Let Me Love You

Author : ChaKaJja13

Cast :

Kim JongIn (29 yo)

Do KyungSoo (29 yo)

Kim JongSoo (3 yo)

Oh Sehun (29 yo)

Oh(Xi) Luhan (29 yo)

Oh Sehan (3 yo)

Park Chanyeol (30 yo)

Byun Baekhyun (29 yo)

Park Chanhyun (12 yo)

Other cast.

.

.

EXO fict. Newbie author

.

.

Alur lambat. Typo(s) everywhere.

.

.

.

Don't bash. Don't like. Don't read. No flame

.

.

"Hey, kau kenapa?" Tanya Jongin pada Kyungsoo yang masih menunduk di hadapannya.

"Kita pulang," Kyungsoo mendongak.

"Kyungsoo? K-kau kenapa?"

"Aku kenapa?" Tanya Kyungsoo balik.

"K-kau menangis?" Jongin tertegun. Mata Kyungsoo memerah. Airmatanya bahkan masih mengalir disana.

"Tidak," Kyungsoo kembali berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Jongin yang terpekur. Ini pertama kalinya ia melihat Kyungsoo menangis seperti itu. Kyungsoo terlihat seperti terluka.

.

.

Mind to review?

.

.

*Happy reading*

.

.

"Hei! Kau kenapa?" tanya Jongin. Ia terus mengikuti langkah Kyungsoo menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia menggelengkan kepalanya saat tak mendapati jawaban dari Kyungsoo.

Kyungsoo sibuk mencari kunci di dalam tasnya. Dan yang tak Jongin mengerti, airmata Kyungsoo masih terus mengalir di pipinya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Jongin kembali. Kyungsoo tak baik-baik saja, ia terlihat emosional saat merogoh tasnya dan tak juga mendapati kunci disana.

"Aarrgh!" Kyungsoo berteriak. Ia jatuh terduduk dan menangis. Tasnya berada di dalam pelukannya.

Jongin terkejut dengan Kyungsoo. Ia hanya memperhatikan Kyungsoo yang menangis. Beberapa orang yang berlalu lalang menatap aneh pada Jongin. Mungkin orang-orang pikir, Jongin yang menyebabkan Kyungsoo menangis.

"Kyungsoo?" Panggil Jongin, Kyungsoo masih saja menangis. Jongin berlutut perlahan di sebelah Kyungsoo.

Kyungsoo memang dapat mendengar suara Jongin. Tapi pikirannya terus mengingat percakapan dengan dokter kandungan yang ditemuinya tadi. Apa yang dokter katakan cukup membuatnya kacau.

(Flashback On)

"Maaf mengingatkanmu tentang ini," ucap Dokter wanita itu.

"Ya?" sahut Kyungsoo tak mengerti.

"Meski kau pernah mengalami keguguran sebelumnya. Tapi, menurut pemeriksaanku, kehamilanmu baik-baik saja," jelas dokter kandungan yang duduk di depan Kyungsoo.

"Keguguran?" Kyungsoo bertanya. Penjelasan dokter itu cukup membuatnya kaget. Bagaimana bisa? Apa Jongin mengetahuinya? Beberapa pertanyaan muncul dipikiran Kyungsoo.

Tapi yang lebih ingin Kyungsoo ketahui, bagaimana perasaan seorang Do Kyungsoo saat itu? Sebagai seorang ibu, tentu tak ingin kehilangan putranya, begitu pikir Kyungsoo. Dan entah kenapa, seolah Kyungsoo juga merasakan sakit dihatinya.

"Aku tau itu membuat trauma untukmu. Tapi, mengingat ini sudah empat bulan berlalu. Aku rasa dia bisa bertahan hingga terlahir nanti,"

"Aku harap juga begitu," balas Kyungsoo. Ia segera berpamitan dan meninggalkan ruangan itu dengan tergesa. Airmatanya sudah berlomba membanjiri pipinya saat ia berjalan di koridor rumah sakit dan mengusap lembut perutnya.

Jika sudah empat bulan berlalu, dan jika Kyungsoo tak salah hitung. Seharusnya kandungannya sudah berusia lima bulan. Dan itulah yang menyebabkan Kyungsoo ingin menangis.

(FlashbackEnd)

"Aku tak bisa menemukan kuncinya. Aku ingin pulang," lirih Kyungsoo, ia hanya melihat Jongin dari ekor matanya. Dahi Jongin berkerut, tak mungkin hanya karena itu Kyungsoo menangis dan terlihat cukup emosional.

"Kuncinya ada padaku," Jongin menyerahkan kuncinya pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya menatap tangan Jongin di depannya.

"Kau.. baik-baik saja?" Kyungsoo hanya mengangguk. Ia segera mengusap lelehan airmatanya, mengambil kunci diatas tangan Jongin dan segera berdiri.

"Apa kau, sungguh baik-baik saja?" Kyungsoo terdiam saat membuka pintu mobilnya.

"Aku baik," jawab Kyungsoo singkat. Ia segera berada di kursi kemudinya.

.

.

.

.

.

Blam!

Jongin terlambat. Seketika pintu kamar Jongsoo tertutup rapat setelah Kyungsoo yang menangis masuk kedalam. Bahkan pintunya terkunci.

"Kyungsoo!" Jongin masih terus memanggil Kyungsoo. Ia memutar knop pintunya tapi tak berpengaruh apapun.

"Hikss..eomma~" sedangkan di dalam sana Jongin mendengar Kyungsoo yang terisak dan memanggil ibunya.

"Kyungsoo! Kau kenapa? Buka pintunya!" Ketukan pintu Jongin tak mendapat sahutan.

"Eomma.." Kyungsoo masih terus memanggil ibunya.

"Ada apa denganmu? Buka pintunya!" Jongin berteriak. Memang Kyungsoo hanya diam sejak memasuki mobilnya tadi. Jonginpun juga tak berani bertanya. Jongin benar-benar bingung melihat Kyungsoo yang seperti tadi.

"Ayolah Kyungsoo.. buka pintunya!"mohon Jongin. Cukup lama mereka seperti ini. Bahkan Jongin hampir menyerah dan pergi.

Sedangkan didalam kamar. Kyungsoo berdiri dibalik pintu, ia segera menghapus sisa-sisa airmata di wajahnya.

"Kyungsoo pernah kehilangan bayinya. Kau tetaplah disini sampai kau lahir." Kyungsoo berbicara sepelan mungkin hingga hanya dia yang mendengarnya. Ia berkata pada janin yang berada di dalam perutnya. Entah kenapa ia memiliki perasaan aneh saat mengusap lembut perutnya.

"Aku akan berdosa padanya karena jika tak bisa menjagamu saat aku meminjam tubuhnya. Bantu aku," Kyungsoo tersenyum.

Ia mengambil nafas besar. Dan dengan yakin ia mulai memutar kunci pada knop pintu kamar Jongsoo.

Cklek

Kyungsoo membuka pintunya. Ia terkejut melihat Jongin yang ternyata masih berada di depan pintu, dan wajahnya yang terlihat sangat serius.

"Ada apa?" Tanya Kyungsoo. Ia berjalan dan duduk di ranjang Jongsoo.

"Kau kenapa?" Sambar Jongin. Ia masuk ke dalam kamar Jongsoo dan ikut duduk di sebelah Kyungsoo.

"Aku? Memang aku kenapa?" Kyungsoo malah balik bertanya pada Jongin.

"Kenapa kau menangis?"

"Aku tidak menangis Jongin. Aku baik-baik saja, oke?" Jawab Kyungsoo. Ia segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jongin dengan wajah tak mengertinya.

"Aku benar-benar mendengarnya menangis. Telingaku masih sehat. Ya, kurasa," monolog Jongin. Ia masih duduk diatas ranjang Jongsoo. Jongin bahkan tak sadar dimana pemilik ranjang ini. Jongsoo masih di rumah Luhan. Entah sampai kapan Jongin dan Kyungsoo menyadari bahwa mereka melupakan putranya.

"Hhh..." untuk kesekian kalinya Kyungsoo menghela nafasnya sejak memasuki dapur beberapa saat lalu. Ia berdiri di counter dan menuangkan teh hijau yang telah diseduhnya ke dalam cangkir putih dengan motif bunga disekitarnya.

Trekk

"Aku tak tau apapun..hikss.." Kyungsoo kembali menangis dan meletakkan cangkirnya setelah sempat menyesap teh hijaunya.

"Hei, Do Kyungsoo. Apa yang kau rasakan saat kehilangan bayimu? Apa benar sesakit ini?" Batin Kyungsoo.

Ia menunduk dan bahunya bergetar. Dan tanpa ia sadari, Jongin berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebenarnya Jongin sudah cukup lama berdiri disana. Jongin sampai di dapur tepat ketika Kyungsoo menyeduh tehnya pada teko dan menuangkan air panasnya. Jongin sedikit terkejut saat melihat tangan Kyungsoo yang tampak gemetar.

"Kyungsoo," panggil Jongin. Ia berjalan mendekat pada Kyungsoo. Kyungsoo yang sadar setelah mendengar suara Jongin, buru-buru menghapus airmatanya. Kyungsoo seolah ingin menangis, ia tak bisa menjelaskan rasa sakit yang dirasakannya. Ia seperti hanya ingin menangis saja.

"A-aku baik," jawab Kyungsoo, bahkan ia tak berani menatap ke arah Jongin. Ia terus menunduk dan hanya menatap cangkir tehnya.

Dan yang Kyungsoo tak suka, airmatanya terjatuh tanpa persetujuannya.

"Kau terlihat kacau sejak dari rumah sakit," jelas Jongin. Ia sudah berada tepat di sebelah Kyungsoo. Jongin memang tak langsung mendekati Kyungsoo sejak tadi.

Tanpa sadar Jongin membawa Kyungsoo ke pelukannya saat Kyungsoo tak menjawab apapun dan malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kyungsoo langsung menangis lebih keras dari sebelumnya setelah berada didalam pelukan Jongin. Bahunya bergetar, dan ia juga merasakan tepukan Jongin di punggungnya.

"Aku, terbiasa bersandar pada ibuku," ucap Kyungsoo di sela tangisannya. Jongin mengangguk tanda mengerti, itu adalah hal wajar bagi Jongin.

"Dan kemarin, aku melihat makam ibuku. Aku benar-benar sendiri sekarang," sambung Kyungsoo. Ia masih menangis.

"Kau bisa bercerita padaku. Aku akan dengar. Aku tau ada yang mengganggu pikiranmu. Jika tidak, kau tak mungkin menangis seperti ini. Ceritakan saja," tawar Jongin.

"Aku, hamil," jawab Kyungsoo. Ia menutup matanya erat, takut akan reaksi Jongin. Kyungsoo melepas pelukan Jongin perlahan.

"A-apa?" Tanya Jongin tak percaya. Kyungsoo hanya bisa mengangguk saja sebagai balasannya.

"Saat aku di ruang tunggu. Aku bertemu dengan seorang dokter, ia membawaku ke ruangannya. Ia memeriksaku dan mengatakan bahwa aku sedang mengandung,"

"Oh Tuhan," keluh Jongin, tak bisakah ia keluar dari semua ini. Kembali dikehidupannya yang sebelumnya baik-baik saja. Menjadi mahasiswa teladan dan membantu orang tua bekerja di kedai milik keluarganya.

Jika ini mimpi, Jongin berharap Joonmyeon noonanya segera menyiram tubuhnya yang tertidur disana dengan air. Jongin tidak akan marah seperti sebelumnya, ia tak akan marah jika kasurnya akan basah, malah ia akan sangat berterima kasih.

"Maaf, aku juga tidak tau,"

"Tidak! Tidak, ini bukan salahmu. Jika aku jadi dirimu mungkin aku juga akan menangis," sahut Jongin. Pantas saja Kyungsoo menangis seperti itu, bagaimana tidak syok jika di dalam perutnya sedang hidup nyawa lain sedangkan usianya masih muda.

"Sebenarnya, dokter itu juga menceritakan hal lain padaku,"

"Hal lain?"

"Dokter itu bilang, Do Kyungsoo pernah mengalami keguguran beberapa bulan lalu,"

"Benarkah?" Kyungsoo mengangguk.

"Kalau tidak salah, empat bulan lalu," jelas Kyungsoo.

"Karena itu kau merasa sedih?"

"Eum, aku tak tau kenapa aku sangat ingin menangis saat mengingat itu,"

"Aku tau ini mungkin akan sulit. Tapi, aku rasa kita akan bisa melewati ini semua. Kita berjuang bersama," Jongin menggenggam tangan Kyungsoo. Ia berusaha meyakinkan Kyungsoo. Meski Kyungsoo bukan 'siapa-siapanya' walaupun sekarang yang orang-orang tau bahwa perempuan bermata bulat didepannya ini adalah istrinya, dan terlepas dari itu semua, Jongin berharap dapat menjaga Kyungsoo disini, karena bagaimanapun ia seorang laki-laki.

"Terima kasih,"

"Sama-sama. Kita akan saling membantu mulai sekarang," Jongin tersenyum tulus pada Kyungsoo yang juga membalasnya dengan senyum manisnya.

"Jongin," panggil Kyungsoo. Ia menoleh pada Jongin.

"Iya?"

"Kita melupakan Jongsoo," ucap Kyungsoo menatap Jongin.

"Astaga!" Jongin menepuk dahinya.

.

.

.

.

.

Luhan mengawasi anak-anak bermain di taman belakang. Ia tertawa melihat Sehan dan Jongsoo yang bergantian menaiki sepeda. Saat Sehan naik, Jongsoo yang mengejar, dan sebaliknya. Luhan sudah mengganti seragam anak-anak dan memandikan mereka karena berkeringat sepulang sekolah. Luhan memakaikan baju Sehan pada Jongsoo karena ia lupa meminta baju Jongsoo pada Jongin.

Terdengar keributan kecil antara Sehan dan Jongsoo di taman belakang. Sehan berebut sepeda baru miliknya dengan Jongsoo.

"Tidak mau Jongsoo! Ini punya Sehan!" Sehan berteriak dan terus menampik tangan Jongsoo yang terus memegang sepeda Sehan.

"Jongsoo pinjam," rengek Jongsoo. Ia juga ingin menaiki sepeda baru itu, karena jujur saja, Jongsoo tidak memiliki sepeda di rumahnya sendiri.

"Tidak boleh!" Sehan semakin berteriak saat Jongsoo kembali meletakkan tangannya di atas sepeda Sehan.

Sebenarnya ada Jongin yang duduk tak jauh dari sana, ia duduk di meja kecil dengan laptopnya. Sehun mengajak Jongin agar mengerjakan pekerjaan kantor sekaligus makan siang dirumahnya.

Dan sekarang, Luhan tengah memasak di dapur ubtuk makan siang mereka berlima. Kyungsoo memang tak disini, Kyungsoo mendapat pesanan membuat kue ulang tahun Chanhyun, dan Baekhyun menyarankan agar membuat pesanannya dirumahnya saja. Dan Luhan yang mengetahui itu langsung menjemput Jongsoo sejak pagi di rumahnya. Kyungsoo yang sempat menolak karena tak enak, akhirnya mengalah juga pada Luhan.

Jongin yang sedang menunggu Sehun yang masih di dalam rumah untuk mengambil berkas-berkas di ruang kerjanya. Jongin juga tak berniat melerai pertengkaran antara Sehan dan Jongsoo. Ia hanya menyesap kopinya dan kembali menatap layar laptopnya.

"Sehan, Jongsoo pinjam!" Jongsoo juga balas berteriak.

"Tidak mau!" Sehan mendorong Jongsoo agar menghindar dari sepedanya. Ia segera menaiki sepeda roda tiganya dan mengayuh dengan cepat. Jongsoo akhirnya hanya bermain mobil-mobilan kecil di atas rumput. Ia memaju-mundurkan dan menggumam menirukan suara mobil.

Baru saja Jongsoo tenggelam dalam ke-asyikannya bermain sendir di atas rumput halaman belakang rumah Sehun dan Luhan, ia teralihkan oleh bunyi benda yang tengah menabrak sesuatu.

"Sehan!" Jongsoo berlari pada Sehan yang terjatuh dari sepedanya setelah menabrak pot bunga milik Luhan.

"Hikss..hikss..huwaaaa~ eomma!" baru saja Jongsoo sampai disebelah Sehan, ia sudah mendengar suara tangis Sehan yang cukup keras. Ia tak tau harus berbuat apa, jadi ia hanya berdiri di sebelah Sehan yang terduduk.

Luhan yang mendengar suara tangis putranya dari dapur segera melepas apronnya dan berlari menuju taman belakang.

Sedangkan di taman, Jongin yang melihat Sehan terjatuh dan menangis segera berlari ke arah Jongsoo dan Sehan.

"Jongsoo! Apa yang kau lakukan?" Jongin berteriak pada Jongsoo.

"Sehan jatuh appa," Jongsoo yang beringsut ketakutan karena teriakan Jongin hanya menjawab lirih.

"Kau yang mendorongnya kan? Dasar kau!" Jongin tak mendengar Jongsoo, ia segera memukul pantat Jongsoo dengan keras. Ia juga mencubit lengan Jongsoo.

"Tidak appa.. sakit appa..huweeeee~" seketika Jongsoo menangis. Bagaimana tidak, telapak tangan besar Jongin yang mendarat di tubuhnya dengan kasar sudah membuatnya cukup kesakitan. Dan cubitan Jonginlah yang semakin membuat tangis Jongsoo semakin keras, dan mungkin akan ada bekas berwarna ungu di lengannya setelah ini.

"Jongin! Apa yang kau lakukan?" teriak Luhan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana bisa Sehan yang jatuh tapi malah Jongsoo yang dipukuli Jongin. Bahkan Luhan juga melihat jika Sehan sudah tak menangis lagi. Mungkin ia terlalu takut pada wajah Jobgin yang terlihat marah.

"Jangan menangis! Diam!" seolah tuli dengan teriakan Luhan, Jongin menyeret paksa lengan Jongsoo untuk meninggalkan halaman rumah Sehun.

"Eomma..hikss.." Luhan meneteskan airmatanya saat mendengar Jongsoo memanggil ibunya.

"Kyungsoo tak disini! Jangan manja! Ayo pulang!" ucap Jongin kasar. Ia terus menyeret Jongsoo. Dan mengabaikan Sehun yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan berlari. Teriakan Luhan yang membuat penasaran, keributan apa yang sudah terjadi.

Tarikan kecil yang dilakukan Sehan pada dressnya mampu membuyarkan ingatan Luhan waktu itu. Sehan yang berkeringat dan terengah berlari menghampirinya, dan dibelakangnya, Jongsoo masih berputar di taman dengan menaiki sepeda milik Sehan.

"Eomma, sudah,"

"Kenapa cepat sekali bermainnya?" Tanya Luhan. Biasanya Sehan sangat senang jika ada Jongsoo dirumahnya.

"Sehan ngantuk," anak laki-laki kecil itu mengucek matanya. Luhan tersenyum, ia bangkit dari bangkunya dan menggendong Sehan. Sehan segera meletakkan kepalanya di bahu Luhan. Dan Luhan yang menepuk-nepuk punggung Sehan semakin membuat mata rusa milik Sehan terasa berat. Luhan berjalan menghampiri Jongsoo yang masih berkeliling mengayuh sepeda.

"Apa eomma sudah datang?" Jongsoo mengayuh sepedanya mendekat saat melihat Luhan yang berjalan kearahnya.

"Belum sayang," jawab Luhan. Ia mengusap lembut rambut Jongsoo. Sehan sudah mendengkur halus digondongan Luhan.

"Jongsoo masih ingin bersepeda, boleh?" Tanya Jongsoo.

"Bagaimana jika naik mobil milik Sehan di dalam rumah?" Tawar Luhan.

Sehan memiliki mobil kecil yang bisa dinaiki. Mobil versi mini berwarna putih, yang bisa dikendalikan dengan remote control itu adalah kado dari Sehun untuk Sehan saat tepat berusia satu tahun.

Karena matahari sudah tinggi, Luhan menawarkan agar Jongsoo lebih baik bermain di dalam rumah. Luhan juga bisa lebih mudah mengawasi, tanpa harus berlari dari taman belakang menuju kamar Sehan jika sewaktu-waktu mendengar putranya menangis.

"Boleh?" Tanya Jongsoo. Senyumnya terkembang dan matanya berbinar.

Luhan tau, hanya disini Jongsoo bisa bermain. Jongin tak pernah membelikan Jongsoo mainan, sekedar mobil-mobilan kecilpun tak pernah. Hanya beberapa mainan kecil seperti robot-robotan, jika bukan Kyungsoo yang membelinya atau pemberian dari kakak-kakak Jongin yang sangat menyayangi Jongsoo.

"Tentu saja. Ayo!" Ajak Luhan. Jongsoo mengangguk semangat dan menaiki sepedanya menuju tembok dekat pintu masuk ke dalam rumah dari taman belakang. Sehan biasa meletakkan sepedanya disana. Sehan akan selalu bilang "Ini tempat parkir sepeda," dan Jongsoo yang hanya akan mengangguk dan tersenyum menunjukkan giginya.

.

.

.

.

.

"Ayo Jongin, cepatlah! Tidak enak meninggalkan Jongsoo lama-lama disana," panggil Kyungsoo dari luar kamar saat Jongin tak kunjung keluar dari kamar miliknya dan Jongin. Setelah mengingat bahwa mereka lupa menjemput Jongsoo sepulang dari rumah sakit, Jongin segera mandi dan berganti pakaian.

"Iya-iya, ini juga sudah," Jongin keluar dari kamar. Ia memakai kaos berkrah berwarna hijau botol dan juga jeans hitam selutut. Ia terlihat lebih santai sekarang.

"Lagipula, kenapa kau ganti baju?" protes Kyungsoo. Sebab Kyungsoo sendiri malas berganti baju ataupun mandi, jadi ia masih tetap memakai pakaian sebelumnya.

"Bajuku basah Kyungsoo," elak Jongin.

"Maaf," Kyungsoo meminta maaf setelah sadar bahwa kemeja Jongin menjadi basah karena airmatanya.

"Tidak apa. Ayo!" balas Jongin. Ia tersenyum pada Kyungsoo.

Mereka memasuki mobil milik Kyungsoo. Dan seperti biasa, Kyungsoo yang menyetir. Kyungsoo sudah terlihat biasa saat ini, sepertinya ia sudah ta terlalu sedih seperti sebelumnya. Kyungsoo segera menginjak gas nya menuju rumah Luhan.

Tak ada topik untuk mereka bahas sekarang. Dan Kyungsoo, ia terlihat salah tingkah saat sesekali melirik Jongin dari ekor matanya. Kyungsoo seperti itu karena mengingat bahwa ia sempat berada di dalam pelukan Kim Jongin saat menangis.

"Kyungsoo, bisa kau berhenti?" panggil Jongin. Kyungsoo sempat terlonjak, karena jujur saja suasana di dalam mobil sangatlah sepi dan tiba-tiba saja Jongin menyuruhnya untuk berhenti.

"A-ah ada apa?" tanya Kyungsoo. Ia segera menepikan mobilnya.

"Ada toko bunga disana. Bukankah tadi kau bilang ingin beli bunga?" tanya Jongin. Ia menunjuk toko bunga kecil yang terlihat disana. Ini bukan toko bunga yang sama dengan tadi pagi, dan sepertinya bunga yang dijual juga bisa saja lebih banyak.

"Boleh?"

"Aku masih ada uang tunai. Aku rasa itu cukup,"

"Baiklah, ayo!" Kyungsoo tampak girang dan tersenyum dengan lebar. Ia segera melepas sabuk pengamannya dan mematikan mesin mobil.

.

.

.

.

.

"Ahjumma! Kenapa eomma belum datang?" tanya Jongsoo yang sudah terlihat bosan karena ia harus bermain sendiri diatas mobil mainan duplikat itu. Luhan yang mengendalikan remote control mobil itu juga bisa melihat mata Jongsoo yang mulai mengayun. Karena ini memang sudah sangat siang, kenapa juga Jongin dan Kyungsoo belum kemari? Bukan Luhan tak suka Jongsoo disini. Entah kenapa Jongsoo terlihat gelisah, ia juga belum makan siang.

"Mungkin sebentar lagi. Jongsoo makan dulu, bagaimana?" tawar Luhan. Saat Luhan menyuapi Sehan makan tadi, Jongsoo juga hanya menggeleng.

"Jongsoo tunggu eomma," benar kan, itu jawaban Jongsoo.

"Tapi Jongsoo belum makan sayang, ini sudah siang.. Sehan juga sudah tidur.." Luhan menghampiri Jongsoo diatas mobilnya.

"Hikss..eomma~" Jongsoo menangis. Luhan kaget, ia segera mengambil Jongsoo dari dalam mobil.

"Sstt.. Jangan mena-" ucapn Luhan segera terpotong dengan bunyi bel rumahnya. Mungkin saja itu Jongin dan Kyungsoo.

Ting Tong!

Luhan membawa Jongsoo di gendongannya dan masih sesenggukan itu menuju pintu.

"Hi Luhan," senyuman Kyungsoo langsung menyapa Luhan yang membuka pintu.

"Eomma!" panggil Jongsoo. Ia merentangkan tangannya pada Kyungsoo.

"Aah Jongsoo-ya.. Maaf kami terlambat menjemputmu," ujar Jongin. Ia segera mengambil Jongsoo dari gendongan Luhan. Dan Luhan berpandangan dengan Kyungsoo karena tingkah Jongin.

"Kau tidak boleh menggendong sekarang!" perintah Jongin saat melihat tatapan tanda tanya dari Kyungsoo.

"Memang Kyungsoo kenapa? Kau sakit apa?" tanya Luhan, ia bergantian menatap Jongin dan Kyungsoo.

"Jangan dengarkan dia! Boleh kita masuk?"

"Ah iya, tentu saja!"

.

.

.

.

.

Luhan duduk menghadap Kyungsoo dan Jongin. Tapi tatapannya terlihat mengintimidasi. Jongsoo sudah terlelap di pangkuan Jongin.

"Jadi, apa kata dokter?" Luhan mulai bertanya.

"Tak ada yang menjawab?"

"Kau tanyakan saja pada Kyungsoo," ujar Jongin, menoleh pada Kyungsoo.

"Kau saja yang bilang," balas Kyungsoo.

"Kau," ucap Jongin lagi. Luhan mulai kesal. Apa yang salah dengan pertanyaannya? Ia kan hanya bertanya hasil pemeriksaan Kyungsoo di rumah sakit.

"Jadi?" Tanya Luhan sekali lagi.

"Kyungsoo hamil," jawab Jongin singkat. Ia menatap Kyungsoo seolah mengatakan "Sudah kan?/" dan Kyungsoo hanya memicing padanya.

"APA?"

"Jangan berteriak Lu! Kau bisa membangunkan Jongsoo dan Sehan sekaligus," Kyungsoo melirik Jongsoo yang sedikit tersentak di sebelahnya. Jongin kembali menepuk punggung Jongsoo agar kembali terlelap.

"Benarkah itu? Berapa bulan?"

"Baru tiga minggu," jawab Kyungsoo, ia meletakkan secangkir teh yang dihidangkan oleh Luhan.

"Dia sehat kan?"

"Iya. Tapi, dokter itu bilang, Kyungsoo pernah mengalami keguguran, apa benar?"

"Ah i-itu,"

"Junsu eonni, dia bercerita padaku. Kemungkinan besar penyebab kau kehilangan bayimu," ucap Luhan pada Kyungsoo yang terduduk di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus juga terpasang di pergelangan tangan kanan Kyungsoo.

Beberapa menit lalu ia sadar dari efek bius karena ia harus menjalani pembedahan kecil untuk membersihkan sisa-sisa darah di rahimnya.

Pagi tadi Luhan menemukan Kyungsoo yang pingsan di dalam kamar mandi rumahnya, dengan darah yang menggenang dibawanya. Dan Jongsoo yang sudah menangis disampingnya. Ternyata, Luhan baru mengetahui bahwa Kyungsoo mengalami keguguran.

"Aku segera pulang saat kau menelponku bahwa Jongin membawa paksa Jongsoo untuk pulang karena sudah mendorong Sehan hingga jatuh. Ia sangat marah saat aku membela Jongsoo dan akan membantu Jongsoo yang terkunci di dalam kamarnya,"

"A-apa dia melakukan sesuatu padamu?" Kyungsoo hanya diam tak menjawab. Ia malah menundukkan kepalanya.

"Katakan Kyungsoo! Apa yang dia lakukan padamu?" Luhan tak sadar jika dia sudah berteriak pada Kyungsoo. Tapi Kyungsoo bersikeras tak ingin menjawab apapun. Ia terlalu malu untuk bercerita tentang keluarganya. Tentang Jongin yang selalu belaku kasar dengan 'meniduri'nya paksa saat sedang marah.

"Kau diam, kuanggap iya!"

"Kyungsoo! Jadi itu benar? Dia memaksamu melayani nafsu bejatnya siang itu juga?" Luhan sudah lelah dengan Kyungsoo yang tak juga menjawab pertanyaannya.

"Iya Luhan! Iya! Dia memaksaku untuk melayaninya siang itu! Dan ia melakukannya lagi semalam..hikss.." tangis Kyungsoo pecah saat mengakui apa yang terjadi padanya di depan Luhan.

"Astaga Kyungsoo.." Luhan menutup mulutnya tak percaya. Ia segera memeluk Kyungsoo dan ikut menangis saat itu juga.

"Aku tak bisa melawannya sama sekali Lu, aku sudah merasakan sakit di perutku siang itu,"

"Lu!" panggil Kyungsoo, ia melambaikan tangannya di depan wajah Luhan.

"Kenapa dia?" kini Jongin yang bertanya. Bukannya menjawab pertanyaan Kyungsoo, tapi Luhan malah melamun?

"Luhan?" Kyungsoo mengulangi panggilannya lagi dengan sedikit keras dan sedikit mengguncang bahu Luhan.

"Ah iya," Luhan tersadar. Ia kembali teringat kejadian buruk yang menimpa Kyungsoo beberapa bulan lalu karena pertanyaan yang dilontarkan Kyungsoo.

"Jadi benar Kyungsoo pernah kehilangan bayinya?" ulang Kyungsoo.

"I-iya. Itu benar, kau kelelahan saat itu," jawab Luhan bohong. Tak mungkin kan Luhan akan bilang, bahwa Jongin yanng menyebabkan Kyungsoo kehilangan bayinya karena kelakuan kasar Jongin. Tidak, dia akan menyembunyikan keadaan sebenarnya tentang keluarga Jongin.

"Kyungsoo," panggil Luhan saat Kyungsoo terlihat sedih karena jawaban Luhan tadi.

"Ya?"

"Apa kau mengalami morning sickness?" tanya Luhan.

"Apa itu?" kini Jongin yang ganti bertanya. Ia terlihat berfikir, sepertinya ia pernah mendengar kata-kata itu, tapi ia lupa.

"Apa kau merasa mual di pagi hari, ataupun saat kau mencium bau sesuatu?" tanya Luhan pada Kyungsoo.

"Ah. Tidak. Tapi, itu seperti yang dialami Jongin?" Kyungsoo menggeleng.

"Apa benar?" kini Luhan memastikan dan beralih bertanya pada Jongin.

"Eum, aku mual, bahkan muntah saat Kyungsoo menghidangkan nasi goreng kimchi untukku pagi itu. Setiap pagi hari aku merasa mual," ucap Jongin.

"Tapi kulihat kau baik-baik saja saat memakan sup buatanku tadi pagi?" seingat Luhan, Jongin cukup lahap saat memakan masakan Luhan saat sarapan tadi.

"Itu karena sup mu sangat lezat, Lu, heheheh.." Jongin terkekeh.

"Sebenarnya aku sudah muntah saat masih pagi buta," sambung Jongin.

"Kau bisa mengurangi rasa mualnya dengan minum teh hijau, itu lumayan membantu," Luhan memberi saran dan tersenyum

"Sepertinya memang takdirmu Jongin, mengalami morning sickness di setiap kehamilan Kyungsoo," batinLuhan.

"Terima kasih,"

"Lu, sepertinya kita harus pulang. Kau juga harus istirahat setelah menjaga anak-anak,"

"Tidak apa-apa Kyungsoo. Harusnya kau yang banyak istirahat mulai sekarang. Oh iya, Jongsoo belum makan siang, tadi ia menunggumu,"

"Tapi dia malah tidur sekarang," sahut Jongin. Ia menatap Jongsoo yang sangat nyenyak, bahkan mulutnya sedikit terbuka.

"Tak apa, aku akan menyuapinya saat bangun nanti," jawab Kyungsoo. Ia bangkit dari sofa milik Luhan.

.

.

.

.

.

"Eomma?" Jongsoo berjalan keluar dari kamarnya dengan mata yang masih terlihat mengantuk. Ia berjalan ke sofa di depan televisi. Ia tak menemukan ibunya disana.

"Eoh? Jongsoo! Kau sudah bangun," kaget Jongin saat melihat Jongsoo berjalan, ia berada di dapur bersama Kyungsoo. Ia tengah menata sayur dan buah di dalam lemari es.

Sedangkan Kyungsoo, ia sedang memasak untuk makan siang. Perutnya terasa sangat lapar karena setelah keluar dari rumah Luhan, mereka tak langsung pulang melainkan mampir ke salah satu supermaket terdekat karena Kyungsoo ingat dengan kulkasnya yang kosong.

"Appa, Jongsoo lapar," keluh Jongsoo pada Jongin yang sudah berjongkok di depannya. Jongin tersenyum dan segera menggendong Jongsoo ke arah Kyungsoo.

"Apa sudah selesai?" Tanya Jongin. Ia berdiri di sebelah Kyungsoo yang tengah menyicip kuah sayur.

"Ah.. sedikit lagi. Aigoo! Jongsoo sudah bangun ternyata," Kyungsoo kaget melihat Jongsoo yang mengucek matanya dan sudah berada di atas gendongan Jongin.

"Sedikit lagi kata eomma," ucap Jongin pada Jongsoo. Anak itu hanya mengangguk dan merebahkan kepalanya di bahu Jongin.

"Jangan tidur lagi, kau sudah sangat telat makan," ucap Kyungsoo yang melihat mata Jongsoo yang masih berat.

Kruyuuukk~

"Ah? Apa itu suara perutmu?" Tanya Jongin pada Kyungsoo. Dan Kyungsoo hanya mengangguk malu. Kau memang benar-benar lapar Kyungsoo.

"Maaf,"

"Hei Jongsoo, apa kau dengar? Sepertinya adik dan eommamu juga lapar, hahahah~" tanpa sadar Jongin tertawa dengan cukup keras.

"Aku memang lapar! Apanya yang lucu?!" Teriak Kyungsoo jengkel. Kalau itu memang suara perut Kyungsoo memangnya kenapa?

"I-iya, maaf,"

Krruyuuukk~

"Ahahahaha~ apa itu bunyi perutmu? Bahkan terdengar lebih keras dari bunyi perutku," Balas Kyungsoo setelah mendengar bunyi perut Jongin. Ternyata Jongin juga lapar seperti dirinya. Bahkan Jongsoo juga ikut tertawa sekarang, meski masih terlihat mengantuk.

Pantas saja mereka merasa lapar seperti itu. Ini sudah pukul setengah empat, dan sejak pulang dari rumah Luhan pukul satu siang, belum ada dari mereka yang mengisi perutnya sama sekali.

"Ahaha.. sepertinya kita berempat memang kelaparan," ucap Jongin.

Beruntung karena bunyi perut mereka yang membuat suasana mencair dan tertawa bersama tanpa merasa canggung satu sama lain.

"Kau benar.. Ayo! Semuanya sudah matang," ajak Kyungsoo. Ia mengambil mangkuk dan menuangkan kuah sayur dan beberapa macam isinya di sana.

.

.

.

.

.

"Eomma, itu apa?" Tunjuk Jongsoo pada tanaman di dalam pot yang baru saja di letakkan Kyungsoo di taman belakang rumahnya. Kyungsoo baru saja mengingat bahwa ia membeli satu pot tanaman dan ternyata masih di dalam mobil. Itupun juga Jongin yang mengingatkan.

Ditemani lampu yang cukup terang diatas bangku panjang, Jongsoo duduk di pangkuan Jongin. Jongin mengajari Jongsoo mewarnai. Tapi perhatian Jongsoo sempat teralih saat melihat Kyungsoo datang tadi. Kaktus yang dipilih Kyungsoo berbentuk sedikit aneh, hanya satu bulatan disana dan sebesar bola tennis dan dengan duri-duri kecil yang padat dan berwarna cerah.

"Ini tanaman bernama kaktus, Jongsoo," jelas Kyungsoo.

"Katus?" Jongsoo menirukan Kyungsoo.

"Kaktus," Kyungsoo membenarkan ucapan Jongsoo.

"Katus," dan lagi, Jongsoo mengulanginya dengan terkikik, mungkin ia sadar jika yang ia ucapkan kurang tepat. Tapi memang itulah kenyataannya kata yang keluar dari bibir kecilnya.

"Hahah.. Baiklah, baiklah," akhirnya Kyungsoo menyerah. Jongin juga terkekeh mendengar Jongsoo dan Kyungsoo.

"Kenapa kau membeli kaktus? Aku kira kau akan membeli bunga yang cantik dengan warna-warna yang indah. Tapi kau malah membeli bunga kaktus," tanya Jongin pada Kyungsoo yang masih saja berjongkok menatap pot kaktusnya.

"Aku tertarik padanya sejak memasuki toko, jadi aku membelinya,"

"Tapi sebentar lagi musim hujan, bagaimana jika tanaman itu mati?" Jongin menoleh pada Kyungsoo. Ia tersenyum melihat tingkah Kyungsoo.

"Batang pohon berwarna cokelat, warnai disini," ucap Jongin pada Jongsoo dan mengambil crayon berwarna cokelat dari barisan crayon di sebelah tangan kanan Jongsoo.

"Tidak akan. Aku akan merawatnya dengan baik," yakin Kyungsoo. Ia berdiri dan duduk juga di sebelah Jongin. Ia mencubit pipi Jongsoo gemas dan mendapat senyuman lebar dari Jongsoo.

"Baiklah, terserah padamu. Jangan lupa istirahat," Jongin mengingatkan.

"Kau tenang saja, hanya merawat satu pot bunga itu tak akan lelah. Aku heran kenapa tak ada satupun tanaman di sini selain rumput-rumput itu," Kyungsoo menatap sekitar halaman belakang. Jongin juga mengikuti arah pandang Kyungsoo.

"Iya, kau benar juga," Jongin mengangguk mengiyakan.

.

.

.

.

.

"Kau mau kemana?" Tanya Jongin saat melihat Kyungsoo yang bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar Jongsoo. Jongsoo sudah tidur pukul delapan lalu, dan Kyungsoo yang tengah menonton televisi bersama Jongin juga mengantuk saat melihat bahwa ini sudah pukul setengah sepuluh malam.

"Tidur?"

"Kau sudah meminum susu?" Tanya Jongin.

"Nanti saja,"

"Jangan menundanya Kyungsoo.. Tunggu saja disini!" Ucap Jongin. Ia meletakkan remote yang berada ditangannya ke atas sofa. Jongin berjalan menuju dapur meninggalkan Kyungsoo yang terlihat bingung.

Kyungsoo mengikuti Jongin melangkah ke dapur.

"Kau.. sedang membuat apa?" Tanya Kyungsoo saat melihat Jongin memegang sebuah gelas bening panjang.

"Membuat susu untukmu," jawab Jongin enteng.

"Aku bisa membuatnya sendiri,"

"Tapi kau tak membuatnya," balas Jongin. Ia menoleh pada Kyungsoo dengan wajah yang serius. Kyungsoo merasa bersalah. Jongin berdiri di depan kompornya, merebus air sebentar.

"Biasanya, aku hanya minum susu saat pagi. Itupun, jika bukan karena pemberian bos ku,"

"Bosmu?" Kyungsoo mengangguk.

"Aku mengantar koran dan susu di pagi hari, sebelum aku berangkat bekerja,"

"Kau bekerja? Dimana?" Jongin mematikan kompornya. Ia menuangnya sedikit ke dalam gelas.

"Di sebuah rumah makan, sebagai pelayan. Kenapa kau menambahkan air dingin?" Tanya Kyungsoo saat melihat Jongin menuangkan air dingin biasa ke dalam gelas.

"Jika terlalu panas, nutrisinya akan hilang," jelas Jongin.

"Aah begitu.." Kyungsoo hanya manggut-manggut saja. Jongin ternyata cukup tau, begitu pikirnya.

Jongin mulai menuangkan beberapa sendok susu bubuk ke dalam gelas dari kardus susu khusus ibu hamil yang dibelinya bersama Kyungsoo tadi siang, lalu mulai mengaduknya hingga..

"Lanjutkan sendiri!" Jongin meletakkan sendoknya, segera berlari ke kamar mandi dan membekap mulutnya sendiri.

"Ini sama saja aku yang membuatnya sendiri," omel Kyungsoo.

"Baunya enak, kenapa dia mual?" Kyungsoo mengendus gelasnya sebentar dan mencibir, ada aroma vanila yang menguar dari dalam gelas, bagaimana bisa jongin mual bahkan muntah hanya karena baunya. Ia mengaduk gelasnya cepat, dan gelas itu sudah kosong dalam sekali teguk. Kyungsoo berjalan ke bak cuci dan mencuci gelas dan sendoknya.

"Hoekk..uhukk.." Kyungsoo berdiri di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup. Terdengar suara Jongin yang tengah mengeluarkan isi perutnya di dalam sana.

"Jongin? Kau baik-baik saja?" Teriak Kyungsoo.

"Ya! Minum saja susunya!" Balas Jongin dari dalam. Masih terdengar suara terbatuk-batuk milik Jongin disana.

"Aku bahkan sudah mencuci gelasnya! Buka pintunya!" Jawab Kyungsoo.

"Tidak usah! Kau duduk saja!" Sahut Jongin disela suara muntahannya.

"Cepat! Buka saja pintunya!" Teriak Kyungsoo keras. Buka saja pintunya apa susahnya sih?

Klek

"Kubilang buka kenapa lama sekali?" Kyungsoo mengomel dan mendekat pada Jongin. Langsung saja ia memijat tengkuk Jongin untuk meredakan rasa mualnya.

"Aku sedang muntah, bagaimana jika kau juga ikut muntah karena jijik?" Balas Jongin. Sebenarnya tak ada yang dikeluarkan Jongin dari perutnya, hanya cairan bening yang sedikit.

"Diam dan lanjutkan saja!" Perintah Kyungsoo. Ia masih terus memijat tengkuk Jongin. Ia merasa kasihan melihat wajah Jongin yang sudah cukup pucat.

"Cuci muka mu jika sudah, setidaknya kau tak terbayang-bayang dengan bau susu tadi," ucap Kyungsoo pada Jongin saat dirasa Jongin sudah tidak memuntahkan apapun lagi. Jongin tak berkata apapun, tapi ia mengikuti saran Kyungsoo.

"Duduklah, aku akan buat teh hijau untukmu,"

Jongin berjalan ke sofa, ia langsung menyandarkan kepalanya lemah saat sudah sampai diatas sofa.

Jongin hampir terpejam karena terlalu lemas jika Kyungsoo tak membangunkannya.

"Minumlah,"

"Maaf merepotkan," Jongin menerima cangkir yang diberikan Kyungsoo. Ia menyesapnya perlahan.

"Tidak apa, terima kasih juga sudah merebuskan air untukku tadi," balas Kyungsoo tersenyum.

.

.

.

.

.

Jongin sudah berada dikamarnya segera setelah ia selesai menghabiskan teh hijau buatan Kyungsoo. Kyungsoo menolak saat ia mengajak Kyungsoo agar tidur di kamarnya saja, jangan kamar Jongsoo. Karena kamar Jongsoo memiliki ranjang yang kecil, kaki Kyungsoo akan sedikit menggantung di tepian ranjang karena tak muat.

"Aargghh.. kenapa aku tidak bisa tidur?"

Jderr!

"Hujan," Jongin berdiri dari ranjangnya saat mendengar bunyi petir yang cukup keras dan mengintip halaman belakang dari tirai jendelanya. Air yang jatuh disana cukup deras. Mungkin ini hujan pertama yang menandai bahwa sudah mulai memasuki musim hujan.

Jongin kembali ke ranjangnya, ia juga mengurangi temperatur pendingin di kamarnya.

Jongin terus membalikkan badannya diatas ranjang, mencari posisi yang nyaman agar cepat membuatnya terlelap. Tapi sepertinya itu tak berhasil.

Jongin yang terus gelisah di atas ranjangnya akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menuju pintu kamarnya.

.

.

.

.

.

"Eomma, Jongsoo takut," Jongsoo memeluk tubuh Kyungsoo dengan gemetar. Ia terbangun setelah mendengar petir yang cukup keras, Kyungsoo yang belum tertidur juga tak kalah kagetnya.

"Tidak apa, ada eomma disini.. Sudah, Jongsoo tidur saja," Kyungsoo balas memeluk Jongsoo.

"Eomma, ayo tidur di kamar appa saja, ya?"

"Disini saja ya.. Ada eomma," Kyungsoo berbaring miring, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Jongsoo. Sebenarnya tak masalah bagi Kyungsoo pergi ke kamar sebelah bersama Jongsoo dan berkata pada Jongin bahwa Jongsoo ingin tidur bersama karena takut hujan. Tapi, itu akan jadi masalah bagi Kyungsoonya sendiri. Memang disini mereka sepasang-ekhem-suami istri. Tapi sebenarnya bukan. Kyungsoo dibuat bingung sendiri oleh pemikiran-pemikirannya.

Hujan masih terdengar deras di luar sana. Kyungsoo sempat berfikir, darimana Jongsoo bisa takut dengan bunyi hujan, padahal Kyungsoo sendiri suka hujan, meski tak terlalu, tapi Kyungsoo tak pernah takut hujan.

"Eomma~" rengek Jongsoo. Ia meremas baju tidur Kyungsoo, dan Kyungsoo merasakan itu, Kyungsoo juga melihat butiran keringat di dahi Jongsoo.

Mungkin tak apa jika ia datang ke kamar Jongin sekarang, bukankah tadi Jongin juga menawarinya agar Kyungsoo tidur di kamarnya saja, bukan kamar Jongsoo.

Kyungsoo melepas pelukannya, ia membenarkan pakaiannya sebentar.

"Ayo, kita ke kamar appa," sebenarnya Kyungsoo sedikit geli saat menyebut Jongin dengan kata 'appa' ataupun menyebut dirinya sebagai 'eomma' di depan Jongsoo. Tapi, mau bagaimana lagi, disini mereka adalah orangtua Jongsoo.

"Benar?" Kyungsoo mengangguk.

"Ayo, eomma gendong," Kyungsoo merentangkan tangannya pada Jongsoo, dan Jongsoo langsung berada di gendongan Kyungsoo.

"Sudah, jangan takut," Kyungsoo mengusap keringat Jongsoo dan merapikan rambut Jongsoo sambil berjalan keluar kamar.

Kyungsoo sudah berada di depan pintu Jongin.

"Semoga dia belum tidur," baru saja ia akan mengetuk pintu kamar Jongin, tiba-tiba pintu kamar Jongin sudah terbuka.

"Jongin?"

"Kyungsoo?"

.

.

.

.

.

Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang antara Jongin dan Kyungsoo, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur dalam satu ranjang. Menjadikan Jongsoo yang sudah terlelap dengan nyenyak, sebagai batas diantara mereka.

Sebenarnya Jongin menyuruh Kyungsoo untuk tidur di ranjang bersama Jongsoo, biar Jongin yang tidur disofa. Tapi Kyungsoo menolak, ia menyuruh Jongin yang tidur diatas ranjang bersama Jongsoo agar tubuhnya tak pegal-pegal karena tidur di sofa semalaman, dan biarkan dia saja yang tidur di sofa. Tapi Jongin juga menolak, ia beralasan bagaimana bisa membiarkan seorang ibu hamil tidur di atas sofa semalaman.

Dan akhirnya beginilah, Jongin dan Kyungsoo yang sama-sama berbaring terlentang. Belum ada yang menutup matanya diantara mereka.

"Kyungsoo," panggil Jongin. Kamar mereka sudah gelap, ternyata mereka sama-sama tak bisa tidur jika lampu kamar masih terang.

"Hmm," balas Kyungsoo. Ia sedang berusaha memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk.

"Kau sudah tidur?" Tanya Jongin.

"Belum, kenapa?" Kyungsoo membuka matanya, ia menoleh pada Jongin.

"Tidak, tidak apa-apa," Jongin tersenyum kikuk.

"Hmm," Kyungsoo mengangguk dan kembali melanjutkan usahanya, mengabaikan gerak tubuh Jongin yang membuat ranjang mereka sedikit bergoyang. Baru saja Kyungsoo hampir terlelap, suara Jongin kembali menyadarkannya.

"Kyungsoo," panggil Jongin lagi.

"Hmm," balas Kyungsoo.

"Apa kau sudah tidur?"

"Bagaimana aku bisa tidur jika di sebelahku masih ada yang bergerak gelisah?/ Kau kenapa?" Jawab Kyungsoo.

"Aku.. ingin makan kimbap," jujur Jongin.

"Besok pagi akan kubuatkan," sahut Kyungsoo enteng.

"Katakan bagaimana cara membuatnya, aku akan membuatnya sendiri," ucap Jongin lagi, ia berbaring miring menghadap Kyungsoo.

"Kubilang akan kubuatkan besok pagi,"

"Tapi aku ingin memakannya sekarang Kyungsoo," lirih Jongin, tapi Kyungsoo tetap dapat mendengarnya meski matanya sudah terpejam.

"Apa? Ini jam berapa Jongin?" Kyungsoo terkejut. Malam hujan begini, siapa yang masih ingin makan kimbap?

"Pukul duabelas malam, aku tidak bisa tidur karena menginginkannya," jawab Jongin jujur.

"Baiklah, baiklah.. akan kubuatkan sekarang. Tunggu disini," Kyungsoo menyerah, lebih baik ia membuatkan kimbap untuk Jongin daripada ia tak bisa tidur semalaman hanya karena pertanyaan Jongin pada Kyungsoo tentang ia sudah tidur atau belum.

Kyungsoo bangkit dari ranjangnya. Ia melepas perlahan tangan Jongsoo yang tengah memeluk lengan kanannya

"Aku ikut!" Sahut Jongin ikut terduduk. Kyungsoo menoleh padanya sejenak dan menghela nafas.

"Hh.. terserah kau saja," Kyungsoo berjalan menuju pintu dan dibelakangnya ada Jongin yang berjalan dengan mata yang berbinar.

.

.

.

.

.

.

*TBC/END?*

.

.

.

.

.

.

.

Annyeong..

Gimana chapter ini? Makin aneh? Maaf ya klo mengecewakan..

Maaf juga untuk telat updatenya, ya nasib klo kuota udah abis sblm waktunya, harus nunggu awal bulan. Hahaha..

Oiya, untuk ff ini.. Aku sebenrnya lboh fokus ke khidupannya Kyungsoo sma Jongin yg sekarang.. Dan aku berencana buat nulis prequelnya, awal mula kenapa Jongin bisa nikah sma Kyungsoo.. Hahah spoiler dikit g apa kaan.. Tungguin aja ya.. Pasti aku buat kok, biar yg disini g pada bingung sma crtanya.

Terima kasih untuk yang review, follow, favorit.. Semuanya yang sudah mau repot2 nulis kritik saran.. Makasih semua..

BIG THANKS TO:

|NHAC|beng beng max|Sofia Magdalena|kiway91SL|12154kaisoo|Keys13th|DyOnlY One|ReaktionK|humaira9394|BibiGembalaSapi|jdcchan|luckygirl91|Ginnyeh|exindira|pastelblossom|Riho Kagura|Lovesoo|yixingcom|Kim Yehyun|kimyori95|dyodomyeon|Kimsibling|dwimeisy|riza firani|aminah|Ryeollakim|anoncikiciw|makicoco|BABY L Soo|NopwillineKaiSoo|RlyCJaeKyu|sarahmuna|overdyosoo|dhyamantha1214|Cutechan|anon|

#WelcomeLoveMeRightEra

Yaa.. Meskipun ga mau ngitung mereka ada brpa orang.. Tapi tetep selalu mendoakan yang terbaik buat mereka..

Sukseskan project '6m viewers in 24hour'..

Ayo EXO-L! Semangat!

Gimana lagu2 barunya.. Yg pling dtunggu dari kemrin ya 'Promise' nya, betul ga?

Udah dulu ya bawelnya.. Tetap review, kasih masukan..

Bye bye .. =)

-ChaKaJja13-