Let Me Love You

Author : ChaKaJja13

Cast :

Kim JongIn (29 yo)

Do KyungSoo (29 yo)

Kim JongSoo (3 yo)

Oh Sehun (29 yo)

Oh(Xi) Luhan (29 yo)

Oh Sehan (3 yo)

Park Chanyeol (30 yo)

Byun Baekhyun (29 yo)

Park Chanhyun (12 yo)

Other cast.

.

.

EXO fict. Newbie author

.

.

Alur lambat. Typo(s) everywhere.

.

.

.

Don't bash. Don't like. Don't read. No flame

.

.

"Kau ingin belajar menyetir?"

"Kyungsoo hamil. Tidak mungkin dia terus yang akan menyetir. Bagaimana jika terjadi sesuatu, dan juga, jika perutnya sudah besar nanti," Jongin menjelaskan alasannya ingin belajar menyetir pada Sehun. Dan yang utama, ia tidak mungkin akan terus-terusan bergantung pada Kyungsoo. Itu terbalik, bukankah seharusnya seorang istrilah yang bergantung pada suaminya?

Sehun cukup paham dengan alasan yang diberikan Jongin padanya. Karena itu ia tak keberatan sama sekali membantu Jongin agar cepat bisa menyetir.

"Kau benar. Baiklah, pukul lima pagi. Jalanan tak terlalu ramai, aku akan menjemputmu,"

.

.

Mind to review?

.

.

*Happy reading*

.

.

Jongin dan Kyungsoo hanya berbaring di atas ranjangnya. Menatap samar langit-langit kamar Jongin yang sudah gelap. Bahkan seluruh keluarganya mungkin juga sudah terlelap.

"Ini pertama kalinya kita tidur tanpa Jongsoo ditengah kita." Ucap Kyungsoo. Menyadari bahwa di sebelahnya kini hanya sebuah bantal yang menjadi batas jaraknya dengan Jongin.

Jongin membenarkan, "Aku merindukan bau khas bedak bayinya." Tanpa sadar tersenyum mengingat senyum putra kecilnya.

Hampir saja terkekeh sebelum suara Kyungsoo kembali mengisi kamarnya.

"Aku sedikit iri dengannya." Ucap Kyungsoo, menerawang masa lalunya yang sebenarnya cukup tidak menyenangkan.

Jongin menoleh, "Kau iri? Kau ibunya,"

"Dia memiliki kakek dan nenek yang sangat menyayanginya. Kau dan aku juga menyayanginya. Kakak-kakakmu, keponakanmu, mereka semua menyukai Jongsoo. Menerima Jongsoo dengan baik." Ungkap Kyungsoo. Andai Jongin tahu, jangankan untuk melihat kakek dan neneknya. Orangtuanya saja sama sekali tak mengharap kehadirannya.

"Kupikir, itu karena kita keluarga?" Jongin menjawab ragu.

Jongin masih terus menatap Kyungsoo dan melihat perempuan itu mengangguk samar, lalu tersenyum tanpa melihat ke arahnya.

"Ya. Aku senang Jongsoo memiliki keluarga yang bisa menyayanginya," sahut Kyungsoo.

"Kyungsoo, kenapa kau berkata seperti itu... ada apa?" Tanya Jongin saat menyadari suara Kyungsoo yang terdengar sedikit aneh. Bagi Jongin, Kyungsoo cukup aneh hari ini.

Kyungsoo berbalik, "Tidak ada." Ia berbaring memunggungi Jongin, "Aku harus bangun pagi besok. Selamat malam, Kim Jongin."

"Ya, selamat malam, Do Kyungsoo." Balas Jongin menatap punggung Kyungsoo disebelah kirinya.

Jongin kembali menatap langit-langit kamarnya, sekarang tak ada suara apapun di kamarnya.

Jongin menggerakkan tubuhnya gelisah. Berbaring miring, dan terlentang kembali, "Mm... Kyungsoo?" Tanya Jongin pada Kyungsoo.

"Hm." Balas Kyungsoo tak menggerakkan tubuhnya sedikitpun.

Jongin terkejut, dengan cepat berbaring miring menghadap punggung sempit Kyungsoo, "Kau belum tidur?"

Dengan perlahan Kyungsoo berbalik. Posisi yang cukup membuatnya gugup, berhadapan dengan Jongin cukup dekat dan di ruang yang hampir gelap gulita seperti ini.

"Kali ini, apa yang kau inginkan?" Tanya Kyungsoo. Hal yang sudah dihafal oleh Kyungsoo. Jongin tak akan bisa tidur jika makanan yang ia inginkan belum didapatkannya.

Jongin tersenyum.

.

.

.

.

.

Klek!

"Baek,"

Baekhyun yang bahkan masih menyentuh knop pintu terkejut, langsung saja ia menoleh ke arah Chanyeol yang sudah berdiri di sebelah ranjangnya.

"Eoh! Kau sudah sadar?"

"Hm, saat perawat Yoo datang mengecek selang infusku." Jelas Chanyeol dengan menyentuh selang infus di tangan kirinya.

Melirik jam tangannya, shift malam, perawat yang baru datang akan mengecek setiap pasiennya. Tersenyum tipis, tentu saja karena ini sudah pukul sepuluh malam. Baekhyun tak tahu jika membeli dua bungkus Tteokbeokki bisa memakan waktu hampir sejam.

"Lalu, siapa yang memindahkan Chanhyun disana?" Tanya Baekhyun tak mengerti setelah melihat putranya yang meringkuk pulas dibalik selimut, diatas ranjang milik ayahnya.

"Maaf aku membangunkannya sebentar, aku-"

Berjalan menjauh dari pintu dengan dua bungkusan di dalam tas plastik bening di tangan kanannya, "Tidak, Chanyeol. Bukankah seharusnya kau yang berbaring disana?"

"Aku tidak tega melihat Chanhyun tertidur di kursi,"

"Aku sudah mengajaknya untuk pulang dan kembali besok pagi." Mengeluarkan dua kotak bungkusan makan malam di atas meja sebelah ranjang. "Tapi dia menolaknya, beralasan jika besok adalah hari minggu." Jelas Baekhyun.

"Kau mau Tteokbokki?"

"Aku-maksudku apa aku memiliki larangan untuk makanan tertentu?" Tanya Chanyeol ragu. Merasa aneh dengan pertanyaannya sendiri.

Baekhyun menggeleng.

"Aku mau,"

Baekhyun tersenyum. Mengambil sepasang sumpit dan satu bungkusan untuk diserahkan kepada Chanyeol yang masih berdiri di sebelah kursinya. Meninggalkan satu bungkusan tetap di atas meja, mengambil duduk di sebelah Chanyeol yang terus menatapnya.

"Makanlah. Aku juga membenci makanan rumah sakit," Ucap Baekhyun dengan sedikit candaan disana. Sedikit mengingat kembali saat Baekhyun menginap di rumah sakit setelah melahirkan Chanhyun, ia yang selalu menolak makanan rumah sakit dan membiarkannya utuh tak termakan karena ternyata Chanyeol juga tidak mengatasi untuk memakannya. Mereka sama-sama membenci masakan rumah sakit.

Menerima dengan sungkan, "Terima kasih. Apa kau tidak makan?" Tanya Chanyeol setelah melihat Baekhyun meninggalkan bungkusan lainnya.

"Aku menunggu Chanhyun saja," Jawab Baekhyun santai. Kembali tersenyum memperhatikan Chanhyun yang sama sekali tak terusik dengan percakapan kedua orangtuanya.

"Apa dia akan bangun?"

"Ya, kurasa. Mengingat dia tidak tidur di atas ranjang miliknya," Ungkap Baekhyun tanpa beralih dari Chanhyun.

Chanyeol tak juga membuka bungkusan di depannya. Matanya terus menatap sendu Baekhyun yang duduk disebelahnya, mengusap lengan Chanhyun dengan lembut.

Baekhyun menoleh, merasakan sepasang mata disampingnya yang terus menatapnya, "Kenapa tidak kau makan?"

"Terima kasih."

Baekhyun hanya diam mendengarkan mantan suaminya. Suara besar itu,

Hampir saja tenggelam dalam kilasan masa lalunya jika tidak kembali mendengar suara Chanyeol,

"Dan maaf sudah menyusahkanmu dan juga Chanhyun,"

"Jangan katakan apapun lagi, Chan.."

'Chan?'

Panggilan itu, panggilan yang hanya boleh diucapkan oleh Baekhyun kembali masuk ke pendengeran Chanyeol.

"Aku tidak keberatan berada disini," Baekhyun merampas sumpit di tangan kanan Chanyeol, mematahkannya, "Makan dan kembalilah tidur," Tegas Baekhyun. Menyerahkan kembali sepasang sumpit siap pakai itu ke tangan kanan Chanyeol.

Merasa salah tingkah dengan tatapan Chanyeol padanya, ia tidak siap untuk ini. Baekhyun langsung membanting tubuhnya pada sandaran kursi dan berusaha memejamkan matanya.

.

.

.

.

.

Terdengar sedikit keributan dari dalam kamar tidur Sehun dan Luhan. Meninggalkan makhluk kecil yang tertidur pulas di atas karpet tebal di ruang santai milik keluarga Oh.

"Aku tidak mau, Sehun." Terdengar nada bicara Luhan yang sedikit lebih keras dari biasanya.

"Lu~" dan kali ini, rengekan Sehun yang terdengar, sangat berbanding terbalik dengan nada bicara Luhan.

"Aku dan Kyungsoo berbeda. Apa kau mulai ingin menjadi brengsek seperti Jongin, huh? Menghamiliku tanpa bertanya?" Luhan kembali berkata dengan nada sewot.

"Bukan begitu maksudku.." Sehun mendesah kecewa saat Luhan yang berdiri di hadapannya kini dengan cepat memotong perkataannya.

"Bukan begitu? Lalu? Kau pikir Kyungsoo senang dengan kehamilannya jika Jongin masih Jongin yang asli? Ia pasti juga ingin merawat Jongsoo dengan baik sebelum memikirkan akan memberinya seorang adik." Tanya Luhan. Ia berjalan menuju pintu kamar dan berniat mengambil Sehan untuk dipindahkan ke dalam kamar.

"Aku tahu. Semua kehamilan Kyungsoo karena keterpaksaan. Dan kenapa kita membahas kehamilan Kyungsoo? Ini tidak ada hubungannya, Lu." Ucap Sehun, dengan terus mengikuti langkah istrinya di belakang.

Luhan berbalik menghadap suaminya. Ia hampir saja menyentuh knop pintu jika tidak mendengar suara suaminya.

"Aku tidak ingin hamil sekarang, Sehun. Mengertilah, Sehan masih terlalu kecil untuk mempunyai adik sekarang." Ungkap Luhan melembut.

"Apa kita tidak bisa tidur bersama?" Tanya Sehun dengan senyumnya.

"Sebenarnya, kau ingin tidur bersamaku atau menghamiliku?"

Baru saja nada Luhan bisa melembut, namun karena pertanyaan yang dilontarkan Sehun, nampaknya Luhan sudah tidak bisa melembut lagi setelah ini.

"Keduanya jika bisa." Sehun mendekat.

Dan tanpa aba-aba, ia langsung mengerat kedua lengan istrinya dan menciumi leher putih di depannya. Namun Sehun harus mendesah kecewa-lagi-karena Luhan yang dengan cepatnya mendorong tubuh Sehun. Bahkan belum sempat ia mendengar lenguhan dari bibir istrinya.

"Tidak bisa! Malam ini Sehan harus tidur bersama kita. Kita tidak bisa melakukannya malam ini!" Teriak Luhan.

"Wae?!" Tanya Sehun tak terima.

"Kau lupa harus mengajari Jongin menyetir besok pagi? Bagaimana jika ia melihat 'tanda aneh' ditubuhmu?"

"Hahahah... kau khawatir soal itu?"

"Tentu saja." Luhan menjawab jengah. Bagaimana bisa suaminya malah tertawa.

"Jongin 'dua puluh tahun' sangat bodoh untuk mengerti 'tanda aneh' seperti itu."

"Benarkah? Lalu kenapa Jongin 'dua puluh sembilan tahun' bisa sangat brengsek pada Kyungsoo?" Luhan terkejut mendengar penjelasan suaminya

Sehun menyeringai, "Aku juga tidak tahu, sayang," berbisik nakal tepat di telinga kiri Luhan.

Namun segera Luhan mendorong kasar-lagi-tubuh suaminya, "Hentikan sekarang atau aku menguncimu diluar!" Teriak Luhan lagi setelah sadar jika tangan Sehun dengan nakal merambat ke dalam atasan piyamanya saat mereka sedang berbicara.

"Ayolah Lu~" Sehun memohon dengan tangan yang masih berada di dalam piyama Luhan.

"Oh Sehun!" Luhan semakin berteriak keras.

Mendengar itu, dengan segera Sehun mengeluarkan tangannya dari dalam piyama berwarna pink bermotif rusa itu.

"Oke! Baiklah, aku akan mengalah untuk malam ini." Ujar Sehun sambil mengangkat tangannya kalah di depan Luhan.

"Itu bagus. Cepat tidur!" Luhan tersenyum menang.

Sehun hanya mengangguk berjalan keluar kamar menuju Sehan diatas karpet. Dan dengan lesu yang dibuat-buat, ia mulai mengangkat tubuh Sehan ke dalam gendongannya.

Sehun berjalan menuju kamarnya, mendahului Luhan yang masih merapikan bantal-bantal sofa di ruang santai.

"Jangan mengganggunya!" Suara teriakan Luhan memasuki gendang telinganya lagi. Sehun kira, Luhan tak tahu jika dia menggoda Sehan yang tertidur dengan menciumi pipi, mata, dan hidung Sehan tanpa henti.

"Ibumu galak sekali," curhat Sehun. Dan mencium kening putranya.

.

.

.

.

.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Kyungsoo pada Jongin. Dengan sedikit tipu daya, ia mendekatkan sepasang sumpitnya pada panci kuningan kecil berisi ramen di depan Jongin. Namun Jongin cukup sadar dengan yang dilakukan Kyungsoo. Dengan cepat ia mencekal sumpit Kyungsoo dengan sumpit miliknya.

"Jangan menipuku seakan kau bertanya tentang rasa dan berniat mencicipinya," ucap Jongin sambil menyeruput ramennya. Ia tak peduli dengan tatapan sebal yang Kyungsoo tujukan padanya.

"Kau curang," Kyungsoo mendengus. Dengan seenaknya Jongin menginginkan ramen buatannya, dan sekarang, Kyungsoo hanya ingin sedikit saja, meski sehelai saja ia sudah merasa senang. Entahlah, melihat bagaimana Jongin memakan masakan buatannya dengan nikmat, Kyungsoo sudah merasa bahagia.

"Ini tidak baik untukmu. Apa kau lapar?" jelas Jongin.

"Ah?" mata Kyungsoo membulat, "Tidak, aku tidak lapar." dan segera ia menggeleng cepat.

"Kau yakin?" tanya Jongin ragu, tak percaya dengan jawaban Kyungsoo. Jongin tentu ingat jika Kyungsoo memiliki porsi makan yang cukup besar sekarang ini.

"Hm," Kyungsoo mengangguk lemah, sebenarnya memang ia tak lapar, namun sepertinya bayi di dalam perutnya yang lapar. Tanpa sadar Kyungsoo menyentuh perutnya.

Jongin kembali menyumpit ramennya dari dalam panci, dengan sedikit melirik, ia mendapati Kyungsoo yang meneguk ludahnya saat melihatnya menyeruput ramen.

Jongin tersenyum,

"Tunggu disini." Sambil meletakkan sumpitnya, lalu ia menggeser kursinya dan berdiri.

Kyungsoo yang tersadar karena suara Jongin, ikut berdiri menghampiri Jongin yang tengah membuka pintu besar lemari es.

"Jongin?" panggil Kyungsoo tak mengerti, apa Jongin merasa kurang dengan ramennya?

Kyungsoo terus mengikuti langkah Jongin hingga ikut berdiri di sebelah Jongin yang sedang membuka wadah plastik berbentuk persegi di depan tungku kompor.

"Kubilang tunggu disana 'kan? Cepat kembali," protes Jongin, menunjuk meja makan-yang ditinggalkan oleh mereka berdua-dengan dagunya.

Kyungsoo tidak langsung menuruti perkataan Jongin, ia masih terus memperhatikan Jongin yang menuangkan-yang bagi Kyungsoo terlihat seperti-sup daging ke dalam panci.

Ia mulai tersadar,

"A-apa itu untukku? Kau menghangatkannya untukku?" Kyungsoo bertanya, matanya masih tak beralih dari sup yang sedang dihangatkan itu,

"Apa kau tidak suka?" Jongin justru bertanya kembali pada Kyungsoo.

"A-aku suka." Jawab Kyungsoo, dengan usaha keras menahan airmatanya agar tak terjatuh, ia berjalan meninggalkan Jongin. Kembali duduk di kursinya dengan senyum dan tangis-yang berusaha di redamnya-yang datang bersamaan. Kembali mengingat ketika ibunya menghukumnya untuk tak makan malam, sebungkus roti pemberian Jongin jugalah yang menolongnya.

(Flashback On)

Tok Tok!

"Kyungsoo, buka pintunya, sayang.."

"Bibi? Ada apa?" Tanya Kyungsoo setelah membuka pintunya dengan wajah yang sangat pucat.

Bibi Jung, tersenyum mengelus pipi hangat Kyungsoo.

"Makan malamnya sudah siap. Kau harus makan malam agar cepat sembuh." Ujar Bibi Jung, ia sudah lama bekerja di rumah Keluarga Do, bahkan sejak Kyungsoo masih di dalam kandungan. Bibi Jung juga yang merawat Kyungsoo sejak masih merah hingga sekarang karena Kim Ryeowook-ibunya- dan Do Jongwoon-ayahnya-yang sama sekali tidak menginginkan kehadiran Kyungsoo.

"Aku tidak akan makan malam, bibi." Kyungsoo tersenyum miris.

"Ada apa?" Bibi Jung menyingkirkan poni tipis Kyungsoo yang basah karena keringat dingin di dahinya.

"Eomma menghukumku karena aku tidak masuk sekolah hari ini," jawab Kyungsoo, mengusap lembut tangan wanita yang sudah menyayangi dan merawatnya selama ini.

"Bukankah kau sudah meminta ijinnya karena sakit?" Tanya Bibi Jung tak mengerti, bagaimana bisa seorang ibu menghukum putri kandungnya sendiri yang sedang sakit. Kyungsoo hanya gadis berusia duabelas tahun.

"Sayangnya eomma tidak akan menerima itu," sahut Kyungsoo dengan lesu.

"Lalu apa kau benar-benar tidak akan makan?" Tanya Bibi Jung lagi, ia menggenggam kedua tangan Kyungsoo yang hangat.

"A-" baru saja Kyungsoo akan menjawab bahwa ia akan baik-baik saja, namun sudah terpotong oleh suara ibunya.

"Bibi Jung? Bukankah aku menyuruhmu memanggil Yesung?" Tanya Kim Ryeowook, namun matanya menatap tak suka pada Kyungsoo.

Rasanya Kyungsoo ingin menangis saat ini, ibunya lebih memilih makan bersama ayahnya, Yesung-adalah nama panggilan lain untuk ayahnya-daripada dengannya sendiri yang adalah putrinya.

"Tapi, Kyungsoo belum makan sejak siang, Nyonya. Dia juga sedang sakit," bela Bibi Jung.

Ryeowook tersenyum remeh,"Sakit? Apa kau percaya?" , dengan lirikan tajam pada Kyungsoo.

"Eomma," panggil Kyungsoo. Sungguh dalam hatinya ia berharap dapat pingsan sekarang juga agar ayah dan ibunya percaya jika ia benar-benar sedang sakit.

"Diam! Aku tidak menyuruhmu berbicara!" Ryeowook berteriak nyalang pada Kyungsoo, yang tentu saja membuat Kyungsoo dan Bibi Jung terperanjat.

"Jangan pedulikan anak ini. Dia berbohong. Cepat panggil Yesung di ruang kerjanya," Ryeowook melenggang dari depan pintu kamar Kyungsoo menuju dapur.

"Kyungsoo sedang sakit, Nyonya." Jelas Bibi Jung sekali lagi.

Ryeowook berhenti dari langkahnya.

"Aku tidak peduli! Aku tidak peduli dengannya!" Ucap Ryeowook tanpa menoleh pada dua orang di belakangnya dan kembali berjalan.

Bibi Jung dan Kyungsoo sama terlihat kecewa dengan sikap Ryeowook.

"Sayang," Bibi Jung mengusap lembut pipi Kyungsoo. Tak habis pikir dengan majikannya, masih sangat jelas diingatannya, jika Ryeowooklah yang mengandung Kyungsoo dan melahirkannya. Tapi bagaimana ia bisa sangat membenci Kyungsoo. Bahkan antara Yesung dan Ryeowook tak jauh berbeda memperlakukan Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum,"Tak apa, bibi. Aku masih memiliki roti pemberian Jongin di dalam tasku."

"Kau yakin?" tanya Bibi Jung memastikan.

Kyungsoo mengangguk.

"Jangan lupa minum obatmu, sayang." sambung Bibi Jung pada Kyungsoo, menghapus setetes airmata yang turun dari mata bulat gadis kecil itu.

(Flashback Off)

.

.

.

.

.

Jongin berdiri di samping Kyungsoo, meletakkan dua mangkuk dengan ukuran yang berbeda.

"Apa ini daging?" Tanya Kyungsoo. Dengan melipat kedua tangannya diatas meja. Bertanya tentang apa yang ada di dalam kuah sup di depannya.

"Kau tidak suka?" tanya Jongin. Berjalan kembali menuju kursinya.

"Bukan begitu, ibuku sangat menyukai daging. Setelah aku mendapat gaji, ia akan bertanya apa ada daging di menu makan malam kami," ungkap Kyungsoo, mulai mengaduk sup yang masih mengepulkan asap tipis diatasnya.

"Dan sayangnya, aku lebih sering mengatakan tidak ada," sambung Kyungsoo. Ibunya yang terbiasa hidup serba kecukupan itu sangat menyukai daging. Hingga ia harus menyisihkan gajinya beberapa bulan untuk membeli daging. Ia juga ingat jika ia selalu memotong sedikit demi sedikit daging itu dan kembali memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Setidaknya, ibunya dapat memakan daging meski hanya dalam potongan yang kecil untuk makan malamnya.

Jongin tersenyum lembut menanggapi, sedikit miris mendengar perubahan hidup Kyungsoo. Tentu ia tahu bagaimana Kyungsoo hidup dengan harta yang melimpah dulu, Sehun yang menceritakannya.

"Kau harus menyukai daging seperti ibumu mulai sekarang," ucap Jongin. Ia sudah kembali melanjutkan makannya.

Kyungsoo mengangguk, memasukkan se-sendok sup hangat ke dalam mulutnya.

"Jangan menangis," ucap Jongin setelah melihat jika Kyungsoo sempat mengusap airmatanya dengan punggung tangan kirinya.

"Aku tidak menangis. Ini karena supnya masih terasa panas di lidahku." Kyungsoo mengelak. Meski dalam hati, sebenarnya ia ingin menangis, tidak, ia memang sudah menangis. Jongin masih peduli padanya, meski mungkin hanya sebatas karena Kyungsoo sedang hamil.

"Aku tak harus mengingatkanmu untuk meniupnya, 'kan?" sindir Jongin. Ia tahu pasti jika Kyungsoo memang menangis, tapi Jongin sudah mulai hafal jika Kyungsoo akan selalu mengelak jika ia baru saja menangis.

Jongin tersenyum tanpa sadar.

"Ini sangat lezat. Apa kita tidak membangunkan Jongsoo?" tanya Kyungsoo.

"Tidak perlu. Dia pasti sudah tidur. Habiskan saja, jangan sisakan." Jawab Jongin dan Kyungsoo hanya mengangguk.

.

.

.

.

.

Kyungsoo sudah tak menemukan Jongin di dalam kamarnya sejak ia bangun pagi ini. Ia yang baru saja keluar dari kamar mandi kini sudah sangat segar dengan pakaian casual yang baru. Kyungsoo tersenyum, baik sekali Jongin sudah menyiapkan pakaian di atas meja nakas untuknya. Yang ia yakin, baju ini juga pinjaman dari kakak keduanya.

Kyungsoo bercermin kembali sebelum keluar dari kamar untuk kemungkinan besar bertemu seluruh anggota keluarga Jongin sepagi ini. Tentu saja ini masih pagi jika jam baru menunjukkan pukul empat lewat limabelas menit.

Merapikan sekali lagi pakaiannya, Kyungsoo mantap membuka knop pintu kamarnya. Kakinya hanya melangkah menuju dapur, dan ia sudah bisa mendengar percakapan beberapa orang dewasa disana. Dan salah satunya adalah suara Jongin yang mulai ia hafal.

"Eomma!" Jongsoo berlari ke arah Kyungsoo yang berdiri di pintu dapur.

Kyungsoo berlutut, menyetarakan tingginya dengan tubuh Jongsoo. "Selamat pagi, Jongsoo-yah." Tak lupa dengan kecupan di kedua pipi Jongsoo.

"Selamat pagi, eomma." Balas Jongsoo, tersenyum lebar dengan menampilkan deretan giginya.

"Apa Jongsoo tidur nyenyak?" Kyungsoo kembali berdiri dan menggandeng tubuh kecil Jongsoo menuju meja makan, disana ada dua keponakan, ibu mertuanya yang berdiri di depan tungku, juga Jongin yang terlihat cukup sibuk di tepi meja.

"Eum!" Jawab Jongsoo antusias,

"Tidak merepotkan nenek dan kakek?"

Jongsoo menggeleng.

"Aah~ Selamat pagi, sayang," sapa Heechul hangat kepada satu-satunya menantu perempuan di rumah besarnya ini. "Jongsoo tidak merepotkan, Kyungsoo."

Mengangguk mendengar yang baru saja dikatakan ibu mertuanya. "Ne, selamat pagi, eomma." Balas Kyungsoo dengan sungkan, jujur saja ia sedikit tak terbiasa dengan sapaan selamat pagi seperti ini. Bahkan kedua orangtuanya terkesan mengabaikannya.

"Ada yang bisa kubantu, Jongin?" Tanya Kyungsoo setelah berada tepat di sebelah Jongin.

Jongin menggeleng, "Tidak, Kyungsoo. Duduklah, Jongsoo sudah memaksa untuk membangunkanmu sejak tadi."

Menuruti Jongin, Kyungsoo mengambil duduk tak jauh dari tempat Jongin berdiri, di seberang kedua keponakan Jongin, "Benarkah?" Tanya Kyungsoo menggoda Jongsoo, beralih memperhatikan putranya yang terkikik malu-malu karena pengakuan ayahnya.

"Eoh! Kau sudah disini," Joonmyeon yang datang dengan dua keranjang piknik besar ditangannya terkejut melihat Kyungsoo yang sudah berada di dapur, "Apa kalian benar akan pulang sepagi ini? Sedang hujan deras di luar," Ucap Joonmyeon, meletakkan kedua keranjang itu di atas counter dapur.

Jongin dan Kyungsoo belum sempat menanggapi ucapan dari Joonmyeon ketika suara Changmin mengambil alih, "Apa samchon, imo dan juga Jongsoo tidak ikut memancing bersama kami?"

Joonmyeon dan Heechul hanya tersenyum geli melihat Yijun yang mengangguk imut, tanda setuju dengan pertanyaan Changmin. Karena Changmin dan Yijun yang akur adalah pemandangan yang benar-benar langka bagi mereka.

Kyungsoo menatap ragu Jongin yang sedang memasukkan kue kering dari atas piring kecil di depan kedua keponakannya ke dalam toples kaca bulat.

Jongin tersenyum tipis pada Kyungsoo, dan kembali menatap kedua keponakannya, "Tidak bisa, anak-anak. Lain kali paman janji akan membawa bibi Kyungsoo dan Jongsoo memancing bersama kalian," jawab Jongin dengan nada serius.

"Yah~ paman tidak asik!" Desah kecewa terdengar keras dari mulut Changmin yang tidak berhenti mengunyah kukis berwarna cokelat di depannya.

"Cwang~" Jaejoong yang baru saja masuk dari pintu samping yang dapat langsung terhubung dengan garasi, mengingatkan Changmin yang mulai hilang kendali atas ucapannya.

Changmin menoleh ke arah ibunya, "Ne, mianhae.." sadar akan nada bicara yang ia gunakan pada pamannya.

Jongin terkekeh, "Dia menurut padamu, noona."

"Cukup mudah mengancam putraku, Jongin." Sahut Yunho yang berjalan di belakang Jaejoong dengan nampan berisi tiga cangkir kopi yang telah kosong. "Kau hanya perlu mengancamnya dengan makanan, hahahah~" sambung Yunho hingga membuat seluruh keluarga Jongin disana tergelak membenarkan ucapan Yunho, termasuk Jongsoo yang juga ikut tertawa seolah mengerti dengan bahasan orang-orang dewasa di sekitarnya hingga mengundang satu cubitan gemas dari Kyungsoo di pipi bulatnya.

"Appa~" Changmin merengek malu-malu, tidak bisa membela diri ketika ayahnya mengusak kepalanya dari belakang karena menuju bak cuci piring bersama ibunya.

.

.

.

.

.

"Kau benar tidak akan ikut, Lu? Kau bisa bertemu Kyungsoo." Tanya Sehun yang menerima piring kecil berisi dua lembar roti panggang diatasnya.

"Aku sudah berjanji dengan Minseok eonni akan berkunjung hari ini," jawab Luhan. Ia duduk diseberang Sehun untuk menemani suaminya sarapan. Meski sarapan kali ini terkesan terlalu pagi. Bahkan Sehan juga tak terlihat sarapan bersama kali ini.

"Apa kau tidak berniat mengajak Kyungsoo?"

Luhan memicing, lalu menggeleng, "Tentu saja tidak. Suasananya akan sangat kaku dan berbeda dari sebelumnya, Sehun. Aku akan jawab apa jika Kyungsoo bertanya bagaimana ia bisa mengenal Minseok eonni,"

Sehun mengangguk, benar juga apa yang dikatakan istrinya. "Apa kau akan lama disana?"

"Aku tidak tahu," Jawab Luhan, kembali menggigit roti panggang lapis miliknya namun ia urungkan saat ponsel miliknya berkedip di sebelahnya.

"Yeoboseyo?" Jawab Luhan.

"..."

"Baekhyun," bisik Luhan pada suaminya yang mengangkat sebelah alisnya dan menatapnya.

"Apa?"

"..."

Sehun kembali menatap Luhan, penasaran dengan apa yang dikatakan Baekhyun hingga istrinya terkejut seperti itu.

Dahi Luhan berkerut, "Jangan gunakan Chanhyun sebagai alasan, Baek. Aku tau kalian masih saling mencintai,"

"..."

Mulai mengerti arah pembicaraan Baekhyun dan Luhan. Sehun menghela napas, jika hanya masalah Baekhyun tentang Chanyeol, kenapa harus mengganggu Luhan sepagi ini yang cukup mengganggu sarapan paginya, batin Sehun.

"Apanya yang omong kosong? Kau ini!"

"..."

Sehun menoleh. Cukup penasaran dengan pembicaraan istrinya dengan sahabatnya itu. Bahkan ia tak melihat ada candaan saat istrinya mengatakan 'omong kosong'.

"Ya, baiklah. Akan kusampaikan pada Sehun,"

"..."

"Dah~"

Sehun memandang istrinya, "Kau terlihat serius, sayang?"

Luhan meletakkan kembali ponselnya di atas meja, "Chanyeol, dia masuk rumah sakit kemarin malam. Dan kau tahu? Baekhyun menunggunya semalaman,"

Luhan bangkit melihat piring miliknya dan suaminya telah kosong, membawanya menuju bak cuci bersama cangkir teh kosong miliknya.

"Benarkah?" Sehun menoleh tak percaya pada istrinya.

"Dan Baekhyun bilang, Chanyeol mungkin tidak akan masuk kerja beberapa hari kedepan," sambung Luhan tanpa menoleh pada suaminya yang hampir saja tersedak.

"Kenapa mereka berdua tidak menikah lagi saja?" Tanya Sehun yang menimbulkan perempatan di dahi putihnya.

"Kau tahu Baekhyun sudah memiliki Daehyun."

"Tapi Baekhyun menolak diajak menikah," sambar Sehun cepat.

Luhan mengangkat bahunya, "Aku juga tidak habis pikir, bagaimana dengan perasaan Daehyun saat tahu Baekhyun menunggu mantan suaminya semalaman di rumah sakit,"

"Temanmu itu benar-benar," Sehun menggeleng tak percaya.

"Baekhyun tidak bisa hidup tanpa memiliki hubungan dengan seseorang-"

"Ya, aku ingat itu. Dia memliki banyak mantan saat masih SMP. Bahkan hampir di seluruh kelas yang dimiliki sekolahmu, ada bekas Baekhyun disana." Potong Sehun segera saat istrinya kembali duduk di depannya. Bagaimana bisa Luhan dan Kyungsoo sangat cocok dengan sifat Baekhyun yang sering berganti pasangan, bahkan masih SMP, ia juga masih tak percaya jika mengingat bagaimana cerita Luhan tentang sahabatnya itu.

Luhan terkekeh, "Terlalu jahat jika kau menyebut mereka 'bekas', sayang."

"Itu sama saja, dan mengerikan." Sehun bergidik di kursinya, melipat kedua tangannya di depan dada.

.

.

.

.

.

Hujan masih saja mengguyur hingga Kyungsoo tiba di depan rumahnya. Kyungsoo hanya mematikan mesinnya, menuruti larangan Jongan agar tak langsung membuka pintu dan keluar.

"Pakailah!" Jongin menyerahkan satu payung bening dengan gagang berwarna hijau muda kepada Kyungsoo.

"Lalu kau dan Jongsoo?" Kyungsoo mengerjap, tak langsung menerima payung pemberian Jongin.

"Cepat pakai saja," paksa Jongin kembali menyodorkan payung yang masih tertutup itu kepada Kyungsoo.

Jongin tersenyum, "Aku tidak akan membiarkan Jongsoo kehujanan, kau tenang saja." Paham betul jika Kyungsoo mengkhawatirkan putra kecilnya.

Menatap ragu Jongin yang sibuk melepas jaketnya, Kyungsoo mengalah. Membuka pintu mobilnya dan berlari kecil menuju teras rumahnya dengan payung yang melindunginya dari tetesan hujan.

Sedangkan Jongin di dalam mobil masih membenarkan gendongan Jongsoo. Memastikan tubuh dan kepala Jongsoo benar-benar tertutup oleh jaketnya dan terlindungi dari hujan.

"Appa?" Jongsoo membuka matanya sayu menatap Jongin meski terhalang oleh jaket hitam dikepalanya.

"Kau bangun?" Menyingkap sedikit jaketnya agar melihat wajah Jongsoo yang masih menatapnya, "Hanya sebentar, diluar sedang hujan." Terang Jongin karena Jongsoo yang pasti merasa kurang nyaman dengan jaket yang menutup seluruh tubuhnya.

Jongin tersenyum merasakan Jongsoo kembali menyandarkan kepalanya di dadanya dan mengerat kaosnya tepat di bagian perut.

Dengan yakin, Jongin membuka pintu mobilnya. Tak peduli jika air hujan mulai jatuh di atas tubuhnya. Meletakkan tangan besarnya melindungi kepala Jongsoo. Kyungsoo yang masih berdiri di depan teras tertegun dengan yang dilakukan Jongin untuk Jongsoo. Senyumnya terkembang, dengan pasti mendekati Jongin.

"Kenapa kau kembali lagi? Harusnya kau langsung masuk," Jongin menghentikan langkahnya, terkejut dengan Kyungsoo yang sudah berada di sebelahnya. Menatapnya dengan senyum lebar,

Menggeleng dan tetap tersenyum, Kyungsoo menatap wajah basah Jongin, "Kau tidak boleh sakit,"

Jongin tertawa mendengar nada bicara Kyungsoo 'muda' yang keluar. "Mau bagaimana lagi, kau sudah disini. Payungi aku dengan baik!"

Tiin! Tiin!

Kyungsoo dan Jongin menoleh pada suara klakson di belakang mereka. Jongin mendesah, ia baru saja berjalan tiga langkah dan kini harus menghentikan langkahnya lagi.

"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Teriak Sehun berlari keluar dari mobilnya menuju teras rumah Jongin untuk berteduh, melewati sang pemilik rumah yang hanya menatap tak mengerti ke arahnya.

"Jangan dengarkan Sehun,"

Suara Kyungsoo kembali menarik perhatian Jongin. Kemudian Jongin hanya mengangguk dan kembali melangkah.

Berbeda dengan Kyungsoo, ia tidak bodoh untuk mengerti maksud ucapan dari Sehun. Tentu ia tahu, Sehun sedang menggodanya karena berada di bawah payung yang sama dengan Jongin. Di bawah derasnya hujan. Biasanya Kyungsoo hanya melihat ini di dalam drama, tapi sekarang, ia mengalaminya. Dan terima kasih kepada mulut Sehun yang dengan asalnya berbicara hingga ia harus menyembunyikan pipi merahnya karena malu.

.

.

.

.

.

"Aku butuh cepat, Sehun." Jongin jengah pada Sehun yang terus saja menyebutkan bagian-bagian pada mobil di depannya ini. Mobil mereka bahkan masih menepi di tepian jalan yang cukup sepi dan hujan yang baru saja berhenti. Ia sudah mengumpulkan seluruh mentalnya dengan duduk di balik kemudi dengan serius.

Sehun menepuk bahu Jongin dan tersenyum aneh, "Berapa usia kandungan Kyungsoo?"

"Satu bulan?" Jawab Jongin, menatap tangan Sehun yang berada di bahunya, beralih pada senyum Sehun yang mengerikan baginya.

"Haha~" Sehun terbahak, "Kau terlalu terburu-buru. Bahkan sebelum perut Kyungsoo terlihat membesar, kujamin kau sudah sangat mahir menyetir jika berlatih bersamaku." Sambung Sehun.

"Kau percaya diri sekali, Tuan Oh!" Jongin mencibir.

"Wow! Aku menyukai panggilan itu!" Ujar Sehun bangga, merapikan krah kemejanya dengan gaya sok angkuh.

"Jadi?"

"Jadi apa maksudmu? Tentu kita tetap harus memulai semuanya dari awal, Jongin." Sahut Sehun santai, menyembunyikan seringaian tipis yang terselip di dalam senyumannya dengan menatap ke arah luar kaca mobilnya.

Jongin mengangguk, memantapkan hatinya. Mengerat kemudi di depannya dengan yakin, "Baiklah, ini demi keluargaku."

Sehun menoleh, "Keluarga?" Tak percaya ketika kata 'keluarga' dengan mudahnya keluar dari mulut Jongin.

"Apa ada yang salah?"

"Tidak. Hanya saja, itu terdengar menyentuh sekali," Sehun berkata jujur, meski terdengar aneh di telinganya saat Jongin mengakui Kyungsoo dan Jongsoo adalah keluarganya.

"Sehun," panggil Jongin, menatap teman masa kecilnya.

"Ya? Ada yang ingin kau tanyakan?"

"Sebenarnya, bagaimana hubunganku dengan Kyungsoo?" Tanya Jongin memberanikan diri. Ada perasaan takut dalam hatinya, jujur saja, terkadang Jongin merasakan ada sesuatu yang 'tidak baik' tentang keluarganya. Tapi ia tak bisa menjelaskan itu, karena ia juga tidak yakin kenapa bisa merasakan hal seperti itu.

Seketika raut wajah Sehun berubah, tak ada lagi senyuman disana. Mulai menangkap pertanyaan Jongin. "Hubungan? Apa maksudmu, tentu saja kalian suami istri." Berharap saja Jongin tidak menyadari getaran di dalam suaranya.

Jongin menggeleng,"Tidak, bukan itu. Bisa kau ceritakan bagaimana kita bisa menikah dulu? Ini, tidak terduga, aku kehilangan-ah maksudku, kami pernah menjadi teman lalu tidak pernah bertemu beberapa tahun dan-"

"Kau menyukai Kyungsoo?" Sela Sehun dengan cepat

Jongin menggeleng tidak yakin, "A-aku tidak tahu. Tapi Kyungsoo sangat baik. Dia seorang ibu yang baik untuk Jongsoo,"

Sehun mengangguk paham. Bagi Sehun dan juga Luhan, Kyungsoo memanglah ibu yang sangat baik untuk Jongsoo. Dan jangan dikira jika Sehun dan Luhan tidak kagum dengan perubahan sikap Kyungsoo yang cukup ceroboh hingga menjadi sangat lembut, menjaga Jongsoo dengan seluruh nafasnya. Dan andai 'Jongin' juga menyadari bagaimana perjuangan Kyungsoo saat melahirkan Jongsoo.

"Kyungsoo, dia memang terlihat berbeda dari terakhir kali kau melihatnya dulu, jika itu maksudmu." Jelas Sehun. "Bahkan ia sangat jauh berbeda," Imbuh Sehun.

"Lalu, bagaimana kami akhirnya menikah?"

"Aku janji akan menceritakannya lain kali." Sehun memutar kunci mobilnya, "Tapi sekarang, kau harus belajar menyetir dengan baik. Injak gasnya dengan pelan," Jongin semakin membulatkan tekadnya karena tepukan Sehun di pundaknya.

.

.

.

.

.

"Apa Kyungsoo baik-baik saja, Lu?"

Mengalihkan pandangannya, Luhan menatap perempuan berpipi bulat di depannya yang juga menatapnya dengan intense.

"Ya? Dia baik-baik saja, eonni. Kau tenang saja," Jawab Luhan santai. Kembali menyesap kopi di depannya.

"Tapi dia sedikit aneh saat terakhir kali aku bertemu dengannya." Sanggah Minseok, perempuan berkulit putih, pemilik kedai roti yang juga menyediakan segala macam minuman berbau kopi, dimana Luhan sedang duduk saat ini.

Uhuk!

"Hati-hati, Lu~" Minseok menenangkan Luhan yang masih terbatuk, terkejut dengan kalimat Minseok beberapa saat lalu.

"Apa Kyungsoo pernah kemari?" Tanya Luhan dengan suara paraunya. Minseok menatap prihatin saat Luhan menepuk dadanya dan matanya yang memerah.

Minseok berusaha mengingatnya, "Ya, kalau tidak salah siang hari."

"Bagaimana dia bisa kemari?" Luhan terdiam, "Ah! Maksudku, a-apa dia mengatakan sesuatu?" Segera menurunkan nadanya saat menyadari ekspresi Minseok. Tentu saja, Minseok adalah wanita yang lembut, sangat jauh berbeda dengannya dan juga Baekhyun. Minseok bisa saja melepaskan matanya saat mendengar suara tinggi dari orang lain.

Minseok menggeleng, "Tidak. Aku bahkan tidak tahu jika dia datang. Mindae yang melihatnya dan memanggilnya. Tapi aku merasa aneh saat Kyungsoo terlihat canggung bersama Mindae." Jelas Minseok, mengingat kembali saat Kyungsoo yang seolah tidak mengenali Mindae yang berlari ke arahnya siang itu.

"Lalu?"

"Dia terlihat buru-buru. Apa aku melakukan kesalahan padanya, Lu?"

"Kenapa kau berpikir seperti itu, eonni? Memang apa yang kau lakukan?" Keluh Luhan. Bersyukur dulu Kyungsoo bisa menemukan sepasang suami istri seperti Jongdae dan juga Minseok ketika ia benar-benar dalam kesulitan. Minseok terlalu peduli dengan perasaan orang lain hingga menganggap dirinya adalah penyebab sikap Kyungsoo 'saat ini'.

"Entahlah, dia seperti menghindariku, Lu," Minseok menatap Luhan dengan lesu.

Ingin saja Luhan mengatakan apa yang sudah terjadi pada Kyungsoo. Oh Ya Tuhan~ Luhan tidak mungkin hanya menceritakan bagian dimana jiwa Kyungsoo muda dan tua yang tertukar. Tidak, perempuan di depannya akan semakin bertanya lebih jauh, dan tentu saja Luhan menjamin jika Minseok akan menangis tersedu setelah mendengar kehidupan-tak bahagia-Kyungsoo bersama Jongin.

"Kyungsoo baik-baik saja, eonni." Luhan menenangkan Minseok kembali. Ayolah~ harus berapa kali ia mengatakan jika perempuan di depannya ini berhati sangat lembut. Luhan sadar Minseok sangat menyayangi Kyungsoo, begitupun Kyungsoo tentunya.

"Aku khawatir dengannya. Apa dia sungguh baik-baik saja, Lu?"

Hanya ada satu rencana terbaik yang ada dipikiran Luhan setelah mendengar kalimat terakhir dari Minseok, yaitu segera menyudahi acara-mari-makan-roti-isi-coklat-dan bergegas membawa Sehan yang bermain di taman belakang bersama Mindae untuk pergi dari tempat ini, sebelum ia mengatakan hal-hal yang berada di luar nalar bagi Minseok.

.

.

.

.

.

"Kenapa kau membawa mereka kemari, Lu?" Tanya Baekhyun tepat setelah melepaskan genggamannya pada Luhan. Baekhyun memposisikan dirinya sedikit menjauh dari pintu berwarna beige yang mau tak mau Luhan juga mengikutinya.

"Mereka? Maksudmu Kyungsoo? Atau Jongin?" Tanya Luhan tak mengerti. Ada apa dengan sahabatnya ini. Ia baru saja masuk ke dalam kamar rawat Chanyeol bersama Sehun, Sehan, Jongsoo, Kyungsoo dan juga Jongin. Tapi Baekhyun dengan tiba-tiba meminta berbicara empat mata dengannya.

Mengurut pelipisnya, sadar ia-lumayan-bersikap berlebihan, "Maksudku, kenapa kau membawa Jongin?" Lanjut Baekhyun santai.

Tak jauh dengan Baekhyun, Luhan tersenyum, menatap sahabatnya, "Aku tahu kau bermasalah dengannya. Tapi kau juga tahu jika Jongin dan Sehun adalah rekan kerja Chanyeol."

Baekhyun mengangguk, "Aku yakin kau juga akan membencinya setelah tahu apa yang dilakukannya."

"Aku sudah membencinya, Baek. Aku sudah tahu apa yang dilaku-" Luhan memutar bola matanya, sejak dulu hingga sekarang, tidak akan ada yang bisa kalah jika berdebat dengan bibir tipis Baekhyun. Luhan juga merasa memiliki bibir yang tipis, tapi tidak, Baekhyun tetaplah yang paling cerewet diantara mereka bertiga.

"Termasuk berselingkuh dengan Sulli?" Sergah Baekhyun.

"A-apa?" Seolah Luhan kembali dari lamunannya mengukur seberapa tipis bibir Baekhyun.

"Kau tidak lupa jika aku berada di divisi yang sama dengan mantan tunangan Jongin itu." Baekhyun berujar bangga, melipat kedua tangannya tepat di dada, tersenyum menang pada Luhan yang mulai meniru bagaimana 'mata' Kyungsoo bereaksi saat terkejut.

"A-aku tidak percaya,"

"Aku percaya. Demi Tuhan! Bagaimana Kyungsoo masih bisa bersama dengan lelaki brengsek itu!" Sahut Baekhyun dengan cepat, tanpa sadar menaikkan nadanya satu oktaf, dan lagi, tanpa rasa sungkan menyelipkan umpatan untuk suami sahabatnya.

"Bisa kau kecilkan suaramu?" Desis Luhan, untuk apa Baekhyun membawanya menjauh dari pintu jika ia tetap bergosip dengan suara tingginya, "Dan ingatkan aku jika kau juga menyebut-mantan-suami-yang-masih-sangat-kau-cintai-itu juga dengan sebutan brengsek!"

"Aku apa?" Baekhyun tak percaya dengan ucapan Luhan.

"Kau mencintainya." Ujar Luhan dengan tenang. Oh! Lihatlah mereka saat ini, mereka lebih terkesan seperti saingan kerja yang sedang berusaha mengalahkan satu sama lain.

"Lu, aku disini karena-"

"Karena Chanhyun? Benar 'kan?" Kini Luhan yang berujar bangga, merasakan bagaimana perasaan Baekhyun beberapa saat lalu, "Berhenti menjadikan putramu sebagai alasan, Baek." Sambung Luhan dengan nada melembut.

Chanyeol dan Baekhyun. Bukanlah masalah yang besar jika Baekhyun tak terlalu peduli dengan gengsinya dan Chanyeol yang dengan segala ketakutannya untuk kembali mengucapkan kata cinta kepada Baekhyun seperti beberapa tahun yang lalu.

"Aku tidak," Baekhyun kalah, ia sadar berada disini bukanlah sepenuhnya karena Chanhyun,tapi karena hatinya. Hingga ia melupakan satu hati lainnya yang terluka.

"Iya. Kau melakukannya." Luhan kembali mengeluarkan suaranya tepat saat Baekhyun melewati tempatnya berdiri. "Baek!" Luhan berlari kecil mengejar Baekhyun yang menundukkan kepalanya. Bahu Luhan melemah, kemana Baekhyun-nya tadi, yang menggebu-gebu dengan wajah bak penyihir jahat.

Klek!

"Eoh? Apa terjadi sesuatu?"

Luhan baru akan menyentuh knop pintu saat mata bulat Kyungsoo membulat sempurna menyapanya.

Luhan tersenyum, "Tidak, Kyung. Baekhyun hanya sedikit mengajakku berdebat,"

"Ya, kami berdebat tentang kalian yang seharusnya tidak perlu repot menjenguk di jam makan siang seperti ini," Sahut Baekhyun yang dengan sukses membuat Chanhyun, Sehan dan juga Jongsoo menghentikan candaan mereka.

Tidak hanya Chanyeol, Sehun, Kyungsoo dan Jongin juga menyadari ada yang terjadi antara Luhan dan Baekhyun.

"Aah~ apa kami mengganggu makan siangmu dengan Chanyeol dan Chanhyun?" Mengandalkan sifat jahilnya yang juga menurun pada putra semata wayangnya, Sehun mencoba mencairkan suasana tegang di dalam kamar rawat itu.

Luhan terkekeh, menatap Kyungsoo yang masih berdiri di sebelahnya, "Jangan memasang wajah terlalu serius, Kyung. Kau seperti tidak tahu bagaimana mulut Sehun,"

.

.

.

.

.

Tak ada suara lain di ruang keluarga milik Jongin selain suara lucu Jongsoo yang terlihat senang memainkan mainan barunya. Di atas karpet yang sama, Jongin duduk bersandar pada sofa di belakangnya, dan Kyungsoo yang sibuk mewarnai buku gambar Jongsoo diatas meja kecil tepat di depannya.

Nguuung~

Kyungsoo menoleh mendengar suara tiruan Jongsoo untuk pesawat barunya-yang tak sengaja ia beli siang tadi, jika saja Jongsoo yang tidak menatap terus toko mainan di tepi jalan. Mendesah saat melihat mata putranya yang bahkan tidak mengayun sedikitpun tanda mengantuk. Sangat berbeda jauh dengan Kyungsoo yang tanpa sadar mengurut pelan tengkuknya untuk meredakan rasa lelahnya.

"Dia tidak akan tidur jika kita tidak melakukan sesuatu," Suara Jongin mengejutkan Kyungsoo.

Jongin yang-menurut Kyungsoo-sebelumnya fokus pada layar ponselnya, kini meletakkan ponselnya yang masih menyala di atas sofa. Berdiri dari duduk nyamannya, diam-diam mendekati Jongsoo dari belakang tubuh kecil itu.

Wuuuuusshh~

"Ahahah... ahahah... appa.. appa.."

Gelak tawa Jongsoo terdengar karena Jongin yang mengangkat tinggi tubuhnya tiba-tiba mampu mencuri senyum manis milik Kyungsoo.

"Jja.. pesawatnya bisa rusak jika tidak berhenti terbang.." Seru Jongin, masih dengan Jongsoo yang bahkan sudah memakai setelan pinyama lengkap, masih tertawa di atas tangannya. Dengan senyum lebar, Jongin santai berjalan menuju kamar tidur miliknya, tak lupa dengan kedipan lucu yang ia tujukan pada Kyungsoo.

Tanpa butuh waktu lama untuk merespon apa maksud dari kedipan mata Jongin, Kyungsoo segera menutup buku gambar milik Jongsoo dan memasukkan crayon-crayon itu ke dalam tempatnya. Dan terakhir, melipat meja kecil milik putranya, "Eomma dataaang~" Seru Kyungsoo dengan semangat. Berlari menyusul Jongin dan Jongsoo yang menunggunya di depan pintu kamar.

Klek

"Cepat tidur dan jangan berisik." Ujar Jongin. Dengan sengaja ia menubrukkan pelan tubuh Jongsoo diatas ranjang besar nan empuk.

Kyungsoo tersenyum lebar mendengar Jongsoo yang belum juga berheti tertawa, tentu saja itu karena Jongin yang tek hentinya 'mengganggu' Jongsoo. Mendudukkan dirinya tepat menghadap tubuh Jongsoo, Kyungsoo kembali merapikan bantal untuk Jongsoo tidur.

"Lihatlah, eomma-mu sudah mengantuk!" Bisik Jongin pada Jongsoo yang langsung menoleh ke arah Kyungsoo yang langsung mengangguk-menggoda Jongsoo.

"Selamat malam~" Ucap Jongin, tak lupa mengecup sayang kedua pipi Jongsoo.

"Appa!" Jongsoo kembali memanggil Jongin yang sudah berbalik meninggalkan ranjang hanya berdua bersama ibunya.

Jongin tersenyum, kembali mendekati Jongsoo."Appa masih harus mengerjakan pekerjaan rumah dari paman Sehun," perintah Jongin kembali. "Tidur yang nyenyak bersama eomma dan adikmu, ok?" Imbuh Jongin. Menambah kecupan untuk Jongsoo tepat di dahinya.

"Eum!"

.

.

.

.

.

Jongin hanya berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, menemukan Kyungsoo di dalam kamar Jongsoo, mendudukkan dirinya diatas lantai yang dingin dengan kakinya yang terlipat, tepat di depan lemari pakaian milik Jongsoo yang terbuka lebar.

Menatap punggung Kyungsoo dengan pandangan miris. Sebenarnya, sudah seberapa sering ia menyakiti Kyungsoo, hingga 'Jongin' berniat mengakhiri pernikahan dengan Kyungsoo.

"Kyungsoo?" Sapa Jongin. Memberanikan diri melebarkan pintu kamar putranya tanpa mengetuknya sedikitpun.

"Jongin," Balas Kyungsoo. Menoleh dengan senyum yang lebar kepada Jongin yang terus melangkah mendekat.

Jongin ikut tersenyum, pandangannya semakin meredup setelah menemukan sesuatu diatas pangkuan Kyungsoo, "Kau disini."

Kyungsoo mengangguk,

"Aku hanya ingin merapikan baju-baju lama milik Jongsoo,"

Jongin menoleh ke arah ranjang kecil yang kosong milik Jongsoo. Diatas sana sudah ada beberapa tumpuk pakaian, yang Jongin yakini sedang dipisahkan oleh Kyungsoo, antara pakaian yang masih dan sudah tidak bisa dipakai untuk Jongsoo.

"Kau bisa melakukannya besok. Aku juga bisa membantumu," Saran Jongin. Sebelum kemari pun ia sudah memasuki kamarnya, dan melihat Jongsoo yang tertidur dengan bantal di kedua sisi tubuhnya.

"Tidak, aku melakukannya sekarang karena aku belum mengantuk, Jongin." Elak Kyungsoo. "Tapi aku berniat menunda ini untuk besok karena aku tertarik dengan ini," imbuhnya dengan terkekeh, kontras dengan raut wajah Jongin yang hanya bisa merespon dengan senyuman yang terpaksa.

Dengan cepat, buku dengan hardcover berwarna biru muda yang sebelumnya ada di atas pangkuan Kyungsoo, kini sudah berpindah diatas pangkuan Jongin yang tepat duduk dengan posisi yang sama disampingnya.

"I-ini.." Jongin tak mampu berkata setelah melihat halaman pertama dari buku di hadapannya.

"Jongsoo kecil," Timpal Kyungsoo pada Jongin yang sama sekali tak mengalihkan perhatiaannya.

Dengan ragu, perlahan Jongin mengusap selembar foto hitam putih yang tertempel rapi pada lembar buku berwarna kuning gading, "Dia terlihat sangat kecil-"

"Aku kira, aku tidak akan bisa mendapatkan semua ini," Ucap Kyungsoo,

"Apa maksudmu?" Jongin menatap Kyungsoo yang juga menatapnya.

"Mereka mengatakan aku tidak berguna." Kyungsoo seolah tak mendengarkan pertanyaan Jongin. "Lalu apa yang pantas didapatkan untuk orang sepertiku?"

Jongin masih menatap mata bulat jernih milik Kyungsoo, ketika ia bercerita, mata bulat itu berkaca-kaca. Dan lagi, siapa yang dimaksud Kyungsoo dengan 'mereka'.

"Aku bahagia memiliki Jongsoo, dan juga kau,"

"Aku?" Jongin terkejut

"Kau peduli padaku, Jongin."-bahkan melebihi kedua orangtuaku.

"Kyung-"

Jongin sudah ingin menangis. Bagaimana jika yang ada di dalam otaknya adalah benar, tentang apa yang sudah terjadi pada keluarga kecilnya. Itu bukan badai, tapi Jongin merasa dirinya yang sudah menghancurkan keluarganya sendiri. Satu dari tiga lembar kertas yang ia temukan beberapa waktu lalu, itu menjelaskan semuanya.

Kyungsoo menoleh, dengan kesal yang sengaja ia buat-buat, "Kenapa kau tidak membaliknya? Kau akan lebih kagum setelah melihat yang lainnya," ucap Kyungsoo. Tangan kanannya membantu Jongin membuka halaman berikutnya.

"Kau menjaganya dengan baik," Puji Jongin, tersenyum haru melihat Jongsoo yang sedang berkembang di dalam rahim Kyungsoo. Jongin juga sudah melihat bagaimana bakal kaki dan tangan Jongsoo yang mulai terbentuk.

"Aku... tidak yakin, tapi-" Timpal Kyungsoo, "-sejak pertama kali melihat Jongsoo, aku merasa harus menjaganya. Dulu aku tidak percaya saat Baekhyun mengatakan akan menjaga putranya walau apapun, tapi sekarang, aku merasakannya. Bahkan jika aku harus mengorbankan hidupku, aku harus melindungi Jongsoo-" ungkap Kyungsoo panjang lebar. Tak peduli jika Jongin menganggapnya berlebihan, tapi bagi Kyungsoo, dia sudah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi Jongsoo sebagai putranya.

"Kau sudah mengorbankan hidupmu,"-kau 'menjaganya' tanpa campur tangan dariku, Kyungsoo.

"Aku-" Kyungsoo tak melanjutkan ucapannya. Entah karena apa, dia hanya merasa nyaman ketika Jongin dengan lembut mengusap punggungnya.

"Kau yang melahirkannya, Kyung... Kau sudah berani mempertaruhkan hidupmu untuk Jongsoo.."

.

.

.

.

"Ini!" Jongin meletakkan dua amplop besar di atas meja kerja Sehun. Ia baru saja kembali dari makan siangnya dan segera mendatangi meja milik sahabatnya. Jongin hanya ingin tahu sesuatu.

"Apa ini?" tanya Sehun. Ia menatap Jongin yang memasang wajah seriusnya, tanpa menyentuh amplop itu.

"Bagaimana bisa usia Jongsoo lebih tua dari usia pernikahanku dengan Kyungsoo?" ucap Jongin menuntut.

Sehun terkesiap.

"Kau... Dimana kau menemukannya?" tanya Sehun, menegakkan tubuh di atas kursi empuknya. Baginya, ini terlalu cepat untuk Jongin mengetahui semuanya. Bagaimana jika Jongin yang sekarang juga akan membenci Kyungsoo dan juga Jongsoo.

"Di rumahku. Tersimpan dengan baik di salah satu rak kayu di dalam ruang kerjaku." jawab Jongin. Ia masih berdiri di depan meja Sehun dengan pandangan yang menuntut. Sehun hanya mengangguk dengan jawaban Jongin.

"Jangan katakan apapun pada Kyungsoo," ucap Sehun. Ia juga tak beranjak dari kursinya.

Jongin tertawa remeh, namun dalam hatinya miris. "Kau menyembunyikan sesuatu tentang keluargaku! Apa itu benar?" Dan sekarang, Jongin tahu bahwa keluarganya yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

"Ya," jawab Sehun.

"Apa?" tanya Jongin.

"Apa yang ingin kau ketahui?" Sehun balik bertanya pada Jongin.

"Sesuatu yang harus ku ketahui dan ku sembunyikan dari Kyungsoo," jawab Jongin dengan penuh tekanan di setiap katanya.

"Kau bisa mendapatkannya dari Luhan," jawab Sehun dengan mantap.

.

.

.

.

.

.

*TBC/END?*

.

.

.

.

.

.

.

Maaf ya, baru update lagi.. dan terima kasih buat akun Justmine Rewolf yang sudah kirim PM, mengingatkan kapan ff ini bakal update lagi udah aku baca kok ;) . Terima kasih yang sudah ngasih semangat tentang curhatan saya di chapter lalu. Maaf kalau chapter ini mengecewakan dan semakin aneh, terima kasih untuk semua masukannya untuk ff ini.

Dan sedikit cuap-cuap dari saya, ada alasan kenapa saya tidak melanjutkan ff ini kmr. Karena ternyata sebagai mahasiswa di semester satu itu tidak seperti yang ada di bayangan saya, yang hanya berangkat kuliah pagi dan pulang sebelum jam 12 siang, tapi ternyata tugas sudah menumpuk ditambah uts dan uas pertama di bangku kuliah. Jadi, maaf karena telat update beberapa bulan..

Yang kemarin pengen Jongin tahu, tuh Jongin sudah mulai curiga ..

Dan terima kasih karena setiap chapter baru, selalu ada juga reader baru. =)

Big Thanks To :

|anoncikiciw|Yohannaemerald|Jung Yi Zi|xoxo0293|kim fany|BaconieSonjay|Baby niz 137|Sofia Magdalena|Ryeollakim|dyodomyeon|yixingcom|dhyamantha1214|zoldyk|pastelblossom|Nadhefuji|exindira|Forte Orange|ludeerhan|JongindO|Lee Na Eun FujoAoi|FafaSoo202|overdyosoo|Kim Yehyun|hnana|Ch-channie4ever|deva94bubletea|sushimakipark|jdcchan|kaisoonim|park28sooyah|nazuchi ritzhu|kyung1225|ruixi1|IchankYJ|babyjunma|beng beng max|Humaira9394|SweetyKamjong|fitria96|MbemXiumin|yoomi|pyongjie12|Guest|V3|Ihfaherdita892|KimKyungin1214|NopwillineKaiSoo|kpopyehetina|kim minki|Justmine Rewolf|sehunsdeer|Kyungri|erlytt|may|sandrimayy88|rly|loovyjojong|kimdoadhel|hnxx|guest|caramesso|nazuchi ritsu|Jang Joohwi|atkls|DiahSeptianing6|ikkoearthlings|L|lulububblehun|sekyungbin13|

Terima kasih untuk kritik dan saran, review, follow, maupun favoritnya redaerdeul..

-ChaKaJja13-