LET ME LOVE YOU
.
a KaiSoo Fanfiction
Genderswitch.
.
"Turun!"
Kyungsoo kecil mendongak. Menatap tak mengerti pada ibunya yang berada dibalik kemudi mobil. Ia melihat sekilas dari dalam kaca mobil, ini masih terlihat jauh puluhan meter dengan jarak sekolahnya.
"Kau masih tidak mengerti? Kubilang turunlah!"
Lirikan tajam Ryeowook serta kalimat dinginnya menyentak hati Kyungsoo. Tanpa perlu dikatakan jika ini sangat menyakitkan baginya. Ibunya menurunkannya ditengah jalan.
"A-aku harus naik apa–"
"Itu bukan urusanku! Aku sudah cukup baik membawamu sampai sini!"
"Terima kasih." Kyungsoo membungkuk sopan meski sadar ibunya sama sekali tak melihatnya. Perlahan menyentuh pintu mobil dan membukanya, menatap ibunya sekali lagi sebelum benar-benar turun dari mobil, "Maaf sudah merepotkan eomma,"
Tes!
"Eoh!"
Tetesan yang terasa basah ditelapak tangannya menarik Kyungsoo dari ingatannya masa dulu.
"Aku jadi cengeng sejak disini," Perlahan ia mengusap airmatanya yang entah kenapa semakin berlomba-lomba untuk keluar. Dia merasa cukup kacau hari ini, kecepatan jantungnya bahkan berdetak menjadi berkali lipat. Ada sesuatu yang terasa aneh di dalam hatinya—tak dapat dijelaskan, dan itu sangat mengganggu.
"Kau–" tunjuk Kyungsoo pada tanaman kaktusnya yang kini sudah mati dan membusuk karena berada dibawah air hujan yang cukup lama kemarin, "–hal pertama yang aku minta dari Jongin setelah tiba disini. Jangan memberi pertanda buruk seolah hidupku juga tidak akan berjalan baik disini,"
Kyungsoo duduk diatas kedua kakinya yang dilipat. "Aku-" matanya tak juga lepas dari tanaman yang sudah tak tertolong itu, "–masih sangat, menyukainya."
.
.
Let Me Love You
.
.
Jongin tidak menanyakan apapun ketika Sehun menariknya kasar menuju basement. Ia sudah mengerti, Sehun bahkan sudah tersulut emosi sejak pertama kali membuka amplop yang dibawanya. Kilatan mata itu berubah setelahnya–terselip amarah.
Bugh!
Tangan Sehun terlihat ringan. Satu pukulan telah menyentuh sebelah kiri wajah Kim Jongin tanpa peringatan.
Tanpa perlawanan. Jongin jatuh terduduk. Menutup matanya berharap dapat mengurangi rasa ngilu, juga rasa terkejutnya. Pukulan Sehun bukan main-main meski ini pertama kalinya ia merasakan hantaman dari kepalan tangan yang terbilang kurus itu. Ia mencuri pandang sekitar;mobil Sehun belum terlihat dimana letaknya. Ketakutan melanda jika ia akan berakhir dengan babak belur.
"KAU!" Sehun terengah, tenaganya cukup terkuras karena rasa marah, "Beraninya kau menceraikan Kyungsoo! Dia Sedang mengandung anakmu!" Sehun berteriak, cengkraman tangannya pada krah Jongin belum terlepas. Jongin menyadari kesalahannya-yang ternyata- begitu besar dan itu memang tak akan termaafkan dengan mudah.
"Aku tidak perlu membawamu ke Luhan. Kita selesaikan disini!"
Sehun kembali mengambil berkas yang sempat dibuangnya demi memukul Jongin. "Kau menghamili Kyungsoo. Menyingkirkannya sejauh mungkin dari hidupmu, dengan cara apapun."
Jongin mendongak.
"Kau bilang ingin tahu 'kan?" Menatap Sehun yang berdiri di depannya, menatapnya dengan mata yang mimicing tajam.
"Kau terkejut?" Sehun mendengus, mendapati keterkejutan Jongin dari sepasang matanya, "Kau memang se-brengsek itu."
Jongin menunduk. Merasa malu dengan kelakuannya meski yang melakukan itu bukan benar-benar dirinya. Tetapi mereka tetaplah orang yang sama.
"Kalian menikah setelah Jongsoo berusia beberapa bulan. Dia sudah menyerahkan semuanya padamu! Meski kau mengikatnya dalam sebuah pernikahan, tapi dia tak lebih dari seorang budak bagimu! Kau tahu demi apa dia melakukan itu?" Ungkap Sehun lirih, ia cukup sadar dimana ia sedang berdiri, menghindari kemungkinan orang lain atau bahkan rekan kerja mereka mendengar pertengkaran yang cukup pribadi. Ia ingin melindungi Kyungsoo. Sahabat mungilnya sudah cukup menelan semua caci maki sejak mengandung benih dari Jongin diliuar sebuah pernikahan.
Sehun memandang remeh Jongin yang terlihat begitu kecewa dan menyesali perbuatannya.
"Sebuah marga." ungkap Sehun setelah melihat gelengan kepala Jongin.
"M-marga?"
"Ya, sebuah marga untuk putranya. Agar Jongsoo memiliki kehidupan yang jelas, memiliki keluarga yang utuh." Jelas Sehun. Amarahnya mulai meredam, "Dan karena hal itu juga dia harus rela kehilangan calon bayinya,"
Jongin memandang Sehun seolah bertanya, ia belum terlalu paham dengan kalimat Sehun yang ini.
"Kau memaksanya untuk melayanimu. Tak peduli kapanpun kau menginginkan sebuah 'pelampiasan' atas kemarahanmu padanya ataupun Jongsoo. Meskipun itu diatas lantai yang dingin."
"M-maaf," Jongin menunduk. Dalam hatinya ia sudah merasa tidak memiliki keberanian menatap wajah Kyungsoo. Dirinya sudah terlalu buruk dan brengsek.
.
.
Let Me Love You
.
.
Luhan nampak terburu-buru membuka pintu rumahnya setelah mendengar deru mobil milik suaminya. Ia yakin itu memang suaminya, meski sedikit ragu suaminya akan pulang secepat ini.
"Sehun?" Dahi Luhan mengkerut melihat suaminya yang turun dari mobil dengan penampilan sedikit berantakan. Namun belum sempat ia mendapat jawaban, ia kembali dikejutkan oleh Jongin yang ternyata datang bersama suaminya.
"Ada apa?" Tanya Luhan ketika Sehun mendekat dengan Jongin yang mengekor di belakangnya. Juga luka lebam di pipi kiri Jongin yang menarik perhatian Luhan.
"Kita bicara di dalam—"
"Tidak! Katakan apa yang sudah terjadi?" Luhan menahan gerakan Sehun yang memaksa untuk masuk ke dalam rumah.
"Luhan, dengarkan aku! Banyak yang harus diceritakan, tapi tidak diluar sini." Sehun menghela nafasnya lelah." Jongin sudah tahu semuanya,"
Dengan cepat Luhan mengerti maksud dari perkataan suaminya. Dan yang mengejutkan adalah, selama ini diam-diam Jongin berniat menceraikan Kyungsoo. Oh! Bahkan dia dengan beraninya menjalin hubungan-lagi-dengan Jinri ketika Kyungsoo sedang mengandung benihnya. Brengsek!, umpat Luhan dalam hati.
"Jongin!" suara Luhan terdengar bersama tangan Sehun yang sigap mencegah Jongin memasuki rumahnya. Ia khawatir dengan Jongsoo yang bisa saja mendapatkan perlakuan kasar dari Jongin—dalam bentuk apapun.
"Aku tidak akan melukainya," lirih Jongin memohon.
"Terakhir kali kau menyeret dan memukulnya, Jongin. Demi Tuhan! Kau kasar sekali waktu itu!" Teriak Luhan tidak terima, melupakan bahwa beberapa saat lalu ia sengaja menahan Sehun untuk masuk agar anak-anak tidak mendengar pertengkaran antara Sehun dan Jongin. "Aku tahu bukan kau yang harus disalahkan sekarang! Tapi jangan buat aku juga membencimu!"
Jongin diam. Ia menoleh ke arah ruang televisi, dimana suara tawa anaknya juga terdengar bersahutan dengan bunyi dari televisi dan suara Sehan.
"Luhan, dia berhak menemui Jongsoo," Sehun mengingatkan jika Luhan tidak berhak menahan Jongin untuk menemui putranya. Ia menatap iba raut wajah Jongin yang sungguh kacau. Sehun pernah melihat itu dulu, ketika Kyungsoo berjuang melahirkan Jongsoo dan menolak untuk didampingi oleh Jongin.
"Dan aku berhak melindungi seorang anak kecil yang tidak bersalah! Aku juga seorang ibu!" Luhan masih memaksa, menatap tidak suka kepada kedua laki-laki yang menyandang status sebagai seorang ayah.
Lain dengan Jongin, ia tidak terlalu peduli dengan perdebatan itu, perlahan ia melepaskan genggaman Sehun, segera membawa kakinya menuju putra kecilnya. Hatinya berkecamuk, mungkin benar jika ia menceraikan Kyungsoo, agar ia tidak semakin jauh menyakiti Kyungsoo, juga Jongsoo yang tidak akan lagi merasakan pukulan-pukulan dari segala kemarahannya.
Kaki Jongin kehilangan kekuatannya. Ia bersimpuh, duduk dengan lemas ketika Jongsoo yang melihatnya segera berlari senang ke arahnya. Airmata Jongin tumpah seketika.
"Appa gwaenchanayo?"
Jongin hanya mengangguk ketika sepasang tangan mungil itu menyentuh wajahnya yang basah. Sehan yang berada tak jauh dari sepasang ayah dan anak itu hanya diam, terkejut melihat ayah dari temannya–yang jahat–bisa menangis dengan keras. Perlahan ia beringsut pergi mencari ibunya dengan satu mainan di genggamannya.
"Appa sakit?" Tanya Jongsoo dengan suara khasnya, tangis Jongin serasa semakin deras ketika Jongsoo bertanya tentang luka lebam diwajahnya. Ia pasti menuruni sifat tulus Kyungsoo.
Jongin segera memeluk Jongsoo. Mendekap tubuh mungil berbalut stelan piyama milik Sehan se-erat mungkin. "Maaf, Jongsoo. Maafkan appa,"
Jongsoo kecil melepaskan pelukan ayahnya. Setelahnya, ia melakukan satu hal yang tidak pernah terlintas dipikiran Jongin sebelumnya,
Fiuh~
"Appa jangan menangis. Appa tidak nakal, jadi tidak usah minta maaf. Ayo pulang, Jongsoo akan memberikan obat untuk appa," ujar Jongsoo meraih tangan ayahnya dari atas bahunya yang kecil.
"Obat?"
Jongsoo mengangguk, "Eum. Kalau Jongsoo nakal dan appa marah. Eomma meniupnya lalu begini," dengan semangat ia melepaskan genggaman dari tangan ayahnya, lalu sepasang tangan mungil itu memperagakan suatu gerakan dengan ekspresi wajah yang serius dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Menggemaskan.
Jongin yang memperhatikan gerakan Jongsoo langsung mengerti. Dari caranya, seolah membuka tutup dan mengambil sedikit dari isinya, ia lalu mengoleskannya pada salah satu lengannya yang seolah seperti terluka. Dalam hati ia bertanya seberapa sering Jongin memukul Jongsoo hingga ia terlihat begitu hafal setiap langkah yang dilakukan oleh Kyungsoo untuk mengobati lukanya dengan salep.
"Ayo appa," Jongsoo beranjak dari tempatnya berdiri, menggandeng-menyeret-tangan ayahnya agar juga ikut berdiri dari tempatnya.
Jongin hanya menurut menerima perlakuan dari putranya. Bocah mungil itu sempat berlari meninggalkannya menuju sofa. Ia begitu mandiri, dan cekatan untuk memasang tas sekolah dipunggunggnya dan mendekap baju seragamnya yang telah dilipat rapi oleh Luhan di dadanya. Lalu kembali meraih tangan ayahnya yang tergantung seolah menunggu.
Luhan, Sehun dan Sehan masih berdiri di pintu besar rumah mereka. Sayup-sayup mendengar percakapan antara Jongsoo dan Jongin yang entah kenapa terdengar menyedihkan bagi mereka.
"Jongsoo!" Panggil Sehan pada Jongsoo yang berjalan mendekat ke arahnya. Menyerahkan mainan berbentuk persegi dengan warna yang berbeda di tiap sisinya pada Jongsoo, namun dibalas gelengan.
"Appa bilang tidak boleh merebut mainan Sehan," ujar Jongsoo. Ia ingat betul hari dimana ayahnya menyeret dan memukulnya dengan tuduhan yang salah padanya. Hari dimana ia terkurung dalam kamar yang gelap bersama derasnya hujan. Jongsoo tidak suka itu, dan dia juga tidak suka dengan hujan sekarang.
"Jongsoo tidak merebut mainan Sehan." Luhan merendahkan tubuhnya di hadapan Jongsoo yang menatapnya polos, "Sehan ingin meminjami Jongsoo mainan ini. Jongsoo bisa mengembalikannya besok jika sudah bosan. Benar 'kan Sehan?" Jelas Luhan dan beralih untuk bertanya pada putranya.
"Ne! Mainan Sehan banyak disini," sahut Sehan dengan senyumnya yang lebar.
Mendengar penjelasan Luhan, Jongsoo menatap mata ayahnya untuk meminta persetujuan. Dan Jongin menjawab dengan anggukan, tangannya mengusap puncak kepala Jongsoo. Efek marah dari Jongin itu benar-benar membuat Jongsoo takut meski hanya sekedar untuk meminjam sebuah mainan kecil.
Jongsoo nampak berpikir, meski setelahnya ia kembali menggeleng. "Tidak. Jongsoo bisa main dengan eomma dirumah nanti,"
"Tapi 'kan, Jongsoo tidak punya mainan?"
Kalimat Sehan sukses membuat hati Jongin tertohok. Ternyata semiris itu hidup putranya. Bayi kecil yang dulu diperjuangkan oleh Kyungsoo dengan hidup dan matinya, menjadi korban kebencian tak beralasan dari seorang Kim Jongin.
.
.
Let Me Love You
.
.
"Pukulanmu tidak main-main." Jongin mengeluarkan suaranya setelah lebih dari lima menit tidak terdengar suara apapun di dalam mobil.
"Aku hanya memukulmu sekali. Jongsoo mungkin akan mengatakan itu setiap kali kau memukulnya, jika ia bisa."
Mendengar itu, Jongin merasa tertohok kedua kalinya. Mulut tajam Sehun menurun dengan baik pada putranya. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, mungkin Jongin justru akan tertawa.
"Aku tidak bisa percaya aku bisa sejahat itu," jemarinya mengusap lembut lengan Jongsoo yang terduduk di pangkuannya.
Sehun menoleh, miris melihat wajah kacau Jongin. "Kami lebih tidak percaya. Kyungsoo lebih berpotensi melakukan kekerasan pada Jongsoo karena dia dibesarkan di dalam keluarga yang keras. Sedangkan kau? Kau dibesarkan didalam keluarga yang penuh kasih sayang, tapi kenyataannya malah kau yang melakukan itu pada putramu."
Jongin mengangguk. Membenarkan kalimat Sehun dimana Kyungsoo dibesarkan dalam keluarga yang keras. Benar-benar keras dalam artian sesungguhnya.
Ia kembali pada ingatannya semasa sekolah dulu. Ketika ia tak sengaja menepuk punggung Kyungsoo sebagai sapaan, tapi yang didapatinya justru mata Kyungsoo yang berkaca-kaca, setelahnya Kyungsoo berlari meninggalkannya. Ia tidak akan tahu bahwa sebenarnya Kyungsoo sedang kesakitan jika Sehun tidak menceritakan bagaimana Kyungsoo mendapat luka itu dipunggungnya.
"Mereka tidak menyukai Kyungsoo,"
"Mereka?"
Sehun mengangguk. "Ayah dan ibu Kyungsoo."
Mereka mengatakan aku tidak berguna.
Seketika terlintas kalimat Kyungsoo kemarin malam. 'Mereka' yang dikatakan oleh Kyungsoo adalah kedua orangtuanya.
"Apa dia anak adopsi?"
"Tidak. Ibuku bilang, Kyungsoo benar-benar anak kandung paman Jongwoon dan bibi Ryeowook."
"Keluargamu mengenal Kyungsoo?"
"Tentu saja. Ayahku adalah teman ayah Kyungsoo. Ibuku bahkan ingin aku menikahi Kyungsoo setelah lulus SMA dulu. Tapi aku menolak karena aku sudah menyukai Luhan. Dan kau tahu, Jongin? Aku sempat menyesali keputusanku beberapa tahun kemudian,"
"Kau menyukai Kyungsoo?" Jongin bertanya ragu. Ada sedikit rasa cemburu yang tidak dia sadari di dalam hatinya.
"Tidak. Aku hanya menyesali kenapa aku tidak menikahinya sehingga aku tidak bisa melindunginya. Perasaan itu datang ketika aku tidak sengaja menemukan Kyungsoo tengah malam sedang menangis dijalan dengan coat berwarna merah maroon yang begitu aku kenal. Aku membawanya pulang. Luhan membuka pintu dengan terkejut, lalu aku sadar, bahwa aku hanya mencintai istriku yang sedang mengandung putraku hingga aku rela keluar di tengah malam seperti itu,"
Jongin diam-diam memuji cinta Sehun pada Luhan. Dibalik sifatnya yang usil, Sehun begitu menyayangi keluarganya, mengabdikan diri sebagai suami dan ayah yang baik. Dekapannya mengerat pada tubuh kecil Jongsoo, menumpukan dagu pada kepala mungil putranya yang masih sibuk memainkan rubic cube ditangannya. Ia juga bersyukur memiliki Kyungsoo dengan kebaikan hatinya, meskipun ia memiliki dengan keadaan terpaksa. Tapi jauh di dalam hatinya ia meng-klaim, bahwa Kyungsoo hanya boleh menjadi ibu dari anak-anaknya.
.
.
Let Me Love You
.
.
Jongin menolak untuk pulang ke rumahnya bersama Kyungsoo ketika Sehun mengantarkannya untuk pulang. Jadi berakhirlah dia disini. Duduk di ruang makan rumah orangtuanya dengan perasaan yang campur aduk ditambah ngilu yang belum juga hilang dari bekas pukulan Sehun.
Trek!
Joonmyeon datang dengan dua cangkir diatas nampan, lalu meletakkannya masing-masing untuk Jongin dan dirinya."Minumlah selagi hangat, Jongin."
"Terima kasih, noona." Ujar Jongin lirih.
Joonmyeon tersenyum, "Sama-sama, Jongin. Aku senang kau mau datang kemari dan bercerita. Walau aku sempat takut ketika kau menangis menyebut nama Kyungsoo,"
"Noona–" Pinta Jongin dengan agak ragu. Nampak berpikir tentang keadaannya yang sekarang. Ia bukan lagi anak kuliahan yang suka mengganggu kakak-kakak perempuannya dan terkadang bersedih ketika melakukan kesalahan dan kecewa. Ia adalah seorang ayah dan seorang suami, yang harus kuat dan bijaksana melindungi keluarganya. Tapi ia tidak kuat menahan ini sendiri, "–boleh aku memelukmu?"
"Aigoo~ tentu saja, adikku sayang," Joonmyeon segera berdiri memeluk adiknya. Mengusap pelan kepala Jongin yang bersandar pada perutnya.
"Menangislah, Jongin." Bisik Joonmyeon lembut namun masih mampu didengar oleh Jongin.
"Jika bertanya siapa yang salah disini. Noona akan menjawab bahwa itu kau. Tapi noona tahu bahwa semua itu tidak pernah kau rencanakan. Kau dan Kyungsoo sama-sama belum siap, Jongin." Joonmyeon kembali tersenyum merasakan anggukan Jongin, "Tapi kau juga tidak bisa menjadikan ketidaksiapan sebagai alasan kau menjadi menyakiti keluarga kecilmu. Jongsoo tidak pernah bersalah,"
Tangis Jongin semakin terdengar ketika Joonmyeon menyelesaikan ucapannya, usapannya masih belum berhenti di kepala Jongin hingga,
"Kyungsoo? Kenapa kau berdiri disini, nak?"
Kyungsoo tersentak. Menoleh ke belakang saat namanya disebut oleh ibu mertuanya yang berdiri diambang pintu bersama dengan ayah mertuanya-baru saja kembali dari rumah makan yang sudah mulai sepi pengunjung. Tak jauh beda dengan Jongin yang segera berdiri dan berjalan ke arah Kyungsoo.
"Ada apa ini? Jongin? Joonmyeon?" Tanya Hankyung tegas pada kedua anaknya. Joonmyeon hanya menggeleng dengan senyum tipis pada ayahnya. Lain dengan Jongin yang berhenti tepat di depan Kyungsoo. Hingga sepasang mata sayu dan mata bulat itu bertemu, Kyungsoo terkejut. Tidak mengerti maksud dari tatapan Jongin. Air mukanya tak terbaca, hanya kesedihan dan amarah yang begitu musah ditemukan oleh Kyungsoo. Apa aku melakukan kesalahan?.
Blam!
Kyungsoo tersadar kembali dari pemikiran-pemikirannya karena suara debaman pintu kamar Jongin. Hingga ia lupa dengan rasa khawatir pada luka lebam di wajah Jongin.
Heechul menggeleng dengan tingkah laku Jongin yang masih kasar ternyata. Ia meraih tangan satu-satunya menantu perempuan di keluarga Kim, menggandengnya menuju meja makan.
"Duduklah, Kyungsoo." Heechul mengusap sebentar tangan Kyungsoo-seolah memberi kekuatan untuk menghadapi sikap Jongin. "Buatkan Kyungsoo teh, sayang~" lanjut Heechul pada Joonmyeon yang mengangguk.
"Tidak perlu, bu. Aku sudah akan pulang," Tolak Kyungsoo halus. Mulai menerka maksud dari tatapan Jongin beberapa saat lalu, lelaki itu tidak ingin dirinya disini. "A-aku hanya ingin melihat Jongsoo benar-benar disini."
"Dia tertidur di kamar Yijun." Joonmyeon menghela nafasnya sebentar,
"Semoga dia tidak terbangun mendengar ayahnya membanting pintu." Kali ini suara ayah mertua Kyungsoo yang terdengar.
"Antarkan Kyungsoo melihat Jongsoo, Joonmyeon." Heechul menyarankan. Masih menatap menantunya dengan pandangan yang sendu.
"Nanti ibu, setelah dia meminum tehnya. Ia harus minum untuk meredakan rasa kagetnya." ujar Joonmyeon lembut, membagi tiga cangkir dari atas nampan untuk ibu dan ayahnya juga Kyungsoo, "Suara keras tidak baik untuk bayi didalam perutmu, Kyungsoo."
"A-apa? Kau hamil, Kyungsoo?"
Kyungsoo belum sempat menganggukkan kepalanya ketika seseorang menarik pergelangan tangan kirinya cukup kasar. Itu Jongin.
"Pulanglah!"
"Jongin!" Heechul berteriak panik melihat Kyungsoo berusaha mengimbangi langkah Jongin dengan sebelah tangannya berada dibawah perutnya.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan orangtuaku," Jongin berujar dingin.
"Kalau begitu katakan saja sekarang!" Sahut Hankyung mendengar ucapan Jongin yang tentu saja itu menyakiti Kyungsoo. Hankyung tahu, dari cara Kyungsoo tertunduk dan diam.
"Tidak jika Kyungsoo masih disini, ayah."
"Hanya karena itu kau menyuruhnya pulang? Dia sedang hamil, Jongin!" Heechul menatap putranya nyalang.
"Dia hanya sedang hamil, bu. Bukan sakit."
Segera Jongin meninggalkan Kyungsoo yang berdiri kaku ditempatnya. Jongin berubah. Kyungsoo hampir menangis jika tidak ingat ia sedang berada dimana. Ia terbuang—lagi.
.
.
Let Me Love You
.
.
Taemin masih ingin tahu dengan apa yang terjadi pada kakaknya-Jongin-sebelum ia pulang kerja, karena merasakan hawa yang berbeda sejak ia memasuki rumahnya. Sama seperti Yifan yang selalu mengekor pada setiap gerak istrinya yang sibuk menyiapkan makan malam-karena orangtuanya sedang menjaga restoran milik keluarga.
"Yijun, ada apa?" Bisik Yifan pada anak gadisnya.
"Kata eomma, Yijun masih kecil appa. Itu urusan orang dewasa,"
Yifan mendesah, menyerah dengan jawaban yang diberikan putrinya.
"Kau akan tahu nanti. Kau hanya perlu diam saat makan malam," Joonmyeon mengusap lengan suaminya setelah meletakkan piring terakhir diatas meja. Ia tahu Yifan sangat peduli dengan adik iparnya. Dia tahu semuanya yang sudah terjadi sebelum Jongin menikah dengan Kyungsoo.
"Tolong panggilkan ibu dan ayah. Aku akan memanggil Kyungsoo." Perintah Joonmyeon yang langsung diangguki oleh Taemin yang demgan cepat sudah melesat menuju rumah makan milik keluarga mereka.
"Eomma menginap saja, ya? "
"Eomma harus pulang. Eomma tidak membawa baju,"
"Nanti Jongsoo yang akan bilang pada imo, pinjam baju untuk eomma."
Lamat-lamat Jeonmyeon mendengar suara rengekan Jongsoo yang tidak ingin ditinggal pulang oleh ibunya. Perlahan ia mengetuk pintu, tersenyum melihat Jongsoo bersandar manja di pelukan ibunya.
"Makan malam sudah siap, Kyungsoo."
"Aku akan langsung pulang eonnie," tolak Kyungsoo halus dengan penuh perasaan tak enak. Jika tahu Jongin akan menolaknya, Kyungsoo tidak akan datang ke rumah ibu mertuanya setelah menerima jawaban Luhan dari panggilan telepon bahwa Jongin membawa Jongsoo ke rumah ibunya.
.
.
Let Me Love You
.
.
"Jongsoo? Kemarilah! Jangan mengganggu ibumu makan!"
Jongin memecah keheningan ketika Kyungsoo hendak memasukkan suapan ketiga ke dalam mulutnya. Hatinya mencelos melihat Jongsoo lenyap dari pangkuannya. Membawa langkah kecilnya–menurut –pada ayahnya.
"Kita akan menginap 'kan appa?"
Pertanyaan dari mulut Jongsoo sukses menarik tujuh pasang mata yaitu Heechul, Hankyung, Taemin, serta Joonmyeon bersama suami dan anaknya, juga Kyungsoo yang menatap penasaran pada reaksi dan jawaban Jongin.
"Eomma akan pulang, Jongsoo. Untuk mengantar seragam sekolahmu besok pagi," Jawab Jongin dengan halus, tetapi matanya sedang memandang dingin pada Kyungsoo diseberangnya.
Kyungsoo kehilangan selera makannya. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga. Meratapi hidupnya yang mungkin akan berjalan dengan cerita yang sama-sama menyakitkan. Sadar benar jika dirinya miskin, tapi ucapan Jongin dengan jelas menunjukkan bahwa ia seolah budak bagi Jongin.
"Kyungsoo akan menginap! Demi Tuhan kau selalu keterlaluan, Jongin!" Heechul menangis menggenggam tangan Kyungsoo yang justru berusaha menenangkannya.
Jongin berdiri bersama Jongsoo yang diam di dalam gendongannya. Balita itu terlalu takut mengeluarkan suara melihat neneknya menangis dan ayahnya yang sedang marah.
"Aku akan mengantarmu hingga gerbang depan," ujar Jongin berlalu dengan mantap mengabaikan isak tangis ibunya.
"Tidakkah kau lebih merasa bersalah, oppa?"
Jongin berhenti. Memahami maksud perkataan adik perempuannya. Dan Taemin benar, seharusnya ia lebih merasa bersalah, menunjukkan sikap yang baik sebagai wujud permintaan maaf. Alih-alih melakukan itu, Jongin lebih memilih membangun sikap yang dingin demi menutupi rasa bersalahnya yang besar.
"Kau tidak tahu apapun, Taemin."
Kyungsoo bangkit dari kursinya. Melepas genggaman tangan ibu mertuanya yang terus menatapnya iba. Kyungsoo menyadari dirinya terlihat menyedihkan dari bagaimana tatapan-tatapan mata di depannya.
"Ibu, ayah-"
Heechul ikut berdiri, memeluk sejenak tubuh Kyungsoo, "Hati-hati, nak."
"Terima kasih," balas Kyungsoo dengan senyuman yang ia buat sebaik mungkin. Lalu ia membungkuk memberi salam pada keluarga Jongin yang lain.
"Kuantar sampai depan," Taemin melangkah menghampiri Kyungsoo, menggandeng Kyungsoo menuju pintu depan. Dimana Jongin sudah terlihat menunggu di depan pintu mobilnya.
"Kau sungguh menyuruh Kyungsoo eonnie pulang seorang diri."
"Apa bagimu aku terlihat bercanda, Taemin?" Jongin menunjukkan gestur agar Taemin pergi dengan lambaian tangannya, "Masuk dan tenangkan ibu,"
Kyungsoo mengangguk, mimik wajahnya mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja pada Taemin yang mendengus kesal pada Jongin. Berani-beraninya membuat ibu menangis seperti itu diwaktu makan malam, batin Taemin segera berbalik memasuki rumahnya.
Kyungsoo mendekati Jongsoo yang hanya mengerjapkan sepasang mata jernihnya.
"Ibu akan datang besok pagi," Kyungsoo mengamati wajah putranya, mengecup singkat kedua mata dan keningnya.
"Tidak perlu. Aku akan pulang,"
Kyungsoo mengerutkan alisnya, namun tanpa menoleh pada Jongin. "Tapi kau tidak terlalu pandai menyetir."
"Jongsoo bisa membolos. Aku yang membayar biaya sekolahnya. Tidak akan berpengaruh padamu," Jongin berucap santai namun terkesan meremehkan.
Kyungsoo tersenyum tipis, menyadari posisinya seolah parasit di dalam hidup Kim Jongin. Kehadirannya tidak diinginkan ternyata. "Kau benar." Ia melepas tangannya dari wajah mungil putranya yang mulai mencebik ingin menangis.
"Terima kasih,"
Jongin hanya menatap Kyungsoo yang tersenyum–senyum menyakitkan bagi Jongin. Menunggu Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya.
"Kau begitu baik padaku kemarin," bisik Kyungsoo, mampu membuat pertahanan yang dibuat oleh Jongin sejak beberapa jam yang lalu hampir runtuh. Jongin meyakinkan bahwa yang dilakukannya saat ini sudah benar. Kyungsoo tidak akan pergi dari rumahnya jika ia tidak mengusirnya dengan cara yang kasar. Yang membuatnya tidak akan memiliki waktu berbicara dengan orangtuanya menyangkut perceraiannya dengan Kyungsoo, dan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Jinri.
"Maaf." Lirih Jongin setelah tersadar mobil Kyungsoo telah hilang dari halaman rumah keluarganya. Tangis Jongsoo pecah seketika melihat ibunya pergi tanpa membawanya. Jongin tidak akan membiarkan Kyungsoo tahu semua ini sekarang, atau ia akan kehilangan calon bayinya untuk kedua kali.
.
.
TBC/END?
.
.
-ChaKaJja13-
