Let Me Love You

Author : ChaKaJja13

Cast :

Kim JongIn (29 yo)

Do KyungSoo (29 yo)

Kim JongSoo (3 yo)

Oh Sehun (29 yo)

Oh(Xi) Luhan (29 yo)

Oh Sehan (3 yo)

Park Chanyeol (30 yo)

Byun Baekhyun (29 yo)

Park Chanhyun (12 yo)

Other cast.

.

.

EXO fict. Newbie author

.

.

Alur lambat. Typo(s) everywhere.

.

.

.

Don't bash. Don't like. Don't read.

.

.

.

.

.

"Ini sudah dihitung 'kan?" Jongin menunjukkan satu kaleng kopi yang sudah berada di tangan kanannya.

Kyungsoo yang melihatnya pun langsung sumringah, mengira Jongin akan memberikan kopi itu padanya.

Klek!

Glup..glup..glupp..

Namun sayangnya Kyungsoo harus kecewa kali ini. Kopi itu tak pernah menjadi miliknya. Kaleng kopi itu kini sudah kosong di tangan kanan Jongin. Dan bahkan diminum dalam sekali teguk oleh Jongin. Bolehkah Kyungsoo menangis sekarang?

"Kau! Aku membencimu!" Teriak Kyungsoo. Menggendong Jongsoo yang tak tau apa-apa dan berjalan dengan sedikit berlari menuju pintu keluar.

.

.

Mind to review?

.

.

*Happy reading*

.

.

Kyungsoo bersandar di kursi sebelah kemudi di dalam mobilnya. Sesekali ia mengusap lelehan airmata yang menetes dengan sendirinya. Kyungsoo juga tidak tau kenapa ia bisa sangat kecewa dan menangis hanya karena kopi yang dibelinya telah diminum habis oleh Jongin.

"Eomma jangan menangis," Ucap Jongsoo yang berada di pangkuan dan menghadap Kyungsoo. Tangan kecilnya menyentuh lembut pipi Kyungsoo.

Kyungsoo terkejut dengan yang dilakukan Jongsoo. Ia cukup terharu saat Jongsoo mengusap airmatanya.

"Tidak. Eomma tidak menangis," Ujar Kyungsoo. Menggenggam tangan kecil Jongsoo. Mencium pipi Jongsoo sayang.

"Appa jahat ya?" Tanya Jongsoo. Matanya menatap Kyungsoo lekat.

"Tidak, Jongsoo. Appa tidak jahat," Jawab Kyungsoo. Tersenyum lembut pada Jongsoo.

"Jongsoo tidak mengantuk?" Tanya Kyungsoo pada Jongsoo yang terlihat lesu. Jongsoo mengangguk.

"Tidurlah," Ucap Kyungsoo. Membawa Jongsoo ke pelukannya. Jongsoo langsung saja menempelkan kepalanya di dada Kyungsoo dan memejamkan matanya.

"Hangat," gumam Kyungsoo merasakan Jongsoo yang berada di dalam dekapannya. Mengecup pelan rambut hitam Jongsoo.

Kyungsoo hampir saja ikut tertidur bersama Jongsoo jika saja pintu di sebelahnya tak terbuka tiba-tiba dan mengagetkannya.

"Kyungsoo!"

Itu Jongin. Dengan suaranya yang terengah. Ia berdiri berpegang pada pintu mobil. Kyungsoo hanya memperhatikan Jongin tanpa berkata apapun.

"Kau, marah padaku?" Tanya Jongin pada Kyungsoo yang tak merespon panggilannya sama sekali.

"Tidak," Kyungsoo menggeleng dengan cepat.

"Apa kau menangis?" Jongin bertanya kembali setelah menemukan bekas lelehan airmata di pipi Kyungsoo.

"Aku tidak menangis dan tidak marah. Cepat masuk dan pulang. Aku lapar," Sahut Kyungsoo sedikit sewot. Jongin hanya mencibir mendengarnya.

Jongin mengambil satu barang dari kantong plastik besar yang berada di lengannya, segera menyerahkannya pada Kyungsoo.

"Ini untukmu," ujar Jongin. Ditangannya sudah ada sekaleng kopi dengan merek yang sama seperti yang dipilih Kyungsoo di dalam supermarket.

"Kenapa kau membelikanku yang baru jika tadi kau meminum milikku?" Kyungsoo bertanya tak mengerti.

"Maaf..aku membelinya setelah bertemu dengan salah satu ahjumma yang mendengar kita bertengkar," Jongin mulai bercerita dengan tangannya yang masih terulur pada Kyungsoo.

"Lalu?"

"Ahjumma itu bilang, tak masalah jika kau menginginkannya sesekali,"

Kyungsoo masih diam. Ia hanya menatap Jongin dan kaleng kopi di tangannya bergantian.

"Cepat terima ini! Kau tidak tau ini berat?" Protes Jongin yang kesal karena Kyungsoo yang terus bertanya.

"Iya, iya.." sahut Kyungsoo menerima kaleng kopi dari tangan Jongin.

Klek!

Kyungsoo mulai meminum kopinya dengan tangan kanan, tangan kirinya masih ia gunakan untuk menopang tubuh Jongsoo agar tak terlepas dari pelukannya. Jongin yang melihat Kyungsoo sedang meminum kopinya hanya tersenyum dan kembali menutup pintu mobil. Mengambil kantong besar yang berada di sebelah kakinya, berjalan berputar ke arah sisi mobil yang lain.

"Apa Jongsoo tidur lagi?" Tanya Jongin yang sudah duduk di sebelah Kyungsoo. Dan diantara mereka, Jongin meletakkan dua kantong plastik besar disana. Kyungsoo hanya mengangguk sebentar sebagai jawaban dan kembali melanjutkan meminum kopinya.

"Jongin," panggil Kyungsoo.

"Apa?" Balas Jongin. Ia cukup terkejut dengan kemampuan Kyungsoo yang dapat menampung sekaleng kopi dan meneguknya dengan cepat seolah itu hanyalah segelas air putih.

"Terima kasih," ucap Kyungsoo dengan senyum yang sedikit malu.

"Untuk?"

"Kopinya," Kyungsoo mengangkat kaleng kosong di tangannya. Menunjukkannya pada Jongin.

"Kudengar, kafein tak cukup baik untuk kehamilan. Jadi aku melarangmu," jelas Jongin pada Kyungsoo.

"Aku tau," sahut Kyungsoo. Jongin hanya bisa melongo mendengarnya.

"Jika tau, kenapa kau marah?" Protes Jongin tak terima.

"Kubilang aku tak marah, Jongin," Kyungsoo kembali mengelak dan menekankan setiap kata di kalimatnya.

"Tak marah apanya? Kau bilang membenciku?" Jongin batal berteriak saat tak sengaja melihat Jongsoo di pangkuan Kyungsoo.

"Jangan mengajakku bertengkar! Aku lapar," balas Kyungsoo pada Jongin.

.

.

.

.

.

*Flashback On

"Huang! Zi! Tao!"

Zitao tidak mengangkat kepalanya sama sekali dan terus memilih tetap menunduk. Terduduk di salah satu sofa di rumahnya.

"I-iya, nenek Zhang," Jawab Zitao kepada seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggilnya dengan Nenek Zhang.

"Apa uang bulanan yang kuberikan masih kurang?" Tanya Nenek Zhang pada Zitao dengan memegang amplop berukuran sedang yang ternyata berisikan uang.

"Tidak, sungguh," Jawab Zitao buru-buru.

"Lalu kenapa kau melakukan ini? Membuat kartu nama gadungan. Ahli spiritual, Zhang Yixing. Kau cucuku! Bagaimana bisa kau menipu orang lain? Mengatakan jika kau bekerja padaku?!" Tanya Yixing memaksa lagi pada Zitao. Dia melirik sekilas satu lembar kartu nama di atas meja.

"Aku tidak menipu, nenek Zhang," Sergah Zitao. Kini ia berani mengangkat kepalanya dan melakukan pembelaan terhadap dirinya.

"Masih mengelak tidak menipu? Kau meminta bayaran padahal sudah pasti mereka tidak mendapat apapun yang mereka inginkan darimu,"

"Aku hanya ingin menolong mereka yang membutuhkan," Elak Zitao pada neneknya yang terus menuduhnya menipu.

"Lalu kau kira aku bisa membantu mereka semua dengan 'kelebihan' yang kumiliki?" Tanya Nenek Zhang pada Zitao yang terlihat mengangguk sebagai balasan.

"Masih ada banyak hal yang tak bisa kulakukan, Zitao. Aku juga heran kenapa mereka bisa saja percaya dengan kartu nama yang kau buat," Sambung Zhang Yixing kembali.

"Sebenarnya, hanya Luhan eonnie pelangganku," Gumam Zitao.

"Oh astaga.. Apa yang kau janjikan?" Keluh Yixing tak habis pikir dengan Zitao. Sebenarnya puncak permasalahan mereka kini adalah, Nenek Zhang yang mengetahui jika Zitao melakukan-Nenek Zhang menyebutnya-penipuan terhadap orang lain.

"Dia meminta tolong agar nenek menukar dua jiwa temannya di tubuh kedua temannya di masa depan,"Jawab Zitao lirih.

"Oh!" Zhang Yixing memijat pelipisnya lelah karena ulah cucunya.

"Aku tak menjanjikan jika itu pasti terjadi. Aku sudah mengatakan padanya jika mungkin nenek Zhang tidak bisa melakukannya. Tapi dia tetap memaksa memberikanku uang di amplop itu," Jelas Zitao. Kini ia memasang wajah memelasnya di depan nenek yang sudah merawatnya selama belasan tahun.

"Aku memang bisa menyembuhkan seseorang yang sakit, dan sedikit bisa melihat gambaran masa depan seseorang. Tapi harus kau tau, bukan berarti semua bisa kulakukan. Aku bukan Tuhan, Zi." Jelas Yixing pada Zitao. Nenek Zhang berdiri dan berlalu meninggalkan Zitao di sofa.

"Tapi bagaimana jika ini tentang Kyungsoo eonnie? Apa nenek mau membantu?" Tanya Zitao pada nenek Zhang yang berjalan menuju dapur kecil apartment mereka.

"..." Nenek Zhang hanya berhenti dan tidak mengatakan apapun.

"Luhan eonnie sepertinya sangat menyayangi Kyungsoo eonnie, dia rela melakukan ini semua demi Kyungsoo eonnie dan juga putranya," Zitao menjelaskan lagi.

"Kembalikan uangnya." Ucap Nenek Zhang akhirnya.

"Bagaimana aku mengatakannya? Dia akan kecewa nek," Kini Zitao bertanya.

"Kembalikan uangnya," Nenek Zhang tidak menanggapi ucapan Zitao dan mengulangi kata-katanya kembali.

"Nek," Panggil Zitao saat Yixing kembali berjalan.

"Aku akan ke China," Ucap nenek Zhang.

"Apa?"

*Flashback Off

"Yeri~ Apa yang harus kulakukan?" Keluh Zitao lagi kepada Yeri. Mereka berdua sudah berada di salah satu meja kafe yang dijanjikan Yeri kepada Zitao.

"Sudahlah, Zi. Aku juga takut, tapi nenek Zhang benar. Kita tidak boleh menipu, itu memang tidak baik," Yeri berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat kalut. Yeri melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Pukul dua tiga puluh. Namun Luhan belum terlihat datang.

"Aku hanya berusaha membantu. Aku pernah mengenal Kyungsoo eonnie beberapa bulan karena dia tinggal di sebelah tempatku, dia bercerita pada nenek tentang hidupnya." Cerita Zitao pada Yeri yang mendengarnya dengan baik.

"Iya, aku juga merasa kasihan saat mendengar dari ceritamu kemarin," Tanggap Yeri. Mengangguk turut prihatin.

"Nenek juga pernah bertemu dengan Kyungsoo eonnie dan putranya, nenek bilang, sepertinya kehidupan Kyungsoo eonnie sedikit tidak bahagia. Jadi saat Luhan eonnie mengatakan bahwa ia ingin menolong Kyungsoo eonnie, aku langsung mengiyakan," Zitao menambahi.

"Niatmu mungkin baik, Zi. Tapi cara kita sedikit tidak benar," Ujar Yeri sambil menepuk punghung Zitao. Ia tersenyum lembut pada Zitao.

"Kau belajar kata-kata itu darimana?" Tanya Zitao yang membuat Yeri langsung memukul lengannya perlahan.

"Jangan bercanda, Zi." Ucap Yeri.

"Kau benar. Kita memang harus jujur pada Luhan eonnie. Apapun yang terjadi," Ucap Zitao. Ia sekarang terlihat lebih santai namun makin kuat dibanding sebelumnya.

Luhan sedang memasuki pintu kaca kafe dan sedikit berlari ketika melihat Zitao dan Yeri yang sudah bercanda di mejanya.

"Apa kalian sudah lama? Maaf aku terlambat,"

.

.

.

.

.

"Duduklah dulu, Dae." Ujar Baekhyun mempersilahkan kekasihnya untuk duduk di sofa ruang tamu rumahnya.

Baekhyun baru saja sampai di rumahnya bersama Daehyun karena memang Daehyun yang menjemputnya di tempat kerjanya.

"Ne," Daehyun menanggapi dan segera mendaratkan dirinya diatas sofa empuk milik Baekhyun.

"Baek? Dimana Chanhyun?" Tanya Daehyun pada Baekhyun yang sedang berada di dapur meski masih belum mengganti baju kerjanya.

"Dia sedang bersama Chanyeol," jawab Baekhyun dari kejauhan.

"Oh.." Daehyun yang mendengarnya hanya mengangguk ber-oh ria. Namun sebenarnya tanpa Baekhyun ketahui, Daehyun cukup senang dengan tidak adanya Chanhyun disekitarnya bersama Baekhyun.

"Kau ingin minum apa?" Teriak Baekhyun dari dapur yang sedang mengupas buah kiwi dan semangka.

"Apa saja," balas Daehyun. Ia menyandarkan punggungnya lebih santai mengingat tidak ada Chanhyun saat ini.

"Tunggu sebentar," Sahut Baekhyun di dapur.

Daehyun menoleh ke arah dapur dan hanya menjawab singkat, "Heum."

Baru saja Daehyun akan memejamkan matanya menikmati sofa empuk di rumah Baekhyun. Ia harus kembali menegakkan tubuhnya mendengar bunyi ponsel yang berdering. Itu ponsel Baekhyun.

Kriing~ Kriing~

Ingin saja Daehyun mengabaikannya karena itu pasti dari Chanhyun. Ia menghela napas berat saat mengingat nama Chanhyun.

Kriing~ Kriing~

"Baek? Ponselmu berbunyi!" Daehyun sedikit berteriak pada Baekhyun. Ia sedikitpun tak berniat menyentuh tas kerja Baekhyun untuk mengambil ponsel yang masih saja berdering.

"Angkat saja! Tolong!" Ucap Baekhyun.

Daehyun tak menjawab, namun dengan segera ponsel Baekhyun sudah berada di tangannya.

"Ini dari Chanhyun!" Seru Daehyun setelah melihat nama yang tertera di ponsel Baekhyun.

"Iya, angkat saja!" Balas Baekhyun.

Daehyun menekan tombol hijau pada ponsel pintar itu.

"Yeob-"

"Eomma! Eomma! Appa!"

Ucapan Daehyun langsung terputus oleh seruan Chanhyun di seberang sana.

Daehyun mengernyit heran. Ia menjauhkan ponsel Baekhyun dari telinganya. Untuk sejenak ia memperhatikan layar ponsel tersebut.

"Chanhyun?" Panggil Daehyun setelah ia mendekatkan kembali ponsel itu ke telinga kanannya.

"Appa pingsan eomma!" Chanhyun berseru kembali. Tak kalah keras dengan yang pertama tadi.

"..." Daehyun hanya diam tak menjawab apapun. Ia sudah cukup tau dari Chanhyun.

Chanyeol pingsan.

"Dae ahjussi? Dimana eomma?" Chanhyun bertanya dengan berteriak. Dia sungguh butuh ibunya sekarang, bukan kekasih ibunya.

Daehyun masih tetap diam tak bergeming, hingga tak menyadari jika Baekhyun sudah berjalan ke arahnya dengan nampan berisi dua cangkir teh, satu toples kukis, dan sepring kecil berisi buah diatasnya.

Baekhyun belum menyadari perubahan ekspresi Daehyun.

"Ini tehnya.. Chanhyun berkata apa?" Ia hanya tersenyum sambil meletakkan secangkir teh di meja, tepat di depan Daehyun.

"Eomma! Ahjussi! Dimana eomma?" Teriak Chanhyun lagi setelah mendengar samar suara ibunya.

"Dae?" Baekhyun menggoyang bahu kekasihnya pelan melihat tak ada reaksi apapun atas pertanyaannya.

Baekhyun merasa aneh dengan Daehyun. Bahkan ponsel miliknya juga masih menempel di telinga Daehyun. Ia segera merebut ponselnya, penasaran akan apa yang telah dikatakan putranya pada Daehyun hingga bereaksi seperti itu.

"Chanhyun?" Panggil Baekhyun, namun matanya masih tetus menatap Daehyun yang kosong.

"Eomma! Appa pingsan di dapur!" Teriak Chanhyun buru-buru setelah yakin jika ponsel ibunya sudah beralih dari tangan kekasih ibunya.

"Jangan bercanda anak nakal!" Timpal Baekhyun. Ia tau putranya tak begitu menyukai Daehyun, tapi untuk lelucon seperti ini, Baekhyun sudah menjanjikan hukuman untuk putranya.

"Aku tidak bohong eomma! Ada darah mengalir dari hidung appa..hikss.." Terdengar isakan dari Chanhyun di seberang sana saat ibunya tak mempercayai ucapannya.

Baekhyun terkejut. Jika putranya sampai menangis, berarti putranya tak berbohong. Kekhawatiran langsung menghampiri Baekhyun. Apa yang terjadi dengan Chanyeol. Seketika ia langsung mengingat pesan dari Chanhyun tadi siang yang bercerita jika mantan suaminya itu sedang sakit. Lalu kenapa hingga ada darah yang mengalir dari hidungnya. Apa separah itu?

"Eoh! E-eomma akan kesana sekarang. Kau tunggu di sana," jawab Baekhyun dengan tergugu.

"Ne..hikss.." sahut Chanhyun disana.

"Jangan menangis, appa akan baik-baik saja," Dan entah kenapa, Baekhyun rasanya juga ingin menangis saja. Ternyata rasa khawatirnya masih sangat besar kepada mantan suaminya itu.

"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Daehyun yang sudah tersadar dari ke kosongannya.

"Chanyeol pingsan. Chanhyun bilang, dia juga mimisan. Aku harus pergi kesana," Baekhyun berdiri, menyambar kembali tas kerjanya. Dan Daehyun dapat melihat Baekhyun yang sangat khawatir.

"Akan ku antar," tawar Daehyun.

"Tidak usah. Aku tidak ingin merepotkan," tolak Baekhyun.

Daehyun sedikit kecewa mendengar jawaban Baekhyun.

"Kau tak tau dimana Chanyeol tinggal," jujur, ada rasa cemburu yang dirasakan Daehyun.

"S-sehun tau!" Sahut Baekhyun dengan cepat.

Daehyun mendesah pelan. Memperhatikan gerak tangan Baekhyun yang bergetar memegang ponselnya. Ia sadar, sampai kapanpun tetaplah Chanyeol yang ada di hatinya. Daehyun tak akan pernah mendapatkan tempat senyaman Chanyeol dihati Baekhyun.

.

.

.

.

.

"Jadi.. apa kegiatanmu sebelum berada disini?" Jongin memecah keheningan diantara ia dan Kyungsoo. Mereka melakukan perjalanan menuju suatu tempat yang dijanjikan oleh Jongin. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf Jongin yang sudah menghabiskan kopi milik Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo juga tak tahu kemana mereka akan pergi, Jongin hanya memberi arah dan tak mengatakan tujuan mereka.

"Eh? Aku? Tidak banyak yang bisa kuceritakan.. Aku mengantar koran dan susu di pagi hari, dan setelahnya aku bekerja sebagai pelayan di rumah makan hingga malam," Kyungsoo terkejut karena Jongin yang menanyakan tentang kehidupan pribadinya.

Kriing~ Kriing~

Kyungsoo menoleh pada Jongin yang terlihat serius menatap layar ponselnya.

Kriing~ Kriing~

Ponsel milik Jongin masih terus berbunyi. Tapi yang membuat Kyungsoo heran adalah Jongin yang seperti tidak memiliki niat akan mengangkat panggilan di ponselnya.

"Kenapa tidak kau angkat?" Tanya Kyungsoo akhirnya.

"Eoh? I-ini..ini eomma," jawab Jongin. Tentu saja ia berbohong. Itu panggilan dari seseorang yang dikenalnya. Choi Sulli.

Beep!

Satu pesan masuk terdengar dari ponsel Jongin yang masih berada di genggamannya. Tubuh Jongin menegang seketika setelah membuka pesan itu. Ia menoleh pada Kyungsoo yang tak menyadari kegugupannya.

'Bagaimana bisa perempuan lain memanggilku sayang jika istriku adalah Kyungsoo?'

.

.

.

.

.

Zitao dan Yeri sudah menjelaskan semuanya pada Luhan tentang Nenek Zhang yang tidak bisa membantu Luhan.

"Maafkan aku," Ucap Zitao sekali lagi. Dia sudah tak tau berapa banyak maaf yang diucapnya.

"Tidak apa-apa, Zi. Aku tahu kalian anak-anak yang baik," Ujar Luhan memaklumi.

"Kami sungguh tidak berniat menipumu, eonnie," Kini berganti Yeri yang berkata pada Luhan.

"Aku mengerti. Kita bertiga sama tahu tentang Kyungsoo," Zitao sudah menceritakan padanya jika ia juga sempat mengenal Kyungsoo meski hanya beberapa bulan. Ketika itu Zitao mengetahui dari nenek Zhang jika Kyungsoo sedang mengandung dan tanpa.. suami.

"Ini," Luhan menyodorkan amplop yang sudah dikembalikan oleh Zitao dan Yeri sebelumnya. Sedangkan Zitao dan Yeri hanya saling bertatapan satu sama lain.

"Nenek bisa marah jika kami menerimanya," Ucap Zitao.

"Anggap saja ini hadiah. Kumohon, jangan tersinggung. Kalian bisa menyimpannya," Luhan meletakkan amplop ditangan Zitao dan menggenggamnya.

Zitao menatap Luhan cukup lama.

"Terimalah, kumohon. Aku sudah merepotkan kalian dengan permintaanku," Ucap Luhan lagi. Mengangguk meyakinkan Zitao.

"Tidak, kau tidak merepotkan sama sekali." Jawab Zitao pada Luhan.

"Eonnie," Yeri turut memanggil Luhan.

"Kumohon," Ucap Luhan memohon kepada dua gadis remaja yang masih mengenakan seragam SMA itu. Luhan semakin menggenggam erat tangan Zitao.

Zitao menatap pada Yeri. Dan Yeri mengangguk padanya.

.

.

.

.

.

Kyungsoo menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan dengan pagar yang sebagian terbuat dari batu bata.

Jongin segera membuka pintu mobilnya dan masih menggendong Jongsoo yang tak terganggu sedikitpun dengan pergerakannya.

Kyungsoo mematikan mesin mobilnya. Berjalan keluar menghampiri Jongin yang sudah menunggunya.

"Ayo," Jongin segera menggandeng tangan Kyungsoo memasuki pagar besi yang separuh terbuka.

"Apa ini rumahmu?" Kyungsoo menghentikan langkahnya terkagum melihat sebuah bangunan yang berada tak jauh di depannya.

Sebuah bangunan yang cukup luas, dengan kaca bening dan tebal di sekelilingnya. Terdapat banyak kursi dan meja di dalamnya. Tapi menurut Kyungsoo, tempat itu lebih terkesan seperti rumah makan. Dan juga sebuah taman yang cukup luas di sebelahnya.

"Bukan. Ini rumah makan," jawab Jongin. Kyungsoo mengangguk, dugaannya benar, itu memang rumah makan.

"Kenapa kau tidak jujur saja jika kita pergi ke rumah makan,"

"Kita memang tidak makan di rumah makan itu,"

"Lalu?"

"Kita makan siang di rumahku,"

"Kenapa kau meyuruhku menyetir kemari jika kita makan di rumahmu? Memangnya rumahmu dimana?"

"Rumahku berada di belakang rumah makan ini,"

"Rumah makan ini milikmu?" Tanya Kyungsoo pada Jongin yang masih menatap bangunan di depannya.

"Milik keluargaku. Kami bisa hidup dari itu," Jelas Jongin, menoleh pada Kyungsoo.

"Kau serius?" Nampaknya Kyungsoo masih tidak percaya dengan ucapan Jongin. Dalam bayangan Kyungsoo, seberapa luas tanah yang dipijaknya kini sedangkan di belakang rumah makan-yang menurutnya sudah luas-masih terdapat rumah milik keluarga Jongin.

Jongin merasa ingin tertawa melihat Kyungsoo yang menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Sudahlah.. jangan dipikirkan. Tidak baik untuk kandunganmu," Kini Jongin menyeret tangan Kyungsoo yang tak berkata apapun. Membawa Kyungsoo melewati halaman luas di samping rumah makan.

.

.

.

.

.

Kyungsoo berada di dalam kamar Yijun bersama Jongsoo dan juga Changmin. Jongsoo langsung saja di culik oleh kedua keponakan Jongin setelah makan siang keluarga besarnya selesai. Makan siang yang cukup ramai karena ternyata semua anggota keluarga Jongin berkumpul dan tak ada seorang pun yang absen.

"Aku rindu sekali bisa belajar bersama imo seperti ini," Yijun mulai bercerita di depan Kyungsoo yang duduk di atas karpet berbulu berwarna pink khas anak perempuan. Kyungsoo dimintai bantuan oleh Yijun yang mengatakan mengalami sedikit kesulitan dari pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya di sekolah.

"Eoh?" Kyungsoo cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Yijun.

"Kenapa imo harus berhenti mengajar privat jika akan menikah dengan samchon?" Yijun menjelaskan kembali maksudnya. Tanpa melihat wajah terkejut milik Kyungsoo, tangannya masih lincah menulis setiap angka di atas buku tulisnya.

"Apa?" Kyungsoo pun masih tetap tidak mengerti. Bukan maksudnya tidak mendengar perkataan Yijun hingga gadis berwajah malaikat itu harus mengulangi perkataannya lagi. Yang membuat Kyungsoo tidak mengerti adalah, apa dirinya sudah mengenal keluarga Jongin sebelum menikah dengan Jongin?

Yijun menepuk dahinya lalu menatap Kyungsoo dengan sedikit jengkel. Ia tahu imonya ini cerdas tapi kenapa mendadak menjadi seperti ini.

"Iya, aku akan tetap senang jika imo tetap bisa mengajar meski sudah menikah dengan samchon. Guru privatku tidak ada yang sebaik imo," Jelas remaja berusia empatbelas tahun itu dengan sedikit mengeluarkan uratnya. Dan sayangnya, Kyungsoo tetap memberikan respon hanya dengan membulatkan matanya.

Sedangkan Changmin yang sebelumnya sibuk bermain game bersama Jongsoo disebelahnya, kini sudah duduk di dekat Yijun dan juga Kyungsoo untuk mencegah Yijun mengatakan hal-hal yang lebih jauh lagi.

"Yijun! Imo! A-aku juga memiliki tugas. Kini giliranku ya? Jangan dengarkan Yijun," Changmin langsung menggoyang lengan Kyungsoo.

Changmin memang lebih tahu alasan yang sebenarnya kenapa Jongin dan Kyungsoo bisa menikah, karena usianya yang memang lebih tua dua tahun di atas Yijun. Dan Yijun, hanya tahu sebatas alasan di buat-buat oleh keluarganya jika memang pamannya harus menikah dengan Kyungsoo karena saling mencintai.

"A-apa? I-iya," Kyungsoo hanya meng-iyakan karena cukup terkejut dengan tingkah Changmin yang seperti itu.

"Oppa! Kau curang! Aku belum selesai dengan imo~" teriak Yijun tak terima pada Changmin.

"Kenapa berisik sekali?" Tanya Jongin yang tiba-tiba sudah berdiri di samping pintu kamar Yijun.

Jongsoo yang melihat Jongin datang langsung saja berdiri meninggalkan stick game-nya menghampiri Jongin dengan merentangkan tangannya.

"Changmin oppa curang, samchon~" adu Yijun pada paman kesayangannya.

Jongin hanya tersenyum menanggapi Yijun dan berjalan menuju karpet. Sejak kecil pun Yijun memang sangat manja terhadap Jongin. Dan Jongin juga sama sekali tak keberatan dengan itu.

"Kalian ini tak pernah akur," Jongin mengambil duduk di sebelah Kyungsoo dan Jongsoo yang sudah di pangkuannya.

"Apa samchon dan imo akan menginap malam ini?" Tanya Yijun pada Jongin dan Kyungsoo.

"Apa?" Kyungsoo terkejut. Langsung menoleh kepada Jongin yang ternyata juga sudah melihatnya lebih dulu.

"Sepertinya tidak," jawab Jongin pada kedua keponakannya.

"Sayang sekali, padahal aku ingin bermain dengan Jongsoo karena aku juga akan menginap malam ini," ujar Changmin kecewa.

"Samchon dan imo selalu saja menolak jika disuruh menginap," ujar Yijun menimpali.

Kyungsoo sedikit merasa tidak enak melihat wajah Changmin dan Yijun yang kecewa karena jawaban Jongin.

"Jongin," panggil Kyungsoo pada Jongin di sebelahnya. Ia dan kedua keponakan Jongin sama-sama menunggu jawaban Jongin yang mungkin saja bisa berubah pikiran.

"Tidak bisa," jawab Jongin kembali. Kyungsoo, Yijun dan Changmin harus merasakan kecewa seperti sebelumnya.

.

.

.

.

.

Dengan cemas Baekhyun berdiri menunggu Chanyeol di depan pintu UGD yang tertutup bersama Chanhyun yang juga berdiri disampingnya.

Baekhyun langsung melesat menuju apartment Chanyeol setelah menerima telepon langsung dari putranya. Langsung terpikir di kepalanya jika ia akan mendapat alamat apartment Chanyeol dari Sehun. Dan benar saja, Baekhyun mendapatkan alamat lengkap dimana mantan suaminya itu tinggal sekarang.

"Apa anda istri tuan Park?" Seorang perawat perempuan keluar dari pintu besar UGD, bertanya kepada Baekhyun yang masih meremas kedua tangan putranya.

"A-apa?" Baekhyun cukup terkejut. Ataukah ia harus mengatakan jika dirinya adalah mantan istrinya?

Memangnya siapa yang tak akan menganggapnya sebagai istri seorang Park Chanyeol jika ia saja terlihat cemas saat membawa Chanyeol yang pingsan ke rumah sakit bersama dengan seorang anak laki-laki yang terus menangis memanggil 'Appa' kepada laki-laki yang lebih tua darinya yang tengah di dorong diatas ranjang rumah sakit.

"Tuan Park hanya kelelahan, ditambah pola makannya yang tidak teratur," ujar perawat itu yang masih bisa jelas melihat raut wajah Baekhyun yang terus menunjukkan kecemasan.

"Ah, syukurlah.." Baekhyun baru bisa berkata dengan suara yang sangat pelan sebagai respon untuk seorang perawat yang masih berdiri di depannya ini. Sedangkan Chanhyun hanya menatap ibunya dan pintu UGD bergantian. Ia nampak berpikir apakah ayahnya benar-benar hanya kelelahan?

"Mari ikut saya untuk mengurus administrasi Tuan Park," ujar perawat tersebut berjalan maju dan tangan kanannya yang memberi instruksi agar Baekhyun mengikutinya.

Baekhyun mengangguk. Melepas tangannya dari tangan Chanhyun.

"Kau tunggu di sini, ya.." pesan Baekhyun pada putranya.

"Eomma,"

Baekhyun berhenti ketika mendengar panggilan Chanhyun saat baru saja berjalan mengikuti perawat yang sudah berjalan di depannya.

"Tunggulah disini. Eomma hanya sebentar," ujar Baekhyun yang kembali menenangkan Chanhyun. Mengusap lembut kepala putranya.

.

.

.

.

.

Kyungsoo hanya diam tak bertanya apapun saat Jongin menggandengnya keluar dari kamar Yijun.

"Apa ini kamarmu?" Tanya Kyungsoo yang sudah berdiri di tengah kamar bersama Jongsoo yang berada di sebelahnya.

Jongin mengangguk.

"Iya, cukup banyak berubah dari yang kumiliki saat masih muda," sahut Jongin. Mengamati sekeliling kamarnya. Memang cukup berbeda dibanding yang dimilikinya sebelumnya meskipun masih di tempat yang sama. Kamarnya kini terkesan lebih dewasa dan sederhana.

Terdapat rak buku yang tidak besar namun juga tidak bisa dibilang kecil. Ada sofa tidur berwarna hitam tepat di dinding sebelah kusen pintu.

"Ini kamar yang luas, hampir sebesar tempat tinggalku," Gumam Kyungsoo melihat pintu kecil kamar mandi di salah satu sudut kamar Jongin.

"Apa?" Jongin bertanya apa yang baru saja Kyungsoo katakan. Ia memastikan jika telinganya tidak salah dengar.

"Tidak. Tidak. Kamarmu luas," Kyungsoo langsung mengelak dan terlihat salah tingkah. Tetapi Jongin masih terus memandangnya curiga.

Namun ada satu yang tidak disadari oleh Jongin dan Kyungsoo. Dimana di kamar itu, tak ada sama sekali foto tentang mereka berdua maupun Jongsoo.

"Jongin," panggil Kyungsoo setelah selesai menyisir kamar Jongin dengan mata bulatnya.

"Ada apa lagi?" Tanya Jongin yang berdiri di depan almari besarnya. Jongin sedikit penasaran dengan isi almarinya yang sekarang.

"Kita menginap saja ya?" Ujar Kyungsoo sedikit malu-malu.

"Tidak bisa, Kyungsoo," Jongin menoleh pada Kyungsoo di belakangnya.

"Kenapa tidak bisa?" Kyungsoo berjalan mendekati Jongin. Berjinjit ingin melihat isi dari lemari pakaian Jongin.

"Kau dan Jongsoo tidak membawa baju. Lihatlah! Kau masih memakai pakaian tadi pagi. Kenapa kau tidak mau pulang?"

"Disini menyenangkan, semua keluargamu baik dan menerimaku, untuk baju mungkin aku bisa pinjam baju Jaejoong eonnie, Joonmyeon eonnie, atau bisa juga meminjam baju pada Taemin?" Jelas Kyungsoo panjang lebar.

Kyungsoo memang senang disini, ia merasa bahwa semua anggota keluarga Jongin sangat menyayanginya. Di rumah Jongin juga terasa lebih ramai, bukan berarti di rumahnya bersama Jongin sangat sepi, tentu saja juga ramai karena ada si kecil Jongsoo.

"Lalu Jongsoo?" Jongin mengerutkan dahinya.

"Ayolah Jongin, memangnya di kamarmu tidak ada baju Jongsoo?" Sahut Kyungsoo cepat.

"Memang tidak ada," Jongin juga menyahut tak kalah cepat.

"Kau 'kan ayahnya? Mana mungkin di kamar ayahnya tidak ada satupun baju putranya?" Heran Kyungsoo pada Jongin. Bilang saja jika ia malas mencari baju Jongsoo di dalam lemari besarnya, cibir Kyungsoo dalam hati.

"Memang tidak ada, Kyungsoo," sahut Jongin final. Menutup kembali almarinya, ia sedikit melihat wajah Kyungsoo yang merengut.

"Memangnya kau sudah mencarinya?" Kyungsoo bergumam, memainkan ujung bajunya dan menunduk.

Jongin hanya bisa menghela nafas melihat Kyungsoo yang seperti itu.

"Aku ada janji dengan Sehun besok minggu," ucap Jongin pada Kyungsoo meski perempuan yang menjadi ibu Jongsoo itu tak menghadap ke arahnya.

Kyungsoo langsung mengangkat kepalanya mendengar perkataan Jongin.

"Janji apa? Bukannya kalian libur bekerja di hari minggu?" Tanya Kyungsoo menelisik.

"Memang, tapi aku ada urusan dengan Sehun," balas Jongin menghadap wajah Kyungsoo.

Kyungsoo nampak mendesah kecewa mendengarnya.

"Kita bisa menginap kapan saja, tapi tidak untuk malam ini, oke?!" Ujar Jongin. Berusaha memberi penjelasan. Entah kenapa saat ini Kyungsoo terkesan tidak dewasa bagi Jongin. Apa ia terlalu ingin menginap hingga seperti itu? Bahkan merayu Jongsoo terkesan lebih mudah daripada merayu Kyungsoo sekarang ini.

"Kau janji dengan Sehun jam berapa?" Tanya Kyungsoo.

"Lima pagi," jawab Jongin. Ada kerutan di dahinya. Ia menatap curiga pada Kyungsoo yang ia pikir pasti akan menemukan ide agar mereka tetap menginap malam ini.

"Lima pagi? Kau ada urusan apa dengan Sehun sepagi itu?" Kyungsoo mengeluarkan wajah terkejutnya.

"Itu rahasia," jawab Jongin cuek. Sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan perhatiannya dari wajah Kyungsoo yang terkejut karena itu cukup menggemaskan baginya.

"Bagaimana jika kita menginap malam ini. Dan kujamin kau akan tiba dirumah Sehun jam lima pagi, bagaimana?" Kyungsoo berujar. Benar dugaan Jongin. Kyungsoo berusaha membuat penawaran padanya.

Jongin cukup lama berpikir.

"Ide bagus. Kita menginap malam ini, tapi besok pagi, ingat yang kau janjikan." Jawab Jongin yang sudah merasa kalah dengan penawaran yang diberikan oleh Kyungsoo.

"Siap!" Sahut Kyungsoo tegas dan tersenyum lebar pada Jongin. Menampakkan giginya di tengah bibirnya yang sedang membentuk 'hati'.

Tanpa sadar Jongin menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli melihat tingkah Kyungsoo. Tak habis pikir bagaimana bisa seseorang perempuan yang sedang membawa nyawa lain di dalam perutnya bisa bertingkah layaknya anak remaja yang terlalu senang karena mendapat tambahan uang sekolah yang lebih dari orangtuanya.

.

.

.

.

.

(Flasback On)

"Jongin?" Panggil Sehun. Ia berdiri di ambang pintu ruang kerja Jongin. Melihat sahabatnya yang sedang membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya hingga tak menghiraukan panggilannya.

"Kau terlihat buru-buru?" Sehun kembali mengeluarkan suaranya. Bersandar pada kusen pintu, melihat Jongin yang sangat buru-buru saat menyimpan berkasnya ke dalam dokumen keeper.

"Hm," hanya itu tanggapan yang diberikan Jongin pada Sehun.

"Pergilah! Biar aku yang bereskan," ucap Sehun. Berjalan menuju meja kerja Jongin.

"Benarkah?" Jongin mengangkat kepalanya. Menatap lelaki berkulit pucat yang ternyata sudah berdiri di depannya.

Sehun mengangguk.

"Pergilah, sepertinya ada urusan yang sangat penting bagimu," ucap Sehun kembali. Sebenarnya ia cukup penasaran kenapa Jongin sangat buru-buru untuk pulang. Tapi Sehun tak ingin menanyakannya pada sahabatnya itu.

"Kau benar. Sangat penting," Jongin segera menyambar tas kerjanya di atas kursi empuknya.

"Apa Kyungsoo akan menjemputmu?" Tanya Sehun pada Jongin yang berlari kecil di sebelahnya.

"Tidak. Aku akan naik bus." Jawab Jongin singkat sambil menepuk pundak kanan Sehun dan kembali berlari kecil meninggalkan ruang kerjanya.

"Baiklah, hati-hati," ucap Sehun pada angin karena nyatanya Jongin sudah menghilang dari balik pintu.

Sehun segera memberskan berkas-berkas yabg masih tersisa di atas meja Jongin. Sehun melirik arlojinya. Ia juga ingin cepat pulang dan sampai di rumah, bertemu istri cantiknya dan bermain bersama jagoan kecilnya hingga malam hari.

Tak butuh waktu lama Sehun sudah memperhatikan betapa rapinya meja kerja Jongin karena hasil kerjanya beberapa menit lalu. Ia juga menyambar tas kerjanya dan berjalan menuju basement.

.

.

.

.

.

Sehun mulai menyalakan mesin mobilnya. Melajukan mobilnya ke arah keluar basement gedung perkantoran.

Bahkan belum satu kilometer Sehun sudah menghentikan mobilnya di depan halte ketika tak sengaja menemukan Jongin yang terlihat gelisah menatap arlojinya.

Sehun segera menepikan mobilnya dan membuka separuh kacanya tepat di depan Jongin yang terduduk di kursi tunggu.

"Jongin? Sebenarnya kau mau kemana?" Panggil Sehun dengan cukup keras dan membuat perhatian Jongin teralihkan.

"Aku, akan ke rumah sakit," jawab Jongin yang masih tetap pada posisinya.

"Kau?" Sehun yang tidak mengerti maksud Jongin kembali bertanya.

"Kyungsoo ada jadwal periksa kandungan siang ini," jawab Jongin. Ia menoleh ke arah kanan yang mungkin saja ada sebuah bus yang akan datang dan bisa membawanya lebih cepat pergi ke rumah sakit.

"Kenapa kau tak bilang? Aku bisa mengantarmu, Jongin. Masuklah!" Sehun bernafas kasar mendengar jawaban Jongin.

Ia tersenyum sekaligus tak habis pikir dengan perbedaan Jongin yang 'sekarang' dan 'sebelumnya'. Bagaimana mungkin Jongin yang 'sekarang' terkesan sangat peduli dengan Kyungsoo hingga rela menunggu bus yang datang cukup lama, sangat berbeda dengan Jongin yang 'sebelumnya', yang bahkan memiliki mobil pribadi sangat-sangat tak peduli pada Kyungsoo yang saat itu tengah mengandung Jongsoo. Bahkan untuk sekedar menemui dan menanyakan tentang kandungan Kyungsoo-pun tak Jongin lakukan. Jongin hanya memandang Kyungsoo secara transparant.

Jongin membuka pintu di samping kanan Sehun.

"Terima kasih," ucap Jongin seraya memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Sehun hanya mengangguk dan tersenyum bahagia. Mungkin ia dan Luhan sekarang tidak akan stress karena memikirkan kehidupan Kyungsoo dan Jongin lagi.

Sehun mulai menjalankan mobilnya kembali. Ia tak akan bertanya di rumah sakit mana Kyungsoo biasa memeriksakan kandungannya. Sehun sudah cukup tau untuk itu karena ini juga kehamilan Kyungsoo yang ketiga, dan tak mungkin Kyungsoo akan berganti dokter kandungan.

"Sehun?"

"Ada apa?" Sehun tidak menoleh pada Jongin yang memanggilnya karena ia harus fokus menyetir.

"Apa kau ada janji di hari minggu?" Tanya Jongin.

"Aku rasa tidak. Mungkin sore hari aku akan pergi berbelanja bersama Luhan dan Sehan. Kenapa?" Tanya Sehun yang heran karena pertanyaan Jongin terdengar seperti seorang laki-laki yang sedang berusaha mengajak seorang perempuan untuk pergi berkencan bersama.

"Bisa kau ajari aku menyetir?" Jawab Jongin pada Sehun.

Sehun menoleh tak percaya.

"Kau ingin belajar menyetir?"

"Kyungsoo hamil. Tidak mungkin dia terus yang akan menyetir. Bagaimana jika terjadi sesuatu, dan juga, jika perutnya sudah besar nanti," Jongin menjelaskan alasannya ingin belajar menyetir pada Sehun. Dan yang utama, ia tidak mungkin akan terus-terusan bergantung pada Kyungsoo. Itu terbalik, bukankah seharusnya seorang istrilah yang bergantung pada suaminya?

Sehun cukup paham dengan alasan yang diberikan Jongin padanya. Karena itu ia tak keberatan sama sekali membantu Jongin agar cepat bisa menyetir.

"Kau benar. Baiklah, pukul lima pagi. Jalanan tak terlalu ramai, aku akan menjemputmu,"

.

.

.

.

.

*Tbc*

.

.

.

.

.

Annyeong..

Aku tau klo aku harus minta maaf karna keterlambatan yang sangat untuk update ff ini. Jujur, aku nge blank tepat sehari setelah terakhir kali aku update ff ini. Salah satu tmn di socmed blng ke aku, klo ff GS itu menjijikkan. Aku tau mgkin dia g sngaja bilang itu karna memang dia g tau klo aku slah stu org yg mnulis ff GS. Tapi itu cukup bikin aku lgsung hilang feel tiap mau nulis dan brpikir apakah aku jga mnjijikkan sbgai seorang yg mnulis ff GS?

Maaf untuk chapter ini yg mgkin sanfat mengecewakan, tidak ada hal yang pantas dtunggu dari chapter ini. Aku hanya berusaha mlakukan yg terbaik untuk reader yg masih mau bca ff aku.. Terima kasih sudah memberi semangat sejauh ini. Tapi aku sudah mmutuskan, ga akan brhentiin ff ini gitu aja. Mgkin aku sering janji bkal fast update mski kenyataannya sangat slow update. Tapi aku janji, ff ini ga akan pernah jdi 'Discontinue'.

Big Thanks To :

|Kim Yehyun|Sofia Magdalena|Parkizuna|restifina|Ginnyeh|jdcchan|pastelblossom|yixingcom|exindira|humaira9394|overdyosoo|dyodomyeon|zoldyk|NopwillineKaiSoo|Yohannaemerald|BaconieSonjay|Ch-channie4ever|Baby niz 137|MbemXiumin|ludeerhan|Nadhefuji|lianimiDYO|babyjunma|Jung Yi Zi|amifa|Ryeollakim|oh chacha|vee|deva94bubbletea|NanaDO|dhyamanta1214|RlyCJaeKyu|V3|Zie|parkyolo|nazuchi ritzhu|

-ChaKaJja13-