Let Me Love You
Author : ChaKajja13
Cast :
Kim JongIn
Do Kyungsoo (Genderswitch)
Kim JongSoo (as KaiSoo child)
Other cast.
.
.
EXO fict. Newbie author
.
.
Don't bash. Don't like. Don't read. No flame
.
.
Mind to review?
.
.
*Happy reading*
.
.
Tiit tiit.. Tiit tiit
Kyungsoo menggeliat mendengar bunyi alarm di sebelahnya. Alarmnya berbunyi tepat pukul lima pagi. Ia benar-benar harus bangun pagi hari ini. Ia tersenyum melihat Jongsoo yang masih terlelap di sebelahnya.
Kyungsoo akan sibuk pagi ini. Menyiapkan keperluan Jongsoo, membuat sarapan, membuat bekal untuknya dan Jongsoo, dan terakhir, mengantar Jongin ke kantor.
"Eoh? Jongin?" Kyungsoo kaget melihat Jongin yang sudah berada di dapur.
"Kau sudah bangun?" Jongin balik bertanya pada Kyungsoo, ia tengah menenggak segelas air putih ditangannya.
"Ya, baru saja. Kau berolahraga?"
"Heum," Jongin mengangguk.
'Bagaiamana dia bisa menemukan itu? Apa dia mengacak seluruh isi lemari?' begitulah batin Kyungsoo setelah melihat setelan celana training(?) yang dipakai oleh Jongin.
"Jangan melihatku seperti itu. Kau bisa jatuh cinta," ucap Jongin sambil berjalan keluar dapur.
"Ck.."
.
.
.
.
"Kyungsoo," Jongin memanggil Kyungsoo yang tengah menyuapi Jongsoo. Kini mereka sarapan. Kyungsoo memasak sedikit lebih banyak dari kemarin.
"Heum," Kyungsoo menoleh pada Jongin di depannya.
"Apa kau memasak banyak?" tanya Jongin.
"Eoh? Ini masakanku. Kenapa?" Kyungsoo menunjuk masakan yang ia buat tadi. Ia memasak sup, ayam goreng dan juga kimbap.
"Boleh kau sisakan sedikit?"
"Untuk?"
"Aku, ingin membawa bekal," menurut Jongin, masakan Kyungsoo itu termasuk lezat. Sebenarnya ia sedikit merasa iri dengan Sehun yang membawa bekal saat di kantor kemarin.
"Untuk di kantor?"
"Tidak, untuk piknik," jawab Jongin ketus. Kyungsoo tersenyum.
"Hahah.. Iya, nanti kusiapkan untukmu," jawab Kyungsoo, ia tau jika Jongin sedikit gengsi.
.
.
.
.
"Chanhyun?" Baekhyun melongok dari pintu. Ia tersenyum melihat putranya yang tengah bercermin sambil memakai seragam di depan almari besarnya.
"Eomma," Chanhyun menyadari oemmanya yang mendekat ke arahnya.
"Ayo sarapan," Baekhyun ikut merapikan seragam putra semata wayangnya itu.
"Eomma, tampan tidak?"
"Tentu saja tampan," jawab Baekhyun. Ia senang putranya bisa tumbuh dengan baik, hingga tak terasa sudah di tingkat akhir sekolah dasar.
"Lebih tampan mana aku dan appa?" Baekhyun sedikit terlonjak. Putranya memang cerdas, apa ini termasuk pertanyaan jebakan.
"Tentu saja kau yang lebih tampan. Kau menjebak eomma?" Baekhyun mengusak rambut putranya yang sudah rapi, ia hanya ingin mencairkan suasana. Baekhyun menggoda anaknya, ia tak ingin terlihat sedih di depan putranya.
"Hihii~ mian," Chanhyun yang menyadari eommanya sedang menyembunyikan perasaannya, ia segera terkikik dan meminta maaf pada eommanya.
"Dasar anak nakal! Ayo cepat keluar, sarapanmu bisa dingin," Baekhyun segera keluar dari kamar Chanhyun.
"Eum!" Chanhyun mengangguk.
.
.
.
.
"Eomma," Chanhyun terlihat sedikit malu-malu, seperti ada yang ingin dikatakannya.
Baekhyun mengantar Chanhyun ke sekolahnya sebelum ia bekerja.
"Iya?" Baekhyun menunggu Chanhyun bercerita sambil berdiri di depan mobilnya.
"Maafkan Chanhyun yang nakal kemarin, Chanhyun sayang eomma," Chanhyun berkata dan memeluk eommanya. Ia ingat, kemarin sempat membentak eommanya, meskipun tak sengaja. Tapi, ia tetap merasa bersalah, selama ini Chanhyun tau, eommanya lah yang selama ini merawatnya sendirian.
"Hey, eomma sudah memaafkan Chanhyun.. Eomma juga minta maaf karena egois, kau mau memaafkan eomma?" Baekhyun merasakan anggukan Chanhyun di pelukannya.
"Hi Chanhyun!/Hi oppa~" terdengar beberapa siswi memasang senyum yang sedikit malu-malu dan menyapa Chanhyun yang masih berdiri di depan Baekhyun.
"Sudah, jangan menangis.. Teman yeojamu banyak yang melihat. Seorang Park Chanhyun, idola sekolah menangis dipagi hari? Chanhyun kan namja?" Baekhyun tersenyum, menghapus airmata putranya yang sempat menetes. Ia sedikit menggoda putranya.
"Eomma, jangan menggoda," Chanhyun tersenyum malu, ketika eommanya mengatakan dia idola di sekolahnya. Bagaimana tidak, tubuhnya yang tinggi, dan juga tampan, membuat Chanhyun cukup terkenal diantara murid-murid perempuan.
"Eomma tidak menggoda. Cepat masuk, sebelum bell,"Baekhyun menyuruh putranya agar cepat memasuki gerbang sekolahnya.
"Siap boss! Hihii~"
"Dah Chanhyunnie~"Baekhyun kembali menggoda putranya dengan panggilan sayangnya.
"Eomma~"Chahyun merengek saat Baekhyun memanggilnya seperti itu. Chanhyun tidak suka jika dipanggil seperti itu saat di sekolah.
"Hahah.. Baiklah.. Dah sayang," Baekhyun segera pergi menuju mobilnya setelah melihat Chanhyun memasuki gerbang. Baekhyun tersenyum setiap melihat putranya, Chanhyunlah yang membuatnya selalu semangat untuk bekerja.
.
.
.
.
"Jangan memandangku seperti itu, Jongin. Kau bisa jatuh cinta," Kyungsoo yang sedang menyetir, menyadari tatapan Jongin padanya.
"Hey! Itu kata-kataku!"
"Jangan mengelak Kim Jongin,"
Seperti biasa, sepertinya ia benar-benar menjadi sopir untuk keluarganya mulai sekarang. Setiap pagi ia akan menyetir mengantar Jongin dan Jongsoo, tapi Kyungsoo mulai menyukainya sekarang.
"Tidak, siapa yang memandangmu," jawab Jongin tak terima.
"Ada yang ingin kau katakan?" Kyungsoo mendelik pada Jongin, hingga Jongin sedikit salah tingkah.
"Eumm.. Kau baik-baik saja?" akhirnya Jongin bertanya. Ia memang melihat Kyungsoo sedikit pucat sejak kemarin, tapi Kyungsoo berkata ia baik-baik saja.
"Kau sudah bertanya itu semalam. Aku baik-baik saja, oke?! Nanti jangan terlambat," Kyungsoo meyakinkan Jongin, ia juga mengingatkan agar Jongin tak datang terlambat di acara yang diadakan okeh sekolah Jongsoo.
"Iya. Aku akan datang bersama Sehun nanti," jelas Jongin, dan Kyungsoo hanya mengangguk.
.
.
.
.
Jongin sudah berada di perjalanan bersama Sehun. Tak terlalu banyak yang mereka bicarakan, tentu saja karena Jongin tak tau tentang Sehun yang sekarang.
"Yeoboseyo?" terdengar suara yeoja di seberang sana.
"Kyungsoo?" Jongin bertanya, ia kembali melihat ponselnya, nama 'Kyungsoo' tertulis disana.
"Ya! Kenapa kau balik bertanya? Iya, ini aku."
"Dari mana kau tau nomorku?"
"Kenapa kau tanya itu Kim Jongin? Sekarang dimana kau? Kenapa belum datang?"
"Aku? Aku sudah di perjalanan dengan Sehun," Jongin menoleh pada Sehun yang menyetir dan mengatakan sedikit berbisik "Kyungsoo," dan Sehun hanya manggut-manggut.
Jongin dan Sehun memang memutuskan untuk pergi ke kantor sebentar, karena acara di sekolah Jongsoo dan Sehan baru dimulai pukul sembilan pagi.
"Baiklah, jangan terlambat,"
"Kau menelponku hanya tanya itu?" Jongin bertanya tak mengerti.
"Apa yang kau harapkan?" terdengar nada ketus Kyungsoo disana.
"Tidak, heheh~" Jongin menggaruk kepalanya. 'Benar, apa yang kau harapkan Kim Jongin,' batin Jongin.
"Ck.. Aku tutup,"
"Baik-"
Piip
"..lah. Mematikan telpon semaunya sendiri," Jongin berdecak sebal, ia belum selesai berbicara tapi Kyungsoo sudah buru-buru menutup telponnya. Dan Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini.
'Kau bukan seperti Jongin yang biasanya. Tapi.. Apa Luhan benar? '
.
.
.
.
"Eoh! Aku tak percaya telah menelpon seorang Kim Jongin," gumam Kyungsoo pada dirinya sendiri, ia merasakan hal aneh setelah menelpon Jongin barusan.
Ia mengipasi wajahnya, dan memegang pipinya. Beruntung kursi sebelahnya masih kosong, dan Luhan yang di sebelah kirinya sedang mengobrol dengan wali murid lain.
"Kau berkata sesuatu?" Luhan bertanya pada Kyungsoo. Ia sedikit mendengar gumaman Kyungsoo tadi.
"Ah.. Tidak, tidak, abaikan." Kyungsoo yang salah tingkah segera mengelak di depan Luhan. Ia dan Luhan kini berada di deretan kursi, di ruang aula sekolah Jongsoo untuk menyaksikan pentas seni yang akan ditampilkan seluruh murid di sini. Tapi, belum banyak wali mutid yang datang.
"Heum.." Luhan hanya mengangguk. Sebenarnya ia sedikit curiga pada Kyungsoo. Tingkahnya yang aneh sejak kemarin, Kyungsoo yang tidak tau banyak tentang Jongsoo di sekolah. 'Apa, Kyungsoo sudah datang?' batin Luhan memandangi Kyungsoo yang masih senyum-senyum sendiri memegang ponselnya.
"Mmm.. Lu,"
"Ya? Ada yang ingin kau katakan?" Luhan yang tersadar segera bertanya.
"Bolehkah setelah pulang, aku mampir ke rumahmu? Ada yang ingin kuceritakan," Kyungsoo bertanya sedikit malu-malu.
"Tentu saja boleh, Sehan juga senang ada teman bermain," jawab Luhan dengan senyum manisnya.
'Tak peduli Luhan menganggapku gila, aku memang sudah gila. Aku harus bercerita nanti. Semangat Kyungsoo!' batin Kyungsoo, ia mengumpulkan tekadnya, ia akan jujur pada Luhan apa yang sudah terjadi dengannya.
.
.
.
.
Jongin yang duduk di sebelah kanan Kyungsoo, merasa terganggu karena Kyungsoo yang terus bergerak tak bisa diam. Jongin masih bisa bersabar, karena mungkin ini yang pertama Kyungsoo alami. Jongin sudah sampai di sekolah Jongsoo duapuluh menit yang lalu bersama Sehun.
"Bisa kau diam? Jongsoo yang akan tampil, kenapa kau yang terlihat gugup?" Jongin menegur Kyungsoo, ia jengkel karena tingkah Kyungsoo, entah menggenggam tangannya di dada, menepuk pahanya berkali-kali dan bergerak-gerak di atas kursinya. Bagi Jongin, itu mengganggu.
"Aku bukan gugup, tapi aku sudah tidak sabar melihat penampilan Jongsoo," elak Kyungsoo.
"Kau ini!"
"Ooh~ putraku.. Jongin! Lihatlah itu Jongsoo!" mata Kyungsoo segera berbinar melihat beberapa murid TK dengan kostum buah-buahan menaiki panggung, dan di sana ada Jongsoo. Dan tanpa sadar ia langsung menyambar lengan Jongin, membuat Jongin tertegun sejenak.
"Dia juga putraku, jangan mengakuinya sendiri," jawabnya tak terima setelah tersadar oleh riuh tepuk tangan, ia mengikuti arah pandang Kyungsoo. Ia tersenyun melihat Jongsoo disana.
"Ishh.. Iya, iya," cibir Kyungsoo.
"Lu! Itu Sehan!" kini Kyungsoo beralih ke Luhan. Kyungsoo mengingat wajah Sehan karena kemarin ia sempat melihat Sehan.
"Iya, itu Sehan," balas Luhan tersenyum. 'Kau benar-benar Kyungsooku,' batin Luhan saat melihat senyum dan binar di wajah Kyungsoo, ia sudah cukup lama kehilangan senyum Kyungsoo yang seperti ini.
"Dan dia putraku," timpal Sehun yang duduk di sebelah kiri Luhan. Kyungsoo mengangguk setuju dengan Sehun.
"Dia, Luhan sekali," Kyungsoo sedikit tak percaya saat melihat Sehan, baginya, Sehan lebih banyak menuruni wajah Luhan dibanding Sehun.
"Terima kasih Kyungsoo," Kyungsoo hanya balas tersenyum.
.
.
.
.
"Bye oppa~/Bye Chanhyun-ah~"
Chanhyun, ia tengah berjalan di koridor sekolah, bell jam pelajaran terakhir sudah berbunyi beberapa menit lalu. Seperti biasa, beberapa siswi akan selalu menyapanya dan memasang senyum untuknya.
Chanhyun yang sudah sampai di depan gerbang sekolah, mencari sosok ibunya yang entah kenapa belum terlihat, hingga ia menemukan sosok yang dirindukannya beberapa bulan ini tengah berdiri di samping mobilnya.
"Appa?" gumam Chanhyun tak yakin. Dengan sedikit memicingkan matanya karena terik matahari, tentu saja, ini sudah hampir pukul satu siang.
Chanhyun tersenyum setelah yakin bahwa sosok yang ia lihat benar-benar ayahnya.
"Appa?" Chanhyun mendekat.
"Oh! Hi jagoan," senyum lebar khas ayahnya langsung menyambutnya.
"Appa~ Kapan appa sampai si Korea?" Chanhyun langsung memeluk ayahnya erat.
"Kemarin. Maaf appa belum sempat menghubungimu. Kejutaaan~! Hahaha.."
"Appa sudah meminta ijin pada eomma-mu akan menjemputmu,"
"Pantas saja eomma tak bertanya padaku pulang jam berapa," Chanhyun bercerita pada Chanyeol dan melepas pelukannya. Memang biasanya saat jam istirahat, Chanhyun akan mendapat pesan dari Baekhyun yang menanyakan pukul berapa putranya itu akan pulang.
"Kenapa? Kau tak suka appa menjemputmu?"
"Tentu saja aku suka," Chanhyun menjawab dengan girang. Chanyeol yang melihatnya senang. Segera membuka pintu depan mobilnya dan mengajak Chanhyun masuk.
"Ayo masuk!"
.
.
.
.
"Kyungsoo," panggil Luhan. Mereka menuju rumah Luhan dengan mobil milik Kyungsoo, tetapi kali ini Luhanlah yang menyetir. Sedangkan Jongin dan Sehun, mereka sudah kembali ke kantor dengan mobil milik Sehun setelah acara di sekolah selesai pukul dua siang.
"Ya?" jawab Kyungsoo di sela tawanya bersama Jongsoo dan Sehan yang duduk di belakang mereka.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Luhan khawatir. Sebenarnya ada banyak yang ingin ia tanyakan pada Kyungsoo, ya menyangkut apa Kyungsoo 'muda' sudah datang atau belum?. Tapi Luhan cukup bisa menahannya hingga mereka sampai di rumahnya terlebih dahulu.
"Aku mulai sering mendengar pertanyaan itu, apa aku terlihat sakit?" jawab Kyungsoo santai dan cukup membuat Luhan bingung.
"Apa yang kau rasakan? Kau terlihat pucat Kyungsoo,"
"Benarkah? Aku baik-baik saja, tapi aku merasa mudah lelah beberapa hari ini," Kyungsoo malah balik bertanya.
"Mudah lelah?" tanya Luhan meyakinkan. 'Apa mungkin Kyungsoo, ah tidak-tidak. Tapi bisa saja kan Jongin melakukannya?' batin Luhan.
"Iya, kenapa?" tanya Kyungsoo pada Luhan yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, hahah, tidak-tidak. Maksudku, kau mau kuantar ke dokter?"
"Tidak usah, mungkin aku hanya kelelahan biasa," jawab Kyungsoo meyakinkan Luhan.
.
.
.
.
"Sudah sampai," ucap Luhan sambil melepas safety belt nya, dibalas dengan teriakan Sehan dan Jongsoo.
Sedangkan Kyungsoo, belum beranjak dari tempatnya, ia tengah asik mengagumi rumah di depannya ini. Rumah bergaya minimalis dengan nuansa coklat kayu, dan halamannya yang tak terlalu luas tapi cukup rapi dengan beberapa pot tanaman disana yang diletakkan di atas hijaunya rerumputan.
Nampaknya Kyungsoo masih kagum dengan rumah Sehun dan Luhan, sepanjang perjalanan menuju pintu rumah, ia menengok kanan kiri melihat setiap sudut rumah.
"Ayo masuk," ajak Luhan pada Kyungsoo yang masih berhenti diambang pintu.
"Ah ne." jawabnya kikuk. Kyungsoo terpesona oleh rumah Luhan ini, memang tak terlalu luas, tapi bisa diolah dengan baik dan justru terkesan lucu.
Setelah pintu terbuka, Sehan segera berlari mengajak Jongsoo ke halaman belakang.
"Lu ahjumma," Jongsoo menarik bagian bawah dress Luhan.
"Iya Jongsoo?" sahut Luhan.
"Boleh aku pinjam sepeda Sehan?"
"Tentu saja Jongsoo, pinjamlah sepuasnya." Luhan menunduk menghadap Jongsoo.
"Yeay! Terima kasih Lu ahjumma," Jongsoo bersorak, dan segera berlari menghampiri Sehan di halaman belakang.
"Apa Jongsoo bisa naik sepeda?"
"Tentu saja, kau juga sering melihatnya kan?/ Kyung, kau ingin minum apa?" tawar Luhan dan berjalan menuju dapur.
"Apa saja. Maaf merepotkan,"
'Benar, kau benar-benar Kyungsooku,' batin Luhan setelah mendengar nada sungkan dari Kyungsoo dan tingkah laku Kyungsoo yang menurutnya cukup meyakinkan bahwa Kyungsoo sudah berbeda.
"Ini minumnya. Kau bilang, ada yang ingin kau ceritakan? Ayo, ceritakan," ucap Luhan yang duduk di sebelah Kyungsoo dan menyodorkan secangkir teh kepada Kyungsoo.
"Iya, ada yang ingin kuceritakan denganmu. Tapi, bolehkah kita makan siang dulu?"
"Aku membawa bekal," sambung Kyungsoo cepat.
"Hahah.. Kau lapar? Hei, aku juga memasak, apa kau tak ingin mencoba masakanku?" Luhan terkekeh, ia tau bahwa Kyungsoo takut jika Luhan menganggapnya menumpang makan.
"Entah kenapa, aku sering lapar sekarang," ia menunduk.
"Baiklah, ke dapur lah dulu, aku akan memanggil anak-anak,"
.
.
.
.
Jongin dan Sehun sedang berada di ruangan Jongin, sebenarnya Jongin juga sempat kaget karena ternyata ia mendapat tempat yang cukup penting di perusahaan, ia segera meminta bantuan kepada Sehun untuk membantu pekerjaannya.
"Jadi.." Sehun membuka suara, mereka sedang menikmati makan siang-yang terlambat-di ruangan Jongin.
"Eum?"
"Ini masakan Kyungsoo?" ia segera menelan makanannya, ia baru saja mencicipi bekal yang dibawa oleh Jongin, dan ia yakin ini masakan Kyungsoo.
"Iya, kenapa?" jawab Jongin sambil memasukkan satu kimbap kedalam mulutnya.
"Masakan Kyungsoo selalu yang terlezat dari mereka bertiga," gumam Sehun, tapi meski begitu, Jongin masih bisa mendengarnya.
"Mereka bertiga?" Jongin yang tak mengerti apa yang dimaksud Sehun hanya bertanya bingung.
"Ah tidak-tidak. Maksudku, masakan Kyungsoo memang enak, bagaimana menurutmu?"
"Iya, ini enak," angguk Jongin setuju.
"Tentu saja enak. Apa kubilang, kenapa tak dari dulu kau meminta Kyungsoo membuatkanmu bekal?/"
"A-apa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Lanjutkan saja makannya," Jongin hanya mengangguk, dia tak tau maksud Sehun, dan tanpa ia sadari, Sehun tersenyum penuh arti kepada Jongin.
.
.
.
.
"Jadi.. Kesimpulannya, kau bukan Kyungsoo yang sebenarnya?"
Kyungsoo menceritakan semuanya pada Luhan, dari mulai ia terbangun di minggu pagi, tentang Jongin, dan Jongsoo. Luhan menatapnya tak percaya, Kyungsoo hampir frustasi melihat ekspresi Luhan. Bahkan hingga sekarang, Luhan masih terlihat berfikir keras.
"Ayolah Lu, kumohon percayalah. Aku memang Kyungsoo, tapi ini bukan usia asliku. Mm, bagaimana ya?" Kyungsoo masih berusaha menjelaskan, dia juga Kyungsoo, apa yang dimaksud Luhan bahwa dia bukan Kyungsoo yang sebenarnya.
"Dimana Kyungsoo yang asli?"
"Tidak ada Kyungsoo yang asli dan palsu, oke?/ Aku Kyungsoo yang berusia dupuluh tahun, lalu aku terbangun di pagi hari, dan ditubuh yang berusia duapuluh sembilan tahun. Apa, kau mengerti maksudku?" jelas Kyungsoo sabar, dengan penekanan disetiap katanya.
'Bukankah ini terlalu cepat? Tunggu, aku baru bertemu Zitao saat minggu pagi, tapi minggu pagi juga Kyungsoo dan Jongin sudah datang. Lalu, ini perbuatan siapa?'
Kyungsoo hampir menyerah, baiklah jika Luhan bilang dia gila. Sejak kemarin, Kyungsoo sudah gila. Luhan sama sekali tak merespon apapun, hanya matanya yang mengerjap pelan. Hingga beberapa saat, Luhan menarik Kyungsoo kedalam pelukannya erat.
"Hiks..Kyungsoo, aku merindukanmu..hiks..aku percaya, sungguh aku percaya padamu," racau Luhan dalam pelukan Kyungsoo.
"L-Lu, kau percaya padaku?" tanya Kyungsoo.
"Iya, aku percaya. Jangan tinggalkan aku, tetaplah berdiri kuat disini. Demi Jongsoo," ucap Luhan, ia masih tetap memeluk Kyungsoo.
"A-apa maksudmu?" Kyungsoo tak tau apa maksud ucapan Luhan. Berdiri kuat, demi Jongsoo. Apa terjadi sesuatu di hidupnya yang sebelumnya?
"Tidak apa, aku hanya terlalu menyayangimu," sambil melepas pelukannya pada Kyungsoo, Luhan mengusap air matanya, bahkan ia sendiri pun tak sadar dengan apa yang dikatakannya tadi.
"Aku tau itu, terima kasih telah menyayangi teman yang tidak sempurna seperti aku," Kyungsoo senang, akhirnya Luhan mengerti.
"Tidak, kau bukan hanya temanku. Kau bahkan sudah seperti keluarga bagiku,"
"Baiklah, sudah jangan menangis. Sehan bisa membenciku nanti," kata Kyungsoo.
"Kenapa?"
"Karena membuatmu menangis," jawab Kyungsoo.
"Kau bisa saja,"
"Oiya Lu, bisa kau antarkan aku bertemu eommaku? Aku merindukan eommaku," Kyungsoo merindukan ibunya, karena terbiasa tinggal berdua dengan ibunya, beberapa hari tak bertemu membuatnya sangat merindukannya.
"A-apa? Wookie ahjumma?" Luhan gugup, bagaimana ia bercerita pada Kyungsoo bahwa sebenarnya eomma Kyungsoo sudah..
"Iya, memang eommaku siapa lagi?"
.
.
.
.
Chanyeol membawa Chanhyun ke apartmentnya. Mereka menghabiskan waktu bersama. Dan mereka terlihat sangat menikmati waktu yang seperti ini, mengingat mereka sangat jarang bertemu karena Chanyeol yang memilih tinggal di Jepang beberapa tahun lalu, dan hanya akan ke Korea jika ingin bertemu Chanhyun dan jika ada proyek kerja sama dengan sebuah perusahaan seperti sekarang.
"Appa," panggil Chanhyun, mereka sedang menonton tv bersama, dan Chanhyun yang memegang keripik kentang. Ia sudah mengganti seragamnya dengan kaos yang sengaja dibelikan Chanyeol untuknya.
"Ne,"
"Kenapa.." Chanhyun menggantungkan ucapannya.
"Ada apa? Ceritalah, mumpung kita bisa seharian bersama." Chanyeol menoleh, ia melihat Chanhyun yang menunduk.
"Kenapa.. Appa tak menikah lagi dengan eomma?" akhirnya Chanhyun jujur, ia ingin menanyakan apa yang terus mengganjal dipikirannya.
"Kenapa? Kau tak suka Daehyun ahjussi?" tanya Chanyeol, ia sadar putranya sudah lumayan beaar untuk bertanya seperti itu. Chanyeol merasa bersalah saat melihat Chanhyun.
"Bukan aku tak suka. Tapi," Chanhyun tau, appanya pasti tak mau menjawab. Selalu seoerti itu, bahkan eomma juga selalu mengalihkan perhatian setiap Chanhyun menanyakan hal yang sama.
"Sudah jangan dipikirkan. Appa akan tetap menemuimu. Appa ada kabar bagus, kau mau dengar?" Chanyeol mengusak kepala Chanhyun,
"Apa itu?"Chanhyun penasaran.
"Appa akan tinggal di Korea mulai sekarang," bisik Chanyeol ditelinga putranya.
"Benarkah?" tanya Chanhyun antusias.
"Tentu saja, kau senang?" Chanyeol mengangguk melihaymt Chanhyun yang sudah kembali tersenyum. Mulai sekarang, ia akan berusaha semakin dekat dengan putranya, dan jika bisa, ia juga ingin Baekhyunnya kembali.
"Sangat sangat sangat senang,"
"Hahahah~"
.
.
.
.
Luhan mengatakan pada Kyungsoo bahwa ibunya sudah meninggal. Awalnya Kyungsoo tak percaya, hingga Luhan meyakinkan dan membawanya ke makam ibunya. Kyungsoo menangis di pelukan Luhan, hanya ibunya yang ia punya, lalu sekarang ibunya juga pergi. Luhan hanya mengusap punggung Kyungsoo di pelukannya.
"Aku tak percaya, Lu. Aku benar-benar sendiri sekarang," Kyungsoo masih sesenggukan.
"Tidak Kyungsoo, ada aku, ada Sehun. Dan kau juga punya Baekhyun, kau lupa?" Luhan melepas pelukannya, ia menggenggam tangan Kyungsoo erat.
"Baekhyun?"
"Iya, kau belum bertemu dengannya kan?" Kyungsoo hanya balas menggeleng.
"Eomma, uljima~" Jongsoo memeluk Kyungsoo yang masih terlihat menangis.
"Terima kasih Jongsoo, eomma tak akan menangis lagi,"
"Kyungie ahjumma, Sehan juga sayang Kyungie ahjumma," kini giliran Sehan yang memeluk Kyungsoo. Luhan juga sudah bercerita, saat Kyungsoo masih mengandung Jongsoo, Sehan yang enam bulan lebih tua dari Jongsoo itu lumayan dekat dengan Kyungsoo.
"Kau dengar kan? Kau tak sendiri. Jika sudah, kau kuantar pulang," ujar Luhan.
"Lalu kau pulang dengan apa?"
"Sehun juga akan kerumahmu. Dia akan mengantar Jongin," jelas Luhan. Kyungsoo sudah menjelaskan bahwa Jongin tidak bisa menyetir. Karena itu tadi Luhan menghubingi suaminya agar mengantar Jongin pulang ke rumahnya.
"Aku, akan berpamitan dulu."
.
.
.
.
Luhan dan Kyungsoo sedang memasak untuk makan malam di dapur Kyungsoo. Mereka memasak seadanya menggunakan bahan yang ada di kulkas Kyungsoo. Luhan juga menyarankan agar Kyungsoo belanja besok, jika Kyungsoo takut berbelanja sendiri, ia bisa mengajak Luhan. Dan Jongsoo bermain bersama Sehan di ruang tengah.
"Kau sudah terlihat pucat, Kyung. Istirahatlah," Luhan melirik Kyungsoo yang sedang memotong sayur di sebelahnya. Kyungsoo terlihat makin pucat.
"Tidak, aku baik-baik saja, Lu." paksa Kyungsoo. Ia masih tetap memotong sayur-sayurnya.
"Berhenti berkata baik-baik saja dan istirahatlah," Luhan segera merebut talenan Kyungsoo dan mendorong Kyungsoo menuju ruang tengah.
"Tapi,"
"Tidak ada tapi. Kau tetap keras kepala," paksa Luhan dan mendudukkan Kyungsoo di sofa.
Namun begitulah Kyungsoo, ia hanya beberapa detik menuruti perintah Luhan ujtuk duduk. Selanjutnya ia sudah berdiri kembali dan berjalan menuju dapur.
"Kenapa kau kembali lagi, Kyungsoo," ucap Luhan saat melihat Kyungsoo menuju kitchen set dan mengambil beberapa piring disana. Luhan melihat raut wajah Kyungsoo yang terlihat sedih semenjak ia mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal.
"Aku hanya membantu meletakkan ini di meja makan, Luhan,"
"Kalau begitu, cepat selesaikan dan segera kembali ke sofa!" perintah Luhan.
"Iya," sahut Kyungsoo lemah, ia sedikit lebih pendiam sejak pulang dari makam ibunya. Bagaimanapun juga, itu tetap mengguncang hatinya, padahal ia berharap bisa bertemu ibunya dan bercerita tentang betapa lucunya Jongsoo.
"Kau bilang hanya meletakkan piring, kenapa kembali disini? Cepat pergi!" protes Luhan saat melihat Kyungsoo malah berjalan ke arahnya.
"Oke, baik-baik aku pergi," Kyungsoo tersenyum dan mengangkat kedua tangannya tanda mengalah.
"Dasar keras kepala," Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat Kyungsoo berjalan menuju ruang tengah. Ia segera berkutat kembali pada masakannya. Namun belum lama, ia malah mendengar bunyi suara yang mengagetkannya.
BRUKK!
"EOMMA!/KYUNGSOO!/AHJUMMA!"
.
.
.
.
*TBC/END?*
.
.
.
.
.
.
.
Update! Update! Heheh .. Maaf ya telat updatenya. Udah nulis dapat separuh, tapi file nya malah rusak pas mau dilanjut. Gimana chap ini? Kurang nge feel ya? Maaf ya kalau mengecewakan.. Maaf juga untuk typo(s) nya yg ga pernah ketinggalan, kkkk.
Sebenarnya ga nyangka bakal dpt banyak review, karena review yang bnyak kadang ngerasa takut mengecewakan, tapi beneran review banyak itu bikin tambah semangat nulisnya =)
Oiya, gimana lagu nya Baekhyun? Suaranya kinyis-kinyis ya .. Hehehe.. Itu menurutku..kkk.
Bjg Thanks To:
|siscaMintalove|jdcchan|humaira9394|exindira|Kimsibling|aqila k|mimiiPark61|NopwillineKaiSoo||dyodomyeon|BABY L Soo|virra,viany|Ch-channie4ever|Ryeollakim|leon|SjinJiWoo920202|AmeChan95|baby|DOnly One|1213141|anon|dhyamanta121|
Terima kasih ya buat semuanya, review, favorit, follow, dan semuanya yang sudah mampir d ff ini. Makasih, apalah ff ini kalau ga ada kalian.. Tetap berusaha chapter depan cepat update.. #deepbow
Bye~ =))
-ChaKaJja13-
