapi tetap saja, aku takut kalau ia jatuh, aku juga takut kurang bersih memandikannya,"

"Tidak, kau sudah bagus."

"Kau memujiku karena kau tak mau memandikan Jongsoo kan?"

"Tidak. Tetap aku yang memandikannya jika sedang di rumah," Jongin mengelak, ia benar-benar tulus memuji Kyungsoo.

Setelahnya hanya kecanggungan diantara mereka, hanya suara musik di mobil mereka yang terdengar sayup-sayup.

"Kyungsoo," Jongin memanggil Kyungsoo, ia seperti ingin berbicara tapi berkali-kali ia batalkan.

"Heum,"

"Selama ini, kau kemana saja?"

"Aku? Aku tak kemanapun?" Kyungsoo menoleh pada Jongin. Ia heran kenapa Jongin bertanya seperti itu?

"Kau bahkan tak berpamitan padaku di hari kelulusan waktu itu,"

"Memang kau siapa, aku harus berpamitan denganmu?"

"Aku temanmu! Aku teman sebangkumu!"

"Kau menertawakanku saat dihukum, apa itu teman?" seingat Kyungsoo, Jongin memang selalu menertwakannya saat ia mendapatkan hukuman berdiri di depan kelas karena terlambat datang.

"Kau itu pintar, tapi kau sering terlambat." Jongin tertawa.

"Karena itu kau tertawa?" Kyungsoo memandang tak suka pada Jongin.

"Bukan itu sebenarnya, kau masih bisa tersenyum saat seisi menertawakanmu, itu yang lucu,"

"Jika aku menangis, mereka akan semakin tertawa," Kyungsoo sedikit jengkel, kenapa Jongin membahas ini.

"Jadi, kau kemana? Dua hari setelah kelulusan aku meminta Sehun untuk mengantar ke rumahmu,"

"K-kau ke rumahku? A-apa kau melihat sesuatu di rumahku?"

Kyungsoo sedikit kaget saat Jongin mengatakan pergi ke rumahnya, berarti Jongin melihat sesuatu.

"Rumahmu..."

"Dijual,"

Rasanya Kyungsoo malu pada Jongin, orangtuanya bercerai, dan rumah mewahnya harus dijual untuk menutupi hutang yang ditinggalkan oleh appa nya.

Mereka diam lagi, terutama Jongin. Harusnya ia tak membahas ini, ia merasa tak enak dengan Kyungsoo yang langsung terlihat sedih. Hingga mata Kyungsoo terlihat berbinar saat melihat pedagang oden di pinggir jalan.

"Jongin!"

"Heum,"

"Kau masih ada uang di dompetmu?"

"Kenapa?"

"Boleh aku beli itu? Aku lapar lagi," tunjuk Kyungsoo pada salah satu pedagang disana. Ia menepikan mobilnya di pinggir trotoar.

"Apa? Kita baru saja makan bertiga, aku saja masih kenyang,"

"Dasar pelit!"

"Bukan aku pelit Kyungsoo."

"Ayolah Jongin,"

"Bagaimana jika kau tak bisa habiskan itu? Aku masih kenyang, tidak bisa membantu," Jongin dan Kyungsoo sedikit berdebat. Merasa Jongsoo terusik karena suara mereka, reflek Jongin mengusap punggung Jongsoo agar putranya merasa nyaman.

"Siapa bilang aku tak bisa menghabiskan itu? Aku bisa tanpa bantuanmu," ucap Kyungsoo yakin.

"Kau menyeramkan," Jongin bergidik ngeri melihat Kyungsoo, yang sangat menggebu-gebu.

"Ayolah.. Ya? Ya? Ayolah Jongin, berikan uangmu,"

Jongin membuka dompetnya, ia menghitung beberapa lembar uang di dalamnya dan menyerahkannya pada Kyungsoo.

"Jangan buang makananmu!"

"Siap!" secepat kilat Kyungsoo sudah pergi dari kursi kemudinya. Jongin tertawa melihat Kyungsoo, dan Jongin sadar, mereka hanyalah remaja yang masih berusia dua puluh tahun.

"Hei, Jongsoo-ya. Benar dia eomma mu?" Jongin bertanya pada Jongsoo yang benar-benar terlelap, sudah pasti ia tak mendapat jawaban dari putranya itu.

.

.

.

.

*TBC/END?*

.

.

.

.

.

.

.

Hai! Hai! Heheheh.. Maaf baru update, tau banget ini telat banget, dan aku g mau alasan apa2 #plakk (bilang aja emang males). Tapi sebenernya aku juga khabisan kuota sich, kkkk.

Buat yang chapter lalu, ada yang masih bingung ya. Maaf ya klo masih bkin bingung. maaf juga klo smakin gaje. Tapi ya begini adanya, kkkk. Maaf juga klo chap ini mengecewakan, heheh ..

Sedikit ragu sama chapter ini, semoga yg bca ga pada ngantuk ya.. Karena mnurutku chapter ini kepanjangan, tapi klo dipotong ga enak juga. Maaf untuk typo(s).

Oiya untuk chapter lalu, aku tulis pake huruf tebal smua, itu krna ya bisa dbilang flashback. Jadi, chapter lalu itu bukan kelewat atau apa, tapi memang bukan lnjutan dari chapter sebelumnya.

Big Thanks To:

|Kim Yehyun|Lovesoo|lyta tan|MbemXiumin|exindira|Baby Kim|wuziper|NopwillineKaiSoo|ShinJiWoo92020|mimiiPark61|leon|overdokai|pola|ryeolaakim|kyungie|humaira9394|Kyle|BABY L SOO|

Makasih buat review, follow, favorite, makasih juga buat semua yg masih ngikutin ff ini. Menerima kritik dan saran kok, lgsung PM juga boleh. Heheh .. *pai pai n deep bow*

-ChaKaJja13-