Let Me Love You
Author : ChaKaJja13
Cast :
Kim JongIn (29 yo)
Do KyungSoo (29 yo)
Kim JongSoo (3 yo)
Oh Sehun (29 yo)
Oh(Xi) Luhan (29 yo)
Oh Sehan (3 yo)
Park Chanyeol (30 yo)
Byun Baekhyun (29 yo)
Park Chanhyun (12 yo)
Other cast.
.
.
EXO fict. Newbie author
.
.
Alur lambat. Typo(s) everywhere.
Italic : Flashback
Don't bash. Don't like. Don't read. No flame
.
.
"Iya," sahut Kyungsoo lemah, ia sedikit lebih pendiam sejak pulang dari makam ibunya. Bagaimanapun juga, itu tetap mengguncang hatinya, padahal ia berharap bisa bertemu ibunya dan bercerita tentang betapa lucunya Jongsoo.
"Kau bilang hanya meletakkan piring, kenapa kembali disini? Cepat pergi!" protes Luhan saat melihat Kyungsoo malah berjalan ke arahnya.
"Oke, baik-baik aku pergi," Kyungsoo tersenyum dan mengangkat kedua tangannya tanda mengalah.
"Dasar keras kepala," Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat Kyungsoo berjalan menuju ruang tengah. Ia segera berkutat kembali pada masakannya. Namun belum lama, ia malah mendengar bunyi suara yang mengagetkannya.
BRUKK!
"EOMMA!/KYUNGSOO!/AHJUMMA!"
.
.
Mind to review?
.
.
*Happy reading*
.
.
Kicauan burung bersahutan cukup membangunkan Jongin dari tidurnya. Ia segera bangkit dari sofa yang berada di kamarnya dan menuju Kyungsoo yang terbaring di ranjang besar bersama Jongsoo.
Semalam saat Jongin dan Sehun pulang, Luhan terlihat panik menghampiri mereka yang baru saja memasuki pekarangan rumah. Kyungsoo pingsan.
Jongin dan Sehun yang juga panik langsung masuk dan melihat Kyungsoo yang tergeletak di lantai. Jongsoo bahkan sudah menangis di sebelahnya. Luhan juga meminta maaf karena tak kuat memindahkan tubuh Kyungsoo, tapi Jongin maklum karena Luhan juga perempuan. Jongin dengan segera membopong Kyungsoo ke kamarnya.
"Demamnya sudah turun," Jongin mengangkat kompresan di dahi Kyungsoo dan mengecek nya dengan punggung tangan. Jongin terus menatap Kyungsoo, ia kembali bertemu dengan Kyungsoo di kamar ini pagi itu. Jongin tersenyum melihat Kyungsoo yang damai dalam tidurnya. Bagi Jongin, Kyungsoo yang sekarang itu cantik, apalagi saat tersenyum bersama Jongsoo.
"Anehnya, aku bisa sepanik itu semalam," monolog Jongin, mengingat kejadian semalam. Ia benar, kenapa ia bisa sangat panik saat mendengar Luhan mengatakan Kyungsoo terlihat pucat dan pingsan. Ia menggelengkan kepalanya dan beralih ke sisi ranjang yang lain.
"Jongsoo, ayo bangun, kau harus sekolah," Jongin menggoyang tubuh Jongsoo pelan, Jongsoo harus sekolah meskipun dirinya dan Kyungsoo tak bisa mengantar. Kemarin Luhan mengatakan akan kemari pagi hari untuk membawa sarapan dan mengajak Jongsoo berangkat sekolah bersama.
Ting Tong~
"Kau dengar suara itu?" Jongin mendengar bunyi bel rumahnya. Jongin tau Jongsoo pura-pura tidur. Banyak akal, pikir Jongin. Ia menggelengkan kepalanya gemas karena Jongsoo.
"Ayo Jongsoo.. Sehan sudah di depan, kau tak ingin sekolah?" Jongin membujuk Jongsoo agar mau bangun dan berangkat sekolah. Jongsoo masih mengantuk, tentu saja. Jongin juga masih mengantuk sebenarnya, tengah malam ia terbangun karena merasa mual. Ia sendiri berpikir adakah yang salah dengan pencernaanya, ingatkan Jongin beberapa hari ini dia selalu mual dan muntah.
"Appa, Jongsoo mau disini menjaga eomma," Jongsoo semakin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo. Mungkin benar Kyungsoo kelelahan atau memang kurang sehat jika melihat Kyungsoo yang tak terusik sama sekali dengan percakapan Jongin dan Jongsoo.
"Jongsoo harus sekolah. Eomma baik-baik saja,"
"Benar?" Jongsoo duduk dan menatap Jongin.
"Iya, eomma hanya kelelahan." Ia segera menggendong Jongsoo keluar kamar karena terus mendengar bunyi bel rumahnya.
.
.
.
.
.
Sehun dan Luhan sudah berada di depan pintu rumah Jongin dengan Sehan yang juga sudah siap dengan seragam sekolahnya digendongan Sehun. Luhan membawa beberapa kotak berbungkus kain ditangannya.
"Eomma, kenapa belum dibuka?" Sehan menanyakan pintu di depannya yang belum juga terbuka padahal Sehun sudah menekan bel beberapa kali. Sehan memainkan pesawat mainan di tangannya.
"Tunggu sebentar ne," Sehan hanya mengangguk.
"Kemana mereka? Aku sudah lapar," keluh Sehun. Karena sebenarnya mereka belum sarapan.
"Tunggulah sebentar,"
Cklek
"Oh kalian.. Silahkan masuk," Jongin membuka pintu bersama Jongsoo di gendongannya. Mereka sama-sama terlihat masih mengantuk.
Luhan segera masuk dan menuju dapur, Jongin dan Sehun hanya mengikutinya di belakang. Luhan membuka kitchen set di dapur dan mengambil beberapa piring. Jongin sempat heran melihat Luhan yang hafal dengan dapur rumahnya, apa ia sering masak bersama Kyungsoo sebelumnya?
"Apa Kyungsoo belum bangun?" tanya Luhan sambil menuangkan kuah sup pada panci. Ia berniat menghangatkan sebentar.
"Aku takut membangunkannya. Dia terlihat sangat pucat,"
.
.
.
.
.
"Chanhyun-ah! Cepat mandinya!"
Baekhyun berteriak pada putranya yang masih saja di dalam kamar mandi. Baekhyun bingung kenapa putranya itu lama jika mandi.
Tok! Tok!
"Cepatlah sedikit! Kau bisa terlambat sekolah," ucap Baekhyun di depan pontu kamar mandi Chanhyun.
"Nde, eomma!" Balas Chanhyun dari dalam sana.
Baekhyun sudah hampir kembali. Tapi ia berbalik saat mendengar suara pintu kamar mandi?
Cklek
"Appa sudah datang?" Chanhyun melongok di pintu kamar mandi.
Chanhyun terlihat senang saat bertanya tentang ayahnya. Baekhyun jadi merasa bersalah. Ka dulu menceraikan Chanhyeol karena termakan oleh sifat mereka yang masih kekanakan, dan semua hanya berakibat pada putranya.
"Belum. Karena itu cepatlah selesai. Appamu juga bekerja, jangan buat dia menunggu," jawab Baekhyun tersenyum.
"Nde," patuh Chanhyun. Ia kembali menutup pintunya.
.
.
.
.
"Dia sudah tak demam," Ucap Luhan. Ia baru saja melihat Kyungsoo dikamarnya. Luhan merasa khawatir pada sahabatnya itu.
" Semalaman Kyungsoo terus mengigau memanggil 'eomma'." Jongin pikir, mungkin Kyungsoo merindukan ibunya. Karena sejak mereka disini, Kyungsoo belum bertemu keluarganya sama sekali.
"Tunggu, kau menunggunya semalaman?" Sehun menyadari sesuatu. Ia pikir Jongin akan tidur di luar kamar.
"A-aku tidur di sofa," jelas Jongin gelagapan. Ia takut Sehun dan Luhan mengiranya yang tidak-tidak. Benar mereka sekamar semalam, tapi Jongin tak melakukan apapun.
"Kemarin, sepulang sekolah, aku membawa Kyungsoo ke makam ibunya." jelas Luhan.
"A-apa?" wajah Jongin kaget dan seolah menunjukkan pertanyaan, makam sudah pasti berhubungan dengan seseorang yang sudah pergi. Apa itu berarti ibu Kyungsoo..
"Ibunya meninggal saat usianya duapuluh enam, saat Kyungsoo masih mengandung Jongsoo," jelas Luhan yang masih berdiri di dekat meja makan, kini Sehun menggenggam tangan Luhan erat, ia takut istrinya akan menangis. Luhan dan Sehun tau betul kehidupan Kyungsoo saat itu.
"Aku tidak tau. Tapi, ayah Kyungsoo? Mungkin kalian bisa mempertemukannya, setauku dia belum bertemu keluarganya," Jongin tertegun. Jika ibu Kyungsoo meninggal saat Kyungsoo masih mengandung Jongsoo, berarti Kyungsoo sudah menjadi istrinya? Begitu pikir Jongin. Tak taukah kau Jongin, ada yang tak Luhan ceritakan padamu, kau menikahi Kyungsoo saat Jongsoo sudah lahir.
"Apa dia belum bercerita?" tanya Sehun.
"Tentang apa?"
"Ayah Kyungsoo juga sudah meninggal Jongin, kanker paru-paru. Mobil pertama Kyungsoo, itu pemberian terakhir ayahnya beberapa bulan sebelum ayahnya pergi." jawab Luhan.
"Kyungsoo bilang, itu hadiah ulang tahunnya," Luhan mengangguk menanggapi.
Jongin tertegun, seingatnya Kyungsoo adalah anak tunggal. Jika sekarang kedua orangtuanya sudah pergi, berarti Kyungsoo sudah tidak memiliki keluarga lagi.
"Baiklah, ayo kita sarapan!" ajak Luhan melihat Jongin yang tampak berpikir. Ia mulai menyuapi Sehan yang sudah berada di pangkuan Sehun di sebelahnya.
"Jongin, aku juga memasak bubur. Setelah sarapan antar itu ke kamar Kyungsoo,"
"Iya. Maaf merepotkan,"
"Ah kau ini, jangan sungkan," sahut Luhan, ia tersenyum. Inilah Jongin yang asli, Jongin yang baik. Luhan dan Sehun tak tau kenapa Jongin bisa berubah menjadi orang yang jahat beberapa tahun lalu, jika Jongin yang masih berusia duapuluh tahun begitu baik.
"Kau bisa makan sendiri?" tanya Jongin saat melihat Jongsoo yang menyendok nasi dan memasukkan sendoknya pada semangkuk kecil sayur yang sudah disiapkan oleh Luhan di depannya. Hanya saja, Jongsoo belum terlalu pandai memakai sumpit.
"Eum," balas Jongsoo mengangguk, mulutnya sedang penuh oleh makanan.
"Dia pintar," puji Jongin, ia tersenyum pada Luhan dan Sehun. Tangannya mengusak kepala Jongsoo, dan Jongsoo hanya tersenyum lebar menatap orang-orang dewasa disekelilingnya.
"Jongsoo memang pintar, Jongin," sahut Luhan, ia senang melihat Jongin yang 'sekarang' menyayangi Jongsoo.
"Kau saja yang tak bersyukur jika putramu itu pintar, Jongin."
.
.
.
.
.
Ting Tong
Baekhyun yang sedang membuat bekal pada kotak makan Chanhyun mendengar bunyi bel rumahnya. Ia meletakkan sumpitnya.
Baekhyun berjalan menuju pintu, ia tau siapa yang datang. Baekhyun menghela nafasnya sebentar sebelum membuka pintunya.
"Hi Baek, apa kabar?" Senyum Chanyeol pertama kali menyapa Baekhyun.
Lama mereka berpandangan. Mereka sama-sama merasakan perasaan ketika mereka pertama kali bertemu. Di depan pintu UKS sekolah. Perasaan itu masih ada hingga saat ini, tersimpan rapi di tempat paling dalam hati mereka.
.
'Aku ingin mengenalmu. Apa yang sangat kau sukai?'
'Aku, sangat menyukai strawberry,'
'Apapun itu?'
'Apapun itu. Segala yang berhubungan dengan strawberry, aku menyukainya. Lalu oppa?'
'Aku menyukai buah pisang,'
'Kenapa?'
'Karena itu baik untuk mata?'
'Aku bertanya serius,'
'Aku juga serius. Aku suka pisang agar mataku selalu sehat. Agar aku bisa dengan jelas melihat senyummu tanpa terhalang kacamata,'
'Dasar anak SMA!'
'Hahahaha!'
"Aku baik, masuklah." Baekhyun mengulas senyum, dan mempersilahkan Chanyeol untuk masuk rumahnya.
"Apa boleh?" Chanyeol terkejut. Dalam hatinya ia bersorak senang. Baekhyun tak terlihat marah, senyumnya terlihat tulus.
"Silahkan duduk,"
"Dimana Chanhyun?" Tanya Chanyeol setelah ia dipersilahkan duduk oleh Baekhyun.
"Dia masih di kamar, memakai seragam." Baekhyun berjalan menuju dapur dan membuat teh untuk Chanyeol.
Trek
Baekhyun menyuguhkan secangkir teh di depan Chanyeol.
"Terima kasih," Baekhyun hanya mengangguk. Ia duduk di depan Chanyeol.
"Baek, apa boleh, setiap pagi aku yang mengantarnya ke sekolah?" Tanya Chanyeol. Ia akan berusaha memperbaiki semuanya sekarang. Mulai sekarang.
"Aku tak mau Chanhyun mengganggu jadwalmu," jawab Baekhyun.
"Ah tidak-tidak. Tidak sama sekali," Chanyeol merasa tak enak dengan jawaban Baekhyun.
Dulu, ia sama sekali tak mau tau dengan keluhan Baekhyun. Tak ada yang salah dan tak ada yang benar diantara mereka. Usia yang terlalu muda untuk membangun sebuah keluarga dan hidup sebagai orangtua. Baekhyun yang selalu mengeluh, dan Chanyeol yang akan pulang larut karena berjam-jam bermain game sepulang kerja. Sejak memasuki pintu rumah Baekhyun, ia bertekad bahwa Baekhyun harus kembali padanya.
"Kau tanyakan saja pada Chanhyun nanti," putus Baekhyun. Ia berkata seperti itu bukan untuk memisahkan Chanhyun dari Chanyeol.
"Terima kasih," Chanyeol harap, putranya memberi keputusan yang menguntungkan untuknya.
"Aku akan ke kamarnya sebentar," Baekhyun berdiri meninggalkan Chanyeol yang tersenyum senang.
.
.
.
.
.
Mereka berempat sarapan dengan khidmat, Jongsoo menghabiskan sarapannya. Bahkan ia sempat memuji masakan Luhan dan membuat semua tertawa mendengarnya. Sesekali obrolan antara Jongsoo dan Sehan juga memancing gelak tawa mereka, obrolan anak-anak berusia tiga tahun, dengan bahasa yang kadang hanya mereka yang dapat memahami.
"Appa, selesai," Jongsoo meletakkan alat makannya dan langsung mengangkat tangannya tinggi. Ia menghabiskan semua isi di mangkuknya. Porsi yang sudah disiapkan Luhan sesuai dengan porsi Jongsoo.
"Pintar, ayo mandi!" ajak Jongin pada Jongsoo
"Yeay! Mandi dengan appa!" Jongsoo bersorak senang dan bertepuk tangan saat Jongin menggendongnya.
"Ayo kita antar ini juga untuk eomma," Jongin mengambil nampan berisi semangkuk bubur dan air putih yang sudah disiapkan oleh Luhan.
"Ne," Jongsoo memeluk leher Jongin karena Jongin hanya menahan badan Jongsoo dengan lengan kirinya.
"Kalian tinggalkan saja piringnya, biar aku yang mencuci," seru Jongin sambil berjalan meninggalkan dapur menuju ke kamarnya memandikan Jongsoo. Sebenarnya juga ada kamar mandi di dekat dapur, tapi sejak pertama di sini, ia memandikan Jongsoo di kamar mandi yang terdapat di dalam kamar.
"Dia Jonginku," Sehun tersenyum pada Luhan.
"Jongin kita," Luhan meralat ucapan Sehun. Luhan berdiri dan membereskan semua peralatan makan dan membawanya ke counter(?) untuk dicuci. Sehan sudah turun dan bermain dengan pesawat mainannya. Meski Jongin berkata ia yang akan menyucinya, ia tetap akan mencucinya.
"Kau benar," Sehun berdiri dan menghampiri Sehan yang mengoceh lucu dan berlarian. Mengelilingi meja makan.
.
.
.
.
.
Jongin selesai memandikan Jongsoo dan membungkus tubuh putranya dengan handuk saat keluar kamar mandi. Jongsoo berlari dari sana menuju ranjang Kyungsoo.
"Jongsoo! Jangan berlari!"
"Eomma~" Jongsoo menggoyang tubuh Kyungsoo pelan. Tapi, tak ada sahutan.
"Kyungsoo, bangunlah. Kau harus makan," Jongin menepuk pelan pipi Kyungsoo. Ada yang berdesir aneh saat tangannya menyentuh pipi putih nan lembut itu. Kyungsoo seperti memiliki aura berbeda.
"Eungh," hanya lenguhan singkat dan tak jelas yang keluar dari mulut Kyungsoo. Setahu Jongin, Kyungsoo tidak bangun sama sekali semalam.
"'Eomma tak mau bangun," jawab Jongsoo murung. Ia selalu takut jika eommanya susah dibangunkan, seperti ada trauma tersendiri.
"Mungkin eomma masih lelah. Ayo, Jongsoo pakai seragam dulu," Jongin mengajak Jongsoo ke kamarnya. Jongin mencari seragam Jongsoo yang serupa dengan yang dipakai Sehan.
Hari rabu, kotak-kotak biru. Jongin terkagum melihat kamar Jongsoo, begitu rapi. Memang bukan pertama kalinya ia masuk ke kamar Jongsoo, tapi baru kali ini ia benar-benar memperhatikan. Memang mainan Jongsoo sepertinya tak banyak. Jongin juga tak menemukan mainan Jongsoo di luar kamar ataupun di sudut rumah yang lain, sepertinya.
.
.
.
.
.
Sehun duduk santai bersama Luhan di ruang tengah rumah Jongin. Sambil menunggu Jongin selesai merawat Jongsoo, mereka mengobrol ringan setelah mencuci piring.
"Sehun," selagi tak ada orang, Luhan ingin sedikit berbicara serius bersama suaminya. Karena semalam ia sibuk memikirkan Kyungsoo, dan juga bercerita pada suaminya bahwa Kyungsoo sudah menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.
"Hmm," balas Sehun, lengannya ia letakkan di belakang bahu istrinya. Sehan? Tentu saja masih asyik dengan pesawatnya.
"Aku rasa, Kyungsoo.." Luhan menggantungkan ucapannya.
"Kyungsoo kenapa?" tanya Sehun, wajah istrinya terlihat serius.
"Kau tau kan, bagaimana Jongin jika marah?"
"Ya, dia selalu memaksa Kyungsoo?" Luhan mengangguk. Sehun ingat betul, Jongin yang marah akan berubah menjadi kasar dan selalu Kyungsoo yang akan jadi pelampiasannya.
"Apa yang kau khawatirkan? Kyungsoo aman sekarang," tatapan Sehun melembut, ia mengusap kepala istrinya. Ia menenangkan Luhan, bahwa sekarang Kyungsoo baik-baik saja, Kyungsoo tak akan menjadi korban 'kekasaran' Jongin lagi.
"Tidak, bukan itu maksudku,"
"Katakan apa yang mengganggumu?" Sehun menggenggam tangan Luhan.
"Apa mungkin, Kyungsoo.." Luhan menunduk.
"Ayolah sayang," Sehun mengusap pipi lembut Luhan.
"Apa mungkin Kyungsoo hamil?" akhirnya ia menatap suaminya.
"Benarkah? Apa kandungannya akan baik-baik saja?" tanya Sehun khawatir.
"Aku hanya menebak Sehun. Tapi aku rasa, kandungannya akan baik-baik saja. Ini sudah hampir empat bulan berlalu,"
"Semoga kali ini, dia baik-baik saja." ternyata ini yang mengganggu pikiran istrinya.
"Aku berharap begitu," balas Luhan. Semoga mulai sekarang, Kyungsoo akan selalu baik-baik saja.
Chu~
"Sehun! Jangan mencuri ciumanku! Ada Sehan disini," protes Luhan saat suaminya tiba-tiba menciumnya di bibir. Meski singkat, tapi itu cukup berbahaya jika putranya melihat dan akan bertanya kenapa mulut ayahnya menempel di mulut ibunya.
"Dia terlalu fokus dengan pesawatnya. Jangan pikirkan apapun, oke?" jawab Sehun enteng.
"Terima kasih sayang," Luhan memeluk lengan suaminya begitu erat.
"Terima kasih kembali istriku~"
.
.
.
.
.
Setelah memandikan Jongsoo dan memakaikan seragamnya. Jongin menyuruh Jongsoo ikut bergabung bersama Sehan di depan, karena ia akan mandi. Karena pakaiannya berada di kamar yang juga ada Kyungsoo di sana, membuat Jongin membawa semua bajunya ke kamar mandi dan keluar dengan pakaian yang sudah lengkap.
Jongin memakai dasinya dan bercermin menyisir rambutnya, ia melihat pantulan Kyungsoo disana. Kyungsoo belum mau bangun ternyata. Bubur yang dibawakannya juga masih utuh. Setelah tersadar, ia segera merapikan pakaiannya kembali dan berjalan keluar kamar.
Jongin menghampiri Sehun dan Luhan di ruang tengah.
"Aku sudah selesai. Bisa kita berangkat sekarang?" ajak Jongin di depan orangtua Sehan itu. Sedangkan Sehun dan Luhan hanya memandang Jongin dari atas sampai bawah.
"Ah benar. Ayo Jongsoo, Sehan." ajak Sehun kepada anak-anak, dan mengabaikan Jongin. Sehan dan Jongsoo yang bermain bersama langsung berdiri menghampiri Sehun dan Luhan.
"Ayo!" ajak Luhan menggandeng anak-anak. Sebenarnya Sehun dan Luhan tidak datang dengan mobil yang sama saat ke rumah Jongin. Sehun dan Luhan mengendarai mobil mereka masing-masing karena arah mereka yang berbeda. Tetapi, kadang Sehun juga mengantar Sehan sekolah bersama dengan Luhan dan akan menjemput mereka saat Sehan pulang.
"Kau mau kemana Jongin?" Sehun ingin tertawa sebenarnya melihat penampilan Jongin yang sudah rapi.
"Ikut mengantar Jongsoo?" jawab Jongin percaya diri.
"Kau dirumah saja. Kau tak akan meninggalkan Kyungsoo sendirian kan?" ada tawa yang tersembunyi dibalik ucapan Sehun. Luhan hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Ibikah rencana seorang Oh Sehun?
"A-apa? Tak bisakah Luhan saja yang menunggu Kyungsoo dirumah? Bukankah aku juga harus bekerja?" Jongin kaget, apa Sehun bilang? Jika ia dirumah menjaga Kyungsoo, berarti ia harus berdua dengan Kyungsoo dirumah, hanya 'berdua'. Oh, betapa kikuknya mereka mereka berdua nanti.
"Lalu kau dan aku yang mengantar anak-anak ke sekolah? Aku tak mau! Aku tak mau mereka berpikiran yang tidak-tidak. Untuk urusan bekerja, kau mendapat libur dariku." jawab Sehun final.
"Bagaimana bisa? Memang itu perusahaanmu?" sahut Jongin tak terima.
"Kau itu pegawai yang baik, bahkan kau tak pernah mengambil cutimu sama sekali. Jadi tak masalah jika kau libur sehari,"
"Apa?" Jongin tak terlalu paham, sebenarnya kehidupan Jongin yang sebelumnya itu sperti apa. Tak pernah memandikan Jongsoo, tak pernah mengambil cuti.
"Sudahlah. Jongin, kau jaga Kyungsoo dirumah. Jangan lupa bangunkan dia untuk makan," lerai Luhan. Ia juga mengingatkan Jongin agar membangunkan Kyungsoo untuk makan.
"Appa, Jongsoo berangkat ne," Jongsoo berpamitan kepada Jongin yang sudah mensejajarkan tingginya dengan Jongsoo. Ia memeluk sang ayah dan mencium pipinya.
"Ah iya, maaf appa tak bisa mengantarmu," sesal Jongin, padahal dalam hati ia benar-benar ingin mengantar Jongsoo. Andai saja dia bisa menyetir..
"Tidak apa-apa," Jongsoo tersenyum.
"Ahjussi, Sehan berangkat juga ne." Sehan juga berpamitan dengan Jongin. Tapi Sehan hanya sebatas melambaikan tangan. Jongin tidak sadar bahwa Sehan sedikit menjaga jarak padanya karena takut. Sehan pernah melihat Jongin memarahi Jongsoo hingga menangis di depannya.
"Iya, hati-hati Sehan." balas Jongin, ia juga melambaikan tangannya pada Sehan.
Jongin mengantar mereka hingga ke pintu depan. Sehun sudah membantu Sehan dan Jongsoo masuk ke dalam mobil. Hanya Luhan yang masih tertinggal.
"Jongin. Kyungsoo sudah menceritakan semuanya," kata Luhan,ia masih di depan pintu bersama Jongin
"A-apa?"
"Kalian yang berusia duapuluh tahun," lanjut Luhan. Ia tau Jongin sangat kaget dari raut wajahnya.
"Kau, kau tak menganggapku gila kan?" tanya Jongin terbata. Sungguh tidak lucu jika Luhan akan menertawakannya di belakangnya, atau mungkin di depannya langsung.
"Tidak. Aku percaya,"
"Terima kasih," Jongin membungkuk sembilan puluh derajat pada Luhan. Luhan bahkan terlihat sungkan. Tapi karena itu, ia semakin yakin bahwa ini Jongin mereka, sahabat mereka yang berhati baik.
"Jaga Kyungsoo," ucap Luhan singkat. Ia segera berbalik dan berjalan menuju mobil Sehun. Meninggalkan Jongin yang cengo di ambang pintu.
"Apa?"
.
.
.
.
.
Kyungsoo mengerjap pelan. Sinar matahari cukup menyilaukan memasuki kamarnya. Pandangannya berkeliling ke sekitar kamar. Ia terduduk saat mengingat semalam ia tak sadarkan diri.
"Eoh? Ini bukan kamar Jongsoo," Kyungsoo sadar, ia meraba sebelahnya, tak ada Jongsoo.
"Dimana Jongsoo?" ia lalu tak sengaja melihat semangkuk bubur di atas meja. Perutnya berbunyi, sejak semalam ia belum makan sama sekali.
"Ini untukku?" ucapnya. Ia mengendus mangkok berisi bubur itu. Ia tersenyum. Apakah baunya enak Kyungsoo?
Ia menyendokkan bubur kedalam mulutnya, mengecap beberapa kali.
"Enak," ia terus menyendok bubur hingga kini mangkuk itu sudah kosong. Ia meminum air putihnya hingga separuh.
Kyungsoo meregangkan tulang-tulangnya. Berbaring semalaman dan bangun pada jam setengah sembilan pagi, cukup membuat tulangnya terasa kaku.
Ia bangun dari ranjangnya, merapikan sprei dan membawa nampan berisi mangkok kosong keluar kamar.
Baru saja ia membuka pintunya, ia kaget saat ternyata Jongin sudah di depannya.
"Eoh? Kau sudah bangun?" tanya Jongin yang juga tak kalah kagetnya dengan Kyungsoo.
"Iya. Dimana Jongsoo?" Jawab Kyungsoo. Ia melihat sekeliling, tak ada Jongsoo. Suaranya juga tak terdengar.
"Dia sudah berangkat ke sekolah. Bersama Sehun dan Luhan."
"Mereka kemari?"
"Iya. Luhan membawa sarapan untukku dan Jongsoo. Bubur itu juga dia yang membuat," jawab Jongin sambil menunjuk mamgkuk kosong Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk. Setelah itu, ia pergi ke dapur hendak mencuci mangkuknya.
Jongin mengikuti arah Kyungsoo. Kyungsoo meletakkan semua peralatan makannya di bak cuci.
"Istirahatlah, aku yang akan mencucinya," ucap Jongin pada Kyungsoo.
"Tidak apa, tubuhku kaku berbaring terus," elak Kyungsoo. Istirahat? Ayolah, Kyungsoo memang lemas semalam. Tapi jika ia terus istirahat dan berbaring seharian, dia tidak bisa. Itu bukan kebiasaannya.
Setelah itu, Jongin tak mengatakan apapun. Ia hanya melihat setiap gerak Kyungsoo dengan diam.
.
.
.
.
.
Kyungsoo mengeringkan tangannya dengan lap bersih setelah mencuci piring, Jongin juga masih berada di tempatnya. Berkali-kali mata Kyungsoo melirik pada panci di sebelahnya.
"Eoh? Apa itu?" tanya Kyungsoo. Jongin mulai berjalan mendekat. Karena aroma yang menguar dari panci, Kyungsoo menelan ludahnya.
"Ah itu, Luhan membawa sup," jawab Jongin seadanya.
"Boleh aku memakannya?" Tanya Kyungsoo santai. Justru ekspresi Jongin yang tak bisa santai.
"Bukankah kau baru menghabiskan semangkuk bubur?"
"Aku masih lapar." Jawab Kyungsoo memelas. Benar-benar terlihat seperti orang belum makan.
"Apa kau memang selalu makan banyak?" Jongin heran. Oke, badan Kyungsoo memang tak kurus. Tapi juga tidak gemuk, tapi cukup aneh dengan porsi makannya jika dibandingkan dengan tubuhnya.
"Jika lapar. Jadi, boleh tidak?" Kyungsoo menunduk. Sesekali ia melirik panci kecil itu.
Sebenarnya ia juga merasa aneh, ia mudah lapar sekarang. Bahkan setelah makan, jika ia melihat makanan yang lezat, ia seolah tak merasa kenyang dan malah ingin makan lagi.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku melarang?" Jongin mendelik pada Kyungsoo.
"Tetap memakannya?" Jawab Kyungsoo santai.
"Jja! Makanlah! Setelah itu kita ke rumah sakit," Jongin menyerah, bagaimana ia biaa melarang seseorang yang ingin makan karena merasa lapar.
"Kenapa kita kesana? Tidak mau!" Tolak Kyungsoo saat Jongin memerintahkan agar ia ke rumah sakit setelah makan. Kenapa untuk makan saja ada syaratnya?
"Luhan menyuruhmu kesana. Kau pingsan semalam," Jongin bersidekap. Matanya memicing pada Kyungsoo.
Sedangkan Kyungsoo hanya acuh. Ia berjalan ke lemari dan mengambil mangkuk. Tanpa memperdulikan Jongin.
"Aku hanya lelah Jongin. Aku baik-baik saja," Kyungsoo meyakinkan Jongin.
"Tidak! Kau harus berangkat," paksa Jongin. Ia melihat setiap gerak gerik Kyungsoo.
Kyungsoo berjalan mengambil duduk di kursi meja makan. Ia membelakangi Jongin.
"Lalu siapa yang akan menyetir? Memangnya kau?" Kyungsoo memasukkan sesendok sup nya ke dalam mulut.
"Tentu saja kau yang menyetir," jawab Jongin.
"Aku yang sakit, aku juga yang menyetir. Tidak adil," Kyungsoo menoleh ke arah Jongin yang masih berdiri di counter dapur. Enrah apa benar-benar lapar, sekarang Kyungsoo sudah menyendok lagi.
"Ayolah Kyungsoo. Setidaknya pikirkan Jongsoo," nada Jongin memohon. Ia ingat Jongsoo yang menangis di sebelah Kyungsoo.
"Kenapa Jongsoo?" Kyungsoo meletakkan sendoknya. Ia mendengarkan Jongin.
"Dia menangis melihatmu pingsan. Kau ibunya kan? Apa kau tega melihatnya menangis seperti itu?" Jongin berjalan dan mengambil duduk di sebelah Kyungsoo.
"Tapi aku tak suka rumah sakit," jujur Kyungsoo.
"Akan kutemani. Bagaimana?" Jongin tersenyum. Melihat senyum Jongin, ia merasa sudah kenyang. Daridulu Jongin seperti ini, senyumnya. 'Kapan kau berhenti jadi tampan?' batin Kyungsoo. 'Astaga! Apa yang kau pikirkan!' Sadar Kyungsoo. Ini bukan saatnya mengangumi Jongin, tidak sekarang.
"Ide bagus. Tapi," Kyungsoo memasang senyum termanisnya.
"Tapi apa? Kau membuat perjanjian denganku?" Kyungsoo hanya memasang senyum lebarnya dan tentu Jongin tau, ada maksud dibalik senyum indah itu.
.
.
.
.
.
"Ayo!" Kyungsoo keluar kamar. Ia hanya memakai celana jeans putih dengan kemeja berwarna merah jambu. Ia akhirnya menyetujui Jongin untuk pergi ke rumah sakit. Kata-kata yang dikeluarkan Jongin bahwa Jongsoo menangis, berhasil mengubah pikirannya. Kyungsoo tak pernah suka dengan rumah sakit. Orangtuanya selalu tak baik-baik saja jika di rumah sakit.
Kyungsoo tersenyum mendekati Jongin yang sudah rapi. Jongin duduk di sofa dan menonton acara tv yang sepertinya tak ada yang menarik minatnya. Jongin memang sudah rapi sejak tadi. Ia belum mengganti bajunya sejak gagal mengantar Jongsoo.
"Tunggu, apa yang kau rencanakan?" Merasa aneh dengan senyum Kyungsoo. Jongin yang berdiri dari sofa, reflek memundurkan langkahnya dari Kyungsoo. Sebenarnya Kyungsoo itu cantik jika tersenyum, tapi jika berlebihan malah terkesan menakutkan.
"Kau yang menyetir," Jawab Kyungsoo seadanya.
"Tidak! Aku sudah bilangkan jika-" terang Jongin, namun ucapannya sudah lebih dulu terputus oleh Kyungsoo.
"Jika aku yang menyetir, kita hanya akan berakhir di rumah sakit. Benar kan?" ucap Kyungsoo menirukan kata-kata Jongin.
"Benar,"
"Lalu kemana tujuan kita sekarang?" tanya Kyungsoo.
"Ru.. Kyungsoo!"
'Senang mengerjaimu kembali,'
"Cepat! Kau mau ku tinggal?" Kyungsoo berjalan menuju garasi. Jongin menggelengkan kepalanya. Kyungsoo tak berubah. Kyungsoo yang ceria. Dulu saat mereka masih sekolah dasar. Mereka selalu bercanda bersama, termasuk dengan Sehun juga.
.
.
.
.
.
Kini mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Suasana canggung sangat terasa jika mereka hanya berdua dan tak ada topik untuk dibahas. Berbeda jika ada Jongsoo, anak itu akan sukses membuat suasana lebih hangat.
"Jongin," panggil Kyungsoo. Kyungsoo menghentikan mobilnya di depan toko bunga.
"Apa lagi?" ketus Jongin. Ia masih kesal dengan Kyungsoo yang sudah mempermalukannya. Mengungkit tentang dirinya yang tak bisa menyetir, itu dianggap memeprmalukan bagi Jongin.
"Boleh minta uang?"
"Kau selalu minta uang padaku. Apa di dompetmu tak ada uangnya?" Tanya Jongin. Kyungsoo sudah menemukan tas nya. Tas milik Kyungsoo yang sebelumnya yang berisi dompet dan ponsel.
"Hanya sedikit," jujur Kyungsoo. Ia sudah melihat isi dompetnya. Hanya ada beberapa lembar uang dan kartu pengenal di dompetnya.
"Hey! Aku punya jabatan di perusahaan, aku punya uang tunai, aku punya credit card, bagaimana kau hanya punya sedikit?"
"Dasar sombong! Tapi sungguh, kau tak percaya?" Kyungsoo mengambil dompetnya dan menyerahkan pada Jongin. Jongin dengan ragu mulai membukanya.
"Bagaimana?" Tanya Kyungsoo. Jongin membuka slot uangnya, benar hanya ada beberapa lembar won disana. Tak ada credit card ataupun kartu ATM disana.
"Aneh. Tapi kau ingin beli apa?" Jongin heran. Mereka memiliki dua mobil, tapi melihat isi dompet Kyungsoo, jauh dari kata mewah.
"Boleh aku beli bunga itu?" Kyungsoo menunjuk salah satu pot yang ada di dalam toko bunga.
"Untuk apa?" Jongin tau tepatnya bunga mana yang ditunjuk Kyungsoo.
"Tentu saja untuk dirawat,"
"Tidak! Kita ke rumah sakit dulu," jawab Jongin tegas.
"Ah baiklah," Kyungsoo segera menurut dan kembali menyalakan mobilnya. Perlahan ia menginjak gasnya.
'Tak melawan?' Batin Jongin. Ia melihat Kyungsoo yang diam saja. Memangnya Kyungsoo harus apa Jongin? Merengek?
Kyungsoo memasuki salah satu toko bunga di tepi jalan.
"Selamat datang," sapa seorang gadis muda dengan celmek berwana pink di tubuhnya. Ia membungkuk pada Kyungsoo.
Kyungsoo membalas dengan senyuman
"Maaf, apa disini menjual bunga tulip putih?" Tanya Kyungsoo pada gadis muda itu.
"Tentu. Kami menjualnya, kami juga bisa merangkainya jika anda ingin," tawar sang penjaga toko bunga itu.
"Baiklah, buatkan satu rangkaian bunga. Hanya Tulip putih," ucap Kyungsoo.
"Harap tunggu sebentar," gadis itu meninggalkan Kyungsoo sebentar dan kembali dengan beberapa tangkai bunga tulip putih. Ia meletakkan bunga itu di atas meja untuk siap dirangkai.
"Apa anda sangat menyukai bunga tulip?" Tanya gadis itu pada Kyungsoo yang sedang melihat-lihat bunga disana.
Toko itu sebenarnya tak besar. Tapi bunga yang dijual cukup lengkap, dan tatanannya yang rapi semakin membuat toko itu terlihat menyenangkan dari luar.
"Ya, aku menyukainya karena ibuku sangat menyukainya. Aku akan berkunjung hari ini," jawab Kyungsoo. Ia menatap cukup lama pada satu bunga, Anggrek berwarna ungu.
"Berkunjung?" Tanya gadis itu bingung. Gadis itu mengira Kyungsoo tinggal terpisah dengan ibunya.
"Berkunjung ke makam ibuku," Kyungsoo menoleh pada gadis perangkai bunga. Ia tersenyum.
"Maaf," gadis itu sempat menghentikan kegiatannya dan membungkuk, ia meminta maaf pada Kyungsoo.
"Ah tidak apa.. apa sudah selesai?" Balas Kyungsoo. Senyumnya yang sudah jarang terlihat akhir-akhir ini.
"Sedikit lagi," gadis itu segera melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
.
.
Baru setengah jalan, mata Kyungsoo terlihat berbinar melihat toko roti yang cukup ramai disana.
"Kenapa berhenti lagi?" Protes Jongin saat Kyungsoo kembali menepikan mobilnya di depan toko roti.
"Aku lapar, aku akan beli roti sebentar," Kyungsoo mematikan mobilnya, ia melepas sabuk pengamannya.
"Sebenarnya perutmu terbuat dari apa? Astaga!" Teriak Jongin saat melihat Kyungsoo keluar dari mobil dengan cepat dan menyambar dompetnya.
"Tunggu sebentar. Kau mau apa?" Kyungsoo kembali dan mengetuk kaca mobil.
"Terserah kau saja," Jongin membuka sedikit kacanya.
Jongin menunggu Kyungsoo di dalam mobil. Dari kaca depan toko, ia melihat Kyungsoo sibuk memilih beberapa roti. Jongin mulai suka 'di sini'. Tingkah Kyungsoo, ocehan Jongsoo. bisa menjadi hiburan untuk penatnya sebagai seorang mahasiswa di tempat sebelumnya.
"Ini! Aku tak tau seleramu. Itu isi pasta cokelat." Kyungsoo menyerahkan sebungkus roti kepada Jongin. Jongin menerimanya dan mulai membukanya. Ia melihat Kyungsoo yang begitu lahap.
"Ini enak. 'Seokkie bakery'. Oke, aku datang lagi besok," gumam Kyungsoo. Ada kantong kertas berisi roti di pangkuannya.
"Haah?" Jongin tak percaya. Apa kepribadian Kyungsoo memang begini?
"Selamat pagi~" sapa seseorang dibalik meja kasirnya.
"Ah ne." Jawab Kyungsoo dan sedikit membungkukkan badannya.
Seorang pelayan membawa nampan dan bertanya pada Kyungsoo yang mulai memilih roti di dalam etalase.
"Ini satu. Dan ini. Ini juga, lalu.. ini." Tunhuk Kyungsoo satu persatu. Ia menunjuk empat roti dengan isi dan bentuk yang berbeda.
"Sudah? Semuanya enam ribu lima ratus won," ucap pelayan itu kepada Kyungsoo dan membawa nampannya ke meja kasir.
"Ini, terima kasih," Kyungsoo menyerahkan beberapa lembar won sesuai jumlah pembelian.
"Terima kasih. Silahkan berkunjung kembali," balas penjaga kasir.
Kyungsoo berjalan menuju pintu keluar, tetapi sebelum itu ia mendengar suara anak kecil meneriakkan namanya. Ia berhenti tepat di tengah toko roti.
"Kyungsoo ahjumma!" Seorang anak laki-laki kecil berlari ke arah Kyungsoo.
"Ah? Ada yang memanggilku," gumam Kyungso.
Kyungsoo membalikkan badannya, ia melihat anak laki-laki bekulit putih, pipinya yang nampak bulat seperti bentuk salah satu roti yang dibeli Kyungsoo tadi, membuatnya terlihat lucu.
"Ahjumma! Apa ahjumma membeli roti buatan eomma?" Anak itu memasang senyum manis di depan Kyungsoo.
Belum sempat Kyungsoo menjawab, seorang wanita berjalan ke arahnya. Wajahnya terlihat sama dengan anak laki-laki di depannya. Itu ibunya, pikir Kyungsoo.
"Kyungsoo?" Sapa wanita itu. Ternyata pipi anak laki-laki kecil itu adalah turunan dari perempuan di depannya ini.
"Ah ne~" jawab Kyungsoo bingung. Ia tak tau apa-apa.
"Aku merindukanmu," wanita itu memeluk Kyungsoo. Semakin membuat Kyungsoo merasa bersalah karena tak tau apapun.
"A-ah a-aku juga,"
"Mana Jongsoo? Apa kau datang sendiri?" Wanita itu melepas pelukannya, ia mencari di sekitar Kyungsoo.
"Ah itu, i-iya. Jongsoo berada di sekolah,"
"Benar juga. Mindae demam semalam, dia tak enak badan. Jongdae menyuruhnya di rumah saja hari ini. Jongdae sangat berlebihan," perempuan itu tertawa. Mungkin ia terlalu merindukan Kyungsoo hingga lupa mengajak duduk.
"Benarkah? Lekas sembuh jagoan~" Kyungsoo hanya selalu memasang senyumnya. Ia mencubit pipi anak laki-laki itu, dalam hatinya ia merasa gemas melihat pipi itu.
"Terima kasih ahjumma,"
"Maaf, aku sedikit terburu-buru. Aku permisi," Kyungsoo berpamitan. Jika diteruskan, ia semakin tak tau apa-apa, ia akan bertanya dulu pada Luhan. Itupun jika Luhan juga tau.
"Ah iya, iya. Ini sudah pukul sepuluh, kasian Jongsoo menunggu." Wanita itu mengingatkan.
"Aku permisi," Kyungsoo membungkukkan badannya.
"Ya, hati-hati. Seringlah mampir dan bawa Jongsoo," balas wanita itu. Dan satu yang tak diketahui oleh Kyungsoo, nama. Karena itu ia buru-buru keluar.
"Baik. Terima kasih. Bye jagoan~" Kyungsoo melambaikan tangannya pada laki-laki kecil bernama Mindae.
"Bye ahjumma," balas anak itu. Ia juga melambaikan tangannya dan melihat kepergian Kyungsoo hingga menaiki mobilnya.
.
.
.
.
.
Setelah perjalanan yang cukup lama. Karena Kyungsoo yang menghentikan mobilnya beberapa kali, ditambah jeda waktu makan roti isi cokelat. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Jongin memperhatikan Kyungsoo, gadis itu sudah mengahabiskan dua roti tadi.
"Cepat daftar! Luhan sudah mengirim pesan. Jongsoo sudah di rumahnya," perintah Jongin saat mereka sudah sampai di depan Loket pendaftaran. Luhan sudah mengiriminya pesan bahwa anak-anak sudah sampai di rumah Luhan sepuluh menit lalu.
"Kau tak daftar juga?" tanya Kyungsoo saat hendak meninggalkan loket.
"Kenapa aku harus daftar? Aku baik-baik saja," jawab Jongin.
"Aku tau kau tak baik. Kau sering mual dan muntah kan?" Kyungsoo tersenyum tulus, tak seperti senyum-senyum yang sebelumnya.
"Darimana kau-" Jongin tertegun. Seingatnya Kyungsoo tak pernah berada di dekatnya saat ia mual ataupun muntah. Tanpa Jongin ketahui, Kyungsoo sempat membuka matanya semalam, saat Jongin tengah memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
"Ayo! Duduk disana!" Kyungsoo segera memotong pertanyaan Jongin. Ia menunjuk deretan kursi di ruang tunggu.
"Aku akan mencari minum sebentar," Kyungsoo mengangguk.
.
.
.
.
.
"Masuklah," Dokter bername-tag Park Junsu itu membukakan pintu ruangannya untuk Kyungsoo. Kyungsoo hanya diam dan melihat sekitarnya.
Kyungsoo terkejut saat melihat tulisan pada papan kayu yang tergantung diaras pintu. Ini adalah poli kandungan.
"Astaga, kenapa aku dibawa kemari?" gumamnya. Reflek Kyungsoo meletakkan tangannya diatas perutnya.
Kyungsoo tak sadar sudah berada disini. Ia hanya menurut saat dokter yang menghampirinya saat diruang tunggu membawanya kemari. Ia juga tak mengenal dokter ini sebelumnya.
"Kau ini kenapa?" Junsu yang sudah masuk ke dalam ruangannya kembali keluar saat menyadari Kyungsoo belum juga masuk.
Junsu menggandeng Kyungsoo dan tersenyum. Ia merasa sedikit aneh melihat Kyungsoo.
"Berbaringlah disana," perintah dokter itu pada Kyungsoo setelah Kyungsoo menurut dan mau masuk ke ruangannya.
"Apa saya, terkena suatu penyakit?"
"Kenapa kau seformal itu Kyungsoo? Kita akan tau kau sakit atau tidak karena kau pingsan semalam," Kyungsoo hanya mengangguk mendengarkan. Sebenarnya saat perjalanan kemari, dokter itu menanyakan keluhan Kyungsoo beberapa hari ini, tapi Kyungsoo hanya menjawab ia pingsan semalam.
"Apa saya baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo. Setelah dokter itu memeriksa lidah Kyungsoo, mata dan juga memeriksa tekanan darah Kyungsoo.
"Menurut pemeriksaan, kau baik-baik saja," dokter itu mengatakan menurut hasil pemeriksaan, semuanya normal, tak ada masalah yang serius.
"Berbaringlah Kyungsoo," perintah dokter itu kembali saat melihat Kyungsoo berusaha bangun. Reflek Kyungsoo kembali berbaring. Ia kira sudah selesai.
"Aku akan memastikan bahwa bayimu baik-baik saja. Aku harap benturan saat kau pingsan tak berpengaruh padanya," Kyungsoo terdiam. Apa kali ini telinganya yang bermasalah? Bayi? Bayi siapa yang akan diperiksa?
"Tunggu. B-bayi?" Akhirnya ia bertanya. Kyungsoo yakin telinganya tak salah dengar.
"Bayimu Kyungsoo. Ibu hamil memang sedikit mudah lupa. Tapi itu hal yang wajar," ini yang lebih mengagetkan lagi. Ibu hamil? Memang siapa yang hamil? Wajar? Kyungsoo tak tau apa-apa. Dia hanya bisa diam, tapi pikirannya tidak. Kata 'Bayi' dan 'Ibu hamil' terus berlarian di otaknya.
Tubuh Kyungsoo serasa lemas, ia tak lagi mendengar apa yang dikatakan dokter itu, ia hanya merasakan kemejanya yang terangkat dan sesuatu yang dingin mulai menyentuh kulit perutnya.
"Bayi," gumam Kyungsoo. Ia hanya menatap langit-langit ruangan itu.
"Itu dia. Syukurlah, dia baik-baik saja," ucap dokter itu menyadarkan Kyungsoo.
Kyungsoo mulai mengikuti arah pandang dokter itu pada monitor.
Hanya ada warna hitam dan putih di layar.
"Dia terlihat kecil," tak sengaja gumaman Kyungsoo terdengar oleh dokter bername-tag Park Junsu itu.
"Kau benar. Usianya belum genap empat minggu."
"Apa dia baik?" Dokter itu mengangguk dan tersenyum. Ia membersihkan gel di perut Kyungsoo.
"Sudah selesai. Biar kubantu," ucap dokter itu. Ia membantu Kyungsoo bangkit dari berbaringnya.
.
.
.
.
.
Jongin sempat menguap karena bosan. Berkali-kali ia meminum air dari botol mineralnya. Ia pikir Kyungsoo sudah di dalam dan di periksa. Karena saat ia kembali dari kantin rumah sakit, ia melihat tempat duduk Kyungsoo yang sebelumnya sudah kosong. Tapi kenapa sampai sekarang Kyungsoo belum keluar juga.
"Eoh? Kyungsoo?" Tak sengaja Jongin melihat Kyungsoo melewati ruang tunggu dan berjalan menuju ke arah pintu keluar rumah sakit.
"D-darimana dia?"
"Kyungsoo!" Jongin berdiri dari duduknya. Ia mengejar Kyungsoo.
"Hey Do Kyungsoo!" Kyungsoo menghentikan langkahnya.
Jongin mengambil nafasnya yang setengah-setengah karena berlari. Ia memegang bahu Kyungsoo perlahan.
"Hey, kau kenapa?" Tanya Jongin pada Kyungsoo yang masih menunduk di hadapannya.
"Kita pulang," Kyungsoo mendongak.
"Kyungsoo? K-kau kenapa?"
"Aku kenapa?" Tanya Kyungsoo balik.
"K-kau menangis?" Jongin tertegun. Mata Kyungsoo memerah. Airmatanya bahkan masih mengalir disana.
"Tidak," Kyungsoo kembali berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Jongin yang terpekur. Ini pertama kalinya ia melihat Kyungsoo menangis seperti itu. Kyungsoo terlihst seperti terluka.
.
.
.
.
.
.
.
*TBC/END?*
.
.
.
.
.
.
.
Ketika tebeseh datang membegal, silahkan timpuk saya. Hahahah~
Aku datang.. Ada yang nunggu? Maaf ya, baru update.. Maklum, kena efek baper berkepanjangan karena si panda.
Gimana chapter ini? Aku coba agak lambatin karena ada msukan klo chapter lalu agak kcepetan alurnya. Pokoknya apa aja smpein di kotak review ya. Makasih buat masukannya. Aku tau ff ini masih jauh dri sempurna, tapi aku ttp berusaha nulis yang terbaik buat readerdul.
Chapter ini juga udah aku panjangin karna udah lewat dri janjiku bakal update seminggu sekali. Heheh.. Oiya, hampir lupa, ini juga pindah rate dari T ke M. Buat jaga-jaga, oke?/
Terima kasih banyak buat semua yg udah ngedukung ini ff. Tanpa kalian ff bukan apa-apa.
Terima kasih untuk review, follow, favorit, reader yg mgkin blm smpat ninggalin jejak. Terima kasih semuaaa.. #deepbow =))
Big Thanks To:
|AmeChan95|exindira|kimyori95|BABY L Soo|Kim YeHyun|jdcchan|Frostiedelight24|alxshav|ami,park,31|Kimsibling|VirraViany|MbemXiumin|Sofia Magdalena|Lovesoo|Humaira9394|zoldyk|anon|Ryeollakim|Joonwu|NopwillineKaiSoo|dhyamanta1214|dokai|anoncikiciw|LS-Snowie|dekaeskajei| ShinJiWoo920202| |dyodomyeon|
Buat semuaaa.. Terima kasih banyak deh pokoknya. Terima kasih sebelumnua buat reviewnya.
EXO-L stay strong! Fighting! Okay?! ;D
-ChaKaJja13-
