Let Me Love You

Author : ChaKaJja13

Cast :

Kim JongIn (29 yo)

Do KyungSoo (29 yo)

Kim JongSoo (3 yo)

Oh Sehun (29 yo)

Oh(Xi) Luhan (29 yo)

Oh Sehan (3 yo)

Park Chanyeol (30 yo)

Byun Baekhyun (29 yo)

Park Chanhyun (12 yo)

Other cast.

.

.

EXO fict. Newbie author

.

.

Alur lambat. Typo(s) everywhere.

.

.

.

Don't bash. Don't like. Don't read. No flame

.

.

"Tapi aku ingin memakannya sekarang Kyungsoo," lirih Jongin, tapi Kyungsoo tetap dapat mendengarnya meski matanya sudah terpejam.

"Apa? Ini jam berapa Jongin?" Kyungsoo terkejut. Malam hujan begini, siapa yang masih ingin makan kimbap?

"Pukul duabelas malam, aku tidak bisa tidur karena menginginkannya," jawab Jongin jujur.

"Baiklah, baiklah.. akan kubuatkan sekarang. Tunggu disini," Kyungsoo menyerah, lebih baik ia membuatkan kimbap untuk Jongin daripada ia tak bisa tidur semalaman hanya karena pertanyaan Jongin pada Kyungsoo tentang ia sudah tidur atau belum.

Kyungsoo bangkit dari ranjangnya. Ia melepas perlahan tangan Jongsoo yang tengah memeluk lengan kanannya

"Aku ikut!" Sahut Jongin ikut terduduk. Kyungsoo menoleh padanya sejenak dan menghela nafas.

"Hh.. terserah kau saja," Kyungsoo berjalan menuju pintu dan dibelakangnya ada Jongin yang berjalan dengan mata yang berbinar.

.

.

Mind to review?

.

.

*Happy reading*

.

.

Jongin keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum melihat Jongsoo yang masih terlelap di balik selimut tebal. Jongin melihat jam yang tergantung di dinding, masih terlalu pagi untuk membangunkan Jongsoo. Jongin berjalan keluar kamar setelah membenarkan selimut Jongsoo.

Dan tak terasa Jongin dan Kyungsoo sudah seminggu berada di sini. Hidup bersama Jongsoo diantara mereka yang terjebak di dalam tubuh Jongin dan Kyungsoo. Tak banyak berubah sebenarnya, Jongin dan Kyungsoo tetap tak tahu alasan mereka berada disini. Belum banyak yang mereka ketahui tentang kehidupan Jongin dan Kyungsoo sebelumnya.

Aroma masakan sudah menyapa indera penciuman Jongin yang baru saja membuka pintu. Jongin sudah tau jika Kyungsoo memasak. Jongin mengikuti asal bau masakan yang sudah membuatnya merasa lapar karena isi perutnya yang terkuras.

"Selamat pagi," sapa Kyungsoo. Ia berdiri di depan pan penggorengan dan tersenyum ke arah Jongin yang masih terlihat sedikit mengantuk.

"Pagi. Kau bangun pagi sekali," balas Jongin. Ia sudah berdiri di sebelah Kyungsoo.

"Aku sudah terbiasa," sahut Kyungsoo. Ia kembali fokus pada beberapa sayap ayam yang tenggelam di dalam minyak panas.

"Aku sudah buatkan teh di meja. Apa kau mual lagi pagi ini?" tanya Kyungsoo pada Jongin yang tengah memperhatikannya.

"Iya. Aku rasa itu akan terus terjadi beberapa bulan ke depan," jawab Jongin. Ia menoleh ke meja makan. Disana sudah ada teko keramik dengan dua cangkir bermotif bunga. Jongin mendekat pada meja, ia mengambil salah satu cangkir dan menuangkan teh dari teko ke dalamnya.

"Sepertinya iya." balas Kyungsoo menoleh pada Jongin. Kyungsoo meniriskan ayam gorenganya di atas penyaring.

"Apa kau suka memasak?" tanya Jongin yang berdiri di belakang Kyungsoo dan menyesap tehnya.

"Sangat suka," jawab Kyungsoo tanpa menoleh ke arah Jongin. Kyungsoo meletakkan pan baru diatas kompor. Ia memasukkan bawang putih yang sudah dicincang ke dalam pan.

"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Jongin. Meletakkan cangkir kosongnya ke atas meja dan menghampiri Kyungsoo.

"Mungkin kau bisa membuat sausnya untuk Jongsoo, tidak pedas," jawab Kyungsoo pada Jongin yang ternyata sudah berdiri di sebelahnya.

"Baiklah, serahkan padaku," Jongin mengepalkan tangannya semangat. Ia tersenyum pada Kyungsoo yang berdiri cukup dekat disebelahnya. Kyungsoo pun juga tersenyum pada Jongin.

Jongin mengambil pan dan mulai menyalakan tungkunya yang bersebelahan dengan tungku milik Kyungsoo yang sedang menyala.

"Jongin, aku mendapat pesan dari dokter kandungan waktu itu. Dia memintaku untuk datang dan periksa kandungan siang ini," ucap Kyungsoo.

"Benarkah? Bukankah kau baru dari sana beberapa hari lalu?" tanya Jongin.

"Eum, aku juga bertanya kenapa. Tapi dia bilang, itu karena Kyungsoo pernah mengalami keguguran. Dia perlu memastikan bahwa kandunganya kali ini baik-baik saja," jawab Kyungsoo.

"Apa tidak bisa hari minggu?" tanya Jongin sembari mengaduk saus di dalam pan.

"Kenapa?" Kyungsoo menoleh pada Jongin, menatap tak mengerti.

"Aku tidak bisa menemanimu, aku masih bekerja," jelas Jongin pada Kyungsoo.

"Eoh? Itu, tidak apa. Aku kan bersama Jongsoo," Kyungsoo mengangguk paham, tersenyum pada Jongin yang masih merasa tidak enak karena membiarkan Kyungsoo pergi ke rumah sakit sendiri.

Jongin mengambil sendok makan dan mengambil sedikit saus buatannya di atas pan, lalu ia menyodorkan sendok itu pada Kyungsoo.

"Dulu aku pernah memasak Dakgangjeong untuk Changmin dan Yijun, tapi mereka tidak mau memakannya karena tak enak. Hari ini aku membuatnya lagi, bagaimana rasanya?"

"Hahah~ benarkah? Akan aku coba," Kyungsoo tertawa kecil sambil menerima sendok dari tangan Jongin.

"Apa yang kurang?" tanya Jongin saat melihat ekspresi Kyungsoo yang terlihat biasa.

"Aku rasa tidak. Ini sudah pas. Kau berhasil," jawab Kyungsoo. Ia memasang senyum lebarnya.

"Hahah~ akhirnya..." Jongin tertawa senang, kali ini rasanya enak. Mungkin dia akan membuatkan kedua keponakannya Dakgangjeong lagi lain kali.

Kyungsoo pun juga melakukan yang sama dengan Jongin. Ia mengambil sedikit saus dari pannya dan memberikannya pada Jongin.

"Kalau ini?" tanya Kyungsoo antusias.

Segera Jongin menerima sendok pemberian Kyungsoo. Ia menyicip saus itu, mengecapnya beberapa kali di lidahnya dan tampak berfikir.

"Enak." jawab Jongin. Ia meletakkan sendoknya dan mengangkat dua jempolnya untuk Kyungsoo. Dan Kyungsoo, ia menepuk tangannya dan tersenyum senang karena mendapat dua jempol untuk masakannya. Jongin yang melihatnya pun hanya tertawa karena respon Kyungsoo.

"Eomma," panggil Jongsoo. Ia sudah berada di undakan pertama. Karena sebenarnya dapur di rumah mereka ber-desain sedikit lebih tinggi dengan dua undakan.

Jongin dan Kyungsoo yang mendengar suara Jongsoo di dekat mereka segera menoleh. Jongsoo yang berdiri masih terlihat mengantuk itu mengenakan piyama berwarna biru laut dengan motif pinguin kecil yang menyebar.

"Waah~ uri Jongsoo sudah bangun," Jongin mendekati Jongsoo dan menggendongnya.

"Apa kau selalu bangun sendiri, heum?" tanya Jongin sambil mengecup pipi Jongsoo. Sedangkan Jongsoo hanya mengangguk saja dan terkikik geli.

"Ayo cuci muka, lalu sarapan," ucap Kyungsoo menghampiri Jongsoo yang berada di gendongan Jongin. Ia membawa mangkuk yang cukup besar berisi Dakgangjeong di tangannya.

"Ayam!" teriak Jongsoo senang sambil bertepuk tangan ketika melihat Kyungsoo meletakkan mangkuk itu diatas meja.

"Hahaha~ iya benar, itu ayam. Ayo kita cuci muka dulu," Jongin tertawa melihat Jongsoo yang berlonjak senang di gendongannya dan menampilkan deretan giginya.

Kyungsoo yang gemas datang pada Jongsoo dan mencubit pipi gembil Jongsoo.

"Apa Jongsoo suka ayam?" tanya Kyungsoo yang membawa tumpukan tiga mangkuk kecil di salah satu tangannya.

"Ne," Jongsoo mengangguk.

"Kalau begitu, cepat cuci muka. Lalu makan ayam, eomma tunggu," ucap Kyungsoo menepuk kedua pipi Jongsoo dengan pelan. Lalu kembali berjalan ke meja makan. Jongin segera membawa Jongsoo ke wastafel di dekat dapur, sedangkan Kyungsoo mulai menata peralatan makan dan menyiapkan nasi di atas tiga mangkuk kecil berwarna putih.

.

.

.

.

.

Ting~ Tong~

Baekhyun yang berdiri di depan bak cuci nampak sibuk mencuci piring dan mangkuk bekas sarapan bersama Chanhyun saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Baekhyun yang masih mengenakan pakaian rumahnya segera melepas sarung tangan karetnya berniat membuka pintu.

"Aku saja yang buka pintunya!" seru Chanhyun yang berlari keluar dari kamarnya tepat saat Baekhyun baru saja melangkah meninggalkan dapur.

Baekhyun hanya mengangguk pada Chanhyun dan kembali berjalan ke dapur. Ia tersenyum melihat Chanhyun yang sangat semangat. Tentu saja, ada seseorang yang Chanhyun harapkan saat pintu rumahnya di buka.

"Appa!" suara Chanhyun berniat menyapa. Memasang senyum lebar turunan dari orang yang diharapkannya saat ini. Namun urung ketika pintu rumahnya mulai terbuka dan bukan wajah ayahnya yang terlihat, melainkan orang lain.

"Hi Chanhyun?" sapa seseorang yang berdiri di depan Chanhyun. Tersenyum pada Chanhyun.

"Eoh? Dae ahjussi. Eomma masih di dapur. Silahkan masuk," ucap Chanhyun. Wajahnya kini sudah tak terlihat semangat seperti sebelumnya. Ia hanya melirik sekilas kekasih ibunya itu. Ya, benar, Chanhyun sudah mengetahui jika ibunya memiliki kekasih dan memang Baekhyun sendiri yang menceritakan padanya. Chanhyun berbalik meninggalkan Daehyun yang masih terlihat bingung dengan perubahan ekspresi Chanhyun.

"Terima kasih," ucap Daehyun yang mungkin saja tak didengar Chanhyun yang sudah berada di dapur. Baekhyun sudah menata rapi piringnya yang masih sedikit basah di atas rak.

"Eomma," panggil Chanhyun saat Baekhyun belum sempat bertanya siapa yang datang. Chanhyun hanya mengarahkan kepalanya seolah menunjuk seseorang yang berdiri di belakangnya. Baekhyun mengikuti arah pandang Chanhyun dan sedikit terkejut.

"Hi Baek," sapa Daehyun pada Baekhyun.

"Dae? Kenapa kau tak bilang akan kemari?" tanya Baekhyun. Ia melihat putranya yang sudah berjalan kembali ke kamarnya dengan menunduk. Baekhyun tahu mood Chanhyun tidak baik saat ini. Mengharapkan Chanyeol tetapi malah Daehyun yang datang.

"Maaf. Aku langsung kemari saat dari Busan," jawab Daehyun santai.

"Duduklah. Aku akan mengganti pakaian sebentar," -dan berbicara dengan Chanhyun.

Baekhyun melepaskan celmeknya dengan asal, buru-buru meninggalkan Daehyun yang sepertinya belum menyadari suasana dirumah Baekhyun.

"Chanhyun? Boleh eomma masuk?" tanya Baekhyun setelah mengetuk pintu kamar putranya yang tertutup rapat.

Cklek~

"Aku tidak menguncinya. Masuk saja," jawab Chanhyun. Ia sudah memakai pakaian yang rapi.

"Kau sudah menelpon appa?" tanya Baekhyun, ia duduk di tepi ranjang putranya.

"Tidak diangkat," jawab Chanhyun terlihat menyibukkan dirinya di meja belajar, mengecek kembali tasnya. Tapi Baekhyun tahu, Chanhyun sedang menghindari dirinya.

"Sudah mengirim pesan?" tanya Baekhyun lagi.

Memang sudah beberapa hari ini Chanyeol yang bertugas mengantar Chanhyun dan menjemputnya karena permintaan Chanyeol sendiri. Tapi hari ini, Chanyeol sepertinya terlambat datang. Dan itu yang membuat Chanhyun murung di pagi hari.

"Tidak dibalas," jawab Chanhyun singkat. Baekhyun bangkit dari ranjang Chanhyun.

"Kau bisa berangkat bersama eomma dan Dae ahjussi pagi ini. Eomma akan mengganti pakaian sebentar," ucap Baekhyun. Mendekati Chanhyun, mengusap sayang putranya yang hanya menunduk sebelum keluar dari kamar.

Baekhyun kembali menatap punggung Chanhyun sebelum benar-benar menutup pintu kamar putranya. Terselip juga perasaan kecewa terhadap Chanyeol. Jika memang tak bisa mengantar Chanhyun ke sekolah di pagi hari, harusnya ia tak usah meminta untuk mengantar. Daripada melihat Chanhyun yang sangat kecewa karena terlalu berharap.

.

.

.

.

.

Kriing~ Kriing~

Chanyeol terus menggeliat di balik selimutnya. Ia semakin mengeratkan selimut ke tubuhnya tiap kali dering terdengar dari ponselnya.

Kriing~ Kriing~

Mendengar ponselnya yang masih terus berbunyi. Akhirnya, dengan malas ia meraba meja di sebelah ranjangnya. Mencari letak ponselnya yang tak juga berhenti berdering.

Chanyeol mengerang. Menekan tombol hijau di ponselnya dengan kesal.

"Yeob-" Ucapan Chanyeol terpotong oleh suara perempuan di seberang sana.

"Chanyeol?"

Chanyeol yang mengenali suara lawan bicaranya langsung terduduk di ranjangnya.

"Baek?" Tanya Chanyeol memastikan jika itu suara Baekhyun, mantan istrinya.

"..."

Chanyeol melihat kembali ponselnya. Disana memang tertulis nomor Baekhyun.

"A-ada apa, kau menelponku?" Chanyeol kembali bertanya saat tak ada jawaban dari seberang.

"Chanhyun.. Dia sudah menunggumu," Jawab Baekhyun.

"Oh! I-iya, aku akan bersiap-siap sekarang." Chanyeol berdiri dari ranjangnya.

Chanyeol menepuk dahinya. Bagaimana ia bisa bangun siang hingga lupa harus menjemput Chanhyun dan mengantarnya ke sekolah. Bahkan dia juga harus berangkat kerja. Pantas saja Baekhyun menelponnya, ternyata hanya karena mengingatkan Chanyeol tentang Chanhyun. Jangan berharap lebih, Chanyeol.

"Baek," Chanyeol memanggil Baekhyun yang hanya diam tak memberi respon. Karena jujur saja, setelah bertahun-tahun berpisah, ini baru kedua kalinya mereka berbicara melalui telepon. Dan itu yang membuat suasana menjadi sangat kaku.

"Ya?" Balas Baekhyun.

"Terima kasih," Ucap Chanyeol.

"Untuk?" Tanya Baekhyun yang belum mengerti maksud dari ucapan terima kasih dari mantan suaminya itu.

"Sudah mengijinkanku lebih dekat dengan Chanhyun," Ungkap Chanyeol jujur.

"Jangan mengecewakannya, Chanyeol." Hanya itu yang dikatakan oleh Baekhyun.

Chanyeol meringis. Ia kembali mengingat betapa buruknya ia dulu sebagai seorang ayah dan seorang suami. Ia selalu marah ketika dimintai tolong oleh Baekhyun untuk menjaga Chanhyun sebentar saat Baekhyun sedang sibuk. Dan sekarang, Chanyeol merasakan semua penyesalannya.

"Iya, aku tidak akan mengecewakannya,"

.

.

.

.

.

Kyungsoo menghentikan mobilnya di depan gedung, Jongin segera menurunkan Jongsoo dari pangkuannya, mendudukkannya di sebelah kursi kemudi dan memasangkan sabuk pengaman untuk Jongsoo dan segera menutup pintu mobil.

"Jongsoo, cium appa," pinta Jongin, ia menunduk, memasukkan kepalanya ke dalam kaca mobil yang terbuka. Ia masih enggan masuk ke dalam gedung perkantoran dan memilih bercanda dengan Jongsoo. Kyungsoo, dia hanya duduk sebagai penonton yang sesekali ikut tertawa dengan candaan yang dilontarkan Jongin, dan Jongsoo yang terkikik karenanya.

Chu~

Jongsoo mencium Jongin di pipinya.

"Sekolah yang pintar, jangan nakal, oke?" ucap Jongin mengusak rambut Jongsoo yang sudah rapi. Dia memberikan satu telapak tangannya pada Jongsoo.

"Iya, appa.." balas Jongsoo. Ia melakukan toss dengan telapak tangan Jongin di depannya.

"Jongin," Kyungsoo mengingatkan, ia memicing pada Jongin yang merusak tatanan rambut Jongsoo yang sudah rapi. Memang bukan Kyungsoo yang memandikan Jongsoo dan merawatnya setelah selesai mandi, itu semua pekerjaan Jongin. Tapi tetap saja, Kyungsoo tak suka jika Jongsoo pergi ke sekolah dengan rambut yang berantakan.

"Dah, Jongsoo!" Jongin melambaikan tangannya pada Jongsoo. Jongsoo membalasnya dengan senang, ia terus tersenyum lebar pada Jongin.

"Dah, appa!"

"Kyungsoo," panggil Jongin.

"Ya?" Kyungsoo beralih menatap Jongin.

"Hati-hati.. Istirahatlah jika lelah," ujar Jongin. Ia tersenyum dengan manisnya, mampu membuat jantung Kyungsoo berhenti di pagi hari.

"Iya, aku mengerti. Terima kasih," jawab Kyungsoo. Jongin tersenyum, ia segera berbalik dan melangkah memasuki gedung perkantoran tempatnya bekerja. Tiga langkah Jongin terhenti. Ia kembali berbalik ke arah mobil Kyungsoo.

"Jangan lupa menjemputku nanti. Maaf juga tak bisa menemanimu ke rumah sakit," ucap Jongin. Kyungsoo mengangguk.

Kyungsoo mulai menginjak gas mobilnya saat Jongin sudah benar-benar memasuki gedung itu, karena Jongsoo yang masih terus melambaikan tangan, meskipun hanya punggung Jongin yang terlihat. Sepertinya Jongsoo sangat senang karena sudah tak melihat kedua orangtuanya bertengkar lagi.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi," sapa salah satu pegawai wanita, ia membungkuk sopan saat berpapasan dengan Jongin yang berjalan menuju ruang kerjanya.

"Ah iya, selamat pagi," balas Jongin membungkuk sopan. Pegawai wanita ber name-tag Son Seunghwan itu segera berjalan melewati Jongin.

Jongin kembali berjalan menuju ruang kerjanya. Ia baru saja memutar knop pintunya saat terdengar suara Sehun menyapanya.

"Kau berangkat lebih pagi hari ini," Sehun tersenyum, menghampiri Jongin yang masih berdiri di tempatnya. Ia memegang secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul disana.

"Morning sickness. Kyungsoo juga sudah memasak di pagi hari, aku tidak punya alasan untuk terlambat," jawab Jongin. Memang benar, setiap pagi ia akan terbangun karena morning sickness yang selalu memaksanya menuju kamar mandi meski matanya masih terpejam.

Sehun mengangguk, ia mengikuti Jongin memasuki ruangannya. Dan duduk di depan meja kerja Jongin.

"Sejak kapan kau minum kopi?" Tanya Jongin. Menatap Sehun setelah melihat cangkir di depan Sehun.

"Eoh? Ini? Aku hanya ingin," jawab Sehun santai. Dan kembali menyesap minuman berwarna pekat itu.

"Kau, belum mulai bekerja?" tanya Jongin melihat Sehun yang masih saja duduk santai di depannya.

"Ini hari sabtu Jongin," jawab Sehun.

"Memang kenapa jika hari sabtu?" tanya Jongin tak mengerti.

"Kita hanya sedikit santai di hari sabtu. Dan kita bekerja setengah hari jika hari sabtu. Kecuali jika ada lembur," ujar Sehun.

"Benarkah? Kenapa kau tak bilang?" protes Jongin. Tau begitu, ia bisa mengantar-atau lebih tepatnya menemani-Kyungsoo bertemu dengan Dokter Kandungan siang ini. Memeriksakan kandungan Kyungsoo yang memasuki minggu keempat.

"Kenapa kau tak bertanya?/" jawab Sehun acuh. Ia berdiri dari kursinya setelah menyesap kopi terakhir di cangkirnya. Jongin hanya menatap kesal pada Sehun

"Kopiku sudah habis, aku akan mulai bekerja. Semangat Kim Jongin!" Sehun berbalik dari hadapan Jongin dan berjalan menuju pintu dengan seringaian kecil di wajahnya.

"Oh Sehun!" Jongin berteriak dan hanya diabaikan oleh Sehun yang langsung menghilang di balik pintu.

.

.

.

.

.

Tuuut tuuuut~

Nada sambung terdengar dari ponsel touchscreen milik Luhan yang tergeletak di atas ranjang.

"Kenapa belum diangkat?" Luhan yang awalnya berdiri didepan cermin berjalan ke ranjangnya. Ia memutus sambungan teleponnya dan menekan beberapa nomor di sana. Panggilannya masih belum terjawab. Ia mengulanginya lagi, memutus panggilannya dan menekan nomor yang sama.

"Eomma, ayo berangkat," ajak Sehan yang berdiri tak jauh dari Luhan, ia sudah mengenakan seragam lengkap.

"Tunggu sebentar ya sayang," ucap Luhan. Ia mengusap pipi putranya sebentar dan kembali fokus pada ponselnya. Luhan mengetik pesannya kepada seseorang. Ia mengetiknya dengan cepat.

"Sudah, ayo berangkat!" ucap Luhan setelah mendengar tanda bahwa pesannya telah terkirim. Ia segera menggandeng Sehan keluar kamar. Luhan melirik jam tangannya sejenak.

To : Huang Zitao

Maaf jika aku mengganggu, bisa kita bertemu siang ini? Aku tak bisa menghubungimu beberapa hari ini. Tolong balas jika kau sudah baca pesanku.

-Oh Luhan

.

.

.

.

.

Ddrttt.. Ddrrtt..

Ponsel pintar berwarna putih yang diabaikan diatas meja oleh sang pemilik itu bergetar berkali-kali.

"Hei Zitao! Ponselmu bergetar," panggil salah seorang gadis remaja kepada teman sebangkunya yang menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang dilipat di atas meja.

"Biarkan saja," jawab gadis berseragam SMA itu dengan suara yang teredam. Huang Zitao, entah apa yang membuatnya murung di pagi hari ini dan di tengah riuhnya suasana kelas.

"Kau ini kenapa?" tanya teman di sebelah Zitao. Ia cukup heran melihat teman sebangkunya yang sama sekali tak bergeming bahkan setelah ia menggoyang tubuhnya. Karena pertanyaannya tak di jawab, lalu gadis bernama Kim Yerim itu mengambil ponsel milik Zitao.

"Nenek Zhang, kumohon pulanglah," keluh Zitao. Masih tetap dengan posisinya.

"Lima panggilan tak terjawab. Kenapa tidak kau angkat?" tanya Yeri dengan suara yang cukup keras, ia melakukannya dengan sengaja agar Zitao mendengarnya. Ia sudah membuka semua laporan panggilan di ponsel Zitao. Semua panggilan yang tak terjawab berasal dari satu nomor, dan pesan yang baru saja masuk juga berasal dari nomor yang sama, Oh Luhan.

"Apa yang bisa ku katakan?/" jawab Zitao akhirnya. Ia mengangkat kepalanya dengan malas. Oh, bahkan poni yang biasa menemani rambut kuncir kudanya kini nampak berantakan.

"Apa nenek Zhang belum pulang?" tanya Yeri.

"Dia tak mengangkat telponku sama sekali. Dia bisa saja tau keadaanku dengan kelebihannya tanpa aku harus mengatakannya. Tapi aku? Astaga~ bagaimana dia bisa berbuat curang padaku seperti itu," ucap Zitao dengan nada sedih diantara riuhnya suasana di kelas.

"Aku rasa nenek Zhang benar-benar marah padamu," ucap Yeri. Pantas saja Zitao sangat murung, ini karena nenek Zhang tak memberi kabar apapun pada Zitao.

Meski Nenek Zhang dan Zitao sama sekali tak memiliki hubungan darah apapun, Yeri sangat tau bahwa Zitao sangat menyayangi nenek yang merawatnya sejak ia hidup sebatang kara karena kedua orangtuanya yang meninggal akibat gempa yang pernah terjadi di China.

"Jika tidak marah, tidak mungkin dia pergi ke China. Bahkan dia juga tak bilang kapan akan pulang," sahut Zitao. Wajahnya benar-benar tak sedap dilihat hari ini. Yeri bahkan berani bertaruh bahwa Zitao sama sekali tak menempelkan bedak ataupun sekedar pelembap di wajahnya.

"Hh... Lalu bagaimana kita mengembalikan uangnya?" Yeri menghela nafasnya. Ia bersandar pada kursinya. Menatap nanar pada ponsel putih milik Zitao.

"Aku tidak tau," jawab Zitao. Yang ia lakukan tak jauh beda dengan Yeri.

"Tapi kita harus melakukannya, Zi. Jika tidak, nenek Zhang tidak akan pulang," ujar Yeri. Bagaimana pun, ia dan Zitao yang sudah melakukan semua kekacauan ini. Jadi, mereka berdua juga yang harus menyelesaikan semuanya.

Mereka berdua hanya duduk dengan pandangan kosong, sesekali terdengar helaan nafas dari mulut mereka. Kelas yang hampir saja bertambah ramai seketika menjadi sepi ketika salah satu teman laki-laki Zitao berlari memasuki kelas dan berteriak mengatakan sesuatu yang membuat teman-temannya segera merapikan seragamnya dan berlari menuju bangkunya.

"Selamat pagi anak-anak," sapa guru perempuan Zitao setelah memasuki kelas. Seisi kelas termasuk Zitao dan Yeri berdiri dari kursinya memberi salam dan membungkuk kepada guru mereka.

"Zitao! Tulis jawaban dari soal yang kuberikan kemarin ke papan tulis!" perintah guru perempuan itu pada Zitao.

"Baik saem," jawab Zitao patuh. Ia segera berdiri dan mengeluarkan buku tulisnya dari dalam tas. Zitao meninggalkan bangkunya dan mulai melangkah ke muka kelas. Bahkan ia juga melupakan ponselnya yang masih tergeletak di atas meja. Beruntung tak terlihat oleh sang guru karena bangku Zitao dan Yeri yang terletak di belakang.

"Maafkan aku, Zi." ucap Yeri ketika melihat Zitao yang sudah mulai menuliskan jawaban soal-soal di papan tulis. Mengambil ponsel Zitao dan menyembunyikannya di bawah meja agar tak terlihat oleh teman di sebelahnya.

Yeri menunduk menatap layar ponsel Zitao. Tangannya yang lincah terlihat mengetikkan sebuah pesan untuk seseorang yang baru saja mengirim pesan di ponsel Zitao.

To : Luhan Eonnie

Maaf baru membalas pesanmu, eonnie. Sebenarnya ada hal yang harus kusampaikan juga padamu. Orange Cafe. Pukul 2 siang.

-Huang ZiTao

'Send'

.

.

.

.

.

Brakk!

Terdengar bunyi gebrakan di salah satu meja. Beberapa pegawai hanya menunduk setelah sempat berjingkat.

Pemilik meja itu hanya membungkuk berkali-kali meminta maaf kepada perempuan yang mengenakan blazer berwarna maroon di depannya.

"APA INI? HANYA INI KEMAMPUANMU, HUH?" teriak perempuan itu, ia meremas kertas di tangannya dan melemparnya tepat di wajah seseorang yang berdiri di depannya. Jung Soojung, posisinya sebagai Art Director cukup membuatnya angkuh dan bersikap tidak cukup baik.

"Maaf," perempuan yang biasa dipanggil Wendy itupun hanya mengucap maaf, namun terlihat di wajahnya jika maaf itu tak tulus. Memang tidak sekali ia mengalami ini, di lempar oleh kertas yang berisi hasil kerjanya sendiri, karena itu ia sangat tidak suka dengan Soojung yang menjadi atasannya.

"BUAT ULANG!" bentak Soojung tepat di depan wajah Seunghwan.

"Baik," jawabnya.

"Bukankah kau pernah magang disini? Siapa pembimbingmu?"

"Kyungsoo eonnie,"

"Huh? Kyungsoo? Pantas saja cara kerjamu sama buruk dengan hasil kerjanya," remeh Soojung pada Wendy.

"Benarkah? Seingatku, hasil kerja Kyungsoo eonni sebagai copywriter jauh lebih bagus darimu," ujar Wendy percaya diri. Ia menekankan nadanya pada kata Kyungsoo eonni dan copywriter.

"Kau!" Soojung yang merasa kalah dengan jawaban Wendy, langsung mengangkat tangannya, ia berniat menampar perempuan di depannya. Namun urung ketika Jongin berjalan mendekat ke arah mereka.

"Ada apa ini?" Tanya Jongin yang datang bersama Sehun di sebelahnya. Sehun hanya memasang wajah dinginnya pada Soojung. Sedangkan Wendy yang menunduk karena takut akan tamparan Soojung akhirnya bisa bernafas lega.

"Eoh Jongin? Tidak ada yang terjadi. Aku hanya menegur Wendy karena hasil kerjanya yang kurang baik," elak Soojung. Raut mukanya yang tegang seketika berganti dengan senyum. Sehun menatap tajam Soojung yang berpura-pura manis di depan Jongin. Ia sudah sangat hafal dengan gelagat perempuan-yang biasa dipanggil dengan Krystal-itu jika berada di depan dan di belakang Jongin.

"Benarkah? Aku mendengar kau menyebut nama Kyungsoo?" Jongin mengernyitkan dahinya. Tidak, ia tidak salah dengar. Ia mendengar dengan jelas saat Soojung menyebutkan nama Kyungsoo sebagai pembimbing mahasiswa yang sedang magang. Dan bukankah itu berarti Kyungsoo pernah bekerja disini juga?

"Ah itu, tidak. Kau hanya salah dengar. Benarkan, Wendy?" Soojung menjawab dengan salah tingkah. Jongin yang mulai curiga terus menatap Soojung dan Wendy bergantian.

"Iya, benar," jawab Wendy tentu saja ia berbohong. Meski sebenarnya ia mengetahui kelakuan buruk Soojung, tapi jabatannya yang hanya sebagai pegawai kontrak dan baru, mau tak mau hanya menurut pada Soojung.

"Lanjutkan kerjamu," ucap Sehun pada Wendy yang membungkuk sopan. Sehun menepuk bahu Jongin. Dan Jongin yang mengerti segera berlalu.

.

.

.

.

.

"Eomma," panggil Jongsoo pada Kyungsoo yang menggandengnya sambil berjalan ke luar dari gerbang sekolah Jongsoo.

"Kenapa ke rumah sakit? Eomma sakit?" Tanya Jongsoo. Kyungsoo sudah mengatakan pada Jongsoo bahwa mereka tidak akan langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke rumah sakit.

"Heheh.. tidak, Jongsoo." Jawab Kyungsoo. Ia tahu jika Jongsoo akan khawatir padanya. Kyungsoo bersyukur memiliki seorang anak yang sangat menyayanginya.

Kyungsoo dan Jongsoo sudah sampai di mana mobil mereka terparkir. Tak terlalu jauh dari pintu gerbang sekolah Jongsoo. Kyungsoo membuka pintu dan mendudukkan Jongsoo, tak lupa ia juga memasangkan seat-beltnya.

"Mmm.. kita akan melihat adik Jongsoo, mau?" Jawab Kyungsoo berpura-pura berpikir sebentar, dengan telunjuk yang diketukkan pada dagunya. Ia bahkan masih berdiri di depan Jongsoo yang sudah duduk manis, ia masih belum menutup pintu mobilnya.

"Melihat saengie? Jinjja?" Jongsoo tertarik. Matanya terlihat berbinar mendengar jawaban Kyungsoo.

"Kau suka?" Tanya Kyungsoo lagi. Jongsoo mengangguk beberapa kali tanpa henti. Kyungsoo tertawa melihat reaksi Jongsoo, ia segera menutup pintunya dan berjalan menuju kursi kemudinya.

"Tapi eomma bilang, saengie sudah pergi?" Tanya Jongsoo segera saat Kyungsoo baru saja menutup pintu mobilnya. Kyungsoo menoleh pada Jongsoo. Ternyata Jongsoo sudah tahu jika dia pernah kehilangan adiknya, itu berarti Jongsoo sudah mengetahui apa itu adik. Bahkan Kyungsoo juga bisa melihat kesedihan di mata Jongsoo.

"Hh.. itu benar. Tapi sekarang, Jongsoo akan punya saengie lagi," Kyungsoo menghela nafasnya. Ia tersenyum pada Jongsoo. Mengusap lembut kepala Jongsoo, hanya itu yang bisa ia lakukan seolah menenangkan Jongsoo. Karena Kyungsoo tak pernah berhadapan dengan anak kecil sebelumnya.

"Saengie tidak pergi lagi 'kan, eomma?" Tanya Jongsoo, masih memastikan pada Kyungsoo.

"Tidak. Saengie tidak akan pergi," jawab Kyungsoo yakin. Tangannya menggenggam kedua tangan kecil Jongsoo. Ia tersenyum, dan akhirnyajuga dibalas dengan Jongsoo. Kyungsoo yang melihatnya merasa lega.

Setelah memastikan seat-belt Jongsoo dan miliknya sudah terpasang dengan baik, Kyungsoo mulai menginjak gasnya. Karena sekarang ada Jongsoo, jadi Kyungsoo merasa harus mengutamakan keselamatan Jongsoo.

.

.

.

.

.

"Iya-iya. Kembalilah bekerja, cepatlah pulang," ucap Kyungsoo. Ia memasang senyum diwajahnya meski Jongin tak bisa melihatnya.

"Iya. Kututup," ucap Jongin lembut di seberang sana. Entah karena apa, Kyungsoo merasa sangat senang setiap Jongin menelponnya, selalu ingin tersenyum. Dan setiap Kyungsoo mendengar suara Jongin di seberang, serasa ada ribuan kupu-kupu yang tengah menggelitik perutnya.

"Ne~" balas Kyungsoo. Karena terlalu gugup, tanpa sadar Kyungsoo mengetuk 'end call' pada layar ponselnya.

Kyungsoo mengipasi wajahnya yang memerah karena mengingat percakan terakhirnya bersama Jongin. Baru saja Jongin menghubungi Kyungsoo untuk bisa menemaninya pergi ke rumah sakit.

"Eoh! Astaga~ Kyungsoo.. kau terdengar seperti seorang istri sungguhan yang berpesan pada suamimu, hufft.." gumam Kyungsoo. Dan untung saja ia sudah menepikan mobilnya sejak mendengar ponselnya berbunyi dari dalam tasnya.

"Eomma?"

Kyungsoo sadar setelah mendengar panggilan Jongsoo di sebelahnya. Ia merutuki dirinya karena telah bertingkah aneh dan mengabaikan Jongsoo. Ia segera menoleh pada Jongsoo yang mengerjap lucu masih terus menatapnya. Tentu saja Jongsoo masih belum paham dengan apa yang baru saja dilakukan ibunya itu.

"Ah tidak apa. Eomma akan jalankan mobilnya sekarang," Kyungsoo mengusap tengkuknya. Ia sungguh merasa malu pada Jongsoo karena tingkahnya.

.

.

.

.

.

Baekhyun terlihat menguap beberapa kali di meja kerjanya. Ia serasa ingin memejamkan matanya yang lelah. Pekerjaannya sebagai akuntan mewajibkannya untuk selalu di depan layar komputer. Ia melirik jam tangan yang menempel di tangan kirinya. Baekhyun menghela nafas, mengetukkan dahinya ke atas meja kerjanya dengan sengaja. Mungkin karena terlalu banyak yang ia pikirkan beberapa hari ini sehingga ia mudah merasa lelah, padahal ia baru saja selesai makan siang.

Beep!

Baekhyun mengangkat kepalanya dari atas meja saat mendengar ponsel di sebelahnya. Ia mengambil ponselnya, ada pesan masuk dari putra tercintanya.

'Eomma, aku belum pulang. Aku menemani appa di apartmentnya,'

"Appamu itu sudah besar. Tak perlu di temani," Baekhyun menggerutu. Tertawa saat mengingat kejadian pagi tadi. Chanhyun yang semula murung karena mengira ayahnya tidak akan menjemput bisa kembali riang saat melihat Chanyeol yang akhirnya datang meski terlambat. Dan nampaknya itu tak masalah bagi Chanhyun.

'Iya. Jangan merepotkan, oke!'

Balas Baekhyun kepad putra kesayangannya itu.

Perempuan ber-eyeliner itu langsung bersemangat kembali setelah menerima pesan dari Chanhyun. Dan ia percaya, seorang anak memanglah sumber dari semangat orangtuanya.

'Appa sakit eomma,'

"Lalu eomma mu ini harus apa Park Chanhyun?" Tanya Baekhyun pada ponselnya seolah ia langsung bertanya pada putranya yang sedang menggodanya. Untung saja sedang tidak ada atasannya, jadi ia sedikit bebas memegang ponsel dan mengirim pesan. Melihat pesan Chanhyun, ia sadar jika putranya ini sedang berusaha menjodoh-jodohkannya dengan Chanyeol, mantan suaminya. Baekhyun sedikit membalas tingkah Chanhyun. Ia tidak segera menulis pesan balasan untuk putranya.

'Eomma! Appa sakit,'

Baekhyun terkekeh, melihat putranya yang kembali mengirim pesan dengan isi yang sama. Namun kali ini, ia membalas pesan putranya.

'Iya. Eomma sudah membaca pesanmu. Kenapa kau mengatakannya pada eomma?'

Ponsel pintar Baekhyun kembali berbunyi.

'Aku hanya ingin,'

"Eoh! Astaga~ aku dikerjai putraku sendiri. Awas saja kau Park Chanhyun," ancam Baekhyun pada putranya. Meski jengkel, namun jujur, ia juga merasa terhibur oleh tingkah putranya. Ia kembali mengetik pesan pada putranya.

'Jangan bertingkah aneh! Jangan merepotkan appamu yang sakit!'

Pesan Baekhyun pada Chanhyun. 'Jangan bertingkah aneh!' Tentu saja Baekhyun berpesan seperti itu karena putranya itu cukup bisa dibilang hyperaktif seperti-ekhem-Baekhyun dan juga Chanyeol.

'Siap! Eomma!'

Ia tersenyum melihat pesan putranya. Dia sudah tidak membalasnya kali ini, jika membalasnya terus-terusan, bisa-bisa ia akan seharian bertukar pesan dengan putranya dan tidak bekerja. Ia berniat ke kamar mandi untuk mencuci muka sebentar agar dapat mengusir rasa kantuk yang ternyata kembali datang.

Baekhyun sudah mendengar seseorang yang tengah menelpon dari salah satu bilik di kamar mandi perempuan ketika memasuki kamar mandi. Ia hampir saja menyalakan kran air untuk membasuh wajahnya sebelum mendengar sesuatu yang membuatnya penasaran.

"Kau tau? Aku sedang berpura-pura marah dan berusaha agar tak menghubunginya selama seminggu ini,"

Dahi Baekhyun berkerut. Ia sangat hafal dengan suara perempuan di balik bilik itu, tentu saja itu suara teman kerjanya yang juga pernah menjadi teman sekelasnya di saat masih SMP, Choi Sulli. Baekhyun yang masih berdiri di depan wastafel berniat menguping obrolan perempuan itu lebih jauh.

Ia berjalan dengan pelan, memilih salah satu bilik yang terdekat dengan bilik milik Sulli. Baekhyun membuka pintunya perlahan, duduk di atas closet yang tertutup dengan sangat perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara apapun.

Baekhyun tak terlalu mendengar suara lain yang di seberang sana meski kini ia telah menempelkan telinga kirinya pada dinding pembatas dari kayu di biliknya. Baekhyun terus mendengar dan menyimaknya dengan baik.

"Aku mengikuti saranmu. Malam itu, aku menyuruh Jongin agar menceraikan Kyungsoo. Dan dia sempat menolak waktu itu. Tentu saja aku marah,"

Seketika Baekhyun membekap mulutnya agar tak berteriak karena shock dengan yang baru saja diucapkan Sulli. Ia tidak percaya dengan yang dilakukan Sulli. Menyuruh Jongin agar menceraikan Kyungsoo? Teman macam apa Sulli itu?

Meski merasa marah, Baekhyun masih terus mendengarkan percakapan Sulli.

"Dan kau tahu, Krys? Dia malah berbalik tak memberiku kabar sama sekali."

Kali ini darah Baekhyun benar-benar mendidih. Apa? Krys? Baekhyun sangat tahu nama panggilan itu. Itu milik Krystal, perempuan yang bernama asli Jung Soojung itu juga temannya saat SMP. Baekhyun ingat, dulu, Krystal memang lumayan dekat dengan Sulli.

Baekhyun bisa saja mendobrak bilik milik Sulli sekarang juga karena marah. Tapi tidak, dia tidak akan melakukan itu sekarang. Ia lebih memilih menyimpan tenaganya untuk berurusan dengan Jongin nanti.

"Aku sudah tidak betah mendiamkannya, Krys. Tapi bagaimana dia bisa betah melakukan ini padaku?"

Ternyata percakapan yang dilakukan Sulli dan Krystal masih berlanjut. Baekhyun masih terus mendengarkan meskipun kini ia sudah menggenggam tangannya erat.

"Kau yakin? Aku takut jika Jongin mulai menyukai Kyungsoo,"

Sudah cukup. Baekhyun tidak ingin mendengar lebih jauh lagi. Ia tak percaya jika Jongin selama ini bermain dengan Sulli di belakang Kyungsoo. Baekhyun membuka pintunya dengan kasar, tak peduli jika Sulli ataupun orang lain terkejut dengan bunyi pintu yang dibantingnya.

.

.

.

.

.

"Nyonya Kim? Anda tidak masuk?" Tanya salah seorang perawat wanita berseragam putih pada Kyungsoo yang tengah duduk di deretan kursi tunggu. Kyungsoo duduk bersama Jongsoo yang masih mengenakan seragam disebelahnya tengah asyik mengunyah roti isi coklat yang sempat dibelinya saat perjalanan menuju rumah sakit.

"Ah, iya. Boleh, aku menunggu Jongin sebentar?" Jawab Kyungsoo, menoleh pada perawat yang tengah tersenyun padanya.

"Iya, silahkan. Anda bisa menunggu Tuan Kim. Saya permisi," Jawab perawat tersebut. Membungkuk berpamitan pada Kyungsoo yang akhirnya juga balas membungkuk.

Kyungsoo melirik jam di ponselnya. Sesekali ia juga mengusap lelehan coklat di sekitar mulut Jongsoo. Ia terkekeh melihat roti Jongsoo yang bahkan sudah tinggal separuh.

Cukup lama Kyungsoo menunggu Jongin sampai Jongsoo sudah terlihat kenyang dan enggan menggigit lagi rotinya. Bahkan laki-laki kecil mirip Kyungsoo itu juga menolak saat ditawari susu kotak siap minum oleh Kyungsoo.

"Kyungsoo!"

Ia menoleh mendengar namanya diteriakkan. Itu Jongin. Tersenyum pada Kyungsoo ditengah langkahnya.

"Jongin," Ucap Kyungsoo. Balas tersenyum kepada Jongin.

Jongin memperhatikan di sekitar sana, tak ada pasien lain. Hanya ada satu ibu hamil dengan perut yang sudah cukup besar dengan suaminya yang berjalan mendekat pada kursi tunggu di depan ruang periksa.

"Appa!" Teriak Jongsoo.

"Oh! Hai jagoan!" Sapa Jongin. Jongsoo menyerahkan rotinya pada Kyungsoo. Lalu merentangkan tangannya pada Jongin. Menggerakkan jari-jari kecilnya meminta agar Jongin segera menggendongnya.

"Apa aku terlambat?" Tanya Jongin pada Kyungsoo, tetapi matanya tak beralih dari Jongsoo yang berada di gendongannya. Jongin mencium pipi Jongsoo karena terlalu gemas.

"Tidak. Aku sudah bilang masih menunggumu pada perawat tadi," Jawab Kyungsoo.

"Maaf," Ucap Jongin merasa tak enak.

"Hey! Tidak apa. Santai saja. Aku tidak bosan karena ada Jongsoo," Sahut Kyungsoo cepat. Ia menggoyangkan tangannya pada Jongin dan terkekeh.

"Jongsoo dan eomma sudah menunggu laaaama sekali," Jongsoo juga menyahut, bercerita dengan lucunya di depan wajah Jongin.

"Hahaha~ benarkah?" Tanya Jongin menanggapi. Jongsoo hanya mengangguk lucu. Terlihat malu-malu dan menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya. Kyungsoo pun juga tertawa akibat ulah Jongsoo. Ternyata Jongsoo juga bisa bermanja.

"Appa minta maaf ya," Ucap Jongin, mendudukkan dirinya di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Jongsoo.

"Hihihi~" Jongsoo terkikik, sekarang ia berada di pangkuan Jongin. Kyungsoo yang masih berdiri tersenyum bahagia melihat Jongin dan Jongsoo. Kyungsoo merasa bersyukur melihat Jongin yang sangat menyayangi Jongsoo.

"Jongin?"

Merasa namanya di sebut, Jongin menoleh. Kyungsoo dan Jongsoo pun juga ikut menoleh ke sumber suara.

"Junsu noona?" Tanya Jongin langsung ketika melihat perempuan yang dikenalnya sebagai sahabat kakak perempuannya. Dan jika dilihat-lihat, Jongin mulai paham bahwa perempuan yang berdiri di depan mereka kini adalah dokter kandungan Kyungsoo.

"Agak heran melihatmu disini. Kyungsoo, kau bisa masuk sekarang," Jujur Junsu pada Jongin, pandangannya cukup tajam. Lalu beralih berkata pada Kyungsoo dan tersenyum.

"I-iya," Jawab Kyungsoo. Ia berjalan mengikuti Junsu yang melangkah memasuki ruangannya.

.

.

.

.

.

Kyungsoo sudah selesai melakukan pemeriksaan. Mereka kini berjalan di koridor menuju apotek, untuk menebus resep vitamin yang diberikan untuk Kyungsoo. Jongsoo masih terus berada di gendongan Jongin. Matanya mulai mengayun, kepalanya bersandar di bahu Jongin.

"Aku kira, kau akan di USG hari ini," Ucap Jongin.

"A-apa?" Kyungsoo terkejut. Ia menghentikan langkahnya dan membulatkan matanya yang memang sudah bulat. Kyungsoo sedikit salah paham mendengar ucapan Jongin. Seingatnya, pakaian yang ia kenakan harus disingkap hingga menampakkan kulit perutnya yang akan diolesi oleh gel sebelum dilakukan USG. Jadi yang membuat Jongin sangat ingin ikut ke rumah sakit adalah karena ingin melihat kulit perutnya?

Sebenarnya, memang Kyungsoo tidak menjalani pemeriksaan USG hari ini. Ia akan kembali di USG bulan depan, saat pemeriksaan kandungan di bulan kedua.

"Ah! Tidak. Tidak. Maksudku, aku ingin melihatnya langsung dari monitornya. Bukan dari hasil cetakan yang berwarna hitam putih seperti itu," Jelas Jongin setelah paham dengan ekspresi Kyungsoo. Ia yakin Kyungsoo pasti sudah berpikir yang 'tidak-tidak' tentang ucapannya.

Jongin bisa bernafas lega setelah Kyungsoo tersenyum malu dan menunduk setelah mendengar penjelasannya. Sepertinya Kyungsoo sadar bahwa ia memang sudah salah paham terhadap Jongin.

"Jongin," Panggil Kyungsoo.

"Ya?"

"Sepertinya, kita harus belanja siang ini. Hampir semua bahan makanan kita habis," Ucap Kyungsoo. Ia memang berniat belanja hari ini, tapi sore saja setelah menjemput Jongin. Karena Jongin kan yang memiliki uang. Begitu pikir Kyungsoo.

"Boleh saja. Tapi, apa kau tidak lelah?" Tanya Jongin. Ia hanya merasa tidak enak saja, karena sudah pasti Kyungsoo yang menyetir.

Kyungsoo menggeleng menanggapi Jongin.

"Kalau begitu, ayo!" Ucap Jongin semangat.

.

.

.

.

.

"Tunggu!" Kyungsoo menarik lengan kemeja milik Jongin ketika dengan semangatnya Jongin berjalan memasuki area supermarket. Jongin juga sudah meletakkan Jongsoo di dalam troli.

"Ada apa?" Tanya Jongin yang otomatis menghentikan langkahnya.

"Uangnya! Apa kau masih punya uang?" Kyungsoo mengingatkan Jongin. Matanya semakin membulat sempurna saat ini. Semakin mendramatisir. Beberapa hari yang lalu saat mereka belanja, memang masih menggunakan uang cash yang masih tersisa di dalam dompet Jongin.

"Kau mengagetkanku. Untuk itu tenang saja," Sahut Jongin enteng. Ia memang sudah mengetahui nomor pin ATMnya dari Sehun beberapa hari yang lalu. 1201, dan sejak itu Jongin tahu, itu adalah tanggal dan bulan lahir Kyungsoo.

Tetapi nampaknya Kyungsoo masih tak percaya dengan ucapan Jongin. Ia masih terus menatap Jongin.

Jongin mendekat pada Kyungsoo.

"Hey! Jangan seperti itu! Matamu bisa keluar," Bisik Jongin tepat di telinga Kyungsoo. Ada seringai tipis di sana. Senang bisa kembali mengerjai teman kecilnya dulu.

"YA! Kim Jongin!" Kyungsoo segera berteriak setelah Jongin mengatainya. Beberapa pengunjung menatap aneh pada Kyungsoo.

Jongin terkikik tanpa Kyungsoo ketahui. Kyungsoo mengejar Jongin yang terus berjalan mendorong troli.

"Eomma! Eomma! Itu!" Teriak Jongsoo semangat. Tangannya menunjuk sesuatu di kejauhan. Jongin menatap Kyungsoo yang sudah di sebelahnya. Kyungsoo mengendikkan bahunya.

"Ada apa Jongsoo-ya?" Tanya Kyungsoo akhirnya.

"Sepeda!" Teriak Jongsoo. Menatap kedua orangtuanya. Jongin dan Kyungsoo akhirnya menoleh dimana telunjuk Jongsoo mengarah.

Jongin mengangguk.

"Kau ingin sepeda?" Tanya Jongin pada Jongsoo dan dibalas dengan anggukan antusias.

Langsung saja Jongin mendorong trolinya ke arah sepeda-sepeda kecil itu berjajar. Kyungsoo juga mengikuti kemana langkah Jongin. Jongsoo diangkat dari dalam troli oleh Jongin. Di dudukkan di salah satu sepeda berwarna merah bergambar Chocomong, dengan satu roda di depan, satu keranjang kecil yang terletak diantara dua roda di bagian belakang sepeda.

Segera mata Jongsoo berbinar. Tangan kanan dan kirinya kuat mencengkram stang kecil itu. Mulut kecilnya megeluarkan gumaman menirukan suara motor meski kakinya tidak mengayuh. Jongsoo terus tersenyum menatap kedua orang tuanya bergantian, lalu kembali memandangi sepedanya. Kyungsoo hanya mengangguk dan tersenyum. Ia juga senang melihat Jongsoo yang tersenyum seperti itu.

Lama Jongin dan Kyungsoo terdiam menatap Jongsoo sambil tersenyum.

"Ini terlalu kecil untuknya. Dia masih terus bertumbuh tinggi nanti," Ucap Kyungsoo tiba-tiba memecah keheningan. Jongin menoleh pada Kyungsoo.

"Kau benar. Dia cukup tinggi di usianya sekarang. Tapi itu bagus," Jongin menanggapi.

"Bagus? Tentu saja," Kini Kyungsoo yang menoleh pada Jongin.

"Maksudku, itu berarti dia tidak meniru tinggi badan Joonmyeon noona," Jelas Jongin.

"Kau mengatai kakakmu?" Tanya Kyungsoo tak percaya. Secara tak langsung Jongin mengatakan bahwa kakaknya itu pendek.

"Aku jujur Kyungsoo. Jae noona, dan Taemin lebih tinggi daripada Joonmyeon noona," elak Jongin. Kyungsoo hanya memutar bola matanya.

"Terserah kau saja!" Sahut Kyungsoo. Mendengus pada Jongin.

Jongin dan Kyungsoo kembali diam. Sama-sama berfikir tentang membelikan Jongsoo sepeda untuk Jongsoo atau tidak.

Mereka memandang satu sama lain. Kyungsoo menaikkan alisnya seakan bertanya tentang keputusan Jongin. Dan Jongin, ia menggerakkan bahunya ke atas dan kembali memandangi Jongsoo.

"Jadi ini bagaimana?" Akhirnya Kyungsoo yang angkat bicara.

"Bagaimana apanya?" Tanya Jongin seolah tak mengerti.

"Jongsoo terlanjur menyukai sepedanya," Kyungsoo menjelaskan dengan nada kesal. Tak peduli Jongin akan menyadarinya atau tidak. Untung jika Jongin bisa menyadarinya.

"Oh! Lihatlah matanya, dia benar-benar sepertimu. Jika sudah begini, ya terpaksa," Tidak membalas perkataan Kyungsoo. Jongin malah berseru, terkagum sambil menunjuk binar mata Jongsoo yang bulat persis seperti milik Kyungsoo.

"Terpaksa membelinya?" Tanya Kyungsoo dengan nada yang mulai naik. Kenapa tidak langsung saja bilang beli atau tidak?

"Tidak. Tapi terpaksa merayu Jongsoo agar rela meninggalkan sepeda ini agar tetap di sini," Jawab Jongin. Dan tanpa merasa berdosa telah membuat ibu hamil disampingnya merasa kesal, ia malah tersenyum dengan manis. Tak taukah? Senyuman itu yang selalu membuat Kyungsoo merasa detak jantungnya bisa berhenti. Harus berapa kali ia mengatakan itu?

"Jadi, intinya. Tidak jadi beli?" Kyungsoo bertanya sekali lagi.

"Kita beli di luar saja, yang cocok untuknya," Jawab Jongin final. Tersenyum pada Kyungsoo yang hanya mampu menghela nafas saat ini.

.

.

.

.

.

"Jongin," Panggil Kyungsoo. Mereka kembali berjalan diantara rak-rak tinggi.

"Hm?" Sahut Jongin. Menghentikan trolinya dan menoleh pada Kyungsoo.

"Benar ya, kau akan membelikan sepeda untuk Jongsoo?!" Kyungsoo menghadap Jongin.

"Iya, aku akan membelikannya. Kau tenang saja," Ujar Jongin.

"Janji?"

"Astaga~ Kyungsoo.. Iya, aku janji!" Jongin tak habis pikir dengan Kyungsoo. Dari ucapan Kyungsoo lebih terkesan jika Kyungsoo-lah yang ingin memiliki sepeda.

"Kasihan Jongsoo, dia hampir tidak rela kau angkat dari sepeda tadi," Ujar Kyungsoi sambil memandangi Jongsoo yang sedang bernyanyi kecil dan bertepuk tangan.

"Iya, aku tau. Sebenarnya aku sudah ingin membelikannya sepeda, sekaligus mengajarinya," Jongin mengaku.

"Tak perlu mengajarinya, Jongsoo sudah bisa," Sahut Kyungsoo.

"Benarkah?" Kini Jongin yang menatap tak percaya. Kyungsoo mengangguk cepat dan tersenyum.

"Jadi, apa yang harus kita beli lebih dulu?" Tanya Jongin, berhenti di depan rak bagian bumbu dapur.

"Membeli susu formula untuk Jongsoo. Saat aku membuatkannya susu tadi pagi, hanya tersisa porsi untuk siang ini," Jawab Kyungsoo. Jongin mengangguk. Kembali mendorong trolinya.

Mereka sudah sampai di depan rak dengan puluhan susu kemasan kardus yang berderet. Jongin mengambil satu, membaca komposisi dari susu yang tertulis di kotak kemasan. Sedangkan Kyungsoo, ia memandangi deretan kotak-kotak kemasan itu, membaca mereknya satu persatu. Ia benar tidak tahu harus membeli merek yang mana, terlalu bervariasi.

"Jongsoo! Itu!" Tunjuk Jongsoo pada salah satu merek susu. Kyungsoo dan Jongin yang mendengarnya segera mengikuti arah telunjuk Jongsoo.

"Eh? Punya Jongsoo yang seperti ini?" Tanya Kyungsoo setelah mengambil satu kotak susu bubuk yang dimaksud oleh Jongsoo.

"Ne!" Jongsoo mengangguk mantap pada ibunya.

Berterima kasihlah pada Jongsoo yang bisa mengenali susu formula yang biasa diminumnya, hingga mereka tak perlu membaca satu persatu komposisi dan menebak merek yang kiranya biasa diminum oleh Jongsoo.

"Aku harus mengambil berapa?" Tanya Kyungsoo pada Jongin yang masih membaca kandungan nutrisi pada kemasan.

"Tiga kotak saja, yang besar," Saran Jongin yang langsung diikuti oleh Kyungsoo yang memasukkan tiga kotak besar susu formula ke dalam troli.

.

.

.

.

.

"Kyungsoo-ssi?" Tanya salah seorang perempuan paruh baya pada Kyungsoo tiba-tiba saat masih sibuk memilih sayuran di dalam supermarket bersama Jongin.

"Nde?" Sahut Kyungsoo. Ia yang baru pertama kali melihat seseorang di depannya ini hanya mengangguk dan bingung.

"Kau, Do Kyungsoo 'kan?" Tanya perempuan itu lagi memastikan.

"I-iya, benar," Dan sekali lagi, Kyungsoo hanya mengangguk.

"Siapa?" Tanya Jongin berbisik di dekat Kyungsoo.

"Aku tidak tahu," Jawab Kyungsoo.

"Oh~ syukurlah aku bertemu denganmu disini. Sungguh maafkan aku. Aku tak bisa menghubungimu karena kau tak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi padaku. Jadi terpaksa aku memberikan apartment yang kau pesan kepada orang lain," Ujar wanita itu panjang lebar.

"Maaf, sebenarnya apa yang bibi katakan?" Tanya Kyungsoo yang tidak mengerti sama sekali dengan ucapan dari perempuan yang dipanggilnya bibi. Tentu saja karena Kyungsoo tidak tau sama sekali nama wanita bertubuh sedikit gemuk dengan rambut keriting di depannya ini.

"Sabtu lalu, kau ingat? Siang itu kau mencari apartment kosong dengan harga murah. Kau bertemu denganku lalu memesan satu yang kosong. Kau mengatakan akan bertemu denganku beberapa hari setelahnya untuk membayar biaya sewa. Tapi karena kau tidak juga da-" Jelas wanita itu lagi.

"Itu kan.." Gumam Kyungsoo setelah sadar. Itu adalah hari sebelum dia disini. Berarti yang bertemu dengan bibi itu adalah Kyungsoo yang asli. Dan yang aneh, kenapa Kyungsoo harus mencari apartment kosong?

"Bibi, tidak usah meminta maaf. Tidak apa itu kau berikan pada yang lain. Aku juga minta maaf, sepertinya Kyungsoo memang tidak jadi menyewa salah satu apartment milik bibi," Jongin menanggapi. Melihat raut muka Kyungsoo yang seolah ia sedang berfikir.

"Iya, aku tidak apa. Eoh? Apa ini suami dan putramu?" Jawab bibi itu. Lalu bertanya dan menunjuk Jongin.

"Apa? Eoh! I-iya," Jawab Kyungsoo kaku. Bibi itu tersenyum pada Jongin dan mencubit sebentar pipi Jongsoo. Lalu ia berpamitan kepada Kyungsoo dan Jongin karena mengatakan bahwa ia buru-buru. Kyungsoo dan Jonginpun hanya membungkuk saat bibi itu berlalu.

.

.

.

.

.

"Kopi?" Tanya Jongin yang berdiri di depan meja kasir dan memperhatikan seleuruh barang belanjaannya yang akan dihitung. Ia heran kenapa ada satu kaleng kopi siap minum diantara barang belanjaannya.

"Siapa yang mengambil itu?" Jongin masih bertanya. Meski terkesan bertanya pada dirinya sendiri.

Sedangkan Kyungsoo yang mendengarnya pura-pura tak mendengar ucapan Jongin.

"Kyungsoo? Kau mendengarku," Ucap Jongin pada Kyungsoo di sebelahnya yang terlihat bercanda dengan Jongsoo.

"Aku ingin minum kopi, Jongin," Jawab Kyungsoo pada Jongin.

"Tapi kau sedang hamil, Kyungsoo," Jongin mengingatkan.

"Tolong jangan di hitung kopinya," Ucap Jongin pada penjaga kasir perempuan itu di balik meja kasir.

"Jongin!" Teriak Kyungsoo tidak terima saat kaleng kopi yang diambilnya tadi kini sudah di sisihkan di tepi meja kasir oleh penjaga kasir.

"Tidak!" Sahut Jongin cepat. Ia sama sekali tak melihat raut kesal Kyungsoo.

"Tolong tetap hitung kopinya," Kini Kyungsoo yang berbicara.

"Kyungsoo!" Dan Jongin yang tidak terima karena Kyungsoo yang tak mau mendengarnya.

"Ini tidak adil! Aku lapar, Jongin," Sahut Kyungsoo. Ia serasa ingin menangis.

"Lalu kenapa membeli kopi jika kau lapar?" Tanya Jongin dengan tegas, sedikit tidak tega saat melihat mata Kyungsoo yang mulai berkaca-kaca.

Bahkan mereka berdua tidak sadar jika sedang berdebat di depan meja kasir supermarket dan diperhatikan beberapa orang yang berdiri di antrean belakang mereka.

"Ayolah Jongin," Kyungsoo mencoba merendahkan nadanya dan malah terkesan jika ia sedikit merengek pada Jongin yang tak menjawab apapun.

Satu persatu barang yang sudah dihitung di masukkan ke dalam tas plastik berlogo supermarket.

"Hitung saja kopinya," Ucap Jongin tiba-tiba yang membuat Kyungsoo kembali mendapat harapan setelah ia berpikir jika ia benar-benar batal minum kopi siang ini.

Penjaga kasir itu hanya mengangguk.

"Ini sudah dihitung 'kan?" Jongin menunjukkan satu kaleng kopi yang sudah berada di tangan kanannya. Kyungsoo yang melihatnya pun langsung sumringah, mengira Jongin akan memberikan kopi itu padanya.

Klek!

Glup..glup..glupp..

Namun sayangnya Kyungsoo harus kecewa kali ini. Kopi itu tak pernah menjadi miliknya. Kaleng kopi itu kini sudah kosong di tangan kanan Jongin. Dan bahkan diminum dalam sekali teguk oleh Jongin. Bolehkah Kyungsoo menangis sekarang?

"Kau! Aku membencimu!" Teriak Kyungsoo. Menggendong Jongsoo yang tak tau apa-apa dan berjalan dengan sedikit berlari menuju pintu keluar.

.

.

.

.

.

.

*TBC/END?*

.

.

.

.

.

.

Annyeong..

Readerdeul..

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN YA..

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1436H

Maafin ya kalo ada salah-salah selama ini. Sering update telat juga, heheh...

Terima kasih untuk yang review, favorit, follow, juga yang kasih masukan ataupun koreksi.. =)

BIG THANKS TO :

| Kim Yehyun | humaira9394 | Yohannaemerald | MbemXiumin | ludeerhan | pastelblossom | Kimsibling | BABY L Soo | luckygirl91 | jdcchan | zoldyk | exindira | Sofia Magdalena | DyOnly One | alxshav | 9394loves | overdyosoo | Kyungra26 | NHAC | JonginDO | Lovesoo | Ryeollakim | Kpoplovers | kkamjong96 | NopwillineKaiSoo | dhyamantha1214 | RlyCJaeKyu | jongjong | deva94bubletea | Sarnikelodeon | Uchiha Annie | mocca | Jang Joohwi |